Pages - Menu

Monday, November 24, 2014

Pengharapan Dalam Penderitaan

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. —1 Petrus 1:6
Pengharapan Dalam Penderitaan
Ketika saya membuka Alkitab untuk membaca Yeremia pasal 1-4, sub judul yang diberikan untuk bagian tersebut sempat mengejutkan saya: “Pengharapan di Tengah Kedukaan”. Saya sempat menangis. Saat itu saya sedang berduka atas kepergian ibu saya, jadi pengalaman itu sangat tepat waktunya.
Saya juga merasakan hal yang sama setelah mendengarkan khotbah pendeta saya sehari sebelumnya. Judul khotbahnya adalah: “Sukacita di Tengah Penderitaan”, terambil dari 1 Petrus 1:3-9. Ia memberikan contoh dari kehidupannya sendiri lewat peringatan setahun ayahnya wafat. Khotbah itu begitu memberkati banyak orang, tetapi bagi saya, khotbah itu merupakan anugerah dari Allah. Serangkaian pengalaman bersama firman Tuhan itu memberikan peneguhan bahwa Allah tidak akan meninggalkan saya sendirian di tengah kedukaan yang saya alami.
Meskipun masa-masa dalam kedukaan itu terasa begitu berat, Allah terus mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Bagi bangsa Israel yang terusir dari Tanah Perjanjian karena ketidaktaatan mereka, Allah menyatakan kehadiran-Nya dengan cara mengutus para nabi, seperti Nabi Yeremia, untuk memberi mereka pengharapan—pengharapan akan pendamaian melalui pertobatan. Dan bagi mereka yang dipimpin-Nya melewati masa-masa penuh cobaan, Dia menyatakan kehadiran-Nya lewat sekumpulan orang percaya yang “bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati” (1Ptr. 1:22). Bukti-bukti dari kehadiran Allah selama masa pencobaan di dunia itu meneguhkan janji Allah akan suatu hidup penuh pengharapan yang menanti kita pada kebangkitan kelak. —JAL
Adakah Tuhanku mengawasi?
Berpisah atau mati;
Hatiku teriris tak yang simpati,
Adakah Tuhan mengawasi. —Graeff
(Puji-Pujian Kristen, No. 159)
Kita tidak perlu malu akan air mata kita. —Dickens

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate