Pages - Menu

Thursday, August 31, 2017

Keindahan Allah yang Terpancar

Semenjak Allah menciptakan dunia, sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan, yaitu keadaan-Nya sebagai Allah dan kuasa-Nya yang abadi, sudah dapat difahami oleh manusia melalui semua yang telah diciptakan. —Roma 1:20 BIS
Keindahan Allah yang Terpancar
Pulau Lord Howe adalah surga kecil di lepas pantai timur Australia dengan pantai yang berpasir putih dan airnya sebening kristal. Ketika berkunjung ke sana beberapa tahun yang lalu, saya terpana oleh keindahannya. Di sana, orang dapat berenang dengan kura-kura dan gerombolan ikan yang memancarkan warna-warni neon saat sinar bulan menerpa. Di laguna, saya menemukan terumbu karang yang dipenuhi ikan berwarna jingga cerah dan ikan bergaris-garis kuning yang bergegas mencium tangan saya. Terkagum oleh keindahan semacam itu, saya hanya bisa menyembah Allah.
Rasul Paulus memberikan alasan untuk tanggapan saya itu. Tujuan utama ciptaan adalah mengungkapkan sesuatu dari sifat Allah (Rm. 1:20). Keajaiban Pulau Lord Howe membuka mata saya untuk melihat sekilas kuasa dan keindahan-Nya.
Ketika Nabi Yehezkiel bertemu Allah, kepadanya ditunjukkan sesuatu yang kelihatan seperti rupa manusia di takhta yang kelihatannya seperti permata lazurit dan sinar yang mengelilinginya (Yeh. 1:25-28). Rasul Yohanes melihat sesuatu yang serupa: Seorang yang nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis (Why. 4:2-3). Ketika Allah menyatakan diri-Nya, Dia tidak hanya baik dan berkuasa, tetapi juga indah. Ciptaan mencerminkan keindahan itu, sama seperti karya seni merefleksikan senimannya.
Seringkali, alam ciptaan lebih disembah daripada Allah (Rm. 1:25). Alangkah malangnya. Namun, kiranya laut yang sebening kristal dan makhluk-makhluk laut yang berkilauan dapat mengarahkan kita kepada Pribadi di balik semua ciptaan itu, Allah yang lebih berkuasa dan indah daripada segala sesuatu di dunia ini. —Sheridan Voysey
Keindahan ciptaan mencerminkan keindahan Pencipta kita.

Wednesday, August 30, 2017

Menjadi Bersih

Setelah itu kamu akan Kuperciki dengan air jernih, supaya kamu bersih dari segala berhalamu dan dari segala sesuatu yang telah mencemarkan kamu. —Yehezkiel 36:25 BIS
Menjadi Bersih
Ketika membuka mesin pencuci piring kami, saya bingung dengan apa yang terjadi. Alih-alih melihat peralatan makan yang bersih berkilauan, saya malah mendapati piring dan gelas yang dipenuhi debu kapur. Saya bertanya-tanya, apakah air sumur di daerah kami yang kotor atau mesinnya yang rusak.
Tidak seperti mesin pencuci piring yang rusak, pembersihan oleh Allah menghapus semua kecemaran kita. Kita membaca di kitab Yehezkiel bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya ketika Yehezkiel membagikan pesan Allah tentang kasih dan pengampunan-Nya. Israel telah berdosa ketika mereka mengabdi kepada ilah-ilah lain dan bangsa-bangsa lain. Namun, Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya dengan menyambut mereka kembali kepada-Nya. Dia berjanji untuk membersihkan mereka “dari segala berhala [mereka] dan dari segala sesuatu yang telah mencemarkan mereka” (36:25 BIS). Ketika Allah mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati mereka (ay.27 BIS), Dia akan membawa mereka ke tempat yang berbuah lebat dan tidak ada kelaparan (ay.30).
Seperti pada zaman Nabi Yehezkiel, hari ini Tuhan menyambut kita kembali kepada-Nya pada saat kita tersesat. Ketika kita menyerahkan diri pada kehendak-Nya dan cara-Nya, Allah mengubah kita dengan membersihkan kita dari segala dosa. Dengan Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita, Allah menolong kita untuk mengikut-Nya dengan setia hari demi hari. —Sheridan Voysey
Tuhan Allah, tak tergambarkan rasanya saat dibersihkan dan diampuni. Terima kasih karena telah mengubahku menjadi ciptaan baru. Ajarku untuk berserah kepada-Mu setiap hari agar aku semakin serupa dengan Yesus.
Tuhan saja yang sanggup membersihkan kita dari kecemaran.

Tuesday, August 29, 2017

Buah yang Melimpah

Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. —Yohanes 15:16
Buah yang Melimpah
Selama musim semi dan musim panas, saya mengagumi buah buahan yang tumbuh di halaman tetangga kami. Pohon anggur yang mereka rawat merambati pagar dan menghasilkan banyak dompolan anggur. Ranting-ranting yang dipenuhi buah plum dan jeruk menjuntai dalam jangkauan tangan kami.
Meski kami tak mengelola tanah, menanam benih, menyirami, atau menyiangi rumput liar di taman, pasangan yang tinggal di sebelah rumah kami telah membagikan kelimpahan mereka kepada kami. Pasangan itu bertanggung jawab untuk memelihara tanaman mereka dan memungkinkan kami untuk bersukacita dengan sebagian dari panen mereka.
Buah-buahan dan pohon anggur di sebelah pagar kami mengingatkan tentang hasil panen lain yang menguntungkan saya dan orang-orang yang Allah tempatkan dalam hidup saya. Hasil panen itu adalah buah Roh.
Para pengikut Kristus diminta untuk mengklaim manfaat dari menjalani hidup oleh kuasa Roh Kudus (Gal. 5:16-21). Sama seperti benih kebenaran Allah bertumbuh di hati kita, Roh pun meningkatkan kemampuan kita untuk mengekspresikan “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (ay.22-23)
Setelah kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus, kita seharusnya tidak dikendalikan lagi oleh kecenderungan kita yang egois (ay.24). Seiring waktu, Roh Kudus dapat mengubah pikiran, sikap, dan tindakan kita. Ketika kita bertumbuh dewasa di dalam Kristus, kita dapat memiliki sukacita tambahan saat kita mengasihi sesama dengan membagikan keuntungan dari pemberian Allah yang melimpah. —Xochitl Dixon
Tuhan, peliharalah buah Roh dalam hati dan pikiran kami sehingga sesama kami dapat menikmati keharuman di dalam dan melalui kehidupan kita.
Buah Roh mengubah kita sehingga kita dapat mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Monday, August 28, 2017

Memperhatikan

Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah. —Mazmur 41:2
Memperhatikan
John Newton menulis, “Jika saat pulang, aku bertemu seorang anak yang kehilangan sekeping uang logamnya, dan jika dengan memberi anak itu sekeping uang lagi, aku bisa menghapus air matanya, aku merasa telah melakukan sesuatu. Aku senang melakukan hal-hal yang hebat; tetapi aku tak akan mengabaikan tindakan sederhana tadi.”
Di masa sekarang, tidak sulit menemukan orang yang perlu penghiburan: kasir toko yang punya tanggungan dan harus bekerja di dua tempat untuk memenuhi kebutuhannya; pengungsi yang merindukan kampung halamannya; ibu tunggal yang pengharapannya dikikis oleh kekhawatiran; pria tua yang kesepian dan merasa dirinya tak berguna lagi.
Namun, apa yang kita lakukan? “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah,” tulis Daud (Mzm. 41:2). Meskipun kita tidak dapat membantu untuk meringankan kemiskinan dari orang yang kita temui, setidaknya kita dapat memperhatikan mereka—kata lain dari “mempedulikan”.
Kita dapat menyatakan kepedulian kita. Kita dapat memperlakukan mereka dengan sopan dan hormat, meskipun mereka mungkin menguji kesabaran kita atau membuat kita jengkel. Kita dapat mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian. Dan kita berdoa untuk atau bersama mereka—suatu tindakan pemulihan dan pertolongan terbaik yang bisa kita lakukan.
Ingatlah paradoks kuno yang diberikan Yesus kepada kita ketika mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35). Perhatian yang kita berikan tidak akan sia-sia, karena kita akan lebih bahagia ketika dapat mempersembahkan diri kita sendiri. Berikan perhatian kepada orang yang lemah. —David Roper
Bapa, saat kami menjalani hari ini, tunjukkanlah orang yang membutuhkan perhatian kami. Berilah kami kasih dan kesabaran untuk sungguh-sungguh mempedulikan mereka seperti Engkau yang begitu sabar mengasihi kami.
Hidup yang berharga adalah hidup yang dipersembahkan demi kasih. —Frederick Buechner

Sunday, August 27, 2017

Sungguh-Sungguh Mencari

Engkau akan disebutkan “yang dicari”, “kota yang tidak ditinggalkan.” —Yesaya 62:12
Sungguh-Sungguh Mencari
Setiap Sabtu, keluarga kami berjajar di tepi lapangan untuk menyemangati putri saya yang mengikuti lomba lari bersama tim lintas alam di sekolahnya. Setelah melintasi garis finis, para atlet berlarian untuk bergabung dengan rekan satu tim, pelatih, dan orangtua mereka. Keramaian orang menutupi sekitar 300 pelari sehingga sulit untuk menemukan satu dari banyak orang di situ. Kami mencermati dengan semangat kerumunan itu sampai menemukan dan mendekap satu-satunya atlet yang menjadi alasan kami ada di sana: putri kami yang terkasih.
Setelah mengalami pembuangan di Babel selama 70 tahun, Allah mengembalikan orang Yahudi ke Yerusalem dan Yehuda. Nabi Yesaya menggambarkan kegembiraan Allah bagi mereka. Yesaya juga menjelaskan persiapan yang dilakukan untuk menyambut mereka kembali. Allah telah meneguhkan panggilan-Nya atas mereka sebagai umat-Nya yang kudus dan memulihkan kehormatan mereka dengan nama baru, “yang dicari” dan “kota yang tidak ditinggalkan” (Yes. 62:12). Allah mencari mereka yang tersebar di seluruh Babel untuk membawa mereka kembali kepada-Nya.
Seperti orang Israel, kita juga adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Kita sungguh-sungguh dicari oleh Allah. Meskipun dosa pernah menyebabkan kita terpisah dari-Nya, pengorbanan Yesus membuka jalan kita untuk kembali kepada-Nya. Allah mencari setiap dari kita dengan sungguh-sungguh, menanti untuk mendekap kita dalam kehangatan-Nya. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena telah mencariku saat aku tersesat dan membawaku pulang kepada-Mu melalui Yesus Kristus.
Allah mencari anak-anak yang dikasihi-Nya.

Saturday, August 26, 2017

Ular dan Sepeda Roda Tiga

Aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya. —Lukas 1:3
Ular dan Sepeda Roda Tiga
Selama bertahun-tahun, saya masih menceritakan kisah tentang pengalaman saya dan kakak laki-laki saya ketika masih balita di Ghana. Seingat saya, kakak memarkir sepeda roda tiganya, yang terbuat dari besi tua, tepat di atas seekor ular kobra kecil. Sepeda itu terlalu berat bagi si ular yang mati terlindas oleh roda depan.
Namun setelah bibi dan ibu meninggal, kami menemukan surat dari ibu yang lama terhilang dan yang menceritakan peristiwa itu. Faktanya, pada saat itu, sayalah yang telah memarkir sepeda roda tiga di atas si ular. Kakak berlari untuk menceritakannya kepada ibu. Catatan ibu sebagai saksi mata, yang ditulis tak lama setelah terjadinya peristiwa tersebut, mengungkapkan realitas yang sebenarnya.
Sejarawan Lukas memahami pentingnya catatan yang akurat. Ia menjelaskan bagaimana kisah Yesus “disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman” (Luk. 1:2). Ia menulis kepada Teofilus, “Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (ay.3-4). Hasilnya adalah Injil Lukas. Kemudian, dalam pengantar kitab Kisah Para Rasul, Lukas mengatakan tentang Yesus, “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup” (Kis. 1:3).
Iman kita tidak didasarkan pada kabar angin atau angan-angan. Iman kita berakar pada kehidupan Yesus yang terdokumentasi dengan baik. Yesus datang untuk mendamaikan kita dengan Allah. Kisah-Nya tak lekang oleh waktu. —Tim Gustafson
Bapa, pengharapan kami adalah di dalam Tuhan Yesus, Anak-Mu. Terima kasih karena telah menjaga kisah-Nya bagi kami di setiap halaman Alkitab.
Iman yang sejati berakar pada kebenaran.

Friday, August 25, 2017

Dipikat

Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. —Yakobus 1:14
Dipikat
Pada musim panas 2016, keponakan saya meyakinkan saya untuk bermain Pokémon Go—salah satu permainan di ponsel dengan menggunakan kamera di ponsel. Tujuan permainan itu adalah menangkap makhluk-makhluk kecil yang disebut Pokémon. Ketika satu Pokémon muncul, bola berwarna merah dan putih juga muncul di layar ponsel. Untuk menangkap Pokémon, pemain harus mengibaskan bola itu ke arah Pokémon dengan gerakan jari. Namun, Pokémon lebih mudah ditangkap dengan menggunakan umpan untuk memikat mereka.
Pokémon bukan satu-satunya yang dapat dipikat. Dalam suratnya di Perjanjian Baru yang ditujukan kepada orang percaya, Yakobus, saudara Yesus, mengingatkan bahwa kita “dicobai oleh keinginan [kita] sendiri” (1:14). Dengan kata lain, keinginan bekerja sama dengan godaan untuk memikat kita ke jalan yang salah. Meskipun kita mungkin tergoda untuk menyalahkan Allah atau bahkan Iblis untuk masalah-masalah kita, bahaya nyata yang kita hadapi justru ada pada diri kita.
Namun, ada kabar baik. Kita dapat meloloskan diri dari godaan yang memikat itu. Caranya dengan menceritakan semua godaan yang kita alami kepada Allah. Meskipun “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun,” seperti penjelasan Yakobus dalam ayat 13, Allah mengerti kecenderungan manusia untuk melakukan sesuatu yang salah. Kita hanya perlu meminta hikmat yang dijanjikan Allah akan diberikan-Nya (1:1-6). —Linda Washington
Tuhan, saat aku tergoda, tunjukkanlah kepadaku jalan keluarnya.
Berdoalah saat kamu tergoda untuk melakukan perbuatan yang tidak benar.

Thursday, August 24, 2017

Kepentingan Orang Lain

Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. —Filipi 2:3
Kepentingan Orang Lain
Teman saya, Jamie, bekerja di perusahaan raksasa internasional. Di awal masa kerjanya, seseorang menghampiri meja kerjanya, memulai percakapan, dan bertanya kepada Jamie tentang pekerjaan yang dilakukannya. Setelah menjelaskan pekerjaannya kepada orang itu, Jamie menanyakan identitas orang itu. “Nama saya Rich,” jawabnya.
“Senang berkenalan denganmu,” jawab Jamie. “Dan apa yang kamu kerjakan di sini?”
“Oh, saya pemilik perusahaan ini.”
Jamie tiba-tiba menyadari bahwa percakapan mereka yang santai dan sederhana itu merupakan awal perkenalannya dengan salah satu orang terkaya di dunia.
Di masa sekarang ketika orang-orang cenderung menyanjung dan memuji “diri sendiri”, kisah sederhana itu dapat menjadi pengingat terhadap perkataan Paulus yang penting di kitab Filipi: “Hendaklah kamu . . . tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia” (2:2-3). Manusia yang memberikan perhatian kepada orang lain, dan bukan kepada dirinya sendiri, memiliki sifat-sifat yang dikatakan Paulus.
Ketika “dengan rendah hati [kita] menganggap yang lain lebih utama dari pada diri [kita] sendiri,” kita menunjukkan sifat Kristus yang rendah hati (ay.3). Kita mencerminkan Kristus yang datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk. 10:45). Ketika kita “mengambil rupa seorang hamba” (Flp. 2:7), kita memiliki pikiran Kristus Yesus (ay.5).
Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, janganlah kita hanya melihat kepentingan diri sendiri tetapi “kepentingan orang lain juga” (ay.4). —Dave Branon
Yesus, Engkau memberikan contoh kerendahan hati saat Engkau meninggalkan kemuliaan surgawi dan menjadi hamba yang rendah hati di bumi. Tolonglah kami agar bisa menjalani hidup yang rendah hati seperti-Mu dalam semua hal yang kami lakukan.
Layanilah Allah dengan melayani sesama.

Wednesday, August 23, 2017

Kesalahan Kita Dihapuskan

Aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5
Kesalahan Kita Dihapuskan
Saat remaja, saya mengajak teman untuk menemani ke toko suvenir di dekat rumah. Ia mengagetkan saya dengan menjejalkan segenggam jepit rambut warna-warni ke saku celana saya dan menarik saya keluar tanpa membayar. Rasa bersalah mengusik saya seminggu penuh sebelum saya menceritakannya kepada Ibu— pengakuan saya terucap sederas air mata saya.
Karena sedih telah membuat pilihan yang salah dengan tidak menolak perbuatan teman saya, saya mengembalikan jepit rambut yang saya curi, meminta maaf pada pemilik toko, dan berjanji untuk tidak mencuri lagi. Pemilik toko meminta saya untuk tidak kembali lagi ke tokonya. Namun, karena ibu memaafkan dan meyakinkan saya bahwa saya telah melakukan yang terbaik untuk memperbaiki keadaan, saya pun dapat tidur tenang malam itu.
Raja Daud juga menerima pengampunan setelah mengakui perbuatannya (Mzm. 32:1-2). Ia telah menyembunyikan dosa yang dilakukannya terhadap Betsyeba dan Uria (2Sam. 11-12) sampai “tulang-tulangnya menjadi lesu” (Mzm. 32:3-4). Namun, ketika Daud tidak lagi “menutupi” dosanya, Tuhan menghapus kesalahannya (ay.5). Allah menjaga Daud dari “kesesakan” dan mengelilingi Daud sehingga dapat “luput dan bersorak” (ay.7). Daud bersukacita karena “orang percaya kepada Tuhan dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (ay.10).
Kita tak bisa memilih konsekuensi dosa kita atau mengendalikan respons orang saat kita mengakui kesalahan dan meminta maaf. Namun, Tuhan memampukan kita untuk lepas dari cengkeraman dosa dan merasakan damai setelah kita mengakui kesalahan kita. Allah menegaskan bahwa kesalahan kita dihapuskan selamanya. —Xochitl Dixon
Tuhan, saat kami mengakui dosa-dosa kami dan menerima pengampunan-Mu, tolonglah kami untuk percaya bahwa kesalahan kami sudah dihapus sepenuhnya dan selamanya.
Ketika Allah mengampuni, kesalahan kita dihapuskan.

Tuesday, August 22, 2017

Siap Dituai

Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. —Yohanes 4:35
Siap Dituai
Di penghujung musim panas, kami berjalan-jalan di New Forest, Inggris. Dengan gembira, kami memetik buah beri hitam yang tumbuh di alam liar sambil melihat beberapa kuda bermain di sekitar kami. Sambil menikmati dompolan buah manis yang ditanam orang lain beberapa tahun sebelumnya, saya teringat ucapan Yesus kepada murid-murid Nya: “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan” (Yoh. 4:38).
Saya suka dengan kemurahan hati Allah yang terlihat di ayat tersebut. Dia memperkenankan kita menikmati buah dari kerja keras orang lain, seperti ketika kita membagikan tentang kasih kita kepada Yesus. Kita membagikannya kepada seorang teman yang tanpa sepengetahuan kita telah didoakan oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Saya juga suka dengan batasan-batasan yang tersirat dalam ucapan Yesus tersebut, karena kita mungkin menanam benih yang buahnya tidak akan pernah kita tuai tetapi mungkin dituai oleh orang lain. Oleh karena itu, kita dapat berserah ketika melakukan tugas-tugas yang kita terima, tanpa dikungkung pemikiran bahwa kita bertanggung jawab terhadap hasilnya. Bagaimanapun, pekerjaan Allah tidak bergantung kepada kita. Allah memiliki semua sumber daya untuk menghasilkan tuaian yang berlimpah dan kita mendapat kehormatan untuk ikut ambil bagian di dalamnya.
Saya membayangkan ladang apa yang siap kamu dan saya tuai? Kiranya kita memperhatikan instruksi Yesus yang penuh kasih: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai!” (ay.35). —Sheridan Voysey
Allah Pencipta, terima kasih karena kemurahan hati-Mu sehingga mempercayai kami untuk melakukan pekerjaan-Mu. Kiranya kami selalu peka dengan setiap kesempatan untuk membagikan kabar baik-Mu.
Kita dapat menuai apa yang ditabur orang lain.

Monday, August 21, 2017

Diamlah

Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. —Mazmur 46:12
Diamlah
“Kita telah menciptakan lebih banyak informasi yang pernah ada dalam 5 tahun terakhir daripada yang ada di sepanjang sejarah manusia, dan informasi itu tidak henti-hentinya kita terima” (Daniel Levitin, penulis buku The Organized Mind: Thinking Straight in the Age of Information Overload). Menurut Levitin, “Itu berarti kita menjadi ketagihan hiperstimulasi (rangsangan yang melampaui batas).” Berita dan pengetahuan yang datang bertubi-tubi dapat mendominasi otak kita. Di lingkungan masa kini dengan media yang terus membombardir, kita semakin sulit menemukan waktu untuk duduk diam, merenung, dan berdoa.
Mazmur 46:11 mengatakan, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.” Ayat itu mengingatkan kita tentang perlunya menyediakan waktu untuk fokus kepada Tuhan. Banyak orang menemukan bahwa “waktu tenang” merupakan bagian yang penting setiap hari—waktu untuk membaca Alkitab, berdoa, dan merenungkan kebaikan dan kebesaran Allah.
Ketika kita, seperti penulis Mazmur 46, mengalami sendiri bahwa “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ay.2), itu mengenyahkan rasa takut kita (ay.3), mengalihkan fokus kita dari gejolak dunia untuk memandang pada damai Allah, dan menciptakan keyakinan yang menenangkan bahwa Tuhanlah yang memegang kendali (ay.11).
Sebising apa pun dunia sekeliling kita, kita dapat menemukan ketenangan dan kekuatan dalam kasih dan kuasa Bapa Surgawi kita. —David McCasland
Bapa Surgawi, kami menyerahkan kehidupan kami yang bising dan pikiran kami yang berantakan di hadapan-Mu, sehingga kami dapat belajar untuk tenang dan tahu bahwa Engkaulah Allah.
Setiap hari kita perlu berdiam diri dan mendengarkan Tuhan.

Sunday, August 20, 2017

Perubahan

Orang Yahudi telah beroleh kelapangan hati dan sukacita, kegirangan dan kehormatan. —Ester 8:16
Perubahan
Ketika sang pendeta berkhotbah pada pemakaman seorang veteran perang yang lanjut usia, ia membahas tentang di mana kemungkinan almarhum berada. Namun, bukannya menjelaskan bagaimana orang dapat mengenal Allah, ia malah berspekulasi tentang hal-hal yang tidak ada di Alkitab. Di manakah pengharapan dalam semua itu? pikir saya.
Akhirnya pendeta meminta kami menyanyikan himne penutup. Ketika kami berdiri dan menyanyikan “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, orang mulai memuji Allah dari lubuk hati mereka. Dalam sekejap, semangat orang di ruangan tersebut berubah. Tiba-tiba secara mengejutkan, di tengah-tengah pujian bait kedua, emosi mewarnai suara saya.
Ya Tuhanku, pabila kurenungkan
Pemberian-Mu dalam Penebus,
‘Ku tertegun: bagiku dicurahkan
Oleh Putra-Mu darah-Nya kudus.

Sebelum kami menyanyikan himne tersebut, saya bertanya-tanya apakah Allah akan hadir di pemakaman itu. Kenyataannya, Allah senantiasa hadir. Kitab Ester mengungkapkan kebenaran tersebut. Bangsa Yahudi sedang di pengasingan, dan para penguasa ingin membunuh mereka. Namun pada momen kegelapan itu, raja yang tidak mengenal Allah itu memberikan hak bagi orang Israel yang tertawan untuk mempertahankan diri dari orang yang menginginkan kematian mereka (EST. 8:11-13). Mereka berhasil mempertahankan diri dan merayakannya (9:17-19).
Seharusnya tidak mengherankan bahwa Allah hadir melalui lirik himne yang dinyanyikan saat pemakaman itu. Bagaimanapun juga, Allah mengubah upaya pembunuhan terhadap suatu bangsa menjadi perayaan, dan penyaliban diubah menjadi kebangkitan dan penyelamatan! —Tim Gustafson
Allah kita yang tak terduga sering menyatakan kehadiran-Nya pada saat-saat yang tidak kita harapkan.

Saturday, August 19, 2017

Dukacita Menjadi Sukacita

Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. —Yohanes 16:20
Dukacita Menjadi Sukacita
Kandungan Kelly mengalami komplikasi, dan para dokter menjadi khawatir. Karena lamanya proses persalinan, dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Meski menyakitkan, Kelly segera melupakan rasa sakit itu ketika ia menggendong putranya yang baru lahir. Sukacita menggantikan rasa sakitnya.
Alkitab menegaskan kebenaran ini: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia” (Yoh. 16:21). Yesus menggunakan ilustrasi itu untuk menekankan kepada murid-murid-Nya bahwa meskipun mereka berdukacita karena Yesus akan segera pergi, dukacita mereka akan menjadi sukacita ketika mereka melihat kedatangan-Nya kembali (ay.20-22).
Yesus mengacu pada kematian dan kebangkitan-Nya—dan peristiwa selanjutnya. Setelah kebangkitan-Nya, yang membuat para murid bersukacita adalah Yesus menggunakan waktu selama 40 hari bersama mereka dan mengajar mereka sebelum kenaikan-Nya ke surga dan meninggalkan mereka sekali lagi (Kis. 1:3). Namun, Yesus tidak meninggalkan mereka dalam dukacita. Roh Kudus akan memenuhi mereka dengan sukacita (Yoh. 16:7-15; Kis. 13:52).
Walaupun kita tidak pernah bertatap muka dengan Yesus, sebagai orang percaya, kita memiliki kepastian bahwa suatu hari nanti kita akan bertatap muka dengan-Nya. Pada hari itu, penderitaan yang kita alami di bumi akan terlupakan. Namun sampai saat itu tiba, Tuhan tidak akan meninggalkan kita tanpa sukacita karena Dia telah memberi kita Roh Kudus (Rm. 15:13; 1Ptr. 1:8-9). —Alyson Kieda
Ya Tuhan, kami rindu berada di hadapan-Mu, terutama saat kami menghadapi penderitaan dan kesedihan. Namun, Engkau tidak membiarkan kami sendiri. Roh Kudus tinggal di dalam diri kami dan memberi kami sukacita.
Suatu hari dukacita kita akan berubah menjadi sukacita!

Friday, August 18, 2017

Orisinal

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita. —Mazmur 100:3
Orisinal
Setiap dari kita adalah karya orisinal Allah. Tidak ada laki-laki atau perempuan yang menciptakan diri mereka sendiri. Tidak ada orang yang dengan sendirinya memiliki bakat, ketenaran, atau kepintaran. Allah menciptakan sendiri setiap dari kita. Dia merancang kita dan membentuk kita dari kasih-Nya yang tak terucapkan.
Allah menciptakan tubuh, pikiran, dan jiwa kamu. Dan Dia belum selesai denganmu; Dia masih terus membentukmu. Tujuan utama-Nya adalah kedewasaan kita: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp. 1:6). Allah membuat kamu lebih berani, lebih kuat, lebih murni, lebih mencintai damai, lebih mengasihi, lebih mementingkan sesama—menjadi pribadi yang selama ini kamu dambakan.
“Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm. 100:5). Allah selalu mengasihimu (“selama-lamanya” berlaku dua arah), dan Dia akan setia kepada kamu sampai akhir.
Kamu telah diberi kasih yang kekal selamanya dan Allah yang senantiasa mendukungmu. Itulah alasan yang baik untuk memiliki sukacita dan “datang kepada-Nya dengan sorak-sorai!” (100:2).
Jika kamu tidak dapat menyanyi, kamu dapat berseru kepada-Nya: “Bersorak-soraklah bagi Tuhan” (ay.1). —David Roper
Bapa, aku bersyukur karena Engkau bekerja di dalamku. Sulit bagiku untuk berubah dan kadang aku berpikir bagaimana dan kapan aku bisa berubah. Aku tahu Engkau bekerja di dalamku, dan saat melihat ke belakang aku akan melihat pertumbuhan yang Engkau berikan. Terima kasih, Tuhan!
Pertumbuhan rohani terjadi ketika iman dipelihara.

Thursday, August 17, 2017

Janji Kedamaian

Mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan. —Mikha 4:4
Janji Kedamaian
Enam puluh lima juta jiwa. Itulah jumlah pengungsi di dunia kita saat ini—orang yang harus meninggalkan tempat tinggal mereka karena konflik dan penganiayaan—dan itu jumlah tertinggi yang pernah ada dalam sejarah. PBB telah mengajukan permohonan kepada pemimpin negara-negara di dunia untuk bekerja sama dalam menerima para pengungsi itu sehingga setiap anak akan mendapatkan pendidikan, setiap orang dewasa akan mendapatkan pekerjaan yang bermanfaat, dan setiap keluarga akan memiliki tempat tinggal.
Mimpi untuk memberikan tempat tinggal bagi para pengungsi di masa krisis mengingatkan saya tentang janji Allah bagi bangsa Yehuda ketika pasukan Asyur yang kejam mengancam negara mereka. Tuhan mengutus Nabi Mikha untuk memperingatkan bangsa Yehuda bahwa mereka akan kehilangan bait suci dan kota tercinta mereka, Yerusalem. Namun, Allah juga menjanjikan masa depan yang indah, melebihi kehilangan yang mereka alami.
Harinya akan tiba, kata Mikha, ketika Allah akan memanggil orang-orang dari dunia untuk datang kepada-Nya. Kekerasan akan berakhir. Senjata perang akan menjadi alat pertanian, dan setiap orang yang menjawab panggilan Allah akan menemukan kedamaian dan kehidupan yang produktif dalam kerajaan-Nya (4:3-4).
Bagi banyak orang di dunia saat ini, dan mungkin bagi kamu, tempat tinggal yang aman tak lebih dari sekadar mimpi dan belum menjadi kenyataan. Namun, kita dapat mengandalkan janji yang Allah berikan di masa lalu tentang kedamaian bagi setiap orang dari segala bangsa, sementara kita menanti, bekerja, dan mendoakan terwujudnya kedamaian itu. —Amy Peterson
Allah, terima kasih untuk janji yang indah tentang kedamaian. Berilah kedamaian bagi dunia kami, dan sediakanlah kebutuhan semua anak-Mu.
Allah menjanjikan kepada anak-anak-Nya kedamaian dalam kerajaan-Nya.

Wednesday, August 16, 2017

Ketakutan atau Beriman

Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. —Bilangan 14:9
Ketakutan atau Beriman
“Suami saya mendapat promosi untuk bekerja di negara lain, tetapi saya takut untuk meninggalkan rumah kami. Jadi dengan berat hati, ia menolak tawaran itu,” cerita seorang teman kepada saya. Ia menjelaskan bagaimana ketakutan karena perubahan besar semacam itu membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengalami petualangan baru. Terkadang ia juga masih memikirkan peluang yang lepas dari tangan mereka karena memutuskan untuk tidak pindah.
Ketika dipanggil untuk mendiami negeri yang kaya, subur, dan berlimpah-limpah “susu dan madu” (Kel. 33:3), bangsa Israel membiarkan perasaan cemas melumpuhkan mereka. Ketika mendengar laporan tentang bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar (Bil. 13:28), Israel mulai takut. Mayoritas dari mereka menolak panggilan untuk memasuki negeri itu.
Namun, Yosua dan Kaleb mendorong mereka untuk percaya kepada Tuhan dengan mengatakan, “Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka” (Bil. 14:9). Meskipun bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat, Israel dapat mempercayai bahwa Tuhan menyertai mereka.
Teman saya tidak diperintahkan untuk pindah ke negara lain seperti yang dialami bangsa Israel. Namun, ia menyesal karena membiarkan ketakutan menggagalkan peluang yang diterimanya. Bagaimana denganmu—apakah kamu menghadapi situasi yang menakutkan? Jika ya, ketahuilah bahwa Allah menyertai kamu dan akan memandumu. Dengan kasih-Nya yang tidak berkesudahan, kita dapat melangkah maju dalam iman. —Sheridan Voysey
Bapa yang penuh kasih, kiranya aku tak membiarkan ketakutan menghambatku untuk mengikut-Mu, karena aku tahu Engkau akan selalu mengasihiku dan takkan pernah meninggalkanku.
Ketakutan dapat melumpuhkan tetapi iman mendorong kita untuk mengikut Allah.

Tuesday, August 15, 2017

Di Bawah Sayap-Nya

Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung. —Mazmur 91:4
Di Bawah Sayap-Nya
Saat mendengar kata perlindungan, saya tidak otomatis mengaitkannya dengan sayap burung. Meski sayap burung terlihat seperti bentuk perlindungan yang rapuh, ada kelebihan lain yang tidak dapat dilihat langsung. Sayap burung merupakan contoh luar biasa dari rancangan Allah.
Sayap memiliki bagian licin dan bagian lembut. Bagian yang licin memiliki semacam tulang keras dengan kait-kait mungil yang terjalin seperti ritsleting pakaian. Bagian yang lembut menjaga burung tetap hangat. Dua bagian sayap itu melindungi burung dari terpaan angin dan hujan. Namun, kebanyakan anak burung hanya punya bulu lembut dan sayap mereka belum tumbuh sepenuhnya. Jadi, si induk harus menudungi anak-anaknya di sarang dengan sayapnya untuk melindungi mereka dari angin dan hujan.
Gambaran Allah “menudungi [kita], di bawah sayap-Nya” di Mazmur 91:4 dan di bagian lain di Alkitab (lihat Mzm. 17:8) merupakan gambaran penghiburan dan perlindungan. Gambaran yang terlintas di pikiran kita adalah induk burung menudungi anak-anaknya dengan sayapnya. Sama seperti kedua lengan orangtua yang menjadi tempat aman bagi anak-anaknya untuk menenangkan diri dari badai yang menakutkan atau rasa sakit, kehadiran Allah yang menenangkan juga memberikan rasa aman dan perlindungan dari badai emosi kehidupan.
Meski mengalami masalah dan sakit hati, kita dapat menghadapinya tanpa rasa takut selama kita mengarahkan pandangan kepada Allah. Dia adalah “tempat perlindungan” kita (91:2,4,9). —Linda Washington
Allah Bapa, tolonglah aku untuk percaya bahwa Engkau lebih besar daripada semua ketakutan yang kualami.
Saat ketakutan membuat kamu putus asa, datanglah kepada Allah, tempat perlindunganmu yang hanya sejauh doa.

Monday, August 14, 2017

Kasih untuk Anak-Anak

Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga. —Matius 19:14
Kasih untuk Anak-Anak
Thomas Barnado belajar di sekolah medis Rumah Sakit London pada tahun 1865. Ia berangan-angan menjadi misionaris medis di Tiongkok. Barnado segera menyadari adanya kebutuhan mendesak di depan rumahnya sendiri—banyak anak tunawisma yang hidup dan mati di jalanan London. Barnado bertekad melakukan sesuatu untuk mengatasi keadaan yang mengenaskan itu. Dengan membangun perumahan bagi anak-anak miskin di ujung timur London, Barnado menyelamatkan 60.000 anak dari kemiskinan dan kematian. Teolog dan pendeta John Stott berkata, “Sekarang kita dapat menyebut Barnado sebagai santa pelindung anak-anak jalanan.”
Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 19:14). Bayangkan keterkejutan yang dialami orang banyak—dan juga murid-murid Yesus—terhadap pernyataan Yesus tersebut. Di zaman kuno, anak-anak dianggap tidak begitu berharga dan tidak diperhatikan. Namun, Yesus menyambut, memberkati, dan menghargai anak-anak.
Yakobus, seorang penulis Perjanjian Baru, menantang para pengikut Kristus dengan berkata, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu . . . dalam kesusahan mereka” (Yak. 1:27). Saat ini, sama seperti yatim piatu di abad pertama, anak-anak dari setiap tingkat sosial, suku bangsa, dan lingkungan keluarga sedang terancam ditelantarkan, diperdagangkan, diperlakukan semena-mena, dipengaruhi narkoba, dan banyak lagi. Bagaimana kita dapat menghormati Bapa yang mengasihi kita dengan menunjukkan perhatian-Nya pada anak-anak yang disambut Yesus? —Bill Crowder
Jadilah pribadi yang mengekspresikan kasih Yesus.

Sunday, August 13, 2017

Ketakutan dan Beriman

Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. —Habakuk 3:19
Ketakutan dan Beriman
Kata-kata dokter menghunjam hatinya. Ia mengidap kanker. Dunianya seakan berhenti saat ia memikirkan suami dan anak-anaknya. Mereka telah rajin berdoa, berharap diagnosanya akan berbeda. Apa yang akan mereka lakukan? Dengan air mata berlinang di wajahnya, ia berkata lirih, “Allah, ini di luar kendali kami. Kiranya Engkau menjadi kekuatan kami.”
Apa yang kita lakukan bila diagnosa penyakit yang kita terima mengecewakan hati, atau ketika situasi-situasi yang dihadapi berada di luar kendali kita? Ke mana kita meminta tolong saat segalanya tak memberikan harapan?
Situasi yang dialami Nabi Habakuk sungguh di luar kendalinya, dan ketakutan yang ia rasakan sangat mengguncangnya. Penghakiman yang akan datang merupakan bencana hebat (Hab. 3:16-17). Namun, di tengah-tengah kekacauan yang mencengkeram itu, Habakuk memilih untuk hidup dengan imannya (2:4) dan bersorak-sorak di dalam Tuhan (3:18). Ia tidak menaruh keyakinan dan imannya pada keadaan, kemampuan, ataupun kekayaannya, tetapi pada kebaikan dan kebesaran Allah. Kepercayaannya kepada Allah mendorongnya untuk menyatakan: “Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (ay.19).
Ketika kita menghadapi keadaan yang sulit—penyakit, krisis keluarga, masalah keuangan—kita juga perlu beriman dan percaya kepada Allah. Dia selalu menyertai kita dalam segala hal yang kita hadapi. —Karen Wolfe
Allah terkasih, terima kasih karena aku dapat selalu datang pada-Mu. Saat aku menghadapi kesulitan hidup, aku dapat percaya pada-Mu. Terima kasih karena Engkau menjadi “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan” —(Mzm. 46:2).
Ketika menghadapi situasi-situasi yang sulit, kita dapat mempercayai Allah sebagai sumber kekuatan kita.

Saturday, August 12, 2017

Bersyukur untuk Segala Sesuatu

Engkau akan makan dan engkau akan kenyang, maka engkau akan memuji Tuhan, Allahmu karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. —Ulangan 8:10
Bersyukur untuk Segala Sesuatu
Di Australia, mengemudi dari satu kota ke kota lain kadang memerlukan waktu berjam-jam. Kelelahan dalam perjalanan dapat menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu, pada waktu liburan yang ramai, ada tempat-tempat istirahat disediakan di jalan-jalan tol utama. Di sana ada para sukarelawan yang menawarkan kopi gratis. Saya dan istri saya, Merryn, sangat menikmati tempat-tempat istirahat itu selama perjalanan jarak jauh yang kami tempuh.
Suatu kali, kami menghentikan mobil di tempat istirahat itu dan memesan kopi bagi kami berdua. Seorang penjaga memberikan dua cangkir kopi dan meminta uang dua dolar. Saya bertanya mengapa. Ia menunjuk ke tulisan kecil di papan penanda. Di tempat istirahat ini, hanya pengemudi yang dapat kopi gratis, sementara penumpang harus membayar. Dengan jengkel, saya mengatakan bahwa iklan itu menyesatkan, membayar dua dolar, dan beranjak pergi. Saat kembali ke mobil, Merryn menunjukkan kesalahan saya: saya telah mengubah pemberian menjadi hak dan saya tidak berterima kasih untuk kopi gratis yang saya terima. Istri saya benar.
Ketika Musa memimpin Israel ke Tanah Perjanjian, ia mendorong mereka untuk menjadi bangsa yang bersyukur (Ul. 8:10). Berkat Allah, negeri itu berlimpah dengan susu dan madu. Namun, bisa saja mereka dengan mudah menganggap negeri itu sebagai sesuatu yang sudah sepantasnya mereka terima (ay.17-18). Karena itulah, orang Yahudi membangun kebiasaan untuk mengucap syukur atas setiap makanan, sekecil apa pun. Bagi mereka, semua hal adalah pemberian.
Saya menemui lagi penjaga kedai tadi dan meminta maaf. Secangkir kopi gratis adalah pemberian yang tidak layak saya terima—dan sesuatu yang seharusnya saya syukuri. —Sheridan Voysey
Terpujilah Engkau, ya Tuhan Allah kami, Raja alam semesta, yang memberikan roti dari bumi. —Doa syukur Yahudi untuk makanan
Bersyukurlah kepada Allah bahkan untuk pemberian terkecil sekalipun.

Friday, August 11, 2017

Seandainya . . .

Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. —Yohanes 11:32
Seandainya . . .
Ketika kami keluar dari tempat parkir, suami saya memperlambat mobil untuk memberi jalan bagi seorang wanita muda yang mengayuh sepedanya. Waktu Tom mengangguk sebagai tanda wanita itu dapat melintas terlebih dahulu, wanita itu tersenyum, melambaikan tangan, dan melaju. Beberapa saat kemudian, pengemudi dari mobil lain yang sedang parkir membuka pintu mobilnya, menghantam pengendara sepeda itu hingga terjatuh. Lututnya berdarah, wanita itu menangis sambil memeriksa sepedanya yang bengkok.
Kemudian kami memikirkan kecelakaan tadi: Seandainya kami membuat pengendara sepeda itu menunggu sebentar . . . Seandainya pengemudi mobil itu melihat kiri-kanan sebelum membuka pintu mobilnya . . . Seandainya . . . Kesulitan-kesulitan membuat kita selalu berandai-andai dalam benak kita sendiri. Seandainya aku tahu anakku sedang bersama remaja lain yang mabuk-mabukan . . . Seandainya kami tahu kanker itu lebih awal . . .
Ketika masalah yang tidak diinginkan menerpa, terkadang kita meragukan kebaikan Tuhan. Bahkan kita mungkin merasa putus asa seperti yang dialami Marta dan Maria ketika saudaranya meninggal. Oh, seandainya Yesus segera datang saat tahu Lazarus sakit! (Yoh. 11:21,32).
Seperti Marta dan Maria, kita tidak selalu mengerti alasan kita mengalami hal-hal yang buruk. Namun, kita dapat tenang ketika tahu bahwa Allah sedang melakukan tujuan-Nya untuk sesuatu yang lebih baik. Di setiap kesempatan, kita dapat mempercayai hikmat Allah yang setia dan penuh kasih. —Cindy Hess Kasper
Bapa, Engkau telah menyertai kami melewati masa-masa yang sulit. Terima kasih telah mengajar kami untuk mempercayai hati-Mu yang penuh kasih bahkan saat kami tidak mengerti apa yang sedang Engkau lakukan dalam hidup kami.
Mempercayai Allah di masa menyenangkan, itu biasa. Namun, mempercayai-Nya di masa kegelapan, itulah iman. —Charles Haddon Spurgeon

Thursday, August 10, 2017

Wajah Bapa Kita

Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. —Mazmur 80:4
Wajah Bapa Kita
Saya ingat wajah ayah saya. Sulit ditebak. Ia seorang pria yang baik, tabah, dan mandiri. Sebagai anak, saya sering memperhatikan wajahnya, mencari senyuman, atau sesuatu yang menunjukkan kasihnya. Wajah menunjukkan diri kita. Kerutan di dahi, wajah yang muram, sebaris senyuman, dan mata yang meringis menunjukkan apa yang kita rasakan tentang orang lain. Wajah kita menunjukkan “cerita” kita.
Asaf, penulis Mazmur 80, sedang putus asa dan sangat ingin melihat wajah Allah. Ia melihat ke utara dari tempatnya di Yerusalem dan melihat negara tetangga Yehuda, yaitu Israel, runtuh saat pemerintahan kerajaan Asyur. Runtuhnya Israel membuat Yehuda rentan diinvasi dari semua sudut—Asyur di utara, Mesir di selatan, dan negara-negara Arab di timur. Yehuda kalah jumlah dan tidak seimbang.
Asaf merangkum ketakutannya dalam doa yang diulang tiga kali (Mzm. 80:4,8,20), “Buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Dengan kata lain, biarlah kami melihat senyum-Mu.)
Adalah baik untuk berpaling dari ketakutan kita dan mencari wajah Bapa Surgawi. Cara terbaik untuk melihat wajah Allah adalah dengan memandang salib. Salib menyatakan tentang Dia (Yoh. 3:16).
Jadi, ketahuilah: Ketika Bapa memandangmu, ada senyum lebar di wajah-Nya. Kamu sungguh aman! —David Roper
Mintalah kepada Allah untuk menyinari kamu dengan wajah-Nya. Untuk menolongmu berdoa, gunakanlah Mazmur ini atau mazmur-mazmur lainnya.
Kasih Allah kepada kita selebar tangan Kristus yang terentang di kayu salib.

Wednesday, August 9, 2017

Hati Kristus

Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu—dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis. —Keluaran 32:32
Hati Kristus
Seorang wartawan Australia yang dipenjara selama 400 hari di Mesir mengekspresikan emosinya yang campur aduk saat ia dibebaskan. Ketika mengungkapkan kelegaannya, ia mengatakan bahwa ia bersyukur atas kebebasannya sekaligus merasa prihatin dengan teman-teman yang ia tinggalkan. Ia merasa sulit mengucapkan perpisahan kepada rekan-rekan wartawan yang telah ditangkap dan dipenjara bersamanya—tanpa tahu berapa lama lagi mereka akan ditahan.
Musa juga mengekspresikan kegelisahan yang mendalam ketika memikirkan teman-teman yang akan ditinggalkannya. Ketika merasa bahwa ia akan kehilangan saudara, saudari, dan bangsanya yang telah menyembah anak lembu emas pada saat ia bertemu dengan Tuhan di Gunung Sinai (Kel. 32:11-14), ia mendoakan mereka. Dalam kepeduliannya, Musa memohon, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu—dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis” (ay.32).
Rasul Paulus juga mengekspresikan kepedulian yang serupa untuk keluarga, teman, dan bangsanya. Dengan berduka atas ketidakpercayaan mereka kepada Yesus, Paulus berkata bahwa ia bersedia mengorbankan hubungannya dengan Kristus apabila dengan kasih itu, ia dapat menyelamatkan saudara-saudaranya (Rm. 9:3).
Mencermati keduanya, kita melihat bahwa Musa dan Paulus mengekspresikan hati Kristus. Namun, keprihatinan mereka hanyalah sebatas perasaan dan niat untuk berkorban. Tidak demikian dengan Tuhan Yesus. Dia sungguh-sungguh mengasihi dan berkorban agar kita dapat bersama Dia selamanya. —Mart DeHaan
Bapa di surga, terima kasih telah mengingatkan kami pentingnya menjadi serupa dengan-Mu, bersedia hidup—dan mati—bagi orang yang belum pernah melihat betapa Engkau mengasihi mereka.
Memperhatikan sesama berarti menghargai kasih Yesus bagi kita.

Tuesday, August 8, 2017

Tersedia untuk Semua

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. —Markus 10:45
Tersedia untuk Semua
Di budaya yang terobsesi pada selebriti sekarang ini, tak mengejutkan ada yang memasarkan “selebriti sebagai produk . . . dengan menjual waktu dan kehidupan pribadi mereka.” Artikel Vauhini Vara di The New Yorker menuliskan bahwa dengan membayar $15,000, kamu dapat bertemu langsung penyanyi Shakira, dan dengan uang sebesar $12,000, kamu dan 11 tamu lainnya dapat makan siang bersama koki ternama Michael Chiarello di kediamannya.
Banyak orang memperlakukan Yesus seperti selebriti ketika mereka mengikuti-Nya dari satu tempat ke tempat lain, mendengarkan ajaran-Nya, melihat mukjizat-Nya, dan meminta kesembuhan dari sentuhan-Nya. Namun, Yesus tak menganggap diri-Nya terlalu penting atau perlu menjaga jarak. Dia terbuka kepada semua orang. Saat pengikut-Nya, Yakobus dan Yohanes, secara sembunyi-sembunyi memperebutkan posisi dalam kerajaan-Nya yang akan datang, Yesus mengingatkan semua murid-Nya, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk. 10:43-44).
Setelah mengatakan itu, Yesus menghentikan prosesi orang yang mengikuti-Nya dan Dia bertanya kepada seorang pengemis buta, “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay.51). Seketika itu juga, orang buta itu dapat melihat dan mengikuti Yesus (ay.52).
Tuhan kita “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (ay.45). Kiranya kita, sama seperti Dia, berbelas kasihan dan siap sedia untuk orang lain hari ini. —David McCasland
Yesus, kami menghormati-Mu sebagai Anak Allah dan Tuhan Mahamulia yang mati untuk kami. Tolong kami untuk menunjukkan kasih-Mu pada orang lain.
Ikutilah teladan Yesus: Menjangkau orang lain yang membutuhkan.

Monday, August 7, 2017

Hidup dalam Segala Kelimpahan

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. —Yohanes 10:10
Hidup dalam Segala Kelimpahan
Ketika saya mengunjungi saudara saya dan keluarganya, keponakan saya dengan semangat menunjukkan sistem baru untuk mengatur tugas di rumah, yaitu papan-papan Choropoly. Tiap papan elektronik yang berwarna itu memonitor tugas mereka. Jika pekerjaan diselesaikan dengan baik, anak-anak menekan tombol hijau yang menambah poin hadiah. Melalaikan tugas seperti membiarkan pintu belakang terbuka akan membuat mereka didenda dengan mengurangi total poin mereka. Karena total poin yang tinggi membuat mereka menerima hadiah-hadiah yang menyenangkan seperti waktu untuk bermain komputer—dan melalaikan tugas akan mengurangi total waktu bermain mereka—keponakan saya sekarang termotivasi untuk melakukan tugas rumah dan memastikan pintu belakang selalu tertutup!
Sistem yang cerdik itu membuat saya membayangkan seandainya saya juga memiliki alat motivasi yang menyenangkan! Tentu saja Allah telah memberi kita motivasi. Selain memerintahkan para murid-Nya untuk taat, Yesus telah berjanji bahwa hidup yang mengikut Dia—meski harus membayar harga—juga merupakan hidup yang berlimpah-limpah, “hidup . . . dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Mengalami hidup dalam kerajaan-Nya bernilai “seratus kali lipat” daripada harga yang harus dibayar—di masa sekarang dan di masa yang akan datang (Mrk. 10:29-30).
Kita dapat bersukacita karena melayani Allah yang pemurah, yang tidak memberikan upah dan hukuman yang selayaknya kita terima. Dia bersedia menerima upaya-upaya terlemah kita, bahkan menyambut dan memberi upah kepada para pendatang baru ke dalam kerajaan-Nya sama seperti pendatang lama (lihat Mat. 20:1-16). Setelah memahami realitas itu, mari kita bersukacita melayani-Nya hari ini. —Monica Brands
Tuhan, tolong aku mengingat ada makna besar saat mengikut-Mu dan itu semua sangatlah layak untuk kujalani.
Mengikut Yesus adalah jalan menuju hidup yang utuh dan berkelimpahan.

Sunday, August 6, 2017

Mencerminkan Kasih Allah

Ketika Musa turun dari gunung Sinai— kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu—tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan. —Keluaran 34:29
Mencerminkan Kasih Allah
Saya merasa bangga dapat merawat mama selama beliau menjalani perawatan di pusat pelayanan kanker. Bahkan di hari-hari tersulitnya, mama masih membaca Kitab Suci dan mendoakan orang lain sebelum beliau tidur.
Mama menyediakan waktu untuk bersekutu bersama Yesus setiap hari, mengungkapkan imannya melalui ketergantungannya kepada Allah, kebaikannya, dan hasratnya untuk menguatkan serta mendoakan orang lain. Tanpa menyadari betapa wajahnya yang penuh senyum itu memancarkan anugerah kasih dari Tuhan, mama membagikan kasih Allah kepada orang-orang di sekitarnya sampai tiba harinya Allah memanggil mama pulang ke surga.
Setelah bertemu Allah selama 40 hari 40 malam (Kel. 34:28), Musa turun dari Gunung Sinai. Musa tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan Tuhan itu telah membuat wajahnya bercahaya (ay.29). Namun, bangsa Israel dapat melihatnya dan tahu bahwa Musa telah berbicara dengan Tuhan (ay.30-32). Musa terus bertemu dengan Allah dan mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya (ay.33-35).
Kita mungkin tidak tahu bagaimana pengalaman kita dengan Allah dapat mengubah kita seiring waktu, dan transformasi tersebut tidaklah secara fisik seperti wajah Musa yang menjadi bercahaya. Namun, ketika kita menyediakan waktu bersama Allah dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya setiap hari, kita dapat mencerminkan kasih-Nya. Allah dapat menarik orang-orang mendekat kepada-Nya ketika bukti kehadiran-Nya terlihat di dalam dan melalui kita. —Xochitl Dixon
Momen-momen pribadi kita bersama Allah dapat mengubah kita dan mengarahkan orang lain pada kasih-Nya.

Saturday, August 5, 2017

Menunjukkan Anugerah

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. —Kolose 4:6
Menunjukkan Anugerah
Turnamen Golf Masters Amerika Serikat dimulai pada tahun 1934. Sejak saat itu, hanya tiga pemain yang telah memenangi turnamen tersebut selama dua tahun berturut-turut. Tanggal 10 April 2016, tampaknya Jordan Spieth, yang berusia 22 tahun, akan menjadi pemain ke-4 yang memenangi turnamen dua tahun berturut-turut. Namun, perjuangan Jordan makin melemah di 9 lubang terakhir dan ia pun harus puas menduduki peringkat kedua pada klasemen akhir. Dengan mengabaikan kekalahannya yang mengecewakan, Spieth tetap bersikap ramah pada juara turnamen, Danny Willet. Spieth mengucapkan selamat atas kemenangan Willet sekaligus atas kelahiran anak pertamanya, sesuatu “yang lebih penting daripada permainan golf”.
Dalam tulisannya di surat kabar The New York Times, Karen Krouse mengatakan, “Butuh kebesaran hati bagi Spieth untuk dapat mengetahui apa yang terpenting segera setelah menyaksikan lawan yang mengalahkannya meraih trofi dan penghargaan sebagai pemenang” Krouse melanjutkan, “Spieth memang tampil buruk di lapangan, tetapi sikap dan karakter yang ditampilkannya sungguh tidak bercela.”
Paulus mendorong para murid Yesus di Kolose, “Hendaklah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol. 4:5-6).
Sebagai orang yang telah memperoleh kasih karunia Allah, menjadi hak istimewa sekaligus panggilan kita untuk menunjukkannya di tiap situasi kehidupan kita—baik saat menang atau kalah. —Leslie Koh
Tuhanku, tolong aku dengan Roh-Mu untuk bersikap ramah dan baik kepada orang lain sekaligus menyatakan tentang diri-Mu.
Kata-kata yang penuh kasih selalu baik untuk diucapkan.

Friday, August 4, 2017

Latihan untuk Hidup

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. —Mazmur 66:10
Latihan untuk Hidup
Latihan saya untuk lomba lari jarak jauh tidak berjalan dengan baik dan putaran terakhirlah yang paling mengecewakan. Setengah dari waktu yang ditentukan, saya hanya berjalan dan bahkan saya harus duduk sesaat. Saya merasa gagal dalam ujian kecil itu.
Kemudian saya teringat bahwa itulah inti latihan. Latihan bukanlah ujian agar lolos atau bukan tingkat tertentu yang harus saya capai. Sebaliknya, latihan merupakan sesuatu yang harus saya jalani terus-menerus untuk meningkatkan ketahanan tubuh saya.
Mungkin kamu pernah merasa tidak nyaman atas pergumulan yang sedang kamu hadapi. Allah memperkenankan kita mengalami masa-masa ujian tersebut untuk menguatkan otot-otot rohani dan ketahanan kita. Allah mengajar kita untuk mengandalkan-Nya, dan memurnikan kita agar menjadi kudus, sehingga kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Tidaklah mengherankan jika pemazmur dapat memuji Allah yang telah memurnikan bangsa Israel melalui api dan air (Mzm. 66:10-12) ketika mereka menderita dalam perbudakan dan pembuangan. Allah tidak hanya menjaga dan membawa mereka ke tempat yang berkelimpahan, tetapi juga memurnikan mereka sepanjang proses tersebut.
Ketika kita mengalami ujian, kita dapat mengandalkan Allah untuk memperoleh kekuatan dan ketahanan. Allah sedang memurnikan kita melalui momen-momen terberat itu. —Leslie Koh
Tuhan, kami tahu Engkau memperkenankan aku mengalami pencobaan agar aku dikuatkan dan dimurnikan. Ajarku selalu mengandalkan-Mu untuk mendapat kekuatan-Mu agar dapat bertahan.
Masa-masa ketika iman diuji dapat menjadi masa-masa yang menguatkan iman.

Thursday, August 3, 2017

Damai Sejahtera dan Percaya

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27
Damai Sejahtera dan Percaya
Ketika berusia enam tahun, saya naik roller coaster untuk pertama kalinya dengan kakak-kakak lelaki saya. Begitu kami menukik di tikungan tajam dengan kecepatan tinggi, saya pun berteriak: “Hentikan sekarang juga! Aku mau turun!” Tentu saja roller coaster itu tidak berhenti, dan saya mencengkeram erat pegangannya sampai roller coaster itu berhenti.
Terkadang hidup dapat seperti naik roller coaster yang tidak diinginkan, dengan jalur-jalur turun yang curam dan belokan-belokan tajam yang tak pernah kita lihat kapan munculnya. Ketika masalah kehidupan datang tak terduga, Alkitab mengingatkan bahwa jalan keluar terbaik bagi kita adalah dengan percaya sepenuhnya kepada Allah. Di masa penuh gejolak ketika penjajahan bangsa asing mengancam Israel, Nabi Yesaya yang terinspirasi Roh Allah merasakan janji yang kuat dari Tuhan: “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yes. 26:3).
Damai sejahtera yang diberikan Juruselamat kita pada saat kita berserah kepada-Nya itu “melampaui segala akal” (Flp. 4:7). Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata seorang wanita yang sedang bergumul dengan kanker payudara yang diidapnya. Setelah sekelompok jemaat gereja kami mendoakannya suatu malam, ia berkata, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang kutahu, aku akan baik-baik saja, karena Tuhan ada di sini bersama kita malam ini.”
Kehidupan akan memiliki kesulitannya sendiri. Namun, Juruselamat yang sangat mengasihi kita lebih besar dari semua kesulitan itu. —James Banks
Tuhan, tolonglah aku untuk percaya kepada-Mu agar aku dapat menjalani hidup dengan damai.
Yesus adalah damai sejahtera kita.

Wednesday, August 2, 2017

Pengakuan Sang Profesor

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. —1 Yohanes 3:16
Pengakuan Sang Profesor
Terkejut dengan kebiasaan menulis yang buruk dari mahasiswanya, David Foster Wallace, profesor sekaligus penulis ternama, memikirkan cara-cara untuk meningkatkan keterampilan menulis mereka. Pada saat itulah, sebuah pertanyaan yang menyentak dirinya. Mungkinkah mahasiswanya mau mendengarkan masukan dari seseorang seperti dirinya yang “sombong, kaku, merasa benar sendiri, [dan] suka merendahkan orang lain”. Ia tahu dirinya mempunyai masalah dengan kesombongan.
Sang profesor benar-benar berubah, tetapi ia tidak mungkin bisa menjadi seperti salah satu mahasiswanya. Namun, saat Yesus datang ke dunia ini, Dia menunjukkan kepada kita kerendahan hati yang sejati dengan menjadi manusia seperti kita. Melawan segala bentuk batasan yang ada, Yesus berkeliling ke mana saja untuk melayani, mengajar, dan melakukan kehendak Bapa-Nya.
Bahkan saat disalibkan, Yesua berdoa meminta pengampunan bagi para algojo-Nya (Luk. 23:34). Dalam pergumulanNya untuk bernapas, Yesus masih mengaruniakan hidup kekal kepada seorang penjahat yang disalib bersama-Nya (ay.42-43).
Mengapa Yesus melakukannya? Mengapa Dia mau melayani orang seperti kita sampai akhir hayat-Nya? Yohanes memberikan jawabannya. Semua karena kasih! Ia menulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.” Lalu Yohanes menegaskan penerapannya bagi kita, “Jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1Yoh. 3:16).
Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kasih-Nya menghapus kecongkakan kita, kesombongan kita, dan sikap kita yang merendahkan sesama. Dan Yesus melakukannya dengan cara yang teragung—Dia menyerahkan nyawa-Nya. —Tim Gustafson
Bapa, kami mudah memandang rendah orang lain. Ampunilah kami. Berilah kami hati yang penuh kasih seperti yang ditunjukkan Anak-Mu kepada kami.
Yesus mengasihi dengan cara melayani kita.

Tuesday, August 1, 2017

Proyek Nozomi

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Proyek Nozomi
Pada tahun 2011, gempa berkekuatan 9 skala richter dan tsunami merenggut hampir 19.000 nyawa dan menghancurkan 230.000 rumah di wilayah timur laut Tokyo. Paska musibah itu, lahirlah The Nozomi Project, dari kata Jepang yang berarti “pengharapan”, dengan tujuan menyediakan penghasilan yang berkelanjutan, komunitas, martabat, dan pengharapan di dalam Allah.
Para wanita yang terlibat dalam proyek Nozomi menyortir puing-puing rumah dan perabotan untuk mencari pecahan-pecahan keramik. Mereka mengampelas pecahan-pecahan itu dan menyusunnya sehingga menjadi perhiasan yang kemudian dijual ke seluruh dunia. Itulah sumber penghasilan mereka sekaligus cara untuk menyatakan iman mereka kepada Kristus.
Pada zaman Perjanjian Baru, ada kebiasaan untuk menyimpan barang-barang berharga di dalam wadah sederhana yang terbuat dari tanah liat. Paulus menggambarkan bagaimana Injil yang berharga tersimpan dalam kerapuhan manusiawi dari para pengikut Kristus: bejana tanah liat (2Kor.. 4:7). Ia menyatakan bahwa bejana hidup kita yang rapuh—bahkan adakalanya rusak—sebenarnya dapat menyingkapkan kuasa Allah yang sangat kontras dengan ketidaksempurnaan kita.
Saat Allah mendiami hidup kita yang tidak sempurna dan rusak, harapan pemulihan oleh kuasa-Nya sering kali lebih jelas terlihat oleh orang lain. Karya pemulihan-Nya dalam hati kita memang sering meninggalkan bekas luka. Namun, mungkin goresan luka dari proses pembelajaran yang kita terima itu menjadi ukiran diri yang membuat karakter Allah lebih terlihat oleh sesama kita. —Elisa Morgan
Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu kepada orang lain saat aku membagikan harta Injil-Mu melalui hidupku yang tidak sempurna tetapi indah ini.
Ketidaksempurnaan dapat membawa pemulihan yang sempurna.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate