Pages - Menu

Saturday, December 31, 2016

Sekaranglah Harinya

Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. —2 Korintus 6:2
Sekaranglah Harinya
Maggie, cucu kami yang berusia prasekolah, dan Katie, saudaranya yang sudah TK, menarik beberapa lembar selimut ke halaman belakang untuk membangun tenda yang akan menjadi tempat mereka bermain. Setelah mereka bermain di luar beberapa waktu lamanya, tiba-tiba Maggie memanggil ibu mereka.
“Ma, cepat ke sini!” teriak Maggie. “Aku ingin menerima Yesus dalam hatiku dan aku butuh bantuan Mama!” Rupanya pada saat itu, ia sangat menyadari kebutuhannya akan Tuhan Yesus dan siap untuk beriman kepada-Nya.
Desakan Maggie yang meminta bantuan untuk mempercayai Yesus mengingatkan kita pada kata-kata Paulus dalam 2 Korintus 6 tentang keselamatan. Ia sedang membicarakan kenyataan bahwa kedatangan Yesus Kristus— termasuk kematian dan kebangkitan-Nya—telah memulai suatu zaman yang ia sebut sebagai “waktu perkenanan [Allah].” Kita juga hidup dalam waktu dan masa tersebut, dan keselamatan tersedia bagi semua orang sekarang juga. Rasul Paulus berkata, “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (ay.2). Bagi semua orang yang belum mempercayai Yesus untuk menerima pengampunan atas dosa-dosa mereka, sekaranglah waktu untuk melakukannya. Ini sungguh mendesak.
Mungkin Roh Kudus telah mengingatkanmu bahwa kamu sungguh perlu mempercayai Tuhan Yesus. Seperti Maggie, jangan tunda lagi. Datanglah segera kepada Yesus. Sekaranglah harinya! —Dave Branon
Bapa Surgawi, sekarang aku menyadari perlunya memperoleh pengampunan atas dosaku. Aku juga menyadari hanya Yesus—karena pengorbanan-Nya di kayu salib—yang dapat mengampuni dosaku. Aku mau beriman dan percaya kepada Yesus hari ini. Ampunilah aku dan jadilah Tuhan dalam hidupku.
Tiada hari yang lebih baik daripada hari ini untuk masuk ke dalam keluarga Allah.

Friday, December 30, 2016

Waktu Pribadi Bersama Allah

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. —Matius 14:23
Waktu Pribadi Bersama Allah
Pagi itu suasana di kelas sekolah Minggu tempat saya melayani sangat ramai. Sekitar 12 anak kecil terus berceloteh dan bermain di ruangan. Karena banyaknya kegiatan yang berlangsung, ruangan kami menjadi panas. Saya pun membuka pintu ruangan dan mengganjalnya. Seorang anak laki-laki melihat itu sebagai kesempatan untuk kabur. Ia pun berjingkat keluar dari ruangan, mengira tidak ada yang memperhatikannya. Setelah membuntutinya, saya pun tidak heran menemukan bahwa ia mencari ayahnya dan langsung memeluknya.
Anak kecil tersebut melakukan apa yang perlu kita lakukan ketika hidup menjadi begitu sibuk dan membuat kita kewalahan—ia menyelip keluar agar bisa bersama ayahnya. Tuhan Yesus mencari kesempatan agar bisa menghabiskan waktu bersama Bapa Surgawi-Nya di dalam doa. Ada yang berpendapat bahwa mungkin itulah cara-Nya mengatasi berbagai tuntutan yang telah menguras tenaga-Nya sebagai manusia. Menurut Injil Matius, Yesus sedang pergi ke suatu tempat terpencil ketika orang banyak mengikuti Dia. Melihat kebutuhan mereka, Yesus melakukan mukjizat dengan menyembuhkan mereka dan memberi mereka makan. Namun setelah itu Dia “naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri” (Mat. 14:23).
Tuhan Yesus berulang-ulang menolong banyak orang, tetapi Dia tidak membiarkan diri-Nya menjadi kepayahan dan tergopoh-gopoh. Dia selalu memupuk hubungan-Nya dengan Allah melalui doa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan menyediakan waktu pribadi bersama Allah untuk mengalami kekuatan dan kepuasan sejati dari-Nya? —Jennifer Benson Schuldt
Dari mana kamu menemukan kepuasan yang lebih besar—dari usaha kamu memenuhi segala tuntutan hidup ini atau dari hubungan kamu dengan Sang Pencipta?
Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui!

Thursday, December 29, 2016

Cincin Meterai

Aku . . . akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman Tuhan. —Hagai 2:24
Cincin Meterai
Ketika pertama kalinya berkenalan dengan seorang teman dari luar negeri, saya tertarik pada logatnya yang sangat bagus dan sebuah cincin yang terdapat pada jari kelingkingnya. Belakangan saya mengetahui bahwa cincin itu bukan sekadar perhiasan. Sebuah lambang yang terukir pada cincin itu menunjukkan tempatnya dalam silsilah keluarganya.
Cincin teman saya itu mirip dengan cincin meterai—bisa jadi seperti yang disebutkan dalam kitab Hagai. Dalam kitab Perjanjian Lama yang singkat itu, Nabi Hagai menyerukan kepada umat Allah untuk membangun kembali bait Allah. Mereka pernah dibuang dan sekarang sudah kembali ke tanah air mereka, tetapi ketika mereka mulai membangun kembali, pertentangan dari para musuh membuat proyek itu terhenti. Pesan dari Hagai meliputi janji Allah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, yang menyatakan bahwa ia telah dipilih dan dijadikan seperti cincin meterai.
Pada zaman kuno, cincin meterai digunakan sebagai pengenal identitas seseorang. Untuk menandai sesuatu, mereka tidak membubuhkan nama sebagai tanda tangan, tetapi mencetak cincin mereka yang telah dibubuhkan ke lilin panas atau tanah liat yang lembek. Sebagai anak-anak Allah, kita juga menandai kehadiran kita di dunia ini dengan menyebarkan Injil, membagikan anugerah-Nya kepada sesama, dan bekerja meringankan beban orang lain.
Setiap dari kita memiliki cap tersendiri yang memperlihatkan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah dan menunjukkan paduan unik dari karunia, kegemaran, dan hikmat yang kita miliki. Kita menerima panggilan dan hak istimewa untuk berperan sebagai cincin meterai Allah di tengah dunia ini. —Amy Boucher Pye
Ya Allah Bapaku, hari ini, tolonglah aku mengenali identitasku yang sejati sebagai ahli waris-Mu. (Lihat Lukas 15).
Kita adalah ahli waris dan duta Allah yang dipanggil untuk membagikan kasih-Nya kepada dunia.

Wednesday, December 28, 2016

Diikat dalam Kasih

Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 106:1
Diikat dalam Kasih
Pada bulan Juni 2015, pemerintah kota Paris membuang gembok-gembok seberat 45 ton dari terali jembatan pejalan kaki Pont des Arts. Para pasangan kekasih yang mengikat cinta di sana menuliskan huruf awal nama mereka pada sebuah gembok, mengaitkan gembok itu pada terali jembatan, menguncinya, lalu melemparkan kuncinya ke sungai Seine.
Setelah ribuan pasangan melakukan hal tersebut, jembatan itu tidak dapat lagi menahan beban “cinta” yang begitu berat. Karena khawatir jembatan itu akan runtuh, akhirnya pemerintah kota Paris memutuskan untuk membuang “gembok-gembok cinta” tersebut.
Gembok-gembok tersebut dimaksudkan untuk melambangkan cinta yang abadi, tetapi cinta manusia tidak selalu bisa bertahan lama. Kawan yang paling akrab sekalipun bisa saling menyinggung perasaan dan tidak dapat menyelesaikan perbedaan mereka. Sesama anggota keluarga bisa berselisih paham dan menolak untuk saling memaafkan. Hati suami-istri bisa terpisah begitu jauh, sampai-sampai mereka tidak ingat lagi alasan mereka menikah. Cinta manusia memang bisa berubah-ubah.
Namun demikian, ada satu kasih yang tetap dan bertahan selamanya, yaitu kasih Allah. “Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”, seperti diungkapkan oleh Mazmur 106:1. Janji-janji tentang kasih Allah yang abadi dan tak berkesudahan itu terdapat di seluruh Kitab Suci. Dan bukti terbesar dari kasih itu adalah kematian Anak-Nya, sehingga mereka yang beriman kepada-Nya akan hidup selama-lamanya. Tiada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Rm. 8:38-39).
Sebagai saudara-saudari seiman, kita diikat dalam kasih Allah untuk selama-lamanya. —Cindy Hess Kasper
Ya Bapa, aku bersyukur atas kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Aku diikat selamanya dalam kasih-Mu oleh Roh Kudus yang hidup di dalamku.
Kematian dan kebangkitan Kristus adalah bukti kasih Allah kepada saya.

Tuesday, December 27, 2016

Kesaksian Sederhana

Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. —2 Petrus 1:16
Kesaksian Sederhana
Tawa keras tiba-tiba keluar dari kamar rumah sakit tempat ayah saya dirawat. Di kamar itu berkumpul dua pengemudi truk berusia lanjut, seorang mantan penyanyi lagu country, seorang perajin, dua wanita dari peternakan, dan saya sendiri.
. . . lalu orang itu bangun dan memukul kepalaku dengan botol,” kata sang perajin saat mengakhiri ceritanya tentang perkelahian yang dialaminya di sebuah bar.
Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar kisah pedih yang sekarang terdengar lucu itu. Ayah pun ikut tertawa, meski ia sulit bernapas dengan baik karena kanker yang menggerogoti paru-parunya. Sambil terengah-engah, ia mengingatkan setiap orang di situ bahwa saya adalah seorang pengkhotbah, sehingga mereka harus berhati-hati dalam berbicara. Kami semua sempat terdiam, sebelum kembali tertawa lepas karena cerita lucu tadi.
Tiba-tiba saja, kira-kira 40 menit sejak kedatangan mereka, perajin teman Ayah itu mengucapkan sesuatu dengan serius sambil memandang ayah saya. “Howard, sekarang aku tak lagi minum-minum dan berkelahi di bar. Itu adalah kisah masa lalu. Sekarang aku mempunyai tujuan lain dalam hidupku. Aku ingin menceritakan padamu tentang Juruselamatku.”
Ia pun menceritakan kesaksiannya, walau sempat diprotes oleh ayah. Saya belum pernah mendengar penyampaian berita Injil seindah dan selembut itu. Ayah menyimak dan memperhatikan kesaksian temannya itu. Beberapa tahun kemudian, ayah saya mau menyerahkan hidupnya dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Suatu kesaksian sederhana dari seorang teman lama yang hidup dengan sederhana itu kembali mengingatkan saya bahwa sederhana tidak berarti bodoh atau lugu, melainkan lugas dan apa adanya.
Sama seperti Tuhan Yesus dan keselamatan dari-Nya. —Randy Kilgore
Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. —Matius 28:19

Monday, December 26, 2016

Tepat Waktu

Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. —Galatia 4:4
Tepat Waktu
Kadang saya bercanda bahwa saya akan menulis buku dengan judul Tepat Waktu. Mereka yang mengenal saya pasti tersenyum karena mereka tahu saya punya kebiasaan suka terlambat. Saya beralasan bahwa keterlambatan saya itu disebabkan karena saya terlalu optimis, bukannya karena kurang berusaha. Maksud saya, dengan penuh optimisme saya bersikeras mempercayai bahwa “kali ini” saya akan mampu memenuhi tanggung jawab saya dalam waktu yang lebih singkat dari sebelumnya. Namun kenyataannya, saya tidak mampu, dan saya tidak bisa memenuhinya. Pada akhirnya saya lagi-lagi harus meminta maaf atas kegagalan saya untuk datang tepat waktu.
Sebaliknya, Allah selalu tepat waktu. Kita mungkin berpikir bahwa Allah terlambat, tetapi Dia tidak pernah terlambat. Di sepanjang Kitab Suci, kita membaca tentang orang-orang yang tidak sabar dalam menantikan waktu Allah. Bangsa Israel sangat lama menantikan Mesias yang telah dijanjikan bagi mereka. Walaupun banyak yang menyerah, Simeon dan Hana tidak menyerah. Setiap hari mereka berdoa dan menanti di Bait Allah (Luk. 2:25-26,37). Iman mereka pun menerima imbalannya. Mereka berkesempatan melihat bayi Yesus ketika Dia dibawa Maria dan Yusuf untuk diserahkan kepada Tuhan (ay.27-32,38).
Ketika kita berkecil hati karena Allah tidak menjawab doa pada waktu yang kita harapkan, Natal mengingatkan kita bahwa “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, . . . supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5). Waktu Allah selalu tepat dan penantian kamu takkan sia-sia. —Julie Ackerman Link
Bapa Surgawi, aku mengakui bahwa aku menjadi tidak sabar dan patah semangat karena menghendaki doa-doaku dijawab sesuai dengan jadwal dan waktuku. Mampukan aku menantikan dengan sabar waktu-Mu dalam segala hal yang kuharapkan.
Allah tidak pernah terlambat—nantikanlah Dia dengan sabar.

Sunday, December 25, 2016

Kesukaan bagi Semua

Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. —Lukas 2:10
Kesukaan bagi Semua
Di hari terakhir dari sebuah konferensi penerbit Kristen di Singapura, 280 peserta dari 50 negara berkumpul di halaman hotel untuk berfoto bersama. Dari balkon di lantai 2, setelah mengambil banyak foto dari sudut yang berbeda-beda, sang fotografer akhirnya berkata, “Sudah selesai!” Lalu salah seorang peserta berseru, “Joy to the world!” (“Hai dunia, gembiralah!”). Perkataan itu langsung diikuti oleh seseorang dengan nyanyian, “The Lord is come” (“Tuhan sudah datang”). Peserta-peserta lainnya mulai ikut menyanyi, dan tidak lama kemudian seluruh peserta menyanyikan pujian Natal yang tidak asing itu dalam suatu paduan suara yang indah. Saya tidak akan pernah melupakan peragaan kesatuan dan sukacita yang mengharukan itu.
Dalam catatan Lukas tentang kisah Natal, seorang malaikat memberitakan kelahiran Yesus Kristus kepada sekelompok gembala dengan berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:10-11).
Kesukaan itu bukan hanya untuk segelintir orang, melainkan untuk seluruh umat manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16).
Dengan membagikan kabar tentang Yesus kepada sesama—kabar yang mengubahkan hidup manusia, kita turut ambil bagian dalam paduan suara sedunia yang mengumandangkan “keadilan, dan kebenaran, dan ajaib kasih-Nya.”
“Hai dunia, gembiralah dan sambut Rajamu!” —David McCasland
Bapa, berilah kami mata untuk melihat orang-orang dari segala bangsa menerima sukacita dan anugerah-Mu.
Kabar baik tentang kelahiran Yesus adalah sumber sukacita bagi seluruh dunia.

Saturday, December 24, 2016

Natal dalam Penjara

Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. —Yesaya 9:1
Natal dalam Penjara
Martin Niemoller, seorang pendeta terkemuka asal Jerman, melewatkan hampir delapan tahun masa hidupnya di kamp-kamp konsentrasi Nazi karena ia menentang Hitler secara terang-terangan. Pada malam Natal tahun 1944, kepada sesama penghuni penjara di Dachau, Niemoller mengucapkan kata-kata yang penuh pengharapan berikut ini: “Teman-teman terkasih, pada Natal kali ini . . . marilah kita mencari, dalam diri Sang Bayi Bethlehem, Dia yang telah datang kepada kita demi menanggung bersama kita segala sesuatu yang sangat membebani kita . . . Allah sendiri telah menjembatani diri-Nya dengan kita! Surya pagi dari tempat yang tinggi telah melawat kita!”
Pada hari Natal, kita menerima kabar sukacita bahwa Allah, di dalam Kristus, telah datang kepada kita di mana pun kita berada dan telah menjembatani kesenjangan yang ada di antara kita dengan Dia. Dengan terang-Nya, Dia telah menembus kegelapan yang membelenggu kita dan mengenyahkan segala duka, kesalahan, atau kesepian yang selama ini membebani kita.
Pada malam Natal yang suram di dalam penjara itu, Niemoller memberitakan kabar sukacita: “Dari kegemilangan yang mengelilingi para gembala, secercah sinar yang terang akan menembus kegelapan kita.” Kata-kata Niemoller mengingatkan kita pada nubuat Nabi Yesaya, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1).
Apa pun yang kita alami hari ini, Yesus Kristus telah menembus dunia kita yang kelam dengan sukacita dan terang-Nya! - David McCasland
Tuhan Yesus, kami menemukan pengharapan dan kekuatan dengan menyadari bahwa terang-Mu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Yesus Kristuslah sukacita Natal.

Friday, December 23, 2016

Apa yang Kuberikan bagi-Nya?

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2
Apa yang Kuberikan bagi-Nya?
Suatu tahun di sebuah gereja, panitia yang bertanggung jawab atas dekorasi Natal memutuskan untuk menggunakan tema “Daftar Permohonan Natal”. Mereka tidak memakai dekorasi dengan hiasan-hiasan berkilauan emas dan perak seperti yang lazim digunakan, tetapi memberi setiap jemaat selembar label berwarna merah atau hijau. Setiap orang diminta menuliskan pada satu sisi dari label itu daftar hadiah yang ingin mereka terima dari Tuhan. Di sisi lainnya, mereka menuliskan daftar hadiah yang akan mereka berikan kepada Dia, Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya mereka rayakan.
Jika kamu diminta untuk menuliskan hal yang sama, hadiah apakah yang akan kamu minta dan yang akan kamu berikan? Alkitab memberi kita banyak sekali ide. Allah berjanji untuk menyediakan semua kebutuhan kita, maka kita bisa meminta supaya diberi pekerjaan baru, bantuan untuk masalah keuangan, kesembuhan fisik untuk diri sendiri atau orang lain, atau pemulihan hubungan. Kita mungkin bertanya-tanya karunia rohani apa yang bisa kita gunakan untuk melayani Allah. Banyak dari karunia rohani tersebut tertulis dalam Roma 12 dan 1 Korintus 12. Atau mungkin kita rindu menunjukkan buah Roh dalam kadar yang lebih besar: lebih mengasihi, bersukacita, membawa damai sejahtera, sabar, murah dan baik hati, setia, lemah lembut, dan menguasai diri (Gal. 5:22-23).
Anugerah terbesar yang dapat kita terima dari Allah adalah Anak-Nya, Juruselamat kita, dan Dia membawa pengampunan, pemulihan, dan janji kehidupan rohani yang kita nikmati dari saat ini sampai kekal selama-lamanya. Bagaimana dengan kita? Hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada Tuhan Yesus adalah hati kita. —Marion Stroud
Engkau telah melimpahiku dengan anugerah-Mu, Tuhan. Sebagai balasannya, aku ingin memberi-Mu hadiah terbaik yang bisa kuberikan. Nyatakanlah kepadaku apa yang paling Engkau ingini dari diriku.
Andai aku orang Majus, akan kulakukan yang kubisa. Namun apa yang bisa kuberi bagi-Nya? Kuberikan Dia hatiku seluruhnya. —Christina G. Rossetti

Thursday, December 22, 2016

Hadiah Terindah

Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu. —1 Petrus 3:15
Hadiah Terindah
Pada suatu retret musim dingin di wilayah utara New England, Amerika Serikat, seorang pria bertanya kepada para peserta lain, “Hadiah Natal apa yang pernah kau terima dan paling kau sukai?”
Seorang pria yang bertubuh atletis menjawab dengan antusias. “Itu mudah,” jawabnya, sambil melirik ke teman yang duduk di sampingnya. “Beberapa tahun lalu, setelah menyelesaikan kuliah, saya pikir saya pasti akan menjadi pemain football profesional. Saya pun marah ketika harapan itu kandas. Hati saya penuh dengan kepahitan, dan saya melampiaskan kepahitan itu kepada siapa pun yang berusaha menolong saya.”
“Pada Natal di tahun kedua saya gagal bermain football, saya pergi menonton drama Natal di gerejanya,” katanya, sambil menunjuk ke teman di sampingnya. “Bukan karena saya ingin mencari Yesus, tetapi karena ingin melihat keponakan saya yang bermain di drama itu. Susah untuk menjelaskannya dengan kata-kata, tetapi di tengah-tengah pertunjukan tersebut, saya merasa begitu rindu untuk ikut dengan para gembala dan malaikat menemui Yesus. Setelah jemaat menyanyikan lagu ‘Malam Kudus‘, saya cuma bisa terduduk dan menangis tersedu-sedu.”
“Saya mendapatkan hadiah Natal saya yang terindah pada malam itu,” katanya, sambil kembali menunjuk teman di sampingnya, “saat ia meminta keluarganya pulang terlebih dahulu demi menolong saya untuk dapat mengenal dan menerima Yesus.”
Temannya kemudian menyambung perkataannya, “Nah, itu juga hadiah Natal saya yang terindah.”
Pada Natal kali ini, kiranya kisah sederhana tentang kelahiran Yesus yang membawa sukacita itu menjadi kisah yang kita teruskan kepada orang lain. —Randy Kilgore
Yesus membawa damai dan pengampunan bagi kita dan sesama. Itulah hadiah Natal yang terindah.

Wednesday, December 21, 2016

Kisah Pribadi

Sekalipun ayah dan ibu meninggalkan aku, Allah akan memelihara aku. —Mazmur 27:10 BIS
Kisah Pribadi
Ada seorang bayi yang baru berumur beberapa jam ditinggalkan di dalam palungan dari diorama Natal di luar sebuah gereja di New York. Seorang ibu muda yang putus asa membungkus bayi itu supaya tetap hangat dan sengaja menempatkannya di sana agar ia ditemukan. Mungkin kita tergoda untuk menghakimi ibu itu, tetapi syukurlah si bayi sekarang mempunyai kesempatan untuk hidup.
Kisah itu mempengaruhi saya secara pribadi. Sebagai anak yang diadopsi, saya tidak mempunyai gambaran bagaimana keadaannya saat saya dilahirkan. Namun saya tidak pernah merasa ditelantarkan. Inilah yang saya yakini: saya memiliki dua ibu yang menginginkan supaya saya mempunyai kesempatan untuk hidup. Yang seorang memberikan hidup kepada saya, yang seorang lagi menginvestasikan hidupnya di dalam diri saya.
Dalam kitab Keluaran, kita membaca tentang seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya sedang dalam keadaan putus asa. Firaun telah memerintahkan pembunuhan semua bayi laki-laki yang lahir dari orang Ibrani (1:22), maka bayi Musa disembunyikan ibunya selama mungkin. Lalu ketika Musa berumur tiga bulan, sang ibu meletakkannya di dalam keranjang yang kedap air dan menaruhnya di Sungai Nil. Bayi Musa kemudian diselamatkan oleh putri raja, dibesarkan di istana Firaun, dan setelah dewasa akhirnya membawa keluar bangsanya dari perbudakan Mesir, sesuai dengan rencana Allah.
Ketika seorang ibu yang putus asa memberi anaknya kesempatan, Allah dapat menggunakan keadaan itu untuk menggenapi maksud-Nya. Dia sering melakukan hal tersebut lewat cara-cara-Nya yang kreatif dan tak terduga sama sekali. —Tim Gustafson
Bapa, hari ini kami berdoa untuk mereka yang sedang menghadapi keputusasaan dan kesepian. Kami berdoa khususnya untuk anak-anak yang miskin dan tak berdaya di mana saja mereka berada. Tolonglah kami untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka semampu kami.
Bagikanlah kasih Kristus.

Tuesday, December 20, 2016

Menyebarkan Sukacita

Kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” —Lukas 2:10
Menyebarkan Sukacita
Ketika Janet pergi ke luar negeri untuk mengajar Bahasa Inggris di suatu sekolah, ia merasakan suasana di sana begitu suram dan tertekan. Orang-orang memang bekerja, tetapi tidak terlihat bahagia. Mereka tidak saling menolong atau mendorong satu sama lain. Namun karena bersyukur atas semua yang telah Allah perbuat baginya, Janet mengungkapkan rasa syukur itu dalam segala hal yang dilakukannya. Ia tersenyum dan bersikap ramah. Ia berusaha menolong siapa saja semampunya. Ia menyenandungkan lagu-lagu dan pujian rohani.
Sedikit demi sedikit, setelah Janet membagikan sukacitanya, suasana di sekolah itu berubah. Satu demi satu orang mulai tersenyum dan mau saling menolong. Suatu waktu seorang guru tamu bertanya kepada kepala sekolah tentang suasana sekolah yang terasa sangat berbeda. Sang kepala sekolah yang bukan Kristen itu menjawab, “Yesus mendatangkan sukacita!” Hidup Janet begitu dipenuhi sukacita dari Tuhan hingga itu meluap dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Injil Lukas menceritakan bahwa Allah mengutus malaikat untuk memberitakan peristiwa kelahiran yang luar biasa kepada para gembala sederhana. Sang malaikat menyampaikan kabar mengejutkan bahwa bayi yang baru dilahirkan akan mendatangkan “kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk. 2:10). Dan memang itulah yang terjadi.
Sejak saat itu kabar tersebut telah tersebar dari abad ke abad hingga sampai kepada kita, dan sekarang kitalah pembawa berita sukacita Kristus kepada dunia. Melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita, marilah terus menyebarkan sukacita dari Yesus Kristus dengan mengikuti teladan-Nya dan melayani sesama. —Julie Ackerman Link
Bagaimana kamu dapat menyebarkan sukacita Yesus kepada orang lain hari ini?
Bawalah sukacita Natal ke mana saja kamu pergi setiap hari.

Monday, December 19, 2016

Mengasihi Musuh

Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? —Lukas 6:32
Mengasihi Musuh
Ketika pecah perang di tahun 1950, Kim Chin-Kyung yang masih berusia 15 tahun bergabung dengan Angkatan Darat Korea Selatan untuk membela tanah airnya. Ia segera menyadari bahwa ia belum siap menghadapi ngerinya pertempuran. Ketika rekan-rekannya sesama pemuda tewas di sekelilingnya, ia memohon kepada Allah agar dapat bertahan hidup dan berjanji akan belajar mengasihi musuh-musuhnya kalau ia diizinkan hidup.
Enam puluh lima tahun kemudian, Dr. Kim merenungkan tentang doanya yang dijawab Allah itu. Lewat perbuatannya merawat para yatim piatu dan membantu pendidikan anak-anak muda dari Korea Utara dan Tiongkok selama berpuluh-puluh tahun, ia mempunyai banyak sahabat dari orang-orang yang pernah dianggapnya sebagai musuh. Kasih yang ditunjukkannya merupakan bentuk ungkapan imannya kepada Yesus Kristus.
Sebaliknya, Nabi Yunus meninggalkan warisan yang berbeda. Sekalipun telah diselamatkan secara dramatis dari perut seekor ikan besar, hatinya tidak berubah. Meski akhirnya menaati Allah, Yunus menyatakan bahwa ia lebih baik mati daripada menyaksikan Tuhan mengampuni musuh-musuhnya (Yun. 4:1-2,8).
Kita tidak tahu apakah Yunus akhirnya belajar untuk mempedulikan orang Niniwe. Kita justru perlu mempertanyakan diri kita sendiri. Akankah kita mengikuti sikap Yunus dalam menghadapi orang yang kita takuti dan benci? Ataukah kita akan memohon kepada Allah untuk memampukan kita mengasihi musuh-musuh kita sebagaimana Dia telah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita? —Mart DeHaan
Bapa di surga, seperti nabi-Mu yang enggan, kami pun cenderung hanya mengasihi mereka yang mengasihi kami. Namun Engkau mengasihi kami meskipun kami hanya mempedulikan diri sendiri. Berikanlah kepada kami kasih karunia agar kami menjadi lebih serupa Yesus daripada Yunus.
Kasih mengalahkan segalanya.

Sunday, December 18, 2016

Katamu, Siapakah Dia?

Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? —Matius 16:15
Katamu, Siapakah Dia?
Pada tahun 1929, dalam wawancara dengan surat kabar Saturday Evening Post, Albert Einstein berkata, “Sewaktu kecil, saya menerima pengajaran dari Alkitab maupun dari kitab Talmud. Saya seorang Yahudi, tetapi saya terpesona dengan orang Nazaret yang sangat menonjol itu. . . . Tak seorang pun dapat membaca Injil tanpa merasakan kehadiran Yesus di dalamnya. Kepribadian-Nya begitu nyata dalam setiap kata. Tak ada mitos yang menampilkan kehidupan seperti itu.”
Alkitab Perjanjian Baru memberi kita contoh-contoh lain dari orang sebangsa Yesus yang juga merasakan ada yang berbeda dari diri-Nya. Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Mereka menjawab bahwa ada yang menganggap-Nya Yohanes Pembaptis, ada juga yang menyebut-Nya Elia, dan ada yang mengira Dia adalah Yeremia atau salah seorang nabi (Mat. 16:14). Disejajarkan dengan nabi-nabi besar Israel tentu adalah suatu pujian, tetapi Yesus tidak sedang mencari pujian. Dia ingin tahu sampai di mana pemahaman dan iman mereka. Maka Dia mengajukan pertanyaan kedua: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (16:15).
Pengakuan Petrus sepenuhnya mengungkapkan identitas Yesus yang benar: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (ay.16).
Yesus rindu kita mengenal-Nya dan menerima kasih-Nya yang menyelamatkan. Itulah sebabnya setiap dari kita pada akhirnya harus menjawab pertanyaan, “Menurutmu, siapakah Yesus?” —Bill Crowder
Tuhan, aku rindu mengenal-Mu dengan lebih baik lagi. Ajarlah aku lebih lagi tentang karakter-Mu yang indah supaya aku bertumbuh semakin mengasihi-Mu dan mengikut-Mu dengan segenap hatiku.
Identitas Yesus adalah pertanyaan utama yang menentukan kekekalan.

Saturday, December 17, 2016

Penutup Kita

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! —Mazmur 32:1
Penutup Kita
Ketika berbicara tentang iman kepada Yesus, terkadang kita menggunakan kata-kata tanpa memahami atau menjelaskannya. Salah satunya adalah kata kebenaran. Kita mengatakan bahwa Allah mempunyai kebenaran dan Dia membenarkan umat-Nya, tetapi hal itu bisa menjadi konsep yang sulit dipahami.
Penggambaran kata kebenaran dalam aksara Tionghoa bisa menolong kita. Kata kebenaran tersebut terdiri dari dua karakter. Karakter di bagian atas adalah kata domba, sedangkan karakter di bagian bawah adalah kata saya. Domba itu menutupi atau berada di atas orangnya.
Ketika Yesus Kristus datang ke dunia, Yohanes Pembaptis menyebut-Nya sebagai “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Dosa kita perlu dibereskan karena dosa membuat kita terpisah dari Allah, yang selalu sempurna dan benar dalam sifat dan kehendak-Nya. Karena Allah begitu mengasihi kita, Anak-Nya Yesus, “yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21). Yesus Kristus, Anak domba Allah, mencurahkan darah dan menyerahkan nyawa-Nya. Dia menjadi “penutup” kita. Dia membenarkan kita, sehingga kita kembali dalam hubungan yang benar dengan Allah.
Hubungan yang benar dengan Allah semata-mata adalah karunia-Nya. Yesus Kristus, Sang Anak Domba, diberikan Allah untuk menutupi dosa kita. —Anne Cetas
Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah mati bagiku di atas kayu salib dan menutupi dosa-dosaku sehingga aku dapat menjalin hubungan dengan-Mu.
Darah Kristus adalah satu-satunya penutup dosa yang tetap dan kekal.

Friday, December 16, 2016

Sisi Lain dari Penghiburan

Dengarlah firman Tuhan. —Yeremia 7:2
Sisi Lain dari Penghiburan
Tema dari retret bagi jemaat dewasa kami adalah “Hiburkanlah Umat-Ku”. Satu demi satu pembicara memberikan khotbah yang meneguhkan para pendengar. Namun seorang pembicara yang berkhotbah paling akhir mengubah suasana itu sama sekali. Ia berkhotbah dari Yeremia 7:1-11 dengan topik “Bangun dari Tidur”. Dengan kata-kata yang tegas tetapi penuh kasih, ia menantang kami semua untuk bangun dan berbalik dari dosa.
“Jangan bersembunyi di balik kasih karunia Allah dan tetap hidup dalam dosa yang tersembunyi,” desaknya, seperti yang dilakukan Nabi Yeremia. “Kita bisa saja membual, ‘Aku seorang Kristen; Allah mengasihiku; Aku tidak takut bahaya,’ tetapi sebenarnya kita terus melakukan bermacam-macam kejahatan.”
Kami tahu bahwa pembicara itu benar-benar mempedulikan kami, tetapi hati kami menjadi gelisah ketika mendengarkannya berkata, “Allah adalah kasih, tetapi Dia juga adalah api yang menghanguskan! (lihat Ibr.12:29). Dia tidak akan pernah membiarkan dosa!”
Nabi Yeremia mempertanyakan sikap umat Israel, “Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu . . . mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!” (7:9-10).
Dalam tema “Hiburkanlah Umat-Ku”, pembicara terakhir itu menyingkapkan sisi lain dari penghiburan Allah. Seperti ramuan pahit yang menyembuhkan orang dari penyakit malaria, kata-katanya yang keras itu menyembuhkan jiwa kami. Ketika mendengar kebenaran yang keras, kiranya kita tidak menghindar, melainkan menerima pengaruhnya yang memulihkan kita. —Lawrence Darmani
Bapa Surgawi, begitu besarnya kasih-Mu kepada kami sehingga Engkau tidak membiarkan kami terus melanggar perintah-Mu. Teguran-Mu tak pernah bertujuan untuk menyakiti kami, tetapi semata-mata untuk memulihkan kami. Engkaulah Allah sumber segala penghiburan.
Disiplin Allah dimaksudkan untuk membuat kita serupa dengan Anak-Nya.

Thursday, December 15, 2016

Tidur Sesaat

Hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. —2 Korintus 5:8
Tidur Sesaat
Henry Durbanville, seorang pendeta asal Skotlandia di masa lampau, pernah bercerita tentang seorang wanita lanjut usia di gerejanya yang tinggal di suatu daerah terpencil di negeri itu. Wanita tua itu ingin mengunjungi kota Edinburgh, tetapi ia takut menempuh perjalanan tersebut karena kereta api yang menuju ke sana harus melalui sebuah terowongan panjang yang gelap gulita.
Suatu hari ia terpaksa harus pergi juga ke Edinburgh. Ketika kereta api sedang melaju cepat mendekati kota itu, kecemasannya pun meningkat. Namun sebelum kereta melewati terowongan tersebut, wanita itu tertidur pulas karena kelelahan yang disebabkan oleh rasa cemasnya. Ketika terbangun, ternyata ia sudah sampai di kota tujuannya!
Mungkin saja di antara kita ada yang tidak akan mengalami kematian. Jika kita masih hidup ketika Yesus datang kembali, kita “menyongsong Tuhan di angkasa” (1Tes. 4:13-18). Namun banyak dari kita akan masuk ke surga melalui kematian dan bayangan kematian menimbulkan kecemasan besar bagi sebagian orang. Mereka mengkhawatirkan bahwa proses kematian itu akan sangat sulit untuk dilalui.
Dengan jaminan dari Yesus sebagai Juruselamat, kita dapat meyakini bahwa ketika kita menutup mata di dunia dan melalui kematian, kita akan membuka mata dan tiba di hadirat Allah. Penyair John Donne pernah berkata bahwa kematian itu bagaikan “tidur sesaat dan kemudian terbangun dalam kekekalan”. —David Roper
Aku bersyukur atas hidup yang telah Engkau berikan kepadaku, ya Tuhan, tetapi sungguh tidak terbayangkan bagaimana rasanya bertemu langsung dengan-Mu. Tolonglah aku untuk mempercayakan masa depanku kepada-Mu. Aku menantikan hari yang indah ketika akhirnya aku bertemu dengan-Mu.
Sukacita surgawi kita yang terbesar adalah bertemu dengan Tuhan Yesus.

Wednesday, December 14, 2016

Hidup dalam Terang

Sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. —1 Yohanes 2:8
Hidup dalam Terang
Pagi itu begitu mendung. Awan kelabu yang melayang rendah memenuhi langit, dan cuaca yang sangat gelap membuat saya harus menyalakan lampu untuk bisa membaca buku. Saya baru saja merasa nyaman ketika ruangan saya tiba-tiba menjadi terang. Saya menengadah dan melihat angin sedang meniup awan mendung ke arah timur, sehingga langit menjadi cerah dan matahari pun kembali terlihat.
Ketika saya mendekati jendela untuk melihat lebih jelas perubahan cuaca yang sedang terjadi, sepenggal ayat terlintas dalam benak saya: “Sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya” (1Yoh. 2:8). Rasul Yohanes menulis kata-kata tersebut kepada orang percaya untuk menguatkan iman mereka. Ia kemudian berkata, “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (ay.10). Sebaliknya, ia menyamakan kebencian terhadap orang lain dengan tinggal terus di dalam kegelapan. Kebencian itu menyesatkan dan membuat kita kehilangan kesadaran moral.
Mengasihi orang tidak selalu mudah. Meskipun demikian, ketika melihat ke luar jendela, saya diingatkan bahwa rasa frustrasi, pengampunan, dan kesetiaan adalah bagian dari proses mempertahankan hubungan yang mendalam dengan Allah, sumber terang dan kasih. Dengan memilih untuk mengasihi daripada membenci orang lain, kita menunjukkan hubungan kita dengan Allah dan memancarkan terang-Nya kepada dunia di sekitar kita. “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1Yoh. 1:5). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Tuhan, tolong aku untuk semakin menghayati kasih-Mu, sehingga aku pun dapat membagikannya kepada sesamaku. Aku ingin hidup di dalam terang anugerah dan belas kasihan-Mu.
Pilihan kita untuk sungguh-sungguh mengasihi orang lain menunjukkan citra Allah yang sesungguhnya kepada dunia.

Tuesday, December 13, 2016

Kabar Baik!

Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. —Nahum 1:15
Kabar Baik!
Kita dihujani dengan beragam berita melalui media internet, televisi, radio, dan telepon genggam. Mayoritas berita tersebut mengungkapkan kabar buruk—berbagai tindak kejahatan, terorisme, perang, dan masalah ekonomi. Namun adakalanya kabar baik menyeruak di tengah masa-masa kelam yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan. Kabar baik itu bisa mengungkapkan tentang tindakan tanpa pamrih yang dilakukan sekelompok orang, terobosan dalam bidang medis, atau upaya perdamaian yang berhasil dicapai oleh pihak-pihak yang sedang bertikai.
Dalam Alkitab Perjanjian Lama terdapat perkataan dua orang yang membawa harapan besar kepada umat manusia yang sudah lelah dengan pertikaian yang mendera mereka.
Dalam penggambarannya tentang penghakiman Allah yang akan ditimpakan-Nya kepada suatu bangsa yang kuat dan kejam, Nabi Nahum berkata, “Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera” (NAH. 1:15). Kabar baik tersebut membawa harapan bagi semua orang yang sedang tertindas.
Perkataan serupa juga ditemukan di dalam kitab Yesaya: “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat” (Yes. 52:7).
Nubuat yang membawa pengharapan dari Nabi Nahum dan Nabi Yesaya digenapi sepenuhnya pada hari Natal pertama ketika malaikat menyampaikan kabar kepada para gembala, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:10-11).
Kabar utama yang terpenting dalam hidup kita setiap hari adalah kabar terbaik yang pernah diberitakan—Kristus Sang Juruselamat telah lahir! —David McCasland
Kelahiran Yesus Kristus adalah kabar terbaik yang pernah diterima dunia!

Monday, December 12, 2016

Uang

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. —Matius 6:24
Uang
Di awal karier saya, saya pernah melakukan suatu pekerjaan yang lebih mirip sebagai pelayanan. Saat itu ada perusahaan lain menawarkan kedudukan yang menjanjikan gaji jauh lebih besar. Jika saya menerima pekerjaan tersebut, kami sekeluarga tentu akan lebih punya banyak uang. Namun ada satu masalah. Saya tidak sedang mencari pekerjaan baru karena saya senang dengan peran saya saat itu, peran yang saya rasakan sesuai dengan panggilan saya.
Namun uangnya itu . . .
Saya pun meminta saran kepada Ayah yang pada waktu itu sudah berusia lebih dari 70 tahun. Walaupun pemikirannya yang dahulu tajam sudah dilemahkan oleh penyakit stroke dan usia lanjut, jawaban beliau sangat tegas dan jelas: “Jangan pikirkan uangnya. Apa yang sebenarnya ingin kau kerjakan?”
Saat itu juga saya membulatkan tekad. Tidak mungkin saya meninggalkan pekerjaan yang saya cintai hanya demi uang! Terima kasih, Ayah.
Dalam khotbah-Nya di bukit, Tuhan Yesus mencurahkan sebagian besar waktu-Nya untuk berbicara tentang uang dan kegemaran kita akan uang. Dia mengajar kita untuk tidak memohon kekayaan yang berlimpah ruah, melainkan untuk “makanan [kita] yang secukupnya” setiap hari (Mat. 6:11). Dia memperingatkan kita agar tidak menyimpan harta di dunia, dan menunjuk pada burung dan bunga sebagai bukti bahwa Allah sangat mempedulikan makhluk ciptaan-Nya (ay.19-31). “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,” kata Yesus, “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (ay.33).
Uang memang penting, tetapi uang tidak boleh mengendalikan proses kita dalam mengambil keputusan. Masa-masa yang sulit dan setiap keputusan penting merupakan kesempatan untuk menumbuhkan iman kita dengan cara-cara yang baru. Bapa Surgawi selalu memelihara kita. —Tim Gustafson
Jangan pernah mengira bahwa godaan adalah kesempatan.

Sunday, December 11, 2016

Melayani Allah dengan Doa Kita

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. —Yakobus 5:16
Melayani Allah dengan Doa Kita
Allah sering memilih untuk menuntaskan pekerjaan-Nya melalui doa-doa kita. Kita melihat itu terjadi tatkala Allah berfirman kepada Nabi Elia, “Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi” (1Raj. 18:1) dan berjanji akan mengakhiri kekeringan di Israel yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun (Yak. 5:17). Sekalipun Allah telah menjanjikan hujan, beberapa waktu kemudian “Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya” untuk berdoa dengan khusyuk agar hujan segera turun (1Raj. 18:42). Lalu, sementara Elia tetap berdoa, ia mengirim bujangnya pergi untuk melihat ke arah laut “sampai tujuh kali” dan memandang ke cakrawala untuk melihat apakah ada tanda-tanda hujan (ay.43).
Elia memahami bahwa Allah menghendaki kita untuk turut dalam pekerjaan-Nya melalui doa-doa kita yang gigih dan penuh kerendahan hati. Meskipun secara manusia kita terbatas, Allah dapat memilih untuk berkarya melalui doa-doa kita dengan beragam cara yang luar biasa. Itulah sebabnya Yakobus mengatakan dalam suratnya, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” sambil juga mengingatkan kita bahwa “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita” (Yak. 5:16-17).
Ketika kita rindu melayani Allah dengan setia berdoa, seperti yang dilakukan Elia, kita sedang mengambil bagian dalam kesempatan yang indah dan istimewa. Mungkin saja sewaktu-waktu kita akan melihat terjadinya mukjizat secara langsung! —James Banks
Ya Bapa, bagaimana aku dapat melayani-Mu hari ini melalui doa-doaku?
Pengharapan kita yang besar pada karya Allah sungguh menghormati Dia.

Saturday, December 10, 2016

Pukulan dari Kawan

Seorang kawan memukul dengan maksud baik. —Amsal 27:6
Pukulan dari Kawan
Charles Lowery mengeluh kepada seorang kawan tentang nyeri yang dialaminya di punggung bagian bawah. Sebenarnya ia berharap mendapat simpati, tetapi yang diterimanya justru komentar blak-blakan dari sang kawan. Kawan itu berkata, “Aku kira masalahmu bukan nyeri punggung, tetapi perutmu. Perutmu terlalu buncit hingga membebani punggungmu.”
Dalam tulisannya untuk majalah REV!, Charles menceritakan bahwa ia menahan diri untuk tidak tersinggung. Akhirnya ia menguruskan badannya dan masalah nyeri punggungnya pun hilang. Charles menyadari, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (Ams. 27:5-6).
Masalahnya, sering kita lebih memilih untuk dihancurkan oleh pujian daripada diselamatkan oleh teguran, karena kebenaran itu memang menyakitkan. Teguran melukai ego kita, membuat kita tidak nyaman, dan menuntut kita untuk berubah.
Kawan yang baik tidak bermaksud untuk menyakiti kita. Sebaliknya, karena sangat mengasihi kita, mereka tidak tega untuk mendustai kita. Dengan keberanian dan kasih, mereka menunjukkan apa yang mungkin sudah kita ketahui tetapi yang sulit untuk sungguh-sungguh kita terima dan lakukan. Mereka tidak hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar, tetapi juga apa yang perlu kita dengar.
Dalam amsal-amsalnya, Salomo menghargai sifat persahabatan seperti itu. Yesus bahkan melangkah lebih jauh—Dia rela menderita dan menanggung penolakan kita, tidak hanya demi menyatakan kebenaran tentang diri kita, melainkan juga untuk menunjukkan betapa kita sangat dikasihi-Nya. —Poh Fang Chia
Pikirkanlah suatu waktu ketika seorang kawan mengatakan kejujuran yang membuat kamu tersinggung. Adakah manfaat yang kamu terima dari ucapannya? Bijakkah menerima semua perkataan kawan-kawan kita tentang diri kita?
Sahabat adalah seseorang yang dapat memberitahukan kebenaran kepadamu dengan penuh kasih.

Friday, December 9, 2016

Menghadiahkan Penghiburan

Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, . . . menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. —Kisah Para Rasul 4:36-37
Menghadiahkan Penghiburan
Sebuah lagu lama di Amerika pernah mengisahkan tentang seorang laki-laki yang diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik, sehingga ia tidak lagi mempunyai uang untuk membelikan hadiah Natal bagi putri kecilnya. Masa Natal yang seharusnya membawa kebahagiaan justru membuat hidupnya tampak suram dan sulit.
Bisa saja menjelang Natal perasaan putus asa seseorang semakin menjadi-jadi. Harapan yang kandas membawa kesedihan mendalam. Di saat itulah penghiburan sangat dibutuhkan.
Yusuf dari Siprus adalah salah seorang pengikut Yesus yang mula-mula. Para rasul menyebutnya Barnabas, yang artinya “anak penghiburan”. Ia menjual ladang miliknya dan menyumbangkan uang hasil penjualannya untuk membantu saudara seiman lain yang sedang berkekurangan (Kis. 4:36-37).
Kemudian kita membaca bahwa para murid takut kepada Saulus (Kis. 9:26). “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul” (ay.27). Saulus, yang kemudian bernama Paulus, pernah mencoba untuk membunuh orang percaya, tetapi ia diterima dan dibela Barnabas sebagai seseorang yang telah diubahkan oleh Kristus.
Di sekitar kita ada banyak orang yang membutuhkan penghiburan. Dorongan dan perhatian yang kita berikan lewat ucapan, panggilan telepon, atau doa akan dapat menguatkan iman mereka kepada Tuhan.
Kemurahan hati dan dukungan dari Barnabas menunjukkan artinya menjadi seseorang yang membawa penghiburan. Penghiburan dapat menjadi hadiah kita yang terbaik bagi seseorang pada Natal kali ini. —David McCasland
Tuhan, terima kasih untuk karunia penghiburan dari-Mu. Kiranya kami dapat menghibur sesama sebagaimana mereka telah menghibur kami.
Penghiburan bisa menjadi hadiah kita yang terbaik pada Natal kali ini.

Thursday, December 8, 2016

Suara Surround

Kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh. —Nehemia 12:43
Suara Surround
Studio Walt Disney adalah yang pertama memperkenalkan konsep baru dalam mendengarkan film. Konsep itu disebut “suara stereofonik” atau suara surround (sekeliling). Hal itu dikembangkan karena para produser menginginkan para penonton bioskop untuk mendengarkan musik dalam film mereka dengan cara yang baru.
Namun “suara surround” sudah digunakan ribuan tahun lalu, saat Nehemia menerapkannya pada penahbisan tembok Yerusalem yang telah dibangun kembali. “Aku mempersilakan para pemimpin orang Yehuda naik ke atas tembok dan kubentuk dua paduan suara yang besar” (Neh. 12:31). Dua paduan suara itu mulai berarak dari dinding bagian selatan, di pintu gerbang Sampah. Yang satu ke kiri dan yang lain ke kanan, lalu mereka mengelilingi kota Yerusalem dengan pujian sambil terus berbaris menuju rumah Allah (ay.31,37-40).
Paduan suara itu mengajak rakyat bersukacita karena “Allah memberi mereka kesukaan yang besar” (ay.43). Suara sukacita mereka “terdengar sampai jauh” (ay.43).
Mereka menaikkan pujian karena telah mengalami pertolongan Allah dalam mengatasi perlawanan musuh-musuh seperti Sanbalat dan keberhasilan dalam membangun kembali tembok Yerusalem. Apa yang telah Allah berikan kepada kita sehingga kita bersukacita dan memujiNya? Apakah itu berupa tuntunan-Nya yang jelas atas hidup kita? Apakah itu penghiburan yang diberikan-Nya di masa-masa sulit? Ataukah itu anugerah terbesar yang pernah ada, yaitu keselamatan?
Mungkin pujian kita tidak dapat menghasilkan “suara surround”, tetapi kita dapat bersukaria dalam sukacita yang telah Allah berikan kepada kita. Orang lain pun dapat mendengar pujian kita dan menyaksikan karya-Nya yang ajaib dalam hidup kita. —Dave Branon
Kami memuji-Mu, ya Tuhan—lewat perkataan, pujian, dan hidup kami. Kami mempersembahkan hati kami karena kuasa-Mu yang besar, perhatian-Mu yang penuh kasih, dan pemeliharaan-Mu yang selalu kami nikmati.
Memuji Yesus takkan ada habisnya!

Wednesday, December 7, 2016

Kesatuan yang Indah

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3
Kesatuan yang Indah
Kesempatan melihat tiga ekor binatang predator besar bermain dan bercengkerama memang sangat tidak lazim. Namun itulah yang berlangsung sehari-hari dalam suaka margasatwa di Georgia, Amerika Serikat. Pada tahun 2001, setelah berbulan-bulan ditelantarkan dan diperlakukan semena-mena, seekor singa, seekor harimau Bengal, dan seekor beruang hitam diselamatkan oleh Noah’s Ark Animal Sanctuary (Suaka Margasatwa Bahtera Nuh). “Kami bisa saja memisahkan ketiganya,” ujar asisten direktur suaka itu. “Namun karena mereka sudah seperti sebuah keluarga saat dibawa ke sini, kami memutuskan untuk tetap menyatukan mereka di satu tempat yang sama.” Ketiganya telah merasa nyaman bersama-sama selama pengalaman buruk yang pernah mereka jalani, sehingga meskipun berbeda, ketiganya hidup bersama dengan damai.
Kesatuan adalah hal yang sungguh indah. Namun kesatuan yang ditulis Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus bersifat khusus. Paulus mendorong umat Tuhan di Efesus untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka sebagai anggota dari satu tubuh dalam Kristus (Ef. 4:4-5). Dengan kuasa Roh Kudus, mereka akan dapat hidup dalam kesatuan sembari mengembangkan sikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Sikap-sikap itu juga menolong kita untuk “saling membantu” dalam kasih melalui kesamaan yang kita miliki dalam Kristus Yesus (4:2).
Meskipun kita berbeda-beda, sebagai anggota keluarga Allah kita telah diperdamaikan dengan Dia melalui kematian Juruselamat kita, dan diperdamaikan dengan satu sama lain melalui karya Roh Kudus yang terus berlangsung dalam hidup kita. —Marvin Williams
Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk mengembangkan sikap lemah lembut dan sabar terhadap sesama. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana seharusnya mengasihi orang lain, walaupun ada perbedaan di antara kami.
Kita memelihara kesatuan dengan terus bersatu di dalam Roh.

Tuesday, December 6, 2016

Selalu Baik Hati

Hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain. —Efesus 4:32 BIS
Selalu Baik Hati
Semasa kanak-kanak, saya senang sekali membaca buku-buku serial Land of Oz (Negeri Oz) karya L. Frank Baum. Baru-baru ini saya menemukan buku Rinkitink in Oz (Rinkitink di Oz) yang masih lengkap dengan semua ilustrasi aslinya. Saya kembali dibuat tertawa saat membaca tentang Raja Rinkitink dari Baum yang jenaka dan rendah hati. Pangeran muda bernama Inga begitu tepat menggambarkan sifat sang Raja: “Hatinya sangat baik dan lembut, dan itu jauh lebih baik daripada menjadi bijak.”
Sungguh sederhana dan bijaksana! Namun adakah dari kita yang belum pernah melukai hati orang yang kita kasihi dengan kata-kata kita yang kasar? Lewat perbuatan itu, kita telah mengusik kedamaian dan ketenangan yang ada, serta menghapus jejak kebaikan yang pernah kita tunjukkan kepada orang yang kita kasihi tersebut. “Sedikit perbuatan jahat adalah sebuah pelanggaran besar,” kata Hannah More, seorang penulis asal Inggris dari abad ke-18.
Namun kabar baiknya adalah siapa saja bisa menjadi baik hati. Kita mungkin tidak mampu memberikan khotbah yang menggugah hati pendengar, menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dengan cekatan, atau menginjili banyak orang, tetapi kita semua bisa menjadi baik hati.
Bagaimana caranya? Dengan berdoa. Itulah satu-satunya cara untuk melembutkan hati kita. “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat” (Mzm. 141:3-4).
Di dunia yang semakin kehilangan kehangatan kasih, sebuah perbuatan baik yang bersumber dari hati Allah akan menjadi salah satu hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk menolong dan memulihkan sesama. —David Roper
Tuhan, ampuni aku ketika marah pada suatu keadaan. Lembutkan hatiku dan tolonglah aku agar mengucapkan kata-kata yang menguatkan orang lain.
Menyadari bahwa Allah telah mengasihiku tanpa batas, aku pun terdorong untuk rela mengasihi sesamaku sedemikian rupa. —Oswald Chambers

Monday, December 5, 2016

Lampu Natal

Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup. —Yohanes 8:12
Lampu Natal
Setiap tahun selama beberapa minggu di masa Natal, Orchard Road, kawasan wisata utama di Singapura, berganti rupa menjadi tempat menakjubkan yang bergelimang cahaya dan warna. Penyalaan lampu yang terang benderang tersebut dimaksudkan untuk menarik para wisatawan agar mau membelanjakan uang mereka di berbagai pusat perbelanjaan di sepanjang Orchard Road selama masa yang disebut “bulan emas bisnis” itu. Para pembeli datang untuk menikmati kemeriahan suasana yang ada, mendengarkan paduan suara menyanyikan lagu-lagu Natal, dan menyaksikan pertunjukan yang menghibur.
Pada hari Natal yang pertama, terang yang ada tidak dihasilkan oleh kabel listrik, dekorasi yang kerlap-kerlip, atau lampu-lampu neon, melainkan oleh “kemuliaan Tuhan [yang] bersinar” (Luk. 2:9). Tidak ada wisatawan, yang ada hanya beberapa gembala sederhana yang melihat peristiwa itu ketika mereka di padang rumput. Dan terang itu kemudian diikuti dengan pujian tak terduga dari sejumlah besar malaikat yang bernyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi” (ay.14).
Para gembala lalu pergi ke Betlehem untuk melihat apakah pesan yang disampaikan malaikat itu benar (ay.15). Setelah mereka menyaksikan sendiri hal itu, mereka tidak bisa berdiam diri dan menyimpan apa yang telah mereka dengar dan lihat. “Ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (ay.17).
Banyak di antara kita telah sering mendengar kisah Natal. Natal kali ini, marilah kita membagikan kepada orang lain kabar baik bahwa Yesus Kristus—Sang “terang dunia”—telah datang (Yoh. 8:12). —C. P. Hia
Tuhan, di Natal ini tolonglah aku untuk memantulkan terang kehadiran-Mu dan kebaikan-Mu kepada orang lain.
Kasih Allah yang telah dikaruniakan-Nya dalam hidup kita sanggup menerangi kegelapan yang terkelam sekalipun.

Sunday, December 4, 2016

Harta Karun di Makam 7

Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan. —Mazmur 119:162
Harta Karun di Makam 7
Pada tahun 1932, arkeolog Meksiko, Antonio Caso, menemukan Makam 7 di Monte Alban, Oaxaca. Ia menemukan lebih dari empat ratus artefak, termasuk ratusan potong perhiasan dari masa pra-Hispanik, yang disebutnya “Harta Karun dari Monte Alban”. Harta karun tersebut merupakan salah satu penemuan terpenting dalam dunia arkeologi Meksiko. Sungguh tak terbayangkan kegembiraan Caso ketika memegang sebuah cangkir dari batu giok dalam keadaannya yang masih asli.
Berabad-abad sebelumnya, seorang pemazmur pernah menulis tentang harta yang jauh lebih berharga daripada emas atau batu kristal. Ia berkata, “Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan” (Mzm. 119:162). Penulis Mazmur 119 menyadari betapa berharganya perintah dan janji Allah bagi kehidupan manusia, sehingga ia membandingkannya dengan harta besar yang direbut oleh orang yang menang dalam peperangan.
Nama Antonio Caso dikenang sampai hari ini karena penemuannya di Makam 7. Penemuannya dapat kita nikmati ketika kita mengunjungi museumnya di Oaxaca. Kini harta sang pemazmur ada di ujung jari kita. Hari demi hari kita dapat menggali Kitab Suci dan menemukan berlian janji, mirah pengharapan, dan zamrud hikmat yang berharga. Namun demikian, harta terbesar yang dapat kita temukan adalah Pribadi yang dinyatakan oleh Kitab Suci itu, yaitu Yesus Kristus. Dia jugalah Penulis utama dari Kitab tersebut.
Marilah kita tekun menggali Kitab Suci dengan meyakini bahwa itulah harta pusaka yang akan memperkaya hidup kita. Kiranya kita menyatakan seperti yang dikatakan sang pemazmur, “Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku” (ay.111). —Keila Ochoa
Bapa, aku ingin menghargai Kitab Suci sebagai harta pusakaku. Tolonglah aku menikmati firman-Mu setiap hari.
Firman Allah adalah harta yang mulia sekaligus kompas bagi kehidupan.

Saturday, December 3, 2016

Pendengar dan Pelaku

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat . . . ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. —Yakobus 1:27
Pendengar dan Pelaku
Suatu malam ada seorang jemaat menelepon ke rumah hendak berbicara dengan suami saya. Ia melaporkan bahwa seorang wanita berumur 70-an tahun yang biasa melayani sebagai pendoa di gereja kami sedang dilarikan ke rumah sakit. Selama ini, wanita tersebut hidup sendiri, dan penyakitnya yang parah telah membuatnya tidak bisa makan-minum, melihat, atau berjalan. Kami sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup, maka kami meminta pertolongan dan belas kasihan Allah. Gereja kami segera menyusun jadwal jaga agar ada anggota-anggota jemaat yang dapat menemani dan melayaninya sepanjang hari. Melalui kehadiran anggota jemaat itu, para pasien, pengunjung, dan staf rumah sakit pun ikut mengalami kasih Tuhan.
Surat Yakobus hendak mendorong jemaat Kristen mula-mula yang berlatar belakang Yahudi untuk mempedulikan orang-orang di sekitar mereka yang membutuhkan pertolongan. Yakobus menghendaki orang-orang beriman tidak hanya mendengarkan firman Allah, tetapi juga menjadi pelaku firman lewat tindakan mereka (1:22-25). Dengan menyebutkan perlunya mempedulikan kaum yatim piatu dan janda (ay.27), ia mengemukakan kebutuhan dari kelompok masyarakat yang tidak terurus, karena pada zaman itu seharusnya pihak keluargalah yang bertanggung jawab atas kebutuhan mereka.
Bagaimana tanggapan kita terhadap orang-orang yang tidak terurus di tengah jemaat dan lingkungan kita? Apakah kepedulian kepada para janda dan yatim piatu menjadi bagian penting dari penerapan iman kita? Kiranya Allah membuka mata kita untuk melihat dan melayani siapa saja yang yang membutuhkan pertolongan kita. —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, hati-Mu tersentuh oleh penderitaan mereka yang tidak terurus dan kesepian. Tolonglah kami untuk mengasihi umat-Mu sebagaimana Engkau mengasihi mereka, karena kami semua diciptakan segambar dengan-Mu.
Iman sejati tidak hanya diucapkan melainkan dibuktikan lewat tindakan.

Friday, December 2, 2016

Percakapan dengan Diri Sendiri

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2
Percakapan dengan Diri Sendiri
Pernahkah kamu berbicara dengan dirimu sendiri? Terkadang saat saya sedang mengerjakan sesuatu—biasanya ketika memperbaiki mobil—saya merasa terbantu dengan berpikir sambil berbicara selagi saya mencari tahu cara terbaik untuk melakukan perbaikan yang diperlukan. Namun tentu saya merasa malu apabila percakapan dengan diri sendiri itu didengar orang lain—walaupun berbicara dengan diri sendiri adalah hal yang dilakukan kebanyakan dari kita setiap hari.
Para pemazmur sering berbicara dengan diri mereka sendiri dalam kitab Mazmur, tidak terkecuali penulis Mazmur 116. Di ayat 7, ia menulis, “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu.” Dengan mengingatkan dirinya sendiri pada kebaikan dan kesetiaan Allah di masa lampau, pemazmur menerima penghiburan dan pertolongan yang berguna baginya di masa kini. Kita sering melihat “percakapan” seperti itu di kitab Mazmur. Dalam Mazmur 103:1, Daud berkata kepada dirinya sendiri, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Dan dalam Mazmur 62:6, ia menegaskan, “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.”
Alangkah baiknya mengingatkan diri kita sendiri pada kesetiaan Allah dan pengharapan yang kita miliki di dalam Dia. Kita dapat mengikuti teladan pemazmur dan mengambil waktu untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan Allah yang sudah kita terima dengan berlimpah. Tentulah kita akan semakin dikuatkan ketika kita melakukannya. Allah yang telah membuktikan kesetiaan-Nya di masa lampau akan terus mengasihi kita di masa yang akan datang. —James Banks
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tetap melekat dengan hati-Mu hari ini ketika aku mengingatkan diriku sendiri pada kasih dan kesetiaan-Mu.
Mengingatkan diri kita sendiri pada kebaikan Allah dapat menjaga hati kita terus dipenuhi oleh damai sejahtera-Nya.

Thursday, December 1, 2016

Pandangan dari Jarak 650 km

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. —Yohanes 1:9
Pandangan dari Jarak 650 km
“Perspektif saya terhadap bumi berubah drastis ketika untuk pertama kalinya saya pergi ke ruang angkasa,” kata astronaut pesawat ulang-alik Charles Frank Bolden Jr. Dari jarak 650 KM di atas bumi, semua tampak damai dan indah baginya. Namun kemudian Bolden teringat bahwa ketika ia melintas di atas wilayah Timur Tengah, ia tersadar oleh kenyataan akan konflik yang terus terjadi di sana. Dalam wawancara dengan seorang produser film, Bolden menyatakan bahwa pada saat ia melihat bumi dari luar angkasa, ia membayangkan apa yang seharusnya terjadi di atas bumi. Setelah itu, ia pun tertantang untuk melakukan apa saja yang ia mampu untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.
Ketika Yesus lahir di Betlehem, keadaan dunia tidaklah seperti yang Allah kehendaki. Ke dalam kegelapan moral dan spiritual itulah Yesus datang membawa hidup dan terang kepada semua orang (Yoh. 1:4). Walaupun dunia tidak mengenal-Nya, “semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (ay.12).
Ketika hidup tidak berjalan sebagaimana mestinya—banyak keluarga terpecah-belah, anak-anak kelaparan, dan bangsa-bangsa bergelut dalam perang—kita pun berduka. Namun Allah berjanji bahwa dengan iman di dalam Kristus, setiap orang dapat kembali melangkah dengan tujuan yang baru.
Masa Natal mengingatkan kita bahwa Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, memberikan anugerah kehidupan dan terang kepada setiap orang yang mau menerima dan mengikut Dia. —David McCasland
Bapa di surga, kiranya kami dapat membagikan terang dan hidup Yesus kepada sesama kami hari ini.
Allah terus bekerja membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate