Pages - Menu

Friday, March 31, 2017

Undangan Paling Istimewa

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! —Yesaya 55:1
Undangan Paling Istimewa
Sepanjang Minggu yang baru lalu, saya menerima beberapa undangan lewat pos. Semua undangan untuk menghadiri seminar “gratis” tentang masa pensiun, perumahan, dan asuransi jiwa, langsung saya buang. Namun, undangan untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan dalam rangka menghormati seorang teman lama membuat saya langsung membalas, “Ya! Aku akan hadir.” Saya akan menjawab “Ya” pada undangan yang sesuai dengan kerinduan saya.
Yesaya 55:1 adalah salah satu undangan paling istimewa di Alkitab. Tuhan berfirman kepada umat-Nya yang sedang mengalami keadaan yang sulit, “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” Itulah penawaran luar biasa dari Allah yang mau memberikan santapan rohani, kepuasan jiwa, dan hidup yang kekal (ay.2-3).
Undangan Tuhan itu diulangi di pasal terakhir dari Alkitab: “Roh dan pengantin perempuan itu berkata: ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Why. 22:17).
Kita sering membayangkan hidup kekal itu baru dimulai ketika kita meninggal dunia. Sebenarnya, hidup kekal itu dimulai ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita.
Undangan Allah untuk memperoleh hidup kekal di dalam Dia merupakan undangan paling istimewa! Saya akan menjawab “Ya” pada undangan yang sesuai dengan kerinduan saya. —David McCasland
Tuhan Yesus, terima kasih atas janji-Mu untuk memberikan belas kasihan, pengampunan, dan hidup kekal kepadaku. Aku mengakui semua kegagalanku dan mau menerima Yesus sebagai Juruselamatku hari ini.
Ketika kita menerima undangan Yesus untuk mengikut-Nya, seluruh hidup kita pun berubah haluan.

Thursday, March 30, 2017

Hidup dan Mati

Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu. —Kejadian 50:24
Hidup dan Mati
Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman itu. Saya sedang duduk di samping tempat tidur Richard pada saat ia meninggal dunia. Sungguh suatu pengalaman yang supernatural. Saya, adik Richard, dan seorang kawan sedang bercakap-cakap dengan suara yang lembut ketika kami menyadari bahwa napas Richard menjadi semakin berat. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil berjaga-jaga, menanti, dan berdoa. Ketika Richard menghembuskan napasnya yang terakhir, itu terasa seperti sebuah momen yang kudus; hadirat Allah melingkupi kami di tengah linangan air mata kami yang menangisi kepergian seorang pria berusia empat puluhan yang mengagumkan.
Banyak pahlawan iman yang kita baca di Alkitab mengalami kesetiaan Allah ketika mereka meninggal. Contohnya, Yakub menyatakan bahwa ia akan “dikumpulkan kepada kaum leluhur[nya]” (Kej. 49:29-33). Yusuf, anak Yakub, juga menyatakan tentang kematiannya yang sudah dekat, “Tidak lama lagi aku akan mati,” kepada saudara-saudaranya sambil memerintahkan mereka untuk tetap teguh dalam iman mereka. Yusuf terlihat yakin, tetapi ia tetap berharap saudara-saudaranya akan terus mempercayai Tuhan (50:24).
Tidak seorang pun dari kita tahu kapan atau bagaimana kita akan menghembuskan napas kita yang terakhir. Namun, kita dapat meminta Allah menolong kita untuk terus percaya bahwa Dia selalu menyertai kita. Kita dapat mempercayai Tuhan Yesus yang berjanji menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa-Nya (Yoh. 14:2-3). —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, tempat kediaman-Mu akan dipenuhi oleh umat-Mu, dan Engkau akan menjadi Allah kami, menghapus air mata kami, dan meniadakan maut. Genapkanlah semua itu!
Tuhan takkan pernah meninggalkan kita, terutama di saat kematian kita.

Wednesday, March 29, 2017

Diuji oleh Api

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. —Yakobus 1:12
Diuji oleh Api
Musim dingin yang lalu, ketika mengunjungi museum sejarah alam di Colorado, saya menemukan sejumlah fakta yang luar biasa tentang pohon aspen. Pepohonan aspen dengan batang-batang putihnya yang menjulang dapat tumbuh dari satu benih saja dengan jaringan akar yang sama. Jaringan akar itu sanggup bertahan ribuan tahun baik yang bertumbuh menjadi tunas pohon aspen atau tidak. Jaringan tersebut tidur di bawah tanah, sambil menantikan kebakaran, banjir, atau tanah longsor untuk membuka jalan bagi mereka di tengah hutan yang teduh. Setelah bencana alam mengosongkan lahannya, akar-akar aspen itu akhirnya dapat merasakan sinar matahari. Akar-akar itu memunculkan pohon muda, yang kemudian menjadi pohon-pohon aspen.
Bagi pohon aspen, pertumbuhan baru dimungkinkan karena adanya kehancuran yang ditimbulkan bencana alam. Yakobus menulis bahwa pertumbuhan iman kita juga dimungkinkan karena adanya berbagai kesulitan. Ia menulis, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:2-4).
Memang sulit untuk bersukacita di tengah pencobaan, tetapi kita dapat dikuatkan oleh kenyataan bahwa Allah akan memakai keadaan-keadaan sulit itu untuk menolong kita mencapai kedewasaan. Seperti pohon aspen, iman dapat bertumbuh di masa-masa pencobaan ketika kesulitan itu membuka jalan di dalam hati kita sehingga terang Allah dapat menjamah kita. —Amy Peterson
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menyertai kami dalam segala pencobaan yang kami hadapi dan menumbuhkan iman kami lewat semua itu.
Pencobaan dan ujian dapat mendekatkan kita kepada Kristus.

Tuesday, March 28, 2017

Menghasilkan Buah yang Baik

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. —Mazmur 1:3
Menghasilkan Buah yang Baik
Pemandangan yang terlihat dari jendela pesawat yang saya tumpangi sungguh mempesona: ladang gandum yang siap dituai dan kebun buah-buahan yang terbentang di antara dua gunung yang tandus. Di lembah itu terdapat sebuah sungai. Tanpa air sungai yang memberikan hidup itu, pohon-pohon di sekitarnya tidak akan dapat menghasilkan buah.
Sama seperti panen yang berlimpah tergantung pada ketersediaan sumber air bersih, kualitas “buah” dalam hidup saya— perkataan, perbuatan, dan perilaku saya— tergantung pada santapan rohani yang saya terima. Pemazmur menggambarkan hal itu dalam Mazmur 1: Orang “yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan . . . [itu] seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya” (ay.1-3). Rasul Paulus menulis dalam Galatia 5 bahwa mereka yang hidup sesuai dengan pimpinan Roh akan mempunyai ciri-ciri “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (ay.22-23).
Adakalanya pandangan saya terhadap keadaan yang saya alami menjadi suram, atau saya terus-menerus melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak benar. Hidup saya tidak menghasilkan buah yang baik dan saya menyadari bahwa saya tidak lagi bersaat teduh untuk merenungkan firman Allah. Namun, ketika hari-hari saya berakar pada ketergantungan saya kepada Allah, saya pun akan menghasilkan buah yang baik. Kesabaran dan kelemahlembutan mewarnai interaksi saya dengan sesama, dan saya lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.
Allah yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita adalah sumber kekuatan, hikmat, sukacita, pengertian, dan ketenteraman kita (Mzm. 119:28,98,111,144,165). Ketika jiwa kita diresapi oleh firman yang mengarahkan kita kepada-Nya, buah karya Roh Allah akan muncul menjadi nyata dalam hidup kita. —Peter Chin, penulis tamu
Roh Allah hidup di dalam umat-Nya agar Dia dapat berkarya melalui diri mereka.

Monday, March 27, 2017

Menampilkan Gambar Diri

Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau. —Yesaya 43:4
Menampilkan Gambar Diri
Untuk memperingati ulang tahun Winston Churchill ke-80, parlemen Inggris menugasi Graham Sutherland untuk melukis potret negarawan terkenal itu. Konon Churchill bertanya kepada sang seniman: “Bagaimana kamu akan melukis saya? Seperti malaikat atau buldog?” Churchill menyukai kedua persepsi populer tentang dirinya itu. Sutherland pun berkata bahwa ia akan melukis seperti yang dilihatnya.
Namun, Churchill tidak senang dengan hasilnya. Lukisan karya Sutherland tersebut memperlihatkan Churchill sedang duduk di sebuah kursi dengan ekspresi muram yang menjadi ciri khasnya. Gambaran itu memang mirip dengan kenyataannya, tetapi tidak memikat. Setelah peluncurannya, lukisan itu pun disembunyikan Churchill di gudang bawah tanah. Lukisan itu kemudian dimusnahkan secara diam-diam.
Seperti Churchill, banyak dari kita memiliki gambar diri yang juga kita inginkan agar dilihat orang lain—baik itu menggambarkan kesuksesan, kesalehan, kecantikan, atau kekuatan. Kita berupaya keras untuk menyembunyikan “sisi buruk” kita. Mungkin di lubuk hati kita yang terdalam, kita takut orang tidak akan mengasihi kita jika mereka mengenali gambar diri kita yang sesungguhnya.
Bangsa Israel yang ditawan oleh kerajaan Babel berada dalam keadaan mereka yang terburuk. Karena dosa-dosa mereka, Allah memperkenankan para musuh untuk mengalahkan mereka. Namun, Dia meminta mereka untuk tidak takut. Dia mengenal nama mereka dan telah menyertai mereka dalam setiap kesulitan yang mereka alami (Yes. 43:1-2). Mereka aman di dalam tangan-Nya (ay.13) dan “berharga” di mata-Nya (ay.4). Meskipun mereka buruk, Allah tetap mengasihi mereka.
Apabila kebenaran yang luar biasa itu kita hayati sungguh-sungguh, kita tidak akan menggebu-gebu mencari pengakuan dan penerimaan dari orang lain. Allah mengetahui gambar diri kita yang sesungguhnya dan Dia masih mengasihi kita tanpa batas (Ef. 3:18). —Sheridan Voysey
Karena Allah begitu mengasihi kita, kita mampu menampilkan gambar diri kita yang sesungguhnya di hadapan orang lain.

Sunday, March 26, 2017

Bertolak Belakang

Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? —Roma 14:4
Bertolak Belakang
Seorang guru tamu dari Amerika Utara mendapat pelajaran berharga saat mengajar para mahasiswa dari Asia Tenggara. Setelah memberikan ujian yang berisi soal-soal pilihan ganda kepada mahasiswanya, ia merasa heran melihat banyaknya pertanyaan yang tidak dijawab. Saat mengembalikan lembar-lembar jawaban yang telah dikoreksi, ia menyarankan agar lain kali sebaiknya mereka menebak saja apa yang kira-kira menjadi jawabannya, daripada tidak menjawab sama sekali. Seorang mahasiswa yang terkejut mengangkat tangan dan bertanya, “Bagaimana jika saya secara kebetulan memberikan jawaban yang benar? Itu berarti saya memberikan kesan bahwa saya tahu jawabannya, padahal sebenarnya tidak.” Mahasiswa dan guru itu mempunyai sudut pandang dan penerapan yang berbeda.
Di masa Perjanjian Baru, para petobat dari latar belakang Yahudi dan bukan Yahudi mengenal Kristus dengan membawa sudut pandang masing-masing yang sangat bertolak belakang. Karena itulah mereka kemudian berbeda pendapat tentang hal-hal tertentu, seperti hari-hari ibadah dan apa saja yang boleh atau tidak boleh dimakan atau diminum oleh seorang pengikut Kristus. Rasul Paulus mendorong mereka untuk mengingat satu fakta yang penting: Tidak seorang pun dapat mengetahui atau menghakimi keyakinan hati orang lain.
Untuk menjaga keharmonisan dengan saudara-saudari seiman, Allah mendorong kita untuk menyadari bahwa kita semua bertanggung jawab kepada Tuhan, dan harus bertindak sesuai dengan firman-Nya dan hati nurani kita. Namun demikian, hanya Dia yang berhak menghakimi sikap hati kita (Rm. 14:4-7). —Mart DeHaan
Bapa di surga, ampunilah kami karena kami cenderung menghakimi keyakinan hati orang lain yang berbeda sudut pandang dengan kami.
Hendaklah kamu lebih dahulu mengintrospeksi diri sendiri sebelum menghakimi orang lain.

Saturday, March 25, 2017

Bukanlah Engkau

Lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya. —1 Tawarikh 17:23-24
Bukanlah Engkau
Daud telah menyusun semua rencana. Ia merancang perkakasnya. Ia mengumpulkan bahan-bahannya. Ia mengatur segala sesuatu (lihat 1Taw. 28:11-19). Namun, Bait Suci yang pertama kali dibangun di Yerusalem dikenal sebagai Bait Suci Salomo, dan bukan Bait Suci Daud.
Itu karena Allah telah berkata, “Bukanlah engkau” (1Taw. 17:4). Allah telah memilih anak Daud, Salomo, untuk membangun Bait Suci itu. Tanggapan Daud terhadap penolakan Allah patut dipuji. Daud berfokus pada apa yang akan dilakukan Allah dan bukan pada apa yang tidak dapat dilakukannya (ay.16-25). Ia tetap mengucap syukur. Ia tetap melakukan semua yang dapat dilakukannya dan mengerahkan orang-orang yang cakap untuk mendukung Salomo dalam pembangunan Bait Suci (lihat 1Taw. 22).
Penafsir Alkitab bernama J. G. McConville menulis: “Sering kali kita harus dapat menerima bahwa pekerjaan yang sangat ingin kita lakukan dalam pelayanan Kristen ternyata bukan yang paling bisa kita kerjakan, dan bukan juga yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan. Mungkin seperti Daud, kita hanya dipanggil untuk melakukan persiapan untuk sesuatu yang jelas jauh lebih agung.”
Daud merindukan kemuliaan Allah, bukan kemuliaan dirinya. Ia setia melakukan apa saja yang dapat dilakukannya bagi pembangunan Bait Allah, dengan memberikan fondasi yang kuat bagi penerusnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Kiranya kita juga menerima tugas-tugas yang telah ditetapkan Allah untuk kita lakukan dan melayani-Nya dengan hati yang penuh syukur! Allah kita yang penuh kasih sedang melakukan sesuatu yang “jelas jauh lebih agung”. —Poh Fang Chia
Bapa, kami rindu harapan, impian, dan hati kami selaras dengan kehendak-Mu. Ajar kami memuji-Mu di saat kami tergoda untuk meragukan kebaikan-Mu.
Allah dapat merahasiakan maksud dari perbuatan-Nya, tetapi setiap perbuatan-Nya pasti selalu mempunyai maksud.

Friday, March 24, 2017

Keagungan Wajah-Nya

Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! —1 Tawarikh 16:11
Keagungan Wajah-Nya
Putra saya yang berusia empat tahun suka sekali bertanya dan tidak henti-hentinya berbicara. Saya senang mengobrol dengannya, tetapi ia memiliki kebiasaan jelek yaitu berbicara sembari memunggungi saya. Saya sering berkata kepadanya, “Mama tak bisa mendengarmu—tolong lihat Mama saat kamu bicara.”
Adakalanya saya berpikir Allah juga menghendaki hal yang sama dari kita—bukan karena Dia tidak dapat mendengar kita, tetapi karena kita cenderung berbicara kepada-Nya tanpa sungguh-sungguh “memandang” Dia. Kita memang berdoa, tetapi pikiran kita begitu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan kita sendiri dan fokus kita hanya terarah kepada diri sendiri sehingga kita melupakan sifat-sifat dari Pribadi yang mendengarkan doa kita. Seperti putra saya, kita bisa saja terus berbicara tanpa menaruh perhatian kepada Pribadi yang kita ajak bicara.
Banyak dari kekhawatiran kita dapat diatasi dengan mengingatkan diri sendiri tentang siapa diri Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya. Hanya dengan kembali memperhatikan siapa Allah, kita akan menerima penghiburan dalam sifat-sifat-Nya yang kita kenal—Dia penuh kasih, suka mengampuni, berdaulat, dan lemah lembut.
Pemazmur percaya bahwa kita harus selalu mencari wajah-Nya (Mzm. 105:4). Ketika Daud menunjuk para pemimpin ibadah dan doa, ia mendorong bangsanya untuk memuji sifat-sifat Allah dan menceritakan kisah tentang semua kesetiaan-Nya di masa lalu (1Taw. 16:8-27).
Pada saat kita memandang keagungan wajah Allah, kita akan menerima kekuatan dan penghiburan dari-Nya yang sanggup menopang kita, sekalipun ada pertanyaan-pertanyaan kita yang belum dijawab oleh-Nya. —Amy Peterson
Tuhan, kiranya terang wajah-Mu selalu menyinari kami.
Mencari wajah Allah dapat menguatkan iman kita.

Thursday, March 23, 2017

Menerima Penghiburan

Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu. —Yesaya 66:13
Menerima Penghiburan
Seorang teman meminta saya untuk menggendong bayi perempuannya yang baru berumur empat hari. Belum lama saya menggendongnya, bayi itu mulai rewel. Saya mencoba untuk memeluknya lebih erat hingga pipi saya menyentuh kepalanya, sambil saya bergoyang-goyang dan bersenandung lembut untuk menenangkannya. Meskipun telah melakukan segala usaha itu, dan berpengalaman selama 15 tahun sebagai orangtua, saya tidak dapat menenangkan bayi itu. Si kecil bertambah rewel sampai saya menempatkannya kembali di lengan ibunya. Sepertinya rasa tenang segera dirasakan bayi itu; tangisnya mereda dan tubuhnya yang masih lentur itu merasa nyaman di dalam gendongan yang sudah akrab baginya. Teman saya tahu persis cara yang terbaik untuk menggendong dan menepuk-nepuk anaknya supaya ketidaknyamanan yang dirasakan bayinya itu mereda.
Allah juga melimpahkan penghiburan kepada anak-anak-Nya, bagaikan seorang ibu yang lembut, dapat dipercaya, dan tekun dalam upayanya menenangkan anaknya. Ketika kita merasa lelah atau kecewa, Dia akan menggendong dan menghibur kita dengan penuh kasih. Sebagai Bapa dan Pencipta kita, Allah sangat mengenal kita. Dia “memberi damai dan sejahtera kepada orang yang teguh hatinya, sebab ia percaya kepada-[Nya]” (Yes. 26:3 BIS).
Ketika masalah-masalah di dunia ini membebani hati kita, kita dapat menemukan penghiburan dengan meyakini bahwa Allah melindungi dan membela kita, anak-anak-Nya, seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya. —Kirsten Holmberg
Tuhan, tolong aku untuk mencari penghiburan di dalam-Mu pada saat aku mengalami kesusahan.
Penghiburan dari Tuhan sanggup menenangkan kita sepenuhnya.

Wednesday, March 22, 2017

Bagaimana Kamu akan Dikenang?

[Musa] menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. —Ibrani 11:26
Bagaimana Kamu akan Dikenang?
Sebuah tugu peringatan berdiri di lokasi bekas penjara tahanan Jepang di Tiongkok, tempat seorang tokoh meninggal dunia pada tahun 1945. Pada tugu itu tertulis demikian, “Eric Liddell lahir di Tianjin dari orangtua asal Skotlandia pada tahun 1902. Kariernya mencapai puncak dengan keberhasilannya meraih medali emas dalam perlombaan lari 400 meter di Olimpiade tahun 1924. Ia kembali ke Tiongkok untuk bekerja sebagai guru di Tianjin. . . . Seluruh hidupnya dicurahkan untuk mendorong kaum muda agar mau memberikan kontribusi mereka yang terbaik demi kemajuan umat manusia.”
Di mata banyak orang, keberhasilan terbesar Eric adalah dalam bidang olahraga. Namun, ia juga dikenang untuk kontribusinya dalam hidup banyak kaum muda di Tianjin, Tiongkok, negara kelahiran yang sangat dicintainya. Ia hidup dan melayani dengan penuh iman.
Apa yang akan dikenang dari diri kita? Prestasi pendidikan, jabatan dalam pekerjaan, atau kesuksesan finansial, mungkin membuat kita diingat oleh orang lain. Namun, yang akan dikenang lama setelah kita tiada adalah karya diam-diam yang kita tanamkan dalam hidup orang lain.
Dalam Ibrani 11, pasal Alkitab yang menyoroti tentang iman, Musa dikenang sebagai seseorang yang memilih untuk menyatukan dirinya dengan umat Allah daripada menikmati kemewahan Mesir (ay.26). Ia memimpin dan melayani umat Allah dengan penuh iman. —C. P. Hia
Mintalah kepada Allah untuk menunjukkan kepadamu bagaimana kamu dapat membawa pengaruh yang baik dalam hidup orang lain. Dalam hal apakah kamu ingin dikenang?
Kesetiaan kepada Tuhan adalah kesuksesan yang sejati.

Tuesday, March 21, 2017

Hujan yang Menyegarkan

[Tuhan] akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. —Hosea 6:3
Hujan yang Menyegarkan
Untuk melepas lelah, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah. Selagi saya menyusuri jalan setapak, sesuatu yang berwarna hijau menarik perhatian saya. Dari dalam lumpur, tersembul tunas-tunas hijau yang dalam beberapa Minggu ke depan akan tumbuh menjadi bunga bakung yang indah. Mekarnya bunga-bunga itu menjadi tanda bahwa musim dingin telah berhasil dilalui dan musim semi yang hangat sudah tiba!
Membaca kitab Hosea kadang terasa seperti menjalani musim dingin yang tak berujung. Tuhan memberikan tugas yang tidak mudah kepada Nabi Hosea untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia sebagai gambaran kasih sang Pencipta kepada umat-Nya Israel (1:2-3). Gomer, sang istri, berkali-kali mengingkari janji pernikahan mereka, tetapi Hosea mau menerima Gomer kembali dengan harapan bahwa ia akan mencintai Hosea dengan sungguh-sungguh (3:1-3). Demikian juga Tuhan merindukan kita untuk mengasihi-Nya dengan kekuatan dan komitmen yang tidak akan menguap dengan mudahnya seperti embun di pagi hari.
Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Apakah kita datang kepada-Nya hanya pada saat kita membutuhkan jalan keluar dari kesulitan kita, tetapi kemudian mengabaikan Allah di saat kita sedang bersukacita? Apakah kita seperti orang Israel, begitu mudah tergoda oleh berhala-berhala di zaman kita sekarang, seperti kesibukan, kesuksesan, dan kekuasaan?
Hari ini, kiranya kita kembali memperbarui komitmen kita kepada Tuhan yang mengasihi kita. Kasih-Nya sepasti tumbuhnya kuncup-kuncup bunga di musim semi. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus, Engkau menyerahkan diri-Mu demi memerdekakan kami. Tolonglah kami untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati.
Meskipun kita tidak setia kepada Allah, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Monday, March 20, 2017

Berlari dan Beristirahat

Lalu [Yesus] berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” —Markus 6:31
Berlari dan Beristirahat
Tajuk berita utama di sebuah surat kabar menarik perhatian saya: “Istirahat itu Penting bagi Pelari”. Dalam artikel yang ditulis oleh Tommy Manning, seorang mantan anggota tim lari gunung Amerika Serikat, disebutkan bahwa ada satu prinsip yang kadang diabaikan oleh para atlet, yakni tubuh kita memerlukan waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga setelah menjalani latihan. “Secara psikologis, proses adaptasi yang terjadi sebagai hasil dari pelatihan itu hanya dapat terjadi selama masa istirahat,” tulis Manning. “Itu berarti beristirahat sama pentingnya dengan berlatih.”
Hal yang sama juga berlaku bagi perjalanan iman dan pelayanan kita. Waktu istirahat yang teratur sangat penting untuk menghindari habisnya tenaga dan hilangnya semangat. Yesus juga memerlukan keseimbangan rohani selama hidup-Nya di bumi, bahkan saat menghadapi tuntutan-tuntutan yang amat berat. Saat murid-murid-Nya kembali dari pelayanan mereka yang padat untuk mengajar dan menyembuhkan orang, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk. 6:31). Namun, orang banyak masih mengikuti mereka sehingga Yesus mengajar mereka dan menyediakan makanan bagi mereka hanya dari lima roti dan dua ikan (ay.32-44). Ketika semua orang telah pergi, Yesus pun “pergi ke bukit untuk berdoa” (ay.46).
Jika hidup kita hanya diisi dengan pekerjaan, apa yang kita kerjakan semakin lama semakin tidak efektif. Yesus mengundang kita untuk secara teratur bersekutu dengan-Nya di suatu tempat yang sunyi untuk berdoa dan beristirahat. —David McCasland
Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan-Mu berdoa seorang diri kepada Bapa-Mu. Berilah kami hikmat dan juga tekad untuk memprioritaskan waktu istirahat dalam perjalanan kami mengikut-Mu.
Dalam kehidupan iman dan pelayanan kita, istirahat sama pentingnya dengan bekerja.

Sunday, March 19, 2017

Sepercik Api

Meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil! —Yakobus 3:5 BIS
Sepercik Api
Pada suatu Minggu malam di bulan September, ketika sebagian besar orang sedang tidur, sepercik api tersulut di toko roti milik Thomas Farriner di Pudding Lane. Api dengan cepat merambat dari satu rumah ke rumah lain, dan London pun dilanda kebakaran besar pada tahun 1666. Lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang memusnahkan 80 persen wilayah kota itu. Begitu dahsyat kehancuran yang berasal dari sepercik api!
Alkitab memperingatkan kita tentang api lain yang kecil tetapi juga bisa menghancurkan. Yang disorot oleh Yakobus adalah kehidupan dan hubungan seseorang dengan sesama, bukan bangunan. Ia menulis, “Begitu juga dengan lidah kita; meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil!” (Yak. 3:5 BIS).
Namun demikian, kata-kata kita juga dapat membangun sesama. Amsal 16:24 mengingatkan kita, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” Rasul Paulus berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol. 4:6). Sebagaimana garam membuat makanan kita mempunyai rasa, kasih membuat perkataan kita berguna untuk membangun iman sesama.
Dengan pertolongan Roh Kudus, perkataan kita dapat menguatkan orang yang sedang terluka, orang yang rindu bertumbuh dalam iman, atau orang yang membutuhkan Juruselamat. Perkataan kita dapat memadamkan api dan bukan menyulutnya. —Bill Crowder
Tuhan, aku selalu membutuhkan pertolongan-Mu dalam ucapanku. Hari ini, tolonglah aku agar mengucapkan kata-kata yang membawa pengharapan dan penguatan untuk membangun iman sesamaku.
Akan seperti apakah perkataan kita hari ini?

Saturday, March 18, 2017

Ada Masalah

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. —Mazmur 34:19
Ada Masalah
Pagi hari setelah kelahiran anak kami, Allen, dokter duduk di sebelah tempat tidur saya dan berkata, “Kami menemukan masalah.” Anak kami yang terlihat sempurna secara fisik ternyata memiliki cacat bawaan yang mengancam jiwanya dan perlu diterbangkan ke sebuah rumah sakit yang jauhnya lebih dari 1.000 km untuk segera dioperasi.
Setelah mendengar dokter itu mengatakan bahwa kondisi anak saya bermasalah, hidup saya berubah saat itu juga. Perasaan khawatir akan apa yang akan terjadi selanjutnya telah menghancurkan semangat saya. Dalam keterpurukan itu saya sangat mengharapkan Allah akan menguatkan saya agar saya juga dapat menolong anak saya. Saya pun bertanya-tanya, mungkinkah Allah yang penuh kasih mengizinkan ini terjadi? Pedulikah Dia kepada anakku? Apakah Dia ada? Segala pertanyaan tersebut dan pikiran-pikiran lainnya mengguncang iman saya pagi itu.
Lalu suami saya, Hiram, datang dan mendengar berita itu. Setelah dokter itu pergi, Hiram mengatakan, “Jolene, mari kita berdoa.” Saya setuju dan ia pun menggenggam tangan saya. Kami berdoa, “Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah memberikan Allen kepada kami. Allen adalah milik-Mu, Allah, dan bukan milik kami. Engkau mengasihinya sebelum kami mengenalnya, dan Allen adalah milik-Mu. Kiranya Engkau menyertainya saat kami tak mampu melakukannya. Amin.”
Hiram adalah seorang pria yang tidak banyak bicara. Tidak mudah baginya untuk mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata, dan ia sering merasa tidak perlu berbicara, karena ia tahu bahwa sayalah yang biasanya berbicara. Namun, pada hari ketika saya patah semangat, remuk redam, dan kehilangan iman, Allah memberi Hiram kekuatan untuk mengucapkan kata-kata yang tidak mampu saya ucapkan. Sembari menggenggam erat tangan suami saya, dalam keheningan yang mendalam dan derasnya air mata, saya merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat. —Jolene Philo, penulis tamu
Sahabat terbaik adalah sahabat yang tekun mendoakan kita.

Friday, March 17, 2017

Terlebih Dahulu Memilih

Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri. —Kejadian 13:9
Terlebih Dahulu Memilih
Dalam sejumlah budaya di dunia, ketika memasuki ruangan, orang yang lebih muda diharapkan mendahulukan orang yang lebih tua. Dalam budaya lain, orang yang paling penting atau berkedudukan paling tinggilah yang memasuki ruangan lebih dahulu. Apa pun tradisi kita, adakalanya kita merasa sulit membiarkan seseorang untuk terlebih dahulu memilih hal-hal yang penting, apalagi jika kita sebenarnya memiliki hak untuk melakukannya.
Abram dan keponakannya, Lot, memiliki begitu banyak harta, ternak, dan kemah sehingga tanah yang mereka tempati tidak dapat menampung keduanya dalam perjalanan mereka bersama. Untuk menghindari masalah, Abram mengusulkan agar mereka berpisah jalan dan dengan rela memberikan kesempatan kepada Lot untuk terlebih dahulu memilih tanah mana yang akan ditempatinya. Lot memilih lembah Yordan yang subur, dan Abram mendapatkan tanah yang kurang menjanjikan.
Di sini Abram tidak menuntut haknya sebagai orang yang lebih tua. Ia mempercayakan masa depannya kepada Allah. “Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau . . . Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri’” (Kej. 13:8-9). Pilihan Lot akhirnya membawa akibat yang memilukan bagi seisi keluarganya (lihat Kej. 19).
Di hadapan banyaknya pilihan yang terbentang bagi kita hari ini, kita dapat mempercayai Allah Bapa kita untuk membimbing kita di jalan-Nya. Dia telah berjanji untuk memelihara kita. Dia akan selalu memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. —David McCasland
Bapa, kasih setia-Mu membimbing kami dalam setiap pilihan yang kami buat. Kiranya hari ini hidup kami menyatakan kebenaran-Mu dan memuliakan-Mu.
Allah selalu memberikan yang terbaik kepada orang yang menyerahkan pilihan ke dalam tangan-Nya. —Jim Elliot

Thursday, March 16, 2017

Merembes Lewat Jemari Tangan

Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya . . . ? —Yesaya 40:12
Merembes Lewat Jemari Tangan
Setelah saya tidak sengaja menyenggol gelas pada konter di sebuah restoran, air minuman yang tumpah mulai mengalir ke tepi meja dan menetes ke lantai. Saya berusaha menampung tumpahan itu dengan menangkupkan kedua telapak tangan saya. Namun, usaha itu sia-sia karena sebagian besar minuman itu merembes melalui jemari tangan saya. Akhirnya kedua telapak tangan saya hanya dapat menampung air tidak lebih dari satu sendok makan, sementara kedua kaki saya sudah basah kuyup tergenang air.
Hidup saya sering mirip dengan peristiwa itu. Saya berjuang sekuat tenaga untuk memecahkan masalah, memperhatikan detail yang ada, dan mengendalikan situasi yang terjadi. Sekeras apa pun usaha saya, kedua tangan saya yang lemah tidak mampu menampung segalanya. Ada saja yang merembes melalui jemari tangan saya, menggenangi kaki saya di lantai, dan membuat saya kewalahan. Meski saya meliuk-liukkan telapak tangan atau merapatkan jemari, saya tetap tidak sanggup menangani segalanya.
Namun, Allah sanggup. Nabi Yesaya mengatakan bahwa Allah dapat menakar seluruh air laut yang ada di bumi ini—semua air lautan, sungai, dan hujan—dengan lekuk tangan-Nya (40:12). Hanya tangan Allah yang cukup besar untuk menampung semua itu. Kita tidak perlu bersusah payah menampung lebih dari seukuran kecil yang dimaksudkan Allah untuk kita tampung dengan tangan kita. Ketika merasa kewalahan, kita dapat menyerahkan segala kekhawatiran dan keprihatinan kita ke dalam tangan-Nya yang sanggup menampung semua itu. —Kirsten Holmberg
Tuhan, tolong aku untuk tidak lagi berusaha menampung segala sesuatu dengan tanganku, melainkan agar aku mempercayakan setiap kebutuhan dan keprihatinanku ke dalam tangan pemeliharaan-Mu yang sempurna.
Kita dapat mempercayai Allah untuk menangani segala hal yang tidak sanggup kita tangani.

Wednesday, March 15, 2017

Warisan yang Baik

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. —2 Timotius 1:5
Warisan yang Baik
Kakek dan nenek tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka selalu berhasil membuat setiap Natal terasa berkesan bagi saya dan sepupu-sepupu saya. Selalu ada banyak makanan, kegembiraan, dan kasih sayang. Selain itu sejak kecil kami belajar bahwa hanya Kristus yang membuat kami semua dapat merayakan Natal.
Kami juga ingin mewariskan hal yang sama kepada anak-anak kami. Saat berkumpul bersama keluarga pada Natal yang lalu, kami menyadari bahwa tradisi yang indah itu dirintis oleh kakek dan nenek kami. Mereka berdua memang tidak meninggalkan warisan berupa uang, tetapi mereka dengan sungguh-sungguh menanamkan benih-benih kasih, rasa hormat, dan iman sehingga kami, cucu-cucu mereka dapat meniru teladan mereka.
Dalam Alkitab, kita membaca tentang Nenek Lois dan Ibu Eunike yang meneruskan iman yang tulus ikhlas kepada Timotius (2Tim. 1:5). Pengaruh mereka telah menyiapkan Timotius untuk mewartakan Kabar Baik kepada banyak orang.
Kita dapat menyiapkan warisan iman bagi orang-orang yang hidupnya kita pengaruhi dengan cara menjalani hidup dalam persekutuan yang erat dengan Allah. Secara praktis, kita mewujudnyatakan kasih-Nya kepada orang lain ketika kita memberikan perhatian sepenuhnya kepada mereka, menunjukkan minat pada pemikiran dan tindakan mereka, dan berbagi hidup dengan mereka. Kita bahkan dapat mengajak mereka untuk bersukacita bersama kita! Ketika hidup kita mencerminkan kasih Allah yang nyata, kita akan meneruskan warisan iman yang kekal dalam diri orang lain. —Keila Ochoa
Bapa, kiranya aku meneruskan warisan iman yang baik bagi keluargaku ketika Engkau memakai diriku untuk menunjukkan kasih-Mu yang kekal.
Jika seseorang telah meneruskan warisan iman kepadamu, teruskanlah warisan yang sama kepada orang lain.

Tuesday, March 14, 2017

Tangan Terbuka

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. —Mazmur 139:23
Tangan Terbuka
Pada hari saya dan Dan, suami saya, mulai merawat kedua orang tua kami yang sudah lanjut usia, kami sama-sama merasa seolah sedang terjun bebas ke dalam jurang. Kami tidak menyangka bahwa hal tersulit yang akan kami hadapi dalam proses merawat lansia adalah ketika membuka hati kami agar diselidiki dan dibentuk oleh Allah. Bukan itu saja, kami juga harus memberikan tempat bagi Allah untuk memakai masa-masa yang khusus itu untuk menjadikan kami semakin serupa dengan-Nya dengan cara-cara yang baru.
Di saat saya merasa semakin terpuruk dan tak berdaya, Allah membukakan kepada saya semua rencana, keraguan, ketakutan, kesombongan, dan keegoisan saya. Dia menggunakan bagian-bagian hidup saya yang hancur itu untuk menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya kepada saya.
Pendeta saya pernah berkata, “Saat yang terbaik adalah ketika kamu melihat dirimu yang sesungguhnya—yakni pribadi yang tak berdaya di luar Kristus. Kemudian kamu melihat dirimu sebagaimana Kristus memandangmu—pribadi yang utuh di dalam Dia.” Itulah berkat yang saya terima dari proses perawatan yang saya berikan. Ketika melihat diri saya yang telah diproses oleh Allah, saya berpaling untuk berlari kepada-Nya dan menangis dalam pelukan-Nya. Saya pun berseru bersama pemazmur: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku” (Mzm. 139:23).
Saya berdoa untukmu, agar ketika kamu melihat dirimu di tengah situasi-situasi yang melingkupi kamu saat ini, kamu pun akan berpaling dan berlari kepada Allah yang menerimamu seutuhnya dengan penuh kasih dan pengampunan. —Shelly Beach, penulis tamu
Bapa yang murah hati, hari ini aku menyadari betapa aku membutuhkan kasih, hikmat, dan anugerah-Mu. Selidikilah dan kenallah diriku. Curahkanlah ke dalam hidupku anugerah dan rahmat-Mu yang memulihkan hatiku.
Saat khawatir menerpa, kekuatan kita pun sirna. Namun, kekuatan itu diperoleh kembali saat kita berlari kepada Allah.

Monday, March 13, 2017

Wawancara yang Mengejutkan

Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40
Wawancara yang Mengejutkan
Suatu pagi, dalam kereta komuter yang padat di London, seorang penumpang mendorong dan memaki penumpang lain yang dianggap menghalangi jalannya. Biasanya peristiwa seperti itu hanyalah momen sepele yang berlalu begitu saja. Namun, ternyata ada hal tak terduga yang terjadi setelah itu. Seorang manajer dari sebuah perusahaan mengirim pesan kilat kepada teman-teman di sosial medianya, “Coba tebak, siapa yang baru saja datang untuk mengikuti wawancara kerja.” Pada saat tulisannya itu tersebar melalui dunia maya, orang-orang yang membacanya pun tersenyum kecut. Bayangkan jika kamu diundang untuk wawancara kerja, lalu menemukan ternyata yang mewawancarai kamu adalah orang yang tadi pagi telah kamu dorong dan maki.
Saulus juga tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang tidak terduga olehnya. Dalam perjalanannya hendak menangkap orang-orang yang mengikuti Jalan Tuhan (Kis. 9:1-2), Saulus dihadang oleh cahaya yang memancar dari langit. Lalu suatu suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (ay.4). Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Lalu kata Tuhan, “Akulah Yesus, yang kauaniaya itu” (26:15).
Beberapa tahun sebelumnya, Yesus pernah berkata bahwa cara kita memperlakukan orang yang lapar, orang yang haus, orang asing, dan orang yang dipenjara menggambarkan hubungan kita dengan-Nya (Mat. 25:35-36). Siapa yang pernah berpikir bahwa ketika seseorang mencela kita, atau ketika kita menolong atau sebaliknya menyakiti orang lain, Tuhan yang penuh kasih merasakan sendiri perlakuan itu? —Mart DeHaan
Bapa, ampunilah kami karena bersikap seolah-olah Engkau tidak ada di saat-saat kami memberi atau menerima pertolongan.
Ketika kita menolong atau menyakiti sesama, Yesus ikut merasakan perlakuan itu.

Sunday, March 12, 2017

Itu Bukan Aku

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang. —1 Petrus 4:10
Itu Bukan Aku
Dalam masa liburan baru-baru ini, saya memutuskan untuk menumbuhkan janggut. Banyak respons dan pujian datang dari teman-teman dan rekan kerja saya. Namun suatu hari, saya memperhatikan janggut saya dan berpikir, “Itu bukan aku.” Maka saya pun memutuskan untuk mencukurnya.
Saya sedang berpikir tentang siapa diri kita dan mengapa ada hal-hal tertentu yang kita rasa tidak mencerminkan kepribadian kita. Yang terutama, hal itu terjadi karena Allah mengaruniakan kesukaan dan perbedaan kepada kita masing-masing. Tidak masalah jika kita memiliki hobi yang berbeda, tidak menyukai makanan yang sama, atau beribadah di gereja yang berbeda. Setiap kita diciptakan dengan unik, “dahsyat dan ajaib” (Mzm. 139:14). Petrus menuliskan bahwa kita diberi karunia yang unik untuk melayani satu sama lain (1Ptr. 4:10-11).
Para murid Yesus tidak melepaskan sifat-sifat mereka sebelum mengikut Yesus. Petrus begitu impulsif sehingga ia sempat memotong telinga seorang hamba pada saat Yesus ditangkap. Tomas bersikeras menuntut bukti sebelum mempercayai bahwa Kristus sudah bangkit. Tuhan tidak menolak mereka mentah-mentah karena mereka masih bertumbuh. Dia sedang membentuk mereka bagi pelayanan-Nya.
Ketika kita memikirkan cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk melayani Tuhan, kita patut bersikap bijaksana dengan mempertimbangkan segala karunia dan sifat yang kita miliki. Itu berarti adakalanya kita harus berkata, “Itu bukan aku. Aku bukanlah orang yang tepat.” Allah mungkin memanggil kita untuk keluar dari zona nyaman kita, tetapi Dia melakukan hal tersebut untuk mengembangkan karunia dan kepribadian kita yang unik demi memenuhi maksud-Nya yang baik. Kita menghargai sifat Allah yang kreatif ketika kita mengizinkan Dia untuk memakai hidup kita apa adanya. —Dave Branon
Bapa, terima kasih untuk kepribadian dan kemampuan yang telah Engkau bentuk dalam diriku. Bimbing aku untuk menggunakannya bagi-Mu.
Tidak ada manusia yang biasa—kita diciptakan sebagai pribadi yang unik.

Saturday, March 11, 2017

Mayday!

Pada hari kesesakanku aku berseru kepadaMu, sebab Engkau menjawab aku. —Mazmur 86:7
Mayday!
Sinyal tanda bahaya internasional “Mayday” selalu diulang tiga kali berturut-turut—“Mayday-Mayday-Mayday”—sehingga mereka yang mendengarnya memahami dengan jelas bahwa sedang terjadi situasi yang benar-benar membahayakan nyawa. Kata itu diciptakan pada tahun 1923 oleh Frederick Stanley Mockford, seorang petugas radio senior di Bandara Croydon di London. Bandara yang sekarang sudah tutup itu pernah menjadi tujuan penerbangan dari dan ke Bandara Le Bourget di Paris. Menurut catatan Museum Maritim Nasional, Mockford menciptakan kata “Mayday” dari kata dalam bahasa Prancis m’aidez, yang berarti “tolong aku”.
Sepanjang hidupnya, Raja Daud berulang kali menghadapi situasi yang mengancam nyawa di mana sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Namun, di Mazmur 86 kita membaca bahwa dalam masa kesesakannya, Daud selalu berpegang kepada Tuhan. Ia berkata, “Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku. Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku” (ay.6-7).
Daud juga melihat jauh melampaui bahaya di hadapannya dengan meminta Allah untuk memimpin langkahnya. “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu” (ay.11). Ketika krisis yang dihadapinya telah berlalu, Daud ingin terus berjalan bersama Allah.
Situasi-situasi berat yang kita hadapi dapat membuka jalan bagi kita untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Hal itu dimulai ketika kita berseru kepada Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya dalam kesulitan yang kita hadapi dan juga kemudian untuk memimpin kita setiap hari di jalan-Nya. —David McCasland
Tuhan, meski kami berseru kepada-Mu agar Engkau menolong kami hari ini, tolonglah kami terus berjalan bersama-Mu di saat masalahku telah berlalu.
Allah mendengar seruan kita meminta tolong dan Dia menuntun kita di jalan-Nya.

Friday, March 10, 2017

Hidup dalam Pengharapan

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. —Efesus 2:19
Hidup dalam Pengharapan
Steven adalah seorang pengungsi muda asal Afrika yang tidak memiliki kewarganegaraan. Menurutnya, ia mungkin lahir di Mozambik atau Zimbabwe. Ia tidak pernah mengenal ayahnya dan telah kehilangan ibunya. Sang ibu melarikan diri saat terjadi perang saudara dan pergi dari satu negara ke negara lain bekerja sebagai pengasong di jalanan. Tanpa kartu identitas dan tidak dapat membuktikan tempat kelahirannya, Steven pun pergi ke sebuah kantor polisi di Inggris dan meminta supaya dirinya ditahan. Bagi Steven, penjara tampak lebih baik daripada bertahan hidup di jalanan tanpa memiliki hak dan manfaat sebagai seorang warga negara.
Kesusahan dalam menjalani hidup tanpa kewarganegaraan ada di benak Paulus saat ia menuliskan surat untuk jemaat di Efesus. Para pembacanya yang bukan Yahudi tahu betul bagaimana rasanya menjalani hidup sebagai orang asing (Ef. 2:12). Setelah seseorang menemukan hidup dan pengharapan di dalam Kristus (Ef. 1:13), barulah mereka menemukan apa artinya menjadi warga Kerajaan Surga (Mat. 5:3). Di dalam Yesus, mereka mengalami apa artinya dikenal dan dipelihara oleh Bapa yang dinyatakan lewat kedatangan-Nya ke dunia (Mat. 6:31-33).
Paulus menyadari bahwa meskipun kita telah menerima hidup yang penuh pengharapan, tetapi seiring berjalannya waktu, kita bisa menjadi lupa bahwa sepatutnya kita tidak boleh lagi berputus asa.
Kiranya Allah menolong kita untuk menjalani hidup dengan penuh keyakinan—untuk menyadari setiap hari bahwa keberadaan kita sebagai anggota keluarga Allah adalah semata-mata karena iman di dalam Yesus Kristus dan untuk memahami segala berkat serta keistimewaan yang kita terima dari keberadaan kita di dalam Dia. —Mart DeHaan
Tuhan, dengan mengingat tidak berdayanya kami sebelum Engkau menemukan kami, tolonglah kami untuk tidak melupakan mereka yang hidupnya kini masih tak menentu.
Pengharapan berarti besar bagi mereka yang pernah hidup tanpanya.

Thursday, March 9, 2017

Telah Terjadi Kesalahan

Mereka memberikan [emas] kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini. —Keluaran 32:24
Telah Terjadi Kesalahan
“Memang telah terjadi kesalahan,” jawab seorang direktur saat berbicara tentang kegiatan ilegal yang telah dilakukan perusahaannya. Ia terlihat menyesal, tetapi ia mencoba berkelit dari kesalahan dan menolak untuk mengakui bahwa ia sendiri terlibat dalam kesalahan itu.
Ada “kesalahan-kesalahan” yang memang dapat disebut sebagai kekhilafan: salah jalan saat berkendara, lupa menyalakan alat pengatur waktu pada oven sehingga masakan menjadi gosong, atau salah menghitung jumlah pengeluaran. Namun, ada perbuatan-perbuatan disengaja yang melampaui batas kewajaran, dan Allah menyebut hal-hal itu sebagai dosa. Ketika Allah bertanya kepada Adam dan Hawa tentang ketidaktaatan mereka pada perintah-Nya, mereka langsung berusaha melempar kesalahan kepada pihak lain (Kej. 3:8-13). Harun juga tidak merasa bertanggung jawab ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas yang hendak mereka sembah di padang gurun. Ia menjelaskan kepada Musa, “Mereka memberikan [emas] kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini!” (Kel. 32:24). Harun memilih untuk melemparkan kesalahan kepada pihak lain.
Adakalanya lebih mudah menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahan-kesalahan kita sendiri. Yang sama bahayanya adalah ketika kita berusaha memandang remeh dosa kita. Itu terjadi ketika kita menyebut dosa sebagai kekhilafan dan menolak untuk mengakui natur dosa yang sesungguhnya.
Namun, saat kita bersedia bertanggung jawab—menyadari dosa kita dan mengakuinya—Allah yang “setia dan adil, . . . akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh 1:9). Allah kita mau memberikan pengampunan dan pemulihan kepada anak-anak-Nya. —Cindy Hess Kasper
Menerima pengampunan Allah harus didahului dengan pengakuan bahwa kita memang membutuhkan pengampunan itu.

Wednesday, March 8, 2017

Melukis Potret

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. —Filipi 2:5
Melukis Potret
Galeri Potret Nasional di London, Inggris, menyimpan lukisan-lukisan bernilai tinggi dari abad lampau, termasuk 166 gambar wajah Winston Churchill, 94 gambar William Shakespeare, dan 20 gambar George Washington. Saat melihat potret-potret kuno itu, kita mungkin bertanya-tanya: Apakah orang-orang tersebut memang mirip dengan gambar di lukisannya?
Sebagai contoh, ada 8 lukisan wajah pahlawan Skotlandia, William Wallace (hidup sekitar tahun 1270-1305). Namun, kita tidak memiliki fotonya sebagai pembanding. Bagaimana kita tahu para pelukis itu benar-benar akurat dalam menggambarkan Wallace?
Demikian juga dengan gambaran Yesus. Tanpa sadar, orang-orang yang percaya kepada-Nya sedang menggambarkan kesan tentang Yesus di mata orang lain. Tentu bukan dengan goresan kuas dan cat minyak, melainkan lewat sikap, perilaku, dan hubungan kita dengan sesama. Apakah lewat semua itu kita menggambarkan isi hati-Nya secara akurat? Itulah yang menjadi perhatian Rasul Paulus. Ia menuliskan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (FLP. 2:5). Dalam kerinduan untuk menggambarkan Tuhan secara akurat, Paulus mendorong para pengikut Yesus untuk mencerminkan sifat-sifat-Nya yang rendah hati, rela berkorban, dan penuh belas kasihan kepada sesama.
Ada yang berkata, “Mungkin kita menjadi satu-satunya gambaran Yesus yang pernah dilihat orang.” Ketika kita “dengan rendah hati . . . menganggap yang lain lebih utama dari pada diri [kita] sendiri” (ay.3), kita akan menunjukkan hati dan perilaku Yesus kepada dunia. —Bill Crowder
Ya Bapa, berilah aku hati seperti hati Kristus agar orang-orang di sekelilingku bisa melihat-Mu dengan jelas dan rindu untuk mengenal-Mu juga.
Pengorbanan Kristus mendorong kita untuk rela berkorban bagi sesama.

Tuesday, March 7, 2017

Penguasa Lautan

[Tuhan] berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan! —Ayub 38:11
Penguasa Lautan
Raja Canute adalah salah satu manusia paling berkuasa yang hidup pada abad ke-11. Dikisahkan bahwa sang raja memerintahkan agar singgasananya diletakkan di tepi pantai ketika air pasang. “Gelombang laut, engkau harus tunduk pada perintahku,” sabda sang raja. “Karena itu, aku memerintahkan engkau untuk tak menyentuh daratan dan tidak membasahi jubah dan kaki tuanmu ini!” Namun, gelombang pasang terus naik hingga membasahi kedua kaki sang raja.
Kisah itu sering diceritakan untuk menyoroti keangkuhan Raja Canute. Namun sebenarnya, kisah tersebut berbicara tentang kerendahan hati. “Biarlah seluruh dunia tahu bahwa Raja-Raja tak berkuasa sama sekali,” lanjut sang raja, “kecuali Dia yang ditaati oleh langit, bumi, dan lautan.” Kisah Raja Canute itu menyatakan satu hal: Allah adalah satu-satunya Pribadi yang Mahakuasa.
Ayub juga menemukan hal yang sama. Kita semua sangat kecil jika dibandingkan dengan Allah yang meletakkan dasar bumi (Ayb. 38:4-7), yang menyuruh fajar datang dan malam pergi (ay.12-13), yang menyimpan persediaan salju dan membimbing bintang-bintang (ay.22,31-33). Hanya ada satu Penguasa lautan, dan itu bukan kita (ay.11; Mat. 8:23-27).
Saat kita mulai merasa tinggi hati atau membanggakan diri, ingatlah pengalaman Raja Canute. Cobalah berjalan-jalan ke pantai, lalu katakanlah pada gelombang pasang untuk berhenti bergulung atau perintahkanlah matahari untuk berhenti bersinar, maka kita akan segera ingat siapa yang benar-benar berkuasa. Bersyukurlah kepada Allah yang menjadi Penguasa hidup kita. —Sheridan Voysey
Allah Mahabesar, Engkau termulia dari semua. Kusembah Kau, Penguasa hidupku.
Bersyukurlah karena meski kita kecil, Allah kita besar.

Monday, March 6, 2017

Mengasihi dengan Sempurna

[Kasih] menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. —1 Korintus 13:7-8
Mengasihi dengan Sempurna
Suaranya bergetar saat menceritakan persoalan yang dihadapinya dengan putrinya. Karena prihatin dengan pergaulan putrinya, sang ibu menyita ponsel anaknya dan mengawal ke mana pun ia pergi. Hubungan mereka berdua tampaknya semakin buruk saja. Setelah berbicara dengan sang putri, saya merasa bahwa sebenarnya ia sangat mengasihi ibunya. Hanya saja ia kini merasa terkekang dalam ungkapan kasih sang ibu. Yang ia rindukan adalah kebebasan.
Sebagai makhluk yang tidak sempurna, kita semua menemui kesulitan dalam hubungan kita dengan sesama. Baik sebagai orangtua atau anak, lajang atau menikah, kita semua bergumul untuk mengungkapkan kasih dengan cara yang benar, untuk mengucapkan dan melakukan apa yang benar pada saat yang tepat. Sepanjang hidup ini, kita perlu terus belajar mengasihi.
Dalam 1 Korintus 13, Rasul Paulus menguraikan tentang apa yang disebut sebagai kasih yang sempurna. Standar yang diberikan Paulus terlihat begitu mulia, tetapi menerapkan kasih itu dapat terasa sangat menakutkan. Syukurlah, kita memiliki Yesus sebagai teladan. Lewat interaksi-Nya dengan orang-orang yang memiliki kebutuhan dan masalah yang berbeda-beda, Dia menunjukkan kepada kita bukti nyata dari kasih yang sempurna itu. Dengan berjalan bersama Yesus, berpegang pada kasih-Nya, dan belajar menghayati firman-Nya, kita akan dibuat-Nya semakin serupa dengan Dia. Tentulah kita masih akan berbuat kesalahan, tetapi Allah dapat mengubahnya dan mendatangkan kebaikan dari setiap keadaan yang ada, karena kasih-Nya “menutupi segala sesuatu” dan “tidak berkesudahan” (1Kor. 13:7-8). —Poh Fang Chia
Tuhan, sebenarnya niat dan keinginan kami baik, tetapi kami justru sering mengecewakan satu sama lain. Terima kasih, Engkau telah menjadi teladan kami dengan menunjukkan bagaimana kami harus hidup dan mengasihi.
Untuk menunjukkan kasih-Nya, Tuhan Yesus mati bagi kita; untuk menunjukkan kasih kita, kita hidup bagi-Nya.

Sunday, March 5, 2017

Karunia Menjamu

Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang. - Ibrani 13:2
Karunia Menjamu
Kami selalu terkenang akan suatu malam ketika kami menjamu keluarga-keluarga yang datang dari lima negara. Sepanjang makan malam itu kami semua terlibat dalam perbincangan hangat tentang pengalaman hidup di kota London sebagaimana dialami oleh mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di penghujung malam itu, saya dan suami menyadari bahwa kami telah menerima lebih banyak berkat daripada yang kami berikan, termasuk kehangatan yang kami alami melalui jalinan persahabatan dengan teman-teman baru dan kesempatan untuk belajar tentang beragam budaya yang ada di dunia.
Penulis kitab Ibrani menyimpulkan pemikirannya dengan memberikan sejumlah nasihat tentang hidup dalam komunitas, termasuk mendorong para pembacanya untuk tetap setia memberikan tumpangan kepada orang asing. Ternyata lewat sikap mereka, “beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2). Ia mungkin mengacu kepada Abraham dan Sara seperti yang kita baca di Kejadian 18:1-12. Keduanya menyambut kedatangan tiga orang asing, memperlakukan mereka dengan murah hati dan menjamu mereka dengan hidangan yang istimewa, sebagaimana kebiasaan pada zaman itu. Mereka tidak mengetahui bahwa mereka sedang melayani para malaikat yang membawa pesan berkat bagi mereka.
Kita memang tidak mengundang orang datang ke rumah kita dengan harapan untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Namun kenyataannya, yang sering terjadi justru kita mendapat lebih banyak berkat daripada yang kita berikan. Kiranya Tuhan menyebarkan kasih-Nya melalui kita saat kita menjamu orang lain dan berbagi berkat-Nya. —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, Engkaulah sumber dari segala sesuatu yang kami miliki. Kiranya kami mau berbagi berkat yang telah kami terima agar Engkau dimuliakan.
Ketika kita bersikap ramah, kita berbagi kebaikan dan rahmat Allah.

Saturday, March 4, 2017

Cinta dan Sepatu Tua

Sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan. —Mazmur 139:4
Cinta dan Sepatu Tua
Adakalanya saya dan istri dapat saling menyelesaikan kalimat-kalimat yang kami ucapkan. Setelah menikah lebih dari 30 tahun, kami semakin mengenal pola pikir dan gaya bicara kami masing-masing. Kami bahkan tidak perlu menyelesaikan sebuah kalimat, satu kata atau tatapan sekilas saja sudah cukup bagi kami untuk mengungkapkan sebuah pemikiran.
Bisa dikatakan kami berdua sangat merasa nyaman dengan satu sama lain—seperti sepasang sepatu lama yang terus-menerus dipakai karena begitu nyaman untuk dikenakan. Kadang-kadang kami menggunakan istilah-istilah khusus yang belum tentu dimengerti orang lain untuk mengungkapkan rasa sayang kami berdua! Setelah beberapa dekade menjalin hubungan, kami telah mengembangkan sebuah bahasa tersendiri, lengkap dengan ungkapan-ungkapan khusus yang tercipta dari rasa kasih dan sikap saling percaya di antara kami.
Sungguh bahagia saat mengetahui bahwa Allah begitu mengasihi kita dengan pengenalan yang amat mendalam. Daud menulis, “Sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan” (Mzm. 139:4). Bayangkan kamu berbincang-bincang di dalam hati dengan Tuhan Yesus untuk mengungkapkan isi hatimu yang terdalam. Ketika kamu kesulitan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, Dia pun tersenyum kepadamu sebagai tanda bahwa Dia mengerti dan kemudian Dia mengungkapkan dengan tepat apa yang tadi sulit kamu ungkapkan. Syukurlah, kita tidak harus selalu merangkai kata-kata yang tepat saat berbincang-bincang dengan Allah! Dia memahami kita karena Dia sangat mengasihi dan mengenal kita seutuhnya. —James Banks
Tuhan, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku, dan Engkau selalu mengasihiku. Terima kasih karena Engkau memahamiku sepenuhnya! Tolonglah aku untuk mengasihi-Mu dan mengikut-Mu hari ini.
Allah mengetahui maksud hati kita meski kita tidak mengatakannya.

Friday, March 3, 2017

Dua Foto

Sekarang kalian bersusah hati, tetapi Aku akan bertemu lagi dengan kalian, maka hatimu akan bergembira; dan tidak seorang pun dapat mengambil kegembiraan itu dari hatimu. —Yohanes 16:22 BIS
Dua Foto
Seorang nenek dengan bangga menunjukkan dua buah foto kepada teman-temannya. Yang pertama adalah foto putrinya di kampung halamannya di Burundi. Yang kedua adalah foto cucu lelakinya, yang baru-baru ini dilahirkan putrinya. Namun putrinya tidak menggendong bayi itu. Sang putri meninggal saat melahirkan anaknya.
Seorang teman mendekat dan melihat kedua foto itu. Ia segera memeluk sang nenek. Sambil berlinang air mata, ia hanya berkata kepada nenek itu, “Aku tahu perasaanmu.”
Teman itu memang tahu apa perasaan nenek tersebut karena putranya baru saja meninggal dua bulan sebelumnya.
Ada yang istimewa dari penghiburan orang lain yang pernah mengalami penderitaan kita. Mereka tahu perasaan kita. Sesaat sebelum Yesus ditangkap, Dia memperingatkan murid-murid-Nya, “Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira.” Namun, Dia menghibur mereka: “Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh. 16:20). Beberapa jam kemudian, hati para murid hancur karena Yesus ditangkap lalu disalibkan. Namun, dukacita mereka yang mendalam segera berubah menjadi sukacita yang tak terbayangkan saat melihat Dia bangkit.
Yesaya pernah bernubuat tentang Mesias, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (Yes. 53:4). Juruselamat kita tidak hanya tahu tentang penderitaan kita, tetapi Dia pernah mengalaminya sendiri. Dia tahu dan peduli. Kelak dukacita kita akan diubahkan menjadi sukacita. —Tim Gustafson
Tuhan, terima kasih untuk salib-Mu. Kami pasti menghadapi kesusahan di dunia ini, tetapi Engkau telah mengalahkan dunia dan menanggung dosa serta derita kami. Kami menantikan harinya kelak saat dukacita kami diubahkan menjadi sukacita dan kami akan bertatap muka dengan-Mu.
Ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, Dia akan memberikan damai sejahtera-Nya di dalam hati kita.

Thursday, March 2, 2017

Sama Seperti Kita

Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. —Ibrani 2:18
Sama Seperti Kita
Charles Schulz (1922-2000) adalah pencipta komik Peanuts yang menjadi favorit banyak orang. Dalam upacara untuk mengenang Schulz, seorang teman sekaligus sesama kartunis bernama Cathy Guisewite bercerita tentang rasa kemanusiaan dan belas kasihan yang dimiliki almarhum. “Charles memberikan kepada setiap orang di dunia tokoh-tokoh kartun yang tahu betul apa yang kita rasakan, yang membuat kita merasa tidak pernah sendiri. Charles juga memberikan dirinya sebagai kartunis, dan itu membuat kami merasa tidak pernah sendiri. . . . Ia memberikan semangat kepada kami. Ia menaruh simpati kepada kami. Ia membuat kami merasa bahwa ia sama seperti kami.”
Saat kita merasa tidak ada seorang pun mengerti atau dapat menolong kita, kita diingatkan bahwa Yesus telah memberikan diri-Nya bagi kita, dan Dia tahu persis siapa diri kita dan apa saja yang kita hadapi hari ini.
Ibrani 2:9-18 menunjukkan kebenaran yang luar biasa tentang Yesus yang sepenuhnya menjadi sama dengan manusia selama hidup-Nya di bumi (ay.14). Dia “mengalami maut bagi semua manusia” (ay.9), memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (ay.14), dan membebaskan “mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (ay.15). Yesus Kristus menjadi sama seperti kita “dalam segala hal . . . supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (ay.17).
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah menjadi sama dengan manusia seperti kami, supaya kami bisa menerima pertolongan-Mu hari ini dan hidup dalam hadirat-Mu selamanya. —David McCasland
Ketakutan dan kekhawatiran apa yang kamu miliki? Bagaimana seharusnya sikapmu terhadap ketakutan tersebut? (1Ptr. 5:6-7). Apa yang Tuhan janjikan akan dilakukan-Nya bagimu? (Ibr. 13:5).
Tiada seorang pun yang lebih memahami kita daripada Yesus.

Wednesday, March 1, 2017

Seluruh Diriku

[Persembahkan] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1
Seluruh Diriku
Saat masih muda, Isaac Watts menemukan banyak kekurangan dalam puji-pujian yang dinyanyikan di gerejanya. Lalu ayah Watts mendorongnya untuk menciptakan lagu-lagu yang lebih baik. Ia pun melakukannya. Himne karya Watts, When I Survey the Wondrous Cross (Bila Kuingat Salib-Nya), disebut banyak pihak sebagai himne terbaik dalam bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.
Bait ketiga dari himne penyembahan karya Watts itu membawa kita seakan-akan berada di hadapan Kristus pada saat penyaliban-Nya.
Lihatlah pada dahi-Nya
Duka dan kasih tercurah
Dahsyat mahkota duri-Nya
Yang hina jadi yang mulia

(Nyanyian Pujian, No. 189)
Peristiwa penyaliban yang digambarkan Watts dengan sangat elegan itu merupakan momen paling mengerikan dalam sejarah. Patutlah kita berdiam dan berdiri bersama orang-orang yang ada di sekeliling salib itu. Sang Anak Allah meregang nyawa, terpancang oleh paku-paku yang menembus tubuh-Nya. Setelah jam-jam yang mengerikan itu, kegelapan yang supernatural pun meliputi suasana di sana. Akhirnya, Tuhan atas alam semesta itu menyerahkan nyawa-Nya. Gempa bumi mengguncang tempat itu. Demikian juga di Yerusalem, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang yang telah meninggal bangkit, lalu masuk ke kota (Mat. 27:51-53). Semua peristiwa itu mendorong kepala pasukan yang menyalibkan Yesus untuk berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (ay.54).
“Salib merombak semua nilai dan menghancurkan semua keangkuhan,’’ demikianlah komentar Poetry Foundation tentang sajak pujian Watts itu. Hanya satu respons yang pantas, dan himne tersebut menyatakan respons itu demikian: “Kar’na kasih-Mu yang murni, kupersembahkan diriku.” —Tim Gustafson
Sungguh istimewa kita dipanggil untuk menyerahkan seluruh milik kita
kepada Pribadi yang telah menyerahkan segalanya bagi kita di kayu salib.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate