Pages - Menu

Monday, August 31, 2015

Jangan Tunda Lagi

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. —Yohanes 3:16
Jangan Tunda Lagi
Selama bertahun-tahun saya telah berbicara dengan sepupu jauh saya tentang kebutuhan manusia akan Juruselamat. Ketika ia mengunjungi saya baru-baru ini, saya kembali mendorongnya untuk menerima Kristus. Ia menjawab, “Aku mau saja menerima Yesus dan pergi ke gereja, tetapi belum sekarang. Aku tinggal di antara orang yang berbeda-beda keyakinan. Selama aku belum pindah dari sana, aku takkan bisa beribadah dengan bebas.” Ia menyebutkan bahwa ancaman penganiayaan, hinaan, dan tekanan dari rekan-rekannya membuatnya harus menunda keputusannya.
Ketakutannya itu memang masuk akal, tetapi saya meyakinkannya bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak akan meninggalkannya. Saya menganjurkannya untuk tidak lagi menunda dan mempercayai Allah yang akan memelihara dan melindunginya. Akhirnya ia pun berserah, mengakui kebutuhannya akan pengampunan dari Kristus, dan mempercayai Dia sebagai Juruselamat pribadinya.
Ketika Yesus mengundang orang-orang untuk mengikut Dia, mereka juga memberikan beragam alasan bagi penolakan mereka, yaitu kesibukan yang berkaitan dengan urusan duniawi (Luk. 9:59-62). Jawaban Tuhan kepada mereka (ay.60-62) mendorong kita untuk tidak mencari-cari alasan yang menghalangi kita untuk menerima hal terpenting dalam hidup ini, yakni keselamatan jiwa kita.
Apakah kamu mendengar Allah memanggilmu untuk menyerahkan hidupmu kepada-Nya? Jangan tunda lagi. “Waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor. 6:2). —Lawrence Darmani
Yesus memanggil, “Mari seg’ra.” Ikutlah jalan s’lamat baka; jangan sesat, dengar sabda-Nya, “Hai marilah seg’ra!” (Kidung Jemaat, No. 355) —George F. Root
Hari ini adalah hari keselamatan.

Sunday, August 30, 2015

Memastikan Kebenaran

Setiap hari [orang Berea] menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. —Kisah Para Rasul 17:11
Memastikan Kebenaran
Seekor laba-laba hutan yang mematikan telah bermigrasi ke Amerika Serikat dan telah membunuh orang-orang.” Itulah cerita yang dikirimkan kepada saya dan beberapa orang lain melalui email seorang kawan. Ceritanya terdengar begitu masuk akal— ada banyak nama ilmiah dan kisah-kisah nyata. Namun ketika saya memeriksa berita itu di situs-situs yang dapat dipercaya, saya menemukan bahwa itu adalah suatu kabar burung yang tersebar di Internet. Kebenarannya hanya bisa dipastikan dengan cara mengeceknya dari sumber yang tepercaya.
Sekelompok orang percaya di abad pertama yang tinggal di Makedonia juga memahami pentingnya memastikan kembali berita yang mereka dengar. Orang-orang di Berea “menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kis. 17:11). Mereka telah mendengarkan Paulus dan ingin memastikan apakah semua yang ia katakan sesuai dengan pengajaran dari Perjanjian Lama. Mungkin Paulus memberitahukan kepada mereka bahwa ada bukti-bukti dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Mesias akan menderita dan mati bagi dosa. Mereka perlu memastikan hal itu dari sumbernya.
Ketika kita mendengar beragam pengajaran yang mengusik iman, kita perlu bersikap waspada. Kita dapat menggali sendiri Kitab Suci, mendengarkan sumber-sumber yang dapat dipercaya, dan meminta hikmat dari Yesus, Tuhan kita. —Dave Branon
Ya Tuhan, berilah kami hikmat untuk hanya menerima kebenaran yang berakar pada firman-Mu. Kami mengucap syukur karena Engkau telah menjaga bagi kami kelestarian Kitab Suci yang Engkau ilhamkan. Sekarang tolonglah kami menggunakannya untuk mengenal-Mu.
Kebenaran Allah tetap teguh berdiri menghadapi segala ujian.

Saturday, August 29, 2015

Langkah-Langkah Bayi

[Allah] membuat kakiku seperti kaki rusa. —Mazmur 18:34
Langkah-Langkah Bayi
Bayi saya sedang belajar berjalan. Saya harus memeganginya, dan ia pun bergantung pada jari-jari saya karena ia masih belum mantap untuk berdiri sendiri. Ia takut terpeleset, tetapi saya ada di dekatnya untuk menolong dan menjaganya. Ketika ia berjalan dengan bantuan saya, rasa terima kasih, bahagia, dan aman terpancar dari matanya yang bersinar-sinar. Namun terkadang ia menangis apabila saya tidak mengizinkannya untuk melangkah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia tidak menyadari bahwa saya sedang melindunginya.
Seperti anak saya yang masih bayi itu, kita sering membutuhkan seseorang untuk menjaga, menuntun, dan memegang kita dengan kuat di tengah perjalanan iman kita. Dan kita memang memilikinya, yaitu Allah Bapa kita. Dia menolong anak-anak-Nya untuk belajar berjalan, menuntun kita langkah demi langkah, memegangi tangan kita, dan menjaga kita untuk tetap berjalan di jalur yang benar.
Raja Daud menyadari sekali kebutuhan dirinya akan pemeliharaan Allah yang menjaga hidupnya. Dalam Mazmur 18, ia menggambarkan bagaimana Allah memberikan kita kekuatan dan tuntunan ketika kita kehilangan arah atau dalam kebingungan (ay.33). Dia meneguhkan kaki kita, seperti kaki rusa yang dapat memanjat bukit tanpa terpeleset (ay.34). Dan kalaupun kita terpeleset, tangan-Nya menyokong kita (ay.36).
Baik yang baru percaya dan sedang belajar melangkah dalam perjalanan iman, maupun yang sudah lebih dahulu berjalan bersama Allah, kita semua terus membutuhkan tuntunan tangan-Nya yang meneguhkan kita. —Keila Ochoa
Ya Bapa, peganglah tanganku dan pimpinlah aku di jalan hidup yang benar.
Allah menjaga setiap langkah kita di sepanjang perjalanan.

Friday, August 28, 2015

Pahlawan yang Mengecewakan

Coba pikirkan dalam-dalam mengenai Yesus ini! Allah mengutus Dia khusus untuk menjadi Imam Agung. —Ibrani 3:1 BIS
Pahlawan yang Mengecewakan
Sebuah buku baru-baru ini menggambarkan dua jagoan penembak jitu di masa lalu, Wyatt Earp dan Doc Holliday, sebagai pemalas yang tidak ada apa-apanya. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah radio, penulis buku itu bercerita tentang pribadi Earp yang sesungguhnya, “Ia sama sekali tak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa di sepanjang hidupnya.” Selama bertahun-tahun, dalam berbagai buku dan film Hollywood, mereka dicitrakan sebagai pahlawan. Namun, catatan sejarah yang tepercaya menunjukkan bahwa mereka tidak seperti penggambaran itu.
Sebaliknya, Alkitab penuh dengan manusia tidak sempurna yang menjadi pahlawan sejati. Namun jangan salah menilai sumber utama dari tindakan mereka yang gagah berani. Objek iman mereka adalah Allah, yang memilih manusia biasa demi menggenapi maksud-Nya yang luar biasa.
Salah satu pahlawan iman yang menonjol adalah Musa. Kita sering lupa bahwa ia pernah membunuh dan enggan memimpin, bahkan pernah berseru kepada Allah: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk . . . sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini?” (Bil. 11:11-12).
Betapa manusiawinya Musa! Namun kitab Ibrani mengingatkan: “Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian” (Ibr. 3:5).
Pahlawan iman yang sejati merujuk pada satu Pahlawan yang tidak pernah mengecewakan kita. “[Yesus] layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa” (ay.3). —Tim Gustafson
Tuhan, terima kasih telah menjadi satu-satunya Pahlawan yang selalu dapat kami andalkan. Tolong kami untuk tidak menutupi kekurangan dan kesalahan kami, tetapi menyerahkannya kepada-Mu. Kami percaya Engkau memakai kami untuk maksud-Mu yang baik.
Sedang mencari seseorang yang tidak akan pernah mengecewakanmu? Pandanglah Yesus.

Thursday, August 27, 2015

Tujuan Rutinitas

Aku tidak berlari tanpa tujuan. —1 Korintus 9:26
Tujuan Rutinitas
Sebuah jam dengan bola bergulir yang terdapat di Museum Inggris menyadarkan saya akan dampak rutinitas yang melumpuhkan. Dalam jam itu, sebuah bola baja kecil bergulir menyusuri alur-alur di atas lempengan baja yang diletakkan miring, dan akan berjalan terus dari satu sisi hingga mengungkit sebuah tuas di sisi lainnya. Gerakan itu memiringkan lempengan baja tersebut ke arah yang berlawanan sehingga bola pun bergulir kembali ke arah sebaliknya lalu menggerakkan jarum jamnya. Setiap tahunnya bola baja itu bergulir bolak-balik sepanjang kurang lebih 4.000 km, tanpa pernah menuju ke mana-mana.
Apabila kita tidak bisa melihat tujuan besar dari rutinitas kita sehari-hari, mudah bagi kita untuk merasa terjebak di dalamnya. Rasul Paulus rindu mengabarkan Injil dengan efektif agar Kristus semakin dikenal luas. “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” (1Kor. 9:26). Segala sesuatu dapat terasa monoton—melakukan kunjungan, berkhotbah, mengajar, dan terlebih lagi saat terkungkung di penjara. Namun Paulus percaya bahwa ia dapat melayani Kristus, Tuhannya, di dalam segala keadaan.
Rutinitas dapat melumpuhkan apabila kita tidak dapat melihat tujuan di balik rutinitas tersebut. Paulus memandang jauh melampaui segala keadaan yang membatasinya karena ia sedang mengikuti suatu perlombaan iman yang terus menggerakkan dirinya hingga sampai di garis akhir. Dengan melibatkan Yesus dalam setiap aspek hidupnya, Paulus menemukan makna, bahkan di tengah rutinitas hidupnya.
Kiranya kita juga demikian. —David McCasland
Ya Tuhan, berilah kami visi dan energi yang baru untuk mengejar tujuan memberitakan nama Kristus di tengah rutinitas hidup kami.
Yesus dapat mengubah rutinitas kita menjadi pelayanan yang berarti bagi Dia.

Wednesday, August 26, 2015

Kuasa Perkataan

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. —Amsal 18:21
Kuasa Perkataan
Nelson Mandela, tokoh penentang rezim apartheid di Afrika Selatan yang dipenjara selama hampir tiga dekade, sangat paham tentang kuasa perkataan. Kita sering mengutip perkataannya saat ini, tetapi selama dipenjara, ia tidak banyak bicara karena takut akan akibat buruk yang dapat ditimbulkannya. Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata: “Bukan kebiasaan saya untuk berkata-kata dengan sembarangan. Pengalaman selama 27 tahun mendekam di penjara telah mengajar kami untuk menggunakan kesunyian dari kesendirian itu guna memahami betapa berharganya perkataan, dan betapa kuat dampak perkataan terhadap hidup-mati seseorang.”
Raja Salomo, penulis dari sebagian besar kitab Amsal di Perjanjian Lama, sering menulis tentang kuasa perkataan. Ia berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Ams. 18:21). Perkataan berpotensi untuk menghasilkan konsekuensi yang positif atau negatif (ay.20). Perkataan berkuasa memberikan hidup melalui kata-kata yang jujur dan membangkitkan semangat. Namun, perkataan dapat juga merusak dan membunuh lewat kebohongan dan gosip. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa perkataan yang kita ucapkan akan memberikan hasil yang baik? Satu-satunya cara adalah dengan tekun menjaga hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23).
Yesus dapat mengubah hati kita agar kita dapat mengucapkan perkataan yang sungguh-sungguh baik—yang jujur, tenang, tepat, dan sesuai untuk situasi yang ada. —Marvin Williams
Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. Mazmur 19:15
Perkataan kita berkuasa membangun atau menghancurkan hidup sesama.

Tuesday, August 25, 2015

Ketika Kesulitan Datang

Kita tahu . . . Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. —Roma 8:28
Ketika Kesulitan Datang
Pernyataan pertama yang sering diucapkan banyak orang ketika malapetaka menimpa mereka adalah ayat Roma 8:28. Namun ayat itu tidaklah mudah diterima di masa-masa sulit. Saat saya mendampingi seorang pria yang telah kehilangan tiga anak laki-lakinya, ia meratap, “Bagaimana mungkin bencana ini mendatangkan kebaikan untukku?” Saya tidak bisa menjawab, dan hanya bisa duduk diam dan berduka bersamanya. Beberapa bulan kemudian, dengan penuh syukur ia berkata, “Kesedihanku telah membawaku lebih dekat kepada Allah.”
Meski ayat itu mungkin sulit dipahami, tetapi banyaknya kesaksian orang percaya telah meneguhkan kebenaran yang dikandungnya. Kisah hidup penulis himne Fanny Crosby merupakan contoh yang baik. Dunia telah menikmati puji-pujian karyanya yang tak lekang oleh waktu, tetapi kebaikan itu datang dari musibah yang menimpa dirinya, yaitu kebutaannya pada usia 5 tahun. Pada usia baru 8 tahun, ia mulai menulis puisi dan lagu himne. Dengan menulis lebih dari 8.000 lagu rohani dan himne, Fanny telah memberkati dunia dengan puji-pujian populer seperti “Blessed Assurance” (‘Ku Berbahagia), “Safe in the Arms of Jesus” (S’lamat di Tangan Yesus), dan “Pass Me Not, O Gentle Savior” (Mampirlah, Dengar Doaku). Allah memakai kesulitan yang diderita Fanny untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan bagi kita, serta untuk memuliakan-Nya.
Ketika bencana menimpa kita, memang sulit memahami bagaimana hal itu dapat mendatangkan suatu kebaikan, dan kita pun tidak selalu bisa melihat kebaikan itu dalam hidup kita. Namun Allah mempunyai maksud yang baik dan Dia selalu menyertai kita. —Lawrence Darmani
Pencobaan hidup apakah yang kamu sadari telah mendatangkan kebaikan bagimu? Apa sajakah kebaikan yang kamu alami? Penderitaan apakah yang sedang kamu alami saat ini dan yang kamu harapkan mendatangkan kebaikan bagimu?
Allah selalu memiliki maksud baik atas setiap pencobaan yang kita alami.

Monday, August 24, 2015

Ikut Mendampingi

Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus . . . yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan. —2 Korintus 1:3-4
Ikut Mendampingi
Ketika saudara perempuan saya Carole didiagnosa mengidap kanker payudara, kami sekeluarga merasa khawatir. Diagnosa tersebut, dengan operasi dan perawatan yang harus dijalaninya, memang membuat kami mengkhawatirkan kondisinya. Namun semua itu menggerakkan kami sekeluarga untuk mendoakan dirinya. Bulan demi bulan, Carole dengan jujur menceritakan kepada kami segala tantangan yang dialaminya. Namun kami semua akhirnya bersukacita ketika ia melaporkan bahwa operasi dan perawatan yang dijalaninya ternyata berhasil. Carole pun berangsur-angsur pulih!
Lalu, kurang dari setahun kemudian, saudara saya Linda juga menghadapi pergumulan yang sama. Dengan segera, Carole mendampingi Linda untuk menjelaskan apa yang akan terjadi dan menolong Linda untuk menyiapkan diri. Pengalaman Carole telah memampukannya untuk mendampingi Linda dalam perjuangannya.
Inilah yang dimaksud Rasul Paulus dalam 2 Korintus 1:3-4, yang mengatakan, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”
Syukurlah, Tuhan tak pernah menyia-nyiakan apa pun. Pergumulan kita bukan saja memberi kita kesempatan untuk mengalami penghiburan-Nya, tetapi juga membuka jalan bagi kita untuk meneruskan penghiburan itu kepada orang lain dalam pergumulan mereka. —Bill Crowder
Hari ini, bagaimana kamu bisa menguatkan hati sesamamu yang sedang terbebani dengan berbagai persoalan hidup?
Kehadiran Allah memberikan penghiburan bagi kita; keberadaan kita memberikan penghiburan bagi orang lain.

Sunday, August 23, 2015

Matikan

Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika. —Markus 6:31
Matikan
Ketika anak-anak masih kecil, kami pernah pergi mengunjungi kakek-nenek saya di wilayah utara negara bagian Wisconsin. Sinyal siaran televisi di rumah mereka tidak terlalu baik, tetapi bagi mereka hal itu bukanlah masalah besar. Setelah anak saya Scott berusaha menyetel pesawat TV tersebut untuk sekian waktu lamanya, dengan frustrasi ia bertanya pada saya, “Apa yang harus kita lakukan kalau cuma ada satu saluran TV dan kita tak suka dengan siarannya?”
“Matikan saja TV-nya,” jawab saya sambil tersenyum. Tentu itu bukan nasihat yang dinantikan oleh Scott. Kini hal itu lebih sulit lagi dilakukan, terutama ketika tersedia banyak sekali perangkat dan sarana untuk menghibur, menjadi sumber informasi, dan mengalihkan perhatian kita.
Terkadang kita memang perlu mematikan saja semua perangkat tersebut dan mengistirahatkan pikiran kita sejenak; kita hanya butuh “mengasingkan diri”. Yesus sering menyepi ke tempat yang sunyi, khususnya ketika Dia membutuhkan waktu untuk berdoa (Mat. 14:13). Dia mendorong murid-murid-Nya untuk menyepi juga, walau hanya untuk sesaat (Mrk. 6:31). Waktu menyendiri yang digunakan untuk merenung itu sangatlah bermanfaat bagi kita. Di saat-saat itulah, kita dapat semakin mendekat kepada Allah.
Ikutilah teladan dan hikmat Kristus. Sediakanlah waktu untuk mengasingkan diri dan “beristirahatlah seketika”. Hal itu baik bagi tubuh, pikiran, dan jiwa kita. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk mencari perkara-perkara surgawi. Aku ingin mematikan segala sesuatu yang mengalihkan perhatianku untuk dapat mendekat kepada-Mu.
Menjauhkan diri dari hiruk-pikuk hidup ini akan memampukanmu untuk mendengarkan suara Allah dengan saksama.

Saturday, August 22, 2015

Inilah yang Kita Lakukan

Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. —Amsal 14:26
Inilah yang Kita Lakukan
Ayah saya pernah terluka parah ketika kakinya tertembak dalam suatu pertempuran di Perang Dunia II. Saat itu, sebagai seorang letnan dua, ia sedang memimpin pasukannya bertempur di Hill 609, Afrika Utara. Kondisi fisik ayah saya tidak pernah pulih kembali seperti semula. Saya lahir beberapa tahun setelah itu, dan ketika masih kecil, saya tak pernah menyadari bahwa ayah pernah terluka. Saya mengetahuinya belakangan ketika seseorang menceritakannya. Walaupun terus-menerus merasakan sakit di kakinya, ayah saya tidak pernah mengeluhkannya, dan ia tak pernah menggunakan rasa sakit tersebut sebagai alasan untuk tidak bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga kami.
Orangtua saya mengasihi Yesus dan mengajar kami untuk mengasihi, mempercayai, dan melayani-Nya. Di saat yang baik maupun yang buruk, mereka tetap mempercayai Allah, bekerja keras, dan mengasihi kami tanpa pamrih. Amsal 14:26 berkata, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.” Itulah yang dilakukan ayah saya bagi keluarga kami. Sesulit apa pun masalah yang dihadapinya, beliau selalu menyediakan tempat yang aman secara rohani, emosi, dan jasmani bagi kami.
Sebagai orangtua, kita dapat memberikan tempat perlindungan dan rasa aman bagi keluarga kita dengan pertolongan Bapa Surgawi kita yang sempurna dan yang selamanya mengasihi anak-anak-Nya dengan mendalam. —Dave Branon
Bagaimana cara Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa bagimu? Bagaimana kamu dapat memuliakan-Nya dalam kehidupan keluargamu?
Kasih Bapa tiada batasnya.

Friday, August 21, 2015

Setia Mengikut Kristus

Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. —Matius 16:25
Setia Mengikut Kristus
Ketika masih remaja, pengalaman musim panas yang paling saya sukai adalah saat mengikuti retret seMinggu bagi kaum muda Kristen. Di penghujung kegiatan itu, saya dan teman-teman akan duduk berdempetan di depan api unggun yang besar. Pada saat itu, kami saling berbagi tentang apa yang telah kami pelajari mengenai Allah dan Alkitab dan juga bernyanyi. Salah satu lagu yang masih saya ingat menyatakan tentang keputusan mengikut Yesus. Refreinnya mencantumkan frasa penting: “Ku tak ingkar” (Kidung Puji-Pujian Kristen, No. 214).
Ketika Elisa memutuskan untuk mengikut Nabi Elia, ia melakukan suatu hal luar biasa yang membuatnya sulit, bahkan sebenarnya tidak mungkin, untuk kembali ke pekerjaannya sebagai petani. Setelah pulang ke rumah dan membuat pesta perpisahan, Elisa mengambil pasangan lembu dan menyembelihnya (1Raj. 19:21). Dengan tekad untuk meninggalkan jalan hidupnya yang lama, Elisa memasak daging lembu dengan api hasil pembakaran bajak yang digunakannya untuk bertani, lalu ia memberi makan anak buahnya. “Sesudah itu bersiaplah [Elisa], lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya” (ay.21).
Penyerahan diri kita kepada Allah, yang memang patut menerima pengabdian kita, sering menuntut kita untuk membayar harga. Adakalanya kita harus membuat keputusan sulit mengenai hubungan, keuangan, dan tempat tinggal kita. Namun demikian, tidak ada yang dapat menandingi berkat yang kita peroleh dari kesetiaan mengikut Kristus. Yesus berkata, “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 16:25). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Bapa, tolonglah aku untuk peka melihat apa saja yang Engkau kehendaki untuk kutinggalkan demi mengikut-Mu sepenuhnya.
Yesus mencari pengikut-pengikut penuh waktu.

Thursday, August 20, 2015

Siapakah Sesamaku Manusia?

Pergilah, dan perbuatlah demikian! —Lukas 10:37
Siapakah Sesamaku Manusia?
Mary menikmati pertemuan kelompok kecil yang berlangsung pada tengah Minggu di gerejanya. Di sana ia dan beberapa temannya berkumpul untuk berdoa, berbakti, dan membahas sejumlah pertanyaan yang mendalami tema khotbah Minggu sebelumnya. Kali ini mereka berencana membahas tentang perbedaan antara “pergi” ke gereja dan “menjadi” gereja di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan ini. Ia sangat antusias bertemu dengan teman-temannya dan menikmati diskusi yang hangat.
Ketika ia sudah siap untuk berangkat dan mengambil kunci mobilnya, bel rumahnya berdering. “Maaf, aku mengganggumu,” kata Sue, tetangganya, “tetapi apakah kau ada waktu pagi ini?” Mary hendak mengatakan bahwa ia sedang mau berangkat. Tepat pada saat itu, Sue melanjutkan, “Aku harus membawa mobilku ke bengkel. Biasanya aku pulang dengan berjalan kaki atau bersepeda, tetapi punggungku sedang sakit, jadi aku tak bisa jalan kaki atau bersepeda sekarang.” Mary sempat ragu, tetapi kemudian sambil tersenyum, ia berkata, “Tidak masalah.”
Mary tidak begitu mengenal tetangganya itu, tetapi ketika mengantarkannya pulang, ia pun mengetahui kabar tentang suami Sue yang menderita demensia, dan juga kelelahan yang dialami Sue selama merawat suaminya. Mary mendengarkan dengan tekun, menyatakan keprihatinannya, dan berjanji akan mendoakan Sue. Ia juga menawarkan bantuan apa saja yang dapat diberikannya.
Pagi itu, Mary batal pergi ke gereja untuk membahas soal kesaksian iman. Namun, ia justru berkesempatan untuk menyaksikan kasih Yesus kepada tetangganya yang sedang dalam kesulitan. —Marion Stroud
Ya Tuhan, tolonglah aku agar selalu siap sedia menjadi perpanjangan tangan dan kaki-Mu bagi mereka yang membutuhkannya.
Iman terlihat nyata melalui perbuatan kita.

Wednesday, August 19, 2015

Mencerminkan Kemuliaan Allah

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. —Mazmur 19:2
Mencerminkan Kemuliaan Allah
Li Tang, seniman asal Tiongkok dari abad ke-12, sering melukis pemandangan alam yang diramaikan dengan gambar orang, burung, dan kerbau. Karena keahliannya dalam membuat lukisan halus di atas bahan sutra, Li Tang dipandang sebagai pakar seni Tiongkok untuk lukisan pemandangan alam. Selama berabad-abad, para seniman dari mancanegara telah melukiskan apa yang mereka saksikan melalui galeri seni dari karya ciptaan Allah: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2). Alkitab memberi tahu kita bahwa kreativitas yang kita miliki sebagai manusia itu disebabkan karena kita diciptakan menurut gambar Allah, Sang Perancang Agung (Kej. 1:27).
Allah memilih para seniman yang bekerja dengan bahan kayu, emas, perak, tembaga, dan batu permata untuk menciptakan segala perabotan, perkakas, mezbah, dan pakaian yang akan digunakan oleh bangsa Israel kuno dalam ibadah kepada-Nya di dalam Kemah Pertemuan (Kel. 31:1-11). Karya seni yang melukiskan realitas rohani itu berperan sebagai petunjuk dan pedoman bagi para imam dan umat dalam ibadah mereka kepada Tuhan yang telah memanggil mereka menjadi umat pilihan-Nya.
Melalui berbagai rupa karya seni, kita mencerminkan keindahan alam ciptaan Allah dan memuliakan Dia, Sang Pencipta dan Penebus dunia yang menakjubkan ini. —Dennis Fisher
Ya Tuhan yang berkuasa atas seluruh semesta, Engkaulah Pencipta dan Pemberi segala kreativitas yang ada pada diri kami. Kiranya kami memuliakan Engkau melalui kemampuan dan karya kami.
Kita diciptakan untuk memberikan kemuliaan bagi Allah.

Tuesday, August 18, 2015

Di Bawah Kepungan

Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. —Filipi 2:4
Di Bawah Kepungan
Sepanjang Perang Bosnia (1992–1996), lebih dari 10.000 orang— penduduk sipil dan tentara—tewas di kota Sarajevo saat peluru dan mortir dimuntahkan dari arah bukit-bukit di sekitarnya. Peristiwa pengepungan terpanjang atas suatu ibukota dalam sejarah peperangan modern itu menjadi latar belakang dari novel mencekam karya Steven Galloway yang berjudul The Cellist of Sarajevo (Pemain Selo dari Sarajevo). Buku itu bercerita tentang tiga tokoh fiktif yang harus memilih untuk bersikap, apakah mereka akan sepenuhnya memikirkan diri sendiri dalam pergulatan untuk bertahan hidup atau mereka akan bangkit dari keadaan mereka yang mengenaskan dan mau mempedulikan orang lain di masa-masa yang sangat sulit itu.
Dari dalam penjara di Roma, Paulus menulis kepada orang Kristen di Filipi, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Paulus menyebut Yesus sebagai teladan agung dari suatu sikap yang mau mengutamakan orang lain, “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, . . . telah mengosongkan diri-Nya sendiri, . . . merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (ay.5-8). Alih-alih memohon simpati dari orang lain, Yesus menyerahkan segala yang dimiliki-Nya demi menyelamatkan kita dari penindasan dosa.
Sebagai pengikut Yesus, kita terus-menerus ditantang untuk melihat keadaan yang ada menurut cara pandang-Nya dan menjawab kebutuhan orang lain dengan melayani sesuai kekuatan yang dilimpahkan-Nya, bahkan di tengah kesulitan yang kita alami. —David McCasland
Apakah kamu sedang mengalami masa-masa yang sulit saat ini? Apakah yang masih dapat kamu lakukan untuk orang lain?
Menerima kasih Allah bagi kita merupakan kunci untuk mengasihi sesama.

Monday, August 17, 2015

Memanggang Roti Bersama Jess

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. —Yohanes 6:27
Memanggang Roti Bersama Jess
Suatu pagi saat Lilia bersiap untuk berangkat kerja, Jess, putrinya yang berusia 4 tahun, juga ikut bersiap-siap. Keluarga mereka baru membeli sebuah pemanggang roti berukuran besar, dan cara kerja pemanggang roti itu membuat Jess terpesona. Beberapa menit kemudian, Lilia mendapati sudah ada setangkup roti dan setengah helai roti panggang di atas meja dapurnya. Jess pun berseru, “Aku sekarang jago memanggang roti!”
Tentu bukanlah mukjizat apabila seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu dapat mengubah roti tawar menjadi roti panggang. Namun saat Yesus mengubah lima roti dan dua ikan milik seorang anak laki-laki menjadi santapan bagi ribuan orang, orang banyak di lereng bukit itu menyadari bahwa mukjizat telah terjadi dan mereka pun ingin menjadikan Yesus sebagai raja (lihat Yoh. 6:1-15).
Tentu saja, kerajaan Yesus “bukan dari dunia ini” (Yoh. 18:36). Oleh karena itu, Dia pun menyingkir. Ketika keesokan harinya orang banyak itu bertemu dengan Yesus, Dia menyingkapkan maksud buruk mereka, “Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (6:26). Mereka telah salah dengan mengira bahwa “Raja” Yesus akan mengenyangkan perut mereka dan membebaskan bangsa mereka. Namun Yesus menasihati mereka, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (ay.27).
Pandangan hidup yang bersifat duniawi akan menyebabkan kita memperlakukan Yesus hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan kita sendiri. Sudah sepatutnya Dia menjadi Roti Hidup kita. —Tim Gustafson
Ya Tuhan, beban hidup dan kekhawatiran dapat menjauhkan kami dari hubungan yang tulus dengan-Mu. Kiranya kami melihat Engkau sebagai santapan rohani kami yang utama, dan bukan hanya sebagai penolong di saat kesulitan.
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. —Yesus

Sunday, August 16, 2015

Penolong Diam-Diam

Kuagungkan Engkau dan kupuji nama-Mu. Sebab karya-karya-Mu sangat menakjubkan. —Yesaya 25:1 BIS
Penolong Diam-Diam
Penemuan penisilin membawa revolusi dalam dunia kesehatan. Sebelum dekade 1940-an, infeksi bakteri sering kali berakibat fatal. Setelah penemuan itu, tak terhitung jumlah orang yang telah diselamatkan oleh keampuhan penisilin dalam membunuh bakteri yang berbahaya. Para ilmuwan yang mengenali potensi penisilin dan mengembangkannya untuk digunakan secara luas itu pun menerima Hadiah Nobel pada tahun 1945.
Jauh sebelum penisilin ditemukan, ada pembunuh diam-diam lainnya yang bekerja menyelamatkan nyawa dengan cara menghancurkan bakteri, yakni sel-sel darah putih. Cara kerja sel-sel itu merupakan cara Allah untuk melindungi kita dari penyakit. Tidak seorang pun tahu berapa banyak serangan yang telah berhasil dihentikan atau berapa banyak nyawa yang telah diselamatkan oleh sel-sel darah putih. Namun, sel-sel yang sangat berjasa itu tidak terlalu mendapatkan perhatian kita.
Demikian pula perlakuan kita terhadap Tuhan. Dia sering dipersalahkan ketika terjadi sesuatu yang merugikan kita, tetapi Dia jarang dipuji untuk segala hal baik yang terjadi. Setiap hari kita bangun tidur, berpakaian, berangkat ke tempat kerja, sekolah, atau pasar swalayan, dan pulang kembali ke rumah dengan aman. Entah sudah berapa kali Allah melindungi kita dari bahaya sepanjang hari itu. Namun saat sesuatu yang buruk terjadi, kita bertanya, “Di manakah Allah?”
Ketika merenungkan segala karya menakjubkan yang Allah lakukan secara diam-diam bagi saya setiap hari (Yes. 25:1), saya melihat ternyata daftar ucapan syukur saya jauh lebih panjang daripada daftar permohonan saya. —Julie Ackerman Link
Dalam hal apakah kebaikan Allah menopang dan menguatkan kehidupanmu? Apakah yang bisa kamu syukuri kepada-Nya hari ini?
Allah selalu memberi kita alasan untuk memuji-Nya.

Saturday, August 15, 2015

Gadis yang Melambaikan Tangan

Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. —Roma 15:7
Gadis yang Melambaikan Tangan
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada seseorang yang selalu menyambut kapal-kapal laut yang tengah merapat di pelabuhan kota Savannah di Georgia, Amerika Serikat. Orang yang dimaksud itu adalah Florence Martus, yang dijuluki “Gadis yang Melambaikan Tangan”. Selama 44 tahun, Florence rajin menyambut kapal-kapal besar dari mancanegara, dengan melambaikan saputangan di siang hari atau lentera di malam hari. Kini, kapal-kapal yang hendak berlabuh akan disambut oleh sebuah patung Florence dan anjingnya yang berdiri di Taman Morrell di Savannah.
Sebuah sambutan hangat dapat melambangkan adanya penerimaan. Di Roma 15:7, Paulus mendorong para pembacanya, “Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita.” Paulus sedang memikirkan sikap kita terhadap satu sama lain sebagai pengikut Kristus, karena di ayat 5-6, ia telah menantang kita untuk hidup bersama dalam kerukunan. Kuncinya adalah dengan memiliki kerukunan di antara saudara seiman, “sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.”
Penerimaan kita terhadap saudara seiman kita di dalam Kristus tidak saja menunjukkan kasih kita terhadap satu sama lain, tetapi juga mencerminkan keagungan kasih Allah yang telah menerima kita menjadi anggota keluarga-Nya sekali untuk selama-lamanya. —Bill Crowder
Ya Bapa, berilah aku hati yang mengasihi saudara-saudariku di dalam Kristus. Berikanlah kepada kami semua hati yang mempedulikan satu sama lain, agar kami dapat mengasihi dan memuliakan Engkau dalam segala tindakan kami.
Semakin erat hubungan umat Kristen dengan Tuhannya, semakin erat pula hubungan satu sama lain di antara mereka.

Friday, August 14, 2015

Einstein dan Yesus

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia.” —Yohanes 8:12
Einstein dan Yesus
Kita mengenang Albert Einstein tidak hanya dari rambutnya yang kusut, matanya yang besar, dan karakternya yang jenaka. Kita mengenalnya sebagai seorang pakar fisika jenius yang mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Rumusnya yang terkenal, E=mc2, telah merevolusi pemikiran ilmiah dan membawa kita memasuki zaman nuklir. Melalui “Teori Relativitas Khusus”, ia berpendapat bahwa karena segala sesuatu di alam semesta ini bergerak, maka pengetahuan adalah soal sudut pandang. Ia meyakini kecepatan cahaya sebagai satu-satunya hal konstan yang dapat dipakai untuk mengukur ruang, waktu, ataupun berat benda.
Jauh sebelum Einstein, Yesus telah berbicara mengenai peran penting cahaya dalam memahami dunia ini, tetapi Dia berbicara dari sudut pandang yang berbeda. Demi mendukung pernyataan-Nya bahwa Dialah Terang Dunia (Yoh. 8:12), Yesus menyembuhkan seorang pria yang buta sejak lahir (9:6). Ketika orang Farisi menuduh Kristus sebagai orang berdosa, pria yang sangat bersyukur itu berkata, “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat” (9:25).
Tidak seperti gagasan-gagasan Einstein yang ternyata sulit untuk dibuktikan, pernyataan-pernyataan Yesus dapat kita uji. Kita dapat merenungkan kisah tentang Yesus di dalam Injil. Kita dapat mengundang-Nya terlibat dalam rutinitas kita sehari-hari. Kita dapat mengalami langsung bagaimana Dia sanggup mengubah cara kita memandang segala sesuatu. —Mart DeHaan
Tuhan Yesus, Engkaulah satu-satunya yang tetap di tengah dunia yang kacau ini. Terima kasih, Engkau telah menjadi satu-satunya Terang sejati yang tidak akan pernah terpadamkan oleh kegelapan.
Hanya dengan berjalan di dalam terang Kristus, kita dapat hidup di dalam naungan kasih-Nya.

Thursday, August 13, 2015

Mau Marah Rasanya!

Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. —2 Tesalonika 2:13
Mau Marah Rasanya!
Saat membaca sebuah pesan singkat di ponsel saya, hati saya menjadi panas dan saya mulai naik pitam. Nyaris saja saya membalasnya dengan sebuah pesan yang bernada pedas, tetapi kemudian suara hati saya mengingatkan saya untuk bersikap tenang dan menanggapinya esok hari saja. Keesokan paginya setelah tidur malam yang nyenyak, masalah yang sebelumnya sangat mengganggu saya itu sekarang tampak begitu sepele. Saya telah membesar-besarkannya hanya karena saya tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan saya sendiri. Saya tidak rela apabila kenyamanan diri saya harus dikorbankan demi menolong orang lain.
Sayangnya, saya menyadari bahwa saya masih sering tergoda untuk membalas dalam kemarahan. Saya terus ditantang untuk menerapkan kebenaran Alkitab yang telah saya ketahui, seperti, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (Ef. 4:26) dan “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4).
Syukurlah, Allah telah mengaruniakan kita Roh-Nya yang akan menolong kita dalam peperangan melawan dosa. Rasul Paulus dan Petrus menyebut ini sebagai karya pengudusan oleh Roh (2Tes. 2:13; 1Ptr. 1:2). Tanpa kuasa-Nya, kita tidak berdaya dan kalah; tetapi dengan kuasa-Nya, kita dapat memperoleh kemenangan. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, aku bersyukur karena Engkau bekerja di dalam diriku. Aku rindu Engkau mengubahkan hatiku; tolonglah aku untuk mendengarkan-Mu dan berserah kepada-Mu.
Pertumbuhan orang percaya adalah proses seumur hidup.

Wednesday, August 12, 2015

Gambaran Yesus

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. —Yesaya 53:6
Gambaran Yesus
Dalam buku Portraits of Famous American Women (Lukisan Para Wanita Amerika Tersohor), Robert Henkes menulis, “Lukisan bukanlah foto, juga bukan bayangan cermin.” Sebuah lukisan menembus penampilan luar untuk menyelami kedalaman emosional dari jiwa manusia. Dalam suatu lukisan, seorang seniman sejati mencoba untuk “mengungkapkan jati diri sebenarnya dari orang tersebut.”
Dari abad ke abad, telah banyak lukisan Yesus yang dihasilkan. Mungkin kamu pernah melihatnya di gereja atau museum atau bahkan memilikinya di rumah. Namun, tentu saja tidak satu pun di antaranya merupakan lukisan Yesus yang sebenarnya, karena kita tidak memiliki foto atau bayangan dari tampilan fisik Tuhan kita. Namun demikian, kita memiliki penggambaran yang luar biasa mengenai diri-Nya melalui kata-kata di Yesaya 53. Penggambaran yang diilhamkan Allah itu mengungkapkan dengan rinci jati diri-Nya: “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaran kita yang dipikulnya . . . . Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; . . . dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (ay.4-5).
Bagian Alkitab tersebut menolong kita untuk melihat pancaran kasih dan kesedihan, serta kepedihan dan kesengsaraan pada wajah Yesus. Namun bibir-Nya tidak mengucapkan tuduhan atau kecaman. Dia sendiri tak memiliki dosa yang perlu dihapus-Nya; dosa kita sajalah yang ditanggung-Nya. Dan jauh di dalam hati-Nya, Dia tahu bahwa “sesudah menderita sengsara, ia akan bahagia dan puas” (Yes. 53:11 BIS).
Gambaran yang luar biasa dari Juruselamat kita! —David McCasland
Alangkah luar biasanya kasih-Mu bagi kami, Yesus! Saat aku merenungkan betapa ajaibnya diri-Mu, aku tertunduk dalam keheningan di hadapan-Mu.
Kasih terbukti ketika Allah menjadi manusia.

Tuesday, August 11, 2015

Debit dan Kredit

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33
Debit dan Kredit
Ketika suami saya mengajar akuntansi di sebuah perguruan tinggi di kota kami, saya iseng mencoba mengikuti salah satu tes untuk melihat seberapa baik pengetahuan saya. Hasilnya sangat buruk. Saya salah menjawab setiap pertanyaan. Kegagalan saya itu disebabkan karena saya salah memahami konsep dasar perbankan. Pemahaman saya tentang debit dan kredit ternyata terbalik.
Terkadang kita juga bingung membedakan antara debit dan kredit dalam pengertian rohani. Ketika kita menyalahkan Iblis untuk segala sesuatu yang berjalan tidak beres—baik itu cuaca buruk, printer yang macet, atau masalah dalam keuangan—kita sesungguhnya memberikan kredit yang tidak pantas diterimanya. Kita menganggap bahwa Iblis memiliki kuasa untuk menentukan kualitas hidup kita, padahal sebetulnya kuasa itu tidak dimilikinya. Iblis dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia harus meminta izin Allah dahulu sebelum dapat mengganggu kita (Ayb. 1:12; Luk. 22:31).
Namun, sebagai bapa segala dusta dan penguasa dunia ini (Yoh. 8:44; 16:11), Iblis dapat menyebabkan kebingungan. Yesus memperingatkan akan datangnya suatu masa ketika orang akan begitu kebingungan sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan yang benar dari yang salah (Yoh. 16:2). Namun Dia menambahkan jaminan ini: “Penguasa dunia ini telah dihukum” (ay.11).
Beragam masalah dapat mengusik kehidupan kita, tetapi semua itu tidak dapat menundukkan kita. Yesus telah mengalahkan dunia. Segala kredit dan pujian kita patut diterima-Nya. —Julie Ackerman Link
Terima kasih, Bapa, karena Engkaulah Tuhan atas segalanya di dalam hidup kami. Kami memuji Engkau yang telah mengalahkan dunia melalui Anak-Mu.
Iblis dapat menuduh dan membingungkan, tetapi Tuhanlah yang memegang kendali.

Monday, August 10, 2015

Aku Datang untuk Menolong

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. —Yakobus 1:22
Aku Datang untuk Menolong
Penggambaran yang gamblang dari wartawan Jacob Riis tentang kemiskinan di kota New York pada abad ke-19 menimbulkan kengerian dalam diri warga kota yang terbiasa hidup nyaman. Buku berjudul How the Other Half Lives (Bagaimana Orang Lain Hidup) yang memadukan tulisannya dengan foto-foto jepretannya sendiri itu memberikan gambaran yang sangat gamblang akan kondisi kemiskinan yang sedemikian parah sehingga warga setempat tidak bisa lagi mengabaikan keberadaannya. Sebagai anak ketiga dari 15 bersaudara, Riis bisa menulis dengan begitu efektif karena ia sendiri pernah menjalani hidup di tengah keadaan yang mengenaskan tersebut.
Tak lama setelah bukunya beredar, ia menerima sepucuk kartu dari seorang pemuda yang baru saja membangun karier politiknya. Pesannya sederhana, “Saya telah membaca bukumu, dan saya tergerak untuk membantu. Theodore Roosevelt.” (Politikus itu di kemudian hari menjadi Presiden Amerika Serikat.)
Iman yang sejati akan menjawab kebutuhan orang lain, seperti yang ditulis oleh Yakobus (1:19-27). Kiranya hati kita digerakkan untuk bertindak, tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga dalam bentuk perbuatan nyata. Tindakan yang penuh belas kasih tidak hanya akan menolong mereka yang tengah terperosok dalam kesulitan hidup, tetapi juga dapat membuat mereka terbuka untuk menerima pesan agung dari Juruselamat kita yang mengetahui kebutuhan mereka dan yang sanggup melakukan jauh lebih banyak lagi bagi mereka. —Randy Kilgore
Ya Tuhan, begitu mudahnya kami merasa terbebani atau justru menghakimi orang lain sehingga tidak membantu mereka. Buatlah kami agar tidak hanya melihat pemikiran dan keadaan kami sendiri, dan tolonglah kami untuk peduli sebagaimana Engkau peduli.
Orang lain akan memahami arti “Allah adalah kasih” ketika mereka melihat kasih itu di dalam kehidupan kita.

Sunday, August 9, 2015

Adonan di dalam Mangkok

Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai . . . di belakang penyabit-penyabit. —Rut 2:7
Adonan di dalam Mangkok
Saya dan putri saya menganggap kue brownies sebagai salah satu dari kenikmatan dunia. Suatu hari, ketika kami sedang mengaduk bahan-bahan untuk membuat kue cokelat favorit kami itu, putri saya bertanya apakah saya dapat menyisakan sedikit adonannya di dalam mangkok setelah saya menuang sebagian besar adonan itu ke dalam loyang. Ia ingin menikmati sisa adonan itu. Dengan tersenyum, saya menyanggupinya. Kemudian, saya memberitahunya, “Kau tahu, itu disebut membersihkan sisa, dan itu sudah dilakukan lama sebelum brownies ada.”
Sembari menikmati sisa-sisa adonan dari kue buatan kami, saya menjelaskan bahwa Rut pernah mengumpulkan sisa-sisa jelai guna menghidupi dirinya dan mertuanya, Naomi (Rut 2:2-3). Karena suami-suami mereka telah meninggal, mereka kembali ke tanah kelahiran Naomi. Di sana Rut bertemu dengan seorang tuan tanah kaya bernama Boas. Rut meminta kepada Boas, “Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai . . . di belakang penyabit-penyabit” (ay.7). Dengan rela, Boas memberikan izin dan memerintahkan pekerjanya untuk dengan sengaja meninggalkan jelai bagi Rut (ay.16).
Seperti Boas, yang memelihara Rut dari kelimpahan hasil ladangnya, demikian pula Allah memelihara kita dari persediaan-Nya yang melimpah. Sumber daya-Nya sungguh tak terbatas, dan Dia mencurahkan berkat-berkat demi kebaikan kita. Dengan rela, Dia menganugerahkan kita kekuatan jasmani dan rohani. Setiap pemberian yang baik dan yang kita terima berasal dari Allah. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, terima kasih atas berkat-berkat yang kunikmati! Engkau memelihara anak-anak-Mu dari persediaan-Mu yang limpah tak terbatas. Aku menyembah-Mu, ya Allah pemeliharaku.
Kebutuhan terbesar kita tidak akan pernah melampaui sumber daya Allah yang mahabesar.

Saturday, August 8, 2015

Yang Tak Terduga

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! —Mazmur 46:11
Yang Tak Terduga
Dalam turnamen golf wanita Amerika Terbuka tahun 2003, Hilary Lunke, seorang pegolf wanita yang tidak begitu dikenal, berhasil meraih gelar paling bergengsi sekaligus menggoreskan namanya dalam catatan sejarah golf wanita. Gelar juara itu direbut Lunke melalui babak final 18 lubang, dan menjadi satu-satunya gelar yang diraihnya di tingkat profesional. Kemenangan Lunke yang mengejutkan dan menginspirasi itu menegaskan fakta bahwa salah satu hal yang membuat olahraga itu seru adalah hasilnya yang tidak terduga.
Namun demikian, ketidakpastian dalam hidup tidaklah selalu menyenangkan. Kita berusaha merancang dan menyusun strategi. Kita merencanakan, memperkirakan, dan mengusulkan apa yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita, tetapi sering kali kita seperti menebak-nebak saja. Kita tidak mempunyai gambaran apa pun tentang apa yang akan terjadi dalam satu tahun, satu bulan, satu Minggu, bahkan satu hari ke depan. Maka kita pun berdoa dan berencana, untuk kemudian mempercayai Allah yang mengetahui dengan sepenuhnya dan seutuhnya segala sesuatu yang tidak bisa kita perkirakan. Oleh karena itulah saya menyukai janji dalam Mazmur 46:11, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
Jalan hidup kita tidak dapat diduga. Ada begitu banyak hal yang tidak akan pernah saya ketahui secara pasti. Namun demikian, saya mengetahui bahwa ada Allah yang mengetahui segalanya dan mengasihi saya sepenuhnya. Dan dengan mengenal Dia, saya dapat “diam” dengan tenteram. —Bill Crowder
Apa sajakah rencana yang perlu kamu serahkan kepada Allah hari ini?
Pemeliharaan Allah adalah kepastian yang dapat kita andalkan dalam ketidakpastian hidup.

Friday, August 7, 2015

Pencari Kesalahan yang Bertobat

Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. —Filipi 1:9
Pencari Kesalahan yang Bertobat
Seperti banyak orang, ketika saya membaca surat kabar atau majalah, saya sering menemukan kesalahan dalam tata bahasa dan ejaan. (Kamu menyadarinya, bukan?) Saya tidak sedang berusaha mencari-cari kesalahan; tetapi kesalahan itu begitu mencolok sehingga tidak mungkin saya lewatkan! Reaksi saya biasanya adalah mengkritik redaksi terbitan itu. “Apa susahnya bagi mereka untuk menggunakan perangkat pengecek ejaan atau menyewa seorang penyelaras bahasa?”
Kamu mungkin pernah mengalami hal serupa dalam bidang yang kamu kuasai. Sepertinya, semakin tahu kita tentang sesuatu, semakin cepat kita menghakimi kesalahan yang kita temukan. Sikap itu juga dapat merusak hubungan kita dengan orang lain.
Namun Filipi 1:9 memberikan pendekatan yang berbeda. Paulus menulis, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.” Allah menghendaki agar semakin kita tahu dan mengerti kebenaran, semakin pula kita mengasihi. Daripada memupuk sifat suka mengkritik atau berpura-pura tidak peduli, pengertian yang kita miliki sepatutnya mendorong kita untuk semakin berempati. Kritik pun tergantikan dengan kasih sayang.
Daripada menjadi pencari kesalahan, kita dipanggil Tuhan supaya “penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (ay.11).
Ketika Tuhan menguasai hati kita, kita dapat mengabaikan kesalahan, menahan diri dari sifat mengkritik, dan menunjukkan kasih kepada orang lain, yang jauh maupun yang dekat. —David McCasland
Ya Tuhan, dengan rahmat-Mu, ubahlah sifatku yang suka mengkritik dengan kasih-Mu dan belas kasihan-Mu bagi sesama.
Berbuat salah itu manusiawi; mengampuni itu ilahi. —Alexander Pope

Thursday, August 6, 2015

Khusus Anggota Keluarga

Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. —Yohanes 1:12
Khusus Anggota Keluarga
Dahulu ketika masih bersekolah dasar di Ghana, saya pernah tinggal jauh dari orangtua dan hidup bersama sebuah keluarga yang harmonis dan penuh perhatian. Suatu hari, semua anak-anak dikumpulkan untuk sebuah pertemuan keluarga khusus. Awalnya kami semua diminta menceritakan pengalaman pribadi kami masing-masing. Namun di lain waktu, ketika hanya “anak kandung” yang diharuskan hadir, saya pun tidak diikutsertakan. Kenyataan yang jelas itu begitu menyentak saya: saya menyadari bahwa saya bukanlah “anak dalam keluarga” itu. Meskipun mereka mengasihi saya, keluarga itu meminta saya dengan hormat untuk tidak ikut serta karena saya hanya menumpang di rumah itu dan bukan anggota sah dari keluarga mereka.
Kejadian tersebut mengingatkan saya tentang Yohanes 1:11-12. Yesus, Anak Allah, datang kepada umat-Nya sendiri, dan mereka menolak Dia. Namun semua orang yang menerima-Nya, pada saat itu maupun pada saat ini, diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Pada saat kita diadopsi ke dalam keluarga-Nya, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm. 8:16).
Yesus tidak membeda-bedakan setiap orang yang diadopsi oleh Bapa-Nya. Dia menyambut kita sebagai anggota keluarga-Nya yang tetap. “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12). —Lawrence Darmani
Terima kasih, Bapa, karena telah memungkinkanku menjadi anak-Mu. Aku bersyukur karena menjadi milik-Mu dan aku tak perlu khawatir Engkau akan membuangku dari anggota keluarga-Mu. Aku milik-Mu dan Engkau milikku.
Kepastian keselamatan tidak terletak pada apa yang kamu ketahui, melainkan pada siapa yang kamu kenal.

Wednesday, August 5, 2015

Master Catur

Sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. —2 Petrus 3:13
Master Catur
Semasa di SMA, saya sangat bangga pada kemahiran saya bermain catur. Saya bergabung dengan klub catur, dan saat istirahat makan siang saya biasa duduk bersama sesama anggota klub untuk membahas buku-buku catur seperti Classic King Pawn Openings (Pembukaan Bidak Raja Klasik). Saya mempelajari teknik permainannya dan memenangi sebagian besar pertandingan yang saya ikuti, tetapi setelah itu saya tidak lagi bermain catur selama 20 tahun. Suatu waktu saya bertemu dengan seorang pecatur hebat yang terus mengasah keahliannya sejak SMA, dan saat itulah saya merasakan bagaimana bertanding melawan seorang master. Meskipun saya sepenuhnya bebas menentukan langkah, tetap saja strategi saya tidak berarti banyak. Kemampuan beliau yang lebih unggul dari saya memastikan bahwa langkah-langkah yang saya ambil untuk menang justru pada akhirnya menggenapi kemenangan lawan saya itu.
Rasanya ada pelajaran iman bagi kita dalam gambaran itu. Allah memberi kita kebebasan untuk menentang rancangan-Nya yang mula-mula. Namun meski kita berbuat demikian, pada akhirnya, kita justru menggenapi pemulihan yang dimaksudkan-Nya (Rm. 8:21; 2Ptr. 3:13; Why. 21:1). Cara pandang saya terhadap apa yang baik dan buruk pun berubah. Hal-hal yang baik—kesehatan, talenta, dan uang—dapat saya persembahkan kepada Allah untuk memenuhi tujuan-Nya. Dan hal-hal yang buruk— keterbatasan fisik, kemiskinan, keretakan keluarga, kegagalan—dapat “dipakai” sebagai sarana yang justru mendekatkan saya kepada Allah.
Bagaimanapun keadaan yang tengah kita hadapi, bersama Allah, Sang Grand Master, kemenangan kita telah dijamin. —Philip Yancey
Bapa, aku bersyukur karena dalam segala keadaan, tujuan-Mu selalu tergenapi. Kiranya aku belajar terbuka menerima apa pun yang Kau berikan kepadaku dan melepas apa pun yang Kau minta dariku. Tolong aku untuk mempercayai hati-Mu.
Saat kita tak dapat melihat tangan-Nya, kita dapat mempercayai hati-Nya.

Tuesday, August 4, 2015

Hikmat Dunia Maya

Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan. —Amsal 26:21
Hikmat Dunia Maya
Di bagian bawah dari banyak situs berita online, kamu dapat menemukan kolom “Komentar” tempat para pembaca dapat mengemukakan pendapat mereka. Bahkan situs-situs berita bereputasi baik pun tak lepas dari lontaran kata-kata kasar, hinaan tanpa dasar, dan julukan-julukan yang tidak sopan.
Memang kitab Amsal tersusun sekitar 3.000 tahun yang lalu, tetapi hikmatnya yang tak lekang oleh waktu masih relevan seperti berita utama hari ini. Di pasal 26, terdapat dua nasihat yang awalnya terkesan saling bertentangan, tetapi sangat tepat diterapkan pada interaksi di media sosial. “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia” (Ams. 26:4). Lalu, “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (ay.5).
Keseimbangan dalam kedua pernyataan itu terletak pada kata “menurut”: Janganlah menjawab sesuai cara yang digunakan oleh orang bebal. Namun jawablah agar kebodohan tidak dianggap sebagai hikmat.
Masalahnya, kebodohan yang sering saya hadapi adalah kebodohan saya sendiri. Saya pun pernah memberikan komentar yang sarkastis atau membalas pernyataan seseorang dengan menyerang diri orang tersebut. Allah tidak suka dengan sikap saya yang memperlakukan sesama saya dengan tidak hormat, sekalipun mereka memang telah bertindak bodoh.
Allah memberikan kebebasan yang besar kepada kita. Kita bebas mengatakan apa pun yang hendak kita katakan, kapan pun dan bagaimanapun cara kita mengatakannya. Selain itu, kita selalu dapat meminta pertolongan Allah agar kita bijak dalam berkata-kata. —Tim Gustafson
Ingat: Apakah yang kamu katakan itu benar dan didasari kasih? Apakah motivasimu? Bergunakah itu bagi orang lain? Apakah itu mencerminkan karakter Yesus?
Kiranya kasih menjadi tujuanmu yang utama.

Monday, August 3, 2015

Di Tepi Jurang

Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. —Yohanes 8:34
Di Tepi Jurang
Ada sebuah saluran lava bawah tanah di selatan kota Kuna, Idaho, Amerika Serikat, yang membuat heboh daerah itu. Sepengetahuan saya, jalan masuknya hanyalah sebuah lubang menganga yang curam dan langsung masuk ke dalam kegelapan.
Beberapa tahun lalu, saya pernah berdiri di tepi lubang itu dan melongok ke bawah. Saya terpikat untuk terus mendekati lubang itu hingga hampir kehilangan keseimbangan. Saya pun merasa begitu ngeri dan jantung saya berdegup kencang, maka saya memilih untuk menjauh dari lubang tersebut.
Demikianlah dengan dosa: Rasa penasaran bisa memikat kita masuk ke dalam kegelapan. Entah sudah berapa banyak orang, pria maupun wanita, yang melangkah terlalu dekat ke tepi jurang, lalu kehilangan keseimbangan, dan jatuh ke dalam kegelapan. Keluarga, reputasi, dan karier mereka rusak karena suatu perselingkuhan yang awalnya dimulai dengan “sekadar” menggoda, tetapi kemudian berkembang dalam pikiran dan tindakan. Ketika menengok ke belakang, mereka hampir selalu berkata, “Aku tak pernah menyangka semuanya jadi begini.”
Kita mengira bisa bermain-main dengan pencobaan, mendekat ke tepi jurang, lalu menjauh begitu saja. Namun itu adalah pemikiran yang konyol. Kita sudah tahu tindakan itu salah, tetapi kita meremehkannya. Akhirnya, kita tidak lagi bisa menghindar dan justru terperosok makin jauh ke dalam dosa. Yesus berkata, “Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (Yoh. 8:34).
Maka dari itu, menyadari perlunya pertolongan Allah, kita pun berdoa seperti Daud dalam Mazmur 19:14 (BIS), “Jauhkanlah aku dari dosa yang disengaja, jangan biarkan aku dikuasai olehnya.” —David Roper
Bapa Surgawi, baik kami sedang mengalami godaan, atau kini sudah jatuh dalam dosa, kami bersyukur karena Engkau selalu ada bersama kami dan tak pernah berhenti mengasihi kami. Kami hanya dapat bersandar kepada-Mu.
Kejatuhan besar dimulai dari batu sandungan yang kecil.

Sunday, August 2, 2015

Kebaikan Hati Allah

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. —Yakobus 1:2
Kebaikan Hati Allah
Roger telah melewati masa-masa yang sangat sulit. Ia pernah menjalani operasi jantung untuk memperbaiki katup yang bocor. Lalu, dua Minggu kemudian, para dokter mengoperasinya lagi karena ia mengalami komplikasi. Baru saja Roger memulai pemulihan lewat terapi fisik, ia mengalami kecelakaan saat bersepeda dan tulang selangkanya patah. Di waktu yang sama, kesedihan menghantam Roger karena ibunya meninggal dunia. Ia pun merasa patah semangat. Ketika seorang teman bertanya apakah ia melihat campur tangan Allah dalam hal-hal yang kecil sekalipun, Roger mengakui bahwa ia tidak merasakannya sama sekali.
Saya menghargai kejujuran Roger. Perasaan kecewa atau ragu juga menjadi bagian dari hidup saya. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus berkata, “Kita pun gembira di dalam penderitaan, sebab kita tahu bahwa penderitaan membuat orang menjadi tekun, dan ketekunan akan membuat orang tahan uji; inilah yang menimbulkan pengharapan” (Rm. 5:3-4 BIS). Namun hal itu tidak berarti bahwa kita akan selalu merasakan kegembiraan di tengah penderitaan. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang mau duduk di sebelah kita dan mendengarkan curahan hati kita, dan untuk berbicara kepada Allah. Terkadang kita perlu melihat kembali masalah yang ada di masa lalu sebelum kita menyadari bahwa iman kita telah bertumbuh di sepanjang beragam ujian dan keraguan yang kita alami.
Dengan memahami bahwa Allah ingin memakai berbagai kesulitan hidup untuk menguatkan iman kita, kita dapat ditolong untuk mempercayai kebaikan hati Allah atas kita. —Anne Cetas
Bagaimana Allah telah memakai ujian dan pencobaan untuk membentuk hidupmu? Apakah kamu belajar untuk semakin mempercayai Dia?
Terkadang Allah mengizinkan persoalan terjadi di dalam hidup ini agar kita semakin mempercayai Dia.

Saturday, August 1, 2015

Menemukan Kedamaian

Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. —Roma 5:1
Menemukan Kedamaian
Kapel Hening Kamppi di Helsinki, Finlandia, terlihat mencolok di tengah lingkungan perkotaan yang ditempatinya. Struktur bangunan yang melengkung dan terbungkus kayu menghalangi masuknya bunyi-bunyian dari kebisingan kota di luar. Para perancangnya membangun kapel itu untuk menjadi tempat yang hening dan suatu “lingkungan yang tenang bagi para pengunjung untuk menenangkan diri mereka”. Kapel tersebut menjadi semacam tempat perteduhan yang digemari banyak orang untuk melarikan diri dari segala hingar-bingar perkotaan.
Banyak orang merindukan kedamaian, dan mengambil beberapa menit untuk hening bisa menolong dalam menenangkan pikiran. Namun Alkitab mengajarkan bahwa kedamaian yang sejati—damai sejahtera dengan Allah—datang dari Anak-Nya. Rasul Paulus berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm. 5:1). Tanpa Kristus, kita adalah seteru Allah oleh karena dosa kita. Syukurlah, ketika kita menerima pengorbanan Yesus, kita didamaikan dengan Allah dan perseteruan antara kita dengan Allah pun berakhir (Kol. 1:19-22). Kini Allah memandang kita sebagaimana Kristus telah menempatkan kita, yakni “kudus dan tak bercela dan tak bercacat” di hadapan-Nya (ay.22).
Berdamai dengan Allah tidak berarti hidup kita bebas dari masalah. Namun itu berarti kita diteguhkan dalam melewati masa-masa sukar. Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan,” tetapi Dia juga berkata, “Kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yoh. 16:33). Oleh karena Kristus, damai sejahtera Allah yang sejati mampu memenuhi hati kita (Kol. 3:15). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Bapa, kami merindukan damai sejahtera dari-Mu di tengah kekalutan hidup kami. Tolong kami untuk dapat bersandar kepada-Mu.
Kedamaian akan memenuhi jiwa tatkala Kristus bertakhta di dalam hati.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate