Pages - Menu

Thursday, August 28, 2014

Gambaran Kerendahan Hati

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. —Yakobus 4:6
Gambaran Kerendahan Hati
Pada masa Paskah, saya dan istri pernah menghadiri sebuah kebaktian gereja di mana jemaatnya berusaha meneladan peristiwa yang dialami Yesus dan murid-murid-Nya pada malam sebelum Dia disalibkan. Sebagai bagian dari kebaktian, para pekerja gereja bersama-sama membasuh kaki sejumlah relawan dalam gereja tersebut. Saat menyaksikan peristiwa itu, saya pun bertanya-tanya, manakah yang dipandang lebih rendah oleh orang pada masa kini—membasuh kaki orang lain atau memberikan kaki kita dibasuh oleh orang lain. Bagi saya, baik orang yang membasuh maupun mereka yang dibasuh sama-sama menyajikan dengan jelas gambaran dari suatu sikap rendah hati.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya berkumpul untuk mengadakan Perjamuan Terakhir (Yoh. 13:1-20), Yesus, dalam sikap rendah hati sebagai hamba, membasuh kaki murid-murid-Nya. Namun, Simon Petrus sempat menolak dan berkata, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.’’ Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku’’ (13:8). Membasuh kaki para murid bukanlah sebuah ritual belaka. Perbuatan ini juga bisa menggambarkan kebutuhan kita akan pengudusan oleh Kristus—sebuah pengudusan yang tidak akan pernah kita alami kecuali kita bersedia merendahkan diri di hadapan Sang Juruselamat.
Yakobus menulis, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Kita menerima kasih karunia Allah ketika kita mengakui kebesaran Allah, yang merendahkan diri-Nya sendiri di kayu salib (Flp. 2:5-11). —WEC
Kulihat salib-Mu,
Ya Jurus’lamatku, di Golgota.
T’rimalah doaku, hapuskan dosaku;
Akulah milik-Mu selamanya. —Palmer
(Kidung Jemaat, No. 32)
Kedudukan yang paling berkuasa di bumi terdapat pada lutut yang bertelut di hadapan Tuhan semesta alam.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Translate