Pages - Menu

Tuesday, April 23, 2013

Karya Seni Debu


Baca: Kejadian 2:1-7

Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. —Kejadian 2:7

Ketika Allah memilih debu tanah sebagai bahan untuk menciptakan Adam (Kej. 2:7), Dia tidak perlu cemas akan kehabisan bahan baku. Menurut Hannah Holmes, penulis The Secret Life of Dust (Rahasia Kehidupan Debu), “Ada 1 hingga 3 milyar ton debu gurun terbang ke angkasa setiap tahunnya. Satu milyar ton debu bisa mengisi 14 juta gerbong kereta yang jika dibariskan bisa mengelilingi garis khatulistiwa Bumi sebanyak enam kali.”

Karena jumlahnya yang berlimpah ruah itu, tidak seorang pun perlu membeli debu. Di rumah, saya mengacuhkannya selagi saya bisa. Alasan saya sederhana: Jika saya tidak mengusiknya, debu itu tidak akan begitu terlihat. Namun pada akhirnya debu akan menumpuk sedemikian rupa, sehingga saya tak bisa lagi menganggap debu itu tidak ada. Akhirnya, saya harus mengeluarkan semua peralatan pembersih dan mulai menyingkirkan debu yang sudah lama menumpuk itu.

Selagi membersihkan debu, saya bisa melihat wajah saya tercermin pada permukaan yang mengkilap. Kemudian saya melihat hal lain: Saya melihat Allah mengambil debu yang tidak berharga dan membentuknya menjadi sesuatu yang tak ternilai—yaitu Anda, saya, dan setiap manusia (Kej. 2:7).

Kenyataan bahwa Allah menggunakan debu untuk menciptakan manusia membuat saya berpikir ulang jika saya hendak menyebut seseorang atau sesuatu itu tidak berharga. Mungkin sesuatu yang hendak saya singkirkan—baik itu seseorang atau suatu masalah yang menjengkelkan—justru menjadi bahan yang Allah berikan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. —JAL

Tuhan, terlalu sering aku begitu cepat mengabaikan orang lain
atau menolak keadaan yang sulit. Tolong aku agar melalui
semua itu, aku bersedia untuk belajar dari-Mu dan
melihat kemuliaan-Mu.

Karena kita semua tercipta dari debu tanah yang sama, marilah saling mengasihi dan bersikap adil. —Longfellow

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate