Pages - Menu

Friday, June 30, 2017

Saatnya Bertumbuh

Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. —Lukas 13:8
Saatnya Bertumbuh
Musim semi lalu, saya berencana memangkas pohon mawar di belakang rumah kami. Selama tiga tahun kami di sana, pohon itu tidak banyak berbunga dan ranting-rantingnya yang terlihat jelek bertumbuh semakin liar ke segala arah.
Namun karena kesibukan, rencana itu tertunda. Tanpa kami duga, beberapa minggu kemudian, bunga-bunga pun tumbuh mekar pada pohon mawar itu. Ratusan mawar putih besar yang harum semerbak bergelantungan dari atas pintu belakang sampai ke halaman, dan memenuhi tanah dengan helai-helai mahkota bunga yang indah.
Pertumbuhan pohon mawar kami itu mengingatkan saya akan perumpamaan Yesus tentang pohon ara di Lukas 13:6-9. Orang di Israel biasanya memberi waktu tiga tahun bagi pohon ara untuk berbuah. Jika tidak berbuah, pohon itu akan ditebang sehingga tanahnya dapat diolah lagi dengan lebih baik. Dalam perumpamaan Yesus, sang tukang kebun meminta kepada tuannya waktu tambahan satu tahun untuk sebatang pohon ara agar dapat berbuah. Dalam konteksnya (ay.1-5), perumpamaan itu menyiratkan bahwa bangsa Israel tidak lagi hidup sesuai kehendak Allah, dan Dia berhak menghakimi mereka. Namun, Allah itu sabar dan telah memberikan tambahan waktu bagi mereka untuk kembali kepada-Nya, diampuni, dan berbuah.
Allah ingin semua orang bertumbuh dan Dia telah memberikan tambahan waktu agar mereka dapat benar-benar bertumbuh. Kesabaran-Nya menjadi kabar baik bagi kita semua, baik yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan maupun yang mendoakan anggota keluarga dan sahabat kita yang belum percaya. —Sheridan Voysey
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. —Yohanes 15:5
Allah telah memberi dunia tambahan waktu untuk menerima pengampunan yang ditawarkan-Nya.

Thursday, June 29, 2017

Iman dalam Perbuatan

Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku. —Yakobus 2:18
Iman dalam Perbuatan
Ketika teman saya berkendara menuju ke pasar swalayan, ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan di tepi jalan. Teman saya merasa bahwa ia perlu memutar balik mobilnya dan menawarkan tumpangan kepada wanita itu. Setelah melakukannya, hatinya tersentuh saat mendengarkan bahwa si wanita itu tidak punya cukup uang untuk naik bus sehingga ia harus pulang berjalan kaki sekian kilometer di bawah cuaca yang panas dan lembap. Tidak hanya menempuh perjalanan panjang untuk pulang, ia juga telah berjalan kaki berjam-jam pagi itu agar dapat tiba di tempat kerjanya pukul 04:00.
Dengan menawarkan tumpangan, teman saya telah melaksanakan perintah Yakobus kepada orang Kristen agar mereka mewujudkan iman mereka dalam perbuatan. Yakobus berkata, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (ay.17). Selain mengharapkan gereja dapat mengurus para janda dan yatim piatu (Yak. 1:27), Yakobus juga menghendaki agar mereka tidak hanya memberikan ajaran kosong tetapi juga mewujudkan iman mereka dengan melakukan perbuatan kasih.
Memang kita diselamatkan oleh iman dan bukan oleh usaha kita sendiri, tetapi kita patut mewujudkan iman kita dengan cara mengasihi sesama dan memperhatikan kebutuhan mereka. Seperti teman yang menawarkan tumpangan tadi, kiranya mata kita selalu terbuka untuk memperhatikan siapa saja yang mungkin membutuhkan bantuan kita dalam kehidupan yang kita jalani bersama ini. —Sheridan Voysey
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah melakukan yang termulia dengan mati di kayu salib menggantikanku. Kiranya aku tak pernah melupakan pengorbanan agung yang memberiku kehidupan kekal itu.
Kita mewujudkan iman kita melalui perbuatan baik kita.

Wednesday, June 28, 2017

Pekerjaan yang Belum Selesai

Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —Roma 7:24-25
Pekerjaan yang Belum Selesai
Pada kematiannya, seniman besar Michelangelo meninggalkan banyak proyeknya yang belum selesai. Namun demikian, ia sengaja tidak menyelesaikan empat buah patung yang dirancangnya. Patung-patung yang diberi nama Bearded Slave, Atlas Slave, Awakening Slave, dan Young Slave itu memang dibiarkan terlihat belum tuntas oleh Michelangelo. Seniman ulung itu ingin menunjukkan rasanya diperbudak untuk selamanya.
Alih-alih membuat sosok patung yang dirantai, Michelangelo membuat sosok-sosok tersebut seakan terjerat dalam marmer yang menjadi bahan dari sosok ukiran itu sendiri. Tubuh patung-patung itu seperti hendak keluar dari batu marmernya, tetapi tidak sepenuhnya terlepas. Meski sosok-sosok itu meliukkan otot-ototnya, mereka tidak pernah bisa membebaskan diri.
Saya langsung berempati dengan patung-patung budak itu. Keadaan mereka yang mengenaskan sangat mirip seperti pergumulan saya dengan dosa. Saya tidak dapat membebaskan diri: seperti patung-patung itu saya terjerat, “menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm. 7:23). Sekeras apa pun usaha saya, saya tidak bisa mengubah diri saya sendiri. Namun, syukur kepada Allah, kamu dan saya tidak akan berakhir seperti patung-patung yang belum selesai itu. Memang kita tidak akan sempurna sebelum kita tiba di surga. Akan tetapi, sementara kita hidup di dunia dan menerima perubahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, Dia senantiasa mengubah kita. Allah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan baik yang telah dimulai-Nya di dalam kita (Flp. 1:6). —Amy Peterson
Tuhan, terima kasih karena Engkau membuatku menjadi ciptaan baru melalui karya Anak-Mu, Yesus Kristus, yang membebaskan kami dari perbudakan dosa.
Allah adalah tukang periuk; kita tanah liatnya.

Tuesday, June 27, 2017

Doa Lima Jari

Hendaklah kamu . . . saling mendoakan. —Yakobus 5:16
Doa Lima Jari
Doa merupakan percakapan dengan Allah, bukan sebuah rumus yang kaku. Namun, adakalanya kita mungkin perlu menggunakan semacam “metode” untuk menyegarkan kehidupan doa kita. Kita dapat berdoa dengan menggunakan kitab Mazmur atau bagian-bagian lain dari Alkitab (misalnya Doa Bapa Kami), atau menggunakan metode P4 (Penyembahan, Pengakuan dosa, Pengucapan syukur, dan Permohonan). Baru-baru ini saya menggunakan metode “Doa Lima Jari” sebagai pedoman saat berdoa bagi orang lain.
• Ketika melipat jemari, jempol berada paling dekat dengan kita. Jadi mulailah berdoa untuk orang-orang yang paling dekat dengan kita—orang-orang yang kita kasihi (Flp. 1:3-5).
• Jari telunjuk adalah penunjuk. Berdoalah untuk mereka yang mengajarkan firman Tuhan—para guru Alkitab dan pengkhotbah, serta orang-orang yang mengajar anak-anak (1Tes. 5:25).
• Jari tengah adalah yang paling tinggi. Kita diingatkan untuk berdoa bagi mereka yang mempunyai otoritas di atas kita—para pemimpin nasional dan lokal, serta atasan kita di tempat kerja (1Tim. 2:1-2).
• Jari manis biasanya paling lemah. Berdoalah untuk mereka yang sedang menderita atau berada dalam kesulitan (Yak. 5:13-16).
• Terakhir, jari kelingking yang kecil mengingatkan betapa kecilnya kita dibandingkan keagungan Allah. Mintalah Dia untuk memenuhi kebutuhanmu (Flp. 4:6,19).
Metode apa pun yang kamu gunakan, bercakap-cakaplah dengan Bapamu yang di surga. Dia rindu mendengar apa yang ada di dalam hati kita. —Anne Cetas
Bapa, berilah aku hikmat untuk mengetahui bagaimana caranya berdoa bagi orang lain.
Dalam berdoa, yang penting bukanlah kata-kata, melainkan keadaan hati kita.

Monday, June 26, 2017

Menyerap Firman Allah

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu. —Ulangan 6:6-7
Menyerap Firman Allah
Ketika putra kami Xavier masih balita, keluarga kami berjalan-jalan mengunjungi Monterey Bay Aquarium. Sewaktu kami memasuki gedung tersebut, saya menunjuk ke arah patung besar yang tergantung di langit-langit. “Lihat itu. Ikan paus bungkuk.” Xavier terlihat begitu kagum dan berkata, “Dahsyat.” Suami saya menoleh ke arah saya dan bertanya, “Koq ia bisa tahu kata itu?”
“Ia pasti pernah mendengar kita mengatakannya.” Saya heran sekaligus kagum melihat bagaimana anak balita kami telah menyerap kosakata yang sebenarnya belum pernah kami ajarkan kepadanya.
Di Ulangan 6, Allah memerintahkan umat-Nya agar bersungguh-sungguh dalam mengajar anak-anak mereka untuk mengenal dan menaati Kitab Suci. Semakin bangsa Israel dan anak-anak mereka mengenal Allah, semakin mereka ingin menghormati-Nya. Mereka juga akan semakin menikmati berkat-berkat yang diterima karena mereka mengenal Allah dengan mendalam, mengasihi-Nya segenap hati, dan mengikuti-Nya dalam ketaatan penuh (ay.2-5).
Kesungguhan dalam menyerap firman Allah ke dalam hati dan pikiran kita (ay.6) akan menolong kita lebih siap meneruskan kasih dan kebenaran Allah kepada anak-anak kita di tengah aktivitas yang dijalani sehari-hari (ay.7). Melalui teladan yang kita tunjukkan, kita dapat memperlengkapi sekaligus mendorong kaum muda untuk mengakui dan menghormati otoritas serta relevansi kebenaran Allah yang tidak pernah berubah (ay.8-9).
Ketika firman Allah mengalir secara alami dari hati dan mulut kita, kelak kita akan meninggalkan warisan iman yang tangguh pada generasi-generasi mendatang (4:9). —Xochitl Dixon
Kata-kata yang kita serap menentukan kata-kata yang kita ucapkan, hidupi, dan teruskan kepada orang-orang di sekeliling kita.

Sunday, June 25, 2017

Sungguh Amat Baik!

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. —Kejadian 1:31
Sungguh Amat Baik!
Adakalanya sebuah hari terasa memiliki tema yang sama untuk sepanjang hari itu. Baru-baru ini saya mengalaminya. Hari itu, pendeta kami memulai khotbahnya dari Kejadian 1 dengan menampilkan potret bunga-bunga mekar yang menawan selama dua menit. Kemudian di rumah, ketika menjelajahi media sosial, saya melihat sejumlah gambar bunga yang dikirimkan oleh beberapa teman. Masih pada hari yang sama, saat berjalan-jalan di hutan, kami dikelilingi oleh bunga-bunga liar khas musim semi yang indah—bunga trillium, marigold, dan iris.
Allah menciptakan segala jenis bunga dan beragam tanaman lainnya (beserta tanah tempatnya bertumbuh), pada hari ketiga dari penciptaan. Dan dua kali pada hari itu, Allah menyatakan itu “baik” (Kej. 1:10,12). Hanya pada satu hari penciptaan lainnya—hari keenam—Allah kembali menyatakan “baik” sebanyak dua kali (ay.25,31). Bahkan pada hari ketika Allah menciptakan manusia dan mahakarya-Nya telah lengkap, Dia melihat semua yang telah diciptakan-Nya dan menyatakan, “sungguh amat baik!”
Dalam kisah penciptaan, kita melihat Allah Pencipta yang senang melihat ciptaan-Nya—bahkan merasa bersukacita dalam mencipta. Mungkinkah itu memang tujuan-Nya ketika Dia merancang sebuah dunia dengan keanekaragaman yang berwarna-warni dan sangat indah? Allah menciptakan mahakarya-Nya pada hari terakhir ketika Dia “menciptakan manusia . . . menurut gambar-Nya” (ay.27). Sebagai citra Allah, kita terberkati dan terilhami oleh karya tangan-Nya yang indah. —Alyson Kieda
Ya Allah Pencipta kami, kami bersyukur karena Engkau menciptakan dunia ini dengan seluruh keindahannya untuk kami nikmati dan juga untuk sukacita-Mu. Terima kasih juga karena Engkau menciptakan kami menurut gambar-Mu sehingga kami pun terinspirasi untuk mencipta dan berkarya.
Seluruh alam ciptaan merupakan karya tangan Allah sendiri.

Saturday, June 24, 2017

Datang untuk Melayani

Kemudian [Yesus] menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya. —Yohanes 13:5
Datang untuk Melayani
Tiba saatnya bagi gereja kami untuk mengangkat sejumlah pemimpin baru. Untuk melambangkan peran mereka sebagai pemimpin yang melayani, para penatua gereja berpartisipasi dalam pencucian kaki, sebuah upacara yang meninggalkan kesan mendalam. Tiap pemimpin—termasuk gembala gereja kami—mencuci kaki satu sama lain di hadapan jemaat yang menyaksikannya.
Apa yang mereka lakukan hari itu telah dicontohkan kepada kita oleh Yesus Kristus, sebagaimana tertulis di Yohanes 13. Dalam peristiwa yang disebut Perjamuan Terakhir itu, “bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. . . . Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya” (Yoh. 13:4-5). Kemudian Yesus menjelaskan kepada murid-murid alasan-Nya melakukan itu semua, dengan berkata, “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya” (ay.16). Dia juga berkata, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk. 22:27).
Jika Yesus Kristus saja tidak keberatan melakukan pekerjaan yang rendahan itu, kita pun sepatutnya tidak keberatan merendahkan diri untuk melayani sesama kita. Alangkah luar biasanya teladan yang diberikan-Nya bagi kita semua. Sungguh, Dia “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk. 10:45). Dia menunjukkan kepada kita artinya menjadi pemimpin sekaligus pelayan. Yesus datang untuk melayani. —Dave Branon
Ya Tuhan, tolonglah aku melayani sesama. Pimpin aku untuk mengesampingkan kepentingan dan keinginan pribadiku, sehingga aku dapat memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkannya.
Tiada perbuatan yang tak berarti jika itu dilakukan untuk Kristus.

Friday, June 23, 2017

Bermain dengan Selaras

Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. —Roma 12:5-6
Bermain dengan Selaras
Melihat konser band sekolah cucu kami, saya terkesan pada betapa bagusnya anak-anak berusia 11-12 tahun itu bermain bersama. Jika tiap anak ingin tampil sendiri-sendiri, mereka tidak akan mampu mencapai apa yang dilakukan band itu bersama-sama. Semua seruling, terompet, dan perkusi memainkan bagiannya masing-masing dan menghasilkan musik yang indah!
Kepada para pengikut Yesus di Roma, Paulus menulis, ”Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita” (Rm. 12:5-6). Karunia yang disebutkan Paulus antara lain adalah bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, berbagi, memberi pimpinan, dan menunjukkan kemurahan (ay.7-8). Setiap karunia hendaknya digunakan dengan leluasa untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7).
Salah satu definisi dari konser adalah “kesepakatan dalam rancangan atau rencana, kesatuan aksi; harmoni atau keselarasan”. Itulah rancangan Allah untuk kita, anak-anak-Nya di dalam iman kepada Yesus Kristus. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (ay.10). Allah ingin kita bekerja sama, bukan saling bersaing.
Kita berada “di atas panggung”, disaksikan dan didengarkan oleh dunia setiap hari. Tidak ada pemain tunggal dalam konser Allah, dan tiap alat musik berperan penting. Musik terbaik dihasilkan ketika setiap orang memainkan perannya dalam kesatuan bersama. —David McCasland
Tuhan, Kaulah Pemimpin hidup kami. Kami ingin meninggikan kasih dan anugerah-Mu dalam keselarasan dengan anak-anak-Mu yang lain hari ini.
Tidak ada pemain tunggal dalam orkestra Allah.

Thursday, June 22, 2017

Berdiam Diri

Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar? —Habakuk 1:2
Berdiam Diri
Ayam berhamburan ketakutan ketika truk-truk yang membawa bantuan melewati gubuk-gubuk lapuk di kampung itu. Anak-anak yang bertelanjang kaki hanya bisa menatap. Jarang ada kendaraan melintas di jalanan yang mirip kubangan itu.
Tiba-tiba, konvoi kendaraan itu melihat sebuah rumah besar berpagar tinggi. Itulah rumah walikota— walaupun ia sendiri tidak tinggal di sana. Masyarakatnya kekurangan kebutuhan pokok, sementara ia berfoya-foya di tempat lain.
Kita marah melihat ketidakadilan seperti itu. Seorang nabi Allah juga. Ketika Habakuk melihat penindasan merajalela, ia bertanya, “Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” (Hab. 1:2). Namun, Allah selalu mengindahkan, dan Dia berkata, “Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya . . . yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya” (2:6,9). Penghakiman segera datang!
Kita mungkin lega melihat Allah menghakimi orang lain, tetapi satu hal penting dalam kitab Habakuk membuat kita harus merenung: “Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Hab. 2:20). Segenap bumi. Yang tertindas dan yang menindas. Ketika rasanya Allah sedang berdiam diri, adakalanya kita hanya bisa memberikan respons . . . dengan berdiam diri!
Mengapa berdiam diri? Karena kita bisa saja mengabaikan kekurangan rohani kita sendiri. Berdiam diri membuat kita menyadari keberdosaan kita di hadapan Allah yang kudus.
Habakuk belajar mempercayai Allah, dan kita juga dapat melakukannya. Kita tidak tahu segala jalan-Nya, tetapi kita tahu Dia baik. Tiada sesuatu pun di luar kendali dan waktu-Nya. —Tim Gustafson
Tuhan, saat masalah menerpa, kami dapat berdoa seperti Habakuk, “Ya Tuhan, kudengar kabar tentang perbuatan-Mu, maka rasa khidmat memenuhi hatiku. Kiranya perbuatan besar itu Kauulangi dan Kaunyatakan di zaman kami ini.” —(Hab. 3:2 BIS)
Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya. —Amsal 29:7

Wednesday, June 21, 2017

Membagikan Penghiburan

Pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. —2 Korintus 1:7
Membagikan Penghiburan
Seorang teman mengirimkan sejumlah keramik buatannya kepada saya. Saat membuka kotaknya, saya mendapati barang-barang berharga itu rusak dalam perjalanan. Salah satu cangkir pecah menjadi kepingan besar, kepingan kecil, dan serbuk. Setelah suami saya merekatkan kepingan-kepingan itu kembali, saya memajang cangkir retak yang tetap indah itu di rak.
Seperti keramik yang direkatkan kembali, saya memiliki bekas-bekas luka yang menunjukkan bahwa saya masih berdiri teguh setelah Allah membawa saya melewati masa-masa sulit. Penghiburan itu mengingatkan saya bahwa membagikan karya Tuhan di dalam dan melalui hidup saya dapat menolong orang lain di tengah penderitaan mereka.
Rasul Paulus memuji Allah karena Dialah “Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan” (2Kor.. 1:3). Tuhan memakai ujian dan penderitaan kita untuk membuat kita makin serupa dengan-Nya. Penghiburan-Nya dalam pergumulan kita memperlengkapi kita untuk menguatkan orang lain dengan bersaksi tentang pertolongan yang kita terima dari-Nya (ay.4).
Saat kita merenungkan penderitaan Kristus, kita dapat terilhami untuk bertahan di tengah penderitaan kita, dengan mengimani bahwa Allah memakai pengalaman kita untuk menguatkan kita dan sesama hingga menghasilkan ketekunan (ay.5-7). Seperti Paulus, kita dapat terhibur saat mengetahui Tuhan memakai ujian kita untuk kemuliaan-Nya. Kita dapat membagikan penghiburan-Nya dan membawa harapan yang menenteramkan bagi mereka yang terluka. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih Engkau memakai kami untuk memberikan penghiburan, semangat, dan harapan pada sesama kami yang sedang menderita. Kami memuji-Mu untuk segala penghiburan-Mu dahulu, kini, dan yang akan datang.
Allah menghibur sesama kita ketika kita bersaksi tentang penghiburan yang kita terima dari-Nya.

Tuesday, June 20, 2017

Alasan untuk Tersenyum

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. —1 Tesalonika 5:11
Alasan untuk Tersenyum
Di tempat kerja, kata-kata penyemangat itu penting. Cara para karyawan berbicara kepada satu sama lain membawa pengaruh pada kepuasan pelanggan, laba perusahaan, dan penghargaan dari sesama rekan kerja. Penelitian menunjukkan bahwa dalam sebuah tim yang bekerja paling efektif, para anggotanya saling memberikan dorongan positif enam kali lebih banyak daripada ungkapan ketidaksetujuan, pertentangan, dan bernada sarkastis. Tim yang paling rendah produktivitasnya mempunyai anggota-anggota yang cenderung mengatakan komentar negatif tiga kali lipat lebih banyak daripada kata-kata dukungan.
Lewat pengalamannya, Paulus mempelajari pentingnya perkataan dalam membangun relasi dengan sesama dan mencapai tujuan. Sebelum bertemu Kristus di jalan ke Damsyik, perkataan dan tindakannya membawa ketakutan pada para pengikut Yesus. Namun pada waktu menulis surat Tesalonika, ia telah menjadi seorang pemberi semangat yang sangat baik karena Allah bekerja di dalam hatinya. Sekarang lewat teladan hidupnya, ia mendorong para pembacanya untuk membangun semangat satu sama lain. Ia mengajarkan bagaimana mereka bisa menguatkan sesama dan mencerminkan kehadiran Roh Allah tanpa jatuh pada sanjungan yang berlebihan.
Paulus juga mengingatkan pembacanya tentang sumber dari penguatan itu. Dengan mempercayakan diri kita kepada Kristus yang begitu mengasihi kita hingga rela mati untuk kita, kita mempunyai alasan untuk menghibur, mengampuni, menginspirasi, dan mendorong satu sama lain dalam kasih (1Tes. 5:10-11).
Paulus menunjukkan bahwa dengan saling menasihati, kita semua akan ikut merasakan kesabaran dan kebaikan Allah. —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolonglah kami agar dapat membuat orang lain mengecap belas kasih dan kebaikan yang selalu Engkau nyatakan kepada kami.
Tiada yang lebih baik daripada berusaha mendorong satu sama lain agar selalu memberi yang terbaik.

Monday, June 19, 2017

Termotivasi oleh Allah

Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya. —1 Raja-Raja 8:58
Termotivasi oleh Allah
Beberapa bulan lalu saya menerima e-mail yang mengundang saya bergabung dengan komunitas “orang-orang yang berambisi tinggi”. Saya memutuskan untuk meneliti arti kata ambisi dan mendapati bahwa seseorang yang berambisi tinggi adalah orang yang sangat termotivasi untuk mencapai kesuksesan dan mau bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Apakah baik menjadi orang yang berambisi tinggi? Inilah ujian yang tidak pernah salah: Apakah kita “[melakukan] semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31)? Yang sering terjadi justru kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan diri kita sendiri. Setelah peristiwa air bah di zaman Nuh, sekelompok orang memutuskan untuk membangun sebuah menara demi mencari nama bagi diri mereka sendiri (Kej. 11:4). Mereka ingin menjadi terkenal dan berusaha agar tidak terserak ke seluruh bumi. Namun, karena tidak melakukannya untuk kemuliaan Allah, mereka terjerumus pada ambisi yang salah.
Sebaliknya, saat Raja Salomo mendedikasikan tabut perjanjian dan Bait Allah yang baru selesai dibangun, ia berkata, “Aku telah mendirikan rumah ini untuk nama Tuhan” (1Raj. 8:20). Lalu ia berdoa, “Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, dan untuk tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.58).
Ketika hasrat terbesar kita adalah untuk memuliakan Allah dan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, kita menjadi orang yang termotivasi untuk mengasihi dan melayani Yesus dengan pertolongan kuasa Roh Allah. Kiranya kita berdoa seperti Salomo berdoa. Kiranya kita “berpaut kepada Tuhan, Allah kita, dengan sepenuh hati [kita] dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.61). —Keila Ochoa
Bapa, berilah aku kerinduan untuk menaati-Mu dan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Mu.
Lakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.

Sunday, June 18, 2017

Ayah yang Sempurna

Orang benar yang bersih kelakuannya—berbahagialah keturunannya. —Amsal 20:7
Ayah yang Sempurna
Ayah saya pernah mengaku kepada saya, “Saat kamu beranjak dewasa, Ayah sering sekali tidak ada di sisimu.”
Jujur saja, saya tidak mengingatnya. Selain bekerja penuh waktu, Ayah sering pergi keluar rumah pada malam hari untuk melatih paduan suara di gereja, dan sesekali melakukan perjalanan selama satu atau dua minggu bersama grup kwartet prianya. Namun, pada semua peristiwa penting (dan banyak peristiwa yang biasa saja) dalam hidup saya, ia selalu hadir.
Misalnya, waktu berumur 8 tahun, saya mendapat peran kecil dalam drama di sekolah. Semua ibu datang, tetapi hanya ada seorang ayah, yaitu ayah saya. Dalam banyak cara dan kesempatan, ia selalu memberi tahu saya dan kakak-kakak bahwa kami sangat berarti baginya dan ia menyayangi kami. Melihat cara ayah memperhatikan ibu dengan sabar di tahun-tahun terakhir masa hidup ibu benar-benar mengajarkan saya tentang wujud kasih yang rela berkorban. Ayah bukanlah orang yang sempurna, tetapi ia selalu menjadi ayah yang menggambarkan dengan baik Allah Bapa saya di surga. Itulah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang ayah Kristen.
Adakalanya ayah kita di dunia mengecewakan atau menyakiti anak-anaknya. Namun, Bapa kita di surga adalah “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). Ketika seorang ayah yang mengasihi Allah menegur, menghibur, mengajar, dan menyediakan kebutuhan anak-anaknya, ia memberikan bagi mereka contoh yang baik dari Bapa Surgawi kita yang sempurna. —Cindy Hess Kasper
Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih setia-Mu yang selalu dapat kuandalkan. Tolonglah aku untuk menjalani hidup hari ini sehingga kelak aku bisa mewariskan teladan kasih dan kesetiaan.
Hidup yang dijalani bagi Kristus merupakan warisan terbaik yang dapat kita teruskan kepada anak-anak kita.

Saturday, June 17, 2017

Waktu Bersama

Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. —Mazmur 147:11
Waktu Bersama
Selama dua jam perjalanan kembali ke rumah dari acara pernikahan seorang kerabat, ibu saya bertanya untuk ketiga kalinya tentang apa yang baru dalam pekerjaan saya. Sekali lagi saya mengulang sejumlah hal, seolah-olah saya bercerita untuk pertama kalinya, sambil berpikir bagaimana menyusun kata-kata saya agar dapat lebih diingatnya. Ibu saya menderita Alzheimer, sebuah penyakit yang terus menggerus memori, sangat mempengaruhi perilaku, dan berujung pada hilangnya kemampuan bicara—dan masih banyak lagi.
Saya sedih melihat penyakit ibu saya, tetapi juga bersyukur karena ia masih ada bersama saya dan kami dapat meluangkan waktu bersama—bahkan berbincang-bincang dengannya. Saya sangat terharu karena setiap kali saya mengunjunginya, sukacita terpancar di wajahnya dan ia berseru, “Alyson, Ibu senang kamu datang!” Kami menikmati kebersamaan kami; bahkan dalam keheningan saat kata-kata tak lagi terucap dari bibirnya, kami dapat merasakan kebersamaan.
Mungkin itu sedikit menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Alkitab mengatakan, “Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya” (Mzm. 147:11). Allah menyebut setiap orang yang mempercayai Yesus sebagai Juruselamat itu anak-anak-Nya (Yoh. 1:12). Mungkin saja kita mengulang-ulang permohonan yang sama atau kosa kata kita dalam doa begitu terbatas, tetapi Allah tetap sabar menghadapi kita karena Dia mempunyai persekutuan yang penuh kasih dengan kita. Dia senang saat kita bercakap-cakap dengan-Nya di dalam doa—bahkan ketika kita tidak tahu apa yang harus kita katakan. —Alyson Kieda
Ya Tuhan, kami terharu saat mengetahui Engkau ingin menjalin persekutuan dengan kami! Terima kasih untuk kesempatan belajar mengenal-Mu melalui Alkitab dan berbicara dengan-Mu di dalam doa.
Allah senang mendengarkan kita!

Friday, June 16, 2017

Dihidupkan Kembali

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. —Efesus 2:1
Dihidupkan Kembali
Semasa muda, ayah saya pernah bepergian bersama sekelompok teman ke sebuah acara olahraga di luar kota. Tiba-tiba saja roda-roda mobil mereka tergelincir di jalanan yang basah terguyur hujan. Mereka mengalami kecelakaan yang mengenaskan. Salah seorang temannya lumpuh dan seorang teman lainnya tewas. Ayah saya sempat dinyatakan meninggal dunia dan dibawa ke kamar jenazah. Orangtuanya begitu terpukul mendengar kabar itu, dan mereka datang untuk mengenali jenazahnya. Namun, pada saat itu, ayah saya hidup kembali dari koma yang panjang. Perkabungan mereka pun berubah menjadi sukacita.
Di Efesus 2, Rasul Paulus mengingatkan bahwa di luar Kristus, kita “sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa [kita]” (ay.1). Namun, “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (ay.4-5). Melalui Kristus kita telah dihidupkan kembali dari kematian.
Jadi dalam segala hal, kita semua berutang kepada Bapa di surga atas kehidupan kita. Melalui kasih-Nya yang besar, Dia telah memungkinkan kita yang dahulu mati karena dosa untuk memiliki kehidupan dan tujuan yang kekal melalui Anak-Nya. —Bill Crowder
Ya Bapa, terima kasih atas kasih yang menaklukkan dosa, hidup yang menaklukkan kematian, dan anugerah yang menaklukkan hatiku. Kiranya hidupku membawa puji-pujian yang indah bagi-Mu.
Utang dosa kita terlalu besar untuk kita bayar, tetapi Yesus membayar lunas seluruhnya.

Thursday, June 15, 2017

Ikatan Damai Sejahtera

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3
Ikatan Damai Sejahtera
Setelah saya mengirimkan e-mail kepada seorang teman tentang masalah yang membuat kami berbeda pendapat, ia tidak pernah membalasnya. Saya pun bertanya-tanya apakah sikap saya terlalu berlebihan. Saya tidak ingin memperkeruh suasana dengan terus mengusiknya, tetapi saya juga tidak ingin membiarkan masalah itu menggantung sebelum ia pergi ke luar negeri. Setiap kali bayangannya muncul di benak saya sepanjang hari-hari berikutnya, saya tergerak untuk berdoa baginya, meski tidak tahu lagi apa yang masih perlu saya lakukan. Pada suatu pagi ketika sedang berjalan-jalan di taman kota, saya melihatnya. Perasaan tidak senang tampak jelas di wajahnya saat ia memandang sekilas ke arah saya. Saya berdoa, “Terima kasih, Tuhan, sekarang aku bisa bicara dengannya,” sambil mendekati dan menyambutnya dengan senyuman. Kami pun berbicara apa adanya dan dapat menyelesaikan persoalan yang ada.
Terkadang ketika sakit hati dan sikap bungkam melanda hubungan kita dengan orang lain, upaya kita untuk memulihkannya seakan tidak memberikan pengaruh apa-apa. Namun, seperti perkataan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, kita dipanggil untuk berusaha memelihara damai sejahtera dan kesatuan yang diciptakan oleh Roh Allah. Dengan tetap bersikap lemah lembut, rendah hati, dan panjang sabar, kita berharap kepada Allah untuk menolong kita memulihkan hubungan yang rusak. Tuhan rindu agar kita bersatu, dan oleh Roh-Nya, Dia sanggup menyatukan umat-Nya, bahkan melalui perjumpaan tak terduga seperti pengalaman saya di atas. —Sheridan Voysey
Pernahkah kamu mengalami perjumpaan tak terduga yang menunjukkan bahwa Allah bekerja dalam situasi tersebut? Bagaimana kamu dapat mengusahakan terciptanya kedamaian dan kesatuan hari ini?
Allah menghendaki adanya kesatuan di antara orang percaya.

Wednesday, June 14, 2017

Irama Kasih Karunia

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. —Matius 11:29
Irama Kasih Karunia
Saya berteman dengan sepasang suami-istri yang sama-sama berusia 90-an dan telah menikah selama 66 tahun. Mereka mencatat sejarah keluarga mereka agar bisa dibaca oleh anak cucu dan generasi mendatang. Bab terakhir yang berjudul “A Letter from Mom and Dad” (Surat dari Ibu dan Ayah) berisi beragam hikmah yang pernah mereka terima dalam hidup. Salah satu hikmah yang mereka tulis membuat saya merenungi kehidupan saya sendiri: “Jika engkau merasa iman Kristen itu sangat melelahkan dan menguras tenagamu, mungkin selama ini engkau sekadar beragama dan bukan menikmati persekutuan pribadi dengan Yesus Kristus. Berjalan bersama Tuhan takkan membuatmu lelah. Engkau justru akan disegarkan, tenagamu dipulihkan, dan semangat hidupmu berkobar.”
Eugene Peterson menuturkan ulang undangan Yesus dalam Matius 11:28-29: “Apakah engkau lelah? Jenuh? Terbebani oleh segala tuntutan agama? . . . Berjalanlah bersama-Ku dan bekerjalah bersama-Ku. . . . Terimalah dari-Ku kasih karunia yang membuatmu mengalir bersama irama-Ku.”
Jika saya menganggap bahwa melayani Allah itu tergantung sepenuhnya pada diri saya, saya akan memandang pelayanan itu sebagai pekerjaan bagi-Nya dan bukan lagi perjalanan bersama-Nya. Keduanya sangat jauh berbeda. Jika saya tidak berjalan bersama Kristus, jiwa saya menjadi kering dan rapuh. Saya akan melihat orang lain hanya sebagai gangguan dan tidak lagi sebagai sesama manusia yang diciptakan dalam gambar Allah. Semuanya serba salah.
Ketika saya mulai merasa sekadar beragama daripada menikmati persekutuan pribadi dengan Yesus, itulah saatnya bagi saya untuk menyerahkan segala beban yang ada dan berjalan bersama-Nya dalam irama kasih karunia yang diberikan-Nya. —David McCasland
Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu hari ini untuk menukarkan bebanku yang berat dengan jalan kasih karunia-Mu.
Tuhan Yesus mau kita berjalan bersama-Nya.

Tuesday, June 13, 2017

Perhatikan Awan

Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan? —Ayub 37:16
Perhatikan Awan
Suatu hari bertahun-tahun lalu, saya dan anak-anak saya sedang berbaring di halaman sambil melihat awan yang melayang. “Ayah,” kata salah satu anak saya, “mengapa awan itu melayang?” “Begini, Nak,” jawab saya, sambil bermaksud menunjukkan kepadanya pengetahuan saya yang sangat luas. Namun, seketika itu juga saya terdiam. “Maaf, Ayah tidak tahu,” jawab saya kemudian, “tetapi Ayah akan mencarikanmu jawabannya.”
Kemudian saya menemukan jawabannya. Kumpulan titik-titik air yang padat turun ke bumi karena pengaruh gravitasi, kemudian bertemu dengan temperatur udara bumi yang lebih hangat. Titik-titik air tersebut kemudian berubah menjadi uap air dan kembali naik ke udara. Itulah penjelasan ilmiah tentang fenomena awan tersebut.
Namun, penjelasan ilmiah itu bukanlah jawaban satu-satunya. Awan dapat melayang karena hikmat-Nya, Allah telah mengatur hukum alam sedemikian rupa untuk menyatakan “tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu” (Ayb. 37:16). Karena itulah awan dapat juga dipandang sebagai tanda kasat mata yang menyatakan kebaikan dan anugerah Allah di dalam alam ciptaan-Nya.
Jadi, jika nanti kamu melihat ke langit dan memandang awan-awan, ingatlah ini: Pribadi yang menciptakan segala sesuatu dengan indahnya itulah yang membuat awan-awan melayang di udara. Dia melakukan itu untuk menggugah kita agar mengagumi dan memuja-Nya. Langit—termasuk awan kumulus, stratus, maupun sirus—menceritakan kemuliaan Allah. —David Roper
Kami mengagumi Engkau, Pencipta Ajaib, saat kami memandang dunia-Mu. Engkau layak menerima segala pujian dari hati kami yang terdalam!
Alam ciptaan dipenuhi dengan tanda-tanda yang menunjukkan keagungan Sang Pencipta.

Monday, June 12, 2017

Tidak Ada yang Sia-Sia

Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. —1 Korintus 15:58
Tidak Ada yang Sia-Sia
Sudah tiga tahun saya bergumul dengan perasaan putus asa dan depresi karena penyakit kronis yang membatasi gerak-gerik saya. Saya pun mencurahkan isi hati saya kepada seorang teman, “Tubuhku sangat rapuh, dan aku merasa tidak lagi punya sesuatu yang berharga untuk kuberikan kepada Allah atau kepada siapa pun.” Ia pun meletakkan tangannya di atas tangan saya. “Apakah maksudmu tak ada gunanya aku menyapamu dengan senyuman dan mendengarkanmu? Apakah maksudmu tidak ada gunanya aku mendoakanmu dan mencoba untuk menghiburmu?”
Saya pun tertunduk malu. “Tentu saja bukan itu maksudku.”
Sambil mengerutkan kening, ia kembali berkata, “Lalu kenapa kamu mengucapkan semua kebohongan itu pada dirimu sendiri? Kamu sendiri sudah melakukan semua itu bagiku dan juga bagi orang lain.”
Saya bersyukur kepada Allah karena telah mengingatkan saya bahwa apa pun yang kita lakukan untuk-Nya, tidak ada satu pun yang sia-sia.
Di 1 Korintus 15, Paulus meyakinkan kita bahwa tubuh kita yang sekarang lemah ini kelak akan “dibangkitkan dalam kekuatan” (ay.43). Karena Allah berjanji bahwa kita akan dibangkitkan bersama Kristus, kita dapat mempercayai bahwa Dia akan memakai setiap persembahan dan hal kecil yang kita lakukan bagi-Nya untuk memberikan pengaruh dalam Kerajaan Allah (ay.58).
Meski terbatas secara jasmani, setiap senyuman, dorongan, doa, atau ungkapan iman yang kita nyatakan di tengah pergumulan dapat dipakai Allah untuk memberkati sesama anggota tubuh Kristus yang beraneka ragam dan saling membutuhkan. Dalam pelayanan kepada Tuhan, tidak ada karya atau kasih kita yang sia-sia. —Xochitl Dixon
Yesus, terima kasih Engkau menghargai kami dan mau memakai kami untuk membangun sesama.
Lakukan yang terbaik dengan apa yang kamu punya, lalu serahkanlah hasilnya kepada Allah.

Sunday, June 11, 2017

Sikap Hati

[Salomo] berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit, sambil [berdoa]. —2 Tawarikh 6:13-14
Sikap Hati
Ketika suami saya memainkan harmonika bersama tim puji-pujian di gereja kami, saya memperhatikan kadang-kadang ia memejamkan mata saat memainkan sebuah lagu. Ia berkata bahwa sikap itu membantunya tetap fokus sehingga perhatiannya dalam mengikuti musik tidak terganggu dan ia dapat bermain sebaik yang ia bisa untuk memuji Allah.
Ada yang bertanya apakah kita harus memejamkan mata saat berdoa. Karena kita dapat berdoa kapan saja dan di mana saja, rasanya memang sulit untuk selalu menutup mata. Jika kita sedang berjalan kaki, membersihkan rumput di taman, atau mengendarai mobil, tentu tidak mungkin kita berdoa sambil menutup mata!
Lagipula memang tidak ada peraturan yang mengatur bagaimana seharusnya posisi tubuh kita saat berdoa kepada Allah. Ketika Raja Salomo berdoa untuk menyerahkan Bait Suci yang telah selesai dibangunnya, ia berlutut dan menadahkan tangannya ke langit (2Taw. 6:13-14). Alkitab mencatat bahwa orang berdoa dengan sikap bersujud (Ef. 3:14), berdiri (Luk. 18:10-13), bahkan menelungkupkan wajah ke tanah (Mat. 26:39).
Baik berlutut atau berdiri di hadapan Allah, baik menadahkan tangan ke atas atau memejamkan mata supaya dapat lebih terfokus kepada Allah—yang terpenting bukanlah sikap tubuh kita melainkan hati kita. Segala sesuatu yang kita lakukan terpancar dari hati kita (Ams. 4:23). Kiranya ketika kita berdoa, hati kita selalu tertunduk dalam kekaguman, ucapan syukur, dan kerendahan diri kepada Allah kita yang penuh kasih. Kita melakukannya karena kita tahu bahwa mata-Nya terbuka dan telinga-Nya menaruh perhatian kepada doa-doa yang dipanjatkan umat-Nya (2Taw. 6:40). —Cindy Hess Kasper
Tuhan, arahkanlah perhatianku selalu hanya kepada-Mu dan ajarku untuk mengikut-Mu dalam ketaatan dan kasih.
Doa yang teragung keluar dari kedalaman hati yang berserah.

Saturday, June 10, 2017

Menemukan Waldo

Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” —Kisah Para Rasul 8:34
Menemukan Waldo
Waldo adalah tokoh utama dari “Where’s Waldo”, sebuah serial komik anak terlaris. Waldo menyembunyikan diri di tengah keramaian orang dalam gambar pada setiap halaman dan mengundang anak-anak untuk menemukan di mana ia bersembunyi. Para orang tua suka sekali melihat ekspresi wajah anak-anak mereka ketika berhasil menemukan Waldo. Mereka juga senang ketika anak-anak meminta mereka ikut mencari Waldo.
Tak lama setelah Stefanus, seorang diaken pada zaman gereja mula-mula dilempari batu sampai mati karena memberitakan tentang Kristus (lihat Kis. 7), dimulailah penganiayaan hebat terhadap orang Kristen. Penganiayaan itu mendesak mereka meninggalkan Yerusalem. Seorang diaken yang lain, Filipus, mengikuti orang-orang Kristen yang melarikan diri ke Samaria. Di sana ia memberitakan tentang Kristus dan diterima dengan baik (Kis. 8:6). Saat di Samaria, Roh Kudus mengutus Filipus dalam tugas khusus ke “jalan yang sunyi”. Tentulah itu panggilan yang tidak lazim, mengingat berhasilnya pemberitaan Injil yang dilakukannya di Samaria. Bayangkan betapa bersukacitanya Filipus, ketika ia dapat bertemu dan menolong seorang pembesar dari Etiopia untuk menemukan dan mengenal Yesus dalam kitab Yesaya (ay.26-40).
Kita juga sering diberi kesempatan untuk menolong orang lain “menemukan Yesus” dalam Kitab Suci agar mereka lebih mengenal Yesus. Seperti orangtua yang menyaksikan mata anak-anak mereka berbinar-binar dan seperti Filipus yang menolong seorang Etiopia mengenal Yesus, kita juga dapat mengalami kegembiraan saat melihat orang-orang di sekeliling kita bertemu dengan Yesus. Dalam menjalani hidup ini, kiranya kita selalu siap sedia menceritakan tentang Kristus seturut dengan pimpinan Roh Kudus kepada orang-orang yang kita kenal maupun yang kita temui sehari-hari. —Randy Kilgore
Tugas terbesar seorang Kristen adalah menemui seseorang dan memperkenalkannya kepada Yesus Kristus.

Friday, June 9, 2017

Alasan Kita Menyanyi

Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! —Mazmur 47:7
Alasan Kita Menyanyi
Menyanyi ternyata mengubah otak! Sejumlah studi menunjukkan bahwa ketika menyanyi, tubuh kita melepaskan hormon yang mengurangi kecemasan dan stres. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika sekelompok orang menyanyi bersama, irama detak jantung mereka masing-masing sebenarnya saling menyelaraskan.
Rasul Paulus menulis kepada jemaat untuk mendorong seorang berkata-kata kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani (Ef. 5:19). Alkitab pun berulang kali menyerukan, “Bermazmurlah.”
Dalam 2 Tawarikh 20, kita membaca kisah tentang umat Allah yang menunjukkan kepercayaan mereka kepada Allah dengan bernyanyi sambil bergerak maju ke medan pertempuran. Pasukan musuh sedang bersiap menyerang Yehuda. Raja Yosafat yang cemas memanggil semua orang untuk bersatu. Ia memimpin warganya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka berpuasa dan berdoa, “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (ay.12). Keesokan harinya, mereka berangkat bukan dipimpin oleh prajurit yang paling berani, melainkan oleh para pemuji. Mereka percaya akan janji Allah bahwa mereka akan menang tanpa bertempur sama sekali (ay.17).
Sementara mereka memuji dan berjalan menuju medan perang, para musuh justru memerangi satu sama lain. Pada saat umat Allah tiba di medan perang, pertempuran telah berakhir. Allah menyelamatkan umat-Nya ketika mereka berjalan dengan iman dan bernyanyi memuji-Nya menuju pada keadaan yang tidak mereka ketahui.
Allah bermaksud baik ketika Dia mendorong kita untuk memuji-Nya. Baik dalam pergumulan atau dalam keadaan tenang, menyanyikan pujian kepada Allah sungguh memiliki kuasa untuk mengubah pikiran, hati, dan hidup kita. —Amy Peterson
Ya Allah, kami memuji kasih dan kesetiaan-Mu yang kekal! Engkau melindungi dan membimbing kami, dan kami mempercayakan hidup kami di tangan-Mu.
Hati yang selaras dengan Tuhan akan menyanyikan pujian bagi-Nya.

Thursday, June 8, 2017

Cincin dan Anugerah

Aku . . . tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. —Ibrani 8:12
Cincin dan Anugerah
Setiap kali melihat tangan saya, saya pun teringat bahwa saya pernah menghilangkan cincin pernikahan dan pertunangan saya. Kehilangan itu terjadi ketika saya sedang sibuk berkemas-kemas, dan hingga saat ini saya masih belum tahu di mana kedua cincin itu berada.
Awalnya saya takut menceritakan kecerobohan saya kepada suami, karena saya khawatir bagaimana ia akan menanggapinya. Namun, suami saya justru memberikan tanggapan yang menunjukkan bahwa ia lebih peduli dan sayang kepada saya daripada mencemaskan dua cincin itu. Adakalanya saya masih merasa perlu melakukan sesuatu untuk mendapatkan kasih dan pengampunannya. Namun sebaliknya, ia tidak pernah mengungkit-ungkit peristiwa itu untuk menyalahkan saya.
Begitu sering kita teringat pada dosa-dosa kita dan merasa kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan pengampunan Allah. Namun, Allah telah mengatakan bahwa hanya karena anugerah kita diselamatkan, bukan karena jasa dan usaha kita (Ef. 2:8-9). Ketika berbicara tentang perjanjian yang baru, Allah berjanji kepada Israel, “Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” (Yer. 31:34). Kita memiliki Allah yang mengampuni dan tidak lagi mengingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan.
Mungkin saja kita masih menyesali masa lalu kita, tetapi kita harus mempercayai janji-Nya dan meyakini bahwa anugerah dan pengampunan-Nya kita terima melalui iman kepada Yesus Kristus. Kabar baik itu sepatutnya membuat kita bersyukur dan iman kita diteguhkan. Allah sungguh mengampuni dan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, terima kasih untuk anugerah, keselamatan, dan pengampunan yang Engkau berikan melalui Kristus. Terima kasih atas pemberian-Mu yang cuma-cuma dan yang tidak mungkin kami peroleh dengan usaha kami sendiri.
Anugerah dan pengampunan merupakan pemberian yang sesungguhnya tidak layak kita terima.

Wednesday, June 7, 2017

Allah Memanggil

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan . . . Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. —1 Yohanes 4:9
Allah Memanggil
Suatu pagi putri saya memberikan telepon selulernya kepada putranya yang berusia 11 bulan supaya ia terhibur sejenak. Tak lama kemudian telepon saya berdering dan saat mengangkatnya saya mendengar suara mungil cucu saya. Entah bagaimana, ia menekan tombol “panggilan cepat” yang tersambung ke nomor saya, dan selanjutnya terjadilah “percakapan” yang akan terus saya ingat. Meski cucu saya hanya bisa mengucapkan beberapa kata, ia dapat mengenali dan merespons suara saya. Saya pun berbicara dengannya dan mengatakan betapa saya sayang kepadanya.
Sukacita yang saya rasakan saat mendengar suara cucu saya mengingatkan saya akan kerinduan Allah yang mendalam untuk berhubungan dengan kita. Sejak awal, Alkitab telah menunjukkan bagaimana Allah secara aktif mencari kita. Setelah Adam dan Hawa berdosa dengan melanggar perintah Allah dan kemudian bersembunyi dari-Nya di taman, “Tuhan Allah memanggil” Adam (Kej. 3:9).
Allah terus mencari manusia melalui Anak-Nya, Yesus. Karena Allah rindu berhubungan dengan kita, Dia mengutus Yesus ke dunia untuk menebus hukuman dosa kita melalui kematian-Nya di kayu salib. “Allah menyatakan bahwa Ia mengasihi kita dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita memperoleh hidup melalui Anak-Nya itu” (1Yoh. 4:9-10 BIS). Yesus menyerahkan nyawa-Nya demi menyucikan kita dari dosa dan kerusakan yang telah memisahkan kita dari Allah.
Alangkah bahagianya mengetahui bahwa Allah mengasihi kita dan menginginkan kita membalas kasih-Nya dengan mempercayai Anak-Nya, Yesus Kristus. Bahkan di saat kita tidak tahu harus berkata apa, Bapa Surgawi tetap rindu mendengar suara kita! —James Banks
Bapa Surgawi, terima kasih Engkau mengasihiku dan rindu menjalin hubungan denganku. Tolong aku menyenangkan-Mu lewat kedekatanku dengan-Mu.
Kasih Allah kepada kita dinyatakan melalui Yesus.

Tuesday, June 6, 2017

Tantangan Lima Belas Menit

Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu. —Mazmur 119:36
Tantangan Lima Belas Menit
Dr. Charles W. Eliot, presiden Universitas Harvard selama 40 tahun, meyakini bahwa orang awam yang konsisten membaca karya-karya sastra hebat di dunia akan memperoleh pelajaran yang berharga, meski ia hanya membaca beberapa menit sehari. Pada tahun 1910, ia mengumpulkan beragam karya pilihan dari buku-buku tentang sejarah, pengetahuan alam, filsafat, dan seni murni dalam 50 jilid buku yang disebut The Harvard Classics. Setiap set mencantumkan Panduan Membaca dari Dr. Eliot berjudul “Fifteen Minutes A Day” (Lima Belas Menit Sehari) yang memuat pilihan bacaan sepanjang delapan sampai sepuluh halaman yang disarankan untuk dibaca setiap hari selama setahun.
Bagaimana jika kita mengambil waktu lima belas menit sehari untuk membaca firman Allah? Kita dapat mengatakan bersama pemazmur, “Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan” (Mzm. 119:36-37).
Jika dijumlahkan, lima belas menit sehari akan menjadi 91 jam setahun. Namun, seberapa pun waktu yang kita gunakan untuk membaca Alkitab setiap hari, kuncinya terletak pada konsistensi. Yang paling dibutuhkan bukanlah kesempurnaan melainkan ketekunan. Jika kita melewatkan satu hari atau satu minggu, kita dapat mulai membaca lagi. Dengan tuntunan Roh Kudus, firman Allah akan mengisi pikiran kita, lalu memenuhi hati, hingga kemudian menggerakkan kaki dan tangan kita untuk melakukan firman itu. Firman Allah tidak hanya akan menjadi pengetahuan tetapi juga mengubahkan hidup kita.
“Tuhan, ajarilah aku arti ketetapan-ketetapan-Mu, supaya aku mengikutinya sampai akhir” (ay.33 BIS). —David McCasland
Ya Penulis Agung, ajarlah aku saat aku membaca firman-Mu hari ini. Aku ingin mendengar-Mu, mengenal-Mu, dan hidup lebih dekat kepada-Mu.
Alkitab adalah satu-satunya Kitab yang Penulisnya selalu hadir pada saat kitab itu dibaca.

Monday, June 5, 2017

Apa yang Kita Inginkan?

Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. —Roma 8:11
Apa yang Kita Inginkan?
“Aku telah hidup dari zaman kereta kuda sampai zaman manusia berjalan di bulan,” kata seorang kakek kepada cucunya. Namun, ia merenung, “Aku tak pernah mengira hidup begitu singkat.” Hidup memang singkat, dan banyak dari kita percaya kepada Yesus karena ingin memiliki hidup kekal. Itu tidak salah, tetapi mungkin kita tidak paham betul apa arti hidup kekal itu. Kita cenderung menginginkan hal-hal yang salah. Kita merindukan yang lebih baik, tetapi hanya sampai pada angan-angan. Andai saja aku lulus sekolah. Andai saja aku dapat pekerjaan. Andai saja aku menikah. Andai saja aku pensiun. Andai saja . . . Lalu suatu hari kita bertanya-tanya ke mana saja waktu telah berlalu.
Kenyataannya, hidup kekal itu kita miliki saat ini juga. Rasul Paulus menulis, “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:2). Lalu ia berkata, “Orang-orang yang hidup menurut Roh Allah, terus memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh Allah” (ay.5 BIS). Dengan kata lain, keinginan kita berubah pada saat kita percaya kepada Kristus. Kita akan menerima apa yang paling kita inginkan. “Kalau pikiranmu dikuasai oleh Roh Allah, maka akibatnya ialah hidup dan kedamaian dengan Allah” (ay.6 BIS).
Tidak benar jika kita membayangkan bahwa kita baru akan mengalami hidup yang sejati ketika kita berada di tempat lain, melakukan sesuatu yang lain, atau bersama dengan orang lain. Justru ketika kita menemukan arti hidup kita di dalam Yesus Kristus, penyesalan akan singkatnya hidup ini pun tergantikan dengan sukacita hidup yang berlimpah bersama-Nya, sekarang dan selama-lamanya. —Tim Gustafson
Tuhan, Engkau berkata bahwa Engkau datang untuk memberi kami hidup yang berlimpah, tetapi kami sering memiliki rencana dan tujuan kami sendiri. Ampunilah kami, dan tolonglah kami mengingini apa yang Engkau kehendaki.
Hidup kekal dialami ketika kita mengizinkan Yesus hidup di dalam kita saat ini juga.

Sunday, June 4, 2017

Damai Sejahtera yang Sempurna

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. —Yohanes 14:27
Damai Sejahtera yang Sempurna
Seorang sahabat menceritakan kepada saya bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan suaminya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya.
Yesus berbicara tentang damai sejahtera yang sejati itu kepada para sahabat-Nya setelah perjamuan terakhir mereka bersama (Yoh. 14). Di sanalah Dia menyiapkan mereka untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan segera terjadi: kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan Roh Kudus. Yesus menyatakan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya tidak seperti yang diberikan dunia ini. Lewat pernyataan itu, Dia ingin para murid tetap mengalami damai sejahtera sekalipun kesulitan mendera mereka.
Kemudian, ketika Yesus yang telah bangkit muncul di hadapan para murid yang ketakutan setelah kematian-Nya, Dia menyapa mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19). Pada saat itulah Yesus mengajak mereka, dan juga kita, untuk kembali mempercayai apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita semua. Dengan mempercayai-Nya, kita pun menerima kepastian yang jauh lebih meyakinkan daripada perasaan kita yang selalu berubah-ubah. —Sheridan Voysey
Bapa Surgawi, Engkau memberikan damai sejahtera kepada orang yang hatinya percaya sepenuhnya kepada-Mu. Tolong kami untuk percaya kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah Gunung Batu kami yang kekal.
Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera ke dalam hidup dan dunia kita.

Saturday, June 3, 2017

Orang yang Dapat Dipercaya

Banyak orang mengaku dirinya adalah kawan, tetapi yang betul-betul setia, sukar ditemukan. —Amsal 20:6 BIS
Orang yang Dapat Dipercaya
“Aku tak bisa mempercayai siapa pun,” kata seorang teman sambil berurai air mata. “Setiap kali aku mempercayai seseorang, ia melukai hatiku.” Saya marah mendengar cerita tentang mantan pacarnya, yang ia kira dapat dipercaya tetapi yang kemudian menyebarkan rumor tentang dirinya setelah mereka putus. Setelah mengalami masa kecil yang sulit, pengkhianatan kali ini seakan meyakinkan dirinya bahwa tidak ada seorang pun yang dapat ia percayai.
Saya bergumul untuk menemukan kata-kata yang dapat menghiburnya. Saya rasa tidak pada tempatnya jika saya menyalahkan curahan hatinya, meskipun sebenarnya masih banyak orang yang tulus hati dan dapat dipercaya. Saya sendiri dapat merasakan kepedihannya, karena pengalamannya mengingatkan saya pada pengkhianatan yang pernah saya alami. Sebetulnya Alkitab sangat blak-blakan tentang natur manusia. Di Amsal 20:6, sang penulis menyerukan ratapan yang serupa dengan ratapan teman saya, dan ayat itu selalu mengingatkan kita betapa pedihnya pengalaman dikhianati.
Saya hanya dapat mengatakan kepadanya bahwa perbuatan orang lain yang melukai kita bukanlah akhir segalanya. Meskipun luka itu terasa sangat nyata dan menyakitkan, Yesus memungkinkan hadirnya kasih yang tulus dan sejati. Di Yohanes 13:35, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa dunia akan mengenali mereka sebagai pengikut-Nya lewat kasih yang mereka tunjukkan. Meskipun mungkin ada yang masih melukai kita, Yesus selalu dapat menghadirkan pribadi-pribadi yang rela membagikan kasih-Nya lewat dukungan dan perhatian yang mereka berikan tanpa pamrih. Saat bersandar pada kasih-Nya yang tak berkesudahan, kiranya kita menemukan pemulihan, komunitas, dan keberanian untuk mengasihi sesama seperti yang telah dilakukan-Nya. —Monica Brands
Yesus memungkinkan hadirnya kasih yang sejati.

Friday, June 2, 2017

Dasar yang Teguh

“Mengapa kamu berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” —Lukas 6:46
Dasar yang Teguh
Sebuah salib besar dan bersinar berdiri tegak di Table Rock, dataran tinggi berbatu yang menghadap ke arah kampung halaman saya di kaki bukit. Beberapa rumah dibangun berdekatan dengan daerah perbukitan tersebut. Namun, baru-baru ini pemilik rumah-rumah itu telah dipaksa pindah karena alasan keselamatan. Meskipun lokasinya dekat dengan batuan dasar Table Rock yang kukuh, rumah-rumah itu tidaklah aman. Rumah-rumah tersebut telah bergeser dari fondasi mereka—hampir 8 cm setiap harinya— hingga membawa risiko terjadinya kerusakan besar-besaran pada saluran pipa yang dapat mempercepat longsor.
Yesus membandingkan mereka yang mendengar dan menaati perkataan-Nya dengan orang yang membangun rumah mereka di atas batu (Luk. 6:47-48). Rumah tersebut akan bertahan menghadapi badai. Sebaliknya, Dia berkata bahwa rumah yang tidak dibangun di atas dasar yang kuat, yakni orang-orang yang tidak mendengarkan perkataan-Nya, takkan bertahan menghadapi banjir.
Saya sering tergoda untuk mengabaikan bisikan hati nurani saya ketika Allah meminta lebih daripada apa yang sudah saya berikan kepada-Nya. Saya berpikir respons saya “sudah cukup mendekati” apa yang dikehendaki-Nya. Namun, rumah-rumah perbukitan yang terus bergeser itu telah membukakan kepada saya bahwa menaati Tuhan tidak cukup hanya “dekat”. Untuk menjadi seperti orang yang membangun rumahnya di atas dasar yang teguh dan bertahan menghadapi badai kehidupan yang begitu sering melanda, kita perlu menghayati firman Tuhan sepenuhnya. —Kirsten Holmberg
Tuhan, tolong aku agar dapat menaati-Mu sepenuhnya dan dengan segenap hatiku. Terima kasih karena Engkau telah menjadi dasar yang teguh bagiku.
Firman Allah adalah satu-satunya dasar kehidupan yang teguh.

Thursday, June 1, 2017

Segala yang Kita Perlukan

Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. —2 Petrus 1:3
Segala yang Kita Perlukan
Saya sering merasa tidak cukup mampu mengerjakan tugas-tugas yang dilimpahkan kepada saya. Baik itu mengajar Sekolah Minggu, menasihati teman, atau menulis renungan seperti ini, saya sering merasa tantangannya lebih besar daripada kemampuan saya. Sama seperti Petrus, saya masih perlu banyak belajar.
Perjanjian Baru menunjukkan kelemahan Petrus dalam upayanya mengikut Tuhan. Saat berjalan di atas air untuk mendatangi Yesus, Petrus hampir tenggelam (Mat. 14:25-31). Ketika Yesus ditangkap, Petrus bersumpah tidak mengenal-Nya (Mrk. 14:66-72). Namun, perjumpaan Petrus dengan Kristus yang telah bangkit dan kuasa Roh Kudus telah mengubah hidupnya.
Petrus akhirnya memahami bahwa “kuasa ilahi [Allah] telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib” (2Ptr. 1:3). Pernyataan luar biasa dari pribadi yang memiliki banyak kelemahan!
“Dengan jalan itu [Allah] telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (ay.4).
Hubungan kita dengan Tuhan Yesus Kristus memberikan hikmat, ketabahan, dan kuasa yang kita perlukan untuk memuliakan Allah, menolong sesama, dan menghadapi tantangan hari ini. Oleh Dia, kita dapat mengatasi keraguan dan perasaan tidak mampu yang kita alami.
Dalam setiap situasi, Dia telah memberi kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk melayani dan memuliakan-Nya. —David McCasland
Bapa, terima kasih, Kau sediakan segala yang kuperlukan untuk melayani-Mu dan menguatkan sesamaku hari ini. Kiranya aku memuliakan-Mu selalu.
Allah telah menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk memuliakan-Nya melalui hidup kita.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate