Pages - Menu

Monday, September 30, 2013

Minumlah Banyak Air

Baca: Yohanes 4:7-14
Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. —Yohanes 4:14
Para pengunjung yang datang ke Colorado sering mengalami dehidrasi tanpa menyadarinya. Iklim yang kering dan sinar matahari yang terik, terutama di daerah pegunungan, dapat menguras cairan tubuh dengan cepat. Itulah sebabnya ada banyak peta wisata dan rambu yang menyarankan orang-orang untuk minum banyak air.
Di dalam Alkitab, air sering dipakai untuk melambangkan Yesus sebagai Air Hidup yang memuaskan kebutuhan kita yang terdalam. Jadi sangatlah tepat jika salah satu percakapan Yesus yang paling mengesankan terjadi di pinggir sebuah sumur (Yoh 4:1-42). Peristiwanya bermula ketika Yesus meminta air minum dari seorang wanita Samaria (ay.7). Dengan segera, percakapan itu berkembang menjadi sebuah diskusi tentang sesuatu yang lebih besar ketika Yesus berkata kepada wanita tersebut: “Barangsiapa minum air [jasmani] ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (ay.13-14).
Sebagai dampak dari percakapan ini, wanita tersebut dan banyak orang dari kota tempat tinggalnya menjadi percaya bahwa Yesus adalah Kristus, “Juruselamat dunia” (ay.42).
Kita tidak dapat hidup tanpa air. Demikian juga kita tidak dapat sungguh-sungguh hidup di masa kini atau di masa kekekalan tanpa air hidup yang kita terima ketika kita mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. Hari ini, kita dapat minum air dari Tuhan yang memberikan kehidupan itu. —DCM
Juruselamat yang Pemurah dan Mahakuasa,
Sumber dari segala yang ada selamanya,
Puaskan dahagaku dengan Air Hidup,
Air Hidup yang jernih dan murni. —Vinal
Hanya Yesus, Sang Air Hidup, yang dapat memuaskan jiwa yang dahaga.

Sunday, September 29, 2013

Berani Main Warna

Baca: 1 Korintus 4:10-17
Ikutlah teladan saya, seperti saya pun mengikuti teladan Kristus. —1 Korintus 11:1 BIS
Sebuah iklan radio untuk sebuah merek jam tangan menyarankan para pendengarnya agar membeli jam tangan dengan tali berwarna cerah, dan kemudian memadukannya dengan pakaian yang berbeda warnanya. Ketika orang memperhatikan jam tangan Anda karena warnanya yang kontras, iklan itu berkata, “Mereka akan melihatmu ‘berani main warna.’ Mereka pun ingin menjadi seperti dirimu.” Ada sesuatu di dalam diri kita yang merasa senang jika orang lain meneladani kita.
Jika Anda membaca 1 Korintus pasal ke-4 dengan sambil lalu, Anda mungkin mengira Rasul Paulus berbicara dengan nada sombong ketika ia mendorong orang-orang supaya mengikuti teladannya yang rela berkorban (ay.16). Namun jika kita lebih cermat memperhatikan perkataan Paulus, kita akan mengerti mengapa ia menulis dengan begitu percaya diri. Ia dapat mendorong orang lain untuk meneladani dirinya karena ia sendiri meneladani Kristus (11:1), Hamba yang terbesar dari segala hamba.
Seluruh penganiayaan yang dideritanya dan kedudukannya di dalam gereja (4:10-17) telah diperoleh karena Paulus mengikut Yesus. Paulus menyebutkan bahwa sekalipun jemaat di Korintus memiliki 10.000 guru, dirinya akan tetap menjadi bapa rohani mereka (ay.15). Dengan pernyataannya ini, ia hendak menyatakan bahwa Yesuslah satu-satunya alasan bagi seseorang untuk mempercayai ajarannya.
Jika kita menginginkan supaya orang lain mengikuti teladan kita, kita harus pertama-tama mengikuti teladan Tuhan kita. Jika ada sesuatu yang membuat orang lain mau mengikuti teladan kita—jika kita pun mempunyai keberanian untuk menuntun orang lain kepada Sang Juruselamat—biarlah Dia, bukan kita, yang menjadi alasannya. —AMC
Sukacita dalam mengikut Yesus Tuhan
Dan setiap hari mempercayai pimpinan-Nya
Menjadikan kita teladan yang terlihat nyata
Layak diikuti saat sesama diterpa cobaan. —Sper
Orang lain masih boleh meneladani kita selama kita masih meneladani Kristus.

Saturday, September 28, 2013

Siapakah Aku Ini?

Baca: Keluaran 3:7-15
Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” —Keluaran 3:11
Bertahun-tahun yang lalu, Billy Graham, seorang penginjil terkemuka di dunia, dijadwalkan berbicara di Universitas Cambridge di Inggris. Namun ia tidak merasa memiliki persyaratan untuk berbicara di depan para cendekiawan. Ia tidak memiliki gelar dan tidak pernah bersekolah di seminari. Billy mengatakan kepada seorang sahabatnya: “Rasanya aku tidak pernah merasa begitu tidak layak dan sama sekali tidak siap untuk sebuah tanggung jawab seperti ini.” Ia berdoa memohon pertolongan Allah, dan Allah memakai Billy untuk membagikan kebenaran sederhana dari Injil tentang salib Kristus.
Musa juga merasa tak layak ketika Allah memanggilnya untuk berbicara kepada Firaun agar ia membebaskan bangsa Israel. Musa bertanya, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun?” (Kel. 3:11). Meski Musa mungkin meragukan kemampuan dirinya karena ia “tidak pandai bicara” (4:10), Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (3:12). Menyadari bahwa ia harus memaparkan rencana penyelamatan Allah dan berbicara kepada bangsa Israel tentang siapa yang mengutus dirinya, Musa bertanya kepada Allah, “Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Allah menjawab, “AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (ay.13-14). Nama Allah, “AKULAH AKU,” mengungkapkan sifat-Nya yang kekal, Mahahadir, dan Mahakuasa.
Bahkan ketika kita meragukan kemampuan kita untuk mengerjakan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, Dia dapat dipercaya. Kekurangan kita tidaklah terlalu berarti jika dibandingkan dengan kemahakuasaan Allah. Ketika kita bertanya, “Siapakah aku ini?” kita dapat mengingat bahwa Allah berkata, “AKULAH AKU.” —JBS
Tuhan terkasih, tolong aku untuk mengingat bahwa Engkau selalu
menyertaiku, bahkan saat aku tak yakin dengan kemampuanku.
Beriku keyakinan untuk percaya bahwa Engkau dapat menolongku
untuk melakukan apa pun yang Engkau kehendaki dariku.
Anda tak perlu khawatir ke mana Anda melangkah ketika Anda tahu bahwa Allah menyertai Anda.

Friday, September 27, 2013

Api Dan Hujan

Baca: Yesaya 16:1-5
Maka suatu takhta akan ditegakkan dalam kasih setia dan di atasnya, . . . akan duduk senantiasa seorang hakim yang menegakkan keadilan, dan yang segera melakukan kebenaran. —Yesaya 16:5
Ketika kebakaran hutan melanda ngarai-ngarai yang indah di dekat Colorado Springs, lautan api telah menghancurkan lingkungan hidup dari beragam jenis binatang liar dan juga ratusan rumah. Orang-orang di seluruh negeri berseru kepada Allah, memohon kepada-Nya supaya mengirimkan hujan untuk memadamkan api, mengakhiri kerusakan, dan memberi kelegaan kepada para pemadam kebakaran. Ada orang yang dalam doanya mencantumkan suatu persyaratan menarik. Mereka memohon agar Allah menunjukkan belas kasihan-Nya dan mengirim hujan tanpa petir, karena khawatir petir justru akan memicu kebakaran lebih besar.
Hal ini mengingatkan saya tentang hidup kita yang berada di antara hal-hal yang dapat menyelamatkan sekaligus membunuh kita. Kita menggunakan api untuk memasak dan menghangatkan tubuh kita, tetapi api juga dapat memusnahkan kita. Kita menggunakan air untuk menjaga tubuh agar tidak dehidrasi dan mendinginkan planet kita, tetapi air juga dapat menenggelamkan kita. Terlalu banyak ataupun terlalu sedikit dari salah satunya dapat membahayakan hidup.
Kita melihat prinsip yang sama berlaku dalam hal rohani. Supaya dapat berkembang, peradaban manusia membutuhkan nilai-nilai belas kasihan dan keadilan yang kelihatannya bertentangan (Zak. 7:9). Yesus menegur orang-orang Farisi karena memegang hukum Taurat dengan ketat, tetapi melalaikan hal-hal “yang terpenting” (Mat. 23:23).
Kita mungkin lebih suka menuntut keadilan atau menaruh belas kasihan, tetapi Yesus menerapkan keduanya dalam keseimbangan sempurna (Yes. 16:5; 42:1-4). Kematian-Nya menggenapi tuntutan Allah akan keadilan dan kebutuhan kita akan belas kasihan. —JAL
Ya Bapa, terkadang karena kemauanku sendiri, aku mau menunjukkan
belas kasihan, tetapi di lain waktu hanya ingin mendapat keadilan.
Ajarlah aku menyeimbangkannya dengan meneladani sifat-Mu dan
berikan hikmat yang dibutuhkan dalam situasi-situasi yang kuhadapi.
Keadilan dan belas kasihan Allah sama-sama tergenapi di atas kayu salib.

Thursday, September 26, 2013

Jalan Hikmat

Baca: Mazmur 38:2-16
Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku. —Mazmur 38:16
Albert Einstein pernah mengatakan, “Hanya ada dua hal yang kekal. Alam semesta adalah yang pertama. Yang kedua itu kebodohan manusia, dan saya tidak begitu yakin tentang yang pertama.” Sayangnya, memang seringkali kebodohan yang kita lakukan seakan tidak mengenal batas—demikian juga kerusakan yang dihasilkan oleh kebodohan kita dan keputusan-keputusan yang mendorong kita bertindak bodoh.
Di tengah masa penyesalan yang sedemikian dalam, Daud mencurahkan pergumulan dan keluh kesahnya kepada Allah dalam Mazmur 38. Sewaktu ia menuturkan kegagalan demi kegagalannya sendiri, disertai akibat-akibat menyakitkan yang harus ditanggungnya karena berbagai kegagalan itu, sang raja sekaligus gembala itu membuat komentar yang blak-blakan: “Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku” (ay.6). Walaupun sang pemazmur tidak memberi kita penjelasan yang lebih rinci mengenai pilihan-pilihan buruk yang telah diambilnya atau luka-lukanya yang semakin membusuk, ada satu hal yang jelas—Daud menyadari bahwa kebodohan dirinyalah yang menjadi akar masalahnya.
Kebodohan yang begitu menghancurkan hidup itu dapat diatasi dengan cara menerima hikmat dari Allah. Amsal 9:10 mengingatkan kita, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Hanya dengan mengizinkan Allah untuk mengubah diri kita, barulah kita dapat menanggulangi berbagai keputusan bodoh yang telah menjerumuskan kita ke dalam banyak kesulitan. Dengan tuntunan-Nya yang penuh kasih, kita dapat melangkah dalam jalan hikmat Allah. —WEC
Bapa yang terkasih, ampuniku karena berbagai sikap bodohku
yang seakan tak mengenal batas. Ajarku di dalam hikmat-Mu,
supaya hidupku bisa menyenangkan hati-Mu
dan menjadi berkat bagi orang di sekitarku.
Hikmat Allah diberikan kepada orang yang mau meminta-Nya dengan rendah hati.

Wednesday, September 25, 2013

Tidak Berarti

Baca: Lukas 3:2-6,15-18
Datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. —Lukas 3:2
Kaum “penggerak dan pendobrak” adalah julukan bagi orang-orang yang berhasil meraih prestasi yang berpengaruh dan mencapai puncak kesuksesan. Dalam kitab Lukas pasal ke-3 disebutkan tujuh orang pemimpin penting yang berkuasa atas masyarakat pada zaman mereka hidup. Ada penguasa tertinggi Romawi bernama Kaisar Tiberius yang memegang kuasa atas hidup matinya setiap orang di dalam kekaisarannya yang terbentang luas. Ada Pontius Pilatus yang mewakili Romawi sebagai wali negeri Yudea; sedangkan Herodes, Filipus, dan Lisanias berkuasa atas rakyatnya pada tingkat regional. Hanas dan Kayafas menjabat sebagai imam besar dan mengemban wewenang keagamaan mereka dengan sungguh-sungguh.
Sementara para penguasa ini menunjukkan kekuatan politik mereka, “datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun” (ay.2). Adakah yang terlihat lebih tidak berarti dibandingkan sosok tak dikenal yang tinggal di gurun dan mendengarkan suara Allah ini? Apakah yang mungkin dapat dicapai oleh Yohanes Pembaptis dengan seruannya: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (ay.3). Namun banyak orang datang kepada Yohanes untuk mencari kebenaran dan berbalik dari dosa mereka. Mereka juga bertanya-tanya apakah Yohanes adalah Mesias (ay.7,15). Yohanes berkata kepada mereka, “Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang . . . . Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (ay.16).
Hidup Yohanes menolong kita untuk mengerti makna dari hidup yang berarti di mata Allah. Sama seperti Yohanes, kiranya segala yang kita katakan dan kerjakan menuntun orang lain kepada Yesus. —DCM
Tuhan, tolonglah kami untuk menyerahkan kepada-Mu segala hasrat
kami untuk memberikan pengaruh dan meraih sukses. Kiranya hati
kami selalu rindu untuk dipakai oleh-Mu untuk memperluas
kerajaan-Mu. Jadikanlah hidup kami sebagai saksi-Mu yang hidup.
Penyerahan diri kita kepada Allah membuka jalan bagi karya-Nya yang besar di dalam hidup kita.

Tuesday, September 24, 2013

Teman Sejati

Baca: 1 Yohanes 3:11-18
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. —1 Yohanes 3:18
Belum lama ini, saya dan istri saya Janet membeli sejumlah besar daging sapi dari seorang sahabat yang memiliki peternakan kecil. Harganya lebih murah dari harga di toko, dan kami menyimpannya di dalam lemari pendingin untuk persediaan hingga beberapa bulan mendatang.
Lalu terjadi badai petir mengerikan yang memutus pasokan listrik di seluruh daerah tempat tinggal kami. Selama 24 jam pertama, kami masih yakin bahwa lemari pendingin itu dapat bertahan untuk menjaga dagingnya tetap beku. Namun ketika keesokan harinya kami belum mendapat kabar tentang kapan listrik akan menyala, kami mulai bingung.
Kami menghubungi Ted, salah seorang anggota kelompok PA kami, untuk meminta saran darinya. Ia lalu memutuskan untuk membatalkan janjinya dengan seseorang dan datang ke rumah kami sambil membawa sebuah generator untuk lemari pendingin kami. Kami sungguh bersyukur karena Ted telah menolong kami, dan kami tahu hal itu ia lakukan karena kasihnya kepada Kristus.
Kami kembali menghayati ungkapan kuno yang mengatakan “sahabat sejati adalah sahabat di kala susah maupun senang”. Yohanes mengingatkan kita dalam 1 Yohanes 3:18, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Terkadang hal ini berarti kita perlu rela untuk berjerih lelah demi memenuhi kebutuhan orang lain atau menerima pertolongan yang memang sedang kita butuhkan. Mengingat segala sesuatu yang telah Kristus lakukan bagi kita, alangkah indahnya ketika kita dapat menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam mengasihi sesama. —HDF
Bapa, terima kasih sebab Engkau telah menerimaku menjadi anggota
keluarga-Mu dengan memberikan Putra-Mu Yesus bagiku. Tolong aku
untuk rela menerima perhatian orang lain dan juga melayani mereka
sebagai ungkapan rasa syukur dan kasihku kepada-Mu.
Mengasihi Kristus juga berarti mengasihi sesama.

Monday, September 23, 2013

Keyakinan Di Masa Sulit

Baca: Mazmur 91
Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa. —Mazmur 91:1
Ada anak-anak yang suka membual tentang ayah mereka. Jika Anda kebetulan mendengarkan percakapan di antara mereka, Anda akan mendengar anak kecil berkata, “Ayahku lebih jago dari ayahmu!” atau “Ayahku lebih pintar dari ayahmu!” Akan tetapi bualan terbesar yang bisa diucapkan adalah, “Ayahku lebih kuat dari ayahmu!” Bualan ini biasanya diucapkan dengan niat untuk memperingatkan anak-anak lain; andai kata mereka mengancam anak ini, mereka harus siap-siap menghadapi ayahnya yang lebih kuat dan yang bisa mengalahkan mereka semua, termasuk ayah mereka!
Mempercayai bahwa ayah Anda adalah yang terkuat di antara ayah-ayah lainnya dapat mengilhami rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi suatu bahaya. Inilah mengapa saya menyukai kenyataan bahwa Allah Bapa kita itu Mahakuasa. Ini berarti tidak seorang pun dapat menandingi kekuatan dan kuasa-Nya. Lebih hebatnya lagi, itu berarti Anda dan saya “bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm. 91:1). Jadi, tidaklah mengherankan jika sang pemazmur dapat dengan yakin mengatakan bahwa ia “tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang” (ay.5).
Terlepas dari apa yang akan terjadi hari ini atau masalah yang sedang Anda hadapi saat ini, janganlah lupa bahwa Allah lebih kuat daripada apa pun yang terjadi di dalam hidup Anda. Jadi, yakinlah! Naungan kehadiran-Nya yang senantiasa menyertai Anda telah menjamin bahwa kuasa-Nya dapat mengubah situasi seburuk apa pun menjadi sesuatu yang baik. —JMS
Bapa surgawi, di tengah masalah yang kuhadapi,
ajarku untuk bersandar pada kenyataan bahwa Engkau
Mahabesar. Terima kasih atas keyakinan yang kumiliki bahwa
Engkau jauh lebih kuat dari apa pun yang mengancam hidupku.
Allah lebih besar daripada masalah kita yang terbesar.

Sunday, September 22, 2013

Yang Baik Dan Yang Jahat

Baca: 1 Raja-Raja 14:7-16
Hamba-Ku Daud . . . mengikuti Aku dengan segenap hatinya. —1 Raja-Raja 14:8
Baru-baru ini, saya dan beberapa teman mulai mempelajari tokoh raja-raja dalam Perjanjian Lama. Ketika saya mencermati tabel yang kami gunakan, ternyata hanya sedikit pemimpin kerajaan Israel dan Yehuda yang diberi label baik, dan kebanyakan dari mereka diberi label jahat, lumayan jahat, sangat jahat, dan paling jahat.
Raja Daud digambarkan sebagai seorang raja yang baik, yang “mengikuti [Allah] dengan segenap hatinya” (1Raj. 14:8) dan sebagai teladan yang patut dicontoh (3:14; 11:38). Para raja yang jahat dicatat karena mereka dengan sengaja menolak Allah dan memimpin rakyatnya ke dalam penyembahan berhala. Raja Yerobeam, raja pertama yang memimpin Israel setelah kerajaan itu terbagi dua, dikenang sebagai salah seorang raja yang paling jahat—“karena Yerobeam telah berdosa dan menyebabkan orang Israel pun berdosa juga” (14:16 BIS). Karena teladan Yerobeam yang buruk, banyak raja yang meneruskan takhtanya kemudian dibandingkan dengannya dan digambarkan sebagai sama jahatnya dengan dirinya (16:2,19,26,31; 22:53).
Masing-masing dari kita mempunyai pengaruh yang unik terhadap orang-orang di sekitar kita, dan pengaruh tersebut dapat digunakan untuk kepentingan yang jahat atau kepentingan yang baik. Kesetiaan yang sungguh-sungguh kepada Allah akan menjadi sinar yang bercahaya terang dan meneruskan warisan yang baik kepada penerus kita.
Kita diberi hak istimewa untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kiranya orang lain melihat terang Tuhan bercahaya melalui diri kita dan terpikat oleh kebaikan-Nya. —CHK
Ya Tuhan, jadikan aku seperti Engkau,
Hidupku dipimpin oleh kuasa ilahi,
Kiranya aku jadi terang yang bercahaya
Selalu pancarkan anugerah-Mu yang bersinar. —Robertson
Terang sekecil apa pun tetap akan bersinar di malam yang paling gelap.

Saturday, September 21, 2013

Anugerah Untuk Perdamaian

Baca: Efesus 2:11-18
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. —Yohanes 16:33
Alfred Nobel menjadi kaya raya karena penemuan bahan dinamit, suatu benda yang juga mengubah cara orang berperang. Mungkin karena diliputi perasaan ngeri atas peperangan yang berlangsung dengan menggunakan dinamit, ia pun membuat suatu persyaratan dalam surat wasiatnya tentang suatu penghargaan yang akan dianugerahkan tiap-tiap tahun kepada orang-orang yang bekerja untuk mengupayakan perdamaian. Saat ini, penghargaan itu disebut Anugerah Nobel dalam bidang Perdamaian.
Wujud perdamaian Allah bagi dunia adalah Anak-Nya sendiri. Ketika Yesus lahir, pesan yang secara gamblang disampaikan para malaikat kepada para gembala adalah “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).
Definisi alkitabiah untuk damai sejahtera, pertama-tama adalah damai sejahtera dengan Allah (Rm. 5:1). Dosa menyebabkan kita menjadi seteru Allah (ay.10), tetapi kedatangan Yesus ke bumi ini dan kematian-Nya di kayu salib memadamkan murka Allah. Sekarang kita dapat diperdamaikan dengan-Nya. Setelah memulihkan hubungan kita dengan Allah, kini Yesus memampukan kita untuk meruntuhkan segala rintangan yang menghalangi kita untuk berdamai dengan orang lain.
Jenis damai sejahtera lainnya adalah memiliki damai sejahtera dari Allah (Flp. 4:7). Kita tidak perlu lagi khawatir tentang apa pun, karena kita tahu kita dapat menyatakan segala permohonan kita kepada-Nya.
Setelah memberikan damai sejahtera, sekarang Yesus duduk di sebelah kanan takhta Bapa (Ibr. 12:2). Kini, kita dapat memiliki damai sejahtera dengan Allah dan damai sejahtera dari Allah. —CPH
Gita sorga bergema,
“Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera
Turun dalam dunia.” —Wesley
(Kidung Jemaat No. 99)
Damai sejati tidak datang dari tiadanya perang, melainkan dari hadirnya Allah. —Loveless

Friday, September 20, 2013

Tempat Yang Sulit

Baca: Kisah Para Rasul 8:4-8,26-35
Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5
Seorang ilmuwan yang sangat cakap dalam bidangnya memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran cepat saji ketika ia harus mundur dari pekerjaannya karena adanya suatu perkembangan teknologi yang membuat tenaganya tidak lagi dibutuhkan. Suatu malam, seusai kegiatan pendalaman Alkitab yang kami ikuti, ia menceritakan bahwa keadaan tersebut memang menyulitkan, tetapi sekaligus menyadarkan dirinya. Ia berkata, “Ada satu hal baik yang dapat kulihat, yaitu anak-anak muda di tempat aku bekerja sekarang kelihatannya sangat tertarik dengan imanku.” Seorang anggota kelompok kami menanggapi, “Aku mengagumimu karena kerendahan hatimu. Aku yakin imanmu yang telah membuatmu dapat bersikap demikian.”
Seperti halnya kenalan saya ini, Filipus mungkin bertanya-tanya mengapa Allah menariknya dari tugas pelayanan di Samaria (Kis 8:4-8) untuk kemudian membawanya ke tengah-tengah padang gurun (ay.26). Namun Filipus kemudian bertemu dengan seseorang asal Etiopia yang membutuhkan bantuannya untuk memahami Kitab Suci (ay.27-35). Kini ia pun dapat mengerti mengapa ia ditempatkan di sana.
Ketika Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita (Mat. 28:20; Ibr. 13:5), Dia bermaksud mengatakan bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita di masa senang maupun sulit. Tugas kita di masa-masa sulit dalam hidup ini adalah bekerja atau melayani dengan mengingat bahwa kita melakukannya untuk Allah, lalu menyaksikan bagaimana Allah bekerja menggenapi segala maksud-Nya.
Carilah Allah di tengah kesulitan Anda dan temukanlah apa yang sedang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui Anda di sana. —RKK
Kekecewaan itu bagian dari rencana-Nya,
Tak ada hal baik yang tak diberikan-Nya;
Dari penolakan yang dialami kita menerima
Harta kasih-Nya yang tak terkira limpahnya. —Young
Apa yang lebih baik daripada jawaban Allah? Percaya kepada Allah yang baik dan maksud-Nya yang terbaik.

Thursday, September 19, 2013

Waktunya Berubah

Baca: Kejadian 12:1-8
Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. —Kejadian 12:8
Banyak orang percaya yang rindu untuk menyediakan waktu bersama Allah setiap hari dengan cara berdoa dan membaca firman-Nya. Ironisnya, mereka sering teralihkan oleh jadwal yang padat. Rasa frustrasi memuncak ketika kesibukan sepertinya memenuhi setiap celah waktu dalam jadwal mereka.
Dengan bijak, Oswald Chambers menerangkan tentang kuasa yang sanggup mengubah hidup seseorang dari keberadaannya dalam hadirat Tuhan, sekalipun itu hanya dilakukan selama 5 menit. Memang, sekalipun singkat, waktu yang digunakan untuk berdoa dan merenungkan firman-Nya tetap bernilai besar: “Kita tidak dibentuk oleh sesuatu yang menyita sebagian besar waktu kita. Kita justru dibentuk oleh sesuatu yang memberikan pengaruh terbesar atas kita. Lima menit bersama Allah dan firman-Nya jauh lebih bernilai daripada semua hal yang kita lakukan sepanjang hari.” Chambers seakan membuat pernyataan yang berlebihan. Namun hasil yang luar biasa dapat kita alami, bahkan dari doa yang singkat, karena Allah memang Mahakuasa.
Terkadang dari hari ke hari kita disibukkan oleh beragam tuntutan dan kesibukan yang menggeser waktu kita untuk mendengarkan dan menanggapi Allah. Namun di mana pun kita berada, setiap waktu yang digunakan untuk membangun “mezbah” rohani kita bagi Tuhan seperti yang dilakukan Abram (Kej. 12:8) akan menjadi jalan bagi kuasa-Nya untuk mengubah hidup kita. Jika Anda menemui kesulitan untuk menyediakan waktu bersama Allah, Anda dapat memulainya dengan memberikan waktu 5 menit saja dan rasakan pengaruhnya. Allah kita rindu untuk menemui kita dan menunjukkan kuasa-Nya dalam hidup kita. —HDF
Tuhan, sungguh menakjubkan bagiku bahwa Engkau, Allah yang
Mahakuasa, ingin memiliki waktu bersamaku! Terima kasih.
Terkadang perkataanku tidak keluar dengan fasih, tetapi aku kagum
kepada-Mu. Terima kasih karena Engkau mau mendengarkan aku.
Berbicaralah kepada Allah—Dia mau mendengarkan isi hatimu.

Wednesday, September 18, 2013

Allah Memiliki Rencana Lain

Baca: 1 Petrus 1:1-9
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9
Sejak kecil, sahabat saya Linda, bercita-cita ingin menjadi misionaris dalam bidang medis. Ia sungguh mengasihi Tuhan dan ingin melayani-Nya sebagai seorang dokter sembari memberitakan Injil kepada orang-orang sakit di berbagai belahan dunia yang sangat membutuhkan bantuan medis. Namun Allah memiliki rencana lain. Linda memang menjadi misionaris dalam bidang medis, tetapi tidak melalui cara yang diharapkannya.
Pada usia 14 tahun, Linda mengalami suatu masalah kesehatan kronis yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit dan menjalani beberapa operasi dalam satu tahun. Ia pernah menderita meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang) yang disebabkan oleh bakteri dan membuatnya koma selama 2 minggu serta buta selama 6 bulan. Ia pernah merayakan ulang tahunnya dua kali berturut-turut di rumah sakit—tanpa sempat pulang ke rumah sama sekali. Ia pernah mengalami beberapa peristiwa yang membuat orang tidak yakin ia masih dapat bertahan hidup. Namun demikian, Linda adalah pribadi yang paling bersemangat, penuh syukur, dan riang yang pernah Anda temui. Ia pernah bercerita kepada saya bahwa ia berharap dan berencana untuk menjadikan rumah sakit sebagai ladang misinya. Namun bukannya melayani Allah sebagai seorang dokter, ia kini melayani-Nya sebagai seorang pasien. Sesakit apa pun penderitaan yang dirasakannya, terang Tuhan terus terpancar dari dirinya.
Linda menunjukkan teladan dari pengajaran Rasul Petrus. Meski mengalami pencobaan, Linda tetap bersukacita, dan kemurnian imannya membawa “puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan” bagi Yesus Kristus (1Ptr. 1:6-7). —JAL
Tuhan, kami sangat bersyukur karena di mana pun kami berada,
kami dapat melayani-Mu. Tolonglah diriku untuk mencerminkan
citra-Mu di tengah keadaan yang kami hadapi saat ini, sekalipun
kami mungkin tidak berada pada keadaan yang kami harapkan.
Susunlah rencana-rencana Anda, tetapi ingatlah, Allah menentukan rencana yang terbaik bagi Anda.

Tuesday, September 17, 2013

Allah Dalam Keindahan Alam

Baca: Yesaya 6:1-6
Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya! —Yesaya 6:3
Di lokasi tempat tinggal saya, saya dimanjakan oleh pemandangan luar biasa yang menyingkapkan hasil karya penciptaan Allah yang mengagumkan dan spektakuler. Baru-baru ini, ketika sedang berkendara melintasi suatu hutan, saya begitu terpukau oleh pemandangan menakjubkan dari pepohonan musim gugur yang dihiasi warna merah tua dan beragam warna kuning. Semuanya itu tertata indah secara artistik dengan latar belakang langit biru yang luar biasa cerahnya.
Dan tidak lama lagi, seiring dengan turunnya suhu udara dan datangnya musim dingin, saya akan kembali diingatkan bahwa masing-masing kepingan salju itu unik dan tidak ada yang seragam. Kepingan-kepingan salju itu saling bertumpuk untuk menyajikan suatu pemandangan indah berupa hamparan salju yang putih cemerlang. Setelah itu akan muncul keajaiban musim semi, ketika tanaman yang terlihat mati tanpa harapan kemudian bermekaran kembali dan menghiasi padang rumput dengan beragam warna yang indah.
Ke mana pun kita mengarahkan pandangan ke lingkungan di sekitar kita, kita melihat bukti bahwa “seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes. 6:3). Yang luar biasa, walaupun ciptaan yang ada di sekitar kita telah dirusak oleh dosa (lih. Rm. 8:18-22), Allah tetap menganggap baik untuk menghiasi pemandangan yang telah rusak ini dengan karya tangan-Nya yang penuh kasih. Setiap hari, keindahan alam itu mengingatkan kita akan keindahan anugerah-Nya yang mengampuni dosa-dosa kita dan akan kasih-Nya yang selalu tersedia untuk kita, makhluk yang telah jatuh dalam dosa. —JMS
Tuhan, kiranya kami selalu menyadari anugerah dan kasih-Mu
yang terdapat di sekitar kami. Terima kasih karena telah membiarkan
diri-Mu terlihat melalui keindahan ciptaan-Mu. Ajar kami melihat
melampaui keindahan itu untuk menyaksikan karya tangan-Mu.
Jangan pernah lewatkan kesempatan untuk menikmati keindahan alam—itulah karya tangan Allah.

Monday, September 16, 2013

Kehendak Allah

Baca: Mazmur 37:23-40
TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. —Mazmur 37:23
Kita sering mencari kehendak Allah—terutama ketika kita berada dalam situasi yang sulit. Kita bertanya-tanya, Apa yang akan saya alami di sini? Haruskah saya tinggal ataukah Allah menginginkan saya berada di tempat lain? Satu-satunya cara untuk mengetahui secara pasti adalah dengan melakukan apa yang Allah kehendaki supaya Anda lakukan sekarang—tanggung jawab untuk saat ini—dan menantikan Allah menyatakan langkah selanjutnya.
Ketika Anda menaati apa yang Anda ketahui, Anda akan diteguhkan untuk mengambil langkah selanjutnya dan demikian seterusnya. Selangkah demi selangkah, satu demi satu tanggung jawab. Begitulah kita belajar berjalan bersama Allah.
Mungkin Anda mengatakan, “Seandainya saya mulai melangkah, apa yang akan terjadi selanjutnya?” Itu urusan Allah. Tanggung jawab Anda dan saya adalah menaati-Nya hari ini dan mempercayakan masa depan kita kepada-Nya. Pemazmur mengatakan bahwa “TUHAN menetapkan” langkah-langkah kita (37:23). Yang kita butuhkan hanyalah petunjuk untuk hari ini. Arahan untuk hari esok belum bermanfaat sama sekali. George MacDonald berkata, “Kita tak memahami halaman selanjutnya dari buku pengajaran Allah; kita hanya melihat halaman di hadapan kita. Kita juga tak diizinkan untuk melanjutkan sebelum kita menerima pelajaran hari ini.”
Jika kita mengutamakan kehendak Allah dan setiap hari menaati arahan dan peringatan-Nya, jika kita berjalan dengan iman dan dalam ketaatan, kita akan mendapati bahwa Allah akan memimpin kita sepanjang hari ini. Yesus berkata, “Hari besok mempunyai kesusahannya sendiri” (Mat. 6:34). —DHR
Allah tahu tiap jalan berliku yang kulalui,
Dan juga tiap duka, derita, dan lukaku;
Anak-anak-Nya takkan diabaikan-Nya—
Dia mengenal dan mengasihi umat-Nya. —Bosch
Berbahagialah orang yang mengetahui arah mana yang Allah tempuh dan ikut melangkah ke arah tersebut.

Sunday, September 15, 2013

Hidup Yang Bersinar

Baca: Matius 5:3-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Menurut Federasi Bola Basket Internasional, bola basket merupakan olahraga terpopuler kedua di dunia, dengan sekitar 450 juta orang penggemar dari berbagai negara di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, di tengah semarak turnamen bola basket antarkampus tahunan pada bulan Maret, orang-orang sering teringat pada pelatih legendaris John Wooden. Selama 27 tahun melatih di UCLA, tim besutan Wooden berhasil meraih gelar Juara Nasional sebanyak 10 kali, suatu rekor yang tidak pernah dicapai tim lain. Namun saat ini, John Wooden yang telah wafat pada tahun 2010 itu tidak hanya dikenang oleh karena prestasi yang dicapainya, tetapi juga karena kepribadian dirinya.
Wooden menjalani kehidupan sesuai iman Kristennya dan memberikan perhatian yang tulus terhadap sesamanya di tengah suatu lingkungan yang sering mendewa-dewakan kemenangan. Dalam otobiografinya, They Call Me Coach (Mereka Menyebutku Pelatih), ia menulis, “Saya selalu mencoba untuk menegaskan bahwa bola basket bukanlah segala-galanya. Olahraga merupakan bagian yang tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan seluruh hidup yang kita jalani. Hanya ada satu hidup yang benar-benar bisa disebut kemenangan, dan itulah hidup yang beriman penuh kepada Sang Juruselamat. Sebelum hal itu terjadi, kita berada di suatu jalan yang berputar-putar tanpa tujuan yang jelas.”
John Wooden memuliakan Allah dalam segala hal yang ia lakukan, dan teladannya menantang kita untuk melakukan hal yang sama. Yesus mengatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). —DCM
Tunjukkan jalan-Mu, Tuhan, biar terangku bercahaya
Sebagai teladan yang baik bagi sesamaku;
Tolong mereka untuk melihat karya-Mu,
Terpancar indah dari sikap hidupku. —Neuer
Biarlah terangmu bercahaya—baik laksana lilin di sudut ruangan atau bagaikan mercusuar di atas bukit.

Saturday, September 14, 2013

Rahmat Yang Tak Berkesudahan

Baca: Lukas 22:54-62
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23
Ketika saya sedang berjalan-jalan menyusuri bandara O’Hare di Chicago, sesuatu memikat perhatian saya—sebuah topi yang dikenakan oleh seseorang yang melintas terburu-buru di tengah tempat terbuka dalam bandara itu. Yang memikat perhatian saya adalah pesan tertulis pada topi itu yang hanya terdiri dari dua kata: “Sangkal Semuanya”. Saya bertanya-tanya apa maksud dari kalimat pendek itu. Apakah itu berarti jangan pernah mengakui kesalahan? Atau bersikap untuk menolak kesenangan dan kemewahan hidup? Saya bertanya-tanya dalam hati sambil memikirkan apa arti dari dua kata sederhana tersebut, “Sangkal Semuanya”.
Simon Petrus, salah seorang pengikut Yesus, pernah beberapa kali melakukan penyangkalan. Di tengah suatu momen yang genting, tiga kali Petrus menyangkal bahwa ia pernah mengenal Yesus! (Luk. 22:57-58, 60). Penyangkalan Petrus yang disebabkan oleh rasa takut itu menyebabkan ia merasa begitu bersalah dan hancur hati, sehingga dalam rasa gundah akibat kegagalan imannya, ia hanya dapat pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (ay.62).
Namun penyangkalan Petrus terhadap Kristus, sama seperti masa-masa penyangkalan iman yang kita alami sendiri, tidak akan pernah dapat mengurangi rahmat Allah. Nabi Yeremia menulis, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23). Kita dapat meyakini dengan sepenuh hati, bahkan pada saat kita gagal, bahwa Allah kita yang setia melawat kita dengan rahmat dan belas kasihan yang tak akan pernah berkesudahan! —WEC
Terima kasih Bapa untuk kasih setia-Mu yang selalu baru dan
tak berkesudahan. Ampunilah aku yang pernah menyangkal-Mu dan
mengecewakan orang lain, dan ajar aku datang kepada-Mu untuk
merasakan rahmat-Mu yang tak pernah berhenti tercurah bagiku.
Ketidaksempurnaan kita menegaskan kebergantungan kita kepada belas kasihan Allah.

Friday, September 13, 2013

Ayah Yang Pantas Untuk Diteladani

Baca: 2 Tawarikh 17:1-10
[Yosafat] mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya. —2 Tawarikh 17:4
Ketika saya memikirkan tentang ayah saya, saya teringat pada ungkapan ini: “Ia tak memberi tahu saya bagaimana caranya menjalani hidup; ia menjalani hidupnya, dan membiarkan saya melihat bagaimana ia melakukannya.” Pada saat saya masih muda, saya melihat bagaimana ayah saya hidup dalam iman kepada Allah. Ia menghadiri kebaktian Minggu pagi di gereja, mengajar kelas pendalaman Alkitab bagi kaum dewasa, menolong dalam menghitung persembahan, dan melayani sebagai diaken. Di luar gereja, ia dengan setia membela kebenaran Injil dan membaca Alkitabnya. Saya melihat ayah saya mengungkapkan kasihnya kepada Tuhan melalui perbuatan-perbuatannya.
Asa, raja Yehuda, meneladankan pengabdian kepada Allah pada suatu masa dalam hidupnya (2Taw. 14:2). Ia menyingkirkan berhala-berhala dari kerajaan-Nya, memperbarui mezbah Tuhan, dan memimpin bangsanya untuk mengikat perjanjian dengan Allah (15:8-12). Putranya, Yosafat, mewarisi perbuatan Asa ini dengan mencari “Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya” (17:4). Yosafat membersihkan negeri tersebut dari penyembahan berhala (ay.6) dan mengutus para imam dan orang-orang Lewi untuk mengajarkan kitab Taurat Tuhan di semua kota di Yehuda (ay.7-9).
Pemerintahan Yosafat ini menyerupai pemerintahan ayahnya; ia dengan setia meneladani kesalehan Asa. Namun lebih penting dari itu, Yosafat “dengan kemauan yang keras ia menaati perintah TUHAN” (ay.6 BIS). Hari ini, jika Anda mencari sosok ayah yang pantas untuk diteladani, ingatlah pada Bapa surgawi Anda dan milikilah kemauan yang keras untuk mengikuti jalan-Nya. —JBS
Kita memuliakan Allah Bapa kita
Dengan pujian yang penuh kesungguhan;
Sebagai anak-anak yang bersyukur kita mengaku
Betapa sempurna jalan-jalan-Nya. —Ball
Kita menghormati nama Allah ketika kita memanggil-Nya Bapa dan menjalani hidup seperti Anak-Nya.

Thursday, September 12, 2013

Kuasa Yang Bermanfaat

Baca: 2 Tawarikh 16:6-13
Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. —2 Tawarikh 16:9
Olahraga tinju dan kompetisi adu kekuatan sejenisnya memiliki suatu aspek unik yang terkandung di dalamnya. Dalam suatu pertandingan, para atlit bertarung secara individu dengan tujuan untuk menunjukkan keunggulan kekuatan mereka. Hal tersebut sama seperti ketika Anda ikut adu panco—Anda melakukannya untuk membuktikan bahwa Andalah orang yang terkuat di antara lawan-lawan Anda.
Salah satu aspek dari kemuliaan Allah adalah kuasa-Nya yang Mahabesar. Namun bagaimana cara Allah menunjukkan kekuatan-Nya? Dia tidak menunjukkannya dengan cara menyusun ulang galaksi-galaksi tata surya di depan mata kita, mengubah warna matahari secara tiba-tiba, atau membekukan kilat yang menyambar sebagai bukti dari kekuatan-Nya. Sebaliknya, di dalam kasih dan belas kasihan-Nya bagi orang-orang yang tidak berdaya seperti kita, Allah telah memilih untuk “melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (2Taw. 16:9).
Pola ini konsisten terjadi di sepanjang Kitab Suci. Mulai dari perbuatan-Nya membelah Laut Merah, pemberian manna di padang gurun, keajaiban lahirnya Yesus dari seorang perawan, dan puncaknya pada kuasa kebangkitan Kristus, Allah kita yang Mahakuasa telah memilih untuk menunjukkan kekuatan-Nya dengan maksud memberkati, memelihara, dan melindungi umat-Nya.
Yakinlah bahwa Allah senang untuk menunjukkan kekuatan-Nya di tengah semua tantangan hidup yang kita hadapi. Dan ketika Allah melimpahkan kekuatan-Nya kepada kita, ingatlah untuk memberikan kemuliaan kepada nama-Nya! —JMS
Tuhan, terima kasih Engkau telah memilih untuk mencurahkan
kuasa-Mu di saat aku membutuhkannya. Saat kekuatanku melemah,
ajarku untuk percaya bahwa tangan-Mu yang kuat itu
sanggup menjaga, melindungi, dan melepaskan aku!
Semua janji Allah dijamin oleh hikmat, kasih, dan kuasa-Nya.

Wednesday, September 11, 2013

Semua Karena Kasih

Baca: 1 Yohanes 4:7-19
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih. —1 Yohanes 4:16
Saya melihat satu tulisan pada papan penanda di depan sebuah gereja yang menurut saya sangat tepat untuk menjadi moto dalam hubungan kita dengan sesama: Terimalah kasih. Berilah kasih. Terus ulangi demikian.
Kasih terbesar yang kita terima adalah kasih Allah. Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia memberikan Yesus, Anak-Nya, untuk hidup, mati, dan bangkit kembali demi menebus kita (1Yoh. 4:9). Kita menerima kasih Allah ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita. “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:12).
Setelah kita mengalami kasih Allah, kemudian kita dapat belajar untuk memberi kasih. “Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah” (1Yoh. 4:7).
Kasih Allah memampukan kita untuk mengasihi saudara-saudari kita di dalam Kristus. Kita mengajar, menguatkan, dan menegur mereka. Kita menangis dan bergembira bersama. Kasih yang kita berikan adalah kasih yang lembut sekaligus tegas dan suportif. Kita bahkan diajar oleh Kristus untuk mengasihi musuh-musuh kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44). Memberi kasih kepada orang lain bisa terasa sulit dalam keadaan-keadaan tertentu. Namun itu bukanlah sesuatu yang mustahil, karena kasih Allah telah terlebih dahulu diberikan kepada kita.
Inilah rencana yang baik untuk hidup kita hari ini: Terimalah kasih. Berilah kasih. Terus ulangi demikian. —AMC
Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Bagaimana caranya kita mengalami kasih Kristus? (Yoh. 15:10).
Apa bukti dari kasih Allah dalam hidup kita? (1Yoh. 4:16-21).
Bagaimana kita dapat menunjukkan kasih Allah hari ini?
Terimalah kasih. Berilah kasih. Terus ulangi demikian.

Tuesday, September 10, 2013

Pengaruh Peneguhan

Baca: 1 Korintus 1:4-9
Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. —1 Korintus 1:4
Dalam suatu penelitian yang diadakan baru-baru ini, 200 ribu orang pegawai diwawancara untuk mengetahui unsur yang hilang dalam produktivitas mereka. Penelitian itu menyimpulkan bahwa penghargaan dan peneguhan merupakan dua hal utama yang paling diinginkan para pegawai dari atasan mereka. Riset ini secara tidak langsung menyatakan bahwa peneguhan merupakan suatu kebutuhan dasar bagi manusia.
Rasul Paulus tampaknya menyadari kebutuhan dasar ini dalam jemaat Korintus. Jadi sebelum menghujani mereka dengan kata-kata disiplin yang tegas, ia melimpahi mereka dengan kata-kata yang meneguhkan dahulu. Sebagai pemimpin rohani mereka, Paulus memulai suratnya dengan ucapan syukur kepada Allah atas kasih karunia yang dianugerahkan-Nya dalam hidup mereka.
Orang-orang percaya itu dahulu pernah jauh dari Allah, tetapi sekarang mereka telah menerima anugerah-Nya melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Setelah dipersatukan bersama Yesus, mereka menjadikan-Nya sebagai sumber kehidupan rohani mereka, dan persekutuan dengan Kristus ini menghasilkan pertumbuhan rohani dalam diri mereka (1Kor. 1:4-7). Dengan sungguh-sungguh, Paulus senantiasa mengucap syukur kepada Allah atas karya-Nya dalam hidup jemaat Korintus. Saya membayangkan kini mereka dapat menerima tegasnya kritik Paulus karena sudah terlebih dahulu mendapat peneguhan yang penuh kasih darinya.
Ketika kita menjumpai orang yang menaati Allah, marilah kita menyediakan waktu untuk memberikan peneguhan kepada mereka dan sekaligus juga mengucap syukur kepada Allah atas karya-Nya melalui diri mereka. —MLW
Tuhan, dengan beragam cara Engkau berkarya dalam hidupku dan
dalam diri orang-orang di sekitarku. Tolong aku untuk menguatkan
saudara-saudara seimanku dengan mengatakan kepada mereka
betapa aku diberkati saat melihat karya-Mu dalam hidup mereka.
Pujilah sesama dengan terbuka, tetapi tegurlah kesalahannya dengan lembut.

Monday, September 9, 2013

Di Sepanjang Jam Ini

Baca: Mazmur 25:1-11
Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. —Mazmur 25:5
Megahnya bunyi genta lonceng dari Lonceng Agung Westminster di London, yang populer dengan nama Big Ben, sudah dikenal banyak orang. Bahkan, sebagian dari kita mungkin memiliki jam lonceng di rumah yang mendentangkan bunyinya setiap jam seperti lonceng Big Ben tersebut. Menurut tradisi, ada anggapan bahwa nada lonceng ini diambil dari karya Handel yang berjudul Messiah. Dan lirik yang terukir dalam ruang lonceng Big Ben memiliki arti yang penting tentang waktu:
Di sepanjang jam ini
Jadilah penuntunku, ya Tuhan;
Dan dengan kuasa-Mu,
Takkan tergelincir langkahku.
Lirik ini menjadi pengingat yang tepat tentang kebutuhan kita untuk terus-menerus dibimbing oleh Allah. Raja Daud mengakui bahwa ia membutuhkan bimbingan Allah untuk sepanjang hari ketika ia menghadapi beragam tantangan hidup. Dalam Mazmur 25, ia berkata, “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (ay.5). Karena kerinduannya untuk menjadi pengikut Allah yang bersedia diajar, Daud meminta bimbingan kepada Allah Penebusnya. Hati Daud sungguh rindu untuk menantikan Allah dengan iman yang bergantung kepada-Nya sepanjang hari.
Kiranya ini juga menjadi kerinduan hati kita. Kita sering memohon pertolongan Allah saat kita mengawali hari, tetapi berbagai gangguan yang saling bersaing dapat mengalihkan perhatian kita dari-Nya. Tuhan, ingatkan kami untuk berdoa “Di sepanjang jam ini, jadilah penuntunku, ya Tuhan.” —HDF
Takkan pernah ada satu hari atau masa
Yang tiap jamnya tidak dilimpahi oleh doa
Dan tak ada doa yang tak punya daya
Jika bersandar pada kuasa Allah yang tak terbatas. —Morton
Biarlah Kristus yang pertama Anda pikirkan di pagi hari, dan yang terakhir Anda pikirkan pada malam hari.

Sunday, September 8, 2013

Menerangi Malam Gelap

Baca: Daniel 12:1-3
Orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. —Daniel 12:3
Pada satu malam yang sejuk di musim gugur ketika langit sudah gelap dan bulan bersinar penuh, ribuan orang di kota kelahiran saya berkumpul bersama di sepanjang tepi sungai untuk menyalakan lampion udara. Mereka melepaskan lampion-lampion udara itu kepada kegelapan malam dan terus menyaksikannya sementara lampion-lampion yang bercahaya itu membubung ke atas dan berpadu dengan cahaya bulan untuk menciptakan suatu pertunjukan mempesona yang mengubah langit gelap menjadi suatu karya seni yang gemerlap.
Waktu melihat rekaman lensa dari peristiwa itu, saya merasa kecewa karena saat itu saya sedang berada di luar kota dan tidak dapat melihat langsung kejadiannya. Namun beberapa hari kemudian saya menyadari bahwa apa yang terjadi di Grand Rapids dapat dipandang sebagai lambang dari suatu pertemuan yang saya hadiri di kota New York. Lebih dari 1.000 orang dari 100 kota di seluruh penjuru dunia datang berkumpul di sana untuk merancang suatu “karya seni”, yakni memikirkan cara-cara untuk menerangi kegelapan yang melingkupi kota mereka masing-masing melalui pendirian gereja dan penjangkauan kepada ribuan orang dengan Injil Kristus, Sang Terang dunia.
Nabi Daniel menulis tentang suatu masa ketika orang-orang yang telah menuntun sesamanya kepada Tuhan akan bersinar seperti bintang-bintang untuk selamanya (Dan. 12:3). Kita semua dapat ikut serta dalam peristiwa besar itu. Ketika kita memancarkan terang Kristus di tempat-tempat gelap di mana kita tinggal dan bekerja, Dia akan menerangi langit malam yang gelap dengan bintang-bintang yang tidak akan berhenti bersinar. —JAL
Aku ingin bersinar bagi-Mu di tengah duniaku, Tuhan. Tunjukkan
kepadaku bagaimana aku bisa meninggikan-Mu, Sang Terang dunia.
Aku menantikan harinya aku akan berkumpul bersama orang-orang
dari segala bangsa untuk bersujud di kaki-Mu dan menyembah-Mu.
Ketika Sang Terang dunia menyinari bumi, keindahan-Nya akan memikat orang dari segala bangsa.

Saturday, September 7, 2013

Allah Tahu

Baca: Mazmur 139:1-10
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! —Roma 11:33
Melalui situs lightAware, Kathy dapat mengetahui perkembangan perjalanan pesawat kecil yang dikemudikan suaminya, Chuck, menuju Chicago. Hanya dengan beberapa klik, ia bisa mengetahui kapan suaminya memberangkatkan pesawat, di mana posisi pesawat itu kapan saja, dan tahu persis kapan suaminya akan mendarat. Beberapa dekade sebelumnya ketika Chuck menjadi pilot di Afrika Barat, satu-satunya alat komunikasi yang ada hanyalah sebuah radio berfrekuensi tinggi. Ia teringat pada suatu peristiwa ketika tiga hari lamanya ia tidak dapat menghubungi suaminya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa suaminya dalam keadaan selamat tetapi tidak dapat terbang karena pesawatnya mengalami kerusakan.
Namun Allah selalu tahu persis di mana Chuck berada dan apa yang sedang dilakukannya, sama seperti Dia tahu persis keadaan kita (Ayb. 34:21). Tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan-Nya (Ibr. 4:13). Dia tahu isi pikiran dan perkataan kita (1Taw. 28:9; Mzm. 139:4). Dan Dia tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (Yes. 46:10).
Allah mengetahui segala sesuatu (1Yoh. 3:20), dan Dia mengenal Anda dan saya dengan baik (Mzm. 139:1-10). Dia mengetahui setiap pencobaan yang kita hadapi, setiap kali hati kita terluka, setiap penyakit yang kita derita, setiap kekhawatiran yang melanda jiwa kita, dan setiap kesedihan yang kita alami.
Alangkah bahagianya kita boleh menikmati pemeliharaan dari Pribadi yang menerima pujian ini, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!” (Rm. 11:33). —CHK
Di bawah pengawasan mata-Nya
Umat-Nya berlindung dengan aman;
Tangan yang menopang alam semesta
Juga akan menjaga semua anak-Nya. —Doddridge
Kita dapat mempercayai Allah yang Mahatahu.

Friday, September 6, 2013

Kerinduan Untuk Tumbuh

Baca: 1 Petrus 1:22-2:3
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan. —1 Petrus 2:2
Film dokumenter berjudul Babies yang diproduksi tahun 2010 menampilkan empat orang bayi yang lahir ke tengah berbagai lingkungan yang sangat berbeda di Namibia, Mongolia, San Fransisco, dan Tokyo. Tidak terdapat narasi atau dialog dari orang dewasa dalam film ini, yang terdengar hanyalah suara-suara dari bayi-bayi itu sementara mereka mulai menjelajahi lingkungan yang menjadi tempat kelahiran mereka. Mereka mengoceh dan tertawa ketika merasa senang; mereka menangis ketika merasa sakit atau lapar. Dan mereka semua suka susu! Yang memukau dari suguhan film itu adalah melihat bagaimana masing-masing bayi itu bertumbuh besar.
Seperti halnya seorang bayi membutuhkan susu, para pengikut Kristus juga membutuhkan “air susu murni” berupa firman Tuhan yang akan membawa mereka pada pertumbuhan rohani. Rasul Petrus berkata, “Hendaklah kalian menjadi seperti bayi yang baru lahir, selalu haus akan susu rohani yang murni. Dengan demikian kalian akan tumbuh dan diselamatkan” (1Ptr. 2:2 BIS). Petrus menuliskan perkataan tersebut untuk menguatkan sekelompok pengikut Kristus yang telah terserak karena penganiayaan. Ia mendorong mereka untuk membuang rasa marah dan dengki terhadap sesama, serta menjauhi sikap munafik dimana perkataan tidak sejalan dengan perbuatan (ay.1). Hendaklah mereka “seperti bayi yang baru lahir, selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh” (ay.2).
Tuhan mengundang kita untuk menikmati segalanya yang kita butuhkan dari persediaan-Nya yang melimpah. Dia senang melihat anak-anak-Nya bertumbuh! —DCM
Tuhan, kuingin semakin menjadi seperti Engkau.
Berilah aku kerinduan yang besar untuk menikmati firman-Mu.
Bentuklah aku agar menjadi serupa dengan-Mu
dalam semua perkataan dan perbuatanku.
Semakin dalam kita menggali firman Allah, semakin kuat kita bertumbuh dalam iman.

Thursday, September 5, 2013

Hampir Puas?

Baca: 1 Timotius 6:6-12
Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” —Ibrani 13:5
Ketika melangkah ke tempat parkir suatu restoran setelah makan siang, saya melihat sebuah truk pick-up melaju kencang di depan semua kendaraan yang terparkir. Sementara mengamati perilaku sopir truk yang sembrono itu, saya memperhatikan kata-kata yang tercantum pada pelat nomor depan truk tersebut. Kata-kata itu tertulis, “Hampir Puas”. Setelah memikirkan tentang kata-kata tersebut dan maksud yang tersirat melaluinya, saya menyimpulkan bahwa konsep “hampir puas” itu tidak pernah ada. Pilihannya hanyalah entah kita puas atau tidak puas.
Tidak dapat disangkal, kepuasan memang merupakan sesuatu yang sulit dipenuhi. Kita hidup di tengah dunia yang menggoda hasrat kita yang mau lebih dan lebih lagi—sampai-sampai kita menganggap hampir mustahil untuk merasa puas dengan apa pun. Namun ini bukanlah hal yang baru. Kitab Ibrani pernah membahas tentang masalah ini dengan menyatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau’” (13:5). Satu-satunya obat mujarab bagi hati manusia yang mengingini segala sesuatu adalah rasa cukup yang ditemukan dalam kehadiran Allah yang hidup. Allah saja sudah cukup bagi segala kebutuhan dan kerinduan hati kita, dan hanya Dia yang dapat memberi kita kedamaian dan rasa cukup yang tidak akan pernah kita temukan dalam jerih payah kita di dunia ini.
Tidak ada yang namanya “hampir puas”. Di dalam Kristus, kita dapat mengalami kepuasan sejati. —WEC
Kutemukan kepuasan dalam anugerah-Nya yang ajaib,
Tiada awan atau kabut bisa sembunyikan wajah-Nya;
Saat harus kuhadapi beragam pencobaan berat,
Kudapati kekuatan tersembunyi lewat doaku. —Dunlop
Kepuasan bukanlah mendapatkan yang kita inginkan tetapi merasa cukup dengan yang kita miliki.

Wednesday, September 4, 2013

Hari Istimewa

Baca: Lukas 11:1-4

Inilah hari yang dijadikan TUHAN. —Mazmur 118:24

Apa yang istimewa dari tanggal 4 September? Mungkin hari ini Anda berulang tahun atau merayakan suatu peristiwa spesial. Atau mungkin Anda memperingati peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada tanggal 4 September. Misalnya, pada tahun 1781, kota Los Angeles didirikan di California; atau pada tahun 1993, Jim Abbott, seorang pelempar bola dari tim bisbol New York Yankees, berhasil mencatat rekor dimana tidak seorang pun pemain lawan yang dapat memukul bola yang dilemparnya—padahal sejak lahir ia tak memiliki tangan kanan. Jika Anda seorang penggemar televisi: Pada tahun 1951, untuk pertama kalinya sebuah siaran langsung dari San Fransisco disiarkan ke seluruh wilayah Amerika Serikat.

Namun bagaimana jika tak satu pun peristiwa dan fakta di atas menjadikan 4 September sebagai tanggal yang istimewa bagi Anda? Cobalah beberapa ide berikut ini:

Hari ini Allah memberi Anda kesempatan baru untuk memuji Dia. Mazmur 118:24 berkata, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”

Hari ini Allah menyediakan kebutuhan Anda dan menginginkan Anda mempercayai-Nya. “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk. 11:3).

Hari ini Allah ingin berbicara kepada Anda melalui firman-Nya. Setiap hari, jemaat di Berea “menyelidiki Kitab Suci” (Kis. 17:11).

Hari ini Allah ingin memperbarui batin Anda. “Manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2Kor. 4:16).

Dengan Allah sebagai penuntun Anda, tanggal 4 September—dan setiap hari—dapat menjadi hari yang istimewa. —JDB

Inilah hari yang dijadikan Tuhan,
Jam demi jam adalah milik-Nya;
Surga bersukacita, bumi pun bersuka,
Memuji di takhta kemuliaan-Nya. —Watts

Setiap hari baru memberi kita alasan baru untuk memuji Tuhan.

Tuesday, September 3, 2013

Tidak Tertarik Pada Ibadah

Baca: Yohanes 5:18,37-47

Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. —Matius 23:37

Sebuah iklan radio tentang suatu gereja menarik perhatian saya: “Mungkin dari apa yang Anda dengar tentang kekristenan, Anda jadi tidak berminat pada ibadah. Tahukah Anda, dan ini mungkin akan mengejutkan Anda—Yesus pun tidak berminat pada ibadah. Namun Dia sangat mementingkan relasi dan mengajar kita untuk saling mengasihi.” Iklan itu berlanjut, “Anda mungkin tak menyukai setiap hal tentang gereja kami, tetapi kami menawarkan suatu relasi yang tulus, dan kami terus belajar untuk mengasihi Allah dan sesama. Silakan berkunjung ke gereja kami.”

Gereja ini mungkin terlalu berlebihan ketika menyatakan tentang Yesus dan ibadah karena Alkitab juga menyebut tentang “ibadah yang murni” dalam Yakobus 1:27 berupa perbuatan baik yang dilakukan kepada sesama. Namun Yesus memang menemui masalah dengan kaum beragama pada masa hidup-Nya. Dia berkata tentang orang-orang Farisi yang dipandu oleh adat-istiadat dan berbagai peraturan dan bukan oleh kasih kepada Tuhan bahwa, “di sebelah luar [mereka] tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam [mereka] penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat. 23:28). Di dalam hati mereka tidak ada kasih akan Allah (Yoh. 5:42). Yesus ingin menjalin relasi dengan mereka, tetapi mereka “tidak mau datang kepada-[Nya]” (ay.40).

Jika “beribadah” berarti menaati serangkaian aturan supaya kita terlihat saleh—dan bukan menikmati relasi dengan Sang Juruselamat—jelas Yesus tidak berminat pada ibadah seperti itu. Yesus menawarkan pengampunan dan kasih kepada semua orang yang menginginkan suatu relasi yang akrab dengan-Nya. —AMC

Ibadah sejati adalah mengenal
Kasih yang Kristus berikan;
Ibadah sejati adalah menunjukkan
Kasih ini pada jiwa yang berbeban. —D. DeHaan

Ada kerinduan dalam setiap hati manusia yang hanya bisa dipuaskan oleh Yesus.

Monday, September 2, 2013

Juru Minuman Raja

Baca: Nehemia 2:1-8

Mengapa mukamu muram . . . Jadi, apa yang kauinginkan? —Nehemia 2:2,4

Salah satu bagian Alkitab kesukaan saya yang dapat diterapkan dalam pekerjaan adalah Nehemia pasal 1-2. Nehemia, pegawai Raja Artahsasta, merupakan seorang pekerja yang patut diteladani sehingga sang raja pun ingin menghormatinya. Caranya adalah dengan menolong Nehemia ketika ia berduka karena tembok Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan. Raja bertanya kepada Nehemia, “Mengapa mukamu muram . . . Jadi, apa yang kauinginkan?” (2:2,4). Nehemia bukan hanya sekadar pegawai biasa bagi raja, ia adalah juru minuman yang bertugas mencicipi minuman raja untuk melindungi raja supaya tidak diracuni. Untuk mencapai kedudukan tersebut, pastilah Nehemia telah bekerja keras dan memuliakan Allah dalam setiap tindakannya. Dan raja pun memenuhi permintaannya.

Allah memperhatikan cara kita bekerja. Kolose 3:23 berkata, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kita dapat mengikuti teladan Nehemia dengan cara-cara berikut ini: Jadilah seorang pekerja yang cakap dan bisa dipercaya sehingga Allah dimuliakan (Neh. 1:11-2:6). Pedulikanlah sesama dan kepentingan mereka dengan sungguh-sungguh. Beranilah dalam bertindak, bahkan dalam situasi yang mengandung risiko, untuk menjunjung tinggi apa yang penting bagi Allah dan bagi sesama orang percaya (2:3-6).

Ketika kita memuliakan Allah dalam pekerjaan, majikan kita mungkin akan memperhatikannya. Namun sekalipun mereka tidak memperhatikannya, kerinduan dan tujuan hati kita haruslah tetap untuk memuliakan Pribadi yang sesungguhnya kita layani, yaitu Tuhan Allah kita (Kol. 3:17,23). —RKK

Oh Tuhan, kiranya caraku melayani bisa menyatakan kisah-Mu.
Kuingin memuliakan-Mu dalam pekerjaanku, di rumah
dan ke mana pun aku pergi. Penuhi dan pakai aku
untuk memberkati sesama dan memuliakan-Mu hari ini.

Allah menjunjung tinggi iman karena iman menjunjung tinggi Allah.

Sunday, September 1, 2013

Langkah Yang Lebih Lambat

Baca: Keluaran 20:8-11

Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan. —Keluaran 20:9-10

Ketika penulis Bruce Feiler didiagnosis menderita penyakit kanker tulang di pahanya, ia tidak bisa berjalan tanpa bantuan selama lebih dari setahun. Belajar berpergian ke mana-mana dengan tongkat membuatnya menghargai langkah hidup yang lebih lambat. Feiler berkata, “Pelajaran utama yang saya peroleh dari pengalaman saya tersebut adalah belajar untuk melangkah lebih lambat.”

Setelah umat Allah dibebaskan dari perbudakan bangsa Mesir, Allah memberi mereka suatu perintah supaya mereka melambatkan langkah untuk sejenak merenungkan tentang diri-Nya dan memandang keadaan di sekitar mereka. Perintah keempat memberikan gambaran yang sangat kontras terhadap perbudakan yang pernah dialami bangsa Israel di bawah kekuasaan Firaun ketika mereka sama sekali tidak memiliki waktu istirahat di sepanjang rutinitas pekerjaan mereka setiap hari.

Perintah tersebut menegaskan bahwa umat Allah harus menyediakan satu hari dalam seminggu untuk merenungkan beberapa hal penting: karya Allah dalam ciptaan-Nya (Kej. 2:2), pembebasan mereka dari perbudakan Mesir (Ul. 5:12-15), hubungan mereka dengan Allah (6:4-6), dan kebutuhan diri mereka untuk beristirahat (Kel. 31:12-18). Hari tersebut bukanlah hari untuk bermalas-malasan, melainkan suatu hari bagi umat Allah untuk mengakui kebesaran Allah, beribadah kepada-Nya dan mendapat kelegaan dari-Nya.

Kita juga dipanggil untuk melambatkan langkah, agar kita dapat disegarkan secara fisik, mental, dan emosional, dan untuk melihat kebesaran Allah dalam semua ciptaan-Nya yang indah. —MLW

Tuhan, aku perlu disegarkan secara rohani dan jasmani.
Tolong aku untuk mau menyediakan waktu bersama-Mu.
Hapuskanlah setiap kendala yang menghalangiku
untuk mendapatkan ritme hidup yang lebih seimbang.

Menjalani hidup bagi Allah dimulai dengan penyerahan diri kepada-Nya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate