Pages - Menu

Sunday, July 31, 2016

Harga Tiket Masuk

[Semua orang] oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. —Roma 3:24
Harga Tiket Masuk
Setiap tahun, sekitar dua juta orang dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Katederal St. Paul di London, Inggris. Harga tiket masuknya sepadan dengan pengalaman menikmati bangunan megah yang dirancang dan dibangun oleh Sir Christopher Wren di akhir abad ke-17. Namun wisata bukanlah maksud utama dari tempat ibadah umat Kristen itu. Misi utama dari katedral tersebut adalah “memampukan orang-orang dari latar belakang mana pun untuk mengalami kehadiran Allah dalam Yesus Kristus yang mengubahkan hidup mereka.” Jika kamu ingin berwisata mengelilingi bangunan itu dan mengagumi arsitekturnya, kamu harus membayar tiket masuk. Namun untuk masuk dan mengikuti ibadah yang diadakan sepanjang hari di Katederal St. Paul, kamu tidak dikenai biaya apa pun.
Berapa biaya yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah? Kamu dapat masuk dengan cuma-cuma karena Yesus Kristus telah membayar harganya bagi kita dengan kematian-Nya. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm. 3:23-24). Ketika kita mengakui kebutuhan rohani kita dan menerima pengampunan Allah atas dosa-dosa kita dengan iman, kita pun memiliki hidup baru yang kekal di dalam Dia.
Hari ini kamu dapat memasuki kehidupan yang baru, karena melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus telah membayar harga tiket masuknya! —David McCasland
Kamu dapat mengundang Yesus masuk ke dalam hidupmu dengan berdoa seperti ini: Tuhan Yesus, aku percaya Engkau telah mati demi dosaku lalu bangkit dari kematian. Aku mau menerima-Mu sebagai Juruselamat dan mengikuti-Mu. Ampunilah dosaku dan tolonglah aku, mulai saat ini, agar aku dapat menjalani hidup yang menyenangkan-Mu.
Yesus membayar harganya agar kita dapat memasuki Kerajaan Allah.

Saturday, July 30, 2016

Memelihara Iman

Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. —Ibrani 11:6
Memelihara Iman
Mudah untuk berpikir bahwa iman adalah semacam formula ajaib. Artinya, jika seseorang memiliki iman dalam kadar yang secukupnya, ia akan kaya raya, selalu sehat, menjalani hidup yang bahagia, dan setiap doa yang dipanjatkannya langsung menerima jawaban. Namun sayangnya, kehidupan tidak berjalan seperti formula yang tersusun rapi itu. Sebagai bukti, penulis kitab Ibrani menyajikan pengingat yang sangat kuat tentang makna “iman sejati” dengan mengulas kehidupan beberapa pahlawan iman dari Perjanjian Lama (Ibr. 11).
“Tanpa iman,” kata sang penulis dengan terang-terangan, “tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (11:6). Dalam menggambarkan tentang iman, ia menggunakan kata “bertahan” (ay.27). Sebagai hasil dari iman mereka, sejumlah pahlawan memperoleh kemenangan: mereka berhasil memukul mundur pasukan musuh, luput dari mata pedang, selamat dari terkaman singa. Namun, yang lainnya menjumpai akhir yang kurang menyenangkan: mereka didera, dilempari batu, mati digergaji. Pasal ini ditutup dengan pernyataan, “Mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik” (ay.39).
Gambaran iman tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi semacam formula. Terkadang iman memimpin pada kemenangan dan keberhasilan. Terkadang iman membutuhkan kebulatan tekad yang teguh untuk bertahan dengan risiko apa pun. Bagi orang-orang yang demikian, “Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (ay.16).
Iman kita didasarkan pada keyakinan bahwa Allah memegang kendali mutlak dan Dia akan selalu menggenapi janji-Nya, baik di kehidupan sekarang maupun di kehidupan mendatang. —Philip Yancey
Berikanlah kepadaku iman yang mempercayai-Mu dengan sepenuh hati, ya Tuhan.
Penghiburan terbesar kita di tengah duka adalah mengetahui bahwa Allah tetap memegang kendali.

Friday, July 29, 2016

Kasihilah Sesamamu Manusia

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” —Galatia 5:14
Kasihilah Sesamamu Manusia
Konon, ada seorang antropolog yang baru saja menyelesaikan penelitiannya selama berbulan-bulan di sebuah desa kecil. Selagi menunggu tumpangan menuju bandara untuk perjalanannya pulang, ia pun memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membuat sebuah permainan bagi sejumlah anak. Idenya adalah mengadakan lomba lari untuk mendapatkan sekeranjang buah dan permen yang diletakkannya di dekat pohon. Namun, pada saat ia memberi aba-aba untuk mulai berlari, tidak ada seorang anak pun yang berlari melaju ke garis akhir. Sebaliknya, anak-anak itu bergandengan tangan dan berlari bersama menuju pohon tersebut.
Ketika ditanya mengapa mereka memilih untuk berlari bersama dalam kelompok daripada berlari masing-masing untuk mendapatkan hadiah, seorang gadis kecil menjawab, “Bagaimana mungkin salah seorang dari kami bisa merasa senang saat anak-anak yang lain bersedih?” Karena anak-anak itu saling peduli, mereka ingin semua anak mendapatkan hadiah buah dan permen.
Setelah bertahun-tahun mempelajari Hukum Musa, Rasul Paulus menemukan bahwa seluruh hukum Allah dapat dirangkum menjadi satu perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Gal. 5:14; lihat Rm. 13:9). Dalam Kristus, Paulus tidak hanya menemukan alasan untuk menyemangati, menghibur, dan memperhatikan orang lain, tetapi juga kesanggupan rohani untuk melakukannya.
Karena Kristus mempedulikan kita semua, kita pun harus saling peduli. —Mart DeHaan
Bapa, terima kasih untuk kasih yang Kau limpahkan bagi kami hari lepas hari. Oleh karena itu, ajarilah kami mengasihi orang lain. Bukalah mata kami untuk melihat kebutuhan mereka dan bertindak seperti yang Engkau kehendaki.
Kita menunjukkan kasih kita kepada Allah saat kita saling mengasihi.

Thursday, July 28, 2016

Sahabat Selamanya

“Lalu percayalah Abraham kepada Allah . . . .” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” —Yakobus 2:23
Sahabat Selamanya
Satu perkataan bijak yang pernah saya dengar dan sekarang saya hargai berasal dari ayah saya. Ia sering berkata, “Joe, sahabat adalah salah satu harta yang paling bernilai dalam hidup.” Benar sekali! Kamu tidak akan pernah sendirian bila kamu mempunyai sahabat. Mereka memperhatikan kebutuhanmu dan rela berbagi sukacita dan ikut menanggung beban hidup kita.
Sebelum Yesus datang ke dunia, hanya ada dua pribadi yang disebut sebagai “sahabat Allah”. Tuhan berbicara kepada Musa “seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel. 33:11), dan Abraham disebut “sahabat Allah” (Yak. 2:23; lihat 2Taw. 20:7; Yes. 41:8).
Saya terkagum ketika Yesus menyebut orang-orang yang menjadi milik-Nya sebagai sahabat: “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15). Persahabatan-Nya begitu mendalam hingga Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Yohanes menuliskan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (ay.13).
Memiliki Yesus sebagai sahabat kita sungguh merupakan suatu keistimewaan dan berkat yang luar biasa! Dialah Sahabat yang tidak akan pernah meninggalkan atau melupakan kita. Dia menjadi pengantara kita di hadapan Allah Bapa dan menyediakan semua kebutuhan kita. Dia mengampuni segala dosa kita, memahami semua kesusahan kita, dan memberi kita kasih karunia yang cukup pada saat kita menghadapi masalah. Yesus sungguh Sahabat kita yang sejati! —Jow Stowell
Tuhan, aku bersyukur karena Engkau menyebutku sebagai sahabat-Mu. Kiranya aku selalu bersyukur atas keistimewaan yang Engkau berikan itu!
Yesus adalah Sahabat kita yang sejati.

Wednesday, July 27, 2016

Kerentanan yang Terlihat

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. —Efesus 4:2
Kerentanan yang Terlihat
Saat menjalani pemulihan beberapa Minggu setelah bahu saya dioperasi, hati saya merasa takut. Saya telah terbiasa memakai penyangga bahu, tetapi dokter dan terapis fisik mengatakan bahwa saya tidak perlu lagi memakainya. Pada saat itulah saya membaca pernyataan ini: “Pada tahap pemulihan, penyangga bahu tidak lagi diperlukan kecuali sebagai tanda kerentanan yang terlihat dalam situasi yang tak terkendali.”
Nah, benar sekali! Saya takut bertemu seseorang yang dengan penuh semangat memeluk saya atau seorang teman yang tidak mengetahui kondisi saya akan menyenggol saya dengan tidak sengaja. Penyangga bahu itu saya kenakan sebagai pelindung karena saya takut akan dilukai seseorang.
Memang membiarkan diri kita terlihat rentan dapat terasa menakutkan. Kita ingin dikasihi dan diterima apa adanya, tetapi kita takut, jangan-jangan ketika orang lain mengenal kita apa adanya, mereka justru akan menolak kita dan kita pun terluka. Bagaimana jika mereka jadi tahu bahwa kita ini kurang pintar . . . kurang baik . . . kurang pantas di mata mereka?
Namun sebagai anggota keluarga Allah, kita mempunyai tanggung jawab untuk saling menolong dalam pertumbuhan iman. Kita diminta untuk “saling mendorong dan saling menguatkan” (1Tes. 5:11 BIS), dan “sabar . . . [menunjukkan kasih] dalam hal saling membantu” (Ef. 4:2).
Ketika kita jujur dan membuka diri kepada saudara seiman kita, kita mungkin menemukan bahwa orang lain pun mengalami pergumulan serupa dalam melawan pencobaan atau belajar untuk hidup taat. Namun jauh melebihi itu semua, kita dapat saling bersaksi tentang keajaiban kasih karunia Allah yang dialami dalam hidup kita. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, sering rasa takut terluka menghalangiku untuk berterus terang tentang pergumulanku. Tolonglah aku untuk mengingat betapa Engkau mengasihiku, dan tolonglah aku untuk bisa sabar dan mengasihi sesamaku.
Berterus terang tentang pergumulan kita akan memampukan kita untuk menolong satu sama lain.

Tuesday, July 26, 2016

Saling Menajamkan

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. —Amsal 27:17
Saling Menajamkan
Perkataan teman saya itu sungguh menyakitkan. Sembari berusaha tidur, saya berjuang untuk berhenti memikirkan komentar- komentar pedasnya tentang ketegasan sikap saya. Di atas tempat tidur itu, saya meminta hikmat dan ketenangan dari Allah. Beberapa minggu kemudian, karena masih terusik oleh masalah itu, saya pun berdoa, “Aku terluka, ya Tuhan, tetapi tunjukkan padaku apa yang perlu kuubah. Tunjukkanlah padaku apa yang benar dari pendapatnya.”
Teman saya telah bertindak bagaikan kertas ampelas dari Allah dalam hidup saya. Perasaan saya telah digosok dengan keras, tetapi saya tahu bahwa cara saya merespons akan menentukan apakah karakter saya mau dibentuk atau tidak. Saya pun memilih untuk berserah pada proses pelembutan itu, dengan mengakui keangkuhan dan kekerasan hati saya. Saya tahu bahwa sifat-sifat diri saya yang keras itu tidak memuliakan Tuhan.
Raja Salomo tahu bahwa hidup dalam komunitas dapat terasa sulit, dan itulah tema yang dibahasnya dalam kitab Amsal. Di pasal 27, kita melihat hikmat Salomo diterapkan dalam hubungan antar manusia. Ia menyebut bahwa perkataan yang tajam dari seorang teman itu bagaikan besi yang saling menajamkan: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (ay.17). Manusia melakukannya dengan melembutkan sifat-sifat yang keras dari perilaku mereka satu sama lain. Proses tersebut mungkin menyebabkan luka, seperti luka hati yang saya rasakan karena perkataan teman saya (lihat Ams. 27:6). Namun, pada akhirnya Tuhan dapat memakai kata-kata tersebut untuk menolong dan mendorong kita agar mau mengubah kebiasaan dan perilaku kita.
Bagaimana cara Tuhan melembutkan sifat-sifat dirimu yang keras demi kemuliaan-Nya? —Amy Boucher Pye
Tuhan, proses pembentukan ini terasa menyakitkan, tetapi aku ingin berserah kepada-Mu dalam proses ini. Bentuklah dan lembutkanlah aku.
Tuhan memperkenankan sifat-sifat keras dalam hidup kita dilembutkan dengan berbagai pergumulan hidup.

Monday, July 25, 2016

Uji Tanding

Sampai berapa lama, Tuhan, Engkau memandangi saja? Selamatkanlah jiwaku dari perusakan mereka, nyawaku dari singa-singa muda! —Mazmur 35:17
Uji Tanding
Uji tanding dalam permainan kriket dapat berlangsung dengan sengit. Regu-regu bertanding dari pukul 11.00-18.00 dengan istirahat makan siang dan jeda di sore hari, dan pertandingan tersebut dapat berlanjut sampai lima hari lamanya. Kompetisi tersebut menjadi ujian bagi ketahanan sekaligus keahlian dalam bermain.
Terkadang ujian yang kita hadapi dalam hidup ini terasa begitu melelahkan, karena rasanya tak pernah berakhir. Mungkin kamu masih mencari lowongan pekerjaan, mengalami rasa sepi yang tak berujung, atau sudah lama berjuang melawan kanker dan semua itu terasa semakin berat karena kamu tidak tahu kapan akan berakhir.
Mungkin karena itulah sang pemazmur berseru, “Sampai berapa lama, Tuhan, Engkau memandangi saja? Selamatkanlah jiwaku dari perusakan mereka, nyawaku dari singa-singa muda!” (Mzm. 35:17). Para penafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat itu berbicara tentang suatu periode yang panjang dalam kehidupan Daud ketika ia dikejar-Kejar Saul dan difitnah oleh para penasihat raja—suatu masa ujian yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun, pada akhirnya, Daud memuji, “Tuhan itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!” (ay.27). Ujian yang dialami Daud membuatnya semakin mempercayai Allah. Kepercayaan kepada Allah itulah yang juga dapat kita alami di tengah masa-masa ujian, kesulitan, atau kehilangan kita yang berkepanjangan. —Bill Crowder
Ya Bapa, ketika waktu terus berlalu dan jawaban tak kunjung datang, ajarlah aku untuk mencari pertolongan di dalam diri-Mu dan hadirat-Mu. Mampukan aku untuk bertahan dan percaya penuh kepada-Mu.
Pada saat beban hidupmu terasa terlalu berat, ingatlah bahwa tangan Allah selalu menopangmu.

Sunday, July 24, 2016

Sepatu Kuda yang Salah

Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat. —Mazmur 34:13-14
Sepatu Kuda yang Salah
Kekalahan pasukan Napoleon di Rusia 200 tahun lalu dikaitkan dengan kerasnya kondisi musim dingin di sana. Ternyata salah satu masalah spesifik yang ditemui adalah kuda-kuda yang dikerahkannya masih memakai sepatu untuk musim panas. Saat musim dingin tiba, kuda-kuda yang menarik kereta perbekalan itu mati terpeleset di atas jalan yang licin oleh es. Terputusnya perbekalan membuat pasukan Napoleon berkurang drastis dari 400.000 menjadi 10.000 tentara. Kekeliruan kecil yang membawa bencana besar!
Yakobus menjelaskan bagaimana ucapan yang sembrono dapat mengakibatkan kerusakan besar. Satu kata yang salah diucapkan dapat menghancurkan karier atau hidup seseorang. Begitu mematikannya lidah sehingga Yakobus menulis, “Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:8). Di zaman modern ini, masalahnya semakin meningkat karena kecerobohan dalam menulis e-mail atau pesan di media sosial dapat menimbulkan masalah besar. Pesan itu dapat tersebar luas dengan begitu cepat dan tidak selalu bisa ditarik kembali.
Raja Daud mengaitkan penghormatan kepada Tuhan dengan cara kita berkata-kata. Ia menulis, “Takut akan Tuhan akan kuajarkan kepadamu! . . . Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu” (Mzm. 34:12,14). Ia pun bertekad, “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang”(Mzm. 39:2). Ya Tuhan, tolonglah kami berbuat demikian juga. —C. P. Hia
Apa yang diajarkan Yakobus 3:1-12 dan Amsal 18:1-8 tentang ucapan yang sembrono?
Perkataan kita dapat membangun atau justru menghancurkan orang lain.

Saturday, July 23, 2016

Bebas dari Rasa Takut

Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. —Mazmur 34:5
Bebas dari Rasa Takut
Ketakutan diam-diam menyelinap ke dalam hati saya. Saya dibuatnya tidak berdaya dan putus asa. Rasa takut merenggut kedamaian dan konsentrasi saya. Apa yang saya takutkan? Saya mengkhawatirkan keselamatan keluarga saya atau kesehatan orang-orang yang saya kasihi. Saya dibuat panik ketika kehilangan pekerjaan atau hubungan keluarga yang rusak. Ketakutan membuat saya melihat diri sendiri dan merasakan bahwa adakalanya hati saya sulit untuk beriman.
Ketika ketakutan dan kekhawatiran seperti itu melanda, alangkah baiknya membaca doa Daud dalam Mazmur 34: “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (ay.5). Bagaimana cara Allah melepaskan kita dari segala kegentaran kita? Firman Tuhan berkata, “Tujukanlah pandangan [kita] kepada-Nya” (ay.6). Ketika pandangan kita terfokus kepada-Nya, ketakutan kita pun memudar, dan kita percaya bahwa Dia memegang kendali. Kemudian Daud menyebutkan sejenis ketakutan yang berbeda—bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan yang membangkitkan rasa hormat dan kekaguman mendalam kepada Pribadi yang mengelilingi dan meluputkan kita (ay.8). Kita dapat berlindung kepada Tuhan karena Dia itu baik (ay.9).
Mengagumi kebaikan Allah akan menolong kita untuk memandang ketakutan kita dengan benar. Ketika kita mengingat siapakah Allah dan betapa besar kasih-Nya kepada kita, kita dapat merasa tenang di dalam damai sejahtera-Nya. Daud menyimpulkan, “Sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!” (ay.10). Alangkah indahnya mengalami bahwa dalam takut akan Tuhan, kita dapat dibebaskan dari segala ketakutan kita. —Keila Ochoa
Tuhan, aku menyadari segala kekhawatiran dan ketakutanku, dan aku menyerahkan semuanya ke dalam tangan-Mu. Beriku kedamaian saat aku menghadapi hari ini.
Mintalah kepada Allah untuk membebaskanmu dari rasa takut.

Friday, July 22, 2016

Waktu Beristirahat

[Yesus] berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika.” Markus 6:31
Waktu Beristirahat
Jam alarm berdering. Rasanya masih terlalu pagi. Namun kamu akan menjalani hari yang panjang nanti. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, janji yang harus ditepati, orang-orang yang perlu diperhatikan, dan masih banyak lagi. Kamu tidak sendirian. Kebanyakan dari kita menjalani hari demi hari dengan terburu-buru dari satu hal ke hal yang lain.
Ketika para rasul kembali dari perjalanan misi mereka yang pertama, banyak hal yang ingin mereka laporkan. Namun Markus tidak menuliskan evaluasi Yesus terhadap pekerjaan para murid; ia justru mencatat perhatian Yesus yang meminta murid-murid untuk beristirahat sebentar. Yesus berkata, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (6:31).
Akhirnya, kita mendapatkan peristirahatan sejati dengan menyadari kehadiran Allah dan mempercayai-Nya. Meski kita mengerjakan dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi tanggung jawab kita, kita juga menyadari bahwa kita dapat melonggarkan sedikit keterikatan pada pekerjaan dan karier, keluarga dan pelayanan kita, dan menyerahkan semua itu kepada Allah dalam iman. Kita dapat mengambil waktu setiap hari untuk menyingkir sejenak dari gangguan di sekitar kita, meredakan ketegangan jiwa, dan merenungkan keajaiban kasih setia Allah dengan penuh ucapan syukur.
Jadi jangan ragu untuk berhenti sejenak dan menghela napas. Ambillah waktu untuk benar-benar beristirahat. —Poh Fang Chia
Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu untuk semua tugas yang telah Engkau berikan hari ini untuk kulakukan. Tolonglah aku untuk benar-benar beristirahat di dalam-Mu, baik secara jasmani, emosi, dan rohani.
Kita beristirahat bukan karena pekerjaan telah usai; Allah memerintahkannya dan menciptakan kita dengan kebutuhan untuk beristirahat. —Gordon MacDonald

Thursday, July 21, 2016

Gangguan yang Disengaja

Tetapi firman Tuhan: “Layakkah engkau marah?” —Yunus 4:4
Gangguan yang Disengaja
Ketika pertama kalinya saya dan istri berkolaborasi untuk menulis sesuatu, kami sama-sama menyadari bahwa kebiasaan saya yang suka menunda-nunda akan menjadi halangan utama. Tugas istri adalah menyunting tulisan saya dan mengingatkan batas waktunya, tetapi tugas saya sepertinya adalah membuat istri kewalahan. Keteraturan dan kesabaran istri saya sering berhasil menolong saya mengatasi kesulitan dalam mengikuti tenggat dan arahan.
Saya berjanji untuk menyelesaikan sejumlah tulisan dalam satu hari. Memang pada sejam pertama, saya mengerjakannya dengan tekun. Setelah puas dengan apa yang saya capai sejauh itu, saya memilih untuk beristirahat. Dan tanpa saya sadari, waktu pun hampir usai. Karena saya pasti akan menghadapi masalah, saya pun mencari jalan keluar. Lalu saya memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas di rumah yang tidak disukai istri saya dengan harapan menerima pujian darinya ketika saya melakukannya.
Rencana itu gagal.
Terkadang saya memperlakukan Allah dengan cara yang sama. Dia membawa seseorang yang diinginkan-Nya untuk saya layani atau memberikan tugas untuk saya selesaikan. Seperti Yunus, yang melarikan diri dari tugas yang Allah berikan (Yun. 4:2), saya perlu mengesampingkan perasaan saya. Yang sesungguhnya Dia inginkan adalah ketaatan saya pada hal-hal yang menjadi prioritas-Nya, tetapi saya justru sering berusaha membuat Allah terkesan dengan perbuatan baik atau aktivitas rohani yang saya lakukan. Tentu saja, rencana saya itu gagal.
Apakah kamu sedang menghindari tugas yang jelas-jelas diberikan Allah untuk kamu selesaikan? Percayalah, kamu akan mengalami kepuasan sejati ketika mengerjakan semua itu dengan kekuatan dan cara-Nya sendiri. —Randy Kilgore
Bapa terkasih, tolong kami menyadari bahwa kesibukan dan gangguan yang mengalihkan perhatian kami adalah bentuk ketidaktaatan dan keengganan kami untuk mengerjakan apa yang Engkau inginkan untuk kami lakukan.
Ketaatan kita menyenangkan Allah.

Wednesday, July 20, 2016

Dia Mengerti

Tuhan adalah terangku dan keselamatanku. —Mazmur 27:1
Dia Mengerti
Sebagian anak kecil sulit tidur di malam hari. Walaupun ada banyak alasan untuk masalah itu, putri saya menyebutkan salah satu alasannya ketika saya hendak meninggalkan kamar tidurnya pada suatu malam. “Aku takut gelap,” katanya. Saya berusaha meredakan rasa takutnya, tetapi akhirnya saya tetap membiarkan lampu kecil menyala di kamarnya agar ia yakin bahwa kamarnya bebas dari monster yang menakutkan.
Saya tidak memikirkan lagi ketakutan yang dihadapi putri saya itu sampai beberapa Minggu kemudian suami saya bermalam di kota lain dalam perjalanan dinasnya. Setelah berbaring di tempat tidur, saya merasakan kegelapan begitu menyelimuti saya. Lalu saya mendengar suatu bunyi yang halus hingga saya harus turun untuk memeriksanya. Ternyata itu bukan apa-apa, tetapi akhirnya saya bisa memahami ketakutan putri saya ketika saya mengalami sendiri kegelapan itu.
Yesus memahami masalah dan ketakutan kita, karena Dia pernah hidup di bumi sebagai manusia dan menghadapi masalah yang serupa dengan yang kita hadapi. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yes. 53:3). Ketika kita menceritakan pergumulan kita kepada-Nya, Dia tidak akan mengabaikan kita, menganggap remeh perasaan kita, atau meminta kita untuk tidak memikirkannya. Dia bisa merasakan penderitaan kita. Ketika kita yakin bahwa Yesus mengerti, lenyaplah kesunyian yang kerap menyertai penderitaan kita. Di sepanjang masa-masa kelam yang kita alami, Dia menjadi terang dan keselamatan kita. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Yesus, aku percaya bahwa Engkau mendengar doa-doaku dan Engkau mengerti keadaanku. Engkaulah Pribadi yang mampu menerangi kegelapanku.
Yesuslah terang kita dalam kegelapan malam.

Tuesday, July 19, 2016

Jalan di Tempat

Semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu. —Mazmur 25:3
Jalan di Tempat
Aba-aba dalam militer, “Jalan di tempat, grak!” mempunyai arti berjalan di tempat tanpa bergerak maju. Sikap itu menandakan suatu posisi jeda yang aktif dalam gerakan terarah ke depan sambil tetap bersiaga dan menantikan aba-aba selanjutnya.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah jalan di tempat memiliki arti “bergerak tanpa kemajuan, tidak beranjak ke mana pun, tidak melakukan sesuatu yang berguna selagi menunggu”. Di dalamnya terkandung arti suatu penantian yang pasif dan sia-sia.
Namun sebaliknya, kata menantikan di dalam Alkitab sering berarti “menunggu dengan kerinduan yang besar, berpengharapan, dan berharap-harap”. Ketika menghadapi situasi-situasi yang sulit, pemazmur menulis: “Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu” (Mzm. 25:2-3).
Sering kali ada hal-hal yang mau tidak mau harus kita nantikan—hasil pemeriksaan kesehatan, hasil wawancara pekerjaan, kembalinya orang yang kita kasihi. Meski demikian, kita dapat memilih bagaimana bersikap dalam penantian itu. Daripada menyerah pada ketakutan dan sikap tidak peduli, kita dapat terus “berjalan di tempat”, sambil aktif memohon kekuatan dan panduan dari Allah setiap hari.
“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (ay. 4-5). —David McCasland
Tuhan, berilah aku karunia untuk menjalani masa-masa jeda dalam hidupku, sambil bersiap siaga untuk mengikuti perintah-Mu selanjutnya.
Menantikan Allah menuntut kepercayaan aktif kepada-Nya.

Monday, July 18, 2016

Kepercayaan yang Salah Tempat

Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita. —Mazmur 20:8
Kepercayaan yang Salah Tempat
Saya senang mengamati burung. Saya mulai sering melakukannya saat tumbuh dewasa di kawasan pedesaan dalam hutan di Ghana, tempat beragam spesies burung hidup. Akhir-akhir ini, di pinggiran kota tempat saya sekarang tinggal, saya meneliti tingkah laku sejumlah burung gagak yang menarik perhatian saya. Setelah terbang menuju sebatang pohon yang kebanyakan daunnya telah gugur, burung-burung itu memutuskan untuk beristirahat. Namun alih-alih hinggap pada ranting-ranting yang kuat, mereka memilih ranting-ranting yang kering, lapuk, dan cepat patah. Mereka pun segera mengepakkan sayap untuk menyelamatkan diri—tetapi kemudian kembali mengulangi usaha yang sia-sia itu. Rupanya naluri mereka tidak memberitahukan kepada mereka bahwa ranting yang kuat lebih dapat dipercaya dan aman untuk dihinggapi.
Bagaimana dengan kita? Di mana kita menempatkan kepercayaan kita? Daud menyatakan di Mazmur 20:8, “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita.” Kereta dan kuda mewakili aset berupa benda dan manusia. Meskipun berguna dalam kehidupan sehari-hari, semua aset tersebut tidak memberikan rasa aman saat kesulitan melanda. Jika kita menempatkan kepercayaan kita pada harta benda atau kekayaan yang kita miliki, kita akan menemukan bahwa pada akhirnya segala hal tersebut tidak akan bertahan, sama seperti ranting-ranting yang patah saat dihinggapi oleh burung gagak tadi.
Mereka yang mengandalkan kereta dan kuda akan “rebah dan jatuh,” tetapi mereka yang percaya kepada Allah akan “bangun berdiri dan tetap tegak” (Mzm. 20:9). —Lawrence Darmani
Pernahkah kamu mempercayai seseorang atau sesuatu lalu dikecewakan? Siapakah atau apakah itu? Apa yang paling kamu percayai?
Di dunia yang serba berubah, kita dapat mempercayai Allah yang tak pernah berubah.

Sunday, July 17, 2016

Tangan yang Terbuka

Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. —Kisah Para Rasul 20:35
Tangan yang Terbuka
Pada tahun 1891, Biddy Mason dikebumikan dalam makam tanpa nisan di Los Angeles. Hal itu memang lazim bagi wanita yang lahir sebagai budak, tetapi agak janggal bagi seseorang yang sukses seperti Biddy. Setelah memperoleh kebebasannya lewat keputusan pengadilan pada tahun 1856, ia menjadi kaya dengan memadukan keahliannya sebagai perawat dan kecakapan dalam berbisnis. Setelah melihat masalah yang dihadapi para imigran dan narapidana, Biddy pun menolong mereka dengan melibatkan diri dalam banyak kegiatan amal sehingga orang-orang sering mengantre di depan rumahnya untuk meminta bantuan. Tahun 1872, hanya enam belas tahun setelah merdeka dari perbudakan, ia dan menantu laki-lakinya mendanai pendirian Gereja Episkopal Metodis Afrika Pertama di Los Angeles.
Hidup Biddy mencerminkan kata-kata Rasul Paulus: “Telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35). Memang Paulus datang dari latar belakang yang terhormat dan bukan dari perbudakan, tetapi ia memilih jalan hidup yang kemudian membuatnya dipenjara dan mati martir demi melayani Kristus dan sesamanya.
Pada tahun 1988, para dermawan meresmikan batu nisan untuk Biddy Mason dalam acara yang dihadiri walikota Los Angeles dan hampir 3.000 jemaat dari gereja kecil yang dirintis di rumah Biddy seabad sebelumnya. Biddy pernah berkata, “Tangan yang terbuka akan diberkati, karena ia memberi dengan limpah pada saat ia menerima kelimpahan.” Tangan yang telah memberi dengan murah hati itu menerima warisan yang begitu berlimpah. —Tim Gustafson
Siapakah orang di hidup kamu yang sedang bergumul dan butuh pertolonganmu? Bagaimana kamu dapat menolong orang atau keluarga itu hari ini?
Tangan yang terbuka akan diberkati, karena ia memberi dengan limpah pada saat ia menerima kelimpahan. —Biddy Mason

Saturday, July 16, 2016

Pemberian dan Sang Pemberi

Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, . . . Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi. —Lukas 1:78
Pemberian dan Sang Pemberi
Itu hanya sebuah gantungan kunci. Lima buah kotak kecil yang dijalin satu dengan tali sepatu. Gantungan itu diberikan putri saya beberapa tahun lalu ketika ia masih berusia tujuh tahun. Sekarang talinya sudah koyak dan kotak-kotaknya sudah terkelupas, tetapi kata-kata yang tertera di situ tidak pernah usang: “I ♥ DAD” (Aku Sayang Ayah).
Pemberian yang paling bernilai tidaklah ditentukan dari apa yang menjadi isinya, tetapi dari siapa yang memberikannya. Coba tanyakan orangtua mana pun yang pernah menerima rangkaian bunga liar dari tangan mungil anaknya. Pemberian terbaik dinilai bukan dari harganya tetapi dari kasih sayang yang mendasarinya.
Zakharia memahami hal itu. Kita membacanya dalam nyanyian kenabian yang dilantunkannya ketika memuji Allah yang telah memberinya dan istrinya, Elisabet, seorang anak laki-laki bernama Yohanes pada saat usia tidak lagi memungkinkan mereka untuk memiliki anak (Luk. 1:67-79). Zakharia bersukacita karena Yohanes akan menjadi seorang nabi yang mewartakan pemberian terbesar Allah bagi seluruh umat manusia, yakni Juruselamat yang akan datang: “Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, . . . Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi” (Luk. 1:78). Kata-kata itu menunjuk pada satu pemberian istimewa yang telah dianugerahkan dengan penuh kasih—suatu anugerah yang akan “menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut” (Luk. 1:79)
Pemberian terindah yang dapat kita terima adalah belas kasihan Allah, yakni pengampunan dosa kita oleh Yesus. Pemberian itu menuntut nyawa-Nya di kayu salib, tetapi Dia memberikannya secara cuma-cuma karena kasih-Nya yang besar kepada kita. —James Banks
Yesus, terima kasih untuk pengampunan dan kehidupan baru yang kami terima melalui Engkau. Aku menerima pemberian-Mu itu dengan sukacita.
Yesus adalah Sang Pemberi sekaligus pemberian itu sendiri.

Friday, July 15, 2016

Tak Terduga

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. —Matius 10:39
Tak Terduga
Pada suatu siang yang terik di musim panas, dalam perjalanan ke wilayah selatan Amerika Serikat, saya dan istri berhenti sejenak untuk membeli es krim. Pada dinding di belakang kedai itu terpasang sebuah papan yang bertuliskan, “Dilarang Berseluncur Es”. Saya pun tertawa karena sama sekali tidak menduga akan melihat larangan itu di musim panas.
Terkadang suatu pernyataan yang tak terduga punya pengaruh yang luar biasa. Coba lihat kembali kalimat yang diucapkan Yesus ini: ”Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39). Dalam Kerajaan Allah di mana Sang Raja juga adalah pelayan (Mrk. 10:45), kehilangan nyawa menjadi satu-satunya cara untuk memperolehnya. Itu pesan tidak terduga yang ditujukan bagi dunia yang mendorong manusia untuk meninggikan dan melindungi diri sendiri.
Namun apakah bentuk nyata dari “kehilangan nyawa”? Jawabannya dapat dirangkum dalam satu kata: Berkorban. Ketika kita berkorban, kita sedang menerapkan gaya hidup Yesus. Dengan berkorban, kita mengesampingkan keinginan dan kebutuhan kita sendiri dan lebih mengutamakan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain.
Yesus tidak hanya mengajar tentang pengorbanan, tetapi Dia juga menerapkannya dengan mengorbankan diri-Nya bagi kita. Kematian-Nya di atas kayu salib merupakan perwujudan paling nyata dari hati Sang Raja yang berbuat sesuai dengan perkataan-Nya sendiri, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). —Bill Crowder
Bapa yang penuh kasih, ajarku memiliki hati seperti hati Kristus, agar aku lebih menghargai pengorbanan-Nya bagiku dan aku pun bersedia berkorban bagi orang lain.
Hidup berkorban tidak akan pernah membuat kita rugi. —Henry Liddon

Thursday, July 14, 2016

Ratapan Menjadi Sukacita

Ia telah mengutus aku . . . untuk mengaruniakan kepada [semua orang berkabung] perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung. —Yesaya 61:1,3
Ratapan Menjadi Sukacita
“Kami harus memberhentikanmu dari pekerjaan.” Kalimat itu membuat saya terguncang ketika sepuluh tahun lalu perusahaan tempat saya bekerja tidak lagi membutuhkan tenaga saya. Saat itu, saya sangat sedih karena merasa pekerjaan saya sebagai editor sudah menjadi identitas saya. Baru-baru ini, saya kembali merasakan kesedihan ketika proyek yang saya kerjakan secara lepas tidak lagi diperpanjang. Namun kali ini saya tidak terguncang seperti dahulu, karena dari tahun ke tahun saya telah melihat bahwa Allah itu setia dan Dia sanggup mengubah ratapan saya menjadi sukacita.
Walaupun kita hidup di dunia yang telah jatuh dalam dosa, di mana kita mengalami penderitaan dan kekecewaan, Tuhan dapat membawa kita dari keputusasaan menuju sukacita, seperti yang kita baca dalam nubuat Nabi Yesaya tentang kedatangan Yesus (Yes. 61:1- 3). Tuhan memberi kita pengharapan saat kita berputus asa; Dia menolong kita untuk mengampuni saat kita merasa tak mampu melakukannya; Dia juga mengajarkan bahwa identitas kita terletak di dalam Dia dan bukan pada pekerjaan kita. Dia memberi kita kekuatan untuk menghadapi masa depan yang belum kita ketahui. Saat kita mengenakan kain kabung dan abu, dengan lembut Dia menggantinya dengan jubah pujian.
Di tengah kehilangan yang dialami, tentu kita tidak dapat lari dari kesedihan, tetapi kita juga tidak ingin terus merasakan kepahitan dan tawar hati. Saat memikirkan kesetiaan Allah dari tahun ke tahun, kita tahu bahwa Dia mau dan mampu mengubah ratapan kita menjadi sukacita. Dia mencukupkan kasih karunia-Nya di hidup kita sekarang dan memberikan sukacita penuh di surga kelak. —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, Engkau mengubah penderitaan Yesus di kayu salib menjadi anugerah terindah bagi kami. Kuatkanlah imanku agar aku bisa menerima kasih-Mu yang sanggup mengubahkan hidupku.
Allah dapat menumbuhkan kita di tengah kesedihan kita.

Wednesday, July 13, 2016

Adakah yang Perlu Saya Ketahui?

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. —Matius 14:23
Adakah yang Perlu Saya Ketahui?
Dalam salah satu konsernya, penyanyi sekaligus penulis lagu David Wilcox menjawab pertanyaan hadirin mengenai proses penciptaan lagu-lagunya. Ia menyebutkan ada tiga aspek dalam prosesnya: ruangan yang tenang, selembar kertas kosong, dan pertanyaan, “Adakah yang perlu saya ketahui?” Jawaban tersebut menggambarkan cara yang patut diikuti oleh para pengikut Yesus yang ingin mengetahui rencana Tuhan bagi hidupnya dari hari ke hari.
Di sepanjang pelayanan-Nya kepada orang banyak, Yesus selalu menyediakan waktu untuk berdoa seorang diri. Setelah memberi makan 5.000 orang dengan lima roti dan dua ikan, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk naik ke perahu dan menyeberangi Danau Galilea, sementara Dia sendiri menyuruh orang banyak pulang (Mat. 14:22). “Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ” (ay.23).
Jika Tuhan Yesus saja memandang perlu untuk menyediakan waktu seorang diri bersama Bapa-Nya, betapa kita terlebih perlu untuk menyediakan waktu teduh setiap harinya supaya dapat mencurahkan isi hati kita kepada Allah, merenungkan firman-Nya, dan menyiapkan diri untuk mengikuti petunjuk-Nya.
Ruangan yang tenang—di mana saja kita dapat memusatkan perhatian kita kepada Tuhan tanpa mengalami gangguan.
Lembaran yang kosong—berupa pikiran yang siap menerima, selembar kertas kosong, atau kesediaan untuk mendengarkan.
Adakah yang perlu saya ketahui? “Tuhan, berbicaralah padaku melalui Roh-Mu, firman-Mu yang tertulis, dan jaminan tuntunan-Mu.”
Dari bukit yang tenang itu, Yesus pun turun menghadapi badai besar, dengan keyakinan pasti akan apa yang harus Dia lakukan untuk menggenapi kehendak Bapa-Nya (ay. 24-27). —David McCasland
Menyediakan waktu bersama Allah merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan kekuatan yang kita butuhkan.

Tuesday, July 12, 2016

Jalan yang Mudah?

Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat. —Keluaran 13:17
Jalan yang Mudah?
Jalan kehidupan sering kali terasa sulit. Jika kita mengharapkan Allah akan selalu memberi kita jalan yang mudah, mungkin kita akan tergoda untuk berpaling dari-Nya ketika keadaannya berubah menjadi sulit.
Jika kamu pernah terpikir untuk berpaling dari Allah, cobalah membayangkan tentang bangsa Israel. Setelah terbebas dari perbudakan ratusan tahun di Mesir, mereka mulai berangkat menuju Tanah Perjanjian. Namun Allah tidak langsung membawa mereka ke sana. Dia “tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat” (Kel. 13:17). Allah justru mengarahkan mereka ke jalan yang sulit melalui gurun pasir. Memang, untuk jangka pendek, rute itu membuat mereka terhindar dari perang (ay.17). Namun ternyata, untuk jangka panjang, Allah mempunyai maksud yang lebih besar.
Allah menggunakan masa pengembaraan di gurun pasir itu untuk mengajar dan mendewasakan umat yang telah Dia panggil untuk mengikuti-Nya. Jalan yang mudah akan menjerumuskan bangsa Israel pada bencana, tetapi jalan yang sulit menyiapkan mereka untuk berhasil masuk ke dalam Tanah Perjanjian.
Allah kita adalah Allah yang setia, sehingga apa pun yang kita hadapi, kita dapat mempercayai-Nya untuk memimpin dan memelihara kita. Kita mungkin tidak memahami mengapa kita dibawa menempuh jalan yang kita lalui sekarang, tetapi kita dapat percaya bahwa Dia menolong kita bertumbuh dalam iman dan kedewasaan di sepanjang perjalanan ini. —Dave Branon
Tuhan, kami tak bisa melihat jalan di depan kami, jadi kami harus percaya bahwa itulah jalan yang benar dan terbaik untuk kami tempuh. Kuatkan dan ajarlah kami saat mengizinkan-Mu mengarahkan jalan kami.
Waktu Allah selalu tepat, karena itu nantikanlah Dia dengan sabar.

Monday, July 11, 2016

Menerima Sebuah Pelajaran

Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. —Filipi 4:11
Menerima Sebuah Pelajaran
Mary adalah seorang janda yang sedang mengalami masalah serius dengan kesehatannya. Mary diajak pindah oleh putrinya ke kompleks apartemen baru untuk orang lanjut usia yang terletak di sebelah rumah sang putri. Meski Mary harus tinggal jauh sekali dari teman-teman dan kerabatnya yang lain, ia tetap bersukacita atas pemeliharaan Allah.
Enam bulan setelah menjalani hidup barunya, sukacita dan kecukupan diri yang Mary rasakan mulai memudar. Ia pun tergoda untuk menggerutu dalam hati dan meragukan apakah kepindahan itu merupakan rencana Allah yang paling tepat baginya. Ia merindukan sahabat-sahabat seimannya, dan lokasi gereja barunya terlalu jauh untuk dicapainya sendiri.
Kemudian ia membaca sesuatu yang ditulis oleh Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah besar di abad ke-19. “Kecukupan diri adalah salah satu berkat dari surga, karena itu harus dikembangkan,” jelas Spurgeon. “Paulus berkata . . . ‘Aku telah belajar mencukupkan diri,’ seolah-olah ia pernah tidak tahu bagaimana mencukupkan dirinya.”
Mary menyimpulkan bahwa jika penginjil besar seperti Paulus— yang pernah dipenjara, ditinggalkan teman-temannya, dan menghadapi hukuman mati—dapat belajar mencukupkan diri, maka ia juga bisa.
“Aku menyadari jika aku belum belajar mencukupkan diri, aku takkan menikmati segala sesuatu yang telah Allah rencanakan,” kata Mary. “Maka aku pun mengakui sungut-sungut dalam hatiku dan memohon pengampunan-Nya. Tak lama setelah itu, ada seorang wanita yang baru pensiun memintaku untuk menjadi rekan doanya, dan ada seseorang yang menawariku tumpangan untuk pergi bersama ke gereja. Kebutuhanku untuk mempunyai sahabat dan tumpangan telah dijawab Tuhan dengan indah.” —Marion Stroud
Adakah bagian dalam hidup di mana kamu perlu belajar mencukupkan diri? Mintalah kepada Allah untuk menolongmu sekarang.
Allah tidak selalu mengubah keadaan kita, tetapi Dia pasti akan mengubah diri kita.

Sunday, July 10, 2016

Bahasa Kasih

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. —Yakobus 3:9
Bahasa Kasih
Ketika nenek saya tiba di Meksiko sebagai misionaris, ia mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa Spanyol. Suatu hari saat pergi ke pasar, ia menunjukkan daftar belanjaannya kepada seorang wanita yang membantunya. Ia berkata, “Daftar ini tertulis dalam dua lidah (lenguas).” Sebenarnya ia bermaksud mengatakan bahwa daftar itu ditulisnya dalam dua bahasa (idiomas). Penjual daging yang mendengar percakapan mereka mengira bahwa nenek ingin membeli dua buah lidah sapi. Lucunya, nenek tidak menyadari kesalahannya sampai ia tiba di rumah. Alhasil, ia membawa pulang lidah sapi yang tidak tahu harus ia apakan!
Dalam usaha mempelajari bahasa baru, pastilah kita pernah menemui kesalahan dan kegagalan. Demikian juga ketika kita mempelajari bahasa kasih dari Allah. Adakalanya ucapan kita masih bertentangan, karena di satu saat kita bisa memuji Tuhan tetapi di lain waktu kita mengucapkan hal-hal buruk tentang orang lain. Natur lama kita yang berdosa sangat bertentangan dengan hidup baru kita dalam Kristus. Perkataan yang keluar dari mulut kita menunjukkan betapa kita sangat memerlukan pertolongan Allah.
“Lidah” lama kita harus disingkirkan. Satu-satunya cara mempelajari bahasa kasih adalah dengan menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas perkataan kita. Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri kita, Dia memberikan pengendalian diri sehingga kita sanggup mengucapkan kata-kata yang menyenangkan Allah Bapa. Marilah kita serahkan setiap perkataan kita kepada-Nya! “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3). —Keila Ochoa
Tuhan Yesus, kendalikanlah lidahku hari ini. Ampunilah perkataanku yang ceroboh, yang kuucapkan tanpa pikir panjang dan disulut oleh kemarahan. Kiranya kata-kataku memuliakan Engkau dan memberkati sesamaku.
Kiranya kata-kata yang kita ucapkan mengarahkan orang lain kepada Yesus.

Saturday, July 9, 2016

Lebih dari yang Kita Butuhkan

Kuasa ilahi [Allah] telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh. —2 Petrus 1:3
Lebih dari yang Kita Butuhkan
Di sebuah ladang di wilayah pedesaan Inggris, G. K. Chesterton tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan tertawa terbahak-bahak. Luapan sukacitanya terdengar sangat keras hingga mengejutkan sapi-sapi yang merumput di sekitarnya.
Padahal beberapa menit sebelumnya, sang penulis dan pembela iman Kristen itu merasa murung. Sore itu, ia sedang mengitari perbukitan sambil menggambar sketsa di atas kertas cokelat dengan menggunakan kapur berwarna. Namun ia kecewa karena tidak mempunyai kapur putih, yang menurutnya sangat penting untuk karya Seninya itu. Tidak lama kemudian, ia mulai tertawa ketika menyadari bahwa tanah yang diinjaknya adalah batu kapur berpori—sumber alam yang menghasilkan kapur putih. Ia pun mengambil sebongkah kecil batu itu dan menggunakannya untuk menggambar.
Seperti Chesterton, yang menyadari bahwa ia sedang duduk di atas gunung kapur yang sangat besar, orang percaya memiliki sumber daya rohani yang tak terbatas dari Allah dan yang dapat digunakan setiap waktu. “Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia” (2Ptr. 1:3).
Mungkin kamu merasa sedang kekurangan sejumlah elemen penting yang dibutuhkan untuk menjalani hidup saleh, seperti iman, kasih karunia, atau hikmat. Jika kamu mengenal Kristus, kamu memiliki segala sesuatu yang kamu butuhkan, bahkan lebih daripada itu. Melalui Yesus, kamu memiliki akses kepada Bapa, yang dengan penuh kasih menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan orang percaya. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Tuhan, ampunilah aku karena telah mengabaikan kuasa-Mu dan mencoba hidup dengan kekuatanku sendiri. Aku tak sanggup melakukannya. Terima kasih karena Engkau menyediakan segala sesuatu yang kubutuhkan.
Allah memiliki kuasa yang tak terbatas.

Friday, July 8, 2016

Tugas Utama Kita

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. —Yohanes 14:6
Tugas Utama Kita
Saat seorang cendekiawan Inggris mendorong agama-agama di dunia untuk bekerja sama bagi persatuan dunia, orang-orang di mana pun memujinya. Dengan menyatakan bahwa setiap agama besar memiliki keyakinan yang sama tentang Kaidah Kencana, ia menyarankan, “Tugas utama kita di masa kini adalah membangun suatu masyarakat global di mana orang-orang dari keyakinan yang berbeda-beda dapat hidup bersama dalam kedamaian dan keharmonisan.”
Yesus menyebut tentang Kaidah Kencana dalam khotbah-Nya di bukit: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat. 7:12). Dalam khotbah yang sama, Dia berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (5:44). Menerapkan kedua perintah radikal itu tentu akan mendorong tercapainya kedamaian dan keharmonisan. Namun langsung setelah itu, Yesus memperingatkan, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat. 7:15).
Menghargai sesama dan memahami kebenaran sama-sama diperlukan. Jika kebenaran ada di tangan kita, maka kita memiliki kabar baik yang harus diberitakan. Namun Allah memberikan kebebasan pada setiap orang untuk memilih atau menolak Dia. Tugas kita adalah menyajikan kebenaran dengan penuh kasih dan menghargai pilihan pribadi orang lain, seperti yang Allah lakukan.
Penghargaan kita terhadap orang lain amat diperlukan jika kita juga ingin dihargai oleh mereka. Hal itu penting agar terbuka kesempatan bagi kita untuk menyampaikan kabar baik dari Yesus, yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). —Tim Gustafson
Bapa Surgawi, tolong kami untuk melihat setiap pribadi yang Engkau ciptakan serupa gambar-Mu itu unik dan layak kami kasihi dan hargai. Kiranya hidup kami memancarkan kasih-Mu lewat perbuatan sederhana kami hari ini.
Kasihilah sesama dan kasihilah kebenaran.

Thursday, July 7, 2016

Pengingat Penting

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan. —Ulangan 6:6
Pengingat Penting
Seorang antropolog bernama Anthony Graesch mengatakan bahwa bagian luar dari lemari es mengungkapkan sesuatu yang penting bagi kita. Dari penelitian tentang keluarga-keluarga di Los Angeles, Graesch dan para koleganya mencatat bahwa rata-rata ada 52 barang yang dipasang pada lemari es—antara lain, jadwal sekolah, foto keluarga, gambar buatan anak-anak, dan hiasan magnet. Graesch menyebut lemari es sebagai “gudang penyimpanan kenangan keluarga”.
Tuhan dapat menggunakan hal-hal yang berwujud seperti foto, benda kenang-kenangan, atau ayat-ayat Alkitab untuk mengingatkan kita akan kesetiaan Allah dan panggilan untuk menaati firman-Nya. Ketika berbicara kepada umat Israel tepat sebelum mereka memasuki tanah Kanaan, Musa mendorong mereka untuk tetap mematuhi semua perintah yang Allah berikan kepada mereka. “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan . . . dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ul. 6:7,9).
Menempatkan firman Tuhan di tempat istimewa yang dapat terlihat di rumah dan dalam hidup mereka menjadi pengingat yang kuat agar setiap hari mereka berhati-hati “supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang telah membawa kamu keluar . . . dari rumah perbudakan” (ay.12).
Hari ini, Tuhan mendorong kita untuk mengingat bahwa ketika kita menaati firman-Nya, kita dapat mengandalkan kasih setia-Nya dalam segala sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. —David McCasland
Bapa, kami bersyukur untuk setiap pengingat dari kesetiaan dan kasih-Mu. Kiranya kami memuliakan-Mu dengan taat pada firman-Mu.
Berkat yang diterima setiap hari mengingatkan kita pada kesetiaan Allah.

Wednesday, July 6, 2016

Memperkuat Hati

Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia. —Ibrani 13:9
Memperkuat Hati
Pusat kebugaran di lingkungan tempat saya berolahraga selama bertahun-tahun baru saja ditutup bulan lalu, sehingga saya harus bergabung dengan pusat kebugaran baru. Tempat sebelumnya itu memberikan kehangatan tersendiri, dengan fasilitas yang nyaman dan para pengunjung yang gemar bersosialisasi sambil berolahraga. Rasanya kami tak pernah sampai berkeringat. Sebaliknya, pusat kebugaran yang baru berisi fasilitas canggih dan dipenuhi dengan para pria dan wanita yang serius berolahraga dan sungguh-sungguh berupaya membentuk tubuh yang lebih sehat. Saya mengamati mereka berusaha keras dan bersusah payah melakukannya. Tubuh mereka terlihat kuat, tetapi saya tidak tahu apakah organ jantung di dalam tubuh mereka juga diperkuat.
Jantung adalah sebuah otot yang memampukan otot-otot lain untuk bekerja. Memang baik untuk membentuk dan mengencangkan otot-otot kita lainnya, tetapi yang paling penting adalah melakukan apa saja agar membuat jantung tetap kuat.
Begitu pula dengan hati rohani kita. Kita membentuk dan memperkuat hati kita dengan menerima kebenaran firman Tuhan yang menyatakan tentang kebaikan dan kasih karunia Allah. Menjaga hati rohani kita tetap kuat dan sehat haruslah menjadi prioritas pertama dan hal utama yang kita upayakan.
Paulus pun setuju: “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1Tim. 4:7-8). —David Roper
Kiranya aku hidup dari menikmati kebaikan-Mu setiap hari, ya Tuhan, supaya hatiku semakin diperkuat oleh Roh Kudus-Mu.
Latihan dari Allah bertujuan agar kita bertumbuh dalam iman.

Tuesday, July 5, 2016

Selalu Mendampingi

Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain. —Keluaran 17:12
Selalu Mendampingi
Dengan gugup, Mi’Asya berjalan menuju mimbar untuk berpidato dalam upacara wisuda kelas 5 dengan disaksikan oleh 30 teman sekelasnya dan orangtua mereka. Sementara kepala sekolah menyesuaikan ketinggian mikrofon dengan tinggi badan Mi’Asya, ia justru berbalik membelakangi mikrofon dan hadirin. Orang-orang berusaha memberi Mi’Asya dorongan dengan membisikkan: “Ayo Nak, kamu bisa melakukannya.” Namun ia bergeming. Lalu seorang teman sekelas Mi’Asya berjalan ke depan dan berdiri di sisinya. Akhirnya Mi’Asya pun membacakan pidatonya bersama-sama sang kepala sekolah dan sahabat yang mendampinginya. Sungguh suatu contoh dukungan yang luar biasa!
Musa membutuhkan pertolongan dan dukungan di tengah pertempuran melawan Amalek (Kel. 17:10-16). “Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya [dengan memegang tongkat Allah di tangannya], lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek” (ay.11). Ketika Harun dan Hur melihat apa yang terjadi, mereka berdiri di samping Musa, “seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain” dan menopang kedua belah tangan Musa saat ia penat. Dengan dukungan mereka, kemenangan pun diperoleh pada saat matahari terbenam.
Kita semua saling membutuhkan dukungan. Sebagai saudara seiman dalam keluarga Allah, kita memiliki begitu banyak kesempatan untuk saling menguatkan di tengah perjalanan iman yang kita tempuh bersama. Allah juga hadir di tengah-tengah kita untuk memampukan kita supaya dapat saling menguatkan dengan anugerah-Nya. —Anne Cetas
Siapa yang bisa kamu bantu hari ini? Atau mungkin kamu sendiri sedang membutuhkan dukungan? Siapa yang bisa kamu mintai pertolongan?
Dorongan semangat sekecil apa pun dapat membangkitkan harapan.

Monday, July 4, 2016

Ikut Berseru

Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. —1 Timotius 2:1
Ikut Berseru
Kelompok persekutuan doa wanita di negara saya rutin mengadakan kebaktian doa bulanan untuk mendoakan Ghana dan negara-negara Afrika lainnya. Saat ditanya mengapa mereka begitu setia mendoakan bangsa-bangsa, pemimpin persekutuan doa itu,Gifty Dadzie, berkata, “lihatlah di sekelilingmu, dengar dan tontonlah berita. Banyak bangsa yang sedang menderita— karena perang, bencana, penyakit, dan kekerasan—telah membutakan orang akan kasih Allah bagi umat manusia dan berkat yang dicurahkan-Nya kepada kita. Kami percaya Allah turut bekerja dalam pergumulan bangsa-bangsa, maka kami memuji Dia atas berkat-berkat-Nya dan berseru memohon campur tangan-Nya.”
Alkitab menyatakan bahwa Allah memang turut bekerja dalam urusan bangsa-bangsa (2Taw. 7:14). Dan dalam karya-Nya, Allah memakai orang-orang biasa. Mungkin kita tidak diberi tugas yang besar, tetapi kita dapat berperan serta untuk membantu terwujudnya kesejahteraan dan kebenaran yang meninggikan derajat bangsa (Ams. 14:34). Kita dapat melakukannya dengan berdoa. Rasul Paulus menulis, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (1Tim. 2:1-2).
Seperti pemazmur menasihati bangsa Israel kuno agar berdoa “untuk kesejahteraan Yerusalem” (Mzm. 122:6), kiranya kita pun mendoakan kesejahteraan dan pemulihan bangsa kita. Ketika kita berdoa dengan merendahkan diri, berbalik dari Kejahatan, dan mencari Allah, Dia akan mendengar doa-doa kita. —Lawrence Darmani
Tuhan, hari ini kami berdoa untuk kesejahteraan bangsa kami. Kami memohon campur tangan-Mu saat kami datang kepada-Mu untuk mengakui dosa dan bertobat. Kami memuji Engkau atas berkat dan pemeliharaan-Mu.
Mendoakan para pemimpin adalah hak istimewa sekaligus kewajiban.

Sunday, July 3, 2016

Menantikan Allah

[Tuhan] sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. —2 Petrus 3:9
Menantikan Allah
Suatu hari saya duduk bersama para penumpang lainnya dalam bus yang membawa kami ke ruang tunggu penerbangan selanjutnya. Tiba-tiba pengemudi bus mendapat perintah untuk berhenti sejenak. Karena waktu terbang sudah mepet, seorang penumpang tidak bisa menerima penundaan itu dan kehilangan kesabaran. Ia memarahi si pengemudi, memaksanya untuk mengabaikan perintah, bahkan mengancam akan menuntutnya. Tak lama kemudian, seorang petugas dari maskapai sambil berlari datang membawa sebuah koper. Dengan memandangi penumpang yang marah itu, si petugas menyodorkan koper yang dibawanya dan berkata, “Koper kamu ketinggalan. Saya dengar kamu akan menghadiri pertemuan penting, jadi saya pikir kamu pasti membutuhkan koper ini.”
Terkadang saya juga bersikap tidak sabar terhadap Tuhan, terutama soal kedatanganNya kembali. Saya pikir, Apa lagi yang Dia tunggu? Segala tragedi yang terjadi di sekitar kita, penderitaan yang dialami orang-orang yang kita kasihi, bahkan tekanan yang kita alami sendiri setiap hari rasanya terlalu besar untuk kita tanggung.
Namun, saya tersadar ketika mendengar seseorang bercerita bahwa ia baru mengenal Yesus, atau saya melihat bagaimana Allah bekerja di tengah segala kekacauan yang ada. Saya diingatkan pada peristiwa dalam bus tadi. Allah tahu banyak kisah dan detail yang tidak saya ketahui. Saya diingatkan untuk tetap mempercayai-Nya dan mengingat bahwa semua itu bukanlah demi kepentingan saya, melainkan demi rencana Allah yang memberikan waktu bagi orang-orang untuk bertobat dan mengenal Anak-Nya (2Ptr. 3:9). —Randy Kilgore
Ya Tuhan, aku bersyukur karena Engkau dengan sabar menunggu lebih banyak lagi orang untuk percaya kepada-Mu sebelum Engkau datang kembali. Tolonglah aku untuk bersabar juga.
Sabarlah menanti dan terus bersaksi hingga Yesus datang kembali.

Saturday, July 2, 2016

Mampir Sebentar

Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. —Lukas 19:5
Mampir Sebentar
Semasa saya kanak-kanak, keluarga kami melakukan perjalanan dari Ohio ke Virginia Barat setiap bulannya untuk mengunjungi orangtua dari ibu saya. Setiap kali kami tiba di depan pintu peternakan mereka, nenek akan menyambut kami dan berkata, “Ayo, mampir sebentar.” Itulah caranya mengajak kami masuk ke rumahnya, menikmati waktu, dan bercengkerama sambil melepas rasa rindu.
Kesibukan bisa menyita kehidupan kita. Di dunia yang menuntut kita terus bergerak, sangatlah sulit untuk bisa benar-benar mengenal orang lain. Tidak mudah untuk meminta seseorang “mampir sebentar” dan meluangkan waktu bersama kita. Kita merasa bisa menyingkat waktu dengan mengirimkan pesan pendek melalui telepon seluler dan langsung menyampaikan pokok permasalahannya.
Namun lihatlah apa yang dilakukan Yesus ketika Dia ingin mengubahkan hidup seorang pemungut cukai. Dia hendak mengunjungi rumah Zakheus untuk “mampir sebentar” dan berkata, “Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:5). Ucapan Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak sekadar mampir, melainkan Dia hendak meluangkan waktu bersama Zakheus. Hidup Zakheus pun berubah karena pertemuannya dengan Yesus.
Di bagian depan garasi rumah nenek saya terdapat sejumlah kursi. Kursi-kursi itu menjadi lambang dari sambutan hangat yang diberikan kepada siapa saja yang mampir sebentar untuk bercengkerama di sana. Jika kita ingin mengenal seseorang dan memberikan pengaruh yang mengubahkan hidupnya—seperti yang Yesus lakukan bagi Zakheus— kita perlu meluangkan waktu bersamanya. —Dave Branon
Ya Tuhan, saat aku melihat orang-orang yang mengisi hidupku, tolonglah aku untuk menyediakan waktu bagi mereka—untuk menguatkan, mendorong, atau bahkan sekadar berbincang dengan mereka.
Bisa jadi, hadiah terbaik yang dapat kamu berikan kepada orang lain adalah waktumu.

Friday, July 1, 2016

Bersikap Dingin

Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. —Ayub 12:13
Bersikap Dingin
Karena putus asa, seorang wanita menghubungi Pusat Layanan Perumahan tempat saya bekerja. Rusaknya alat pemanas ruangan di rumah kontrakannya membuat dirinya hampir membeku. Dengan panik, ia mengungkapkan kekhawatirannya atas keadaan anak-anaknya. Tanpa pikir panjang, saya menjawab sesuai prosedur resmi: “Pindah saja ke hotel dan kirimkan tagihannya kepada pemilik kontrakanmu.” Ia pun marah dan menutup teleponnya.
Saya tahu jawaban standar yang harus diberikan, tetapi saya gagal memahami isi hati wanita itu. Ia ingin ada seseorang yang memahami ketakutan dan keputusasaannya. Ia ingin merasa bahwa ia tidak sendirian. Saya menyesal telah bersikap dingin terhadapnya.
Setelah Ayub kehilangan segalanya, yang ia miliki hanyalah sahabat-sahabat yang pandai menjawab tetapi sempit pemahamannya. Zofar berkata bahwa yang perlu Ayub lakukan hanyalah hidup sungguh-sungguh bagi Allah, maka “kehidupan [Ayub] akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari” (Ayb. 11:17). Ayub menolak nasihat itu dan merespons dengan sindiran pedas, “Bersama-sama kamu hikmat akan mati” (12:2). Ayub tahu bahwa masalah-masalah nyata seperti yang dihadapinya tidak cukup ditanggapi dengan jawaban-jawaban standar.
Mudah bagi kita untuk mengecam sahabat-sahabat Ayub karena mereka gagal melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Namun bukankah kita juga sering terlalu cepat memberi jawaban atas sesuatu yang tidak benar-benar kita pahami? Meskipun orang butuh jawaban, mereka lebih membutuhkan kesediaan kita untuk mendengarkan dan memahami mereka. Mereka butuh kepedulian kita. —Tim Gustafson
Bapa, tolong kami untuk bersikap sebagai sahabat sebelum memberikan nasihat kepada orang lain. Terima kasih untuk kesempatan berharga ketika kami dapat mencurahkan isi hati kami kepada-Mu dalam doa. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Engkau utus sehingga kami takkan pernah sendirian.
Orang akan mendengar apa yang kita katakan jika mereka tahu kita peduli kepada mereka.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate