Pages - Menu

Thursday, June 30, 2016

Namaku Dipanggil

Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. —Yohanes 10:3
Namaku Dipanggil
Pertama kalinya saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa baru di mata kuliah penulisan yang saya ajar, saya sudah tahu nama mereka masing-masing. Saya sudah meluangkan waktu untuk mempelajari nama dan foto mereka dari daftar kehadiran di kelas, sehingga ketika mereka masuk kelas, saya bisa menegur mereka, “Halo, Jessica,” atau “Selamat datang, Trevor.” Saya melakukannya karena saya tahu betapa berartinya ketika seseorang mengenal dan memanggil nama kita.
Namun untuk benar-benar mengenal seseorang, kita perlu tahu lebih dari sekadar namanya. Dalam Yohanes 10, kita dapat merasakan kehangatan dan perhatian yang dimiliki Yesus, Gembala yang Baik, terhadap kita. Kita membaca di sana bahwa Dia “memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (ay.3). Dia bahkan tahu lebih dari sekadar nama kita. Dia tahu pikiran, kerinduan, ketakutan, kesalahan, dan kebutuhan kita yang terdalam. Karena Dia tahu kebutuhan kita yang terdalam, Dia memberi kita hidup kekal yang kita butuhkan dengan cara menyerahkan diri-Nya sendiri. Itulah yang dikatakan-Nya di ayat 11, Dia “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”
Dosa telah memisahkan kita dari Allah. Maka Yesus, Gembala yang Baik, menjadi Anak Domba yang berkorban dan menanggung dosa kita atas diri-Nya sendiri. Dengan memberikan nyawa-Nya bagi kita dan kemudian dibangkitkan kembali, Dia telah menebus kita. Alhasil, ketika kita menerima karunia keselamatan dari-Nya melalui iman, kita tidak lagi terpisah dari Allah.
Bersyukurlah kepada Yesus! Dia mengenal namamu dan sangat tahu kebutuhanmu! —Dave Branon
Ya Tuhan, aku bersyukur Engkau mengenal namaku dan sangat tahu apa yang kubutuhkan. Terima kasih Engkau telah mati bagi dosa-dosaku dan bangkit dari kubur untuk mengalahkan maut dan memberiku hidup kekal bersama-Mu.
Pengenalan Allah atas diri kita sungguh tak terbatas.

Wednesday, June 29, 2016

Gaya Hidup Kita

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. —Efesus 2:10
Gaya Hidup Kita
Saya tergugah oleh frasa “gaya hidup kita” yang dicantumkan pada salah satu ayat dari Alkitab terjemahan kontemporer. Ketika mencari frasa itu dengan Google, kebanyakan hasil pencarian terfokus pada hal-hal yang dianggap orang dapat mengancam gaya hidup mereka selama ini. Di antaranya yang dianggap paling mengancam adalah masalah perubahan iklim, terorisme, dan kebijakan pemerintah.
Saya pun bertanya-tanya, Apa sebenarnya gaya hidup kita sebagai pengikut Yesus? Apakah sesuatu yang membuat kita merasa nyaman, aman, dan bahagia, ataukah yang lebih dari itu?
Paulus mengingatkan umat Kristen di Efesus tentang karya luar biasa Allah yang telah mengubah hidup mereka. “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Ef. 2:4-5). Hasilnya, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (ay.10).
Berbuat baik, menolong sesama, memberi, mengasihi, dan melayani dalam nama Yesus—semua itu patut menjadi gaya hidup kita. Bagi orang percaya, tindakan-tindakan itu merupakan keharusan dan alasan utama mengapa Allah memberikan kita hidup di dalam Kristus.
Dalam dunia yang selalu berubah-ubah, Allah telah memanggil dan memampukan kita untuk menjalani kehidupan yang melayani sesama dan memuliakan-Nya. —David McCasland
Bapa, terima kasih atas kasih dan belas kasihan-Mu yang sangat berlimpah. Engkau telah melepaskan kami dari cara hidup kami yang berujung pada maut dan menghidupkan kami bersama-sama dengan Kristus.
Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Tuesday, June 28, 2016

Meninggalkan Masa Lalu

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. —2 Korintus 5:17
Meninggalkan Masa Lalu
Chris Baker adalah seorang seniman pembuat tato yang mengubah lambang penderitaan dan perbudakan menjadi karya seni. Banyak dari pelanggannya adalah mantan anggota geng dan korban perdagangan manusia yang telah ditato dengan nama, simbol, atau kode tertentu sebagai identitas mereka. Chris mengubah tato-tato tersebut menjadi karya seni yang indah dengan cara menato gambar yang baru di atas tato mereka yang lama.
Apa yang dilakukan Chris Baker terhadap kulit, dilakukan Yesus terhadap jiwa manusia. Yesus menerima kita apa adanya dan mengubahkan kita. Alkitab mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor. 5:17). Sebelum mengenal Kristus, kita tak berdaya mengikuti keinginan kita sendiri, dan gaya hidup kita mencerminkan hal itu. Ketika kita bertobat dan mulai berjalan bersama Kristus, hidup kita diubahkan dan nafsu serta dosa yang pernah menguasai kehidupan lama kita pun semakin memudar (1Kor. 6:9-11). “Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya” (2Kor. 5:18).
Namun, hidup sebagai “ciptaan baru” tidak selalu mudah. Dibutuhkan waktu untuk melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan lama. Kita mungkin bergelut dengan berbagai pemikiran yang mendasari gaya hidup kita yang lama. Namun seiring berjalannya waktu, Roh Kudus yang diutus Allah bekerja di dalam diri kita dan memberi kita kekuatan hati dan pemahaman tentang kasih Kristus. Sebagai ciptaan baru Allah yang indah, kita bebas melangkah untuk meninggalkan masa lalu. —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan Yesus, terima kasih untuk kuasa kemenangan-Mu atas maut dan kuasa kebangkitan-Mu. Berkat kemenangan-Mu atas dosa, aku dapat diampuni dan menikmati hidup baru di dalam Engkau.
Untuk menikmati masa depan, terimalah pengampunan Allah atas masa lalumu.

Monday, June 27, 2016

Jangan Hanyut Terbawa Arus

Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. —Ibrani 2:1
Jangan Hanyut Terbawa Arus
Di akhir suatu semester, saya dan istri menjemput putri kami dari sekolahnya yang berjarak sekitar 100 km dari rumah. Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke suatu tempat istirahat di pantai terdekat untuk membeli makanan ringan. Sambil bersantai, kami memperhatikan perahu-perahu yang ada di pinggir pantai. Biasanya perahu-perahu dilabuhkan agar tidak hanyut terbawa arus, tetapi saya melihat di antara perahu-perahu itu ada sebuah perahu yang terombang-ambing dengan bebas dan lambat laun hanyut ke laut lepas.
Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan peringatan yang sangat tepat diberikan kepada orang percaya dalam kitab Ibrani: “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibr. 2:1). Ada alasan yang baik mengapa kita jangan sampai terbawa arus. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa meskipun hukum Taurat itu dapat dipercaya dan patut ditaati, tetapi kabar yang dibawa oleh Yesus, Anak Allah, jauh lebih unggul. Keselamatan kita dalam Yesus begitu besar sehingga Dia tidak boleh kita sia-siakan (ay.3).
Seringkali kita tidak menyadari bahwa hubungan kita dengan Allah semakin renggang, karena hal itu terjadi sedikit demi sedikit. Namun demikian, jika kita terus bercakap-cakap dengan-Nya di dalam doa dan membaca firman-Nya, mengakui dosa kita di hadapan-Nya, dan berinteraksi dengan murid-murid Yesus lainnya, kita akan dimampukan untuk senantiasa berpaut kepada-Nya. Ketika kita menjaga hubungan yang teratur dengan Tuhan, Dia akan terus menopang dan menjaga kita agar tidak hanyut terbawa arus. —Lawrence Darmani
Apa sifat Yesus yang membuat kamu selalu ingin dekat dengan-Nya?
Agar tidak terhanyut dan menjauh dari Allah, tambatkan dirimu pada Batu Karang yang teguh.

Sunday, June 26, 2016

Kejujuran yang Mengejutkan

Hormatilah [isterimu] . . . supaya doamu jangan terhalang. —1 Petrus 3:7
Kejujuran yang Mengejutkan
Ketika seorang pendeta meminta salah seorang penatua gerejanya memimpin umat untuk berdoa, penatua itu memberi tanggapan yang mengejutkan. “Maafkan saya, Pak,” katanya, “saya baru saja bertengkar dengan istri saya di sepanjang perjalanan menuju gereja. Saya tidak siap untuk berdoa.” Seketika itu juga keadaan menjadi canggung. Akhirnya pendeta itu yang berdoa dan kebaktian dilanjutkan. Pendeta itu memutuskan untuk tidak lagi meminta seseorang berdoa di depan umum tanpa terlebih dahulu menanyakan kesediaan yang bersangkutan secara pribadi.
Penatua tersebut memang memperlihatkan kejujuran yang mengejutkan, padahal ia bisa saja memilih untuk bersikap munafik. Namun dari peristiwa itu, kita bisa menarik pelajaran yang berharga tentang doa. Allah adalah Bapa yang penuh kasih. Jika sebagai seorang suami, saya tidak menghargai dan menghormati istri saya, yang juga adalah anak Allah yang dikasihiNya, mungkinkah Bapanya yang di surga mendengarkan doa-doa saya?
Rasul Petrus menuliskan pengamatannya yang menarik tentang hal itu. Ia memerintahkan kaum suami untuk memperlakukan istri mereka masing-masing dengan hormat dan sebagai sesama ahli waris dalam Kristus “supaya doamu jangan terhalang” (1Ptr. 3:7). Prinsip dasarnya adalah hubungan kita dengan sesama mempengaruhi kehidupan doa kita.
Apa yang akan terjadi apabila kita melepaskan topeng kesalehan kita dan menggantinya dengan kejujuran yang apa adanya di hadapan saudara-saudari seiman kita? Bayangkan apa yang bisa Allah lakukan melalui hidup kita ketika kita berdoa dan belajar untuk saling mengasihi seperti kita mengasihi diri sendiri. —Tim Gustafson
Bapa, Engkau mengasihi semua anak-Mu, tetapi kami sering berselisih dan berbeda pendapat. Ajarlah kami untuk saling mengasihi dan menghormati agar dunia melihat pengaruh yang Engkau berikan. Ajarlah kami berdoa.
Doa pada hakikatnya adalah percakapan yang jujur dengan Allah.

Saturday, June 25, 2016

Tempat Berpijak yang Kukuh

Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku. —Mazmur 40:3
Tempat Berpijak yang Kukuh
Daerah tepian sungai yang bersejarah di Savannah, Georgia, Amerika Serikat, ditutupi oleh batu-batu yang tidak sama besar. Penduduk setempat mengatakan bahwa berabad-abad lalu, batu-batu tersebut digunakan sebagai pemberat bagi kapal-kapal yang bersejarah di Savannah, Georgia, menyeberangi Samudera Atlantik. Setelah kargo selesai dimuat di Georgia, batu-batu pemberat itu tidak lagi dibutuhkan dan kemudian digunakan untuk melapisi jalan-jalan di dekat dermaga. Batu-batu tersebut telah menyelesaikan tugas utamanya, yaitu menstabilkan kapal yang sedang melewati perairan yang berbahaya.
Hari-hari yang kita jalani dapat terasa seperti mengarungi lautan yang bergelora. Bagaikan kapal di masa lalu, kita membutuhkan kestabilan untuk membantu kita berjalan melewati segala badai kehidupan. Daud juga menghadapi bahaya dalam hidupnya, dan ia memuji karakter Allah yang memberikannya kestabilan setelah masa-masa berat yang telah dilaluinya. Daud menyerukan, “Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku” (Mzm. 40:3). Hidup Daud diwarnai dengan beragam konflik, kegagalan diri, dan perselisihan dalam keluarga, tetapi Allah telah memberinya tempat berpijak yang kukuh. Maka Daud pun melantunkan nyanyian “untuk memuji Allah” (ay.4).
Saat kesulitan datang, kita juga dapat memandang Allah kita yang Mahakuasa, karena hanya Dia yang bisa memberikan kestabilan. Pemeliharaan-Nya yang setia menggugah kita untuk berseru bersama Daud, “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya Tuhan, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami” (ay.6). —Bill Crowder
Tiada lain landasanku, hanyalah pada darah-Mu; Tiada lain harapanku, ‘ku bersandarkan nama-Mu. Kristuslah Batu Karangku, di atas Dia ‘ku teguh; Landasan lain hancur luluh. —Edward Mote [Nyanyikanlah Kidung Baru, No.120]
Ketika dunia di sekitar kita runtuh, Kristuslah Batu Karang yang teguh, tempat kita berpijak.

Friday, June 24, 2016

Kehadiran-Nya yang Penuh Kasih

Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5
Kehadiran-Nya yang Penuh Kasih
Kami sangat sedih ketika mengetahui bahwa teman dekat kami, Cindy, didiagnosa mengidap penyakit kanker. Sebagai pribadi yang sangat bersemangat, hidup Cindy telah memberkati siapa saja yang bertemu dengannya. Saya dan istri senang sekali ketika ia ketika mengetahui bahwa teman dekat kami, sempat dinyatakan bebas kanker, tetapi beberapa bulan kemudian kankernya muncul lagi dalam kondisi yang lebih ganas. Kami sempat berpikir bahwa ia masih terlalu muda untuk meninggal dunia. Suaminya menceritakan kepada saya tentang waktu-waktu terakhir sebelum Cindy dipanggil Tuhan. Dalam keadaannya yang lemah dan sulit bicara, Cindy sempat berbisik kepada suaminya, “Tetaplah di dekatku.” Yang Cindy inginkan melebihi apa pun dalam masa-masa kekelaman tersebut adalah kehadiran suaminya yang penuh kasih.
Penulis kitab Ibrani menghibur para pembacanya dengan mengutip Ulangan 31:6, di mana Allah mengatakan kepada umat-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Di masa-masa paling kelam dalam hidup kita, jaminan kehadiran-Nya yang penuh kasih memberi kita keyakinan bahwa kita tidak sendiri. Dia memberi kita anugerah untuk bertahan, hikmat untuk menyadari bahwa Dia terus berkarya, dan jaminan bahwa Kristus “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr. 4:15).
Marilah kita sama-sama mengalami berkat dari kehadiran-Nya yang penuh kasih, sehingga dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut” (Ibr. 13:6). —Joe Stowell
Tuhan, terima kasih karena Engkau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Kiranya realitas kehadiran-Mu yang selalu menopangku terus membuat hatiku dipenuhi penghiburan, keyakinan, dan keberanian.
Kehadiran Allah mendatangkan damai sejahtera.

Thursday, June 23, 2016

Melayani Kristus

Taatilah tuanmu yang di dunia . . . sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. —Efesus 6:5-6
Melayani Kristus
“Aku seorang sekretaris,” ujar seorang teman kepada saya. “Ketika aku menyebutkan pekerjaanku kepada orang lain, terkadang mereka melihatku dengan rasa iba. Namun saat mereka tahu siapa atasanku, mereka berubah dan menjadi sangat kagum!” Dengan kata lain, orang sering memandang sebelah mata sejumlah pekerjaan tertentu, kecuali pekerjaan tersebut ada kaitannya dengan orang-orang yang kaya atau terkenal.
Namun demikian, bagi seorang anak Tuhan, pekerjaan apa pun, terlepas dari siapa pun yang menjadi atasannya, dapat dikerjakan dengan rasa bangga karena sesungguhnya kita sedang melayani Tuhan Yesus.
Di Efesus 6, Paulus berbicara kepada para hamba dan tuan. Ia mengingatkan kedua kelompok itu bahwa kita semua melayani satu Tuan yang ada di surga. Oleh karena itu, kita perlu mengerjakan segala sesuatu dengan ketulusan hati, penuh integritas, dan sikap hormat, karena sesungguhnya kita melayani dan bekerja untuk Kristus sendiri. Rasul Paulus mengingatkan kita agar “dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia” (Ef. 6:7).
Sungguh merupakan kehormatan untuk melayani Allah dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, baik dalam menjawab telepon, mengendarai kendaraan, melakukan pekerjaan rumah tangga, atau menjalankan usaha. Marilah bekerja sambil tersenyum hari ini, karena kita menyadari bahwa apa pun yang kita kerjakan, kita sedang melayani Allah. —Keila Ochoa
Tuhan Yesus, aku mau melayani Engkau dalam segala hal yang kukerjakan. Tolong aku mengingat hal ini, setiap kali aku mengawali hari.
Kasih kita kepada Allah ditunjukkan dengan kerelaan melayani.

Wednesday, June 22, 2016

Lokasi Terpencil

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. —Filipi 4:19
Lokasi Terpencil
Pulau Tristan da Cunha terkenal karena lokasinya yang terpencil. Pulau itu merupakan pulau berpenghuni paling terpencil di dunia, dengan penduduk sebanyak 288 orang. Pulau tersebut terletak di Lautan Atlantik Selatan, 2.816 km jauhnya dari Afrika Selatan sebagai daratan yang paling dekat. Siapa saja yang mau mengunjunginya harus menempuh perjalanan dengan kapal selama 7 hari karena pulau tersebut tidak mempunyai lapangan udara.
Yesus dan para murid-Nya sedang berada di daerah yang lumayan terpencil ketika Dia melakukan mukjizat dengan memberi makan ribuan orang yang sedang lapar. Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh” (Mrk. 8:2-3). Karena sedang berada di pedesaan di mana makanan tidak mudah tersedia, mereka harus bergantung sepenuhnya kepada Yesus. Mereka tidak dapat berharap kepada yang lain.
Terkadang Allah mengizinkan kita berada di tempat-tempat yang terpencil di mana hanya Dialah satu-satunya sumber pertolongan kita. Kesanggupan-Nya untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah dibatasi oleh keadaan kita. Bila Allah dapat menciptakan dunia dari apa yang tidak ada menjadi ada, tentulah Dia sanggup memenuhi segala kebutuhan kita—bagaimana pun keadaan kita—menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, terima kasih untuk segala sesuatu yang telah Engkau sediakan melalui Anak-Mu, Yesus Kristus. Engkau tahu apa saja kebutuhanku. Yakinkanlah aku akan kasih-Mu dan kuasa-Mu.
Kita dapat mempercayai Allah untuk mengerjakan apa yang tidak sanggup kita kerjakan.

Tuesday, June 21, 2016

Belajar Mengasihi

Kejarlah kasih itu. —1 Korintus 14:1
Belajar Mengasihi
Cinta tidak saja lagu lama. Cinta juga bisa menjadikan kita sangat rentan. Mungkin adakalanya kita berkata pada diri sendiri: “Apa gunanya mencintai seseorang yang tak menghargainya?” atau “Untuk apa mengasihi membuat “dunia ini berputar”, seperti sebuah kata "jika itu dapat membuatku terluka?” Namun Rasul Paulus memberikan alasan yang jelas dan sederhana untuk mengejar kasih: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu” (1Kor. 13:13-14:1).
C. K. Barrett, seorang penafsir Alkitab, menulis, “Kasih adalah perbuatan yang keluar dari sifat dasar Allah sendiri, dan ketika manusia mengasihi Allah atau sesamanya, mereka sedang melakukan (meskipun tidak sempurna) apa yang dilakukan oleh Allah.” Allah pun senang ketika kita berbuat seperti yang Dia lakukan.
Mengejar kasih dapat dimulai dengan merenungkan sejauh mana kamu hidup menurut ciri-ciri kasih yang disebutkan dalam 1 Korintus 13:4-7. Sebagai contoh, bagaimana saya dapat menunjukkan kesabaran kepada anak saya dengan kesabaran yang ditunjukkan Allah kepada saya? Bagaimana saya bisa menunjukkan kebaikan dan rasa hormat kepada orangtua saya? Apa artinya memperhatikan kepentingan orang lain di tempat kerja saya? Ketika seorang teman memperoleh berkat, apakah saya ikut bersukacita atau justru merasa iri?
Ketika kita mengejar kasih, kita akan mendapati diri kita terus-menerus bersandar kepada Allah, Sumber kasih, dan kepada Yesus, Teladan kasih yang teragung. Hanya dengan demikianlah kita akan semakin memahami makna kasih yang sejati sekaligus memperoleh kekuatan untuk mengasihi sesama sebagaimana Allah telah mengasihi kita. —Poh Fang Chia
Ya Allah, aku bersyukur karena Engkau itu kasih dan Engkau sangat mengasihiku. Mampukanlah aku untuk mengasihi sesama seperti yang Yesus tunjukkan agar seluruh dunia tahu bahwa aku ini anak-Mu.
Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. —1 Yohanes 4:7

Monday, June 20, 2016

Hoo-ah!

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela. —Mazmur 68:20
Hoo-ah!
Seruan “hoo-ah” merupakan geraman yang disuarakan oleh para tentara Angkatan Darat Amerika Serikat ketika mereka menyatakan persetujuan bersama. Asal-usulnya tidak diketahui dengan jelas, tetapi konon ucapan itu diambil dari singkatan lama HUA—Heard, Understood, and Acknowledged (Dengar, Paham, dan Terima). Pertama kalinya saya mendengar kata itu adalah saat mengikuti pelatihan dasar militer.
Bertahun-tahun kemudian, kata itu kembali saya dengar ketika menghadiri pertemuan kelompok pemahaman Alkitab setiap Rabu pagi dengan beberapa rekan pria. Suatu pagi, salah seorang pria yang merupakan mantan anggota Divisi Lintas Udara ke-82 sedang membaca salah satu pasal dalam kitab Mazmur dan menjumpai kata sela yang terdapat di sepanjang kitab itu. Alih-alih membaca kata “sela” tersebut, ia justru menyerukan hoo-ah. Sejak saat itu, hoo-ah menjadi pengganti dari setiap kata sela yang kami temukan.
Tidak ada yang tahu pasti arti kata sela. Ada yang berpendapat bahwa itu hanyalah notasi musik. Kata sela sering muncul setelah suatu pernyataan kebenaran yang menuntut tanggapan tegas dan sungguh-sungguh. Karena itulah, bagi saya, ungkapan hoo-ah sangat tepat.
Pagi ini saya membaca Mazmur 68:20: “Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela.
Bayangkan! Setiap pagi Allah memikul kita di atas bahu-Nya dan menanggung kita sepanjang hari itu. Dialah keselamatan kita. Karena kita aman dan terjamin di dalam Dia, tiada lagi alasan untuk takut atau khawatir. “Hoo-ah!” —David Roper
Kekuatan serta penghiburan, diberikan Tuhan padaku. Tiap hari aku dibimbing-Nya, tiap jam dihibur hatiku. —Lina Sandell Berg [Kidung Jemaat, No. 332]
Ibadah berarti memberikan yang terbaik kepada Allah dengan apa yang sudah Dia berikan kepadamu. —Oswald Chambers

Sunday, June 19, 2016

Abba, Bapa

Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediamanNya yang kudus. —Mazmur 68:6
Abba, Bapa
Di selembar kartu ucapan Hari Ayah, digambarkan seorang ayah dengan satu tangan terjulur menggerakkan mesin pemotong rumput di depannya, sementara tangan lainnya dengan terampil menarik gerobak anak-anak di belakangnya. Di gerobak itu, duduk putri kecilnya yang begitu girang karena dapat berkeliling di halaman rumah yang bising karena bunyi mesin. Mungkin saja itu bukan keputusan yang bijak, tetapi siapa bilang pria tidak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus?
Jika kamu mempunyai seorang ayah yang baik, adegan semacam itu dapat menggugah kenangan yang indah. Namun bagi kebanyakan orang, sebutan “Ayah” tidak memberi kesan seindah itu. Siapa yang dapat kita andalkan jika ayah kita telah pergi, atau ia tidak seperti yang kita harapkan, bahkan pernah melukai kita?
Sebagai ayah, Raja Daud tentu mempunyai kelemahan, tetapi ia memahami sifat kebapaan dari Allah. Ia menulis, “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus. Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara” (Mzm. 68:6-7). Rasul Paulus memperluas gagasan itu: “Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.” Kemudian, dengan menggunakan kata dalam bahasa Aram untuk ayah—istilah yang digunakan anak-anak untuk memanggil ayah mereka—Paulus menambahkan, “Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Rm. 8:15). Kata itu juga yang digunakan Yesus saat berdoa kepada Bapa-Nya di tengah penderitaan berat yang dialami-Nya pada malam Dia dikhianati (Mrk. 14:36).
Sungguh suatu hak istimewa bagi kita untuk datang kepada Allah dengan menyebut-Nya “Abba” seperti yang digunakan oleh Yesus! Abba, Bapa kita, menyambut siapa saja yang mau berpaling kepada-Nya untuk menjadi anggota keluarga-Nya. —Tim Gustafson
Bapa Surgawi, aku ingin menjadi bagian dari keluarga-Mu. Aku percaya Anak-Mu yang tunggal mati demi dosa-dosaku. Ampunilah dan tolonglah aku.
Ayah yang baik memancarkan kasih Bapa Surgawi.

Saturday, June 18, 2016

Kalah atau Menang?

Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. —1 Yohanes 5:4
Kalah atau Menang?
Setiap tahun pada tanggal 18 Juni di Belgia diadakan peringatan atas pertempuran besar Waterloo. Pada 18 Juni 1815, tentara Prancis yang dipimpin Napoleon ditaklukkan oleh kekuatan sekutu yang dipimpin oleh Duke of Wellington. Sejak saat itu, ungkapan “mengalami momen Waterloo” mempunyai arti “dikalahkan oleh seseorang yang lebih kuat atau ditumbangkan oleh masalah yang terlalu sulit”.
Demikan juga dengan kehidupan rohani kita. Ada orang-orang yang merasa bahwa kegagalan total tidak mungkin dihindari dan setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan “mengalami momen Waterloo”. Namun Yohanes menolak pandangan pesimis itu ketika ia menulis kepada para pengikut Yesus: “Semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1Yoh 5:4).
Yohanes menjalin tema kemenangan rohani itu di sepanjang suratnya yang pertama, di mana ia mendorong kita untuk tidak mengasihi segala sesuatu yang ada di dunia ini dan yang akan segera lenyap (2:15-17). Sebaliknya, kita harus mengasihi dan melakukan kehendak Allah, “dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal” (2:25).
Meskipun adakalanya kita mengalami pasang-surut dalam hidup ini, bahkan mungkin sesekali tumbang dan kalah, yakinlah bahwa kemenangan mutlak akan kita raih dalam Kristus ketika kita mengandalkan kuasa-Nya. —David McCasland
Tuhan Yesus, kemenangan-Mu yang mutlak atas dunia yang berdosa ini sudah terjamin, dan Engkau meminta kami untuk mengalami kemenangan itu setiap hari. Oleh anugerah-Mu, mampukanlah kami untuk mengalahkan dunia lewat iman dan ketaatan kami kepada-Mu.
Untuk mengatasi masalah, percayalah kepada Allah saat kamu melaluinya.

Friday, June 17, 2016

Pembacaan Secara Maraton

Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti. —Nehemia 8:9
Pembacaan Secara Maraton
Ketika matahari terbit di hari pertama pada bulan ketujuh tahun 444 SM, Ezra mulai membacakan Taurat Musa (yang kini kita kenal sebagai 5 kitab pertama dari Alkitab). Dengan berdiri di atas mimbar di hadapan penduduk Yerusalem, ia membacakan seluruh isi kitab itu selama enam jam berturut-turut.
Para pria, wanita, dan anak-anak telah berkumpul di depan pintu gerbang kota yang disebut sebagai Gerbang Air untuk merayakan hari raya peniupan serunai—salah satu dari hari raya yang ditentukan Allah untuk mereka rayakan. Sembari mereka mendengarkan, ada empat reaksi yang timbul.
Mereka bangkit berdiri untuk menghormati kitab Taurat (Neh. 8:6). Mereka memuji Allah dengan mengangkat tangan sambil berkata, “Amin, amin!” Mereka berlutut dan sujud menyembah (ay.7). Kemudian mereka mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Kitab Suci dibacakan dan diterangkan kepada mereka (ay.9). Sungguh hari yang luar biasa, ketika kitab “yang diberikan Tuhan kepada Israel” (ay.2) itu dibacakan dengan lantang di dalam lingkup tembok Yerusalem yang baru saja dibangun kembali!
Pembacaan yang dilakukan Ezra secara maraton mengingatkan kita bahwa firman Allah tetap berlaku bagi kita sebagai sumber pujian, penyembahan, dan pengajaran. Ketika kita membuka Alkitab dan mempelajari lebih banyak lagi tentang Kristus, marilah kita memuji Allah, menyembah-Nya, dan mencari tahu apa yang hendak Dia katakan kepada kita saat ini. —Dave Branon
Tuhan, terima kasih untuk Alkitab yang luar biasa. Terima kasih karena Engkau mengilhami penulisannya lewat para penulis yang Kau pilih. Terima kasih karena Engkau telah melestarikannya dari zaman ke zaman sehingga kami dapat membaca tentang umat-Mu dan menerima kabar baik tentang kasih-Mu.
Alkitab dipelajari tidak hanya untuk dipahami, melainkan juga untuk diterapkan dalam hidup.

Thursday, June 16, 2016

Mengikuti Petunjuk

Setiap kali apabila Tuhan membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka Tuhan menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh. —Hakim-Hakim 2:18
Mengikuti Petunjuk
Dalam keluarga kami, buku petunjuk produk telah menjadi sumber frustasi bagi saya dan olok-olok bagi keluarga saya. Ketika saya dan Cheryl baru menikah, usaha saya untuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil di rumah selalu berakhir berantakan. Saya pernah mencoba untuk memperbaiki pancuran air, tetapi yang terjadi adalah air terus mengucur dan mengaliri dinding. Kegagalan saya berlanjut setelah kami mempunyai anak—salah satunya ketika saya coba meyakinkan Cheryl bahwa saya tidak butuh petunjuk untuk merakit mainan anak yang saya anggap sederhana. Salah besar!
Perlahan-lahan, saya pun jera dan mulai mengikuti petunjuk yang diberikan dengan saksama, dan segala sesuatu pun berjalan semestinya. Sayangnya, semakin sering saya berhasil, semakin saya merasa percaya diri, hingga kemudian saya kembali mengabaikan petunjuk yang ada. Hasilnya dapat diramalkan: semua jadi berantakan!
Bangsa Israel kuno bergumul dengan kecenderungan yang sama: mereka melupakan Allah dan mengabaikan perintah-Nya yang melarang mereka menyembah Baal serta allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka (Hak. 2:12). Tindakan mereka mendatangkan bencana, hingga Allah berbelas kasihan dan membangkitkan hakim-hakim untuk menyelamatkan bangsa itu dan membawa mereka kembali kepada-Nya (Hak. 2:18).
Ada maksud Allah atas semua perintah yang diberikan-Nya kepada kita agar kita tetap mengasihi-Nya. Hanya dengan menyadari kasih dan kehadiran-Nya setiap hari, kita akan sanggup melawan godaan untuk menjalani hidup kita menurut kehendak kita sendiri. Alangkah luar biasanya karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita melalui firman-Nya dan hadirat-Nya! —Randy Kilgore
Tuhan, jagalah aku agar tetap dekat pada-Mu hari ini. Ingatkan aku bahwa Engkau selalu hadir lewat firman-Mu, dalam doa, dan pimpinan Roh Kudus.
Kita mempunyai hak teristimewa untuk menikmati hadirat Allah.

Wednesday, June 15, 2016

Komunikasi yang Dimengerti

Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. —Kisah Para Rasul 2:6
Komunikasi yang Dimengerti
Saat berjalan-jalan di lingkungan tempat tinggal saya di London Utara, saya bisa mendengar orang-orang berbicara dalam berbagai bahasa, di antaranya Polandia, Jepang, Hindi, Kroasia, dan Italia. Keanekaragaman itu terasa begitu indah, meskipun saya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Ketika masuk ke kedai kopi milik orang Rusia atau pasar orang Polandia dan mendengar beragam aksen di sana, saya pun membayangkan alangkah luar biasanya ketika dahulu pada hari Pentakosta ada orang-orang dari berbagai bangsa yang mengerti semua yang diucapkan oleh para rasul.
Pada hari itu, para peziarah berkumpul di Yerusalem untuk memperingati hari raya panen. Roh Kudus turun ke atas para murid sehingga ketika mereka berkata-kata, para pendengar dari berbagai belahan dunia itu dapat memahaminya dalam bahasa mereka masing-masing (Kis. 2:5-6). Sungguh suatu mukjizat ketika orang-orang yang datang dari berbagai tempat itu dapat memahami pujian kepada Allah dalam bahasa mereka sendiri! Alhasil, ada banyak dari mereka yang terdorong untuk mengetahui lebih banyak tentang Yesus.
Mungkin kita tidak bisa berbicara dalam banyak bahasa atau mengerti bermacam-macam bahasa, tetapi kita tahu bahwa Roh Kudus memperlengkapi kita untuk melayani sesama kita lewat cara-cara yang lain. Yang luar biasa, kita menjadi perpanjangan tangan, kaki, bahkan mulut Allah untuk menggenapi misi-Nya. Hari ini, bagaimana kita dapat menjangkau seseorang yang berbeda dari kita dengan pertolongan Roh Kudus? —Amy Boucher Pye
Tuhan, beri kami mata seperti mata-Mu untuk melihat jiwa-jiwa. Beri kami telinga untuk mendengarkan mereka; beri kami hati untuk berbagi kasih-Mu.
Kasih adalah bahasa yang dimengerti semua orang.

Tuesday, June 14, 2016

Hari-Hari Biasa Bersama Allah

Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. —1 Korintus 10:13
Hari-Hari Biasa Bersama Allah
Mendengarkan kesaksian orang-orang tentang karya luar biasa yang Allah perbuat dalam hidup mereka dapat membuat kita terusik. Meskipun kita mungkin ikut bersyukur ketika mendengar Allah menjawab doa-doa orang lain, bisa jadi kita sendiri bertanya-tanya mengapa Allah belum melakukan sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita akhir-akhir ini.
Mudah untuk membayangkan andai saja Allah melakukan hal-hal yang ajaib bagi kita seperti yang dilakukan-Nya bagi Abraham, kita pun akan lebih termotivasi untuk menjadi hamba-Nya yang setia. Namun kita harus ingat bahwa Allah menampakkan diri kepada Abraham setiap 12 hingga 14 tahun sekali, sedangkan sebagian besar dari hidup Abraham dijalani dengan biasa-biasa saja (lihat Kej. 12:1-4; 15:1-6; 16:16-17:12).
Allah biasanya berkarya di belakang layar dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat dari ayat kita hari ini, “Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar” (1Kor. 10:13). Setiap hari Allah bekerja melindungi kita dari serangan gencar si Iblis yang mengancam untuk membuat kita tak berdaya dan takluk. Ketika pencobaan datang, Allah menyediakan jalan keluar agar kita dapat melepaskan diri.
Sebelum kita terlelap di malam hari, patutlah kita berhenti sejenak untuk bersyukur kepada Allah atas segala hal luar biasa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di tengah hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, daripada merindukan Allah melakukan sesuatu yang spektakuler bagimu, bersyukurlah kepada-Nya! Karena sebenarnya Dia telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagimu. —Jow Stowell
Tuhan, tolong aku untuk selalu menyadari bahwa kuasa dan kehadiran-Mu menyertaiku bahkan dalam hidupku sehari-hari. Aku bersyukur akan karya luar biasa yang tidak kusadari telah Kaulakukan bagiku.
Allah selalu memegang kendali di belakang layar, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari yang “biasa-biasa” saja.

Monday, June 13, 2016

Ulangi Perkataan Saya

Ya Tuhan, jagalah mulutku dan awasilah bibirku! —Mazmur 141:3 BIS
Ulangi Perkataan Saya
Ketika Rebecca berdiri di atas panggung untuk berbicara dalam sebuah konferensi, kalimat pertama yang diucapkannya melalui mikrofon bergema ke seluruh ruangan. Ia merasa kurang nyaman saat mendengar kembali ucapannya sendiri, tetapi ia harus menyesuaikan diri dengan kelemahan perangkat suara yang ada dan mencoba untuk tidak menghiraukan gema yang terdengar setiap kali ia mengucapkan sesuatu.
Bayangkan jika kita harus mendengar ulang setiap kata yang kita ucapkan! Alangkah indahnya kalau ucapan yang kita dengar kembali adalah kata-kata seperti “Aku mengasihimu” atau “Maafkan kesalahanku” atau “Terima kasih, Tuhan” atau “Aku mendoakanmu”. Akan tetapi, tidak semua kata-kata yang kita ucapkan seindah, selembut, atau sebaik itu. Bagaimana dengan kemarahan meluap-luap atau komentar merendahkan yang pernah kita ucapkan? Tentu tidak seorang pun ingin mendengar kata-kata yang amat kita sesalkan itu.
Seperti Daud sang pemazmur, kita rindu ucapan kita dikendalikan oleh Tuhan. Ia berdoa, “Ya Tuhan, jagalah mulutku dan awasilah bibirku.” (Mzm. 141:3 BIS). Syukurlah, Tuhan mau melakukannya. Dia dapat menolong kita untuk mengendalikan ucapan kita. Ia sanggup menjaga mulut dan bibir kita.
Sementara kita belajar untuk memperhatikan dengan cermat segala ucapan yang keluar dari mulut kita dan mendoakan perkataan yang hendak kita ucapkan, Tuhan akan mengajar kita dengan sabar dan memampukan kita untuk mempunyai pengendalian diri. Lebih dari semua itu, Dia mengampuni ketika kita gagal dan Dia senang ketika melihat kita mau bergantung kepada-Nya. —Anne Cetas
Cobalah mengingat-ingat perkataan yang baru-baru ini pernah kamu ucapkan tetapi yang kemudian kamu sesali. Mintalah kepada Tuhan agar Dia menolongmu untuk menjauhi kata-kata yang tidak pantas.
Penguasaan lidah adalah bagian dari pengendalian diri.

Sunday, June 12, 2016

Air Mata dan Tawa

Orang tidak dapat lagi membedakan mana bunyi sorak-sorai kegirangan dan mana bunyi tangis rakyat. —Ezra 3:13
Air Mata dan Tawa
Tahun lalu di sebuah acara retret, saya bertemu dengan beberapa teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kami tertawa bersama karena dapat bertemu kembali, tetapi saya juga menangis karena menyadari bahwa saya begitu merindukan mereka.
Pada hari terakhir kebersamaan kami, kami merayakan Perjamuan Kudus. Kembali kami bergembira sekaligus berurai air mata! Saya bersukacita atas anugerah Allah yang telah memberi saya hidup kekal dan juga hari-hari indah yang baru saya lalui bersama para sahabat. Namun saya kembali menangis karena menyadari besarnya harga yang telah Yesus bayar untuk menebus saya dari dosa.
Saya teringat akan Ezra dan suatu hari yang indah di Yerusalem. Orang Israel baru kembali dari pembuangan dan mereka baru saja menyelesaikan pembangunan kembali dasar Bait Suci bagi Tuhan. Mereka bernyanyi dengan gembira, tetapi sejumlah imam yang berusia lanjut menangis (Ezr. 3:10-12). Agaknya mereka teringat pada bait Allah yang pernah didirikan Salomo dan kejayaannya di masa lampau. Mungkinkah sebenarnya mereka berduka atas dosa-dosa mereka yang telah menyebabkan mereka dibuang?
Terkadang ketika melihat Allah berkarya, kita merasakan beragam perasaan, seperti sukacita saat melihat keajaiban Allah dan dukacita saat teringat pada dosa-dosa kita dan kebutuhan kita akan penebusan-Nya.
Bangsa Israel bersorak-sorai dan menangis, hingga suara mereka terdengar sampai jauh (ay.13). Kiranya perasaan kita menjadi ungkapan dari kasih dan penyembahan kita kepada Tuhan, dan kiranya ungkapan perasaan itu juga menyentuh jiwa-jiwa di sekitar kita. —Keila Ochoa
Tuhan, Engkau menerima dukacita dan sukacita kami, setiap air mata dan tawa kami. Kami membawa seluruh perasaan kami seutuhnya kepada-Mu. Kami rindu memuji-Mu dengan segenap keberadaan kami.
Baik air mata maupun senyum sama-sama memberikan pujian bagi Allah.

Saturday, June 11, 2016

Anugerah yang Mutlak

Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. —Matius 5:48
Anugerah yang Mutlak
Bertahun-tahun saya menganggap Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) sebagai standar perilaku manusia yang tidak mungkin dicapai siapa pun. Saya telah salah paham. Yesus menyampaikan perkataan tersebut bukanlah untuk membuat kita frustrasi, melainkan untuk memberi tahu kita tentang diri Allah yang sebenarnya.
Mengapa kita mengasihi musuh kita? Karena Bapa kita yang penuh kasih menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik. Mengapa kita mengumpulkan harta di surga? Karena Bapa tinggal di sana dan akan memberikan upah yang berlimpah kepada kita. Mengapa harus bebas dari takut dan khawatir? Karena Allah yang mendandani bunga bakung dan rumput di ladang telah berjanji untuk memelihara kita. Mengapa kita berdoa? Jika bapa di dunia memberikan roti atau ikan kepada anaknya, bukankah Bapa di surga akan terlebih lagi memberikan yang baik kepada mereka yang memintanya?
Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) tidak hanya untuk menjelaskan standar Allah yang harus selalu kita coba capai, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini tidak ada seorang pun dari kita yang akan dapat mencapai standar yang sempurna itu.
Di hadapan Allah, kita semua sama kedudukannya: pembunuh dan pemarah, orang yang berzina dan yang dikuasai nafsu, mereka yang mencuri dan yang mengingini milik orang lain. Kita semua tidak berdaya, dan itulah satu-satunya keadaan yang paling tepat bagi seseorang yang ingin mengenal Allah. Karena telah gagal mencapai standar Allah yang sempurna, kita tidak dapat mengandalkan apa pun kecuali bersandar pada anugerah-Nya yang mutlak. —Philip Yancey
Ya Tuhan, aku berdosa dan butuh pengampunan-Mu. Aku percaya Engkau mati di kayu salib untuk menebus hukuman dosaku. Engkau melakukan apa yang tak bisa kulakukan bagi diriku, dan dengan rela aku mau menerima kasih karunia-Mu. Tolong aku untuk hidup menyenangkan-Mu.
Hanya Allah yang dapat mengubah jiwa yang berdosa menjadi mahakarya kasih karunia.

Friday, June 10, 2016

Nama Baru Kita

Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru. —Wahyu 2:17
Nama Baru Kita
Wanita itu menyebut dirinya sendiri seorang pencemas. Namun ketika suatu hari anaknya mengalami kecelakaan, ia pun belajar melepaskan diri dari sebutan tersebut. Sementara anaknya dalam proses pemulihan, ia rutin bertemu sahabat-sahabatnya setiap Minggu untuk berbincang-bincang dan berdoa bersama guna memohon bantuan dan kesembuhan dari Allah. Bulan demi bulan, setelah ia mengubah ketakutan dan kekhawatirannya menjadi doa, ia menyadari bahwa ia telah berubah dari seorang pencemas menjadi pendoa. Ia merasakan bahwa Tuhan sedang memberinya nama yang baru. Identitasnya di dalam Kristus justru semakin kuat mengakar lewat pergumulannya menghadapi kepedihan hati yang tidak dikehendakinya.
Dalam pesan Yesus kepada jemaat di Pergamus, Tuhan berjanji akan memberikan batu putih dengan nama baru tertulis di atasnya kepada mereka yang setia (Why. 2:17). Para penafsir Alkitab masih memperdebatkan makna perkataan itu, tetapi sebagian besar setuju bahwa batu putih itu mengacu pada kemerdekaan kita dalam Kristus. Pada zaman Alkitab, hakim di pengadilan menggunakan batu putih untuk menyatakan vonis tidak bersalah dan batu hitam untuk vonis bersalah. Batu putih juga digunakan oleh penerimanya sebagai tanda masuk ke dalam acara-acara khusus seperti jamuan makan; demikian juga, mereka yang menerima batu putih dari Allah akan diterima masuk ke dalam perjamuan di surga. Kematian Yesus memberi kita kemerdekaan, hidup baru, dan nama baru.
Menurutmu, nama baru apakah yang akan diberikan Allah kepada kamu? —Amy Boucher Pye
Kiranya aku menjalani identitas baruku dengan berbagi kasih dan sukacita-Mu. Tunjukkanlah kepadaku karya-Mu yang terus memperbarui diriku.
Pengikut Kristus memiliki identitas yang sama sekali baru.

Thursday, June 9, 2016

Yang Paling Penting

Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. —Filipi 2:3-4
Yang Paling Penting
Dua orang sedang mengevaluasi perjalanan bisnis mereka dan hasil yang mereka dapatkan. Yang satu menilai perjalanan tersebut berhasil karena mereka dapat menjalin hubungan dengan pihak- pihak baru yang cukup penting melalui relasi bisnis mereka. Namun, yang seorang lagi justru mengatakan, “Hubungan memang baik, tetapi yang paling penting adalah hasil penjualan.” Jelas sekali keduanya mempunyai tujuan bisnis yang jauh berbeda.
Baik di dunia bisnis, dalam keluarga, atau bahkan di gereja, alangkah mudahnya kita memandang sesama kita dari segi manfaat apa yang bisa mereka berikan kepada kita. Kita lebih mudah menilai mereka dari apa yang bisa kita peroleh dari mereka daripada memikirkan bagaimana kita, sebagai pengikut Yesus, bisa melayani mereka. Di suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengatakan, “[Hendaklah kamu] tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:3-4).
Tidaklah patut kita memanfaatkan sesama kita demi keuntungan kita sendiri. Karena Allah mengasihi mereka dan kita juga dikasihi oleh-Nya, kita pun patut saling mengasihi. Kasih-Nya adalah kasih terbesar yang pernah ada. —Bill Crowder
Ya Tuhan, ajarlah aku untuk memandang sesama dengan cara pandang-Mu, bahwa mereka diciptakan dalam gambar dan rupa-Mu, dikasihi oleh-Mu, dan membutuhkan perhatian-Mu. Kiranya kasih-Mu yang agung memenuhi hatiku sehingga kasih itu dapat dilihat oleh siapa saja di sekitarku.
Sukacita kita alami ketika kita mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan kita sendiri.

Wednesday, June 8, 2016

Jauh Lebih Baik

Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik. —Filipi 1:23
Jauh Lebih Baik
Suatu hari, bunyi sirene terdengar meraung-raung di luar rumah seorang anak kecil. Karena tak mengenali bunyi itu, ia bertanya kepada ibunya tentang sirene tersebut. Ibunya menjelaskan bahwa bunyi itu berguna untuk memperingatkan orang-orang agar waspada terhadap badai besar yang akan terjadi. Ibu itu berkata, apabila orang-orang tidak segera berlindung, mereka bisa mati diterjang angin puting beliung. Anak itu membalas, “Mama, mengapa mati itu tidak baik? Bukankah kalau kita mati, kita akan bertemu Yesus?”
Memang anak kecil tidak selalu mengerti tentang kematian. Namun Rasul Paulus, yang telah kaya dengan pengalaman hidup, mengatakan hal yang serupa, “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik” (Flp. 1:23). Meski saat itu Paulus sedang menjalani tahanan rumah, pernyataannya tidak dilandasi oleh rasa putus asa. Ia justru bersukacita karena penderitaannya telah membuat Injil semakin tersebar (ay. 12-14).
Lalu mengapa Paulus merasa terjepit antara ingin hidup dengan ingin mati? Karena baginya, tetap hidup berarti “bekerja memberi buah.” Namun apabila mati, ia tahu akan mengalami kedekatan yang istimewa dengan Kristus. Lepas dari tubuh ini berarti tinggal bersama Tuhan (2Kor. 5:6-8 BIS).
Orang-orang yang percaya akan kuasa penyelamatan dari kematian dan kebangkitan Yesus akan hidup bersama Dia selama-lamanya. Pepatah mengatakan, “Semua yang berakhir di surga itu baik adanya.” Baik hidup atau mati, kita menang. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan Yesus, tolong aku untuk selalu mengarahkan pandanganku kepada-Mu, baik di saat aku bergumul dalam hidup atau menjelang kematianku. Kiranya aku menemukan rasa aman dan damai di dalam-Mu.
Iman dalam kematian dan kebangkitan Yesus memberi kepastian hidup kekal bersama-Nya.

Tuesday, June 7, 2016

Ceritakanlah!

Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan . . . segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. —Markus 5:20
Ceritakanlah!
Waktu itu tahun 1975 dan sesuatu yang sangat penting baru saja saya alami. Saya perlu segera menemui Francis, sahabat dekat yang saya percayai, untuk menceritakan pengalaman tersebut. Saya menemui Francis di apartemennya saat ia sedang terburu-buru hendak pergi, tetapi saya menghentikannya. Dari caranya memandang saya, agaknya ia tahu bahwa saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepadanya. Ia pun bertanya, “Ada apa?” Saya menjawab, “Kemarin aku menyerahkan hidupku kepada Yesus!”
Francis menatap saya, menarik napas panjang, lalu berkata, “Sebenarnya sudah lama aku juga ingin melakukannya.” Ia meminta saya menceritakan apa yang terjadi, dan saya menceritakan bahwa sehari sebelumnya seseorang telah menjelaskan Injil kepada saya dan saya pun meminta Yesus untuk masuk dalam hidup saya. Saya masih ingat air mata Francis yang mengalir saat ia berdoa juga untuk menerima pengampunan dari Yesus. Setelah itu, dengan bersemangat kami terus berbincang-bincang tentang hidup baru kami di dalam Kristus.
Setelah Yesus menyembuhkan orang yang dirasuk setan, Dia berkata, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Mrk. 5:19). Orang itu tidak perlu menyampaikan khotbah yang luar biasa, melainkan cukup menceritakan kisah hidupnya.
Bagaimana pun kisah pertobatan kita, kita bisa melakukan apa yang dilakukannya, “Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan . . . segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.” —Lawrence Darmani
Apa yang sudah Yesus lakukan untukmu? Ceritakanlah!
Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan. Mazmur 107:2

Monday, June 6, 2016

Dihancurkan Supaya Diperbarui

Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan. —Mazmur 119:75
Dihancurkan Supaya Diperbarui
Selama Perang Dunia II, ayah saya bertugas dalam Angkatan Darat Amerika Serikat yang bermarkas di wilayah Pasifik Selatan. Sepanjang masa dinasnya, ia menolak untuk mempercayai agama apapun dengan alasan, “Aku tak butuh penolong yang disebut agama.” Namun suatu hari sikapnya terhadap hal-hal rohani berubah total. Malam itu, ketika ibu melahirkan anaknya yang ketiga, saya dan kakak laki-laki saya tidur dengan harapan akan segera melihat adik kami yang baru lahir. Begitu bangun tidur keesokan harinya, dengan bersemangat saya bertanya kepada ayah, “Bayi laki-laki atau perempuan?” Ia menjawab, “Bayi perempuan, tetapi sayangnya ia meninggal saat lahir.” Saat itu juga kami menangis bersama karena rasa kehilangan yang kami alami.
Untuk pertama kalinya, ayah membawa hatinya yang hancur dan berdoa kepada Yesus. Saat itu, ia merasakan kedamaian dan penghiburan yang luar biasa dari Allah, walaupun putrinya tidak akan pernah tergantikan. Tidak lama setelah itu, ia mulai mendalami Alkitab dan terus berdoa kepada Allah yang telah menyembuhkan hancur hatinya. Imannya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Ia pun menjadi pengikut Yesus yang teguh—melayani-Nya sebagai pengajar Alkitab dan pemimpin gereja.
Yesus bukanlah sebuah agama, melainkan sumber kehidupan rohani yang baru! Pada saat hati dan hidup kita hancur, Dia sanggup memperbarui kita seutuhnya (Mzm. 119:75). —Dennis Fisher
Adakah sesuatu dalam hatimu yang perlu kamu bicarakan dengan Allah? Bawalah hatimu yang hancur kepada-Nya, dan mintalah Dia untuk memulihkan kamu kembali.
Hati yang hancur dapat diperbarui seutuhnya oleh Allah.

Sunday, June 5, 2016

Romawi yang Indah

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar. —Yohanes 17:3
Romawi yang Indah
Kemegahan kekaisaran Romawi, melatarbelakangi peristiwa kelahiran Yesus. Pada tahun 27 SM, Kaisar Agustus, kaisar pertama Romawi, mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung 200 tahun dan mulai membangun banyak monumen, kuil, gelanggang, dan kompleks pemerintahan di atas wilayah-wilayah yang terbengkalai. Menurut Plinius Tua, seorang sejarawan, semua itu merupakan “bangunan-bangunan terindah yang pernah ada di dunia”.
Namun, meskipun indah, kota Roma dan kekaisarannya menorehkan sejarah kekejaman yang terus berlangsung sampai pada masa Kejatuhannya. Ribuan budak, orang asing, kaum pemberontak, dan tentara yang membelot disalibkan pada tiang-tiang di pinggir jalan sebagai peringatan keras bagi siapa saja yang mencoba-coba menentang kekuasaan Romawi.
Maka alangkah ironisnya ketika kematian Yesus di atas kayu salib justru menyingkapkan suatu kemuliaan abadi yang membuat kemegahan Romawi terlihat begitu fana!
Adakah yang pernah membayangkan bahwa di dalam kutukan orang dan kesengsaraan penyaliban, kita menemukan kemuliaan abadi dari kasih, kehadiran, dan kerajaan Allah kita?
Adakah yang pernah menyangka bahwa suatu hari kelak, seluruh isi surga dan bumi akan bernyanyi, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Why. 5:12). —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolonglah kami untuk mencerminkan hati-Mu yang rela berkorban bagi dunia. Kiranya kasih-Mu menjadi kasih kami, hidup-Mu menjadi hidup kami, dan kemuliaan-Mu menjadi sukacita kami yang kekal.
Anak Domba yang mati itu adalah Tuhan yang hidup!

Saturday, June 4, 2016

Hidupmu Mempunyai Maksud

Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. —1 Petrus 4:11
Hidupmu Mempunyai Maksud
Pada suatu hari yang terik di Texas bagian Barat, Vania, keponakan saya, melihat seorang wanita berdiri di dekat lampu lalu lintas sambil mengangkat papan yang bertuliskan sesuatu. Ketika mobilnya semakin dekat, Vania berusaha membaca apa yang tertera pada papan tersebut dan mengira bahwa wanita itu hendak meminta sejumlah makanan atau uang. Vania terkejut ketika melihat kata-kata yang tertulis pada papan itu: “Hidupmu Mempunyai Maksud.”
Allah menciptakan setiap dari kita demi suatu maksud yang spesifik. Maksud utamanya adalah untuk membawa kemuliaan bagi-Nya, dan salah satu cara melakukannya adalah dengan melayani kebutuhan sesama (1Ptr. 4:10-11).
Seorang ibu dari anak balita dapat menemukan maksud hidupnya tatkala ia menyeka ingus dari hidung anaknya dan menceritakan tentang Yesus kepada anak-anaknya. Seorang karyawan yang sedang menekuni pekerjaan yang sebenarnya tidak memuaskannya, dapat menemukan maksud hidupnya ketika ia bekerja dengan sungguh-sungguh, karena mengingat Tuhanlah yang ia layani (Kol. 3:23-24). Seorang wanita yang kehilangan penglihatannya masih dapat menemukan maksud hidupnya dengan mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya serta mengarahkan mereka untuk beriman kepada Allah.
Mazmur 139 mengatakan bahwa sebelum kita dilahirkan, “dalam kitab-[Nya] semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk” (ay.16). Kita dijadikan dengan “dahsyat dan ajaib” untuk membawa kemuliaan bagi Pencipta kita (ay.14).
Jangan lupa: Hidupmu mempunyai maksud! —Cindy Hess Kasper
Tuhan, kami sering merasa hidup kami terombang-ambing antara kebosanan dan tantangan. Hari ini, tolonglah kami agar dapat melihat Engkau di tengah keadaan apapun yang sedang kami hadapi. Tunjukkanlah kepada kami secercah maksud dan makna yang Engkau kehendaki di dalam setiap keadaan.
Sekalipun segala sesuatu tidak lagi terasa berarti, Allah masih mempunyai maksud atas hidupmu.

Friday, June 3, 2016

Kekuatan bagi yang Lesu

Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. —Yesaya 40:31
Kekuatan bagi yang Lesu
Pada suatu hari yang cerah dan indah, saya berjalan-jalan di taman dan merasa sangat tidak bersemangat. Saya merasa seakan-akan segala hal telah membebani saya. Ketika saya berhenti sejenak dan duduk di bangku taman, saya melihat sebuah plakat kecil yang terpasang di sana sebagai kenang-kenangan manis atas seorang “suami, ayah, saudara, dan sahabat yang setia.” Di plakat itu juga tertulis, “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31).
Kata-kata yang begitu saya kenal itu terasa sebagai sentuhan pribadi dari Tuhan. Kelesuan fisik, jiwa, ataupun rohani dapat dialami oleh semua orang. Yesaya mengingatkan kita bahwa walaupun kita merasa lelah, Tuhan, Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung “tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu” (ay.28). Alangkah mudahnya saya melupakan bahwa dalam setiap keadaan “[Tuhan] memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (ay.29).
Seperti apakah perjalanan hidupmu hari ini? Jika kelelahan telah membuatmu lupa pada kehadiran dan kuasa Allah, cobalah berhenti sejenak dan mengingat kembali janji-Nya. “Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru” (ay.31). Saat ini juga, di mana pun kita berada. —David McCasland
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah menjadi lesu. Berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi keadaan apa pun yang kuhadapi hari ini.
Ketika pergumulan hidup membuatmu lesu, terimalah kekuatan baru di dalam Tuhan.

Thursday, June 2, 2016

Tuhan, Tolong!

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16
Tuhan, Tolong!
Saya sangat gembira ketika seorang teman mengatakan bahwa ia hamil! Kami pun sama-sama menantikan kelahiran bayinya. Namun ketika bayi tersebut mengalami gangguan otak dalam proses persalinannya, hati saya hancur dan saya tidak tahu bagaimana harus berdoa. Saya hanya tahu kepada siapa saya harus berdoa. Saya harus berdoa kepada Allah. Dialah Bapa kita, dan Dia mendengar seruan kita kepada-Nya.
Saya tahu bahwa Allah sanggup melakukan mukjizat. Dia pernah menghidupkan kembali anak perempuan Yairus (Luk. 8:49-55) sekaligus menyembuhkan anak itu dari penyakit apa pun yang telah menyebabkan kematiannya. Maka saya pun meminta Allah untuk menyembuhkan bayi teman saya itu.
Namun saya bertanya-tanya, apa jadinya kalau Allah tidak menyembuhkannya? Dia bukannya kurang berkuasa. Mungkinkah Dia tak peduli? Saya pun teringat pada penderitaan Yesus di atas kayu salib dan ayat yang mengatakan bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Kemudian saya mengingat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Ayub dan bagaimana ia belajar melihat hikmat Allah yang tampak dalam karya ciptaan Allah di sekitarnya (Ayb. 38-39).
Lambat laun saya melihat bagaimana Allah memanggil kita untuk mempercayai-Nya di dalam setiap pengalaman hidup kita. Oleh anugerah Allah, saya dan teman saya sama-sama belajar apa artinya berseru kepada Tuhan dan mempercayai-Nya—apa pun hasil yang dikehendaki-Nya. —Poh Fang Chia
Tuhan, kepada siapa aku dapat berharap kecuali kepada-Mu! Aku mempercayakan hidupku dan hidup orang-orang yang kukasihi kepada-Mu. Aku bersyukur karena Engkau selalu mendengar seruanku.
Ketika kamu terpuruk, itulah saat yang tepat untuk berdoa!

Wednesday, June 1, 2016

Tidak Sesederhana Itu

Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. —2 Tawarikh 16:9
Tidak Sesederhana Itu
Hidup tampaknya begitu sederhana di bawah hukum Taurat dalam Perjanjian Lama. Taat kepada Allah akan membawa pada berkat, sementara ketidaktaatan akan membawa pada masalah. Sebuah teologi yang cukup jelas. Namun apakah memang sesederhana itu?
Kisah hidup Raja Asa tampaknya cocok dengan pola tersebut. Ia memimpin rakyatnya menjauhi penyembahan berhala dan kerajaannya pun berkembang (2Taw. 15:1-19). Namun di ujung masa pemerintahannya, ia lebih mengandalkan dirinya sendiri daripada Allah (16:2-7), dan sisa hidupnya penuh dengan peperangan dan penyakit (ay.12).
Kita bisa melihat kisah tersebut lalu menarik kesimpulan yang naif, bahwa hidup memang sesederhana itu. Namun Nabi Hanani memperingatkan Asa, dengan mengatakan bahwa Allah akan “melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (16:9). Mengapa kita butuh kekuatan dari Allah? Karena untuk melakukan hal yang benar dibutuhkan keberanian dan ketekunan.
Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa, justru karena ia “saleh dan jujur” (Ayb. 1:8). Karena dituduh hendak melakukan pemerkosaan, Yusuf mendekam di dalam penjara selama bertahun-tahun —demi menggenapi maksud baik Allah (Kej. 39:19-41:1). Nabi Yeremia dipukul dan dipasung (Yer. 20:2), karena ia menyatakan kebenaran kepada umat yang memberontak kepada Allah (Yer. 26:15).
Hidup ini tidaklah sederhana, dan jalan Allah bukanlah jalan kita. Membuat keputusan yang benar mungkin menuntut pengorbanan kita. Namun di dalam rencana Allah yang kekal, kita akan menerima berkat-berkat-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya. —Tim Gustafson
Tuhan, terima kasih untuk teladan keberanian dan ketaatan yang kami baca dalam firman-Mu. Tolonglah kami untuk belajar dari kesalahan dan keputusan mereka yang bijak, ketika kami telah memutuskan untuk melayani-Mu.
Allah menolong siapa saja yang bersandar kepada-Nya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate