Pages - Menu

Wednesday, September 30, 2020

Berakar dalam Kasih

 

Aku berdoa supaya . . . kamu berakar serta berdasar di dalam kasih . . . dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. —Efesus 3:16-18

Berakar dalam Kasih

“Begitu saja, kok!” kata Megan. Ia memotong sebuah batang dari tanaman geraniumnya, mencelupkan ujung batang yang terpotong itu ke dalam madu, lalu menancapkannya di pot yang diberi kompos. Megan sedang mengajari saya bagaimana mengembangbiakkan geranium: dari satu tanaman sehat menjadi banyak, sehingga saya punya banyak bunga untuk dibagikan kepada orang lain. Menurutnya, madu berguna untuk membantu tumbuhan muda menancapkan akar-akarnya.

Mengamati cara kerja teman saya itu, saya pun bertanya-tanya hal apa saja yang dapat menolong kita memiliki akar rohani yang kuat? Apa yang dapat membantu kita menjadi orang yang kuat dan dewasa secara rohani? Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, mengatakan bahwa kita “berakar serta berdasar di dalam kasih” (Ef. 3:17). Kasih ini datang dari Allah, yang menguatkan kita dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita. Kristus tinggal di dalam hati kita. Ketika kita mulai memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (ay. 18), kita dapat benar-benar merasakan kehadiran Allah dan kita “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (ay. 19).

Untuk bertumbuh secara rohani kita harus berakar di dalam kasih Allah—merenungkan kebenaran bahwa kita dikasihi oleh Allah yang sanggup melakukan “lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (ay.20). Sungguh dasar yang sangat kuat bagi iman kita!—Amy Peterson

WAWASAN
Paulus memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang-orang Kristen di Efesus. Ia mengunjungi Efesus menjelang akhir perjalanan misinya yang kedua, dan sebelum pergi ia pernah berjanji untuk kembali (Kisah Para Rasul 18:19-21). Pada awal perjalanan misinya yang ketiga (18:23-21:17), Paulus kembali ke Efesus dan mengajar jemaat di sana selama tiga tahun sebelum berangkat ke Makedonia (19:1-20; 20:31). Dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, Paulus berpisah dengan para pemimpin jemaat Efesus dengan penuh air mata (20:17-38). Sekitar lima atau enam tahun kemudian, dari penjara di Roma (Efesus 3:1), Paulus menulis untuk menasihati jemaat di sana untuk menjalani hidup “sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Paulus berkomitmen kuat untuk selalu mendoakan pertumbuhan anak-anak rohaninya (1:15-16). Efesus 1:15-23 adalah salah satu dari dua doa Paulus dalam kitab Efesus. Pada doa keduanya (3:14-21), karena jemaat telah “berakar serta berdasar di dalam kasih,” Paulus berdoa supaya mereka “dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (ay.17-18). —K.T. Sim

Bagaimana kamu dapat mengembangkan kebiasaan merenungkan kasih Allah? Kepada siapa kamu dapat membagikan kebenaran tentang kasih Allah hari ini?

Ya Allah, terima kasih untuk kasih-Mu kepadaku. Tolonglah aku merenungkan kebenaran kasih itu. Kiranya kasih-Mu terus bertumbuh dalam hatiku, agar aku dapat membawa keindahan-Mu ke dalam hidupku dan kepada dunia yang membutuhkan kasih.

Tuesday, September 29, 2020

Mata untuk Melihat

 

Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu. —Mazmur 119:18

Mata untuk Melihat

Belum lama ini saya menemukan keindahan dari seni anamorphic (teknik karya seni yang membuat obyek terlihat berdimensi). Karya seni yang awalnya terlihat seperti kumpulan benda yang tidak jelas itu baru bisa dipahami bila dilihat dari sudut yang tepat. Salah satunya adalah karya sederet tiang vertikal yang disusun sedemikian rupa untuk menampilkan wajah seorang pemimpin terkenal. Karya seni lain terbuat dari kumpulan kabel kusut yang dibentuk menyerupai seekor gajah. Karya lainnya yang dibentuk dari ratusan titik hitam yang tergantung oleh kawat-kawat menjadi sebuah mata seorang wanita bila dilihat dengan benar. Kunci seni anamorphic ini adalah melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda hingga menemukan arti yang tepat.

Dengan ribuan ayat yang menyusun kisah-kisah sejarah, puisi, dan banyak lagi, terkadang Alkitab juga sulit untuk dimengerti. Namun, Kitab Suci sendiri memberi tahu bagaimana kita dapat menyingkapkan artinya. Perlakukanlah Alkitab seperti sebuah karya patung anamorphic: melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan merenungkannya sungguh-sungguh.

Berbagai perumpamaan Kristus dalam Alkitab harus dipahami dengan cara seperti ini. Mereka yang merenungkannya sungguh-sungguh akan memperoleh “mata untuk melihat” artinya (Mat. 13:10-16). Paulus meminta Timotius untuk memperhatikan kata-kata Paulus supaya Allah memberinya pengertian (2 Tim. 2:7). Bait-bait yang berulang dalam Mazmur 119 menyatakan bahwa merenungkan Kitab Suci mendatangkan hikmat dan wawasan, serta membuka mata kita untuk bisa melihat artinya (Mzm. 119:18, 97-99).

Bagaimana jika kamu merenungkan sebuah perumpamaan selama satu minggu atau membaca habis satu kitab Injil dalam satu kali kesempatan? Luangkan waktu untuk melihat sebuah ayat dari berbagai sisi. Dalami. Wawasan alkitabiah datang dari merenungkan Kitab Suci, bukan hanya membacanya saja.

Ya Tuhan, berilah kami mata untuk dapat melihat.—Sheridan Voysey

WAWASAN
Dalam Mazmur 119:97-104, kata renung digunakan dua kali (ay.97,99). Akar katanya dalam bahasa Ibrani dapat diterjemahkan menjadi berbicara, berdoa, berbincang, mengeluh, dan merenungkan. Penerjemahan kata ini menjadi “merenungkan” atau “perenungan” berarti “berbicara kepada diri sendiri,” dengan firman Allah sebagai subyek pembicaraan (lihat Mazmur 119:15,23,48,78,148). Kita melihat ide tentang memikir-mikirkan dan merefleksikan Kitab Suci di dalam hati dan pikiran kita terdapat juga dalam ayat-ayat berikut ini: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam” (Yosua 1:8). “Berbahagialah orang . . . yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mazmur 1:1-2). —Arthur Jackson

Menurut kamu, apa bedanya membaca dan merenungkan Kitab Suci? Bagaimana kamu akan merenungkan ayat pilihan hari ini?

Ya Allah, bukalah mataku untuk melihat setiap keindahan firman-Mu. Tuntun aku menyusuri jalan yang menghubungkan setiap bagiannya.

Monday, September 28, 2020

Tak Pernah Merasa Cukup

 

Mata kita tidak kenyang-kenyang memandang.— Pengkhotbah 1:8 BIS

Tak Pernah Merasa Cukup

Frank Borman pernah menjadi komandan misi pertama ke luar angkasa untuk mengelilingi bulan. Ia mengaku tidak terkesan pada apa yang dilihatnya. Perjalanan pulang-pergi itu membutuhkan waktu dua hari penuh. Frank sempat mabuk udara dan muntah. Ia berkata bahwa melayang-layang dalam kondisi gravitasi nol memang mengasyikkan—tetapi untuk tiga puluh detik saja. Sesudah itu biasa saja. Dari dekat, bulan terlihat tidak menarik dan permukaannya bopeng-bopeng karena penuh kawah. Awak pesawatnya mengambil foto-foto hamparan permukaan bulan, lalu menjadi bosan juga.

Frank pergi ke tempat yang tidak pernah didatangi orang sebelumnya. Itu pun tidak cukup baginya. Jika ia cepat merasa bosan atas suatu pengalaman yang langka di luar angkasa, mungkin kita tidak perlu terlalu berharap pada hal-hal yang ada di dunia ini. Penulis kitab Pengkhotbah mengamati bahwa tidak ada pengalaman di dunia ini yang mampu mendatangkan sukacita sejati. “Mata kita tidak kenyang-kenyang memandang; telinga kita tidak puas-puas mendengar” (1:8 bis). Bisa saja kita senang untuk sementara waktu, tetapi kegembiraan itu segera reda dan kita pun mulai mencari kesenangan di tempat lain.

Frank merasakan satu momen menggembirakan, yaitu ketika ia melihat bumi terbit dari kegelapan di balik bulan. Bagaikan sebutir kelereng berwarna biru-putih, bumi kita terlihat cemerlang oleh sinar matahari. Demikian pula sukacita kita yang sejati berasal dari Anak Allah yang menyinari kita. Yesus adalah hidup kita, satu-satunya sumber makna, kasih, dan keindahan sejati. Kepuasan kita yang terdalam datang dari luar dunia ini. Masalahnya, kita bisa saja pergi sampai ke bulan, tetapi tetap tidak akan dapat menemukan kepuasan itu.—Mike Wittmer

WAWASAN
Salah satu tema kunci dari kitab Pengkhotbah terdapat dalam frasa “di bawah matahari.” Frasa tersebut ada di bacaan hari ini di ayat 3 dan 9, juga dalam dua puluh lima penyebutan lainnya dalam kitab ini. Apakah artinya? Frasa ini mengacu kepada hal-hal yang dilakukan di dunia menurut sistem, nilai, dan pola pikir dunia ini. Apa yang terjadi “di bawah matahari” diperlihatkan bertolak belakang dengan apa yang berakar dan selaras dengan kehendak surgawi. Karena Pengkhotbah adalah kitab tentang kenestapaan, pesan intinya adalah bahwa kita tidak akan dapat menemukan arti atau tujuan sejati sampai kita mulai hidup sesuai dengan kehendak Bapa di surga, daripada mengikuti sistem dunia yang telah rusak ini. —Bill Crowder

Kapan kamu pernah merasakan sukacita yang sangat besar? Mengapa sukacita itu tidak bertahan lama? Apa yang kamu dapat pelajari dari sifat kegembiraan yang hanya sesaat itu?

Yesus, pancarkanlah sinar kasih-Mu ke atasku.

Sunday, September 27, 2020

Tersesat

 

Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. —Lukas 15:6

Tersesat

Karena tinggal dekat peternakan sapi, komedian Michael Yaconelli sempat memperhatikan bagaimana sapi cenderung berkelana ketika merumput. Seekor sapi akan terus bergerak untuk mencari “padang rumput yang lebih hijau”. Sapi tersebut bisa saja menemukan rumput segar di bawah keteduhan pohon pada pinggir tanah peternakan itu. Lalu, tepat di balik pagar yang sudah patah terdapat semak hijau yang terlihat enak. Sapi itu bisa berkelana lebih jauh melewati pagar dan sampai ke jalan. Begitu terus sampai akhirnya sapi itu tersesat.

Bukan hanya sapi yang suka berkelana. Domba pun begitu. Meski demikian, sebenarnya manusialah yang punya kecenderungan terbesar untuk tersesat.

Mungkin itulah salah satu alasan Allah mengumpamakan kita sebagai domba dalam Alkitab. Kita dengan mudah berkelana dan mencari jalan kita sendiri lewat berbagai kompromi yang gegabah dan pilihan bodoh yang kita ambil. Tanpa kita sadari, kita sudah jauh menyimpang dari kebenaran.

Kepada orang-orang Farisi, Yesus bercerita tentang seekor domba yang hilang. Domba tersebut begitu berharga bagi sang gembala hingga ia rela meninggalkan domba-domba yang lain untuk mencari satu yang tersesat. Ketika ia menemukan domba yang hilang itu, ia sangat bersukacita! (Luk. 15:1-7).

Begitu jugalah sukacita yang Allah rasakan ketika orang berdosa kembali kepada-Nya. Yesus berkata, “Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan” (ay.6). Allah telah mengirimkan kepada kita seorang Juruselamat untuk menyelamatkan dan membawa kita pulang.—Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Sepanjang Alkitab, manusia sering disebut sebagai domba (Mazmur 79:13; 95:7; 100:3; Yesaya 53:6; Yeremia 50:6; Yehezkiel 34:17-22; Mikha 2:12; Matius 9:36; 10:16; Yohanes 21:15-17). Salah satu sifat domba adalah cenderung berkeliaran dan tidak mampu melindungi diri sendiri (seperti kita baca di Lukas 15:1-7). Kawanan domba membutuhkan seorang gembala untuk memandu mereka ke rerumputan hijau dan menjaga mereka dari para pemangsa dan pencuri. Namun, dalam sepanjang Alkitab juga kita dapat melihat bahwa domba sangat bernilai. Domba menjadi sumber makanan dan pakaian bagi manusia dan korban bakaran di Bait Allah. Domba mengenal gembala mereka dan menanggapi suaranya. Yohanes 10:3-4 menggambarkan bagaimana Sang Gembala yang Baik—Yesus—memanggil domba-domba-Nya masing-masing menurut namanya dan menuntun mereka. —Alyson Kieda

Dalam hal apa kamu mungkin telah menyimpang ke jalan yang salah? Apa langkah pertama yang perlu kamu ambil untuk kembali kepada Allah?

Bapa di surga, aku merasa tersesat. Apakah aku sudah terlalu jauh dari-Mu? Arahkanlah kembali hatiku dan tunjukkanlah kepadaku jalan pulang kepada-Mu.

Saturday, September 26, 2020

Menepati Janji

 

Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. —Ibrani 6:15

Menepati Janji

Karena terbebani oleh janji yang sedang diucapkannya kepada LaShonne, Jonathan melakukannya dengan tergagap. Ia berpikir, Bagaimana aku bisa menjanjikan semua ini tetapi tidak yakin bisa menepatinya? Meski ibadah pemberkatannya berhasil dilewati dengan baik, ia masih digelisahkan oleh komitmennya. Seusai resepsi, Jonathan mengajak istrinya ke ruang kapel untuk berdoa—selama lebih dari dua jam—agar Allah menolongnya menepati janji untuk selalu mencintai dan menjaga LaShonne.

Rasa takut yang dirasakan Jonathan di hari pernikahannya muncul dari kesadaran akan kerapuhannya sebagai manusia. Namun, Allah yang telah berjanji akan memberkati bangsa-bangsa melalui keturunan Abraham itu bukanlah Allah yang terbatas (Gal. 3:16). Untuk menantang pembacanya, orang-orang Kristen berlatar belakang Yahudi, agar tekun dan bersabar dalam iman kepada Yesus Kristus, penulis kitab Ibrani mengingatkan kembali tentang janji Allah kepada Abraham, bagaimana Abraham menanti dengan sabar, dan akhirnya memperoleh apa yang dijanjikan (Ibr. 6:13-15). Abraham dan Sara yang telah lanjut usia tidak menjadi penghalang bagi pemenuhan janji Allah untuk menjadikan keturunannya “sangat banyak”. (ay.14).

Apakah kamu merasa tertantang untuk mempercayai Allah meskipun kamu merasa lemah dan rapuh? Apakah kamu merasa sulit menepati komitmen, janji, dan sumpahmu? Dalam 2 Korintus 12:9, Allah berjanji untuk membantu kita: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Selama lebih dari tiga puluh enam tahun, Allah telah menolong Jonathan dan LaShonne untuk tetap berkomitmen kepada janji pernikahan mereka. Maukah kamu mempercayai Dia untuk menolongmu juga?—Arthur Jackson

WAWASAN
Manusia pada masa lampau memeteraikan janji mereka dengan sumpah demi nama dari sesuatu yang lebih tinggi, sering kali suatu makhluk ilahi, untuk mengukuhkan janji itu (Ibrani 6:16), dan menyatakan adanya penghukuman apabila janji itu tidak ditepati. Israel harus bersumpah demi nama Allah saja (Ulangan 6:13; 10:20). Untuk menguatkan umat percaya berkebangsaan Yahudi yang menderita penganiayaan, penulis kitab Ibrani berfokus pada kesetiaan Allah terhadap janji-janji-Nya. Ibrani 6:13-15 mengacu kepada Kejadian 22:15-18. Ketika Allah berjanji kepada umat-Nya, tidak ada pribadi yang lebih tinggi untuk menjamin komitmen-Nya. Karena Dialah satu-satunya Allah yang benar dan tidak ada yang lebih besar dari Dia (Ulangan 4:35,39; Yesaya 44:6), Dia hanya dapat “bersumpah demi diri-Nya sendiri” (Kejadian 22:16; Ibrani 6:13). Sumpah Allah tidak perlu konfirmasi dari siapa pun. Karakter-Nya terjamin oleh firman-Nya (Bilangan 23:19; 1 Samuel 15:29), karena “Allah tidak mungkin berdusta” (Ibrani 6:18). —K.T. Sim

Mengapa kita sulit mempercayai janji Allah yang ingin menolong kita? Janji apa saja yang kamu terasa berat untukmu penuhi sekarang ini?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau setia memegang janji-Mu kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu setia dalam tekadku kepada-Mu dan sesamaku.

Friday, September 25, 2020

Gembok Cinta

 

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu. —Kidung Agung 8:6

Gembok Cinta

Saya berdiri takjub melihat ratusan ribu gembok yang dicantolkan pada setiap bagian dari pagar jembatan Pont des Arts di Paris. Banyak di antaranya yang terukir dengan inisial nama pasangan kekasih. Jembatan penyeberangan di atas Sungai Seine itu dipenuhi dengan gembok tanda cinta yang menjadi deklarasi komitmen “abadi” setiap pasangan. Namun, pada tahun 2014, seluruh gembok yang terpasang diperkirakan memiliki berat total lima puluh ton, dan karena sempat menyebabkan sebagian jembatan runtuh, seluruh gembok itu akhirnya disingkirkan.

Banyaknya gembok cinta tersebut menunjukkan kerinduan kita sebagai manusia akan kepastian bahwa cinta kita akan abadi. Dalam Kidung Agung, sebuah kitab dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan dialog sepasang kekasih, sang perempuan menggambarkan hasratnya akan cinta yang abadi. Ia meminta kepada kekasihnya: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu” (Kid. 8:6). Ia rindu memiliki rasa aman dan cinta sejati yang abadi, layaknya meterai pada hati sang kekasih atau cincin pada jari kekasihnya.

Kerinduan memperoleh cinta romantis yang abadi dalam kitab Kidung Agung membawa kita kepada kebenaran dalam surat Efesus di Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa kita telah “dimeteraikan” dengan Roh Kudus (1:13). Bila cinta manusia dapat berubah-ubah, dan gembok bisa disingkirkan dari jembatan, Roh Kristus yang hidup di dalam kita adalah meterai abadi yang membuktikan keteguhan kasih Allah yang tidak berkesudahan bagi anak-anak-Nya.—Lisa M. Samra

WAWASAN
Walaupun ada tafsiran yang berbeda-beda terhadap kitab Kidung Agung, pembacaan secara langsung menunjukkan bahwa kitab ini adalah kumpulan puisi yang merayakan cinta kasih dan keintiman fisik yang mengalir dari cinta kasih itu, dan memperingatkan kita untuk menjaga cinta kasih itu dalam konteks yang benar (2:15). Kidung Agung menyajikan kepada kita sejumlah syair yang mengungkapkan hasrat kudus yang sesuai dengan keadaan manusia pada saat diciptakan Allah, yakni hasrat yang dipenuhi dalam relasi pernikahan “keduanya menjadi satu daging” yang ditetapkan di taman Eden. Namun, apakah kitab ini menyatakan sesuatu tentang Allah dan relasi kita dengan Dia? Tentu saja, ketika kita membacanya dalam konteks keseluruhan Alkitab dan melihat relasi kita dengan Allah kerap dibandingkan dengan pernikahan antarmanusia. Rasul Paulus menggambarkan relasi gereja dengan Tuhan Yesus dalam konsep pernikahan (Efesus 5:21-33) dan menyebutnya sebagai “rahasia . . . besar.”

Bagaimana pengalamanmu menerima kasih Allah Bapa yang pasti dan abadi? Maukah kamu mengizinkan kasih-Nya menuntun dan menguatkanmu hari ini?

Bapa Surgawi, terima kasih bahwa walaupun kasih manusia tidak selalu dapat dijamin, kasih-Mu kepadaku itu kuat, tetap, dan abadi.

Thursday, September 24, 2020

Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar

 

Engkaulah Allah yang sudi mengampuni . . . dan berlimpah kasih setia-Nya. —Nehemia 9:17

Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar

“Setiap kali memegang Alkitab, tangan saya rasanya seperti terbakar,” kata seorang dosen Bahasa Inggris saya. Hati saya langsung ciut mendengarnya. Novel yang sedang kami baca pagi itu mencantumkan sebuah ayat Alkitab, dan waktu saya mengeluarkan Alkitab untuk mencari ayat itu, dosen saya melihat dan langsung berkomentar. Ia berpikir bahwa dosa-dosanya terlalu banyak untuk dapat diampuni. Namun, waktu itu saya tidak cukup berani untuk menceritakan tentang kasih Allah kepadanya—dan bahwa Alkitab memberi tahu bahwa kita selalu dapat meminta pengampunan dari Allah.

Dalam kitab Nehemia terdapat satu contoh tentang pertobatan dan pengampunan. Umat Israel telah diasingkan karena dosa-dosa mereka, tetapi kemudian mereka diizinkan untuk kembali ke Yerusalem. Setelah mereka menetap di sana, Ezra si ahli kitab membacakan kitab Taurat kepada mereka (Neh. 7:73-8:4). Bangsa itu pun mengakui dosa-dosa mereka, sambil mengingat bahwa sekalipun berdosa, Allah “tidak meninggalkan” mereka (Neh. 9:17,19). Dia “mendengar” seruan mereka, dan dalam belas kasihan-Nya, sabar terhadap mereka (ay.27-31).

Demikian pula Allah sabar terhadap kita. Dia tidak akan meninggalkan kita jika kita mengakui dosa-dosa kita dan berbalik kepada-Nya. Seandainya saja saya bisa kembali ke masa lalu dan memberi tahu dosen saya bahwa bagaimanapun masa lalunya, Yesus mengasihinya dan menginginkannya menjadi anggota keluarga-Nya. Demikan pula sikap Kristus terhadapmu dan saya. Kita dapat menghampiri Dia untuk meminta pengampunan dari-Nya—dan Dia pasti akan memberikannya!—JULIE SCHWAB

WAWASAN
Kitab Nehemia mengisahkan tentang pembangunan kembali tembok di sekitar Yerusalem. Orang-orang Israel yang baru kembali ke Yehuda setelah ditawan di Babel menemukan bahwa tembok kota itu sudah hancur, dan mereka tidak memiliki perlindungan menghadapi musuh-musuh mereka (1:1-4). Di pasal 9, tembok itu telah terbangun kembali dan bangsa Israel berkumpul serta mendengarkan pembacaan sejarah mereka. Mereka mengaku kepada Allah: “Engkaulah yang benar dalam segala hal yang menimpa kami, karena Engkau berlaku setia dan kamilah berbuat fasik” (ay.33). Walaupun mereka tidak taat, Allah mengampuni mereka dan mengadakan perjanjian baru dengan mereka (9:38-10:39). —Julie Schwab

Adakah kenalanmu yang merasa bahwa dosa-dosanya terlalu besar untuk diampuni oleh Tuhan? Bagaimana kebenaran bahwa Yesus datang bukan untuk “orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2:17) akan dapat mengubah pikirannya?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengampuni dosa-dosaku dan karena Engkau menjamin bahwa tidak ada seorang pun yang dosanya terlalu besar untuk diampuni.

Wednesday, September 23, 2020

Kenangan akan Kasih Setia Allah

 

Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku. —Ulangan 4:10

Kenangan akan Kasih Setia Allah

Ketika anak laki-laki saya yang sudah dewasa menghadapi situasi sulit, saya mengingatkannya tentang kasih dan pemeliharaan Allah ketika ayahnya sempat diberhentikan dari pekerjaannya. Saya menceritakan kembali masa-masa ketika Allah menguatkan keluarga kami dan memberi kami damai sejahtera ketika ibu saya berjuang dan akhirnya kalah melawan leukemia. Sambil menyoroti kisah-kisah kesetiaan Allah di dalam Alkitab, saya menegaskan bahwa Allah selalu menepati janji-Nya. Saya mengajak anak saya mengenang kembali bagaimana Allah menolong keluarga kami dan dapat diandalkan dalam suka maupun duka. Dalam keadaan apa pun, baik dalam pergumulan maupun sukacita, penyertaan, kasih, dan anugerah Allah terbukti cukup.

Saya tidak bisa mengklaim bahwa mengenang kebaikan Allah itu sebagai strategi saya sendiri, karena sesungguhnya Allah sudah membuat kebiasaan berbagi cerita untuk menginspirasi generasi-generasi mendatang agar terus percaya kepada-Nya. Ketika umat Israel mengenang kembali semua yang mereka lihat telah Allah kerjakan di masa lampau, Dia sedang membangun iman dan keyakinan mereka lewat ingatan tentang diri-Nya.

Umat Israel telah menyaksikan bagaimana Allah memenuhi janji-Nya selama mereka mengikut Dia (Ul. 4:3-6). Dia selalu mendengar dan menjawab doa-doa mereka (ay.7). Dengan menceritakannya kepada generasi muda (ay.9), umat Israel menceritakan firman yang berasal dari satu-satunya Allah yang benar (ay.10).

Saat menceritakan keagungan, belas kasihan, dan kasih setia Allah, kita dapat menguatkan keyakinan kita dan juga iman orang lain dengan kepastian bahwa Dia memang layak dipercaya untuk selama-lamanya.—XOCHITL DIXON

WAWASAN
Untuk mendorong bangsa Israel tetap setia kepada Allah Yahwe dengan menaati hukum-hukum-Nya, Musa mengingatkan mereka apa yang terjadi pada berhala Baal-Peor di Moab (dicatat di Bilangan 25:1-9 dan Mazmur 106:28-29). Umat harus belajar dari lembaran sejarah mereka sendiri bahwa hidup mereka bergantung penuh pada ketaatan mereka terhadap hukum-hukum Allah. Sebagai tambahan motivasi, Musa juga mengingatkan bahwa mereka adalah satu-satunya bangsa yang mendapat keistimewaan memiliki hubungan yang personal dan persekutuan yang dekat dengan Allah dan menjadi penerima hukum Allah (Ulangan 4:7-8). Ketaatan yang setia kepada Allah akan menjadikan mereka umat yang besar dan bijaksana (ay.6,8-9). —K.T. Sim

Siapa yang telah memberikan hidupnya untuk menolongmu bertumbuh dengan membagikan karya Allah dalam hidup mereka? Apa saja cara kreatif yang dapat kamu gunakan untuk membagikan kasih setia Allah kepada generasi berikutnya?

Ya Allah yang berdaulat, terima kasih karena Engkau telah menguatkanku untuk berjalan dalam iman yang telah terbukti dari generasi ke generasi.

Tuesday, September 22, 2020

Jalan Menyimpang

 

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. —2 Timotius 4:2

Jalan Menyimpang

Buang-buang waktu saja, pikir Harley. Agen asuransinya terus memaksa agar mereka bertemu lagi. Harley tahu pertemuan tersebut akan kembali menjadi ajang promosi yang membosankan, tetapi ia memutuskan untuk memanfaatkan sebaik mungkin pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk berbicara tentang imannya.

Saat melihat bahwa alis agen tersebut ditato, dengan ragu Harley menanyakan alasannya. Ia pun mengetahui bahwa wanita itu menato alisnya karena merasa itu akan membawa keberuntungan. Meski pertanyaan Harley sangat menyimpang dari topik tentang keuangan, tetapi hal itu telah membuka pintu kesempatan baginya untuk berbicara soal keberuntungan dan iman. Harley dapat bercerita kepada lawan bicaranya tentang alasannya bergantung pada Yesus Kristus. Waktu yang “terbuang” tadi ternyata menjadi kesempatan dari Allah.

Yesus juga pernah melakukannya. Dalam perjalanan dari Yudea menuju Galilea, Dia menyimpangkan jalan-Nya untuk berbicara dengan seorang Samaria, suatu tindakan yang tidak terpikirkan untuk seorang Yahudi. Lebih parahnya lagi, perempuan itu adalah seorang pezina yang bahkan dijauhi oleh orang sebangsanya. Namun, Yesus akhirnya mengadakan perbincangan yang kemudian membawa keselamatan bagi banyak orang (Yoh. 4:1-26,39-42).

Apakah kamu harus menemui seseorang yang sebenarnya tidak ingin kamu temui? Atau kamu selalu saja bertemu dengan tetangga yang sebenarnya kamu hindari? Alkitab mengingatkan kita untuk selalu siap sedia—”baik atau tidak baik waktunya”—untuk membagikan kabar baik (2 Tim. 4:2). Pertimbangkanlah untuk mengambil “jalan menyimpang,” karena siapa tahu Allah memberimu kesempatan untuk berbicara kepada seseorang tentang Dia hari ini!—LESLIE KOH

WAWASAN
Paulus menuliskan surat terakhirnya ini dengan mengetahui bahwa ia akan segera mati. Jadi, ketika ia berkata, “Aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu: . . . Beritakanlah firman” (2 Timotius 4:1-2), permintaannya ini membawa dampak yang makin besar bagi Timotius. Ahli Alkitab bernama William Hendriksen mengatakan bahwa kata beritakan itu secara harfiah berarti “menyatakan di hadapan umum.” Itulah yang Paulus mau Timotius lakukan. Kemudian Paulus dengan tegas memberikan peringatan spesifik kepadanya, ditandai dengan kata-kata “akan datang waktunya” (ay.3). Apa yang akan terjadi pada “waktu” itu? “[Orang] akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (ay.3). Di pasal 3, Paulus telah memerintahkan Timotius untuk tetap berpegang pada kebenaran Alkitab. Kini, Paulus mendorongnya untuk memberitakan kebenaran itu walaupun tidak populer. Arahannya kepada Timotius ini masih memiliki relevansinya untuk kita saat ini. —Tim Gustafson

Siapakah yang mungkin kamu temui hari ini? Bagaimana caranya agar ada kesempatan untuk bercerita tentang Yesus? Bagaimana kamu menyimpang dari kebiasaan guna menceritakan kabar baik dengan berani tetapi juga penuh kepekaan?

Tuhan Yesus, ajarlah aku melihat pintu-pintu yang Engkau bukakan bagiku untuk bercerita tentang kasih-Mu, dan berilah aku keberanian untuk bercerita tentang diri-Mu kepada orang lain.

Monday, September 21, 2020

Berdamai dengan Masalah

 

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” —Yohanes 16:33

Berdamai dengan Masalah

Kami sudah hampir sampai di rumah ketika saya tersadar bahwa temperatur mesin mobil kami menunjukkan angka yang sangat tinggi. Kami buru-buru menepi, mematikan mesin, dan melompat keluar. Asap pun mengepul dari balik kap mobil. Mesin mobil mendesis. Saya memundurkan mobil beberapa meter dan menemukan genangan minyak di bawahnya. Saya langsung tahu apa yang telah terjadi: tutup kepala silinder mobil saya pecah.

Saya kesal sekali. Kami baru saja mengeluarkan banyak uang untuk reparasi mobil. Saya menggerutu, Kenapa tidak bisa jalan lagi? Mengapa rusak melulu?

Kamu pernah mengalami hal serupa? Terkadang kita berhasil menghindari satu krisis, menyelesaikan satu masalah, melunasi cicilan berjumlah besar, tetapi kembali diperhadapkan pada masalah lain. Adakalanya masalah-masalah itu jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan mesin, seperti menerima diagnosis penyakit yang tidak pernah diduga, kematian orang terdekat secara mendadak, atau kepergian seseorang yang sangat menyakitkan hati.

Di saat-saat seperti itu, kita mendambakan dunia yang bebas derita dan masalah. Yesus berjanji bahwa dunia itu pasti datang. Namun, belum sekarang. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan,” Dia mengingatkan murid-murid-Nya dalam Yohanes 16. “Tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (ay.33). Dalam pasal itu Yesus berbicara tentang masalah-masalah yang sangat serius, seperti penganiayaan karena iman. Namun, Yesus berkata, masalah itu tidak akan menang atas mereka yang berharap kepada-Nya.

Masalah kecil atau besar dapat mengganggu hari-hari kita. Namun, janji Yesus tentang hari esok yang lebih baik bersama-Nya menguatkan kita untuk tidak membiarkan masalah menentukan hidup kita hari ini.—Adam Holz

WAWASAN
Yohanes 14-16 berisi serangkaian pengajaran Yesus yang disebut Ceramah Ruang Atas. Inilah pengajaran panjang-Nya yang terakhir kepada murid-murid-Nya sebelum Dia disalibkan. Dalam ayat hari ini (16:25-33), Yesus mengakhiri pesan-Nya dengan membuat pernyataan yang sejajar dengan bagian awalnya. Di 16:28, Yesus berkata bahwa Dia akan meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa, mengulangi perkataan-Nya tentang pergi ke rumah Bapa di 14:2-3. Di Yohanes 16:32, Dia berkata bahwa para murid akan dicerai-beraikan ke tempat mereka masing-masing dan meninggalkan Dia sendiri. Namun, di Yohanes 14:3, Dia memberikan jaminan kepada mereka akan adanya tempat di rumah Bapa bagi mereka—sebuah tempat yang pasti jauh lebih baik! Pada akhirnya, di 14:1, Yesus memulai dengan menguatkan mereka agar hati mereka tidak digelisahkan oleh kepergian-Nya, sementara di 16:33, Dia memberikan jaminan bahwa mereka dapat memiliki damai sejahtera oleh karena kemenangan-Nya yang akan datang. Dengan ini pesan tersebut diakhiri dengan menggenapi pemikiran yang terdapat di awal ceramah-Nya. —Bill Crowder

Bagaimana bila kamu menyerahkan masalahmu kepada Allah? Apa yang kamu gunakan untuk mengingatkanmu agar menyerahkan segala kekuatiran kecemasanmu kepada-Nya?

Ya Bapa, rasanya masalah datang bertubi-tubi. Namun, ketika masalah itu datang, Engkau ada bersamaku. Tolonglah aku untuk bergantung penuh kepada-Mu hari ini.

Sunday, September 20, 2020

Menghentikan Kabar Angin

 

Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong. —Keluaran 23:1

Menghentikan Kabar Angin

Setelah ditunjuk sebagai gembala Gereja Trinitas Kudus di Cambridge, Inggris, Charles Simeon (1759-1836) menghadapi perlawanan selama bertahun-tahun. Karena sebagian besar anggota jemaat menolak Simeon dan menginginkan wakil gembala untuk menduduki jabatan tersebut, mereka menyebarkan kabar angin tentang dirinya dan menentang pelayanannya—bahkan pernah sampai mengunci gereja agar Simeon tidak bisa masuk. Namun Simeon, yang rindu dikuasai oleh Roh Allah, mencari jalan untuk menghadapi kabar angin tersebut dengan menyusun beberapa prinsip sebagai pedoman hidupnya. Salah satunya, orang tidak boleh mempercayai kabar angin kecuali kabar itu 100% benar. Prinsip lainnya adalah “selalu percaya bahwa seandainya pihak yang berlawanan diberi kesempatan berbicara, ceritanya pasti akan sangat berbeda.”

Dengan mempraktikkan prinsip ini, Simeon mengikuti perintah Allah kepada umat-Nya untuk berhenti menyebarkan kabar bohong dan omongan keji yang Allah tahu akan mengikis kasih mereka kepada satu sama lain. Satu dari Sepuluh Perintah Allah mencerminkan kerinduan Allah agar umat-Nya hidup jujur: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel. 20:16). Selain itu ada perintah dalam kitab Keluaran yang memperkuat perintah tadi: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (23:1)

Bayangkan betapa berbedanya dunia ini apabila setiap dari kita tidak pernah menyebarkan kabar angin dan kebohongan, serta menolak meneruskannya begitu kita mendengarnya. Kiranya kita terus mengandalkan Roh Kudus untuk menolong kita menyatakan kebenaran dengan penuh kasih, supaya perkataan kita membawa kemuliaan bagi Allah.—Amy Boucher Pye

WAWASAN
Allah memberikan Sepuluh Perintah-Nya sebagai panduan untuk hidup sehari-hari supaya umat-Nya menjalani hidup kudus dengan setia. Perintah ke-1 sampai 4 (Keluaran 20:1-11) mengajar kita untuk mengasihi Allah, yang dikatakan Yesus sebagai “hukum yang terutama dan yang pertama” (Matius 22:38). Perintah ke-5 sampai 10 (Keluaran 20:12-17) mengajar kita: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Setelah memberikan Sepuluh Perintah ini, Musa menuliskan berbagai syarat yang jika diikuti akan memampukan bangsa Israel untuk mengasihi sesama mereka (Keluaran 21:1-23:9). “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan” (Mazmur 11:7), Musa memerintahkan mereka untuk mengejar “semata-mata keadilan” (Ulangan 16:20). Kasih kepada sesama berarti keadilan bagi semua. Keluaran 23:1-9 adalah penerapan dari perintah kesembilan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (20:16). Perintah ini menjamin keadilan yang tidak pandang bulu kepada semua orang. Tuduhan palsu, kesaksian yang jahat, pencemaran nama baik, dan perilaku tidak adil karena tekanan dari luar, sikap pilih kasih, atau suap—semua itu memberi andil pada menyimpangnya keadilan yang sejati dan terhalangnya kasih kepada sesama. —K.T. Sim

Apa yang kamu andalkan ketika kamu menghadapi perlawanan? Bagaimana reaksimu ketika mendengar kabar angin?

Tuhan Yesus, tolonglah aku menyatakan kebenaran-Mu dengan penuh kasih. Mampukanlah aku mengucapkan kata-kata yang dapat membawa kedamaian, kasih, dan semangat bagi orang lain.

Saturday, September 19, 2020

Melihat dengan Fokus

 

Karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini. —Kisah Para Rasul 3:16

Melihat dengan Fokus

Penulis ternama Mark Twain pernah menyatakan bahwa apa pun yang kita lihat dalam hidup ini—dan cara kita melihatnya—akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan tujuan akhir kita. Menurut Twain, “Kamu tidak bisa bergantung pada penglihatan ketika imajinasimu tidak fokus.”

Rasul Petrus juga berbicara tentang penglihatan ketika ia menjawab permintaan seorang pengemis lumpuh yang dijumpainya bersama Yohanes di dekat pintu gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah (Kis. 3:2). Ketika pengemis itu minta sedekah, Petrus dan Yohanes menatapnya. “Petrus berkata: ‘Lihatlah kepada kami’” (ay.4).

Mengapa Petrus mengatakan itu? Kemungkinan, sebagai rasul Kristus, Petrus ingin pengemis itu berhenti melihat keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri—bahkan berhenti melihat kebutuhannya akan uang. Dengan mata yang terarah kepada kedua rasul itu, si pengemis akan melihat realitas kebutuhannya untuk beriman kepada Allah.

Petrus lalu berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (ay.6). Lalu Petrus “memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari” (ay.7-8).

Apa yang terjadi? Orang itu percaya kepada Allah (ay.16). Ini seperti yang dinasihatkan pengkhotbah Charles Spurgeon, “Arahkanlah matamu hanya kepada Dia.” Dengan begitu, kita tidak akan melihat rintangan-rintangan yang menghadang. Yang kita lihat hanyalah Allah, Pribadi yang akan membersihkan segala rintangan itu dari jalan kita.—Patricia Raybon

WAWASAN
Kata iman (faith) atau salah satu dari variasinya (faithful, faithfulness-setia, kesetiaan) muncul dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Baru versi New International Version sebanyak 458 kali. Iman adalah sesuatu yang diperlukan untuk mempercayai dan menyenangkan Allah. Iman menjadi faktor yang mendasari tindakan tokoh-tokoh yang paling dikenal dalam Alkitab (lihat Ibrani 11). Bacaan hari ini menyatakan bahwa kesembuhan si lumpuh adalah karena iman di dalam Yesus (Kisah Para Rasul 3:16). Namun, iman siapa? Apakah orang lumpuh itu yang percaya kepada Yesus dan memiliki iman? Mungkin saja, karena dibutuhkan kepercayaan yang cukup baginya untuk berdiri ketika Petrus memegang tangannya. Akan tetapi, yang lebih mungkin adalah iman Petrus. Pernyataan kesembuhan dan keyakinan untuk memegang tangan orang lumpuh itu menunjukkan bahwa Petrus, yang menyembuhkan, memiliki iman di dalam nama Yesus—Sang Mesias—untuk melakukan mujizat itu. —J.R. Hudberg

Apa yang selama ini menjadi fokusmu selain Allah? Dengan iman yang kembali terfokus, apa saja yang kamu perlukan dalam hidup ini yang kamu temukan di dalam Dia?

Bapa Surgawi, bila mataku menyimpang dari-Mu, arahkanlah pandanganku kepada kuasa-Mu yang tak terbatas.

Friday, September 18, 2020

Memperbaiki Lift

 

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan. —Imamat 19:18

Memperbaiki Lift

Sarah menderita penyakit langka yang menyebabkan sendi-sendinya bergeser, sehingga ia harus bergantung pada kursi roda elektrik untuk pergi ke mana-mana. Baru-baru ini, Sarah batal menghadiri sebuah pertemuan karena begitu sampai di stasiun kereta, ia mendapati lift di sana lagi-lagi rusak. Karena tidak bisa naik ke peron, Sarah diminta naik taksi ke stasiun lain yang jauhnya empat puluh menit perjalanan. Akan tetapi, taksi yang dipesan tak kunjung datang. Akhirnya Sarah menyerah dan memilih pulang.

Sayangnya, hal itu sering terjadi pada Sarah. Lift rusak membuatnya tidak bisa naik kereta, dan bidang landai yang lupa dipasang membuatnya tidak bisa turun. Terkadang Sarah yang membutuhkan bantuan dianggap merepotkan oleh karyawan stasiun. Ia sering menangis karena segala perlakuan itu.

Dari sekian banyak hukum dalam Alkitab yang mengatur hubungan antarmanusia, mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri adalah yang terutama (Im. 19:18, Rm. 13:8-10). Meskipun kasih itu membuat kita tidak lagi berbohong, mencuri, dan menyakiti orang lain (Im. 19:11,14), hal itu juga mengubah cara kita bekerja. Para pekerja harus diperlakukan adil (ay.13), dan kita semua harus bermurah hati kepada orang miskin (ay.9-10). Dalam kasus Sarah, petugas yang memperbaiki lift atau memasang bidang landai di bawah pintu kereta tidaklah melakukan hal yang remeh melainkan sedang memberikan pelayanan yang penting kepada orang lain.

Bila kita menganggap pekerjaan hanya sebagai sarana mencari upah atau keuntungan pribadi, kita dengan mudah menganggap orang lain merepotkan. Namun, bila kita menganggap pekerjaan kita sebagai kesempatan untuk mengasihi, tugas sehari-hari pun menjadi pekerjaan yang mulia. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Para ahli Alkitab menamakan Imamat 17-26 sebagai “Hukum Kekudusan,” karena di dalamnya ditekankan pentingnya kekudusan hidup bagi umat yang menjadi tempat kediaman Allah. Pasal-pasal sebelumnya dari Imamat berbicara mengenai persembahan korban (1-7), persiapan dan ritual keimaman (8-10), berbagai petunjuk tentang hal yang haram dan yang tidak haram (11-15), dan Hari Raya Pendamaian (16). Pasal-pasal berikutnya menekankan mengenai kekudusan di dalam keluarga dan masyarakat, dalam hubungan seksual, dalam urusan ekonomi, dan lainnya. Menjadi kudus artinya dipisahkan dan hidup—oleh kuasa Roh Kudus—menurut prinsip-prinsip yang terdapat di dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Baru, Petrus menyerukan perlunya kekudusan dalam diri mereka yang percaya kepada Yesus dengan memakai perkataan dari Imamat 11:44 dan 19:2: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:15-16). —Arthur Jackson

Menurut kamu, mengapa kita bisa merasa kesal ketika ada orang yang membutuhkan bantuan khusus? Bagaimana kamu dapat mengubah pekerjaanmu menjadi saluran kasih hari ini?

Ya Bapa, bagi-Mu pekerjaan bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan indah untuk melayani-Mu dan sesama. Tolonglah aku hari ini untuk melihat pekerjaanku sebagai kesempatan untuk membawa berkat bagi sesama.

Thursday, September 17, 2020

Jangan Tertipu

 

[Iblis] adalah pendusta dan bapa segala dusta. —Yohanes 8:44

Jangan Tertipu

Lanternfly berbintik adalah serangga cantik dengan bagian luar sayap berbintik-bintik dan bagian dalam berwarna merah terang yang bercahaya ketika terbang. Namun, kecantikannya sedikit menipu. Serangga yang pertama kali terlihat di Amerika Serikat pada tahun 2014 ini digolongkan sebagai hama di Amerika Utara, yang berarti mempunyai potensi merusak keseimbangan alam dan ekonomi. Lanternfly akan memakan bagian dalam dari segala jenis pohon kayu, termasuk pohon ceri dan pohon buah-buahan lain. Setelah makan, lanternfly meninggalkan cairan lengket yang kemudian ditumbuhi jamur, sehingga pohon itu langsung mati atau tidak bisa berbuah lagi.

Dalam kisah Adam dan Hawa, kita belajar tentang ancaman lain. Ular, yang adalah Iblis, telah memperdaya mereka untuk memberontak kepada Allah dan membuat mereka memakan buah terlarang dalam keinginan untuk “menjadi seperti Allah” (Kej. 3:1-7). Namun, mengapa ular didengar? Apakah Hawa terpikat pada kata-katanya, atau ada sesuatu yang menarik pada wujudnya? Alkitab mengisyaratkan bahwa Iblis diciptakan maha indah (Yeh. 28:12). Namun, Iblis jatuh oleh godaan yang sama seperti yang dipakainya untuk memikat Hawa: “Aku . . . hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yes. 14:14, Yeh. 28:9)

Kini Iblis memakai sisa-sisa keindahan yang dimilikinya untuk menipu (Kej. 3:1; Yoh. 8:44; 2Kor. 11:14). Ia berusaha agar manusia tidak bertumbuh, atau menariknya jatuh ke dalam dosa, seperti dirinya. Namun, kita memiliki satu Pribadi yang jauh lebih berkuasa di pihak kita! Kita dapat lari dan berlindung kepada Yesus Kristus, Juruselamat kita yang terindah. —Alyson Kieda

WAWASAN
Kitab Kejadian tidak menyebut si ular di taman Eden sebagai Iblis. Barulah ketika kitab terakhir dalam Perjanjian Baru memperlihatkan sebuah dunia yang berkecamuk dengan kekerasan dan kesesatan, Alkitab mengaitkan langsung naga, ular, dan Iblis atau Satan (Wahyu 12:9; 20:2). Namun, kita mendapatkan beberapa petunjuk saat membaca kitab-kitab lainnya. Suara si musuh muncul di beberapa tempat yang tidak terduga. Desisan tuduhan karena kecemburuan muncul dalam pertemuan Allah dengan malaikat-malaikat-Nya (Ayub 1:6-12). Namun, tidak ada yang lebih menakjubkan daripada cara Yesus menggunakan gambaran ular untuk menggambarkan karya keselamatan-Nya. “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14-15). —Mart DeHaan

Pernahkah kamu ditipu oleh perkataan yang memikat dari seseorang atau sekelompok orang? Apa yang dapat menolongmu mengenali tipuan itu?

Ya Allah, tolonglah aku agar dapat menimbang apa yang kulihat dan kudengar berdasarkan kebenaran Kitab Suci. Terima kasih, karena oleh salib Kristus, ada kemenangan atas kejahatan.

Wednesday, September 16, 2020

Berikan Semampunya

 

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya. —2 Korintus 9:7

Berikan Semampunya

Scaling adalah istilah dalam dunia kebugaran yang memungkinkan siapa saja dapat ikut berpartisipasi. Contohnya, saat latihan push up, mungkin kamu bisa melakukannya sebanyak sepuluh kali, tetapi saya hanya bisa empat kali. Instruktur akan mendorong saya melakukan scaling sesuai tingkat kebugaran saya saat itu. Meski tidak berada di level yang sama, tetapi setiap orang bisa menuju ke arah yang sama. Dengan kata lain, instruktur itu hendak berkata: “Lakukan empat kali push up dengan segenap kekuatanmu. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Lakukan terus semampumu, nanti kau akan takjub bahwa suatu hari kau mampu melakukan tujuh, bahkan sepuluh, push up sekaligus.”

Dalam hal memberi, Rasul Paulus dengan jelas berkata: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor. 9:7). Akan tetapi, Paulus mendorong jemaat di Korintus, dan kita, untuk melakukannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya (ay.7). Setiap dari kita memiliki kemampuan memberi yang berbeda-beda, dan terkadang tingkat kemampuan itu juga berubah seiring waktu.

Tidak ada gunanya membanding-bandingkan, karena yang terpenting adalah sikap hati. Apa pun posisimu sekarang, berilah dengan murah hati (ay.6). Allah kita telah berjanji bahwa tindakan memberi dengan sukacita yang dilakukan dengan tekun akan memperkaya kita “dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah” (ay.11). —John Blase

WAWASAN
2 Korintus 8-9 memuat pengajaran paling lengkap dalam Perjanjian Baru tentang hal memberi. Orang-orang percaya di Yerusalem sedang menderita dalam kemiskinan karena bencana kelaparan (Kisah Para Rasul 11:28-29; Roma 15:26). Jemaat Makedonia, yang juga “sangat miskin,” menanggapi dengan murah hati memberi menurut kemampuan mereka (2 Korintus 8:1-5). Namun, jemaat Korintus yang kaya telah berjanji memberikan bantuan keuangan tetapi belum menjalankannya. Paulus kini mendorong mereka untuk memenuhi janji mereka (2 Korintus 8:6-11; 9:1-6). Pemberian yang memuliakan Allah dilakukan dengan kerelaan, bukan terpaksa (2 Korintus 8:3; 9:5,7); dengan murah hati, bukan pelit (8:2; 9:6,13); dengan sukacita, bukan dengan sedih hati (8:2-3,11-12; 9:7); dengan tekad bulat, bukan sekadarnya (9:7); dan menurut kemampuan yang ada (8:11-13). Allah memberkati jemaat Korintus secara materi supaya mereka dapat membagikan kelimpahan itu dengan mereka yang membutuhkan (8:14-15; 9:8-11). Mengutip Mazmur 112:9, Paulus menyebut bahwa mereka yang memberi dengan sukacita menyerupai Allah sendiri: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang-orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya” (2 Korintus 9:9).—K.T. Sim

Kata apa yang dapat menggambarkan pemberianmu: Sukacita? Enggan? Terpaksa? Tanpa membandingkan diri dengan orang lain, menurutmu, bagaimana bentuk dari memberi dengan sukacita?

Allah Maha Pemurah, aku ingin memberi dengan sukacita, semampu yang aku bisa. Aku tahu pentingnya memberi dalam ketekunan. Berilah aku hikmat untuk tidak membandingkan diri, kekuatan untuk menabur dengan murah hati, dan iman untuk menyerahkan hasilnya ke dalam tangan-Mu.

Tuesday, September 15, 2020

Hati yang Berbelas Kasihan

 

Tergeraklah hati [Yesus] oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. —Matius 14:14

Hati yang Berbelas Kasihan

Ellen, teman saya, bertanggung jawab menghitung gaji karyawan di sebuah kantor akuntan. Kedengarannya sederhana, tetapi ada saja pemberi kerja yang terlambat memasukkan informasi yang diperlukan. Kerap kali Ellen harus mengambil waktu lembur supaya para karyawan dapat menerima gaji mereka tepat waktu. Ia melakukannya karena mempertimbangkan keluarga-keluarga yang bergantung pada dana tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, membeli obat-obatan, dan membayar sewa rumah.

Hati Ellen yang dipenuhi belas kasihan dalam pekerjaannya itu mengingatkan saya pada Yesus. Selama di dunia, terkadang Dia melayani orang-orang ketika keadaan sedang tidak nyaman bagi-Nya. Contohnya ketika Kristus ingin menyendiri setelah mendengar kabar bahwa Yohanes Pembaptis dibunuh. Dia pun menaiki perahu untuk mengasingkan diri ke tempat yang sunyi (Mat. 14:13). Mungkin Dia merasa perlu menangisi kematian kerabat-Nya itu dan berdoa dalam kesedihan-Nya.

Namun, ada satu masalah. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti-Nya. Kebutuhan mereka juga bermacam-macam. Sebenarnya mudah saja menyuruh mereka pergi, tetapi “ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit” (ay.14).

Meskipun sudah menjadi bagian dari panggilan Yesus untuk mengajar orang banyak dan menyembuhkan mereka selama Dia melayani di dunia, tetaplah rasa empati mempengaruhi cara Yesus melakukan pelayanan-Nya. Kiranya Allah menolong kita menyadari belas kasihan Allah dalam hidup kita dan memampukan kita untuk membagikannya kepada orang lain.—Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Di Matius 14:13 kita membaca, “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.” Dalam momen-momen penting atau ketika tantangan besar datang, biasanya Yesus pergi memisahkan diri dari keramaian. Inilah pola yang biasa dilakukan-Nya selama di dunia (ay.23; Markus 1:35; 6:46; Lukas 5:16; 6:12). Dalam Matius 14, hal yang memicu keinginan Yesus untuk menyepi (“berita itu”, ay.13) adalah serangkaian peristiwa keji yang berujung pada pembunuhan pendahulu-Nya, Yohanes Pembaptis. Entah Dia mengambil waktu untuk berduka atas kematian Yohanes atau ingin mencari hadirat Bapa yang menghiburkan diri-Nya, Yesus mendapati waktu-waktu menyepi itu sangat berharga. —Bill Crowder

Belas kasihan dan pemeliharaan Allah seperti apa yang telah kamu alami? Apa saja yang selama ini menghalangimu untuk menyatakan kasih Allah dalam tanggung jawabmu sehari-hari?

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau sudah memenuhi kebutuhan rohani dan jasmaniku. Buatlah rasa syukurku berlimpah ruah agar aku dapat memuliakan-Mu lewat kepedulianku kepada sesama.

Monday, September 14, 2020

Perjumpaan dan Perpisahan

 

Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:3-4

Perjumpaan dan Perpisahan

Ketika saudara laki-laki saya, David, meninggal dunia secara mendadak karena gagal jantung, cara pandang saya tentang hidup berubah drastis. Dave adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, tetapi ia yang pertama berpulang. Kepergiannya yang tak terduga membuat saya banyak merenung. Jelaslah bahwa seiring dengan bertambahnya usia kami semua, keluarga kami akan mengalami kehilangan demi kehilangan di masa mendatang. Masa depan kami akan diwarnai lebih banyak perpisahan daripada perjumpaan.

Bila dipikir secara logika, ini bukanlah hal yang mengejutkan—karena memang itulah hidup manusia. Meski demikian, kesadaran itu cukup mengguncang perasaan dan pemikiran kita. Kita mendapat kesempatan untuk memaknai kembali setiap momen dan waktu yang masih diizinkan bagi kita untuk dijalani. Kita juga didorong untuk kembali menghargai kenyataan bahwa kelak ada perjumpaan kembali yang tidak lagi akan diakhiri dengan perpisahan.

Kenyataan akhir itu menjadi pusat dari apa yang kita baca di Wahyu 21:3-4, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Meskipun saat ini kita mungkin mengalami serangkaian perpisahan yang mendukakan hati, keyakinan kita pada kematian dan kebangkitan Kristus menolong kita untuk mengingat janji Allah akan adanya perjumpaan kembali yang abadi.—Bill Crowder

WAWASAN
Bacaan hari ini memberikan kepada kita sekilas gambaran surga, dengan menerangkannya sebagai tempat yang jasmani (ay.1-2). Yesus berkata bahwa Dia pergi untuk menyiapkan tempat untuk kita (Yohanes 14:2-3), dan janji ini dipenuhi di Yerusalem yang Baru, kota yang kudus (Wahyu 21:2). Meskipun kita berbahagia mendapat tempat yang sempurna seperti surga (ay.4), yang terpenting bagi kita adalah bahwa Allah berdiam di sana (ay.3). Dalam penglihatan terakhirnya tentang permulaan kekekalan (21:1-22:9), Yohanes mendengar Kristus berseru, “Sudah selesai!” (21:6 BIS). Ini mengingatkan kita pada seruan kemenangan Kristus dari kayu salib (Yohanes 19:30). Suatu hari nanti, kutuk dosa akan sepenuhnya dihapuskan dan diputarbalikkan (Wahyu 21:4-5; lihat Kejadian 3:16-19). —K.T. Sim

Bagaimana cara kamu mengatasi dukacita atas kepergian orang-orang yang kamu kasihi? Apakah kamu terhibur mengetahui bahwa kelak kamu akan berjumpa lagi dengan mereka?

Ya Bapa, aku bersyukur Engkaulah Allah yang hidup yang memberikan hidup kekal. Kiranya Engkau memakai pengharapan kekal itu untuk menghibur kami dalam masa-masa kami berkabung dan berduka.

Sunday, September 13, 2020

Sirip yang Menjaga

 

Apakah aku penjaga adikku? —Kejadian 4:9

Sirip yang Menjaga

Seorang ahli biologi kelautan sedang berenang dekat Kepulauan Cook di Pasifik Selatan ketika seekor paus bungkuk berbobot dua puluh tiga ton tiba-tiba muncul dan mengempit dirinya di bawah siripnya. Perempuan itu mengira ia bakal mati. Namun, setelah berenang perlahan dengan berputar-putar, akhirnya paus itu melepaskannya. Saat itulah si ahli biologi melihat seekor hiu harimau berenang menjauh. Ia yakin paus tadi bermaksud menjaganya dari bahaya yang mengancam nyawa.

Dalam dunia yang penuh bahaya ini, kita dipanggil untuk saling menjaga. Namun, mungkin kamu bertanya dalam hati, Benarkah aku diharapkan untuk bertanggung jawab atas diri orang lain? Atau seperti kata Kain, “Apakah aku penjaga adikku?” (Kej. 4:9). Jawaban yang kita temukan di hampir setiap kitab dalam Perjanjian Lama adalah: Ya! Seperti Adam bertanggung jawab merawat Taman Eden, demikian pula Kain seharusnya menjaga Habel. Bangsa Israel diperintahkan untuk memperhatikan orang-orang yang lemah dan memelihara hidup mereka yang berkekurangan. Namun, mereka justru melakukan yang sebaliknya—memeras rakyat, menindas orang miskin, dan mengabaikan panggilan untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Yes. 3:14-15).

Namun, dalam kisah Kain dan Habel, Allah tetap menjaga Kain sekalipun ia diasingkan (Kej. 4:15-16). Allah melakukan untuk Kain apa yang seharusnya Kain lakukan bagi Habel. Kelak, hal yang indah itu juga dilakukan Allah bagi kita lewat kedatangan Yesus ke dunia. Tuhan Yesus menjaga dan memelihara kita, serta memampukan kita untuk ikut menjaga sesama kita.—Glenn Packiam

WAWASAN
Kejadian 2 menggambarkan bagaimana Allah menempatkan Adam dan Hawa di dalam taman untuk mengusahakan dan memeliharanya. Sebaliknya, taman itu akan memberikan mereka segala makanan yang mereka butuhkan. Akan tetapi, dosa mengusik relasi timbal balik antara manusia dan bumi tersebut. Ketika Adam dan Hawa berdosa, salah satu konsekuensinya adalah bahwa bumi ini tidak akan berbuah selebat seperti waktu sebelum ada dosa. “Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan [bumi] bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu” (Kejadian 3:18). Hubungan yang rusak dengan tanah juga menjadi konsekuensi bagi Kain ketika Allah menghukumnya karena membunuh Habel. Allah berkata bahwa tanah itu tidak akan lagi menghasilkan baginya (4:12). Kain membasahi tanah dengan darah adiknya dan tanah itu menjadi tandus baginya. —J.R. Hudberg

Siapa yang dipercayakan Allah kepadamu untuk dijaga? Bagaimana kamu telah melakukan tanggung jawab tersebut? Pernahkah kamu mencoba mengelak atau menghindarinya?

Allah yang pengasih, terima kasih atas pemeliharaan-Mu kepadaku. Engkau menjaga dan memeliharaku. Tolonglah aku melakukan yang sama kepada sesamaku.

Saturday, September 12, 2020

Hari untuk Memberi Semangat

 

Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, . . . hiburlah mereka yang tawar hati. —1 Tesalonika 5:14

Hari untuk Memberi Semangat

Setiap hari, tim reaksi cepat menunjukkan dedikasi dan keberanian mereka dengan terjun ke garis depan untuk membantu menanggulangi bencana. Ketika gedung World Trade Center di New York diserang pada tahun 2001, ribuan orang tewas atau terluka, ada lebih dari empat ratus anggota tim reaksi cepat juga tewas. Untuk menghormati pengorbanan mereka, Senat Amerika Serikat menetapkan tanggal 12 September sebagai Hari untuk Memberi Semangat (National Day of Encouragement).

Meskipun tidak lazim suatu negara menetapkan satu hari khusus untuk memberi semangat, Rasul Paulus menganggap bahwa dorongan semangat memang dibutuhkan oleh sebuah gereja yang sedang bertumbuh. Ia menasihati jemaat yang baru berkembang di Tesalonika, sebuah kota di Makedonia: “Hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1 Tes. 5:14). Meski mengalami penganiayaan, umat Tuhan didorong Paulus untuk berusaha “selalu untuk berbuat baik, seorang kepada yang lain dan kepada semua orang” (ay.15 BIS). Ia tahu bahwa manusia kerap merasa putus asa, suka mementingkan diri sendiri, dan terlibat dalam konflik. Namun, ia juga tahu bahwa mereka tidak akan bisa saling menguatkan jika tidak ditolong dan dikuatkan oleh Allah.

Demikian pula kita sekarang ini. Kita semua membutuhkan penguatan, dan kita perlu melakukan yang sama bagi orang lain di sekitar kita. Namun, kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Itulah sebabnya dorongan yang diberikan Paulus dapat meyakinkan kita kembali, yaitu bahwa “[Yesus] yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (ay.24). Dengan pertolongan-Nya, kita bisa saling menguatkan setiap hari.—Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Bacaan hari ini diambil dari surat pertama Paulus kepada jemaat di Tesalonika, Makedonia. Tesalonika adalah kota penting yang berada di Jalur Egnatia, sebuah jalan raya Romawi yang penting dan strategis. Karena terletak di Laut Aegea, kota ini dikenal sebagai kota perdagangan. Kisah Para Rasul 17:1-9 memaparkan pelayanan Paulus di sana. Selama tiga hari Sabat berturut-turut, ia mengajar tentang Yesus di rumah ibadat orang Yahudi di sana. Hasilnya, beberapa orang Yahudi, banyak orang Yunani, dan beberapa perempuan terkemuka berpaling kepada Yesus (ay.4). Namun, orang-orang Yahudi lainnya berbuat rusuh hingga Paulus dan rekannya Silas harus keluar dari kota itu (ay.5-10). Paulus memulai surat 1 Tesalonika dengan pesan peneguhan dan doa, dan kita melihat kepeduliannya kepada para petobat baru di sepanjang surat ini. —Alyson Kieda

Bagaimana kata-kata yang memberi semangat dapat menolong seseorang keluar dari rasa putus asa? Siapa yang dapat kamu semangati hari ini?

Tuhan Yesus, terima kasih untuk dorongan yang Engkau berikan kepadaku setiap hari. Kumohon, tunjukkanlah siapa yang membutuhkan dorongan semangat dariku hari ini.

Friday, September 11, 2020

Api di tengah Gurun

 

Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. —Keluaran 3:10

Api di tengah Gurun

Ketika sedang menunggang kudanya di Gurun Chihuahua pada akhir dekade 1800-an, Jim White melihat kepulan asap aneh yang berpusar-pusar ke angkasa. Karena mencurigai api itu berasal dari semak yang terbakar, si koboi muda memacu kudanya menuju ke sumbernya. Namun, ternyata yang dilihatnya bukan asap, melainkan sekawanan besar kelelawar yang beterbangan keluar dari sebuah lubang di tanah. White telah menemukan Gua Carlsbad, serangkaian gua yang sangat besar dan spektakuler di negara bagian New Mexico.

Ketika Musa sedang menggembalakan domba di sebuah gurun Timur Tengah, ia juga melihat pemandangan aneh yang menarik perhatiannya—semak duri yang menyala-nyala tetapi tidak dimakan api (Kel. 3:2). Ketika Allah sendiri berbicara dari semak duri itu, Musa menyadari bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Allah berkata kepada Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham” (ay.6). Allah ingin memimpin umat Israel keluar dari perbudakan dan menunjukkan identitas sejati mereka sebagai anak-anak-Nya (ay.10).

Lebih dari enam ratus tahun sebelumnya, Allah telah memberikan janji ini kepada Abraham: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Keluarnya bangsa Israel dari Mesir hanyalah satu langkah menuju berkat itu, karena rencana besar Allah untuk menyelamatkan ciptaan-Nya adalah melalui Mesias, keturunan Abraham.

Hari ini kita dapat menikmati manfaat dari berkat itu, karena Allah menawarkan penyelamatan tersebut kepada semua orang. Kristus datang untuk mati bagi dosa-dosa seluruh dunia. Hanya dengan beriman kepada-Nya, kita juga menjadi anak-anak Allah yang hidup.—Tim Gustafson

WAWASAN
Panggilan Allah atas Musa di gunung ini menjadi contoh dari cara kerja yang sering ditempuh-Nya. Allah sering memakai masa pelatihan di belantara untuk memperlengkapi seseorang bagi pelayanan. Yusuf melayani dalam belantara perbudakan sebelum menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyelamatkan bangsanya. Elia dan Paulus juga menghabiskan sejumlah waktu di tengah belantara. Tuhan Yesus sendiri menghabiskan empat puluh hari di padang belantara sebelum memulai pelayanan-Nya di muka umum. —Bill Crowder

Apa saja hal mengejutkan yang telah menolongmu belajar tentang Allah? Bagaimana cara kamu menjalani hidup setelah mengetahui bahwa kamu telah menjadi salah satu anak-Nya?

Terima kasih, Bapa, karena aku dapat menemui-Mu sekalipun Engkau sangat berkuasa, kudus, dan hadirat-Mu begitu dahsyat.

Thursday, September 10, 2020

Hidup sebagai Pujian bagi Allah

 

Kita semua . . . diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. —2 Korintus 3:18

Hidup sebagai Pujian bagi Allah

Sepanjang masa kecilnya, dirigen Arianne Abela selalu menyembunyikan tangan dengan cara mendudukinya. Abela lahir dengan jari-jari yang tidak lengkap atau saling melekat pada kedua tangannya. Ia juga tidak memiliki kaki kiri dan kaki kanannya tidak memiliki ibu jari. Sebagai pecinta musik dan penyanyi bersuara sopran, ia pernah berencana mengambil kuliah dalam jurusan pemerintahan di Smith College. Namun, suatu hari, pembina paduan suara memintanya menjadi dirigen, dan itu membuat kedua tangannya terlihat jelas. Sejak saat itu, ia tahu karir yang hendak ditekuninya, yang dimulai dari memimpin paduan suara gereja, hingga kini melayani sebagai pemimpin paduan suara di universitas lain. “Guru-guru saya melihat potensi dalam diri saya,” kata Abela.

Membaca kisahnya yang membangkitkan inspirasi itu, kita patut bertanya, Apa yang Allah, Sang Guru yang kudus, lihat dalam diri kita, tanpa menghiraukan keterbatasan kita? Lebih dari apa pun juga, Dia melihat diri-Nya sendiri. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27).

Sebagai penyandang “gambar” Allah yang mulia, ketika orang lain melihat kita, sudah sepatutnya kita mencerminkan Dia. Bagi Abela, itu berarti yang terpenting adalah Yesus, bukan tangannya—atau jari-jarinya yang tidak lengkap. Hal yang sama berlaku bagi semua orang percaya. 2 Korintus 3:18 berkata, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung . . . diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.”

Seperti Abela, kita dapat menjalani hidup dengan kuasa Kristus yang mengubahkan (ay.18), sambil mempersembahkan hidup kita sebagai pujian yang berkumandang bagi kemuliaan Allah.—Patricia Raybon

WAWASAN
Ketika Paulus menulis mengenai “muka yang tidak berselubung” (2 Korintus 3:18), kita harus memahami perkataannya dalam konteks Keluaran 33 dan 34. Setelah pendakiannya yang pertama ke Gunung Sinai, Musa dengan sungguh memohon kepada Allah agar dapat melihat kemuliaan-Nya. Allah setuju, dan kemudian meminta Musa untuk mendaki gunung itu lagi (lihat Keluaran 33:18-34:3). Sekembalinya dari gunung itu, wajah Musa bersinar penuh kemuliaan yang datang dari keberadaannya di hadapan Allah. Sinar itu begitu terang, sehingga Musa mengenakan selubung pada wajahnya (34:29-35). Pada 2 Korintus pasal 3, Paulus membandingkan kemuliaan perjanjian yang lama (pemberian hukum), yang terlihat dari terang wajah Musa, dengan kemuliaan perjanjian yang baru (pemberian dan pelayanan Roh Kudus). Melalui karya Yesus Kristus (ay.13-15), Roh Allah membawa kita kepada kemerdekaan untuk “mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung,” dan kita “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (ay.18). —Tim Gustafson

Bagaimana kamu memandang diri secara berbeda saat mengetahui bahwa kamu adalah penyandang “gambar” Allah? Apa pengaruhnya terhadap interaksi kamu dengan orang lain?

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menjadikanku menurut gambar-Mu. Tolonglah aku menghayati itu dalam seluruh hidupku.

Wednesday, September 9, 2020

Tercetak pada Hati Kita

 

Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu. —Amsal 7:3

Tercetak pada Hati Kita

Ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak bergerak pada tahun 1450, terbukalah era komunikasi massa di dunia Barat dan realitas sosial baru yang memudahkan penyebaran informasi kepada masyarakat luas. Tingkat kemampuan menulis dan membaca pun meningkat di seluruh dunia dan tumbuhnya ide-ide baru telah menghasilkan perubahan yang pesat, baik dalam bidang sosial maupun keagamaan. Gutenberg berhasil menerbitkan Alkitab cetak untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Alkitab harus disalin dengan tulisan tangan, dan dibutuhkan waktu hingga satu tahun untuk menyelesaikan satu jilid.

Selama berabad-abad kemudian, mesin cetak membuat kita dapat dengan mudah membaca Alkitab. Walaupun sekarang Alkitab tersedia dalam versi elektronik, masih banyak yang senang membaca Alkitab cetak, dan ini dimungkinkan berkat penemuan Gutenberg. Alkitab yang dahulu sangat sulit diperoleh karena biaya yang tinggi dan waktu penyalinan yang lama, kini dengan mudah bisa kita dapatkan.

Dapat mengetahui kebenaran Allah melalui Alkitab adalah kesempatan yang istimewa. Penulis kitab Amsal menyatakan bahwa kita patut memperlakukan perintah-perintah Allah kepada kita di dalam Kitab Suci sebagai sesuatu yang berharga, layaknya “biji mata” kita sendiri (Ams. 7:2), dan juga perlu menuliskan firman Allah yang penuh hikmat pada “loh hati” kita (ay.3). Untuk memahami Alkitab dan hidup menurut hikmat-Nya, bagaikan para penyalin kitab, kita perlu menuliskan kebenaran Allah dimulai dari “jari” kita hingga tersimpan di dalam hati, supaya kita membawanya ke mana pun kita melangkah.—Kirsten Holmberg

WAWASAN
Dalam Amsal 7:1-5, Salomo memperingatkan anaknya (atau anak-anaknya, seperti dicatat di ay.24) untuk menaati perkataannya. Ia menggunakan ilustrasi seorang perempuan jalang yang menyesatkan seorang laki-laki untuk menjelaskan pentingnya ketaatan dan menggambarkan bahaya rumah perempuan itu sebagai “jalan ke dunia orang mati” (ay.27). Untuk menaati perintah Salomo dan menghindari perempuan penggoda itu, pembaca diminta: “Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu” (ay.3). Metafora ini menyiratkan perlunya tindakan lahiriah (jari secara fisik) dan perubahan karakter batiniah (karakter hati). Penyebutan hikmat sebagai “saudara” di ayat 4 menggunakan kata yang umumnya berarti seorang saudara perempuan yang sangat dekat. Konteksnya bisa berarti seorang istri atau pengantin perempuan. Kedua tafsiran ini menyiratkan adanya relasi yang intim dan menekankan pentingnya menaati nasihat ini. —Julie Schwab

Bagaimana firman Tuhan yang tersimpan dalam hati telah memberkati hidupmu? Apa yang dapat kamu mulai lakukan untuk lebih menghayati hikmat Allah?

Allah yang penuh kasih, tolonglah aku lebih sungguh memahami firman-Mu agar aku boleh hidup seturut dengan kehendak-Mu.

Tuesday, September 8, 2020

Mengasihi Sesama dengan Doa Kita

 

Hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. —2 Korintus 1:9

Mengasihi Sesama dengan Doa Kita

“Apakah orang-orang masih mendoakanku?”

Itu salah satu pertanyaan awal yang diajukan seorang misionaris kepada istrinya setiap kali ia dikunjungi di dalam penjara. Sang misionaris telah difitnah dan dipenjara selama dua tahun karena imannya kepada Tuhan. Hidupnya sering berada dalam bahaya karena kondisi dan kebencian yang dideritanya di penjara, dan umat Tuhan di berbagai penjuru dunia terus mendoakannya dengan sungguh-sungguh. Misionaris itu hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak berhenti mendoakannya, karena ia percaya Allah memakai doa-doa mereka dengan cara yang luar biasa.

Doa-doa kita untuk orang lain—khususnya mereka yang dianiaya karena iman—adalah anugerah yang sangat berarti. Paulus menyatakan hal ini ketika dalam surat kepada jemaat di Korintus ia menceritakan berbagai kesusahan yang dihadapinya dalam pelayanan mengabarkan Injil. Beban yang dipikulnya “begitu besar dan begitu berat, sehingga [ia] telah putus asa” (2 Kor. 1:8). Namun, ia lalu menceritakan bagaimana Allah telah melepaskannya dan menjelaskan sarana yang dipakai-Nya untuk menolongnya: “Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami” (ay.10-11, penekanan ditambahkan).

Allah berkarya melalui doa-doa kita untuk menggenapi perkara besar yang membawa kebaikan bagi hidup anak-anak-Nya. Salah satu cara terbaik mengasihi sesama adalah dengan mendoakan mereka, karena melalui itu kita membuka jalan bagi datangnya pertolongan yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Ketika kita berdoa bagi orang lain, kita mengasihi mereka dalam kekuatan-Nya. Tiada yang lebih besar—dan lebih mengasihi—daripada Allah.—James Banks

WAWASAN
Rasul Paulus jelas memiliki relasi pasang-surut dengan jemaat Korintus. Dalam dua surat kepada mereka yang tercatat di dalam Alkitab, ia banyak mengoreksi berbagai perbuatan mereka sambil menanggapi beragam tuduhan atas dirinya dan serangan terhadap kerasulannya. Namun, meskipun ada konflik-konflik ini, Paulus memulai surat 2 Korintus dengan kata-kata penghiburan dari Allah untuk mereka (1:3-7). Kemudian, di bagian selanjutnya, ia bahkan menyatakan betapa mereka telah menghibur dirinya sekalipun ada kesulitan dalam hubungan mereka! (7:13). Paulus juga menceritakan sukacita yang dirasakannya ketika jemaat menghibur Titus, yang hatinya disegarkan oleh mereka. Sukacita Paulus “makin bertambah” saatg mengingat kerinduan, keluhan, dan kepedulian mereka kepadanya (ay.7,13). Sungguh menguatkan saat melihat bagaimana “Allah sumber segala penghiburan” (1:3) dapat memakai sarana dan pribadi yang tidak terduga untuk membawa penghiburan-Nya kepada kita.—Bill Crowder

Bagaimana kamu mengasihi orang lain dengan doa-doamu? Apa saja yang dapat kamu lakukan agar lebih tekun mendoakan saudara-saudari seiman yang teraniaya karena iman mereka?

Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, terima kasih untuk anugerah doa dan karya-karya-Mu melalui doa. Tolonglah aku untuk tekun mendoakan sesamaku hari ini!

Monday, September 7, 2020

Kini dan Nanti

 

Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur. —Amsal 2:7

Kini dan Nanti

Baru-baru ini, saya menghadiri sebuah acara wisuda SMA dan pembicaranya memberikan tantangan yang diperlukan oleh pemuda-pemudi yang akan diwisuda tersebut. Ia berkata bahwa itulah saatnya orang-orang akan bertanya kepada para lulusan, “Apa rencanamu selanjutnya? Karir apa yang hendak kamu tekuni? Pilih melanjutkan kuliah atau bekerja?” Namun, kata sang pembicara, pertanyaan yang lebih penting dari semua itu adalah: “Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?”

Jika dihubungkan dengan iman, maka pertanyaannya adalah: Keputusan apa yang mereka ambil setiap hari yang akan membawa mereka hidup untuk Yesus dan bukan untuk diri mereka sendiri?

Kata-kata pembicara itu mengingatkan saya pada kitab Amsal, yang banyak memberikan pernyataan tajam tentang cara hidup seseorang untuk saat ini. Sebagai contoh: bersikaplah jujur, saat ini juga (11:1); pilihlah teman yang benar, saat ini juga (12:26), hiduplah dalam kebenaran, saat ini juga (13:6); milikilah akal budi yang baik, saat ini juga (13:15); berbicaralah dengan bijak, saat ini juga (14:3).

Keputusan untuk hidup bagi Tuhan saat ini juga, dengan pimpinan Roh Kudus, menjadikan setiap keputusan yang akan diambil selanjutnya menjadi lebih mudah. “Tuhanlah yang memberikan hikmat . . . Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia” (2:6-8). Kiranya Allah menyediakan apa yang kita perlukan untuk hidup sesuai dengan pedoman-Nya saat ini, dan menuntun kita kepada langkah-langkah selanjutnya untuk membawa kemuliaan bagi Dia.—Dave Branon

WAWASAN
Kitab Amsal memuat hikmat umum yang berlaku atas orang di mana saja. Semua orang menyetujui ungkapan-ungkapan seperti “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20) dan “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna” (10:2) adalah perkataan yang umum. Namun, yang tidak lazim dari Amsal adalah pengakuan bahwa Tuhan segala tuhanlah sumber hikmat yang umum tersebut. Nama TUHAN (Yahwe) digunakan delapan puluh tujuh kali di dalam Amsal untuk memberikan sumber, kisah, jiwa, dan konteks kepada hikmat dari setiap amsal. Tuhan dari penyelamatan, pengembaraan, pengasingan, dan pengharapan mesianis Israel itu ingin kita mengetahui bahwa Dialah awal dan akhir dari semua hikmat dan pengetahuan yang sejati (2:6). Inilah Allah sumber hikmat Salomo yang sanggup memakai hikmat yang umum untuk menolong kita agar kita mempunyai sudut pandang yang benar dan mengambil tindakan yang tepat dengan tetap memuliakan Dia (3:5-7).—Mart DeHaan

Perubahan apa saja yang perlu kamu tempuh saat ini untuk memuliakan Allah? Bagaimana kamu akan mencari tuntunan dan kekuatan Allah untuk melakukan perubahan tersebut?

Terima kasih, Bapa Surgawi, untuk tuntunan-Mu dalam hidupku saat ini. Lindungi aku dan berilah aku hikmat untuk menjalani hidup yang menyenangkan-Mu dan yang menyaksikan kebenaran-Mu.

Sunday, September 6, 2020

Gagal Lagi

 

Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? —Galatia 3:3

Gagal Lagi

Dahulu, ketika masih aktif berkhotbah, adakalanya saya merasa tidak layak melayani pada hari Minggu pagi. Sepanjang minggu sebelumnya, saya merasa belum menjadi suami, ayah, atau teman yang baik. Saya bahkan merasa, sebelum Allah bisa memakai saya lagi, saya harus memperbaiki hidup saya. Jadi, saya berjanji untuk menyelesaikan khotbah saya sebaik mungkin dan berusaha hidup lebih baik lagi di minggu yang akan datang.

Akan tetapi, itu semua tidak benar. Galatia 3 menyatakan bahwa Allah senantiasa memampukan kita dengan Roh-Nya, dan karya-Nya yang luar biasa melalui diri kita adalah anugerah yang cuma-cuma—bukan karena kita telah melakukan sesuatu yang membuat kita layak.

Kehidupan Abraham mencontohkan hal ini. Ia pernah gagal sebagai seorang suami. Ia dua kali membahayakan nyawa Sara dengan berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri (Kej. 12:10-20; 20:1-18). Namun, Allah “memperhitungkan [iman Abraham] itu kepadanya sebagai kebenaran” (Gal. 3:6). Abraham menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah meskipun ia pernah mengalami kegagalan, dan Allah memakainya untuk membawa keselamatan kepada dunia melalui keturunannya.

Perbuatan buruk memang tidak dapat dibenarkan. Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia dalam ketaatan, dan Dia telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk kita melakukannya. Hati yang keras dan menolak untuk bertobat akan selalu merintangi tujuan-Nya digenapi atas kita. Meski demikian, kesanggupan-Nya untuk memakai kita tidaklah bergantung pada seberapa baik diri kita, melainkan bergantung sepenuhnya pada kerelaan Allah untuk berkarya melalui diri kita apa adanya: sebagai pribadi yang telah diselamatkan dan bertumbuh oleh kasih karunia. Kamu tidak perlu bersusah payah memperoleh kasih karunia-Nya, karena Dia memberikannya dengan cuma-cuma.—David H. Roper

WAWASAN
Dalam surat kepada umat Tuhan di Galatia, sebuah provinsi Romawi yang terletak di bagian barat dari negara Turki modern, Paulus menentang pengajaran sebuah kelompok yang dikenal sebagai Yudaiser. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias tetapi juga mensyaratkan ketaatan pada adat-istiadat agama Yahudi tertentu agar dapat diselamatkan. Hal ini berarti mereka mendorong kaum non-Yahudi untuk menjadi Yahudi supaya dapat menjadi pengikut Yesus. Sunat menjadi syarat utama. Pada sidang di Yerusalem, para pemimpin gereja mendiskusikan manakah praktik keagamaan Yahudi yang masih perlu diikuti oleh orang Kristen non-Yahudi (Kisah Para Rasul 15). Dengan berkata bahwa “jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan” (ay.1), kaum Yudaiser sedang mengajarkan Injil palsu yang berdasarkan perbuatan, bukan kasih karunia (Galatia 2-3; 6:15).—J.R. Hudberg

Bayangkah situasi-situasi ketika kamu pernah merasa tidak layak. Bagaimana Allah, dan kamu sendiri, melihat peristiwa tersebut?

Aku bersyukur, ya Allah, karena Engkau memberkatiku dan memakaiku meskipun aku penuh dengan kegagalan. Sungguh ajaib anugerah-Mu!

Saturday, September 5, 2020

Allah Mengerti

 

Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. —Mazmur 147:5

Allah Mengerti

Setelah pindah rumah, Ryan, putra Mabel yang berusia tujuh tahun, mengeluh saat bersiap-siap mengikuti kamp musim panas di sekolah barunya. Mabel menyemangati dan meyakinkan anaknya bahwa ia tahu perubahan itu tidak mudah. Namun, pagi itu, tidak biasanya Ryan terlihat begitu muram. Mabel pun bertanya, “Apa yang mengganggu pikiranmu, Ryan?”

Sambil menatap ke luar jendela, Ryan menjawab, “Tidak tahu, Ma. Perasaanku campur aduk.”

Walau hatinya pedih, Mabel tetap berusaha menghibur anaknya. Mabel pun bercerita kepada Ryan bahwa kepindahan itu juga terasa berat baginya. Ia meyakinkan anaknya bahwa Allah selalu dekat, dan Dia tahu segala-galanya, sekalipun ketika mereka tidak mengerti atau tidak mampu mengungkapkan kejengkelan mereka. Mabel pun mendapat ide, “Bagaimana kalau kita kunjungi teman-temanmu sebelum sekolah dimulai?” Ryan setuju atas rencana itu, dan mereka sama-sama bersyukur bahwa Allah mengerti keadaan anak-anak-Nya, bahkan ketika mereka mengalami “perasaan campur aduk”.

Perasaan penulis Mazmur 147 juga berkecamuk di sepanjang perjalanannya mengikut Tuhan. Namun, ia menyadari berkat-berkat yang diterimanya dari memuji Allah, Sang Mahatahu yang mencipta dan menopang segala sesuatu, dan yang sanggup menyembuhkan luka-luka fisik dan batin kita (ay.1-6). Ia memuji Allah yang memelihara dan “senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, . . . yang berharap akan kasih setia-Nya” (ay.11).

Ketika sedang bergumul memahami berbagai perasaan yang berkecamuk dalam batin kita, kita tidak perlu merasa sendirian dan patah semangat. Percayalah bahwa Allah kita yang penuh kasih mengerti—Dia tak pernah berubah dan pemahaman-Nya tak terhingga. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Kitab Mazmur adalah buku nyanyian Alkitab, berisi kumpulan doa dan pujian yang mengungkapkan isi hati orang-orang yang hancur hati dan mengalami hidup di dalam dunia yang bobrok. Namun, di dalam bagian akhir dari kitab Mazmur (Mazmur 145-150), permasalahan itu dikesampingkan. Di sini kita melihat puji-pujian yang murni kepada Allah. Mengenai Mazmur 145 yang membuka bagian tersebut, The Bible Knowledge Commentary menuliskan: “Mazmur Daud ini diberi judul ‘Puji-pujian’—satu-satunya dengan judul demikian di dalam kitab ini. Dari sini bermula doksologi agung dari seluruh bagian tersebut, karena puji-pujian mengambil peran lebih besar dalam Mazmur 145-150 daripada bagian-bagian lainnya. Kata puji, memuji, haleluya muncul lebih dari empat puluh kali di dalam keenam mazmur ini.” Mazmur 147 terletak pada pusat dari rangkaian puji-pujian yang meninggikan Allah ini, dengan kata haleluya, memuji, bermazmur, bernyanyi dipakai total sebanyak enam kali, dimulai dan diakhiri dengan seruan yang menggelegar: “Haleluya!”—Bill Crowder

Apakah mengetahui bahwa Allah mengerti kebutuhan-kebutuhanmu yang terdalam dapat menolongmu mempercayai-Nya di tengah perasaanmu yang campur aduk? Perasaan apa saja yang rasanya paling sulit kamu serahkan kepada-Nya?

Ya Allah Mahakuasa, terima kasih karena Engkau meyakinkanku bahwa Engkau mengerti dan peduli kepada kebutuhan jasmani dan jiwaku.

Friday, September 4, 2020

Bicaralah!

 

Berdoa jugalah . . . supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus. —Kolose 4:3

Bicaralah!

Brittany tiba-tiba berseru kepada rekan kerjanya di restoran, “Itu orangnya! Itu orangnya!” Ia baru saja melihat Melvin, laki-laki yang pertama kali bertemu dengannya dalam situasi yang sangat jauh berbeda. Ketika itu Melvin sedang bekerja merawat taman di gereja dan Roh Kudus mendorongnya untuk memulai percakapan dengan Brittany. Ketika Melvin mengajaknya ke gereja, Brittany yang saat itu masih bekerja sebagai perempuan penghibur menjawab, “Kamu tahu pekerjaan saya? Gereja pasti tidak mau menerima saya.” Namun, setelah Melvin menceritakan tentang kasih Yesus dan kuasa-Nya yang sanggup mengubah hidup manusia, air mata Brittany pun mengalir. Beberapa minggu kemudian, Brittany bekerja di tempat dan lingkungan yang baru. Ia menjadi bukti bahwa Yesus berkuasa mengubah hidup mereka yang percaya kepada-Nya.

Ketika hendak mendorong umat Tuhan untuk tekun berdoa, Rasul Paulus mengajukan dua permohonan: “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya” (Kol. 4:3-4).

Pernahkah kamu berdoa agar diberi kesempatan berbicara dengan jelas dan berani tentang Yesus? Doa yang sangat baik! Doa-doa seperti itu dapat menuntun orang percaya, seperti Melvin, untuk berbicara tentang Dia di tempat-tempat yang tidak pernah diperkirakan dan kepada orang-orang yang tidak terduga. Berbicara tentang Yesus bisa saja terasa tidak nyaman, tetapi berkat yang diterima dalam bentuk kehidupan yang diubahkan sungguh setimpal dengan ketidaknyamanan yang kita rasakan. —Arthur Jackson

WAWASAN
Kata yang diterjemahkan “bertekun” dalam Kolose 4:2 adalah kata Yunani proskartereo, dari akar kata yang berarti “menjadi kuat.” Bertekunlah dalam doa berarti “jadilah kuat, tetaplah setia, teruslah berjuang, bertahanlah.” Objek dari kata kerja di sini adalah doa. Kolose 4:2 bukanlah satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru yang memasangkan kata bertekun dan doa. Dalam kitab Kisah Para Rasul, sebelum dan sesudah Pentakosta, mereka yang percaya kepada Kristus disebutkan bertekun dengan sehati dalam doa (1:14) dan bertekun dalam persekutuan untuk berdoa (2:42). Di 6:4, para rasul memusatkan pikiran dalam doa, dan di Roma 12:12 orang percaya didorong untuk bertekun dalam doa. Orang Kristen di Kolose memiliki teladan dalam ketekunan doa pada diri hamba Tuhan yang melayani mereka: “[Epafras] seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu” (Kolose 4:12; lihat juga 1:7).—Arthur Jackson

Kapan kamu pernah membagikan kasih Yesus kepada orang lain meski dalam keadaan yang tidak enak? Apa peran doa dalam kesiapan kita untuk berbicara dengan berani tentang Yesus?

Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat melihat kesempatan-kesempatan yang terbuka dan dengan berani melangkah memasukinya untuk berbicara tentang diri-Mu!

Thursday, September 3, 2020

Ketakutan yang Tidak Masuk Akal

 

Aku tidak akan melupakan engkau. —Yesaya 49:15

Ketakutan yang Tidak Masuk Akal

Kedengarannya tidak masuk akal, tetapi ketika kedua orangtua saya meninggal dalam tempo tiga bulan, saya khawatir mereka akan melupakan saya. Tentu saja, mereka tidak ada lagi di dunia, tetapi perasaan itu membuat hati saya diliputi ketidakpastian. Saat itu saya masih muda, belum menikah, dan bingung menjalani hidup tanpa mereka. Karena merasa benar-benar sendirian, saya pun mencari Tuhan.

Suatu pagi, saya menyatakan kepada Allah segala ketakutan saya yang tidak masuk akal itu dan kesedihan yang diakibatkannya (meskipun Dia pasti sudah tahu). Ayat Alkitab yang saya renungkan hari itu diambil dari Yesaya 49: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya . . . ? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (ay.15). Allah meyakinkan umat-Nya melalui Nabi Yesaya bahwa Dia tidak pernah melupakan mereka dan kemudian berjanji akan memulihkan hubungan mereka dengan-Nya melalui kedatangan Anak-Nya, Yesus Kristus. Namun, kata-kata itu juga menyentuh hati saya. Jarang sekali seorang ayah atau ibu melupakan anak mereka, tetapi itu bisa saja terjadi. Namun, itu tidak mungkin terjadi pada Allah. “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku,” kata-Nya (ay.16).

Sebenarnya, jawaban Allah bisa saja membuat saya merasa lebih takut. Namun, damai sejahtera yang saya terima karena ingatan-Nya atas saya benar-benar sesuai dengan kebutuhan saya. Sejak saat itulah saya menemukan bahwa Allah ternyata lebih dekat daripada orangtua kita atau siapa pun, dan Dia tahu bagaimana harus menolong kita menghadapi apa pun—bahkan ketakutan kita yang tidak masuk akal.—Anne Cetas

WAWASAN
Arti nama Nabi Yesaya adalah “Keselamatan datang dari Tuhan,” suatu rangkuman dari penekanan yang diberikannya dalam kitab yang berisi nubuatan tentang Kristus. Yesaya juga menggambarkan Allah sebagai Allah sumber penghiburan. Kita melihat tema ini terutama di sepanjang pasal 40-66 dari kitab Yesaya. Dalam bacaan hari ini (49:14-19), kita melihat Allah menjamin bahwa Dia tidak akan melupakan atau meninggalkan umat-Nya (Israel dan gereja-Nya). Dalam 43:1-2, Allah berkata bahwa Dia berjalan bersama kita melalui berbagai ujian dan memberi jaminan: “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Dalam 44:21-24, Allah menyatakan, “Engkau tidak Kulupakan” dan mengingatkan kita bahwa Dia “membentuk [kita] sejak dari kandungan.” Di 46:4, Dia berjanji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.” Kemudian akhirnya di 66:13, Dia meyakinkan kita, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” —Alyson Kieda

Ketakutan apa yang sedang kamu hadapi? Bagaimana kamu dapat mencari pertolongan Allah untuk mengatasinya?

Ya Bapa, emosi dan ketakutanku terkadang begitu menguasaiku. Terima kasih karena Engkau mau menolongku menghadapinya.

Wednesday, September 2, 2020

Galeri Berbisik

 

Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan. —Mazmur 18:7

Galeri Berbisik

Dalam kubah Katedral St. Paul yang menjulang tinggi di kota London, para pengunjung dapat menaiki 259 anak tangga untuk sampai di Galeri Berbisik. Bila kamu berbisik di atas sana, bisikan itu bisa terdengar oleh orang lain yang berada di sepanjang jalan yang melingkari kubah, bahkan melewati ruang kosong sejauh hampir 30 meter kepada orang yang ada di seberang. Para insinyur menjelaskan bahwa anomali ini bisa terjadi karena bentuk kubah yang bulat dan rendahnya intensitas gelombang bunyi bisikan.

Alangkah rindunya kita meyakini bahwa Allah mendengar kepedihan yang kita bisikkan! Kitab Mazmur dipenuhi kesaksian bahwa Dia mendengar segala seruan, doa, dan bisikan kita. Daud menulis, “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan” (Mzm. 18:7). Berulang kali, ia dan para pemazmur lainnya memohon, “Dengarkanlah doaku” (4:2), seruan, dan keluhan mereka (5:4; 102:21). Terkadang permohonan itu berupa bisikan lirih, “dengarkan aku” (77:2), sembari kita “berpikir-pikir, dan bertanya-tanya dalam hati” (77:7 BIS).

Sebagai jawaban dari semua permohonan tersebut, para pemazmur—seperti Daud di Mazmur 18:7—mengungkapkan bahwa Allah sungguh mendengar: “Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” Karena waktu itu Bait Allah belum dibangun, mungkinkah yang dimaksudkan Daud adalah Allah mendengarkan dari kediaman-Nya di surga?

Dari “Galeri Berbisik” dalam kubah-Nya di surga, Allah mendekatkan diri kepada kita untuk memperhatikan keluh-kesah, bahkan bisikan kita yang paling lirih . . . dan mendengarkannya.—Elisa Morgan

WAWASAN
Pengantar Mazmur 18 memberi tahu kita bahwa Daud menulisnya “pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul.” Dengan 51 ayat, inilah mazmur panjang pertama di dalam Alkitab. Yang menarik, terdapat tulisan serupa (dengan sejumlah variasi) di 2 Samuel 22. Di sini Daud mengungkapkan ucapan syukurnya yang besar atas pertolongan Allah dalam mengalahkan musuhnya yang banyak. Namun, secara keseluruhan isinya memperlihatkan sifatnya yang mesianis—artinya nyanyian ini menunjuk kepada Kristus. Dalam Roma 15:9 Rasul Paulus mengutip Mazmur 18:50 sebagai acuan kepada Yesus: “Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.” Kita bisa saja menganggap pernyataan ini hanya mengacu kepada Daud, tetapi Mazmur 18:51 berkata, “[Allah] menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya.” Janji itu hanya dapat digenapi secara harfiah oleh Yesus sendiri.—Tim Gustafson

Apa yang rindu kamu bisikkan kepada Allah hari ini? Bagaimana kamu tahu Dia mendengarkanmu?

Allah yang terkasih, berilah saya keberanian untuk berbisik kepada-Mu hari ini, dalam keyakinan bahwa Engkau mendengar dan menjawabku.

Tuesday, September 1, 2020

Menderita Bersama

 

Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. —1 Korintus 12:26

Menderita Bersama

Pada tahun 2013, seorang veteran marinir Kerajaan Inggris berusia tujuh puluh tahun bernama James McConnell meninggal dunia. Ia tidak punya kerabat, sehingga staf panti jompo tempat ia tinggal khawatir tidak ada orang yang menghadiri pemakamannya. Seseorang yang ditugasi memimpin pemakaman McConnell menuliskan sebuah pesan di Facebook: “Di zaman sekarang, sungguh tragis apabila seseorang meninggal dunia tanpa ada yang menangisi kepergiannya . . . tetapi almarhum adalah salah seorang dari kita . . . jika kamu bisa menghadiri pemakamannya . . . demi menghormati rekan seperjuangan, usahakanlah hadir.” Akhirnya, pada hari pemakaman McConnell, ada dua ratus anggota marinir yang datang!

Rekan-rekan seperjuangan almarhum tersebut telah menunjukkan sebuah kebenaran alkitabiah, yaitu bahwa kita terikat satu sama lain. “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota,” kata Rasul Paulus (1 Kor. 12:14). Kita tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, kita semua diikat menjadi satu di dalam Yesus Kristus. Kitab Suci menunjukkan adanya keterhubungan yang hidup, dengan berkata: “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (ay.26). Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan sesama anggota keluarga Allah, kita dipanggil untuk ikut menanggung kepedihan, kedukaan, dan ketakutan saudara seiman kita yang terkadang merasa menghadapi semuanya sendirian. Syukurlah, kita tidak berjalan sendirian.

Mungkin hal paling mengerikan dari penderitaan adalah ketika kita merasa tenggelam dalam kegelapan seorang diri. Akan tetapi, Allah menciptakan satu komunitas baru yang ikut menderita bersama—suatu komunitas yang tidak membiarkan seorang pun ditinggalkan sendirian.—Winn Collier

WAWASAN
Dalam 1 Korintus 12:14-26, Paulus menggunakan gambaran tubuh manusia sebagai lambang kesatuan umat Tuhan, yaitu gereja. Dalam Efesus 1:22-23, sang rasul kembali memakai tubuh manusia untuk menggambarkan gereja, tetapi kali ini dengan satu tambahan penting. Tuhan Yesus sendirilah Kepala dari tubuh itu. Ilustrasi yang sangat baik dan indah dalam 1 Korintus 12 ini semakin diperjelas dengan pengingat bahwa tubuh itu bekerja, bergerak, dan berfungsi di bawah pimpinan dan panduan dari Sang Kepala. —Bill Crowder

Kapan kamu pernah merasa sangat kesepian? Bagaimana anugerah, kebaikan, dan kedekatan Allah menolongmu menghadapi rasa kesendirian itu?

Benarkah, ya Allah? Bahwa Engkau menempatkanku dalam sebuah komunitas baru yang memahami dan mengasihiku dalam penderitaanku? Tolonglah aku untuk meyakininya selalu.

 

Total Pageviews

Translate