Pages - Menu

Monday, January 16, 2017

Lembah Pujian

Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, . . . kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. —2 Tawarikh 20:9
Lembah Pujian
Henri Matisse, seorang seniman Prancis, merasa bahwa karyanya di tahun-tahun terakhir dari hidupnya adalah karya yang paling ia banggakan. Pada masa itu, ia bereksperimen dengan gaya baru, yakni melukis gambar-gambar berukuran besar yang berwarna-warni tidak menggunakan cat melainkan dengan kertas. Ia menghias dinding kamarnya dengan gambar-gambar cerah tersebut. Henri menganggap semua itu penting karena ia telah didiagnosa mengidap kanker dan itu sering membuatnya harus terbaring di tempat tidur.
Menderita penyakit, kehilangan pekerjaan, atau mengalami patah hati merupakan contoh-contoh dari peristiwa yang disebut orang sebagai “berada di lembah kekelaman”. Bangsa Yehuda mengalaminya ketika mendengar laskar musuh hendak menyerang mereka (2Taw. 20:2-3). Raja pun berdoa, “Bila sesuatu malapetaka menimpa kami . . . kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami” (ay.9). Allah menjawab, “Majulah besok menghadapi [musuhmu], Tuhan akan menyertai kamu” (ay.17).
Ketika pasukan Yehuda tiba di medan perang, ternyata musuh mereka sudah terlebih dahulu saling membunuh. Hingga tiga hari lamanya umat Allah menjarah perlengkapan, pakaian, dan barang-barang berharga yang tertinggal. Sebelum pergi dari situ, mereka berkumpul untuk memuji Allah dan menamakan tempat itu “Lembah Pujian”, yang juga berarti “berkat”.
Allah berjalan bersama kita pada saat-saat terkelam dalam hidup kita. Dia memampukan kita untuk menemukan berkat-berkat-Nya di dalam lembah kekelaman itu. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, tolonglah aku untuk tidak takut menghadapi kesulitan. Tolonglah aku
untuk percaya bahwa kebaikan dan kasih-Mu akan selalu menyertaiku.
Hanya Allah yang sanggup mengubah beban menjadi berkat.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Translate