Pages - Menu

Thursday, April 30, 2020

Benar-benar Merdeka

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.—Yohanes 8:36
Benar-benar Merdeka
Film berjudul Amistad bercerita tentang sekelompok budak dari Afrika Barat yang pada tahun 1839 mengambil alih kapal yang sedang membawa mereka, lalu membunuh kapten dan beberapa anak buahnya. Pada akhirnya, mereka semua tertangkap kembali, ditahan, dan diadili. Adegan paling mengesankan terjadi dalam ruang sidang, ketika Cinqué, pemimpin para budak, memohon kebebasan mereka dengan begitu gigih. Seruan “Bebaskan kami!” diucapkan berulang-ulang oleh laki-laki yang terbelenggu itu dalam lafal yang tidak sempurna tetapi dengan intensitas yang makin kuat hingga membuat seluruh pengunjung ruang sidang terdiam. Keadilan pun ditegakkan dan para budak itu dibebaskan.
Kebanyakan orang pada masa kini tidak lagi terancam oleh belenggu fisik, tetapi belum mengalami kebebasan sejati dari belenggu jiwa yang disebut dosa. Perkataan Yesus dalam Yohanes 8:36 menawarkan jalan keluar yang indah: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Yesus menyebut diri-Nya sendiri sebagai sumber kebebasan yang sesungguhnya karena Dia menawarkan pengampunan kepada siapa saja yang percaya kepada-Nya. Walaupun beberapa orang yang ada di sekitar Yesus saat itu mengaku sebagai orang merdeka (ay.33), tetapi perkataan, sikap, dan perilaku mereka terhadap Yesus menyatakan hal yang sebaliknya.
Yesus rindu mendengar mereka menggemakan permohonan Cinqué dengan berkata, “Bebaskan kami.” Dengan penuh kasih, Dia menantikan seruan orang-orang yang masih terbelenggu oleh ketidakpercayaan, ketakutan, atau kegagalan. Sesungguhnya hati kitalah yang butuh dimerdekakan. Kemerdekaan tersebut tersedia bagi mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang pernah datang ke dunia untuk menghancurkan kekuatan dosa atas kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya.—Arthur Jackson
WAWASAN
Debat tentang identitas Yesus yang dimulai di Yohanes 7:25-27 dan apakah Dia Mesias semakin menghangat dalam pasal 8. Orang-orang bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” (ay.25). Yohanes memberitahu kita bahwa “banyak orang percaya kepada-Nya” (ay.30). Kemudian Yesus menjelaskan identitas murid-murid-Nya yang sejati: mereka yang tidak hanya tahu tentang Yesus, namun juga yang menaati-Nya (ay.31). Yesus juga memperingatkan orang-orang Yahudi bahwa status istimewa mereka sebagai umat pilihan Allah dan warisan keturunan Abraham telah membutakan mereka. Mereka menolak melihat bahwa mereka adalah budak dosa juga (ay.31-36). Hanya dengan menerima dan percaya kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias mereka—bahwa Dialah “jalan dan kebenaran dan hidup” (14:6)—baru mereka akan benar-benar merdeka. “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (8:36).—K.T. Sim
Bagaimana Yesus telah memerdekakan kamu? Apa yang dapat kamu ceritakan kepada orang lain tentang kuasa Allah yang sanggup memerdekakan kita?
Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya bahwa Engkau sanggup memerdekakan kami.

Wednesday, April 29, 2020

Tepat di Sisimu

Tuhan Allah kita dekat kepada kita. Ia menjawab kapan saja kita berseru minta tolong kepada-Nya.—Ulangan 4:7 BIS
Tepat di Sisimu
Setiap hari, para petugas kantor pos di Yerusalem menyortir tumpukan surat yang tidak bisa terkirim untuk mencari mana saja surat yang masih bisa diantarkan ke tujuan. Namun, banyak yang akhirnya masuk ke dalam kotak bertuliskan “Surat untuk Tuhan.”
Setiap tahun sekitar 1.000 pucuk surat seperti itu sampai ke Yerusalem dan dialamatkan kepada Allah atau Yesus. Surat-surat itu lalu dibawa seorang pegawai kantor pos ke Tembok Ratapan di Yerusalem untuk diselipkan pada tembok-tembok bersama surat-surat doa lainnya. Sebagian besar surat berisi permohonan pekerjaan, jodoh, atau kesehatan. Ada juga yang isinya meminta pengampunan, atau sekadar mengucap syukur. Bahkan ada surat permohonan seorang suami yang meminta kepada Allah agar almarhumah istrinya dapat menemuinya dalam mimpi karena ia rindu bertemu dengannya. Para pengirim surat percaya Allah akan mendengar doa mereka, seandainya Dia bisa dijangkau.
Dalam perjalanan melintasi padang gurun, orang Israel mempelajari bahwa Allah mereka tidaklah sama dengan sesembahan lain pada masa itu—dewa-dewa yang jauh, tidak bisa mendengar, terikat oleh lokasi, dan hanya bisa ditemui lewat perjalanan ziarah atau lewat surat. “Tuhan Allah kita dekat kepada kita. Ia menjawab kapan saja kita berseru minta tolong kepada-Nya” (Ul. 4:7 BIS). Adakah bangsa lain yang dapat mengatakan itu tentang Allah mereka? Sungguh ini kabar yang revolusioner!
Allah tidak tinggal di Yerusalem. Dia dekat dengan kita, di mana pun kita berada. Ada sebagian orang yang masih perlu mengetahui kebenaran yang radikal ini. Seandainya surat-surat itu bisa dibalas, inilah jawabannya: Allah tepat di sisimu . Berbicaralah langsung dengan-Nya. —Sheridan Voysey
WAWASAN
Ulangan 4:5-8 hadir ketika Musa baru saja menceritakan kekecewaan terbesar dalam hidupnya yang panjang. Allah mencegah Musa memasuki Tanah Perjanjian karena kegagalannya menahan amarah terhadap umat Israel (3:23-27; juga dalam Bil. 20:1-3). Walaupun sedih, Musa terus melayani Allah dengan menasihati bangsa-Nya bahkan saat ia sedang mengalihkan kepemimpinannya kepada Yosua. Di sini Musa menekankan keistimewaan Israel. “Bangsa besar (lain) manakah?” tanya Musa secara retoris (Ul. 4:7-8). Lagi pula, Allah telah memilih bangsa ini untuk menjadi harta kesayangan-Nya sendiri (lihat Kel. 19:5; Ul. 14:2; 26:18). Mereka yang mengikut Yesus adalah juga kesayangan Allah dan dikhususkan bagi Dia. Petrus mengingatkan kita, “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Ptr. 2:9).—Tim Gustafson
Kita sungguh diberkati karena dapat datang kepada Allah di dalam doa. Bagaimana cara kamu untuk tidak menyia-nyiakannya? Dalam hidupmu, siapakah yang perlu mengetahui bahwa Allah siap mendengar doa-doa mereka?
Ya Allah, Engkau jauh lebih besar dari alam semesta tetapi begitu dekat dengan kami. Terima kasih karena Engkau mempedulikan kami dan menanggapi setiap doa kami.

Tuesday, April 28, 2020

Mari Memuji!

Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai.—Mazmur 67:5
Mari Memuji!
Setiap kali alarm ponselnya berbunyi pada pukul 3.16 sore, Shelley berhenti dari kesibukannya dan mengambil waktu untuk memuji Allah. Ia mengucap syukur kepada Allah dan menyebutkan semua kebaikan-Nya. Meskipun ia terbiasa berkomunikasi dengan Allah sepanjang hari, Shelley senang meluangkan waktu khusus tersebut karena hal itu menolongnya menikmati hubungan yang akrab dengan Allah.
Terinspirasi oleh kesetiaannya yang penuh sukacita, saya pun bertekad mengambil waktu khusus setiap hari untuk bersyukur kepada Kristus atas pengorbanan-Nya di kayu salib dan juga mendoakan mereka yang belum percaya. Saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila semua orang percaya mau berhenti sejenak dari kesibukan mereka untuk memuji Allah dengan cara mereka masing-masing dan tekun mendoakan orang lain setiap hari.
Gambaran indah tentang gelombang pujian yang mengalir sampai ke ujung-ujung bumi bergema lewat kata-kata dalam Mazmur 67. Pemazmur memohon belas kasihan Allah dan menyatakan kerinduannya agar nama Allah dikenal di antara segala bangsa (ay.2-3). Ia bernyanyi, “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu” (ay.4). Ia bersukacita karena pemerintahan Allah yang adil dan tuntunan-Nya yang setia (ay.5). Sebagai saksi hidup atas kasih Allah yang besar dan berkat-Nya yang berlimpah, pemazmur memimpin umat Allah untuk menaikkan puji-pujian syukur yang gembira (ay.6-7).
Kesetiaan Allah yang tak berkesudahan kepada anak-anak-Nya yang terkasih mengilhami kita untuk memuji Dia. Saat kita melakukannya, orang lain dapat mengikuti kita untuk mempercayai-Nya, menghormati-Nya, mengikuti-Nya, dan mengakui-Nya sebagai Tuhan atas hidup mereka.—Xochitl Dixon
WAWASAN
Mazmur 67 adalah doa yang membawa berkat Allah untuk Abraham dalam Kejadian 12:1-3 dan berkat Harun pada Bilangan 6:24-27 (“TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau…”). Karena nyanyian ini menekankan pada hasil tanah sebagai berkat Allah (Mazmur 67:7), maka mazmur ini mungkin disusun untuk digunakan selama perayaan panen seperti Hari Raya Pondok Daun. Biasanya, dalam Perjanjian Lama kata yang diterjemahkan sebagai “bangsa” (Ibrani ‘am) mengacu terutama pada bangsa Israel; namun, Mazmur 67 mengisyaratkan bahwa berkat Allah pada “suku-suku bangsa” menjangkau hingga ke luar Israel dan kepada “bangsa-bangsa” (ay.4) dan dengan tegas menekankan lingkup universal dari kebaikan Allah. Melalui kebaikan Allah pada umat-Nya, Dia dikenal dan ditinggikan di seluruh bumi (ay.3), sebagaimana yang dijanjikan Allah pada Abraham.—Monica Brands
Dapatkah kamu meluangkan waktu beberapa menit hari ini untuk memuji Allah? Hal apa saja yang dapat kamu syukuri?
Allahku, Engkau layak menerima segala pujian kami!

Monday, April 27, 2020

Mengarungi Air

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau.—Yesaya 43:2
Mengarungi Air
Film The Free State of Jones yang mengambil latar belakang Perang Saudara Amerika Serikat berkisah tentang Newton Knight dan para desertir dari pihak Konfederasi serta para budak yang membantu pasukan Union dan kemudian menentang para pemilik budak setelah perang usai. Banyak yang menghormati Knight sebagai pahlawan, tetapi hidupnya sendiri harus diselamatkan dahulu oleh dua orang budak setelah ia desersi. Mereka membawanya jauh ke pelosok rawa yang terpencil lalu mengobati kakinya yang terluka sewaktu ia membelot dari pasukan Konfederasi. Seandainya kedua budak itu mengabaikannya, ia pasti sudah mati.
Bangsa Yehuda juga terluka dan putus asa karena tidak berdaya menghadapi musuh. Israel telah ditumbangkan oleh Asyur, dan Nabi Yesaya menubuatkan bahwa suatu hari nanti Yehuda juga akan ditaklukkan oleh musuh, yakni kerajaan Babel. Yehuda membutuhkan Allah yang mau menolong, yang akan menyelamatkan dan tidak akan meninggalkan mereka. Bayangkanlah betapa besarnya harapan yang timbul ketika mereka mendengar kepastian dari Allah: ”Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau” (Yes. 43:5). Apa pun musibah atau masalah yang akan mereka hadapi, Dia akan selalu menyertai mereka. Dia akan “menyeberang melalui air” bersama mereka dan membawa mereka ke tempat yang aman (ay.2). Allah akan “berjalan melalui api” bersama mereka untuk menolong mereka melewati api yang menghanguskan (ay.2).
Di sepanjang Kitab Suci, Allah berjanji menyertai umat-Nya. Dia akan menjaga kita, menuntun kita, dan tidak akan pernah meninggalkan kita—dalam hidup maupun mati kita. Ketika kamu berada di tempat-tempat yang sulit, Allah menyertaimu. Dia akan menolongmu menyeberang.—Winn Collier
WAWASAN
Dengan latar belakang penyerbuan Asyur (Yes. 10:3-6) serta kehancuran dan pengasingan oleh Babel (39:6-7), Allah meyakinkan umat Yehuda dengan berkata, “Janganlah takut!” (43:1). Allah mengingatkan bahwa mereka adalah umat pilihan-Nya dan memiliki hubungan pribadi yang istimewa dengan-Nya: “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (ay.1). Allah juga dalam beberapa kesempatan meneguhkan kasih dan perlindungan-Nya: Dia menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Pelindung (ay.1-4) dan mendeklarasikan, “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, yang Mahakudus, Allah Israel” (ay.3). Umat Allah tidak perlu takut terhadap bangsa Asyur atau Babel karena mereka sangat dikasihi Allah (ay.4). Sungguh bodoh bila mereka menggantungkan kelepasan mereka kepada yang lain selain Allah (31:1). Yesaya memanggil mereka agar bertobat dan “kembali kepada TUHAN… sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya” (55:7).—K.T.Sim
Hal apa yang sedang mengancam untuk menenggelamkanmu? Bagaimana janji penyertaan Allah dapat menguatkan hatimu hari ini?
Ya Allah, alangkah dalamnya air yang sedang kuhadapi saat ini, dan aku tidak yakin dapat menyeberanginya. Terima kasih karena Engkau berjanji menyertaiku dan membawaku melewatinya bersama-Mu!

Sunday, April 26, 2020

Nyanyian Bapa Kita

Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.—Zefanya 3:17
Nyanyian Bapa Kita
Sahabat saya, Dandy, senang menyemangati orang lewat nyanyian. Suatu hari kami sedang makan siang di restoran favoritnya ketika ia menyadari bahwa seorang pelayan restoran sedang bersusah hati. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada pelayan itu dan mulai menyanyikan lagu yang bernada ceria untuk menyemangatinya. “kamu baik sekali, Pak. Saya benar-benar terhibur. Terima kasih banyak,” kata pelayan itu sambil tersenyum lebar dan menuliskan pesanan kami.
Dalam kitab Zefanya kita menemukan bahwa Allah senang bernyanyi. Lewat kata-katanya, Nabi Zefanya dengan lihai menggambarkan Allah sebagai musisi yang senang bernyanyi untuk dan bersama anak-anak-Nya. Ia menulis bahwa Allah akan “bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai” (3:17). Allah berjanji akan selalu menyertai mereka yang telah diubahkan oleh belas kasihan-Nya. Namun, tidak sampai di situ saja! Dia juga mengajak umat-Nya, “bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati” (ay.14).
Sungguh tak terbayangkan apa yang akan terjadi ketika kelak kita berjumpa dengan Allah bersama dengan semua orang yang telah mempercayai Yesus sebagai Juruselamat mereka. Akan sangat menakjubkan mendengar Bapa kita di surga bersorak-sorai sambil bernyanyi untuk dan bersama kita yang merasakan kasih, perkenanan, dan penerimaan-Nya.—Estera Pirosca Escobar
WAWASAN
Bukan hal yang aneh lagi bila pembaca Alkitab kebingungan membaca nubuatan Zefanya yang singkat namun kuat—kitab kesembilan dari dua belas kitab nabi yang pendek (Nabi-nabi Kecil) dalam Perjanjian Lama. Zefanya (namanya berarti “Tuhan menyembunyikan” atau “ia yang disembunyikan oleh Tuhan”) adalah nabi yang hidup pada masa pemerintahan Raja Yosia (640–609 SM; Zef. 1:1). Tema yang dominan dalam kitab itu adalah penghakiman yang jangkauannya luas—penghakiman yang mencakup umat Allah: “ ‘Aku akan melenyapkan manusia dari atas muka bumi, demikianlah Firman Tuhan. Aku akan mengacungkan tangan-Ku terhadap Yehuda dan terhadap segenap penduduk Yerusalem’ “ (1:3-4). Istilah “hari TUHAN” (1:7)—saat terjadinya perhitungan Ilahi yang menjangkau secara luas terhadap kejahatan—digunakan selama tujuh kali dalam kitab ini, lebih banyak dari yang digunakan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama lainnya. Namun, kitab ini diakhiri dengan sebuah catatan tentang harapan dan penyelamatan (3:14-20).—Arthur Jackson
Bagaimana cara kamu merayakan kasih Allah bagimu? Lagu apa yang Dia nyanyikan untuk dan bersamamu hari ini?
Bapa, kami tahu bahwa karena kesetiaan kami kepada Yesus, Engkau tidak hanya menerima kami tetapi juga bersukacita bersama kami dan berkenan atas kami, anak-anak-Mu. Terima kasih untuk kasih-Mu.

Saturday, April 25, 2020

Berani Menghadapi Tantangan

Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.—2 Raja-Raja 6:17
Berani Menghadapi Tantangan
Tom mengejar anak-anak muda yang baru saja mencuri sepeda temannya. Ia tidak punya rencana apa-apa. Pokoknya ia ingin mengambil kembali sepeda itu. Namun, yang mengejutkan, ketiga pencuri itu melihat ke arahnya, menjatuhkan sepeda itu, dan kabur. Tom merasa lega sekaligus kagum pada dirinya sendiri. Saat mengambil sepeda tersebut dan membalikkan badannya, ia pun melihat Jeff, seorang teman berotot kekar yang dari tadi membuntutinya.
Bujang Elisa sempat panik ketika melihat kotanya dikepung oleh sepasukan tentara musuh. Ia berlari mendapati Elisa dan berkata, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Elisa meyuruhnya tenang, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka”. Lalu Allah membuka mata pelayan itu dan ia pun melihat “gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa” (ay.15-17).
Dalam hidup mengikut Yesus, adakalanya kamu berada dalam situasi yang serba tidak pasti. Mungkin kamu harus mempertaruhkan reputasi, bahkan mungkin juga rasa aman, karena kamu bertekad melakukan hal yang benar. Mungkin kamu juga kurang tidur karena gelisah memikirkan hasil akhirnya. Ingatlah, kamu tidak sendirian. kamu tidak perlu menjadi lebih kuat atau lebih pintar daripada tantangan yang sedang kamu hadapi. Tuhan Yesus menyertai kamu, dan kuasa-Nya lebih besar daripada musuh apa pun. Tanyakanlah pertanyaan Paulus ini kepada dirimu sendiri: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31). Ya, siapa? Tidak ada. Karena itu, bersama Allah, beranilah menghadapi tantangan di depanmu.—Mike Wittmer
WAWASAN
Perikop hari ini menggambarkan realita menakjubkan tentang dunia yang memiliki dimensi fisik yang terlihat maupun dimensi rohani yang (lebih seringnya) tidak terlihat. Bujang Elisa panik karena ia tidak dapat melihat bala tentara yang mengelilingi mereka—“kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa” (2 Raj. 6:17). Hal ini berlawanan dengan respon tenang Elisa ketika ia meminta Allah membuka mata bujangnya. Tidak diketahui bagaimana respon bujang itu setelah mendapatkan penglihatan baru. Penulis memperlihatkan kepada pembaca, tanpa memberitahu secara spesifik, apa yang dapat terjadi ketika kita hanya berfokus pada satu realita saja. Ketika kita takut, kita harus ingat bahwa kita tidak selalu melihat bagaimana Allah menolong dan melindungi kita.—J.R. Hudberg
Hal apa saja yang membuatmu gelisah? Bagaimana kamu dapat menyerahkan kekhawatiranmu kepada Allah?
Mampukan aku, ya Tuhan Yesus, untuk benar-benar melihat bahwa Engkau lebih besar daripada masalah apa pun yang kuhadapi hari ini. Terima kasih karena Engkau selalu menyertaiku!

Friday, April 24, 2020

Selaras dengan Allah

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!—Roma 11:33
Selaras dengan Allah
Suatu malam, saya masih terjaga dengan rasa cemas, berjalan mondar-mandir dan mencoba berdoa. Jujur saja, sikap doa saya saat itu bukan sedang berserah kepada Allah, melainkan marah dan mempertanyakan Dia. Tak kunjung lega, saya pun duduk dan memandang ke luar jendela ke arah langit malam. Tiba-tiba saja mata saya tertuju kepada Sabuk Orion—tiga bintang dalam posisi berjajar lurus sempurna yang terlihat jelas pada langit yang cerah. Dalam pemahaman astronomi yang terbatas, saya tahu bahwa ketiga bintang itu terpisah ratusan tahun cahaya.
Saya menyadari bahwa jika saya bisa mendekati bintang-bintang itu, akan terlihat jelas bahwa sebenarnya bintang-bintang itu tidak persis sejajar. Meski demikian, jika dilihat dari jauh, bintang-bintang itu terlihat seperti ditata begitu rapi di angkasa. Pada saat itulah, saya menyadari bahwa saya terlalu dekat dengan hidup saya sendiri untuk dapat melihat apa yang Allah lihat. Dalam gambar besar-Nya, semuanya berada dalam keadaan selaras sempurna.
Setelah menjabarkan maksud-maksud Allah yang agung, Rasul Paulus pun menaikkan kidung pujian bagi-Nya (Rm. 11:33-36). Kata-katanya membawa kita memandang kepada Allah yang berdaulat, yang jalan-jalan-Nya tak terselami oleh kemampuan kita yang terbatas (ay.33). Namun, Pribadi yang memegang kendali atas segala sesuatu di bumi dan di surga itu terlibat secara dekat dan penuh kasih dalam setiap aspek kehidupan kita (Mat. 6:25-34; Kol. 1:16).
Sekalipun ada hal-hal yang terasa membingungkan, ingatlah bahwa Allah sedang menggenapi rencana-Nya yang mulia bagi kebaikan kita dan untuk hormat kemuliaan-Nya.—Evan Morgan
WAWASAN
Paulus bukanlah penulis Alkitab pertama yang berbicara tentang Allah yang tidak dapat dipahami—bahwa Dia berada di luar jangkauan pemikiran manusia yang terbatas (Rm. 11:33-36). Dua ribu tahun sebelumnya, Ayub (yang dipercaya hidup sezaman dengan Abraham) bertanya, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (11:7). Yesaya juga mengakui bahwa Allah tidak dapat dipahami oleh akal manusia (Yes. 55:8-9). Namun Allah mau kita mengenal Dia dan berkata, “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN” (Yer. 24:7). Bertahun-tahun kemudian, Rasul Yohanes memberitahu bagaimana kita mengenal Dia: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Mengenal Yesus berarti mengenal Allah. Yesus berkata, “Jika sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku” (8:19; lihat juga 17:3).—K.T.Sim
Pertanyaan apa saja yang kamu rindu dijawab oleh Allah? Bagaimana kamu dapat merasakan kelegaan dan kelepasan di dalam iman yang meyakini bahwa cara pandang Allah atas hidup kita sesungguhnya selaras dengan maksud-Nya yang agung?
Ya Allah, ingatkan aku bahwa segala maksud dan rencana-Mu bagi kehidupanku sungguh jauh melampaui pemahamanku. Bantulah aku untuk mengandalkan Engkau.

Thursday, April 23, 2020

Angsa yang Memilukan

Bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.—Pengkhotbah 4:12
Angsa yang Memilukan
Mengapa ada bola di lapangan parkir? tanya saya dalam hati. Namun, setelah lebih dekat, saya baru menyadari bahwa benda keabu-abuan itu bukanlah bola melainkan seekor angsa Kanada berkepala hitam yang keadaannya sangat memilukan.
Pada musim semi dan gugur, kawanan angsa suka berkumpul di lapangan dekat tempat kerja saya. Namun, hari ini hanya ada seekor, dengan leher yang melengkung dan kepala yang diselipkan di balik sayap. Mana teman-temanmu? pikir saya. Angsa yang malang itu sendirian. Ia terlihat begitu kesepian, sehingga saya ingin sekali memeluknya. (Catatan: jangan coba-coba).
Jarang sekali saya melihat seekor angsa yang betul-betul sendirian seperti sobat berbulu yang satu ini. Pada dasarnya angsa adalah hewan yang hidup berkelompok dan suka terbang bersama-sama dalam formasi huruf V untuk melawan tiupan angin. Angsa memang diciptakan untuk hidup bersama-sama.
Sebagai manusia, kita juga diciptakan untuk hidup berkomunitas (lihat Kej. 2:18). Salomo menggambarkan betapa rentannya kita saat sendirian: “Sungguh malang bagi orang yang jatuh tanpa ada orang lain untuk membangunkannya” (Pkh. 4:10 FAYH). Kehadiran seorang teman membawa kekuatan, tambahnya, karena “bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (ay.12).
Itu benar secara rohani maupun jasmani. Allah tidak pernah memaksudkan kita “terbang” sendirian, terkucil tanpa teman. Hubungan dengan sesama dibutuhkan agar kita dikuatkan, disegarkan, dan bertumbuh (lihat juga 1 Kor. 12:21).
Bersama, kita dapat berdiri teguh melawan tiupan angin hidup yang keras. Bersama. —Adam Holz
WAWASAN
Penulis kitab Pengkhotbah menggunakan berbagai ilustrasi praktis untuk menunjukkan pentingnya persahabatan. Melihat Pengkhotbah 4:9, kita belajar bahwa berdua akan “menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” Ayat ini merujuk kembali pada ayat 8 yang menjelaskan betapa tidak berarti dan menyedihkan berjerih lelah untuk diri sendiri. Berdua tidak hanya menghasilkan upah yang baik, tapi juga mereka dapat saling menolong dalam berbagai cara. Pada ilustrasi tentang satu orang yang terjatuh, banyak komentator percaya bahwa ini merupakan gambaran kejatuhan yang serius (ay.10). Pada masa itu, orang biasa menggali lubang dan kemudian menutupnya untuk menjebak binatang. Jatuh ke dalamnya dapat menyebabkan cedera dan berada di dalamnya terus sendirian dapat menyebabkan kematian. Terlebih lagi, situasi jalan di kawasan Timur Dekat pada masa itu berbahaya, sehingga dua orang lebih baik dalam menghadapi perompak dan serangan-serangan lain. Kesimpulan penulis bahwa “tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (ay.12) menekankan pentingnya memiliki teman atau sahabat.—Julie Schwab
Keadaan seperti apa yang menggoda kamu untuk menghadapinya sendirian? Adakah seseorang yang kamu pikir sedang memerlukan penguatan dari kamu?
Ya Allah, ingatkan kami bahwa Engkau memaksudkan kami untuk terbang bersama saudara-saudara dalam Kristus, bukan sendirian. Tolong kami melihat dan menolong seseorang yang butuh dikuatkan.

Wednesday, April 22, 2020

Persediaan yang Berlimpah

Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar.—Mazmur 104:25
Persediaan yang Berlimpah
Pada pukul dua dini hari, seorang peternak teripang bernama Nadia berjalan menuju suatu kandang di laut dangkal dekat desanya di Madagaskar untuk mengambil “hasil panennya.” Meski saat itu dini hari, ia tidak peduli. “Sebelum beternak, hidup saya sangat susah,” katanya. “Saya tidak punya penghasilan sama sekali.” Sekarang, sebagai anggota sebuah program perlindungan laut bernama Velondriake, yang berarti “hidup bersama laut,” penghasilan Nadia semakin bertambah dan stabil. “Kami bersyukur kepada Tuhan untuk proyek ini,” ia menambahkan.
Proyek tersebut sebagian besar dimungkinkan karena alam ciptaan Allah menyediakan apa yang dibutuhkan, yakni pasokan kehidupan laut yang alami. Dalam pujiannya kepada Allah yang menyediakan segala sesuatu, pemazmur menulis, “Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia” (Mzm. 104:14). Ia juga berkata, “Lihatlah laut itu, . . . di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar” (ay.25).
Memang luar biasa bagaimana ciptaan Allah yang menakjubkan dapat memenuhi kebutuhan kita. Contohnya, teripang membantu membentuk rantai makanan yang sehat di dalam laut. Kemudian, teripang yang dipanen dengan hati-hati itu memberikan penghasilan bagi Nadia dan tetangga-tetangganya.
Allah tidak menciptakan dunia dengan tanpa tujuan. Dia memakai semuanya untuk kemuliaan-Nya dan juga kebaikan kita. Jadi, “Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup,” kata pemazmur (ay.33). Kita juga dapat memuji-Nya hari ini sambil merenungkan semua yang telah Dia sediakan.—Patricia Raybon
WAWASAN
Walaupun pemazmur di Mazmur 104 menyebut berbagai makhluk di darat, langit, dan laut, namun hanya satu yang disebut namanya—Lewiatan (ay.26). Ada lima kali—salah satunya di mazmur ini—Lewiatan disebut dalam Alkitab (lihat juga Ayb. 3:8; 40:20–41:25 (TB); Mzm. 74:14; Yes. 27:1). Siapa atau apakah Lewiatan? Semua sumber referensi tersebut ada dalam ayat-ayat yang puitis itu, dan Lewiatan ditulis dalam peran harafiah dan kiasan. Di Mazmur 104, Lewiatan adalah makhluk laut: “Lihatlah laut itu . . . dan Lewiatan yang telah Kau bentuk untuk bermain dengannya” (ay.25-26). Demikian juga di Ayub 40 dan 41, Lewiatan digambarkan sebagai hewan laut yang besar dan menakutkan (41:22-25). Di sisi lain, referensi seperti Mazmur 74:14 dan Yesaya 27:1 secara kiasan menggambarkan Lewiatan sebagai ancaman bagi umat Allah dan ditandai untuk ditumbangkan oleh Yang Maha Kuasa.—Arthur Jackson
Bagaimana cara Allah menyediakan kebutuhan kamu melalui alam ciptaan-Nya? Bagaimana kamu dapat bersyukur kepada-Nya untuk hal tesebut hari ini?
Ya Allah Pencipta, sungguh kami dibuat kagum oleh karya ciptaan-Mu yang berlimpah dan cara-Mu menyediakan segala kebutuhan kami.

Tuesday, April 21, 2020

Berteman Lagi

Lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!—Roma 5:10
Berteman Lagi
Suatu hari seorang ibu dan putrinya yang masih kecil duduk di dalam gereja. Pada kebaktian hari itu, dibuka kesempatan bagi jemaat yang rindu menerima pengampunan Allah untuk maju ke depan. Setiap kali ada orang yang maju ke depan, si gadis kecil bertepuk tangan. “Maafkan saya,” kata sang ibu kepada pemimpin gereja. “Saya menjelaskan kepada putri saya bahwa pertobatan membuat kita berteman lagi dengan Tuhan. Karena itu, setiap kali ada yang maju, ia bertepuk tangan dengan senang.”
Penjelasan yang cukup sederhana bagi seorang anak kecil itu merupakan penjelasan yang baik tentang Injil. Dahulu kita musuh Allah, tetapi kini telah diperdamaikan dengan-Nya melalui kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 5:9-10). Sekarang kita benar-benar menjadi sahabat Allah. Karena kita yang memutuskan hubungan pertemanan itu (ay.8), pertobatan menjadi bagian yang harus kita lakukan untuk melengkapi proses pemulihan tersebut. Respons yang ditunjukkan gadis kecil itu sangat pantas. Karena seluruh surga bersukacita ketika ada satu orang yang bertobat (Luk. 15:10), gadis kecil itu tanpa sadar juga menggaungkan sorak-sorai surgawi.
Yesus menggambarkan karya pendamaian-Nya dengan istilah yang serupa. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Berkat pengorbanan Sang Sahabat itu bagi kita, kini kita dapat bersahabat kembali dengan-Nya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, . . . tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yoh. 15:15).
Dahulu kita musuh Allah, tetapi kini sahabat Allah. Alangkah luar biasa! Sungguh pantas kita bersorak-sorai!—Sheridan Voysey
WAWASAN
Rekonsiliasi memulihkan mereka yang selama ini terasingkan. Paulus satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang memakai kata memperdamaikan (rekonsiliasi), seringkali memakainya berulang kali dalam sebuah perikop; contohnya, kata itu dipakainya tiga kali di Roma 5:10-11. Ia juga menggunakan kata serupa di Roma 11:15, 2 Korintus 5:18-19, dan 1 Korintus 7:11 (berkaitan dengan rekonsiliasi antar manusia). Perikop hari ini memberikan perhatian kepada kematian Yesus yang diperlukan bagi pendamaian kita dengan Allah. Pendamaian kita melalui kematian-Nya membawa kita pada keselamatan melalui kehidupan-Nya. Paulus menulis, “Lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5:10). Perhatikanlah terdapat dua penanda waktu berbeda yang dipakai: kita telah diperdamaikan dan kita akan diselamatkan. Paulus berkata bahwa keduanya, kematian dan hidupNya setelah kebangkitan, diperlukan untuk keselamatan kita.—J.R. Hudberg
Seberapa sering kamu menggambarkan hubunganmu dengan Allah sebagai suatu persahabatan? Dalam istilah praktis, bagaimana persahabatanmu dengan-Nya hari ini?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau mencintaiku ketika aku masih menjadi musuh-Mu. Aku bertobat dari segala sesuatu yang mengecewakan-Mu dan bersyukur dapat menjadi sahabat-Mu.

Monday, April 20, 2020

Revolusi Bernyanyi

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!—Mazmur 42:6
Revolusi Bernyanyi
Faktor apa yang bisa memicu bangkitnya revolusi? Senjata? Bom? Perang gerilya? Di Estonia pada akhir dekade 1980-an, lagulah pemicunya. Setelah berdekade-dekade warga Estonia hidup di bawah pendudukan Soviet, muncul pergerakan yang dimulai dengan menyanyikan serangkaian lagu-lagu patriotik. Lagu-lagu tersebut melahirkan “Revolusi Bernyanyi,” yang kemudian memainkan peran kunci dalam memulihkan kemerdekaan Estonia pada tahun 1991.
“Ini adalah revolusi damai yang menggulingkan pendudukan yang sangat kejam,” demikian keterangan pada sebuah situs yang menjelaskan pergerakan itu. “Namun, bernyanyi selalu menjadi kekuatan pemersatu utama bagi rakyat Estonia selama lima puluh tahun berada di bawah kekuasaan Soviet.”
Musik juga berperan penting untuk membantu kita melewati masa-masa sulit. Saya bertanya-tanya, mungkinkah hal itu yang membuat kitab Mazmur terasa begitu mengena bagi kita. Di dalam kekelaman jiwanya pemazmur bernyanyi, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mzm. 42:6). Di tengah kekecewaan yang mendalam, Asaf, si pemimpin pujian, mengingatkan dirinya sendiri, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (73:1).
Dalam masa-masa sulit yang kita alami, marilah mengikuti pemazmur untuk merevolusi hati kita dengan bernyanyi. Revolusi seperti itu akan menggantikan keputusasaan dan kegalauan yang meliputi diri kita dengan keyakinan iman pada kasih dan kesetiaan Tuhan yang besar.—Bill Crowder
WAWASAN
Mazmur 42 dan 43 saling berkaitan yang bait-baitnya mengalir mulus dan mungkin saja ditulis sebagai satu nyanyian. Ayat akhir Mazmur 43 mirip dengan Mazmur 42 ayat 6 dan 12. Kedua mazmur ini bagaikan jendela dan dari sana kita bisa melihat ke dalam jiwa manusia ketika emosinya sedang bergumul hebat. Pemazmur berusaha menghadapi krisis pribadinya dengan pertama-tama mengakui bahwa ia sangat membutuhkan Allah. Kemudian ia memaparkan permasalahannya. Ia berada di tempat yang gelap (42:4) maka ia mengingat hari-harinya dulu yang lebih baik (ay.5). Menyadari kebaikan Allah yang diterimanya di masa lalu, ia menantang dirinya sendiri: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? . . . Berharaplah kepada Allah” (ay.6,12; 43:5). Namun berbagai pertanyaan tetap berkecamuk (42:10; 43:2). Dalam pergumulan rohani, kita harus mengakui keadaan emosi kita. Adalah baik bila kita jujur sepenuhnya di hadapan Allah, dan penting bagi kita untuk tetap fokus kepada Dia dalam kesusahan jiwa yang kita alami.—Tim Gustafson
Bagaimana cara kamu merespons persoalan hidup yang bertubi-tubi melandamu? Lagu apa saja yang paling menghibur hatimu dan apa alasannya?
Ya Bapa, aku berterima kasih kepada-Mu karena rahmat-Mu selalu baru tiap pagi dan besar kesetiaan-Mu. Mampukan aku menyanyikan lagu tentang kasih-Mu yang agung—meski kadang harus dengan bersimbah air mata.

Sunday, April 19, 2020

Prediksi yang Salah

Nabi yang mendapat pesan dari Aku haruslah menyampaikan pesan itu dengan sebenarnya.—Yeremia 23:28 BIS
Prediksi yang Salah
Pada tengah hari tanggal 21 September 1938, seorang ahli meteorologi muda memperingatkan Badan Meteorologi AS tentang badai topan yang mengarah ke utara menuju wilayah New England. Namun, kepala lembaga itu mencemooh prediksi Charles Pierce. Baginya tidak mungkin badai tropis akan bergerak hingga sejauh itu ke arah utara.
Namun, dua jam kemudian, badai topan dahsyat pun datang menyapu area Long Island. Pada pukul empat sore, badai tersebut telah sampai di New England dan menghempaskan banyak kapal ke darat serta meruntuhkan bangunan-bangunan ke laut. Korban tewas mencapai lebih dari 600 orang. Seandainya para korban menerima peringatan Pierce—yang dibuat berdasarkan data yang akurat dan peta yang terperinci—mungkin mereka akan selamat.
Kitab Suci menasihati kita untuk mengetahui perkataan siapa yang memang patut didengar. Pada zaman Nabi Yeremia, Allah memperingatkan umat-Nya untuk mewaspadai nabi-nabi palsu. “Jangan dengarkan perkataan para nabi yang selalu hanya memberi harapan yang kosong. Mereka hanya menyampaikan khayalan mereka sendiri dan bukan pesan-Ku” (Yer. 23:16 BIS). Allah berkata tentang mereka, “Andaikata mereka tahu apa yang terkandung dalam pikiran-Ku, tentulah mereka telah menyampaikan kepada umat-Ku segala yang telah Kuucapkan” (ay.22 BIS).
“Nabi-nabi palsu” masih ada. Mereka memberikan nasihat tetapi mengabaikan Allah sama sekali atau memutarbalikkan kata-kata-Nya demi tujuan mereka. Namun, melalui firman dan Roh-Nya, Allah telah memberikan apa yang kita perlukan untuk membedakan yang salah dan yang benar. Ketika kita mengukur segalanya dengan kebenaran firman-Nya, perkataan dan kehidupan kita sendiri akan semakin mencerminkan kebenaran itu kepada orang lain.—Tim Gustafson
WAWASAN
Di Yeremia 23, melalui Nabi Yeremia, Allah menegur para “gembala” (para raja dan imam, ay.1-2) dan nabi-nabi (ay.9-40) karena ketidaktaatan mereka dan karena mereka menyesatkan bangsanya. Para gembala dipanggil untuk menjadi pemimpin kudus yang memimpin dan melindungi; namun, mereka malah menghancurkan dan menyerakkan “kambing domba gembalaan [Allah]” (ay.1). Alih-alih menyampaikan kebenaran Allah, para nabi itu malah “bernubuat demi Baal dan menyesatkan umat-Ku Israel” (ay.13). Mereka “berkelakuan tidak jujur” dan “menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya” (ay.14). Allah mengingatkan umat-Nya untuk tidak mendengarkan nabi-nabi palsu yang tidak berbicara atas nama Allah dan hanya menawarkan “harapan yang sia-sia” (ay.16). Karena menolak mendengar, Yehuda akan diasingkan ke tangan Babel. Namun Allah tidak akan melupakan mereka untuk selama-lamanya (ay.3-8).—Alyson Kieda
Standar apa yang saya gunakan saat memutuskan sesuatu itu benar atau tidak? Adakah yang perlu diubah dari sikap saya terhadap mereka yang tidak sependapat dengan saya?
Ya Allah, begitu banyak orang yang mengaku berbicara atas nama-Mu. Bantu kami mengenali apa yang benar-benar Engkau katakan. Jadikan kami peka kepada Roh-Mu, dan bukan kepada roh dunia ini.

Saturday, April 18, 2020

Merasa Dipedulikan

Tuhan semesta alam menyertai kita.—Mazmur 46:12
Merasa Dipedulikan
Debbie, pemilik sebuah perusahaan jasa pembersihan rumah, selalu mencari klien-klien baru untuk memperbesar usahanya. Suatu kali, wanita yang dihubunginya menanggapi tawarannya dengan berkata, “Saya tidak mampu membayar jasa pembersihan rumah saat ini, karena saya sedang menjalani perawatan kanker.” Seketika itu juga Debbie memutuskan bahwa tidak akan ada wanita yang tidak bisa menikmati jasa pembersihan rumah karena sedang menjalani perawatan kanker. Sebaliknya, mereka akan ditawari jasa pembersihan rumah secara cuma-cuma. Karena itu, pada tahun 2005, Debbie mendirikan organisasi nirlaba untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ingin menyumbangkan jasa pembersihan rumah bagi para wanita yang sedang berjuang melawan kanker. Salah seorang wanita yang dilayani merasa mendapatkan kembali rasa percaya dirinya ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah bersih. Ia berkata, “Untuk pertama kalinya, saya benar-benar yakin saya bisa menang atas kanker.”
Perasaan dipedulikan dan didukung dapat membantu untuk menguatkan kita di hadapan tantangan yang ada. Kesadaran akan kehadiran dan pertolongan Allah dapat sungguh-sungguh membawa harapan yang membesarkan semangat kita. Mazmur 46, suatu mazmur kesukaan banyak orang yang tengah menghadapi pencobaan, mengingatkan kita: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” dan “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! . . . Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! Tuhan semesta alam menyertai kita” (ay.2,11-12).
Mengingatkan diri sendiri akan janji-janji Allah dan kehadiran-Nya dapat menolong untuk memperbarui hati kita dan memberikan kepada kita keberanian serta keyakinan untuk melewati masa-masa sulit.—Anne Cetas
WAWASAN
Menilik bahasa pengantarnya yang bernada suram, mazmur ini kemungkinan ditulis ketika sedang terjadi krisis penting. Namun krisis apa? Banyak sarjana meyakini krisis itu terjadi pada masa pemerintahan Hizkia ketika tentara Asyur mengepung Yerusalem. Meski keadaannya kelihatan gawat bagi umat Allah, namun sesungguhnya kota itu memiliki dua keuntungan yang tidak diketahui oleh orang Asyur. Hizkia telah melindungi mata air Gihon, yang terletak di luar kota, dengan membuat terowongan menembus batu dan mengalirkan airnya ke sebuah sumber air. Kemudian ia menyembunyikan mata air itu. Mata air pemberi hidup ini mungkin menjadi inspirasi bagi ayat ini: “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai” (Mzm. 46:5). Namun, yang paling penting, pemazmur tahu sumber utama keselamatan kota itu. Ada hadirat Allah yang sejati di Yerusalem. Campur tangan Allah yang ajaib atas kota itu berarti penduduknya hanya perlu berdiam dan menantikan kelepasan dari-Nya. Dialah Mata Air yang memelihara kehidupan.—Tim Gustafson
Untuk pencobaan-pencobaan apa saja kamu bergantung pada kekuatan Allah? Ayat-ayat Alkitab mana yang menolongmu?
Aku bersyukur, ya Allah, untuk kehadiran dan janji-janji-Mu. Kiranya aku menunjukkan perilaku yang mempercayai-Mu dan meyakini kesanggupan-Mu untuk menguatkanku.

Friday, April 17, 2020

Sanggup Menolong

Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.—Ibrani 2:18
Sanggup Menolong
Joe mengambil cuti delapan minggu dari pekerjaannya sebagai pekerja sosial di sebuah gereja di kota New York, tetapi bukan untuk berlibur. Kesempatan itu digunakannya, menurut kata-katanya sendiri, untuk “merasakan kembali pengalaman tinggal bersama para tunawisma, menjadi salah satu dari mereka, mengingat bagaimana rasanya lapar, lelah, dan terabaikan.” Kehidupan di jalanan tersebut pernah dialami Joe sembilan tahun sebelumnya, sewaktu ia tiba dari Pittsburgh tanpa pekerjaan dan tempat tinggal. Tiga belas hari lamanya ia menggelandang di jalan, kurang makan dan kurang tidur. Namun, itulah cara Allah menyiapkan dirinya untuk melayani orang-orang yang berkekurangan selama puluhan tahun.
Ketika Yesus datang ke dunia, Dia juga memilih merasakan pengalaman yang sama dengan orang-orang yang ditebus-Nya. “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibr. 2:14). Sejak kelahiran hingga kematian Kristus, tidak ada pengalaman manusiawi yang terlewat oleh-Nya, kecuali dalam hal dosa (4:15). Karena Kristus telah menaklukkan dosa, Dia sanggup menolong kita ketika kita dicobai.
Yesus tidak asing dengan pergumulan kita di dunia ini. Pribadi yang menyelamatkan kita tetap terhubung dengan kita dan sangat mempedulikan kita. Apa pun yang kita alami, kita dapat meyakini bahwa Dia yang menyelamatkan kita dari Iblis, musuh terbesar kita (2:14), selalu siap sedia menolong kita di saat-saat kita paling membutuhkan-Nya.—Arthur Jackson
WAWASAN
Surat Ibrani dalam Perjanjian Baru ditulis agar bangsa Yahudi yang percaya kepada Yesus memahami bahayanya melepaskan diri dari Dia yang telah menyelamatkan mereka dan seluruh umat manusia dari ketakutan akan kematian (2:1,14-15). Hanya Kristus yang sanggup memberi kita keberanian untuk hidup bebas tanpa takut pada kematian. Catatan terbuka tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya sanggup mengatasi gagasan jahat Iblis yang berkata bahwa Allah tidak dapat dipercaya karena Dia tidak sebaik yang Dia mau kita percaya. Penderitaan dan kematian Yesus adalah bukti Allah menyatakan diri-Nya yang penuh belas kasih dan sanggup mengampuni kesalahan terburuk kita. Kebangkitan-Nya dari kematian dan perubahan hidup para saksi-Nya telah membongkar kebohongan yang dipercaya selama ini bahwa setelah nafas kita berakhir, maka semua harapan lenyap.—Mart DeHaan
Yesus menjadi sama seperti kita untuk menyelami pergumulan kita dan menolong kita. Bagaimana kebenaran itu dapat menguatkanmu? Apa pengaruhnya terhadap hidupmu saat ini ketika kamu menyadari bahwa Yesus pernah merasakan pengalaman kita sebagai manusia?
Bapa, tolonglah aku mengingat bahwa Engkau siap menolongku dalam setiap area kehidupanku.

Thursday, April 16, 2020

Lapar akan Allah

Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.—Yeremia 15:16
Lapar akan Allah
Seseorang yang baru percaya kepada Yesus sangat rindu membaca Alkitab. Sayangnya, ia telah kehilangan penglihatan dan kedua tangannya dalam sebuah ledakan bom. Kemudian, ia mendengar tentang seorang wanita yang membaca huruf Braille dengan bibirnya dan ingin mencoba cara tersebut. Akan tetapi, ia mendapati ternyata titik saraf di bibirnya juga sudah rusak. Namun, ia sangat bersukacita ketika mengetahui bahwa ia dapat merasakan huruf-huruf Braille dengan lidahnya! Akhirnya, ia menemukan cara untuk membaca dan menikmati Kitab Suci.
Nabi Yeremia juga sangat girang dan bersukacita ketika ia menerima firman Allah. “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya,” ujarnya, “firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku” (Yer. 15:16). Tidak seperti orang-orang Yehuda yang menolak firman Allah (8:9), Yeremia justru taat dan bersukacita di dalamnya. Namun, ketaatannya juga membuat sang nabi ditolak dan dianiaya oleh bangsanya sendiri (15:17).
Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami kejadian yang mirip dengan Yeremia. Dahulu kita senang membaca Alkitab, tetapi ketaatan kepada Allah membawa penderitaan dan penolakan dari orang lain. Seperti Yeremia, kita boleh membawa pergumulan kita kepada Allah. Dia menjawab Yeremia dengan mengulangi kembali janji yang pernah Dia ucapkan saat pertama kali memanggilnya menjadi nabi (ay.19-21; lihat 1:18-19). Allah mengingatkan Yeremia bahwa Dia tidak pernah mengecewakan umat-Nya. Kita dapat memiliki keyakinan yang sama: Dia setia dan tidak akan pernah meninggalkan kita. —Poh Fang Chia
WAWASAN
Nabi Yeremia dikenal sebagai “nabi yang menangis.” Salah satu alasannya ialah karena ia secara terbuka menangisi saudara-saudaranya orang Yahudi yang menyeleweng dan hukuman yang timbul dari ketidaktaatan mereka. Kata menangis muncul dua belas kali dalam kitab Yeremia, termasuk pasal 9:1: “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!” Yeremia juga mendapatkan julukan ini karena kitab Ratapan yang berisi ratapannya. Di dalamnya, Yeremia menggunakan kata menangis tiga kali, termasuk dalam Ratapan 2:11: “Mataku bengkak karena menangis tanpa henti, jiwaku merana tak terperi. Hatiku hancur melihat keruntuhan bangsa” (BIS).—Bill Crowder
Kapan kamu pernah mengalami sukacita membaca Kitab Suci? Apa yang dapat menolongmu mendapatkan kembali rasa lapar dan hausmu akan Allah?
Allah yang setia, terima kasih karena Engkau sudah berbicara kepadaku melalui ayat-ayat Kitab Suci. Tolonglah aku mencari-Mu dengan sungguh-sungguh dan menaati-Mu dengan setia.

Wednesday, April 15, 2020

Dari Ratapan Kepada Pujian

Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku.—2 Timotius 4:17
Dari Ratapan Kepada Pujian
Dalam sebuah kegiatan amal yang membagikan mantel gratis, anak-anak sangat gembira mencari mantel yang ukuran dan warnanya pas dengan selera mereka. Salah seorang panitia menjelaskan bahwa anak-anak itu menjadi lebih percaya diri dengan mantel baru karena merasa lebih diterima oleh teman-teman dan meningkatkan kehadiran di sekolah saat musim dingin.
Rasul Paulus sepertinya juga membutuhkan mantel, ketika ia memerintahkan Timotius, “Bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus” (2 Tim. 4:13). Di dalam penjara Romawi yang dingin, Paulus tidak saja membutuhkan kehangatan tetapi juga teman. “Tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku,” ratapnya, ketika ia menghadapi pengadilan Romawi (ay.16). Keterusterangan sang misionaris besar tentang kepedihan hatinya membuat hati kita iba.
Namun, dalam kata-kata penutup dari surat Paulus yang terakhir ini—pemikiran akhir setelah perjalanan pelayanan yang luar biasa—ia beralih dari ratapan kepada pujian. “Tetapi Tuhan telah mendampingi aku,” tambahnya (ay.17), dan perkataannya menguatkan hati kita. Paulus menyatakan, “Tuhan memberikan kekuatan sehingga saya sanggup memberitakan seluruh Kabar Baik itu, supaya didengar oleh semua orang bukan Yahudi. Dan saya terlepas dari bahaya kematian” (ay.17 BIS).
Jika kamu sedang menghadapi krisis, bagaikan kekurangan baju hangat untuk melawan hawa dingin atau kehilangan teman-teman dekat yang siap membantu, ingatlah kepada Tuhan. Dia setia untuk membangkitkan, memelihara, dan menyelamatkan kita. Untuk apa? Untuk kemuliaan-Nya dan untuk tujuan kita di dalam Kerajaan-Nya. —Patricia Raybon
WAWASAN
Kitab 2 Timotius ditulis dari Roma ketika Paulus sedang menantikan hukuman mati. Kejelasan akan tanda-tanda kematiannya yang semakin dekat terlihat pada 2 Timotius 4:6: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Nadanya sangat berbeda dengan surat-suratnya di penjara (Efesus, Filipi, Kolose, Filemon) yang dituliskan saat ia menjadi tahanan rumah menantikan pengadilan (lihat Kis. 28:30-31). Perbedaan ini membuat banyak sarjana menganggap Paulus dua kali dipenjara—yang pertama berujung pada pengadilan, dan yang kedua (seperti yang terilihat di sini) berujung pada eksekusi mati.—Bill Crowder
Bagian mana dalam hidup kamu yang membutuhkan kekuatan Allah yang dahsyat dan menghangatkan? Bagaimana cara pandangmu berubah ketika kamu memuji Allah?
Allah kami yang perkasa, ketika situasi hidup membuat kami kewalahan, berdirilah bersama kami, gugahlah jiwa kami untuk memuji-Mu, dan berikanlah kekuatan-Mu agar kami menang.

Tuesday, April 14, 2020

Perkataan yang Menyembuhkan

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.—Amsal 16:24
Perkataan yang Menyembuhkan
Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa perkataan yang menguatkan dari penyedia layanan kesehatan dapat menolong pasien sembuh lebih cepat dari penyakit. Dalam suatu eksperimen, ditaruhlah zat pemicu alergi pada kulit beberapa sukarelawan supaya gatal, lalu reaksi mereka yang menerima kata-kata menguatkan dari dokter dibandingkan dengan mereka yang tidak. Pasien yang menerima kata-kata menguatkan dari dokter menunjukkan kondisi yang lebih baik dan gatal-gatal yang dirasakan tidak separah mereka yang tidak menerima penguatan.
Penulis kitab Amsal mengetahui pentingnya kata-kata yang menguatkan. “Perkataan yang menyenangkan” adalah “obat bagi tulang-tulang,” tulisnya (Ams. 16:24). Dampak positif dari kata-kata tidak terbatas hanya pada kesehatan kita: ketika kita memperhatikan perkataan yang berhikmat, kita akan mendapat kebaikan (ay.20). Demikan pula, dorongan semangat juga menguatkan kita untuk menghadapi berbagai tantangan yang kita hadapi sekarang dan yang mungkin akan kita hadapi kelak.
Mungkin kita belum sepenuhnya mengerti mengapa atau seberapa besar hikmat dan kata-kata menguatkan berpengaruh untuk membawa kekuatan dan pemulihan dalam hidup kita sehari-hari. Namun, dorongan semangat dan bimbingan yang diberikan orangtua, pelatih, dan kolega seakan membantu kita bertahan menghadapi masa-masa sulit dan menuntun kita kepada keberhasilan. Demikian juga Alkitab dapat memberikan penguatan di saat kita menghadapi berbagai-bagai pencobaan, memperlengkapi kita untuk bertahan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Tolonglah kami, ya Allah, untuk menerima kekuatan dari hikmat-Mu, sehingga pada gilirannya kami dapat meneruskan pemulihan dan pengharapan dari “perkataan yang menyenangkan” untuk orang-orang yang telah Engkau tempatkan dalam hidup kami.—Kirsten Holmberg
WAWASAN
Dalam Amsal 16 kita menemukan dua contoh puisi Ibrani. Di ayat 20, kita melihat “paralelisme sinonim” yaitu mengulangi pemikiran yang sama dengan kata-kata yang sedikit berbeda. Penghubung kunci dalam perbandingan ini adalah kata dan. Ayat 22 adalah contoh “paralelisme antitesis”, yang menggunakan pemikiran yang berlawanan dan dibandingkan secara kontras. Di sini penghubung kuncinya adalah kata tetapi. Coba lihat apakah Anda dapat menemukan contoh-contoh lain dari teknik-teknik penulisan puisi tersebut dalam Mazmur 16 ini.—Bill Crowder
Siapa yang pernah mengucapkan “perkataan yang menyenangkan” dalam hidupmu? Mengapa penting bagimu membagikan kata-kata yang menguatkan kepada orang lain?
Ya Bapa, terima kasih untuk perkataan-Mu yang memberikan pemulihan dan harapan.

Monday, April 13, 2020

Mencari Allah

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau.—Mazmur 63:2
Mencari Allah
Saya sungguh terinspirasi melihat orang-orang yang begitu gigih dan penuh dedikasi dalam mengejar impian mereka. Seorang wanita muda kenalan saya baru-baru ini lulus dari perguruan tinggi hanya dalam waktu tiga tahun—suatu perjuangan yang menuntut komitmen total. Seorang teman lain berkeinginan membeli mobil tertentu, maka ia sangat rajin membuat dan menjual kue sampai keinginannya terwujud. Seorang teman lain yang bekerja sebagai wiraniaga menargetkan bertemu seratus orang baru tiap minggunya.
Meskipun berusaha sungguh-sungguh untuk mencari sesuatu yang berharga di dunia itu baik adanya, ada pencarian lain yang jauh lebih penting untuk kita pertimbangkan.
Dalam keadaan putus asa dan bergumul di tengah padang gurun, Raja Daud menulis, “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau” (Mzm. 63:2). Ketika Daud berseru kepada-Nya, Allah pun mendekat kepada sang raja yang sedang lesu itu. Dahaga jiwa Daud yang mendalam untuk Allah hanya dapat dipuaskan di hadirat-Nya.
Sang raja ingat pernah bertemu Allah di “tempat kudus” (ay.3), mengalami kasih setia-Nya (ay.4), dan memuji-Nya hari lepas hari. Ia mendapati bahwa kepuasan sejati di dalam Tuhan itu bagaikan menikmati hidangan yang lezat dan mengenyangkan (ay.5-6). Di waktu malam pun ia merenungkan kebesaran Allah, dengan menyadari pertolongan dan perlindungan-Nya (ay.7-8).
Hari ini Roh Kudus meyakinkan kita untuk mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Ketika kita berpaut kepada-Nya, dalam kuasa dan kasih-Nya, Allah memegang kita dengan tangan kanan-Nya yang kuat. Oleh pimpinan Roh Kudus, baiklah kita mendekat kepada Sang Pencipta segala yang baik itu.—Dave Branon
WAWASAN
Sebab dan akibat. Inilah pola yang terdapat dalam Mazmur 63:1-9 yang melacak perjalanan rohani dalam lubuk hati Daud saat ia berada di padang gurun Yehuda. Ayat 2 merupakan pengakuannya yang membutuhkan kehadiran dan kuasa Allah. Kebutuhan Daud sangat dalam dan sangat mendasar. Seperti air di padang gurun, Allah-lah satu-satunya yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. Di ayat 3, ia telah menemukan “air” ini. Ia menemukan kekuatan dan kemuliaan Allah. Setelah mengungkapkan tentang kebutuhan dan penemuan ini, ayat 4-9 mencatat respon si pemazmur: pujian, kepuasan, nyanyian, perenungan tentang Allah, dan kemelekatan dengan-Nya. Daud membagikan hasratnya terhadap Allah, yang membawanya menemukan Allah, dan menghasilkan berbagai pernyataan di atas tentang Allah.—J.R. Hudberg
Bagaimana cara Roh Kudus mendorongmu untuk mencari Allah? Hal-hal apa saja yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk bertumbuh lebih dekat kepada-Nya?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menarikku untuk mencari-Mu—mengenal-Mu lebih baik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan mengakui kebesaran-Mu. Aku bersyukur untuk kehadiran-Mu dalam hidupku.

Sunday, April 12, 2020

Duka yang Diubahkan

Aku telah melihat Tuhan!—Yohanes 20:18
Duka yang Diubahkan
Jim dan Jamie Dutcher adalah pembuat film yang terkenal memiliki pengetahuan luas tentang serigala. Menurut mereka, jika sedang senang, serigala akan mengibas-ngibaskan ekor sambil bermain-main. Namun, kalau ada salah satu anggotanya mati, kawanan serigala itu akan berduka selama berminggu-minggu. Mereka akan mendatangi tempat serigala itu mati dan memperlihatkan duka mendalam dengan ekor yang terkulai dan lolongan sedih.
Dukacita merupakan perasaan yang sangat kuat. Kita semua pernah merasakannya, terutama ketika orang yang kita kasihi meninggal dunia atau harapan kita kandas. Maria Magdalena mengalaminya. Ia termasuk kelompok wanita yang melayani Kristus dan ikut berkeliling bersama Kristus dan murid-murid-Nya (Luk. 8:1-3). Namun, kematian Yesus yang keji di kayu salib memisahkan mereka. Satu-satunya yang dapat diperbuat Maria bagi Yesus adalah mengurapi jenazah-Nya dengan rempah-rempah, yang ternyata tidak dapat diselesaikannya karena diselingi oleh hari Sabat. Jadi, bayangkan bagaimana perasaan Maria ketika ia sampai di kubur Yesus! Alih-alih menemukan jenazah yang terbujur kaku, ia justru bertemu dengan Juruselamat yang hidup! Meski awalnya ia tidak mengenali laki-laki yang berdiri di depannya, tetapi suara laki-laki yang memanggil namanya membuat Maria tahu siapa Dia—Yesus! Dalam sekejap, dukacitanya berubah menjadi sukacita. Sekarang ada kabar sukacita yang dapat dibagikan oleh Maria: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:18).
Yesus datang ke dalam dunia kita yang kelam untuk mendatangkan kemerdekaan dan kehidupan. Kebangkitan-Nya menjadi perayaan atas fakta bahwa Dia telah menyelesaikan apa yang hendak Dia lakukan. Seperti Maria, kita dapat merayakan kebangkitan Kristus dan membagikan kabar baik bahwa Dia hidup! Haleluya!—Linda Washington
WAWASAN
Nama Maria (Yunani) atau Mariam (yang berasal dari bahasa Ibrani Miriam) adalah salah satu nama perempuan yang paling umum digunakan pada masa Perjanjian Baru. Maria pertama yang kita temui adalah ibu Yesus (Mat. 1:16). Perempuan lain yang bernama ini antara lain Maria dari Betania, saudara Marta dan Lazarus (Yoh. 11:1-12:8; Luk. 10:38-41); Maria, ibu Yakobus (Mrk. 15:40); Maria, ibu Yohanes Markus (Kis. 12:12); Maria, istri Klopas (Yoh. 19:25); Maria dari Roma (Rm. 16:6); dan Maria Magdalena, yang muncul di Yohanes 20:11-18. Semua penulis Injil menempatkan Maria ini pada kisah kematian dan/atau kebangkitan Yesus (Mat. 27:56-61; 28:1-10; Mrk. 15:40,47; 16:1; Luk. 24:10; Yoh. 20:1,18).—Arthur Jackson
Pernahkah kamu mempunyai pengalaman ketika kesedihanmu berubah menjadi sukacita? Bagaimana cara kamu membagikan kabar kebangkitan Kristus kepada seseorang minggu ini?
Tuhan Yesus, aku merayakan kebangkitan-Mu dan hidup baru yang dapat kualami di dalam Engkau.

Saturday, April 11, 2020

Tirai Pemisah

Kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup . . . marilah kita menghadap Allah.—Ibrani 10:19-22
Tirai Pemisah
Ketika pesawat yang saya tumpangi sudah mencapai ketinggian jelajah, pramugari menyibakkan tirai yang memisahkan kelas utama dengan kelas ekonomi, dan saya kembali disadarkan pada perbedaan antarkelas yang mencolok di dalam penerbangan. Para penumpang kelas utama dipersilakan naik ke pesawat terlebih dahulu dan menikmati tempat duduk premium dengan ruang kaki yang lebih luas serta layanan khusus. Tirai itu menjadi pengingat bahwa saya tidak memiliki akses ke berbagai fasilitas eksklusif tersebut.
Kesenjangan antar kelompok dapat ditemukan di sepanjang peradaban, bahkan dalam Bait Allah di Yerusalem, meski bukan didasarkan pada kemampuan seseorang untuk membayar lebih. Kaum non-Yahudi hanya diperbolehkan beribadah di pelataran luar. Berikutnya, ada pelataran khusus perempuan, dan lebih khusus lagi adalah area untuk laki-laki. Yang terakhir adalah ruang Maha Kudus, tempat Allah secara khusus menyatakan diri-Nya, yang tersembunyi di balik tirai dan hanya dapat dimasuki setahun sekali oleh Imam Besar yang sudah disucikan (Ibr. 9:1-10).
Namun, sungguh luar biasa, pemisahan itu sekarang tidak ada lagi. Yesus telah sepenuhnya menghilangkan rintangan apa pun yang bisa menghalangi siapa saja datang kepada Allah—termasuk dosa kita (10:17). Sama seperti tirai Bait Suci terbelah dua pada saat kematian Kristus (Mat. 27:50-51), tubuh-Nya yang disalibkan telah meruntuhkan semua halangan untuk manusia datang ke hadirat Allah. Tidak ada lagi penghalang yang bisa menjauhkan orang percaya dari pengalaman akan kemuliaan dan kasih Allah yang hidup.—LISA M. SAMRA
WAWASAN
Beberapa sarjana menduga bahwa Yohanes pasal 21, meski sepenuhnya diilhamkan dan tidak diragukan lagi ditulis oleh Yohanes, namun baru ditulis belakangan dan ditambahkan pada 20 pasal sebelumnya. Jelas, akhir pasal 20 menjadi kesimpulan yang memadai dari catatan Injil Yohanes. Beberapa pengamat berpendapat bahwa salah satu tujuan penambahan pasal 21 sebagai akhir “kedua” adalah untuk menunjukkan bagaimana Yesus memulihkan Petrus setelah penyangkalan yang dilakukannya. Sebagai tambahan lagi, ayat 20-23 mengklarifikasi kesalahpahaman tentang kembalinya Kristus. Ketika Yesus berkata kepada Petrus bahwa bukanlah urusannya apabila Yohanes tinggal hidup sampai Dia datang kembali, orang-orang mengambil kesimpulan yang keliru. Maka Yohanes menulis: “Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.” (ay.23).—Bill Crowder
Bagaimana kebenaran tentang kematian Kristus yang membuka jalan bagi kita untuk datang kepada Allah dapat memberimu keyakinan dalam doa dan penyembahanmu? Berkat apa lagi yang tersedia bagi orang-orang percaya lewat kematian-Nya?
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau rela mati untuk membuka akses penuh ke hadapan Allah bagi semua orang yang merindukannya.

Friday, April 10, 2020

Berdiri Teguh

Berdirilah teguh, jangan goyah.—1 Korintus 15:58
Berdiri Teguh
Di negara tempat tinggalnya, Adrian dan keluarganya mengalami penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus. Namun, di tengah berbagai pergumulan itu mereka tetap menunjukkan kasih Kristus. Saat berdiri di halaman gereja yang temboknya dipenuhi bekas peluru karena digunakan para teroris sebagai sasaran latihan menembak, ia berkata, “Hari ini Jumat Agung. Saat bagi kita untuk mengenang bagaimana Yesus menderita bagi kita di kayu salib.” Penderitaan, lanjutnya, merupakan makanan sehari-hari orang-orang percaya di negaranya. Meski demikian, keluarganya memilih tetap tinggal di sana: “Kami masih di sini, dengan tetap berdiri teguh.”
Orang-orang percaya tersebut mengikuti teladan para wanita yang berdiri berjaga-jaga sewaktu Yesus mati di kayu salib (Mrk. 15:40). Mereka—antara lain Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, dan Salome—sangat berani dengan tetap berada di sana, karena teman-teman dan anggota keluarga dari seorang terhukum bisa saja menerima ejekan dan hukuman. Namun, para wanita itu menunjukkan kasih mereka kepada Yesus dengan hadir menemani-Nya. Setelah “mengikut Yesus dan melayani-Nya” di Galilea (ay.41), mereka mendampingi-Nya di saat Dia paling membutuhkan dukungan.
Pada hari ini, di saat kita mengingat anugerah Juruselamat kita yang terbesar, yakni kematian-Nya di kayu salib, luangkanlah waktu sejenak untuk memikirkan bagaimana kita dapat berdiri teguh bagi nama Yesus di tengah berbagai-bagai pencobaan (lihat Yak. 1:2-4). Ingatlah juga saudara-saudari seiman di seluruh dunia yang menderita karena iman mereka. Mungkin mereka bertanya, seperti Adrian, “Maukah kamu mendampingi kami melalui doa-doamu?”—AMY BOUCHER PYE
WAWASAN
Siapa saja perempuan yang menyaksikan penyaliban Yesus? Di antara “banyak” perempuan di sana, Markus menuliskan tiga nama di antaranya: Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome (Mrk. 15:40-41). Maria Magdalena berasal dari desa nelayan Magdala dan telah disembuhkan dari kerasukan tujuh roh jahat oleh Yesus (Luk. 8:1-2). Ia juga salah seorang perempuan yang disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yang “melayani rombongan itu [Yesus dan murid-murid-Nya] dengan kekayaan mereka” (ay.3; lihat juga Mrk. 15:41). Maria yang satu lagi adalah ibu Yakobus dan Yoses, menandakan bahwa anak-anaknya ini mungkin cukup dikenal dalam komunitas orang percaya. Salome kemungkinan besar adalah istri Zebedeus dan ibu dari murid-murid Yesus, Yakobus dan Yohanes (lihat Mat. 27:56). Injil Yohanes menyatakan bahwa tiga Maria menyaksikan penyaliban itu: Ibu Yesus, saudara ibu-Nya (istri Klopas), dan Maria Magdalena (19:25).—Alyson Kieda
Apa yang kamu lakukan untuk berdiri teguh bagi Kristus di tengah lingkunganmu? Bagaimana kamu dapat mendukung orang-orang percaya yang dianiaya di seluruh dunia?
Juruselamat yang Pengasih, Engkau rela mati demi menyelamatkan kami dari dosa. Hari ini, saat kami memperingati kematian-Mu, ajarlah kami untuk makin bersyukur atas anugerah-Mu yang luar biasa itu.

Thursday, April 9, 2020

Tetap di Jalan yang Benar

Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ? —Yohanes 14:5
Tetap di Jalan yang Benar
Senja sudah turun saat saya mengikuti Li Bao berjalan menyusuri bagian atas tembok besar yang membelah pegunungan di wilayah pusat Tiongkok. Saya belum pernah melewati jalan ini sebelumnya, dan tidak dapat melihat lebih dari satu langkah di depan serta seberapa curam jurang yang menganga di sebelah kiri kami. Saya hanya bisa menahan napas dan menempel erat pada Li. Saya tidak tahu ke mana kami akan pergi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan, tetapi saya mempercayainya.
Posisi saya sama seperti Thomas, murid yang kelihatannya selalu butuh diyakinkan. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka dan mereka tahu jalan “ke mana Dia pergi” (Yoh. 14:4). Thomas kemudian mengajukan pertanyaan yang logis: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ay.5).
Yesus tidak memadamkan keraguan Thomas dengan menjelaskan ke mana Dia akan membawa mereka. Yang Yesus lakukan hanyalah meyakinkan si murid bahwa Dialah jalan menuju ke sana. Itu sudah cukup.
Mungkin kita juga memiliki keraguan tentang masa depan kita. Tidak seorang pun tahu persis apa yang akan terjadi di depan. Hidup ini penuh lika-liku yang tidak terduga. Itu tidak apa-apa, karena mengenal Yesus saja sudah cukup—Dia yang adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (ay.6).
Yesus tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Yang Dia minta dari kita hanyalah berjalan dekat dengan-Nya.—Mike Wittmer
WAWASAN
Seorang anak muda yang kaya mendekati Yesus dengan keyakinan bahwa karena perbuatan baiknya ia dijamin mendapat tempat di surga (Mrk. 10:17-20). Yesus mengoreksi pemahaman anak muda itu dengan memintanya menyerahkan seluruh hartanya dan mengikut Dia untuk memperoleh “harta di surga” (ay.21). Hal itu membuat para murid berpikir. Mereka juga telah meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka untuk mengikuti Yesus (Mat. 4:18-22; 9:9). Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (Mrk. 10:28). Yesus meneguhkan hati mereka dengan menyatakan bahwa mereka pasti akan menerima upah untuk pengorbanan mereka dan memperoleh apa yang diinginkan oleh anak muda kaya itu—“hidup yang kekal” (ay.17,30). Namun Dia juga mengingatkan mereka tentang bahaya tinggi hati (ay.31). Jangan sampai mereka menganggap diri mereka yang “terbesar” di kerajaan-Nya (9:33-34) karena pengorbanan, pencapaian, dan seberapa lama mereka melayani Dia. —K.T. Sim
Apa yang paling kamu khawatirkan tentang masa depan? Mengapa mengikut Yesus saja sudah cukup menjadi bekal menjalani masa depan tersebut?
Bapa, tolonglah kami menyadari bahwa dalam perjalanan kami kepada-Mu, Anak-Mulah jalannya.

Wednesday, April 8, 2020

Allah Lebih Berharga

Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! —Markus 10:28
Allah Lebih Berharga
Karena di masa lalu pernah disakiti hatinya oleh beberapa orang Kristen, ibu saya sangat marah ketika tahu saya percaya kepada Tuhan Yesus. “Jadi sekarang kau akan menghakimi Mama? Tak usah, ya!” Ia menutup telepon dan menolak berbicara dengan saya selama satu tahun. Saya merasa sedih sekali, tetapi juga menyadari bahwa hubungan dengan Allah jauh lebih berharga daripada hubungan dengan orang-orang yang juga saya kasihi. Setiap kali ibu saya mengabaikan telepon saya, saya berdoa dan meminta Allah agar memampukan saya tetap mengasihinya dengan baik.
Namun, akhirnya kami berdamai. Beberapa bulan kemudian, ibu saya berkata, “Mama melihatmu berubah. Sekarang Mama mau mendengar lebih banyak tentang Yesus.” Tak lama kemudian, ia pun menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan memakai sisa hidupnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Seseorang pernah berlari-lari mendapatkan Yesus untuk bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal, tetapi kemudian ia pergi dengan sedih karena tidak mau meninggalkan harta kekayaannya (Mrk. 10:17-22). Seperti dirinya, saya juga bergumul dengan pemikiran bahwa saya harus meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus.
Memang tidak mudah melepaskan hal-hal atau orang-orang yang kita pikir dapat lebih kita andalkan daripada Allah (ay.23-25). Namun, nilai dari semua yang kita lepaskan di dunia ini tidak akan melebihi nilai anugerah hidup kekal bersama Yesus. Allah kita yang penuh kasih telah rela mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Dia melingkupi kita dengan damai sejahtera dan melimpahi kita dengan kasih-Nya yang tak pernah berubah dan tak ternilai harganya.—Xochitl Dixon
WAWASAN
The Bible Knowledge Commentary menuliskan hal berikut tentang 2 Korintus: “Tidak ada surat Paulus yang lebih pribadi dan lebih intim daripada 2 Korintus. Dalam kitab itu ia mencurahkan isi hatinya dan menyatakan kasih setianya kepada jemaat di Korintus walaupun kasih mereka kepadanya terus berubah-ubah.” Dengan demikian, surat ini merupakan contoh menarik tentang berbagai tantangan yang Paulus hadapi dalam memimpin gereja abad pertama yang baru berkembang. Pada saat itu Paulus tidak mempunyai contoh yang bisa diikuti dan Kitab Suci pun belum lengkap untuk dijadikan acuan serta otoritas, sehingga wajarlah banyak hal yang dilakukannya dipertanyakan orang-orang di sekitarnya. Dalam surat 2 Korintus ini, motif pelayanan dan posisi kerasulan Paulus sendiri dipertanyakan—sehingga Paulus harus memberikan pembelaan terhadap motivasi dan karyanya bagi jemaat (1:12–2:11; 11:16–12:10). Di saat yang bersamaan, Paulus merasa perlu melakukan konfrontasi terhadap para pengajar palsu yang mengecilkan nilai Injil (10:7–11:15). Ketegangan yang merupakan akibat dari berbagai keadaan itu menjadikan 2 Korintus sebagai kitab yang unik. —Bill Crowder
Hal apa yang paling sulit kamu lepaskan demi mengikut Yesus? Mengapa jauh lebih mudah mengandalkan kenikmatan duniawi, harta kekayaan, atau orang lain daripada mengandalkan Tuhan?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau mengasihi kami lebih daripada yang layak kami terima. Engkau juga mengingatkan kami bahwa diri-Mu jauh lebih berharga daripada apa pun atau siapa pun di dunia ini.

Tuesday, April 7, 2020

Gambaran yang Utuh

Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” —Markus 6:50
Gambaran yang Utuh
Penonton film Mary Poppins Returns mendengar suara merdu Emily Blunt yang menjadi pemeran utamanya. Yang luar biasa, suami Emily baru tahu istrinya pandai bernyanyi setelah empat tahun menikah. Dalam sebuah wawancara, sang suami mengungkapkan rasa terkejut yang dirasakannya ketika pertama kali mendengar istrinya bernyanyi, sambil berpikir, “Astaga, kenapa aku baru tahu sekarang?”
Dalam sebuah hubungan, ada saja hal-hal baru yang membuat kita kaget, bahkan yang terkadang tidak kita duga sama sekali. Dalam Injil Markus, para murid Tuhan Yesus awalnya mempunyai gambaran yang tidak utuh tentang Dia dan mengalami kesulitan untuk memahami siapa Yesus sebenarnya. Namun, dalam suatu peristiwa ajaib di Danau Galilea, Yesus memperlihatkan lebih banyak tentang diri-Nya—yaitu kuasa-Nya yang dahsyat atas alam semesta.
Setelah memberi makan lebih dari 5.000 orang, Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi ke Danau Galilea, dan di sana perahu mereka dihantam angin kencang yang bertiup melawan arah mereka. Menjelang subuh, para murid ketakutan melihat sosok yang berjalan di atas air. Suara Yesus yang tidak asing lagi menenangkan mereka, dengan berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mrk. 6:50). Kemudian Yesus membuat badai itu reda. Setelah melihat kuasa yang begitu besar, murid-murid “sangat tercengang dan bingung” (6:51) sambil berusaha keras memahami secara utuh kuasa Yesus yang baru mereka alami.
Ketika mengalami Yesus dan kuasa-Nya yang dahsyat atas badai hidup kita, kita akan mulai melihat gambaran yang lebih utuh tentang siapa Dia sebenarnya. Kita pun dibuat takjub oleh-Nya. —Lisa M. Samra
WAWASAN
Bersama surat kepada Titus, surat-surat Paulus kepada Timotius dikenal sebagai Surat-surat Penggembalaan. Timotius (yang kemudian akan melayani jemaat di Efesus) dan Titus (yang akan memimpin jemaat di pulau Kreta) adalah dua dari sekian banyak anak-anak rohani Paulus yang dibimbingnya untuk pelayanan rohani. Karena itu, surat-surat Paulus kepada mereka penuh berisi berbagai instruksi dan dorongan untuk menghadapi berbagai situasi di gereja lokal, antara lain tentang kualitas yang harus dimiliki oleh pemimpin jemaat, bagaimana menghadapi guru-guru palsu, sampai kepada teladan dan sikap hidup. Bahkan ketika dipenjara dan menghadapi maut sekalipun, Rasul Paulus terus melatih murid-muridnya.—Bill Crowder
Bagaimana pengenalan kita akan kuasa Yesus dapat menolong kita lebih mengenal Dia secara utuh? Kisah-kisah apa lagi dalam Alkitab yang juga mengungkapkan tentang kuasa-Nya?
Tuhan Yesus, kuasa-Mu membuat kami takjub. Bukalah mata hati kami dan nyatakanlah diri-Mu lebih lagi supaya kami terus memuliakan-Mu.

Monday, April 6, 2020

Kekuatan Dalam Penderitaan

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.—Matius 5:10
Kekuatan Dalam Penderitaan
Pada tahun 1948, seorang pendeta gereja bawah tanah bernama Harlan Popov diciduk dari rumahnya untuk “sekadar ditanya.” Dua minggu kemudian, ia diinterogasi sepanjang hari dan tidak diberi makan selama sepuluh hari. Setiap kali menyangkal sebagai mata-mata, ia dipukuli. Namun, Popov tidak hanya bertahan hidup setelah mengalami perlakuan kejam itu, tetapi juga membimbing para tahanan lainnya untuk mengenal Yesus. Sebelas tahun kemudian, ia akhirnya dibebaskan. Ia terus bersaksi tentang imannya kepada orang-orang dan baru dua tahun kemudian berhasil meninggalkan negaranya dan bersatu kembali dengan keluarganya. Setelah itu, selama bertahun-tahun ia aktif berkhotbah dan mengumpulkan dana untuk menyalurkan Alkitab ke negara-negara yang masih tertutup bagi iman Kristen.
Popov telah dianiaya karena imannya, sama seperti para pengikut Yesus yang tidak terhitung banyaknya dari abad ke abad. Jauh sebelum Kristus sendiri disiksa dan mati, lalu diikuti penganiayaan terhadap para pengikut-Nya, Dia sudah pernah berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10), dan kemudian, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (ay.11).
“Berbahagialah”? Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus? Yang Dia maksud adalah keutuhan, sukacita, dan penghiburan yang hanya bisa didapat dalam hubungan dengan Dia (ay.4,8-10). Popov mampu bertahan karena ia merasakan kehadiran Allah telah mengobarkan kekuatan dalam dirinya, bahkan di tengah penderitaan sekalipun. Ketika kita berjalan bersama Allah, apa pun keadaan kita, kita juga dapat mengalami damai sejahtera-Nya. Dia menyertai kita.—Alyson Kieda
WAWASAN
Dalam Roma pasal 1–3, Paulus menunjukkan bahwa umat manusia telah jatuh ke dalam dosa. Enam kali dalam pasal 3 ia menekankan penggunaan frasa “tidak ada seorangpun” atau “seorangpun tidak” untuk menunjukkan bahwa umat manusia semuanya sudah berdosa (ay.10-12). Dosa menguasai seluruh pribadi manusia—perkataan (ay.13-14), perbuatan (ay.15-17), dan hati (ay.18), semuanya mendakwa kita. Paulus menyimpulkan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (ay.23). Tanpa karya kelahiran kembali oleh Roh Kudus, manusia tidak akan mampu memiliki hubungan yang benar dengan Allah. Kita tidak mencari Dia (ay.11) tapi sengaja menyeleweng dari-Nya (ay.12), karena “rasa takut kepada Allah tidak ada” pada kita (ay.18). Namun Allah, dalam anugerah dan belas kasihan-Nya, mengadakan pembenaran antara para pendosa dengan diri-Nya ketika kita percaya bahwa Yesus telah mengorbankan hidup-Nya dan mencurahkan darah-Nya untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa (ay.24-25).—K.T. Sim
Manakah di antara “Sabda Bahagia” dari khotbah Yesus di bukit yang paling mengena bagimu, dan mengapa? Kapan kamu merasakan damai dan kehadiran Allah di tengah pencobaan?
Bapa Mahakasih, kami mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kami di masa-masa terkelam dalam hidup kami.

Sunday, April 5, 2020

Pribadi yang Menyelamatkan

Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana!” —Yohanes 12:13
Pribadi yang Menyelamatkan
Desmond dijuluki “salah satu orang paling berani yang pernah hidup” meski keberaniannya tidak seperti bayangan kebanyakan orang. Ia adalah seorang tentara yang menolak menyandang senjata. Sebagai tenaga medis, ia pernah seorang diri menyelamatkan tujuh puluh lima tentara yang terluka dalam suatu pertempuran, termasuk orang-orang yang pernah menyebutnya pengecut dan mengolok imannya. Saat berlari di tengah medan pertempuran, Desmond terus berdoa, “Tuhan, tolong aku menemukan satu orang lagi.” Ia pun dianugerahi Medali Kehormatan untuk aksi heroiknya itu.
Kitab Suci mencatat bagaimana orang juga sering salah memahami Yesus. Pada hari yang telah dinubuatkan oleh Nabi Zakharia (zak. 9:9), Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai dan disambut kerumunan orang yang melambai-lambaikan daun-daun palem dengan berseru-seru: “Hosana!” (seruan pujian yang berarti “Selamatkan!”). Mengutip Mazmur 118:26, mereka berseru: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Yoh. 12:13). Namun, ayat berikutnya dalam mazmur tersebut menyebutkan tindakan membawa korban “dengan tali” (Mzm. 118:27). Orang banyak dalam Yohanes 12 mengharapkan seorang raja duniawi untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, tetapi Yesus lebih daripada itu. Dia Raja segala Raja sekaligus korban kita—Allah dalam rupa manusia, yang rela disalib untuk melepaskan kita dari dosa-dosa kita—suatu tujuan yang telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya.
“Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu,” tulis Yohanes, “tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia” (Yoh. 12:16). Maksud Allah yang abadi menjadi jelas ketika firman-Nya menerangi hati kita. Karena kasih-Nya yang begitu besar, Dia rela mengutus seorang Juruselamat yang perkasa untuk kita!—James Banks
WAWASAN
Kata Hosana (Yoh. 12:13) hanya muncul di Perjanjian Baru dalam kaitannya dengan masuknya Yesus ke Yerusalem selama perayaan Paskah. Menurut Zondervan Encyclopedia of the Bible, “Istilah ini awalnya adalah doa permohonan dalam bahasa Ibrani yang ditujukan kepada Allah [artinya ‘Selamatkanlah sekarang’]. . . . Selanjutnya istilah ini dipakai sebagai seruan kegembiraan, sebuah pujian kepada Allah.” Kata ini juga dipakai sebagai seruan penyambutan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang menyambut Yesus. Namun tidak diragukan lagi bahwa ketiga arti itu juga ditemukan dalam perikop ini. Yohanes menyebutkan bahwa mereka yang melihat bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus juga ada di situ waktu Dia memasuki Yerusalem dan menyebarkan berita tentang Dia. Mereka yang datang untuk melihat Dia yang sanggup menyelamatkan dari kematian mungkin juga berseru-seru memohon agar mereka diselamatkan dari penjajahan Romawi. Sementara yang lain mungkin sekadar menyerukan “Hosana!” sebagai pujian kepada Yesus atas segala perbuatan ajaib yang telah Dia lakukan.—J.R. Hudberg
Bagaimana cara Yesus menyelamatkanmu? Bagaimana kamu dapat mengungkapkan rasa syukurmu kepada-Nya hari ini?
Juruselamat yang telah bangkit, aku mengucap syukur kepada-Mu untuk pengorbanan-Mu di atas kayu salib. Tolonglah aku untuk hidup melayani dan memuji-Mu, Rajaku yang abadi!

Saturday, April 4, 2020

Kerinduan Kita yang Terdalam

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang.—Pengkhotbah 5:9
Kerinduan Kita yang Terdalam
Semasa muda, Duncan pernah takut bakal kekurangan uang, maka di awal usia dua puluhan, ia sangat ambisius membangun masa depannya. Dengan meniti karier di sebuah perusahaan terkemuka di Silicon Valley, Amerika Serikat, Duncan berhasil meraih kekayaan melimpah. Ia mempunyai tabungan besar, mobil sports mewah, dan rumah senilai jutaan dolar di California. Ia memiliki semua yang ia dambakan; tetapi masih merasa sangat tidak bahagia. “Saya terus merasa cemas dan tidak puas,” kata Duncan, “Bahkan, kekayaan dapat membuat hidup lebih buruk.” Uang banyak ternyata tidak memberinya persahabatan, komunitas, atau sukacita—justru sering mendatangkan sakit hati.
Ada banyak orang rela memeras tenaga untuk mengumpulkan harta supaya hidup mereka terjamin. Sebenarnya, semua itu sia-sia belaka. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang,” demikian ditekankan oleh Pengkhotbah 5:9. Ada yang membanting tulang mati-matian, sikut sana-sini, berlomba-lomba mengumpulkan harta, dan terus bersusah payah demi meraih status ekonomi tertentu. Meski demikian, sekalipun sudah berhasil meraih kebebasan keuangan yang didambakan, tetap saja mereka merasa tidak puas. Mereka tidak pernah merasa cukup, seperti yang dinyatakan penulis kitab Pengkhotbah, “Inipun sia-sia” (ay.10).
Sesungguhnya, sia-sia saja kita berusaha mengejar kepuasan di luar Allah. Walaupun Kitab Suci menasihati kita untuk bekerja keras dan memakai karunia diri kita demi kebaikan dunia, apa yang kita kumpulkan tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kerinduan kita yang terdalam. Hanya Yesus yang memberikan hidup sejati yang benar-benar memuaskan (Yoh. 10:10)—hidup yang berdasarkan suatu hubungan kasih yang memberi rasa cukup.—Winn Collier
WAWASAN
Kitab Pengkhotbah bergumul dengan pertanyaan apakah manusia dapat mengalami sesuatu yang berarti atau bernilai kekal dalam kehidupan mereka. “Qohelet,” sang penutur utama (seringkali diterjemahkan sebagai “Guru” atau “Pengkhotbah”, 1:1), bahkan menyiratkan Allah telah merancangkan muslihat bagi umat manusia—memberikan “kekekalan” dalam hati mereka (3:11) namun menjadikan kekekalan atau arti tersembunyi di balik kehidupan itu mustahil diraih (6:12; 8:7; 9:9).
Pada pasal 5, Qohelet meninjau usaha manusia dalam menemukan kepuasan lewat kekayaan dan mendapati bahwa ternyata hasrat mereka itu tidak pernah terpuaskan, sebanyak apa pun yang telah mereka dapatkan (5:8-12). Sementara sebagian lain, melalui eksploitasi oleh para penguasa atau melalui pilihan-pilihan yang buruk, terjebak dalam kemiskinan (ay.13-17). Qohelet seakan menemukan solusi bagi sebagian permasalahan manusia pada ayat 18-20. Di sana ia menyatakan bahwa damai sejahtera dapat diperoleh dengan cara melepaskan kebutuhan untuk memahami atau mengendalikan realita kehidupan dan sebaliknya, menerima saja sukacita yang Allah hadirkan dalam berbagai pengalaman kita selama di bumi ini.—Monica Brands
Apa saja yang memberikan kamu kepuasan dan kecukupan sejati? Bagaimana kamu dapat menjalani hidup lebih utuh dengan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa memberi rasa cukup?
Allah yang Pemurah, biarlah aku menemukan kepuasan dan sukacita sejati di dalam Engkau. Jagalah aku agar tidak mempunyai pandangan yang salah terhadap pekerjaan dan harta benda yang kumiliki.

Friday, April 3, 2020

Apa yang Akan Datang?

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya.—2 Timotius 4:8
Apa yang Akan Datang?
Pada malam tanggal 3 April 1968, Dr. Martin Luther King berpidato untuk terakhir kalinya dengan judul “Saya Sudah Pernah ke Puncak Gunung.” Dalam pidato itu, Dr. King mengisyaratkan bahwa ia yakin hidupnya tidak akan lama lagi. Katanya, “Hari-hari ke depan akan sulit. Namun, itu tidak masalah bagi saya sekarang. Karena saya sudah pernah ke puncak gunung. Dari sana saya melayangkan pandangan saya. Dan saya sudah melihat tanah perjanjian itu. Mungkin saya tidak akan sampai di sana bersama kalian. . . . Namun, saya bahagia malam ini. Tidak ada yang saya khawatirkan. Tidak ada yang saya takutkan. Mata saya telah melihat kemuliaan Tuhan yang akan datang.” Keesokan harinya, ia tewas dibunuh.
Rasul Paulus, sesaat sebelum kematiannya, menulis surat pada anak rohaninya, Timotius: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. . . . Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya” (2 Tim. 4:6,8). Paulus tahu bahwa waktunya di dunia segera akan berakhir, seperti juga Dr. King. Keduanya menjalani kehidupan yang sangat berarti penting, tetapi tidak pernah kehilangan fokus pada kehidupan sejati yang akan datang. Keduanya menyambut apa yang menantinya di depan.
Seperti mereka, biarlah mata kita “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor. 4:18). —REMI OYEDELE
WAWASAN
2 Timotius adalah surat terakhir Paulus, yang ditulis dari dalam penjara Romawi, tempat ia menantikan waktu eksekusinya (lihat 4:6). Bila dilihat sekilas, dalam pasal ini kita menemukan tiga bagian berbeda yang dianggap sebagai kata-kata terakhir Paulus. Pada ayat 1-5, Rasul Paulus menantang dan mendorong murid rohaninya Timotius untuk setia menunaikan panggilan yang telah ia terima—terutama pelayanan pemberitaan Injil. Pada ayat 6-8, Paulus bersaksi tentang pengalamannya melayani Yesus dan kesiapannya bertemu dengan Sang Juruselamat. Sebagian besar ayat-ayat selanjutnya berisi tentang orang-orang yang mengecewakan Paulus dan bagaimana ia menanggapi kekecewaan tersebut.—Bill Crowder
Apa yang kamu pahami tentang kefanaan hidup manusia? Menurut kamu, bagaimana pemahaman itu menolong kamu menyiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang?
Bapa Surgawi, mampukan kami untuk terus berfokus kepada-Mu dan tidak kepada berbagai masalah dan pencobaan dalam hidup ini.

Thursday, April 2, 2020

Memberi Dengan Sukacita

Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.—2 Korintus 9:7
Memberi Dengan Sukacita
Bertahun-tahun lalu, istri saya menerima sejumlah kecil potongan harga dari barang yang dibelinya. Ia sama sekali tidak mengharapkannya, tetapi potongan itu tiba suatu hari melalui surat. Di saat yang hampir bersamaan, teman baiknya bercerita tentang kebutuhan mendesak dari beberapa wanita di negara lain. Mereka adalah para wanita berjiwa wirausaha yang sedang berusaha meningkatkan taraf hidup mereka melalui jalur pendidikan dan bisnis. Namun, seperti yang kerap terjadi, mereka terkendala dalam hal dana.
Istri saya menggunakan potongan harga yang ia dapatkan itu untuk memberi pinjaman mikro kepada lembaga pelayanan yang berkomitmen membantu wanita-wanita tersebut. Setelah pinjamannya dilunasi, ia pun meminjamkan lagi, dan lagi, dan hingga saat ini, ia sudah membantu membiayai dua puluh tujuh investasi sejenis. Istri saya menikmati banyak hal, tetapi senyumnya yang paling lebar muncul manakala menerima kabar terbaru tentang perkembangan yang terjadi dalam hidup para wanita yang belum pernah dijumpainya itu.
Kita sering mendengar penekanan dalam ayat “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor. 9:7) diletakkan pada “orang yang memberi”—dan memang benar demikian. Namun, pemberian kita harus mempunyai kualitas tertentu—yaitu tidak dilakukan “dengan sedih hati atau karena paksaan”. Kita juga diingatkan untuk tidak menabur “sedikit” (ay.6-7). Dengan kata lain, pemberian kita haruslah dilakukan “dengan sukacita”. Mungkin masing-masing dari kita memberi dalam jumlah yang berbeda-beda, tetapi biarlah sukacita yang kita rasakan dapat terlihat lewat mimik wajah kita.—JOHN BLASÉ
WAWASAN
Perjalanan pertama Paulus ke Korintus dilakukan menjelang akhir perjalanan misinya yang kedua setelah meninggalkan Atena (Kis. 18:1). Selama di Korintus, sepanjang minggu ia membuat kemah bersama Akwila dan Priskila (ay.3), dan pada hari Sabat ia “berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani” (ay.4) untuk menerima pesan Injil. Kedatangannya yang kedua kali ke Korintus terjadi setelah Timotius berkunjung ke sana (1 Kor. 4:17) dan digambarkan oleh Paulus sebagai kunjungan “dalam dukacita” (2 Kor. 2:1). Selain 1 dan 2 Korintus, banyak sarjana percaya Paulus menuliskan paling sedikit satu surat lagi untuk jemaat Korintus, namun sekarang telah hilang (lihat 1Kor. 5:9; 2Kor. 7:8-10). Jelaslah Paulus sangat mengasihi dan peduli kepada jemaat ini (2 Kor. 2:4).—Alyson Kieda
Kapan terakhir kali kamu “memberi dengan sukacita”? Apa yang meyakinkan kamu bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita?
Allah Bapa yang Pemurah, terima kasih untuk sukacita yang kami alami saat kami memberi dengan sukacita. Terima kasih juga karena Engkau telah memenuhi kebutuhan kami dengan berlimpah-limpah.

Wednesday, April 1, 2020

Berdoa Seperti Yesus

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.—Lukas 22:42
Berdoa Seperti Yesus
Setiap mata uang memiliki dua sisi. Sisi depan disebut “kepala” dan, sejak zaman Romawi kuno, biasanya menampilkan gambar kepala negara. Sisi belakang disebut “ekor”, suatu istilah yang kemungkinan berasal dari mata uang sepuluh pence di Inggris yang mencantumkan gambar ekor terangkat dari sosok seekor singa yang menjadi lambang negara.
Seperti mata uang, doa Yesus di Taman Getsemani juga memiliki dua sisi. Di jam-jam terkelam dalam hidup-Nya, pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib, Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42). Ketika Kristus berkata, “Ambillah cawan ini,” itu merupakan doa yang sangat jujur. Dia mengungkapkan kerinduan diri-Nya, “Inilah yang Aku mau.”
Namun, seperti membalikkan mata uang, Yesus lalu berdoa, ”tetapi bukanlah kehendak-Ku.” Itulah sisi penyerahan diri. Menyerahkan diri kita kepada Allah dimulai dengan pertanyaan sederhana, ”Akan tetapi, apa yang Engkau mau, ya Allah?”
Doa dengan dua sisi ini juga terdapat dalam Matius 26 dan Markus 14, serta disebut juga dalam Yohanes 18. Yesus mendoakan kedua sisinya: ambillah cawan ini (apa yang Aku mau, ya Allah), tetapi bukan kehendak-Ku yang terjadi (apa yang Engkau mau, ya Allah?), bergumul dengan kedua-duanya.
Itulah dua sisi Yesus. Itulah dua sisi dari doa.—Elisa Morgan
WAWASAN
Bila kita meninggalkan sisi timur kota Yerusalem, kita akan menuruni lembah Sungai Kidron. Di seberangnya terdapat taman Getsemani—terletak di dasar Bukit Zaitun, dalam bayangan bukit Bait Allah dan gerbang timurnya (juga dikenal sebagai Gerbang Emas). Hal ini menjadi penting karena dalam Yehezkiel 44:1-3 tertulis bahwa hanya Raja itu (Mesias) yang bisa masuk melalui gerbang itu, sehingga beberapa sarjana percaya bahwa ketika Yesus Sang Mesias kembali, Dia akan memasuki Yerusalem melalui gerbang itu. Maka sungguh tepat bila Yesus memulai rangkaian penderitaan-Nya melalui gerbang yang paling mewakili kemenangan akhir-Nya. Kenyataan ini makin bernilai penting sehingga nama Ibrani untuk gerbang timur ini adalah “gerbang rahmat.” Rahmat Allah diperoleh melalui penderitaan Kristus yang dimulai di Getsemani.—Bill Crowder
Apa yang bisa kita pelajari jika kita berdoa dengan jujur dan penuh penyerahan diri, seperti yang Yesus lakukan? Situasi apa yang sedang kamu hadapi saat ini yang mendorong kamu untuk berdoa dengan jujur sekaligus berserah penuh kepada Allah?
Ya Bapa, tolonglah aku untuk mengikuti teladan Anak-Mu, yang menyerahkan segalanya yang Dia miliki supaya aku dapat memiliki hidup sejati dan mengalami kehidupan doa yang intim dengan-Mu.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate