Pages - Menu

Saturday, February 29, 2020

Rahasia

Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku. —Filipi 4:12
Rahasia
Kadang-kadang saya merasa kucing saya, Heathcliff, begitu ingin tahu. Ketika saya pulang belanja, Heathcliff bergegas memeriksa isi kantong belanjaan saya. Saat saya memotong-motong sayuran, ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya sambil memperhatikan sayur itu dan meminta bagiannya. Namun, ketika saya memberikan apa yang ia incar, tidak lama kemudian ia tidak lagi berminat, lalu pergi dengan tampang bosan.
Namun, melihat tingkah Heathcliff membuat saya harus berkaca. Saya teringat pada kelakuan saya sendiri yang selalu menginginkan lebih dan lebih lagi. Itu karena saya berasumsi bahwa apa yang saya miliki sekarang tidak akan cukup.
Menurut Paulus, rasa cukup bukan hal yang alami dalam diri, melainkan harus dipelajari (Flp. 4:11). Manusia selalu berusaha mengejar apa saja yang kita pikir akan memuaskan kita, dan langsung beralih ke yang lain begitu menyadari bahwa yang sebelumnya tidak memuaskan kita. Rasa tidak cukup kita juga terwujud dalam sikap membentengi diri dari hal-hal yang kita curigai sebagai ancaman.
Ironisnya, terkadang kita harus mengalami dahulu hal-hal yang paling kita takutkan agar kita dapat benar-benar merasakan sukacita. Setelah mengalami banyak hal buruk dalam hidupnya, Paulus dapat menyaksikan sendiri “rahasia” dari rasa cukup yang sejati (ay.11-12). Itulah realitas misterius yang kita alami di saat kita menyerahkan segala kerinduan kita akan pemenuhan diri kepada Allah. Sebagai hasilnya, kita mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal (ay.6-7) untuk dibawa semakin dalam menikmati kuasa, keindahan, dan anugerah Kristus. —Monica Brands
WAWASAN
Paulus benar-benar tahu caranya merasa cukup dalam segala situasi. Ia memiliki hak istimewa karena lahir sebagai warga negara Romawi. Sebagai “orang Ibrani asli” (Filipi 3:5) yang belajar di bawah bimbingan Gamaliel, seorang rabi yang dihormati (Kisah Para Rasul 22:3), Paulus juga menikmati warisan keagamaan yang kuat. Namun, ia mengalami kesulitan yang amat berat. 2 Korintus 11 menguraikan serangkaian penderitaan yang dialaminya, termasuk dipenjara, dipukuli, disesah, dilempari batu, karam kapal, kelaparan, kehausan, dan sulit tidur (ay.23-28). Ingatlah segala kesulitan ini ketika Anda mendengar Paulus berkata, “Segala perkara dapat kutanggung [tetap merasa cukup] di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).—Tim Gustafson
Pernahkah kamu mengalami damai yang melampaui segala akal di saat kamu justru tidak mengharapkannya? Kerinduan atau ketakutan besar apa yang perlu kamu bawa sekarang ke hadapan Allah?
Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk tidak lagi mencari kebahagiaanku sendiri, melainkan rela menikmati setiap saat bersama-Mu.

Friday, February 28, 2020

Iman yang Tabah

Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.—Roma 5:3
Iman yang Tabah
Ernest Shackleton (1874-1922) pernah gagal saat memimpin ekspedisi untuk melintasi Antartika pada tahun 1914. Ketika kapalnya yang diberi nama “Ketabahan” terperangkap es tebal di Laut Weddell, perjalanan tersebut berubah menjadi lomba untuk bertahan hidup. Tanpa dapat berkomunikasi sama sekali dengan dunia luar, Shackleton dan krunya menggunakan sejumlah sekoci untuk melakukan perjalanan ke pantai terdekat di Pulau Gajah. Sementara sebagian besar kru tetap bertahan di pulau tersebut, Shackleton dan lima awak kapal menempuh perjalanan sejauh 1.287 km selama dua minggu menyeberangi samudra sampai tiba di Georgia Selatan untuk meminta bantuan bagi mereka yang masih tertinggal di pulau. Ekspedisi “gagal” tersebut berubah menjadi catatan kemenangan dalam buku-buku sejarah ketika semua anak buah Schakleton selamat, berkat keberanian dan ketabahan mereka.
Rasul Paulus mengerti apa artinya tabah. Dalam pelayaran menuju Roma untuk menghadapi persidangan karena imannya kepada Yesus, Paulus mengetahui dari malaikat bahwa kapalnya yang diamuk badai akan tenggelam. Namun, Paulus tetap memberi semangat kepada semua orang yang bersamanya di kapal itu, karena Allah telah menjanjikan mereka semua akan selamat meskipun kapalnya karam (Kis. 27:23-24).
Ketika melapetaka datang, kita cenderung mengharapkan Allah akan segera membereskan semuanya. Namun, Allah memberikan iman agar kita tetap tabah, bertekun, dan bertumbuh. Paulus menulis kepada jemaat di Roma, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (ketabahan dalam terjemahan lain)” (Rm. 5:3). Kita yang mengetahui hal tersebut dapat menguatkan satu sama lain untuk tetap mempercayai Allah di masa-masa sulit.—LINDA WASHINGTON
WAWASAN
Perjalanan Paulus dari Yerusalem ke Roma menghabiskan waktu sekitar tiga tahun, dimulai dari penangkapannya di Yerusalem—yang terjadi jauh di Kisah Para Rasul 21:27! Penangkapan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan Paulus, tetapi karena sesama orang Yahudi yang membuat kerusuhan. Penangkapannya hampir berujung pada pencambukan (22:25-29) dan menyebabkan ia harus menjalani serangkaian persidangan oleh pejabat-pejabat Romawi—tetapi tidak satu pun yang berhasil menemukan kesalahan Paulus (26:30-32). Sebagai bagian dari hak warga negara Romawi, Paulus naik banding ke Kaisar, dan pilihan tersebut mengirimnya ke perjalanan yang di dalamnya termasuk peristiwa karam kapal dalam Kisah Para Rasul 27.—Bill Crowder
Bagaimana biasanya kamu menanggapi kesulitan yang terjadi? Bagaimana kamu dapat memberikan dorongan kepada seseorang yang sedang menghadapi masa-masa sulit?
Bapa Surgawi, aku membutuhkan pertolongan-Mu untuk tetap tabah, sekalipun aku merasa sulit untuk melakukannya.

Thursday, February 27, 2020

Perubahan Tak Terduga

Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.—Yakobus 4:14
Perubahan Tak Terduga
Di bulan Januari 1943, angin panas Chinook menghantam kota Spearfish di Dakota Selatan, AS, sehingga temperatur udara naik drastis dari -20° ke 7°C. Perubahan cuaca drastis sebesar 27 derajat itu terjadi dalam waktu dua menit saja. Lonjakan suhu terbesar yang pernah tercatat di AS dalam kurun waktu dua puluh empat jam adalah 57 derajat! Hal itu terjadi pada tanggal 15 Januari 1972 di kota Loma, Montana, dengan suhu yang naik dari -48° ke 9°C.
Namun, perubahan mendadak tidak hanya terjadi pada cuaca dan suhu. Terkadang hal tersebut juga dialami dalam kehidupan. Yakobus mengingatkan kita, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok” (Yak. 4:13-14). Kehilangan yang tidak terduga. Diagnosis yang mengejutkan. Kemerosotan finansial. Perubahan yang mendadak.
Kehidupan adalah suatu perjalanan dengan banyak elemen yang tak terduga. Justru karena itulah Yakobus memperingatkan kita untuk berbalik dari kecongkakan yang tidak memperhitungkan Allah Mahakuasa (ay.16). Ia pun menasihati kita: “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (ay.15). Peristiwa dalam hidup kita mungkin serba tak pasti, tetapi ada satu hal yang pasti: di tengah segala pengalaman hidup yang tidak terduga, Allah kita takkan pernah meninggalkan kita. Dialah satu-satunya yang tetap di sepanjang hidup kita. —Bill Crowder
WAWASAN
Yakobus memperingatkan orang-orang kaya supaya tidak congkak dan menyombongkan diri, menjauhi pandangan duniawi dan materialistis, serta tidak mengeksploitasi orang-orang miskin (Yakobus 4:13-17; 5:1-6). Alih-alih membantu jemaat yang menderita karena penganiayaan, mereka yang kaya malah mengeksploitasi mereka (2:5-7). Padahal, kita diharuskan menggunakan kekayaan kita untuk melakukan kebaikan (4:15-17). Yakobus mengingatkan jemaat yang terlalu percaya diri dan congkak itu, yang yakin pada masa depan mereka, untuk menyadari bahwa hidup ini penuh dengan ketidakpastian, singkat dan rapuh. Lebih baik mereka mempercayakan semuanya kepada Allah yang mengendalikannya (ay.14). Dengan menyinggung perumpamaan Kristus tentang orang kaya di Lukas 12:16-21, ia memperingatkan bahwa mengandalkan diri sendiri adalah dosa. Rasul Paulus juga memberikan peringatan yang serupa dalam 1 Timotius 6:17-19.—K. T. Sim
Ketika menghadapi perubahan mendadak, bagaimana kamu bereaksi? Menurutmu, bagaimana respons iman yang tepat untuk menghadapi berbagai pengalaman mengejutkan dalam kehidupan ini?
Ya Bapa, ampunilah aku manakala aku mengkhawatirkan hal-hal yang tidak dapat kuperkirakan atau kukendalikan. Tolonglah aku agar menemukan ketenangan di dalam Engkau.

Wednesday, February 26, 2020

Memikirkan Sukacita

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! —Filipi 4:4
Memikirkan Sukacita
Dalam buku koleksi wawancara Bill Shapiro yang berjudul What We Keep (Apa yang Kita Simpan), setiap orang bercerita tentang satu benda yang mereka anggap sangat penting dan membawa kesenangan hingga orang itu tidak mau berpisah darinya.
Membaca hal tersebut membuat saya merenungkan apa benda milik saya yang sangat berarti dan membuat saya gembira. Salah satunya adalah selembar kartu berumur empat puluh tahun yang berisi resep tulisan tangan ibu saya. Barang lainnya adalah cangkir teh merah jambu milik nenek saya. Orang lain mungkin menyimpan kenangan berharga—pujian yang membesarkan hati, gelak tawa cucu, atau pencerahan yang mereka dapatkan dari Alkitab.
Namun, sering kali, apa yang kita simpan dalam hati justru hal-hal yang membuat kita sangat tidak bahagia. Kekhawatiran—memang tersembunyi, tetapi siap melanda kapan saja. Kemarahan—tidak kelihatan di permukaan, tapi sewaktu-waktu siap meledak. Kebencian—diam-diam merusak dan mengotori pikiran kita.
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus mengajarkan cara “berpikir” yang lebih positif. Ia mendorong jemaat agar senantiasa bersukacita, baik hati, dan membawa segala keinginan dalam doa kepada Allah (Flp. 4:4-9).
Dorongan Paulus tentang apa yang sebaiknya kita pikirkan dapat menolong kita untuk melihat bahwa kita bisa mengenyahkan pikiran-pikiran buruk dan mengizinkan damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (ay.7). Pada saat pikiran kita dipenuhi dengan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, penuh kebajikan, dan patut dipuji maka damai sejahtera-Nya akan memerintah dalam hati kita (ay.8).—Cindy Hess Kasper
WAWASAN
Tidak seperti surat-suratnya yang lain, surat Paulus kepada jemaat di Filipi tampaknya bukan sebuah respons terhadap krisis yang serius atau konflik dalam jemaat (hanya satu konflik relasi yang disebutkan di 4:2). Sebaliknya, motivasi utama Paulus sepertinya adalah untuk menyampaikan ucapan syukurnya untuk dukungan dari orang-orang percaya di Filipi (ay.14-18) dan juga untuk mendukung dan bersukacita bersama komunitas orang beriman yang sangat dikasihinya. Suasana surat tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki jiwa persaudaraan dan kepercayaan dengan komunitas orang beriman tersebut, yang ia deskripsikan sebagai “sukacitaku dan mahkotaku” (ay.1). Paulus merasakan kesatuan yang mendalam dengan orang-orang percaya ini sebagai “mendapat bagian dalam kasih karunia” (1:7). Ia tidak berfokus pada menegur kelemahan-kelemahan dalam jemaat tersebut, melainkan ia dapat dengan sukacita mendorong mereka untuk mendalami Injil Kristus dalam hidup mereka (ay.27) dan belajar untuk mengalami sukacita dalam Kristus bahkan di tengah penderitaan (ay.29).—Monica Brands
Pikiran buruk apa saja yang terus mengisi pikiran dan hatimu? Satu cara apa yang bisa kamu terapkan agar pikiranmu terisi dengan hal-hal yang baik tiap hari?
Ya Allah, arahkanlah pemikiranku hari ini, sembari Engkau menggenggam hati dan hidupku dalam tangan kasih-Mu.

Tuesday, February 25, 2020

Kaya di Hadapan Allah

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. —1 Timotius 6:6
Kaya di Hadapan Allah
Kedua orangtua saya tahu apa artinya hidup susah sejak kecil karena mereka dibesarkan pada masa Depresi Besar. Alhasil, mereka suka bekerja keras dan sangat cermat mengatur uang. Namun, mereka tidak pelit. Mereka tidak segan-segan memberikan waktu, talenta, dan harta mereka kepada gereja, yayasan amal, dan kaum yang membutuhkan bantuan. Mereka benar-benar mengelola uang mereka dengan bijak dan memberi dengan sukacita.
Sebagai pengikut Yesus, orangtua saya benar-benar menaati peringatan Rasul Paulus: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Tim. 6:9).
Paulus memberikan nasihat tersebut kepada Timotius, gembala muda di Efesus, kota makmur dengan kekayaan yang menggoda semua orang. Paulus mengingatkan, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ay.10). Jika demikian, apa penawar bagi keserakahan? Yesus berkata, dengan menjadi “kaya di hadapan Allah” (lihat Luk. 12:13-21). Dengan mencari, menghargai, dan mengasihi Bapa Surgawi kita lebih dari segalanya, Dia akan terus menjadi sukacita kita yang terbesar. Pemazmur menulis, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami” (Mzm. 90:14).
Dengan bersukacita di dalam Allah setiap hari, kita dibebaskan dari nafsu untuk mendambakan sesuatu yang lebih, dan kita pun menemukan rasa puas. Kiranya Yesus memurnikan kerinduan hati kita dan menjadikan kita kaya di hadapan Allah!—Patricia Raybon
WAWASAN
Kata-kata Paulus kepada Timotius mengenai uang merefleksikan kata-katanya dalam Kisah Para Rasul 20:35 ketika ia mengutip kata-kata Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Namun, dalam Perjanjian Baru, tidak ada catatan bahwa Yesus mengucapkan kata-kata tersebut secara persis. Jadi dari mana Paulus mendapatkan perkataan tersebut? Salah satu kemungkinan adalah ia sedang mengutip tradisi oral yang diwariskan dari para saksi mata. Kemungkinan lainnya adalah Paulus mengatakan, dengan kata-katanya sendiri, apa yang telah ia pelajari dari kehidupan dan kata-kata Yesus.
Paulus dididik dalam sebuah sistem yang cenderung menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mencintai uang dengan mengorbankan orang-orang miskin (Lukas 16:14; 20:46-47). Sungguh terjadi perubahan yang drastis pada jiwanya untuk dapat mendengar dan mempercayai teladan Yesus dalam perkataan dan perbuatan—bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan dari seberapa banyak yang kita miliki (12:15).—Mart DeHaan
Pernahkah kamu lalai mengelola uang, atau memandangnya secara berlebihan? Apakah kamu mau menyerahkan kekhawatiranmu tentang keuangan kepada Allah?
Ya Allah, kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu dan gantikan keserakahan kami dengan kerinduan yang suci akan Engkau.

Monday, February 24, 2020

Dibebaskan oleh Yesus

Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan . . . segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.—Markus 5:20
Dibebaskan oleh Yesus
“Aku tinggal begitu lama di rumah ibuku sampai akhirnya beliau sendiri yang pindah!” Hal itu dikatakan KC tentang hidupnya yang kacau balau sebelum ia pulih dan percaya kepada Yesus. Dengan terus terang ia mengaku pernah mencuri demi membiayai kecanduannya, bahkan dari orang-orang yang ia cintai. Namun, kehidupan kelam tersebut sudah lama ia tinggalkan, dan secara rutin ia mengingat sudah berapa tahun, bulan, dan hari dimana ia telah bersih dari kecanduannya. Ketika kami duduk mempelajari firman Tuhan secara rutin, saya melihat KC benar-benar sudah berubah.
Dalam Markus 5:15 diceritakan bagaimana seseorang yang kerasukan setan telah dibebaskan. Sebelum disembuhkan, orang tersebut tidak berdaya, tidak berpengharapan, menggelandang, dan putus asa (ay.3-5). Namun, semua itu berubah sesudah Yesus membebaskannya (ay.13). Akan tetapi, seperti juga KC, kehidupan orang ini sebelum mengenal Yesus benar-benar jauh dari normal. Pergolakan dalam dirinya yang terungkap lewat tindakannya tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh banyak orang hari-hari ini. Banyak orang yang terluka berkeliaran dan tinggal di rumah-rumah kosong, mobil tua rongsokan, atau di tempat-tempat lain; sebagian lagi tinggal di rumah sendiri tetapi merasa kesepian dalam hatinya. Belenggu yang tak terlihat mengungkung hati dan pikiran mereka sampai-sampai mereka merasa harus menjauhkan diri dari orang lain.
Kini, kita mempunyai Tuhan Yesus yang dapat dipercaya untuk memikul kesakitan dan rasa malu kita di masa lalu dan masa sekarang. Sama seperti terhadap Legion dan KC, dengan tangan kasih-Nya yang terbuka, Yesus menantikan siapa saja untuk datang kepada-Nya hari ini juga (ay.19).—Arthur Jackson
WAWASAN
Setan-setan percaya kepada Allah, tetapi kepercayaan mereka bukanlah iman yang menyelamatkan (Yakobus 2:19). Mereka tahu Yesus adalah “Anak Allah yang Mahatinggi” yang memiliki otoritas atas mereka (Markus 5:7; juga 1:24) dan bahwa Dia akan mengirimkan mereka ke dalam jurang maut (Matius 25:41; Lukas 8:31). Orang-orang Yahudi percaya bahwa jurang maut atau tempat “orang mati” (Roma 10:7) adalah neraka yang penuh dengan roh-roh jahat atau malaikat-malaikat yang jatuh, sebuah tempat penuh siksa dan aniaya (Matius 8:29; 2 Petrus 2:4; Yudas 1:6).—K. T. Sim
Bagaimana Yesus telah mengubah hidupmu? Siapa yang perlu mendengar kesaksianmu?
Ya Allah, aku sangat bersyukur bahwa melalui Yesus, hal-hal yang pernah membelengguku di masa lalu tidak perlu menghalangiku di masa depan.

Sunday, February 23, 2020

Kasih yang Tertikam

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.—Yesaya 53:5
Kasih yang Tertikam
Carla sudah berusaha menelepon. Ia juga sudah mengirim pesan singkat ke adiknya. Sekarang ia berdiri di depan pagar rumah adiknya, tetapi tidak juga berhasil membuat sang adik menemuinya. Adiknya mengurung diri di rumah dalam keadaan depresi dan berjuang melawan kecanduan. Dalam upaya terakhirnya untuk menemui sang adik yang sedang mengurung diri, Carla mengumpulkan sejumlah makanan kesukaan adiknya dengan catatan ayat-ayat Alkitab yang menguatkan, lalu mencoba menurunkan bungkusan itu ke balik pagar rumah.
Namun, apa daya, bungkusan tersebut tersangkut besi pagar, lalu robek, dan isinya jatuh berhamburan ke atas batu-batu kerikil di bawah. Pemberian yang didasari niat baik dan kasih itu rasanya terbuang sia-sia. Akankah adiknya melihat barang-barang yang dibawanya? Akankah misi untuk memberikan harapan itu tercapai? Carla hanya bisa berharap dan berdoa sambil menantikan kesembuhan adiknya.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia—pada intinya—menurunkan Anak-Nya yang tunggal ke balik pagar dosa kita, dengan pemberian kasih dan pemulihan bagi dunia kita yang kacau dan jauh dari-Nya (Yoh. 3:16). Nabi Yesaya menubuatkan harga yang harus dibayar dari tindakan kasih Allah itu dalam Yesaya 53:5. Anak itu akan “tertikam oleh pemberontakan kita, . . . diremukkan oleh kejahatan kita.” Bilur-bilur-Nya membawa pengharapan akan pemulihan kekal. Dia menanggung sendiri “kejahatan kita sekalian” (ay.6).
Tertikam oleh dosa dan kebutuhan jiwa kita, Yesus sebagai pemberian Allah turun ke dalam kehidupan kita dengan kekuatan dan perspektif baru hari ini. Apakah arti pemberian-Nya bagi kamu?—Elisa Morgan
WAWASAN
Dimulai dari pasal 42 kitab Yesaya, kita menemukan banyak ayat yang menyebut tentang “Hamba TUHAN.” Dari pasal 42–48, “Hamba” terkadang merujuk kepada Israel atau seorang saleh yang secara tidak langsung merujuk kepada Yesus Kristus. Namun, pasal 49–53 secara jelas mengindikasikan bahwa “Hamba” tersebut adalah Yesus. Contohnya, perlakuan ekstrem yang mempermalukan Sang Hamba melalui hajaran yang membuat-Nya menjadi begitu buruk rupa, lalu diikuti dengan kemuliaan yang begitu besar hingga manusia akan menyembah dengan takjub kepada-Nya (52:13-15; Filipi 2:1-11). Sang Hamba akan dibenci dan ditolak karena rupa-Nya berbeda dengan harapan orang-orang Yahudi tentang Mesias (53:1-3). Sang Hamba akan menderita dan mati dengan bengisnya demi menanggung kesengsaraan yang seharusnya kita tanggung akibat pelanggaran-pelanggaran kita, yang ditimpakan Allah kepada-Nya (ay.4-6).
Pernahkah kamu merasakan kasih Allah yang rela berkorban? Pernahkah kamu melihat Dia mengubah kehidupan yang hancur oleh keajaiban kasih karunia-Nya?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan Yesus kepadaku, yang turun ke dalam hatiku dan menjawab kebutuhan rohaniku hari ini.

Saturday, February 22, 2020

Janji Kuno

Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.—Bilangan 6:24
Janji Kuno
Pada tahun 1979, Dr. Gabriel Barkay dan timnya menemukan dua gulungan naskah berbahan perak di pekuburan di luar Kota Tua Yerusalem. Setelah diteliti secara saksama selama dua puluh lima tahun, pada tahun 2004 para ilmuwan mengonfirmasi bahwa kedua gulungan tersebut adalah naskah Alkitab tertua yang pernah ditemukan, yang terkubur sejak tahun 600 SM. Bagi saya, yang paling menyentuh adalah isi gulungan tersebut, yakni berkat imamat yang dikehendaki Allah untuk disampaikan kepada umat-Nya: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil. 6:24-26).
Dengan memberikan doa berkat itu, Allah menunjukkan kepada Harun dan anak-anaknya (melalui Musa) cara untuk memberkati umat dalam nama-Nya. Para pemimpin diharuskan menghafal kata-kata tersebut dalam bentuk yang diberikan Allah supaya mereka dapat mengucapkannya sesuai keinginan Allah. Perhatikan kata-kata tersebut menekankan bahwa Allah merupakan Pribadi yang memberkati, karena kata “Tuhan” disebut tiga kali. Allah menyebut “engkau” dan “-mu” sebanyak enam kali, dan ini menunjukkan betapa Allah menginginkan umat-Nya menerima kasih dan kebaikan-Nya.
Renungkanlah bahwa fragmen Alkitab tertua yang pernah ditemukan mengungkapkan kerinduan Allah untuk memberkati umat-Nya. Kita diingatkan pada kasih Allah yang tak terbatas dan kerinduan-Nya untuk bersekutu dengan kita. Jika kamu merasa jauh dari Allah, peganglah erat-erat janji yang terkandung dalam kata-kata kuno tersebut. Kiranya Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.—Amy Boucher Pye
WAWASAN
Berkat imamat dalam Bilangan 6 muncul kembali dalam Mazmur 67. Ucapan ini dimulai dengan permohonan berkat Allah: “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.” Kata memberkati tiga kali digunakan (ay.2,7,8). Seperti dalam Bilangan 6, kata yang diterjemahkan sebagai “memberkati” adalah kata Ibrani barak. Menurut Theological Wordbook of the Old Testament, “Memberkati dalam Perjanjian Lama berarti ‘mendoakan kesuksesan, kemakmuran, kesuburan, umur panjang, dll.’”
Mengapa tercetus permohonan itu dalam Mazmur 67:2? Ini bukan hanya untuk memberkati umat Israel, tetapi juga agar melalui mereka Allah dikenal oleh bangsa-bangsa: “supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa” (ay.3).—Arthur Jackson
Bagi kamu, apa artinya Allah rindu memberkatimu? Bagaimana kamu dapat membagikan kasih-Nya kepada orang lain?
Allah Bapa, aku bersyukur atas banyaknya berkat yang Engkau berikan kepadaku. Tolonglah aku menyadari hal-hal dari-Mu yang memberiku sukacita dan damai sejahtera, supaya aku dapat memuliakan Engkau.

Friday, February 21, 2020

Tempat Bernaung

Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu.—Efesus 3:17
Tempat Bernaung
Beberapa tahun setelah kematian tragis pasangan pertama mereka masing-masing, Robbie dan Sabrina jatuh cinta, menikah, dan menyatukan kedua keluarga mereka. Mereka membangun rumah baru yang diberi nama Havilah (dari bahasa Ibrani yang berarti “menggeliat kesakitan” dan “membawa keluar”). Kata itu melambangkan suatu keindahan yang dihasilkan dari proses yang menyakitkan. Pasangan ini berkata bahwa rumah itu tidak dibangun untuk melupakan masa lalu, melainkan untuk “membangun kembali hidup dari puing-puing reruntuhan, untuk merayakan pengharapan.” Bagi mereka, rumah itu menjadi “tempat bernaung, tempat mensyukuri kehidupan, dan tempat berpegang pada pengharapan akan masa depan.”
Sungguh suatu gambaran yang indah akan kehidupan kita di dalam Yesus Kristus. Dia mengangkat hidup kita dari puing-puing kehancuran dan menjadikan diri-Nya tempat pernaungan kita. Ketika kita menerima-Nya, Kristus pun diam di dalam hati kita (ay.17). Allah mengangkat kita menjadi anak dalam keluarga-Nya melalui Yesus sehingga kita juga menjadi milik kepunyaan-Nya (1:5-6). Walaupun kita akan mengalami masa-masa sulit, Dia dapat memakai hal-hal tersebut untuk membawa kebaikan dalam kehidupan kita.
Setiap hari, kita memiliki kesempatan untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan Allah sembari kita menikmati kasih-Nya dan mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan-Nya dalam hidup kita. Di dalam Dia, ada kepenuhan hidup yang takkan kita peroleh tanpa Dia (3:19). Kita pun memiliki janji bahwa hubungan ini bersifat abadi. Yesus adalah tempat kita bernaung, alasan kita mensyukuri hidup, dan pengharapan kita dari kini sampai selama-lamanya.—Anne Cetas
WAWASAN
Karena Paulus sendiri yang membawa orang-orang percaya di Efesus kepada iman yang benar (Kisah Para Rasul 19:1-10), ia menganggap mereka anak-anak rohaninya dan dengan teguh berkomitmen untuk rajin mendoakan pertumbuhan rohani mereka (lihat Filipi 1:3-6; 2 Tesalonika 1:11-12). Efesus 3:14-21 adalah salah satu dari doa Paulus yang tertulis dalam Perjanjian Baru (lihat juga Filipi 1:9-11; Kolose 1:9-12), dan merupakan doa keduanya di kitab Efesus (lihat juga Efesus 1:15-23). Dalam doa-doa ini, Paulus tidak mendoakan kesejahteraan jasmani mereka, tetapi berfokus pada pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Dalam doa yang pertama, yang menekankan pada pengenalan, Paulus berdoa agar mereka memiliki “Roh hikmat dan wahyu” supaya mereka dapat “mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan [Allah]” (Efesus 1:17-18). Dalam doanya yang kedua (3:14-21), ia berfokus pada kasih dan mendoakan mereka yang telah “berakar serta berdasar di dalam kasih” supaya dapat “memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (ay.17-18).—K. T. Sim
Dalam hal apa saja Yesus telah mengubah hidupmu? Bagi kamu, apa artinya hidupmu menjadi milik kepunyaan Yesus?
Aku bersyukur karena aku miIik-Mu, Tuhan Yesus. Terima kasih atas hidup penuh pengharapan dari kini sampai selama-lamanya.

Thursday, February 20, 2020

Pengalaman Tersulit

Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut.—Kejadian 41:49
Pengalaman Tersulit
Geoff kini melayani sebagai gembala kaum muda di kota tempat ia pernah mengalami kecanduan heroin. Allah telah mengubah hati dan keadaannya dengan cara yang luar biasa. “Aku ingin menolong anak-anak muda agar mereka tidak jatuh pada kesalahan yang sama dan merasakan penderitaan seperti yang kualami,” kata Geoff. “Yesus pasti akan menolong mereka.” Seiring waktu, Allah membebaskannya dari belenggu narkoba dan mempercayakan pelayanan yang penting kepadanya sekalipun masa lalunya suram.
Dengan cara-Nya, Allah sanggup membawa kebaikan yang tak terduga di tengah situasi yang seakan-akan tidak berpengharapan. Yusuf dijual sebagai budak ke Mesir, difitnah hingga masuk penjara, dan mendekam serta dilupakan di sana selama bertahun-tahun. Namun, Allah memulihkan keadaannya dan memberinya jabatan penting, langsung di bawah Firaun, sehingga ia dapat menyelamatkan hidup banyak orang—termasuk hidup saudara-saudaranya yang pernah membuangnya. Di Mesir, Yusuf menikah dan memiliki dua anak. Ia menamai anak keduanya Efraim (dari bahasa Ibrani yang berarti “berbuah dua kali lipat”), dengan alasan ini: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku” (Kej. 41:52).
Kisah Geoff dan Yusuf, meski terpisah jarak waktu tiga atau empat ribu tahun, menunjuk pada satu kebenaran yang tidak pernah berubah: pengalaman-pengalaman tersulit dalam kehidupan kita dapat menjadi lahan subur bagi Allah untuk menolong dan memberkati banyak orang. Kasih dan kuasa Juruselamat kita tidak pernah berubah, dan Dia selalu setia kepada mereka yang percaya kepada-Nya.—James Banks
WAWASAN
Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya pada usia tujuh belas tahun (Kejadian 37:2,27-28) dan kemudian dipenjara dengan tuduhan palsu mencoba tidur dengan istri majikannya (39:1-20). Tiga belas tahun dilewatinya dari menjadi budak hingga menjadi pegawai Firaun (41:46). Allah menyertai Yusuf ketika ia menjadi budak (39:2-6) dan selama ia berada dalam penjara (ay.20-23), lalu Dia memakainya dalam persiapan menghadapi bencana kelaparan. Hal ini memungkinkan Yusuf untuk menyelamatkan keluarganya, umat Allah, dari kelaparan dan membawa mereka ke Mesir (lihat pasal 41–47). Jika tidak dijual ke perbudakan, Yusuf tidak akan mencapai posisi yang memungkinkannya membawa keluarganya ke Mesir untuk menghindari kelaparan. Jika mereka mati, maka Yesus, keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, tidak akan lahir dari keturunan mereka. Pada akhirnya, Allah memakai kehidupan Yusuf untuk menyatakan rencana keselamatan-Nya.—Julie Schwab
Pernahkah kamu menyaksikan bagaimana Allah mendatangkan kebaikan dari kesulitan hidup yang kamu alami? Bagaimana kamu dapat menggunakan kesulitan-kesulitan kamu di masa lalu untuk menguatkan orang lain hari ini?
Bapa yang Mahakuasa, sungguh tiada yang terlalu sulit bagi-Mu! Aku bersyukur atas kesetiaan-Mu yang sempurna, hari ini dan selamanya.

Wednesday, February 19, 2020

Allah Jauh Lebih Besar

Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.—2 Raja-Raja 6:17
Allah Jauh Lebih Besar
Dalam novel The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe karya C. S. Lewis, seluruh Narnia bersukacita ketika akhirnya Aslan, sang singa perkasa, muncul kembali setelah lama menghilang. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi dukacita ketika Aslan menyerah pada tuntutan Si Penyihir Putih yang jahat. Para penghuni Narnia yang harus menghadapi kenyataan bahwa Aslan telah kalah kemudian merasakan kekuatan Aslan ketika ia mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga dan membuat si Penyihir lari ketakutan. Walaupun awalnya terlihat kalah, Aslan akhirnya membuktikan bahwa dirinya lebih besar daripada si penyihir jahat.
Seperti para pengikut Aslan dalam alegori karangan Lewis, bujang Elisa merasa putus asa ketika suatu pagi ia terbangun dan melihat musuh sudah mengepung mereka. “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” serunya (2 Raj. 6:15). Elisa menjawab dengan tenang: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka” (ay.16). Ia kemudian berdoa, “Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat” (ay.17). Jadi, “Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa” (ay.17). Meski awalnya keadaan tampak suram di mata bujang Elisa, kuasa Allah ternyata jauh lebih besar daripada kepungan musuh.
Kesulitan yang kita hadapi saat ini mungkin membuat kita merasa tidak lagi berpengharapan, tetapi Allah ingin membuka mata kita dan menunjukkan bahwa Dia jauh lebih besar dari semuanya.—Remi Oyedele
WAWASAN
Meskipun dua nabi Perjanjian Lama, Elia (yang namanya berarti “Yahweh adalah Allah”) dan Elisa (yang namanya berarti “Allah adalah keselamatan”) memiliki nama dan misi yang mirip—untuk melayani Allah dan umat Israel—mereka adalah dua orang yang berbeda. Karya-karya kenabian mereka dapat dibaca di 1 Raja-Raja 17 sampai 2 Raja-Raja 13. Elia meninggalkan dunia ini dengan cara yang dramatis—dibawa angin badai ke surga (2 Raja-Raja 2:11); Elisa menderita sakit dan mati (13:14).—Arthur Jackson
Kesulitan apa yang sedang kamu hadapi? Pernahkah kamu mengalami bahwa Allah jauh lebih besar daripada kejahatan atau kesukaran apa pun yang kamu alami?
Ya Allah, terima kasih atas kesetiaan-Mu.

Tuesday, February 18, 2020

Tak Terbayangkan

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.—Mazmur 23:4
Tak Terbayangkan
Bart Millard adalah pencipta “I Can Only Imagine” (Tak Terbayangkan), lagu rohani yang populer pada tahun 2001. Lagu tersebut menggambarkan betapa menakjubkannya berada di hadirat Kristus di surga kelak. Lirik lagunya menghibur kami sekeluarga ketika setahun kemudian putri kami, Melissa, yang berusia tujuh belas tahun, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kami pun membayangkan bagaimana perasaan Melissa saat berada di hadirat Allah.
Namun, makna “tak terbayangkan” itu terasa berbeda bagi saya beberapa hari setelah kepergian Mell. Ketika ayah teman-teman Mell mengungkapkan keprihatinan mereka yang mendalam, mereka biasa berkata, “Tak terbayangkan bagaimana rasanya mengalami apa yang kaualami.” Ungkapan mereka sangat menghibur saya dan menunjukkan bahwa mereka bergumul dengan kehilangan kami dengan penuh empati—mengakui bahwa peristiwa itu sungguh “tidak terbayangkan.”
Daud menunjukkan rasa kehilangan yang teramat besar ketika ia menggambarkan dirinya berjalan dalam “lembah kekelaman” (Mzm. 23:4). Kematian orang terkasih sudah pasti menjadi salah satu pengalaman kelam itu, dan terkadang kita tidak tahu bagaimana berjalan di tengah kekelaman. Tak terbayangkan kapan kekelaman itu akan berakhir.
Namun, seperti halnya Allah berjanji menyertai kita dalam lembah kekelaman, Dia juga memberikan pengharapan besar untuk masa depan dengan meneguhkan bahwa di balik lembah itu, kita akan tiba di hadirat-Nya. Bagi orang percaya, “beralih dari tubuh ini” berarti berada bersama dengan-Nya (2 Kor. 5:8). Hal itu dapat menolong kita menjalani apa yang tak terbayangkan sambil membayangkan perjumpaan kita dengan-Nya dan orang-orang yang kita kasihi kelak.—Dave Branon
WAWASAN
Daud bukanlah yang pertama memakai metafora gembala dan domba. Ratusan tahun sebelumnya, Yakub menyebut Allah sebagai gembalanya (Kejadian 48:15). Kemudian, para nabi pun menggunakan metafora ini (Yesaya 40:11; Yehezkiel 34:12,31).
Tak diragukan lagi, Mazmur 23 merupakan mazmur yang paling terkenal. Lazimnya kita memandang mazmur itu sebagai gambaran tentang Tuhan sebagai Gembala kita yang membawa ketenangan dan keyakinan batin. Namun dalam kebudayaan Timur Dekat kuno, metafora gembala juga digunakan untuk menggambarkan Gembala-Raja yang menyediakan segala kebutuhan (ay.1-3) dan melindungi umat-Nya (ay.4-6). Mazmur-mazmur lain juga menyatakan Allah sebagai gembala yang memimpin umat-Nya (28:9; 78:52-53; 79:13; 80:1; 95:7; 100:3).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai Gembala yang Baik (Yohanes 10:11) dan Gembala Agung (Ibrani 13:20; 1 Petrus 5:4).—K. T. Sim
Ucapan apa yang paling baik kamu sampaikan kepada teman yang kehilangan orang terkasih? Bagaimana kamu dapat menyiapkan diri untuk momen tersebut?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menyertai kami bahkan di dalam lembah terkelam sambil kami terus membayangkan kemuliaan surgawi.

Monday, February 17, 2020

Senantiasa Menyertai

Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.—Matius 28:20
Senantiasa Menyertai
Pada perhelatan Piala Dunia 2018, penyerang tim nasional Kolombia Radamel Falcao membobol gawang Polandia pada menit ke-17—sebuah gol yang menentukan kemenangan mereka. Gol ketiga puluh Falcao di kancah internasional itu membuatnya tercatat sebagai pemain Kolombia yang paling banyak mencetak gol dalam penampilan bersama tim nasional.
Falcao kerap memakai keberhasilannya di atas lapangan hijau untuk menunjukkan imannya. Sering kali, setelah berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan, ia mengangkat seragam timnya untuk menunjukkan kaos dalamnya yang bertuliskan, “Con Jesus nunca estara solo” yang artinya: “Bersama Yesus kau takkan pernah sendirian.”
Pernyataan Falcao itu mengingatkan kita pada janji peneguhan dari Yesus, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Karena tahu Dia akan segera kembali ke surga, Yesus menghibur murid-murid-Nya dengan meyakinkan mereka bahwa Dia akan selalu menyertai mereka melalui kehadiran Roh-Nya (ay.20; Yoh. 14:16-18). Roh Kristus akan menghibur, menuntun, melindungi, dan menguatkan mereka ketika mereka memberitakan kabar tentang Yesus ke berbagai tempat yang jauh maupun dekat. Apabila kemudian mereka mengalami masa-masa yang sangat sunyi di tempat-tempat asing, perkataan Kristus tadi tentu terngiang kembali di telinga mereka, sebagai pengingat atas kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka.
Ke mana pun kita melangkah untuk mengikuti Yesus menapaki masa depan yang tidak kita ketahui, kita juga dapat berpegang pada janji tersebut. Bahkan ketika kita merasa kesepian, lalu berdoa kepada Tuhan Yesus, kita dapat terhibur dengan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita.—Lisa M. Samra
WAWASAN
Peristiwa yang terjadi dalam pasal terakhir kitab Matius ini berlangsung tidak lama setelah kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus. Menjelang menyingsingnya fajar “Maria Magdalena dan Maria yang lain” pergi untuk “menengok kubur [Yesus]” (Matius 28:1). Maria Magdalena adalah perempuan dari Magdala yang disembuhkan dari tujuh roh jahat dan merupakan salah satu wanita yang membantu mendukung Yesus dan murid-murid-Nya (Lukas 8:1-3). Namun, siapakah “Maria yang lain” itu? Banyak yang percaya bahwa ia adalah “Maria istri Klopas” (Yohanes 19:25). Yang lain mengatakan bahwa ia adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf (Matius 27:56; Markus 15:40; Lukas 24:10). Dan yang lain lagi mengatakan bahwa ia adalah istri Klopas dan ibu dari Yakobus dan Yusuf. Namun, terlepas dari siapa pun wanita itu sebenarnya, ia dan Maria Magdalena mengira akan melihat kubur yang tertutup, tetapi mereka malah bertemu dengan Kristus yang telah bangkit (Matius 28:1-9).—Alyson Kieda
Bagaimana kepastian bahwa Yesus selalu menyertaimu membuatmu terhibur? Bagaimana Dia telah menghiburmu ketika kamu merasa kesepian?
Tuhan Yesus, terima kasih aku tidak pernah sendirian karena Engkau selalu menyertaiku.

Sunday, February 16, 2020

Berbeda Pendapat dengan Kasih

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.—Efesus 4:2
Berbeda Pendapat dengan Kasih
Ketika perdebatan sengit pecah menyusul diberlakukannya suatu undang-undang yang kontroversial di Singapura, umat Tuhan pun terbelah dua. Pihak yang satu menyebut pihak lawannya “berpikiran sempit” atau sebaliknya, mengkompromikan iman.
Kontroversi dapat menyebabkan perpecahan tajam dalam keluarga Allah, menyebabkan sakit hati, dan membuat banyak orang kecewa. Saya pernah merasa direndahkan karena cara saya menerapkan ajaran Alkitab yang saya yakini. Saya pun juga pernah bersalah karena mengkritik orang lain yang tidak sependapat dengan saya.
Saya bertanya-tanya apakah mungkin sumber masalahnya bukan terletak pada pandangan kita atau cara kita mengungkapkannya, tetapi pada sikap hati kita ketika kita melakukannya. Apakah kita sekadar tidak sependapat atau sebenarnya kita ingin menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan kita?
Meski demikian, adakalanya kita perlu meluruskan pengajaran palsu atau menjelaskan posisi kita. Efesus 4:2-6 mengingatkan kita untuk melakukannya dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, dan penuh kasih. Lalu, di atas semuanya itu, kita perlu berusaha sekuat tenaga untuk “memelihara kesatuan Roh” (Ef. 4:3).
Tidak semua kontroversi akan tuntas. Namun, firman Allah mengingatkan bahwa tujuan kita haruslah untuk membangun iman, bukan menjatuhkan mereka (ay.29). Apakah kita menjatuhkan orang lain demi menang berdebat? Ataukah kita mengizinkan Allah menolong kita memahami kebenaran-Nya pada waktu dan cara-Nya, mengingat kita semua mempunyai satu iman kepada satu Tuhan? (ay.4-6).—Leslie Koh
WAWASAN
Ketika Paulus mendorong para pembacanya untuk menjadi lemah lembut dan sabar satu sama lain, ia sedang menggambarkan kekuatan yang sesungguhnya. Sebelumnya, di surat yang sama, ia berkali-kali memanjatkan doa agar para pembacanya dapat mengerti kuasa Allah yang menguatkan batin mereka dengan kasih Kristus (Efesus 1:19; 3:16-18). Ia berdoa supaya mereka diberikan kuasa untuk mengerti hati Allah, yang ingin melakukan bagi mereka jauh lebih banyak daripada yang mereka doakan atau pikirkan (3:20).
Sebelum pertobatannya, rasanya Paulus tidak akan menulis hal semacam ini. Sebelum bertemu Kristus di jalan ke Damaskus, ia rela melakukan apa saja untuk menganiaya dan meneror orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Namun, yang menulis itu adalah Paulus yang telah diubahkan secara dramatis, yang menunjukkan bahwa kekuatan yang sesungguhnya terletak pada kerendahan hati, kesabaran, dan kebaikan yang justru menghasilkan segala hal terbaik dalam diri kita dan bukannya yang terburuk.—Mart DeHaan
Bagaimana kamu dapat menjelaskan posisimu tentang isu-isu sensitif dengan rendah hati, lemah lembut, dan penuh kasih? Apa yang akan kamu doakan bagi mereka yang tidak sependapat denganmu?
Ya Allah, tuntunlah aku agar aku menyampaikan kebenaran dengan kasih dalam tujuan untuk membangun, bukan menjatuhkan, sesama kami.

Saturday, February 15, 2020

Tikus yang Mengaum

Roh yang ada di dalam [kita], lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.—1 Yohanes 4:4
Tikus yang Mengaum
Beberapa tahun lalu, saya berkemah bersama anak-anak lelaki saya selama beberapa hari di kawasan hutan Selway-Bitterroot di Idaho Utara, AS. Daerah ini merupakan habitat beruang cokelat, tetapi kami membawa semprotan pengusir beruang dan menjaga area perkemahan kami bersih, sehingga merasa cukup aman dari kemungkinan didatangi oleh beruang.
Suatu malam, saya mendengar Randy berusaha keluar dari kantong tidurnya. Saya buru-buru meraih dan menyalakan senter, sambil mengira akan melihat Randy dalam cengkeraman seekor beruang buas.
Namun, yang saya lihat adalah seekor tikus sawah berukuran sekitar 10 sentimeter duduk bertumpu dengan dua kaki belakang dan melambai-lambaikan kedua kaki depannya di udara. Tikus itu sedang menggondol topi milik Randy dengan giginya. Rupanya makhluk kecil itu menarik-narik topi Randy sampai terlepas dari kepalanya. Ketika saya tertawa, si tikus langsung menjatuhkan topi itu dan kabur. Kami merangkak kembali ke dalam kantong tidur masing-masing. Namun, karena terbangun mendadak, saya sulit tidur lagi dan justru berpikir tentang pemangsa yang lain—yaitu si Iblis.
Pikirkanlah godaan Iblis terhadap Yesus (Mat. 4:1-11). Yesus melawan bujuk rayu Iblis dengan ayat-ayat dari Kitab Suci. Setiap jawaban Yesus mengingatkan diri-Nya sendiri bahwa Allah telah berfirman tentang masalah yang dikemukakan Iblis dan karena itu Dia akan tetap taat. Itulah yang menyebabkan Iblis lari.
Meskipun Iblis ingin menerkam kita, ingatlah bahwa ia adalah makhluk ciptaan, sama seperti si tikus kecil. Yohanes berkata, “Roh yang ada di dalam [kita], lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1Yoh. 4:4).—David H. Roper
WAWASAN
Sejumlah pakar Alkitab percaya bahwa Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-19 menceritakan bagaimana Lucifer menjadi Iblis (berarti “musuh”) dan dibuang dari surga karena pemberontakannya terhadap Allah dan keinginannya untuk menjadi Allah. Menyinggung hal ini, Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18). Iblis disebut “penguasa dunia ini” sebanyak tiga kali (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Dalam pencobaan Yesus yang ketiga, Iblis—menyatakan bahwa dirinya menguasai dunia—menawarkan kepada Yesus “semua kerajaan dunia” jika Dia menyembahnya (Matius 4:8-10). Meskipun ia kuat, Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan (Kejadian 3:15; Yohanes 12:31; 16:11; Kolose 2:15; Ibrani 2:14; 1 Yohanes 3:8; Wahyu 20:7-10), dan tidak memiliki kekuatan selain yang diizinkan oleh Allah (Ayub 1:12; 2:6; Lukas 22:31-32).—K. T. Sim
Hal apa saja yang paling menggodamu? Apa yang Allah katakan tentang hal-hal tersebut dan bagaimana kamu dapat memakai firman-Nya saat kamu dicobai?
Ya Allah, aku bersyukur Engkau lebih besar dan kuat daripada godaan apa pun yang mendatangiku. Tunjukkanlah kepadaku jalan keluarnya.

Friday, February 14, 2020

Ketika Hidup Terasa Berat

Aku berkata kepada Tuhan: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”—Mazmur 16:2
Ketika Hidup Terasa Berat
Karena lelah fisik, mental, dan emosional, saya memilih meringkuk di kursi malas. Kami sekeluarga telah mengikuti pimpinan Tuhan dan pindah dari California ke Wisconsin. Setibanya kami di sana, mobil kami rusak sehingga kami tidak punya kendaraan selama dua bulan. Sementara itu, mobilitas suami saya yang terbatas setelah menjalani operasi punggung dan sakit kronis yang saya derita ternyata menyulitkan kami membongkar kembali barang-barang pindahan. Kami pun menemukan masalah pada rumah kuno yang akan kami tempati, yang memakan biaya cukup tinggi. Anjing kami yang sudah tua juga memiliki masalah kesehatan. Meskipun anak anjing kami yang baru membawa kegembiraan yang sangat besar, tetapi membesarkan anak anjing yang sedang lincah-lincahnya tidaklah semudah yang kami bayangkan. Saya mulai mengeluh. Bagaimana saya bisa memiliki iman yang tak tergoyahkan, sementara jalan yang harus saya lewati begitu sulit, terjal, dan berliku?
Ketika saya berdoa, Allah mengingatkan saya kepada pemazmur yang dapat memuji Allah tanpa tergantung pada keadaannya. Daud mencurahkan segenap perasaannya dengan sangat terbuka dan mencari perlindungan dalam hadirat Allah (Mzm. 16:1). Dengan mengakui Allah sebagai pemelihara dan pelindung (ay.5-6), ia memuji-Nya dan mengikuti nasihat-Nya (ay.7). Daud menegaskan bahwa ia “tidak goyah” karena ia “senantiasa memandang kepada Tuhan” (ay.8). Jiwanya bersorak-sorak dan ia pun diam dengan tenteram dalam hadirat Allah (ay.9-11).
Kita juga bisa bersukacita dengan menyadari bahwa damai sejahtera kita tidaklah tergantung pada keadaan yang ada. Ketika kita mengucap syukur kepada Allah kita yang tidak pernah berubah, hadirat-Nya akan semakin meneguhkan iman kita.—Xochitl Dixon
WAWASAN
Beberapa mazmur Daud memiliki dua tingkatan. Yang pertama ditulis berdasarkan pengalaman emosional Daud sendiri, yang baik maupun buruk. Dan yang kedua, berbicara tentang Anak Daud yang paling unggul (Yesus) dan apa yang akan Dia alami di bumi dalam inkarnasi-Nya. Ini terlihat dengan jelas di Mazmur 22, ketika pengalaman penderitaan dan penganiayaan Daud dengan sempurna menggambarkan penyaliban Kristus kelak—Daud bahkan mengatakan bahwa lawan-lawannya menusuk tangan dan kakinya (ay.17).
Hal serupa muncul dalam Mazmur 16:8-11, yang dikutip oleh Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:25-28 sebagai bagian dari khotbahnya di hari Pentakosta. Petrus mengatakan bahwa kata-kata Daud merujuk kepada kebangkitan Yesus. Ini adalah gambaran yang mengagumkan dari inspirasi ilahi dalam Alkitab. Meski Daud tidak dapat mengetahui implikasi kata-katanya di masa depan, tetapi kita yang melihat ke belakang dapat mengetahuinya dengan jelas.—Bill Crowder
Bagaimana perbuatan mengucap syukur kepada Allah atas karakter-Nya yang tidak berubah dan keajaiban karya-Nya dapat menguatkan imanmu dalam situasi sulit? Keadaan apa yang perlu kamu serahkan dalam tangan Allah yang layak dipercaya?
Terima kasih, Bapa, karena Engkau sudah menjadi Allah bagi kami!

Thursday, February 13, 2020

Dibebaskan dari Kurungan

[Allah] membawa aku ke luar ke tempat lapang. —Mazmur 18:20
Dibebaskan dari Kurungan
Saat sedang berjalan-jalan santai, penulis Martin Laird sering bertemu dengan seorang pria yang membawa empat ekor anjing Kerry Blue Terrier. Tiga anjingnya berlari-lari liar di padang terbuka, tetapi yang seekor lagi tidak pernah jauh-jauh dari pemiliknya dan hanya berputar-putar saja. Ketika Laird bertanya tentang perilaku janggal tersebut, pemiliknya menjelaskan bahwa anjing yang satu itu adalah anjing yang diadopsi dari penampungan, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terkurung dalam kandang. Setelah bebas, anjing Terrier itu tetap berjalan berputar-putar, seolah-olah masih berada dalam kandang yang tertutup.
Kitab Suci mengungkapkan bahwa kita juga terkungkung dan tidak berpengharapan sama sekali sebelum Allah menyelamatkan kita. Pemazmur berbicara tentang keadaannya dalam cengkeraman musuh, dijerat oleh “tali-tali maut” dan “tali-tali dunia orang mati telah membelit” dirinya (Mzm. 18:5-6). Dalam kesesakan dan belenggu, ia berseru kepada Allah agar menolongnya (ay.7). Lalu, dengan kekuatan-Nya yang dashyat, Allah “menjangkau dari tempat tinggi, mengambil” dirinya (ay.17).
Allah dapat melakukan hal yang sama untuk kita. Dia dapat mematahkan belenggu dan membebaskan kita dari kurungan yang mengungkung kita. Dia dapat melepaskan kita dan membawa kita “ke tempat lapang” (ay.20). Karena itu, betapa menyedihkannya apabila kita terus berputar-putar, seolah-olah masih terkungkung dalam kurungan yang telah kita tinggalkan. Dengan kekuatan-Nya, kiranya kita tidak lagi terikat oleh rasa takut, malu, atau tertindas. Allah telah menyelamatkan kita dari segala jerat kematian. Sekarang kita bisa berlari dengan bebas.—Winn Collier
WAWASAN
Puisi adalah gaya penulisan yang mengungkapkan banyak hal dengan sedikit kata. Para pujangga yang menulis sebagian besar Perjanjian Lama berbicara bahasa Ibrani. Puisi Ibrani sedikit berbeda dengan puisi yang ditulis dengan bahasa-bahasa modern, jadi kita perlu mempertanyakan bagaimana peran puisi dalam kebudayaan Timur Dekat.
Mungkin kita akrab dengan puisi yang memiliki rima dan irama. Namun, puisi Ibrani tidak menggunakan keduanya. Kita belajar membacanya ketika kita memahami gaya penulisan yang digunakan oleh para pujangga pada zaman dahulu, terutama paralelisme, perumpamaan, dan akrostik.
Paralelisme digunakan di sepanjang Mazmur 18. Yang dimaksud dengan paralelisme adalah efek penggemaan dalam sebuah baris atau ayat puisi dengan penggunaan kontras atau pengulangan. Paralelisme mungkin merupakan gaya penulisan puisi yang paling penting karena sangat sering digunakan dalam puisi Ibrani.—Tremper Longman
Kurungan apa yang selama ini mengungkung kamu? Pernahkah kamu hidup seolah-olah masih berada dalam kurungan yang mengungkung dan membatasimu?
Ya Allah, Engkau berkata bahwa Engkau membebaskan tawanan. Tolonglah aku untuk mempercayainya. Tolonglah aku untuk menghayatinya. Aku ingin bebas dan berada di tempat lapang-Mu.

Wednesday, February 12, 2020

Keajaiban Salju Putih

Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.—Yesaya 1:18
Keajaiban Salju Putih
Pada abad ke-17, Sir Isaac Newton menggunakan sebuah prisma untuk mempelajari bagaimana cahaya membantu kita melihat bermacam-macam warna. Ia menemukan bahwa ketika cahaya melewati suatu objek, objek itu terlihat seperti memiliki warna tertentu. Sebutir kristal es terlihat tembus cahaya, dan salju terbentuk dari banyak kristal es yang melebur menjadi satu. Ketika cahaya melewati kristal-kristal yang menyatu itu, salju pun terlihat berwarna putih.
Alkitab menunjukkan hal lain yang juga memiliki warna tertentu—dosa. Melalui Nabi Yesaya, Allah menunjukkan dosa-dosa bangsa Yehuda dan menggambarkan dosa mereka seperti “merah seperti kirmizi” dan “merah seperti kain kesumba.” Namun, Allah berjanji dosa mereka akan “menjadi putih seperti salju” (Yes. 1:18). Bagaimana caranya? Yehuda perlu berbalik dari semua kejahatan mereka dan meminta pengampunan dari Allah.
Berkat pengorbanan Tuhan Yesus, kini kita memperoleh jaminan pengampunan Allah. Yesus menyebut diri-Nya “terang dunia” dan berkata bahwa siapa saja yang mengikut Dia “tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan . . . akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Ketika kita mengakui dosa kita, Allah mengampuni kita dan memandang kita melalui terang pengorbanan Kristus di kayu salib. Itu artinya Allah melihat kita sebagaimana Dia melihat Yesus—yakni tidak bercela.
Kita tidak perlu berkubang dalam kesalahan dan rasa malu karena kesalahan yang telah kita perbuat. Sebaliknya, kita dapat berpegang pada kebenaran tentang pengampunan dari Allah yang membuat kita “putih seperti salju.”—Linda Washington
WAWASAN
Gambaran yang ada dalam Yesaya 1:15-20 menjadi saksi dari hikmat Alkitab yang bisa diterima secara universal. Yesaya menggunakan dua analogi, yaitu salju dan bulu domba, untuk memberikan gambaran tentang kesempurnaan dan kebersihan hati (1:18). Salju yang baru turun mengubah musim dingin yang suram dengan selimut putihnya yang indah, tetapi pembaca yang belum pernah merasakan musim dingin tidak dapat sepenuhnya memahami pengalaman tersebut. Namun, kemungkinan besar mereka tahu tentang keindahan bulu putih domba yang baru dicukur. Dengan cara ini, Yesaya menyampaikan dengan jelas kepada semua orang di dunia bahwa dosa-dosa kita, meskipun merah seperti darah di tangan seorang pembunuh (ay.15), dapat dicuci bersih. Meskipun Yesaya bernubuat kepada orang Yehuda secara spesifik, pembersihan jiwa total yang digambarkan di sini berlaku untuk semua orang dan membutuhkan darah Yesus, Anak Domba yang dikorbankan.—Tim Gustafson
Apa artinya diampuni sepenuhnya? Apa yang membantu kamu mengingat bahwa Allah sudah mengampunimu?
Bapa Surgawi, terima kasih atas pengampunan yang Engkau berikan secara cuma-cuma.

Tuesday, February 11, 2020

Tetangga Dekat

Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.—Amsal 27:10
Tetangga Dekat
Seperti juga banyak tempat lain, lingkungan kediaman kami menggunakan situs web untuk membantu warga terhubung langsung dengan satu sama lain. Warga lingkungan kami saling memperingatkan manakala ada penampakan singa gunung yang berkeliaran, membagikan perintah evakuasi karena kebakaran hutan, atau menawarkan bantuan menjaga anak bila dibutuhkan. Situs web tersebut bahkan terbukti berguna untuk mencari hewan peliharaan yang hilang. Warga yang tinggal berdekatan satu sama lain dapat memanfaatkan kecanggihan internet untuk kembali terhubung dengan cara-cara yang sering kali terlalaikan di tengah arus dunia yang begitu cepat dewasa ini.
Berhubungan baik dengan orang-orang yang tinggal berdekatan juga dirasa penting pada zaman dahulu ketika Raja Salomo berkuasa. Meski hubungan keluarga sangat penting dan dapat menjadi sumber dukungan yang besar, Salomo menunjukkan bahwa peran seorang teman sangatlah penting—terutama “dalam kesukaran” (Ams. 27:10 BIS). Kerabat mungkin sangat peduli kepada anggota keluarganya dan berkeinginan membantu dalam hal tersebut. Namun, jika mereka tinggal berjauhan, tidak banyak yang bisa mereka lakukan ketika masalah terjadi. Sementara itu, karena tinggal berdekatan, tetangga bisa lebih cepat mengetahui kebutuhan yang mendesak itu dan lebih sigap membantu.
Karena teknologi telah memudahkan kita untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang kita cintai di mana pun mereka berada, kita mungkin terancam mengabaikan orang-orang yang tinggal di dekat kita. Ya Tuhanku, tolonglah kami untuk membina hubungan dengan orang-orang yang Engkau tempatkan di sekeliling kami!—Kirsten Holmberg
WAWASAN
Kitab Amsal terdiri dari dua bagian utama. Setelah pembukaan yang memperkenalkan kitab tersebut (1:1-7), sembilan pasal pertama mengandung wejangan. Isinya ajaran seorang ayah kepada anak lelakinya. Bagian kedua dari Amsal (pasal 10–31) mengandung amsal-amsal yang sesungguhnya. Amsal adalah observasi, dorongan, atau larangan singkat yang sering kali terlihat sebagai saran yang sederhana dan praktis. Keliru jika kita membaca amsal-amsal ini secara terpisah tanpa mempertimbangkan tema dari seluruh kitab tersebut—hubungan antara hikmat dan relasi dengan Allah—karena hanya kehidupan yang dikuatkan atau dipimpin Roh Kuduslah yang dapat menghidupi hikmat itu secara konsisten.
Siapa yang pernah menolongmu di saat kamu sangat membutuhkan pertolongan? Bagaimana kamu bisa hadir bagi orang-orang yang tinggal di dekatmu?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau memberikan kami tetangga-tetangga agar kami mempedulikan satu sama lain.

Monday, February 10, 2020

Ikut Merasakan

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!—Roma 12:15
Ikut Merasakan
Di tahun 1994, hanya dalam kurun waktu dua bulan, sebanyak satu juta orang Tutsi dibantai di Rwanda oleh suku Hutu yang begitu bernafsu menghabisi saudara-saudara sebangsanya itu. Usai terjadinya genosida yang mengerikan ini, Uskup Geoffrey Rwubusisi meminta istrinya Mary untuk melayani para wanita yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Jawab Mary, “Aku hanya ingin menangis.” Mary sendiri juga kehilangan banyak anggota keluarganya. Layaknya pemimpin yang bijaksana dan suami yang peduli, sang uskup menanggapi dengan berkata: “Mary, kumpulkan wanita-wanita itu dan menangislah bersama mereka.” Ia tahu kepedihan yang dialami istrinya telah menyiapkannya untuk mampu merasakan kepedihan yang dialami orang lain.
Sebagai keluarga Allah, gereja menjadi tempat bagi kita untuk membagikan seluruh hidup kita—yang baik maupun yang kurang baik. Kata “saling” dalam Perjanjian Baru sering kali digunakan untuk menjelaskan ketergantungan kita satu terhadap yang lain. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. . . . Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama” (Rm. 12:10,16). Jangkauan keterhubungan kita diungkapkan di ayat 15: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
Mungkin apa yang kita alami belum seberapa dibandingkan dengan para korban genosida, tetapi kepedihan kita juga terasa nyata dan menyakitkan. Seperti yang dialami Mary, oleh karena apa yang telah Allah kerjakan bagi kita, kita dapat menerima kepedihan itu dan berbagi penghiburan kepada orang lain demi kebaikan mereka.—Arthur Jackson
WAWASAN
Kebanyakan surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja yang dirintis olehnya dan timnya, tetapi Roma (seperti Kolose) merupakan pengecualian. Jadi bagaimana gereja Roma dirintis? Salah satu teori mengatakan bahwa gereja tersebut mulai terbentuk pada hari Pentakosta—hari terbentuknya gereja. Pada hari itu, ketika para murid Yesus yang kurang berpendidikan mulai berkata-kata dalam bahasa yang sebelumnya tidak mereka pelajari, Lukas mencatat asal tempat dari orang-orang yang telah berkumpul untuk ikut serta dalam perayaan di Yerusalem. Di antara mereka adalah “pendatang-pendatang dari Roma” (Kisah Para Rasul 2:10). Teorinya adalah bahwa para pendengar itu membawa pesan Inji kembali ke kampung halaman mereka dan mulai menginjil di kota tersebut—kota terkuat di dunia pada waktu itu. Hal ini menghasilkan pendirian gereja di Roma yang menerima surat Paulus yang paling kental nuansa teologinya, yaitu kitab Roma.—Bill Crowder
Pernahkah kamu mengizinkan orang lain ikut merasakan kepedihanmu? Bagaimana tubuh Kristus—gereja—membantumu mengatasi masa-masa sulit dalam hidup ini?
Allah yang Pemurah, ampunilah keenggananku untuk turut merasakan penderitaan orang lain. Tolonglah aku untuk hidup lebih sungguh sebagai anggota gereja-Mu yang terhubung dengan jemaat lainnya.

Sunday, February 9, 2020

Kita Ini Debu

Dia ingat, bahwa kita ini debu.—Mazmur 103:14
Kita Ini Debu
Seorang ayah muda terlihat mulai kehilangan kesabarannya. “Es krim! Es krim!” jerit anak balitanya. Kegaduhan di tengah mal yang ramai itu mulai menarik perhatian pengunjung lain di sekitarnya. “Ya nanti, kita cari keperluan Mama dulu ya, oke?” bujuk sang ayah. “Tidaaaak! Es krim!” Kemudian seseorang menghampiri mereka: wanita bertubuh mungil, berpakaian bagus dengan sepatu yang serasi dengan tas tangannya. “Ia sedang meluapkan emosi,” si ayah menjelaskan. Wanita itu tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya, emosilah yang menguasai anakmu. Jangan lupa, ia masih kecil. Yang ia butuhkan adalah kamu tetap sabar dan berada di dekatnya.” Situasi tersebut tidak serta-merta berhasil diatasi, tetapi kehadiran wanita itu menjadi semacam jeda yang dibutuhkan oleh si ayah dan anaknya saat itu.
Perkataan bijak wanita itu menggemakan kata-kata yang tertulis dalam Mazmur 103. Daud menulis tentang Allah kita yang “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay.8). Ia kemudian melanjutkan dengan memberi gambaran tentang ayah duniawi yang “sayang kepada anak-anaknya,” dan bahkan terlebih lagi “Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (ay.13). Allah Bapa kita “tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (ay.14). Dia tahu kita lemah dan rapuh.
Kita sering gagal dan merasa kewalahan menghadapi segala sesuatu yang dilontarkan dunia ini ke arah kita. Namun, alangkah luar biasanya kepastian yang kita pegang, yakni mengenal kasih Bapa kita yang sabar dan selalu hadir dengan berlimpah ruah.—John Blase
WAWASAN
“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mazmur 103:8) merupakan penggambaran Allah seperti yang ditunjukkan kepada Musa di atas Gunung Sinai (Keluaran 34:6-7). Kasih Allah (hesed dalam bahasa Ibrani) dalam kitab Mazmur sering kali dipasangkan dengan kata kesetiaan (lihat Mamzur 100:5), tetapi Mazmur 103 menghubungkan kasih Allah dengan rasa sayang (ay.8,13). Pemazmur menegaskan bahwa murka Allah bukanlah murka yang penuh dendam, tetapi berhubungan dengan keinginan-Nya agar umat manusia memperoleh pengampunan, kesembuhan, sukacita, dan kepuasan di dalam Dia (ay.3-5).—Monica Brands
Pernahkah kamu merasa jengkel seperti anak kecil dalam cerita di atas? Bagaimana Allah Bapa merespons sikapmu saat itu?
Ya Allah, terima kasih Engkau sudah menjadi Bapa kami yang sabar dan selalu hadir, yang mengingat siapa diri kami di hadapan-Mu.

Saturday, February 8, 2020

Sebarkan Kemasyhuran-Nya

Kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi.—Mazmur 48:11
Sebarkan Kemasyhuran-Nya
Biasanya kita dapat mengetahui dari mana sebuah peta digambar dengan melihat apa yang terletak di tengah-tengah peta tersebut. Kita cenderung berpikir bahwa rumah kita adalah pusat segalanya, maka kita meletakkan titik di tengah dan mulai membuat sketsanya dari titik itu. Kota-kota yang terdekat mungkin berjarak delapan puluh kilometer ke utara atau setengah hari perjalanan ke arah selatan, tetapi semua itu dijelaskan dalam hubungannya dengan lokasi kita. Kitab Mazmur juga menggambar “peta” mereka dari tempat kediaman Allah di bumi dalam Perjanjian Lama, sehingga pusat geografis dalam Alkitab adalah Yerusalem.
Mazmur 48 merupakan satu dari sekian banyak mazmur yang memuji Yerusalem. Inilah “kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi” (ay.2-3). Karena “dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng. . . . Allah menegakkannya untuk selama-lamanya” (ay.4,9). Kemasyhuran Allah dimulai di bait suci Yerusalem dan menyebar sampai ke “ujung bumi” (ay.10-11).
Kecuali kamu sedang berada di Yerusalem saat membaca ini, tempatmu tidaklah berada di pusat dunia Alkitab. Namun, tempatmu juga sangat berarti, karena Allah tidak akan berhenti berkarya hingga kemasyhuran-Nya “sampai ke ujung bumi” (ay.10). Maukah kamu menjadi bagian dari upaya Allah untuk mencapai tujuan-Nya? Beribadahlah setiap minggu bersama umat Allah, dan hiduplah secara terbuka setiap hari bagi kemuliaan-Nya. Kemasyhuran Allah akan “sampai ke ujung bumi” ketika kita mengabdikan seluruh keberadaan dan milik kita kepada-Nya.—Mike Wittmer
WAWASAN
Mazmur 48 adalah himne yang mungkin dipakai sebagai perayaan di Sion (Yerusalem). Para ahli teologi memperkirakan himne ini dipakai pada peringatan Hari Raya Pondok Daun. Kehadiran Allah disebutkan berada dalam puri-puri kota Sion sebagai benteng (ay.4). Gambaran raja-raja yang lari ketakutan begitu melihat kota tersebut (ay.5-6) mengukuhkan Sion sebagai lambang perlindungan Allah. Seruan “kelilingilah Sion dan edarilah dia, hitunglah menaranya, perhatikanlah temboknya, jalanilah puri-purinya” (ay.13-14) mengajak mereka yang datang ke sana untuk melihat tembok-tembok Sion dan memahami kehadiran dan perlindungan Allah secara nyata—sebuah tindakan ibadah secara jasmaniah yang akan menguatkan iman mereka.—Julie Schwab
Apa yang telah kamu lakukan untuk menyebarkan kemasyhuran Allah minggu ini? Apa lagi yang mungkin bisa kamu lakukan?
Ya Bapa, pakailah aku untuk menyebarkan kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi.

Friday, February 7, 2020

Apakah Ini Penting?

Jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. —1 Korintus 10:31
Apakah Ini Penting?
Saya tertunduk lunglai dan menghela napas, “Entah bagaimana aku bisa menyelesaikan semua ini.” Suara teman saya terdengar di ujung telepon: “Beri apresiasi untuk dirimu sendiri. Sudah banyak yang kaulakukan.” Kemudian ia menyebutkan hal-hal yang telah saya coba lakukan—menjaga gaya hidup sehat, bekerja, mengambil kuliah pascasarjana, menulis, dan menghadiri kelas pendalaman Alkitab. Saya ingin melakukan semuanya itu untuk Allah, tetapi sebaliknya saya lebih berfokus pada apa yang saya lakukan daripada cara saya melakukannya—atau mungkin saja ada terlalu banyak hal yang coba saya lakukan sehingga saya pun kewalahan.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Kolose bahwa mereka harus hidup dengan cara yang memuliakan Allah. Pada akhirnya, apa yang mereka lakukan sehari-hari tidaklah sepenting cara mereka melakukannya. Mereka patut melakukan pekerjaan mereka dengan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol. 3:12), rela mengampuni orang lain, dan yang terutama saling mengasihi (ay.13-14) dan melakukan “semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus ”(ay.17). Pekerjaan mereka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang menyerupai Kristus.
Apa yang kita lakukan itu memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana, mengapa dan untuk siapa kita melakukannya. Setiap hari kita bisa memilih untuk bekerja mati-matian atau dengan cara yang memuliakan Allah dan mencari makna yang diberikan Tuhan Yesus dalam pekerjaan kita. Melakukan hal yang kedua akan membawa kita kepada kepuasan.—Julie Schwab
WAWASAN
Sepertinya komunitas orang percaya di Kolose adalah gereja yang terkait erat dengan gereja di Laodikia—yang ditegur dengan sangat keras oleh Yesus dalam Wahyu 3:14-22. Paulus menulis kepada jemaat di Kolose: “Dan bilamana surat ini telah dibacakan di antara kamu, usahakanlah, supaya dibacakan juga di jemaat Laodikia dan supaya surat yang untuk Laodikia dibacakan juga kepadamu” (Kolose 4:16). Kedua kota ini tidak hanya dekat secara geografis, tetapi juga memiliki hubungan yang erat, hingga mereka saling bertukar surat. Selain itu, gereja di Kolose juga menerima surat yang ditujukan untuk salah seorang pemimpinnya, Filemon. Jemaat di Kolose menerima setidaknya tiga surat dari rasul Paulus.—Bill Crowder
Dalam hal apa saja kamu melakukan sesuatu karena kebutuhan atau kewajiban, dan bukan untuk kemuliaan Allah? Menurutmu, bagaimana makna sejati dapat ditemukan dalam Kristus dan bukan dalam keberhasilan kita?
Tuhan Yesus, ampuni aku ketika adakalanya aku terlalu berusaha mengejar pencapaianku. Tolonglah aku lebih rindu mencapai hal-hal yang membawa kemuliaan bagi nama-Mu.

Thursday, February 6, 2020

Ratapan Mercy

Hancur habis hatiku . . . sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota. —Ratapan 2:11
Ratapan Mercy
Ayah Mercy menganggap dirinya sakit karena diguna-guna, padahal sebenarnya ia menderita AIDS. Waktu ia meninggal, Mercy yang berumur 10 tahun menjadi semakin dekat dengan ibunya. Namun, ibunya juga jatuh sakit dan meninggal tiga tahun kemudian. Sejak saat itu, kakak Mercy yang mengurus kelima saudaranya. Mercy pun mulai menulis jurnal tentang hidupnya yang penuh kepedihan.
Nabi Yeremia juga mencatat kepedihan yang dialaminya. Dalam kitab Ratapan yang penuh kepiluan, ia menuliskan kekejaman yang dilakukan oleh tentara Babel terhadap bangsa Yehuda. Hati Yeremia sangat berduka karena korban-korban yang berjatuhan masih sangat muda. “Hancur habis hatiku,” serunya, “karena keruntuhan puteri bangsaku, sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota” (2:11). Bangsa Yehuda memang pernah melupakan Allah, tetapi anak-anak mereka juga harus membayar harga pemberontakan mereka. “Mereka . . . menghembuskan nafas di pangkuan ibunya,” tulis Yeremia (ay.12).
Mungkin kita mengira Yeremia akan meninggalkan Allah karena kepedihan hatinya. Sebaliknya, ia menguatkan mereka yang selamat dan berkata, “Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu” (ay.19).
Adalah baik mencurahkan isi hati kita kepada Allah, seperti yang dilakukan Mercy dan Yeremia. Meratap adalah bagian yang penting dan wajar dari keberadaan kita sebagai manusia. Bahkan ketika Allah mengizinkan penderitaan terjadi, Dia turut berduka bersama kita. Tentulah Dia juga meratap, karena kita diciptakan serupa dan segambar dengan-Nya!—Tim Gustafson
WAWASAN
Yeremia, yang dikenal sebagai “nabi yang meratap,” diyakini sebagai penulis kitab Ratapan. Kitab tersebut mengandung lima puisi. Keempat puisi yang pertama ditulis sebagai puisi akrostik yang menggunakan kedua puluh dua huruf konsonan dari abjad Ibrani untuk menandai awal setiap baitnya. Kitab tersebut meratapi kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 587 SM, ketika Babel mengalahkan kerajaan Yehuda dan menawan rakyatnya. Penafsir R. K. Harrison dalam Jeremiah and Lamentations (Kitab Yeremia dan Ratapan) menulis: “[Puisi-puisi ini] memperjelas bahwa tragedi sesungguhnya dari kehancuran Yehuda adalah fakta bahwa sebenarnya hal itu dapat dihindari. Penyebab sesungguhnya dari bencana ini adalah rakyat Yehuda sendiri.” Mereka mengabaikan peringatan yang berulang kali diberitakan oleh para nabi Allah dan memilih menyembah berhala daripada Allah yang benar.—Alyson Kieda
Bagaimana caramu mengatasi situasi-situasi yang menyakitkan dalam hidupmu? Apakah kamu merasa terbantu dengan mencatat dalam jurnal dan membagikan catatan tentang pergumulanmu itu kepada seorang teman?
Ya Allah, aku menderita karena __________________________. Engkau tahu seluruh penderitaanku. Tunjukkanlah kekuatan-Mu dalam hidupku hari ini.

Wednesday, February 5, 2020

Tetap di Jalur yang Benar

Sebab Roh-Nya mengajar kalian tentang segala sesuatu; dan apa yang diajarkan-Nya itu benar, bukan dusta.—1 Yohanes 2:27 BIS
Tetap di Jalur yang Benar
Pelari buta tercepat dunia, David Brown dari Tim Paralimpik AS, mengakui bahwa prestasinya merupakan buah pertolongan Tuhan, nasihat ibunya di masa lalu (yang suka berkata “jangan berpangku tangan”) dan gemblengan pelatih larinya—mantan pelari cepat Jerome Avery. Avery yang terhubung dengan Brown lewat seutas tali yang mengikat jari-jari mereka telah menuntun Brown kepada kemenangan lewat kata-kata dan sentuhan yang diberikannya.
“Yang terpenting adalah mendengarkan isyarat darinya,” kata Brown, yang berkata bahwa ia bisa lari “jauh menyimpang” di lomba lari 200 meter yang jalurnya menikung. “Setiap hari, kami melatih berbagai strategi lomba,” ujar Brown. “Kami saling berkomunikasi—tidak hanya dengan isyarat verbal, tetapi juga fisik.”
Dalam perlombaan hidup ini, kita pun dianugerahi Penuntun Ilahi. Roh Kudus, Penolong kita, menuntun setiap langkah kita ketika kita mengikuti-Nya. “Saya tulis ini kepadamu mengenai orang-orang yang sedang berusaha menipu kalian,” tulis Yohanes (1 Yoh. 2:26 BIS). “Tetapi mengenai kalian sendiri, Kristus telah mencurahkan Roh-Nya padamu. Dan selama Roh-Nya ada padamu, tidak perlu ada orang lain mengajar kalian. Sebab Roh-Nya mengajar kalian tentang segala sesuatu” (ay.27 BIS).
Yohanes menekankan sekali hikmat ini kepada orang-orang percaya di zamannya yang menghadapi “antikristus” yang menyangkal Bapa dan Anak sebagai Mesias (ay.22). Pada zaman sekarang, kita juga bertemu dengan pihak-pihak yang menyangkal Yesus. Namun, Roh Kudus, Penolong kita, akan menuntun kita dalam mengikuti Yesus. Kita dapat mempercayai tuntunan-Nya yang mengajarkan kebenaran, sehingga kita dapat tetap berada di jalur yang benar.—Patricia Raybon
WAWASAN
Yohanes adalah salah satu murid Yesus yang pertama (bersama Andreas; lihat Yohanes 1:35-40). Para ahli teologi percaya bahwa ia satu-satunya dari sebelas murid Yesus yang tidak mati sebagai martir. Kebanyakan ahli juga setuju bahwa penulisan kitab-kitabnya (Injil Yohanes; surat 1, 2, 3 Yohanes; dan Wahyu) dilakukan pada akhir hidupnya—mungkin pada tahun 80–90 M. Yohanes tidak pernah menyebutkan namanya dalam kitab Injilnya, tetapi biasanya menyebutkan dirinya sebagai “seorang di antara murid Yesus” (Yohanes 13:23), “seorang murid lain” (18:15), atau “murid yang lain” (20:2,4). Namun, paling sering ia menyebut dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (13:23; 19:26; 20:2; 21:7; 21:20).—Bill Crowder
Apakah hatimu selaras dengan tuntunan Roh Kudus? Bagaimana kamu bisa mendengar lebih baik saat Dia menuntun, mengingatkan, dan mengarahkanmu?
Ya Allah, selaraskan hati kami dengan tuntunan Roh Kudus-Mu agar kami dapat terus berlari menuju kebenaran-Mu dan bukan kepada dusta.

Tuesday, February 4, 2020

Kasih Seluas Kasih Allah

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?—Matius 5:46
Kasih Seluas Kasih Allah
Saya pernah mengunjungi pemukiman kumuh di Santo Domingo, Republik Dominika. Rumah-rumah di sana terbuat dari seng, dengan kabel listrik bergelantungan di atasnya. Di sana saya berkesempatan mewawancarai sejumlah keluarga dan mendengar bagaimana gereja-gereja membantu mereka mengatasi masalah pengangguran, narkoba, dan kejahatan.
Di suatu lorong, saya menaiki tangga reyot menuju suatu ruang kecil untuk mewawancarai seorang ibu dan anaknya. Namun, seseorang tergopoh-gopoh datang dan berkata, “Cepat, kita harus menyingkir dari sini.” Ternyata seorang ketua geng bersenjatakan golok sedang mengumpulkan massa untuk menyerang kami.
Kami tidak menemui masalah di pemukiman kedua yang kami kunjungi. Saya baru tahu alasannya belakangan. Saat saya mengunjungi satu demi satu rumah di sana, seorang ketua geng berdiri di luar menjaga kami. Anak perempuan ketua geng itu dipelihara dan disekolahkan oleh gereja, dan karena jemaat gereja merawatnya dengan baik, ayah anak itu pun menjaga kami.
Dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus menyajikan standar kasih yang tidak tertandingi. Kasih seperti ini tidak hanya merangkul mereka yang “layak” tetapi juga mereka yang tidak layak (Mat. 5:43-45). Kasih itu tidak hanya menjangkau keluarga dan sahabat, tetapi juga menjamah mereka yang tidak akan atau tidak dapat membalas kasih kita (ay.46-47). Itulah kasih seluas kasih Allah (ay.48)—kasih yang memberkati semua orang.
Ketika jemaat di Santo Domingo menghidupi kasih ini, lingkungan mereka pun mulai berubah. Hati yang keras mulai melembut dan mau mendukung pekerjaan Tuhan. Itulah yang terjadi ketika kasih seluas kasih Allah hadir di tengah-tengah mereka.—Sheridan Voysey
WAWASAN
Salah satu hukum nasional yang paling awal dari Israel memerintahkan mereka untuk memperlakukan musuh-musuh dengan murah hati dan hormat (Keluaran 23:4-5). Dalam Matius 5:43-48, Yesus memperjelas perintah itu. Bila kita mengasihi musuh, kita meniru kemurahan hati dan kebaikan Allah Bapa terhadap seluruh umat manusia, termasuk kepada mereka yang jahat (ay.45). Mirip dengan itu, Paulus juga mengajar kita untuk tidak “membalas kejahatan dengan kejahatan” (Roma 12:17). Sebaliknya, kita diajar untuk “[mengalahkan] kejahatan dengan kebaikan” (ay.21). Kita bisa melakukannya karena kita percaya bahwa Allah yang akan menuntut pembalasan (ay.19).—K.T. Sim
Bagaimana kamu menggambarkan perbedaan antara kasih manusia dan kasih Allah? Siapa yang ingin kamu berkati hari ini tetapi tidak dapat membalas kebaikanmu?
Tuhan Yesus, curahkanlah kasih-Mu kepadaku agar aku juga dapat mencurahkannya kepada orang lain—bahkan kepada mereka yang tidak dapat membalas kebaikanku.

Monday, February 3, 2020

Api Kudus

Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. —Lukas 3:16
Api Kudus
Setelah bertahun-tahun mengalami kekeringan, kebakaran hutan di California Selatan membuat sebagian warga merasa kejadian tersebut merupakan perbuatan Allah. Kesan menakutkan itu semakin menjadi-jadi ketika sumber berita mulai menyebut kebakaran tersebut dengan istilah “Holy Fire” atau Api (Kebakaran) Kudus. Banyak pihak yang tidak mengenal daerah itu tidak tahu bahwa sebutan tersebut sebenarnya mengacu pada nama daerah terdampak yang bernama Lembah Holy Jim. Namun, siapakah Holy Jim? Menurut legenda setempat, ia adalah seorang peternak lebah dari abad ke-19 yang tidak peduli pada agama dan suka marah-marah, sehingga tetangga-tetangganya justru memberinya julukan ironis tersebut.
Sebutan baptisan “Roh Kudus dan . . . api” yang diberikan Yohanes Pembaptis juga mempunyai latar belakang tersendiri (Luk. 3:16). Kemungkinan besar yang dipikirkan Yohanes ketika menyebut tentang api itu adalah gambaran Mesias dan api pemurnian yang akan datang dalam nubuat Nabi Maleakhi (3:1-3; 4:1). Kata-kata Maleakhi dan Yohanes Pembaptis baru menjadi kenyataan setelah Roh Allah datang seperti angin dan api ke atas para pengikut Yesus (Kis. 2:1-4).
Api yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis tidaklah seperti yang diperkirakan. Sebagai karya sejati dari Allah, api itu memberikan keberanian untuk mengabarkan seorang Mesias dan api pemurnian yang lain. Oleh Roh Yesus, api itu menyingkapkan dan melahap habis usaha-usaha manusiawi yang sia-sia—dan memberi tempat bagi kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri dari Roh Kudus (lihat Gal. 5:22-23). Itulah yang ingin Allah kerjakan dalam diri kita.—Mart DeHaan
WAWASAN
Api muncul dalam Alkitab secara harfiah dan kiasan. Sebagai sumber cahaya dan panas, api digunakan untuk menggambarkan bahaya dan konsekuensi dosa (Amsal 6:27-28; Yesaya 9:18) dan untuk menggambarkan Allah (Ulangan 4:24). Dia berbicara kepada Musa dari dalam semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api (Keluaran 3:2) dan menggambarkan diri-Nya sebagai api yang menghanguskan yang murka terhadap kejahatan dan memurnikan apa yang ingin Dia pelihara (Ulangan 4:24-26; 1 Petrus 1:7). Allah menyertai umat-Nya melewati api yang sesungguhnya seperti ketika umat-Nya dipersekusi (Daniel 3:19-22) dan juga api kiasan dari penghakiman yang memurnikan (1 Korintus 3:11-15).—Mart DeHaan
Bagaimana selama ini hidup kamu telah dipengaruhi oleh karya Roh Kudus? Apa artinya bagimu untuk mengejar kekudusan hidup di hadapan Allah?
Bapa Surgawi, gantikanlah ketakutan kami akan Roh Kudus-Mu dengan kasih, sukacita, dan damai sejahtera yang jauh lebih berharga daripada pilihan kami yang sia-sia.

Sunday, February 2, 2020

Saatnya Memakai Hiasan Kepala

Perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung. —Yesaya 61:3
Saatnya Memakai Hiasan Kepala
Pada suatu pagi di bulan Januari, saya bangun tidur dan berharap bakal melihat pemandangan suram pertengahan musim dingin seperti yang sudah terjadi berminggu-minggu: rumput coklat menyembul di sela petak-petak salju, langit kelabu, dan pohon-pohon meranggas. Namun, ada yang tidak biasa terjadi malam sebelumnya. Embun beku menyelimuti semuanya dengan kristal es. Pemandangan muram telah menjadi panorama indah yang berkilauan oleh pantulan cahaya matahari pagi, sehingga saya pun dibuat takjub.
Terkadang kita memandang masalah tanpa membayangkannya dari sudut pandang iman. Kita merasa penderitaan, ketakutan, dan keputusasaan akan menyambut kita setiap pagi, tetapi mengabaikan kemungkinan terjadinya sesuatu yang berbeda. Kita tidak mengharapkan pemulihan, pertumbuhan, atau kemenangan oleh kuasa Allah. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa hanya Allah yang menolong kita melewati masa-masa sulit. Dia memulihkan hati yang hancur dan membebaskan manusia dari keterikatan. Dia menghibur mereka yang berduka dengan memberikan “perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar” (Yes. 61:3).
Ini bukan berarti Allah hanya ingin menyemangati kita yang sedang menghadapi masalah. Akan tetapi, Dia sendirilah yang menjadi harapan kita di tengah pencobaan. Sekalipun kita harus menunggu sebelum mengalami kelepasan yang sesungguhnya di dalam surga, Allah senantiasa menyertai kita, menguatkan kita, dan sering kali mengizinkan kita melihat sekilas keberadaan diri-Nya. Dalam perjalanan hidup ini, kiranya kita dapat memahami ucapan Santo Agustinus: “Dalam lukaku yang terdalam, kulihat kemuliaan-Mu, dan itu membuatku terpesona.”—Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Lebih dari tujuh abad setelah kitab Yesaya ditulis, Lukas menulis bahwa ketika Yesus berdiri untuk membaca Kitab Suci di sinagoge di kampung halaman-Nya, Nazaret, “kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya” (Lukas 4:17). Berdiri untuk membaca (ay.16) adalah praktik umum pada zaman itu (dan juga duduk untuk mengajar, ay.20). Ketika Yesus membaca nats yang kita kenal sebagai Yesaya 61:1-2, Dia tidak membaca bagian kedua dari ayat 2—“dan hari pembalasan Allah kita.” Mungkin Dia berhenti membaca karena fokus pelayanan-Nya bukanlah menghukum Israel maupun musuh-musuhnya. Dia datang untuk menyelamatkan; fokus-Nya adalah penyelamatan, seperti yang dapat dilihat dari semua karya-Nya yang membebaskan beserta kematian dan kebangkitan-Nya (lihat Lukas 19:10).—Arthur Jackson
Bagaimana kamu dapat berpaling kepada Allah saat berada dalam kesulitan? Apa upah yang dapat kita terima dari keputusan untuk mengandalkan Allah itu?
Allah yang setia, berikanlah iman yang kuperlukan untuk menjalani hari ini dan tolong aku melihat-Mu berkarya di tengah kesulitan yang kuhadapi.

Saturday, February 1, 2020

Perhatian Penuh

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal. —1 Tesalonika 5:16-18
Perhatian Penuh
Dewasa ini, teknologi seakan terus-menerus menuntut perhatian kita. Internet sebagai “keajaiban” modern memberikan kapasitas luar biasa bagi kita untuk mengakses berbagai hal yang ada di dunia ini dengan ujung jari kita. Namun, bagi banyak orang, akses terus-menerus semacam itu bukanlah tanpa risiko.
Penulis Linda Stone menciptakan istilah “perhatian parsial berkesinambungan” untuk menjelaskan dorongan manusia modern yang selalu ingin tahu apa yang terjadi “di luar sana” supaya tidak ketinggalan berita. Benar-benar resep untuk mengalami kecemasan kronis!
Meski Rasul Paulus juga bergumul dengan kecemasan karena alasan yang berbeda, ia tahu bahwa jiwa kita dirancang untuk menemukan kedamaian di dalam Allah. Itulah sebabnya, dalam suratnya kepada para petobat baru yang telah menderita penganiayaan (1 Tes. 2:14), Paulus mengakhirinya dengan mendorong mereka: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal” (5:16-18).
Berdoa secara “tetap” terdengar sangat sulit dilakukan. Namun pikirkan, seberapa sering kita terdorong untuk memeriksa telepon kita? Bagaimana jika kita menggantikannya menjadi dorongan untuk berbicara kepada Allah?
Yang lebih penting lagi, bagaimana jika kita belajar menggantikan keinginan untuk selalu mengetahui kabar terbaru dengan perhentian untuk berdoa di dalam hadirat Allah secara terus-menerus? Dengan bersandar kepada Roh Kristus, kita dapat belajar memberikan perhatian penuh secara terus-menerus kepada Bapa Surgawi dalam perjalanan hidup kita dari hari ke hari.—Adam Holz
WAWASAN
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika adalah salah satu suratnya yang paling pribadi dan hangat—dan sudah seharusnya demikian. Ia sendiri yang merintis gereja di Tesalonika dan mengenal akrab orang-orang di sana. Perkenalannya dengan kota di Yunani itu terjadi pada perjalanan misinya yang kedua, di antara perhentiannya di Filipi dan Atena (lihat Kisah Para Rasul 17:1-9). Meski relatif singkat (ay.2), tetapi waktunya di Tesalonika dipenuhi tantangan dan kontroversi. Terjadi kerusuhan yang berujung pada penyerangan terhadap seseorang bernama Yason, seorang yang baru percaya, dan Paulus dan Silas diminta untuk pergi ke Berea. Kesusahan bersama ini telah mengikat tali persaudaraan di antara mereka—dan menjelaskan mengapa surat ini menunjukkan relasi yang sangat akrab.—Bill Crowder
Bagaimana dampak teknologi terhadap imanmu, baik negatif maupun positif? Apa yang dapat menolongmu semakin memiliki fokus yang penuh kepada Allah?
Terima kasih, Bapa, karena Engkau mengundang kami masuk ke dalam hubungan dengan-Mu, dan lewat hubungan itu, Engkau rindu mendengar seruan yang kami naikkan terus-menerus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate