Pages - Menu

Saturday, February 28, 2015

Dirongrong Oleh Kesalahan

Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari. —Mazmur 32:3
Dirongrong Oleh Kesalahan
Melalui sebuah tulisan di surat kabar, seorang pendeta menceritakan pengalamannya berikut ini. Ia pernah berbincang dengan seorang pria lebih tua yang baru saja dikenalnya. “Anda pernah bekerja di sebuah perusahaan layanan listrik?” kata sang pendeta sembari menyebutkan nama perusahaan itu. “Betul,” jawab si pria. Sang pendeta bercerita bahwa saat ia masih kanak-kanak, kabel-kabel listrik dari perusahaan itu melintas di atas rumah orangtuanya. “Di mana Anda tinggal?” tanya pria tersebut. Ketika pendeta itu menyebutkan alamat rumah orangtuanya, pria tadi berkata, “Oh, saya ingat rumah itu. Saya sering kesulitan menjaga papan peringatan tentang bahaya kabel di sana untuk tetap berdiri. Ada anak-anak yang selalu menembaki papan itu sampai jatuh.” Ketika wajah pendeta tersebut memerah karena malu, pria itu berkata, “Anda salah satu dari anak-anak itu, bukan?” Pendeta itu pun mengakuinya.
Sang pendeta kemudian memberi judul kisah pengakuannya: “Papan peringatanmu akan menimpamu”, dengan mengacu pada kata-kata Musa dalam Bilangan 32:23: “Dosamu itu akan menimpa kamu.”
Kesalahan-kesalahan kita di masa lalu bisa kembali untuk merongrong kita. Dosa-dosa masa lalu yang belum dituntaskan dapat mengakibatkan konsekuensi serius. Demikianlah ratapan Daud dalam Mazmur 32: “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu.” Namun ketika kita mengakui kesalahan kita, persekutuan kita dengan Tuhan akan pulih kembali: “‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (Mzm. 32:5). Dengan mengakui dosa, kita dapat menikmati pengampunan dari Allah. —JDB
Ya Tuhanku, kini saatnya aku datang kepada-Mu dengan jujur.
Aku telah lama terikat pada ________________.
Terima kasih karena dosa itu telah ditebus oleh darah Kristus.
Kembalikan aku dalam persekutuan yang erat dengan-Mu.
Orang Kristen tidak perlu lagi mengingat dosa yang tidak lagi diingat oleh Allah.

Friday, February 27, 2015

Hidup Yang Tekun

Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. —Daniel 6:11
Hidup Yang Tekun
Ketika sedang mempelajari kitab Daniel, saya terkesan saat mengetahui bahwa Daniel sebenarnya dapat dengan mudah meluputkan dirinya supaya tidak dilemparkan ke dalam gua singa. Para pejabat tinggi dalam pemerintahan Babel yang merasa iri hati kepada Daniel telah mengatur sebuah jebakan yang dipicu oleh ketekunan Daniel dalam berdoa kepada Allah setiap hari (Dan. 6:2-10). Daniel sepenuhnya telah menyadari rencana jebakan yang mereka siapkan itu. Sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk berdoa secara sembunyi-sembunyi selama satu bulan sampai keadaan tenang kembali. Namun Daniel bukanlah orang seperti itu.
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (ay.11). Daniel tidak menjadi panik ataupun melakukan tawar-menawar dengan Allah. Sebaliknya, ia melanjutkan kegiatan ibadahnya “seperti yang biasa dilakukannya” (ay.11). Daniel sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman penganiayaan.
Saya belajar tentang kuasa dari kehidupan ibadah Daniel yang tekun kepada Tuhan. Kekuatan Daniel berasal dari Allah—Allah yang ingin disenangkannya setiap hari. Ketika krisis menerpa hidupnya, Daniel tidak perlu mengubah kebiasaannya sehari-hari untuk menghadapi pergumulan itu. Ia hanya perlu untuk tetap bertekun dalam ibadahnya kepada Allah. —DCM
Bapa, aku ingin tetap beriman kepada-Mu saat penganiayaan datang
seperti yang Daniel lakukan. Beriku keberanian yang sama untuk
tekun berdoa dan tidak merasa malu karena mengenal-Mu.
Tolonglah aku untuk menghidupi imanku secara terbuka.
Allah memberi kita kesanggupan untuk tetap beriman kepada-Nya saat kita tekun beribadah kepada-Nya.

Thursday, February 26, 2015

Mengubah Perspektif

Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. —Kisah Para Rasul 17:16
Mengubah Perspektif
Sebagai orang yang suka bangun pagi, istri saya menikmati waktu-waktu yang hening sebelum orang lain dalam rumah terjaga. Ia menggunakan waktu itu untuk membaca Alkitab dan berdoa. Baru-baru ini ia hendak duduk di kursi favoritnya, tetapi pikirannya teralih ketika melihat ada sofa yang berantakan setelah saya pakai saat menonton pertandingan sepakbola malam sebelumnya. Awalnya, kekacauan itu mengalihkan perhatian istri saya, dan rasa frustrasinya terhadap saya mengusik kehangatan pagi yang hening itu.
Lalu tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Ia memilih pindah dari kursi favoritnya dan duduk di sofa itu. Dari sofa tersebut, lewat jendela depan, ia dapat menyaksikan pemandangan matahari yang terbit di atas Samudera Atlantik. Keindahan yang dilukiskan Allah pada pagi itu telah mengubah perspektif istri saya.
Saat ia menceritakan pengalamannya, kami berdua menyadari pelajaran dari pagi itu. Meski kita tidak dapat selalu mengendalikan hal-hal dalam hidup ini yang mempengaruhi hati kita, kita tetap diberi pilihan. Kita dapat terus memikirkan “kekacauan” yang ada, atau kita dapat mengubah perspektif kita. Ketika Paulus berada di Atena, “sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Kis. 17:16). Namun ketika Paulus mengubah perspektifnya, ia memanfaatkan minat orang terhadap agama sebagai kesempatan untuk mewartakan tentang Allah yang sejati, Yesus Kristus (ay.22-23).
Ketika istri saya berangkat untuk bekerja, tibalah giliran saya untuk mengubah perspektif saya. Saya mempersilakan Tuhan untuk menolong saya melihat kekacauan-kekacauan yang telah saya perbuat, melalui sudut pandang istri saya dan juga sudut pandang-Nya. —RKK
Ya Tuhan, berilah kami hikmat untuk mengubah sudut pandang kami
daripada berlama-lama memikirkan kekacauan yang terjadi.
Tolong kami untuk melihat—dan memperbaiki—
segala “kekacauan” yang kami akibatkan kepada sesama.
Berhikmat berarti melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah.

Wednesday, February 25, 2015

Pilihan-Nya

Sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan. —2 Tesalonika 2:13
Pilihan-Nya
Ketika anak-anak kami masih kecil, saya sering berdoa bersama mereka setelah kami menyelimuti mereka di tempat tidur. Namun sebelum berdoa, saya kadang-kadang akan duduk di tepi tempat tidur itu dan berbincang-bincang dengan mereka. Saya ingat pernah mengatakan kepada putri kami, Libby, “Seandainya Papa bisa membariskan semua gadis cilik berusia 4 tahun di dunia ini, Papa akan menyusuri barisan itu untuk mencarimu. Setelah melihat-lihat semua anak dalam barisan itu, aku akan memilihmu untuk menjadi putriku.” Perkataan saya itu selalu memunculkan senyuman lebar di wajah Libby karena ia mengetahui bahwa dirinya istimewa bagi saya.
Jika momen itu saja dapat membekaskan senyuman yang bahagia bagi Libby, bayangkan betapa luar biasanya kenyataan bahwa oleh anugerah-Nya, Allah Sang Pencipta alam semesta, “dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan” (2Tes. 2:13). Sejak sebelum permulaan zaman, Allah rindu untuk menjadikanmu milik-Nya. Itulah mengapa Kitab Suci sering menggunakan gambaran tentang adopsi untuk menjabarkan realitas yang ajaib bahwa kita telah dipilih oleh-Nya, bukan karena jasa atau kelayakan kita sendiri.
Itu adalah kabar yang menakjubkan! Kita “dikasihi Tuhan” (ay.13) dan menikmati berkat-berkat sebagai anggota keluarga-Nya. Kebenaran yang agung ini patut memenuhi hidup kita dengan kerendahan hati dan ucapan syukur. “Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita . . . kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik” (ay.16-17). —JMS
Aku akan bersyukur senantiasa karena aku ini anak-Mu, ya Bapa,
dan karena Engkau mengasihiku! Ajari aku untuk mengingat
segala berkat yang kuterima sebagai anak-Mu, dan tolong aku agar
dapat melayani-Mu dengan setia sebagai anggota keluarga-Mu.
Allah telah memilih untuk mengasihimu dan menjadikanmu sebagai anggota keluarga-Nya.

Tuesday, February 24, 2015

Rindu Diselamatkan

KomikStrip-WarungSateKamu-20150224-Tuhan-Menyelamatkan
Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. —Matius 1:21
Rindu Diselamatkan
Film Man of Steel, yang dirilis pada tahun 2013, merupakan sebuah penggambaran baru tentang kisah Superman. Dipenuhi dengan efek spesial yang mengagumkan dan aksi-aksi nonstop yang menegangkan, film itu memikat banyak orang untuk menyaksikannya di bioskop-bioskop di seluruh dunia. Ada yang mengatakan bahwa daya tarik film itu terletak pada penggunaan teknologinya yang menakjubkan. Yang lainnya merujuk pada ketertarikan yang selalu dimiliki orang terhadap “mitologi Superman”.
Amy Adams, sang aktris yang memerankan Lois Lane dalam film tersebut, memiliki pandangan yang berbeda tentang daya tarik Superman. Ia menyebut ketertarikan itu sebagai ungkapan kerinduan yang dialami setiap orang: “Adakah yang tidak ingin percaya bahwa di luar sana ada satu pribadi yang akan datang dan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri?”
Sungguh pertanyaan yang luar biasa. Dan jawabannya adalah: satu pribadi memang telah datang untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri, dan pribadi itu adalah Yesus. Ada sejumlah pengumuman yang telah dibuat mengenai kelahiran Yesus. Salah satunya diberikan oleh malaikat Gabriel kepada Yusuf: “Ia [Maria] akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21).
Yesus datang demi menyelamatkan kita dari dosa dan dari diri kita sendiri. Nama Yesus berarti “Tuhan menyelamatkan”—dan keselamatan kita adalah misi-Nya. Kerinduan akan penyelamatan yang menggelisahkan hati manusia akhirnya dipuaskan oleh Yesus. —WEC
Keselamatan yang penuh,
Berkelimpahan berkat;
Kemenangan yang teguh
Yesus Juruselamat! —Owens
(Nyanyian Pujian, No. 111)
Arti nama dan misi Yesus adalah sama—Dia datang untuk menyelamatkan kita.

Monday, February 23, 2015

Dunia Yang Tak Kasat Mata

Malaikat TUHAN berdiri di jalan. —Bilangan 22:23
Dunia Yang Tak Kasat Mata
Tahukah kamu bahwa jumlah mikroba di satu tanganmu saja sudah melampaui jumlah seluruh manusia yang hidup di atas bumi? Atau bahwa jutaan mikroba dapat masuk ke dalam sebuah lubang jarum? Organisme hidup bersel tunggal itu terlalu kecil untuk dapat terlihat oleh mata kita tanpa bantuan mikroskop. Namun mereka hidup di udara, tanah, air, dan bahkan di dalam tubuh kita. Kita terus-menerus berinteraksi dengan mereka, meskipun dunia mereka sepenuhnya di luar jangkauan semua indera kita.
Realitas dunia spiritual juga sering tidak terlihat oleh manusia seperti kita. Itulah juga yang dialami Nabi Bileam. Ia sedang berjalan bersama kedua bujangnya ketika keledainya “melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya” (Bil. 22:23). Untuk menghindari malaikat tersebut, keledai itu masuk ke ladang, membenturkan kaki Bileam ke tembok, dan jatuh tersungkur dengan Bileam masih bertengger di atas punggungnya. Bileam menjadi marah dan memukul keledai itu. Ia tidak menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang supernatural—sampai Allah kemudian menyingkapkan mata Bileam (ay.31).
Alkitab mengatakan kepada kita bahwa dunia spiritual memang ada dan terkadang kita mungkin menjumpai realitas-realitas dari dunia spiritual tersebut—entah baik atau buruk (Ibr. 13:02;. Ef. 6:12). Oleh karena itu, kita didorong untuk selalu bersikap waspada, senantiasa berdoa, dan siap sedia. Sama seperti Allah memerintah atas dunia yang dapat kita lihat dengan mata, Dia juga memerintah atas dunia yang tidak kasat mata. —JBS
Bapa Surgawi, tolonglah kami untuk menjadi kuat
di dalam Engkau dan oleh kuat kuasa-Mu. Bukalah
mata kami sehingga kami dapat melihat realitas-realitas
rohani yang Engkau sediakan bagi kami.
Semua yang kasat mata maupun tidak kasat mata berada di bawah kuasa Allah yang berdaulat.

Sunday, February 22, 2015

Bertanya Kepada Penulisnya

Kami memiliki pikiran Kristus. —1 Korintus 2:16
Bertanya Kepada Penulisnya
Sudah bertahun-tahun saya menjadi bagian dari beragam klub buku. Biasanya, beberapa teman sepakat untuk membaca sebuah judul buku dan kemudian kami berkumpul untuk mendiskusikan ide yang diajukan oleh penulis buku tersebut. Selalu saja ada seorang anggota kelompok yang mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh anggota lainnya. Kemudian seseorang akan berkata, “Andai saja kita bisa bertanya kepada penulisnya.” Sebuah tren baru yang populer di kota New York membuat itu mungkin terjadi. Sejumlah penulis, dengan bayaran yang besar, menyediakan diri untuk bertemu berbagai klub buku.
Alangkah berbedanya dengan kita yang berkumpul untuk mempelajari Alkitab. Yesus menjumpai kita setiap kali kita berkumpul. Tidak perlu biaya. Tidak ada jadwal yang bentrok. Tidak ada biaya perjalanan. Lebih dari itu, kita memiliki Roh Kudus untuk membimbing pemahaman kita. Salah satu janji terakhir yang Yesus ucapkan kepada murid-murid-Nya adalah bahwa Allah akan mengirimkan Roh Kudus untuk mengajar mereka (Yoh. 14:26).
Sang Penulis Alkitab tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia dapat menemui kita kapan pun dan di mana pun. Jadi kapan pun kita memiliki pertanyaan, kita dapat bertanya dengan jaminan bahwa Dia akan menjawabnya—meskipun mungkin tidak sesuai dengan waktu yang kita kehendaki.
Allah ingin supaya kita memiliki pikiran Kristus Sang Penulis (1Kor. 2:16) sehingga melalui pengajaran Roh Kudus, kita akan dapat memahami keagungan dari anugerah yang telah Dia berikan kepada kita secara cuma-cuma (ay.12). —JAL
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau sedang menemuiku
saat ini. Aku ingin diajar oleh-Mu. Aku tidak ingin
hanya mengetahui lebih banyak tentang diri-Mu; aku ingin
mengenal-Mu hingga sampai ke kedalaman hatiku.
Ketika kamu membuka Alkitab, mintalah Penulisnya untuk membuka hati dan pikiranmu.

Saturday, February 21, 2015

Mendekati Allah

Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya! —Yesaya 6:3
Mendekati Allah
Dahulu saya sempat terusik ketika merasa semakin berdosa justru pada saat saya semakin dekat kepada Allah dalam perjalanan iman saya. Lalu sebuah fenomena di kamar telah menyadarkan saya. Sebuah celah kecil pada tirai yang menutupi jendela meloloskan seberkas cahaya ke dalam kamar saya. Saat mengamatinya, saya melihat partikel-partikel debu yang beter-bangan dalam jalan cahaya itu. Tanpa seberkas cahaya itu, kamar saya terlihat bersih, tetapi kini partikel debu tersebut dapat terlihat jelas.
Pengamatan itu memberikan pencerahan bagi kehidupan rohani saya. Semakin saya mendekat kepada Allah Sang Terang, semakin jelas saya melihat diri sendiri. Saat terang Kristus menyinari gelapnya hidup kita, terang itu akan menyingkapkan dosa kita—bukan untuk mengecilkan hati kita, tetapi untuk merendahkan diri kita agar percaya kepada-Nya. Kita tidak bisa mengandalkan kebenaran kita sendiri, karena kita adalah orang berdosa dan gagal mencapai standar Allah (Rm. 3:23). Saat bersikap sombong, terang itu menyingkapkan isi hati dan kita pun berseru seperti Yesaya, “Celakalah aku! . . . Sebab aku ini seorang yang najis bibir, . . . namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:5).
Allah mutlak sempurna dalam segala hal. Untuk mendekat kepada-Nya, kita dituntut untuk rendah hati, percaya sepenuhnya bagaikan seorang anak, tidak meninggikan diri sendiri dan tidak sombong. Karena hanya oleh anugerah, Allah menarik kita kepada-Nya. Baiklah kita merasa tidak layak saat mendekatkan diri kepada Allah, karena itulah yang membuat kita berserah dan bersandar kepada Dia saja. —LD
Suci, suci, suci, walau tersembunyi
Walau yang berdosa tak nampak wajah-Mu.
Kau tetap Yang Suci, tiada terimbangi,
Kau Mahakuasa, murni kasih-Mu. —Heber
(Kidung Jemaat, No. 2)
Kesombongan tidak mendapat tempat jika kita hidup dekat kepada Allah.

Friday, February 20, 2015

Terbebani

KomikStrip-WarungSateKamu-20150220-Terbebani
Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. —Ibrani 12:1
Terbebani
Tanggal 10 Agustus 1628 adalah hari yang kelam dalam sejarah angkatan laut. Pada hari itu, sebuah kapal perang kerajaan Swedia, Vasa, diluncurkan untuk menjalani pelayaran perdananya. Setelah menempuh proses pembangunan selama 2 tahun, dengan dilengkapi hiasan yang megah dan membawa persenjataan sebanyak 64 buah meriam, kapal perang kebanggaan angkatan laut Swedia itu tenggelam hanya dalam jarak satu mil setelah bertolak ke laut. Apa yang salah? Beban yang berlebihan menyebabkan kapal itu terlalu berat untuk layak berlayar. Kelebihan beban telah membuat Vasa karam di dasar laut.
Kehidupan iman sebagai seorang Kristen juga dapat terbebani oleh beban yang terlalu berat. Untuk mendorong kita terus maju dalam perjalanan iman kita, kitab Ibrani mengatakan: “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (12:1-2).
Sama seperti kapal yang dihias dengan megah itu, kita memang dapat menunjukkan kepada orang lain penampilan luar yang mengesankan. Namun jika hati kita masih terbebani oleh dosa, hal itu akan dapat menggagalkan ketekunan iman kita. Meskipun demikian, masih ada jalan keluar. Dengan mengandalkan bimbingan Allah dan kesanggupan dari Roh Kudus, beban kita dapat diringankan dan semangat kita untuk bertekun kembali melambung.
Pengampunan dan anugerah senantiasa tersedia bagi orang beriman di sepanjang perjalanan rohaninya. —HDF
Bapa di surga, terlalu sering aku mencoba untuk menutupi beban
dan tekanan dosa dalam hidupku dengan berbagai aktivitas rohani.
Ampuni aku. Tolong aku untuk menyingkirkan hal-hal yang
menghalangiku untuk menjalani perlombaan dengan baik.
Ketekunan tidak hanya mencakup kemauan yang kuat, melainkan juga penyangkalan diri yang kuat.

Thursday, February 19, 2015

Kehendak Siapa?

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” —Matius 26:39
Kehendak Siapa?
Kiranya segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakmu.” Itulah salam yang sering diucapkan selama perayaan Tahun Baru Tionghoa. Seindah-indahnya ucapan itu, peristiwa-peristiwa yang terbaik justru terjadi saat segalanya sesuai dengan kehendak Allah dan bukan menurut kehendak saya sendiri.
Seandainya bisa memilih, Yusuf tentu tidak ingin menjadi budak di Mesir (Kej. 39:1). Akan tetapi, meski diperbudak, ia “berhasil” karena “TUHAN menyertai [dirinya]” (ay.2). Tuhan bahkan memberkati rumah tuannya “karena Yusuf” (ay.5).
Yusuf tentu tidak akan memilih untuk dipenjara di Mesir. Namun hal itu terjadi ketika dengan semena-mena, ia dituduh berbuat kejahatan seksual. Akan tetapi, untuk kedua kalinya kita membaca: “TUHAN menyertai Yusuf” (ay.21). Di dalam penjara, ia memperoleh kepercayaan dari kepala penjara (ay.22) sehingga “apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil” (ay.23). Pengalaman Yusuf mendekam di penjara ternyata menjadi awal dari proses hidupnya yang menanjak hingga menduduki posisi penting di Mesir. Tidak banyak orang yang rela ditinggikan dengan cara yang digunakan Allah untuk meninggikan Yusuf. Namun Allah sanggup memberkati Yusuf, sekalipun ada, dan bahkan melalui keadaan-keadaan yang tidak mengenakkan.
Allah memiliki maksud atas keberadaan Yusuf di Mesir, dan Dia memiliki maksud atas kita di mana pun kita ditempatkan-Nya sekarang. Alih-alih berharap segala sesuatu terjadi menurut kehendak kita, kita bisa mengatakan, sebagaimana diucapkan Juruselamat kita sebelum Dia melangkah ke kayu salib, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). —CPH
Ya Tuhan, aku cenderung mengejar hasratku sendiri. Ampuni
keegoisanku dalam mengejar aktivitas yang berpusat pada diriku
sendiri. Tolong aku untuk mengutamakan-Mu dan untuk mengenali
karya-Mu dan kehendak-Mu yang patut kulakukan dalam hidupku.
Sering kali, menunggu dengan sabar merupakan cara terbaik untuk melakukan kehendak Allah.

Wednesday, February 18, 2015

Cermin, Cermin

Barangsiapa . . . bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. —Yakobus 1:25
Cermin, Cermin
Seberapa sering kamu melihat bayangan Anda pada cermin? Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa orang pada umumnya becermin 8-10 kali sehari. Survei lain mengatakan bahwa hitungannya bisa mencapai 60-70 kali sehari, jika yang disebut becermin juga termasuk lirikan sekilas untuk melihat bayangan kita di jendela toko dan di layar ponsel.
Mengapa kita begitu sering becermin? Kebanyakan ahli setuju bahwa alasannya adalah untuk memeriksa penampilan kita, terutama sebelum mengikuti rapat atau pertemuan. Jika ada yang salah dengan penampilan kita, kita ingin memperbaikinya. Mengapa becermin jika kita tidak berencana mengubah sesuatu yang salah?
Rasul Yakobus mengatakan bahwa membaca atau mendengarkan firman Allah tanpa menerapkannya adalah sama seperti seseorang yang melihat ke cermin lalu melupakan apa yang telah ia lihat (1:22-24). Namun yang lebih baik bagi kita adalah melihat dengan lebih cermat dan bertindak sesuai dengan yang kita lihat. Yakobus mengatakan, “Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (ay.25).
Jika hanya mendengarkan firman Allah tanpa menerapkannya, kita menipu diri kita sendiri (ay.22). Akan tetapi, ketika kita menguji diri sendiri dalam terang firman Allah dan menaati perintah-Nya, Allah akan membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya hari lepas hari. —DCM
Terima kasih, Tuhan, untuk Alkitab, firman-Mu bagi kami.
Berilah kami hikmat dan bimbingan ketika kami membacanya
lembar demi lembar. Buatlah kami peka terhadap suara-Mu
dan berilah kami hati yang mau taat.
Alkitab adalah cermin yang memungkinkan kita melihat diri sendiri sebagaimana Allah melihat kita.

Tuesday, February 17, 2015

Membangun Jembatan

Di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. —1 Tesalonika 1:8
Membangun Jembatan
Buku karya James Michener yang berjudul Centennial (Seabad) berisi sebuah kisah fiksi tentang sejarah pada masa pendudukan wilayah barat Amerika. Berkisah melalui pandangan mata seorang pedagang berdarah Perancis-Kanada yang bernama Pasquinel, Michener menyatukan kisah-kisah tentang Arapaho dari Great Plains (Dataran Besar) dan komunitas para pendatang dari Eropa di St. Louis. Ketika si petualang yang bertabiat keras itu berpindah-pindah di antara kota yang semakin padat penduduk dengan area-area yang terbuka di dataran sekitarnya, dirinya kemudian menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan dua dunia yang sangat jauh berbeda.
Para pengikut Kristus juga memiliki kesempatan untuk membangun jembatan antara dua dunia yang sangat jauh berbeda—antara orang-orang yang mengenal dan mengikut Yesus dengan mereka yang tidak mengenal-Nya. Jemaat Kristen mula-mula di Tesalonika telah membangun jembatan untuk menjangkau dunia mereka yang masih menyembah berhala. Oleh karena itu, Paulus mengatakan tentang mereka, “Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat” (1Tes. 1:8). Jembatan yang mereka bangun memiliki dua komponen: “firman Tuhan” dan teladan iman mereka. Setiap orang dapat melihat dengan jelas bahwa mereka telah “berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (ay.9).
Ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang di sekitar kita melalui firman-Nya dan melalui hidup kita, kita dapat menjadi jembatan bagi mereka yang belum mengenal kasih Kristus. —WEC
Ya Bapa, tolong kami untuk menjalani hidup sedemikian rupa agar
orang lain ingin mengenal Putra-Mu. Kiranya kami tidak hanya
mencoba untuk melakukan apa yang “benar” melainkan untuk
hidup sebagai umat yang telah diampuni dan dikasihi oleh-Mu.
Hidupilah Injil, maka orang lain akan mendengarkanmu.

Monday, February 16, 2015

Menjinakkan yang Tak Terjinakkan

Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah. —Yakobus 3:8
Menjinakkan yang Tak Terjinakkan
Manusia telah belajar untuk menjinakkan beragam jenis hewan liar, mulai dari babi Vietnam berperut besar hingga rubah Siberia. Ada yang suka mengajar monyet untuk “bergaya” dalam iklan atau melatih rusa untuk makan dari tangan mereka. Ini seperti yang dikatakan Rasul Yakobus, “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia” (3:7).
Namun ada satu hal yang tidak dapat kita jinakkan. Setiap dari kita mengalami kesulitan untuk mengendalikan sebuah benda kecil yang disebut lidah. “Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah,” demikian disampaikan Yakobus kepada kita (ay.8).
Mengapa demikian? Karena walaupun perkataan kita mungkin berada di ujung lidah kita, tetapi semua itu dihasilkan dari dalam batin kita. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat. 12:34). Dengan demikian, lidah bisa digunakan untuk maksud yang baik maupun yang jahat (Yak. 3:9). Atau seperti yang dikatakan seorang pakar Alkitab bernama Peter Davids, “Di satu sisi, [lidah] bisa menjadi sangat religius, tetapi di sisi lain, bisa sangat menajiskan.”
Jika kita tidak dapat menjinakkan lidah kita yang sulit dijinakkan, apakah itu berarti lidah kita harus membawa masalah bagi kita setiap hari karena cenderung mengatakan hal-hal yang jahat? (ay.10). Tentu tidak, berkat pertolongan Allah. Kita tidak dibiarkan untuk mengendalikannya dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan akan mengawasi mulut kita; Dia akan berjaga “pada pintu bibirku” (Mzm. 141:3). Allah sanggup menjinakkan yang tak terjinakkan. —JDB
Ya Tuhan, mulutku terkadang mengucapkan kata-kata
yang tidak menghormati-Mu. Terima kasih karena oleh Roh-Mu,
lidahku yang tidak terjinakkan bisa dikendalikan
di bawah kuasa ilahi. Berjagalah pada pintu bibirku hari ini.
Untuk menguasai lidahmu, izinkan Kristus berkuasa di dalam hatimu.

Sunday, February 15, 2015

Bawalah Anak Itu Kepada-Ku

Kata Yesus kepada mereka: “. . . . Bawalah anak itu ke mari!” —Markus 9:19
Bawalah Anak Itu Kepada-Ku
Aku tak percaya kepada Allah dan aku tak mau pergi,” teriak Mark.
Amy bergumul untuk menenangkan perasaannya. Anak laki-lakinya itu telah berubah dari seorang anak yang riang menjadi seorang pemuda yang pemarah dan pembangkang. Kehidupan mereka terasa bagai medan pertempuran, dan hari Minggu menjadi hari yang menegangkan karena Mark menolak pergi ke gereja bersama keluarganya. Akhirnya, orangtua yang putus asa itu berkonsultasi dengan seorang konselor yang mengatakan: “Mark harus menempuh perjalanan imannya sendiri. Anda tak bisa memaksanya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Berilah Allah kesempatan untuk berkarya. Teruslah berdoa, dan sabar menunggu.”
Amy pun menunggu dan berdoa. Suatu pagi ia teringat pada perkataan Yesus yang pernah dibacanya. Murid-murid Yesus telah gagal menolong seorang anak yang kerasukan setan, tetapi Yesus memiliki jawabannya: “Bawalah anak itu ke mari” (Mrk. 9:19). Matahari bersinar menembus jendela yang ada di samping Amy, sambil memantulkan cahayanya ke lantai. Jika Yesus dapat menyembuhkan seorang anak dalam situasi gawat seperti itu, pasti Dia juga dapat menolong anaknya. Amy membayangkan dirinya dan Mark berdiri dalam cahaya itu bersama Yesus. Lalu ia membayangkan dirinya melangkah mundur, menyerahkan Mark kepada Pribadi yang tentu mengasihi anaknya lebih dari kasih yang dapat diberikannya.
Setiap hari, di dalam hatinya, Amy menyerahkan Mark kepada Allah, dengan bersandar pada keyakinan bahwa Allah mengetahui betul kebutuhan Mark, dan bahwa pada waktu dan cara-Nya sendiri, Dia akan berkarya di dalam hidup Mark. —MS
Bapa, aku membawa orang yang kukasihi kepada-Mu karena aku
tahu bahwa Engkau mengasihinya melebihi kasihku kepadanya.
Engkau memahami apa yang harus dilakukan untuk memenuhi
kebutuhannya. Kuserahkan dirinya dalam pemeliharaan-Mu.
Doa adalah ungkapan iman yang percaya bahwa Allah tahu segalanya dan peduli.

Saturday, February 14, 2015

Tentang Kasih

KomikStrip-WarungSateKamu-20150214-Mengasihi-Allah
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. —Ulangan 6:5
Tentang Kasih
Ketika akal budi dan emosi berbenturan, hati sering memberi jawaban yang lebih tepat,” demikian dikatakan para penulis dari A General Theory of Love (Suatu Pandangan Umum tentang Kasih). Konon pada masa lalu, orang meyakini bahwa akal budilah yang seharusnya mengendalikan hati. Namun kini, ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa sesungguhnya kebalikannyalah yang benar. “Keberadaan diri kita saat ini dan kelak di masa yang akan datang, sebagian tergantung kepada siapa yang kita kasihi.”
Mereka yang mengenal Kitab Suci akan menyadari bahwa hal itu bukanlah penemuan baru, melainkan suatu kebenaran yang telah lama ada. Perintah terpenting yang diberikan Allah kepada umat-Nya menempatkan hati di tempat yang utama. “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Kita melihat bahwa baru pada Injil Markus dan Lukas, Yesus menambahkan akal budi (Mrk. 12:30; Luk. 10:27). Jadi, penemuan para ilmuwan tersebut sebenarnya telah diajarkan Alkitab sejak dahulu.
Pengikut Kristus seperti kita juga mengetahui tentang arti penting dari mereka yang kita kasihi. Pada saat kita menaati perintah yang utama dan menjadikan Allah sebagai objek yang kita kasihi, kita dapat merasa yakin bahwa kita memiliki tujuan hidup yang jauh melampaui apa pun yang pernah kita bayangkan atau yang bisa dicapai oleh kekuatan kita sendiri. Ketika kerinduan kita akan Allah menguasai hati kita, maka akal budi kita akan tetap berfokus dalam memikirkan cara-cara untuk melayani Dia, dan pekerjaan kita akan semakin memperluas kerajaan-Nya di bumi seperti di surga. —JAL
Tuhan, kami rindu untuk menjadikan Engkau sebagai kerinduan
terbesar kami. Sebagaimana Engkau mengajar murid-murid-Mu
untuk berdoa, demikian juga kami memohon kepada-Mu untuk
mengajar kami cara mengasihi. Bimbinglah kami hari ini.
Alangkah rugi apabila kamu tidak menggunakan hari demi hari untuk mengasihi Allah. —Brother Lawrence

Friday, February 13, 2015

Firman Itu Berdiam Di Antara Kita

Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku. —Mazmur 119:24
Firman Itu Berdiam Di Antara Kita
Firman Allah kita terima melalui beraneka ragam cara. Melalui khotbah yang berpusat pada Alkitab, pembacaan Kitab Suci, kidung pujian, kelompok pemahaman Alkitab, dan artikel-artikel renungan, kita menerima kebenaran-kebenaran Allah dari Kitab Suci. Namun demikian, kita tidak dapat mengabaikan pentingnya pembacaan dan pemahaman Alkitab yang kita lakukan sendiri.
Baru-baru ini, hati saya tersentuh lewat perenungan pribadi terhadap kitab Ulangan, yang saya kupas paragraf demi paragraf dengan teliti, dan yang saya pelajari bersamaan dengan Khotbah di Bukit dalam Matius 5-7. Kedua bagian Alkitab tersebut sama-sama mencakup aturan-aturan iman: Sepuluh Perintah Allah (Ul. 5:6-21) dan Ucapan Bahagia (Mat. 5:3-12). Yang tercantum dalam kitab Ulangan adalah perjanjian yang lama—hukum yang dikehendaki Allah untuk dipatuhi umat-Nya. Dalam Matius, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia telah datang untuk menggenapi hukum itu dan menegakkan prinsip-prinsip perjanjian baru yang membebaskan kita dari beban hukum yang memberatkan.
Roh Kudus datang seiring dengan firman Allah untuk mengajar, memampukan, mengarahkan, meyakinkan, dan menyucikan kita. Hasilnya adalah pemahaman, pertobatan, pembaruan, dan juga pertumbuhan dalam Yesus. Teolog Philip Jacob Spener menulis: “Semakin mantap firman Allah berdiam di antara kita, semakin kita akan menghasilkan iman beserta buah-buahnya.” Marilah kita berdoa bersama sang pemazmur: “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” agar kita dapat menghidupi firman itu dalam kehidupan kita (Mzm. 119:18). —DCE
“Bapa Surgawi, kami bersujud di hadapan-Mu. Biarlah firman-Mu
menjadi petunjuk dan panduan kami, Roh-Mu menjadi guru kami,
dan kemuliaan-Mu yang lebih lagi menjadi perhatian utama kami,
melalui Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.” —John R. W. Stott
Ketika firman Allah berdiam di dalam diri kita, firman itu akan terpancar keluar dari hidup kita.

Thursday, February 12, 2015

Hidup Yang Berlimpah Air

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, . . . yang daunnya tetap hijau. —Yeremia 17:8
Hidup Yang Berlimpah Air
Saya mempunyai seorang sahabat yang tinggal di sebuah peternakan yang terletak di suatu area terbuka dari negara bagian Montana. Adapun jalan menuju rumahnya adalah sebuah jalan setapak yang panjang dan berkelok-kelok melewati padang gurun yang kering dan tandus. Saat berkendara menuju ke rumahnya, Kamu dapat melihat perbedaan yang kontras antara pemandangan tadi dengan sederetan pepohonan dan tanaman hijau yang tumbuh serampangan di seputar peternakannya. Di tengah peternakan itu mengalir salah satu sungai yang terbaik di Amerika Utara untuk memancing ikan trout, dan tanaman apa pun yang tumbuh pada tepian sungai tersebut telah menerima manfaat dari sumber air yang tak pernah habis dan bernilai penting itu.
Itulah gambaran yang diberikan Nabi Yeremia ketika ia mengatakan bahwa orang yang menaruh harapannya pada Tuhan itu “seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air” (Yer. 17:8). Banyak orang yang mungkin memilih berada di bawah panas terik dan kekeringan mencekik dalam suatu hidup yang terpisah dari Allah, tetapi mereka yang percaya kepada Allah akan hidup segar dan berbuah. Bergantung kepada-Nya adalah seperti merambatkan akar kita ke dalam air kebaikan-Nya yang menyegarkan. Kita dikuatkan oleh keyakinan bahwa kasih setia-Nya bagi kita takkan pernah berakhir.
Pada akhirnya, Allah akan memulihkan segala sesuatu. Dengan mempercayai bahwa Allah akan mengubah kepedihan kita menjadi kebaikan dan juga memakai penderitaan untuk mendewasakan kita, kita akan dimampukan oleh-Nya untuk menghasilkan buah di tengah lahan yang kering dan tandus. —JMS
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkanku
sendiri di bawah panas teriknya kehidupan. Aku akan merambatkan
akar imanku kepada sungai janji-Mu yang tak pernah lalai
Kau tepati dan kasih setia-Mu yang tak berkesudahan!
Rambatkan akarmu kepada sungai kebaikan Allah.

Wednesday, February 11, 2015

Kembali Hidup

[Allah] . . . telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita. —Efesus 2:5
Kembali Hidup
Bisakah seseorang secara resmi dinyatakan hidup lagi setelah secara hukum dinyatakan sudah mati? Pertanyaan itu menjadi berita internasional ketika seorang pria asal Ohio muncul dalam kondisi sehat setelah dilaporkan hilang lebih dari 25 tahun yang lalu. Pada saat menghilang, pria itu dalam kondisi menganggur, kecanduan, dan telah melalaikan pemberian tunjangan kepada anaknya. Karena itulah, ia memutuskan untuk menyembunyikan diri. Namun pada saat muncul kembali, ia mendapati betapa sulitnya untuk kembali dari kematian. Ketika pria itu meminta pengadilan untuk mencabut keputusan pengadilan yang menyatakan bahwa ia telah meninggal secara hukum, hakim menolak permintaannya, dengan alasan bahwa perubahan status kematian hanya bisa dilakukan maksimal 3 tahun setelah orang itu diputuskan meninggal.
Permintaan yang janggal dalam pengadilan manusia itu ternyata menjadi pengalaman yang biasa bagi Allah. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus menyatakan bahwa meskipun kita mati secara rohani, Allah “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus” (Ef. 2:1,5). Namun untuk menyatakan dan menghidupkan kita secara rohani merupakan hal yang begitu menyakitkan bagi Allah. Dosa kita dan kematian rohani yang diakibatkannya menuntut penderitaan, kematian, dan kebangkitan Sang Anak Allah (ay.4-7).
Menunjukkan bukti bahwa kita hidup secara fisik memang mudah. Namun kita ditantang untuk menunjukkan bukti dari kehidupan rohani. Setelah dinyatakan hidup di dalam Kristus, kini kita dipanggil untuk hidup dalam rasa syukur atas rahmat dan kehidupan yang tak terhingga yang diberikan kepada kita. —MRD II
Bapa di surga, hati kami penuh ucapan syukur karena Engkau
menjangkau kami ketika kami mati oleh dosa-dosa kami. Kiranya
kami menjalani hidup dengan sukacita dan penghargaan atas apa
yang telah Engkau lakukan demi memberi kami kehidupan.
Yesus mati agar kita beroleh hidup.

Tuesday, February 10, 2015

Sang Tamu

Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. —Matius 25:36
Sang Tamu
Seorang teman bertanya kepada seorang pria yang baru saja pensiun tentang apa saja yang dilakukannya sekarang setelah ia tidak lagi bekerja sepenuh waktu. “Saya menganggap diri saya sebagai seorang tamu,” jawab pria tersebut. “Saya pergi mengunjungi jemaat di gereja kami dan di komunitas kami yang terbaring di rumah sakit atau panti jompo, yang tinggal sendiri atau yang butuh seseorang untuk diajak berbicara dan berdoa bersama mereka. Saya sangat menikmati semua itu!” Teman saya sangat terkesan oleh kejelasan tujuan hidup yang dimiliki pria tersebut dan kepeduliannya kepada orang lain.
Beberapa hari sebelum Yesus disalibkan, Dia menceritakan sebuah kisah kepada para pengikut-Nya yang menekankan tentang pentingnya mengunjungi orang-orang yang membutuhkan. “Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: . . . ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat. 25:34,36). Saat ditanya, “Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” Sang Raja akan menjawab mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay.39-40).
Pelayanan pelawatan yang kita lakukan memberi manfaat bagi dua pihak—orang yang dikunjungi dan Yesus sendiri. Sesungguhnya, kita sedang melayani Tuhan secara langsung ketika kita mengunjungi seseorang untuk memberikan bantuan dan penghiburan kepadanya.
Adakah yang akan terhibur oleh kunjunganmu hari ini? —DCM
Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk melihat sesamaku dengan mata-Mu.
Tunjukkanlah kepadaku cara untuk menunjukkan kasih-Mu pada
orang-orang di sekelilingku. Terima kasih untuk cinta kasih yang
Engkau berikan kepadaku sehingga dapat kuteruskan pada sesama.
Belas kasihan berarti memahami kesusahan sesama, ditambah kerinduan yang besar untuk membantu.

Monday, February 9, 2015

Gadis Berjaket Hujan Kuning

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. —Kejadian 2:24
Gadis Berjaket Hujan Kuning
Jaket hujan kuning yang dikenakannya menarik perhatian saya hari itu, dan kemudian saya menjadi semakin tertarik kepada mahasiswi baru berambut cokelat panjang yang manis itu. Tak lama setelah itu saya memberanikan diri untuk menyapa Sue ketika ia sedang berjalan kaki sambil membaca sepucuk surat dari seorang pria di kota asalnya, dan dengan canggung mengajaknya berkencan. Saya begitu terkejut saat ia menerima ajakan saya.
Lebih dari empat dekade kemudian, Sue dan saya mengenang kembali dengan gembira peristiwa yang canggung di kampus tersebut—dan mengagumi bagaimana Allah mempertemukan seorang pria pemalu asal Ohio dengan seorang gadis pemalu dari Michigan. Sepanjang tahun-tahun yang telah kami lalui, kami telah menghadapi banyak krisis dalam membangun keluarga kami bersama-sama. Kami berupaya sebaik mungkin mengasuh keempat anak kami, dan pernah bergumul berat ketika kehilangan salah seorang dari mereka. Masalah besar dan kecil telah menguji iman kami, tetapi kami terus bersama. Diperlukan komitmen dari kami berdua dan anugerah Allah. Hari ini, kami bersukacita dalam rancangan Allah, sebagaimana tertulis dalam Kejadian 2:24—untuk meninggalkan orangtua kami, dipersatukan sebagai suami dan istri, dan menjadi satu daging. Kami mensyukuri rancangan luar biasa yang telah memberi kami satu kehidupan bersama yang begitu indah ini.
Rancangan Allah untuk pernikahan memang indah. Oleh karena itu, kami berdoa kiranya para pasangan suami-istri merasakan betapa luar biasanya kehidupan pernikahan yang dinikmati di bawah naungan berkat dari tuntunan Allah yang penuh kasih. —JDB
Ya Tuhan, hal pertama yang Engkau tetapkan pada awal peradaban
manusia adalah pernikahan. Terima kasih Engkau telah merancang
lembaga yang menakjubkan ini. Tunjukkanlah apa yang dapat
kulakukan untuk menguatkan orang lain dalam pernikahan mereka.
Pernikahan bertumbuh subur dalam iklim yang saling mengasihi, menghormati, dan menghargai.

Sunday, February 8, 2015

Siapa Bosnya?

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. —Roma 6:14
Siapa Bosnya?
Ketika dua cucu kami sedang dalam penjagaan istri saya, keduanya mulai bertengkar memperebutkan sebuah mainan. Tiba-tiba, sang adik (yang lebih muda 3 tahun), dengan lantang memerintah kakaknya, “Cameron, pergi ke kamarmu!” Mendengarkan hardikan tersebut, dengan bahu terkulai dan sikap gontai, sang kakak mulai berjalan ke arah kamarnya. Namun kemudian, istri saya berkata, “Cameron, kamu tidak harus pergi ke kamarmu. Nathan bukan bosmu!” Menyadari hal itu, sikap Cameron pun berubah, dan dengan tersenyum, ia kembali duduk untuk bermain dengan adiknya.
Sebagai pengikut Kristus, hidup kita dapat saja dicengkeram oleh otoritas palsu berupa kenyataan dari keterpurukan dan kecenderungan diri kita untuk berdosa, sama seperti sikap adik terhadap kakaknya tadi. Dosa yang berkecamuk itu mengancam untuk mendominasi hati dan pikiran kita, sehingga sirnalah sukacita dari hubungan kita dengan Sang Juruselamat.
Namun melalui kematian dan kebangkitan Kristus, semua itu hanyalah ancaman kosong. Dosa tidak lagi mempunyai otoritas atas kita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Rm. 6:14).
Meski keterpurukan kita itu sangat nyata, kasih karunia Kristus memampukan kita untuk menjalani sebuah hidup yang menyenangkan Allah dan yang menunjukkan pada dunia kuasa-Nya yang sanggup mengubahkan jiwa. Dosa tidak lagi menjadi bos kita. Kita sekarang hidup dalam kasih karunia dan hadirat Yesus. Kuasa Kristus dalam hidup kita telah membebaskan kita dari belenggu dosa. —WEC
Terima kasih atas kasih karunia-Mu, Tuhan, yang telah menyucikan
batin kami. Kasih karunia-Mu lebih besar dari semua dosa kami.
Kami sadar kami tak dapat hidup tanpa kasih karunia-Mu.
Dan kami bersyukur tak perlu khawatir kehilangan kasih karunia-Mu.
Allah mencari kita yang gelisah, menerima kita yang berdosa, menjaga kita yang terpuruk. —Scotty Smith

Saturday, February 7, 2015

Perayaan Ulang Tahun

Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, . . . Engkau yang selalu kupuji-puji. —Mazmur 71:6
Perayaan Ulang Tahun
Dahulu saya suka merayakan ulang tahun. Saya masih ingat pada waktu berdiri dengan gembira di serambi depan untuk menunggu kedatangan teman-teman yang hendak merayakan ulang tahun saya yang ke-5. Saya tidak hanya bersemangat karena ada banyak balon, hadiah, dan kue ulang tahun. Saya begitu gembira karena saya tidak lagi berusia 4 tahun! Saya sedang bertumbuh.
Seiring dengan bertambahnya usia, terkadang ulang tahun lebih terasa mengecewakan ketimbang menyenangkan. Ulang tahun yang saya rayakan tahun lalu membuat saya merasa semakin tua saja. Istri saya, Martie, berusaha menyemangati saya dengan mengingatkan bahwa saya patut mengucap syukur untuk bertambahnya usia ini. Ia meminta saya untuk membaca Mazmur 71 di mana sang pemazmur berbicara tentang kehadiran Allah di sepanjang hidupnya. Pemazmur teringat bahwa Allah “telah mengeluarkan-[nya] dari perut ibu-[nya]” (71:6), dan ia menyatakan dengan penuh rasa terima kasih, “Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib” (ay.17). Dan kini, saat sang pemazmur bertambah tua, dengan mantap ia dapat memberitakan “kuasa [Allah] kepada angkatan ini, keperkasaan [Allah] kepada semua orang yang akan datang” (ay.18). Allah telah memberkati sang pemazmur dengan kehadiran-Nya sepanjang tahun demi tahun kehidupannya.
Sekarang ini, peristiwa ulang tahun mengingatkan saya akan kesetiaan Allah. Ulang tahun juga membawa saya semakin dekat dengan waktu dimana saya akan bertemu dengan Pribadi yang selama ini telah menyertai saya di sepanjang hidup ini! —JMS
Tuhan, ingatkan aku selalu bahwa bertambahnya usia berarti
aku harus bertumbuh semakin dekat kepada-Mu! Jagalah hatiku
agar senantiasa dipenuhi ucapan syukur atas banyaknya berkat-Mu,
dan arahkanlah pikiranku tetap memandang pada sukacita surgawi.
Hitunglah banyaknya berkat yang kamu terima setiap kali kamu berulang tahun!

Friday, February 6, 2015

Berkat Terselubung

KomikStrip-WarungSateKamu-20150206-Blessings-in-Disguise
Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau. —Mazmur 31:20
Berkat Terselubung
Selama beberapa minggu setelah suami saya pulih dari serangan jantung yang menimpanya, kami sering mengucap syukur kepada Allah karena telah menyelamatkan nyawanya. Hingga berbulan-bulan setelah peristiwa itu, banyak orang yang menanyakan tentang keadaan saya. Jawaban saya sering kali hanya singkat: “Diberkati. Aku merasa diberkati.”
Memang berkat datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kita bahkan tidak selalu menyadari sesuatu sebagai berkat. Bahkan ketika melakukan segala sesuatu yang kita anggap sebagai kehendak Allah atas hidup kita, bisa saja kita masih mengalami penderitaan. Terkadang kita dibuat heran ketika Allah tidak menjawab doa sesuai dengan keinginan kita atau ketika Dia tidak langsung memberikan apa yang kita minta.
Kita melihat hal tersebut dalam kehidupan Yusuf. Dari sudut pandang manusia, kita bakal menyimpulkan bahwa Allah telah melupakan Yusuf sama sekali. Selama lebih dari 10 tahun, Yusuf mengalami beragam penderitaan. Ia dilemparkan ke dalam sebuah sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjarakan secara tidak adil. Namun akhirnya, kesetiaan Allah kepada Yusuf menjadi nyata bagi semua orang ketika Yusuf diangkat sebagai penguasa atas Mesir dan ia menyelamatkan banyak orang dari bencana kelaparan (Kej. 37-46). C. S. Lewis menulis: “Saat kita kehilangan satu berkat, sering kali ada berkat lain yang tanpa disangka-sangka diberikan untuk menggantikannya.”
Tangan Allah senantiasa memberkati Yusuf, sama seperti Dia juga memberkati semua orang yang percaya kepada-Nya. “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu” (Mzm. 31:20). —CHK
Tuhan, Engkau mengasihi kami dengan kasih yang luar biasa,
tetapi sangat sering kami tidak mempercayai-Mu saat krisis melanda.
Tolonglah kami untuk belajar dan menghargai bahwa Engkau
menyediakan segala kebutuhan kami—dan bahkan lebih banyak lagi.
Kebahagiaan sejati adalah ketika mengetahui bahwa Allah itu baik.

Thursday, February 5, 2015

Kebiasaan Dari Pikiran Yang Sehat

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik. —Mazmur 37:3
Kebiasaan Dari Pikiran Yang Sehat
Menurut banyak ahli, membangun kebiasaan untuk bersikap optimis dapat meningkatkan kesehatan kita, baik dalam menghadapi hasil diagnosa medis yang berat atau setumpuk baju kotor yang harus dicuci. Barbara Fredrickson, Ph.D., seorang profesor psikologi dari University of North Carolina, mengatakan bahwa kita harus melatih diri melakukan aktivitas yang mengembangkan perasaan sukacita, syukur, kasih, dan perasaan positif lainnya. Namun demikian, kita mengetahui bahwa kita membutuhkan lebih dari sekadar membangun perasaan yang positif. Kita membutuhkan keyakinan yang kuat akan adanya suatu sumber sukacita, damai sejahtera, dan cinta kasih yang dapat kita andalkan.
Mazmur 37:1-8 menjabarkan tindakan-tindakan positif yang dapat kita ambil untuk menangkal sikap pesimis dan keputusasaan. Cobalah menyemangati dirimu dengan melakukan hal-hal berikut ini: Percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik, berdiam di negeri dan berlaku setia (ay.3); bergembira karena Tuhan (ay.4); menyerahkan hidupmu kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya (ay.5); berdiam diri di hadapan Tuhan, menantikan Dia, tidak berkeluh kesah karena gelisah (ay.7); berhenti marah dan meninggalkan panas hati (ay.8).
Karena tindakan-tindakan di atas terkait dengan frasa “kepada dan karena Tuhan,” semua arahan tersebut bukan hanya angan-angan atau saran yang mustahil untuk dilakukan. Hanya karena Yesus dan oleh kekuatan-Nya, semua itu mungkin untuk kita lakukan.
Satu-satunya sumber sejati bagi optimisme kita adalah karya penebusan yang dikerjakan oleh Yesus. Dialah alasan kita untuk terus berharap! —DCM
Tuhan, kami tak dapat merekayasa pengharapan, dan sekalipun
kami mencoba, hal itu akan terasa dibuat-buat. Tolonglah kami
menemukan pengharapan di dalam Engkau karena apa yang telah
Yesus perbuat untuk kami. Kami tahu Engkau selalu menyertai kami.
Saat kabar buruk datang, kita dapat berharap pada kabar baik dari Yesus.

Wednesday, February 4, 2015

Yang Tak Bisa Dibeli Dengan Uang

Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. —Efesus 1:7
Yang Tak Bisa Dibeli Dengan Uang
Masih ada hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang—tetapi tidak banyak lagi di masa sekarang,” tutur Michael Sandel, penulis buku What Money Can’t Buy (Yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang). Seseorang bisa membayar $90 (sekitar 990 ribu rupiah) untuk mendapatkan sel penjara yang lebih baik, membayar $250.000 (sekitar 2,75 milyar rupiah) untuk memperoleh izin memburu badak hitam yang langka, dan membayar $1.500 (sekitar 16 juta rupiah) untuk mengetahui nomor ponsel dokter pribadi Anda. Sepertinya sekarang hampir semua hal bisa dibeli dengan uang.
Namun satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang adalah penebusan—kemerdekaan dari perbudakan dosa. Ketika Rasul Paulus mulai menulis tentang betapa agungnya rencana keselamatan Allah melalui Yesus, hatinya meluap dengan puji-pujian: “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian” (Ef. 1:7-8).
Kematian Yesus di kayu salib merupakan harga tertinggi yang bisa dibayarkan untuk menyelamatkan kita dari dosa. Dan hanya Yesus yang dapat membayar harga tersebut karena Dia adalah Anak Allah yang sempurna. Terhadap anugerah mahal yang diberikan secara cuma-cuma itu, patutlah kita menanggapinya dengan memberikan puji-pujian yang meluap spontan dari hati kita dan tekad untuk mengikut Allah yang sudah menebus kita melalui Yesus (1:13-14).
Terpujilah Allah kita yang penuh kasih—Dia telah datang untuk memerdekakan kita! —MLW
Alangkah ajaibnya kasih-Mu bagi kami, ya Bapa Surgawi!
Karena Engkau telah mengaruniakan Anak-Mu yang rela mati
untuk menggantikan kami. Rasanya hampir sulit untuk dipercaya.
Terima kasih!
Hanya kematian Yesus yang dapat membeli kemerdekaan kita.

Tuesday, February 3, 2015

Peribahasa Tiongkok

Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. —1 Korintus 15:58
Peribahasa Tiongkok
Peribahasa Tiongkok pada umumnya sering mempunyai latar belakang kisah yang menarik. Peribahasa yang berbunyi “menarik tanaman untuk membantunya bertumbuh” mengisahkan tentang seseorang yang tidak sabar pada masa Dinasti Song. Ia ingin segera melihat tanaman padinya bertumbuh dengan cepat. Maka terpikir olehnya sebuah solusi. Ia akan menarik tiap batang tanamannya beberapa centimeter saja. Setelah bersusah payah seharian penuh, ia pun memandangi sawahnya. Ia merasa senang karena tanaman padinya kelihatannya telah “tumbuh” lebih tinggi. Namun sukacitanya tak berlangsung lama. Keesokan harinya, tanaman padi di sawahnya tersebut telah menjadi layu karena tidak lagi berakar dengan dalam.
Dalam 2 Timotius 2:6, Rasul Paulus menyamakan pelayanan seorang pemberita Injil dengan pekerjaan seorang petani. Dalam suratnya untuk menguatkan Timotius itu, ia menulis, bahwa seperti proses bertani, pemuridan merupakan tugas yang membutuhkan kerja keras dan ketekunan. Kita membajak, kita menabur, kita menunggu, kita berdoa. Kita memang ingin melihat buah pelayanan kita sesegera mungkin, tetapi pertumbuhan butuh waktu. Seperti peribahasa tadi, setiap upaya yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan itu tidak akan bermanfaat. Penafsir Alkitab William Hendriksen mengatakan: “Bila Timotius . . . mengerahkan seluruh usahanya untuk melakukan pelayanan yang Allah tugaskan, ia . . . akan melihat dalam hidup orang lain . . . benih-benih dari buah roh yang indah, yang disebutkan dalam Galatia 5:22-23.”
Sembari melayani dengan setia, marilah kita sabar menantikan Tuhan yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:7). —PFC
Ya Tuhan sumber tuaian, tolonglah kami untuk melayani dengan setia
sembari dengan sabar kami menanti Engkau menumbuhkan buahnya.
Kobarkanlah semangat saat kami kecewa dan kuatkanlah saat kami
lemah. Tolong kami untuk bertahan, karena Engkau setia.
Kita menabur benih—Allah yang menghasilkan tuaian.

Monday, February 2, 2015

Demi Kesehatan Kita

Bersyukurlah kepada TUHAN. —1 Tawarikh 16:8
Demi Kesehatan Kita
Menurut seorang peneliti terkemuka dari Duke University Medical Center, “Seandainya sikap mengucap syukur adalah obat, hal itu akan menjadi produk terlaris di dunia dengan [manfaat kesehatan] bagi setiap sistem kerja organ tubuh yang utama.”
Bagi sebagian orang, mengucap syukur berarti menjalani hidup dengan rasa terima kasih—mengambil waktu untuk menyadari dan memperhatikan hal-hal yang telah kita miliki saat ini daripada untuk membayangkan hal-hal yang tidak kita miliki. Alkitab memperdalam makna dari sikap mengucap syukur itu. Tindakan mengucap syukur akan mendorong kita untuk mengenali Pribadi yang telah menyediakan segala berkat dalam hidup kita (Yak. 1:17).
Daud mengetahui bahwa Allah sendiri yang telah berperan dalam pengangkutan tabut perjanjian hingga tiba dengan selamat di Yerusalem (1Taw. 15:26). Oleh karena itu, ia menggubah sebuah kidung ucapan syukur yang berfokus kepada Allah, lebih daripada sekadar sebagai ungkapan sukacitanya atas peristiwa penting itu. Kidung itu dimulai dengan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1Taw. 16:8). Selanjutnya, Daud menyanyikan rasa sukacitanya atas kebesaran Allah, dengan menyoroti keselamatan dari Allah, kuasa penciptaan-Nya, dan kasih setia-Nya (ay.25-36).
Hari ini, kita dapat sungguh-sungguh bersyukur dengan cara mengagungkan Sang Pemberi, dan bukan meninggikan pemberian yang kita nikmati dari-Nya. Berfokus pada hal-hal yang baik dalam hidup kita mungkin akan bermanfaat bagi tubuh kita, tetapi mengarahkan syukur kita kepada Allah akan bermanfaat bagi jiwa kita. —JBS
Mengucap syukur adalah respons alami kita atas anugerah Allah.
Sikap yang tidak tahu berterima kasih datang dari orang yang tak
punya hati. Mengucap syukur bukan hanya merupakan kebajikan
terbesar, tetapi juga sumber dari semua kebajikan yang lain. —Cicero
Ucapan syukur yang sejati berpusat pada Sang Pemberi, bukan pada pemberian-Nya.

Sunday, February 1, 2015

Dipersatukan

Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. —Efesus 2:10
Dipersatukan
Janet, istri saya, memberikan hadiah gitar baru tipe Dreadnought D-35 untuk ulang tahun saya yang ke-65. Gitar Dreadnought yang diproduksi pertama kalinya pada awal abad ke-20 itu berukuran lebih besar daripada gitar-gitar yang umumnya diproduksi pada masa itu. Gitar Dreadnought juga terkenal karena bunyi dentingnya yang mantap dan keras. Nama gitar tersebut diambil dari nama kapal perang utama milik Kerajaan Inggris pada Perang Dunia I, yaitu HMS Dreadnought. Ada yang unik pada sisi belakang gitar D-35 itu. Karena langkanya kayu rosewood berkualitas tinggi yang berukuran lebar, para pengrajin secara inovatif menggabungkan tiga potongan kecil kayu menjadi satu, sehingga dihasilkan suatu bunyi yang terdengar lebih kaya.
Karya ciptaan Allah ternyata banyak memiliki kesamaan dengan rancangan gitar yang inovatif itu. Yesus mengambil beragam potongan kecil dan mempersatukan semua itu dengan maksud untuk memuliakan-Nya. Yesus merekrut para pemungut cukai, pejuang Yahudi garis keras, nelayan, dan yang lain untuk menjadi pengikut-Nya. Bahkan, dari abad ke abad, Kristus terus memanggil orang-orang dari beragam latar belakang kehidupan. Rasul Paulus mengatakan, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh,—yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef. 4:16).
Di tangan Sang Ahli, banyak orang dipersatukan dan dibentuk menjadi karya-Nya yang pasti akan membawa kemuliaan kepada Allah dan berguna dalam pelayanan bagi sesama. —HDF
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menempatkan kami
dalam keluarga-Mu—bahwa Engkau memakai kami
masing-masing dan bersama-sama untuk memuliakan-Mu.
Tolonglah kami untuk hidup dalam kuasa-Mu.
Kita dapat mencapai lebih banyak dengan bergotong-royong daripada melakukannya sendiri.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate