Pages - Menu

Tuesday, October 31, 2017

Kisah Ruth

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. —Roma 10:13
Kisah Ruth
Ruth tidak bisa menceritakan kisahnya tanpa menangis. Usianya telah lebih dari 80 tahun dan kini ia sulit untuk bepergian ke mana pun. Karena itu mungkin saja ada yang menganggap Ruth tidak terlalu berperan penting dalam gereja kami. Ia bergantung kepada orang lain untuk menjemputnya, dan karena ia tinggal seorang diri, tidak banyak orang yang dipengaruhi oleh hidupnya.
Namun ketika Ruth menceritakan kisah keselamatannya—ia senang menceritakannya—ia menjadi contoh yang sangat jelas dan luar biasa dari anugerah Allah. Suatu malam, saat masih berusia 30-an, Ruth diundang temannya untuk mengikuti sebuah pertemuan. Ruth tidak menyangka akan diajak ke persekutuan dan mendengarkan khotbah. “Kalau saja aku tahu, aku takkan mau pergi,” katanya. Ia sudah punya keyakinannya sendiri dan ia tidak merasa perlu menganut keyakinan yang lain. Namun, Ruth pergi juga ke persekutuan itu, dan malam itu ia mendengar kabar baik tentang Yesus Kristus.
Sekarang, lebih dari 50 tahun kemudian, Ruth selalu meneteskan air mata tanda sukacita ketika ia menceritakan bagaimana Yesus mengubah hidupnya. Malam itu, ia menjadi anak Allah. Ruth tidak pernah bosan menceritakan kesaksiannya.
Entah kisah hidup kita mirip atau tidak dengan kisah Ruth, yang terpenting adalah kita mau mengambil langkah kecil untuk mempercayai Yesus dan mengimani kematian serta kebangkitan-Nya. Rasul Paulus berkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9).
Itulah yang dilakukan Ruth. Kamu juga dapat melakukannya. Yesus sanggup menebus, mengubah, dan memberi kita hidup yang baru. —Dave Branon
Ketika ditebus oleh Kristus, kita bukan diperbaiki melainkan diciptakan kembali.

Monday, October 30, 2017

Menyibak Misteri

Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. —Mazmur 119:104
Menyibak Misteri
Saya selalu menyukai kelihaian dan wawasan dari Charles Schulz, sang pencipta kartun Peanuts. Salah satu kartunnya yang saya sukai muncul dalam sebuah buku tentang kaum muda di gereja. Kartun itu menggambarkan seorang pemuda yang memegang Alkitab sambil berbicara kepada temannya di telepon. Anak muda itu berkata, “Rasanya aku sudah mengambil langkah pertama untuk menyibak misteri dari Perjanjian Lama . . . Aku mulai membacanya!”
Mazmur 119 melimpah dengan kerinduan penulisnya untuk memahami dan mengalami kuasa firman Allah setiap hari. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (ay.97). Usahanya yang penuh semangat itu menumbuhkan hikmat, pengertian, dan ketaatan kepada Tuhan (ay.98-100).
Alkitab tidak memberikan formula ajaib untuk “menyibak misteri” dari setiap lembarannya. Proses untuk mengenal isinya tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga membutuhkan tanggapan atas apa yang kita baca. Walaupun sejumlah bagian dari Alkitab mungkin masih membingungkan kita, kita dapat menerima segala kebenaran yang kita mengerti dengan jelas, dan kemudian berkata kepada Tuhan: “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta” (ay.103-104).
Firman Allah sedang menanti kita untuk menemukan segala keajaiban yang terkandung di dalamnya. —David C. McCasland
Tuhan, terima kasih untuk Alkitab, karena dengan membacanya kami menerima hikmat dan pengertian untuk mengikuti jalan-Mu hari ini.
Komitmen untuk membaca dan menerapkan firman Allah membuka jalan bagi kita untuk mengalami kasih dan kuasa-Nya setiap hari.

Sunday, October 29, 2017

Mengingat-ingat Kesetiaan Allah

Ketahuilah, Tuhan, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu . . . . Janganlah takut dan janganlah patah hati. —Ulangan 1:21
Mengingat-ingat Kesetiaan Allah
Sebelum saya dan suami menyerahkan hidup kami kepada Kristus, kami sedang terpikir untuk bercerai. Namun setelah berkomitmen untuk mengasihi dan menaati Allah, kami pun memperbarui janji pernikahan kami. Kami meminta bimbingan dari sesama dan mengundang Roh Kudus untuk mengubah kami masing-masing dan sebagai pasangan. Allah Bapa terus menolong kami membangun komunikasi yang sehat. Dia mengajar kami mengasihi dan mempercayai-Nya—dan mengasihi serta mempercayai satu sama lain—apa pun yang akan terjadi.
Namun menjelang usia pernikahan kami ke-25 tahun, adakalanya saya lupa pada semua hal yang telah Allah lakukan di saat dan melalui masa-masa sulit. Terkadang saya bergumul dengan ketakutan yang mencekam tentang hal-hal yang tak saya ketahui. Saya merasa cemas dan tidak lagi mengandalkan Allah yang telah menolong kami di masa lalu.
Di Ulangan 1, Musa menegaskan bahwa Tuhan layak dipercaya. Musa mendorong bangsa Israel untuk terus maju dalam iman agar mereka dapat menikmati warisan mereka (ay.21). Namun, umat Allah menuntut untuk mengetahui secara terperinci apa yang akan mereka hadapi dan apa yang akan mereka terima sebelum mereka mau mempercayakan masa depan mereka kepada Allah (ay.22-33).
Pengikut Kristus memang tidak kebal terhadap ketakutan atau kecemasan. Namun, kekhawatiran akan kesulitan yang belum tentu kita alami dapat membuat kita tidak lagi mengandalkan iman, bahkan merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama. Akan tetapi Roh Kudus dapat menolong kita untuk mengingat-ingat kesetiaan Tuhan di masa lalu. Roh Kudus dapat meyakinkan kita bahwa Allah layak dipercaya di masa lalu, di masa kini, dan untuk selamanya. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih untuk keyakinan bahwa kami tak perlu tahu segala sesuatu yang akan terjadi apabila kami mengenal-Mu. Kami percaya Engkau tak pernah berubah.
Kesetiaan Allah di masa lalu membuktikan Dia layak dipercaya selamanya.

Saturday, October 28, 2017

Berakar dalam Allah

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air . . . yang daunnya tetap hijau. —Yeremia 17:8
Berakar dalam Allah
Ketika sepasang suami istri pindah rumah, mereka menanam pohon wisteria di dekat pagar rumah dan menantikan bunganya yang berwarna lembayung untuk mekar dalam waktu lima tahun. Selama lebih dari dua dekade kemudian mereka menikmati kehadiran pohon itu dan tekun memangkas serta merawatnya. Namun suatu saat pohon wisteria itu tiba-tiba mati, karena tetangga mereka telah menyiramkan cairan pembunuh rumput liar di sisi luar pagar. Pemiliknya menduga bahwa racun pada cairan itu terserap oleh akar-akar pohon dan menyebabkan kematian pohon itu. Namun yang mengejutkan, di tahun berikutnya beberapa tunas pohon muncul kembali dari tanah.
Kita melihat gambaran pohon yang tumbuh subur dan pohon yang mati dalam perkataan Nabi Yeremia. Ia mengaitkan gambaran itu dengan umat Allah yang mempercayai Tuhan atau yang mengabaikan perintah-Nya. Mereka yang mengikut Allah akan menancapkan akarnya ke dalam tanah di tepi aliran air dan kemudian menghasilkan buah (Yer. 17:8). Sebaliknya, orang yang mengikuti keinginan hatinya sendiri bagaikan semak bulus di padang belantara (ay.5-6). Nabi Yeremia menghendaki umat Allah untuk mengandalkan Allah yang hidup dan sejati, sehingga mereka akan menjadi seperti “pohon yang ditanam di tepi air” (ay.8).
Kita tahu Allah Bapa “adalah tukang kebunnya” (Yoh. 15:1 BIS). Kita dapat mengandalkan Dia dan berharap kepada-Nya (Yer. 17:7). Kiranya kita mengikut Dia dengan segenap hati agar kita menghasilkan buah yang kekal. —Amy Boucher Pye
Tuhan yang penuh kasih, aku ingin mengikut-Mu sepenuh hati, baik di musim kering atau di musim panen. Tolong aku untuk mengandalkan-Mu dan berharap kepada-Mu.
Ketika kita mengikut Allah, Dia akan membuat kita bertumbuh.

Friday, October 27, 2017

Allah Memelihara Kita

Petani yang bekerja keras mempunyai banyak makanan. —Amsal 12:11 BIS
Allah Memelihara Kita
Di luar jendela kantor saya, sekelompok tupai berusaha mengubur biji-biji pohon ek di tempat yang aman dan mudah dijangkau sebelum musim dingin tiba. Kegaduhan mereka membuat saya tertawa geli. Sekawanan rusa dapat melintasi pekarangan belakang rumah kami dengan tidak menimbulkan bunyi apa pun. Sebaliknya, seekor tupai dapat menimbulkan bunyi gaduh seakan-akan sedang terjadi keributan besar.
Dua binatang tersebut memang sama sekali berbeda. Rusa tidak perlu menyiapkan perbekalan untuk menghadapi musim dingin. Ketika salju turun, rusa akan makan apa saja yang ditemukannya di sepanjang jalan (termasuk tanaman hias di pekarangan kami). Sebaliknya, tupai akan mati kelaparan jika mengikuti perilaku rusa, karena mereka tidak akan menemukan makanan yang cocok untuk mereka.
Rusa dan tupai menggambarkan beragamnya cara Allah memelihara kita. Allah memampukan kita untuk bekerja dan menabung demi masa depan, dan Dia memenuhi kebutuhan kita di masa-masa sulit. Sebagaimana yang diajarkan kitab Amsal, Allah memberi kita kelimpahan di musim panen supaya kita dapat menyiapkan diri untuk menghadapi musim paceklik (Ams. 12:11). Dan seperti yang dikatakan Mazmur 23, Allah menuntun kita melewati lembah kekelaman hingga kita tiba di padang yang berumput hijau.
Cara lain Allah memelihara kita adalah dengan memerintahkan mereka yang memiliki kelimpahan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkekurangan (Ul. 24:19). Jadi pesan Alkitab kepada kita mengenai persediaan adalah: Bekerjalah selagi mampu, tabunglah yang bisa ditabung, bagilah yang bisa dibagi, dan percayalah bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita. —Julie Ackerman Link
Tuhan, terima kasih Engkau berjanji akan menyediakan segala kebutuhan kami. Tolong kami untuk tidak takut atau khawatir. Kami bersyukur Engkau memperhatikan kami dan mendengar seruan kami minta tolong.
Kebutuhan kita tidak akan pernah menguras persediaan Allah.

Thursday, October 26, 2017

Jauh Lebih Melimpah

Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. —1 Tawarikh 17:12
Jauh Lebih Melimpah
Ulang tahun saya tepat sehari setelah ulang tahun ibu. Saat masih remaja, saya harus berpikir keras untuk mencari hadiah yang akan membuat ibu senang sekaligus yang harganya pas di kantong saya. Ibu selalu menerima hadiah saya dengan senang hati, dan keesokan harinya, pada ulang tahun saya, ia akan memberikan hadiah untuk saya. Sudah pasti hadiahnya untuk saya jauh lebih bagus daripada yang saya berikan untuknya. Tentu ibu tidak bermaksud meremehkan pemberian saya. Ibu hanya ingin memberikan dengan murah hati dari harta yang dimilikinya, yang tentu jauh lebih besar jumlahnya daripada milik saya.
Keinginan saya untuk memberikan hadiah kepada ibu mengingatkan saya akan keinginan Daud untuk membangun rumah bagi Tuhan. Karena terkejut melihat perbedaan mencolok antara istananya dan tenda tempat Allah menyatakan diri-Nya, Daud rindu membangun Bait Suci untuk Allah. Alih-alih memperkenankan keinginan Daud, Allah merespons dengan memberi Daud suatu pemberian yang jauh lebih baik. Allah berjanji bukan saja salah satu anak Daud (Salomo) akan membangun Bait Suci (1Taw. 17:11), Dia juga akan membangun keturunan atau dinasti bagi Daud. Janji tersebut dimulai dari Salomo dan digenapi pada puncaknya dalam diri Yesus, yang takhta-Nya benar-benar kukuh “untuk selama-lamanya” (ay.12). Daud ingin memberikan sesuatu kepada Allah dari miliknya yang terbatas, tetapi Allah menjanjikan sesuatu yang tidak terbatas.
Seperti Daud, kiranya kita selalu tergerak untuk memberi kepada Allah karena kita bersyukur kepada-Nya dan mengasihi-Nya. Lebih dari itu, kiranya kita selalu melihat betapa jauh lebih melimpahnya pemberian Allah bagi kita di dalam diri Yesus Kristus. —Kirsten Holmberg
Allah Bapa, aku berterima kasih untuk pemberian-Mu yang luar biasa bagiku di dalam Yesus Kristus. Kasih-Mu sungguh menakjubkan.
Yesus Kristus yang dikaruniakan Allah kepada kita jauh lebih bernilai daripada semua hal lain yang pernah kita terima.

Wednesday, October 25, 2017

Bertahan Hidup di Gurun

Berita itu tidak ada gunanya. Sebab ketika mereka mendengarnya, mereka tidak percaya. —Ibrani 4:2 BIS
Bertahan Hidup di Gurun
Pada dekade 1960-an, kelompok musik Kingston Trio merilis lagu berjudul “Desert Pete”. Lagu itu berkisah tentang seorang koboi yang sedang kehausan, dan ketika melintasi padang gurun ia menemukan pompa air manual. Di sebelah pompa itu, Desert Pete meninggalkan selembar catatan yang mendorong pembacanya untuk tidak meminum air dalam kendi yang ada di situ, tetapi menggunakan air itu untuk memancing pompa agar mengeluarkan air dari tanah.
Koboi itu menolak godaan untuk meminum air dalam kendi dan menggunakannya sesuai petunjuk yang tertulis itu. Sebagai upah dari ketaatannya, ia memperoleh air dingin yang segar dan berlimpah untuk memuaskan dahaganya. Jika tidak mempercayai pesan itu, ia hanya memperoleh air hangat dalam kendi yang dapat diminumnya tetapi yang tidak akan memuaskan dahaganya.
Kisah itu mengingatkan saya tentang perjalanan bangsa Israel yang melintasi padang gurun. Ketika mereka sangat kehausan (Kel. 17:1-7), Musa berseru meminta pertolongan Tuhan. Musa diperintahkan Tuhan untuk memukul gunung batu di Horeb dengan tongkatnya. Musa percaya dan taat, dan air pun menyembur dari bukit batu itu.
Sayangnya, bangsa Israel tidak konsisten mengikuti teladan iman Musa. Pada akhirnya, “berita itu tidak ada gunanya. Sebab ketika mereka mendengarnya, mereka tidak percaya” (Ibr 4:2 BIS).
Terkadang kehidupan ini dapat terasa seperti padang gurun yang gersang. Namun, Allah sanggup memuaskan kehausan jiwa kita di tengah situasi-situasi yang tidak terduga sama sekali. Ketika dengan iman kita mempercayai janji-janji Tuhan dalam firman-Nya, kita akan menikmati kelimpahan air hidup dan anugerah yang kita butuhkan sehari-hari. —Dennis Fisher
Tolonglah kami untuk mempercayai-Mu, Tuhan. Engkaulah yang sanggup memuaskan jiwa kami yang haus.
Hanya Yesus, Sang Air Hidup, yang bisa memuaskan dahaga kita akan Allah.

Tuesday, October 24, 2017

Yesus yang Sedang Menyamar

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40
Yesus yang Sedang Menyamar
Ketika seorang teman sedang merawat ibu mertuanya di rumah, ia bertanya kepada mertuanya itu apa yang paling diinginkannya. Mertuanya berkata, “Aku mau kakiku dicuci.” Teman saya mengakui, “Aku sama sekali tidak suka melakukannya! Tiap kali beliau memintaku melakukannya, aku menjadi jengkel. Aku bahkan berdoa agar beliau tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya.”
Namun, suatu hari sikapnya yang bersungut-sungut itu lenyap dalam sekejap. Ketika mengambil wadah dan handuk, lalu berlutut di bawah kaki ibu mertuanya, ia berkata, “Aku mendongak, dan saat itu aku merasa seperti sedang mencuci kaki Tuhan Yesus. Ibu mertuaku adalah Yesus yang sedang menyamar!” Setelah pengalaman itu, teman saya merasa terhormat dapat mencuci kaki ibu mertuanya.
Ketika mendengar cerita yang sangat menyentuh itu, saya terpikir pada perkataan Yesus tentang akhir zaman yang diajarkan-Nya di lereng Bukit Zaitun. Dia bercerita tentang Sang Raja yang menyambut putra dan putri-Nya ke dalam kerajaan-Nya, dengan berkata bahwa ketika mereka mengunjungi orang sakit atau memberi makan orang yang lapar, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kita juga melayani Yesus sendiri ketika kita melawat orang-orang yang berada di penjara atau memberikan pakaian kepada mereka yang membutuhkannya.
Hari ini, dapatkah kamu menggemakan pertanyaan teman saya, yang berpikir ketika bertemu seseorang, “Mungkinkah ia adalah Yesus yang sedang menyamar?” —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkau dapat mengubah pekerjaan yang paling sederhana menjadi sesuatu yang mulia. Tolonglah aku mengasihi sesamaku dalam nama-Mu.
Kita sedang melayani Yesus ketika kita melayani sesama.

Monday, October 23, 2017

Antar Saudara

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. —Yohanes 13:34
Antar-Saudara
Usia saya dan adik laki-laki saya hanya terpaut kurang dari satu tahun dan kami bertumbuh dalam suasana “persaingan” (artinya: kami sering berkelahi!). Ayah kami dapat memahami hal tersebut karena ia juga memiliki saudara laki-laki, tetapi Ibu tidak.
Kisah hidup kami mirip dengan perseteruan antar saudara yang banyak terjadi di kitab Kejadian. Kitab itu memuat perseteruan antara Kain dan Habel (Kej. 4); Ishak dan Ismael (Kej. 21:8-10); Yusuf dan semua saudaranya kecuali Benyamin (Kej. 37). Namun, perseteruan yang paling sengit rasanya adalah antara dua saudara kembar - Yakub dan Esau.
Esau telah dua kali ditipu Yakub, maka ia hendak membunuh Yakub (27:41). Puluhan tahun kemudian Yakub dan Esau berdamai kembali (Kej. 33). Namun, perseteruan itu terus berlanjut pada keturunan mereka, yang masing-masing menjadi bangsa Edom dan bangsa Israel. Ketika orang Israel bersiap untuk memasuki Tanah Perjanjian, orang Edom mengancam mereka dan menghadang jalan dengan mengerahkan pasukan (Bil. 20:14-21). Beberapa waktu kemudian, ketika penduduk Yerusalem melarikan diri dari serangan musuh, orang Edom membantai mereka (Ob. 1:10-14).
Syukurlah, Alkitab tidak hanya berisi cerita-cerita menyedihkan tentang keberdosaan kita melainkan juga kisah penebusan Allah. Yesus Kristus mengubah segalanya, dan Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Kemudian Yesus menunjukkan kepada kita arti mengasihi dengan jalan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.
Di usia dewasa, hubungan saya dan adik menjadi dekat. Itulah yang dikerjakan oleh Allah. Ketika kita mau menerima pengampunan yang Allah tawarkan, anugerah-Nya dapat mengubah perseteruan antar saudara menjadi kasih persaudaraan. —Tim Gustafson
Tuhan, kami mengundang-Mu untuk mengubah hubungan kami dengan sesama lewat kasih-Mu yang memulihkan kami.
Perseteruan antar saudara dapat diubah oleh kasih Allah yang ajaib.

Sunday, October 22, 2017

Kasih kepada yang Berbeda

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. —Yohanes 15:12
Kasih kepada yang Berbeda
Salah satu gereja yang saya cintai dimulai beberapa tahun lalu dengan tujuan melayani para mantan narapidana yang sedang belajar untuk kembali berkarya di tengah masyarakat. Hingga kini gereja tersebut berkembang dengan jemaat yang datang dari beragam latar belakang kehidupan. Saya mencintai gereja itu karena melaluinya saya diingatkan tentang bayangan saya akan suasana surga yang penuh dengan beragam orang, yakni para pendosa yang telah diselamatkan dan dipersatukan oleh kasih Yesus Kristus.
Meski demikian, terkadang saya bertanya-tanya apakah gereja sekarang lebih terlihat seperti klub yang eksklusif daripada tempat perteduhan yang aman bagi para pendosa yang telah diampuni. Ketika orang hanya mau berkumpul dengan orang-orang yang “sama” dan yang membuat mereka nyaman, itu membuat sebagian kalangan merasa tersisih. Bukan itu yang dimaksud Tuhan Yesus ketika memerintahkan murid-murid-Nya untuk “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Dia menghendaki gereja-Nya menjadi saluran dari kasih-Nya yang dapat dialami oleh semua orang.
Jika orang-orang yang tertolak dan terluka dapat menerima kasih, penghiburan, dan pengampunan dari Yesus, sudah sepatutnya mereka juga menerima hal yang sama dari gereja-Nya. Jadi, marilah kita menunjukkan kasih Yesus kepada tiap orang yang kita temui—terutama orang-orang yang berbeda dengan kita. Setiap orang di sekitar kita adalah jiwa-jiwa yang ingin Yesus kasihi melalui kita. Alangkah sukacitanya melihat umat Allah bersatu untuk memuji-Nya dalam ikatan kasih. Sungguh bagaikan menikmati pengalaman surgawi di bumi! —Joe Stowell
Tuhan, ingatkan aku bahwa saat aku masih berdosa, Engkau menerimaku dengan kasih-Mu yang besar dan tak bersyarat serta membawaku dalam persekutuan dengan-Mu. Tuntun aku kepada seseorang yang dapat kukasihi dengan kasih-Mu.
Bagikanlah kasih Kristus kepada sesama.

Saturday, October 21, 2017

Tempat Aman

Nama Tuhan adalah menara yang kuat; ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. —Amsal 18:10
Tempat Aman
Saya dan putri saya berencana menghadiri pertemuan keluarga besar kami. Karena ia merasa gugup menghadapi perjalanan itu, saya pun menawarkan diri untuk menyetir mobil. “Terima kasih, Ma. Tetapi aku merasa lebih aman duduk dalam mobilku sendiri. Mama bisa menyetir mobilku, kan?” ia bertanya. Awalnya saya mengira ia memilih itu karena mobilnya lebih luas daripada mobil saya yang mungil. Saya bertanya kepadanya, “Apa mobil Mama terlalu sempit?” Ia menjawab, “Bukan karena itu, tetapi aku merasa aman di dalam mobilku. Entah mengapa aku merasa terlindungi di dalamnya.”
Komentarnya membuat saya memikirkan “tempat aman” saya sendiri. Saya teringat Amsal 18:10, “Nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.” Di masa Perjanjian Lama, tembok dan menara dari suatu kota berguna untuk memberikan peringatan terhadap ancaman yang mungkin datang dari luar dan melindungi para penduduk yang tinggal di dalamnya. Maksud penulis adalah nama Allah, yang menyatakan karakter, kepribadian, dan segala sesuatu tentang diri-Nya, sanggup memberikan perlindungan sejati bagi umat-Nya.
Ada hal-hal tertentu yang menjanjikan keamanan yang dibutuhkan di tengah momen-momen yang mencemaskan kita: Atap rumah yang tetap kukuh di tengah badai, rumah sakit yang siap memberikan perawatan medis, atau pelukan hangat dari seseorang yang kamu kasihi.
Di manakah “tempat aman” kamu? Ke mana pun kita mencari rasa aman, kehadiran Allah bersama kita di tempat itulah yang memberikan kekuatan dan perlindungan yang sungguh kita butuhkan. —Elisa Morgan
Tuhan, terima kasih karena apa pun kekhawatiran dan keprihatinan yang kami miliki hari ini, kami menemukan rasa aman dalam hadirat-Mu saat kami merenungkan-Mu.
Allah adalah tempat berlindung yang aman di tengah badai kehidupan.

Friday, October 20, 2017

Keindahan yang Tiada Bandingnya

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. —Mazmur 63:4
Keindahan yang Tiada Bandingnya
Saya suka memandangi Grand Canyon. Setiap kali berdiri di tepi ngarai itu, saya selalu menemukan goresan-goresan baru buatan Allah yang membuat saya terpesona.
Meskipun itu hanyalah sebuah “lubang” (yang sangat besar) di tanah, Grand Canyon menggugah saya untuk merenungkan tentang surga. Pernah ada anak berusia 12 tahun yang dengan polos bertanya kepada saya, “Bukankah surga itu akan membosankan? Kalau di sana kita akan memuji Allah setiap saat, bukankah itu sangat melelahkan?” Namun, jika “lubang di tanah“ saja bisa memancarkan keindahan yang begitu mengagumkan dan membuat kita tidak pernah bosan memandanginya, bayangkanlah sukacita seperti apa yang kita rasakan nanti ketika kita memandang Sumber sejati dari segala keindahan yang ada—Allah Pencipta kita yang penuh kasih—di dalam segala keajaiban yang murni dari ciptaan yang baru.
Daud mengungkapkan kerinduan tersebut ketika ia menulis, “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya” (Mzm. 27:4). Tak ada yang lebih indah daripada hadirat Allah, yang menjumpai kita di bumi ini sewaktu kita mencari-Nya dengan iman sambil menantikan waktunya kelak kita bertemu muka dengan-Nya.
Pada hari itu, pastilah kita tidak akan pernah lelah memuji Allah kita yang menakjubkan, karena kita tidak akan pernah berhenti menemukan hal-hal baru dari kebaikan-Nya yang sempurna dan karya tangan-Nya yang ajaib. Setiap saat berada dalam hadirat Allah akan membuat kita terkesima oleh keindahan dan kasih-Nya yang tiada bandingnya. —James Banks
Juruselamat yang terindah, tolonglah aku untuk mencari wajah-Mu setiap hari dan untuk menjalani hidupku sekarang dalam hadirat-Mu dan kasih-Mu.
Kita diciptakan untuk menikmati Allah selamanya.

Thursday, October 19, 2017

Kita Punya Kuasa!

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. —Galatia 5:25
Kita Punya Kuasa!
Suara retakan yang keras itu mengejutkan saya. Saat menyadari suara apa itu, saya segera lari ke dapur. Ternyata tanpa sengaja, saya telah menekan tombol start pada perangkat pembuat kopi yang kosong. Setelah mencabut steker, saya menggapai pegangan dari teko kaca itu. Lalu saya menyentuh bagian bawahnya untuk memastikan teko itu tidak terlalu panas saat diletakkan di meja keramik. Namun, permukaan halus dari bagian bawah teko itu membakar ujung jemari saya dan membuat kulit melepuh.
Sementara luka saya dirawat oleh suami, saya masih tidak percaya pada apa yang terjadi. “Aku benar-benar tak tahu mengapa aku menyentuhnya, padahal aku tahu kacanya panas,” kata saya.
Respons saya setelah melakukan kesalahan tersebut mengingatkan saya tentang reaksi Paulus terhadap persoalan yang lebih serius di dalam Kitab Suci, yakni watak manusia yang berdosa.
Rasul Paulus mengaku tidak tahu mengapa ia melakukan hal-hal yang dilarang dan yang tidak dikehendakinya (Rm. 7:15). Dengan menegaskan bahwa Kitab Suci merupakan patokan tentang apa yang benar dan yang salah (ay.7), ia mengakui adanya pergulatan berat yang terus berlangsung antara keinginan daging dan keinginan roh dalam pergumulannya melawan dosa (ay.15-23). Setelah mengakui kelemahannya sendiri, Paulus lalu menyodorkan pengharapan akan kemenangan yang dapat kita alami sekarang dan untuk selamanya (ay.24-25).
Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, Dia memberi kita Roh Kudus-Nya yang akan memampukan kita untuk melakukan apa yang benar (8:8-10). Ketika Roh Kudus memampukan kita untuk menaati firman Allah, kita dapat menjauhi dosa yang menghanguskan dan yang memisahkan kita dari hidup berkelimpahan yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mengasihi-Nya. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mematahkan belenggu yang pernah membuat kami tidak berdaya dan hidup kami dikuasai oleh watak dosa.
Roh Kudus mengubah kita lewat kasih-Nya dan oleh anugerah-Nya.

Wednesday, October 18, 2017

Lempeng Batu

Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita. —Yesaya 53:5
Lempeng Batu
Kota Yerusalem yang kita kenal sekarang bisa dikatakan dibangun di atas puing-puing sebagai akibat dari peperangan dan penghancuran yang berlangsung dari abad ke abad. Suatu kali dalam liburan keluarga, kami menyusuri Via Dolorosa (Jalan Penderitaan), yang menurut tradisi merupakan rute yang dilalui Yesus dalam perjalanan-Nya menuju tempat penyaliban. Panasnya cuaca hari itu mendorong kami untuk beristirahat sejenak dan turun ke ruang bawah tanah yang sejuk dari Convent of the Sisters of Zion (Biara para Biarawati Sion). Di ruangan itu, saya terpikat oleh jalan setapak kuno dari batu yang pada saat itu baru ditemukan lewat suatu penggalian. Lempeng-lempeng batu pada jalan itu diukir dengan gambar beragam permainan yang dilakukan tentara Romawi di waktu senggang mereka.
Meski kemungkinan berasal dari periode setelah masa hidup Yesus di dunia, lempeng-lempeng batu itu membuat saya memikirkan kehidupan rohani saya dengan sungguh-sungguh. Seperti tentara yang bosan dan bermain-main di waktu senggangnya, saya telah menjadi puas akan diri saya sendiri hingga mengabaikan Allah dan sesama. Saya begitu tersentuh saat membayangkan bahwa di dekat tempat saya berdiri saat itu, Tuhan Yesus pernah dipukuli, dicemooh, dihina, dan dianiaya sembari memikul semua kesalahan dan pemberontakan saya.
“Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5).
Lempeng batu itu masih mengingatkan saya pada kasih karunia Tuhan Yesus yang lebih besar dari semua dosa saya. —David C. McCasland
Tuhan Yesus, lewat pengorbanan-Mu yang agung bagi kami, kami menerima pengampunan, pemulihan, dan pengharapan. Terima kasih karena hari ini dan untuk selamanya kami dapat hidup di dalam kasih-Mu.
Dosa kita sungguh besar, tetapi anugerah Allah jauh lebih besar.

Tuesday, October 17, 2017

Tuntunan Ilahi

Janganlah padamkan Roh. —1 Tesalonika 5:19
Tuntunan Ilahi
Saat mengunjungi Galeri Seni Nasional di Washington, DC, saya melihat sebuah mahakarya berjudul The Wind. Lukisan itu menggambarkan badai yang sedang bertiup menerpa pepohonan. Pohon-pohon yang ramping dan menjulang tertiup ke arah kiri gambar. Semak-semak juga terhempas ke arah yang sama.
Seperti angin yang bertiup kencang, tetapi dengan pengaruh yang lebih dahsyat, Roh Kudus juga sanggup menggerakkan orang percaya untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran Allah. Mengikuti tuntunan Roh Kudus akan memampukan kita untuk lebih berani melangkah dan lebih sungguh mengasihi sesama. Kita juga akan lebih peka untuk mengetahui bagaimana kita dapat mengendalikan diri (2Tim. 1:7).
Namun adakalanya ketika Roh Allah hendak membawa kita pada pertumbuhan dan perubahan rohani, kita menolak untuk melakukannya. Di Alkitab, sikap yang terus-menerus menolak tuntunan ilahi itu disebut memadamkan Roh (1Tes. 5:19). Akhirnya, lambat laun, hal-hal yang semula kita anggap salah mulai terlihat wajar.
Saat hubungan kita dengan Allah terasa jauh bahkan terputus, itu mungkin karena kita terlalu sering mengabaikan dorongan Roh Kudus. Bila itu terlalu lama dibiarkan, akar masalahnya menjadi semakin sulit untuk ditemukan dan dibereskan. Syukurlah, kita dapat berdoa dan meminta Allah untuk memperlihatkan dosa-dosa kita. Jika kita berpaling dari dosa dan menyerahkan diri kembali kepada Allah, Dia akan mengampuni kita dan menggelorakan lagi kuasa dan pengaruh Roh-Nya dalam diri kita. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, tunjukkanlah bagaimana selama ini aku telah menolak tuntunan Roh-Mu. Tolong aku untuk mendengarkan perkataan-Mu. Aku ingin kembali dekat dengan-Mu.
Penyerahan diri kepada Roh Kudus membawa kita pada hidup yang benar.

Monday, October 16, 2017

Kamar 5020

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini. —Kejadian 50:20
Kamar 5020
Jay Bufton menjadikan kamar perawatannya sebagai saluran berkat. Pria berusia 52 tahun yang bekerja sebagai guru SMA sekaligus pelatih olahraga itu sedang menderita kanker. Namun, ia menjadikan Kamar 5020 tempatnya dirawat sebagai saluran pengharapan bagi para sahabat, kerabat, dan pekerja di rumah sakit. Karena sikapnya yang ceria dan imannya yang tangguh, para perawat pun senang melayaninya. Beberapa dari mereka bahkan mengunjunginya di luar jam kerja.
Meski tubuhnya yang dahulu atletis kini melemah, ia tetap menyapa siapa pun dengan senyum dan berusaha menguatkan mereka. Seorang teman berkata, “Tiap kali mengunjungi Jay, ia selalu bersemangat, ceria, dan tidak pernah putus asa. Saat menghadapi kanker dan kematian pun, ia tetap menyaksikan imannya.”
Di hari pemakaman Jay, seorang kawan menyebut bahwa Kamar 5020 mempunyai makna khusus. Ia mengacu pada Kejadian 50:20, di mana Yusuf mengatakan bahwa meski saudara-saudaranya pernah menjualnya sebagai budak, Allah membalikkan keadaan itu dan mendatangkan kebaikan untuk “memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kanker menggerogoti tubuh Jay, tetapi karena melihat karya tangan Allah, ia dapat berkata bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Itulah alasan Jay dapat memakai kanker yang ganas sekalipun sebagai kesempatan untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain.
Jay telah memberikan teladan iman yang tak tergoyahkan oleh ancaman kematian. Imannya kepada Allah yang Mahabaik dan layak dipercaya itu sungguh menjadi kesaksian yang luar biasa! —Dave Branon
Tuhan, banyak kesulitan kami alami dalam hidup ini. Tolong kami sungguh-sungguh mempercayai-Mu sehingga kami dapat melihat tiada satu hal pun yang berada di luar kendali-Mu. Tolong kami untuk menceritakan kasih-Mu bahkan di saat-saat yang sulit.
Oleh anugerah Allah, kita dapat memberikan kesaksian yang terbaik di tengah masa-masa yang terburuk.

Sunday, October 15, 2017

Memelihara Ciptaan Allah

Langit adalah milik Tuhan saja, tetapi bumi diberikan-Nya kepada manusia. —Mazmur 115:16 BIS
Memelihara Ciptaan Allah
Ikan trout besar berwarna cokelat mulai bersarang dan bertelur di Sungai Owyhee, Oregon pada musim gugur. Ikan-ikan itu menggali dasar sungai yang dangkal dan berbatu untuk membuat sarang di sana.
Para pemancing yang cerdas mengetahui kapan waktunya ikan-ikan trout bertelur dan berusaha tidak mengganggu proses itu. Mereka tidak akan berjalan di ambang sungai agar telur-telur ikan itu tidak terinjak oleh mereka. Mereka juga tidak akan mengarungi sungai ke arah hulu agar tidak ada serpihan-serpihan sampah yang mengalir dan menghancurkan sarang telur ikan tersebut. Mereka pun tidak akan memancing sekalipun sangat mudah untuk melakukannya karena ikan-ikan itu terhampar di dekat sarangnya.
Semua tindakan pencegahan itu merupakan bagian dari etika yang mengatur kegiatan memancing secara bertanggung jawab. Selain itu, ada alasan yang lebih baik dan esensial bagi tindakan tersebut.
Kitab Suci menegaskan fakta bahwa Allah telah memberikan bumi ini kepada umat manusia (Kej 1:28-30). Bumi ini harus kita kelola, tetapi pengelolaannya harus dilakukan dengan penuh kasih sayang.
Saya sangat mengagumi fauna ciptaan Allah: ayam hutan yang berkokok di seberang ngarai, rusa jantan yang mengeluarkan bunyi tanda siap bertarung, sekawanan antelop yang berkumpul di kejauhan, ikan trout berperut merah, induk berang-berang yang bermain di sungai bersama anak-anaknya. Saya menikmati semua itu, karena segalanya telah diberikan Allah kepada kita oleh kasih-Nya yang sangat besar.
Karena segala ciptaan Allah itu telah saya nikmati, saya pun mau memeliharanya dengan sebaik-baiknya. —David Roper
Bapa Surgawi, Engkau telah menempatkan kami di bumi ini untuk menikmati dan mengagumi karya tangan-Mu yang menakjubkan. Kiranya segala sesuatu yang telah Kau ciptakan mengingatkan kami pada kebaikan, kasih, dan pemeliharaan-Mu.
Mari memuliakan Sang Pencipta dengan memelihara alam ciptaan-Nya.

Saturday, October 14, 2017

Tenang dalam Kasih Tuhan

Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram, seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku. —Mazmur 131:2 BIS
Tenang dalam Kasih Tuhan
Suatu hari, saat saudari saya dan anak-anaknya makan siang bersama saya, ia berkata kepada Annica, anaknya yang berumur tiga tahun, bahwa sudah tiba waktunya untuk tidur siang. Wajah Annica langsung menunjukkan keberatan. Sambil meneteskan air mata, ia mengeluh, “Tetapi Tante Monica belum gendong aku!” Mamanya tersenyum. “Oke, Tante akan gendong kamu sebelum kamu tidur. Berapa lama kamu mau digendong?” “Lima menit ya,” jawab Annica.
Saat menggendong Annica, saya bersyukur karena dengan kepolosannya ia terus mengingatkan saya tentang rasanya mengasihi dan dikasihi. Saya pikir adakalanya kita lupa bahwa perjalanan iman kita sesungguhnya merupakan sebuah proses belajar untuk makin mengalami kasih Allah—kasih yang luas, tinggi, dan dalamnya lebih daripada yang dapat kita bayangkan (Ef. 3:18). Ketika kehilangan fokus tersebut, bisa jadi kita mendapati diri kita berupaya mati-matian memenangkan hati Allah tetapi melupakan segala sesuatu yang sudah diberikan-Nya kepada kita, seperti si anak sulung dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang (Luk. 15:25-32).
Mazmur 131 merupakan salah satu doa dalam Alkitab yang dapat menolong kita untuk “menjadi seperti anak kecil” (Mat. 18:3) dan merelakan diri untuk tidak mengejar hal-hal yang tidak kita mengerti (Mzm. 131:1). Sebaliknya, dengan meluangkan waktu bersama-Nya, kita dapat kembali merasakan ketenangan (ay.2) dan menemukan pengharapan yang kita butuhkan (ay.3) di dalam kasih-Nya—setenang dan senyaman seorang anak di dalam pelukan ibunya (ay.2). —Monica Brands
Tuhan, kami sungguh bersyukur untuk setiap orang dalam hidup kami yang senantiasa mengingatkan apa artinya mengasihi dan dikasihi. Tolong kami untuk makin kuat berakar dalam kasih-Mu.
Seperti anak-anak, kita dapat belajar bersandar pada kasih Allah.

Friday, October 13, 2017

Sebuah Nama Baru

Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” —Yohanes 1:42
Sebuah Nama Baru
Dalam artikel yang ditulisnya, Mark Labberton berbicara tentang pengaruh sebuah nama atau sebutan. Ia berkata, “Saya masih dapat merasakan dampak dari seorang teman musikus yang suatu hari menyebut saya ‘berjiwa musikal’. Tak seorang pun pernah menyebut saya seperti itu. Saya tidak bisa memainkan alat musik. Saya juga bukan seorang penyanyi. Namun . . . saya langsung merasa dikenal dan dikasihi. [Ia] memperhatikan, menegaskan, dan menghargai jati diri saya yang terdalam.”
Mungkin itulah yang dirasakan Simon ketika Tuhan Yesus memberinya nama baru. Setelah Andreas yakin bahwa Yesus adalah Mesias, ia bergegas mencari saudaranya, Simon, dan membawanya kepada Yesus (Yoh. 1:41-42). Yesus memandang Simon hingga kedalaman jiwanya dan menegaskan serta menghargai jati diri Simon yang terdalam. Tentu Yesus juga melihat kegagalan dan ketidaksabaran yang di kemudian hari akan membawa Simon kepada berbagai masalah. Namun lebih dari itu, Yesus melihat potensi Simon untuk menjadi seorang pemimpin bagi jemaat-Nya. Yesus menamainya Kefas—bahasa Aram untuk Petrus—yakni batu karang (Yoh. 1:42; lihat Mat. 16:18).
Demikian juga dengan kita. Allah melihat segala kesombongan, kemarahan, dan kurangnya kasih kita kepada sesama, tetapi Dia juga mengenal siapa diri kita di dalam Kristus. Allah menyebut kita sebagai umat yang telah dibenarkan dan diperdamaikan (Rm. 5:9-10); diampuni, dikuduskan, dan dikasihi (Kol. 2:13, 3:12); yang telah dipilih dan yang setia (Why. 17:14). Ingatlah bagaimana Allah memandang dirimu dan kiranya kebenaran itu yang menentukan jati dirimu. —Marvin Williams
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenalku sepenuhnya, dan Engkau tetap mengasihiku. Tolonglah aku melihat sesamaku seperti Engkau melihatku.
Tak seorang pun dapat mencuri jati dirimu di dalam Kristus.

Thursday, October 12, 2017

Gembala yang Baik

Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. —Yesaya 40:11
Gembala yang Baik
Saya menunggu dengan cemas di kamar rumah sakit bersama suami. Putra kami yang masih kecil sedang menjalani operasi mata dan saya merasakan kegelisahan yang luar biasa. Saya mencoba berdoa dan meminta Allah untuk memberi saya kedamaian dalam hati. Saat membuka-buka Alkitab, saya berpikir tentang Yesaya 40. Saya pun membuka pasal yang sangat saya kenal itu, sambil bertanya dalam hati adakah hal baru yang bisa saya pelajari dari bagian itu.
Saat membacanya, saya terpana, karena kata-kata dari masa silam itu mengingatkan saya bahwa “seperti seorang gembala [Tuhan] menggembalakan kawanan ternak-Nya.” Dia “menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya” (ay.11). Seketika itu juga kecemasan saya lenyap karena saya menyadari bahwa Tuhan menopang kami, menuntun kami, dan memelihara kami. Itulah yang kubutuhkan, Tuhan, bisik saya dalam hati. Saya merasa dilingkupi damai sejahtera dari Allah selama dan setelah operasi berlangsung. Bersyukur operasi berjalan dengan baik.
Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji kepada umat-Nya bahwa Dia akan menjadi gembala mereka, menuntun mereka dalam kehidupan sehari-hari, dan memberi mereka penghiburan. Kita pun dapat mengalami tuntunan-Nya yang lembut ketika kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya dan memohon limpahan kasih dan damai sejahtera dari-Nya. Kita tahu bahwa Dialah Gembala kita yang Baik, yang memangku kita dan menghimpun kita dengan tangan-Nya yang kekal. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Gembala yang Baik, yang menyerahkan nyawa-Mu untuk domba-domba-Mu. Terima kasih untuk kasih pengorbanan-Mu dan untuk damai sejahtera-Mu yang melampaui segala akal.
Sebagai Gembala yang Baik, Tuhan setia memelihara domba-domba-Nya.

Wednesday, October 11, 2017

Matahari Bersayap Dua

Beginilah firman Tuhan . . . : Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. —Yesaya 38:5
Matahari Bersayap Dua
Selama lima tahun, sebuah stempel kuno yang terbuat dari tanah liat dibiarkan tersimpan dalam lemari di Institut Arkeologi Yerusalem. Stempel itu ditemukan dalam penggalian di bagian selatan dari tembok kota kuno Yerusalem. Namun, penelitian awal tidak berhasil menemukan arti penting dari benda yang berusia hampir 3.000 tahun tersebut. Di kemudian hari, seorang peneliti dengan cermat mengamati huruf-huruf yang tertera pada stempel itu dan menghasilkan penemuan besar. Inskripsi yang tertulis dalam bahasa Ibrani kuno itu menyatakan: “Milik Hizkia [bin] Ahas, Raja Yehuda.”
Di bagian tengah stempel itu terdapat gambar matahari bersayap dua yang dikelilingi dua gambar yang melambangkan kehidupan. Para arkeolog yang menemukan stempel itu meyakini bahwa Raja Hizkia mulai menggunakannya sebagai lambang perlindungan Allah setelah Allah menyembuhkan Hizkia dari penyakit yang nyaris merenggut nyawanya (Yes. 38:1-8). Hizkia memohon agar Tuhan menyembuhkannya dan doanya dijawab oleh Tuhan. Dia juga memberi Hizkia sebuah tanda yang menyatakan bahwa Dia pasti menepati janji-Nya. Tuhan berfirman, “Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya” (ay.8).
Fakta-fakta yang terkait dengan artefak arkeologis tersebut mengingatkan sekaligus menguatkan kita bahwa umat di zaman Alkitab belajar untuk berseru kepada Tuhan yang mendengarkan ketika kita mohon pertolongan-Nya. Kita pun belajar hal yang sama. Sekalipun jawaban-Nya mungkin tidak sesuai dengan keinginan atau harapan kita, kita dapat tetap meyakini bahwa Allah sungguh penuh belas kasih dan berkuasa. Dia yang sanggup mengatur pergerakan matahari pasti juga sanggup menggerakkan hati kita. —Poh Fang Chia
Ya Allah, Engkau Mahabesar dan Mahakuasa, tetapi Engkau mau mempedulikanku. Tolonglah aku mempercayai kuasa dan kasih-Mu dan selalu mencari pertolongan-Mu.
Berserulah kepada Allah: Dia ingin mendengar seruanmu.

Tuesday, October 10, 2017

Panggilan Rohani untuk Bangun

Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. —Wahyu 3:2
Panggilan Rohani untuk Bangun
Dahulu ada masanya saya sering melakukan perjalanan dan menginap di kota yang berbeda-beda setiap malam. Setiap kali tiba di penginapan, saya selalu meminta petugas hotel untuk membangunkan saya di pagi hari dengan menelepon pada waktu yang saya jadwalkan. Meski sudah memasang alarm saya sendiri, saya tetap memerlukan panggilan telepon untuk membangunkan saya agar siap memulai aktivitas di pagi hari.
Panggilan rohani yang membangunkan juga terdapat dalam kitab Wahyu, yakni di dalam surat-surat Rasul Yohanes kepada tujuh jemaat di provinsi Asia. Kepada jemaat di Sardis, ia menuliskan pesan yang datang dari Yesus sendiri: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku” (Why. 3:1-2).
Di tengah keletihan rohani, mungkin saja kita tidak menyadari kejenuhan yang menggerogoti hubungan kita dengan Allah. Namun, Tuhan mengatakan kepada kita, “Ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!” (ay.3)
Banyak orang mendapati bahwa menjadwalkan waktu khusus setiap pagi untuk membaca Alkitab dan berbicara kepada Tuhan di dalam doa telah menolong mereka tetap terjaga secara rohani. Meluangkan waktu bersama Tuhan Yesus tidak dirasakan sebagai beban melainkan sebagai sumber sukacita. Kita juga bersukacita saat menyadari bahwa melalui waktu khusus tersebut, Dia sedang menyiapkan kita untuk segala sesuatu yang akan kita hadapi sepanjang hari itu. —David C. McCasland
Tuhan, mampukan kami untuk mendengar dan menjawab panggilan-Mu untuk bangun dan bekerja hari ini.
Alangkah senangnya meluangkan waktu bersama Tuhan Yesus!

Monday, October 9, 2017

Dari Cacing Sampai Perang

Berfirmanlah Tuhan kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” —Hakim-Hakim 6:23
Dari Cacing Sampai Perang
Inilah pertama kalinya Cleo yang berusia sepuluh tahun memancing ikan. Ketika melihat wadah yang berisi umpan, ia terlihat ragu untuk memulainya. Akhirnya, ia berseru kepada suami saya, “Tolong, Kek!” Ketika suami saya menanyakan masalahnya, Cleo menjawab dengan terbata-bata, “Aku . . . aku . . . aku takut cacing!” Ketakutan Cleo membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa.
Ketakutan juga dapat melumpuhkan orang dewasa. Gideon tentu merasa ketakutan ketika malaikat Tuhan mendatanginya di saat ia sedang mengirik gandum secara diam-diam, karena bersembunyi dari orang Midian musuh bangsa Israel (Hak. 6:11). Sang malaikat berkata bahwa Gideon telah dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya berperang (ay.12-14).
Apa reaksi Gideon? “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku” (ay.15). Meskipun telah diyakinkan oleh kehadiran Tuhan, Gideon masih juga merasa takut dan meminta tanda yang membuktikan bahwa ia memang akan dipakai Allah untuk menyelamatkan Israel seperti yang dijanjikan-Nya (ay.36-40). Allah pun memenuhi permintaan Gideon. Bangsa Israel berhasil memenangi peperangan itu dan kemudian menikmati kedamaian selama 40 tahun.
Kita semua memiliki beragam ketakutan—dari takut cacing sampai takut perang. Cerita Gideon mengajarkan bahwa kita dapat meyakini satu hal: Jika Allah memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, Dia akan memberi kita kekuatan dan kesanggupan untuk melakukannya. —Anne Cetas
Tuhan, terima kasih untuk kepastian bahwa Engkau selalu menyertai kami.
Untuk mengenyahkan ketakutan dalam hidup, berimanlah kepada Allah yang hidup.

Sunday, October 8, 2017

Layak

Lalu dihidangkannyalah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman Tuhan. —2 Raja-Raja 4:44
Layak
Ketika pertama kalinya saya dan suami diminta menjadi tuan rumah untuk suatu pertemuan kelompok kecil, saya langsung ingin menolaknya. Saya merasa tidak layak. Kami tidak memiliki cukup kursi untuk tiap orang; rumah kami kecil dan tidak dapat menampung banyak orang. Saya juga tidak yakin kami dapat memimpin diskusi kelompok. Apabila diminta untuk menyediakan makanan, saya khawatir karena saya tidak mahir memasak dan tidak punya cukup uang untuk membelinya. Saya tidak merasa kami “layak”, terutama saya yang tidak merasa “layak” melakukannya. Namun, kami ingin melayani Allah dan melayani lingkungan kami. Meskipun ada banyak ketakutan di benak kami, kami mau menjadi tuan rumah. Setelah lebih dari lima tahun melakukannya, kami merasakan sukacita yang luar biasa dari kehadiran kelompok kecil tersebut di rumah kami.
Saya melihat keengganan dan keraguan yang serupa dialami oleh seorang pelayan yang membawa roti kepada Elisa, sang abdi Allah. Elisa telah memerintahkannya memberikan roti tersebut kepada orang banyak. Namun, ia merasa ragu apakah dua puluh ketul roti dapat dihidangkan untuk seratus orang. Pelayan itu cenderung menahan-nahan makanan tersebut karena—dalam pemahamannya sebagai manusia—jumlahnya tidak akan cukup. Namun, ternyata roti itu lebih dari cukup (2Raj. 4:44), karena Allah menerima persembahan yang diberikannya dengan taat dan menjadikannya layak bagi semua orang di situ.
Ketika kita merasa tidak layak, atau berpikir pemberian kita tidak cukup, ingatlah bahwa Allah meminta kita untuk mempersembahkan apa yang kita miliki dengan taat dan setia. Allah sajalah yang akan menjadikan persembahan itu “layak”. —Kirsten Holmberg
Tuhan, saat aku merasa persembahanku tidak cukup pantas, tolonglah aku agar tetap memberikannya kepada-Mu dan percaya Engkau akan melayakkannya.
Allah melayakkan persembahan yang kita berikan dengan taat dan setia.

Saturday, October 7, 2017

Sampai Kapan?

Ya Tuhan, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan? —Habakuk 1:2 BIS
Sampai Kapan?
Setelah menikah, saya mengira akan segera memiliki anak. Hal itu tidak terjadi dan rasa sedih karena kemandulan tersebut membuat saya bersimpuh mencari Allah. Saya sering berseru kepada-Nya, “Sampai kapan, ya Tuhan?” Saya tahu Allah sanggup mengubah keadaan saya. Lalu, mengapa Dia tidak melakukannya?
Apakah kamu sedang menantikan Allah? Apakah kamu bertanya kepada-Nya: Kapan keadilan memerintah di dunia ini? Kapan obat untuk penyakit kanker akan ditemukan? Kapan aku bisa terbebas dari utang?
Nabi Habakuk sangat memahami kegalauan tersebut. Pada abad ketujuh SM, ia berseru kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sampai kapan aku harus berseru meminta pertolongan? Kapan Engkau akan mendengar dan menyelamatkan kami dari penindasan? Mengapa Kaubiarkan aku melihat begitu banyak kejahatan? Masakan Engkau tahan melihat begitu banyak pelanggaran? Di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan” (Hab. 1:2-3 BIS). Ia telah berdoa begitu lama, dalam kesulitan untuk menerima bagaimana Allah yang adil dan berkuasa dapat membiarkan kelaliman, ketidakadilan, dan kebobrokan terus berlangsung di Yehuda. Di benak Habakuk, Allah seharusnya sudah turun tangan. Mengapa Dia tidak berbuat apa-apa?
Adakalanya kita juga merasa bahwa Allah tidak berbuat apa-apa. Seperti Habakuk, kita terus-menerus bertanya kepada Allah, “Sampai kapan?”
Meski kita merasa demikian, sesungguhnya doa-doa kita tidak diabaikan. Seperti halnya dengan Habakuk, beban kita diketahui oleh Allah. Kita harus terus-menerus menyerahkan beban kita kepada Tuhan karena Dia peduli kepada kita. Allah mendengarkan kita dan akan menjawab kita pada waktu-Nya.—Karen Wolfe
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menanggung segala bebanku. Aku tahu Engkau mendengar seruanku dan akan menjawabnya sesuai waktu dan tujuan-Mu yang sempurna.
Janganlah berputus asa karena kejahatan; Allah akan menuntaskannya.

Friday, October 6, 2017

Beban Masa Lalu

Karena rahmat-Nya yang besar [Allah] telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. —1 Petrus 1:3
Beban Masa Lalu
Dalam perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan lagu “Dear Younger Me” (Hai Diriku di Masa Lalu). Dengan indah, sang penyanyi bertanya: Seandainya kamu bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu katakan kepada dirimu sendiri? Saya pun terpikir tentang segala peringatan dan petuah yang bisa saya berikan kepada diri saya yang masih muda dan belum berpengalaman. Banyak dari kita tentu pernah terpikir tentang hal-hal tertentu di masa lalu yang dapat kita lakukan dengan cara yang berbeda—seandainya saja ada kesempatan untuk mengulang kembali semua itu.
Namun lagu itu menggambarkan bahwa meskipun masa lalu kita mungkin dipenuhi penyesalan, semua pengalaman tersebut telah membentuk diri kita apa adanya saat ini. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu atau mengubah konsekuensi dari setiap pilihan atau perbuatan dosa kita. Namun, puji Tuhan, kita tidak perlu terus memikul beratnya segala beban dan kesalahan kita di masa lalu. Itu semua karena karya yang telah Yesus lakukan! “Karena rahmat-Nya yang besar [Allah] telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan”! (1Ptr. 1:3).
Ketika kita beriman kepada Allah dan menyesali dosa-dosa kita, Dia akan mengampuni kita. Pada saat itulah, kita dijadikan ciptaan baru dan memulai proses transformasi rohani (2Kor. 5:17). Tidak peduli apa pun yang pernah (atau belum) kita lakukan, kita diampuni karena apa yang telah dilakukan Yesus Kristus. Kita dapat terus melangkah, mengisi hidup dengan sebaik-baiknya, sembari menantikan masa depan yang kekal bersama-Nya. Di dalam Kristus, kita telah bebas! —Alyson Kieda
Tuhan, aku sangat bersyukur karena melalui Engkau, kami bisa terbebas dari beratnya beban masa lalu—segala kesalahan, kepedihan, dosa kami. Kami tak perlu lagi memikul rasa sesal dan malu. Kami dapat menyerahkan semua itu kepada-Mu.
Serahkanlah beban beratmu kepada Allah.

Thursday, October 5, 2017

Memelihara Kita

Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya . . . Laksana rajawali . . . melayang-layang di atas anak-anaknya. —Ulangan 32:10-11
Memelihara Kita
Putrinya pulang dari luar negeri dengan kondisi kesehatan yang kurang baik. Ketika rasa sakitnya tak lagi tertahankan, Betty dan suaminya membawa putri mereka ke UGD. Para dokter dan perawat memeriksanya, dan setelah beberapa jam salah seorang perawat berkata kepada Betty, “Putrimu akan baik-baik saja! Kami akan merawatnya dengan baik agar ia segera pulih.” Mendengar kabar itu, Betty merasa begitu damai dan dikasihi. Ia menyadari bahwa meskipun ia dapat menjaga putrinya begitu rupa, Tuhanlah Bapa yang terbaik, yang memelihara kita anak-anak-Nya dan menghibur kita di masa-masa sulit.
Di kitab Ulangan, Tuhan mengingatkan umat-Nya bahwa ketika mereka mengembara di padang gurun, Dia memelihara mereka bagaikan orangtua yang penuh kasih menjaga anak mereka. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, dan Dia seperti rajawali yang “mengembangkan sayapnya” untuk menampung anak-anaknya dan “mendukungnya di atas kepaknya” (32:11). Tuhan ingin umat-Nya mengingat bahwa sekalipun mereka mengalami kesulitan dan tantangan di padang gurun, Dia tidak meninggalkan mereka.
Mungkin saja kita juga menghadapi berbagai tantangan, tetapi kita dapat terhibur dan dikuatkan ketika kita mengingat bahwa Allah kita tidak akan pernah meninggalkan kita. Ketika kita merasa sedang lemah dan akan jatuh, bagaikan rajawali, Tuhan akan mengembangkan sayap-Nya untuk mendukung kita (ay.11) sekaligus memberi kita damai sejahtera. —Amy Boucher Pye
Ya Allah, kasih-Mu sebagai Bapa kami jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Kiranya aku terus mempercayai-Mu dan membagikan kasih-Mu kepada sesamaku.
Allah kita melingkupi dan memelihara kita dengan kasih-Nya.

Wednesday, October 4, 2017

Interupsi Ilahi

Yesus bertanya kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” —Lukas 18:40-41
Interupsi Ilahi
Para ahli setuju bahwa setiap hari sejumlah besar waktu yang kita miliki tergerus oleh beragam interupsi. Baik di tempat kerja atau di rumah, dering telepon atau kunjungan tak terduga dapat dengan mudah mengalihkan perhatian kita dari apa yang kita anggap sebagai tujuan utama kita.
Rasanya sebagian besar dari kita tidak menyukai adanya interupsi dalam kehidupan kita sehari-hari, apalagi ketika hal tersebut membuat kita merasa tidak nyaman atau harus mengubah rencana. Namun, Yesus menyikapi apa yang dapat dirasakan sebagai interupsi dengan cara yang jauh berbeda. Berulang kali dalam kitab-kitab Injil, kita melihat Tuhan menghentikan apa yang sedang dilakukan-Nya demi menolong seseorang yang membutuhkan.
Ketika Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem tempat Dia akan disalibkan, seorang pengemis buta di pinggir jalan berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Luk. 18:35-38). Beberapa orang di tengah keramaian itu meminta si buta untuk diam, tetapi ia terus saja memanggil Yesus. Yesus berhenti dan bertanya kepada orang buta itu, “‘Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab orang itu: ‘Tuhan, supaya aku dapat melihat!’ Lalu kata Yesus kepadanya: ‘Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!’” (ay.41-42).
Ketika rencana-rencana kita diinterupsi oleh seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, kita dapat meminta Tuhan untuk memberikan hikmat bagaimana kita dapat merespons dengan penuh belas kasih. Apa yang awalnya kita anggap sebagai interupsi mungkin saja merupakan pertemuan ilahi yang telah ditetapkan Tuhan untuk terjadi pada hari itu. —David C. McCasland
Tuhan Yesus, penuhi kami dengan hikmat dan belas kasih-Mu agar kami dapat memberi tanggapan seperti yang Engkau berikan bagi mereka yang membutuhkan.
Interupsi dapat menjadi kesempatan untuk melayani sesama.

Tuesday, October 3, 2017

Terlahir di Masa Krisis

Dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. —Mazmur 57:2
Terlahir di Masa Krisis
Marc mengingat momen masa kecilnya saat ayahnya memanggil semua anggota keluarga untuk berkumpul. Mobil mereka rusak, dan keluarga mereka akan kehabisan uang pada akhir bulan itu. Ayah Marc berhenti sejenak dan berdoa. Lalu ia meminta keluarganya untuk menantikan jawaban dari Allah.
Kini Marc teringat bagaimana Allah menolong dengan cara-cara yang mengejutkan. Datanglah seorang teman yang membantu memperbaiki mobil mereka, sejumlah cek yang tak terduga, dan kiriman makanan ke rumah mereka. Mereka pun memuji Tuhan, dan masa krisis itu membuat mereka sangat bersyukur.
Mazmur 57 telah banyak menginspirasi penulisan lagu-lagu pujian kepada Allah. Ketika Daud berseru, “Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah!” (ay.12), mungkin kita membayangkan Daud sedang menatap langit Timur Tengah yang indah di malam hari atau sedang bernyanyi dalam ibadah di Bait Suci. Namun kenyataannya, Daud yang takut kehilangan nyawanya sedang bersembunyi di dalam gua.
“Aku terbaring di tengah-tengah singa,” kata Daud di mazmurnya. Singa itu adalah para musuh yang “suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam” (ay.5). Pujian Daud terlahir di masa krisis. Walaupun dikepung oleh para musuh yang menghendaki kematiannya, Daud masih dapat menuliskan kata-kata yang luar biasa ini: “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur” (ay.8).
Apa pun krisis yang kita hadapi hari ini, kita dapat berlari kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya. Setelah itu, kita dapat memuji-Nya sambil menanti dengan penuh keyakinan pada kuasa Allah yang sanggup memelihara kita. —Tim Gustafson
Krisis berikutnya yang kamu alami merupakan kesempatan berikutnya bagi kamu untuk mempercayai Allah kita yang tidak pernah gagal.

Monday, October 2, 2017

Sahabat Doa yang Sempurna

[Kristus Yesus] . . . duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita. —Roma 8:34
Sahabat Doa yang Sempurna
Rasanya tidak banyak hal yang lebih indah daripada doa-doa yang dinaikkan untukmu oleh seseorang yang mengasihimu. Saat mendengarkan seorang sahabat mendoakan kita dengan ketulusan dan hikmat dari Allah, rasanya kita sedang berada dalam sebuah pengalaman ilahi.
Sungguh bahagia mengetahui bahwa karena belas kasihan Allah kepada kita, doa-doa kita juga didengar oleh-Nya. Adakalanya ketika berdoa, kita merasa kata-kata kita kurang tepat dan tidak layak menghadap kepada-Nya. Namun, Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1). Firman Allah menunjukkan kepada kita bahwa salah satu alasan kita dapat berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah karena Yesus sendiri “duduk di sebelah kanan Allah, . . . menjadi Pembela bagi kita” (Rm. 8:34).
Kita tidak pernah berdoa seorang diri, karena Yesus mendoakan kita. Dia mendengarkan saat kita berdoa, dan berbicara kepada Bapa demi kita. Kita tidak perlu mencemaskan kelancaran kata-kata kita, karena tak seorang pun yang lebih memahami kita daripada Yesus. Dia menolong kita dalam segala hal dan menyatakan kebutuhan kita kepada Allah. Dia juga tahu ketika apa yang kita minta tidak baik bagi kita, karena Dia memperlakukan tiap permintaan atau persoalan kita dengan hikmat dan kasih yang sempurna.
Yesus adalah sahabat doa yang sempurna—sahabat yang membela dan mendoakan kita dengan kebaikan yang tak terbatas. Doa-Nya bagi kita begitu indah hingga tak terlukiskan dengan kata-kata. Kiranya kita dikuatkan untuk selalu berdoa kepada-Nya dengan hati yang penuh syukur. —James Banks
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah membelaku dengan penuh kasih. Tolonglah aku untuk mengasihi dan melayani-Mu dengan doa-doaku hari ini.
Tiada yang lebih istimewa daripada dapat berdoa bersama Yesus.

Sunday, October 1, 2017

Perlu Waktu untuk Bertumbuh

Kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih, sehingga dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita. —Efesus 4:15 BIS
Perlu Waktu untuk Bertumbuh
Pada hari pertamanya di kelas prasekolah, si kecil Charlotte diminta untuk menggambar dirinya sendiri. Gambarnya sangat sederhana—badan bulat, kepala oval, dan dua bulatan mata. Kemudian pada hari terakhirnya di kelas itu, Charlotte kembali diminta untuk menggambar dirinya. Kali ini ia menggambar seorang anak perempuan kecil dengan baju warna-warni, wajah penuh senyum dengan garis-garis yang jelas, dan rambut merah panjang yang terurai dengan indah. Sekolah itu menggunakan sebuah tugas sederhana untuk menunjukkan bagaimana seorang anak bertumbuh dewasa seiring waktu.
Kita sadar bahwa anak-anak perlu waktu untuk bertumbuh, tetapi kita sering tidak sabar terhadap pertumbuhan diri kita atau terhadap saudara seiman yang kerohaniannya bertumbuh dengan lamban. Kita bersukacita ketika melihat “buah Roh” (Gal. 5:22-23) dalam hidup orang lain, tetapi menjadi kecewa ketika mereka memilih mengikuti jalan yang berdosa. Penulis kitab Ibrani berbicara tentang hal itu dalam suratnya kepada jemaat: “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah” (Ibr. 5:12).
Dalam kerinduan kita untuk bersekutu dengan Tuhan, marilah kita terus saling mendoakan dan dengan sabar mendampingi saudara-saudari seiman kita yang masih bergumul dengan pertumbuhan rohani mereka. Dengan “menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih,” marilah terus menguatkan satu sama lain, agar “dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita” (Ef. 4:15 BIS). —Cindy Hess Kasper
Tuhan, kami mengasihi-Mu! Dalam perjalanan kami bersama-Mu, tolonglah kami untuk rela dikuatkan dan menguatkan sesama.
Hal-hal benar yang diucapkan dengan hati penuh kasih dapat membawa kita semua pada kedewasaan dalam Kristus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate