Pages - Menu

Friday, July 31, 2015

Dialah yang Menemukan Aku

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10
Dialah yang Menemukan Aku
Film Amazing Grace (Anugerah yang Ajaib) berlatar belakang kehidupan di akhir abad ke-18. Film itu bercerita tentang William Wilberforce, seorang politikus yang digerakkan oleh imannya kepada Kristus untuk menyalurkan uang dan tenaganya guna menghentikan perdagangan budak di Inggris. Dalam salah satu adegan, kepala pelayan rumah tangga Wilberforce melihat tuannya itu sedang berdoa, lalu ia bertanya, “Apakah tuan menemukan Allah?” Wilberforce menjawab, “Kupikir Dialah yang menemukan aku.”
Alkitab melukiskan kemanusiaan sebagai domba yang menyeleweng dan terhilang. Dikatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (Yes. 53:6). Bahkan, kondisi menyeleweng tersebut sedemikian mengakar di dalam diri kita hingga Rasul Paulus pun mengatakan: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng” (Rm. 3:10-12). Itulah mengapa Yesus datang. Kita tidak akan pernah mencari Dia, maka Dialah yang datang mencari kita. Yesus menyatakan misi-Nya dengan kalimat berikut, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10).
Wilberforce sangatlah tepat. Yesus datang untuk menemukan kita, karena kita tidak akan pernah dapat menemukan Dia dengan upaya kita sendiri. Inilah pernyataan yang jelas dari kasih Sang Pencipta bagi umat ciptaan-Nya yang terhilang, yaitu bahwa Dia terus mencari kita dan rindu menjadikan kita milik-Nya. —Bill Crowder
Ajaib benar anugerah, pembaru hidupku! ‘Ku hilang, buta, bercela; oleh-Nya ‘ku sembuh. (Kidung Jemaat No. 40) —John Newton
Dahulu hilang, kini ditemukan. Ku bersyukur selamanya!

Thursday, July 30, 2015

Kekuatan Abu-Abu

Seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang. —Yosua 14:11
Kekuatan Abu-Abu
Seniman asal Belanda, Yoni Lefevre, menciptakan suatu proyek yang dinamakan “Kekuatan Abu-Abu” untuk menunjukkan vitalitas dari para kaum lanjut usia di Belanda. Ia meminta anak-anak sekolah setempat untuk menggambar sketsa dari kakek dan nenek mereka. Lefevre ingin menunjukkan “kejujuran dan kemurnian pandangan” dari kaum lanjut usia, dan ia percaya bahwa anak-anak dapat membantu untuk menunjukkannya. Gambar anak-anak itu memberikan sudut pandang yang berbeda dan nyata tentang generasi yang lebih tua—dengan kakek dan nenek yang digambarkan sedang bermain tenis, berkebun, melukis, dan banyak lagi!
Kaleb adalah pria asal Israel kuno yang tetap kuat sampai masa tuanya. Di masa mudanya, ia menyusup ke Tanah Perjanjian sebelum bangsa Israel menaklukkannya. Kaleb percaya bahwa Allah akan menolong bangsanya mengalahkan bangsa Kanaan, tetapi mata-mata yang lain tidak sependapat (Yos. 14:8). Karena iman Kaleb, secara ajaib Allah menopang hidupnya selama 45 tahun sehingga ia berhasil mengembara di padang gurun dan memasuki Tanah Perjanjian. Ketika akhirnya tiba waktunya untuk memasuki Kanaan, Kaleb yang sudah berusia 85 tahun mengatakan, “Seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang” (ay.11). Dengan pertolongan Allah, Kaleb berhasil mengambil bagiannya atas tanah itu (Bil. 14:24).
Allah tidak melupakan kita ketika kita semakin tua. Meskipun badan kita terus bertambah tua dan kesehatan kita menurun, Allah Roh Kudus senantiasa memperbarui batin kita dari hari ke hari (2Kor. 4:16). Roh Kudus memberi kita kesanggupan untuk bisa menjalani hidup yang penuh arti dalam setiap tahap dan usia kehidupan kita. —Jennifer Benson Schuldt
Bapa Surgawi, aku tahu bahwa kekuatan tubuhku dan kesehatanku bisa menurun. Namun aku berdoa, kiranya Engkau akan terus memperbarui iman dan kerohanianku agar aku dapat melayani-Mu dengan setia selama aku hidup.
Dengan dorongan dari kekuatan Allah dan tangan-Nya yang menopangmu, kamu dapat menghadapi apa pun di depanmu.

Wednesday, July 29, 2015

Sampah Siapa?

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat . . . . Itulah yang menajiskan orang. —Matius 15:19-20
Sampah Siapa?
Apa mereka tak bisa membuang sampah mereka sendiri ke tempat sampah sedekat ini?” gerutu saya kepada Jay sembari memunguti botol-botol kosong di tepi pantai dan melemparnya ke tempat sampah yang jauhnya kurang dari 6 M. “Apakah meninggalkan pantai dalam keadaan kotor dan berantakan untuk orang lain membuat mereka merasa lebih baik? Aku berharap mereka itu turis. Aku tak bisa membayangkan kalau ada penduduk di sini yang memperlakukan pantai kita seenaknya saja.”
Tepat keesokan harinya secara tak sengaja saya menemukan sebuah doa yang saya tulis bertahun-tahun sebelumnya tentang sikap menghakimi orang lain. Tulisan saya sendiri telah mengingatkan akan kesalahan saya yang berbangga karena membersihkan sampah orang lain. Padahal kenyataannya, saya sendiri memiliki begitu banyak sampah yang saya abaikan begitu saja, terutama dalam hal rohani.
Saya bisa dengan cepat mengaku-ngaku bahwa saya tidak dapat membereskan hidup saya karena orang lain yang selalu membuatnya berantakan. Saya juga bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa “sampah” yang menimbulkan bau tak sedap di sekeliling saya adalah milik orang lain dan bukan milik saya sendiri. Namun itu semua tidak benar. Tak ada sesuatu pun di luar diri saya yang dapat menjatuhkan atau mencemari saya—hanya yang ada di dalam diri sayalah yang dapat melakukannya (Mat. 15:19-20). Sampah yang sesungguhnya adalah sikap saya yang menutup hidung ketika mencium sedikit bau dosa orang lain dan mengabaikan bau busuk dari dosa saya sendiri. —Julie Ackerman Link
Ampuni aku, Tuhan, karena tidak mau membuang “sampahku” sendiri. Bukalah mataku untuk melihat bagaimana kesombongan merusak ciptaan-Mu yang alami dan rohani. Kiranya aku tak mengambil bagian di dalamnya.
Umumnya kita rabun dekat terhadap dosa—kita dapat melihat dosa orang lain tetapi melewatkan dosa kita sendiri.

Tuesday, July 28, 2015

Memegang Pensil

Dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu. —Hakim-Hakim 2:19
Memegang Pensil
Dahulu di kelas satu, ketika saya belajar menulis huruf, ibu guru mengharuskan saya memegang pensil dengan cara tertentu. Manakala ia mengawasi saya, saya berusaha memegang pensil sesuai dengan cara yang diajarkannya. Namun saat ia berpaling ke arah lain, saya pun bersikeras kembali memegang pensil dengan cara yang saya anggap lebih nyaman.
Waktu itu saya pikir sayalah yang benar jadi saya masih tetap memegang pensil sesuai cara saya sendiri. Namun puluhan tahun kemudian, saya menyadari bahwa guru saya yang bijak itu tahu bahwa kebiasaan saya yang tidak benar dalam memegang pensil akan membuat saya terbiasa menulis dengan cara yang buruk dan akibatnya tangan saya menjadi lebih cepat lelah.
Anak-anak jarang mengerti apa yang baik untuk mereka. Mereka hampir melakukan segala sesuatu menurut apa yang mereka inginkan pada saat itu juga. Mungkin itulah mengapa umat Israel disebut “anak-anak Israel”, karena dari generasi ke generasi, mereka bersikeras menyembah ilah bangsa-bangsa di sekeliling mereka daripada menyembah Allah yang esa dan sejati. Perbuatan mereka membangkitkan murka Tuhan karena Dia tahu apa yang terbaik, dan Dia menjauhkan berkat-Nya dari mereka (Hak. 2:20-22).
Pendeta Rick Warren berkata, “Ketaatan dan sikap keras kepala adalah dua sisi dari koin yang sama. Ketaatan akan membawa sukacita, tetapi sikap keras kepala membuat kita sengsara.”
Jika jiwa yang memberontak telah membuat kita menolak untuk menaati Allah, sudah saatnya hati kita berubah. Kembalilah kepada Tuhan; Dia itu murah hati dan berbelas kasihan. —Cindy Hess Kasper
Bapa Surgawi, Engkau penuh kasih dan murah hati, dan bersedia mengampuni saat kami datang kembali kepada-Mu. Kiranya kami mengejar-Mu dengan sepenuh hati dan tak bersikap keras kepala dengan mengingini sesuatu menurut cara kami.
Awalnya kita membentuk kebiasaan; kemudian kebiasaan itu membentuk kita.

Monday, July 27, 2015

Pemeriksaan Rutin

Selidikilah aku, ya Allah, . . . lihatlah, apakah jalanku serong. —Mazmur 139:23-24
Pemeriksaan Rutin
Tibalah saatnya bagi saya untuk pergi ke dokter guna menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan. Meskipun saya merasa baik-baik saja dan tidak mengalami gangguan kesehatan apa pun, saya tahu bahwa pemeriksaan rutin itu penting karena pemeriksaan tersebut dapat menyingkapkan masalah-masalah tersembunyi, yang jika dibiarkan akan dapat berkembang menjadi penyakit serius. Saya tahu bahwa dengan memberikan izin kepada dokter untuk menemukan dan mengobati masalah kesehatan yang tak kelihatan itu, saya akan memiliki kesehatan yang baik untuk jangka panjang.
Jelas bahwa pemazmur merasakan hal yang serupa secara rohani. Ketika pemazmur memohon agar Allah menyingkapkan dosanya yang tersembunyi, ia berdoa, “Selidikilah aku, ya Allah, . . . lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mzm. 139:23-24). Dengan berdiam diri guna memberikan kesempatan kepada Allah untuk menyelidikinya secara menyeluruh dan tanpa syarat, pemazmur pun menundukkan dirinya pada jalan-jalan Allah yang benar, yang akan membuatnya tetap sehat secara rohani.
Jadi, walaupun kamu merasa baik-baik saja, inilah saat yang tepat untuk menjalani pemeriksaan rutin! Hanya Allah yang mengenali kondisi hati kita yang sebenarnya, dan hanya Dia yang dapat mengampuni, menyembuhkan, dan membimbing kita pada kehidupan yang bersih dan masa depan yang berbuah lebat. —Joe Stowell
Tuhan, Engkau mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri. Selidikilah bagian hatiku yang terdalam, lihatlah apa saja yang tidak berkenan kepada-Mu. Bersihkanlah aku dari jalanku yang menyimpang dan tuntunlah aku di jalan-Mu yang baik dan benar.
Pekerjaan Allah di dalam diri kita belum berakhir ketika kita menerima keselamatan—justru itu baru saja dimulai.

Sunday, July 26, 2015

Hati yang Mengabdi

Ia . . . melakukan apa yang benar di mata TUHAN. —2 Tawarikh 20:32
Hati yang Mengabdi
Seorang pebisnis Kristen yang sukses membagikan ceritanya kepada kami di gereja. Ia begitu jujur dan terbuka menyebutkan pergumulannya dalam iman dan kekayaannya yang melimpah. Ia menyatakan, “Kekayaan membuatku takut!” Ia mengutip perkataan Yesus, “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Luk. 18:25).
Ia mengutip Lukas 16:19-31 tentang seorang kaya dan Lazarus, dan bagaimana dalam kisah itu, justru orang kaya yang masuk ke neraka. Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk. 12:16-21) juga mengusik pikirannya.
“Akan tetapi,” pebisnis itu kemudian menyatakan, “aku telah belajar dari keputusan Salomo mengenai kekayaan yang berlimpah. Itu semua adalah ‘kesia-siaan’” (Pkh. 2:11). Ia bertekad untuk tidak membiarkan kekayaannya menghalangi pengabdiannya kepada Allah. Sebaliknya, ia ingin melayani Allah dengan harta miliknya dan menolong orang yang berkekurangan.
Selama berabad-abad, Allah telah memberkati sejumlah orang dengan harta benda. Kita membaca tentang Yosafat dalam 2 Tawarikh 17:5, “Oleh sebab itu, TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya . . . sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat.” Yosafat tidak menjadi sombong atau menindas orang lain dengan kekayaannya. Sebaliknya, “dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN” (ay.6). Selain itu, “ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN” (20:32).
Tuhan tidak menentang kekayaan karena Dia memberkati sejumlah orang dengan harta, tetapi yang dikecam-Nya adalah usaha memperoleh kekayaan secara tidak etis dan penyalahgunaannya. Allah layak menerima pengabdian dari semua pengikut-Nya. —Lawrence Darmani
Bersyukur kepada Allah sering menolong kita untuk belajar merasa puas dengan apa yang kita miliki. Apa saja yang membuat kamu bersyukur?

Saturday, July 25, 2015

Berjalan Bersama Tuhan

TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. —Mazmur 37:23
Berjalan Bersama Tuhan
Sebuah pamflet kecil yang saya terima dari seorang teman diberi judul “An Attempt to Share the Story of 86 Years of Relationship with the Lord” (Kerinduan untuk Membagikan Pengalaman 86 Tahun Bersekutu dengan Tuhan). Di pamflet itu, Al Ackenheil menyebutkan sejumlah nama dan kejadian penting dalam perjalanan imannya selama hampir sembilan dekade. Perbuatan yang seolah-olah biasa pada masa lalu—menghafal ayat Alkitab, mengikuti persekutuan doa, bersaksi kepada tetangga tentang Yesus—ternyata menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Sungguh menarik membaca tentang karya tangan Allah dalam menuntun dan menguatkan Al.
Pemazmur menulis, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” (Mzm. 37:23). Mazmur tersebut selanjutnya memberikan gambaran indah tentang pemeliharaan Allah yang setia atas siapa pun yang mau berjalan bersama-Nya. “Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah” (ay.31).
Setiap dari kita dapat membuat sebuah catatan tentang tuntunan dan kesetiaan Allah, dengan merenungkan tuntunan Allah—beragam orang, tempat, dan pengalaman yang menjadi tonggak perjalanan iman kita. Setiap hal yang mengingatkan kita pada kebaikan Tuhan dapat mendorong kita untuk terus berjalan bersama-Nya dan untuk berterima kasih kepada orang-orang yang mempengaruhi hidup kita selamanya.
Tuhan menuntun dan menjaga setiap orang yang berjalan bersama-Nya. —David McCasland
Bapa Surgawi, kesetiaan-Mu kepada kami tak pernah berakhir. Terima kasih karena Engkau telah menuntun, memandu, dan menyediakan begitu banyak orang yang mendukung dan membimbing iman kami. Berkatilah mereka yang telah banyak menolong kami.
Kamu berjalan ke arah yang tepat apabila kamu berjalan bersama Allah.

Friday, July 24, 2015

Bersuara

Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. —Lukas 22:54
Bersuara
Ketika mendengar cerita mengenai anak-anak muda yang sering mengalami intimidasi, saya memperhatikan adanya paling sedikit dua tingkat penderitaan. Tingkat pertama yang paling nyata datang dari mereka yang mempunyai niat jahat, yaitu mereka yang melakukan intimidasi. Perbuatan itu saja sudah sangat buruk. Namun ada lagi derita lain yang lebih dalam dan dampaknya bisa jauh lebih parah daripada derita yang pertama: Sikap diam membisu dari orang-orang yang mengetahuinya.
Kebisuan itu melukai korban intimidasi, ketika mereka tidak menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang akan menolong mereka. Sikap itu sering membuat pelaku intimidasi semakin menjadi-jadi dalam melakukan aksinya. Lebih buruk lagi, sikap diam membuat korban semakin merasa malu, terhina, dan kesepian. Jadi alangkah pentingnya bersuara bagi orang lain dan berani berbicara untuk mengecam perlakuan keji itu (lihat Ams. 31:8a).
Yesus tahu persis bagaimana rasanya diintimidasi dan ditinggalkan seorang diri di tengah penderitaan-Nya. Tanpa ada alasan, Yesus ditahan, dipukuli, dan dicemooh (Luk. 22:63-65). Matius 26:56 mengatakan, “Semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.” Petrus, salah seorang kawan terdekat Yesus, justru tiga kali menyangkal bahwa ia mengenal-Nya (Luk. 22:61). Meskipun orang lain mungkin tidak mengerti sepenuhnya, tetapi Yesus sepenuhnya mengerti.
Ketika melihat orang lain sedang dilukai, kita dapat meminta dari Tuhan keberanian untuk bersuara. —Randy Kilgore
Tuhan, buatlah kami berani membela mereka yang membutuhkan keberanian kami. Tolonglah kami untuk bersuara bagi orang lain dan menunjukkan kepada mereka bahwa Engkau mengetahui penderitaan dan kesendirian mereka.
Suara Allah bergema melalui suara seorang Kristen yang berani.

Thursday, July 23, 2015

Bahan yang Ajaib

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? —Yesaya 40:25
Bahan yang Ajaib
Siaran berita CNN menyebut suatu senyawa grafit sebagai “bahan yang ajaib” yang dapat mempengaruhi masa depan kita secara luar biasa. Grafena (graphene)—serat yang terdiri hanya dari satu lapis atom karbon—disebut-sebut sebagai satu-satunya material dua dimensi di tengah dunia tiga dimensi yang kita diami ini. Grafena berdaya tahan 100 kali lebih kuat daripada baja, lebih keras daripada intan, dapat mengalirkan listrik 1.000 kali lebih baik daripada tembaga, dan lebih lentur daripada karet.
Perkembangan teknologi seperti itu pada dasarnya bersifat netral—tidak baik tetapi tidak juga jahat. Namun kita perlu dengan bijak mengingat adanya keterbatasan dari segala sesuatu yang kita ciptakan untuk diri sendiri.
Nabi Yesaya berbicara pada sebuah generasi yang masih membawa ilah-ilah yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri ke tempat mereka dibuang. Sang nabi menghendaki orang Israel untuk melihat betapa ironisnya ketika mereka merasa perlu memberikan perhatian pada ilah-ilah berbahan emas dan perak yang telah mereka bentuk sendiri untuk mengilhami, menolong, menghibur, dan melindungi mereka.
Apa yang berlaku bagi bangsa Israel juga berlaku bagi kita di masa kini. Tidak ada satu pun yang kita buat atau yang kita beli untuk diri sendiri yang dapat memenuhi kebutuhan hati kita. Hanya Allah, yang telah memelihara kita “sejak dari kandungan” (Yes. 46:3-4), yang dapat memelihara kita hingga masa mendatang. —Mart DeHaan
Bapa, terima kasih untuk keajaiban dari persekutuan kami dengan-Mu. Tolonglah kami untuk tidak bergantung pada usaha, kekuatan, atau harta kami. Sebaliknya, kiranya kami senantiasa merasakan perhatian-Mu kepada kami.
Ilah adalah segalanya yang menggantikan posisi Allah yang seharusnya.

Wednesday, July 22, 2015

Pertukaran

Aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5
Pertukaran
Jen duduk di teras rumahnya sambil merenungkan sebuah pertanyaan yang menakutkan: Apakah ia perlu menulis sebuah buku? Selama ini ia suka menulis di blog dan berbicara di depan umum, tetapi ia merasa bahwa Allah mungkin menghendakinya berbuat lebih banyak lagi. “Aku bertanya kepada Allah apakah Dia mau aku melakukan ini,” katanya. Ia berbicara kepada Allah dan memohon bimbingan-Nya.
Jen mulai bertanya-tanya apakah Allah ingin supaya ia menulis tentang kecanduan suaminya terhadap pornografi dan karya Allah di dalam hidupnya dan pernikahan mereka. Namun kemudian ia berpikir bahwa hal itu mungkin akan mempermalukan suaminya di muka umum. Jadi ia berdoa, “Bagaimana jika kami menulis buku itu bersama-sama?” Ia menanyakan hal itu kepada suaminya, Craig, yang kemudian menyetujuinya.
Meskipun tidak menyebutkan dosa yang telah diperbuatnya, Raja Daud mengungkapkan pergumulannya kepada orang banyak. Ia bahkan menuliskannya dalam sebuah lagu. “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu,” tulisnya (Mzm. 32:3). Jadi, ia berkata, “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku” (ay.5). Memang tidak setiap orang harus mengemukakan pergumulan pribadi mereka di depan umum, tetapi ketika Daud mengakui dosanya, ia menemukan kedamaian dan penyembuhan yang mengilhaminya untuk menyembah Allah.
Craig dan Jen mengatakan bahwa proses penulisan kisah mereka yang sangat pribadi itu telah membawa keduanya lebih dekat satu sama lain. Alangkah serupanya itu dengan Allah, yang bersedia menukar kesalahan, rasa malu, dan keterasingan kita dengan pengampunan, keteguhan hati, dan persekutuan dengan-Nya! —Tim Gustafson
Apakah kamu merasa perlu menukarkan kesalahanmu dengan pengampunan Allah? Dia sedang menantikanmu.
Allah mengampuni mereka yang mengakui kesalahan mereka.

Tuesday, July 21, 2015

Menemani

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati. —Mazmur 34:19
Menemani
Sahabat saya sedang menghadapi sejumlah masalah berat dalam hidupnya dan keluarganya. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan atau lakukan, dan saya mengungkapkan hal itu kepadanya. Ia menatap saya dan berkata, “Cukup temani aku.” Itulah yang saya lakukan, dan kemudian kami berbicara tentang kasih Allah.
Sering sekali kita tidak tahu bagaimana harus memberikan tanggapan ketika orang lain sedang berduka, sementara kata-kata kita mungkin lebih menyakiti daripada menghibur. Dalam melayani orang lain, kita perlu memahami mereka dan mengetahui apa yang mereka butuhkan. Sering kali kita dapat membantu dengan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun salah satu cara terbaik untuk menguatkan mereka yang sedang menderita adalah dengan menemani mereka—dengan duduk di samping mereka dan mendengarkan.
Allah itu dekat kepada kita pada saat kita berseru kepada-Nya. “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya,” kata pemazmur. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm. 34:18-19).
Dengan menempatkan diri kita pada keadaan orang lain dan membuka hati kita untuk merasakan belas kasihan, kita dapat menolong mereka yang terluka. Kita dapat menemani mereka seperti Allah menyertai kita dan duduk di samping mereka. Pada waktu yang tepat, Roh Kudus akan memberi kita kata-kata untuk diucapkan, apabila itu memang diperlukan. —Keila Ochoa
Siapa sajakah yang membutuhkan bantuanmu atau keberadaanmu untuk menemani mereka Minggu ini?
Cara terbaik untuk menguatkan orang lain mungkin cukup dengan menemani mereka.

Monday, July 20, 2015

Pelayanan yang Setia

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. —2 Timotius 2:3
Pelayanan yang Setia
Karena pernah bertugas di Perang Dunia I, C. S. Lewis tidak asing lagi dengan tekanan dalam dinas militer. Dalam sebuah pidato pada khalayak umum semasa Perang Dunia II, ia dengan fasih melukiskan kesukaran yang harus dihadapi seorang prajurit: “Segala hal yang kita takutkan dari segala jenis penderitaan . . . ditemukan dalam kehidupan seorang prajurit yang sedang bertugas. Seperti penyakit yang menyebabkan penderitaan dan kematian. Seperti kemiskinan yang membuat seseorang tak mempunyai tempat berlindung, kedinginan, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Seperti perbudakan yang menyebabkan seseorang harus kerja paksa, menerima penghinaan, perlakuan tidak adil, dan peraturan yang sewenang-wenang. Seperti pengasingan yang memisahkan kita dari segala sesuatu yang kita kasihi.”
Paulus menggunakan analogi tentang seorang prajurit yang mengalami penderitaan untuk menggambarkan pencobaan yang dapat dialami seorang percaya dalam pelayanannya kepada Kristus. Paulus—di penghujung hidupnya—telah setia menderita demi Injil. Ia mendorong Timotius untuk melakukan hal yang sama: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2Tim. 2:3).
Melayani Kristus membutuhkan ketekunan. Kita mungkin menemui rintangan berupa kesehatan yang buruk, hubungan dengan sesama yang bermasalah, atau keadaan-keadaan yang sulit. Namun sebagai seorang prajurit yang baik, kita terus maju—dengan kekuatan Allah—karena kita melayani Raja dari segala raja dan Tuhan dari segala tuan yang bersedia menyerahkan diri-Nya bagi kita! —Dennis Fisher
Bapaku, tolonglah aku untuk setia dalam melayani-Mu. Terima kasih untuk kekuatan dari Engkau yang menolongku bertahan di tengah penderitaan.
Kasih Allah tidak menghindarkan kita dari beragam pencobaan, melainkan membimbing kita untuk melalui semua pencobaan itu.

Sunday, July 19, 2015

Memuji Allah yang Hidup

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. —Efesus 1:3
Memuji Allah yang Hidup
Pada tahun 2005, saat Rosa Parks, pahlawan hak sipil Amerika, meninggal dunia, Oprah Winfrey merasa terhormat atas kesempatan untuk memberikan eulogi pada mendiang. Tentang wanita yang menolak memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang pria kulit putih di tahun 1955 tersebut, Oprah berkata, “Saya sering memikirkan tentang risikonya— mengingat suasana masa itu dan apa yang bisa menimpa Rosa—risiko dari mempertahankan tempat duduk itu. Rosa bertindak tanpa mempedulikan dirinya sendiri dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.”
Kita sering memakai kata eulogi yang mengacu pada kata sambutan yang diucapkan di suatu pemakaman. Namun eulogi juga dapat dipakai dalam situasi-situasi lain ketika kita memberikan penghargaan atau pujian terhadap seseorang. Dalam kalimat pembukaan kitab Efesus, Paulus memberikan eulogi kepada Allah yang hidup. Saat berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa,” kata “terpujilah” itu bermakna sebagai “eulogi”. Paulus mengundang jemaat Efesus untuk bergabung dengannya dalam memuji Allah atas segala berkat rohani yang telah mereka terima: Allah telah memilih dan menjadikan mereka anak-anak-Nya; Yesus telah menebus, mengampuni, dan menyatakan rahasia Injil kepada mereka; dan Roh Kudus telah menjamin dan memeteraikan mereka. Keselamatan agung itu sepenuhnya adalah karya Allah oleh kasih karunia-Nya.
Marilah terus memusatkan pikiran kita pada berkat-berkat Allah di dalam Kristus. Saat kita melakukannya, seperti Paulus, hati kita akan penuh melimpah dengan eulogi yang mengumandangkan: “Terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia.” —Marvin Williams
Bapa yang termulia, aku begitu kagum akan kasih karunia-Mu. Sudah sepantasnya aku memuji-Mu senantiasa. Terima kasih telah memilihku, menjadikanku anak-Mu, menebusku, mengampuniku, dan menyatakan rahasia Injil kepadaku.
Pujian adalah nyanyian yang keluar dari jiwa yang telah dimerdekakan.

Saturday, July 18, 2015

Semaunya Sendiri

Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. —2 Raja-Raja 5:15
Semaunya Sendiri
Ada dua anak laki-laki sedang memainkan suatu permainan yang rumit dengan menggunakan sejumlah tongkat dan tali. Setelah beberapa menit anak yang lebih tua berkata dengan marah kepada temannya, “Kamu tak bermain dengan benar. Ini permainanku, dan kita mainkan sesuai aturanku. Kamu tak boleh main lagi!” Sejak usia muda pun, sudah ada keinginan untuk melakukan segala sesuatu semaunya sendiri!
Naaman adalah seseorang yang sudah terbiasa dituruti kemauannya. Ia merupakan seorang panglima pasukan raja Aram. Namun Naaman juga menderita suatu penyakit yang tak tersembuhkan. Pada suatu hari, pelayan istrinya, seorang anak perempuan yang telah ditawan dari negeri Israel, mengusulkan agar Naaman mencari kesembuhan dari Elisa, sang nabi Allah. Naaman sudah putus asa sehingga ia menuruti nasihat itu, tetapi ia mau supaya nabi itu yang datang kepadanya. Ia berharap disambut dengan upacara besar dan penghormatan. Maka ketika Elisa hanya mengirim sebuah pesan yang meminta Naaman untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan, Naaman menjadi marah dan menolaknya (2Raj. 5:10-12). Setelah akhirnya Naaman merendahkan diri dan melakukannya sesuai dengan cara Allah, barulah ia disembuhkan (ay.13-14).
Adakalanya kita juga mungkin berkata kepada Allah, “Aku akan melakukannya semauku sendiri.” Namun cara Allah selalu yang terbaik. Oleh sebab itu, marilah kita meminta Allah untuk memberi kita kerendahan hati agar kita lebih rela mengikuti cara-Nya daripada cara kita sendiri. —Marion Stroud
Bapa, ampunilah aku atas kesombonganku dan karena aku sering merasa paling tahu apa yang terbaik untukku. Berilah aku kerendahan hati agar rela mengikuti kehendak-Mu dalam segala hal.
Kerendahan hati berarti memberikan penilaian yang benar terhadap diri sendiri. —Charles Spurgeon

Friday, July 17, 2015

Air Mata Seorang Remaja

Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. —Roma 9:2
Air Mata Seorang Remaja
Ketika saya sedang duduk dengan empat anak remaja dan seorang pria tunawisma berumur 20-an di sebuah dapur umum di Alaska, saya dibuat terharu oleh belas kasihan yang ditunjukkan para remaja tersebut terhadap pria tunawisma itu. Mereka sungguh-sungguh mendengarkan ketika pria itu bercerita tentang apa yang ia percaya, dan kemudian dengan lemah lembut mereka membagikan Injil kepada pria tersebut—menawarkan pengharapan di dalam Yesus dengan penuh kasih. Sayangnya, pria tersebut menolak untuk mempertimbangkan dengan serius kabar Injil tersebut.
Ketika kami beranjak meninggalkan tempat itu, Grace, salah seorang dari remaja itu, menyatakan sambil berlinang air mata, bahwa ia tidak mau pria tersebut meninggal tanpa mengenal Yesus. Dari dasar hatinya, ia berduka untuk pemuda itu, yang pada saat tersebut, menolak cinta kasih Juruselamat.
Air mata remaja itu mengingatkan saya kepada Rasul Paulus yang melayani Tuhan dengan rendah hati dan sangat berdukacita untuk saudara-saduara sebangsanya. Ia menginginkan mereka agar percaya kepada Kristus (Rm. 9:1-5). Belas kasihan Paulus dan keprihatinannya pasti telah membuatnya sering meneteskan air mata.
Apabila kita memang peduli terhadap sesama kita yang belum menerima anugerah pengampunan Allah melalui Kristus, kita akan berusaha untuk dapat membagikan kabar baik itu kepada mereka. Dengan keyakinan iman kita dan air mata belas kasihan, marilah kita membagikan kabar baik itu kepada mereka yang perlu mengenal Juruselamat. —Dave Branon
Adakah seseorang yang ingin kamu ajak bicara tentang Yesus hari ini?
Mengabarkan Injil berarti satu orang menceritakan kabar baik kepada orang lain.

Thursday, July 16, 2015

Nama yang Diberikan

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. —Matius 1:21
Nama yang Diberikan
Kebanyakan keluarga mempunyai kisah mereka masing-masing. Salah satu kisah dalam keluarga kami adalah cerita tentang bagaimana saya memperoleh nama saya. Rupanya, saat orangtua saya baru menikah, mereka berbeda pendapat tentang nama yang akan diberikan kepada anak laki-laki sulung mereka. Ibu saya menginginkan nama anak laki-lakinya sama dengan nama Ayah, tetapi Ayah tidak mau menamai anaknya “Junior”. Setelah berdiskusi cukup lama, mereka akhirnya sepakat untuk menamai anak laki-laki mereka sama dengan nama Ayah, hanya apabila anak itu lahir persis di hari ulang tahun Ayah. Yang menakjubkan, saya lahir tepat di hari ulang tahun Ayah. Maka saya pun diberi nama yang persis sama dengan nama Ayah dengan tambahan kata “Junior”.
Pemberian nama pada anak-anak sudah berlangsung sejak awal peradaban manusia. Ketika Yusuf bergumul dengan kabar bahwa tunangannya, Maria, sedang hamil, seorang malaikat memberinya petunjuk dari Allah Bapa tentang nama dari Bayi tersebut. “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Tidak saja menjadi sebuah nama, nama Yesus juga menjelaskan alasan kedatangan-Nya ke dunia, yakni menanggung hukuman akibat dosa yang seharusnya kita tanggung. Maksud penebusan dibalik kelahiran-Nya itu tercakup dalam pemberian sebuah Nama yang sempurna di atas segala nama.
Kiranya hati kita selalu rindu untuk menjalani hidup dengan meninggikan nama Yesus yang indah itu! —Bill Crowder Jr.
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau mengutus Anak-Mu untuk menyelamatkan kami dari dosa dan membawa kami ke dalam persekutuan dengan-Mu.
Dalam nama Yesus terkandung misi yang diemban-Nya.

Wednesday, July 15, 2015

Hati yang Diubahkan

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. —Amsal 4:23
Hati yang Diubahkan
Di awal dekade 1970-an di Ghana, terpampang sebuah poster berjudul “The Heart of Man” (Hati Manusia) di banyak dinding dan papan pengumuman layanan masyarakat. Di salah satu gambarnya, ada berbagai jenis reptil—simbol dari segalanya yang buruk dan tercela—memenuhi lukisan berbentuk hati dengan gambar kepala seorang pria yang sangat tidak bahagia di atasnya. Sementara itu, di gambar yang lain, terlukis hati yang bersih dan teduh dan di atasnya ada lukisan kepala seorang pria yang bahagia. Di bawah kedua gambar hati itu ada tulisan: “Bagaimana keadaan hatimu?”
Di Matius 15:18-19, Yesus menjelaskan tentang apa yang mencemari seseorang. “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Itulah keadaan sebuah hati yang terpisah dari Allah—dan juga keadaan bangsa Israel kuno yang harus masuk ke dalam pembuangan karena dosa-dosa mereka (YEH. 36:23).
Janji Allah dalam Yehezkiel 36:26 begitu indah: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (lihat juga 11:19). Allah akan menjauhkan hati kita yang begitu keras, yang sudah tercemari berbagai macam kejahatan, dan memberi kita sebuah hati yang bersih dan taat kepada-Nya. Terpujilah Allah untuk anugerah-Nya yang begitu ajaib. —Lawrence Darmani
Bapa di surga, terima kasih karena ketika kami mengakui dosa kami kepada-Mu, Engkau memberi kami hati yang baru dan hidup yang baru. Aku berdoa kiranya hidup yang kujalani ini mencerminkan indahnya anugerah-Mu dan agar sesamaku dapat melihat perubahan diri yang telah diciptakan oleh hati baruku ini!
Untuk awal yang baru, mintalah kepada Allah sebuah hati yang baru.

Tuesday, July 14, 2015

Manusia Biasa Seperti Kita

Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. —Matius 9:38
Manusia Biasa Seperti Kita
Pada akhir abad ke-19, William Carey merasakan sebuah panggilan untuk pergi ke India sebagai seorang misionaris yang memberitakan kabar baik tentang Yesus. Para hamba Tuhan di sekeliling Carey mencemoohnya: “Anak muda, jika Allah ingin menyelamatkan [jiwa orang] di India, Dia akan melakukannya tanpa perlu bantuan darimu atau dariku!” Mereka tidak memahami arti penting dari kerja sama. Sangat sedikit yang dilakukan Allah di atas bumi ini tanpa melibatkan manusia biasa seperti kita.
Sebagai rekan sekerja Allah di atas bumi, kita meyakini bahwa kehendak Allah akan terlaksana sementara di saat yang sama kita sendiri mengabdikan diri dalam pekerjaan apa pun yang harus kita lakukan. Yesus mengajar kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu” (MAT 6:10). Kata-kata doa tersebut bukanlah permintaan yang sepele, melainkan tuntutan ilahi. Kami menuntut keadilan! Luruskanlah dunia ke jalan yang benar!
Kita dan Allah mempunyai peran yang berbeda. Peran kita adalah mengikuti langkah Yesus dengan menunaikan pekerjaan dari Kerajaan Surga melalui perbuatan maupun doa kita.
Mengutip ungkapan Paulus di Kolose 1:24, kita adalah tubuh Kristus di bumi. Mereka yang kita layani juga dilayani oleh Kristus. Ketika kita meneruskan belas kasihan kepada orang-orang yang terluka, kita sedang mengulurkan tangan Kristus itu sendiri. —Philip Yancey
Tuhan, Engkau telah menyebut kami sebagai sahabat-Mu. Dengan cara yang sederhana, tolonglah kami untuk menunjukkan kasih-Mu pada dunia yang terluka ini agar mereka dapat mengenal-Mu.
Harapkanlah hal-hal yang besar dari Allah; usahakanlah hal-hal yang besar bagi Allah. —William Carey

Monday, July 13, 2015

Bukan Ucapan Selamat Jalan

Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. —Filipi 4:9
Bukan Ucapan Selamat Jalan
Francis Allen pernah membimbing saya untuk mengenal Yesus, dan hampir tiba saatnya bagi Francis untuk berpulang dan bertemu Yesus muka dengan muka. Saya berada di rumahnya ketika waktunya makin dekat untuk mengucapkan selamat jalan. Saya ingin mengucapkan sesuatu yang berkesan dan berarti.
Hampir satu jam, saya berdiri di samping ranjangnya. Ia tertawa begitu lepas mendengar cerita saya. Setelah itu kami pun berbincang serius, dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia membahas beberapa bagian dalam hidup saya yang menurutnya masih perlu diperbaiki. Saya mendengarkannya, sambil mencari cara untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.
Sebelum saya sempat bicara, ia berkata, “Randy, ingatlah apa yang selalu kukatakan kepadamu. Tak ada yang perlu kita takuti karena kita tahu akhir kisahnya. Aku tak takut. Lakukan saja apa yang kuajarkan padamu.” Kata-katanya yang menantang itu mengingatkan saya pada perintah Paulus kepada orang percaya di Filipi: “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu” (Flp. 4:9).
Mata Francis di pertemuan terakhir saya itu memancarkan semangat yang sama seperti ketika pertama kali saya bertemu dengannya. Rasa takut tidak ada sama sekali dalam hatinya.
Begitu besar pengaruh Francis dalam kata-kata yang saya tulis, kisah yang saya ceritakan, dan orang-orang yang saya layani. Di sepanjang jalan hidup kita, marilah kita mengingat orang-orang yang telah membimbing kita bertumbuh di dalam iman. —Randy Kilgore
Siapa yang menjadi pembimbingmu? Apakah kamu membimbing orang lain?
Hiduplah sedemikian rupa sehingga ketika orang mengenalmu, mereka ingin mengenal Kristus.

Sunday, July 12, 2015

Melihat Melampaui Kehilangan

Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, . . . keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. —Mazmur 77:12
Melihat Melampaui Kehilangan
Penulis William Zinsser bercerita tentang kunjungan terakhirnya untuk melihat rumah tempat ia dibesarkan, suatu tempat yang sangat dicintainya di masa kecil. Ketika ia dan istri tiba di bukit di atas Teluk Manhasset dan Selat Long Island, mereka mendapati ternyata rumah itu sudah dirobohkan. Yang tersisa hanyalah sebuah lubang besar. Dengan sangat kecewa, mereka berjalan menuju ke tanggul laut terdekat. Zinsser memandangi teluk sambil menikmati pemandangan yang ada. Di kemudian hari, ia menuliskan tentang pengalamannya tersebut, “Aku merasa tenang dan tidak terlalu sedih. Pemandangannya lengkap: paduan unik dari daratan dan lautan yang begitu berkesan sampai-sampai aku masih memimpikannya.”
Pemazmur menulis tentang suatu masa yang sulit ketika jiwanya enggan dihiburkan dan lemah lesu semangatnya (Mzm. 77:3-4). Namun dalam kegelisahannya, ia mengalihkan perhatian dari kesedihan yang dirasakannya kepada Juruselamatnya, dengan berkata, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12).
Ketika dirundung kekecewaan, kita dapat memilih untuk berfokus pada kehilangan kita atau kepada Allah saja. Tuhan mengundang kita untuk memandang kepada-Nya dan menikmati seluruh kebaikan-Nya, kehadiran-Nya, dan kasih-Nya yang kekal. —David McCasland
Bapa di surga, kehidupan ini bisa menjadi indah tetapi juga mengecewakan. Kami tahu bahwa keadaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kekecewaan itu membawa kami kepada-Mu, karena hanya Engkaulah harapan sejati bagi dunia.
Pengharapan selalu terpelihara ketika kita meyakini kebaikan Allah.

Saturday, July 11, 2015

Gurun yang Tandus

Mereka tidak menderita haus, ketika Ia memimpin mereka melalui tempat-tempat yang tandus. —Yesaya 48:21
Gurun yang Tandus
Gersang, berdebu, berbahaya. Itulah padang gurun—suatu wilayah yang hanya memiliki sedikit air dan yang tidak bisa menunjang kehidupan. Gurun juga dipakai untuk melukiskan suatu tempat yang tak berpenghuni. Kehidupan di gurun memang keras dan tidak banyak orang yang mau hidup di sana. Namun, terkadang kita tak dapat menghindarinya.
Dalam Kitab Suci, umat Allah telah terbiasa dengan kehidupan gurun. Sebagian besar wilayah Timur Tengah, termasuk Israel, adalah padang gurun. Namun demikian, masih ada sejumlah daerah yang subur, seperti Lembah Yordan dan tanah di sekitar Danau Galilea. Allah memilih untuk “membesarkan keluarga-Nya” di tempat yang dikelilingi gurun, di mana Dia dapat menyatakan kebaikan-Nya kepada umat-Nya apabila mereka mempercayai Dia untuk melindungi dan memberi mereka makan sehari-hari (Yes. 48:17-19).
Di masa kini, kebanyakan dari kita tidak hidup di padang gurun secara harfiah, tetapi kita sering merasa seperti sedang berjalan melalui padang gurun. Terkadang kita melewatinya sebagai bentuk ketaatan kita. Di lain waktu, kita mendapati diri berada di padang gurun bukan oleh pilihan atau kesadaran kita. Ketika seseorang menelantarkan kita, atau penyakit menyerang tubuh kita, kita bagai terdampar di tengah padang gurun yang langka dengan sumber daya dan mengalami sulitnya bertahan hidup.
Akan tetapi, maksud utama dari pengalaman di padang gurun, baik dalam pengertian harfiah maupun kiasan, adalah untuk mengingatkan bahwa kita bergantung kepada Allah yang menopang kehidupan kita. Itulah pelajaran yang perlu kita ingat, bahkan ketika kita sedang hidup di dalam kelimpahan sekalipun. —Julie Ackerman Link
Apakah kamu sekarang hidup di dalam kelimpahan atau justru berkekurangan? Bagaimana cara Allah memelihara hidupmu? Gurun yang Tandus
Di setiap padang gurun, ada mata air anugerah yang disediakan Allah.

Friday, July 10, 2015

Meringankan Beban

[Para tua-tua Israel] bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya. —Bilangan 11:17
Meringankan Beban
Dengan sebuah sepeda, kamu dapat menarik beban yang luar biasa berat. Seorang dewasa dengan kereta gandeng khusus (dan ditambah sedikit tekad) dapat menggunakan sebuah sepeda untuk menarik beban hingga 135 kg dengan kecepatan sekitar 16 km/jam. Masalahnya: semakin berat beban yang ditarik, semakin lambat laju sepedanya. Seseorang yang menarik peralatan atau benda seberat 270 kg hanya mampu bergerak dengan kecepatan sekitar 13 km/jam.
Musa pernah memikul beban lain di tengah padang gurun, yakni beban emosional yang membuatnya kewalahan. Hasrat orang Israel untuk makan daging daripada manna telah membuat mereka menangis. Mendengar ratapan yang terus-menerus itu, Musa pun jengkel dan berkata kepada Allah, “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” (Bil. 11:14).
Seorang diri saja, Musa kekurangan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Allah menanggapi masalah itu dengan meminta Musa memilih 70 orang tua-tua yang dapat bekerja sama dengannya dan meringankan beban yang dipikulnya. Allah berfirman kepada Musa, “[Para tua-tua Israel] bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya” (ay.17).
Sebagai murid Yesus, kita juga tidak perlu memikul beban kita seorang diri. Kita memiliki Yesus—Dia selalu rela dan sanggup menolong kita. Dia juga telah memberi kita saudara-saudari seiman di dalam Tuhan untuk meringankan beban kita. Pada saat kita menyerahkan kepada-Nya segala hal yang membebani kita, Dia akan memberi kita hikmat dan pertolongan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
Siapa sajakah yang selama ini telah mendampingimu? Sudahkah kamu berterima kasih kepada mereka?
Pertolongan Allah hanya sejauh doa.

Thursday, July 9, 2015

Anugerah di dalam Hati Kita

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih. —Kolose 4:6
Anugerah di dalam Hati Kita
Beberapa tahun lalu, Jenderal Peter Chiarelli (pimpinan tertinggi kedua di jajaran Angkatan Darat AS pada masa itu) pernah dikira sebagai pelayan oleh seorang penasihat senior bagi presiden pada sebuah acara jamuan makan malam kenegaraan. Penasihat senior itu tanpa sadar meminta sang jenderal yang sedang berdiri di belakangnya untuk mengambilkannya minuman. Saat penasihat itu menyadari kesalahannya, sang jenderal dengan ramah berusaha menolongnya agar tidak merasa malu dengan mengisi ulang gelasnya, bahkan mengundangnya untuk makan malam bersama keluarganya di lain kesempatan.
Kata gracious (ramah) berasal dari kata grace (anugerah), dan itu bisa berarti perbuatan baik atau sopan-santun, seperti yang dilakukan sang jenderal. Namun kata itu bermakna lebih dalam bagi para pengikut Kristus. Kita adalah penerima anugerah—karunia ajaib yang diberikan cuma-cuma dan tak layak kita terima—yang disediakan Allah melalui Anak-Nya, Yesus (Ef. 2:8).
Karena kita telah menerima anugerah, kita patut menunjukkannya dalam cara kita memperlakukan orang lain—misalnya, dalam ucapan kita kepada mereka: “Ucapan orang arif membuat ia dihormati” (Pkh. 10:12 BIS). Anugerah yang kita hayati di dalam hati akan tercurah lewat perkataan dan perbuatan kita (Kol. 3:16-17).
Belajar menyalurkan anugerah di dalam hati kita kepada orang lain merupakan buah dari kehidupan pengikut Yesus Kristus—pemberi anugerah terbesar—yang dipenuhi oleh Roh Kudus. —Cindy Hess Kasper
Bapa di surga, tolong aku hari ini untuk berkata-kata dengan penuh kasih. Kiranya setiap perkataan dan perbuatanku menunjukkan kasih kepada orang lain dan menyenangkan-Mu, ya Tuhan, kekuatanku dan penebusku.
Anugerah Allah yang dihayati di dalam hati akan membuahkan perbuatan baik di dalam hidup.

Wednesday, July 8, 2015

Orang Biasa

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Orang Biasa
Gideon adalah orang biasa. Kisah hidupnya yang tertulis dalam kitab Hakim-Hakim 6 telah menginspirasi saya. Gideon adalah seorang petani dan mempunyai sifat pemalu. Ketika Allah memanggilnya untuk membebaskan umat Israel dari bangsa Midian, reaksi pertama Gideon adalah, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku” (Hak. 6:15). Allah berjanji bahwa Dia akan menyertai Gideon dan memampukannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya (ay.16). Ketaatan Gideon membawa kemenangan bagi Israel, dan ia pun terdaftar sebagai salah satu pahlawan iman yang agung (Ibr. 11:32).
Banyak tokoh lain yang memainkan peranan penting dalam rencana untuk melepaskan bangsa Israel dari tangan musuh yang kuat itu. Untuk memenangi pertempuran, Allah menyediakan 300 orang bagi Gideon, dan semuanya itu adalah pahlawan yang gagah perkasa. Nama-nama mereka tidak disebutkan, tetapi keberanian dan ketaatan mereka dicatat dalam Kitab Suci (Hak. 7:5-23).
Sampai hari ini, Allah masih memanggil orang-orang biasa untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia juga terus memberikan jaminan kepada kita bahwa Dia akan menyertai kita dalam melakukan tugas yang diberikan-Nya. Karena kita adalah orang-orang biasa yang dipakai oleh Allah, maka jelaslah kuasa tersebut berasal dari Allah dan bukan dari kekuatan kita sendiri. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, aku hanyalah orang biasa, tetapi Engkau Allah yang Mahakuasa. Aku mau melayani-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya dan kuatkanlah aku.
Allah memakai orang-orang biasa untuk menjalankan rancangan-Nya yang luar biasa.

Tuesday, July 7, 2015

Berjalan Perlahan

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. —Yohanes 14:16
Berjalan Perlahan
Caleb, seorang anak berusia 5 tahun, menderita kelumpuhan sementara akibat suatu penyakit yang menyerang sistem saraf. Orangtuanya yang khawatir terus berdoa dan menunggu. Beberapa bulan kemudian, ketika Caleb mulai pulih dan diizinkan bersekolah lagi, ia hanya bisa berjalan dengan tertatih-tatih.
Suatu hari ayah Caleb mengunjunginya di sekolah. Ia melihat anaknya tertatih-tatih menuruni tangga menuju lapangan bermain. Lalu ia melihat Tyler, teman Caleb, berjalan di sampingnya. Sepanjang waktu istirahat, sementara yang lain berlari-larian, berkejaran, dan bermain, Tyler berjalan pelan-pelan mendampingi temannya yang rapuh itu.
Ayub pasti rindu sekali memiliki sahabat seperti Tyler. Namun, ia justru memiliki tiga sahabat yang sangat yakin bahwa ia berdosa. “Pernahkah orang yang tak bersalah ditimpa celaka?” tanya Elifas (Ayb. 4:7 BIS). Tuduhan seperti itu membuat Ayub berseru dengan pahit, “Penghibur sialan kamu semua!” (16:2).
Betapa berbedanya mereka dengan Yesus. Pada malam sebelum Yesus disalibkan, Dia mengambil waktu untuk menghibur murid-murid-Nya. Dia menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai mereka selama-lamanya (Yoh. 14:16), dan meyakinkan mereka, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (ay.18). Kemudian, tepat sebelum kembali kepada Bapa, Yesus berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
Dia yang mati bagi kita, kini juga berjalan menyertai kita, selangkah demi selangkah, dalam penderitaan yang kita alami. —Tim Gustafson
Bapa, kami cenderung berbicara terlalu banyak pada teman kami yang sedang terluka. Tolong kami berkata-kata dengan bijak. Ajar kami sabar untuk mendampingi mereka yang terluka, seperti Engkau telah sabar mendampingi kami.
Terkadang cara terbaik untuk menjadi seperti Yesus adalah dengan duduk diam bersama seorang sahabat yang sedang terluka.

Monday, July 6, 2015

Kegelapan dan Terang

Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, . . . terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap. —Mazmur 91:5-6
Kegelapan dan Terang
Ketika masih kecil, saya bekerja mengantarkan koran untuk sekitar 140 rumah di dua ruas jalan yang dihubungkan oleh sebuah pekuburan. Karena mengantarkan koran pagi, saya harus mulai mengantar koran pukul 3 pagi dan berjalan melalui pekuburan itu di tengah kegelapan. Adakalanya saya merasa sangat takut sehingga saya benar-benar melarikan diri! Saya merasakan ketakutan itu sampai saya tiba dengan aman di bawah sinar lampu jalanan di ujung jalan satunya lagi. Kegelapan yang mengerikan itu pun terhalau oleh cahaya.
Sang pemazmur memahami hubungan antara ketakutan dan kegelapan, tetapi ia juga mengetahui bahwa Allah jauh lebih besar daripada segala ketakutan itu. Ia menulis, “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap” (Mzm. 91:5-6). Kengerian pada malam hari ataupun kejahatan yang berkutat dalam kegelapan tidak perlu membuat kita takut. Kita memiliki Allah yang telah mengutus Anak-Nya, Sang Terang Dunia (Yoh. 8:12).
Dalam terang kasih, anugerah, dan kebenaran Allah, kita dapat memperoleh keberanian, pertolongan, dan kekuatan untuk menjalani hidup bagi-Nya. —Bill Crowder
Ya Tuhan, aku datang kepada-Mu, Sang Terang Dunia. Aku ingin Engkau menyinarkan terang-Mu di tengah gelapnya ketakutanku.
Tak perlu kamu takut pada kegelapan apabila kamu berjalan bersama Sang Terang Dunia.

Sunday, July 5, 2015

Datanglah Kepada-Ku

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi. —Yohanes 6:35
Datanglah Kepada-Ku
Ketika Yesus hidup di atas bumi ini, Dia mengundang orang-orang untuk datang kepada-Nya, dan Dia masih melakukannya hingga hari ini (Yoh. 6:35). Namun apakah yang dimiliki oleh-Nya dan Bapa-Nya di surga yang sesungguhnya kita butuhkan?
Keselamatan. Yesus adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh pengampunan atas dosa dan surga yang dijanjikan. “Setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:15).
Tujuan. Kita harus menyerahkan seluruh hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita untuk mengikut Yesus. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk. 8:34).
Penghiburan. Di tengah beragam pencobaan dan dukacita, “Allah sumber segala penghiburan . . . menghibur kami dalam segala penderitaan kami” (2Kor. 1:3-4).
Hikmat. Untuk mengambil keputusan, kita membutuhkan hikmat yang berasal dari luar pemikiran kita sendiri. “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, . . . maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5).
Kekuatan. Ketika kita lelah, “TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya” (Mzm. 29:11).
Hidup berkelimpahan. Kepenuhan hidup ditemukan dalam hubungan pribadi dengan Yesus. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10).
Yesus mengatakan, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Jadi, datanglah kepada-Nya! —Anne Cetas
Bagaimana kamu dapat bertumbuh semakin dekat dengan Allah hari ini?
Yesus mengundang kita datang kepada-Nya agar kita beroleh hidup.

Saturday, July 4, 2015

Silinder Koresh


TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu. —Ezra 1:1


Pada tahun 1879, para arkeolog menemukan sebuah benda kecil yang luar biasa di daerah yang sekarang dikenal sebagai Irak (Babel pada masa Alkitab). Dengan panjang hanya 23 cm, Silinder Koresh itu mencatat perbuatan Raja Koresh dari Persia 2.500 tahun yang lalu. Di sana tercatat bahwa Koresh mengizinkan sekelompok orang untuk pulang ke tanah air mereka dan membangun kembali “kota-kota suci” mereka.

Kisah yang sama tertulis dalam Ezra 1. Kita membaca, “TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia” (ay.1) untuk membuat pengumuman. Koresh menyerukan pembebasan para tawanan di Babel untuk pulang ke Yerusalem dan membangun kembali rumah serta tempat ibadah mereka (ay.2-5). Namun cerita itu belumlah lengkap. Daniel pernah mengakui dosanya dan dosa bangsanya serta memohon kepada Allah untuk mengakhiri perbudakan Babel (Dan. 9). Sebagai jawabannya, Allah mengutus malaikat untuk berbicara kepada Daniel (ay.21). Lalu Dia menggerakkan hati Koresh untuk membebaskan bangsa Israel (lihat juga Yer. 25:11-12; 39:10).

Bersama-sama, Silinder Koresh dan firman Allah menunjukkan kepada kita bahwa hati sang raja diubahkan dan ia mengizinkan bangsa Israel yang dibuang untuk pulang ke tanah air mereka untuk beribadah.

Kisah itu punya dampak besar bagi kita di masa kini. Di dunia yang kelihatannya lepas kendali ini, kita dapat meyakini bahwa Allah sanggup menggerakkan hati para pemimpin. Kita membaca dalam Amsal 21:1 bahwa “hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN.” Dan Roma 13:1 mengatakan, “Tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah.”

Tuhan, yang sanggup mengubahkan hati kita dan juga hati para pemimpin kita, dapat dipercaya sebab Dialah yang memegang kendali. Marilah meminta kepada-Nya untuk terus berkarya. —Dave Branon

Bapa, dunia ini seolah lepas kendali. Kami tahu Engkau berdaulat atas segalanya. Kami berdoa agar kehendak-Mu digenapi di dalam hati para pemimpin kami.

Lebih baik berdoa daripada mengeluh.

Friday, July 3, 2015

Surat dari Medan Perang

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. —2 Timotius 4:7
Surat dari Medan Perang
Selama lebih dari dua dekade, Andrew Carroll mendorong orang untuk tidak membuang surat-surat yang mereka terima dari anggota keluarga atau sahabat mereka selama masa perang. Carroll, direktur dari Center for American War Letters (Pusat Arsip Surat Perang Amerika) di Universitas Chapman, California, menganggap surat-surat itu sebagai jembatan tak tergantikan yang menyatukan keluarga dan pembuka jalan untuk memperoleh pengertian. “Generasi yang lebih muda membaca surat-surat itu,” kata Carroll, “dan mereka bertanya serta berkata, ‘Kini aku memahami apa yang engkau alami, apa yang engkau korbankan.’”
Ketika Rasul Paulus dipenjarakan di Roma dan mengetahui hidupnya akan segera berakhir, ia menulis sepucuk surat kepada Timotius, seorang anak muda yang dianggapnya anaknya “di dalam iman”. Bagai tentara di medan perang, Paulus mencurahkan isi hatinya kepada Timotius: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2Tim. 4:6-8).
Ketika kita membaca surat-surat di dalam Alkitab yang ditinggalkan para pahlawan iman untuk kita dan memahami apa yang mereka alami demi kasih mereka kepada Kristus, kita akan mendapat keberanian untuk mengikuti teladan mereka dan tetap berdiri teguh untuk menjadi teladan bagi generasi yang akan datang. —David McCasland
Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk peperangan rohani yang kami hadapi hari ini, dengan menyadari bahwa Engkau telah meraih kemenangan yang terbesar dan bahwa suatu hari nanti kami akan hidup bersama-Mu selamanya.
Bertandinglah dengan mata yang tertuju pada kekekalan.

Thursday, July 2, 2015

Pembicaraan yang Berapi-api

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar. —Kolose 4:6
Pembicaraan yang Berapi-api
Di wilayah utara Ghana, tempat asal saya, kebakaran semak biasa terjadi pada musim kemarau antara bulan Desember hingga Maret. Saya telah melihat lahan pertanian yang luas terbakar ketika angin membawa bara api kecil dari perapian atau puntung rokok yang dibuang sembarangan di pinggir jalan. Di daerah yang penuh dengan tanaman kering, percikan api kecil saja dapat menyebabkan suatu kebakaran dahsyat.
Begitulah cara Yakobus menggambarkan lidah, dengan menyebutnya sebagai “suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” (Yak. 3:6). Hubungan dengan sesama pun rusak oleh dusta, fitnah, dan ucapan yang keji. “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang,” kata Amsal 12:18, “tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Sama seperti api mempunyai unsur-unsur yang merusak sekaligus berguna, demikian juga “hidup dan mati dikuasai lidah” (Ams. 18:21).
Agar pembicaraan kita mencerminkan kehadiran Allah di dalam diri kita dan berkenan kepada-Nya, “hendaklah kata-kata [kita] senantiasa penuh kasih” (Kol. 4:6). Saat kita berpendapat mengemukakan ketidaksetujuan kita, mintalah pertolongan Allah agar kita bisa menggunakan kata-kata yang bijak dan memuliakan-Nya. —Lawrence Darmani
Ya Tuhan, tuntunlah percakapanku hari ini. Kiranya kata-kata yang kugunakan memberkati, mendorong, dan membangun sesama, dan tidak menjatuhkan mereka. Kiranya Engkau berkenan dengan apa yang Kau dengar.
Amarah dapat membuat kita melontarkan pendapat dengan membabibuta sehingga kita lalai menjaga ucapan kita.

Wednesday, July 1, 2015

Angkatlah Tanganmu

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. —Yohanes 3:17
Angkatlah Tanganmu
Paduan Suara St. Olaf dari Northfield, Minnesota, terkenal karena kemampuan mereka mengalunkan musik yang indah. Salah satu keunggulan mereka terletak pada proses seleksinya. Para penyanyi dipilih tak hanya berdasarkan kecakapan mereka bernyanyi, tetapi juga bagaimana suara mereka dapat berpadu menjadi satu kesatuan. Keunggulan yang lain terletak pada kesepakatan dari setiap anggotanya untuk menjadikan paduan suara sebagai prioritas utama mereka, dengan berkomitmen mengikuti jadwal latihan dan pertunjukan yang sangat ketat.
Salah satu hal yang menarik perhatian saya pada paduan suara tersebut adalah sesuatu yang terjadi pada latihan mereka. Setiap kali salah satu dari mereka salah dalam bernyanyi, orang itu akan mengangkat tangannya. Mereka tidak berusaha menghindar dari kesalahan, tetapi justru mengakuinya. Dengan demikian, pemimpin paduan suara dapat membantu setiap penyanyi dalam mempelajari bagian yang sulit, sehingga kemampuan mereka untuk tampil dengan sempurna nantinya akan semakin baik.
Saya pikir itulah ciri komunitas yang sedang dibangun Yesus ketika memberitahukan kepada Nikodemus bahwa Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Yoh. 3:17). Tak lama setelah itu, Yesus bertemu seorang perempuan Samaria di sebuah sumur. Yesus menolong perempuan itu untuk mengakui kegagalannya dan menjanjikannya sebuah jalan hidup yang lebih baik saat perempuan itu menerima pengampunan dari-Nya (Yoh. 4).
Sebagai anggota tubuh Kristus di bumi ini, kita tak perlu takut mengakui kesalahan kita, melainkan menerimanya sebagai kesempatan untuk bersama-sama mengalami sukacita dalam pengampunan Allah. —Julie Ackerman Link
Tuhan, kami cenderung menyembunyikan dosa dan kesalahan kami. Kami rindu datang kepada-Mu dengan jujur, karena Engkau mengasihi dan mengampuni kami.
Kita tidak dapat meninggalkan dosa apabila kita belum menghadapinya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate