Pages - Menu

Thursday, November 30, 2017

Tidak Sempurna, tetapi Dikasihi

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8
Tidak Sempurna, tetapi Dikasihi
Di Jepang, produk makanan disiapkan dan dikemas rapi. Tidak hanya harus memiliki rasa yang enak, makanan itu juga harus terlihat indah. Saya sering bertanya-tanya apakah saya membeli makanan atau kemasannya! Karena orang Jepang menekankan pada kualitas yang bagus, produk-produk yang cacat sedikit saja sering dibuang. Namun, beberapa tahun terakhir, produk-produk wakeari makin populer. Wakeari adalah bahasa Jepang dari “ada alasannya”. Produk-produk itu tidak dibuang, tetapi dijual dengan harga murah karena “ada alasannya”—misalnya ada retakan kecil pada keripik beras.
Seorang teman yang tinggal di Jepang mengatakan bahwa wakeari juga menjadi istilah bagi orang-orang yang terlihat tidak sempurna.
Yesus mengasihi semua orang—termasuk para wakeari yang dikucilkan masyarakat. Ketika seorang wanita yang pernah hidup dalam dosa mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah seorang Farisi, ia pun pergi ke sana dan berlutut di belakang Yesus dekat kaki-Nya sambil menangis (Luk. 7:37-38). Orang Farisi menjuluki wanita itu “seorang berdosa” (ay.39), tetapi Yesus menerimanya. Dia berbicara dengan lembut kepada wanita itu dan meyakinkannya bahwa dosa-dosanya telah diampuni (ay.48).
Yesus mengasihi para wakeari, orang-orang yang tidak sempurna—termasuk kamu dan saya. Dan pernyataan kasih-Nya yang terbesar bagi kita adalah: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Sebagai penerima kasih-Nya, kiranya kita juga menjadi saluran kasih-Nya kepada orang-orang yang tidak sempurna di sekitar kita. Kita melakukannya supaya mereka juga tahu bahwa mereka boleh menerima kasih Allah meskipun mereka tidak sempurna. —Albert Lee
Tuhan, aku tahu diriku tidak sempurna. Tolonglah aku untuk tidak bersikap munafik dan berpura-pura tahu segalanya. Bukalah hatiku untuk menerima dan mengasihi orang lain sehingga mereka pun tahu Engkau peduli kepada mereka.
Kasih Allah sanggup memulihkan kembali hidup orang yang hancur.

Wednesday, November 29, 2017

Kesanggupan Berempati

Ingatlah orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga berada di dalam penjara bersama mereka. —Ibrani 13:3 BIS
Kesanggupan Berempati
Kenakanlah baju R70i Age Suit dan kamu akan segera merasa 40 tahun lebih tua, dengan mengalami gangguan pada penglihatan, kehilangan daya pendengaran, dan berkurangnya mobilitas. Baju Age Suit tersebut dirancang untuk menolong para pengasuh agar dapat lebih memahami pasien mereka. Setelah mencoba baju itu, Geoffrey Fowler, koresponden Wall Street Journal, menulis, “Pengalaman yang tak terlupakan dan sesekali menggelisahkan itu membuka mata kita bukan hanya terhadap usia senja, tetapi juga bagaimana perangkat realitas virtual dapat mengajarkan empati dan membentuk persepsi kita tentang dunia yang ada di sekitar kita.”
Empati adalah kesanggupan untuk memahami dan menyelami perasaan orang lain. Di tengah masa penganiayaan berat terhadap para pengikut Yesus, penulis kitab Ibrani mendorong orang percaya untuk “[mengingat] orang-orang yang di dalam penjara, seolah-olah kalian juga berada di dalam penjara bersama mereka. Dan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, hendaklah kalian ingat kepada mereka seolah-olah kalian juga diperlakukan demikian” (13:3 BIS).
Itulah yang telah dilakukan Sang Juruselamat bagi kita. Yesus Kristus menjadi manusia, sama seperti kita, “dalam segala hal . . . Dengan pelayanan-Nya itu dosa manusia dapat diampuni. Dan karena Ia sendiri pernah menderita dan dicobai, Ia dapat menolong orang-orang yang terkena cobaan” (2:17-18 BIS).
Kristus Tuhan, yang menjadi sama seperti kita, memanggil kita untuk berempati kepada orang lain “seolah-olah [kita] juga . . . bersama mereka” di saat mereka membutuhkan pertolongan.—David McCasland
Tuhan Yesus, kami mengagumi kerelaan-Mu untuk menjadi manusia seperti kami demi menyelamatkan kami. Mampukan kami untuk berempati kepada sesama kami yang membutuhkan pertolongan hari ini.
Tuhan Yesus memanggil kita untuk berempati kepada orang lain seolah-olah kita berada dalam keadaan yang sama dengan mereka.

Tuesday, November 28, 2017

Allah Kita yang Mahakuasa

Sebab sesungguhnya, Dia yang membentuk gunung-gunung dan menciptakan angin, . . . Tuhan, Allah semesta alam, itulah nama-Nya. —Amos 4:13
Allah Kita yang Mahakuasa
Suatu hari di tepi laut, saya sangat menikmati saat menonton beberapa peselancar layang berselancar di permukaan air dengan digerakkan oleh kekuatan angin. Ketika salah satu dari mereka tiba di pantai, saya bertanya kepadanya apakah melakukan selancar layang itu sesulit yang saya bayangkan. “Tidak,” katanya, “Ini justru lebih mudah daripada berselancar biasa karena kami memanfaatkan kekuatan angin untuk melaju.”
Setelah itu ketika saya menyusuri pantai, sambil memikirkan tentang kemampuan angin yang tidak hanya dapat mendorong para peselancar tetapi juga menyibakkan rambut ke wajah saya, saya berhenti sejenak untuk mengagumi Allah Sang Pencipta. Seperti yang kita baca di kitab Amos dalam Perjanjian Lama, Allah yang “membentuk gunung-gunung” dan “menciptakan angin” juga dapat “membuat fajar dan kegelapan” (ay.13).
Melalui sang nabi, Tuhan mengingatkan umat-Nya tentang kuasa-Nya sembari memanggil mereka kembali kepada-Nya. Karena mereka tidak menaati Allah, Dia berkata bahwa Dia akan menyatakan diri-Nya kepada mereka (ay.13). Meskipun yang kita lihat di sini adalah penghakiman-Nya, dari bagian lainnya di Alkitab kita mengetahui tentang kasih pengorbanan-Nya ketika Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita (lihat Yoh. 3:16).
Kekuatan angin pada hari yang sejuk di Inggris Selatan itu mengingatkan saya pada kemahakuasaan Tuhan. Jika kamu merasakan tiupan angin hari ini, mengapa tidak berhenti sejenak dan merenungkan tentang Allah kita yang Mahakuasa? —Amy Boucher Pye
Ya Bapa, terima kasih untuk kuasa dan kasih-Mu. Tolong aku bersandar kepada-Mu hari demi hari.
Dengan kasih-Nya, Allah menciptakan dunia. Terpujilah Dia!

Monday, November 27, 2017

Tahu Lebih Baik

Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya. —2 Raja-Raja 22:11
Tahu Lebih Baik
Setelah membawa pulang anak angkat kami dari luar negeri, saya begitu ingin melimpahinya dengan kasih sayang. Saya ingin menyediakan apa yang belum pernah dinikmatinya, terutama makanan sehat untuk gizinya. Namun, meskipun kami sudah mengusahakan yang terbaik, termasuk berkonsultasi dengan ahli gizi, pertumbuhan tubuhnya sangat lambat. Setelah hampir tiga tahun, baru kami tahu bahwa ia mengidap alergi akut terhadap sejumlah bahan makanan. Setelah menghapus bahan-bahan itu dari menunya, putra saya pun bertambah tinggi 12,5 cm hanya dalam waktu beberapa bulan. Meski menyesal karena lama tidak menyadari bahwa saya telah memberinya makanan yang menghambat pertumbuhan, kini saya senang atas kesehatannya yang berkembang pesat!
Saya menduga Raja Yosia merasakan hal yang sama saat mengetahui bahwa kitab Taurat yang hilang di Bait Allah selama bertahun-tahun kini telah ditemukan. Sama seperti saya menyesal karena tanpa sengaja telah menghambat pertumbuhan putra saya, Yosia menyesal telah mengabaikan kehendak Allah yang terbaik bagi umat-Nya (2Raj. 22:11). Meskipun dipuji karena melakukan apa yang benar di mata Tuhan (ay.2), setelah menemukan kitab Taurat itu Yosia jadi tahu lebih baik bagaimana menghormati Allah. Dengan pengetahuan barunya itu, ia memimpin bangsa Israel beribadah kembali kepada Allah seperti yang dahulu diperintahkan-Nya kepada mereka (23:22-23).
Ketika melalui Alkitab kita belajar bagaimana menghormati Allah, kita mungkin menyesali saat-saat kita pernah melalaikan kehendak-Nya bagi kita. Namun, kiranya kita terhibur karena Allah menyembuhkan dan memulihkan kita, serta membimbing kita dengan penuh kasih sehingga kita tahu lebih baik tentang kehendak-Nya. —Kirsten Holmberg
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menunjukkan padaku cara menjalani hidup yang menyenangkan-Mu. Ampuni aku atas hal-hal yang kulalaikan di masa lalu. Tolonglah aku untuk menghormati dan menaati-Mu mulai saat ini.
Allah senang memberi kita awal yang baru.

Sunday, November 26, 2017

Tuhan Tahu

Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. —Matius 6:4
Tuhan Tahu
Ketika Denise bertemu seorang wanita muda yang sedang bersedih di gerejanya, hatinya tersentuh dan ia pun mencari tahu bagaimana ia dapat menolong wanita itu. Setiap minggu, Denise menyediakan waktu untuk mendengarkan dan mendoakan wanita itu. Denise menjadi mentor baginya. Akan tetapi, beberapa pemimpin gereja tidak mengetahui upaya Denise dan memutuskan untuk menugasi seorang pengurus gereja menjadi mentor bagi wanita itu. Mereka berkomentar bahwa tidak ada seorang pun yang melayani wanita itu.
Meskipun Denise tidak mengharapkan imbalan apa pun, ia mengaku merasa sedikit kecewa. “Seolah-olah saya tidak melakukan apa pun,” kata Denise kepada saya.
Namun suatu hari, wanita muda itu mengatakan kepada Denise betapa ia sangat berterima kasih atas penghiburan yang Denise berikan. Mendengar itu, Denise pun merasa dikuatkan. Seolah-olah Allah sedang berkata kepadanya, “Aku tahu kamu setia mendampinginya.” Setelah itu, Denise masih rutin bertemu dengan wanita muda itu.
Kadang-kadang, kita merasa tidak dihargai ketika upaya kita tidak diakui oleh orang lain. Namun, Alkitab mengingatkan kita bahwa Allah tahu apa yang sedang kita kerjakan. Dia melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Allah pun senang ketika kita melayani sesama demi Dia dan bukan demi pujian dari orang lain.
Mungkin itulah alasan Yesus memberi kita teladan dengan memerintahkan kita untuk memberi “dengan tersembunyi”, sehingga “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:4). Kita tidak perlu mencari pengakuan dan pujian dari orang lain; kita dapat meyakini bahwa Allah tahu apa yang kita perbuat ketika kita setia melayani Dia dan sesama. —Leslie Koh
Tuhan, ampunilah aku pada saat-saat aku mendambakan pengakuan dan pujian dari orang lain. Tolonglah aku untuk melayani hanya demi kemuliaan-Mu.
Allah melihat segala sesuatu yang kita perbuat bagi-Nya.

Saturday, November 25, 2017

Menjadi Manusia

Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati. —1 Petrus 3:8
Menjadi Manusia
Ketika diminta untuk mendefinisikan perannya dalam suatu komunitas yang terkadang tidak taat pada hukum, seorang pejabat polisi tidak mengandalkan pangkat atau jabatannya sebagai penegak hukum. Sebaliknya ia menjawab, “Kami hanyalah manusia yang melayani sesama manusia yang sedang mengalami krisis.”
Kerendahan hatinya—lewat pernyataannya bahwa ia setara dengan sesamanya—mengingatkan saya pada kata-kata Petrus dalam tulisannya kepada orang Kristen abad pertama yang menderita di bawah penganiayaan Romawi. Petrus memerintahkan mereka: “Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” (1Ptr. 3:8). Mungkin Petrus bermaksud mengatakan bahwa respons terbaik kepada orang lain yang sedang mengalami krisis adalah dengan menjadi sesama bagi mereka, menyadari bahwa kita semua sama. Bukankah itu juga yang dilakukan Allah ketika Dia mengutus Anak-Nya menjadi manusia demi menolong kita? (Flp. 2:7).
Jika hanya melihat ke dalam lubuk hati kita yang berdosa, mungkin kita cenderung merendahkan martabat kita sendiri sebagai manusia. Namun, apa yang terjadi apabila kita menyadari bahwa kemanusiaan kita adalah bagian dari persembahan diri kita selama hidup di dunia? Yesus mengajar kita bagaimana menjalani hidup seutuhnya sebagai manusia, sebagai hamba-hamba yang mengakui bahwa sesungguhnya kita semua sama. Kita diciptakan sebagai “manusia”, dijadikan menurut gambar-Nya dan ditebus dengan kasih-Nya yang tak bersyarat.
Saat ini, kita pasti bertemu dengan orang-orang dalam pergumulan mereka masing-masing. Bayangkan betapa luar biasanya pengaruh yang kita berikan sekiranya kita, sebagai manusia, dengan rendah hati melayani sesama kita yang sedang mengalami krisis. —Elisa Morgan
Bapa, tolonglah kami untuk bersikap rendah hati dalam hubungan kami dengan orang lain dan memandang mereka sebagai sesama manusia.
Kerendahan hati adalah buah dari pengenalan akan Allah dan diri sendiri.

Friday, November 24, 2017

Kediaman Hati yang Sejati

[Allah] memberikan kekekalan dalam hati mereka. —Pengkotbah 3:11
Kediaman Hati yang Sejati
Kami pernah memelihara anjing West Highland Terrier selama beberapa tahun. Anjing kecil jenis “Westie” ini sangat kuat dan dibiakkan untuk memburu musang sampai ke dalam liangnya serta menangkap “mangsa” di sarangnya. Meski merupakan turunan kesekian dari generasi pertamanya, anjing Westie kami masih memiliki naluri asal setelah melalui pembiakan bertahun-tahun. Pada suatu waktu, anjing kami sangat terobsesi dengan “makhluk” yang ada di bawah batu di kebun belakang kami. Tidak ada yang dapat mengalihkan perhatian anjing itu. Anjing kami terus menggali dan menggali sampai kedalaman beberapa meter di bawah batu itu.
Sekarang pikirkanlah: Mengapa sebagai manusia kita terus-menerus mengejar sesuatu? Mengapa kita merasa harus menaklukkan gunung-gunung yang belum terdaki dan berseluncur di lereng-lereng yang sangat terjal? Mengapa kita mengarungi jeram yang paling sulit dan berbahaya, serta menantang kekuatan alam? Sebagian karena hasrat kita untuk berpetualang dan mencari kesenangan, tetapi ada yang lebih dari itu. Yang saya maksud adalah naluri terhadap Allah yang telah tertanam dalam diri kita. Tidak bisa tidak, kita ingin menemukan Allah.
Tentu saja kita tidak menyadari hal itu. Yang kita tahu hanyalah bahwa kita merindukan sesuatu. “kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan,” kata Mark Twain, “tetapi kamu begitu menginginkannya sampai setengah mati rasanya.”
Allah adalah kediaman hati kita yang sejati. Agustinus, sang bapa gereja, pernah menyatakan dalam kutipannya yang sangat terkenal: “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami takkan tenteram sebelum berdiam di dalam-Mu.”
Apakah hati itu? Sebuah kekosongan batin yang begitu mendalam yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah. —David Roper
Tuhan, tolonglah aku menyadari kerinduanku yang terdalam akan Engkau. Penuhilah aku dengan pengenalan akan Engkau. Bawalah aku mendekat kepada-Mu.
Di balik semua hasrat kita, ada kerinduan yang mendalam akan Allah.

Thursday, November 23, 2017

Panen dan Ucapan Syukur

Rayakanlah Pesta Panen pada waktu kamu mulai menuai hasil pertama ladangmu. —Keluaran 23:16 BIS
Panen dan Ucapan Syukur
Beribu-ribu tahun lalu, Allah berfirman langsung kepada Musa dan menetapkan sebuah perayaan baru untuk umat-Nya. Musa mencatat bahwa Allah berfirman, “Rayakanlah Pesta Panen pada waktu kamu mulai menuai hasil pertama ladangmu” (Kel. 23:16 BIS).
Pada masa sekarang, berbagai negara di dunia melakukan perayaan yang serupa untuk merayakan panen. Di Ghana, rakyat merayakan Festival Yam sebagai perayaan panen. Di Brazil, Dia de Acao de Gracas merupakan hari pengucapan syukur untuk panen yang menghasilkan makanan bagi mereka. Di Tiongkok, ada yang disebut Festival Musim Gugur (Kue Bulan). Di Amerika Serikat dan Kanada, orang merayakan Thanksgiving (Hari Pengucapan Syukur).
Untuk memahami tujuan sesungguhnya dari perayaan panen, mari kita menengok kisah Nuh tepat setelah air bah reda. Allah mengingatkan Nuh dan keluarganya—dan juga kita—tentang pemeliharaan-Nya atas kehidupan dan pertumbuhan kita di bumi ini. Bumi akan mempunyai musim-musim yang berganti, siang dan malam, serta “musim menabur dan menuai” (Kej. 8:22). Ucapan syukur kita untuk panen yang menghasilkan makanan bagi kita sudah sepatutnya ditujukan hanya kepada Allah.
Di mana pun kamu tinggal dan bagaimana pun cara kamu merayakan panen, sediakanlah waktu hari ini untuk mengucap syukur kepada Allah. Marilah kita melakukannya, karena tanpa rancangan-Nya yang agung dan kreatif, kita tidak mungkin akan dapat merayakan panen. —Dave Branon
Ya Allah, Pencipta kami, terima kasih untuk cara-Mu yang menakjubkan dalam menghiasi dunia ini—dengan musim-musim yang berganti, dengan waktu panen, dengan semua yang kami butuhkan untuk hidup. Terimalah ucapan syukur kami.
Ucapan syukur adalah ungkapan yang meluap dari hati yang bersukacita.

Wednesday, November 22, 2017

Bersorak-sorailah bagi Tuhan

Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Pujilah Tuhan dengan nyanyian dan sorak gembira. —Mazmur 98:4 BIS
Bersorak-sorailah bagi Tuhan
Dahulu ketika saya sedang mencari gereja yang dapat saya hadiri secara teratur, seorang teman mengundang saya untuk beribadah di gerejanya. Suatu kali, pemimpin pujian memimpin jemaat menyanyikan lagu yang sangat saya sukai. Saya pun menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat.
Setelah bernyanyi, suami teman saya menengok ke arah saya dan berkata, “Keras sekali suaramu.” Ia tidak bermaksud memuji saya! Setelah itu, saya mulai menahan diri untuk memastikan saya menyanyi lebih lembut daripada orang-orang di sekitar saya. Saya pun selalu berpikir apakah orang-orang di sekitar saya terganggu oleh nyanyian saya.
Namun pada suatu Minggu, saya mendengar nyanyian seorang wanita di bangku sebelah saya. Ia terlihat menyembah Tuhan dengan sepenuh hati dan tanpa rasa canggung. Sikapnya mengingatkan saya pada penyembahan spontan dan penuh semangat yang diperlihatkan Daud dalam hidupnya. Di Mazmur 98, Daud bahkan menyebutkan bahwa “seluruh bumi” sepatutnya memuji Tuhan “dengan nyanyian dan sorak gembira” (ay.4 BIS).
Mazmur 98:1 menyebutkan alasan kita memuji Tuhan dengan penuh sukacita, yaitu karena “[Allah] telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib.” Di sepanjang mazmurnya, Daud menceritakan perbuatan-perbuatan ajaib itu: kesetiaan dan keadilan Allah bagi semua bangsa, rahmat-Nya, dan keselamatan-Nya. Merenungkan tentang siapa Allah dan apa yang telah diperbuat-Nya dapat membuat hati kita melimpah dengan pujian.
“Perbuatan ajaib” apa yang telah Allah lakukan dalam hidupmu? Hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengingat segala karya-Nya yang menakjubkan dan bersyukur kepada-Nya. Angkatlah suaramu dan pujilah Dia! —Linda Washington
Tuhan, kami bersyukur untuk diri-Mu dan untuk semua karya-Mu.
Ibadah mengalihkan fokus kita dari diri sendiri pada objek yang selayaknya disembah, yaitu Allah.

Tuesday, November 21, 2017

Biji Helikopter

Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. —Yohanes 12:24
Biji Helikopter
Sewaktu anak-anak kami masih kecil, mereka senang sekali berusaha menangkap “biji helikopter” yang berjatuhan dari pohon-pohon maple perak milik tetangga kami. Bentuk bijinya mirip dengan sepasang sayap. Pada akhir musim semi, biji-biji maple yang berguguran biasanya berputar-putar mirip baling-baling helikopter sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Biji itu tidak dirancang untuk terbang, melainkan untuk jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi pohon.
Sebelum Yesus disalib, Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:23-24).
Meskipun Yesus ingin ditinggikan sebagai Mesias oleh murid-murid-Nya, Dia justru datang untuk menyerahkan nyawa-Nya supaya dosa-dosa kita diampuni dan hidup kita diubah oleh iman kita kepada-Nya. Sebagai pengikut Yesus, kita mendengar Dia berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (ay.25-26).
Biji helikopter dari pohon maple dapat membawa kita untuk merenungkan keajaiban Yesus Kristus, Sang Juruselamat, yang rela mati supaya kita dapat hidup untuk Dia. —David C. McCasland
Tuhan Yesus, kami sungguh kagum akan kasih-Mu. Berilah kami anugerah untuk melayani-Mu hari ini seperti kerinduan kami.
Yesus memanggil kita untuk menyerahkan hidup kita dan melayani-Nya.

Monday, November 20, 2017

Masa-Masa yang Melelahkan

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.—Yohanes 14:27
Masa-Masa yang Melelahkan
Di halaman belakang rumah kami, ada pohon ceri yang dahulu menjulang gagah tetapi sekarang hampir mati. Saya memanggil ahli tanaman untuk memeriksa pohon itu. Ia mengatakan bahwa pohon itu “terlalu stres” dan membutuhkan pemeliharaan khusus segera. “Bukan cuma kamu,” gumam istri saya, Carolyn, pada pohon itu sembari berlalu. Masa-masa itu memang terasa begitu melelahkan baginya.
Kita semua pernah menghadapi masa-masa yang menggelisahkan. Kita khawatir melihat moralitas yang makin merosot atau mencemaskan anak-anak kita, pernikahan kita, usaha kita, keuangan kita, kesehatan dan kesejahteraan diri kita. Meski demikian, Tuhan Yesus menjamin bahwa bagaimana pun sulitnya situasi kita, kita dapat merasa damai. Yesus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh. 14:27).
Hari-hari Yesus juga dipenuhi kesulitan dan tekanan: Dia dikelilingi musuh dan disalah mengerti oleh keluarga dan sahabat-sahabat-Nya. Dia sering tidak punya tempat untuk beristirahat. Namun, tidak terlihat ada kecemasan atau keresahan di dalam sikap-Nya. Yesus mempunyai ketenangan batin. Itulah damai sejahtera yang telah diberikan-Nya kepada kita. Itulah kebebasan dari kecemasan akan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Damai sejahtera-Nya dinyatakan bagi kita.
Dalam situasi apa pun, baik yang serius atau yang sepele, kita dapat berdoa kepada Yesus. Dalam hadirat-Nya, kita boleh mengungkapkan segala kekhawatiran dan kecemasan kita kepada-Nya. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa damai sejahtera Allah akan “memelihara hati dan pikiran [kita] dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7). Bahkan di tengah masa-masa yang melelahkan dan membuat stres, kita tetap dapat menerima damai sejahtera-Nya. —David Roper
Ya Tuhan, terima kasih karena aku dapat datang kepada-Mu apa adanya dan damai sejahtera-Mu akan memelihara hati dan pikiranku.
Di tengah masalah yang berkecamuk, kita selalu dapat menerima damai sejahtera di dalam Yesus.

Sunday, November 19, 2017

Melihat Mahakarya

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. —Mazmur 139:13
Melihat Mahakarya
Ayah saya bekerja sebagai pembuat tempat anak panah yang dirancang khusus sesuai pesanan para pemanah. Ia mengukir gambar satwa liar dengan detail rumit di atas potongan kulit, sebelum menjahit potongan-potongan tersebut menjadi satu.
Saat mengunjunginya, saya memperhatikan cara ayah membuat karya seninya. Dengan hati-hati tangannya menekan potongan kulit yang halus dengan pisau yang tajam untuk menggurat beragam tekstur. Lalu ia mencelupkan kain ke dalam cat merah tua dan memoles potongan kulit itu dengan sapuan yang rata untuk mempertegas keindahan karyanya.
Pada saat mengagumi keahlian karya seni ayah, saya menyadari betapa seringnya saya lupa mengakui dan menghargai kreativitas Bapa Surgawi yang diwujudkan-Nya dalam diri orang lain dan bahkan dalam diri saya sendiri. Saya diingatkan tentang mahakarya-Nya melalui penegasan Raja Daud, bahwa Allah membentuk “buah pinggang” kita dan bahwa kita diciptakan dengan “dahsyat dan ajaib” (Mzm. 139:13-14).
Kita dapat memuji Pencipta kita dengan yakin karena kita tahu “ajaib apa yang [Allah] buat” (ay.14). Dan kita diyakinkan untuk lebih menghormati diri sendiri dan orang lain, terutama ketika kita mengingat bahwa Sang Pencipta alam semesta ini mengenal kita seutuhnya dan telah merancang hari-hari kita “sebelum ada satupun dari padanya” (ay.15-16).
Seperti potongan kulit lembut yang diukir ayah saya dengan ahli, setiap dari kita juga berharga dan indah karena diciptakan Allah sebagai pribadi yang unik dan satu-satunya. Masing-masing dari kita telah diciptakan Allah secara khusus sebagai mahakarya yang dikasihi-Nya demi mencerminkan keagungan-Nya kepada dunia. —Xochitl Dixon
Bapa, terima kasih karena Engkau menciptakan kami dengan kasih yang sempurna. Tolong kami untuk melihat diri kami dan orang lain sebagai mahakarya-Mu yang unik.
Allah dengan ahli menciptakan setiap dari kita dengan keunikan dan tujuan kita masing-masing.

Saturday, November 18, 2017

Petak Umpet

Rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. —1 Petrus 1:3
Petak Umpet
“Tidak kelihatan!”
Ketika anak-anak bermain “petak umpet”, mereka terkadang merasa telah bersembunyi hanya dengan menutup mata mereka. Jika ia tidak dapat melihat teman-temannya, ia pikir teman-temannya juga tidak dapat melihatnya.
Sikap itu mungkin kelihatan konyol bagi orang dewasa, tetapi adakalanya kita juga melakukan hal yang sama dengan Allah. Ketika ingin melakukan sesuatu yang kita tahu tidak benar, kita cenderung bersembunyi dari Allah dan tetap melakukan yang kita inginkan itu.
Nabi Yehezkiel menemukan kebenaran itu melalui penglihatan dari Allah mengenai umat Israel yang dibuang di Babel. Allah berkata, “Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di dalam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka? Sebab mereka berkata: Tuhan tidak melihat kita” (Yeh. 8:12).
Namun, Allah melihat semuanya, dan penglihatan itu menjadi buktinya. Meskipun mereka telah berdosa, Allah memberikan pengharapan kepada umat-Nya yang bertobat melalui janji: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu” (Yeh. 36:26).
Demi kita, Allah menghadapi kehancuran dan pemberontakan dosa dengan kasih-Nya yang lembut di kayu salib dan membayar lunas utang dosa kita. Melalui Yesus Kristus, Allah tidak hanya memberi kita awal yang baru, tetapi Dia juga bekerja di dalam diri kita untuk mengubah hati kita saat kita mengikut-Nya. Sungguh Allah itu baik! Ketika kita terhilang dan bersembunyi di dalam keberdosaan kita, Allah mendekat kepada kita melalui Yesus, yang “datang untuk mencari dan menyelamatkan” kita (Luk. 19:10; Rm. 5:8). —James Banks
Tuhan, terima kasih atas kebaikan-Mu bagiku. Tolong aku mencari wajah-Mu dan mengikut-Mu dengan setia hari ini.
Allah mengenal kita sepenuhnya . . . dan tetap mengasihi kita.

Friday, November 17, 2017

Melayani dan Dilayani

Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. —Filipi 4:10
Melayani dan Dilayani
Marilyn telah sakit selama beberapa minggu dan banyak orang menguatkannya sepanjang masa-masa sulit tersebut. Bagaimana aku dapat membalas semua kebaikan mereka? pikir Marilyn dengan cemas. Kemudian suatu hari ia membaca doa yang tertulis demikian: “Berdoalah agar [orang lain] semakin rendah hati, sehingga mereka tidak hanya bersedia melayani, tetapi juga mau dilayani.” Marilyn pun menyadari bahwa balasan yang setimpal itu tidak diperlukan, tetapi ucapan terima kasih dan mengizinkan orang lain menikmati sukacita dari melayani saja sudah cukup.
Di Filipi 4, Rasul Paulus mengungkapkan rasa syukurnya kepada semua orang yang mengambil bagian “dalam kesusahan-[nya]” (ay.14). Paulus bergantung pada dukungan orang lain dalam pelayanannya berkhotbah dan mengabarkan Injil. Ia menyadari bahwa pemberian yang dikirimkan kepadanya di saat ia sedang membutuhkan itu merupakan wujud kasih mereka kepada Allah: “Pemberian-pemberian dari kalian itu adalah seperti bau harum dari kurban yang dipersembahkan kepada Allah dan yang diterima oleh Allah dengan senang hati” (ay.18 BIS).
Mungkin kamu tidak merasa nyaman menerima bantuan—terutama jika kamu sudah terbiasa mengambil inisiatif untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Namun dengan rendah hati, kita dapat mengizinkan Allah untuk memperhatikan kita melalui beragam cara di saat kita memang membutuhkan pertolongan.
Paulus menulis, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu” (ay.19). Itulah yang telah dipelajarinya sepanjang hidupnya yang penuh dengan kesulitan. Allah setia dan cara-Nya memelihara kita sungguh tak terbatas. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau memelihara kami melalui umat-Mu. Kiranya kami dapat memberi dan menerima bantuan dengan murah hati.
Terimalah kasih. Berikanlah kasih. Lakukanlah itu terus-menerus.

Thursday, November 16, 2017

Dalam Hadirat-Nya

Berbahagialah bangsa yang beribadat dengan gembira, yang hidup dalam cahaya kehadiran-Mu, Tuhan. —Mazmur 89:16 BIS
Dalam Hadirat-Nya
Brother Lawrence, biarawan dari abad ke-17, terbiasa berdoa sebelum memulai pekerjaannya sehari-hari sebagai juru masak di komunitasnya seperti ini: “Ya Allahku . . . berilah kepadaku anugerah-Mu untuk tinggal dalam hadirat-Mu. Tolonglah aku dalam pekerjaanku. Kuasailah seluruh perasaanku.” Selama bekerja, ia senantiasa berbicara kepada Allah, memperhatikan petunjuk-Nya, dan mengabdikan pekerjaannya itu kepada-Nya. Bahkan pada saat ia sangat sibuk, ia akan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan memohon anugerah-Nya. Apa pun yang terjadi, Lawrence mencari dan mendapati kasih dari Penciptanya.
Seperti yang diungkapkan di Mazmur 89, respons yang tepat kepada Allah Sang Pencipta segala sesuatu, yang berkuasa atas samudra dan disembah para malaikat, adalah mempersembahkan hidup kita seutuhnya kepada Allah. Ketika kita memahami keindahan dari Allah yang kita puja, “sepanjang hari” kita akan “bersukacita”—kapan pun dan di mana pun kita berada (ay.16-17 BIS).
Hidup kita memang penuh dengan momen-momen yang dapat membuat kita jengkel, baik ketika harus mengantre di toko atau di bandara, atau menunggu seseorang menjawab panggilan telepon kita. Momen-momen itu sesungguhnya dapat kita gunakan untuk menenangkan diri dan melihat tiap jeda yang ada sebagai kesempatan belajar “ hidup dalam cahaya kehadiran [Allah]” (ay.15 BIS).
Momen-momen yang kita anggap “sia-sia”—saat kita sedang menunggu atau terbaring sakit atau bahkan bertanya-tanya tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya—dapat menjadi waktu yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan hidup kita dalam cahaya kehadiran-Nya. —Harold Myra, penulis tamu
Setiap momen dapat dijalani dalam hadirat Allah.

Wednesday, November 15, 2017

Apalagi!

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. —Lukas 11:13
Apalagi!
Pada Oktober 1915, semasa Perang Dunia I, Oswald Chambers tiba di Kamp Zeitoun, pusat pelatihan militer di dekat Kairo, Mesir. Di sana Chambers melayani sebagai pembina rohani bagi para tentara Persemakmuran Inggris. Dalam salah satu kebaktian di malam hari, 400 orang memenuhi sebuah tenda pertemuan yang besar untuk mendengarkan Chambers membahas tema “Apa Manfaat Doa?”. Setelah itu, saat berbincang secara pribadi dengan para prajurit yang berusaha mencari Allah di tengah medan peperangan, Oswald sering mengutip Lukas 11:13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Karunia cuma-cuma dari Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, adalah pengampunan, pengharapan, dan kehadiran-Nya yang aktif dalam hidup kita melalui Roh Kudus. “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (ay.10).
Pada 15 November 1917, Oswald Chambers meninggal mendadak karena usus buntunya pecah. Untuk menghormati almarhum, seorang prajurit yang pernah ditolong Oswald untuk beriman kepada Kristus membeli sebuah ukiran marmer berbentuk Alkitab yang terbuka dan meletakkannya di sisi makam Oswald. Pada sisi halaman Alkitab itu tercantum penggalan ayat Lukas 11:13: “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Saat ini, setiap dari kita dapat menerima karunia luar biasa dari Allah itu. —David C. McCasland
Bapa, Engkau sumber segala pemberian yang baik. Kami berterima kasih untuk Roh Kudus yang tinggal di dalam kami dan menuntun kami dalam kebenaran-Mu hari ini.
Saat ini, setiap dari kita dapat menerima karunia Roh Kudus dari Allah.

Tuesday, November 14, 2017

Kasih yang Besar

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. —1 Yohanes 3:1
Kasih yang Besar
Baru-baru ini, kami menjemput Moriah, cucu perempuan kami yang berusia 22 bulan, untuk bermalam pertama kalinya tanpa kakak-kakak lelakinya. Kami mencurahkan kasih sayang dan perhatian total kepada Moriah. Kami ikut melakukan semua aktivitas yang ia sukai. Keesokan harinya, setelah mengantar Moriah pulang, kami pamit dan melangkah menuju pintu. Saat itu juga, tanpa mengucapkan apa-apa, Moriah meraih tas yang dibawanya menginap (yang masih tergeletak di dekat pintu) dan kembali mengikuti kami keluar.
Gambaran itu terpatri dalam ingatan saya: Moriah yang masih mengenakan popok dan sandal kebesaran bersiap untuk menikmati waktu bersama nenek dan kakeknya. Saya tersenyum setiap kali mengingat peristiwa itu. Moriah ingin sekali pergi bersama kami, karena ia sangat ingin dimanjakan oleh kami.
Meski Moriah belum bisa mengungkapkan perasaannya, saya yakin ia merasa dikasihi dan dihargai. Kasih yang kami tunjukkan kepada Moriah merupakan gambaran sederhana dari kasih Allah yang besar bagi kita, anak-anak-Nya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1).
Ketika mempercayai Yesus sebagai Juruselamat kita, kita menjadi anak-anak Allah dan mulai memahami kebesaran kasih yang dilimpahkan-Nya atas kita dengan jalan menyerahkan nyawa Anak-Nya untuk kita (ay.16). Kita pun rindu menyenangkan-Nya lewat segala perkataan dan perbuatan kita (ay.6)—dan mengasihi-Nya dengan ingin selalu menghabiskan waktu bersama-Nya. —Alyson Kieda
Tuhan, terima kasih karena Engkau begitu mengasihi kami sehingga rela mati bagi kami dan bangkit lagi agar kami dapat hidup kekal bersama-Mu. Tolong kami menjadi teladan dari kasih-Mu kepada semua orang yang kami temui.
Sungguh dalam kasih Allah Bapa kepada kita!

Monday, November 13, 2017

Kebaikan Berlipat Ganda

Demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. —2 Korintus 8:7
Kebaikan Berlipat Ganda
Cheryl terkejut ketika ia menepi untuk mengantar pesanan pizza. Ia pikir yang ditujunya adalah sebuah rumah, tetapi sekarang ia justru berdiri di halaman depan sebuah gereja. Cheryl yang bingung membawa masuk pesanan pizza pepperoni itu dan kemudian ditemui oleh seorang pendeta.
“Benarkah kamu sedang mengalami banyak masalah dalam hidupmu?” tanya sang pendeta. Cheryl mengakui bahwa hidupnya sedang tidak berjalan mulus. Setelah itu sang pendeta mengeluarkan dua wadah persembahan yang telah diisi dengan uang dari jemaat gereja. Pendeta itu lalu memasukkan uang tunai sebesar 10 juta rupiah ke dalam tas Cheryl sebagai tip! Tanpa sepengetahuan Cheryl, pendeta itu telah meminta gerai pizza untuk mengirimkan pesanannya lewat petugas pengantaran mereka yang paling bergumul dalam hal keuangan. Cheryl terperangah. Dengan uang itu, sekarang ia dapat membayar tagihan-tagihannya yang menumpuk.
Ketika jemaat Kristen mula-mula di Yerusalem menghadapi masalah kemiskinan, ada jemaat lain yang segera turun tangan dan membantu mereka. Walaupun jemaat di Makedonia sebenarnya juga membutuhkan bantuan, mereka tetap memberi dengan rela, bahkan menganggapnya sebagai hak istimewa (2Kor. 8:1-4). Paulus menyebut kemurahan hati mereka sebagai teladan yang patut ditiru oleh jemaat di Korintus dan juga oleh kita. Ketika kita menggunakan kecukupan kita untuk memenuhi kebutuhan orang lain, kita mencerminkan Yesus, yang menyerahkan diri-Nya yang kaya untuk memenuhi kemiskinan jiwa kita (ay.9).
Cheryl menceritakan pada semua pelanggannya tentang kebaikan jemaat gereja itu. Ia pun meneladaninya dengan rela menyumbangkan sisa tip yang diterimanya hari itu kepada orang lain yang membutuhkan. Kebaikan pun berlipat ganda, dan Kristus dimuliakan. —Sheridan Voysey
Tuhan, adakalanya Engkau memenuhi kebutuhan kami melalui cara-cara yang mengejutkan. Pakailah kami untuk melakukan hal yang sama kepada sesama.
Kemurahan hati kita memenuhi kebutuhan sesama dan memuliakan Yesus.

Sunday, November 12, 2017

Hadiah Terindah

Rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah. —2 Tawarikh 2:5
Hadiah Terindah
Suami saya baru-baru ini merayakan ulang tahun di usianya yang istimewa, yakni usia yang angkanya diakhiri dengan nol. Saya berusaha keras memikirkan cara terbaik untuk menghormatinya pada kesempatan istimewa ini. Saya membahas banyak ide dengan anak-anak kami agar mereka menolong saya memutuskan cara mana yang terbaik. Saya ingin perayaan kami mencerminkan makna penting dari usianya sekarang dan mengungkapkan betapa dirinya sangat berarti bagi keluarga kami. Saya ingin hadiah kami sesuai dengan arti penting dari pencapaian tersebut dalam hidupnya.
Raja Salomo ingin memberikan kepada Allah hadiah yang jauh lebih berarti daripada sekadar hadiah ulang tahun yang istimewa. Ia mau Bait Suci yang dibangunnya layak menerima kehadiran Allah di dalamnya. Untuk memperoleh bahan bangunan yang akan digunakan, ia menyurati raja Tirus. Dalam suratnya, Salomo menegaskan bahwa bait itu harus besar “sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (2Taw. 2:5). Salomo mengakui bahwa kebesaran dan kebaikan Allah jauh melebihi apa pun yang dapat dibangun oleh tangan manusia. Sekalipun demikian, ia tetap meneruskan pekerjaan pembangunan itu sebagai wujud kasih dan penyembahannya.
Allah kita sungguh jauh lebih besar dari segala allah. Allah telah melakukan hal-hal yang menakjubkan dalam hidup kita, sehingga hati kita tergerak untuk memberikan kepada-Nya persembahan yang terindah dan penuh kasih, berapa pun nilai ekstrinsiknya. Salomo tahu persembahannya tidaklah sebanding dengan kebesaran Allah, tetapi ia tetap bersukacita mempersembahkannya kepada Allah. Kita juga dapat mengikuti teladan Salomo. —Kirsten Holmberg
Tuhan, Engkau sungguh Allah yang besar, tiada bandingnya. Kiranya persembahanku menyenangkan-Mu.
Kasih kita adalah hadiah terindah yang dapat kita berikan kepada Allah.

Saturday, November 11, 2017

Bumi yang Indah

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. . . . Allah melihat bahwa semuanya itu baik. —Kejadian 1:9-10
Bumi yang Indah
Ketika mengorbit bulan pada tahun 1968, Bill Anders, salah seorang astronaut pesawat Apollo 8, berusaha menggambarkan permukaan bulan yang dilihat oleh para awak pesawat. Bill menyebutnya sebagai “pemandangan yang kelam . . . sebuah tempat yang tak memikat dan dingin.” Kemudian masing-masing awak bergantian membacakan Kejadian 1:1-10 kepada pemirsa televisi. Setelah Komandan Frank Borman selesai membaca ayat 10, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik,” ia menutup dengan berkata, “Tuhan memberkati kamu semua, kamu semua yang tinggal di bumi yang indah.”
Pasal pertama dari Alkitab menegaskan dua fakta:
Alam ciptaan adalah karya Allah. Frasa “Berfirmanlah Allah . . .” berdetak berulang kali di sepanjang pasal 1. Seluruh dunia indah yang kita diami ini merupakan hasil dari karya kreatif Allah. Semua yang dicatat dalam Alkitab setelah itu menegaskan pesan dari Kejadian 1: Ada Allah di balik seluruh sejarah.
Alam ciptaan itu baik. Kalimat lainnya bergaung lebih lembut di sepanjang pasal 1. “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Banyak yang telah berubah sejak penciptaan pertama itu. Kejadian 1 menggambarkan dunia sebagaimana dikehendaki oleh Allah, sebelum terjadi kerusakan apa pun. Apa pun keindahan yang kita lihat pada alam semesta hari ini hanyalah secercah bayangan dari kemurnian yang diciptakan Allah pada mulanya.
Para astronaut Apollo 8 melihat bumi seperti bola berwarna cerah yang tergantung sendirian di angkasa. Bumi terlihat luar biasa indah sekaligus rapuh—persis pemandangan dari Kejadian 1. —Philip Yancey
Hai masyhurkanlah keagungan-Nya; cahaya terang itu jubah-Nya. Gemuruh suara-Nya di awan kelam; berjalanlah Dia di badai kencang. —Robert Grant (Kidung Jemaat, No. 4)
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. —Kejadian 1:1

Friday, November 10, 2017

Tangan yang Menghibur

Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, . . . yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami. —2 Korintus 1:3-4
Tangan yang Menghibur
Perawat itu tidak menyadari bahwa saya sedang mengalami reaksi alergi setelah siuman dari operasi jantung terbuka yang kompleks. Saya merasa begitu tidak nyaman karena adanya tabung pembantu pernapasan di tenggorokan. Tubuh saya mulai berguncang dengan kencang, sambil meregangkan tali-tali pengikat lengan yang menahan saya agar tidak tiba-tiba menarik tabung pernapasan itu. Peristiwa itu begitu menyakitkan sekaligus menakutkan. Pada saat itu, seorang asisten perawat yang berada di sebelah kanan tempat tidur saya menarik dan menggenggam tangan saya. Tindakannya yang tak terduga itu terasa begitu meneduhkan. Saya pun mulai rileks dan tubuh saya tidak lagi berguncang dengan kencang.
Karena sudah berpengalaman menghadapi hal itu dengan pasien-pasien lain, sang asisten perawat tahu bahwa genggaman tangannya sanggup menenangkan saya. Perbuatannya menjadi gambaran yang sangat jelas tentang penghiburan yang dilimpahkan Allah bagi anak-anak-Nya yang menderita.
Dalam 2 Korintus 1:3-4, Paulus menyatakan bahwa penghiburan merupakan unsur penting dari karya Allah bagi umat-Nya. Selain itu, Allah juga ingin melipatgandakan dampak dari penghiburan itu melalui umat-Nya. Kita dipanggil Allah untuk memakai pengalaman kita yang telah menerima penghiburan-Nya guna menghibur orang lain yang mengalami situasi seperti yang pernah kita alami (ay.4-7). Penghiburan seperti itu membuktikan kebesaran kasih-Nya, dan kita dapat meneruskannya kepada orang lain—terkadang cukup melalui perbuatan-perbuatan yang sederhana. —Randy Kilgore
Bapa, terima kasih untuk penghiburan yang Engkau berikan bagi kami, baik secara langsung maupun melalui tangan anak-anak-Mu. Tolong kami melihat bagaimana kami bisa meneruskan penghiburan yang sama pada sesama kami dalam nama-Mu.
Perbuatan sederhana dapat memberikan penghiburan besar.

Thursday, November 9, 2017

Akhir yang Baik

Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya. —Wahyu 22:3-4
Akhir yang Baik
Ketika lampu dipadamkan dan kami siap-siap menyaksikan film Apollo 13, teman saya tiba-tiba bergumam, “Sayang sekali mereka semua mati.” Saya pun menonton film tentang penerbangan ke luar angkasa di tahun 1970 itu dengan berdebar-debar, sambil menanti terjadinya tragedi. Ketika film sudah tamat dan daftar nama pemain mulai tertampil di layar, saya baru sadar telah dibohongi teman saya. Saya memang tidak tahu atau tidak ingat tentang akhir dari kisah nyata para astronaut itu. Meski menghadapi banyak kesulitan, mereka dapat pulang ke bumi dengan selamat.
Dalam Kristus, kita mengetahui akhir dari kisah kita—kita juga akan pulang ke rumah kita yang sejati dengan selamat. Artinya, kita akan hidup selamanya bersama Allah Bapa kita di surga, seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu. Tuhan akan menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru” karena Dia menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:1,5). Di kota yang baru itu, Tuhan Allah akan menyambut umat-Nya untuk hidup bersama-Nya. Di sana, kita akan hidup tanpa ketakutan dan tanpa kekelaman. Kita memiliki pengharapan karena kita mengetahui akhir dari kisah kita.
Mengetahui akhir kisah dapat mengubah cara pandang kita terhadap masa-masa yang dirasakan begitu sulit untuk dijalani, misalnya ketika seseorang menghadapi kepergian orang yang dikasihinya atau bahkan kematiannya sendiri. Walaupun kita ngeri membayangkan kematian, kita tetap dapat merasakan sukacita dari janji kekekalan yang akan dijelang. Kita merindukan sebuah kota di mana tidak akan ada lagi kutukan—di sanalah kita akan menjalani hidup selamanya dalam terang Allah (Why. 22:5). —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, berilah kepadaku pengharapan yang tak terpadamkan, agar aku terus memegang janji-Mu dan masuk dalam hidup kekal bersama-Mu.
Allah menjanjikan umat-Nya akan mengalami akhir kisah yang baik.

Wednesday, November 8, 2017

Berpikir Sebelum Bicara

Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! —Mazmur 141:3
Berpikir Sebelum Bicara
Cheung kesal dengan istrinya yang tidak berhasil mendapatkan arah ke sebuah restoran terkenal yang ingin mereka kunjungi. Keluarga Cheung sudah berencana menutup liburan di Jepang dengan menikmati santapan yang mewah dan lezat sebelum terbang pulang ke negaranya. Namun saat itu, waktu sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk menikmati hidangan tersebut. Karena frustrasi, Cheung pun mengkritik sang istri untuk perencanaannya yang tidak matang.
Namun kemudian, Cheung menyesali kata-kata yang diucapkannya dan sikapnya yang terlalu kasar. Ia juga menyadari, sebenarnya ia bisa mencari sendiri arah ke restoran tersebut. Ia bahkan lupa berterima kasih kepada istrinya untuk perencanaan yang disusunnya bagi tujuh hari liburan mereka yang telah berlalu.
Banyak dari kita mungkin pernah mengalami hal yang sama. Kita tergoda untuk meluapkan kemarahan dan membiarkan kata-kata kasar terucap tanpa kendali. Kita sungguh perlu berdoa seperti pemazmur: “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3).
Namun, bagaimana kita dapat melakukannya? Nasihat ini mungkin dapat menolongmu: Berpikirlah sebelum berbicara. Apakah perkataan kamu baik dan bermanfaat, ramah dan tulus? (Lihat Ef. 4:29-32).
Mengawasi mulut berarti kita berusaha berdiam diri dan tidak membalas ketika kita tersinggung. Menjaga bibir berarti kita meminta pertolongan Tuhan untuk mengucapkan kata-kata yang tepat dengan nada yang tepat, atau bahkan berhenti berbicara sama sekali. Mengendalikan perkataan merupakan tugas kita seumur hidup. Syukurlah, Allah terus bekerja di dalam diri kita untuk membuat kita “rela dan sanggup menyenangkan hati Allah” (Flp. 2:13 BIS). —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, tolonglah kami untuk selalu berpikir sebelum berbicara. Berilah kami kata-kata untuk diucapkan dan hikmat untuk mengetahui kapan harus berhenti berbicara.
Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Amsal 16:24

Tuesday, November 7, 2017

Kesempatan Kedua

Allah terus-menerus menyatakan kebaikan-Nya. —Rut 2:20 Alkitab FAYH (Firman Allah yang Hidup)
Kesempatan Kedua
“Mengapa kalian sangat baik walaupun kalian tidak mengenalku?” kata Linda kepada sepasang suami-istri yang telah menolongnya.
Linda sempat dijebloskan ke penjara selama enam tahun akibat sejumlah pelanggaran yang dibuatnya di luar negeri. Ketika dibebaskan, ia tidak tahu tempat yang dapat ia tuju. Ia berpikir hidupnya sudah berakhir! Sementara keluarganya mengumpulkan uang untuk membelikannya tiket pulang, pasangan suami-istri di negara asing itu menyediakan tempat tinggal, makanan, dan bantuan lain untuknya. Linda sangat tersentuh oleh kebaikan mereka sehingga ia bersedia mendengarkan kabar baik yang mereka bagikan kepadanya tentang Allah yang mengasihinya dan yang ingin memberinya kesempatan kedua.
Linda mengingatkan saya kepada Naomi, seorang janda di Alkitab yang kehilangan suami dan dua anak laki-lakinya di negeri asing. Naomi juga berpikir hidupnya sudah berakhir (Rut 1). Namun, Tuhan tidak melupakan Naomi, dan melalui kasih dari menantu perempuannya dan belas kasihan Boas, seorang laki-laki yang saleh, Naomi melihat kasih Allah dan menerima kesempatan kedua (Rut 4:13-17).
Allah yang sama juga mempedulikan kita hari ini. Melalui kasih yang ditunjukkan orang lain, kita kembali diingatkan akan kehadiran-Nya. Kita dapat melihat anugerah Allah di dalam bantuan dari seseorang yang mungkin tidak kita kenal dengan baik. Namun yang terlebih penting, Allah bersedia memberi kita awal yang baru. Sama seperti Linda dan Naomi, kita hanya perlu melihat tangan Allah yang bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari dan menyadari bahwa Allah terus-menerus menyatakan kebaikan-Nya kepada kita. —Keila Ochoa
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau selalu memberikan kesempatan kedua bagi kami untuk dapat memulai kembali dengan awal yang baru.
Allah selalu memberi kita kesempatan kedua.

Monday, November 6, 2017

Doa Kita dan Waktu Allah

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. —Efesus 3:20
Doa Kita dan Waktu Allah
Terkadang Allah menantikan waktu yang tepat untuk menjawab doa-doa kita, dan itu tidak selalu mudah untuk kita pahami.
Demikianlah situasi yang dihadapi Zakharia, seorang imam yang suatu hari dikunjungi malaikat Gabriel di Bait Allah di Yerusalem. Malaikat Gabriel berkata: “Jangan takut, Zakharia! Allah sudah mendengar doamu. Istrimu Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki. Engkau harus memberi nama Yohanes kepadanya” (Luk. 1:13 BIS).
Zakharia mungkin telah berdoa selama bertahun-tahun agar Allah memberinya anak. Ia bergumul menerima pesan Gabriel karena sekarang Elisabet sudah terlalu tua untuk melahirkan. Namun, Allah tetap menjawab doanya.
Ingatan Allah itu sempurna. Dia mampu mengingat doa-doa kita, tidak hanya untuk bertahun-tahun, tetapi juga sampai generasi-generasi mendatang. Allah tidak pernah melupakan doa kita dan mungkin saja Dia menjawabnya lama setelah pertama kalinya kita mengungkapkan permohonan kita kepada-Nya. Terkadang jawaban Allah adalah “tidak”, bahkan mungkin juga “tunggu”—tetapi tanggapan-Nya selalu didasarkan pada kasih-Nya. Meskipun cara-cara Allah tidak terselami oleh pikiran kita, kita dapat meyakini bahwa semua cara-Nya itu baik.
Zakharia mengalaminya. Ia berdoa meminta anak laki-laki, tetapi Allah memberinya lebih dari itu. Anaknya, Yohanes, akan tumbuh menjadi seorang nabi yang membuka jalan bagi kedatangan Mesias.
Pengalaman Zakharia menunjukkan satu kebenaran penting yang sepatutnya juga menguatkan kita ketika kita berdoa: Waktu Allah jarang sekali sama dengan waktu kita, tetapi waktu-Nya selalu layak kita nantikan. —James Banks

Saat kita tak dapat melihat tangan Allah bekerja, percayalah pada hati-Nya.

Sunday, November 5, 2017

Sukacita dan Keadilan

Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. —Mazmur 67:5
Sukacita dan Keadilan
Pada suatu pelayanan di Asia, saya terlibat dalam dua percakapan yang sungguh membuka wawasan saya dalam rentang beberapa jam. Pertama, seorang pendeta menuturkan bagaimana selama sebelas tahun ia dipenjara, sebelum akhirnya dibebaskan, karena kasus pembunuhan yang tidak dilakukannya. Lalu, sekelompok keluarga menceritakan bagaimana mereka telah menghabiskan banyak uang untuk meloloskan diri dari penganiayaan di tanah air mereka. Namun, mereka justru dikhianati oleh orang yang mereka andalkan. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun tinggal di pengungsian, mereka pun bertanya-tanya kapan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang tetap.
Dalam kedua kasus itu, keadaan pihak yang menjadi korban diperparah dengan tiadanya keadilan. Itulah salah satu bukti dari kebobrokan dunia ini. Namun, tiadanya keadilan bukanlah kondisi yang akan berlangsung selamanya.
Mazmur 67 menyerukan kepada umat Allah untuk memperkenalkan Allah pada dunia kita yang menderita. Usaha mereka akan membuahkan sukacita, yang tidak hanya muncul sebagai respons terhadap kasih Allah tetapi juga karena keadilan-Nya. “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi” (ay.5).
Meskipun para penulis Alkitab memahami bahwa keadilan merupakan unsur kunci dari kasih Allah, mereka juga menyadari bahwa hal itu baru akan terwujud sempurna di masa mendatang. Sebelum masa itu tiba, di dunia yang marak dengan ketidakadilan ini, kita dapat menuntun orang lain untuk berharap pada keadilan Allah yang kudus. Kelak dalam kedatangan-Nya, Allah akan mewujudkan “keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir!” (Am. 5:24). —Bill Crowder
Allah Bapa, tolonglah kami untuk mengusahakan keadilan-Mu di mana pun kami berada, sembari menanti harinya kelak Engkau memulihkan segala sesuatu.
Usahakanlah keadilan dan mohonkanlah belas kasihan.

Saturday, November 4, 2017

Senyum yang Terkenal

Harapan orang benar akan menjadi sukacita. —Amsal 10:28
Senyum yang Terkenal
Setelah saya dan istri mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi Museum Louvre di Paris, Prancis, saya menelepon Addie, cucu kami yang berumur sebelas tahun. Ketika saya bercerita bahwa saya sempat melihat lukisan Mona Lisa yang terkenal, Addie bertanya, “Apakah Mona Lisa tersenyum?”
Bukankah itu yang terus-menerus ditanyakan orang tentang lukisan tersebut? Lebih dari 600 tahun setelah sosok wanita itu dilukis Leonardo da Vinci dengan cat minyak, kita masih tidak tahu pasti apakah ia tersenyum atau tidak. Meski terpesona oleh keindahan lukisan tersebut, kita masih tidak yakin pada sikap yang ditunjukkan oleh Mona Lisa.
“Senyum” menjadi bagian dari lukisan Mona Lisa yang membuat penasaran banyak orang. Namun, sepenting apakah sebuah senyuman? Apakah “tersenyum” disebutkan dalam Alkitab? Sebenarnya, kata itu hanya muncul kurang dari lima kali di Alkitab, dan tidak sekali pun itu muncul sebagai perintah. Namun demikian, Alkitab memang mendorong kita untuk memiliki satu sikap yang dapat membawa senyuman kepada wajah kita—yaitu sukacita. Sekitar 250 kali kita membaca tentang sukacita dengan berbagai aspeknya: “Karena kuasa-Mulah raja bersukacita,” kata Daud ketika memikirkan tentang Tuhan (Mzm. 21:2). Kita diperintahkan untuk “[beribadah] kepada Tuhan dengan sukacita” (Mzm. 100:2); ketetapan-ketetapan Allah membuat kita “bersukacita” (Mzm. 119:117); dan kita “bersukacita” karena “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita” (126:3).
Tentulah sukacita yang diberikan Allah lewat segala sesuatu yang telah diperbuat-Nya bagi kita akan memunculkan senyum pada wajah kita. —Dave Branon
Ya Allah, Engkaulah Bapa yang baik dan yang membuat kami tersenyum. Engkau memberikan sukacita yang jauh melebihi apa pun yang dapat ditawarkan dunia ini. Tolong kami menunjukkan sukacita-Mu itu lewat senyum pada wajah kami.
Pengharapan di dalam hati menghadirkan senyum pada wajah kita.

Friday, November 3, 2017

Bayi Mungil yang Dahsyat

Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? . . . Tetapi aku, kepada kasih setiaMu aku percaya. —Mazmur 13:2,6a
Bayi Mungil yang Dahsyat
Pertama kali melihat bayi itu, saya menangis. Ia terlihat seperti bayi sempurna yang sedang terlelap. Namun, kami tahu ia takkan pernah bangun lagi. Ia telah kembali ke pangkuan Tuhan Yesus.
Bayi itu telah bertahan hidup beberapa bulan. Kemudian sang ibu menyampaikan kabar kematian bayinya kepada kami lewat sebuah e-mail yang sangat memilukan hati. Ia menulis bahwa ia mengalami “kepedihan yang besar di dalam batin.” Namun, ia juga berkata, “Betapa dalamnya Allah mengukir karya kasih-Nya di dalam hati kami melalui kehidupan bayi mungil kami! Alangkah dahsyat hidupnya!”
Bagaimana ia bisa berkata demikian?
Sang bayi yang begitu disayang keluarganya itu menunjukkan kepada mereka—dan kepada kita—betapa kita harus bergantung kepada Allah dalam segala hal, terutama pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak kita! Ada satu kebenaran yang sulit dimengerti tetapi sanggup menghibur kita: Allah melawat kita di dalam penderitaan kita. Allah ikut merasakan pedihnya kematian seorang anak, karena Dia sendiri pernah mengalaminya.
Dalam penderitaan kita yang terdalam, kiranya kita terhibur oleh mazmur Daud yang ditulisnya ketika sedang berada dalam kepedihan yang besar. Ia bertanya, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” (Mzm. 13:3). “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati” (ay.4). Namun Daud menyerahkan keresahan hatinya yang terdalam kepada Allah. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (ay.6a).
Hanya Allah yang sanggup memberi makna yang sesungguhnya dari peristiwa-peristiwa tragis yang kita alami. —Tim Gustafson
Ke mana kamu berpaling saat krisis menghantam? Pernahkah kamu marah kepada Allah saat mengalami kepedihan dan kehilangan? Takutkah kamu mengungkapkan emosimu sejujurnya kepada Allah? Pernahkah kamu memohon damai dari-Nya?
Allah sanggup melakukan yang besar dari apa yang kita pandang kecil.

Thursday, November 2, 2017

Hidup Tanpa Nama

Hendaklah saudara-saudara saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga. —Roma 12:10 BIS
Hidup Tanpa Nama
Saya sering membaca ulang esai berjudul “Working Up to Anon” (Berusaha Menjadi Anonim) karya penulis Jane Yolen, yang saya jadikan kliping dari majalah The Writer bertahun-tahun lalu. Jane berkata, “Penulis yang terbaik adalah mereka yang dari lubuk hatinya sungguh-sungguh ingin mencantumkan ‘anonim’ pada tulisan mereka. Bagi mereka, kisah yang dituliskan lebih penting daripada penulisnya.”
Sebagai orang percaya, kita menceritakan kisah tentang Yesus Kristus, Sang Juruselamat, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Bersama orang percaya lainnya, kita menjalani hidup bagi-Nya dan menyebarluaskan kasih-Nya kepada sesama.
Roma 12:3-21 menjabarkan sikap rendah hati dan kasih yang harus meresap ke dalam hubungan kita sebagai sesama pengikut Yesus. “Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaknya kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati; masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Allah kepadanya oleh karena ia percaya kepada Yesus. . . . Hendaklah saudara-saudara saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga, dan hendaknya kalian saling mendahului memberi hormat” (ay.3,10 BIS).
Kebanggaan atas prestasi yang pernah kita capai pada masa lalu dapat membuat kita buta terhadap karunia-karunia yang dimiliki orang lain. Kesombongan dapat meracuni masa depan kita semua.
Sebagai pembuka jalan bagi Yesus, Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).
Sungguh itu prinsip yang baik untuk kita teladani. —anonim
Tuhan, aku mengakui bahwa aku perlu banyak belajar untuk bersikap rendah hati. Tolonglah aku untuk melihat siapa diri-Mu yang sesungguhnya agar aku dapat menempatkan Engkau dan sesamaku pada tempat yang sepatutnya dalam hidupku.
Rendahkanlah dirimu selalu di hadapan Allah dan jadikanlah Dia segala-galanya bagimu. —Oswald Chambers

Wednesday, November 1, 2017

Siapa Gerangan Orang Ini?

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” —Markus 4:41
Siapa Gerangan Orang Ini?
“Simpan semua benda yang ada di atas meja kalian. Siapkan selembar kertas dan pensil.” Dahulu ketika saya masih menjadi murid sekolah, kata-kata yang menakutkan itu menunjukkan bahwa ujian segera dimulai.
Di Markus 4, Yesus memulai hari dengan mengajar di tepi danau (ay.1) dan mengakhirinya dengan sebuah ujian yang berlangsung di tengah danau (ay.35). Perahu yang semula merupakan sarana mengajar telah dibuat menjadi sarana transportasi oleh Yesus dan para pengikut-Nya untuk menyeberangi danau. Di dalam perjalanan itu (sementara Yesus yang kelelahan tertidur di buritan), mereka didera angin topan yang sangat dahsyat (ay.37). Murid-murid yang kewalahan membangunkan Yesus dengan berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”(ay.38). Lalu terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Pribadi yang pernah berseru kepada orang banyak, “Dengarlah!” di awal hari itu (ay.3), kini mengucapkan perintah singkat yang penuh kuasa kepada angin, “Diam! Tenanglah!” (ay.39).
Angin pun taat dan para murid yang ketakutan itu terheran-heran. Keheranan mereka terungkap dalam pertanyaan, “Siapa gerangan orang ini?” (ay.41). Pertanyaan itu tidak salah, tetapi baru di kemudian hari para murid menyadari dan yakin sepenuhnya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan tersebut dengan jujur, tulus, dan hati yang terbuka, ia dapat tiba pada kesimpulan yang sama: Yesus bukan sekadar guru yang harus didengarkan, melainkan Allah yang layak disembah. —Arthur Jackson
Bapa, terima kasih atas firman-Mu yang menolong kami untuk melihat Yesus sebagai Anak Allah yang hidup. Tolonglah kami untuk mendengarkan-Mu dan percaya bahwa Engkaulah yang memegang kendali atas segala sesuatu.
“Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” —Matius 8:19
 

Total Pageviews

Translate