Pages - Menu

Friday, October 31, 2014

Makna Kasih

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8
Makna Kasih
Bertahun-tahun lalu saya pernah bertanya kepada seorang pria muda yang sudah bertunangan, “Bagaimana engkau tahu bahwa kau mencintainya?” Pertanyaan tersebut begitu sarat makna, dan dimaksudkan untuk membantu pria itu menyadari maksud hatinya dalam melangkah menuju ke jenjang pernikahan. Setelah memikirkannya sejenak, ia pun menjawab, “Aku tahu aku mencintainya, karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk membuatnya bahagia.”
Kami lalu membahas makna dari jawabannya itu, serta harga penyangkalan diri yang harus dibayar ketika seseorang senantiasa rindu mengusahakan yang terbaik bagi orang lain dan mengesampingkan kepentingan dirinya. Kasih sejati memang berkaitan erat dengan kerelaan berkorban.
Pandangan tersebut selaras dengan pelajaran yang terkandung dalam Alkitab. Dalam Kitab Suci kita mendapati sejumlah kata dalam bahasa Yunani untuk kasih, tetapi bentuk tertingginya adalah kasih agape—kasih yang didasari dan didorong oleh sikap rela berkorban. Kasih itu tampak paling nyata dalam kasih yang telah ditunjukkan oleh Bapa kita di surga dalam diri Kristus. Kita semua sungguh berharga di mata-Nya. Paulus menyatakan, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8).
Bila pengorbanan menjadi ukuran sejati dari kasih, maka tidak ada pemberian yang lebih berharga daripada Yesus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16). —WEC
Akulah pangkal siksa-Nya,
Yang menyebabkan mati-Nya.
Agung benar, ya Tuhanku:
Engkau tersiksa gantiku!. —Wesley
(Kidung Jemaat, No. 31)
Kasih diukur dari apa yang rela kamu lepaskan demi mendapatkan kasih itu.

Thursday, October 30, 2014

Musik Dan Pengeras Suara

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Musik Dan Pengeras Suara
Christopher Locke membeli sejumlah trompet, trombon, dan trompet tanduk kuno, lalu mengubah semua itu menjadi pengeras suara akustik untuk perangkat iPhone dan iPad. Kreasinya itu didasarkan pada pengeras suara berbentuk trompet yang digunakan pada alat pemutar piringan hitam di akhir abad ke-19. Musik yang dimainkan melalui karya Christopher yang dinamai AnalogTelePhonographers itu memiliki “suara yang lebih keras, jernih, kaya, dan dalam” jika dibandingkan suara yang dihasilkan oleh pengeras-pengeras suara mungil di dalam perangkat digital. Selain menjadi karya seni yang menarik, alat-alat musik bekas berbahan perunggu itu tidak memerlukan daya listrik untuk memperkeras suara musik agar dapat didengar orang.
Perkataan Paulus kepada jemaat di Korintus mengingatkan kita bahwa dalam penyerahan hidup kita bagi Kristus dan upaya kita memberitakan nama-Nya kepada sesama, kita tidaklah menjadi musiknya dan hanya menjadi pengeras suara. “Bukan diri kami yang kami beritakan,” tulis Paulus, “tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor. 4:5). Kita tidak bermaksud menjadi inti pesannya, melainkan untuk menyampaikan pesan itu lewat hidup dan perkataan kita. “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (ay.7).
Jika sebuah trompet tua saja dapat memperkeras suara musik, maka hidup kita yang jauh dari sempurna ini pun dapat juga menjadi alat untuk menyebarluaskan kebaikan Allah. Kita hanyalah alat pengeras suara; musik dan dayanya berasal dari Allah! —DCM
Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau dapat menggunakan
hidup kami dengan cara-cara yang tak pernah terpikirkan
oleh kami sebelumnya. Tolong kami, agar hidup ini menjadi alat
di tangan-Mu untuk mengumandangkan kebaikan kasih-Mu.
Tidak ada yang tak berguna di tangan Allah.

Wednesday, October 29, 2014

Dibayangi

KomikStrip-WarungSateKamu-20141029-Bayangan
TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? —Mazmur 27:1
Dibayangi
Rasanya ada seseorang yang membayang-bayangi saya. Saat berjalan menyusuri sebuah lorong yang gelap, saya berbelok dan menaiki sebuah tangga. Tiba-tiba saya merinding dan terpaku ketika saya melihat sebuah bayangan yang menakutkan. Kejadian itu terulang lagi beberapa hari kemudian. Saya sedang melewati jalan di belakang kedai kopi langganan saya dan melihat bayangan besar berwujud manusia sedang mendekati saya. Namun demikian, kedua kejadian tersebut berakhir dengan senyuman. Ternyata saya telah ditakut-takuti oleh bayangan saya sendiri!
Nabi Yeremia berbicara tentang perbedaan antara kengerian yang nyata dengan ketakutan yang sekadar imajinasi belaka. Sekelompok orang sebangsanya meminta Yeremia untuk mencari tahu apakah Tuhan menghendaki mereka tinggal di Yerusalem atau kembali ke Mesir untuk menyelamatkan diri karena ketakutan mereka pada raja Babel (Yer. 42:1-3). Yeremia mengatakan kepada mereka, apabila mereka tetap tinggal dan mempercayai Allah, mereka tidak perlu merasa takut (ay.10-12). Namun jika mereka kembali ke Mesir, raja Babel akan menemukan mereka (ay.15-16).
Di tengah keadaan yang jelas-jelas berbahaya, Allah telah memberi Israel alasan untuk mempercayai-Nya di Yerusalem. Dia sudah pernah menyelamatkan mereka dari Mesir. Berabad-abad kemudian, Sang Mesias yang telah lama dinantikan mati bagi kita demi membebaskan kita dari dosa dan kengerian maut. Kiranya Allah kita yang Mahakuasa menolong kita pada hari ini untuk hidup di bawah sayap perlindungan-Nya, agar kita tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang kengerian yang kita ciptakan sendiri. —MRD II
Percaya saat langitmu berubah kelam,
Percaya saat pelitamu mulai pudar,
Percaya saat bayangan gelap membesar,
Percaya dan berharaplah pada-Nya. —NN.
Di bawah sayap perlindungan Allah, kengerian bayang-bayang gelap dalam hidup akan dienyahkan.

Tuesday, October 28, 2014

Menjaring Angin

Apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? —Pengkhotbah 5:15
Menjaring Angin
Howard Levitt kehilangan mobil Ferrari senilai 2,4 milyar rupiah miliknya di suatu ruas jalan raya yang sedang kebanjiran di Toronto, Kanada. Saat itu ia sedang berusaha mengemudikan mobilnya untuk melintasi sebuah genangan air yang ternyata cukup dalam dan yang ketinggiannya naik dengan sangat cepat. Ketika air sudah mencapai bumper mobil, mesin berkekuatan 450 tenaga kuda itu pun mogok. Untunglah, ia berhasil keluar dari mobil dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Mobil sport mewah milik Howard yang basah kuyup itu mengingatkan saya pada pernyataan Salomo yang mengamati bahwa “kekayaan itu binasa oleh kemalangan” (Pkh. 5:13). Berbagai bencana alam, pencurian, dan kecelakaan dapat merenggut harta milik kita yang sangat berharga. Sekalipun kita dapat menjaganya, pastilah kita tidak dapat membawa semua itu ke surga (ay.14). Salomo bertanya, “Apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin?” (ay.15). Alangkah sia-sianya apabila kita bekerja semata-mata untuk memperoleh harta benda yang pada akhirnya akan lenyap.
Namun ada sesuatu yang tidak akan rusak dan yang dapat kita bawa hingga keabadian. Kita semua diberikan kesempatan untuk mengumpulkan harta surgawi yang abadi. Mengejar sifat-sifat mulia seperti kemurahan (Mat. 19:21), kerendahan hati (5:3), dan ketekunan iman (Luk. 6:22-23) akan membuahkan hasil abadi yang tidak dapat dirusakkan. Apakah harta yang kamu kejar sekarang akan musnah di bumi? Ataukah kamu sedang mengejar “perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah”? (Kol. 3:1). —JBS
Ya Allahku, berilah aku kerinduan untuk mengejar upah kekal
dan tidak kasat mata yang Engkau tawarkan.
Ajarlah aku untuk mengabaikan kesenangan sementara
yang ditawarkan oleh dunia ini.
Harta di dunia sama sekali tidak sebanding dengan harta di surga.

Monday, October 27, 2014

Anggota Baru Keluarga

Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. —Lukas 15:7
Anggota Baru Keluarga
Dalam pelayanan misi ke Jamaika bersama sekelompok paduan suara dari sebuah sekolah menengah Kristen, kami menyaksikan suatu tindakan nyata yang melukiskan kasih Allah. Hari itu kami mengunjungi sebuah panti asuhan bagi anak-anak dan remaja difabel (berkebutuhan khusus). Kami mendapat kabar bahwa Donald, salah satu anak panti yang berinteraksi dengan kami, akan segera diadopsi. Donald adalah seorang remaja penderita cerebral palsy (cacat otak di bagian motorik).
Saat pasangan yang hendak mengadopsi Donald tiba di tempat kami tinggal, saya sangat menikmati percakapan dengan mereka tentang Donald. Namun apa yang terjadi kemudian jauh lebih menggembirakan. Kami sedang berada di penginapan saat Donald dan orangtua barunya datang berkunjung, tidak lama setelah mereka menjemput Donald di panti asuhan. Ketika sang ibu memeluk Donald, murid-murid kami berdiri mengelilinginya dan menyanyikan puji-pujian. Air mata sukacita mengalir. Dan Donald pun berseri-seri!
Kemudian, salah seorang murid berkata kepada saya, “Kejadian tadi mengingatkan saya pada apa yang pasti terjadi di surga saat seseorang diselamatkan. Para malaikat bersukacita karena seseorang telah diadopsi ke dalam keluarga Allah.” Benar sekali, seperti itulah gambaran sukacita di surga ketika seseorang bergabung menjadi anggota keluarga Allah yang abadi oleh iman dalam Kristus. Yesus berbicara mengenai peristiwa agung itu ketika Dia berkata, “Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk. 15:7).
Terpujilah Allah karena Dia telah mengadopsi kita ke dalam keluarga-Nya. Tidak heran para malaikat sangat bersukacita! —JDB
Dia yang menciptakan langit,
Yang mati di Kalvari,
Bersuka bersama para malaikat
Ketika satu jiwa selamat. —Fasick
Malaikat bersukacita saat kita bertobat.

Sunday, October 26, 2014

Semuanya Bersama

Bersorak-sorailah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Pujilah TUHAN dengan nyanyian dan sorak gembira. —Mazmur 98:4 (BIS)
Semuanya Bersama
Selama bertahun-tahun piano milik istri saya dan gitar banyo milik saya sudah jarang bahkan nyaris tidak pernah dimainkan bersama. Suatu hari, setelah Janet membelikan saya sebuah gitar baru sebagai hadiah ulang tahun, ia menyatakan keinginannya untuk belajar memainkan gitar lama saya. Janet adalah seorang musisi yang sangat piawai, dan dengan segera kami memainkan lagu-lagu pujian dengan kedua gitar kami bersama-sama. Saya langsung merasakan adanya suatu suasana baru berupa “perpaduan pujian” yang telah memenuhi rumah kami.
Ketika sang pemazmur diilhami untuk menuliskan pujian penyembahannya kepada Allah, ia mengawalinya dengan seruan: “Bersorak-sorailah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Pujilah TUHAN dengan nyanyian dan sorak gembira” (Mzm. 98:4 BIS). Pemazmur mengajak kita untuk menyanyikan “pujian bagi TUHAN” dengan beragam alat musik seperti kecapi, trompet, dan sangkakala (ay.5-6 BIS). Ia memerintahkan seluruh bumi untuk “bersorak-sorai bagi TUHAN” (ay.4 BIS). Dalam paduan puji-pujian yang megah tersebut, laut bergemuruh dengan sukacita, sungai-sungai bertepuk tangan, dan bukit-bukit pun bersorak-sorai dengan riang gembira. Seluruh umat manusia dan karya ciptaan bersama-sama dipanggil untuk memuji Tuhan dengan menyanyikan nyanyian baru, “sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (ay.1).
Hari ini, kiranya hatimu berpadu dengan hati sesama dan karya ciptaan Allah untuk menyanyikan puji-pujian bagi Dia, Pencipta dan Penebus yang Mahakuasa. —HDF
Mari kita bersama bersukacita,
Mengangkat pujian dengan satu suara,
Menyanyikan anugerah dan belas kasih-Nya,
Dan segala kebaikan yang Tuhan limpahkan. —Sper
Allah dapat menggunakan alat-alat biasa dan sederhana untuk menghasilkan suatu pujian yang membahana.

Saturday, October 25, 2014

Pertolongan Pertama

KomikStrip-WarungSateKamu-20141025-Pertolongan-Pertama
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah . . . Damai sejahtera Allah . . . memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. —Filipi 4:6-7
Pertolongan Pertama
Ketika suami saya, Tom, dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani sebuah operasi darurat, saya mulai menelepon setiap anggota keluarga kami. Saudari saya dan suaminya segera datang untuk mendampingi saya, dan kami pun berdoa sambil menunggu kabar. Saudari Tom mendengar nada cemas dari suara saya melalui telepon dan ia langsung berkata, “Cindy, boleh aku berdoa bersamamu?” Pada saat pendeta saya dan istrinya tiba, ia juga berdoa untuk kami (Yak. 5:13-16).
Oswald Chambers menulis: “Kita cenderung menggunakan doa sebagai pertolongan terakhir, tetapi Allah menghendaki doa menjadi garis depan dalam pertahanan kita. Kita biasa berdoa pada saat kita sudah tidak berdaya, tetapi Allah menghendaki kita berdoa sebelum kita melakukan apa pun.”
Pada dasarnya, doa merupakan sebuah percakapan dengan Allah, yang diucapkan dengan harapan bahwa Allah pasti mendengar dan menjawabnya. Doa tidak sepatutnya menjadi pertolongan terakhir. Dalam firman-Nya, Allah mendorong kita untuk melibatkan-Nya dalam doa (Flp. 4:6). Kita juga memegang janji-Nya bahwa ketika “dua atau tiga orang berkumpul” dalam nama-Nya, Dia akan “ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).
Seseorang yang telah mengalami sendiri kuasa Allah yang Mahakuasa akan terbiasa berseru kepada-Nya untuk mencari pertolongan pertama atas masalah yang dihadapinya. Andrew Murray, seorang pendeta di abad ke-19, pernah mengatakan: “Doa membuka jalan bagi Allah sendiri untuk melakukan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui diri kita.” —CHK
Saat aku menghadap ke hadirat-Nya
Di dalam doa yang tak diketahui siapa pun,
Apakah aku menyadari keagungan luar biasa
Dari kuasa-Nya yang menantiku di dalamnya? —Hallen
Berdoalah terlebih dahulu!

Friday, October 24, 2014

Pulau Kecil

Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. —Titus 3:2
Pulau Kecil
Singapura adalah sebuah negara pulau yang kecil. Begitu kecilnya sehingga orang pun sulit menemukannya di peta dunia. (Cobalah mencarinya di peta, jika kamu belum mengetahui di mana letak Singapura). Karena kepadatan penduduknya, sikap tenggang rasa terhadap orang lain menjadi sangat penting. Seorang pria pernah menulis pesan kepada tunangannya yang akan berkunjung ke Singapura untuk pertama kalinya, demikian: “Di sini ruang sangat terbatas. Oleh karena itu . . . kau harus selalu peka terhadap ruang di sekelilingmu. Kau harus selalu siap untuk menepi agar kau tidak menghalangi jalan orang lain. Kuncinya, milikilah sikap tenggang rasa.”
Rasul Paulus menulis kepada Titus, seorang gembala jemaat yang masih muda: “Ingatkanlah mereka supaya . . . taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Tit. 3:1-2). Ada yang mengatakan, “Hidup kita mungkin satu-satunya Alkitab yang pernah dibaca oleh sebagian orang.” Dunia tahu bahwa orang Kristen seharusnya berbeda. Apabila kita suka bersungut-sungut, hanya memikirkan diri sendiri, dan berlaku kasar, apakah yang akan dipikirkan orang lain tentang Kristus dan kabar baik yang kita bagikan?
Bertenggang rasa dapat menjadi semboyan hidup yang baik dan mungkin dilakukan ketika kita bergantung kepada Allah. Sikap itu juga menjadi salah satu cara untuk meneladan Kristus dan menunjukkan pada dunia bahwa Yesus sanggup menyelamatkan dan mengubahkan hidup manusia. —PFC
Ya Tuhan, tolonglah kami agar bermurah hati, berlaku baik, dan
bertenggang rasa, di gereja dan juga di tengah masyarakat. Kiranya
dunia yang menyaksikannya dapat melihat hidup umat-Mu yang telah
diubahkan dan percaya pada kuasa-Mu yang mengubahkan hidup.
Karaktermu mendukung kesaksianmu.

Thursday, October 23, 2014

Membersihkan Lemari

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. —Mazmur 139:23
Membersihkan Lemari
Sampai hari ini seakan-akan masih terngiang di telinga saya perintah ibu kepada saya untuk membereskan kamar tidur. Dengan taat, saya akan naik ke kamar untuk mulai merapikannya, tetapi tidak lama kemudian perhatian saya teralihkan dan saya mulai membaca buku komik yang seharusnya saya susun rapi. Namun belum lama saya membaca, ibu saya kembali memberi peringatan bahwa dalam waktu 5 menit ia akan naik untuk memeriksa kamar saya. Karena tahu saya tidak akan mampu membersihkan kamar itu sampai rapi dalam waktu sesingkat itu, saya memilih untuk menyembunyikan semua barang yang tidak tahu harus saya apakan di dalam lemari, merapikan tempat tidur, lalu menanti Ibu masuk ke kamar—dan berharap ia tidak akan membuka-buka lemari saya.
Hal itu mengingatkan saya akan apa yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita dengan hidup ini. Kita membersihkan bagian luar kehidupan kita, dengan berharap tidak ada orang yang akan melongok ke dalam “lemari”—tempat kita menyembunyikan dosa-dosa kita dengan mencari-cari pembenaran serta alasan dan dengan menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan kita.
Masalahnya, meskipun kita berpenampilan baik dan saleh, kita menyadari betul kebobrokan yang tersimpan di dalam diri kita. Pemazmur mendorong kita untuk menyerahkan diri pada karya Allah yang menyelidiki dan membersihkan kita: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Marilah kita mengundang-Nya untuk menyelidiki dan membersihkan setiap sudut dari hidup kita. —JMS
Ya Tuhan, ampunilah aku karena aku membuat diriku terlihat baik di
luar sambil berupaya menyembunyikan kesalahan dan kegagalanku.
Aku rindu agar Engkau membersihkan hidupku sehingga aku bisa
berjalan bersama-Mu dengan integritas diri yang utuh.
Kita perlu mengakui dosa kita—bagaimanapun juga kita takkan bisa menyembunyikannya dari Allah.

Wednesday, October 22, 2014

Orang Yang Mengerti

TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. —1 Tawarikh 28:9
Orang Yang Mengerti
Suami sahabat saya tengah menderita demensia (suatu penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak) dan sudah mencapai stadium akhir. Di awal perkenalannya dengan perawat yang ditugaskan untuk merawatnya, ia menggapai tangan perawat itu dan menghentikannya. Ia berkata bahwa ia hendak memperkenalkan perawat itu kepada sahabat karibnya—seseorang yang sangat mengasihinya.
Karena tidak ada orang lain di lorong rumah sakit itu, sang perawat berpikir bahwa pria itu sedang mengkhayal. Namun ternyata pasien itu sedang berbicara tentang Yesus. Perawat itu merasa sangat tersentuh tetapi ia harus bergegas mengurus seorang pasien lain. Ketika sang perawat kembali mengurusnya, ingatan pria itu telah hilang dan pikirannya menjadi pikun lagi.
Meski pria itu telah kembali masuk dalam kekelaman demensia, ia tahu betul Tuhan adalah Sahabat karibnya. Allah berdiam di relung terdalam yang tiada terselami, yaitu dalam jiwa kita. Dia sanggup menembus pikiran kita yang paling gelap dan meyakinkan kita akan pemeliharaan-Nya yang lembut dan penuh kasih. Sungguh, kegelapan pun tidak akan menyembunyikan kita dari-Nya (Mzm. 139:12).
Kita tidak mengetahui masa depan yang ada di hadapan kita, ataupun di dalam hidup orang-orang yang kita kasihi. Kita pun bisa saja suatu hari nanti mengalami kemerosotan mental, Alzheimer, atau demensia seiring dengan bertambahnya usia. Namun pada masa-masa itu sekalipun, tangan Tuhan akan membimbing kita dan tangan kanan- Nya memegang kita dengan erat (ay.10). Kita tidak akan lepas dari kasih dan pemeliharaan-Nya. —DHR
Allah mengetahui setiap jalan berliku yang kulalui,
Setiap duka, kepedihan, dan sakit hati;
Dan takkan aku ditinggalkan oleh-Nya—
Dia mengenal dan mengasihi milik-Nya. —Bosch
Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku.

Tuesday, October 21, 2014

Pujian Yang Tak Layak Diterima

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat. —Lukas 5:32
Pujian Yang Tak Layak Diterima
Bahkan sebelum saya mampu membeli oven dengan pembersih otomatis, saya berhasil menjaga oven saya tetap bersih. Tamu-tamu yang pernah makan di rumah kami pun memberikan komentar, “Wah, ovenmu bersih sekali. Masih terlihat seperti baru.” Saya menerima pujian tersebut meski saya tahu saya tidak layak menerimanya. Oven saya bersih bukan karena saya rajin menggosok dan membersihkannya; oven itu bersih justru karena saya jarang menggunakannya.
Saya lalu merenungkan, seberapa sering saya telah menerima pujian yang sebenarnya tidak layak saya terima ketika orang memuji kehidupan saya yang “bersih”? Alangkah mudahnya bagi saya untuk memberikan kesan bahwa hidup saya saleh; cukup dengan melakukan hal-hal yang enteng, yang tidak memicu kontroversi, atau yang tidak menyinggung orang lain. Namun Yesus mengatakan bahwa kita harus mengasihi orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, yang menganut nilai hidup yang berbeda, dan yang bahkan tidak menyukai kita. Kasih menuntut kita untuk turun tangan dan memperhatikan hidup orang lain dengan segala kerumitannya. Yesus berulang kali menegur para pemuka agama yang lebih memilih untuk menjaga reputasi daripada membangun iman umat yang seharusnya mereka perhatikan. Mereka menganggap Yesus dan murid-murid- Nya najis karena bergaul dengan para pendosa, padahal Yesus sebenarnya sedang berupaya menyelamatkan orang-orang tersebut dari jalan hidup mereka yang bobrok (Luk. 5:30-31).
Murid-murid Yesus yang sejati bersedia mempertaruhkan reputasi mereka demi menolong sesamanya keluar dari jerat dosa. —JAL
Ya Tuhanku, berilah aku hati yang berbelas kasih kepada mereka
yang terhilang dalam dosa. Tolonglah aku untuk tidak terlalu
memperhatikan apa pandangan orang lain atas diriku,
tetapi hanya agar nama-Mu saja yang dimuliakan.
Kristus mengutus kita ke tengah dunia untuk membawa orang lain masuk dalam hubungan pribadi dengan Dia.

Monday, October 20, 2014

Perang Kata-Kata

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1
Perang Kata-Kata
Pada 28 Juli 1914, Kekaisaran Austria-Hongaria mendeklarasikan perang terhadap Serbia sebagai pembalasan terhadap pembunuhan Adipati Franz Ferdinand dan istrinya, Sophie. Hanya dalam waktu 90 hari, negara-negara Eropa lainnya telah melibatkan diri dan mengambil sikap memihak demi menjunjung aliansi militer mereka sekaligus mengejar ambisi mereka masing-masing. Satu peristiwa tunggal akhirnya memicu pecahnya Perang Dunia I, salah satu konflik bersenjata paling berdarah di era modern.
Perang memang merupakan tragedi besar yang menggemparkan, tetapi hubungan kita dengan sesama dan ikatan kekeluargaan dapat menjadi retak hanya oleh sejumlah kecil kata-kata yang penuh kebencian. Yakobus menulis, “Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar” (Yak. 3:5). Kunci untuk menghindari konflik lisan dapat ditemukan dalam kitab Amsal: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (15:1).
Sebuah ucapan yang sederhana dapat memulai pertengkaran besar. Ketika oleh anugerah Allah kita memilih untuk tidak membalas dengan kata-kata, sikap kita itu menghormati Yesus, Juruselamat kita. Ketika Yesus dilecehkan dan dihina, Dia sedang menggenapi nubuat Nabi Yesaya, “Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya” (Yes. 53:7).
Amsal mendorong kita untuk mengucapkan kebenaran dan mengusahakan perdamaian melalui perkataan kita. “Lidah lembut adalah pohon kehidupan, . . . dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (15:4,23). —DCM
Perkataan yang ceroboh dapat memulai pertikaian,
Perkataan kasar dapat menghancurkan hidup seseorang,
Perkataan yang tepat waktu dapat mengurangi beban stres,
Perkataan penuh kasih bisa memulihkan dan memberkati. —NN.
Ya Tuhan, jadikanku alat yang menebarkan damai-Mu. Di mana ada kebencian, kiranya hamba menabur kasih.

Sunday, October 19, 2014

Fondasi Yang Benar

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. —Matius 7:24
Fondasi Yang Benar
“Saya punya kabar buruk untuk Anda,” kata tukang bangunan yang merenovasi sebuah rumah tua yang saya warisi. “Waktu kami berusaha merombak bagian belakang garasi untuk menjadi ruang kantor, kami menemukan bahwa dindingnya nyaris tidak mempunyai fondasi. Kami harus merobohkan dindingnya, menanam fondasi yang benar, dan membangun ulang dindingnya.”
“Haruskah kamu melakukannya?” pinta saya, sambil diam-diam menghitung biaya tambahannya. “Tidak bisakah hanya ditambal saja?” Namun tukang itu tetap pada pendiriannya. “Jika kami tidak menanam fondasi itu pada kedalaman yang seharusnya, pengawas bangunan tidak akan mengizinkannya. Fondasi yang benar itu sangat penting.”
Fondasi yang benar adalah faktor yang membedakan apakah sesuatu akan bertahan lama atau hanya akan berdiri untuk sementara waktu. Yesus mengetahui bahwa meskipun fondasi tidak kelihatan, tetapi hal itu begitu penting untuk menunjang kekuatan dan kekokohan sebuah rumah (Mat. 7:24-25), terutama ketika bangunan itu dilanda bencana alam. Yesus juga mengetahui isi hati para pendengar-Nya. Mereka akan tergoda untuk mengambil jalan yang mudah, mencari jalan-jalan pintas, atau melakukan sesuatu dengan setengah-setengah demi mencapai tujuan mereka.
Fondasi yang lain mungkin saja lebih cepat dan mudah untuk dibangun. Membangun hidup kita di atas fondasi yang benar memang membutuhkan kerja keras, tetapi kebenaran Allah merupakan satu-satunya fondasi yang layak menjadi dasar. Ketika badai kehidupan menerjang, rumah yang dibangun di atas Allah dan ditopang oleh-Nya akan tetap berdiri kokoh. —MS
Ya Bapa, terkadang terjangan badai kehidupan ini begitu kuat dan
mengancam hidup kami. Terima kasih untuk kesetiaan-Mu sebagai
fondasi kebenaran yang dapat kami andalkan. Tolonglah aku untuk
bersandar pada kekuatan-Mu dalam badai hidup yang menerjangku.
Orang yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas Allah Sang Gunung Batu yang teguh.

Saturday, October 18, 2014

Sahabat Sejati

Berdua lebih baik dari pada seorang diri. —Pengkhotbah 4:9
Sahabat Sejati
Novel Shane mengisahkan tentang terjalinnya persahabatan antara Joe Starrett, seorang petani di daerah perbatasan Amerika yang masih liar, dengan Shane, seorang pria misterius yang mampir untuk beristirahat di rumah Joe. Kedua pria itu mulai akrab ketika mereka bekerja sama mencabut sebuah tunggul pohon raksasa dari pekarangan rumah Joe. Hubungan mereka menjadi semakin akrab ketika Joe menyelamatkan Shane dari sebuah perkelahian dan Shane menolong Joe mengembangkan dan menjaga lahan pertaniannya. Kedua pria tersebut menghormati dan setia terhadap satu sama lain. Sikap mereka mencerminkan apa yang dikatakan Kitab Suci: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri . . . . Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya” (Pkh. 4:9-10).
Yonatan dan Daud juga meneladankan prinsip itu. Persahabatan mereka diuji saat Daud merasa curiga bahwa Raja Saul menghendaki kematiannya. Yonatan meragukannya, tetapi Daud yakin hal itu benar (1Sam. 20:2- 3). Akhirnya, mereka memutuskan bahwa Daud harus bersembunyi di padang sementara Yonatan menanyakan ayahnya tentang kabar itu. Saat niat jahat Saul menjadi jelas, kedua sahabat itu pun bertangis-tangisan dan Yonatan memberkati Daud sebelum ia pergi (ay.42).
Yesus akan menjadi sahabat sejatimu jika kamu telah menerima tawaran keselamatan-Nya—sahabat yang selalu setia dan yang akan mengangkatmu saat kamu jatuh. Dia telah membuktikan kasih terbesar yang dapat diberikan seorang sahabat—kasih yang membuat-Nya memberikan nyawa-Nya untukmu (Yoh. 15:13). —JBS
Yesus Kawan yang sejati
Bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa
Dalam doa pada-Nya. —Scriven
(Kidung Jemaat, No. 453)
Yesus adalah sahabatmu yang paling tepercaya.

Friday, October 17, 2014

Melihat Lalu Mencari

Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku. —Yunus 2:2
Melihat Lalu Mencari
Ketika putri kami masih terlalu kecil untuk berjalan atau merangkak, ia melakukan sesuatu untuk bersembunyi dari orang banyak atau saat ia ingin sendirian dan menuruti kemauannya sendiri. Ia cukup memejamkan matanya. Kathryn berpikir, orang yang tidak bisa dilihatnya juga tidak akan bisa melihat dirinya. Ia menggunakan taktik itu di dalam mobil ketika orang yang belum dikenalnya ingin menyapanya; ia juga melakukannya saat duduk di kursi makan apabila ia tidak menyukai makanannya; ia bahkan melakukannya saat kami memintanya untuk siap-siap tidur.
Yunus mempunyai strategi yang lebih canggih untuk bersembunyi, tetapi strategi itu sama tidak berhasilnya dengan cara putri kami bersembunyi. Ketika Allah memerintahkan Yunus untuk melakukan sesuatu yang tidak ia kehendaki, ia melarikan diri ke arah yang berlawanan. Namun ia segera mengetahui bahwa tidak ada tempat yang tersembunyi bagi Allah. Kitab Suci bahkan penuh dengan kisah-kisah tentang Allah yang menemukan orang-orang pada saat mereka tidak ingin ditemukan (Kel. 2:11-3:6; 1Raj. 19:1-7; Kis. 9:1-19a).
Mungkin kamu telah berusaha untuk bersembunyi dari Allah, atau mungkin saja kamu berpikir bahwa Allah sekalipun tidak bisa melihatmu. Pahamilah ini: Jika Allah melihat dan mendengar doa seorang nabi yang memberontak di dalam perut seekor ikan besar, Dia pun melihat dan mendengarmu di mana pun kamu berada dan apa pun yang pernah kamu lakukan. Namun itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan, melainkan suatu penghiburan yang luar biasa. Dia selalu hadir, dan Dia peduli padamu! —RKK
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau hadir menyertai kami.
Kami mendengar dan meyakini firman-Mu:
“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:13).
Kita tak perlu mengkhawatirkan segala kesulitan di sekitar kita selama mata Tuhan tertuju kepada kita.

Thursday, October 16, 2014

Jalan Memutar Yang Misterius

Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka. —Mazmur 22:5
Jalan Memutar Yang Misterius
Sebelum saya dan istri menempuh perjalanan dengan mobil sejauh 640 km, saya telah mengatur alat navigasi GPS dengan memasukkan alamat tujuan kami, yaitu rumah putri kami di negara bagian Missouri. Saat berkendara menyusuri Illinois, GPS mengarahkan kami untuk keluar dari jalan raya. Kami pun harus menyimpang ke kota Harvey, sampai GPS mengarahkan kami kembali ke jalan raya. Saya tidak mengerti mengapa kami diarahkan untuk keluar dari jalan raya yang mulus itu dan harus menempuh jalan memutar yang misterius.
Saya tak pernah tahu jawabannya. Kami melanjutkan perjalanan, dan meyakini bahwa GPS itu akan mengantar kami tiba ke tujuan dan kemudian pulang kembali ke rumah.
Kejadian itu membuat saya berpikir tentang jalan memutar dalam hidup ini. Kita mungkin merasa sedang melalui suatu jalan yang mulus. Lalu, karena alasan tertentu, Allah mengarahkan kita ke suatu tempat yang asing. Mungkin itu berupa penyakit, krisis di tempat kerja atau di sekolah, atau suatu tragedi yang tak terduga. Kita tidak dapat memahami maksud Allah.
Abraham menghadapi jalan memutar yang misterius ketika Allah memerintahkannya, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini” (Kej. 12:1). Abraham pasti bertanya-tanya mengapa Allah mengarahkannya untuk melintasi padang gurun Negeb. Namun ia mempercayai Allah dan tujuan-Nya yang baik.
Sebuah GPS mungkin saja melakukan kesalahan, tetapi kita bisa mempercayai Allah kita yang tak pernah gagal (Mzm. 22:5). Allah akan menuntun kita melalui semua jalan memutar yang misterius dan membawa kita mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. —JDB
Kami mencari tuntunan-Mu, ya Tuhan, tetapi kami tahu bahwa jalan
yang kami lalui tidak akan bebas dari tantangan. Tolong kami untuk
mempercayai-Mu melewati jalan-jalan memutar—dengan menyadari
bahwa Engkau tahu yang terbaik bagi kami dan demi kemuliaan-Mu.
Kita tidak perlu mengetahui jalannya ketika kita berjalan erat dengan Allah yang maha mengetahui.

Wednesday, October 15, 2014

Melihat Dengan Terbalik

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. —Matius 9:12
Melihat Dengan Terbalik
Di India, saya beribadah di antara para penderita kusta. Kebanyakan dari kemajuan medis dalam bidang perawatan untuk para penderita kusta merupakan buah usaha dari para dokter misionaris. Dokter-dokter ini memilih untuk tinggal di antara para penderita kusta dan berisiko terjangkiti penyakit yang mengerikan tersebut. Alhasil, gereja-gereja pun bertumbuh subur di kebanyakan pusat perawatan utama bagi para penderita kusta. Di Myanmar, saya pernah mengunjungi panti asuhan bagi para penderita AIDS yang yatim piatu. Di sana para relawan Kristen berusaha memberikan perhatian yang tidak lagi diberikan oleh orangtua para penderita karena penyakit mereka. Kebaktian gereja paling meriah yang pernah saya hadiri berlangsung di dalam penjara di negara Cili dan Peru. Di antara kaum yang hina, malang, dan tertindas—mereka yang tidak dianggap oleh dunia ini—Kerajaan Allah teguh berdiri.
Menaati tugas yang diberikan Allah dengan sepenuh hati berarti kita harus belajar memandang dunia ini dari sudut pandang yang terbalik, sebagaimana yang Yesus lakukan. Alih-alih mencari orang-orang kaya yang dapat mendukung kita, kita menjangkau orang-orang papa yang tidak berpunya. Kita mencari yang lemah, bukan yang kuat; yang sakit, bukan yang sehat. Bukan yang saleh, tetapi yang berdosa. Bukankah itu juga cara Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya? “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. . . . Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat. 9:12-13).
Untuk mendapatkan cara pandang yang baru, pandanglah dunia ini dengan cara terbalik sebagaimana yang Yesus lakukan. —PDY
Ya Yesus, kami tahu bahwa Engkau mencari orang yang hina dan
yang tidak dianggap oleh sesamanya. Kami ingin menjadi seperti-Mu.
Bukalah mata kami dan tunjukkanlah kepada kami caranya.
Kami rindu dipakai oleh-Mu untuk memberkati sesama.
Apakah kamu memandang dunia yang membutuhkan kasih ini sebagaimana Yesus memandang mereka?

Tuesday, October 14, 2014

Perjumpaan Abadi

Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita. —2 Korintus 5:5
Perjumpaan Abadi
Setelah menghabiskan waktu berlibur selama sepekan bersama putrinya dan Oliver, cucunya yang baru berumur 4 bulan, Kathy pun harus mengucapkan sampai jumpa lagi kepada mereka. Ia menuliskan suatu pesan kepada saya, katanya, “Pertemuan kembali yang indah seperti waktu itu membuat hatiku merindukan surga. Di sana, kita tak perlu berusaha menyimpan kenangan dalam benak kita. Di sana, kita tak perlu berharap agar pertemuan itu jangan cepat-cepat usai. Di sana, perjumpaan kita takkan pernah menjadi perpisahan. Surga akan menjadi ‘perjumpaan abadi’ dan aku tidak sabar ingin segera ke sana.” Kathy ingin sesering mungkin bermain bersama Oliver, cucu pertamanya itu! Ia bersyukur untuk waktu-waktu yang bisa ia habiskan bersama cucunya, dan juga untuk pengharapannya akan surga—tempat di mana masa-masa yang menyenangkan tidak akan pernah berakhir.
Hari-hari yang kita nikmati memang sering terasa terlalu singkat, dan hari-hari yang berat bisa terasa begitu panjang. Akan tetapi kedua jenis hari itu menyebabkan kita merindukan hari-hari yang jauh lebih baik di masa yang akan datang. Rasul Paulus berkata bahwa ia dan jemaat di Korintus rindu untuk “mengenakan tubuh yang dari surga itu, supaya tubuh kita yang bisa mati ini dikuasai oleh yang hidup” (2Kor. 5:4 BIS). Sekalipun Tuhan terus menyertai kita dalam hidup ini, kita tidak dapat melihat-Nya muka dengan muka. Untuk saat ini, kita hidup karena percaya, bukan karena melihat (ay.7).
Allah menciptakan kita dengan maksud agar kita senantiasa dekat dengan-Nya (ay.5). Surga akan menjadi perjumpaan abadi. —AMC
Nanti muka dengan muka
Langsung akan kukenal
Tuhan Yesus, Jurus’lamat,
Pengasihku yang kekal! —Breck
(Kidung Jemaat, No. 267)
Sekarang kita hanya melihat Yesus di dalam Alkitab, tetapi kelak, kita akan bertemu Dia muka dengan muka.

Monday, October 13, 2014

Perkataan Yang Tepat Pada Waktunya

KomikStrip-WarungSateKamu-20141009-Apa -Yang-Kamu-Harapkan
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. —Amsal 25:11
Perkataan Yang Tepat Pada Waktunya
Kamu mungkin pernah mendengar pepatah, “Waktu yang menentukan segalanya.” Menurut Alkitab, waktu yang tepat berlaku juga pada perkataan kita. Pikirkanlah suatu waktu ketika Allah pernah memakaimu untuk menyampaikan perkataan yang tepat bagi seseorang yang membutuhkan penghiburan, atau justru di kesempatan lain, ketika kamu ingin berbicara, kamu merasa lebih baik untuk tidak mengucapkan apa-apa.
Alkitab mengatakan bahwa ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara (Pkh. 3:7). Menurut Salomo, perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya dan yang disampaikan dengan baik itu bagaikan buah apel emas di pinggan perak—indah, berharga, dan disusun dengan saksama (Ams. 25:11-12). Mengetahui waktu yang tepat untuk berbicara akan memberi manfaat bagi pembicara maupun pendengarnya, entah perkataan itu tanda kasih, penguatan, atau teguran. Ada juga saatnya kita patut berdiam diri. Ketika kita tergoda untuk mengumpat, menghina, atau menjelek-jelekkan orang lain, Salomo mengatakan, alangkah bijaknya jika kita menahan lidah, karena itulah waktu yang tepat untuk berdiam diri (11:12-13). Ketika sikap banyak bicara atau amarah menggoda kita untuk berbuat dosa terhadap Allah atau seseorang, kita dapat menahan diri dengan mengambil sikap untuk lambat dalam berkata-kata (10:19; Yak. 1:19).
Sering kali sulit mengetahui apa yang harus kita katakan dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Roh Kudus akan menolong kita untuk bertindak bijaksana. Dia akan menolong kita untuk mengucapkan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar, demi kebaikan sesama dan demi kemuliaan-Nya. —MLW
Bapa surgawi, terima kasih karena Engkau memakai orang lain untuk
memberikan kata-kata yang menguatkan dan menantang imanku.
Berilah aku hikmat untuk menyadari waktu dan cara yang tepat agar
ucapan atau justru sikap diamku dapat bermanfaat bagi orang lain.
Sungguh berharga perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya.

Sunday, October 12, 2014

Tempat Beristirahat

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. —Matius 11:28
Tempat Beristirahat
Memasuki sebuah gereja di Klang, Malaysia, saya tertarik dengan pesan pada papan penanda yang menyambut kami di depan gedung tersebut. Penanda itu menyatakan bahwa gereja tersebut adalah “Tempat Beristirahat bagi yang Berbeban Berat.”
Tidak banyak hal yang lebih mencerminkan isi hati Kristus daripada ketika gereja-Nya menjadi tempat bagi orang-orang yang berbeban berat dan letih lesu datang dan mendapatkan kelegaan. Itulah hal yang sangat penting dalam pelayanan Yesus, karena Dia sendiri berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).
Yesus berjanji untuk mengangkat segala beban kita dan menggantikannya dengan beban-Nya yang ringan. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (ay.29-30).
Janji itu ditopang oleh kuasa-Nya yang besar. Beban apa pun yang sedang kita pikul, di dalam Kristus kita mendapatkan penopang yang kuat, yaitu Anak Allah yang berjanji akan mengangkat semua beban berat kita dan menggantinya dengan beban-Nya yang ringan.
Kristus, yang mengasihi kita dengan kasih yang tak berkesudahan, sangat memahami pergumulan kita. Dia dapat dipercaya untuk menyediakan bagi kita kelegaan yang tidak akan pernah kita temukan sendiri. Kuasa-Nya sanggup menopang kelemahan kita, karena itu Dia layak menjadi “tempat beristirahat bagi yang berbeban berat”. —WEC
“Janganlah gelisah hatimu,”
Suara lembut-Nya kudengar,
Dan bersandar pada kebaikan-Nya,
Hilanglah ragu dan takutku. —Martin
Allah mengajak jiwa-jiwa yang gelisah untuk menerima kelegaan di dalam Dia.

Saturday, October 11, 2014

Kuasa Untuk Mengubah

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. —Roma 12:2
Kuasa Untuk Mengubah
Tony Wagner, seorang pendidik dan penulis buku terlaris, adalah orang yang sangat meyakini bahwa “inovasi yang mendobrak” telah mengubah cara dunia berpikir dan bergerak maju. Dalam bukunya Creating Innovators: The Making of Young People Who Will Change the World (Menciptakan Inovator: Membentuk Generasi Muda yang Akan Mengubah Dunia), ia menulis: “Inovasi terjadi dalam setiap aspek dari usaha umat manusia,” dan “kebanyakan orang akan dapat menjadi lebih kreatif dan inovatif—apabila mereka diberi kesempatan dan lingkungan yang tepat.”
Paulus merupakan seorang inovator abad pertama yang mengelilingi wilayah Asia Kecil untuk memberitakan kepada orang-orang tentang perubahan hidup yang dapat mereka alami melalui iman kepada Yesus Kristus. Kepada jemaat Tuhan di Roma, Paulus menuliskan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Rm. 12:2). Ia mendorong mereka untuk mempersembahkan diri mereka sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup kepada Allah (ay.1). Di tengah dunia yang tamak, rakus, dan mementingkan diri sendiri, Paulus mengasuh dan mengajarkan kepada mereka tentang cara menjalani hidup yang berpusat dan dipersembahkan kepada Kristus.
Dunia telah sangat jauh berubah sejak zaman Paulus. Akan tetapi, kerinduan manusia akan kasih, pengampunan, dan kuasa untuk mengalami perubahan tetaplah sama. Yesus, Sang Inovator Agung, menawarkan semuanya itu dan mengundang kita untuk mengalami hidup yang baru dan berbeda di dalam Dia. —DCM
Aku bersyukur untuk segala cara yang Engkau pakai untuk
mengubahku, ya Tuhan. Tolong aku untuk terbuka kepada-Mu
dan menerima pekerjaan tangan-Mu di dalam diriku.
Ubahlah aku untuk menjadi seperti-Mu.
Allah menerima kita apa adanya tetapi tidak pernah membiarkan kita tetap begitu-begitu saja.

Friday, October 10, 2014

Pelajaran Dari Hula Hoop

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik. —Galatia 6:9
Pelajaran Dari Hula Hoop
Salah satu mainan kesukaan saya di masa kecil sekarang kembali marak dimainkan. Mainan itu adalah hula hoop. Saya dan teman saya, Suzi, suka menghabiskan waktu berjam-jam di halaman untuk menyempurnakan teknik kami dan bersaing untuk melihat siapa yang dapat paling lama memutar hula hoop tersebut di pinggang kami. Tahun ini saya mengingat kembali bagian dari masa kecil saya itu. Saat duduk di sebuah taman, saya menyaksikan anak-anak dari segala usia dan ukuran tubuh sedang berusaha keras untuk menjaga hula hoop-nya tidak jatuh ke tanah. Mereka meliuk dan memutar tubuh dengan sekuat tenaga, tetapi setelah mereka mengerahkan segala kemampuan mereka, hula hoop itu tetap jatuh ke tanah. Kemudian ada seorang wanita muda datang dan mengambil sebuah hula hoop. Tanpa banyak gerakan, ia memindahkan hula hoop itu naik-turun dari pinggang ke bahu dan kembali ke pinggangnya dengan mulus. Keberhasilannya bergantung pada gerakan yang tepat, bukan pada besarnya tenaga dari gerakan itu.
Dalam kehidupan rohani kita, kita dapat mengeluarkan segala macam jurus demi menyamai usaha orang lain dalam melayani Allah.
Namun bekerja hingga merasa jemu bukanlah hal yang patut dipuji (Gal. 6:9). Sebelum memberi makan ribuan orang dengan hanya lima roti dan dua ikan (Mrk. 6:38-44), Yesus mengajak murid-muridnya untuk pergi beristirahat, dan itu membuktikan bahwa Dia tidak membutuhkan jerih-lelah kita yang gila-gilaan untuk menuntaskan pelayanan-Nya. Kebenaran yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya juga Dia ajarkan kepada kita: Ketaatan yang tenang akan lebih banyak memberi hasil daripada aktivitas yang dikerjakan sembrono. —JAL
Tolonglah aku, Tuhan, untuk tidak membandingkan diriku dan apa
yang kulakukan dengan diri orang lain. Kiranya aku melayani
di tempat yang Engkau kehendaki dan melakukannya dengan
kuasa-Mu. Aku mengasihi-Mu dan menyerahkan diriku kepada-Mu.
Yesus menginginkan kerelaan, bukan jerih-lelah kita.

Thursday, October 9, 2014

Apa Yang Kamu Harapkan?

KomikStrip-WarungSateKamu-20141009-Apa -Yang-Kamu-Harapkan
Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33
Apa Yang Kamu Harapkan?
Dalam God in the Dock (Allah Dihakimi), C. S. Lewis menulis: “Bayangkan ada sekelompok orang tinggal di sebuah gedung. Setengahnya berpikir gedung itu adalah hotel, setengah lainnya berpikir itu adalah penjara. Mereka yang berpikir bahwa itu hotel mungkin merasa tidak tahan tinggal di situ, dan mereka yang berpikir itu penjara mungkin merasa bahwa di luar dugaan mereka, tempat itu sangat nyaman untuk dihuni.” Dengan cerdik, Lewis memakai perbedaan tajam antara hotel dan penjara untuk menggambarkan cara kita memandang hidup menurut harapan-harapan kita. Ia menulis, “Jika kamu berpikir bahwa dunia ini dimaksudkan untuk menjadi tempat kita bersenang-senang, kamu akan merasa tidak tahan berada di sini; sebaliknya, jika kamu menganggap dunia ini sebagai suatu tempat pelatihan dan perbaikan diri, maka rasanya dunia ini tidak jelek-jelek amat.”
Terkadang kita berharap hidup ini seharusnya bahagia dan bebas dari derita. Namun Alkitab tidak mengajarkan demikian. Bagi orang percaya, dunia menjadi tempat bagi iman untuk bertumbuh melalui saat-saat yang baik maupun buruk. Yesus bersikap realistis saat Dia menjelaskan apa yang sepatutnya diharapkan dalam hidup. Dia memberi tahu para murid, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Dalam berkat maupun derita, kita dapat memiliki damai sejahtera meyakini bahwa Allah merancang beragam peristiwa sesuai dengan kedaulatan dan rencana-Nya.
Kehadiran Kristus dalam hidup kita akan memampukan kita untuk “menguatkan hati” meski sedang berada di tengah penderitaan. —HDF
Kekuatan serta penghiburan diberikan Tuhan padaku.
Tiap hari aku dibimbing-Nya, tiap jam dihibur hatiku
Dan sesuai dengan hikmat Tuhan ‘ku dib’rikan apa yang perlu,
Suka dan derita bergantian memperkuat imanku. —Berg
(Kidung Jemaat, No. 332)
Di tengah berbagai masalah yang melanda hidup,
damai sejahtera dapat ditemukan di dalam Yesus.

Wednesday, October 8, 2014

Belajar Menanti Allah

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. —Mazmur 62:6
Belajar Menanti Allah
Cha Sa-soon, seorang wanita asal Korea berumur 69 tahun, akhirnya menerima SIM (Surat Izin Mengemudi) setelah 3 tahun berusaha untuk lulus dari ujian tertulis yang ditempuhnya. Ia sangat ingin mendapatkan SIM tersebut agar ia bisa membawa cucu-cucunya pergi ke kebun binatang.
Cha Sa-soon patut dipuji karena kegigihannya di tengah dunia yang serba instan ini. Ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak bisa memperolehnya, kita sering mengeluh dan menuntut. Di lain waktu, kita memilih untuk menyerah dan tidak lagi acuh ketika apa yang kita inginkan tidak segera terpenuhi. “Menunggu” adalah kata yang tidak suka kita dengar! Namun demikian, Alkitab sering menyatakan bahwa Allah menghendaki kita untuk menantikan Dia bertindak menurut waktu-Nya yang terbaik.
Menantikan Allah berarti dengan sabar berharap kepada Allah atas apa yang kita butuhkan. Daud sadar betul mengapa ia harus menantikan Tuhan. Pertama-tama, keselamatannya datang dari pada-Nya (Mzm. 62:2). Ia meyakini bahwa tidak ada pihak lain yang dapat membebaskannya. Ia hanya dapat berharap kepada Allah (ay.6), karena Allah saja yang mendengar doa-doa kita (ay.9).
Kita sering berdoa hanya untuk meminta agar Allah segera bertindak dan memberkati niat kita. Apa yang dapat kita lakukan apabila Allah menjawab kita, “Bersabarlah. Nantikan Aku”? Kita dapat berdoa seperti Daud: “Dengarlah seruanku di waktu pagi. Pagi-pagi kubawa persembahanku dan kunantikan jawaban-Mu, ya TUHAN” (Mzm. 5:4 BIS). Kita dapat mempercayai jawaban-Nya, sekalipun jawaban itu tidak datang sesuai pada saat yang kita harapkan. —CPH
Ketika kami berseru kepada-Mu, ya Tuhan,
Dan menanti jawaban atas doa kami,
Berilah kesabaran yang kami butuhkan
Tolong kami menyadari kasih pemeliharaan-Mu. —Sper
Dasar dari setiap doa haruslah, “Kehendak-Mu jadilah.”

Tuesday, October 7, 2014

Kibarkan Bendera

Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih. —Efesus 5:1
Kibarkan Bendera
Ratu Elizabeth II telah memerintah atas Kerajaan Inggris selama lebih dari 60 tahun. Kesan anggun dan berkelas telah menjadi ciri dari monarki yang dipimpinnya. Sepanjang hidupnya, sang ratu telah memberikan diri untuk melayani rakyatnya dengan giat, dan oleh karena itu, ia begitu dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Jadi, kamu dapat mengerti pentingnya bendera yang berkibar di atas Istana Buckingham. Berkibarnya bendera itu menandakan bahwa sang ratu sedang berada di dalam kediamannya di jantung kota London. Bendera itu menjadi suatu pernyataan bagi khalayak umum tentang kehadiran sang ratu di tengah-tengah rakyatnya.
Ketika sedang memikirkan hal tersebut, saya teringat bahwa Yesus, Raja kita, telah berdiam di dalam hati kita sebagai Penguasa yang “tidak akan membiarkan engkau dan . . . tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Meskipun bagi diri kita sendiri hal itu sungguh mengagumkan, saya bertanya-tanya apakah orang-orang di sekitar kita akan mengetahui bahwa Yesus berdiam dalam diri kita lewat cara hidup kita? Jika Dia berdiam dalam kita, kehadiran-Nya akan terlihat dari sikap kita. Menurut Rasul Paulus, kita harus menjadi “penurut-penurut Allah” dan hidup “di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi [kita]” (Ef. 5:1-2). Ketika kita melakukannya, kita akan memperlihatkan sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23).
Jadi marilah kita kibarkan bendera tanda kehadiran-Nya—bendera yang menyatakan anugerah, kebenaran, dan kasih-Nya—agar banyak orang dapat melihat diri-Nya melalui hidup kita. —JMS
Tuhan, ingatkan aku bahwa kehadiran-Mu di dalam hatiku
dimaksudkan agar orang lain mengetahuinya. Tolonglah agar
aku menghargai segala berkat dari kehadiran-Mu sehingga
aku rela berbagi berkat itu dengan murah hati kepada sesama.
Kibarkan bendera kehadiran Kristus untuk menyatakan bahwa Sang Raja memang berdiam dalam hidupmu.

Monday, October 6, 2014

Penolong Setia

TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah. —Yeremia 20:11
Penolong Setia
Ketika Ayah masih kecil, ia harus memberi makan untuk kawanan babi yang lapar di peternakan tempat ia dibesarkan. Ia membenci tugas tersebut karena babi-babi itu suka menabraknya hingga jatuh saat ia masuk ke dalam kandang mereka. Tugas itu tidak mungkin dapat dikerjakan Ayah, seandainya ia tidak mempunyai penolong setia yang menemaninya. Penolong setia itu adalah seekor anjing gembala Jerman bernama Sugarbear. Sugarbear biasa menempatkan diri di antara Ayah dengan babi-babi itu sembari menahan kawanan babi yang ganas itu sampai Ayah menyelesaikan tugasnya.
Nabi Yeremia mengemban tugas yang sulit untuk mengumandangkan pesan-pesan Allah kepada bangsa Israel. Tugas itu membuatnya harus menanggung siksaan fisik, caci maki, pemenjaraan, dan pengucilan dari kaum sebangsanya. Walaupun Yeremia bergumul dengan kekecewaan yang amat mendalam, ia mempunyai Penolong yang setia menyertainya melalui segala kesulitan itu. Allah berjanji kepadanya, “Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (Yer. 1:19).
Allah tidak mengabaikan Yeremia, dan Dia tidak akan mengabaikan kita. Dia terus-menerus memberikan pertolongan melalui kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam diri setiap orang percaya (Yoh. 14:16-17). Sang Penolong memberi kita pengharapan (Rm. 15:13), memimpin kita ke dalam kebenaran rohani (Yoh. 16:13), dan mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Rm. 5:5). Kita dapat meyakini bahwa Allah setia menolong kita di tengah kesulitan yang sedang kita tanggung. Seperti Yeremia, kita dapat menyatakan, “TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah” (Yer. 20:11). —JBS
Engkau, Allah, selamanya menjadi sumber pertolongan kami.
Dan Engkaulah pengharapan kami kini dan sampai selamanya.
Kami bersyukur sebab Engkau tidak akan pernah
mengabaikan kami. Engkau senantiasa setia.
Pengharapan terbesar kita di bumi adalah pertolongan dari Allah di surga.

Sunday, October 5, 2014

Domba Merah Muda

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. —Yohanes 13:35
Domba Merah Muda
Saat berada dalam perjalanan darat dari Glasgow ke Edinburgh, Skotlandia, dan menikmati indahnya pemandangan pedesaan, saya terpikat oleh suatu pemandangan yang lumayan menggelikan. Di kejauhan, pada puncak sebuah bukit kecil, terdapat sekawanan domba berwarna merah muda dalam jumlah besar.
Saya tahu bahwa para pemilik domba suka menandai ternak mereka dengan membuat bintik-bintik dari cat semprot—tetapi kawanan domba merah muda tersebut sangat menyolok. Pemiliknya telah mengecat seluruh badan dari setiap dombanya dengan pewarna merah muda. Semua orang jadi tahu siapa pemilik domba-domba tersebut.
Kitab Suci menyebut para pengikut Kristus sebagai domba yang juga memiliki tanda pengenal yang unik. Hal apa yang menjadi “pewarna merah muda” dalam kehidupan seorang pengikut Kristus? Bagaimana seseorang dapat dikenali sebagai milik Yesus?
Dalam Injil Yohanes, Yesus, Sang Gembala yang baik, menyatakan bahwa tanda pengenal pengikut-Nya adalah kasih. “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35).
Lewat perkataan dan perbuatannya, seorang percaya harus menunjukkan kasih kepada orang-orang di sekelilingnya. “Saudarasaudaraku yang kekasih,” tulis Yohanes, “jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yoh. 4:11). Kasih seorang Kristen untuk sesamanya haruslah terlihat nyata, sejelas warna merah muda pada sekawanan domba di Skotlandia. —JDB
Ya Tuhan, ingatkan aku bahwa hidup ini bukanlah tentang diriku
maupun kebutuhanku, melainkan tentang sesama dan bagaimana
kasih-Mu dapat terpancar kepada mereka melalui diriku.
Kiranya kasih yang Kristus teladankan menjadi ciri khas hidupku.
Kasih kita harus menjadi ciri khas kita sebagai pengikut Kristus.

Saturday, October 4, 2014

Budaya Sekali Pakai

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:1
Budaya Sekali Pakai
Di zaman modern ini, kita hidup dalam budaya sekali pakai. Coba pikirkan sejenak tentang sejumlah barang yang kita pakai sekali untuk kemudian kita buang— pisau cukur, botol air, korek api, piring kertas, alat makan plastik. Produk-produk itu kita pakai, buang, kemudian kita ganti dengan yang baru.
Budaya sekali pakai itu juga tecermin dalam hal-hal lain yang lebih besar pengaruhnya. Sering kali orang menganggap komitmen sejati dalam suatu hubungan sebagai hal yang tidak berarti. Banyak pasangan yang berjuang mempertahankan pernikahan mereka. Para pegawai yang telah lama bekerja dirumahkan daripada dibiarkan pensiun karena perusahaan tidak mau mengeluarkan biaya besar. Seorang atlit andalan pindah dan bermain untuk tim lawan. Sepertinya tidak ada lagi hal yang abadi.
Namun tidak dengan Allah kita. Dia yang tidak pernah berubah telah berjanji bahwa kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Dalam Mazmur 136, sang pemazmur memuji janji indah tersebut dengan menyatakan keajaiban, pekerjaan, dan sifat Allah. Ia kemudian menekankan setiap pernyataan tentang Allah dengan frasa, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” pakah itu tentang keajaiban penciptaan-Nya (ay.4-9), pertolongan bagi umat-Nya (ay.10-22), atau pemeliharaan-Nya yang baik terhadap kepunyaan-Nya (ay.23-26), kita dapat mempercayai Allah karena kasih-Nya tidak pernah gagal. Dalam dunia yang sementara ini, kasih Allah yang kekal memberikan kepada kita harapan. Kita dapat memuji bersama sang pemazmur, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ay.1). —WEC
Aku hendak menyanyikan kasih setia abadi,
Yang selamanya teguh dan pasti,
Tentang kesetiaan yang tak pernah padam,
Tegak dan kekal seperti langit. —Psalter
Anugerah Allah tak terukur; kasih-Nya takkan lekang; damai sejahtera-Nya tak terlukiskan.

Friday, October 3, 2014

Cahaya Yang Menyusup

Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita. —2 Korintus 4:6
Cahaya Yang Menyusup
Lukisan berjudul A Trail of Light (Jejak Cahaya)—karya seniman Bob Simpich asal Colorado Springs, Amerika Serikat— menggambarkan sekumpulan pohon aspen dengan dedaunan keemasan yang disinari oleh cahaya matahari pada musim gugur. Dedaunan di bagian paling atas berkilauan terang, sementara tanah di bawah pepohonan itu menampilkan perpaduan antara sinar matahari dan bayang-bayang pepohonan. Sang pelukis menjelaskan pemandangan yang kontras itu, “Saya langsung terpikat pada cahaya yang menyusup dan terbayang pada dasar pepohonan itu. Sungguh suatu rangkaian keajaiban yang istimewa.”
Rasul Paulus pernah menulis kepada para pengikut Yesus di Korintus, “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang- Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). Paulus kemudian menggambarkan kenyataan hidup ketika “dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (ay.8-9).
Ada masanya ketika cahaya wajah Allah seakan meredup karena kesukaran, kesedihan, atau kehilangan yang kita alami. Namun demikian, bahkan di dalam bayang-bayang terkelam sekali pun, kita dapat melihat bukti kehadiran-Nya bersama kita.
Jika kita berjalan di bawah cahaya yang menyusup pada saat ini, kiranya kita kembali mengalami terang Allah, yaitu Yesus, yang selalu bercahaya di dalam hati kita. —DCM
Tuhan, arahkan cahaya wajah-Mu pada kami agar dapat menempuh
jalan menuju keselamatan-Mu. Arahkanlah cahaya-Mu dalam
kegelapan yang menyelubungi dunia ini agar kami dapat melihat
diri-Mu dan menunjukkan pada orang lain jalan kepada-Mu.
Dalam masa-masa yang gelap, terang Allah masih bersinar dalam hati kita.

Thursday, October 2, 2014

Dalam Badai

[Yesus] berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” —Markus 4:39
Dalam Badai
Badai sedang mengancam—tidak hanya di langit, tetapi juga dalam keluarga dari seorang teman. “Saat aku berada di Hong Kong,” ceritanya, “dinas meteorologi setempat mengumumkan bahwa badai hebat sedang mendekat. Namun lebih dari badai yang sedang mengancam di luar jendela, ada badai lain yang lebih besar mengancam di keluarga kami. Ketika ayahku dirawat di rumah sakit, anggota keluarga lainnya sedang kerepotan menyeimbangkan tanggung jawab di rumah dengan pekerjaan mereka, sambil juga mengatur waktu untuk pulang-pergi ke rumah sakit. Mereka merasa begitu lelah sehingga kesabaran makin menipis, dan keadaan di rumah kami sedang tegang-tegangnya.”
Kehidupan bisa terasa bagaikan badai yang melontarkan kita ke sana-kemari dalam pusaran angin kemalangan, kesedihan, atau stres. Ke mana kita dapat berlindung? Ketika murid-murid Yesus terperangkap dalam badai hebat dan mempertanyakan kepedulian-Nya, mereka tetap tahu kepada siapa mereka harus mencari pertolongan. Yesus menunjukkan kuasa- Nya dengan menenangkan badai yang menderu itu (Mrk. 4:38-39).
Namun sering kali Dia tidak langsung menenangkan badai tersebut. Dan, seperti para murid, kita mungkin merasa bahwa Dia tidak peduli. Untuk meredakan ketakutan yang kita rasakan, kita dapat berpegang teguh dalam keyakinan pada diri dan kesanggupan Allah. Kita dapat berlindung dalam naungan-Nya (Mzm. 91:1). Kita dapat memohon pertolongan-Nya untuk dapat mempunyai sikap penuh kasih dalam hubungan kita dengan sesama. Kita dapat berserah kepada Allah yang Mahakuasa, Mahabijak, dan Mahakasih. Allah menyertai kita di tengah badai dan membopong kita menembus badai itu. —PFC
Entah amukan samudra yang diterjang badai,
Atau perbuatan iblis atau manusia, apa pun juga
Tiada ombak yang bisa tenggelamkan bahtera saat
Sang Penguasa lautan, bumi, dan langit hadir di dalamnya. —Baker
Tak perlu kita berseru kencang; Dia lebih dekat daripada yang kita pikirkan. —Brother Lawrence

Wednesday, October 1, 2014

Kekuatan Ritual

KomikStrip-WarungSateKamu-20141001-Ritual-Sebelum-Tidur
Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! —1 Korintus 11:24
Kekuatan Ritual
Pada masa kanak-kanak saya, salah satu peraturan di dalam keluarga kami adalah kami tidak boleh tidur dalam keadaan marah (Ef. 4:26). Semua pertengkaran dan perselisihan di antara kami harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum kami tidur. Peraturan itu juga disertai suatu ritual sebelum tidur: Ayah dan Ibu akan mengucapkan kepada saya dan saudara saya, “Selamat tidur. Ayah/Ibu sayang padamu.” Dan kami akan membalas, “Selamat tidur. Aku juga sayang Ayah/Ibu.”
Nilai ritual dalam keluarga itu baru-baru ini begitu membekas di hati saya. Ketika ibu saya terbaring sekarat di rumah sakit karena kanker paru-paru, lambat laun tanggapan fisiknya semakin lemah. Namun setiap malam saat saya hendak beranjak dari sisi tempat tidurnya, saya biasa berucap, “Aku sayang Ibu.” Meski Ibu tidak dapat banyak berbicara, ia akan membalas, “Aku juga sayang padamu.” Saat masih kecil, saya tidak pernah membayangkan bahwa ritual tersebut akan menjadi begitu berharga untuk saya bertahun-tahun kemudian.
Waktu dan pengulangan dapat merenggut makna dari ritual-ritual yang kita lakukan. Namun ada ritual-ritual yang dapat mengingatkan kita pada kebenaran-kebenaran rohani yang teramat penting. Umat percaya pada abad pertama pernah menyalahgunakan praktik Perjamuan Kudus, tetapi Rasul Paulus tidak memerintahkan mereka untuk berhenti melakukannya. Sebaliknya ia menyatakan kepada mereka, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:26).
Daripada menghentikan ritual, mungkin yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan ritual itu kepada makna sesungguhnya. —JAL
Tuhan, ketika kami menerima Perjamuan Kudus, tolong kami
untuk terhindar dari sikap yang membiarkan ibadah kami
menjadi sekadar rutinitas. Kiranya kami selalu tergerak
oleh rasa syukur akan indahnya ritual yang Engkau karuniakan.
Ritual apa pun dapat kehilangan maknanya, tetapi hal itu tidak menjadikannya sia-sia.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate