Pages - Menu

Sunday, May 31, 2020

Pelan-pelan Saja

Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. —Filipi 2:13

Pelan-pelan Saja

Saya dan ayah saya dahulu suka menebang pohon dan memotong-motongnya dengan gergaji besar yang harus dipegang dua orang. Karena waktu itu masih muda dan bertenaga besar, saya sering mendorong gergaji kuat-kuat saat memotong kayu. Ayah saya sering mengingatkan, “Pelan-pelan saja. Biarkan gergajinya yang bekerja.”

Saya jadi teringat pada kata-kata Paulus dalam kitab Filipi: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” (2:13). Pelan-pelan saja. Biarkan Allah bekerja mengubah kita.

C. S. Lewis mengatakan bahwa pertumbuhan itu lebih dari membaca apa yang Kristus katakan dan melakukannya. Ia menjelaskan, “Pribadi yang benar-benar nyata, Kristus, . . . sedang melakukan karya-Nya untuk kamu . . . pelan-pelan mengubah kamu secara permanen menjadi . . . Kristus kecil yang baru, seseorang yang . . . ikut memiliki kuasa, sukacita, pengetahuan, dan kekekalan-Nya.”

Allah sedang berada dalam proses itu saat ini. Duduklah di kaki Yesus, dan dengarkanlah baik-baik apa yang difirmankan-Nya. Berdoalah. “Hiduplah selalu di dalam naungan kasih Allah” (Yud. 1:21 BIS), dengan selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kamu ini milik-Nya. Yakinlah bahwa Dia sedang mengubah kamu secara bertahap.

Mungkin kamu bertanya, “Bukankah kita juga perlu haus dan lapar akan kebenaran?” Bayangkanlah seorang anak kecil dengan mata berbinar-binar penuh harap sedang menginginkan hadiah yang terletak tinggi di atas rak. Menyadari keinginan itu, sang ayah mengambilkan hadiah tersebut dari atas rak lalu memberikannya kepada anaknya. Allahlah yang bekerja; kita yang bersukacita. Pelan-pelan saja. Kelak kita akan sampai juga ke sana. —David H. Roper

WAWASAN
Bacaan hari ini dimulai dengan “Sebab itu” (Flp. 2:12 BIS), menyambung pengajaran dalam ayat 1-11 untuk meneladani perendahan diri Yesus dan contoh pengorbanan-Nya yang tanpa pamrih dalam upaya kita hidup menyerupai Kristus. Dengan memerintahkan kita untuk tetap “[mengerjakan] keselamatan [kita] dengan takut dan gentar” (ay.12), Paulus tidak mengatakan bahwa kita perlu bekerja untuk keselamatan kita, karena keselamatan kita adalah karunia dari Allah (Ef. 2:8-9). Sebaliknya, Paulus mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Karena kita sudah diselamatkan, kita harus “mengerjakan hal-hal yang baik sebagai buah-buah keselamatan” (Flp. 2:12 FAYH). Dengan kuasa Roh Kudus, kita harus “[menghasilkan] buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:8), untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini,” dan untuk bercahaya “seperti bintang-bintang” di dunia yang digelapkan oleh dosa (Flp. 2:15). —K. T. Sim

Apa arti “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” bagi kamu? Apa yang kamu ingin Dia kerjakan dalam diri kamu saat ini?

Ya Allah, aku mengucap syukur bahwa Engkau mengubah hati dan tindakanku supaya aku semakin seperti Yesus. Karuniakanlah kepadaku kerendahan hati untuk rela belajar dari-Mu.

Saturday, May 30, 2020

Lakukan Apa Saja

Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? —Pengkhotbah 2:25

Lakukan Apa Saja

Dalam sebuah film yang dirilis baru-baru ini, seseorang yang menyebut dirinya sendiri “jenius” nyerocos di depan kamera tentang “kengerian, korupsi, ketidakpedulian, dan kemiskinan” dunia, dan menyatakan bahwa kehidupan ini tidak bertuhan dan konyol. Meski pemikiran seperti itu tidak asing dalam banyak naskah film modern, yang menarik di bagian akhir, si tokoh utama mendesak penonton untuk melakukan apa saja demi meraih kebahagiaan. Baginya, hal itu termasuk meninggalkan moralitas tradisional.

Namun, dapatkah kita memperoleh kebahagiaan dengan “melakukan apa saja”? Menghadapi keputusasaannya atas masalah-masalah dalam hidup ini, penulis Pengkhotbah di Perjanjian Lama sudah pernah mencoba untuk mencari kebahagiaan melalui kesenangan dan sukacita (Pkh. 2:1,10), melalui pekerjaan-pekerjaan besar (ay.4-6), melalui kekayaan (ay.7-9), dan melalui upaya memperoleh hikmat (ay.12-16). Kesimpulannya? “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (ay.17). Tidak ada sesuatu pun yang kebal dari kematian, bencana, atau ketidakadilan (5:13-17).

Hanya satu yang membawa penulis Pengkhotbah keluar dari keputusasaan. Meski didera oleh berbagai pencobaan hidup, kita dapat menemukan kepuasan ketika Allah menjadi bagian dari hidup dan karya kita: “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (2:25). Hidup terkadang terasa tidak berarti, tetapi “ingatlah akan Penciptamu” (12:1). Jangan buang-buang tenaga untuk mencoba memahami hidup, melainkan “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (ay.13).

Tanpa Allah sebagai pusat hidup kita, kenikmatan dan kepedihan hidup hanya akan membawa kita kepada kekecewaan. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Pengkhotbah 2:17-25 adalah contoh yang baik untuk memahami mengapa kitab ini terkadang dianggap muram. Sang penulis mengeluhkan kesia-siaan bekerja, karena pada akhirnya kita meninggalkan hasil pekerjaan kita kepada orang lain yang belum mengerjakannya. Ditambah lagi, kita tidak tahu bagaimana penerus kita akan menggunakannya—dengan bijak atau dengan bodoh. Sangat menarik untuk membaca kesimpulan sang penulis setelah ia menyadari kesia-siaan bekerja. Dia menganjurkan kita untuk makan, minum, dan bersenang-senang dalam jerih payah kita (ay.24). Ia berfokus untuk menemukan kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri, bukan dalam hasil atau keuntungan yang diterima karenanya. Namun, akhir dari bacaan ini membawa kita kembali kepada Allah. Tanpa-Nya, tidak mungkin ada kenikmatan dalam apa pun (ay.25). —J. R. Hudberg

Seberapa sering kamu mencari kebahagiaan lewat hal-hal yang fana? Karena penulis Pengkhotbah belum mengetahui harapan tentang kebangkitan, bagaimana kamu memandang pencariannya bila dipandang dari Roma 8:11,18-25?

Ya Allah, hari ini aku menempatkan Engkau kembali menjadi pusat dari hidup, karya, sukacita, dan kekecewaanku, karena tanpa Engkau tidak ada yang dapat memuaskan atau memberi arti bagiku.

Friday, May 29, 2020

Pencipta Bulan

Demikianlah firman Tuhan: . . . Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. —Yeremia 31:33

Pencipta Bulan

Setelah para astronaut mendaratkan pesawat ulang alik Eagle di Laut Tranquility, Neil Amstrong berkata, “Satu langkah kecil bagi manusia, satu lompatan raksasa bagi umat manusia.” Ia orang pertama yang berjalan di permukaan bulan. Para penjelajah ruang angkasa lain pun menyusul, termasuk Gene Cernan, komandan misi Apollo terakhir. “Di situlah saya, dan di sanalah engkau, Bumi—begitu hidup dan tak terkatakan, dan saya merasa . . . tidak mungkin ini terjadi secara kebetulan,” kata Cernan, “Pasti ada kekuatan yang lebih besar daripada engkau, dan lebih besar daripada aku.” Bahkan dari sudut pandang mereka yang unik di ruang angkasa, mereka menyadari betapa kecilnya mereka bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta.

Nabi Yeremia juga mengakui kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Penopang bumi dan segala ciptaan lainnya. Sang Pencipta segala sesuatu itu berjanji untuk menyatakan diri-Nya secara intim ketika Dia menawarkan umat-Nya kasih, pengampunan, dan pengharapan (Yer. 31:33-34). Yeremia menegaskan kebesaran Allah sebagai “yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam” (ay.35). Pencipta kita dan Tuhan yang Mahakuasa akan memerintah atas segala sesuatu seiring Dia berkarya menebus seluruh umat-Nya (ay.36-37).

Kita tidak akan pernah selesai menjelajahi angkasa yang tak terukur luasnya dan menyelami dasar-dasar bumi yang dalam. Namun, kita dapat mengagumi kompleksnya alam semesta ini dan mempercayai Dia yang menciptakan bulan—dan segala sesuatunya.—Xochitl Dixon

WAWASAN
Perjanjian Nuh adalah salah satu perjanjian yang paling awal dicatat di dalam Kitab Suci. Pelangi adalah tanda janji Allah untuk tidak akan lagi menghancurkan bumi dengan air bah (Kej. 9:8-17). Allah membuat perjanjian dengan Abraham ketika Dia memanggilnya untuk pergi ke tanah Kanaan dan berjanji untuk membuatnya menjadi sebuah bangsa yang besar, memberikan tanah tersebut kepadanya, dan memberkati segala bangsa melaluinya (12:1-3; 15:5-16; 17:6-8). Allah memeteraikan perjanjian dengan Abraham tersebut dengan tanda sunat (17:10-11). Dalam perjanjian-Nya dengan Daud, Allah menjanjikan kepada Daud, keturunan Abraham, bahwa setiap raja yang duduk di atas takhta Israel akan datang dari keturunannya sendiri (2Sam. 7:8-16; 1Taw. 17:11-14). Tandanya adalah Anak Daud yang dijanjikan (Mat. 1:1; Kis. 13:23). Penulis kitab Ibrani mengutip Yeremia 31:31-34 dan menyatakan bahwa Kristus, Anak Daud yang dijanjikan, sekarang adalah “Pengantara dari suatu perjanjian yang baru” (Ibr. 8:6-13; 9:15; 12:24). —K. T. Sim

Bagaimana membayangkan kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Pendukung alam semesta membantu kamu percaya menghadapi masalah yang menghadang? Bagaimana kompleksnya alam semesta ini dapat membantu kamu mempercayakan setiap hal kecil dalam hidup kamu kepada Allah?

Allah Pencipta dan Penopang segalanya, terima kasih Engkau telah mengundang kami untuk mengenal Engkau dan menaruh kepercayaan kepada-Mu hari ini dan selamanya.

Thursday, May 28, 2020

Takaran yang Baik

Berilah dan kamu akan diberi. —Lukas 6:38

Takaran yang Baik

Pada suatu hari di pompa bensin, Staci bertemu dengan seorang wanita yang lupa membawa kartu debitnya. Karena kehabisan bensin dan terdampar di sana dengan anaknya yang masih bayi, wanita itu meminta bantuan kepada orang-orang yang lewat. Meski saat itu Staci masih belum mendapatkan pekerjaan, ia rela membantu orang asing itu dengan membayari bensin seharga $15. Beberapa hari kemudian, ketika pulang, Staci menemukan sekeranjang hadiah berisi mainan anak dan hadiah-hadiah lain untuknya di depan pintu rumah. Rupanya, teman-teman dari wanita asing yang tidak dikenalnya itu berinisiatif membalas kebaikan Staci dengan mengganti $15 tadi menjadi hadiah Natal yang berkesan bagi Staci sekeluarga.

Kisah yang mengharukan tersebut menggambarkan maksud Yesus ketika Dia berkata, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).

Mendengar itu, kita mungkin tergoda untuk berfokus hanya pada balasan yang akan kita dapatkan bila kita berbagi. Namun, kita akan salah arah apabila itu yang kita pikirkan. Yesus mengawali pernyataan tadi dengan berkata: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (ay.35).

Tujuan kita memberi bukanlah untuk mendapatkan sesuatu kembali; kita memberi karena Allah senang dengan kemurahan hati kita. Kasih kita kepada sesama mencerminkan hati-Nya yang penuh kasih terhadap kita. —Remi Oyedele

WAWASAN
Dari semua perkataan Yesus yang sulit, ini adalah salah satu yang tersulit: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan” (Luk. 6:35). Bagaimana mungkin Kristus mengharapkan hal ini? Sebenarnya, Dia meminta kita untuk meniru kasih Bapa kita di surga, yang mengasihi kita meskipun kita memusuhi-Nya. Rasul Paulus menjelaskan, “Kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm. 5:10). Allah mengasihi kita tanpa memperhitungkan penolakan kita terhadap Dia dan tuntunan kasih-Nya. Sekarang, karena kita telah diampuni, kita memiliki insentif yang sangat besar untuk memberikan pengampunan kepada orang lain pada setiap kesempatan, terkhusus kepada mereka yang membenci kita. Kata-kata penutup Yesus di sini dapat membuat kita takut atau menyemangati kita, tergantung bagaimana kita menghidupi hidup kita: “Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”—oleh Allah sendiri (Luk. 6:38). —Tim Gustafson

Dalam hal apa saja kamu pernah mengalami kemurahan hati Allah dalam hidup kamu? Bagaimana kamu dapat meneruskan kemurahan hati itu kepada orang lain?

Bapa yang Mahamurah, tolonglah aku memberi dengan murah hati kepada sesama karena Engkau telah begitu bermurah hati kepadaku.

Wednesday, May 27, 2020

Mengapa Saya?

Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban pada diriku? —Ayub 7:20

Mengapa Saya?

Buku berjudul The Book of Odds berisi kumpulan berbagai kejadian langka yang menimpa satu dari sekian banyak orang. Catatan menyatakan bahwa satu di antara sejuta orang pernah disambar petir. Satu dari 25.000 orang mengalami gangguan kesehatan yang disebut “sindrom patah hati” yang diakibatkan oleh peristiwa guncangan atau kehilangan yang besar. Pengalaman-pengalaman tidak masuk akal yang dicatat dalam buku itu menyimpan pertanyaan yang tidak terjawab: Bagaimana jika kita menjadi salah satu yang mengalaminya?

Ayub berbeda dari semua orang pada zamannya. Allah berkata tentang Ayub, “Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1:8). Akan tetapi, Ayub justru dipilih untuk mengalami rentetan penderitaan yang tidak masuk akal. Dari semua orang di dunia, Ayub adalah orang yang paling berhak menuntut jawaban. Pasal demi pasal dalam kitab ini menunjukkan kepada kita kesulitan yang dihadapi Ayub untuk memahami, “Mengapa saya?”

Kisah Ayub memberikan kepada kita cara untuk merespons misteri penderitaan dan kesedihan yang tidak terjelaskan. Dengan melihat bagaimana salah seorang hamba Allah yang baik dan penuh belas kasihan justru mengalami penderitaan dan kebingungan (ps.25), kita belajar bahwa tidak selamanya hukum tabur-tuai itu berlaku (4:7-8). Dengan memberikan latar belakang tentang kekacauan yang disebabkan oleh Iblis (ps.1) dan juga ucapan penutup (42:7-17) dari Allah yang kelak akan menyerahkan Anak-Nya untuk menanggung dosa-dosa kita, kisah Ayub memberikan alasan bagi kita untuk hidup karena percaya, bukan karena melihat. —Mart DeHaan

WAWASAN
Ayub 7:17 sangat mirip dengan Mazmur 8:5, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Namun, kemiripan kedua bacaan ini hanya sampai di situ. Daud dalam Mazmur 8 memuji Allah karena Dia sangat memperhatikan manusia sehingga Dia menaruhnya di atas segala ciptaan dan “telah membuatnya hampir sama seperti Allah” (ay.6-9). Sebaliknya, Ayub mengeluhkan perhatian Allah: “Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, . . . dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?” (7:17-18). Ayub merasa seakan-akan Allah mengincar dan mengejar-ngejar dirinya (ay.11-21). Namun, setelah Allah akhirnya berbicara (ps.38–41), kita melihat perubahan pada sikap Ayub: “Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui” (42:3). Sekali lagi, kita melihat sebuah kesamaan dengan Mazmur 8. —Alyson Kieda

Bagaimana perasaan kamu terhadap Allah yang terkadang mengizinkan kita menderita tanpa memberi penjelasan apa-apa? Bagaimana kisah Ayub membantu kamu memahami hal ini?

Allah Pencipta dan Pemberi kehidupan kami, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, tolonglah kami untuk lebih mempercayai-Mu daripada penglihatan dan perasaan kami sendiri.

Tuesday, May 26, 2020

Lebih Manis dari Madu

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. —Amsal 16:24

Lebih Manis dari Madu

Topik yang dibawakannya adalah tentang ketegangan antar ras. Namun, pembicaranya tetap tenang dan sanggup menguasai diri. Berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang, ia berbicara dengan berani—tetapi dengan kata-kata yang menunjukkan kasih, kerendahan hati, kebaikan, bahkan humor. Tidak butuh waktu lama untuk membuat hadirin yang tegang menjadi rileks, bahkan ikut tertawa bersama si pembicara tentang dilema yang mereka semua hadapi: bagaimana menyelesaikan isu panas dengan kepala dingin melalui perasaan dan perkataan yang menyejukkan. Dengan kata lain, bagaimana menghadapi topik yang panas dengan kasih yang mendinginkan.

Raja Salomo menyarankan pendekatan yang sama bagi kita semua: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Ams. 16:24). Dengan demikian, “Dari hati orang yang bijaksana keluarlah perkataan yang cermat dan meyakinkan” (ay.23 FAYH).

Mengapa raja yang hebat seperti Salomo menggunakan waktunya untuk mengajari cara kita berbicara? Karena kata-kata berkuasa untuk menghancurkan. Pada masa itu, raja-raja bergantung kepada para kurir pembawa pesan untuk mendapatkan informasi tentang bangsanya, sehingga kurir yang tenang dan meyakinkan sangatlah dihargai. Mereka akan menggunakan kata-kata yang baik dan bijaksana, tidak melebih-lebihkan atau berkata-kata kasar, apa pun kabar yang mereka bawa.

Ada banyak kebaikan yang kita petik dari penggunaan kata-kata yang bijaksana dan manis saat menyampaikan pendapat kita. Salomo sendiri menyatakan, “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada Tuhan” (ay.1).—Patricia Raybon

WAWASAN
Mengapa Amsal 16:1 membedakan “[pertimbangan] dalam hati” dengan “jawaban lidah”? Perhatikan respons Yesus ketika orang-orang Farisi bertanya kepada-Nya mengapa murid-murid-Nya melanggar adat istiadat dengan tidak membasuh tangan (Mat. 15:1-2). Yesus mengetahui bahwa masalahnya bukan pada menaati peraturan, tetapi dalam menjaga kemurnian hati. Dia mengingatkan mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (ay.7-8; lihat juga Yes. 29:13). Yesus menambahkan, “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat” (Mat. 15:18-19). Amsal mengatakan kepada kita bahwa “Tuhanlah yang menguji hati” (16:2). Ayat 21 dan 23 menunjukkan hubungan yang dekat antara hati dan perkataan. Sifat asli kita terlihat nyata lewat perkataan kita. —Tim Gustafson

Bagaimana cara kamu berkomunikasi saat sedang membahas topik yang sulit dan panas? Perubahan apa yang dirasakan dalam cara kamu berbicara ketika kamu mengizinkan Roh Kudus melembutkan lidah kamu?

Allah kami yang kudus, ketika kami membicarakan topik yang sulit, lembutkanlah hati dan perkataan kami dengan pertolongan Roh-Mu yang lemah lembut.

Monday, May 25, 2020

Mengenang

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. —Yohanes 15:13

Mengenang

Pada momen Memorial Day (Hari Pahlawan di Amerika Serikat), saya teringat kepada para veteran militer, tetapi terutama kepada ayah dan paman saya yang pernah berjuang membela negara di Perang Dunia ke-2. Mereka berdua pulang dengan selamat dari medan perang, tetapi ada ratusan ribu keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka demi negara. Jika ditanya, ayah saya dan sebagian besar prajurit pada masa itu pasti berkata bahwa mereka rela menyerahkan nyawa demi melindungi orang-orang yang mereka kasihi dan membela apa yang mereka yakini sebagai hal yang benar.

Ketika seseorang wafat karena membela negaranya, Yohanes 15:13 menjadi bagian Alkitab yang sering dibacakan dalam upacara pemakamannya: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Namun, apa sebenarnya latar belakang ayat ini?

Saat Yesus mengucapkan kata-kata tersebut di hadapan murid-murid-Nya pada Perjamuan Terakhir, Dia sedang menuju kematian-Nya. Bahkan salah seorang murid-Nya, Yudas, sudah pergi untuk mengkhianati-Nya (13:18-30). Kristus tahu tentang semua itu, tetapi Dia masih memilih untuk menyerahkan nyawa-Nya untuk para sahabat dan juga musuh-musuh-Nya.

Yesus siap dan rela mati bagi mereka yang suatu hari akan percaya kepada-Nya, bahkan bagi mereka yang masih menjadi seteru-Nya (Rm. 5:10). Sebagai balasan, Yesus meminta murid-murid-Nya (dahulu dan sekarang) untuk “saling mengasihi” seperti Dia telah mengasihi mereka (Yoh. 15:12). Kasih-Nya yang besar memotivasi kita untuk mengasihi sesama dengan rela berkorban—bagi teman maupun musuh kita. —Alyson Kieda

WAWASAN
Injil Yohanes memiliki garis besar yang sangat jelas. Antara prolog (1:1-18) dan epilognya (ps.21), Yohanes berfokus pada pelayanan Yesus kepada orang banyak dalam perkataan dan perbuatan (1:19–12:50). Dalam kelima pasal yang dikenal sebagai Ceramah Ruang Atas (Upper Room Discourse, ps.13–17), Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya secara khusus. Pasal-pasal ini mengisi kira-kira 20 persen kitab Yohanes dan terjadi pada jangka waktu yang sangat singkat. Dalam bagian ini, kita menemukan kebenaran-kebenaran inti untuk orang yang percaya kepada Yesus: pelajaran-pelajaran tentang perhambaan dan kerendahan hati (ps. 13); Yesus sebagai jalan kepada Bapa (14:6); janji, pelayanan, dan pekerjaan Roh Kudus (14:15-31; 16:4-15); perintah untuk mengasihi (13:31-35); dan perlunya tinggal dalam kasih Bapa (15:9-17). Dalam pasal 18–20, Yohanes berfokus pada kematian dan kebangkitan Yesus. —Arthur Jackson

Sebelum percaya kepada Yesus, kita adalah musuh-Nya. Namun, Yesus tetap mati bagi kita. Bagaimana kamu dapat menghargai dan mengingat pengorbanan Yesus di kayu salib bagi kamu? Bagaimana kamu bisa mengasihi orang lain hingga rela berkorban bagi mereka?

Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur Engkau rela mati bagi kami!

Sunday, May 24, 2020

Meja untuk Mengobrol

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. —Kisah Para Rasul 2:46

Meja untuk Mengobrol

Kesepian adalah salah satu ancaman terbesar terhadap kesejahteraan kita, mempengaruhi kesehatan lewat perilaku kita di media sosial, makanan yang kita konsumsi, dan hal-hal sejenisnya. Suatu penelitian menunjukkan bahwa hampir dua pertiga orang—tanpa memandang usia atau jenis kelamin—pernah merasa kesepian setidaknya selama beberapa waktu tertentu. Sebuah pasar swalayan di Inggris telah menciptakan “meja untuk mengobrol” di kafe-kafe dalam toko mereka sebagai upaya meningkatkan hubungan antarmanusia. Mereka yang ingin berinteraksi dengan orang lain hanya perlu duduk di seputar meja yang dirancang bagi maksud itu, untuk bergabung dengan orang lain atau menunjukkan kemauan untuk mengobrol. Obrolan yang kemudian terjalin di sana membuat orang-orang yang terlibat merasa memiliki teman dan komunitas.

Orang-orang percaya di jemaat mula-mula juga berkomitmen untuk terus memelihara hubungan. Tanpa satu sama lain, sangat mungkin mereka merasa sendirian dalam mempraktikkan iman mereka yang terbilang masih baru bagi dunia. Mereka tidak hanya “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” untuk belajar arti mengikut Yesus, tetapi mereka juga “berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah” dan “memecahkan roti di rumah masing-masing” untuk saling bersekutu dan menyemangati (Kis. 2:42,46).

Kita membutuhkan hubungan dengan sesama, karena Allah memang merancang kita demikian! Masa-masa kesendirian yang menyakitkan juga menunjukkan kebutuhan tersebut. Seperti jemaat mula-mula, penting bagi kita untuk menjalin hubungan dengan sesama manusia, demi kesejahteraan kita dan demi orang-orang di sekeliling kita yang membutuhkannya. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Kisah Para Rasul 2 menggambarkan kelahiran gereja di hari Pentakosta ketika Allah dalam penggenapan nubuat-nubuat dan janji-janji-Nya (Yes. 32:15; Yeh. 36:26-27; 39:29; Yl. 2:28-32; Yoh. 16:7) mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam mereka yang percaya kepada Yesus (Kis. 2:1-4). 3.000 orang (2:41) ditambahkan kepada jemaat yang berjumlah 120 orang (1:15). Gereja pertama ini adalah gereja yang bertumbuh, penuh kasih, dan murah hati. Kata Yunani untuk “persekutuan” (2:42) adalah koin­­­­­onia dan mengandung arti “partisipasi, saling berbagi.” Orang-orang percaya berpartisipasi dalam identitas dan kerohanian yang sama—mempelajari kebenaran rohani, membaktikan diri kepada persekutuan, mengingat kematian Yesus, bersandar pada Allah, mengalami kuasa-Nya, dan menunjukkan kemurahan hati yang tidak tanggung-tanggung kepada mereka yang membutuhkan (ay.42-47). —K. T. Sim

Bagaimana kamu dapat dengan sengaja membangun hubungan dengan seseorang hari ini? Mungkinkah kamu sedang melewatkan peluang menjalin persahabatan dengan seseorang?

Tolonglah kami, ya Allah, untuk berusaha menjalin hubungan baik demi diri kami sendiri dan demi orang lain.

Saturday, May 23, 2020

Para Penjaga Terang

Sebab Allah . . . membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita. —2 Korintus 4:6

Para Penjaga Terang

Orang-orang menamainya “Para Penjaga Terang.”

Dalam mercusuar yang terletak di tanjung Pulau Hatteras di lepas pantai Carolina Utara, Amerika Serikat, terdapat tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang orang-orang yang sudah menjaga mercusuar itu sejak tahun 1803. Tak lama setelah bangunan mercusuar tersebut dipindahkan ke daratan karena erosi pada garis pantai, nama-nama para penjaga tersebut dipahatkan pada batu-batu fondasi dari bangunan lama dan disusun membentuk amfiteater yang menghadap ke lokasi yang baru. Dengan begitu—seperti yang dijelaskan pada plakat tersebut—para pengunjung dapat mengikuti jejak para penjaga terdahulu dan ikut “mengawasi” mercusuar tersebut.

Yesus adalah pemberi terang yang utama. Dia berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Sungguh pernyataan yang sangat radikal. Namun, Yesus mengatakan hal itu untuk menegaskan hubungan-Nya dengan Bapa-Nya di surga, Sang Pencipta terang dan hidup yang mengutus-Nya ke dunia.

Ketika kita memandang kepada Yesus untuk menerima keselamatan dan mengikuti ajaran-Nya, hubungan kita dengan Allah pun dipulihkan, dan Dia memberikan kepada kita kekuatan dan tujuan hidup yang baru. Kehidupan dan kasih-Nya yang mengubahkan—”terang manusia” (1:4)—bersinar di dalam kita dan terpancar keluar melalui kita ke dunia yang gelap dan terkadang berbahaya.

Sebagai pengikut Yesus, kita menjadi “penjaga terang.” Kiranya orang lain melihat terang-Nya bersinar melalui kita dan menemukan kehidupan serta pengharapan yang hanya dapat diberikan oleh Yesus! —James Banks

WAWASAN
Kitab-kitab Injil dibagi menjadi dua kategori: Injil-Injil Sinoptik dan Injil Yohanes. Injil “Sinoptik”, yang berarti “dengan cara pandang yang sama,” adalah Matius, Markus, dan Lukas. Meskipun masing-masing Injil memberikan rincian yang berbeda dalam upaya menceritakan kisah Yesus secara unik, ketiganya memiliki perspektif yang sama karena seringkali menceritakan kisah-kisah yang sama. Dengan isi yang 92% unik, Injil Yohanes sangat berbeda dengan Injil-Injil Sinoptik. Salah satu ciri Injil Yohanes adalah penekanan tentang tema terang dan kebenaran. Yohanes mengekspresikan realitas bahwa Yesus adalah perwujudan nyata dari kebenaran dan terang itu sendiri. —Bill Crowder

Dengan cara praktis apa kamu dapat memancarkan terang Yesus? Dalam bagian apakah Allah sedang memanggilmu untuk taat kepada-Nya hari ini?

Tuhan Yesus, aku memuji-Mu untuk terang dan kasih-Mu. Tolonglah aku agar dapat bersinar bagi-Mu.

Friday, May 22, 2020

Bawalah Air Matamu kepada Allah

Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, sampai Tuhan memandang dari atas dan melihat dari sorga. —Ratapan 3:49-50

Bawalah Air Matamu kepada Allah

Musim panas lalu, seekor ikan paus pembunuh bernama Talequah melahirkan. Karena paus pembunuh termasuk spesies yang terancam punah, bayi paus itu memberikan harapan bagi kelangsungan hidup mereka. Akan tetapi, bayi tersebut ternyata hanya bertahan hidup kurang dari satu jam. Banyak orang di seluruh dunia menyaksikan Talequah menunjukkan kesedihannya dengan mendorong-dorong anaknya yang sudah mati itu di Samudra Pasifik yang dingin selama tujuh belas hari sebelum akhirnya melepaskannya.

Terkadang orang percaya juga bergumul harus berbuat apa saat berduka. Mungkin kita khawatir kesedihan kita akan menunjukkan seolah-olah kita tidak punya pengharapan. Akan tetapi, Alkitab memberikan kepada kita banyak contoh tentang pribadi-pribadi yang berseru kepada Allah dalam kesedihan mereka. Meratap dan berharap sama-sama dapat menjadi bagian dari respons yang beriman.

Kitab Ratapan berisi lima syair yang mengungkapkan perasaan dukacita dari orang-orang yang telah kehilangan kampung halaman mereka. Mereka dikejar-kejar musuh dan hampir mati (Rat. 3:52-54). Mereka meratap dan memanggil Allah agar Dia menyatakan keadilan-Nya (ay.64). Mereka berseru kepada Allah bukan karena telah kehilangan pengharapan, tetapi karena percaya bahwa Allah mendengar. Ketika mereka berseru, Allah datang mendekat kepada mereka (ay.57).

Tidaklah salah meratapi kehancuran yang terjadi di dalam dunia ini atau dalam kehidupanmu. Allah selalu mendengar ratapanmu. Yakinlah bahwa Allah melihat dari surga dan memahami kesedihanmu. —Amy Peterson

WAWASAN
Kitab Ratapan memberikan kepada kita gambaran seorang pujangga tentang akibat dari perang. Yerusalem telah diinvasi oleh para jenderal Babel pada 586 SM (Yeremia pasal 52). Allah segala allah telah menyerahkan umat pilihan-Nya kepada musuh-musuh mereka, seperti yang telah Dia peringatkan sedari awal jika mereka tegar tengkuk dan melupakan misi mereka sebagai terang bagi bangsa-bangsa lain (Ulangan 28). Emosi sang pujangga yang mengalir mencerminkan sebuah bangsa yang sekarang tidak punya tempat pelarian selain kepada ingatan masa lalu mereka dan berharap kepada Allah nan kekal yang terasa sangat jauh dari mereka pada masa-masa penderitaan yang seakan takkan berakhir tersebut (Ratapan 5:19-22). —Mart DeHaan

Bagaimana kamu dapat berlatih membawa seluruh perasaanmu kepada Allah? Kapan kamu merasa bahwa Allah datang mendekat kepadamu di saat kamu bersedih?

Allah Mahakasih, tolonglah kami mengingat bahwa tidaklah salah meratapi kesalahan kami sebelum kami dapat memperbaikinya.

Thursday, May 21, 2020

Malaikat Pisau

Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. —Yesaya 2:4

Malaikat Pisau

Ketika kejahatan bersenjata pisau sedang marak di Inggris, Pusat Pertukangan Besi di sana mendapat ide segar. Bekerja sama dengan polisi setempat, lembaga itu membuat dan menempatkan dua ribu kotak pembuangan pisau di seluruh negeri dan memulai kampanye penghapusan hukuman. Akhirnya, seratus ribu bilah pisau terkumpul, dengan beberapa di antaranya masih memiliki noda bekas darah. Pisau-pisau tersebut kemudian dikirim ke seniman Alfie Bradley, yang kemudian menumpulkan pisau-pisau itu, mengukir beberapa nama anak muda yang menjadi korban kejahatan akibat pisau, ditambah pesan penyesalan dari para bekas pelaku kejahatan. Seluruh senjata itu kemudian dilas untuk membuat Malaikat Pisau—patung malaikat dari besi pisau setinggi delapan setengah meter dengan sayap baja berkilauan.

Saat berdiri di depan patung Malaikat Pisau itu, saya bertanya-tanya dalam hati berapa banyak luka yang sudah dicegah oleh keberadaan patung itu. Saya juga terpikir tentang penglihatan yang diterima Yesaya tentang langit dan bumi yang baru (Yes. 65:17), suatu tempat yang tidak akan melihat lagi anak-anak mati muda (ay.20) atau tumbuh dalam kemiskinan yang membuahkan kejahatan (ay.22-23). Di sana tiada lagi kejahatan dengan senjata pisau sebab semua pedang telah ditempa dan dibentuk kembali untuk tujuan yang lebih baik (2:4).

Dunia yang baru itu belum tiba, tetapi kita harus terus berdoa dan melayani hingga kedatangannya (Mat. 6:10). Patung Malaikat Pisau seakan memberi kita gambaran sekilas tentang masa depan yang dijanjikan Allah. Pedang akan menjadi mata bajak. Senjata menjadi karya seni. Karya apa lagi yang bisa kita hasilkan untuk menunjukkan sekilas hari depan yang indah itu? —Sheridan Voysey

WAWASAN
Dilatarbelakangi ketidakadilan yang mencolok, kebobrokan moral, dan penyelewengan rohani, Nabi Yesaya memperingatkan Yehuda yang bersalah tentang penghakiman Allah (Yes. 1–12) melalui pembuangan ke Babel (39:6-7). Yesaya juga bernubuat tentang anugerah Allah (ps.40–55) dan pemulihan bagi Yehuda di masa depan (ps.11,56–66). Dalam Yesaya 12, kita diberikan sekilas masa depan Yehuda yang agung. Yerusalem akan menjadi kota terpenting di dunia, dan di tengah-tengah kota tersebut akan ada Bait Allah yang luar biasa. Perdamaian dunia akan menjadi kenyataan. Alih-alih melawan bangsa Yahudi, bangsa-bangsa lain akan datang ke Yerusalem untuk mencari Allah. Umat Allah akan menjadi “terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-[Nya] sampai ke ujung bumi” (49:6). Mikha, seorang yang hidup sezaman dengan Yesaya (735–725 SM) menubuatkan penglihatan yang serupa dalam Mikha 4:1-3. —K. T. Sim

Apa yang menginspirasi kamu untuk memerangi kejahatan? Apa yang bisa kamu lakukan untuk mengupayakan perdamaian dalam komunitasmu?

Tuhan Yesus, kami tidak sabar menantikan dunia ini berada dalam kedamaian di bawah pemerintahan-Mu. Dengan Roh-Mu, gerakkanlah kami untuk mengupayakan datangnya Kerajaan-Mu di tengah komunitas kami.

Wednesday, May 20, 2020

Yesus yang Tersenyum

Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu. —Ibrani 1:9

Yesus yang Tersenyum

Seandainya kamu bisa berperan menjadi Yesus dalam sebuah film, bagaimana cara kamu menghayati peran itu? Tantangan itulah yang dialami Bruce Marchiano, pemeran Yesus dalam film Matthew keluaran Visual Bible pada tahun 1993. Karena menyadari bahwa jutaan penonton akan mempunyai pemikiran tentang sosok Yesus lewat penampilannya dalam film itu, Bruce pun merasa sangat dibebani untuk memberikan gambaran yang “benar” tentang Yesus. Ia lantas berlutut dan berdoa memohon kepada Yesus untuk—ya, untuk Yesus.

Bruce mendapat ilham dari pasal pertama kitab Ibrani. Di sana tertulis bagaimana Allah Bapa membedakan Anak-Nya dengan orang-orang lain dengan cara mengurapi-Nya “dengan minyak sebagai tanda kesukaan” (1:9). Kesukaan seperti itu merupakan salah satu bentuk perayaan—suatu kegembiraan karena relasi dengan Bapa yang diungkapkan dengan sepenuh hati. Seperti itulah sukacita yang menguasai hati Yesus di sepanjang hidup-Nya. Ibrani 12:2 menyatakan, “[Yesus] mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Merujuk pada ekspresi yang ditemukannya dalam Kitab Suci, Bruce pun memberikan gambaran yang unik tentang Sang Juruselamat, yaitu Yesus yang penuh sukacita. Hasilnya, Bruce lalu dikenal sebagai “Yesus yang tersenyum.” Kita juga bisa berlutut dan “memohon kepada Yesus untuk mendapatkan Yesus.” Kiranya Dia memenuhi kita begitu rupa dengan karakter-Nya sehingga orang lain di sekitar kita melihat ungkapan kasih-Nya dalam diri kita. —Elisa Morgan

WAWASAN
Surat kepada jemaat Ibrani mengandung sejumlah pokok pengajaran Kristologi (doktrin mengenai diri dan karya Kristus) yang paling jelas di dalam Perjanjian Baru. Dalam Ibrani 1:8-12, Allah berbicara tentang peran Sang Anak—yang dipahami sebagai Mesias. Sang Anak akan memiliki kerajaan kebenaran untuk selamanya (ay.8), dan karena Anak mencintai keadilan dan membenci kefasikan, Allah telah mengurapi-Nya dengan “minyak sebagai tanda kesukaan” (ay.9). Minyak tanda kesukaan merupakan suatu cara untuk menggambarkan apa yang dihadapi Yesus selama berada di bumi. Namun, dalam pasal 12, kesukaan ini dikaitkan lagi dengan Yesus. Di pasal itu dikatakan bahwa sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi Kristus (mungkin minyak tanda kesukaan ini?), Dia tekun memikul salib. Pelayanan maupun salib-Nya bukanlah sukacita tersebut; apa yang terjadi setelahnya itulah yang begitu luar biasa dan membuat Yesus menderita dengan sukarela. —J. R. Hudberg

Apa saja persepsi kamu tentang Yesus dan apakah hal tersebut perlu diubah? Bagaimana kamu dapat menjadi wakil Yesus di dunia sembari menunjukkan kerinduan hati-Nya kepada mereka?

Tuhan Yesus, kami memohon kepada-Mu agar kami mendapatkan-Mu. Kiranya orang lain melihat hati-Mu melalui diri kami hari ini. Kiranya kami memancarkan sukacita-Mu lewat semua perkataan dan perbuatan kami.

Tuesday, May 19, 2020

Pilihan yang Menentukan

Tuhan mengenal jalan orang benar.—Mazmur 1:6

Pilihan yang Menentukan

Tanpa sinyal telepon seluler dan peta jalan, kami menempuh perjalanan hanya dengan mengandalkan ingatan. Lebih dari satu jam kemudian, akhirnya kami dapat keluar dari hutan dan sampai di tempat parkir. Gara-gara melewatkan belokan yang seharusnya bisa memperpendek jarak hingga hampir satu kilometer, kami justru mengambil jalan yang jauh lebih panjang.

Hidup terkadang demikian: kita harus bertanya bukan saja apakah sesuatu itu benar atau salah, tetapi juga ke mana hal itu akan membawa kita. Mazmur 1 membandingkan dua jalan hidup—jalan hidup orang benar (mereka yang mengasihi Allah) dan jalan hidup orang fasik (musuh orang-orang yang mengasihi Allah). Orang benar akan menghasilkan buah yang banyak, bagai pohon yang ditanam di tepi aliran air, tetapi kejahatan akan seperti sekam yang tertiup angin (ay.3-4). Mazmur ini menunjukkan apa artinya hidup yang berhasil. Yang berhasil adalah mereka yang bergantung kepada Allah untuk hidup dan pembaruannya.

Jadi, bagaimana caranya kita bisa menjadi orang seperti itu? Salah satu yang dinasihatkan Mazmur 1 adalah bahwa kita perlu melepaskan diri dari hubungan dan kebiasaan buruk yang merusak diri kita, dan sebaliknya kita menyukai perintah Allah (ay.2). Akhirnya, alasan dari keberhasilan hidup kita adalah perhatian Allah atas kita: “Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar” (ay.6).

Serahkanlah jalanmu kepada Allah, biarkan Dia membawamu kembali dari jalan yang sia-sia, dan izinkan Kitab Suci menjadi aliran air yang senantiasa mengalirkan kehidupan ke dalam hatimu.—Glenn Packiam

WAWASAN
Mazmur 1 mempersiapkan tema kunci untuk seluruh kitab Mazmur dengan menjelaskan manfaat dan berkat yang bisa didapatkan dari berjalan terus-menerus bersama Allah—mereka akan berbuah dan berhasil (ay.3). Namun, keberhasilan ini tidak dalam bentuk kepemilikan materi atau situasi hidup, tetapi dalam hubungan dengan Allah. Mazmur 1 menasihati kita untuk “[bersuka dalam] Taurat TUHAN” dan merenungkannya “siang dan malam” (ay.2). Salah satu arti dari kata Ibrani yang digunakan untuk kata merenungkan adalah “berkomat-kamit.” Definisi ini dapat diperluas menjadi mengucapkan sesuatu kepada diri sendiri. Perenungan ini dilakukan dengan tidak tergesa-gesa dan sungguh-sungguh, sehingga seperti proses pembelajaran. Memusatkan perhatian pada pembelajaran firman Allah adalah cara yang praktis untuk belajar menerapkan Kitab Suci dalam hidup kita sehari-hari.—Julie Schwab

Hubungan atau kebiasaan apa yang perlu kamu tinggalkan? Bagaimana caramu meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab setiap hari?

Tuhan Yesus, berikanlah diriku anugerah untuk menjauhi jalan yang salah. Pimpinlah aku ke aliran air yang ada di hadapan-Mu, dan pelihara aku dengan firman-Mu. Jadikanlah hidupku setia dan berbuah demi kemuliaan-Mu.

Monday, May 18, 2020

Anugerah Damai Sejahtera

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.—Lukas 2:29-30

Anugerah Damai Sejahtera

“Aku percaya kepada Yesus dan Dialah Juruselamatku, maka aku tidak takut mati,” kata Barbara Bush, istri mantan Presiden AS George H. W. Bush, kepada anak laki-lakinya sebelum ia meninggal dunia. Pernyataan yang luar biasa dan penuh keyakinan itu menunjukkan dasar iman yang kuat dan teguh. Barbara mengalami anugerah damai sejahtera Allah dari pengenalannya akan Tuhan Yesus, bahkan di saat-saat menghadapi kematian.

Simeon, salah seorang warga Yerusalem di abad pertama, juga mengalami damai sejahtera yang luar biasa karena Yesus. Oleh gerakan Roh Kudus, Simeon pergi ke Bait Allah ketika Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus untuk disunat menurut hukum yang berlaku bagi seorang bayi yang baru lahir. Meski tidak banyak yang diketahui tentang Simeon, dari penjelasan Lukas kita tahu bahwa ia hamba Allah yang istimewa, benar dan saleh, setia menunggu kedatangan Mesias, dan “Roh Kudus ada di atasnya” (Luk. 2:25). Namun, Simeon belum mengalami shalom (damai), yaitu keutuhan yang sangat mendalam, sampai ia melihat Yesus.

Sambil menggendong bayi Yesus, Simeon melontarkan pujian yang mengungkapkan kepuasannya yang penuh di dalam Allah: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (ay.29-31). Simeon merasakan damai sejahtera karena Dia telah melihat harapan untuk seluruh dunia di masa depan.

Ketika kita merayakan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, Juruselamat yang dijanjikan itu, kiranya kita bersukacita menerima anugerah damai sejahtera Allah.—Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Di dalam hukum Yahudi, setelah kelahiran seorang anak lelaki, ibunya dianggap najis selama 40 hari (Im. 12:1-5), dan setiap anak lelaki sulung harus dikhususkan bagi Allah (Kel. 13:2). Peraturan ini didasarkan pada tulah kesepuluh, ketika anak-anak lelaki sulung bangsa Mesir dibunuh sementara anak-anak lelaki sulung bangsa Israel dibiarkan hidup (ay.12-15). Anak-anak lelaki sulung Israel harus ditebus (Bil. 18:15-16). Setelah Yesus dilahirkan, Yusuf membawa Maria dan Yesus ke Bait Allah untuk melaksanakan pentahiran sang ibu dan penebusan anak lelaki sulung (Luk. 2:22-24). Di Bait Allah, Simeon yang sudah tua melihat Yesus yang berusia 40 hari. Lukas mengatakan bahwa “Roh Kudus ada di atasnya” (ay.25), sebuah deskripsi yang digunakan untuk para nabi Perjanjian Lama yang berbicara atas nama Allah (Bil. 11:25; 1 Sam. 10:6,10; 19:20,23). Karena Hana, yang juga berada di Bait Allah pada waktu itu, adalah “seorang nabi” (Luk. 2:36), para ahli menyimpulkan bahwa Simeon juga adalah seorang nabi.—K. T. Sim

Pernahkah kamu mengalami kepuasan yang mendalam dan penuh, yang datang dari pengenalan akan Yesus? Bagaimana kamu dapat merayakan anugerah damai sejahtera Allah hari ini?

Ya Bapa, terima kasih untuk Yesus, anugerah damai sejahtera-Mu.

Sunday, May 17, 2020

Apalah Arti Sebuah Nama?

Menurut anggapan orang, Yesus adalah anak Yusuf.—Lukas 3:23

Apalah Arti Sebuah Nama?

Dalam kehendak Allah, putra kami Kofi lahir pada hari Jumat, sesuai dengan arti namanya—anak laki-laki yang lahir pada hari Jumat. Kami memberinya nama seperti nama teman kami, seorang pendeta asal Ghana yang pernah kehilangan putra tunggalnya. Beliau pun selalu mendoakan anak kami. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami.

Sering kali kita melewatkan arti sebuah nama bila kita tidak mengetahui cerita di balik nama itu. Di Lukas 3, kita menemukan fakta mengejutkan tentang salah satu nama dalam daftar leluhur Yusuf. Silsilah itu menarik garis keturunan Yusuf ke belakang sampai ke Adam, bahkan sampai ke Allah (ay.38). Di ayat 31, kita membaca: “anak Natan, anak Daud.” Natan? Menarik sekali. Di 1 Tawarikh 3:5 kita membaca bahwa Natan adalah anak Daud dari Batsyeba.

Mungkinkah kebetulan Daud memberi nama Natan kepada anak Batsyeba? Cobalah ingat latar belakang kisah ini. Batsyeba tidak seharusnya menjadi istri Daud. Natan yang lain—seorang nabi—dengan berani menegur sang raja karena telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk merebut Batsyeba dan membunuh suaminya (lihat 2 Sam. 12).

Daud pun menerima teguran langsung yang disampaikan dengan sangat keras itu dan langsung bertobat dari pelanggarannya yang mengenaskan. Seiring berlalunya waktu, ia memperoleh seorang anak laki-laki dan memberinya nama Natan. Bukan kebetulan bahwa itu adalah anak Batsyeba, dan kelak ia akan menjadi salah satu leluhur Yusuf, ayah Yesus di bumi (Luk. 3:23).

Dalam Alkitab, anugerah Allah dapat kita temukan terjalin dalam segala hal—bahkan dalam wujud sebuah nama di silsilah yang jarang dibaca. Anugerah Allah ada di mana-mana.—Tim Gustafson

WAWASAN
Para penulis Injil Matius (1:1-16) dan Lukas (3:23-38) sama-sama menuliskan silsilah Yesus. Ada beberapa hal penting yang patut diperhatikan. Lukas mencantumkan 76 generasi; Matius hanya menuliskan 41. Setiap daftar ini konsisten dengan tujuan dan penekanan masing-masing Injil. Catatan Matius dimulai dari Abraham (1:1) dan berakhir dengan Yesus. Catatan Lukas dimulai dari Yesus dan dirunut sampai kembali kepada Adam (3:38). Daftar yang dituliskan Matius menonjolkan asal-muasal Yesus sebagai keturunan Abraham dan Daud. Lukas, yang menekankan Yesus sebagai Anak Manusia, membawa pembacanya kembali kepada Adam, nenek moyang seluruh umat manusia. Menarik untuk diperhatikan bahwa ada nama empat wanita dalam daftar Matius: Tamar (ay.3); Rahab dan Rut yang non-Yahudi (ay.5); istri Uria (ay.6), dan Maria (ay.16).—Arthur Jackson

Di manakah anugerah Allah dapat kamu temukan di tempat-tempat yang tidak terduga dalam hidupmu? Saat menyimak kisah besar Allah, bagaimana kamu dimampukan untuk menemukan anugerah pada bagian kamu dalam kisah tersebut?

Ya Allah, ke mana pun kami memandang, tolong kami melihat jejak anugerah-Mu.

Saturday, May 16, 2020

Ceritakan kepada Saya

Tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka.—Markus 4:34

Ceritakan kepada Saya

Konon, pada suatu ketika. Keempat kata itu bisa jadi merupakan awalan kalimat paling berpengaruh di dunia. Sejumlah kenangan masa kanak-kanak saya yang paling kuat mengandung frasa tersebut dalam berbagai variasinya. Suatu hari, ibu saya pulang ke rumah membawa sejilid buku besar bersampul tebal berisi cerita-cerita Alkitab bergambar—judulnya Cerita Alkitab Gembalaku yang Baik. Setiap malam sebelum lampu dimatikan, saya dan kakak laki-laki saya duduk dengan tekun mendengarkan ibu kami membacakan sebuah cerita dari masa lampau tentang orang-orang yang menarik dan Allah yang mengasihi mereka. Cerita-cerita tersebut menjadi seperti jendela bagi kami untuk melihat dunia yang besar dan ajaib di luar sana.

Siapakah pencerita terbesar sepanjang zaman? Yesus dari Nazaret. Dia tahu bahwa semua manusia gemar dan mudah terpikat oleh cerita, maka cerita menjadi media yang terus-menerus Dia gunakan untuk menyampaikan kabar baik yang dibawa-Nya: Pada suatu ketika ada orang yang “menaburkan benih di tanah” (Mrk. 4:26). Pada suatu ketika ada “biji sesawi” (ay.31), dan seterusnya. Injil Markus dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus menggunakan cerita dalam interaksi-Nya dengan kebanyakan orang (ay.34) sebagai cara untuk menolong mereka melihat dunia dengan lebih jelas dan memahami Allah yang mengasihi mereka dengan lebih menyeluruh.

Ada baiknya kita mengingat hal tersebut saat kita rindu membagikan kabar baik tentang belas kasihan dan kasih karunia Allah kepada orang lain. Menggunakan cerita akan memperkecil peluang kita untuk ditolak.—John Blase

WAWASAN
Kata parable (perumpamaan) berasal dari kata-kata Yunani para dan bolĂ©, yang berarti “menyandingkan.” Perumpamaan adalah ilustrasi yang diambil dari hal-hal yang umum, atau situasi hidup sehari-hari, yang membandingkan kebenaran yang sudah diketahui dengan kebenaran yang belum diketahui. Ada lebih dari empat puluh perumpamaan dalam keempat kitab Injil. Yesus sering menggunakan metafora penabur dan benih untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Dalam Markus 4, Yesus mengajarkan tiga perumpamaan—perumpamaan sang penabur (ay.3-20), benih yang tumbuh (ay.26-29), dan biji sesawi (ay.30-33). Benih tersebut adalah firman Allah (ay.14; Luk. 8:11). Ketika ditanam di “tanah yang baik,” atau hati yang mau menerima (Mrk. 4:20; Mat. 13:23), benih yang membawa kehidupan tersebut tumbuh dengan baik dan membuahkan hasil tanpa usaha manusia (Mrk. 4:28-29). Inilah pekerjaan Allah yang tidak kelihatan—karya anugerah-Nya. Hanya Allah yang membuat benih tersebut tumbuh (1Kor. 3:6-7).—K. T. Sim

Bagaimana kamu dapat menyisipkan cerita atau perumpamaan ke dalam percakapanmu minggu ini? Mungkin seperti, “Pada suatu ketika, doaku dijawab Allah secara mengejutkan . . .”

Tuhan Yesus, Engkaulah Penasihat yang Ajaib dan Allah yang Mahakuasa. Berikanlah kami kreativitas untuk dapat membagikan kasih-Mu kepada siapa saja yang masih mau mendengar cerita kami.

Friday, May 15, 2020

Selaras Dengan Roh

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. —Galatia 5:25

Selaras Dengan Roh

Sambil mendengarkan teknisi piano menyelaraskan nada pada sebuah grand piano, saya teringat ketika piano tersebut pernah memainkan lagu-lagu megah seperti “Warsaw Concerto” dan melodi indah dari pujian “Sungguh Besar Kau Allahku.” Namun, sekarang alat musik itu benar-benar butuh disetem. Meski beberapa not yang masih tepat nadanya, ada not-not lain yang nadanya terlalu tinggi atau terlalu rendah, sehingga menghasilkan bunyi yang tidak enak didengar. Tugas teknisi piano bukanlah membuat semua tuts mengeluarkan bunyi yang sama, melainkan memastikan agar masing-masing not dengan bunyinya yang unik dapat menghasilkan perpaduan musik yang harmonis dan enak didengar ketika digabungkan dengan not-not lain.

Di dalam gereja pun kita bisa menemukan nada-nada yang tidak harmonis. Orang-orang yang memiliki ambisi atau talenta tertentu bisa saja menghasilkan ketidakcocokan ketika mereka digabungkan. Dalam Galatia 5, Paulus memohon orang-orang percaya untuk membuang “perselisihan, iri hati, amarah, dan kepentingan diri sendiri” yang akan menghancurkan persekutuan mereka dengan Allah atau hubungan mereka dengan orang lain. Kemudian, Paulus juga mendorong kita agar memiliki buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (ay.20,22-23).

Ketika kita hidup oleh Roh, kita akan merasa lebih mudah menghindari konflik tentang hal-hal yang tidak esensial. Kita dapat memiliki kesamaan tujuan yang lebih besar daripada perbedaan yang ada. Kemudian, dengan pertolongan Allah, setiap dari kita dapat bertumbuh dalam kasih dan kesatuan sambil menjaga hati kita agar tetap selaras dengan hati-Nya.—Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Surat Paulus kepada jemaat di Galatia adalah salah satu suratnya yang paling tegas. Mengapa? Walau pernah menerima Injil Yesus Kristus, orang-orang Galatia kini terbujuk untuk meninggalkan rahmat Allah oleh orang-orang yang mencoba memaksakan hukum agama Yahudi kepada mereka yang baru percaya kepada Tuhan Yesus. Kekhawatiran Paulus yang utama diekspresikan dalam pasal pembuka surat tersebut ketika ia menulis, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal. 1:6-7). Surat kepada jemaat Galatia, yang terkadang disebut sebagai “surat kemarahan” Paulus, sebenarnya merupakan ungkapan kekhawatirannya yang besar terhadap keadaan rohani saudara-saudari seimannya di sana. —Bill Crowder

Apa saja sikap saya yang ternyata menimbulkan ketidakharmonisan di dalam komunitas orang percaya? Sebaliknya, bagaimana cara saya menjaga keharmonisan?

Allah yang penuh kasih karunia, ajarlah aku untuk “menyelaraskan diri” dengan pimpinan Roh dan hidup rukun dengan sesamaku.

Thursday, May 14, 2020

Dalam Perbaikan

Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. —Ibrani 10:14

Dalam Perbaikan

Bukankah jalan ini baru selesai diaspal? pikir saya di tengah lalu lintas yang melambat. Kenapa sekarang dibongkar lagi? Lalu, dalam hati saya bertanya-tanya, Mengapa perbaikan jalan rasanya tidak selesai-selesai? Sepertinya saya belum pernah melihat papan pengumuman yang bertuliskan, “Perbaikan jalan sudah selesai. Selamat menikmati jalan yang mulus ini.”

Namun, jika dipikir-dipikir, hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan rohani saya. Di awal perjalanan iman saya, terbayang bahwa suatu saat nanti saya akan mencapai kedewasaan dan saya akan memahami segala sesuatu, suatu “jalan yang mulus” dalam diri saya. Tiga puluh tahun kemudian, harus saya akui bahwa saya masih “dalam perbaikan.” Seperti jalan berlubang yang sering saya lewati, sepertinya saya juga tidak pernah “selesai”. Terkadang kenyataan itu juga membuat saya frustrasi.

Akan tetapi, Ibrani 10 mengandung janji yang luar biasa. Ayat 14 mengatakan, “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Karya Yesus di kayu salib telah menyelamatkan kita. Sepenuhnya. Dengan sempurna. Di mata Allah, kita sudah utuh dan selesai. Namun, secara paradoks, proses itu masih belum sepenuhnya selesai selama kita masih hidup di bumi. Kita masih terus dibentuk hingga semakin serupa dengan-Nya, dengan kata lain, kita masih Dia “kuduskan.”

Kelak, kita akan bertatap muka langsung dengan Dia, dan kita akan menjadi sama seperti Dia (1 Yoh. 3:2). Namun, hingga saat itu tiba, kita masih “dalam perbaikan,” sambil menanti-nantikan hari yang mulia itu, ketika pekerjaan-Nya dalam diri kita sungguh-sungguh selesai.—Adam Holz

WAWASAN
Karena aniaya yang hebat, orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus merasa terdesak untuk meninggalkan iman mereka dan kembali kepada Yudaisme (Ibr. 10:32-36). Sang penulis kitab yang tidak menyebutkan namanya mendorong mereka untuk bertahan, dengan menegaskan keunggulan dan kecukupan mutlak dari Yesus sebagai Juruselamat. Dia lebih tinggi daripada para malaikat (ps.1–2), Musa (ps.3–4), dan keimaman Harun (ps.5–7). Pasal 8–10 menggambarkan Kristus sebagai Imam Besar yang sempurna. Latar belakangnya adalah korban penebusan dosa tahunan yang dipersembahkan oleh imam besar pada Hari Raya Pendamaian (Im. 16). Sang penulis membandingkan perjanjian lama yang dimulai oleh Musa, yang memerlukan korban binatang (Ibr. 9:1-23) dengan perjanjian baru yang dimulai oleh Yesus (ay.15; 9:24–10:18). Sebagai Imam Besar yang sempurna, Yesus mempersembahkan korban yang sempurna untuk penebusan dosa, yakni diri-Nya sendiri (9:12-14; 10:11-12). “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (10:14). —K. T. Sim

Pernahkah kamu frustrasi karena pertumbuhan rohanimu terasa lebih lambat daripada yang kamu harapkan? Bagaimana bagian dari kitab Ibrani hari ini mendorongmu untuk memikirkan pertumbuhan rohanimu dengan lebih serius?

Allah yang setia, adakalanya aku merasa frustrasi melihat pertumbuhan rohaniku yang lambat. Tolonglah aku mengingat bahwa Engkau masih terus bekerja dalam hidupku, membentuk dan menolongku agar semakin hari semakin menyerupai Engkau.

Wednesday, May 13, 2020

Mencuri Kemuliaan Yesus

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30

Mencuri Kemuliaan Yesus

Ketika pendeta saya mengajukan pertanyaan yang sulit tentang kehidupan Yesus kepada kelas kami, saya langsung mengangkat tangan. Saya baru saja membaca kisah hidup-Nya, jadi saya tahu jawabannya. Selain itu, saya juga ingin rekan-rekan di kelas saya tahu bahwa saya tahu. Lagipula, saya seorang pengajar Alkitab. Betapa memalukannya kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu di hadapan mereka! Akan tetapi, saya merasa malu karena perasaan saya yang takut malu. Seketika juga saya menurunkan tangan saya. Apakah saya begitu tidak percaya diri?

Yohanes Pembaptis mengajarkan sikap yang lebih baik. Ketika murid-muridnya mengeluh bahwa orang-orang mulai meninggalkannya untuk mengikut Yesus, Yohanes berkata bahwa ia justru senang mendengar hal itu. Ia tahu dirinya hanyalah pembawa pesan. “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. . . . Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (3:28-30). Yohanes sadar bahwa tujuan utama keberadaan dirinya adalah Yesus. Yesus adalah “yang datang dari atas” dan “di atas semuanya” (ay.31)—Anak Allah yang menyerahkan hidup-Nya bagi kita. Dialah yang patut menerima segala hormat dan kemuliaan.

Perhatian apa pun yang ditujukan kepada diri kita akan mengalihkan perhatian yang seharusnya tertuju kepada Allah kita. Karena Dialah satu-satunya Juruselamat kita dan satu-satunya harapan bagi dunia, kemuliaan yang kita curi dari-Nya justru akan merugikan diri kita sendiri.

Kiranya kita mau menjadi semakin kecil dan tidak mencuri kemuliaan Yesus. Itulah yang layak dan terbaik bagi-Nya, bagi dunia, dan bagi kita. —Mike Wittmer

WAWASAN
Dalam Yohanes 1, Yohanes Pembaptis mengumumkan bahwa dirinya bukan Mesias, melainkan seorang Pribadi yang lain—bahkan menekankannya dengan mengatakan bahwa ia tidak layak untuk membuka tali kasut Yesus! (ay.27). Lalu, sehari setelah membaptis Yesus, Yohanes mengarahkan dua orang muridnya kepada Yesus, Anak domba Allah. Keduanya (Andreas dan, rupanya, Yohanes yang dikasihi Yesus) dengan segera meninggalkan Yohanes dan mengikut Yesus. Contoh-contoh yang sangat jelas mengenai ketundukan Yohanes kepada Yesus memperlihatkan komitmennya bahwa “[Yesus] harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (3:30). —Bill Crowder

Kapan kamu tergoda mencuri kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan Yesus? Bagaimana kamu bisa mengembalikan perhatian seseorang kepada Dia yang layak menerimanya?

Bapa Surgawi, tolonglah kami agar mengerti bahwa sepatutnya kami mengarahkan perhatian orang-orang kepada Anak-Mu, sehingga Dialah yang semakin nyata terlihat oleh mereka. Tolonglah kami memahami bahwa kami harus makin kecil dan Dia harus makin besar.

Tuesday, May 12, 2020

Dengan Tangan Terbuka

Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan. . . . teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya. —2 Samuel 22:7

Dengan Tangan Terbuka

Saydee dan keluarganya memiliki filosofi “tangan terbuka dan rumah terbuka.” Rumah mereka selalu terbuka bagi siapa saja, “terutama mereka yang sedang susah,” katanya. Begitu pula prinsip kehidupan keluarga Saydee yang bertumbuh bersama sembilan saudara kandungnya di Liberia. Orangtua mereka selalu membuka pintu rumah mereka bagi orang lain. Ia berkata, “Kami bertumbuh sebagai satu komunitas. Kami saling menyayangi. Semua orang bertanggung jawab atas sesamanya. Ayah kami mengajari kami untuk saling menyayangi, saling memperhatikan, dan saling melindungi.”

Ketika Raja Daud sedang membutuhkan pertolongan, ia mendapatkan perhatian dan kasih seperti itu dari Allah. 2 Samuel 22 (dan Mazmur 18) mencatat nyanyian pujian Daud kepada Allah atas segala perlindungan-Nya sepanjang hidup. Ia mengenang, “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya” (2 Sam. 22:7). Berulang kali Allah membebaskan Daud dari musuh-musuhnya, termasuk dari Raja Saul. Ia memuji Allah karena Dia telah menjadi kubu pertahanan dan penyelamat yang melindunginya (ay.2-3).

Walaupun kesusahan kita mungkin lebih kecil bila dibandingkan dengan pengalaman Daud, Allah selalu menerima kita datang kepada-Nya untuk menemukan tempat perlindungan yang kita dambakan. Tangan-Nya selalu terbuka bagi kita. Karena itulah, kita mau “menyanyikan mazmur bagi nama-Nya” (ay.50).—Anne Cetas

WAWASAN
2 Samuel 22 hampir identik dengan Mazmur 18. Mazmur ini merayakan pembebasan dan kemenangan Daud dalam perang, mengembalikan segala kemuliaan kepada Allah, dan mungkin juga telah digunakan secara umum untuk merayakan kemenangan perang lainnya. Mazmur 18 adalah salah satu dari sekumpulan mazmur yang seringkali disebut sebagai “mazmur kerajaan” (yang lainnya termasuk Mazmur 2; 20; 21; 45; 72; 89; 101; 110; 132), yang masing-masing menggambarkan adanya hubungan antara kekuasaan seorang raja dunia dengan kekuasaan Allah atas alam semesta. —Monica La Rose

Kapan Allah pernah menjadi tempat perlindunganmu? Bagaimana kamu dapat menolong orang lain untuk juga mencari perlindungan di dalam Dia?

Ya Allah, aku bersyukur karena Engkau telah dan akan selalu menjadi tempat perlindunganku yang aman.

Monday, May 11, 2020

Meneladani Anak-anak

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian. —Matius 21:16

Meneladani Anak-anak

Ketika saya dan seorang teman berkunjung ke salah satu pemukiman kumuh di Nairobi, Kenya, hati kami terenyuh melihat kemiskinan yang terpampang di depan mata. Meski demikian, di sana kami juga merasakan emosi yang berbeda—perasaan yang menyegarkan—ketika kami menyaksikan anak-anak kecil berlari dan berteriak-teriak, “Mchungaji, Mchungaji!” (bahasa Swahili untuk kata “pendeta”). Begitulah reaksi penuh sukacita anak-anak itu begitu melihat pemimpin rohani mereka di dalam kendaraan yang membawa kami. Dengan teriakan kegirangan, anak-anak kecil itu menyambut kedatangan seorang pendeta yang sangat memperhatikan dan mempedulikan mereka.

Ketika Yesus tiba di Yerusalem dengan menunggang keledai, ada sejumlah anak di antara orang-orang yang bersukacita menyambut-Nya. “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan . . . Hosana bagi Anak Daud!” (Mat. 21:9,15). Namun, bukan pujian bagi Yesus saja yang terdengar saat itu. Bisa dibayangkan kehebohan yang timbul ketika para pedagang yang sibuk berdagang diusir oleh Yesus dari Bait Allah (ay.12-13). Lebih dari itu, para pemimpin agama yang menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus merasa “sangat jengkel” (ay.14-15). Mereka mengungkapkan kekesalan hati mereka atas pujian anak-anak yang ditujukan bagi Yesus (ay.16), suatu tindakan yang justru menunjukkan kedegilan hati mereka sendiri.

Kita dapat meneladani iman anak-anak Allah dari segala zaman dan tempat yang mengakui Yesus sebagai Juruselamat dunia. Hanya Dia yang mendengar pujian dan seruan kita, dan Dia mempedulikan serta menyelamatkan kita ketika kita datang kepada-Nya dengan iman layaknya seorang anak kecil.—Arthur Jackson

WAWASAN
Dalam sebuah peristiwa yang penuh dengan kegembiraan, Yesus mengendarai seekor keledai muda masuk ke Yerusalem tepat sebelum perayaan Paskah (Mat. 21:5-7; Mrk. 11:1-7; Luk. 19:30-36). Peristiwa ini menggenapi nubuat yang dituliskan dalam Zakharia 9:9: “Rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Pada zaman kuno, ketika seorang raja datang mengendarai seekor keledai, itu berarti ia datang dalam damai (dan bukan dalam perang). Sebagai respons, orang-orang bersukacita dan berseru, “Hosana” (Mat. 21:9), yang berarti “Allah membebaskan.” Sang Raja yang membebaskan datang kepada umat-Nya dalam damai. —J. R. Hudberg

Sejauh mana pandanganmu tentang Yesus telah berubah atau berkembang? Apa saja yang menghalangimu dalam melihat Dia sebagai Anak Allah yang datang menyelamatkanmu?

Tuhan Yesus, tolonglah aku melihat-Mu seutuhnya—sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Sunday, May 10, 2020

Kasih Abadi

Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih. —1 Yohanes 4:16

Kasih Abadi

Bertahun-tahun lalu, putra saya yang masih berusia empat tahun menghadiahi saya sebuah pajangan berbentuk hati dari kayu yang dibingkai dan diletakkan di atas plat besi dengan tulisan selamanya tercantum di tengah-tengah.“Aku sayang Mama, selamanya,” katanya.

Saya mengucapkan terima kasih dengan memeluknya. “Mama juga sayang kamu.”

Sampai sekarang, hadiah tak ternilai itu masih mengingatkan saya akan cinta kasih anak saya yang tak berkesudahan. Pada masa-masa yang sukar, Allah memakai hadiah yang manis itu untuk menghibur dan menyemangati saya sekaligus menegaskan kembali bahwa saya sangat dikasihi.

Bingkai itu juga mengingatkan saya pada karunia kasih Allah yang abadi, seperti yang telah dinyatakan dalam seluruh firman-Nya dan dikonfirmasi oleh Roh-Nya. Kita dapat mempercayai kebaikan Allah yang tidak berubah dan menyanyikan pujian syukur yang mengukuhkan kasih-Nya yang abadi, seperti yang dilakukan pemazmur (Mzm. 136:1). Kita dapat mengagungkan Tuhan sebagai yang terbesar dari segalanya (ay.2-3) sembari merenungkan keajaiban-Nya yang tak berkesudahan dan pengertian-Nya yang tak terbatas (ay.4-5). Allah yang mengasihi kita selamanya adalah Pencipta langit dan bumi yang mempedulikan dan memperhatikan kita, yang berkuasa mengendalikan masa dan waktu (ay.6-9).

Kita dapat bersukacita karena kasih abadi yang dinyanyikan oleh pemazmur juga merupakan kasih yang dicurahkan oleh Pencipta dan Pemelihara kita yang Mahakuasa ke dalam hidup anak-anak-Nya sekarang. Apa pun pergumulan yang kita hadapi, Dia yang telah membentuk kita akan tetap menyertai dan menguatkan kita. Dia menegaskan bahwa Dia mengasihi kita tanpa syarat dan sepenuhnya. Terima kasih, ya Allah, karena Engkau terus mengingatkan kami akan kasih-Mu yang abadi dan yang mengubahkan hidup kami! —Xochitl Dixon

WAWASAN
Mazmur 136 disusun di sekitar pengulangan, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya,” yang diucapkan di setiap baris kedua. Klausa ini sering digunakan dalam liturgi ibadah bangsa Israel (lihat 1 Taw. 16:34; 2 Taw. 5:13; 7:3; 20:21; Ezr. 3:11, Mzm. 100:5; 106:1; 107:1). Kata yang diterjemahkan oleh LAI sebagai “kasih setia” berasal dari kata Ibrani hesed, sebuah istilah teologis yang menjadi inti mazmur ini dan juga Perjanjian Lama. Hesed menggambarkan kasih yang dapat diandalkan dan setia. Hesed adalah kasih terhadap orang lain yang tidak hanya diperlihatkan dalam emosi atau kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan, melalui pekerjaan yang dilakukan demi kebaikan sang terkasih. Mazmur 136, dengan menggemakan penggambaran ciptaan dalam Kejadian 1:5-9, menggambarkan hesed sebagai sifat khusus Allah. Untuk selama-lamanya, Allah bekerja tidak hanya demi kebaikan umat-Nya, tetapi juga seluruh ciptaan-Nya. —Monica La Rose

Bagaimana Allah telah meyakinkanmu akan kasih-Nya? Bagaimana cara-Nya meneguhkan imanmu?

Ya Allah, tolonglah kami untuk mengasihi Engkau dan sesamaku, karena kami semakin diyakinkan bahwa Engkau tak pernah berhenti mengasihi kami.

Saturday, May 9, 2020

Keraguan dan Iman

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! —Ayub 1:21

Keraguan dan Iman

Ming Teck bangun dengan sakit kepala yang parah dan mengira migrainnya kambuh. Namun, ketika turun dari ranjang, ia langsung jatuh ke lantai. Ia pun dilarikan ke rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa ia terkena serangan otak. Setelah empat bulan menjalani masa rehabilitasi, kemampuan berpikir dan berbicaranya mulai pulih, tetapi jalannya masih tertatih-tatih. Ming sering bergumul dengan perasaan putus asa, tetapi ia merasa sangat terhibur membaca kitab Ayub.

Ayub kehilangan seluruh harta benda dan anak-anaknya hanya dalam waktu satu hari. Ketika mendapat berita yang menyedihkan itu, hal pertama yang ia lakukan adalah memandang kepada Allah dalam pengharapan dan memuji Dia sebagai sumber atas segala sesuatu. Ia mengakui kedaulatan tangan Allah bahkan dalam kemalangan (Ayb. 1:21). Kita mengagumi imannya yang kuat, tetapi sesungguhnya Ayub juga bergumul dengan perasaan putus asa. Setelah kemudian kehilangan kesehatannya (2:7), Ayub mengutuki hari kelahirannya (3:1). Ia bersikap jujur di hadapan sahabat-sahabatnya dan juga kepada Allah mengenai penderitaannya. Namun, pada akhirnya, ia dapat menerima bahwa hal baik maupun buruk memang datang dari tangan Allah (13:15; 19:25-27)

Dalam penderitaan, kita juga bisa merasa terombang-ambing antara perasaan putus asa dan pengharapan, keraguan dan iman. Dalam menghadapi masa-masa sukar, kita tidak dituntut Allah untuk bersikap tangguh dan gagah, tetapi kita diundang untuk datang kepada-Nya dengan membawa segala pertanyaan kita. Walaupun terkadang iman kita bisa menjadi lemah, kita dapat mempercayai bahwa Allah akan selalu setia. —Poh Fang Chia

WAWASAN
Kisah Ayub, bahkan dengan kehilangan dan penderitaan yang begitu ekstrem, adalah penyajian yang jujur dari kehidupan dalam sebuah dunia yang rusak. Kita menghadapi perlawanan dari sisi rohani (Iblis) maupun manusia (istri dan teman-teman Ayub). Kita mengalami masa-masa kemakmuran (Ayb. 1:1-3) dan waktu-waktu kehilangan yang berkepanjangan (ps.1–2). Hati kita pedih karena kehilangan orang-orang yang kita kasihi (1:18-19) dan kesehatan kita dicobai (2:7). Pencobaan yang dialami Ayub sangat lengkap hingga menyentuh hampir setiap aspek dari penderitaan manusia, dan respons Ayub juga merupakan respons yang sangat manusiawi. Terkadang, Ayub mengekspresikan iman dan kepercayaan yang luar biasa kepada Allah (1:20-22), dan di waktu lain ia mempertanyakan sikap Penciptanya yang seakan tidak peduli pada kesusahannya (30:20-24). Pengalaman rohani dan emosional yang jatuh-bangun ini mengingatkan kita akan realitas hidup kita di dunia—realitas tempat Allah memanggil kita untuk mempercayai Dia (ps.38–41), sekalipun kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diri kita. —Bill Crowder

Keraguan dan pertanyaan apa saja yang perlu kamu bawa ke hadapan Allah hari ini? Bagaimana kamu dapat menggunakan Ayub 1:21 sebagai tuntunanmu dalam berdoa kepada Allah?

Bapa yang baik, ketika keraguan dan rasa takut menguasaiku, tolonglah aku untuk mengingat bahwa aku berharga di mata-Mu. Engkau selalu memegang kendali dan Engkau mempedulikanku.

Friday, May 8, 2020

Pria yang Tidak Bisa Bicara

Besarlah Tuhan, dan sangat terpuji. —Mazmur 96:4 BIS

Pria yang Tidak Bisa Bicara

Di sebuah panti wreda di Belize, seorang pria duduk di atas kursi rodanya mendengarkan dengan gembira sekelompok remaja asal Amerika Serikat bernyanyi tentang Yesus. Kemudian, ketika beberapa dari mereka berusaha berkomunikasi dengannya, mereka baru tahu bahwa pria itu tidak bisa bicara. Serangan otak telah merenggut kemampuannya berbicara.

Karena tidak bisa mengobrol dengan pria itu, para remaja tersebut memutuskan bernyanyi untuknya. Ketika mereka mulai bernyanyi, sesuatu yang luar biasa terjadi. Pria yang sebelumnya tidak bisa bicara itu mulai ikut bernyanyi. Dengan antusias dan bersemangat ia mengikuti mereka menyanyikan lagu “Sungguh Besar Kau Allahku”.

Sungguh momen yang luar biasa bagi semua orang di sana. Kasih pria itu kepada Allah telah meruntuhkan segala hambatan dan menghasilkan pujian yang terdengar oleh semua—pujian sukacita yang dinyanyikan dengan sepenuh hati.

Adakalanya kita menemui berbagai hambatan ketika kita mau memuji Tuhan. Mungkin kita sedang didera konflik dengan orang lain atau mengalami masalah keuangan. Atau mungkin karena hubungan kita dengan Allah sedang renggang.

Pria yang tidak bisa bicara tadi mengingatkan kita bahwa kebesaran dan keagungan Allah kita yang Mahakuasa sanggup mengatasi segala hambatan. “Ya Tuhanku, tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar!”

Apakah kamu sedang sulit memuji Allah? Renungkanlah kebesaran Allah kita dengan membaca bagian Kitab Suci seperti Mazmur 96, dan kiranya kamu pun mengalami bagaimana berbagai hambatan dan keenggananmu tergantikan dengan pujian. —Dave Branon

WAWASAN
Allah memilih Abraham sebagai bapa dari umat pilihan-Nya. Namun, Allah tidak pernah memaksudkan keselamatan menjadi bagian eksklusif bangsa Israel saja. Dari awal hingga akhir mazmur pujian yang agung ini, kita dapat melihat rahmat Allah yang merangkul semua orang yang akan percaya pada-Nya. Mazmur 96 dimulai dengan “Menyanyilah bagi Tuhan, hai segenap bumi” (ay.1). Ayat 3 memerintahkan umat Allah untuk menceritakan “kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa.” Ayat 7 memanggil “suku-suku bangsa” untuk memuji Allah. Mazmur ini diakhiri dengan, “Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya” (ay.13). Rencana Allah atas umat pilihan-Nya adalah agar mereka membawa Kabar Baik tentang kasih-Nya kepada seluruh umat manusia. —Tim Gustafson

Ketika kamu membaca Mazmur 96, apa yang menarik perhatianmu tentang Allah kita yang Mahabesar? Apa saja yang terkadang menghambatmu untuk memuji-Nya? Bagaimana kamu bisa bertumbuh untuk semakin bersemangat memuji Allah?

Allah kami yang Mahabesar, aku sangat mengagumi kebesaran-Mu. Sungguh besar Kau Allahku!

Thursday, May 7, 2020

Perantara Dalam Doa

Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah. —Roma 8:27 BIS

Perantara Dalam Doa

Pada suatu Sabtu sore, kami sekeluarga mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Saat pramusaji meletakkan wadah berisi hamburger dan kentang goreng renyah di atas meja, suami saya mendongak dan menanyakan namanya. Suami saya berkata, “Kami sekeluarga terbiasa berdoa sebelum makan. Adakah yang bisa kami doakan untukmu hari ini?” Pramusaji bernama Allen itu pun melihat kami dengan pandangan terkejut bercampur waswas. Ia terdiam sejenak sebelum memberi tahu kami bahwa setiap malam ia menumpang tidur di sofa dalam rumah temannya, mobilnya baru saja mogok, dan ia sendiri tidak punya uang.

Ketika suami saya dengan suara pelan berdoa agar Allah menunjukkan kasih-Nya dan memelihara Allen, saya teringat bahwa peran kami sebagai perantara dalam doa tersebut mirip dengan karya Roh Kudus yang menyampaikan permohonan kita dan menghubungkan kita dengan Allah. Di saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan—ketika menyadari bahwa kita tidak mampu menangani berbagai masalah hidup dengan kekuatan kita sendiri, ketika kita tidak tahu harus menyampaikan apa kepada Allah, “Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah” (Rm. 8:27 BIS). Kita tidak tahu apa yang disampaikan oleh Roh Kudus, tetapi kita dapat meyakini bahwa itu pasti selalu sesuai dengan kehendak Allah bagi hidup kita.

Ketika kamu nanti berdoa untuk memohon bimbingan, berkat, dan perlindungan Allah atas seseorang, biarlah perbuatan baik itu mengingatkanmu bahwa kebutuhan rohanimu juga sedang dibawa ke hadapan Allah yang mengenal dan mempedulikan hidupmu.—Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Terminologi yang digunakan Paulus dalam Roma 8:31-35 adalah istilah-istilah legal yang digunakan di pengadilan. Kata-kata seperti menggugat, membenarkan, dan menghukum sangat tepat dipakai oleh Paulus dalam mendiskusikan tentang legalitas, dengan memberikan gambaran pengadilan surgawi kepada para pembaca. Ditambah lagi, Paulus menjelaskan bahwa tidak ada lagi yang menghukum orang-orang yang percaya kepada Kristus (mendasarinya di atas pernyataannya di ayat 1) karena Yesus mati untuk mereka dan sekarang menjadi Pembela mereka (ay.34). Kata Pembela menggambarkan seseorang yang mendekati seorang penguasa dalam sebuah pengadilan sebagai wakil dari seseorang dan mengajukan petisi demi mereka. Sangat menarik bahwa baik Kristus maupun Roh Kudus sama-sama melakukan hal ini demi kita (ay.26-29,34). Tuhan Yesus, satu-satunya yang dapat menghukum orang percaya, justru mati dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah sebagai wakil kita. —Julie Schwab

Adakah seseorang yang dapat kamu doakan hari ini? Bagaimana kamu dapat menanggapi pencobaan yang menggodamu jika kamu menyadari bahwa Roh Kudus sedang mendoakanmu di tengah pergumulan tersebut?

Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu karena pencobaan yang kuhadapi tidak sanggup memisahkanku dari-Mu. Berikanlah kepadaku kemenangan pada hari ini lewat kuasa kebangkitan-Mu.

Wednesday, May 6, 2020

Pengampunan yang Mustahil

Ya Bapa, ampunilah mereka. —Lukas 23:34

Pengampunan yang Mustahil

Pasukan yang berhasil membebaskan para tawanan di kamp konsentrasi Ravensbruck tempat hampir 50.000 wanita dibinasakan oleh Nazi menemukan secarik kertas lusuh bertuliskan doa ini: Ya Tuhan, janganlah hanya mengingat orang-orang baik, tetapi ingat jugalah mereka yang jahat. Namun, janganlah mengingat penderitaan yang mereka perbuat terhadap kami. Ingatlah buah-buah yang kami hasilkan berkat penderitaan ini—persahabatan, kesetiaan, kerendahan hati, keberanian, kemurahan hati, kebesaran hati kami yang tumbuh dari peristiwa ini. Ketika kelak mereka menghadap-Mu untuk dihakimi, biarlah semua buah yang telah kami hasilkan membawa pengampunan bagi mereka.

Saya tak dapat membayangkan ketakutan dan penderitaan berat yang dialami oleh wanita yang menuliskan doa ini. Betapa luar biasanya anugerah yang ia miliki sehingga dapat menuliskan kata-kata ini. Ia melakukan sesuatu yang tidak masuk akal: meminta pengampunan Allah bagi orang-orang yang menindasnya.

Doa itu menggemakan doa Kristus sendiri. Setelah difitnah, dihina, dipukuli, dan dipermalukan di depan banyak orang, Yesus disalibkan “dan juga kedua orang penjahat itu” (Luk. 23:33). Melihat Yesus tergantung di kayu salib yang kasar, dalam keadaan babak belur dan napas tersengal-sengal, siapa pun bakal mengira Dia pasti mengutuk para penyiksa-Nya, membalas dendam, atau menuntut balasan dari surga. Namun, Yesus justru mengucapkan doa yang berlawanan dengan dorongan hati manusia pada umumnya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (ay.34).

Pengampunan yang diberikan Yesus terasa mustahil, tetapi itulah yang juga ditawarkan-Nya kepada kita. Oleh kasih karunia-Nya yang ajaib, pengampunan tersebut tersedia cuma-cuma dengan limpah bagi semua orang.—Winn Collier

WAWASAN
Penyaliban digambarkan dalam sebuah nubuat yang diucapkan sekitar 600 tahun sebelum hukuman itu diciptakan: “Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku” (Mzm. 22:18-19). Di abad pertama, pakaian sehari-hari seorang pria Yahudi terdiri atas lima potong pakaian—sepatu, serban, ikat pinggang, cawat, dan jubah luar. Para prajurit menelanjangi Yesus, dan setelah menyalibkan Dia, mereka membagi-bagi pakaian-Nya sebagai rampasan untuk pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Lalu mereka membuang undi untuk mendapatkan jubah-Nya (Yoh. 19:2-24). —Bill Crowder

Bagaimana pengampunan Allah yang terasa mustahil itu telah mengubahkan hidupmu? Bagaimana kita dapat menolong orang lain mengalami pengampunan sejati dari-Nya?

Ya Allah, pengampunan-Mu begitu tidak lazim dan terasa mustahil. Sungguh kami tidak dapat membayangkannya di saat kami menderita. Karena itu, tolonglah kami dan ajarilah kami kasih-Mu.

Tuesday, May 5, 2020

Kekuatan dalam Perjalanan

Tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” —1 Raja-raja 19:5
Kekuatan dalam Perjalanan
Pada suatu musim panas, saya menghadapi tugas yang tampaknya mustahil diselesaikan. Saya diminta untuk menulis tentang topik yang besar dengan tenggat yang pendek. Setelah beberapa hari berkutat sendirian, berusaha keras menuangkan buah pikiran saya ke atas kertas, saya merasa begitu lelah dan ciut sehingga rasanya ingin berhenti saja. Seorang teman yang bijaksana bertanya kepada saya, “Kapan terakhir kalinya kau merasa disegarkan? Mungkin sekali-sekali kau perlu beristirahat dan menikmati makanan yang enak.”
Benar juga, pikir saya. Nasihatnya membuat saya teringat kepada Elia dan pesan mengerikan yang ia terima dari Izebel (1 Raj. 19:2)—meskipun, tentu saja, beban tugas saya sangat jauh jika dibandingkan pengalaman dahsyat sang nabi. Setelah Elia menang atas nabi-nabi palsu di Gunung Karmel, Izebel mengirim pesan bahwa ia akan menangkap dan membunuh Elia, dan itu membuat Elia merasa putus asa dan ingin mati saja. Namun, ia kemudian dapat tidur nyenyak dan dua kali dikunjungi malaikat yang membawakan makanan untuknya. Setelah Allah memperbarui kekuatan fisiknya, ia pun mampu melanjutkan perjalanan.
Saat perjalanan kita terasa “terlalu jauh” (ay.7), mungkin kita perlu beristirahat dan menikmati makanan yang sehat serta mengenyangkan. Ketika lapar atau lelah, kita bisa dengan mudah tenggelam dalam kekecewaan atau ketakutan. Namun, ketika Allah memenuhi kebutuhan jasmani kita lewat pemeliharaan-Nya, sebanyak yang kita butuhkan di dalam dunia yang penuh pergumulan ini, kita dapat melanjutkan perjalanan untuk kembali melayani-Nya. —Amy Boucher Pye
WAWASAN
Setelah kembalinya Israel kepada Allah leluhur mereka secara dramatis di Gunung Karmel, ancaman Ratu Izebel terhadap hidup Nabi Elia (1 Raj. 19:1-2) mendesaknya pergi ke Gunung Horeb (ay.8), tempat ia bertemu dengan Allah. Horeb juga dikenal sebagai Gunung Sinai—tempat Musa bertemu Allah bertahun-tahun sebelumnya (Kel. 19 dst). Ini salah satu dari beberapa kaitan antara kedua pahlawan iman Perjanjian Lama itu, tetapi kaitan tersebut tidak terbatas hanya di dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, Elia dan Musa dipersatukan di sebuah gunung lain—Gunung Pemuliaan—tempat mereka berdiskusi dengan Yesus mengenai tujuan kepergian-Nya ke Yerusalem kelak (Luk. 9:28-31). —Bill Crowder
Allah Sang Pencipta, Engkau telah membentuk kami menjadi umat pilihan-Mu. Terima kasih untuk segala keterbatasan kami, yang mengingatkan kami bahwa Engkaulah Allah, bukan kami. Mampukan kami untuk melayani-Mu dengan penuh sukacita.
Bila melihat ke belakang, kapan kamu pernah berhenti sejenak untuk disegarkan sebelum melangkah kembali? Bagaimana kamu dapat mengenali tanda-tanda kelelahan yang kamu alami dalam pelayananmu?

Monday, May 4, 2020

Gerhana

Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; . . . Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala. —Amos 9:11
Gerhana
Saya sudah memakai pelindung mata, memilih posisi ideal, dan menyiapkan cemilan pai bulan buatan sendiri. Bersama jutaan warga Amerika Serikat lainnya, keluarga saya menyaksikan gerhana matahari total yang langka—peristiwa ketika bulan menutup permukaan matahari sepenuhnya.
Gerhana tersebut menimbulkan kegelapan yang tidak lazim di siang hari pada musim panas yang biasanya terang benderang. Bagi kita, gerhana adalah fenomena alam yang seru sekaligus pengingat akan kuasa Allah yang luar biasa atas ciptaan-Nya (Mzm. 135:6-7), tetapi di dalam sejarah, kegelapan di siang hari pernah dipandang sebagai peristiwa abnormal dan pertanda buruk (Kel. 10:21; Mat. 27:45) yang menyatakan adanya sesuatu yang tidak beres.
Itulah arti kegelapan bagi Amos, seorang nabi pada masa Israel kuno terbagi menjadi dua kerajaan. Amos memperingatkan Kerajaan Utara bahwa kehancuran akan menimpa mereka apabila mereka terus menjauh dari Allah. Salah satu tandanya, Allah akan membuat “matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah” (Am. 8:9).
Akan tetapi, Allah selalu rindu dan mempunyai maksud—baik dahulu maupun sekarang—untuk menjadikan segala sesuatu baik kembali. Sekalipun umat-Nya dibawa ke pengasingan, Allah berjanji bahwa suatu hari Dia akan membawa sekumpulan orang yang tersisa untuk kembali ke Yerusalem dan “menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya” (9:11).
Sekalipun kamu merasa sedang berada dalam kekelaman, seperti bangsa Israel, kita dapat menemukan kelegaan saat menyadari bahwa Allah terus bekerja untuk mendatangkan kembali terang dan pengharapan bagi semua orang (Kis. 15:14-18). —Lisa M. Samra
WAWASAN
Amos bernubuat pada zaman Raja Uzia memerintah Yehuda dan Yerobeam II memerintah Israel (sekitar 760–750 SM). Namun, Amos tidak menyebut dirinya seorang nabi, melainkan sebagai “salah seorang peternak domba dari Tekoa” (Am. 1:1). Tekoa berjarak sekitar delapan kilometer di selatan Betlehem, Yehuda. Ketika diperintahkan oleh Amazia, seorang imam di Betel, untuk berhenti bernubuat, ia menjawab, “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.” Allah memanggil Amos untuk meninggalkan segalanya untuk memperingatkan umat dan para pemimpin Israel mengenai penghakiman Allah yang sudah dekat (7:14-17). Meskipun rakyat makmur, mereka tidak adil, tidak bermoral, dan menindas orang miskin (2:6-8; 3:10; 5:11); dan para hakim tidak jujur (5:12). Penghakiman sudah dekat (8:11-12), tetapi sebagian akan dipelihara (9:11-12). —Alyson Kieda
Kapan kamu pernah sengaja memilih untuk mengabaikan dan menolak Allah? Bagaimana cara Allah memberikan pertolongan dan mendatangkan terang ke dalam kekelaman hidupmu?
Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau bersinar lebih terang daripada matahari dan mengenyahkan kegelapan, seperti yang kami baca dalam Wahyu 21:23.

Sunday, May 3, 2020

Allah yang Melihat

Kamu akan mengalami, bahwa dosamu itu akan menimpa kamu. —Bilangan 32:23
Allah yang Melihat
“Oh, tidak!” Terdengar teriakan istri saya saat ia memasuki dapur. Di saat yang sama, Max, anjing Labrador kami yang berbobot empat puluh kilogram, melesat keluar ruangan.
Hilang sudah kaki domba yang tadinya diletakkan dekat ujung meja. Max sudah memakan habis kaki domba tersebut sehingga yang tersisa wadah kosongnya saja. Ia berusaha bersembunyi di bawah tempat tidur. Namun, hanya kepala dan bahunya yang bisa masuk. Pantat dan ekornya yang mencuat keluar membuatnya langsung ketahuan waktu saya mencarinya.
“Oh, Max,” gumam saya. “Kamu tidak bisa lari dari kesalahanmu.” Musa juga pernah menyatakan hal serupa ketika ia menasihati dua suku Israel agar patuh kepada Allah dan menepati janji mereka. Ia berkata kepada mereka: “Tetapi jika kamu tidak berbuat demikian, sesungguhnya kamu berdosa kepada Tuhan, dan kamu akan mengalami, bahwa dosamu itu akan menimpa kamu” (Bil. 32:23).
Dosa bisa saja terasa enak untuk sesaat, tetapi pada akhirnya itu akan membawa penderitaan luar biasa, karena dosa memisahkan kita dari Allah. Musa mengingatkan bangsanya bahwa tidak ada satu hal pun yang terlewatkan oleh Allah. Alkitab mencatat, “Segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr. 4:13).
Walau melihat segalanya, Allah kita yang kudus masih menarik kita dengan kasih-Nya agar kita mau mengakui dosa kita, bertobat (berpaling darinya), dan berjalan dalam kebenaran bersama-Nya (1 Yoh. 1:9). Kiranya hari ini kita rela mengikut Dia karena kita mengasihi-Nya. —James Banks
WAWASAN
Kedua kata berdosa dan dosa dalam Bilangan 32:23 berasal dari akar kata Ibrani yang sama, yaitu chata’. Arti dari kata tersebut antara lain adalah “salah jalan”, “luput”, atau “meleset”. Meskipun banyak sekali digunakan dalam Perjanjian Lama, kata ini adalah salah satu dari beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan dosa dan kejahatan. Pertama kalinya kata dosa muncul di dalam Alkitab (Kej. 4:7) merupakan terjemahan dari kata Ibrani ini: “Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.” —Arthur Jackson
Allah melihat segala sesuatu yang kita lakukan tetapi masih mengasihi kita. Bagaimana kebenaran ini dapat mendorongmu untuk berpaling dari dosa? Cara-cara praktis apa yang dapat kamu lakukan untuk merespons kasih-Nya hari ini?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau “telah melihat aku” (Kej. 16:13). Aku memuji-Mu, karena sekalipun Engkau melihat yang baik dan buruk, Engkau mengutus Anak-Mu untuk menyelamatkanku. Mampukan aku berjalan dalam ketaatan dan kasih kepada-Mu.

Saturday, May 2, 2020

Komunitas yang Mengingat

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu.” —Lukas 22:19
Komunitas yang Mengingat
Dalam buku Restless Faith, teolog Richard Mouw membahas pentingnya mengambil dan mengingat hikmah dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Ia mengutip perkataan sosiolog Robert Bellah, “Bangsa yang sehat harus menjadi ‘komunitas yang mengingat.’” Bellah menerapkan prinsip yang sama pada ikatan sosial lain seperti keluarga. Mengingat merupakan bagian penting dalam hidup bersama.
Kitab Suci juga mengajarkan nilai penting dari mengingat sejarah bersama. Bangsa Israel diperintahkan merayakan Paskah untuk mengingat kembali perbuatan Allah yang menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir (lihat Kel. 12:1-30). Sampai hari ini, pada setiap musim semi orang Yahudi di seluruh dunia tetap mengenang peristiwa yang sangat bersejarah tersebut.
Paskah juga memiliki makna penting bagi para pengikut Kristus, karena Paskah selalu merujuk kepada karya penebusan Sang Mesias di atas kayu salib. Di momen Paskah itulah, pada malam sebelum penyaliban, Yesus menetapkan cara bagi kita untuk mengingat diri-Nya. Lukas 22:19 menulis, ”Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: ‘Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’”
Setiap kali kita berkumpul di meja perjamuan Tuhan untuk mengadakan Perjamuan Kudus, kita mengingat bahwa Kristus telah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa dan menyediakan hidup kekal bagi kita. Kiranya kasih Yesus yang menyelamatkan itu terus mengingatkan kita bahwa salib-Nya sangat berharga untuk dikenang—bersama-sama. —Bill Crowder
WAWASAN
Perayaan Perjamuan Kudus kita laksanakan untuk memperingati acara makan Paskah terakhir yang diadakan Yesus dan murid-murid-Nya sebelum Dia disalibkan. Pada acara makan ini, Dia menetapkan dan menjelaskan perjanjian baru yang dibuat-Nya dengan para pengikut-Nya. Roti melambangkan tubuh-Nya, dan anggur melambangkan darah-Nya. Dalam Lukas 22:15, Yesus berkata, “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.” Kata Yunani untuk frasa ini adalah epithumia, dan terkadang diterjemahkan sebagai “keinginan” atau “hawa nafsu” (lihat Yak. 1:14-15; 2 Ptr. 1:4; 2:10; 1 Yoh. 2:16-17). Kata keinginan seringkali digunakan secara negatif, tetapi dalam kasus ini, keinginan tersebut adalah kerinduan Yesus yang teramat besar untuk acara makan ini dan hasilnya: penetapan perjanjian baru yang akan mendefinisikan hubungan antara Allah dan manusia. —J. R. Hudberg
Mengapa sangat penting bagi kita untuk menerima Perjamuan Kudus bersama dengan saudara-saudari seiman dalam Tuhan? Bagaimana sesuatu yang dilakukan bersama-sama dapat mengingatkanmu pada kasih dan pengorbanan Kristus?
Bapa, terima kasih untuk Anak-Mu yang Engkau karuniakan bagi kami. Terima kasih juga karena Dia memberi kami cara untuk mengingat pengorbanan-Nya setiap kali kami mengadakan Perjamuan Kudus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate