Pages - Menu

Friday, February 28, 2014

Big Spring

Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. —Yohanes 4:14
Big Spring
Di Semenanjung Utara Michigan terdapat sebuah keajaiban alam yang sangat mencengangkan—sebuah kolam sedalam kira-kira 40 kaki (±12 meter) dan sepanjang 300 kaki (±91 meter) yang oleh penduduk asli Amerika disebut “Kitch-iti-Kipi” atau “air dingin yang besar”. Saat ini, kolam tersebut dikenal dengan nama Big Spring (Mata Air Besar). Mata air ini bersumber dari beberapa mata air di bawah tanah yang memasok lebih dari 10.000 galon (±38.000 liter) air per menit melewati bebatuan karang di bagian dasar hingga sampai ke permukaan. Selain itu, temperatur airnya tetap terjaga pada suhu sekitar 7 derajat Celcius. Artinya, sekalipun semenanjung itu dilanda cuaca dingin yang ekstrem, kolam ini tidak akan pernah membeku. Para wisatawan dapat menikmati pemandangan kolam Big Spring pada musim apa saja di sepanjang tahun.
Ketika Yesus bertemu dengan seorang wanita di sumur Yakub, Dia berkata kepadanya tentang sumber air lain yang akan selalu memberi kepuasan. Namun Dia tidak berbicara tentang suatu mata air, sumber air, sungai, atau danau. Dia berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14).
Itulah kesegaran yang telah ditawarkan kepada kita dalam diri Kristus sendiri, jauh lebih hebat daripada mata air alami mana pun. Kita dapat dipuaskan, karena Yesus sendiri, Sang Air Hidup, dapat memuaskan dahaga kita. Puji Tuhan, karena Yesus adalah Sumber Air Hidup yang tidak pernah kering. —WEC
Bapa, sepertinya aku terlalu sering minum air dari dunia ini
yang takkan pernah memuaskanku. Ampuni aku, dan ajarlah aku
untuk menemukan air yang bisa memuaskan dahaga hatiku
di dalam Kristus dan tarik aku semakin mendekat kepada-Mu.
Satu-satunya pemuas dahaga yang sejati adalah Yesus—Sang Air Hidup.

Thursday, February 27, 2014

Perhatikanlah Bunga Bakung

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140227-Menyaksikan-Alam
Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. —Mazmur 19:2
Perhatikanlah Bunga Bakung
Saya menyukai alam dan memberikan pujian kepada Sang Pencipta, tetapi terkadang saya merasa bersalah karena terlalu mengagumi alam ini. Namun kemudian saya teringat bahwa Yesus memakai alam sebagai sarana pengajaran-Nya. Untuk mendorong manusia supaya tidak khawatir, Dia memakai bunga kecil di ladang sebagai contoh. “Perhatikanlah bunga bakung,” kata Yesus, lalu mengingatkan mereka bahwa meskipun bunga itu tidak bekerja sama sekali, Allah mendandani mereka dengan indah. Kesimpulan Yesus? Jika Allah mendandani sesuatu yang bersifat sementara demikian indahnya, Dia pasti akan melakukan yang lebih lagi bagi kita (Mat. 6:28-34).
Bagian-bagian lain dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa alam ciptaan menjadi salah satu sarana yang dipakai Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada kita:
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya,” tulis Daud. “Hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” (Mzm. 19:2-3).
“Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim,” seru Asaf (50:6).
Dan Paulus menulis, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20).
Allah begitu mengasihi kita dan sangat menginginkan kita untuk mengenal-Nya sehingga Dia menempatkan bukti akan diri-Nya sendiri ke mana pun mata kita memandang alam raya. —JAL
Bapa, kasih-Mu luar biasa jelas, tetapi begitu sering kami
melewatkannya. Terima kasih Engkau tak putus-putusnya
mengingatkan kami akan anugerah, kasih, dan rahmat-Mu. Beri kami
mata yang dapat melihat keindahan-Mu di dalam karya ciptaan-Mu.
Dalam alam raya rancangan Allah, kita bisa menemukan banyak pelajaran berharga.

Wednesday, February 26, 2014

Kuasa Kasih

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. —1 Yohanes 4:10
Kuasa Kasih
Buku-buku tentang topik kepemimpinan sering masuk dalam daftar buku terlaris. Kebanyakan dari buku-buku itu mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang tangguh dan berhasil. Namun buku berjudul In the Name of Jesus: Reflections on Christian Leadership (Dalam Nama Yesus: Refleksi Tentang Kepemimpinan Kristen) dituliskan oleh Henri Nouwen dari suatu sudut pandang yang berbeda. Mantan pengajar universitas yang pernah bertahun-tahun melayani sebuah komunitas bagi orang dewasa dengan keterlambatan pertumbuhan mental ini menulis: “Pertanyaannya bukanlah: Berapa banyak orang yang memperhatikan Anda? Berapa banyak yang akan Anda capai? Adakah hasil yang Anda raih? Melainkan ini: Apakah Anda mengasihi Yesus? . . . Dalam dunia yang penuh dengan orang yang kesepian dan putus asa ini, alangkah dibutuhkannya para pria dan wanita yang mengenal isi hati Allah, suatu hati yang mengampuni, yang peduli, yang rela menjangkau, dan rindu membawa kesembuhan.”
Yohanes menulis, “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh. 4:9-10).
“Pemimpin Kristen masa depan,” tulis Nouwen, “adalah seseorang yang benar-benar mengenal isi hati Allah sebagaimana telah diwujudnyatakan . . . dalam Yesus.” Di dalam Dia, kita menemukan dan mengalami kasih Allah yang tak bersyarat dan tak terbatas. —DCM
Bapa, kami mohon tunjukkanlah keajaiban kasih-Mu kepada
orang lain hari ini melalui diriku agar mereka menyadari
bahwa mereka tidak perlu menjalani kehidupan ini seorang diri.
Kiranya hatiku sendiri mengalami dan menunjukkan perhatian-Mu.
Kasih Allah dalam hati kita mendorong kita untuk memiliki hati yang peduli kepada orang lain.

Tuesday, February 25, 2014

Berbaring

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. —Mazmur 23:2-3

Anjing golden retriever kesayangan kami sering mengalami kejang-kejang akibat terlampau bersemangat. Untuk mencegah hal itu terjadi, kami berusaha menenangkannya. Kami akan membelai-belainya, lalu berbicara padanya dengan suara yang lembut, dan memerintahkannya untuk berbaring. Namun saat mendengar kata “berbaring”, anjing kami akan mengalihkan pandangan matanya dari kami dan mulai mengeluh. Akhirnya, sambil mengeluarkan bunyi lenguhan panjang, ia pun menyerah dan merebahkan tubuh ke lantai.
Terkadang kita juga perlu diingatkan untuk berbaring. Dari Mazmur 23, kita belajar bahwa Gembala kita yang Baik “membaringkan [kita] di padang yang berumput hijau” dan menuntun kita “ke air yang tenang.” Dia tahu kita perlu ketenangan dan peristirahatan yang diberikan semua itu, bahkan saat kita tak menyadari kebutuhan itu.
Tubuh kita dirancang untuk beristirahat secara teratur. Allah sendiri beristirahat pada hari ketujuh setelah karya penciptaan-Nya (Kej. 2:2-3; Kel. 20:9-11). Yesus tahu ada saatnya untuk melayani orang banyak dan ada saatnya untuk beristirahat. Dia mengajak para murid-Nya pergi “ke tempat yang sunyi, . . . dan beristirahatlah seketika!’’ (Mrk. 6:31). Ketika beristirahat, kita menyetel ulang fokus kita dan disegarkan. Ketika kita mengisi seluruh waktu kita dengan kegiatan demi kegiatan—bahkan kegiatan yang penting—Allah sering menarik perhatian kita dengan “membaringkan” diri kita.
Istirahat adalah suatu pemberian—pemberian yang baik dari Pencipta kita yang tahu persis apa yang kita butuhkan. Pujilah Tuhan karena Dia kadang-kadang “membaringkan [kita] di padang yang berumput hijau.” —CHK
Bapa surgawi, terima kasih untuk perhatian-Mu atas
kesejahteraan kami dalam setiap area dari kehidupan kami.
Tolonglah kami untuk bisa mengambil waktu untuk
beristirahat dan disegarkan di dalam-Mu.
Jika tidak mengambil waktu untuk beristirahat seketika, kelak kita mungkin akan benar-benar ambruk! —Havner

Monday, February 24, 2014

Strategi Benteng Kosong

Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku? —Yeremia 32:27
Strategi Benteng Kosong
Dalam roman sejarah negeri China berjudul Romance of the Three Kingdoms (Kisah Tiga Kerajaan), penulis Luo Guanzhong menggambarkan tentang “Strategi Benteng Kosong”, sebuah penerapan psikologi terbalik untuk memperdaya musuh. Ketika 150.000 anggota pasukan Kerajaan Wei tiba di kota Xicheng yang hanya diperkuat pasukan kurang dari 2.500 tentara, pasukan Wei mendapati pintu gerbang kota itu terbuka lebar dan Zhuge Liang, ahli strategi militer yang terkenal, sedang memainkan kecapi dengan tenang dan didampingi dua anak kecil. Jenderal pasukan Wei merasa bingung melihat keadaan itu dan curiga akan ada penyergapan mendadak sehingga segera memerintahkan pasukannya untuk mundur total.
Alkitab memberikan contoh lain tentang suatu strategi pertempuran yang tidak lazim. Di Hakim-Hakim 7, Allah memerintahkan Gideon untuk memimpin 300 orang dengan sangkakala, buyung, dan obor menyala untuk melawan musuh yang “seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung” (ay.12).
Mampukah Israel mengalahkan musuh yang setangguh itu? Di mata manusia hal itu mustahil! Mereka tidak memiliki kekuatan pasukan maupun perangkat perang yang cukup. Namun mereka memegang satu hal yang menjamin keberhasilan mereka dan hanya itulah yang mereka butuhkan. Mereka memegang janji Allah: “Dengan ketiga ratus orang yang menjilat air itu, Aku akan membebaskan kamu dan memberikan kemenangan kepadamu” (ay.7 BIS). Hasilnya? Kemenangan!
Apakah Anda sedang menghadapi tantangan berat? Tuhan telah berfirman, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer. 32:27). —PFC
Kuatlah di dalam Tuhan dan teguhkan hatimu;
Pembelamu nan agung tetap sama tak berubah.
Terbanglah tinggi, seperti rajawali yang naik;
Saat berseru kepada-Nya, kemenangan sudah di tangan. —Johnson
Bersama Allah, segala sesuatu adalah mungkin.

Sunday, February 23, 2014

Kasih Tanpa Batas

Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. —Mazmur 36:6
Kasih Tanpa Batas
Baru-baru ini, seorang teman mengirimi saya catatan tentang asal mula sebuah himne yang sering saya dengar di gereja semasa masih kanak-kanak:
Andaikan laut tintanya,
Dan langit jadi kertasnya,
Andaikan ranting kalamnya,
Dan insan pun pujangganya;
Takkan genap mengungkapkan
Hal kasih mulia
Dan langit pun takkan lengkap
Memuat kisahnya.
Kata-kata ini merupakan bagian dari sebuah puisi Yahudi kuno dan pernah ditemukan pada dinding kamar seorang pasien dalam suatu rumah sakit jiwa.
Di kemudian hari, Frederick M. Lehman merasa begitu tersentuh oleh puisi tersebut sehingga ia rindu untuk menggubahnya menjadi sebuah lagu. Pada tahun 1917, sambil duduk di atas sebuah kotak yang berisi lemon saat waktu istirahat makan siang dalam pekerjaannya sebagai seorang buruh, ia menambahkan kalimat demi kalimat untuk dua bait pertama dan bagian refrain, sehingga lengkaplah pujian yang diberi judul “The Love of God” (Agunglah Kasih Allahku).
Sang pemazmur menggambarkan jaminan penghiburan dari kasih Allah dalam Mazmur 36: “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit” (ay.6). Bagaimanapun kondisi kehidupan yang kita jalani—baik di saat pikiran kita begitu jernih dan bebas dari berbagai kebimbangan atau di tengah masa-masa pencobaan yang gelap gulita—kasih Allah menjadi menara pengharapan yang bersinar terang, sebagai sumber kekuatan dan keyakinan kita yang selalu tersedia dan tak berkesudahan. —JMS
Oh kasih Allah agunglah!
Tiada bandingnya!
Kekal, teguh, dan mulia,
Dijunjung umat-Nya. —Lehman
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 17)
Anda dikasihi dengan kasih yang kekal.

Saturday, February 22, 2014

Bolt Dan Blake






Bolt Dan Blake

Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. —Ibrani 10:24
Bolt Dan Blake
Usain Bolt dan Yohan Blake asal Jamaika mengukir sejarah ketika mereka masing-masing mencapai garis akhir pada urutan pertama dan kedua, baik dalam perlombaan lari 100 meter maupun 200 meter bagi pria di Olimpiade London 2012. Meskipun mereka saling bersaing di arena, Bolt memuji peranan Blake sebagai rekan berlatihnya: “Bertahun-tahun belakangan ini, Blake telah membuatku menjadi atlet yang lebih baik. Ia benar-benar mendorongku dan membuatku harus selalu waspada.” Jelas terlihat mereka berdua saling mendorong untuk mencapai prestasi di atas lapangan.
Sebagai umat percaya di dalam Kristus, kita mengemban hak istimewa dan tanggung jawab untuk saling menguatkan dalam iman kita. Penulis kitab Ibrani berkata, “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibr. 10:24).
Gereja bukanlah sekadar suatu lembaga atau sebuah klub sosial seperti pada umumnya. Gereja merupakan tempat bagi kita yang telah dibawa mendekat kepada Allah dan dibersihkan dari dosa untuk saling mendukung pertumbuhan agar kita semakin serupa dengan Kristus. Tujuan dari pertemuan ibadah yang dilakukan bersama adalah untuk saling menasihati dan mendorong (ay.19-25).
Tidak ada orang percaya yang dapat hidup seorang diri. Untuk menjalani kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, kita membutuhkan komunitas sesama orang percaya. Dalam persekutuan dengan saudara seiman, coba pikirkan seseorang yang bisa Anda semangati dengan perkataan dan tindakan nyata agar ia bertumbuh semakin menyerupai Kristus yang kita kasihi dan layani. —CPH
Di hadapan takhta Bapa kita
Kita curahkan isi hati dalam doa;
Ketakutan, harapan, kerinduan kita,
Penghiburan dan kegelisahan kita. —Fawcett
Gereja yang sehat menjadi saksi yang terbaik bagi dunia yang sedang terluka.

Friday, February 21, 2014

Siarkan Di Atas Bukit

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. —Markus 3:13
Siarkan Di Atas Bukit
Saya terkesima membaca sebuah artikel di surat kabar nasional yang memuji sekelompok pemain snowboard (papan luncur salju) berusia remaja yang mengadakan kebaktian mingguan di suatu lereng ski di Colorado. Artikel oleh Kimberly Nicoletti dalam Summit Daily News itu menarik perhatian khalayak luas dengan kisah tentang para remaja yang suka bermain snowboard sambil bersaksi tentang Yesus yang telah mengubah kehidupan mereka. Para remaja itu didukung oleh suatu lembaga pelayanan pemuda yang memberikan pembekalan bagi usaha mereka menunjukkan kasih Allah.
Memang lebih mudah untuk melakukan segalanya sendiri daripada melatih orang lain untuk melakukannya. Namun Yesus mau mencurahkan hidup-Nya untuk dua belas orang murid yang akan dipakai-Nya untuk berkarya menjangkau dunia. Di tengah desakan dari orang-orang yang memohon untuk disembuhkan, Yesus naik ke atas sebuah bukit dan di sana “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus- Nya memberitakan Injil” (Mrk. 3:14).
Salah seorang pemain snowboard di Colorado menceritakan tentang pelatihan pemuridan yang dijalaninya: “Selama ini aku tak pernah bisa bergaul baik dengan keluarga atau teman-teman; aku selalu menjaga jarak dengan mereka. [Program ini] menunjukkan kasih Allah kepadaku dan membuka mataku untuk mau menjangkau jiwa-jiwa.”
Dengan mengalami kasih Yesus dan berada dalam persekutuan dengan-Nya dan para pengikut-Nya, kita akan menerima keberanian untuk bertindak dan berkata-kata dengan cara-cara yang memuliakan Tuhan kita. —DCM
Mari kita melangkah, sesuai panggilan Allah,
Ditebus oleh darah Yesus yang mahal;
Tunjukkan kasih-Nya, teladani hidup-Nya,
Kabarkan berita-Nya, bagikan rahmat-Nya. —Whittle
Bersaksi bukanlah pekerjaan yang harus dilakukan, melainkan sebuah kehidupan yang harus dijalani.

Thursday, February 20, 2014

Menutup Lubang Besar

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! —Mazmur 32:1
Menutup Lubang Besar
Pada akhir bulan Mei 2010, badai tropis Agatha melanda wilayah Amerika Tengah dan menyebabkan hujan lebat serta tanah longsor. Setelah badai itu berlalu, didapati ada sebuah lubang pada tanah dengan kedalaman 200 kaki (±61 meter) di pusat kota Guatemala City. Lubang besar ini menyebabkan lahan di sekitarnya runtuh dengan tiba-tiba, sehingga tanah, tiang-tiang listrik, dan sebuah bangunan setinggi 3 lantai amblas dan terhisap masuk ke dalam bumi.
Meskipun lubang-lubang seperti itu menyebabkan kehancuran besar, ada satu lubang yang begitu umum dan paling merusak, yaitu lubang besar yang terdapat dalam hati manusia. Raja Daud adalah contoh seseorang yang mengalaminya.
Di permukaan, kehidupan Daud terlihat stabil; meskipun demikian, kehidupan jiwanya sebenarnya dilandaskan pada suatu fondasi yang rapuh. Setelah melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Daud mengira bahwa ia telah berhasil menyembunyikan tindakan liciknya (2Sam. 11-12). Namun, tekanan penghakiman Allah yang begitu kuat melalui teguran Nabi Natan menyebabkan Daud menyadari bahwa usahanya menyangkali keberadaan dosa dalam hidupnya hanya akan melemahkan fondasi kehidupan imannya. Untuk mencegah keruntuhan rohani ini bertambah buruk, Daud pun mengakui dosanya kepada Allah dan bertobat (Mzm. 32:5). Sebagai hasilnya, Allah menutupi dosa Daud dan memberinya sukacita yang datang dari pengampunan.
Kita juga akan mengalami kasih karunia Allah ketika kita mengakui dosa-dosa kita kepada-Nya. Dia akan mengampuni segala dosa kita dan menutup lubang-lubang rohani kita. —MLW
Untuk Direnungkan
Adakah kebiasaan berdosa, kecanduan tersembunyi, atau kerentanan
tak terlihat yang sedang melemahkan jiwa Anda? Ingatlah, Allah
rindu untuk memberikan pengampunan yang seutuhnya kepada Anda.
Ketika kita menyingkapkan dosa-dosa kita dalam pertobatan, maka Allah akan menutupinya.

Wednesday, February 19, 2014

Jam Kesebelas

Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. —Yesaya 2:4
Jam Kesebelas
Perang Dunia I dicatat oleh banyak pihak sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Jutaan manusia kehilangan nyawanya di kancah peperangan global pertama di zaman modern ini. Pada 11 November 1918, pihak-pihak yang bertikai sepakat untuk mengadakan gencatan senjata pada jam kesebelas dari hari kesebelas di bulan kesebelas itu. Sepanjang momen yang bersejarah tersebut, jutaan orang di seluruh dunia mengambil waktu untuk berhenti dan hening sejenak sambil merenungkan besarnya harga yang harus mereka bayar berupa penderitaan dan terenggutnya nyawa dalam peperangan tersebut. Pada saat itu, perang yang disebut sebagai “Perang Besar” itu diharapkan akan benar-benar menjadi “perang yang akan mengakhiri segala peperangan”.
Meskipun setelah Perang Dunia I masih timbul banyak konflik bersenjata yang merenggut nyawa, harapan akan tercapainya kedamaian abadi tidak pernah pudar. Dan Alkitab memberikan janji pengharapan yang realistis, bahwa suatu hari nanti peperangan akan sungguh-sungguh berakhir. Ketika Kristus datang kembali, nubuat Yesaya akan menjadi kenyataan: “Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (Yes. 2:4). Pada saat itu, jam kesebelas akan berlalu dan jam pertama dari masa kedamaian abadi di langit yang baru dan bumi yang baru akan dimulai.
Hingga hari itu tiba, orang-orang yang menjadi pengikut Kristus haruslah menjadi pribadi-pribadi yang mewakili Sang Raja Damai melalui cara kita menjalani hidup ini dan melalui pengaruh yang kita berikan di dunia ini. —HDF
Damai yang sempurna, dalam dunia gelap penuh dosa?
Darah Yesus membisikkan kedamaian dalam batin. . . .
Damai yang sempurna, dengan masa depan yang samar?
Kita mengenal Yesus, dan Dialah Raja yang bertakhta. —Bickersteth
Hanya di dalam Kristus, kedamaian sejati bisa menjadi kenyataan.

Tuesday, February 18, 2014

Membutuhkan Penolong

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140218-Kopi-Asin
Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Roh Allah, Penolong yang akan diutus Bapa atas nama-Ku, Dialah yang akan mengajar kalian segalanya. —Yohanes 14:26 BIS
Membutuhkan Penolong
Bagi sejumlah orang, istilah asisten atau penolong mengandung konotasi makna yang lebih rendah. Para asisten di kelas telah menolong para guru profesional dalam memberikan pelajaran. Asisten juga menolong para montir, tukang ledeng, dan pengacara dalam pekerjaan mereka. Karena tidak seterampil para pekerja profesional, para asisten ini mungkin dipandang sebelah mata. Namun kenyataannya, diperlukan keterlibatan setiap orang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada.
Rasul Paulus memiliki banyak penolong di dalam tugas pelayanannya. Ia menuliskan nama-nama mereka dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 16). Secara khusus, ia menyebut nama Febe, seorang yang “telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepada [Paulus]” (ay.2). Priskila dan Akwila telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk Paulus (ay.3-4). Paulus juga menyebutkan Maria, “yang telah bekerja keras untuk [jemaat di Roma]” (ay.6).
Menurut 1 Korintus 12:28, menolong atau melayani merupakan salah satu karunia rohani. Paulus memasukkannya dalam daftar karunia Roh Kudus yang diberikan kepada orang percaya dalam tubuh Kristus, yaitu gereja-Nya. Karunia untuk “melayani” sama dibutuhkannya seperti karunia-karunia lain yang ada di daftar tersebut.
Roh Kudus juga disebut “Penolong”. Yesus berkata, “Roh Allah, Penolong . . . akan mengajar kalian segalanya dan mengingatkan kalian akan semua yang sudah Kuberitahukan kepadamu.” (Yoh. 14:26 BIS).
Apa pun karunia yang diberikan Roh Kudus, Sang Penolong, kepada Anda, izinkanlah Dia memakai hidup Anda bagi hormat kemuliaan-Nya. —AMC
Ya Tuhan, terima kasih untuk karunia yang telah
Engkau berikan kepadaku sehingga aku bisa melayani
seluruh tubuh Kristus. Tolonglah aku untuk dengan setia
menggunakan karuniaku bagi kemuliaan-Mu.
Anda adalah bagian penting dari seluruh tubuh Kristus.

Monday, February 17, 2014

Tentang Mendengarkan

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah. —Pengkhotbah 5:1
Tentang Mendengarkan
Ada ungkapan: “Allah memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan suatu maksud.” Kemampuan untuk mendengarkan merupakan keterampilan hidup yang penting. Para konselor meminta kita untuk mau mendengarkan satu sama lain. Para pemimpin rohani menasehati kita untuk mendengarkan Allah. Namun orang jarang berkata, “Dengarkanlah dirimu sendiri.” Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita memiliki suara batin yang selalu tahu apa yang harus kita katakan. Juga bukan berarti kita harus lebih mendengarkan diri sendiri daripada mendengarkan Allah dan sesama. Maksud saya, kita perlu mendengarkan diri sendiri agar kita dapat memahami apa yang mungkin ditangkap orang lain dari perkataan kita.
Bangsa Israel seharusnya menerapkan prinsip ini ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Baru beberapa hari setelah dibebaskan secara ajaib, mereka sudah mengeluh (Kel. 16:2). Kebutuhan mereka untuk makan memang wajar, tetapi cara mengungkapkan kebutuhan itu sungguh tidak pantas (ay.3).
Ketika kita mengucapkan sesuatu karena didorong oleh perasaan takut, kemarahan, ketidakpedulian, atau keangkuhan diri—sekalipun yang kita katakan itu benar—orang yang menyimak perkataan kita akan menangkap lebih daripada sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Mereka mendengar emosi kita. Namun mereka tidak tahu apakah emosi itu didasari oleh sikap perhatian dan kasih, atau oleh niat untuk menghina dan merendahkan, sehingga bisa saja orang salah paham terhadap kita. Jika kita mendengarkan diri sendiri sebelum mengucapkan sesuatu, kita bisa memeriksa hati kita sebelum ucapan kita yang ceroboh merugikan orang lain atau mendukakan Allah. —JAL
Tuhan, tolong aku untuk berpikir sebelum berbicara,
untuk memeriksa hatiku. Tolong aku untuk mengendalikan lidahku
dan mengungkapkan maksudku dengan jelas sehingga aku tidak akan
menimbulkan perpecahan. Tolonglah aku menjaga bibirku.
Kata-kata yang diucapkan secara sembrono lebih sering menimbulkan kerugian daripada kebaikan.

Sunday, February 16, 2014

Mengapa Harus Menimbulkan Kedukaan?

Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu. —Ibrani 13:17
Mengapa Harus Menimbulkan Kedukaan?
Para pendeta biasanya merupakan sasaran empuk bagi kritikan. Setiap minggu mereka tampil di mimbar, menjelaskan firman Allah dengan seksama, dan menantang kita untuk memiliki hidup seperti Kristus. Namun terkadang kita berusaha mencari hal-hal tertentu untuk dikritik. Alangkah mudahnya kita mengabaikan hal-hal baik yang dilakukan oleh seorang pendeta dan memusatkan diri pada pendapat pribadi kita saja.
Sama seperti kita semua, para pendeta yang melayani kita juga tidak sempurna. Oleh karena itu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus mengikuti mereka secara membabi-buta dan tidak pernah menegur kesalahan mereka melalui cara-cara yang tepat. Namun sejumlah catatan dari penulis kitab Ibrani dapat menolong kita untuk mempunyai cara pandang yang tepat terhadap para pemimpin kita yang menyampaikan kebenaran Allah dan memberikan contoh hidup sebagai pemimpin yang rela melayani. Penulis Ibrani berkata, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya” (13:17).
Pikirkan hal itu. Pendeta kita bertanggung jawab untuk membimbing kita secara rohani di hadapan Allah. Kita mengharapkan beban pelayanan itu menjadi sukacita, bukannya mendatangkan keluh-kesah bagi mereka. Ayat selanjutnya menunjukkan bahwa keluh-kesah pendeta “tidak akan membawa keuntungan” bagi kita (ay.17).
Kita sedang menghormati Allah dan membangun kehidupan gereja kita ke arah yang lebih baik pada saat kita menghormati orang-orang yang telah ditetapkan-Nya menjadi pemimpin kita. —JDB
Bapa kami yang murah hati, terima kasih untuk orang yang Engkau
utus menjadi gembala bagi gereja kami. Kiranya kami terus mau
mendorong dan mendukung beliau, dan kiranya Engkau
melindunginya dari kesalahan dalam perkataan maupun tindakan.
Pendeta yang memberitakan firman Allah memerlukan kata-kata yang menguatkan dari umat Allah.

Saturday, February 15, 2014

Sang Pencipta & Tabib Agung

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib. —Mazmur 139:14
Sang Pencipta & Tabib Agung
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami kecelakaan yang cukup serius ketika bermain ski sehingga sejumlah otot di salah satu kaki saya robek parah. Dokter bahkan berkata bahwa robekan tersebut menyebabkan banyak pendarahan. Proses penyembuhannya berjalan lambat, tetapi sepanjang masa pemulihan tersebut, hati saya dipenuhi kekaguman yang besar kepada Pencipta Agung kita (lihat Kol. 1:16).
Di sepanjang hidup saya, saya telah beberapa kali merusakkan sepatbor mobil dan lebih dari satu kali menjatuhkan piring. Sekali rusak dan pecah, barang-barang tersebut tetap rusak dan pecah. Namun, tidak demikian halnya dengan kaki saya. Segera setelah terjadi robekan pada otot saya, mekanisme penyembuhan internal yang dirancang Kristus dalam tubuh saya pun mulai bekerja. Memang proses itu tidak terlihat, tetapi jauh di dalam kaki saya yang berdenyut-denyut, karya medis-Nya yang menakjubkan sedang memperbaiki otot-otot yang robek itu. Tak lama kemudian, saya sudah bisa berdiri dan berjalan kembali, sambil menerima pengertian baru tentang apa yang dimaksudkan pemazmur ketika ia berkata bahwa “kejadian [kita] dahsyat dan ajaib” (Mzm. 139:14). Hati saya pun penuh dengan pujian.
Terkadang dibutuhkan hal-hal seperti sebuah cedera atau sakit-penyakit untuk mengingatkan kita akan rancangan luar biasa yang ada di dalam tubuh kita. Jadi, apabila suatu saat nanti Anda menghadapi suatu gangguan yang tidak Anda harapkan—apa pun penyebabnya— pusatkanlah perhatian Anda pada kasih Yesus yang indah dan izinkan Dia menggerakkan hati Anda untuk menyembah-Nya dengan penuh syukur di tengah penderitaan itu! —JMS
Tuhan, tolong kami melihat melampaui peristiwa demi peristiwa
dalam hidup kami, dan memperhatikan karya-Mu yang luar biasa
dan rancangan-Mu yang sempurna. Ampuni kepicikan kami dan ajar
kami melihat kehadiran-Mu dalam setiap keadaan yang kami alami.
Menyembah Sang Pencipta Agung dimulai dengan mempunyai hati yang bersyukur.

Friday, February 14, 2014

Kasih Sejati


Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. —Yohanes 15:13
Kasih Sejati
Dalam gladi resik upacara pernikahan saudara laki-laki saya, suami saya sempat memotret sang mempelai pria dan mempelai wanita ketika mereka saling berhadapan di depan pendeta. Saat kami melihat foto tersebut di kemudian hari, kami memperhatikan bahwa lampu kilat pada kamera telah menyinari sebuah salib berbahan logam yang terletak di belakang, sehingga salib itu terlihat sebagai sebuah benda yang bercahaya terang di atas kedua mempelai tersebut.
Foto tersebut mengingatkan saya bahwa pernikahan adalah suatu gambaran dari kasih Kristus bagi gereja, seperti yang ditunjukkan- Nya di atas kayu salib. Ketika Alkitab memerintahkan para suami untuk mengasihi istri mereka (Ef. 5:25), Allah membandingkan kasih sayang yang penuh kesetiaan dan tanpa pamrih itu dengan kasih Kristus bagi murid-murid-Nya. Karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya demi kasih, haruslah kita semua juga saling mengasihi (1Yoh. 4:10-11). Dia mati untuk menggantikan kita, agar dosa kita tidak akan selamanya membuat kita terpisah dari Allah. Dia menerapkan perkataan yang diucapkan-Nya kepada para murid: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Banyak dari kita yang menderita karena telah diabaikan, ditolak, dan dikhianati oleh seseorang. Meskipun kita pernah mengalami semua itu, melalui Kristus kita dapat mengenal dan memahami sifat kasih sejati yang rela berkorban, penuh belas kasih, dan abadi. Hari ini, ingatlah bahwa Anda sungguh dikasihi oleh Allah. Yesuslah yang membuktikan kasih itu dengan jalan memberikan nyawa-Nya. —JBS
Kasih Allah, begitu agung dan menakjubkan,
Begitu dalam dan besar, murni, luhur!
Kasih yang berasal dari hati Yesus—
Yang tetap sama tak lekang oleh waktu. —Blom
Tidak ada yang lebih jelas membuktikan kasih Allah daripada salib Yesus.

Thursday, February 13, 2014

Karakter Atau Reputasi?

Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! —Wahyu 3:1
Karakter Atau Reputasi?
John Wooden (1910-2010), seorang pelatih bola basket legendaris, meyakini bahwa karakter seseorang jauh lebih penting daripada reputasinya. “Reputasi Anda adalah anggapan orang lain tentang diri Anda,” demikian kata-kata yang sering Wooden ucapkan kepada para pemain asuhannya, “tetapi karakter Anda adalah jati diri Anda yang sebenarnya. Andalah satu-satunya orang yang mengenal karakter Anda. Anda bisa menipu orang lain, tetapi Anda tak bisa menipu diri sendiri.”
Dalam kitab Wahyu, kita dapat membaca perkataan Kristus yang telah bangkit kepada tujuh jemaat di Asia. Kepada jemaat di Sardis, Yesus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup [reputasi mereka], padahal engkau mati!” (Why. 3:1). Tuhan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang diri mereka, dan tidak diragukan lagi bahwa jemaat itu sebenarnya juga mengetahui keadaan mereka sendiri. Yesus memerintahkan mereka untuk bangun dan menguatkan kehidupan rohani dalam diri mereka yang sudah hampir mati (ay.2). Dia mendorong mereka untuk mengingat kembali kebenaran yang telah mereka terima, menaatinya, kemudian bertobat dan mulai melangkah menuju arah yang baru (ay.3).
Ketika Tuhan menunjukkan kepada kita hal-hal yang salah dalam hidup kita, Dia selalu memberikan pertolongan agar kita dapat berubah. Ketika kita bertobat dari dosa-dosa kita, Dia akan mengampuni dan menguatkan kita agar dapat bangkit kembali.
Alangkah melegakannya ketika kita menukarkan reputasi rohani kita yang palsu dengan karakter sejati yang menghidupkan kita, yaitu karakter yang berasal dari pengenalan kita akan Yesus Kristus, Tuhan kita! —DCM
Manusia suka mencari kekayaan dan ketenaran,
Dan jarang sekali mengejar nama;
Padahal nama baik jauh lebih utama
Daripada semua keindahan yang ada di bumi. —Guest
Ujian sejati dari karakter kita adalah apa yang kita lakukan ketika tak seorang pun melihat kita.

Wednesday, February 12, 2014

Melihat Jauh Ke Depan

Apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia. —1 Yohanes 3:2
Melihat Jauh Ke Depan
Para pematung memiliki sebuah istilah untuk menyebut tentang kemampuan seorang seniman untuk melihat bongkahan batu yang masih mentah sambil membayangkan bentuk akhirnya setelah bongkahan itu dipahat menjadi patung. Istilah tersebut adalah hyperseeing atau “melihat jauh ke depan”.
Gutzon Borglum (1867-1941) adalah seorang pematung yang telah menciptakan banyak karya seni untuk umum yang terkenal. Mungkin yang paling terkenal diantaranya adalah Patung Peringatan Nasional Gunung Rushmore di Dakota Selatan. Pengurus rumah Borglum menangkap konsep “melihat jauh ke depan” ini ketika memandangi wajah-wajah raksasa dari empat presiden AS yang terpahat pada Gunung Rushmore untuk pertama kalinya. “Pak Borglum,” katanya sambil terkagum, “bagaimana Anda bisa tahu wajah Presiden Lincoln ada di batu karang itu?”
“Melihat jauh ke depan” juga dengan tepat menggambarkan sifat Allah kita yang Mahatahu. Dia melihat keseluruhan diri kita. Bahkan lebih dari itu. Dia melihat keberadaan diri kita kelak ketika Dia telah menyelesaikan karya-Nya dan kita berdiri di hadapan-Nya, kudus dan tidak bercela, dalam keserupaan yang sempurna dengan Yesus. Allah yang telah memulai karya agung-Nya dalam diri Anda akan terus berkarya sampai Dia menyelesaikannya pada hari kedatangan Yesus Kristus yang kedua (lihat Flp. 1:6).
Allah tidak akan gagal! Dia begitu merindukan kesempurnaan kita sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan bisa menghalangi-Nya untuk menuntaskan karya yang telah dimulai-Nya sejak masa lampau itu.
Kiranya kita rela menyerahkan diri kita untuk dibentuk oleh tangan Sang Pematung Agung. —DHR
Keraguan berbisik, “Kau ini hanyalah secuil noda;
Dia takkan mengasihi dirimu yang tak pantas.”
Namun jika diriku yang sekarang tak dikasihi-Nya,
Kuyakin Dia akan mengasihi diriku yang mendatang. —MacDonald
Allah berkarya dalam diri kita untuk menumbuhkan kita menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tuesday, February 11, 2014

Di Tengah Ketakutan Kita

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu. —Mazmur 56:4
Di Tengah Ketakutan Kita
Setelah kami menikah selama 12 tahun, saya dan istri merasa kecewa karena terombang-ambing oleh pasang-surutnya harapan kami untuk memiliki anak. Seorang teman kami berusaha membantu untuk “menjelaskan” maksud Allah. “Mungkin Allah tahu kalau kau akan menjadi ayah yang buruk,” katanya. Teman saya ini tahu betul bahwa ibu saya pernah bergumul dengan sifatnya yang pemarah.
Kemudian pada Natal tahun 1988, kami mendapat kabar gembira bahwa istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama! Namun setelah itu saya kembali dihantui oleh perasaan takut gagal.
Pada Agustus 1989, Kathryn pun hadir di tengah keluarga kami. Ketika para perawat dan dokter sedang menangani istri saya, Kathryn menangis di atas ranjang penghangatnya. Saya mengulurkan tangan untuk menghiburnya, dan jari-jari mungilnya menggenggam erat jari saya. Segera pada saat itu, Roh Kudus menjamah hati saya untuk meyakinkan diri saya tentang apa yang menjadi keraguan saya belakangan ini—keraguan bahwa saya akan dapat menunjukkan kasih kepada anak kami yang mungil ini!
Janda di Sarfat juga merasa ragu. Putranya telah menderita penyakit yang mematikan. Dalam keputusasaan, ia berseru, “Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raj. 17:18). Namun Allah memiliki rencana lain!
Kita melayani Allah yang jauh lebih berkuasa daripada pergumulan yang kita hadapi. Allah sangat rindu untuk mengampuni, mengasihi, serta memulihkan kehancuran yang ada di antara kita dengan-Nya. Allah hadir di tengah rasa takut yang mencekam kita. —RKK
Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepada kami di tengah kelemahan kami
dan dalam ketakutan kami yang terbesar. Ajarilah kami menerima
kasih-Mu dengan satu cara yang memampukan kami untuk menyatakannya
kepada sesama, terutama mereka yang terdekat dengan kami.
Kasih memberi kekuatan untuk menghadapi segala ketakutan yang semu dalam hidup.

Monday, February 10, 2014

Kekuatan Musik

Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersoraksorai karena kasih setia- Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. —Mazmur 59:17
Kekuatan Musik
Di Wales, musik yang dihasilkan oleh kelompok-kelompok paduan suara kaum pria punya pengaruh yang besar pada budaya negeri itu. Sebelum Perang Dunia II, ada satu kelompok asal Wales yang bersaing secara sehat dengan sebuah kelompok serupa dari Jerman, tetapi keakraban itu berubah menjadi kebencian selama dan setelah perang berlangsung. Namun ketegangan itu pelan-pelan surut melalui pesan yang tercantum pada piala yang menjadi milik bersama kedua kelompok itu: “Bicaralah denganku, kau akan menjadi temanku. Bernyanyilah bersamaku, kau menjadi saudaraku.”
Kekuatan musik untuk memulihkan dan menolong jiwa merupakan anugerah dari Allah yang telah menghibur banyak orang. Mungkin itulah mengapa kita sangat menghayati kitab Mazmur. Dalam kitab itu, kita menemukan lirik demi lirik yang menyentuh hati kita dan yang memungkinkan kita untuk berbicara kepada Allah dari lubuk hati kita. “Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku” (Mzm. 59:17). Hebatnya, Daud menulis pujian ini ketika ia sedang dikejar-kejar oleh mereka yang ingin membunuhnya! Dalam situasi demikian, Daud tetap mengingat kuasa dan belas kasih Allah, dan bernyanyi tentang sifat-sifat Allah itu yang menguatkan dirinya untuk terus melangkah maju.
Kiranya Allah memberi kita sebuah pujian hari ini yang akan mengingatkan kita akan kebaikan dan kebesaran-Nya, apa pun yang mungkin sedang kita hadapi. —WEC
Aku bernyanyi bahagia,
Memuji Yesus selamanya;
Aku bernyanyi bahagia,
Memuji Yesus selamanya. —Crosby
(Kidung Jemaat, No. 392)
“Aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN, Allah Israel.” —Hakim-Hakim 5:3

Sunday, February 9, 2014

Memelihara Kesatuan

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3
Memelihara Kesatuan
Alkisah, seorang pria yang sudah lama terdampar sendirian di sebuah pulau akhirnya ditemukan. Regu penyelamat bertanya kepada pria itu tentang tiga pondok yang mereka lihat di pulau tersebut. Pria itu menunjuk masing-masing pondok itu dan berkata, “Yang itu rumah saya dan yang itu gereja saya.” Ia kemudian menunjuk ke arah pondok yang ketiga: “Kalau itu gereja saya yang sebelumnya.” Meskipun kita mungkin menertawakan kekonyolan cerita ini, tetapi cerita ini memang menyoroti suatu masalah tentang kesatuan di antara orang percaya.
Jemaat di Efesus pada masa pelayanan Rasul Paulus terdiri dari orang kaya dan orang miskin, kaum Yahudi dan non-Yahudi, pria dan wanita, para tuan dan budak. Seperti pada umumnya, di mana ada perbedaan, di sana pula ada pergesekan. Salah satu permasalahan yang disebutkan Paulus dalam tulisannya adalah perihal kesatuan. Namun, cermatilah perkataan Paulus tentang masalah ini dalam Efesus 4:3. Ia tidak mendorong mereka untuk “giat menciptakan atau membangun kesatuan.” Ia memerintahkan mereka untuk berusaha “memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Kesatuan itu telah ada karena umat percaya diikat bersama oleh satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa dari semua (ay.4-6).
Bagaimana caranya kita “memelihara kesatuan”? Dengan cara mengemukakan pendapat dan keyakinan kita yang berbeda-beda dengan sikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar (ay.2). Roh Kudus akan memberikan kepada kita kuasa untuk bertindak penuh kasih saat menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. —AL
Tuhan, kiranya perilaku dan pelayanan kami menggambarkan
kesatuan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus di surga.
Penuhilah kami dengan buah Roh agar kami dapat mengasihi
sesama kami sebagaimana Engkau menghendakinya.
Kesatuan di antara umat Tuhan didasari oleh kesatuan kita dengan Kristus.

Saturday, February 8, 2014

Tak Sengaja

Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa . . . haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN . . . seekor lembu jantan muda yang tidak bercela. —Imamat 4:2-3
Tak Sengaja
Dalam perjalanan saya untuk mengantar cucu kami, Alex, pulang ke rumahnya, saya mendapati lalu lintas hari itu sangat padat dan menyulitkan. Mobil-mobil yang bergerak dengan begitu cepat telah menghalangi mobil saya untuk dapat melintasi jalur yang benar di jalan tol yang saya lalui. Saya dipaksa untuk melintasi sebuah jalur yang hanya boleh dilalui oleh mobil-mobil yang memiliki kartu tol prabayar, dan saya tidak memiliki kartu itu. Alex mengatakan kepada saya bahwa plat mobil saya akan direkam dan karcis tilangnya akan dikirimkan lewat pos ke alamat saya. Saya merasa frustrasi karena diharuskan membayar denda untuk suatu pelanggaran yang tidak sengaja saya lakukan.
Bangsa Yahudi kuno memandang pelanggaran terhadap hukum Allah dengan sangat serius, sekalipun hal itu diperbuat dengan tidak sengaja. Perjanjian Lama menyadari kemungkinan terjadinya dosa yang tidak disengaja dan menetapkan persembahan yang sesuai bagi seseorang yang melakukannya: “Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa . . . haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN . . . seekor lembu jantan muda yang tidak bercela” (Im. 4:2-3).
Persembahan korban dalam Perjanjian Lama tidak hanya menjadi pengingat akan adanya konsekuensi bagi dosa yang dilakukan dengan tidak disengaja. Penetapan persembahan itu diberikan dalam kerangka penantian akan karya Allah yang menganugerahkan suatu penebusan yang berlaku bahkan atas dosa-dosa yang kita lakukan tanpa kita sadari. Allah melakukannya melalui kematian Yesus yang menggantikan tempat kita. Anugerah Allah sungguh jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan! —HDF
Anugerah, anugerah, anugerah Allah,
Anugerah yang ampuni dan sucikan batin;
Anugerah, anugerah, anugerah Allah,
Anugerah yang atasi segala dosa kita. —Johnston
Anugerah berarti menerima yang tak layak kita terima. Belas kasih berarti tak menerima yang layak kita terima.

Friday, February 7, 2014

Siapakah Pahlawannya?

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Siapakah Pahlawannya?
Ketika membaca kitab Hakim-Hakim dengan segala pertempuran dan tokohnya yang perkasa, bisa jadi kita merasa seperti sedang membaca komik tentang pahlawan super. Kita membaca tentang Debora, Barak, Gideon, dan Simson. Meskipun demikian, pada jajaran hakim-hakim (atau penyelamat) itu, kita juga menemukan nama Otniel.
Catatan tentang kehidupan Otniel amat singkat dan begitu terus terang (Hak. 3:7-11). Tidak ada drama. Tidak ada pula unjuk kekuatan. Namun yang kita lihat adalah perbuatan yang Allah lakukan melalui Otniel: “TUHAN membangkitkan seorang penyelamat” (ay.9), “Roh TUHAN menghinggapi dia” (ay.10), dan “TUHAN menyerahkan Kusyan- Risyataim, raja Aram, ke dalam tangan [Otniel]” (ay.10).
Catatan tentang Otniel membantu kita berfokus pada hal yang terpenting, yakni pekerjaan Allah. Kisah-kisah yang menarik dan para tokoh yang mengagumkan dapat mengaburkan nilai penting tersebut. Jika kita terlalu memusatkan perhatian pada hal-hal tersebut, bisa saja kita gagal untuk melihat apa yang sedang dilakukan Tuhan.
Ketika masih muda, saya pernah membayangkan andai saja saya lebih berbakat dalam banyak hal, saya akan dapat menuntun lebih banyak orang mengenal Kristus. Namun saya telah berfokus pada hal yang salah. Allah sering menggunakan orang-orang biasa untuk mengerjakan karya-karya-Nya yang luar biasa. Terang Allah yang bersinar melalui hidup kitalah yang memuliakan nama-Nya dan yang membuat orang-orang mau datang kepada-Nya (Mat. 5:16).
Ketika orang lain melihat hidup kita, adalah lebih penting mereka melihat Tuhan—bukan kita. —PFC
Kiranya firman Allah berdiam melimpah
Di dalam hatiku dari waktu ke waktu,
Sehingga semua bisa melihat kemenanganku
Yang didapat hanya oleh kuasa-Nya. —Wilkinson
Kemampuan kita yang terbatas menegaskan kuasa Allah yang tak terbatas.

Thursday, February 6, 2014

Sebelum Dan Setelah

Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku . . . Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku. —Mazmur 55:2,5
Sebelum Dan Setelah
Adakah perubahan pada iman seseorang setelah pencobaan berat menimpa? Saya memikirkan hal ini ketika membaca kisah tragis tentang seorang ayah di Jamaika yang tanpa sengaja menembak dan membunuh putrinya yang berusia 18 tahun saat berusaha melindungi keluarganya dari para penjahat.
Siaran berita melaporkan bahwa sang ayah pergi ke gereja (seperti yang biasa dilakukannya) pada keesokan harinya—masih dalam keadaan terguncang, tetapi tetap mencari pertolongan Allah. Iman kepada Allah telah menuntun langkahnya sebelum peristiwa itu, dan ia tahu bahwa Allah akan menopangnya setelah kejadian tersebut.
Saya memikirkan hal ini dan kaitannya dengan hidup saya sendiri—kami sama-sama pernah kehilangan seorang remaja putri. Untuk menilik bagaimana saya memandang soal hidup dan iman sebelum kematian Melissa, saya menelusuri arsip dalam komputer saya dan membaca artikel terakhir yang saya tulis sebelum kami kehilangan Melissa pada bulan Juni 2002. Apakah yang saya katakan saat itu sesuai dengan yang saya ketahui sekarang? Apakah pencobaan berat mengubah pandangan saya tentang iman kepada Allah? Pada Mei 2002, saya menulis: “Daud tidak takut bersikap terus terang kepada Allah dan mencurahkan isi hatinya kepada-Nya. . . . Kita tidak perlu takut mencurahkan isi hati kita kepada Allah.”
Sebelum mengalami masa-masa sulit, saya datang kepada Allah dan Dia mendengarkan saya. Setelah masa-masa sulit itu, saya mendapati Allah masih mendengarkan, menghibur, dan menopang saya. Jadi saya terus berdoa dalam iman. Iman kita tetap utuh dan diperkuat karena Dia tetap Allah, sebelum dan setelah semua itu terjadi. —JDB
Allah masih duduk di takhta-Nya,
Dia tak pernah tinggalkan umat-Nya;
Janji-Nya benar, Dia takkan lupakanmu,
Allah masih duduk di takhta-Nya. —Suffield
Pengertian tentang Allah menguatkan kita untuk percaya kepada-Nya dalam segala hal yang tak kita mengerti.

Wednesday, February 5, 2014

Hati Yang Tertuduh

Sebab jika kita dituduh oleh [hati kita], Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. —1 Yohanes 3:20
Hati Yang Tertuduh
Baru-baru ini saya membaca tentang seorang detektif swasta di AS yang biasa mengetuk pintu, menunjukkan lencananya, lalu berkata, “Saya rasa kami tak perlu memberitahukan alasan kami datang kemari.” Sering kali, tuan rumahnya akan tertegun dan berkata, “Bagaimana Anda bisa tahu?” untuk kemudian menjelaskan tentang suatu tindak kriminal di masa silam yang belum pernah terungkap. Dalam tulisannya di majalah Smithsonian, Ron Rosenbaum menyebut reaksi itu sebagai “terkuaknya kesadaran nurani, monolog batin dari hati yang tertuduh.”
Kita semua mengetahui hal-hal tentang diri sendiri yang tidak diketahui oleh siapa pun—segala kegagalan, pelanggaran, dosa kita. Meskipun kita sudah mengakuinya di hadapan Allah dan diampuni-Nya, semuanya itu dapat muncul kembali dan menuduh hati kita dengan bertubi-tubi. Yohanes, salah seorang murid terdekat Yesus, menulis tentang kasih Allah bagi kita dan panggilan untuk mengikuti perintah-Nya: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1Yoh. 3:19-20).
Keyakinan kita kepada Allah bertumbuh dari kasih dan pengampunan yang diberikan-Nya dalam Kristus, bukan dari hasil perbuatan kita dalam hidup ini. “Demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (ay.24).
Allah yang mengetahui segala sesuatu tentang diri kita itu jauh lebih besar daripada segala tuduhan yang menyerang hati kita. —DCM
Di dalam Yesus Penebus,
Hukuman dosa hilanglah;
Kudapat hidup yang kudus,
Jubahku kebenaran-Nya. —Wesley
(Kidung Jemaat, No. 31b)
Orang yang menerima Kristus tidak akan pernah menerima hukuman Allah.

Tuesday, February 4, 2014

Perintah Yang Penting


Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. —Markus 12:30
Perintah Yang Penting
Ketika ditanya oleh seorang ahli Taurat untuk menyebutkan perintah mana yang paling penting dalam hidup, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30). Dalam kata-kata-Nya tersebut, Yesus merangkumkan apa yang paling Allah kehendaki dari diri kita.
Saya bertanya-tanya bagaimana mungkin saya dapat belajar mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi saya. Neal Plantinga menyebut tentang satu perubahan kecil dalam perintah ini sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Baru. Kitab Ulangan memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita (6:5). Yesus menambahkan kata akal budi. Plantinga menjelaskan, “Kasihilah Allah dengan segala milik Anda dan dengan segenap keberadaan Anda. Segalanya.”
Penjelasan tersebut menolong untuk mengubah cara pandang kita. Ketika belajar mengasihi Allah dengan segenap hidup kita, kita akan memandang kesulitan-kesulitan kita sebagai “penderitaan ringan yang sekarang”—sebagaimana Rasul Paulus menggambarkan pengalaman penderitaannya yang begitu berat. Yang dipikirkannya adalah “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2Kor. 4:17).
Ketika kita berdoa dan mengasihi Allah dengan segenap jiwa, keraguan dan kesulitan kita memang tidak lenyap, tetapi pengaruhnya pada diri kita meredup. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19), dan kita mengendurkan desakan kita kepada Allah sembari belajar untuk mempercayai kebaikan-Nya. —PDY
Dahulu dunia andalanku;
Kini Engkau, Tuhan, harapanku.
Inilah doaku: Tambahkan kasihku:
Makin besar kepada-Mu. —Prentiss
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 141)
Pemberian kita yang paling berharga untuk Allah adalah sesuatu yang takkan pernah dipaksakan-Nya—kasih kita.

Monday, February 3, 2014

Resolusi Untuk Punya Resolusi

Lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! —Roma 14:13
Resolusi Untuk Punya Resolusi
Saya belum pernah lagi membuat resolusi Tahun Baru sejak tahun 1975. Saya merasa tidak perlu membuat resolusi baru, karena saya masih berusaha melakukan resolusi-resolusi lama seperti: menulis setidaknya satu catatan pendek pada jurnal saya setiap hari; berupaya keras untuk membaca Alkitab dan berdoa setiap hari; mengatur jadwal saya; menjaga kebersihan kamar saya (sebelum saya mempunyai rumah sendiri dan perlu menjaga kebersihannya secara menyeluruh).
Namun tahun ini, saya menambahkan resolusi baru yang saya temukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma: “Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (14:13). Meskipun resolusi ini sudah berusia sekitar 2000 tahun, ini termasuk salah satu resolusi yang perlu kita perbarui setiap tahunnya. Sama seperti umat Tuhan di Roma berabad-abad lalu, umat Tuhan di masa kini terkadang menciptakan aturan-aturan sendiri dan menuntut orang lain untuk taat mengikuti perilaku dan keyakinan tertentu yang sebenarnya jarang atau bahkan tidak disebutkan dalam Alkitab. “Batu-batu sandungan” ini mempersulit para pengikut Yesus untuk menjalani kehidupan iman sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Yesus—yakni keselamatan itu diterima sebagai anugerah dan bukan karena jasa perbuatan manusia (Gal. 2:16). Syarat yang diperlukan untuk menerima pengampunan hanyalah iman percaya kita pada kematian dan kebangkitan-Nya.
Kita bisa mensyukuri kabar baik dari Kristus ini di sepanjang tahun dengan mengambil tekad untuk tidak melakukan segala sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain tersandung dalam iman. —JAL
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau mengutus Roh Kudus
untuk meyakinkan dan menegur jiwa seseorang. Kiranya aku cukup
puas dengan tugasku ini: untuk melakukan apa pun
yang membawa kedamaian dan membangun iman.
Iman bagaikan tangan yang menerima anugerah Allah, dan ibarat kaki yang rela berjalan bersama Allah.

Sunday, February 2, 2014

Diperlukan Panduan

Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. —Yohanes 16:13
Diperlukan Panduan
Gereja St. Nicholas di Galway, Irlandia, tidak saja memiliki sejarah yang panjang tetapi juga masih berfungsi sampai sekarang. Gereja tertua di Irlandia ini hingga kini masih memberikan panduan dengan cara yang sangat praktis. Bangunan gereja ini menjulang tinggi dengan megah, dan menaranya dimanfaatkan oleh para nakhoda kapal sebagai panduan untuk menunjukkan arah jalan supaya mereka dapat tiba dengan selamat di Teluk Galway. Selama berabad-abad, gereja ini telah menjadi andalan para pelaut untuk mengetahui arah jalan pulang bagi mereka.
Tentulah kita semua merasakan kebutuhan yang sama untuk menerima panduan. Yesus bahkan membahas tentang kebutuhan ini dalam pengajaran-Nya di ruang atas tempat perjamuan terakhir diadakan. Dia mengatakan bahwa setelah kepergian-Nya, Roh Kudus akan memainkan peran penting dalam kehidupan orang percaya. Dalam peran-Nya itu, Yesus berjanji, “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13).
Alangkah luar biasanya pertolongan itu! Di tengah dunia yang penuh dengan kesesatan dan ketakutan, acap kali kita memang membutuhkan panduan. Kita begitu rentan diarahkan ke jalan yang salah oleh budaya yang beredar di sekitar kita atau oleh sifat dosa dalam diri kita (1Yoh. 2:15-17). Namun Roh Allah hadir untuk menolong, mengarahkan, dan memandu kita. Betapa kita bersyukur karena Roh Kebenaran telah datang untuk memberi kita panduan yang sering kali begitu kita butuhkan. Arahkan hidup Anda untuk mengikuti panduan-Nya, dan Anda pun akan selamat sampai tujuan. —WEC
Tuntun aku, Tuhan Allah,
Lewat gurun dunia.
Kau perkasa dan setia;
Bimbing aku yang lemah. —Williams
(Kidung Jemaat, No. 412)
Roh Kudus adalah Pemandu yang dapat diandalkan untuk menghadapi segala keadaan dalam hidup ini.

Saturday, February 1, 2014

Allah Mendengar

Karena Hana berkata-kata dalam hatinya . . . suaranya tidak kedengaran. —1 Samuel 1:13
Allah Mendengar
Setelah membaca beberapa buku anak-anak bersama putri saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan membaca buku untuk orang dewasa selama beberapa waktu, baru kemudian kami akan membaca bersama buku anak-anak lagi. Saya membuka-buka buku yang ingin saya baca dan mulai membacanya dalam hati. Beberapa menit kemudian, putri saya menatap saya dengan tatapan ragu dan berkata, “Mama tidak benar-benar membaca.” Dalam anggapannya, karena saya membaca tanpa mengeluarkan suara, saya tidak sungguh-sungguh mencerna kata-kata dalam buku itu.
Seperti membaca, doa juga bisa dilakukan tanpa mengeluarkan suara. Hana, yang rindu mempunyai anak, mengunjungi bait Allah dan “berkata-kata dalam hatinya” ketika berdoa. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi “suaranya tidak kedengaran” (1Sam. 1:13). Imam Eli melihat semua itu tetapi salah memahami apa yang sedang terjadi. Hana menjelaskan, “Aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN” (ay.15). Allah mendengar permohonan doa tanpa suara yang dipanjatkan Hana dan memberinya seorang putra (ay.20).
Karena Allah menyelidiki hati dan pikiran kita (Yer. 17:10), Dia melihat dan mendengar setiap doa—bahkan doa-doa yang tidak terucapkan oleh bibir kita. Sifat-Nya yang Mahatahu memungkinkan kita untuk berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan mendengar dan menjawab doa-doa kita (Mat. 6:8,32). Oleh karena itulah, kita dapat terus memuji Allah, memohon pertolongan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya atas segala berkat-Nya—bahkan ketika orang lain tidak dapat mendengar doa kita. —JBS
Indahnya saat yang teduh
Menghadap takhta Bapaku:
Kunaikkan doa pada-Nya,
Sehingga hatiku lega. —Walford
(Kidung Jemaat, No. 454)
Allah memenuhi hati kita dengan damai sejahtera ketika kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate