Pages - Menu

Thursday, April 30, 2015

Konsultan Pencitraan

[Kamu] telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. —Kolose 3:10
Konsultan Pencitraan
Dalam zaman di mana media menjadi begitu marak sekarang ini, para konsultan pencitraan punya peran yang sangat penting. Para artis, atlet, politisi, dan pemimpin bisnis tampak mati-matian berusaha merekayasa tampilan mereka di mata dunia. Para konsultan yang dibayar mahal itu bekerja untuk membentuk pandangan orang akan klien mereka—walaupun terkadang ada perbedaan yang sangat besar antara citra yang ditampilkan di muka umum dengan kehidupan orang itu sesungguhnya.
Pada kenyataannya, apa yang dibutuhkan orang—apa yang dibutuhkan oleh kita semua—bukanlah tampilan luar yang terpoles rapi melainkan transformasi batin. Keburukan kita yang terdalam tidak dapat diperbaiki dari luar, karena hal itu berhubungan langsung dengan keadaan hati dan pikiran kita. Hati dan pikiran kitalah yang menyatakan seberapa jauh kita telah melenceng dari citra Allah yang menjadi hakekat penciptaan kita. Namun transformasi batin itu tidak akan mampu dicapai oleh manusia mana pun.
Hanya Kristus yang memberi kita perubahan sejati—bukan sekadar memperbaiki atau menyesuaikan tampilan luar kita. Paulus berkata bahwa mereka yang telah dibangkitkan pada kehidupan kekal di dalam Kristus “telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol. 3:10).
Baru! Sungguh sebuah kata yang luar biasa dan penuh dengan pengharapan! Kristus mengubahkan kita menjadi manusia baru di dalam Dia—suatu umat dengan hati yang baru dan bukan sekadar mengalami perbaikan pada tampilan luar. —Bill Crowder
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 2 Korintus 5:17
Roh Kudus membentuk citra Kristus yang sejati dalam diri kita.

Wednesday, April 29, 2015

Akses Kepada Allah

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16
Akses Kepada Allah
Teknologi telah membawa manfaat dalam banyak hal. Butuh informasi mengenai masalah kesehatan? Yang perlu dilakukan hanyalah mengakses internet dan secara instan kamu akan memperoleh sejumlah pilihan untuk memandu pencarianmu. Kamu ingin menghubungi teman? Kamu cukup mengirimkan SMS, e-mail, atau pesan di Facebook. Namun teknologi juga sesekali dapat membuat frustrasi. Suatu hari saya perlu mengakses sejumlah informasi dari rekening bank saya dan muncullah sedaftar pertanyaan pengamanan. Karena saya tidak dapat mengingat jawaban yang tepat, saya pun terblokir dari rekening saya sendiri. Atau mungkin kamu pernah mengalami putusnya suatu pembicaraan penting karena baterai telepon seluler kita habis, sementara tidak ada cara lain untuk menelepon kembali sampai kamu menemukan colokan listrik untuk mengisi ulang baterai itu.
Semua itu membuat saya bersukacita saat mengingat bahwa ketika saya berhubungan dengan Allah melalui doa, saya tidak membutuhkan pertanyaan pengamanan dan baterai sama sekali. Saya bersyukur atas jaminan yang diberikan Rasul Yohanes ketika ia berkata, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1Yoh. 5:14).
Allah selalu dapat dijangkau, karena Dia tidak pernah terlelap atau tertidur! (Mzm. 121:4). Dan oleh karena kasih-Nya kepada kita, Dia menanti dan siap mendengarkan kita. —Joe Stowell
Tuhan, terima kasih karena Engkau mau berbicara kepadaku dan Engkau berjanji untuk mendengarkan dan siap menolong saat aku membutuhkannya. Ajar kami untuk datang kepada-Mu dengan keyakinan akan kasih-Mu yang mempedulikan kami.
Allah selalu dapat dijangkau kapan saja kita membutuhkan-Nya.

Tuesday, April 28, 2015

Dalam Perahu yang Sama

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. —Matius 8:23
Dalam Perahu yang Sama
Ketika sebuah kapal pesiar tiba di pelabuhan, para penumpangnya keluar sesegera mungkin. Selama beberapa hari terakhir, mereka harus menghadapi penyebaran sebuah virus dan ratusan orang telah menderita sakit karenanya. Seorang penumpang yang diwawancarai berkata, “Sebenarnya saya tak mau banyak mengeluh. Toh, kita semua ada dalam perahu yang sama.” (Ungkapan “dalam perahu yang sama” juga bisa berarti “bernasib sama”-Red.) Permainan kata yang rasanya tidak disengaja itu membuat si wartawan tersenyum.
Dalam Matius 8, kita membaca tentang perjalanan lain di atas air (ay.23-27). Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid mengikuti Dia (ay.23). Kemudian ada badai dahsyat menyerang, dan murid-murid Yesus menjadi takut mati. Mereka membangunkan Yesus yang sedang tidur, yang mereka sangka tidak menyadari akan bencana yang sedang melanda mereka.
Meski Yesus benar-benar ada bersama para murid di dalam perahu yang sama, Dia tidak mengkhawatirkan cuacanya. Sebagai Pencipta yang Mahakuasa, Dia tidak perlu takut pada badai. “Bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali” (ay.26).
Namun kita semua tidak mahakuasa, dan mudah sekali merasa takut. Apa yang akan kita lakukan ketika badai kehidupan menerjang di sekitar kita? Entah badai itu cepat mereda atau berlangsung lama, kita dapat meyakini hal ini: Kita berada dalam perahu yang sama dengan Dia yang ditaati bahkan oleh angin dan danau. —Cindy Hess Kasper
Bapa Surgawi, hidup ini serba tidak pasti. Namun Engkau telah berjanji akan senantiasa hadir menyertai kami. Kiranya kami boleh melihat-Mu hari ini—terutama ketika kami tergoda untuk panik atau melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kami sendiri.
Sedekat-dekatnya suatu bahaya mengancam orang Kristen,
Allah selalu lebih dekat untuk menjaga.

Monday, April 27, 2015

Kasih dan Terang

Negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah . . . suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu. —Ulangan 11:11-12
Kasih dan Terang
Bagi mereka yang hidup di negara dengan empat musim, inilah saatnya menanami kebun sayur untuk persiapan musim panas. Ada yang memulai lebih awal dengan menanam benih di dalam ruangan supaya kondisinya dapat diawasi dan tunas tanaman dapat bertumbuh. Setelah musim dingin berlalu, mereka akan memindahkan benih muda itu ke luar ruangan. Setelah kebun sayur itu ditanami, mereka harus membersihkan tanaman liar, memupuk, mengairi, dan mencegah serangan hama pengerat dan serangga. Proses menghasilkan bahan makanan itu memerlukan kerja keras.
Musa mengingatkan bangsa Israel tentang hal itu sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Selama tinggal di Mesir, mereka bekerja keras untuk mengairi ladang setelah menabur benih (Ul. 11:10). Namun di tanah yang diberikan Allah, Dia berjanji memudahkan pekerjaan mereka dengan memberikan hujan pada musimnya: “TUHAN akan menurunkan hujan atas tanahmu pada musimnya, sehabis kamu panen, dan pada waktu kamu mulai menanam” (ay.14 BIS). Syaratnya satu: mereka harus “sungguh-sungguh mendengarkan perintah” yang diberikan Tuhan kepada mereka—dengan “mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (ay.13). Tuhan membawa umat-Nya ke suatu tempat di mana ketaatan dan berkat-Nya akan menjadikan mereka terang bagi bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Allah menginginkan hal yang sama untuk dan dari kita: Dia ingin kasih kita diwujudkan dalam ketaatan agar kita dapat menjadi terang-Nya bagi orang-orang di sekitar kita. Meskipun kasih dan ketaatan yang kita persembahkan tidaklah sebanding dengan apa yang layak diterima-Nya, Tuhan terus memelihara, memberkati, dan memampukan kita untuk menjadi terang yang akan diperhatikan oleh dunia. —Julie Ackerman Link
Mengasihi Allah tidak membuat kita bebas dari kesulitan hidup, tetapi kekuatan yang diberikan-Nya memampukan kita menjalani hidup.

Sunday, April 26, 2015

Buku di Balik Cerita

Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. —Mazmur 119:111
Buku di Balik Cerita
Jutaan orang di seluruh dunia telah menonton film Gone with the Wind (Sirna Bersama Angin), yang diputar perdana di Amerika Serikat pada 15 Desember 1939. Film tersebut berhasil memenangi 10 piala Oscar dan tetap menjadi salah satu film Hollywood tersukses secara komersial. Film itu didasarkan atas novel karya Margaret Mitchell yang terbit pada tahun 1936. Buku itu pun terjual sebanyak satu juta jilid dalam waktu 6 bulan, menerima Anugerah Pulitzer, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Sebuah film yang sukses sering bersumber pada sebuah judul buku yang berkarakter kuat dan abadi.
Buku yang menjadi dasar bagi iman Kristen adalah Alkitab. Mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, Alkitab berisi rencana Allah bagi ciptaan-Nya, termasuk kita. Mazmur 119 menyerukan kuasa dan nilai penting firman Allah dalam hidup kita. Firman itu menerangi jalan kita (ay.105), menghidupkan kita (ay.107), dan menjaga langkah kita (ay.108). Melalui Kitab Suci kita menemukan hikmat, bimbingan, hidup, dan sukacita. “Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku” (ay.111).
Yesus, Tuhan kita, memanggil kita untuk mendasarkan hidup kita pada firman-Nya dan membagikan sukacita dari pengenalan kita akan Dia kepada orang-orang yang sedang mencari hidup kekal. “Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir” (ay.112).
Kitab yang agung! Juruselamat yang ajaib! —David McCasland
Ya Tuhan, firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan penerang bagi jalanku. Perintah-perintah-Mu adalah hartaku, yang menyukakan hatiku. Aku bertekad untuk menaati ketetapan-ketetapan-Mu sampai akhir hidupku.
Alkitab, kebenaran Allah yang kekal, tetap dapat dipercaya hari ini.

Saturday, April 25, 2015

Berikan Semua

[Persembahkanlah] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1
Berikan Semua
Dalam satu-satunya pidato pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy menyampaikan tantangan berikut kepada orang Amerika: “Jangan bertanya apa yang dapat negaramu perbuat untukmu; bertanyalah apa yang dapat kamu perbuat untuk negaramu.” Tantangan itu merupakan seruan ulang pada seluruh warga negara untuk menyerahkan hidup mereka dalam pengorbanan dan pelayanan kepada sesama. Kata-kata tersebut begitu mengilhami putra-putri warga negara yang dahulu pernah melayani negara mereka dalam kancah peperangan.
Makna pernyataannya itu jelas: Apa yang telah diperoleh orangtua mereka, dan seringkali dengan pengorbanan nyawa, sekarang harus dipelihara dengan cara-cara yang damai. Sekelompok besar sukarelawan pun bangkit untuk menjawab seruan itu, dan dari dekade ke dekade mereka telah berhasil menunaikan karya-karya kemanusiaan yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh dunia.
Berabad-abad sebelumnya, Rasul Paulus menyampaikan seruan serupa kepada orang Kristen dalam ayat pembuka dari Roma 12. Ia mendorong kita supaya mempersembahkan tubuh kita sebagai “persembahan yang hidup” dalam pelayanan kepada Kristus yang telah mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus kita dari dosa. Pengorbanan rohani itu haruslah lebih dari sekadar kata-kata; hal itu haruslah berupa penyerahan diri kita demi kesejahteraan fisik, emosi, dan rohani sesama.
Yang luar biasa, kita dapat melayani di mana pun kita ditempatkan saat ini! —Randy Kilgore
Bapa, tunjukkanlah kepadaku hari ini bagaimana aku dapat menyerahkan hidupku ini kepada-Mu, dan beriku kekuatan untuk mulai berbuat sesuatu.
Jangan selalu bertanya apa yang dapat Yesus perbuat bagimu; bertanyalah kepada Yesus apa yang dapat kamu perbuat bagi-Nya.

Friday, April 24, 2015

Harapan Hidup

Kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, . . . memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. —1 Petrus 1:7
Harapan Hidup
Ketika tragedi mengerikan telah menghempaskan hidup seseorang, mereka pun bertanya-tanya. Baru-baru ini, seorang ibu yang kehilangan anak remajanya berkata, “Aku tak mengerti. Aku tak tahu apakah aku masih punya iman. Aku mencoba, tetapi Allah sepertinya tak masuk akal bagiku. Apa maksud semua ini?” Tak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan sebesar itu. Namun bagi mereka yang percaya kepada Kristus, selalu ada harapan, baik kita sedang berlimpah berkat atau mengerang dalam duka.
Petrus menjelaskan hal itu dalam suratnya yang pertama. Dengan berapi-api, ia memuji Allah yang telah melahirkan kita kembali “kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (1Ptr. 1:3) melalui penyelamatan kita. Harapan itu dapat membawa kebahagiaan, bahkan setelah terjadinya suatu tragedi. Ia juga meyakinkan kita bahwa pengharapan itu bersifat abadi (ay.4). Lalu ia berbicara tentang kenyataan yang pedih, bahwa kita mungkin harus “berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (ay.6). Mereka yang telah menderita kembali mendapatkan pengharapan melalui kata-kata Petrus berikutnya: “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu . . . sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya”(ay.7).
Melalui kata-kata itu, kita melihat sisi lain dari suatu pencobaan yang sering terasa acak dan tak terpahami. Di tengah-tengah tragedi, karena Juruselamat kita yang agung, kekuatan dan keindahan dari keselamatan kita dapat memancarkan sinarnya. Kiranya sinar harapan itu dapat menolong seseorang yang sedang berduka. —Dave Branon
Tuhan, Engkau meyakinkan kami bahwa keselamatan agung yang Kau berikan itu dimurnikan melalui penderitaan kami dan membawa kemuliaan bagi nama- Mu. Tolonglah kami memulai setiap hari baru dengan selalu berharap kepada-Mu.
Cahaya keselamatan bersinar terang di malam tergelap sekali pun.

Thursday, April 23, 2015

Sekarang, Pergilah!

KomikStrip-WarungSaTeKaMu-20150423-Sekarang-Pergilah
Sekarang, pergilah, Aku akan menolong engkau berbicara dan mengajarkan apa yang harus kaukatakan. —Keluaran 4:12 BIS
Sekarang, Pergilah!
Lebih dari 10.000 penginjil dan pemimpin Kristen hadir dalam ruang auditorium raksasa di Amsterdam pada tahun 1986 untuk mendengarkan ceramah penginjil besar Billy Graham. Saya hadir di sana juga dan mendengarkannya mengisahkan sejumlah pengalamannya. Saya terkejut, ketika ia berkata, “Yakinlah, setiap kali saya berdiri di hadapan jemaat Allah untuk berkhotbah, saya gemetar dan lutut saya lemas!”
Yang benar saja! pikir saya. Bagaimana mungkin seorang pengkhotbah besar yang telah memukau jutaan orang dengan khotbah-khotbahnya yang luar biasa terlihat gemetaran dan lututnya lemas? Lalu Graham menjelaskan bahwa bukan takut dan demam panggung yang dirasakannya, melainkan kegentaran dan ketidaklayakan yang kuat karena merasa tidak sanggup mengemban tugas besar yang Allah percayakan kepadanya. Ia pun dikuatkan ketika ia bersandar kepada Allah dan bukan pada kefasihannya berbicara.
Musa merasa tidak sanggup ketika Allah mengirim dirinya untuk membawa bangsa Israel yang telah diperbudak selama 400 tahun keluar dari Mesir. Musa memohon kepada Tuhan agar Dia mengutus orang lain, dengan alasan ia tidak pandai bicara (lihat Kel. 4:10,13).
Kita mungkin memiliki ketakutan serupa ketika Allah memanggil kita untuk melakukan sesuatu bagi-Nya. Namun penguatan yang diberikan- Nya kepada Musa juga dapat menguatkan kita. “Sekarang, pergilah, Aku akan menolong engkau berbicara dan mengajarkan apa yang harus kaukatakan” (ay.12 BIS).
Ini seperti yang dikatakan Billy Graham pada hari itu, “Ketika Allah memanggilmu, janganlah takut sampai gemetar dan lemas lututmu, karena Dia akan menyertaimu!” —Lawrence Darmani
Apakah tugas yang Allah limpahkan kepadamu untuk dilakukan hari ini?
Bersandarlah kepada-Nya dengan memohon pertolongan-Nya.
Ke mana pun Allah mengirim kita, Dia akan menyertai kita.

Wednesday, April 22, 2015

Akhir yang Bahagia

Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. —Efesus 4:32
Akhir yang Bahagia
Suatu hari seorang teman sedang menonton sepakbola di TV dan putri kecilnya bermain di dekatnya. Karena timnya bermain buruk, ia marah dan meraih mainan yang ada di dekatnya lalu melemparnya. Mainan kesayangan putrinya itu hancur berantakan, begitu pula hati putrinya. Ia segera memeluk putrinya dan meminta maaf. Ia pun mengganti mainan itu dan berpikir segala sesuatunya sudah beres. Namun ia tidak menyadari bahwa luapan amarah itu begitu menakutkan dan membekaskan luka yang dalam pada diri putrinya yang berusia 4 tahun. Pengampunan baru dialami di kemudian hari.
Bertahun-tahun kemudian ia mengirimkan sebuah mainan serupa kepada putrinya yang sedang menunggu kelahiran bayinya. Sang putri lalu memasang foto mainan itu di Facebook dengan tulisan, “Hadiah ini membuatku mengenang pengalaman masa kecilku. Memang bukan pengalaman yang menyenangkan, tetapi sekarang berakhir dengan bahagia! Pemulihan memang indah. Terima kasih, Kakek!”
Alkitab mengingatkan kita untuk menghindari kemarahan yang meluap-luap dengan cara “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:24). Dan apabila kita telah menjadi korban dari luapan kemarahan, Allah meminta kita untuk “ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (ay.32).
Memulihkan hubungan yang telah rusak memang tidak mudah, tetapi anugerah Allah dapat menolong kita. —David McCasland
Tuhan, terkadang emosiku bisa meledak. Oleh anugerah-Mu, tolonglah agar aku bisa berhenti dan berpikir sebelum bertindak atau berbicara. Beriku kemauan untuk meminta maaf saat aku menyakiti seseorang. Terima kasih untuk pengampunan-Mu.
Pertobatan dan pengampunan dapat merekatkan hubungan yang retak.

Tuesday, April 21, 2015

Menghadapi Kemustahilan

Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini.” —Yosua 6:2
Menghadapi Kemustahilan
Pada tahun 2008, harga-harga rumah di Inggris sedang anjlok. Namun 2 minggu setelah saya dan suami menjual rumah yang telah kami huni selama 40 tahun, seorang pembeli menawar dengan harga yang baik dan kami pun setuju untuk menjualnya. Kontraktor kami segara bekerja untuk merenovasi rumah yang pernah saya warisi dan yang akan menjadi tempat tinggal kami yang baru. Namun beberapa hari sebelum penjualan rumah lama beres, calon pembelinya menarik diri. Kami pun merasa terpukul. Sekarang kami memiliki dua rumah—satu rumah dengan harga yang sedang anjlok drastis dan satu lagi rumah berbentuk puing yang tidak dapat kami jual atau tempati. Sebelum kami menemukan pembeli baru, kami tidak mempunyai uang untuk membayar kontraktor. Kami berada dalam keadaan yang mustahil.
Ketika Yosua memandang ke arah Yerikho, suatu kota berkubu yang dipersenjatai dengan kuat, ia mungkin merasa menghadapi suatu keadaan yang mustahil (Yos. 5:13-6:27). Namun tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Sejumlah teolog memperkirakan bahwa laki-laki itu adalah Yesus sendiri. Yosua yang cemas pun bertanya apakah laki-laki itu akan membela bangsa Israel atau membela lawannya dalam peperangan yang menjelang. “‘Bukan,’ jawabnya. ‘Akulah Panglima Balatentara TUHAN’” (Yos. 5:14). Yosua sujud menyembah dengan mukanya ke tanah sebelum ia berani melangkah. Saat itu, Yosua masih belum mengetahui bagaimana Yerikho akan diserahkan ke dalam tangannya, tetapi ia memperhatikan firman Allah dan menyembah Allah. Setelah itu, ia menaati perintah Tuhan dan yang mustahil pun menjadi kenyataan. —Marion Stroud
Tuhanku, sering saat aku menghadapi keadaan yang mustahil aku memilih untuk khawatir daripada percaya. Tolong aku untuk mempercayai-Mu dan mengingat bahwa tidak ada yang terlalu sukar bagi-Mu.
Tiada yang mustahil bagi Tuhan.

Monday, April 20, 2015

Seorang Ayah yang Berlari

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10
Seorang Ayah yang Berlari
Setiap hari seorang ayah memanjangkan lehernya untuk melihat jauh ke jalan sambil menunggu putranya pulang. Dan setiap malam ia pergi tidur dengan kecewa. Namun suatu hari, ada bintik kecil terlihat. Dilatarbelakangi langit yang kemerahan, sesosok siluet terlihat berjalan sendirian. Mungkinkah itu putraku? sang ayah bertanya-tanya. Kemudian ia mengenali gaya berjalan sosok itu. Ya, itu pasti putraku!
Jadi, sementara sang putra “masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk. 15:20). Sungguh luar biasa bahwa sang kepala keluarga melakukan sesuatu yang dipandang tidak pantas dalam budaya Timur Tengah, yaitu berlari untuk menemui putranya. Sukacita sang ayah begitu tak terbendung ketika melihat putranya kembali.
Sang putra tidak layak menerima sambutan seperti itu. Ketika ia meminta bagian harta sang ayah yang menjadi haknya dan meninggalkan rumah, itu sama saja seperti menganggap ayahnya mati. Namun setelah segalanya yang dilakukan sang putra, ia tetaplah anak bagi ayahnya (ay.24).
Perumpamaan ini mengingatkan bahwa saya diterima oleh Allah karena anugerah-Nya, bukan karena jasa saya. Saya diyakinkan bahwa walaupun saya jatuh, saya tidak akan pernah berada di luar jangkauan kasih karunia Allah. Bapa Surgawi kita sedang menunggu untuk berlari dan menyambut kita dengan tangan terbuka. —Poh Fang Chia
Bapa, aku begitu bersyukur untuk semua yang telah Anak-Mu lakukan untukku di atas kayu salib. Aku berterima kasih untuk anugerah. Aku persembahkan kepada-Mu hati yang rindu menjadi seperti Yesus—hati yang penuh kasih dan sayang.
Kita layak dihukum, tetapi beroleh pengampunan; pantas ditimpa murka Allah, tetapi justru menerima kasih-Nya. Philip Yancey

Sunday, April 19, 2015

Dunia Allah

Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. —Mazmur 24:1
Dunia Allah
Saya tahu putra saya akan senang menerima gambar peta dunia untuk kado ulang tahunnya. Setelah melihat-lihat di toko, saya menemukan selembar peta dunia berwarna-warni yang dilengkapi dengan ilustrasi dari setiap daerah. Ada kupu-kupu cantik melayang di atas Papua Nugini. Ada rangkaian gunung di Chili. Ada berlian yang menghiasi Afrika Selatan. Saya sangat senang melihat peta itu, tetapi saya merasa ragu saat membaca label di bagian bawah peta itu yang bertuliskan: Dunia Kita.
Di satu sisi, bumi adalah dunia kita karena kita hidup di dalamnya. Kita diizinkan untuk minum airnya, menambang emasnya, memancing di lautnya—tetapi itu semata-mata karena Allah sudah memberikan izin-Nya (Kej. 1:28-30). Sesungguhnya, ini adalah Dunia Allah. “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1). Saya sangat terpesona saat mengingat bahwa Allah sudah mempercayakan karya ciptaan-Nya yang luar biasa kepada manusia biasa. Dia tahu bahwa ada dari kita yang akan menyalahgunakannya, menyangkal bahwa Dialah penciptanya, dan mengakuinya sebagai milik kita. Tetap saja Dia mengizinkan kita untuk menghuni bumi ini dan menjaga kelangsungannya melalui Anak-Nya (KOL. 1:16-17).
Hari ini, sediakanlah waktu untuk menikmati hidup di dalam dunia Allah. Kecaplah rasa beberapa jenis buah. Dengarkanlah kicauan burung dan nyanyiannya. Nikmatilah suasana matahari tenggelam. Izinkanlah dunia yang kamu huni ini mengilhamimu untuk menyembah Allah yang empunya bumi. —Jennifer Benson Schuldt
Tolong aku, Tuhan, untuk sesekali berhenti. Untuk melihat, mendengar, mencicipi, memikirkan tentang berkat yang Engkau berikan untuk kami nikmati. Terima kasih untuk ungkapan kreativitas dan kasih-Mu kepadaku hari ini.
Keindahan karya ciptaan memberi kita alasan untuk memuji Allah.

Saturday, April 18, 2015

Mengalahkan Cheetah

Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, . . . . tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru. —Yesaya 40:7,31
Mengalahkan Cheetah
Cheetah Afrika yang hebat diketahui bisa berlari hingga kecepatan 112 km/jam dalam waktu singkat, tetapi tidak mampu mempertahankan kecepatan itu untuk jarak yang jauh. Lewat tayangan kantor berita Inggris, BBC, dilaporkan bahwa empat penduduk dari desa di timur laut Kenya ternyata mampu mengalahkan dua ekor cheetah dalam lomba lari sejauh 6,5 km.
Kedua cheetah besar itu sebelumnya telah memangsa kambing dari desa mereka. Jadi keempat pria itu menyusun rencana untuk menghentikannya. Suatu hari, mereka telah menunggu hingga hari sedang panas-panasnya, lalu mereka mengejar kucing-kucing besar itu. Mereka berhasil mengejar kedua cheetah yang sudah tidak lagi mampu berlari itu. Kedua cheetah yang kelelahan tersebut dapat ditangkap dengan baik dan diserahkan pada dinas perlindungan satwa Kenya untuk dipindahkan.
Dapatkah kita melihat bayangan diri kita pada cheetah tersebut? Kekuatan kita mungkin awalnya mengesankan, tetapi itu tidak bertahan lama. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa kita ini laksana bunga di padang yang segera layu di bawah panasnya matahari (40:6-8).
Namun ketika kita tidak berdaya itulah, Allah menawarkan penghiburan bagi kita. Kejutan akan dialami oleh mereka yang menantikan Tuhan. Pada waktu dan cara yang ditentukan-Nya, Dia dapat memperbarui kekuatan kita. Oleh Roh-Nya, Dia memampukan kita untuk terbang bagai rajawali dengan “kekuatan sayapnya” atau “berlari dan tidak menjadi lesu, . . . berjalan dan tidak menjadi lelah” (ay.31). —Mart DeHaan
Tuhan, ampuni kami karena sering mengandalkan kekuatan kami yang tidak bertahan lama. Tolong kami untuk melihat bahwa semua karunia yang baik itu berasal dari-Mu, dan bahwa Engkaulah sumber kekuatan, harapan, dan sukacita yang tidak pernah mengecewakan.
Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui.

Friday, April 17, 2015

Kita Satu Komunitas

KomikStrip-WarungSaTeKaMu-Kita-Satu-Komunitas
[Tuhan] yang memberikan . . . untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. —Efesus 4:11-12
Kita Satu Komunitas
Ada istri seorang pendeta yang didiagnosa menderita penyakit Parkinson. Kabar itu membuat keluarganya merasa kesulitan dan tertekan. Sang pendeta tidak tahu bagaimana ia akan mampu merawat istrinya dengan baik, sementara ia masih bertanggung jawab atas jemaat gerejanya. Namun ternyata ia tidak perlu khawatir, karena sejumlah anggota jemaatnya menyediakan diri mereka untuk membantunya dalam menyiapkan makanan dan memenuhi kebutuhan istrinya.
Rasul Paulus menuliskan pada jemaat di Korintus tentang tujuan Tuhan dalam memberikan karunia rohani kepada mereka. Sebelum menuliskan daftar berbagai karunia rohani dalam 1 Korintus 12:8-10, ia mengingatkan bahwa “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (ay.7). Allah tidak memberikan karunia rohani-Nya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk melayani sesama, dan dengan demikian, kita juga melayani-Nya.
Kita semua diberi karunia rohani yang berbeda-beda untuk dipakai di saat yang berbeda dan dengan cara yang berbeda. Namun semuanya itu harus dipakai dalam kasih “bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:12). Di mana pun Allah menempatkan kita, kita dapat memakai apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita untuk melakukan sesuai dengan apa yang dibutuhkan, sembari mengingat bahwa kita semua merupakan anggota dari gereja, yaitu tubuh Kristus (1Kor. 12:13-14). —C. P. Hia
Terima kasih, Bapa, untuk segala karunia indah yang telah Engkau berikan pada gereja-Mu. Tolong aku untuk mengerti bahwa Engkau sudah memberikannya kepadaku untuk menguatkan saudara seiman, dan untuk menyebarkan kabar tentang kasih-Mu pada dunia.
Gunakanlah karunia rohanimu untuk memberi pelayanan bagi sesama.

Thursday, April 16, 2015

Tempat Pemancingan Terbaik

Ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan. —2 Korintus 12:4
Tempat Pemancingan Terbaik
Teman saya, Gus, meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Gus adalah sesama pemancing ikan trout. Pada akhir pekan ia biasa berada di atas perahu kecilnya untuk memancing ikan di danau terdekat. Suatu hari saya menerima sepucuk surat dari Heidi, putrinya. Heidi menceritakan bahwa ia terus membicarakan tentang surga bersama cucu-cucunya sejak Gus berpulang ke rumah Bapa. Cucu lelaki Heidi yang berusia 6 tahun juga senang memancing dan ia mencoba untuk memberikan gambaran tentang surga dan apa yang sedang dilakukan Gus, kakek buyutnya di sana: “Surga pasti sangat indah,” ia membayangkan, “dan Yesus sedang menunjukkan tempat pemancingan terbaik dengan ikan yang paling banyak pada Kakek Gus.”
Ketika Paulus menceritakan penglihatan akan surga yang diberikan Allah kepadanya, ia tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata. Paulus berkata, “Ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia” (2Kor. 12:4). Realitas surga tidak akan dapat terlukiskan oleh kata-kata—mungkin karena manusia memang tidak sanggup memahaminya.
Meskipun kita mungkin terhibur dengan mengetahui sedikit banyak tentang seluk-beluk surga, bukan pengetahuan itu yang memberi kita keyakinan, melainkan pengenalan akan Allah sendiri. Karena saya mengenal Allah dan mengetahui kebaikan-Nya yang besar, saya dapat meninggalkan dunia ini dan segala isinya dengan keyakinan teguh bahwa surga itu indah dan Yesus akan membawa saya ke “tempat pemancingan terbaik”—karena memang Allah sungguh amat baik! —David Roper
Marilah memohon dan berdoa hari demi hari agar Allah semakin menyatakan diri-Nya kepada jiwa kita, menajamkan indera kita, memberi kita penglihatan dan pendengaran, cita rasa tentang kekekalan yang akan datang. —John Henry Newman
Tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang sebanding dengan keberadaan bersama Kristus di surga.

Wednesday, April 15, 2015

Terlalu Berat Bagiku

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. —Matius 26:39
Terlalu Berat Bagiku
Tuhan tak mungkin membebani kita lebih daripada yang dapat kita tanggung,” kata seseorang kepada seorang ayah yang baru saja kehilangan putranya yang berusia lima tahun karena kanker. Kata-kata tersebut dimaksudkan untuk menguatkan sang ayah, tetapi ternyata justru membuat ia tertekan dan menyebabkannya bertanya-tanya mengapa ia sama sekali tidak dapat “menanggung” rasa pedih dari kepergian putranya sendiri. Kepedihan itu begitu membebaninya, sehingga ia pun sulit bernapas. Ia menyadari bahwa kepedihan itu terlalu berat baginya dan ia sangat membutuhkan Allah untuk merengkuh dirinya erat-erat.
Ayat Alkitab yang dipakai orang untuk mendasari pernyataan “Tuhan tak pernah membebani kita lebih daripada yang dapat kita tanggung” tadi adalah 1 Korintus 10:13, “Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Akan tetapi, konteks dari ayat itu adalah tentang pencobaan, bukan penderitaan. Kita dapat memilih untuk keluar dari pencobaan melalui jalan yang telah Allah sediakan, tetapi kita tidak mempunyai pilihan untuk keluar dari penderitaan.
Yesus sendiri menginginkan jalan keluar dari penderitaan yang akan dialami-Nya ketika Dia berdoa, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. . . . Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Mat. 26:38-39). Namun demikian, Dia tetap rela menanggung semuanya demi keselamatan kita.
Ketika beban hidup terasa terlalu berat untuk kita tanggung, itulah saatnya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada belas kasihan Allah, dan Dia pasti akan merengkuh kita erat-erat. —Anne Cetas
Bapa, aku merasa rapuh dan lemah. Aku tahu Engkaulah perlindunganku dan kekuatanku, pertolonganku saat kesusahan. Aku berseru memanggil nama-Mu, Tuhan. Rengkuhlah diriku.
Jika Allah berjaga di belakang kita dan lengan-Nya menopang kita, kita dapat menghadapi apa pun di hadapan kita.

Tuesday, April 14, 2015

Jangan Khawatir!

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. —1 Petrus 5:7
Jangan Khawatir!
George Burns, seorang aktor dan humoris asal Amerika Serikat, berkata, “Kalau kamu bertanya, ‘Apakah kunci utama untuk hidup panjang umur?’ Saya akan menjawab: jangan khawatir, stres, dan tegang. Kalau pun kamu tidak bertanya kepada saya, saya tetap akan mengatakannya.” Burns, yang hidup hingga usia 100 tahun, suka sekali membuat orang lain tertawa, dan rupanya ia mengikuti nasihatnya sendiri.
Namun bagaimana kita dapat menjauhi kekhawatiran, padahal hidup kita begitu tidak pasti, penuh dengan beragam masalah dan kebutuhan? Rasul Petrus memberi penguatan berikut kepada para pengikut Yesus yang terpaksa harus tersebar ke berbagai tempat di Asia pada abad pertama: “Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr.5:6-7).
Perintah Petrus tidak diberikan untuk menolong kita menghindari penderitaan (ay.9), tetapi supaya kita dapat menemukan kedamaian dan kekuatan untuk berdiri teguh dan menang menghadapi serangan Iblis (ay. 8-10). Alih-alih diliputi oleh kegelisahan dan kekhawatiran, kita telah dimerdekakan untuk menikmati kasih Allah kepada kita dan untuk menunjukkan kasih itu kepada satu sama lain.
Tujuan kita bukanlah untuk melihat berapa lama kita akan hidup, melainkan untuk hidup sepenuhnya dalam pelayanan kasih kepada Tuhan di sepanjang usia yang diberikan kepada kita. —David McCasland
Tuhan, aku mengakui bahwa aku suka mengandalkan diri sendiri dan menjadi khawatir. Hal itu membebani jiwaku dan terkadang membuatku tidak bisa tidur di waktu malam. Angkatlah beban itu dari hatiku saat aku bersandar pada-Mu.
Allah itu Bapaku, aku tak memikirkan lagi apa yang telah dilupakan oleh- Nya. Jadi, mengapa aku harus khawatir? —Oswald Chambers

Monday, April 13, 2015

Berdoa Dahulu

Bertanyalah Daud kepada TUHAN. —1 Samuel 23:2
Berdoa Dahulu
Manakala saya dan suami mengawasi latihan piano putra kami, kami biasa memulainya dengan meminta Allah supaya menolong kami. Kami berdoa terlebih dahulu karena kami berdua sama sekali tidak bisa memainkan piano. Kami bertiga sama-sama belajar untuk memahami serba-serbi dalam musik, seperti arti istilah “staccato” dan “legato” dan waktu yang tepat untuk memainkan bilah-bilah hitam pada piano.
Doa menjadi prioritas ketika kita menyadari bahwa kita memerlukan pertolongan Allah. Daud membutuhkan pertolongan Allah dalam suatu situasi yang berbahaya ketika ia mempertimbangkan untuk bertempur melawan orang Filistin di Kehila. Sebelum mulai bertempur, “bertanyalah Daud kepada TUHAN: ‘Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?’” (1Sam. 23:2). Allah memberikan persetujuan-Nya. Namun anak buah Daud mengakui bahwa kekuatan musuh telah membuat mereka gentar. Sekali lagi, sebelum mengangkat pedang melawan orang Filistin, Daud berdoa. Allah menjanjikan kemenangan yang kemudian memang diraihnya (ay.4).
Apakah doa menjadi penuntun hidup kita ataukah justru menjadi pilihan terakhir ketika kesulitan menerpa? Kita pun kadang terbiasa untuk membuat rencana terlebih dahulu, baru kemudian meminta Allah untuk memberkati rencana itu, atau berdoa hanya pada saat kita telah putus asa. Allah memang ingin kita datang kepada-Nya di saat-saat kita membutuhkan pertolongan, tetapi Dia juga ingin kita mengingat bahwa kita memerlukan-Nya setiap saat (Ams. 3:5-6). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, pimpinlah aku dalam menjalani hidup ini. Tolong aku untuk tidak bertindak menurut hikmatku sendiri, tetapi kiranya aku mencari kehendak-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi.
Allah ingin kita berdoa sebelum melakukan apa pun. —Oswald Chambers

Sunday, April 12, 2015

Itu Milikku!

Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku. —Yesaya 42:8

Sungai Nil di Afrika, yang membentang sepanjang 6.650 km dan mengalir ke utara melintasi beberapa negara di timur laut Afrika, adalah sungai terpanjang di dunia. Selama berabad-abad, sungai Nil telah menjadi sumber pangan dan mata pencaharian bagi jutaan orang di negara-negara yang dilaluinya. Saat ini, Etiopia sedang membangun bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika pada sungai Nil. Hal itu akan membawa manfaat yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat di daerah tersebut.
Firaun, raja Mesir, mengaku dirinya sebagai pemilik dan pembuat sungai Nil. Ia dan seluruh Mesir menyombongkan diri, “Sungai Nil aku punya, aku yang membuatnya” (Yeh. 29:3,9). Mereka menolak untuk mengakui bahwa hanya Allah yang menjadikan sumber daya alam. Akibatnya, Allah berjanji akan menghukum bangsa itu (ay.8-9).
Sudah sepatutnya kita memelihara alam ciptaan Allah, dengan tidak melupakan bahwa segala yang kita miliki berasal dari Tuhan. Roma 11:36 menyatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dialah Sang Pencipta yang juga mengaruniakan kepada umat manusia kemampuan untuk menemukan dan membuat sumber daya buatan manusia. Kapan saja kita berbicara tentang kebaikan yang telah kita alami atau prestasi yang kita capai, kita perlu mengingat firman Allah dalam Yesaya 42:8, “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain.” —Lawrence Darmani
Puji Tuhan Allah, Allah Israel, yang dengan kuasa-Nya sendiri menciptakan hal-hal yang demikian luar biasa. Terpujilah nama-Mu yang agung selamanya! Kiranya seluruh bumi dipenuhi kemuliaan-Mu.
Terpujilah Allah, hikmat-Nya besar!

Saturday, April 11, 2015

Ketika Kita Dikecewakan

TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami. —1 Samuel 17:47
Ketika Kita Dikecewakan
Pada 4 Agustus 1991, kapal pesiar MTS Oceanos dihantam badai besar di lepas pantai Afrika Selatan. Ketika kapal mulai tenggelam, kapten kapal dan anak buahnya memutuskan untuk meninggalkan kapal dan tidak memberi tahu penumpang tentang bahaya yang mengancam. Moss Hills, seorang penumpang dan musisi asal Inggris, menyadari adanya bahaya dan mengirimkan isyarat tanda bahaya ke penjaga pantai Afrika Selatan. Lalu, Moss dan Tracy, istrinya, beserta rekan-rekan pemusik yang berada di kapal itu mengambil inisiatif untuk mengevakuasi seluruh penumpang dengan menolong mereka naik ke helikopter.
Ada saatnya orang yang kita andalkan sebagai pemimpin justru mengecewakan kita. Ketika Raja Saul dan perwiranya menghadapi tantangan dan hujatan Goliat, si raksasa dari Filistin, mereka menjadi cemas dan takut (1Sam. 17:11). Namun Daud, seorang musisi sekaligus gembala yang masih muda, mempunyai iman kepada Allah yang membuatnya melihat tantangan itu dari sudut lain. Daud berkata kepada Goliat, “Engkau mendatangi aku dengan pedang . . . . tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam” (ay.45). Daud pun mengalahkan musuhnya dan membalikkan keadaan (ay.50). Ia tidak mengandalkan para pemimpin duniawi, tetapi hanya mengandalkan Allah yang hidup.
Ketika orang lain telah mengecewakan kita, Allah mungkin sedang memanggil kita untuk memimpin sesama dengan kuasa-Nya dan demi kemuliaan nama-Nya. —Dennis Fisher
Ya Tuhan, aku tidak berdaya menolong orang lain dalam kesulitan mereka. Namun Engkau Mahakuasa. Beriku keberanian untuk menolong orang lain sembari aku mengandalkan kekuatan-Mu yang tak mungkin gagal.
Kita hanya dapat memimpin orang lain ke arah yang benar apabila kita mengikut Kristus.

Friday, April 10, 2015

Berbagi Burger

Janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. —Ibrani 13:16
Berbagi Burger
Lee Geysbeek dari Compassion International bercerita tentang seorang wanita yang berkesempatan pergi ke suatu tempat yang jauh untuk mengunjungi anak yang didukungnya. Ia pun mengajak anak yang hidup sangat berkekurangan itu ke suatu restoran.
Anak itu memesan sepotong hamburger, sementara wanita yang mengajaknya itu memesan sepiring salad. Si anak yang seumur hidupnya sama sekali belum pernah menikmati santapan seperti itu pun mengamati makanan yang terhidang di depan mereka. Ia melihat hamburgernya yang sangat besar dan seporsi kecil salad yang dipesan wanita itu. Lalu ia mengambil pisau dan memotong burger itu menjadi dua. Ia menawarkan potongan burgernya pada wanita itu sambil mengelus perutnya, dan bertanya, “Kamu lapar?”
Seorang anak yang di sepanjang hidupnya nyaris tidak mempunyai apa pun ternyata bersedia membagikan separuh miliknya dengan seseorang yang dipikirnya lebih membutuhkan. Anak itu dapat mengingatkan kita ketika kita bertemu dengan seseorang yang mempunyai kebutuhan fisik, emosional, atau rohani. Sebagai pengikut Yesus, iman kita kepada-Nya haruslah tecermin melalui perbuatan kita (Yak. 2:17).
Setiap hari kita bertemu dengan orang yang membutuhkan bantuan. Ada yang tinggal di belahan dunia lain, ada juga yang di dekat kita. Ada yang membutuhkan makanan hangat, ada juga yang membutuhkan dorongan semangat. Alangkah besarnya pengaruh yang bisa diberikan seorang pengikut Kristus yang telah mengalami kasih-Nya dengan cara berbuat baik dan memberi bantuan (Ibr. 13:16). —Dave Branon
Tuhan, mampukan aku untuk melihat kebutuhan sesama melampaui masalahku sendiri. Pimpin tanganku untuk memberi daripada menerima, untuk menawarkan daripada meminta, dan untuk memberkati daripada mencari berkat. Kiranya nama- Mu yang dimuliakan.
Melakukan kebaikan adalah tugas terluhur dari tiap manusia. —Sophocles

Thursday, April 9, 2015

Genangan Lumpur

Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati. —Mazmur 119:2
Genangan Lumpur
Ed, teman saya, bercerita tentang putranya yang masih kecil. Anak itu sedang berdiri dalam sebuah genangan lumpur, jadi Ed memintanya untuk keluar dari situ. Namun anaknya justru berlari melintasi genangan itu. “Jangan lari-lari di situ,” kata Ed. Anaknya lalu berjalan-jalan di genangan itu. Ketika Ed berkata, “Tak boleh jalan-jalan!” anak itu berdiri dengan memasukkan jempol-jempol kakinya di genangan itu, sambil melihat dengan tatapan menantang ke arah ayahnya. Anak itu tahu apa yang dikehendaki ayahnya, tetapi ia tidak mau melakukannya.
Terkadang saya berlaku seperti anak yang bandel itu. Saya tahu bahwa perbuatan saya tidak berkenan di hati Tuhan, tetapi tetap saja saya melakukannya. Allah berfirman kepada umat Israel untuk “baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ul. 28:1), tetapi mereka berulang kali gagal. Pemazmur menyadari pergumulannya sendiri dalam Mazmur 119, “Semoga aku dengan hati teguh mengikuti peraturan-peraturan-Mu” (ay.5 BIS).
Begitu sering hati kita dikuasai oleh rasa cemburu, kebencian, niat untuk memberontak. Namun Allah mengaruniakan penebusan bagi kita melalui pengorbanan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Roh Kudus menolong kita ketika kita dicobai (1Kor. 10:13); dan apabila kita mengakui dosa kita, Allah berjanji untuk mengampuni kita (1Yoh. 1:9).
Jika kamu seperti saya, masih jatuh-bangun dalam genangan lumpur hidup ini, janganlah menyerah. Allah akan menolongmu untuk melawan pencobaan yang ada, dan Dia tidak akan pernah berhenti mengasihimu! —Dave Egner
Ya Tuhan, tolong aku ketika mengalami pencobaan. Ingatkan aku akan janji-janji Alkitab dan kuatkan aku dengan penyertaan Roh Kudus agar aku dapat menolak setiap godaan. Kiranya perkataan dan perbuatanku memuliakan nama-Mu.
Untuk menguasai pencobaan, izinkan Kristus menguasaimu.

Wednesday, April 8, 2015

Kehidupan yang Harum

Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu . . . , suatu persembahan yang harum, . . . yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. —Filipi 4:18
Kehidupan yang Harum
Saya bersyukur karena Allah telah memberikan kepada kita indera penciuman sehingga kita bisa menikmati berbagai aroma harum dalam hidup ini. Saya senang menghirup aroma yang sederhana, seperti bau menyegarkan dari losion bercukur saya di pagi hari, atau aroma lembut dari rumput-rumput yang baru dipotong di musim semi. Saya pun sangat menikmati bau harum semerbak di udara dari bunga mawar kesukaan saya saat duduk-duduk di halaman belakang rumah. Tentu saja, saya juga menikmati aroma yang menggiurkan dari santapan yang lezat.
Oleh karena itu, perkataan Paulus menarik perhatian saya ketika ia mengatakan bahwa kemurahan hati kita dalam menunjukkan kasih kepada sesama adalah seperti “suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah” (Flp. 4:18). Kita biasa menganggap tindakan kita dalam menolong mereka yang berkekurangan sebagai sesuatu yang memang patut dilakukan—dan juga untuk meneladan Kristus. Namun Paulus berkata bahwa perbuatan baik yang sengaja kita lakukan demi memenuhi kebutuhan seseorang sesungguhnya memenuhi ruang takhta Allah dengan suatu aroma harum yang membawa kesukaan bagi-Nya.
Kita dapat menyenangkan Allah dengan keharuman yang kita tebarkan ketika kita menjadi berkat bagi orang lain! Itulah motivasi tambahan bagi kita untuk selalu rajin berbuat baik demi nama-Nya.
Adakah yang mungkin sedang membutuhkan uluran tanganmu pada hari ini? Mintalah agar Allah menuntun kamu pada hidup seseorang, dan jadilah berkat baginya, karena itu akan menyebarkan aroma yang harum! Joe Stowell
Aku berharap dapat melakukan ini bagi sesamaku hari ini: __________
Memberkati sesama merupakan tindakan yang berkenan kepada Allah.

Tuesday, April 7, 2015

Fondasi yang Teguh

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. —Matius 7:24
Fondasi yang Teguh
Gempa bumi adalah fenomena alam yang umum terjadi di daerah lingkar luar Pasifik yang dikenal sebagai “Ring of Fire” (Cincin Api). Sekitar 90 persen gempa di seluruh dunia dan 81 persen dari gempa terbesar di dunia terjadi di daerah tersebut. Saya membaca bahwa banyak bangunan di kota Hong Kong dibangun di atas batu-batu granit. Hal itu dapat membantu mengurangi kerusakan saat terjadinya gempa. Fondasi bangunan berperan penting terutama di daerah-daerah rawan gempa di dunia.
Yesus Kristus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa fondasi yang teguh sangat penting dalam membangun kehidupan ini. Dia berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Mat. 7:24-25). Menjadikan Yesus Kristus sebagai fondasi akan memberikan kepada kita stabilitas yang dibutuhkan oleh hati dan hidup kita, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.
Ketika kita memberikan tempat bagi hikmat Tuhan untuk membimbing kita dalam setiap keputusan, prioritas, dan hubungan kita dengan sesama, kita mendapati bahwa Dia menjadi fondasi yang paling tepercaya bagi hidup setiap manusia. —Bill Crowder
Bapa yang penuh rahmat, Engkaulah Allah Tuhan, Raja Surgawi, dan aku memilih untuk menaruh harapanku kepada-Mu karena Engkaulah satu-satunya yang layak kupercayai.
Yesus adalah fondasi terbaik untuk membangun hidup yang teguh.

Monday, April 6, 2015

Iman Seteguh Bukit Batu

KomikStrip-WarungSaTeKaMu-20150406-Iman-Seteguh-Bukit-Batu
Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku. —Mazmur 18:3
Iman Seteguh Bukit Batu
Saya dan istri sama-sama mempunyai nenek yang berusia lebih dari 100 tahun. Ketika berbicara dengan mereka dan teman-teman mereka, saya mengenali suatu tren yang umumnya dilakukan kaum lansia saat mengenang suatu peristiwa: Mereka mengingat masa-masa sulit dengan perasaan nostalgia. Para lansia itu bergantian menceritakan pengalaman di masa Perang Dunia II dan Depresi Besar; mereka dengan gembira berbicara tentang kesulitan-kesulitan seperti badai salju, kamar kecil di masa kanak-kanak yang terletak di luar rumah, dan pengalaman kuliah mereka ketika harus makan sup kalengan dan roti basi selama 3 minggu berturut-turut.
Secara paradoks, masa-masa sulit justru dapat membantu untuk menumbuhkan iman dan memperkuat keakraban. Setelah melihat prinsip tersebut dihidupi secara nyata, saya dapat memahami lebih jauh salah satu misteri yang berkaitan dengan Allah. Pada intinya, iman adalah soal kepercayaan. Apabila saya memang teguh beriman kepada Allah, bukit batu kita (Mzm. 18:3), keadaan-keadaan terburuk sekalipun tidak akan dapat menghancurkan hubungan saya dengan sesama.
Iman seteguh bukit batu menolong saya percaya bahwa meskipun ada banyak kekacauan saat ini, Allah masih berdaulat. Meskipun saya mungkin merasa tidak dihargai, tetapi hidup saya sungguh berarti di mata Allah yang pengasih. Tidak ada penderitaan yang akan berlangsung selamanya, dan kejahatan tidak akan berjaya pada akhirnya.
Iman seteguh bukit batu bahkan dapat memahami peristiwa terkelam di sepanjang sejarah, yaitu kematian Sang Anak Allah, sebagai awal penting bagi momen paling cemerlang di sepanjang sejarah, yaitu kebangkitan dan kemenangan-Nya atas maut. —Philip Yancey
Tuhan, Engkaulah gunung batuku, sandaran imanku. Kulandaskan imanku pada-Mu dan bukan pada perasaanku yang tak menentu; jika tidak, aku pasti gagal.
Kristus, Sang Bukit Batu, adalah harapan kita yang pasti.

Sunday, April 5, 2015

Datanglah Kepada-Ku

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. —Yohanes 20:29
Datanglah Kepada-Ku
Charlotte Elliott menulis himne “Just As I Am” (Meski Tak Layak Diriku–Kidung Jemaat, NO. 27) pada tahun 1834. Saat itu Elliott telah menjadi cacat selama bertahun-tahun, dan ia terlalu sakit untuk membantu penggalangan dana bagi sebuah sekolah bagi kaum wanita. Elliott merasa begitu tidak berguna dan penderitaan batinnya ini mulai membuatnya meragukan imannya kepada Kristus. Ia menulis himne itu sebagai tanggapan atas keraguannya. Siksaan batinnya mungkin terungkap paling jelas dalam kata-kata berikut:
Terombang-ambing, berkeluh,
Gentar di kancah kemelut,
Ya Anak domba Allahku,
‘Ku datang kini pada-Mu.
Tiga hari setelah kematian dan penguburan-Nya, Yesus bangkit dari kematian dan mengundang seorang murid yang dalam sejarah dijuluki dengan nama “Tomas yang tidak percaya” untuk memeriksa bekas luka penyaliban-Nya (Yoh. 20:27). Ketika Tomas menyentuh luka pada tubuh Yesus, ia pun akhirnya percaya akan kebangkitan-Nya. Kristus berkata kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay.29).
Sebagai pengikut Kristus dewasa ini, kita termasuk mereka yang tidak melihat tetapi tetap percaya. Meskipun demikian, terkadang keadaan di atas bumi ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam jiwa kita. Akan tetapi kita dapat berseru, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24). Yesus menyambut kita untuk datang kepada-Nya sebagaimana adanya kita. —Jennifer Benson Schuldt
Yesusku, mampukan aku untuk mempercayai-Mu saat hidup terasa tak masuk akal. Angkatlah setiap keraguanku dan gantikan dengan iman yang makin teguh di dalam-Mu.
Kristus yang bangkit membuka jalan agar kamu dapat memperoleh kepenuhan hidup.

Saturday, April 4, 2015

Pohon Kasih

[Yesus] sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. —1 Petrus 2:24
Pohon Kasih
Pohon gandarusa besar di halaman belakang rumah kami telah berdiri teguh selama lebih dari 20 tahun. Pohon itu telah menaungi keempat anak kami ketika mereka bermain di halaman. Pohon itu juga menyediakan tempat tinggal bagi tupai-tupai yang berkeliaran di sekitar rumah kami. Namun ketika suatu musim semi tiba dan pohon itu tidak terbangun dari tidur musim dinginnya, itulah waktu yang tepat untuk menebangnya.
Setiap hari sepanjang satu minggu saya sibuk dengan pohon itu—pertama-tama untuk menebangnya dan kemudian memotong batang kayu yang berusia dua dekade itu menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dibawa. Pengalaman tersebut membuat saya mempunyai banyak waktu untuk berpikir tentang pepohonan.
Saya berpikir tentang pohon pertama, yaitu pohon yang buah terlarangnya dimakan oleh Adam dan Hawa (Kej. 3:6). Allah menggunakan pohon itu untuk menguji kesetiaan dan kepercayaan mereka. Kemudian ada pohon dalam Mazmur 1 yang mengingatkan kita pada buah-buah yang indah dari kehidupan yang saleh. Lalu dalam Amsal 3:18, hikmat diibaratkan bagai pohon kehidupan.
Namun ada satu kayu pohon yang paling penting dari segalanya, yakni kayu kasar di Kalvari yang diperoleh dari sebatang pohon yang kokoh. Pada kayu tersebut, Juruselamat kita tergantung di antara dunia dan surga demi memikul setiap dosa manusia dari setiap generasi di dalam tubuh-Nya. Kayu salib itu berdiri menjulang melebihi segala pohon yang ada sebagai lambang kasih, pengorbanan, dan keselamatan.
Di Kalvari, Anak Tunggal Allah menderita kematian yang luar biasa di atas kayu salib. Salib itulah pohon kehidupan kita. —Dave Branon
Bapa, pada hari ini, antara Jumat Agung dan Minggu Paskah, kami bersyukur untuk salib dan untuk Anak-Mu yang telah mati menyerahkan nyawa-Nya agar kami memperoleh hidup. Terima kasih.
Salib Kristus menyingkapkan pekatnya dosa manusia sekaligus puncak dari kebesaran kasih Allah.

Friday, April 3, 2015

Kamu pun Tertawa

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat [Allah] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. —2 Korintus 5:21
Kamu pun Tertawa
Bising. Getaran. Tekanan. Bola Api. Chris Hadfield, astronot asal Kanada, menggunakan kata-kata tersebut untuk menggambarkan pengalamannya saat diluncurkan ke luar angkasa. Saat roketnya meluncur menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional, tekanan gravitasi pun meningkat dan ia menjadi sulit bernapas. Pada saat ia menyangka akan pingsan, roket itu menerobos masuk ke dalam suatu keadaan tanpa bobot. Alih-alih pingsan, ia justru tertawa lepas.
Penggambarannya itu mengingatkan saya pada hari-hari menjelang meninggalnya ibu saya. Ibu memikul beban hidup yang semakin berat hingga ia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk bernapas. Kemudian ia terlepas dari penderitaannya dan masuk ke surga yang “tanpa bobot”. Saya membayangkan Ibu pun tertawa saat bertemu pertama kalinya dengan Yesus.
Pada hari Jumat yang kita sebut “agung” itu, hal yang serupa terjadi pada Yesus. Allah menimpakan kepada-Nya beban dosa seluruh dunia—dosa masa lampau, masa kini, dan masa depan—sampai Dia tak mampu lagi bernapas. Kemudian Dia berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46). Setelah menderita karena dosa-dosa kita, Yesus menerima kembali dari Allah hidup yang dipercayakan kepada-Nya dan kini Dia hidup di tempat di mana dosa dan maut tidak lagi berkuasa. Setiap orang yang percaya kepada Kristus kelak akan tinggal bersama-Nya, dan pada saat itu kita akan bersukacita karena telah lepas dari kehidupan kita sekarang. —Julie Ackerman Link
Bapa di surga, tak ada kata yang mampu menggambarkan syukur kami untuk Anak-Mu, Yesus, yang telah menanggung beban dosa kami. Terima kasih karena begitu kami terlepas dari tubuh fana yang berbeban berat ini, kami akan tinggal bersama-Mu selamanya.
Pengorbanan Yesus membawa kita menikmati sukacita surgawi.

Thursday, April 2, 2015

Menikmati Perjamuan-Nya

KomikStrip-2015-04-02-ID-650px
Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! —1 Korintus 11:24
Menikmati Perjamuan-Nya
Ini bukan soal bentuk mejanya, persegi atau bundar. Bukan soal bahan kursinya—dari plastik atau dari kayu. Bukan juga soal hidangannya, meski akan lebih indah jika itu dimasak dengan kasih. Kenikmatan suatu jamuan makan akan dialami ketika kita mematikan televisi dan telepon seluler agar bisa memberikan perhatian kepada orang-orang yang sedang makan bersama kita.
Saya senang berkumpul bersama di sekeliling meja, menikmati percakapan yang menyenangkan tentang berbagai topik dengan teman-teman dan keluarga. Hanya saja, teknologi masa kini yang serba instan telah membuat hal itu sulit dilakukan. Adakalanya kita lebih menaruh perhatian pada apa yang dikatakan orang lain—yang mungkin berada jauh dari kita—daripada apa yang sedang diucapkan oleh seseorang yang berada di depan kita.
Kita juga telah diundang untuk menghadiri sebuah perjamuan lain di sebuah meja saat kita datang bersama di satu tempat untuk merayakan Perjamuan Tuhan. Perjamuan itu tidak tergantung pada seberapa besar atau kecilnya gereja yang menyelenggarakannya. Bukan pula soal jenis roti yang disantap. Perjamuan Tuhan adalah saatnya kita mengalihkan pikiran kita dari segala kekhawatiran dan kegelisahan kita untuk memusatkan perhatian kepada Yesus.
Kapan terakhir kalinya kita menikmati Perjamuan Tuhan? Apakah kita menikmati kehadiran-Nya, atau apakah kita lebih memikirkan yang terjadi di tempat lain? Hal itu penting, “sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:26). —Keila Ochoa
Ajarlah kami, ya Tuhan, saat kami duduk di depan meja Perjamuan-Mu untuk memusatkan diri hanya pada kasih dan pengorbanan-Mu yang agung bagi kami. Mampukan kami untuk menikmati persekutuan bersama umat-Mu sembari mengenang karya Yesus bagi kami di Kalvari.
Mengenang kematian Kristus memberi kita keberanian untuk hari ini dan harapan untuk masa depan.

Wednesday, April 1, 2015

Sakit yang Mulia

[Yesus berkata,] “Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Yohanes 16:22
Sakit yang Mulia
Saya bertanya pada beberapa teman tentang pengalaman tersulit dan menyakitkan dalam hidup mereka. Jawaban mereka mencakup peperangan, perceraian, operasi, dan wafatnya orang yang mereka kasihi. Jawaban istri saya, “Kelahiran anak pertama kita.” Saat itu, persalinan di sebuah rumah sakit militer yang sepi tersebut berlangsung lama dan berat. Namun saat mengingat hal itu, ia merasa sangat bersukacita “karena rasa sakitnya punya maksud yang mulia.”
Sebelum Yesus disalib, Dia memberitahukan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan mengalami masa-masa yang penuh penderitaan dan kesusahan. Tuhan membandingkan pengalaman yang akan menimpa mereka itu dengan pengalaman seorang ibu saat melahirkan; penderitaannya berubah menjadi sukacita ketika bayinya lahir (Yoh. 16:20-21). “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (ay.22).
Kesusahan selalu saja ada di sepanjang jalan hidup kita. Namun Yesus, “yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr. 12:2), telah membayar lunas pengampunan dan kebebasan bagi setiap orang yang membuka hati kepada-Nya. Pengorbanan-Nya dalam penderitaan telah menggenapi maksud kekal Allah untuk memungkinkan kita menjalin persahabatan dan persekutuan dengan-Nya.
Sukacita Juruselamat kita, saat mengatasi penderitaan-Nya, sama seperti sukacita dari-Nya saat mengatasi penderitaan kita. —David McCasland
Ya Bapa, Yesus, Anak-Mu yang mulia memilih untuk menderita bagiku. Terima kasih atas pengorbanan-Nya untuk menggantiku. Terima kasih karena penderitaanku pun bisa Engkau pakai untuk menjadikanku serupa dengan-Nya.
Penderitaan dapat semakin menarik orang Kristen mendekat kepada Kristus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate