Pages - Menu

Monday, February 29, 2016

Darah dan Nyawa

Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. —Ibrani 9:22
Darah dan Nyawa
Mary Ann percaya kepada Allah dan Yesus, Anak-Nya, tetapi ia masih sulit menerima mengapa Yesus harus menumpahkan darah-Nya demi memberikan keselamatan. Siapa sih yang terpikir membasuh sesuatu dengan darah? Namun Alkitab mengatakan, “Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah” (Ibr. 9:22). Di mata Mary Ann, alangkah menjijikkannya hal itu!
Kemudian suatu hari, ia harus memeriksakan diri ke rumah sakit. Kondisi genetika yang dideritanya telah mengubah sistem kekebalan tubuhnya, dan para dokter menemukan masalah ketika penyakit itu mulai menyerang darahnya. Sementara berada di ruang gawat darurat, ia berpikir, Kalau aku kehilangan darah, aku akan mati. Namun Yesus menumpahkan darah-Nya agar aku bisa hidup!
Tiba-tiba segalanya menjadi masuk akal. Di tengah-tengah kesakitannya, Mary Ann merasakan sukacita dan kedamaian. Ia memahami bahwa darah adalah nyawa, dan dibutuhkan nyawa yang suci untuk mendamaikan Allah dengan kita. Hari ini Mary Ann masih hidup sehat, dan ia bersyukur kepada Allah atas kesehatannya dan atas pengorbanan Yesus bagi dirinya.
Ibrani 9 menjelaskan makna dari ritual darah dalam Perjanjian Lama (ay.16-22) serta arti pengorbanan Yesus yang dilakukan-Nya sekali untuk selamanya dan yang membuat praktik korban hewan tidak lagi perlu (ay.23-26). Dengan memikul dosa kita, Dia rela mati dan menumpahkan darah-Nya untuk menjadi korban persembahan bagi kita. Sekarang kita dapat menghampiri hadirat Allah dengan penuh keberanian. Karena penyerahan diri Yesus telah menjadi korban persembahan kita, hidup- Nya menjadi hidup kita, dan Bapa-Nya menjadi Bapa kita. Ucapan syukur apakah yang pantas kita berikan kepada-Nya? —Keila Ochoa
Ya Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu untuk Yesus dan darah-Nya yang tercurah demi diriku. Aku mau menjalani hidupku dengan rasa syukur kepada-Mu.
Darah Kristus membasuh dan menghapus dosa-dosa kita.

Sunday, February 28, 2016

Beranjak Dewasa

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh . . . menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. —Efesus 4:16
Beranjak Dewasa
Sungguh menghibur saat menonton cucu laki-laki saya yang masih kecil dan teman-temannya bermain T-Ball. Dalam bisbol versi anak kecil ini, para pemain yang masih muda itu sering berlari ke base yang salah atau tidak tahu harus berbuat apa dengan bola yang mereka tangkap. Namun seandainya yang kami tonton itu adalah pertandingan bisbol profesional, kesalahan-kesalahan seperti itu tentulah tidak lucu.
Masalahnya terletak pada kedewasaan.
Tidak masalah jika para atlet belia itu masih menemui kesulitan—kadang mereka tidak tahu harus berbuat apa atau tidak sepenuhnya bermain dengan benar. Mereka sedang mencoba dan belajar bermain. Maka kita melatih mereka dengan sabar dan membimbing mereka menuju kedewasaan. Kita akan merayakan kesuksesan mereka ketika di kemudian hari mereka bermain dengan terampil sebagai sebuah tim.
Sesuatu yang serupa terjadi dalam kehidupan para pengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa gereja membutuhkan orang-orang yang mau bersikap “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Ef. 4:2). Dan kita membutuhkan bermacam-macam “pelatih” (para pendeta, guru, pembimbing rohani) untuk menolong kita semua melangkah menuju “kesatuan iman” di tengah perjuangan kita mencapai “kedewasaan penuh” (ay.13).
Tujuan dari mendengarkan khotbah maupun pengajaran dan menikmati hidup bersama di dalam gereja adalah agar kita bertumbuh semakin dewasa dalam Kristus (ay.15). Masing-masing dari kita sedang menempuh perjalanan ini, dan kita dapat menguatkan satu sama lain di sepanjang jalan menuju kedewasaan dalam Yesus. —Dave Branon
Tuhan, tolonglah aku berjuang mencapai kedewasaan. Terima kasih karena Engkau telah memperlengkapi gereja dengan mereka yang dapat menolong imanku bertumbuh. Tunjukkanlah siapa yang dapat kukuatkan hari ini.
Kebersamaan akan memberi kita sukacita dalam perjalanan iman.

Saturday, February 27, 2016

Memperhatikan

“Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?” —Ayub 38:4
Memperhatikan
Ketika membersihkan rumah untuk menyiapkan sebuah acara istimewa, saya merasa kecil hati karena membayangkan para tamu takkan memperhatikan apa yang saya bersihkan, tetapi hanya melihat apa yang lupa saya bersihkan. Saya pun terpikir pada pertanyaan filosofis dan spiritual yang lebih penting: Mengapa manusia lebih cepat melihat apa yang salah daripada yang benar? Kita cenderung lebih ingat pada sikap kasar daripada kebaikan seseorang. Kejahatan tampaknya lebih menarik perhatian daripada tindakan yang murah hati. Dan bencana merebut perhatian kita lebih cepat daripada keindahan alam yang luar biasa di sekeliling kita.
Namun, saya menyadari bahwa saya pun bersikap demikian terhadap Allah. Saya cenderung berfokus pada apa yang belum dilakukan-Nya daripada apa yang telah Dia lakukan, pada apa yang belum saya miliki daripada yang sudah saya miliki, pada beragam persoalan yang belum Dia bereskan daripada banyak persoalan yang sudah diselesaikan-Nya.
Ketika saya membaca kitab Ayub, saya diingatkan bahwa Tuhan juga sama tidak senangnya seperti saya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kemakmuran, Ayub menderita serangkaian bencana. Tiba-tiba saja semua bencana itu menjadi fokus dari hidup dan percakapannya. Akhirnya, Allah turun tangan dan mengajukan sejumlah pertanyaan sulit kepada Ayub guna mengingatkan Ayub akan kedaulatan-Nya dan segala sesuatu yang belum diketahui dan dilihat oleh Ayub (Ayb. 38-40).
Ketika saya mulai berfokus pada sisi yang negatif, kiranya saya mau berhenti sejenak, berkaca pada hidup Ayub, dan memperhatikan segala keajaiban yang sudah dan terus Allah kerjakan. —Julie Ackerman Link
Pikirkan untuk membuat jurnal berisi “ucapan syukur”. Setiap hari, tuliskanlah satu hal yang sudah Allah perbuat bagimu.
Ketika kamu mengingat segala hal yang baik, mengucap syukurlah kepada Allah.

Friday, February 26, 2016

Memasuki Usia Lanjut

Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. —Yesaya 46:4
Memasuki Usia Lanjut
Bagaimana kabar Mama hari ini?” tanya saya seperti biasa. Sambil menunjuk pada sendi-sendinya yang sakit dan nyeri, Mama yang sudah berusia 84 tahun berbisik, “Susah sekali menjalani usia tua!” Lalu lanjutnya dengan sungguh-sungguh, “Tetapi Allah baik kepadaku.”
“Memasuki usia lanjut menjadi kejutan terbesar yang pernah saya alami dalam hidup,” demikian tulis Billy Graham dalam bukunya, Nearing Home (Menjelang Pulang), “Sekarang saya sudah berusia lanjut, dan percayalah, menjalaninya tidaklah mudah.” Namun Graham juga menulis, “Meski Alkitab tidak menutupi masalah-masalah yang kita hadapi dengan bertambahnya usia, Alkitab juga tidak menggambarkan usia lanjut sebagai suatu masa yang penuh kehinaan atau suatu beban yang harus ditanggung dengan rasa sesal.” Lalu Graham menyebutkan sejumlah pertanyaan yang mau tidak mau harus ia hadapi ketika usianya bertambah lanjut, salah satunya, “Bagaimana caranya agar kita tidak saja belajar mengatasi semua ketakutan, pergumulan, dan bertambahnya keterbatasan yang kita hadapi, tetapi juga benar-benar menguatkan iman kita di tengah segala kesulitan itu?”
Dalam Yesaya 46 kita memperoleh jaminan dari Allah: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (ay.4). Kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini. Kita juga tidak tahu apa yang akan kita hadapi seiring dengan pertambahan usia kita. Namun ada satu hal yang pasti: Allah akan memelihara kita seumur hidup kita. —Lawrence Darmani
Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Lihat Mazmur 90:12)
Jangan takut memasuki usia lanjut; Allah selalu menyertaimu!

Thursday, February 25, 2016

Go Fever

Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia. —Mazmur 37:7
Go Fever
Pada 28 Januari 1986, setelah lima kali ditunda karena cuaca buruk, pesawat angkasa luar Challenger meluncur ke langit diiringi bunyi gemuruh sekaligus nyala api. Namun, 73 detik kemudian, kegagalan sistem membuat pesawat tersebut meledak dan ketujuh awaknya tewas seketika.
Bencana itu diakibatkan oleh sebuah segel berbentuk cincin yang diketahui memang rentan. Para pengamat antariksa menyebut kesalahan fatal tersebut sebagai “go fever”— kecenderungan untuk mengabaikan tindakan pencegahan yang sangat penting karena terburu-buru ingin mencapai tujuan yang besar.
Natur manusiawi kita yang ambisius tak henti-hentinya menggoda kita untuk membuat keputusan yang tidak bijaksana. Namun kita juga sangat rentan terhadap rasa takut yang bisa menjadikan kita terlalu berhati-hati. Bangsa Israel kuno menunjukkan kedua ciri itu. Ketika 12 pengintai pulang dari mengintai Tanah Perjanjian, 10 dari mereka melihat yang ada hanya hambatan (Bil. 13:26-33). “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita,” kata mereka (ay.31). Setelah terjadi pemberontakan terhadap Tuhan yang menyebabkan kematian 10 pengintai itu, orang Israel tiba-tiba bertindak “go fever”. Kata mereka, “Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan Tuhan itu” (14:40). Tanpa restu Allah, penyerbuan yang tidak tepat waktunya itu gagal total (ay.41-45).
Ketika kita mengalihkan pandangan kita dari Tuhan, ada dua sikap berlawanan yang mungkin kita ambil. Entah kita akan terburu-buru bertindak tanpa restu Allah, atau sebaliknya, nyali kita menciut dan kita mengeluh karena ketakutan. Berfokus pada Tuhan akan memberikan keberanian yang diimbangi oleh hikmat dari-Nya. —Tim Gustafson
Sebelum mengambil keputusan yang cepat, pikirkanlah mengapa kamu perlu cepat-cepat memutuskan. Pertimbangkan apakah keputusan itu akan menghormati Allah dan apa konsekuensinya bagi orang lain. Jika kamu takut mengambil keputusan, pikirkan mengapa demikian. Yang terutama, berdoalah!
Kesabaran sesaat bisa mencegah bencana besar.

Wednesday, February 24, 2016

Memandang ke Depan

[Simeon] seorang yang benar dan saleh . . . Roh Kudus ada di atasnya. —Lukas 2:25
Memandang ke Depan
Ketika Rembrandt, pelukis kenamaan asal Belanda, meninggal dunia secara mendadak pada usia 63 tahun, sebuah lukisannya yang belum selesai ditemukan pada penyangga kanvasnya. Lukisan itu memusatkan perhatiannya pada raut wajah Simeon yang sedang menggendong bayi Yesus ketika Dia dibawa orangtua-Nya ke Bait Allah di Yerusalem, genap 40 hari setelah kelahiran-Nya. Namun demikian, latar belakang dan detail lainnya pada lukisan itu belumlah diselesaikan oleh Rembrandt. Sejumlah pakar seni meyakini bahwa Rembrandt tahu akhir hidupnya sudah dekat dan—seperti Simeon—siap untuk “pergi dalam damai sejahtera” (Luk. 2:29).
Roh Kudus ada dalam hidup Simeon (ay.25), maka bukanlah suatu kebetulan jika ia berada di Bait Allah ketika Maria dan Yusuf menyerahkan putra sulung mereka kepada Allah. Simeon yang telah lama menantikan Mesias yang dijanjikan itu kemudian menggendong Anak itu dan memuji Allah, dengan berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (ay.29-32).
Simeon tidak mendambakan kembalinya kejayaan Israel seperti dahulu kala, melainkan sedang menantikan Mesias yang dijanjikan akan menyelamatkan segala bangsa. Seperti Simeon, kita juga dapat menantikan masa depan yang penuh pengharapan, karena kita tahu kelak kita akan bertemu dengan Tuhan. —David McCasland
Ya Bapa, kiranya kami dapat menjadi seperti Simeon, yang selalu menantikan kedatangan Yesus, Tuhan kami.
Amin, datanglah, Tuhan Yesus! —Wahyu 22:20

Tuesday, February 23, 2016

Sudut Pandang yang Lebih Baik

Tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. —Lukas 19:3
Sudut Pandang yang Lebih Baik
Ketika saya masih kanak-kanak, saya sangat suka memanjat pohon. Semakin tinggi memanjat, semakin banyak pemandangan yang bisa saya lihat. Adakalanya dalam usaha untuk mendapat pemandangan yang lebih baik, saya merangkak ke atas suatu dahan sampai dahan itu melengkung dibebani berat badan saya. Tentu saja kegiatan memanjat pohon itu tidak lagi saya lakukan sekarang. Bukan hanya karena membahayakan, tetapi juga agak memalukan.
Zakheus, seorang yang kaya raya, mengesampingkan kehormatannya (mungkin juga keselamatannya) dengan memanjat pohon ara di kota Yerikho. Suatu hari, Yesus sedang berjalan melewati kota itu dan Zakheus ingin melihat-Nya. Namun “ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek” (Luk. 19:3). Syukurlah, keadaan itu tidak membuatnya patah semangat untuk melihat dan bahkan berbicara dengan Yesus. Rencana Zakheus berhasil! Ketika ia bertemu dengan Yesus, hidupnya pun diubahkan selamanya. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini,” kata Yesus (ay.9).
Ada banyak hal dalam hidup ini yang dapat menghalangi kita melihat Yesus. Kesombongan dapat menyilaukan kita sehingga kita tidak melihat-Nya sebagai Penasihat Ajaib. Kecemasan bisa menjauhkan kita dari mengenal-Nya sebagai Raja Damai (Yes. 9:5). Nafsu akan kedudukan dan harta dapat menghalangi kita untuk melihat-Nya sebagai Roti Hidup, sumber kepuasan kita yang sejati (Yoh. 6:48).
Seberapa jauh kamu mau berusaha agar dapat memandang Yesus dengan lebih baik? Setiap usaha yang kamu lakukan dengan tulus untuk mendekat kepada-Nya akan membawa hasil yang baik. Allah akan memberikan upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibr. 11:6). —Jennifer Benson Schuldt
Yesus, terima kasih untuk keberadaan-Mu dalam hidupku. Nyatakanlah diri-Mu makin jelas setiap kali aku membaca Kitab Suci dan berdoa. Tolong aku untuk mencari-Mu dengan segenap hati dan pikiranku.
Untuk memperdalam imanmu kepada Allah, carilah wajah-Nya.

Monday, February 22, 2016

Berdiam Diri

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! —Mazmur 46:11
Berdiam Diri
Bertahun-tahun lalu, kalau saya merespons surat-surat yang masuk dalam hitungan minggu, itu sudah membuat para penulis surat sangat bahagia. Kemudian hadir mesin faks, dan mereka yang mengirimkan pesan akan senang jika menerima jawaban dari saya dalam beberapa hari. Saat ini, dengan adanya e-mail, SMS, ataupun telepon seluler, mereka berharap saya segera merespons di hari itu juga!
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Dalam ayat dari Mazmur 46 yang sudah sering kita dengar itu, saya mendapatkan dua perintah yang sama pentingnya. Yang pertama, bahwa kita harus berdiam diri, sesuatu yang kedengarannya hampir mustahil di tengah kehidupan modern seperti sekarang ini. Di dunia yang hiruk-pikuk dan selalu sibuk ini, mengambil waktu teduh sebentar saja bukan hal yang mudah kita lakukan. Berdiam diri akan menuntun kita pada hal penting yang kedua: “Ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” Di tengah dunia yang bukannya meninggikan Allah melainkan semakin mengecilkan arti keberadaan- Nya, bagaimana saya dapat mengambil waktu teduh dan mengizinkan Dia memupuk kehidupan rohani saya?
“Doa,” tulis Patricia Hampl, “merupakan suatu kebiasaan memperhatikan yang digunakan agar kita dapat melihat segala sesuatu.” Doa memang merupakan suatu kebiasaan memperhatikan. Diamlah dan ketahuilah. Dalam doa, pertama-tama kita mengakui atau “mengetahui” bahwa Allah adalah Allah. Dengan memperhatikan fakta itu, dengan fokus itu, segala sesuatunya menjadi jelas. Dalam doa, kita dapat mengakui kegagalan, kelemahan, dan keterbatasan kita kepada Allah yang akan menolong kerapuhan kita sebagai manusia dengan belas kasih-Nya yang tak terbatas. —Philip Yancey
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk berdiam. Segarkanlah jiwaku ketika aku meluangkan waktu bersama-Mu di dalam doa.
Dalam doa, Allah dapat meneduhkan pikiran kita.

Sunday, February 21, 2016

Pemandangan dari Atas Gunung

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas. —Kolose 3:1
Pemandangan dari Atas Gunung
Lembah tempat tinggal kami di negara bagian Idaho bisa menjadi sangat dingin pada musim dingin. Awan dan kabut menyelimuti tanah, memerangkap udara beku di bawah lapisan udara yang lebih hangat di atasnya. Namun kamu dapat mencapai bagian di atas lembah tersebut. Ada jalan terdekat yang mengitari sisi dari Shafer Butte, sebuah gunung setinggi 2.200 m yang menjulang dari tengah lembah. Setelah berkendara beberapa menit, kamu mulai keluar dari kabut dan segera merasakan kehangatan dan cerahnya sinar matahari. Kamu dapat melongok ke bawah pada awan-awan yang menutupi lembah dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Terkadang hidup juga seperti itu. Keadaan di sekitar kita seakan dilingkupi kabut yang tak dapat ditembus oleh sinar matahari. Namun demikian, iman menjadi jalan bagi kita untuk mencapai bagian di atas lembah—sarana kita dalam mencari “perkara yang di atas” (Kol. 3:1). Ketika kita beriman, Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit mengatasi keadaan yang ada, dan kita memperoleh keberanian dan ketenangan untuk menghadapi hari yang akan kita jalani. Rasul Paulus menulis: “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp. 4:11).
Kita dapat mengatasi kesesakan dan kemurungan kita. Kita dapat berdiam sejenak dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, karena Kristus telah memberikan kekuatan kepada kita (Flp. 4:13). —David Roper
Ya Tuhan, meskipun aku tidak selalu melihat-Mu atau melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, aku tetap percaya pada kasih-Mu kepadaku.
Iman dapat mengatasi ketakutanmu.

Saturday, February 20, 2016

Empat Cara untuk Memandang

Aku hendak menyebut-nyebut segala perkerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. —Mazmur 77:13
Empat Cara untuk Memandang
Ketika ibadah baru akan dimulai, Joan teringat pada sejumlah pergumulan besar menyangkut anak-anaknya. Saking lelahnya, ia ingin “mengundurkan diri” saja sebagai ibu. Lalu sang pengkhotbah mulai berbicara dan membangkitkan semangat jemaat yang merasa ingin menyerah. Ada empat pemikiran yang didengar Joan pagi itu yang mendorongnya terus maju:
Pandang ke atas dan berdoalah. Asaf berdoa sepanjang malam dan mengungkapkan perasaannya bahwa Allah telah melupakan dan mengabaikannya (Mzm. 77:10-11). Kita dapat menyatakan segalanya kepada Allah dan jujur tentang perasaan kita. Kita bisa meminta apa saja kepada-Nya. Jawaban-Nya mungkin tidak langsung diberikan atau tidak dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi Dia tidak akan menegur kita karena meminta kepada-Nya.
Pandang ke belakang dan ingatlah karya Allah di masa lalu untukmu dan orang lain. Asaf tidak hanya berbicara kepada Allah tentang deritanya; ia juga mengingat-ingat kuasa dan karya ajaib Allah baginya dan bagi umat-Nya. Ia menulis: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12).
Pandang ke depan. Pikirkan kebaikan yang mungkin akan dihasilkan oleh situasi tersebut. Apa yang bisa kamu pelajari? Apakah yang mungkin hendak Allah lakukan? Karena jalan Allah itu sempurna, apakah yang bisa kamu pastikan akan dilakukan oleh-Nya? (ay.14)
Pandang kembali. Lihatlah keadaanmu sekarang dengan mata iman. Ingatkan dirimu sendiri bahwa Allah itu ajaib dan dapat dipercaya (ay.15).
Kiranya ide-ide di atas menolong kita mempunyai cara pandang yang benar dan menguatkan iman kita di dalam Yesus. —Anne Cetas
Tuhan, aku sulit untuk tidak melihat masalahku. Tolong aku agar tidak kecewa dan menjadi lesu, tetapi melihat Engkau hadir di tengah-tengah masalahku.
Masalah merupakan kesempatan kita untuk menemukan solusi Allah.

Friday, February 19, 2016

Seruan Iman

Sekalipun pohon ara tidak berbunga . . . aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN. —Habakuk 3:17-18
Seruan Iman
Kabar itu membuat mati rasa. Air mata yang mengalir deras tak lagi dapat ditahannya. Benaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan ketakutan nyaris menenggelamkan dirinya. Hidupnya yang selama ini baik-baik saja, tiba-tiba porak-poranda dan berubah selamanya tanpa pemberitahuan.
Tragedi dapat terjadi dalam berbagai bentuk—kepergian orang terkasih, penyakit, kehilangan harta, atau kehilangan mata pencaharian. Tragedi dapat menimpa siapa pun dan kapan pun.
Meskipun Nabi Habakuk mengetahui bahwa tragedi akan terjadi, rasa takut tetap menyergap hatinya. Di saat Habakuk menantikan waktunya bangsa Babel akan menyerang kerajaan Yehuda, hatinya gentar, bibirnya menggigil, dan kakinya pun gemetar (Hab. 3:16).
Ketakutan adalah emosi yang wajar di saat tragedi melanda, tetapi ketakutan tidak harus melumpuhkan kita. Pada saat kita tidak mengerti tentang pencobaan yang sedang kita alami, kita dapat mengingat kembali bagaimana Allah telah bekerja di masa lalu (ay. 3-15). Itulah yang dilakukan Habakuk. Mengingat karya Allah memang tidak mengenyahkan rasa takutnya, tetapi ia memperoleh keberanian untuk terus melangkah dengan memilih untuk terus memuliakan Tuhan (ay.18).
Allah kita telah membuktikan kesetiaan-Nya. Dari tahun ke tahun, Dia selalu menyertai kita. Karena karakter-Nya yang tidak berubah, ketika kita takut, kita dapat terus menyerukan iman kita dengan mantap, “Allah Tuhanku itu kekuatanku!” (ay.19). —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, ketika duniaku seakan dijungkirbalikkan, tolonglah aku untuk mempercayai-Mu. Selama ini Engkau selalu setia kepadaku.
Kita dapat belajar mempercayai Allah pada saat kita mengalami pencobaan.

Thursday, February 18, 2016

Kesendirian dan Pelayanan

Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. —Lukas 9:11
Kesendirian dan Pelayanan
Komedian Fred Allen pernah berkata, “Selebriti adalah seseorang yang bekerja keras sepanjang hidupnya agar menjadi terkenal, lalu memakai kacamata hitam agar tak dikenali.” Popularitas sering mengakibatkan hilangnya privasi sekaligus memunculkan hebohnya perhatian yang tak berkesudahan.
Saat Yesus memulai pelayanan-Nya untuk mengajar dan menyembuhkan orang banyak, Dia makin dikenal luas dan dikerumuni orang-orang yang mencari pertolongan. Orang banyak mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Namun Yesus menyadari pentingnya memiliki waktu pribadi secara teratur bersama Allah Bapa agar kekuatan dan perspektif-Nya terus terjaga.
Setelah dua belas murid Yesus kembali dari misi sukses “untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,” Dia membawa mereka ke sebuah kota untuk menyepi dan beristirahat (Luk. 9:2,10). Namun, orang banyak segera menemukan mereka dan Yesus menerima orang-orang itu. Dia “berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan” (ay.11). Alih-alih menyuruh mereka mencari makanan, Yesus menyediakan makanan untuk 5.000 orang! (ay. 12-17).
Yesus tidak kebal terhadap tekanan dari orang-orang yang ingin tahu dan sedang terluka. Namun Dia menjaga keseimbangan antara pelayanan dan persekutuan pribadi-Nya dengan meluangkan waktu untuk beristirahat dan berdoa secara khusus kepada Bapa-Nya (Luk. 5:16).
Kiranya kita bisa mengikuti teladan Tuhan itu ketika kita melayani orang lain dalam nama-Nya. —David McCasland
Bapa terkasih, sebagaimana Yesus, Anak-Mu dan Juruselamat kami, menghormati-Mu dalam persekutuan pribadi dan pelayanan-Nya kepada orang lain, kiranya kami mengikuti teladan-Nya dalam kehidupan kami.
Ketika kita mengalihkan perhatian dari hiruk-pikuk kehidupan, kita akan bisa mendengar suara Allah.

Wednesday, February 17, 2016

Membuka Jalan

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. —Matius 28:19
Membuka Jalan
Charlie Sifford adalah nama yang penting dalam dunia olahraga Amerika Serikat. Ia menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang menjadi anggota aktif Asosiasi Pegolf Profesional (PGA) dan bergabung dalam olahraga yang hingga tahun 1961 masih mencantumkan peraturan “hanya untuk orang kulit putih” dalam anggaran dasar organisasinya. Setelah mengalami ketidakadilan dan pelecehan rasial, Sifford berhasil mencapai prestasi tertinggi dalam olahraga tersebut dengan memenangi dua turnamen, dan pada tahun 2004 menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang namanya tercantum dalam World Golf Hall of Fame. Charlie Sifford membuka jalan bagi para pegolf profesional dari beragam etnis.
Membuka jalan juga menjadi tema kunci dalam misi pekabaran Injil. Yesus berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20).
Kata bangsa (ay.19) berasal dari kata dalam bahasa Yunani ethnos, yang juga merupakan akar dari kata etnis. Dengan kata lain, “Pergilah, jadikanlah semua etnis murid-Ku.” Karya Yesus di kayu salib membuka jalan bagi semua orang untuk dapat datang kepada Bapa.
Sekarang kita memiliki hak istimewa untuk mengasihi sesama sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Lewat perilaku kita, kita bisa membuka jalan untuk seseorang yang mungkin tidak pernah membayangkan dirinya akan disambut dengan tangan terbuka ke dalam rumah dan keluarga Allah. —Bill Crowder
Tuhan, tolong aku untuk peka kepada orang lain yang kutemui hari ini. Beriku perkataan yang dapat kukatakan untuk bersaksi tentang Engkau kepada orang lain.
Yesus membuka jalan keselamatan untuk semua orang yang mau percaya.

Tuesday, February 16, 2016

Tertulis di Hati Kita

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan. —Ulangan 6:6
Tertulis di Hati Kita
Di lingkungan saya, ada banyak sekali ungkapan religius dalam bentuk tertulis, baik pada berbagai plakat, dinding, tiang pintu, angkutan kota, maupun sebagai nama usaha resmi. Tulisan Oleh Anugerah Allah terpampang di sebuah mobil angkutan; Toko Buku Berkat Allah tertulis pada papan nama suatu badan usaha. Suatu hari saya tersenyum saat melihat tulisan berikut ini pada sebuah mobil Mercedes Benz: Jaga Jarak—Mobil ini Dijaga Malaikat!
Namun, tulisan religius, baik yang terukir di hiasan dinding, perhiasan, ataupun kaos oblong, bukanlah indikator yang pasti dalam menggambarkan kasih seseorang kepada Allah. Yang terpenting bukanlah kata-kata yang terbaca, melainkan kebenaran di dalam hati yang mengungkapkan hasrat kita untuk mau diubah oleh Allah.
Saya teringat pada suatu program yang disponsori oleh lembaga pelayanan lokal yang membagikan kartu-kartu dengan ayat-ayat Alkitab tercantum di kedua sisi kartu tersebut guna menolong jemaat menghafal firman Tuhan. Praktik itu sesuai dengan instruksi Musa kepada bangsa Israel ketika ia memerintahkan mereka untuk menuliskan perintah Allah “pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ul. 6:9). Kita harus memperhatikan firman Tuhan (ay.6), mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak kita, dan membicarakannya “apabila [kita] sedang dalam perjalanan, apabila [kita] berbaring dan apabila [kita] bangun” (ay.7).
Kiranya kita memiliki iman yang nyata dan komitmen yang sungguh, sehingga kita bisa mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita (ay.5). —Lawrence Darmani
Bapa, kiranya firman-Mu lebih dari sekadar ucapan yang indah untuk kami. Kiranya firman-Mu tertulis dalam hati kami sehingga kami rela mengasihi-Mu dan sesama.
Ketika firman Tuhan bersemayam di hati kita, kehendak-Nya akan menjadi kehendak kita.

Monday, February 15, 2016

Pilihan Seorang Janda

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati. —Mazmur 34:19
Pilihan Seorang Janda
Ketika seorang sahabat secara mendadak kehilangan suaminya karena serangan jantung, kami turut berduka bersamanya. Sebagai konselor, ia telah menghibur dan menolong banyak orang. Namun sekarang, setelah 40 tahun pernikahannya, ia menghadapi kenyataan yang tentu tidak dikehendakinya, yaitu pulang setiap hari ke sebuah rumah yang kosong.
Di tengah masa dukanya, sahabat kami itu bersandar kepada Pribadi yang “dekat kepada orang-orang yang patah hati.” Saat Allah menyertainya melewati penderitaannya, ia mengatakan kepada kami bahwa ia memilih untuk “menyandang sebutan janda dengan bangga”, karena ia merasa itulah sebutan yang telah Allah berikan kepadanya.
Kedukaan memang bersifat pribadi, dan orang lain mungkin berduka dengan cara yang berbeda dari sahabat saya. Respons yang diberikannya tidaklah mengurangi kesedihannya atau membuat rumahnya tidak sepi lagi. Namun kita diingatkan bahwa di tengah duka yang paling dalam sekalipun, Allah Mahakuasa yang penuh kasih itu dapat dipercaya.
Bapa kita di surga pernah terpisah sangat jauh dari Anak-Nya. Saat di atas salib, Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Namun, Dia tabah menderita dan terpisah di salib demi menanggung dosa kita karena Dia mengasihi kita!
Allah mengerti! Dan karena “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Mzm. 34:19), kita pun menerima penghiburan yang kita butuhkan. Dia dekat dengan kita. —Dave Branon
Ya Bapa, saat kesedihan melanda karena kematian seseorang yang kami kasihi, tolong kami untuk bersandar pada-Mu dan mempercayai kasih dan kebaikan-Mu. Terima kasih karena Engkau dekat dengan kami yang patah hati.
Allah turut merasakan kesedihan kita.

Sunday, February 14, 2016

Mudahnya Tidak Bersyukur

Karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur. —Ibrani 12:28
Mudahnya Tidak Bersyukur
Krek, krik. Krek, krik . . .
Bunyi alat penyeka kaca depan mobil yang bergerak naik turun membersihkan terpaan air hujan yang lebat hanya menambah kekesalan hati saya. Saya masih mencoba menyesuaikan diri untuk mengendarai sebuah mobil bekas yang saya beli belum lama ini. Yang saya kendarai adalah mobil tua jenis station wagon yang sudah berjarak tempuh 128.000 KM dan tanpa kantong udara yang dapat melindungi anak-anak saya.
Untuk membeli mobil bekas itu, dan agar memiliki sedikit uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang sangat mendesak, saya harus menjual “harta” terakhir kami, yaitu sebuah mobil station wagon Volvo keluaran tahun 1992 dengan kantong udara untuk melindungi anak-anak. Dengan terjualnya mobil itu, kami pun tidak punya apa-apa lagi. Rumah dan tabungan kami semuanya habis untuk membiayai pengobatan penyakit yang hampir merenggut nyawa.
“Tuhan!” teriak saya, “Sekarang aku bahkan tak bisa melindungi anak-anakku karena mobil ini tak punya kantong udara. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, tebak apa yang akan kulakukan . . .”
Krek krik. Krek krik. (Glek.)
Tiba-tiba saja saya merasa malu. Selama dua tahun sebelumnya, Allah telah menyelamatkan istri dan putra saya dari penyakit yang hampir merenggut nyawa mereka, tetapi sekarang saya mengeluh tentang “harta” saya yang telah hilang. Saya pun menyadari betapa mudahnya untuk tidak bersyukur kepada Allah. Bapa yang penuh kasih, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri supaya saya selamat, sudah pernah menyelamatkan nyawa anak saya dengan cara-Nya yang ajaib.
“Ampuni aku, Bapa,” doa saya. Sudah, anak-Ku. —Randy Kilgore
Ya Tuhan, saat pencobaan melanda, betapa mudahnya kami melupakan perlindungan dan penyertaan-Mu. Terpujilah Engkau, ya Bapa, untuk kesabaran dan kasih-Mu yang tak bersyarat dan tak berkesudahan.
Sukacita tumbuh subur di dalam hati yang penuh ucapan syukur.

Saturday, February 13, 2016

Bunga Es

Ada bermacam-macam karunia dari Roh Allah, tetapi semuanya diberi oleh Roh yang satu. —1 Korintus 12:4 BIS
Bunga Es
Ketika masih berusia lima belas tahun, Wilson Bentley terpikat oleh keindahan dari serpihan salju. Dengan menggunakan mikroskop tua pemberian ibunya, ia mengamati serpihan salju itu dengan rasa kagum dan membuat ratusan sketsa dari beragam bentuknya yang luar biasa. Namun serpihan salju itu terlalu cepat meleleh sebelum detailnya dapat terlihat jelas. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1885, Bentley mendapat ide untuk menempelkan kamera bellows di mikroskopnya. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya ia berhasil memotret serpihan salju pertamanya. Sepanjang hidupnya, Bentley memotret 5.000 serpihan salju dan masing-masing memiliki bentuk yang berbeda. Ia menamainya “keajaiban mungil yang indah” dan “bunga es”.
Tidak ada serpihan salju yang sama persis bentuknya, tetapi semuanya berasal dari satu sumber yang sama. Demikian juga dengan para pengikut Kristus. Kita semua berasal dari Pencipta dan Penebus yang sama, tetapi setiap kita berbeda. Dalam rencana-Nya yang mulia, Allah telah memilih untuk menyatukan beragam jenis orang, dan Dia memberi kita bermacam-macam karunia. Dalam menggambarkan beragam karunia yang dimiliki orang percaya, Paulus menuliskan: “Ada bermacam-macam karunia dari Roh Allah, tetapi semuanya diberi oleh Roh yang satu. Ada bermacam-macam pekerjaan untuk melayani Tuhan, tetapi Tuhan yang dilayani itu, Tuhan yang satu juga! Ada berbagai-bagai cara mengerjakan pekerjaan Tuhan, tetapi yang memberikan kekuatan untuk itu kepada setiap orang adalah Allah yang satu juga”(1Kor. 12:4-6 BIS).
Bersyukurlah kepada Allah atas kontribusi tersendiri yang dapat kamu berikan dalam menolong dan melayani sesama. —Dennis Fisher
Ya Tuhan, terima kasih untuk keunikan yang Engkau berikan kepadaku. Tolong aku setia menggunakan karunia itu untuk melayani-Mu dan sesama.
Setiap orang merupakan hasil karya unik dari rancangan Allah yang penuh kasih.

Friday, February 12, 2016

Pengetahuan yang Tak Dicerna

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku. —Yohanes 8:31
Pengetahuan yang Tak Dicerna
Dalam bukunya tentang bahasa, seorang diplomat asal Inggris, Lancelot Oliphant (1881-1965), mengamati bahwa banyak murid memberikan jawaban yang benar pada saat ujian tetapi gagal menerapkan pelajaran yang mereka terima itu. Oliphant menyatakan, “Pengetahuan yang tak dicerna tidaklah berguna.”
Penulis Barnabas Piper memperhatikan hal yang serupa dalam hidupnya sendiri: “Saya pikir saya dekat dengan Allah karena saya sudah tahu segalanya,” katanya, “tetapi ternyata saya telah membodohi diri saya sendiri karena menganggap pengetahuan itu sama dengan pengenalan akan Yesus.”
Suatu hari di bait Allah, Yesus bertemu dengan orang-orang yang merasa telah mengetahui segalanya. Mereka sangat bangga pada status mereka sebagai keturunan Abraham tetapi mereka menolak untuk percaya kepada Sang Anak Allah.
Yesus berkata, “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (Yoh. 8:39). Apakah itu? “Percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej. 15:6). Namun demikian, para pendengar-Nya tetap tidak mau percaya. Mereka berkata, “Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yoh. 8:41). Yesus menjawab, “Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah” (ay.47).
Piper mengingat bagaimana semuanya “hancur berantakan” sebelum kemudian ia “mengalami anugerah Allah dan mengenal pribadi Yesus secara mendalam.” Dengan mengizinkan kebenaran Allah mengubah hidup kita, kita tidak hanya menerima pengetahuan yang benar, tetapi juga membawa sesama kita mengenal Yesus. —Tim Gustafson
Bapa, terima kasih karena Engkau menerima setiap orang yang datang kepada-Mu dengan iman.
Beriman bukanlah menerima fakta tentang Allah, melainkan menerima hidup dari Allah.

Thursday, February 11, 2016

Jangan Menyimpan Kesalahan

Hendaklah kamu . . . saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. —Efesus 4:32
Jangan Menyimpan Kesalahan
Di resepsi pernikahan putranya, teman saya Bob berkesempatan untuk memberikan nasihat dan dorongan kepada pasangan pengantin baru tersebut. Dalam sambutannya, ia menceritakan tentang seorang pelatih football yang tinggal tidak jauh dari kotanya. Apabila tim yang diasuhnya kalah dalam suatu pertandingan, pelatih itu akan membiarkan papan skor di lapangan yang menunjukkan angka kekalahan mereka sepanjang minggu itu untuk mengingatkan pemainnya pada kegagalan mereka. Sekalipun itu mungkin strategi yang baik dalam olahraga, Bob dengan bijak mengatakan bahwa perbuatan itu merupakan strategi yang sangat buruk jika diterapkan dalam pernikahan. Apabila pasanganmu sempat mengecewakan atau gagal memenuhi harapanmu, janganlah terus-menerus mengingat dan berfokus pada kegagalannya. Jangan lagi menyimpan kesalahannya.
Sungguh nasihat yang luar biasa! Kitab Suci dipenuhi perintah bagi kita untuk saling mengasihi dan mengampuni kesalahan. Kita diingatkan bahwa kasih “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1Kor. 13:5) dan bahwa kita harus mau mengampuni satu sama lain “sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32).
Saya sungguh bersyukur karena Allah tidak lagi mengingat-ingat kesalahan saya. Allah tidak sekadar mengampuni ketika kita bertobat; Dia membuang dosa kita jauh-jauh, sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Bagi Allah, pengampunan berarti bahwa dosa kita tidak lagi dipandang dan diingat oleh-Nya. Kiranya Allah memberi kita anugerah agar kita juga rela mengampuni orang-orang di sekitar kita. —Joe Stowell
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak menyimpan dosa-dosaku dan telah memberiku kesempatan kedua. Tolonglah aku hari ini untuk mengampuni sesamaku, sama seperti Engkau telah begitu murah hati mengampuniku.
Ampunilah sesama sebagaimana Allah mengampuni kamu— janganlah menyimpan kesalahan orang lain.

Wednesday, February 10, 2016

Yesus di Atas Segalanya

Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. —Kolose 1:17
Yesus di Atas Segalanya
Putra teman saya memutuskan untuk memakai kostum olahraga di atas seragam sekolahnya. Ia ingin menunjukkan dukungan untuk tim favoritnya yang akan bertanding dalam pertandingan yang penting malam itu. Sebelum meninggalkan rumah, ia memasang sesuatu di atas kostum olahraganya —untaian rantai dengan liontin bertuliskan, “Yesus”. Tindakannya yang sederhana melukiskan satu kebenaran yang mendalam: Yesus berhak menempati posisi utama di atas segala sesuatu dalam hidup kita.
Yesus jauh melampaui segala sesuatu. “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:17). Yesus lebih utama dari segala ciptaan (ay.15-16). Dialah “kepala tubuh, yaitu jemaat” (ay.18). Karena itu semua, Dia patut menjadi yang terutama di atas segala-galanya.
Ketika kita memberi Yesus tempat tertinggi dan terhormat dalam setiap bagian dari hidup kita, kebenaran itu menjadi nyata bagi orang-orang yang berada di sekitar kita. Dalam pekerjaan, apakah kita bekerja terutama untuk Tuhan, ataukah hanya untuk menyenangkan orang yang mempekerjakan kita? (Kol. 3:23). Bagaimana standar Allah tampak dari cara kita memperlakukan sesama? (ay.12-14). Apakah kita mengutamakan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari dan dalam hobi kita di waktu senggang?
Yesus layak bertakhta di dalam hati kita. Jadikanlah Dia pribadi yang paling berpengaruh atas seluruh hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt
Yesus, Engkau berhak mendapatkan waktu, energi, dan perhatian terbaik yang kumiliki. Aku memuja-Mu sebagai Raja yang menguasai hatiku, dan Tuhan atas semua hal yang kulakukan.
Utamakanlah Yesus.

Tuesday, February 9, 2016

Menu Rahasia

Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal. —Yohanes 4:32
Menu Rahasia
Meat Mountain adalah nama roti lapis raksasa yang berisi enam macam daging. Dengan tumpukan daging ayam goreng, tiga lembar daging babi asap, dua lembar keju, dan banyak lagi, roti itu seharusnya menjadi menu andalan dari suatu restoran.
Namun Meat Mountain tidak terdapat dalam daftar menu restoran mana pun. Roti isi itu menjadi satu contoh tren dari menu rahasia yang hanya diketahui orang melalui media sosial atau dari mulut ke mulut. Tampaknya persaingan mendesak sejumlah restoran cepat saji menyajikan menu rahasia hanya pada pelanggan yang mengetahuinya.
Ketika Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang “makanan” yang tidak mereka kenali, mereka mungkin mengira bahwa “makanan” yang Yesus sebutkan itu adalah sebuah menu rahasia (Yoh. 4:32). Yesus tahu murid-murid-Nya bingung, maka Dia menjelaskan bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa-Nya serta menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya (ay.34).
Yesus baru saja berbicara dengan seorang perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub tentang air hidup yang belum pernah didengarnya. Dalam perbincangan mereka, Yesus memberikan pemahaman rohani terhadap rasa haus yang tak dapat terpuaskan dalam diri perempuan itu. Ketika Yesus menyingkapkan identitas diri-Nya, perempuan itu pun meninggalkan tempayannya, berlari menemui tetangga-tetangganya, dan berkata, “Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay.29).
Yang tadinya rahasia kini ditawarkan kepada semua orang. Yesus mengundang kita semua untuk mempercayai kesanggupan-Nya dalam memenuhi hasrat hati kita yang terdalam. Setelah menerima-Nya, kita akan menjalani hidup yang tidak hanya dipuaskan oleh makanan jasmani, tetapi juga oleh Roh Allah yang memuaskan jiwa kita. —Mart Dehaan
Bapa, kami memuji-Mu karena Engkau menyatakan kebenaran-Mu kepada kami. Tolonglah kami untuk menjalani hidup setiap hari dengan kuasa Roh-Mu.
Hanya Kristus, Sang Roti Hidup, yang dapat memuaskan rasa lapar rohani dari dunia.

Monday, February 8, 2016

Tidak Bisa Dibatalkan

Buah Roh ialah: . . . kelemahlembutan, penguasaan diri. —Galatia 5:22-23
Tidak Bisa Dibatalkan
Saya tak bisa membatalkan tindakan yang telah saya lakukan. Seorang wanita memarkir mobilnya dan menghalangi saya yang hendak menuju ke pompa bensin. Wanita itu sedang keluar sebentar dari mobilnya untuk membuang sampah. Karena sudah tidak sabar menanti, saya membunyikan klakson. Dengan jengkel saya pun memutar balik dan mencari jalan lain. Namun segera saya merasa tidak enak hati karena sudah bersikap tidak sabar dan enggan untuk menunggu 30 detik hingga mobil itu bergerak. Saya juga meminta pengampunan dari Allah. Memang, wanita itu seharusnya parkir di tempat yang telah ditentukan. Namun seharusnya saya bisa menanggapinya dengan sabar dan ramah, bukan dengan kasar. Sayangnya, sudah terlambat bagi saya untuk meminta maaf karena wanita itu telah pergi.
Banyak ayat dalam kitab Amsal yang menantang kita untuk memikirkan tanggapan apa yang patut kita berikan manakala seseorang menghalangi rencana kita. Ada ayat yang berkata, “Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh” (Ams. 12:16). Selain itu, “Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak” (20:3). Kemudian ada satu ayat lagi yang bernada sangat tegas: “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya” (29:11).
Adakalanya membiasakan diri untuk bersikap sabar dan ramah memang terasa sulit. Namun Rasul Paulus berkata bahwa “buah Roh” (Gal. 5:22-23) merupakan karya Allah. Ketika kita bergantung kepada Allah dan bekerja sama dengan-Nya, Dia akan menghasilkan buah Roh tersebut dalam diri kita. Ubahlah kami, ya Tuhan. —Anne Cetas
Tuhan, jadikanlah aku seorang yang lemah lembut. Kiranya aku tidak lekas merasa frustrasi ketika ada masalah menjengkelkan yang menimpa hidupku. Beriku kesabaran dan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Allah menguji kesabaran kita agar kita dapat berjiwa besar.

Sunday, February 7, 2016

Pabrik Kesedihan

[Allah] akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4
Pabrik Kesedihan
Sebagai penggemar tim football Cleveland Browns sejak kecil, saya sudah biasa merasa kecewa. Browns merupakan satu dari empat tim football yang tidak pernah tampil sama sekali dalam pertandingan final Super Bowl. Meskipun demikian, Browns mempunyai kelompok penggemar yang tetap setia mendukung tim itu dari tahun ke tahun. Namun karena para penggemar itu sudah sering dikecewakan, banyak dari mereka sekarang menjuluki stadion kandang dari Cleveland Browns sebagai “Pabrik Kesedihan”.
Dunia yang kita diami juga dapat menjadi “pabrik kesedihan”. Ada saja hal-hal yang dapat menyebabkan dukacita dan kekecewaan, baik disebabkan oleh pilihan kita sendiri atau oleh hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Namun para pengikut Kristus mempunyai pengharapan, tidak hanya untuk kehidupan mendatang, tetapi juga untuk masa sekarang. Yesus mengatakan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Kristus tidak memandang remeh pergumulan dan kesedihan yang mungkin kita alami, tetapi Dia berjanji untuk memberi kita rasa damai, sukacita dan kemenangan yang pasti.
Di dalam Kristus, kita dapat menemukan damai sejati yang selalu tersedia untuk menolong kita menghadapi segala persoalan hidup yang menghadang kita. —Bill Crowder
Sewaktu hidupku tenang dan aman, ataupun susah menimpa, ‘ku di mana pun, Tuhan yang menuntun, jiwaku, jiwaku tenanglah. Jiwaku, tenanglah, jiwaku, jiwaku tenanglah. Horatio G. Spafford [Kidung Puji-Pujian Kristen No. 328]
Pengharapan dan kedamaian kita ditemukan di dalam Yesus.

Saturday, February 6, 2016

Apa yang akan Terjadi

Di dalam kota itu tidak terdapat sesuatu pun yang terkena kutuk Allah. —Wahyu 22:3 BIS
Apa yang akan Terjadi
Kamu dan saya memiliki persamaan. Kita hidup di tengah dunia yang kacau-balau dan ternoda. Kita tidak pernah mengalami keadaan dunia yang berbeda—tidak seperti Adam dan Hawa. Mereka dapat mengingat bagaimana kehidupan mereka sebelum jatuhnya kutukan Allah. Mereka dapat mengingat keadaan dunia dalam rancangan asli Allah—dunia yang terbebas dari kematian, penderitaan, dan rasa sakit (Kej. 3:16-19). Di Eden, sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, tidak ada kelaparan, pengangguran, dan penyakit. Tidak ada yang mempertanyakan daya cipta Allah ataupun rencana-Nya bagi hubungan antar manusia.
Dunia yang kita warisi sekarang ini begitu jauh berbeda dari taman Allah yang sempurna itu. Namun C. S. Lewis pernah berkata, “Dunia yang tadinya baik ini telah rusak, tetapi [dunia ini] masih menyimpan sisa-sisa dari keadaannya yang seharusnya.” Syukurlah, sisa-sisa kecil dari keadaan bumi yang pernah ada dahulu itu juga menjadi secuil bayangan tentang kekekalan di masa yang akan datang. Di dalam kekekalan, sama seperti Adam dan Hawa pernah berjalan dan berbincang langsung dengan Allah, orang-orang percaya akan melihat wajah-Nya dan melayani-Nya secara langsung. Tidak akan ada lagi penghalang di antara Allah dengan kita. “Di dalam kota itu tidak terdapat sesuatu pun yang terkena kutuk Allah” (Why. 22:3 BIS). Tidak akan ada lagi dosa, rasa takut, dan rasa malu.
Masa lalu dan segala konsekuensinya mungkin masih membayangi masa sekarang. Namun demikian, orang percaya menerima janji akan sesuatu yang jauh lebih baik, yakni kehidupan kekal di suatu tempat yang sama sempurnanya dengan Eden. —Jennife Benson Schuldt
Ya Allah, tolong aku untuk mengingat, bahwa meski dunia ini tidak lagi menyerupai rancangan asli-Mu, masih ada banyak hal yang bisa dinikmati, dan dilakukan untuk-Mu dan untuk sesama. Terima kasih untuk janji bahwa kami akan tinggal bersama-Mu kelak dalam tempat yang sempurna.
Kelak Allah akan memulihkan segala sesuatu.

Friday, February 5, 2016

Pemimpin yang Melayani

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Matius 20:26
Pemimpin yang Melayani
Dalam komunitas tradisional di Afrika, pergantian kepemimpinan merupakan keputusan yang serius. Setelah seorang raja mangkat, pemilihan penerusnya dilakukan dengan sangat hati-hati. Selain berasal dari keluarga kerajaan, penerus tersebut harus kuat, berani, dan bijaksana. Para kandidat akan diwawancara untuk menentukan apakah mereka rela melayani rakyat atau akan memerintah dengan tangan besi. Penerus raja haruslah seseorang yang dapat memimpin sekaligus melayani.
Meskipun Salomo sendiri pernah membuat keputusan yang buruk, ia juga mengkhawatirkan penggantinya. “Siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat” (Pkh. 2:19). Putra Salomo, Rehabeam, menjadi penerus takhta Salomo. Ternyata Rehabeam menunjukkan bahwa ia tidak cukup bijak sebagai raja dan akhirnya membuktikan kekhawatiran ayahnya.
Ketika rakyat meminta kondisi kerja yang lebih manusiawi, itulah kesempatan bagi Rehabeam untuk menunjukkan kepemimpinan yang melayani. “Kalau Baginda sungguh-sungguh ingin mengabdi kepada rakyat, kabulkanlah permohonan mereka . . . ,” saran para tetua, “maka mereka akan mengabdi kepada Baginda selama-lamanya” (1Raj. 12:7 BIS). Namun Rehabeam menolak nasihat mereka. Ia tidak mencari Allah. Tindakannya yang kejam terhadap rakyat telah membuat kerajaannya terbagi, dan mempercepat laju kemerosotan rohani umat Allah (12:14-19).
Di tengah keluarga, tempat kerja, gereja, atau lingkungan tempat tinggal kita, kita memerlukan hikmat Allah agar kita memiliki kerelaan hati untuk melayani daripada dilayani. —Lawrence Darmani
Ya Tuhan, beriku hati sebagai hamba yang rendah hati. Tolonglah aku untuk memimpin dan mengikut-Mu dengan rendah hati dan penuh belas kasihan.
Pemimpin yang baik adalah pelayan yang baik.

Thursday, February 4, 2016

Harta Tersembunyi

Kejarlah [pikiran yang tajam dan pengertian] seperti mengejar harta yang terpendam. —Amsal 2:4 BIS
Harta Tersembunyi
Saya dan suami membaca dengan gaya yang berbeda. Karena bahasa Inggris adalah bahasa kedua bagi Tom, ia cenderung membaca dengan pelan dan mengeja kata-demi-kata. Di lain pihak, saya sering hanya membaca sepintas lalu untuk mendapatkan gambaran umum dari bacaan tertentu. Namun dibanding saya, daya ingat Tom lebih kuat. Ia dapat dengan mudah mengutip apa yang pernah dibacanya seminggu yang lalu, sedangkan daya ingat saya cepat sekali menguap hanya beberapa detik setelah saya mengalihkan pandangan dari layar komputer atau buku yang saya baca.
Saya juga cenderung membaca Alkitab dengan sepintas lalu—dan ini tidak saja ketika saya menemukan bagian yang berisi silsilah. Saya tergoda untuk membaca sepintas bagian-bagian Alkitab yang sudah saya kenal, kisah-kisah yang sudah saya dengar sejak kecil, atau sepotong mazmur yang menjadi bagian dari lagu yang terkenal.
Amsal 2 mendorong kita untuk berusaha lebih mengenal Allah dengan sungguh-sungguh memiliki hati yang mau diajar. Ketika kita cermat membaca Alkitab dan menyediakan waktu untuk menghafalkannya, kita akan semakin menghayati kebenaran firman itu (ay.1-2). Terkadang, membaca firman Tuhan dengan bersuara akan menolong kita untuk mendengar dan memahami hikmat dari Allah dengan lebih utuh. Dan ketika kita berdoa dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci dan meminta kepada-Nya pengertian dan kepandaian (ay.3), kita pun menikmati percakapan yang hangat dengan Pemberi firman itu.
Kita akan mengenal Allah dan hikmat-Nya pada saat kita menggali firman itu dengan sepenuh hati. Kita mendapat pengertian ketika kita mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta karun yang terpendam. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, tolong aku supaya tidak tergesa-gesa dan mendengarkan apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku melalui firman-Mu, supaya aku bisa menjadi pribadi seperti yang Engkau kehendaki.
Bacalah Alkitab dengan cermat dan pelajarilah dengan tekun.

Wednesday, February 3, 2016

Latihan Seumur Hidup

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya . . . jangan aku sendiri ditolak. —1 Korintus 9:27
Latihan Seumur Hidup
Saya baru saja bertemu dengan seorang wanita yang telah memacu tubuh dan pikirannya hingga ke titik maksimal. Ia pernah mendaki gunung, menantang maut, dan bahkan memecahkan rekor dunia Guinness. Sekarang ia berhadapan dengan tantangan yang berbeda, yaitu membesarkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Keberanian dan iman yang digunakannya untuk mendaki gunung sekarang dicurahkannya untuk mengasuh anak.
Di 1 Korintus, Rasul Paulus berbicara tentang seorang pelari yang berlomba. Setelah mendesak anggota jemaat di Korintus yang suka menuntut hak-hak mereka untuk memperhatikan satu sama lain (Pasal 8), Paulus menjelaskan bagaimana ia memandang tantangan untuk mengasihi dan berkorban itu bagaikan berlari dalam maraton yang menguji ketahanan tubuh (Pasal 9). Sebagai pengikut Yesus, mereka perlu melepaskan hak-hak mereka dalam ketaatan kepada-Nya.
Seperti para atlet melatih tubuhnya agar mereka bisa meraih kemenangan, kita juga melatih tubuh dan pikiran agar jiwa kita bertumbuh. Ketika kita meminta Roh Kudus untuk mengubah kita, dari waktu ke waktu, kita pun meninggalkan hidup kita yang lama. Dengan dimampukan oleh Allah, kita dapat menahan diri untuk tidak berkata-kata kasar. Kita dapat berhenti memainkan perangkat elektronik kita dan memusatkan perhatian untuk mendengarkan teman-teman kita. Kita juga tidak perlu bersikeras untuk memenangi suatu argumen.
Hari ini, dalam latihan yang kita jalani bersama Roh Kristus, cara apa yang dipakai Allah untuk membentuk kita? —Amy Boucher Pye
Tuhan, kiranya aku tidak menuntut hakku, melainkan berlatih untuk memenangi hadiah yang bersifat kekal.
Latihan akan membawa pada perubahan hidup.

Tuesday, February 2, 2016

Meninggalkan Warisan

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untukmelayani. —Markus 10:45
Meninggalkan Warisan
Ketika Tim, seorang mandor konstruksi jalan, tewas dalam suatu kecelakaan, banyak orang yang merasa kehilangan. Keluarga, anak buah, dan lingkungannya telah kehilangan pribadi yang selama ini sangat mengasihi mereka. Gereja kecil tempatnya beribadah tak cukup menampung warga yang ingin mengungkapkan dukacita mereka sehingga panitia memindahkan kebaktian ke tempat yang jauh lebih besar. Sanak saudara dan sahabat yang memenuhi auditorium itu mengirimkan pesan yang sangat jelas: Tim telah menyentuh banyak jiwa secara khusus melalui hidupnya. Banyak orang yang akan merindukan kebaikan, sikap humoris, dan semangat Tim dalam menjalani hidup.
Sepulang dari pemakaman, saya teringat pada kehidupan Raja Yoram. Alangkah jauh berbedanya dari kehidupan Tim! Kekuasaannya yang mengerikan dan singkat tercatat di 2 Tawarikh 21. Untuk memperkuat kekuasaannya, Yoram membunuh semua saudaranya dan para pemimpin lain (ay.4). Ia kemudian menyesatkan Yehuda untuk menyembah berhala. Alkitab memberi tahu kita, “Ia meninggal dengan tidak dicintai orang” (ay.20). Yoram berpikir bahwa kekuasaannya akan langgeng dengan tangan besi. Memang benar. Ia selamanya diingat dalam Alkitab sebagai pemimpin yang keji dan egois.
Meski Yesus juga adalah raja, Dia datang ke dunia sebagai hamba. Ketika Dia berbuat baik dalam pelayanan-Nya, Dia dibenci oleh orang-orang yang haus kekuasaan. Akhirnya, Sang Raja sekaligus Hamba itu pun menyerahkan nyawa-Nya.
Teladan Yesus terus langgeng hingga kini, dalam diri orang-orang yang mengerti bahwa hidup dijalani bukanlah hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan dijalani demi Yesus. Dia rindu merangkul dan mengampuni setiap orang yang berpaling kepada-Nya. —Tim Gustafson
Tuhan, baik melalui kematian maupun kehidupan-Mu, Engkau melayani sesama. Tolonglah kami untuk melayani sesama dengan hidup kami lewat hal-hal sederhana yang kami kerjakan hari ini.
Hidup yang dijalani bagi Allah akan meninggalkan warisan yang kekal.

Monday, February 1, 2016

Berdoa dengan Tidak Jemu-Jemu

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. —Lukas 18:1
Berdoa dengan Tidak Jemu-Jemu
Apakah kamu sedang mengalami masa-masa ketika setiap upaya yang kamu tempuh untuk menyelesaikan suatu masalah justru terhadang oleh kesulitan yang baru? Mungkin pada malam hari kamu bersyukur karena masalahmu sudah tertangani, tetapi ketika bangun keesokan paginya, kamu menemukan ada hal lain yang tidak beres dan masalah itu masih ada.
Suatu kali, saat mengalami masa seperti itu, saya terpana oleh kata-kata pembuka dari Lukas 18: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1). Saya sudah sering membaca cerita tentang janda yang gigih itu tetapi saya belum pernah memahami alasan Yesus menceritakannya (ay. 2-8). Sekarang saya dapat mengaitkan kata-kata pembuka tersebut dengan perumpamaan yang diceritakan-Nya. Hikmah yang diajarkan Yesus kepada para pengikut-Nya sangatlah jelas: “Teruslah berdoa dengan tidak jemu-jemu.”
Doa bukanlah alat untuk memaksa Allah agar Dia melakukan apa yang kita inginkan. Doa merupakan suatu proses untuk menyadari kuasa dan rencana-Nya atas hidup kita. Melalui doa, kita menyerahkan hidup dan keadaan kita kepada Tuhan dan mempercayai-Nya untuk bertindak menurut waktu dan cara-Nya.
Pada saat kita mengandalkan anugerah Allah, tidak hanya untuk jawaban dari permohonan kita tetapi juga untuk prosesnya, kita dapat selalu datang kepada Tuhan melalui doa, dengan mempercayai hikmat dan kepedulian-Nya bagi kita.
Dorongan yang diberikan Tuhan untuk kita sangatlah jelas: Teruslah berdoa dengan tidak jemu-jemu! —David McCasland
Tuhan, dalam kesulitan-kesulitan yang kuhadapi hari ini, jagalah hatiku, bimbinglah kata-kataku, dan tunjukkanlah anugerah-Mu. Kiranya aku selalu berharap kepada-Mu dalam doa.
Doa mengubah segalanya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate