Pages - Menu

Tuesday, April 30, 2019

Orang Kudus dan Pendosa

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” . . . Dan [Petrus] berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” —Yohanes 21:17
Orang Kudus dan Pendosa
Sebelum mengikuti jejak Yohanes Pembaptis dengan hidup di padang gurun, Maria dari Mesir (± 344–421 m) menghabiskan masa mudanya mengejar kesenangan amoral dan menggoda para lelaki. Di puncak kebejatannya, ia melakukan perjalanan ke Yerusalem dengan niat menggoda para peziarah. Akan tetapi, ia justru dibuat sadar akan dosa-dosanya dan setelah itu memilih hidup dalam pertobatan dan kesendirian di tengah padang gurun. Transformasi radikal yang dialami Maria menggambarkan dahsyatnya anugerah Allah dan kuasa pemulihan oleh salib Kristus.
Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, padahal beberapa jam sebelumnya, ia pernah menyatakan kerelaannya mati bagi Yesus (Luk. 22:33). Kegagalan untuk menepati kata-katanya sendiri merupakan pukulan berat bagi Petrus (ay.61-62). Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Petrus sedang mencari ikan bersama para murid di saat Yesus muncul di tengah mereka. Yesus memberi kesempatan bagi Petrus untuk menyatakan kasihnya sebanyak tiga kali—jumlah yang sama dengan penyangkalannya (Yoh. 21:1-3). Kemudian, dengan setiap pengakuan Petrus, Yesus menugaskan Petrus untuk menggembalakan umat-Nya (ay.15-17). Sebagai dampak dari anugerah luar biasa yang Yesus tunjukkan, Petrus pun memegang peran penting dalam membangun gereja hingga pada akhirnya ia rela menyerahkan nyawanya untuk Tuhan.
Catatan perjalanan hidup kita mungkin juga diawali dengan serangkaian kegagalan dan kekalahan, tetapi anugerah Allah selalu memungkinkan kita untuk menutup catatan itu dengan manis. Oleh anugerah-Nya, Dia menebus dan mengubah kita. —Remi Oyedele
WAWASAN

Yesus memperingatkan Petrus bahwa Iblis telah meminta izin untuk mengujinya dan iman Petrus akan gugur (Lukas 22:31-34). Sebelum ditangkap, Dia kembali mewanti-wanti Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah. . . Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Ketika Yesus ditangkap, semua murid-Nya melarikan diri. Namun, Petrus dan Yohanes berubah pikiran dan mengikuti Yesus sampai ke rumah Imam Besar dan dibolehkan masuk karena Yohanes “mengenal Imam Besar” (ay.56-58; Yoh 18:15-16). Di halaman rumah itu, Petrus berbaur dengan para pelayan Imam Besar. Di sanalah ia gugur di bawah tekanan dan menyangkal Kristus tiga kali (Lukas 22:54-61). Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan pengalaman kegagalannya, Petrus memperingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8).—K.T. Sim
Bagaimana selama ini Anda mengalami anugerah Allah yang mengubahkan? Bagaimana Anda dapat mengungkapkan anugerah-Nya kepada sesama?
Anugerah Allah mengubah kita dari pendosa menjadi orang kudus.

Monday, April 29, 2019

Memahami Cobaan Hidup

Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. —Ayub 12:13
Memahami Cobaan Hidup
Ayah seorang teman saya didiagnosis mengidap penyakit kanker. Namun, saat menjalani proses kemoterapi, ia bertobat dan menjadi percaya kepada Kristus. Penyakitnya pun berangsur-angsur membaik. Ia bebas dari penyakit kanker selama delapan belas bulan, tetapi kemudian kanker itu kambuh lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Ia dan istrinya menghadapi kenyataan tentang penyakit itu dengan rasa prihatin dan banyak pertanyaan. Namun, mereka juga menghadapinya dengan iman yang tunduk kepada Allah karena mereka melihat bagaimana Dia memelihara mereka saat pertama kalinya penyakit itu menyerang.
Kita tidak selalu bisa memahami mengapa kita harus menghadapi berbagai cobaan hidup. Itulah yang terjadi pada Ayub yang mengalami penderitaan dan kehilangan yang luar biasa beratnya. Meski hatinya bertanya-tanya, Ayub tetap menegaskan kemahakuasaan Allah di pasal 12. ”Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali” (ay.14) dan “pada Dialah kuasa dan kemenangan” (ay.16). “Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya”(ay.23). Dalam daftar panjang yang ditulis Ayub, tak sekalipun ia menyebutkan motivasi Allah atau alasan-Nya mengizinkan kesakitan dan kesukaran terjadi. Ayub tak punya jawabannya. Namun, dengan penuh keyakinan, Ayub menyatakan, “Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian”(ay.13).
Mungkin kita tidak mengerti mengapa Dia mengizinkan kesulitan tertentu terjadi dalam hidup kita, tetapi seperti orangtua teman saya tadi, kita dapat mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Allah mengasihi dan memelihara kita dalam tangan-Nya (ay.10; 1ptr. 5:7). Hikmat, kuasa, dan pengertian ada pada-Nya! —Julie Schwab
WAWASAN

Setelah mendengarkan berpasal-pasal ceramah yang tidak berguna dari teman-temannya, Ayub tidak tahan lagi. Ia pun memulai pasal 12 dengan sarkasme yang tajam: “Memang, kamulah orang-orang itu, dan bersama-sama kamu hikmat akan mati” (ay.2). Kemudian ia berkata, “Penghibur sialan kamu semua! Belum habiskah omong kosong itu?” (16:2-3).
Karena tidak mendapat jawaban dari teman-temannya, Ayub beralih kepada satu-satunya pengharapannya: “Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (12:13). Namun, sekalipun mengakui kuasa dan hikmat Allah, ia tetap mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada Yang Maha Kuasa. Kitab Ayub memuat banyak dialog antara Ayub dan para penghiburnya yang tidak mumpuni, sudut pandang dari teman keempat, Elihu, yang juga tidak lebih berguna (pasal 32-37), serta jawaban Allah yang tak terbantahkan (pasal 38-41).—Tim Gustafson
Pergumulan apa yang sedang Anda hadapi? Bagaimana Anda terhibur oleh kenyataan bahwa Allah selalu menyertai Anda?
Tuhan, tolong aku mempercayai-Mu, bahkan di saat aku tidak mengerti cara kerja-Mu. Terima kasih Engkau memegangku dengan tangan kasih-Mu.

Sunday, April 28, 2019

Rencana Pensiun dari Allah

Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. —Keluaran 3:2
Rencana Pensiun dari Allah
Seorang arkeolog, Dr. Warwick Rodwell, sedang bersiap memasuki masa pensiun ketika ia menemukan sesuatu yang luar biasa di Katedral Lichfield, Inggris. Ketika para pekerja menggali sebagian lantai gereja untuk menggantinya dengan alas yang baru, mereka malah menemukan patung Gabriel, sang penghulu malaikat. Patung itu diperkirakan berusia 1.200 tahun. Seketika itu juga Dr. Rodwell batal untuk pensiun karena ia langsung sibuk menggarap proyek baru yang ditemukannya itu.
Musa berusia delapan puluh tahun waktu ia diperhadapkan pada sebuah peristiwa yang akan mengubah hidupnya selamanya. Meski berstatus anak angkat putri Mesir, Musa tidak pernah melupakan darah Ibrani yang mengalir dalam dirinya, sehingga ia sangat marah saat menyaksikan ketidakadilan yang dialami bangsanya (Kel. 2:11-12). Saat Firaun tahu bahwa Musa telah membunuh orang Mesir yang sudah memukul seorang Ibrani, ia berencana membunuh Musa hingga Musa terpaksa kabur dan menetap di Midian (ay.13-15).
Empat puluh tahun kemudian, saat Musa sudah berumur delapan puluh tahun dan sedang menjaga ternak ayah mertuanya, “Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api” (kel. 3:2). Saat itulah, Allah memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir (ay.3-22).
Dalam kehidupan Anda saat ini, tugas apa yang Allah ingin Anda lakukan demi tujuan besar-Nya? Apa rencana-rencana baru yang Allah taruh dalam jalan hidup Anda? —Ruth O’Reilly-Smith
WAWASAN

Allah menyuruh Musa melepaskan kasutnya karena “tempat di mana [ia] berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Keluaran 3:5). Apa yang membuat tanah itu kudus? Hadirat Allah. Itulah hadirat yang sama yang menguduskan ruang Maha Kudus di Kemah Pertemuan dan Bait Allah sehingga membuat adanya berbagai batasan untuk dapat memasukinya (Imamat 16:2-3).—J.R. Hudberg
Apa yang Anda pelajari dari Musa dan panggilan Allah atasnya? Mengapa penting bersikap terbuka terhadap hal baru yang sedang Allah kerjakan dalam hidup Anda?
Allah yang kudus, jadilah Tuhan atas seluruh hidupku, dan kuserahkan semua hari-hariku kepada-Mu.

Saturday, April 27, 2019

Menikmati Keindahan

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. —Pengkhotbah 3:11
Menikmati Keindahan
Lukisan yang dipajang di lorong sebuah rumah sakit di pusat kota itu langsung menarik perhatian saya. Sapuan warna-warna pastel dan sosok-sosok dari suku asli Amerika Navajo dalam lukisan itu begitu memikat hati hingga saya berhenti berjalan dan memperhatikannya. “Coba lihat,” kata saya kepada Dan, suami saya.
Saat itu suami saya berjalan terus, tetapi saya tidak. Di antara lukisan-lukisan lain di lorong itu, saya berhenti untuk menatap lukisan yang satu ini. “Indahnya,” bisik saya.
Banyak hal dalam kehidupan ini memang indah. Lukisan mahakarya. Pemandangan indah. Kerajinan tangan yang kreatif. Begitu pula senyum seorang anak. Sapaan hangat sahabat. Telur biru burung robin. Lekukan pada kulit kerang. Untuk meringankan beban dalam hidup ini, “[Allah] membuat segala sesuatu indah pada waktunya”(Pkh. 3:11). Dalam keindahan seperti itu, para ahli Alkitab menjelaskan, kita melihat sekilas kesempurnaan ciptaan Allah—termasuk kemuliaan dari kekuasaan sempurna-Nya yang akan datang.
Karena kita hanya bisa membayangkan kesempurnaan itu, Allah memberi kita kesempatan mencicipinya terlebih dahulu melalui keindahan hidup. Dalam hal itulah, Allah “memberikan kekekalan dalam hati mereka” (ay.11). Terkadang hari-hari kita terlihat suram dan tak berarti. Namun, Allah bermurah hati menyediakan momen-momen indah untuk direnungkan.
Seniman dari lukisan yang saya kagumi itu, Gerard Curtis Delano, mengerti hal itu. “Allah [memberi] saya talenta untuk menciptakan keindahan,” katanya, “dan itulah yang Dia ingin saya lakukan.”
Melihat keindahan seperti itu, apa respons kita? Kita dapat bersyukur kepada Allah untuk kekekalan yang akan datang sambil menikmati kemuliaan yang sudah kita saksikan. —Patricia Raybon
WAWASAN

Kitab Pengkhotbah tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai waktu penulisannya, tetapi sang penulis yang menyebut dirinya “Pengkhotbah” secara umum diyakini adalah Salomo, “anak Daud, raja di Yerusalem” (Pengkhotbah 1:1). Namun, ada juga yang percaya bahwa penulis kitab ini adalah seorang penyunting dan penulis yang mencatat pelajaran-pelajaran dari kehidupan Salomo dalam sebuah tradisi hikmat. Apakah tujuan kitab ini? Michael Eaton dalam buku tafsiran kitab Pengkhotbah menyatakan, “Kitab ini membela kehidupan iman kepada Allah pemurah dengan menunjukkan betapa suramnya pilihan-pilihan di luar iman.” Ia menyimpulkan bahwa tujuan sang Pengkhotbah adalah “untuk membawa kita melihat bahwa Allah itu ada, Dia baik dan pemurah, dan hanya dengan cara pandang inilah hidup lebih dapat dimengerti dan memberikan kepuasan.”—Alyson Kieda
Bagaimana Anda menanggapi keindahan yang telah Allah tempatkan di dunia ini? Bagaimana keindahan dunia ini mencerminkan diri-Nya?
Bapa, tolonglah aku hari ini melihat dan menikmati keindahan yang Engkau hadirkan dalam hidupku sembari aku menantikan kekekalan yang mulia.

Friday, April 26, 2019

Yang Allah Lihat

Mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. —2 Tawarikh 16:9
Yang Allah Lihat
Pagi-pagi sekali, saya berjalan diam-diam melewati jendela ruang keluarga yang menghadap ke hutan di belakang rumah kami. Saya sering melihat seekor elang atau burung hantu bertengger di pohon sedang mengawasi seluruh area. Suatu pagi, saya kaget melihat seekor elang botak bertengger di dahan yang tinggi, memandang sekelilingnya seolah-olah seluruh kawasan itu adalah miliknya. Kemungkinan ia sedang mencari-cari bahan “sarapan”. Tatapannya yang tajam terlihat sangat berwibawa.
Dalam 2 Tawarikh 16, Hanani sang pelihat (nabi Allah) memberi tahu raja bahwa tindakannya sedang diamat-amati. Ia memberitahu Asa, raja Yehuda, “Engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada Tuhan Allahmu” (ay.7). Lalu Hanani menjelaskan, “Mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (ay.9). Karena Asa bersandar pada sosok yang salah, maka hidupnya tidak akan pernah damai.
Kita dapat membaca ayat tadi dan mengira bahwa Allah mengawasi setiap langkah kita agar Dia dapat menerjang kita seperti burung pemangsa. Perkataan Hanani sesungguhnya berfokus pada hal yang positif. Maksud Hanani adalah bahwa Allah kita terus mengawasi dan menunggu kita memanggil-Nya saat kita membutuhkan pertolongan.
Seperti elang botak di pekarangan saya, mungkinkah mata Allah menjelajah seluruh bumi—sampai sekarang—dan menemukan kesetiaan dalam diri Anda dan saya? Mungkinkah Dia hendak memberikan harapan dan pertolongan yang sedang kita butuhkan? —Elisa Morgan
WAWASAN

Karena ketidaksetiaan Salomo (1 Raja2 11:4-11), kerajaannya terbelah dua. Yerobeam, hamba Salomo, memerintah kerajaan Israel di utara (11:28-31), dan Rehabeam, anak Salomo, memerintah kerajaan Yehuda di selatan (14:21). Asa, raja ketiga Yehuda sekaligus cicit Salomo (2 Tawarikh 12:16; 14:1), “melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya” (14:2) dan melakukan banyak pembaharuan keagamaan (pasal 14-15). Namun, ketika pecah perang antara Asa dan Raja Baesa dari Israel, Asa berpaling meminta pertolongan kepada Aram, bukan kepada Allah (16:1-3). Nabi Hanani menegur kurangnya iman percaya Asa, mengingatkannya tentang Allah yang pernah menyelamatkan Yehuda dari musuh-musuh yang lebih kuat sekalipun (12:1-12; 14:9-15). Asa menolak bertobat, dan tiga tahun kemudian Allah memukulnya dengan sakit kaki yang parah. Ia tetap “tidak mencari pertolongan TUHAN” (16:10-12). Asa mati tanpa mengalami pertobatan.—K.T. Sim
Mengapa penting bagi Anda untuk terus-menerus mencari arahan dan tuntunan Allah? Bagaimana kesadaran bahwa Allah menantikan seruan Anda minta tolong dapat membuat Anda terhibur?
Ya Allah, kuatkanlah hati kami agar kami tetap bersungguh hati terhadap Engkau.

Thursday, April 25, 2019

Tidak Seperti Kemarin

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan. —Ulangan 8:3
Tidak Seperti Kemarin
Saat cucu kami Jay masih kecil, orangtuanya memberinya kaus baru saat ia berulang tahun. Ia langsung memakainya dan dengan bangga mengenakannya seharian.
Keesokan paginya, waktu ia muncul dengan kaus yang sama, ayahnya bertanya,“Jay, kamu senang dengan kaus itu?”
“Lebih senang kemarin,” jawab Jay.
Itulah masalah dari mengumpulkan harta: bahkan barang-barang yang baik dalam hidup ini tidak dapat memberi kita kebahagiaan yang menetap, sesuatu yang sangat kita dambakan. Meskipun kita memiliki banyak harta, bisa jadi kita tetap tidak bahagia.
Dunia menawarkan kebahagiaan dengan mengumpulkan banyak barang: pakaian baru, kendaraan baru, telepon atau jam tangan model terbaru. Namun, tidak ada harta yang dapat membuat kita sebahagia pada saat kita baru mendapatkannya. Kita diciptakan untuk Allah dan di luar Dia, tidak ada sesuatu hal yang bisa membuat kita merasa cukup.
Suatu hari, saat Yesus sedang berpuasa dan kelaparan, Iblis menghampiri-Nya dan mencobai Dia untuk memuaskan rasa laparnya dengan menciptakan roti. Yesus melawan dengan mengutip Ulangan 8:3, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).
Itu tidak berarti bahwa kita harus hidup hanya dari roti. Yesus justru sedang mengungkapkan sebuah fakta: kita adalah makhluk rohani dan bahwa kita tidak bisa hidup dari materi saja.
Kepuasan sejati ditemukan dalam Allah dan kekayaan rohani yang dianugerahkan-Nya kepada kita. —David H. Roper
WAWASAN

Empat puluh hari puasa Yesus di padang gurun Yudea mencerminkan empat puluh tahun perjalanan Israel di padang gurun Sinai. Dengan mengingat bagaimana Roh Allah memimpin bangsa Israel ke tanah yang gersang itu, Yesus berulang kali mengutip pengalaman tersebut (Ulangan 6:16; 8:3; 10:20), karena Dia juga menghadapi berbagai tantangan yang menguji kepercayaan-Nya kepada Allah dalam memberi makanan dan penyertaan yang menjadi dasar hidup dan misi-Nya (Matius 4:1-2; Ulangan 8:3). Dalam setiap ujian, Yesus memilih untuk percaya pada kebaikan Bapa yang Dia kenal daripada kepuasan (Matius 4:3), bantuan (ay.6), dan kompromi (ay.8-9) yang ditawarkan oleh musuh-Nya (ay.10).—Mart DeHaan
Mengapa harta kekayaan tidak dapat memberi kebahagiaan jangka panjang? Hikmah apa yang telah Anda pelajari dari harapan-harapan Anda di masa lalu?
Ajarlah kami, Allah, apa artinya hidup dengan kekayaan-Mu hari ini. Engkaulah empunya semua yang benar-benar kuperlukan!

Wednesday, April 24, 2019

Melayani yang Terkecil

Apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah. —1 Korintus 1:28
Melayani yang Terkecil
Sebuah video menunjukkan seorang laki-laki berlutut di tepi jalan raya yang ramai saat sedang terjadi kebakaran hutan yang hebat. Ia tampak bertepuk tangan dan memanggil-manggil dengan nada membujuk. Apakah yang dinantikannya? Seekor anjing? Sesaat kemudian seekor kelinci muncul. Laki-laki tersebut meraup kelinci yang ketakutan itu lalu berlari menuju tempat aman.
Bagaimana tindakan penyelamatan yang sepele seperti itu bisa menjadi berita besar? Karena belas kasihan yang ditunjukkan kepada mereka yang tidak berdaya sungguh menyentuh hati kita. Dibutuhkan kebesaran hati untuk memberi tempat bagi makhluk yang terkecil.
Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah itu seperti seorang tuan yang mengadakan perjamuan dan menyiapkan tempat bagi siapa saja yang mau datang. Tidak hanya pembesar dan berpengaruh, tetapi juga “orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh” (Luk. 14:21). Saya bersyukur Allah mencari mereka yang lemah dan sepertinya tak berarti, sebab jika tidak, saya tidak akan pernah diselamatkan. Paulus berkata, “Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, . . . supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1 Kor. 1:27-29).
Alangkah luar biasanya kebesaran hati Allah hingga Dia mau menyelamatkan orang kecil seperti saya! Oleh karena itu, saya perlu bertanya, seberapa besar hati saya sudah bertumbuh? Saya hanya perlu melihat sejauh mana saya telah melayani mereka yang dipandang kurang berarti oleh masyarakat, bukan bagaimana saya berusaha menyenangkan mereka yang “terpandang”. —Mike Wittmer
WAWASAN

Alkitab menggunakan gambaran perjamuan atau pesta untuk melambangkan tawaran keselamatan Allah bagi dunia ini. Yesaya menyatakan bahwa “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan” (25:6). Lukas menggunakan kiasan seseorang yang mengundang banyak tamu ke “perjamuan besar” (14:16-17). Matius mengumpamakannya dengan “perjamuan kawin” anak raja yang berlangsung satu minggu penuh (22:2). Yohanes berbicara mengenai sebuah “perjamuan kawin Anak Domba” (Wahyu 19:9), di mana umat percaya dari segala bangsa berkumpul untuk merayakan keselamatan kekal Allah. Mereka akan datang “dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub” (Matius 8:11). “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Lukas 14:15).—K.T. Sim
Orang-orang seperti apa yang sulit Anda hargai? Bagaimana cara Allah menolong Anda untuk mengubah sikap Anda tersebut?
Tuhan, tolonglah kami, pelayan-pelayan-Mu, menghargai orang lain seperti yang Kau lakukan, terlepas dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.

Tuesday, April 23, 2019

Melihat Cahaya Terang

Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. —Yesaya 9:1
Melihat Cahaya Terang
Di kota Los Angeles, Brian, seorang tunawisma yang sedang berjuang mengatasi kecanduannya, datang ke suatu lembaga pelayanan tunawisma bernama The Midnight Mission. Itulah awal perjalanan panjang Brian menuju pemulihan.
Dalam proses pemulihan itu, Brian menemukan kembali kecintaannya kepada musik. Ia pun bergabung dengan Street Symphony—sekelompok musisi profesional yang memiliki hati untuk melayani para tunawisma. Mereka meminta Brian tampil solo membawakan karya Handel dari oratorio Messiah yang berjudul “The People that Walked in Darkness (Mereka yang Berjalan dalam Kekelaman).” Dengan menggunakan kata-kata yang ditulis oleh Nabi Yesaya pada masa kekelaman bangsa Israel, ia bernyanyi, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). Seorang kritikus musik dari majalah The New Yorker menulis bahwa Brian “membuat lirik lagu tersebut seolah-olah berasal dari kehidupannya sendiri.”
Penulis kitab Injil Matius mengutip bagian Alkitab yang sama. Sebagai murid yang dipanggil Yesus keluar dari kehidupan lamanya yang menipu kaum sebangsanya, Matius menggambarkan bagaimana Yesus menggenapi nubuatan Yesaya dengan membawa misi penyelamatan-Nya hingga ke “seberang sungai Yordan” sampai ke “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain” (Mat. 4:13-15).
Siapa yang mengira salah seorang pemungut cukai Romawi yang kejam (lihat Mat. 9:9), seorang pecandu yang menggelandang di jalanan seperti Brian, atau orang-orang seperti kita akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan perbedaan hidup dalam terang dan gelap melalui kehidupan kita? —Mart DeHaan
WAWASAN

Kerajaan Allah adalah sebuah jalan hidup yang berbeda dari jalan yang diterapkan oleh “kerajaan dunia,” di mana kekuatan budaya dominan ditentukan oleh pihak yang berkuasa. Ketika Kekaisaran Romawi menyatakan bahwa pemerintahan mereka adalah kabar baik, Kristus menekankan bahwa hanya pemerintahan Allah sajalah kabar baik yang sejati.—Monica Brands
Bagaimana terang Kristus telah mempengaruhi Anda? Dalam hal apakah Anda memantulkan terang itu kepada orang lain?
Bapa, dalam gelapnya kehidupan kami, tolonglah kami melihat terang Anak-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami.

Monday, April 22, 2019

Kekuatan Baru

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. —Matius 11:28
Kekuatan Baru
Di usia ke-54 saya mengikuti perlombaan maraton Milwaukee dengan dua target—mencapai garis akhir dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 5 jam. Pencapaian saya akan sangat mengagumkan seandainya saja paruh kedua ditempuh selancar paruh pertama. Namun, pada kenyataannya, perlombaan tersebut sangat melelahkan, dan kekuatan baru yang saya butuhkan untuk menuntaskan paruh kedua itu tidak pernah datang. Saat saya mencapai garis finis, langkah-langkah mantap saya di awal perlombaan telah berubah menjadi langkah yang tertatih-tatih.
Perlombaan lari bukan satu-satunya yang membutuhkan kekuatan baru—perlombaan hidup ini pun membutuhkannya. Agar mampu bertahan, orang-orang yang letih lesu membutuhkan pertolongan Allah. Yesaya 40:27-31 memadukan puisi dengan nubuatan dengan sangat indah untuk menghibur dan memotivasi mereka yang membutuhkan kekuatan untuk terus maju. Kata-kata yang abadi mengingatkan mereka yang letih lesu dan kecewa bahwa Tuhan tidaklah jauh dan masih peduli (ay.27), bahwa keadaan kita yang sulit tidak pernah luput dari perhatian-Nya. Kata-kata ini memberikan penghiburan dan jaminan, mengingatkan kita pada Allah yang kuasa-Nya tak terbatas dan pengetahuan-Nya tak terhingga (ay.28).
Kekuatan baru yang dijelaskan dalam ayat 29-31 sangatlah tepat untuk kita—entah kita sedang berjuang membesarkan anak-anak dan mencari nafkah untuk keluarga, berjuang menjalani hidup yang dibebani masalah fisik maupun keuangan, atau sedang dikecewakan oleh hubungan yang renggang atau pergumulan dalam hal spiritual. Kekuatan baru itulah yang akan diterima—lewat perenungan firman Tuhan dan berdoa—oleh mereka yang menanti-nantikan Tuhan. —Arthur Jackson
WAWASAN

Yesaya—namanya berarti “TUHAN menyelamatkan”—memperingatkan Yehuda yang tidak juga mau bertobat bahwa Allah akan menggunakan dua negara adidaya, Asyur dan Babel, untuk menghukum Yehuda karena ketidaksetiaan dan penyembahan berhala mereka (Yesaya 1-39). Yesaya juga menghibur Yehuda dengan janji pemulihan dan berkat Allah setelah hukuman mereka selesai dijalani (pasal 40-66). Dalam pasal 40, Yesaya mengalihkan pandangan kepada otoritas, kedaulatan, kebesaran, dan kemuliaan Allah (ay.1-26) serta dengan lembut berbicara tentang kasih dan pemeliharaan Allah (ay.11, 27-31). Menjawab rasa terabaikan yang dialami Yehuda (ay.27), Yesaya meyakinkan mereka bahwa Allah tidak hanya berketetapan untuk memberkati mereka, tetapi juga memiliki kuasa mutlak untuk melakukannya (ay.28). Sebagai Allah Pencipta yang kekal dan maha kuasa, Dia adalah sumber kekuatan mereka (ay.29). Yesaya mengundang bangsa Yahudi yang patah semangat ini untuk bangkit memulai komitmen baru saat mereka percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya (ay.30-31).—K.T. Sim
Kapan kehidupan ini begitu menguras tenaga dan membebani Anda? Dalam area tertentu apa Anda membutuhkan kekuatan Tuhan hari ini?
Tuhan, aku datang kepada-Mu dalam kelemahan dan kelelahan, berikanlah kepadaku kekuatan yang baru.

Sunday, April 21, 2019

Dicuci Bersih

Darah Yesus, Anak [Allah] itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. —1 Yohanes 1:7
Dicuci Bersih
Semua jadi benar-benar kacau. Sebuah pulpen gel berwarna biru entah bagaimana bisa terselip di antara lipatan handuk-handuk putih saya dan aman dari gilingan mesin cuci, tetapi kemudian pecah saat berada di dalam mesin pengering. Alhasil, bercak biru pun menyebar ke mana-mana. Rusak sudah handuk-handuk putih saya. Diberi pemutih sebanyak apa pun tetap tidak akan bisa menghilangkan noda-noda gelap tersebut.
Meski sebenarnya enggan, akhirnya saya menjadikan handuk-handuk itu sebagai lap. Saya jadi teringat pada ratapan Nabi Yeremia dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan tentang dampak merusak dari dosa. Dengan menolak Allah dan berpaling kepada para dewa (Yer. 2:13), Yeremia menyatakan bahwa bangsa Israel telah meninggalkan noda yang tidak akan dapat hilang dalam hubungan mereka dengan Allah. “Bahkan, sekalipun engkau mencuci dirimu dengan air abu, dan dengan banyak sabun, namun noda kesalahanmu tetap ada di depan mata-Ku, demikianlah firman Tuhan Allah” (ay.22). Mereka tidak kuasa meniadakan kerusakan yang telah mereka buat.
Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan sanggup menghapus noda dosa-dosa kita. Namun, Tuhan Yesus telah melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan. Melalui kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, Dia “menyucikan [orang percaya] dari pada segala dosa” (1 Yoh. 1:7).
Bahkan jika ini sulit dipercaya, tetaplah bersandar pada kebenaran ini: tidak ada kerusakan akibat dosa yang tidak dapat dihapus oleh Yesus Kristus. Allah rela dan siap menghapus akibat dosa siapa saja yang bersedia kembali kepada-Nya (ay.9). Melalui Kristus, kita dapat hidup setiap hari dengan merdeka dan penuh pengharapan. —Lisa Samra
WAWASAN

Dalam bahasa asli Alkitab, ada beberapa kata yang diterjemahkan sebagai dosa, masing-masing memiliki pengertian berbeda. Dalam bacaan hari ini, Yeremia menggunakan kata yang berarti “buruk” atau “jahat” dan kerap digunakan untuk menyebut sesuatu yang memiliki dampak negatif. Namun, walaupun berbagai definisi dapat memberikan pengertian teknis tentang apa itu dosa, sering kali definisi tersebut gagal untuk menjelaskan gambaran tentang realitas dosa.
Dalam bacaan hari ini, Yeremia menggunakan empat metafora untuk menggambarkan hakikat kejijikan dosa Israel terhadap Allah—menggali kolam (ay.13), mematahkan kuk dan memutuskan tali pengikat (ay.20), persundalan (ay.20), dan pohon anggur liar (ay.21). Ketika dosa diartikan sekadar “meleset dari sasaran” (suatu tembakan yang baik tetapi tak sempurna), dosa menjadi sesuatu yang lebih mudah dimaklumi. Namun, persundalan sebagai metafora dari dosa kita adalah gambaran yang keras, tidak mudah diberi lapisan pemanis. Yeremia mengatakan bahwa tindakan Israel sangat menjijikkan sehingga usaha apapun untuk membersihkan diri mereka sendiri tidak akan mampu menghapuskan kesalahan mereka. —J.R. Hudberg
Apa yang bisa Anda lakukan dengan rasa bersalah Anda? Bagaimana Anda dapat hidup secara berbeda hari ini setelah mengetahui bahwa kematian Yesus berkuasa menghapuskan rasa bersalah dan “noda” akibat dosa Anda?
Darah Yesus menghilangkan noda akibat dosa.

Saturday, April 20, 2019

Siapakah Itu?

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu.” —2 Samuel 12:13
Siapakah Itu?
Ketika seorang pria memasang kamera pengawas di luar rumahnya, ia memeriksa fitur video untuk memastikan sistemnya berfungsi dengan baik. Namun, ia kaget melihat sosok seorang laki-laki berdada bidang dan berbaju warna gelap berkeliaran di halaman rumahnya. Ia memperhatikan lebih jauh apa yang hendak dilakukan lelaki itu. Akan tetapi, ia merasa mengenal orang tersebut. Barulah ia tersadar bahwa yang diperhatikannya bukanlah video orang tak dikenal, melainkan rekaman dirinya sendiri!
Apa yang akan kita lihat jika kita bisa keluar dari tubuh kita dan mengamati diri kita sendiri dalam situasi tertentu? Ketika hati Daud mengeras dan ia memerlukan sudut pandang yang lain—suatu sudut pandang ilahi—tentang perselingkuhannya dengan Batsyeba, Allah mengirimkan Nabi Natan kepadanya (2 Sam. 12).
Nabi Natan bercerita kepada Daud tentang seorang kaya yang merebut satu-satunya anak domba milik seorang miskin. Meskipun orang kaya tersebut mempunyai ternak yang banyak, ia menyembelih satu-satunya anak domba milik orang miskin tersebut dan membuatnya menjadi makanan. Ketika Natan mengungkapkan bahwa cerita tersebut menggambarkan apa yang Daud lakukan, Daud pun sadar ia telah mencelakakan Uria. Natan menjelaskan konsekuensi yang harus diterima Daud, tetapi yang lebih penting ia meyakinkan Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu” (ay.13).
Ketika Tuhan menyingkapkan dosa kita, tujuan utama-Nya bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan dan menolong kita agar berdamai dengan mereka yang telah kita sakiti. Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kuasa pengampunan dan anugerah-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN

Teguran nabi Natan atas perzinahan Daud, konspirasi pembunuhan, dan usaha untuk menutupinya yang tercatat dalam 2 Samuel 12 bisa saja dirahasiakan oleh para sejarawan Israel. Namun, catatan kejahatan Daud tetap ada dalam Alkitab kita sebagai bukti bahwa Alkitab dapat dipercaya, tidak menyembunyikan kegagalan moral para pahlawannya, sekaligus tetap meyakinkan kita bahwa Allah senantiasa siap mengampuni sekalipun konsekuensi dosa tetap ada. —Mart DeHaan
Dosa-dosa apa yang perlu Anda bawa hari ini kepada Tuhan dalam pertobatan? Bagaimana anugerah-Nya mendorong Anda untuk tulus datang kepada-Nya?
Tuhan, tolonglah aku untuk dapat memandang hidupku sebagaimana Engkau melihatnya agar aku makin mengalami indahnya anugerah-Mu.

Friday, April 19, 2019

Tabir yang Terkoyak

Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. —Ibrani 10:19-20
Tabir yang Terkoyak
Hari itu hari yang gelap dan suram di luar kota Yerusalem. Di atas bukit di luar tembok kota, seorang Manusia yang telah menarik perhatian banyak pengikut setia selama tiga tahun terakhir tergantung dengan penuh aib dan rasa sakit pada sebuah salib kayu yang kasar. Mereka yang mengiringi-Nya menangis dan meratap dalam kesedihan. Cahaya matahari tidak lagi menerangi langit pada siang itu. Kemudian, penderitaan tidak terkira dari Manusia yang tergantung pada kayu salib tersebut berakhir ketika Dia berseru dengan nyaring, “Sudah selesai”(Mat. 27:50; Yoh. 19:30).
Pada saat yang sama, terdengar suara lain dari Bait Suci di dalam kota—suara kain yang terkoyak. Secara ajaib, tanpa campur tangan manusia, tabir tebal yang memisahkan bagian luar dari Bait Suci dengan ruang maha kudus terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah (Mat. 27:51).
Tabir yang terkoyak itu melambangkan realitas salib: jalan yang baru menuju Tuhan sekarang telah terbuka! Yesus, sang Manusia yang tergantung pada salib tersebut, telah mencurahkan darah-Nya sebagai pengorbanan terakhir—persembahan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10)—yang memungkinkan semua orang yang percaya kepada-Nya menikmati pengampunan dan masuk ke dalam hubungan dengan Allah (Rm. 5:6-11).
Di tengah kegelapan yang melingkupi Jumat Agung itu, kita menerima kabar yang paling indah—Tuhan Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk selamat dari dosa dan memungkinkan kita mengalami persekutuan dengan Allah selamanya (Ibr. 10:19-22). Terima kasih, Tuhan, untuk pesan agung dari tabir yang terkoyak. —Dave Branon
WAWASAN

Dalam surat Ibrani, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar menempati posisi yang penting. Pertama kali dikatakan dalam Ibrani 1:3: “Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.” Pasal 13 juga berbicara tentang hal tersebut: “Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh Imam Besar sebagai korban penghapus dosa. . . Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita. . . untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri” (ay.11-12). —Arthur Jackson
Bagaimana realitas yang terjadi pada Jumat Agung membawa Anda keluar dari kegelapan menuju terang? Apa artinya bagi Anda mengalami persekutuan dengan Tuhan?

Thursday, April 18, 2019

Pada Waktunya

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. —Yohanes 10:17-18
Pada Waktunya
Pintu mobil ambulans hampir tertutup—dan saya ada di dalamnya. Di luar, anak lelaki saya sedang menelepon istri saya. Dengan penglihatan yang mulai kabur karena kondisi gegar otak, saya memanggil nama anak saya. Menurut ceritanya, saat itu saya sempat berkata kepadanya dengan suara lirih, “Beri tahu ibumu aku sangat mencintainya.”
Rupanya saya mengira saya akan berpisah dengannya, dan saya ingin kalimat itu menjadi kata-kata terakhir saya. Hal itulah yang terpenting bagi saya waktu itu.
Ketika Yesus memasuki masa tergelap dalam hidup-Nya, Dia tidak hanya memberi tahu kita bahwa Dia mengasihi kita; Dia menunjukkannya dengan cara-cara yang spesifik. Dia menunjukkannya kepada prajurit-prajurit yang memaku tangan-Nya ke kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Dia memberikan harapan kepada penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Dia: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ay.43). Menjelang saat-saat terakhir, Dia menatap ibu-Nya. “Ibu, inilah, anakmu,” kata-Nya kepada Maria, dan kepada sahabat karib-Nya Yohanes, Dia berkata, “Inilah ibumu” (Yoh. 19:26-27). Lalu, ketika nyawa-Nya hendak meninggalkan raga-Nya, tindakan kasih terakhir dari Yesus adalah mempercayai Bapa-Nya: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).
Yesus sengaja memilih jalan salib untuk menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya—dan kedalaman kasih-Nya kepada kita. Sampai akhir, Dia menunjukkan kasih-Nya yang tak menyerah. —Tim Gustafson
WAWASAN

Kematian Yesus mengubahkan orang-orang yang hadir menyaksikannya. Salah satu dari dua penjahat yang disalibkan bersama Dia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:39-43). Kepala pasukan yang ditugaskan untuk menghukum Yesus berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39). —Tim Gustafson
Apa yang paling berarti bagi Anda? Bagaimana kasih dan ketaatan saling melengkapi?
Setiap perkataan Yesus diucapkan-Nya dengan penuh kasih.

Wednesday, April 17, 2019

Bertumbuh Mekar Seperti Bunga

Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga. —Mazmur 103:15
Bertumbuh Mekar Seperti Bunga
Cucu saya yang paling kecil baru berusia dua bulan, tetapi setiap kali saya melihatnya, ada saja perubahan-perubahan kecil dalam dirinya. Baru-baru ini, ketika saya sedang berbicara lembut kepadanya, ia menatap saya dan tersenyum! Tiba-tiba saja saya menangis. Mungkin saya gembira melihat senyumnya, sekaligus terharu mengenang senyum pertama anak-anak saya sendiri—sesuatu yang saya saksikan sekian puluh tahun lalu, tetapi yang rasanya baru terjadi kemarin. Terkadang memang ada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan seperti itu.
Dalam Mazmur 103, Daud menuliskan sebuah pujian puitis yang memuji Allah sembari mengingat betapa cepatnya saat-saat indah dalam hidup kita berlalu: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia” (ay.15-16).
Meskipun mengakui betapa singkatnya hidup ini, Daud menggambarkan bunga itu “berbunga” atau berkembang. Meskipun setiap tangkai bunga mekar dan tumbuh dengan cepat, tetapi wangi, warna, serta keindahannya membawa sukacita besar pada saat itu. Berbeda dengan setangkai bunga yang bisa sedemikian cepatnya dilupakan—“dan tempatnya tidak mengenalnya lagi” (ay.16)—kita mendapatkan jaminan bahwa ”kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia” (ay.17).
Seperti bunga, kita dapat bersukacita dan bertumbuh pada suatu waktu; tetapi kita juga bisa mensyukuri bagaimana setiap momen dalam kehidupan kita tidak pernah benar-benar terlupakan. Allah mengendalikan setiap detail hidup kita, dan kasih setia-Nya yang kekal akan selalu menyertai anak-anak-Nya selama-lamanya! —Alyson Kieda
WAWASAN

Dalam Mazmur 103, Daud memuji sifat belas kasih Allah. Dengan membandingkan kasih Allah dengan dengan kasih seorang ayah, ia menuliskan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada orang-orang yang takut akan Dia. Maksud Daud bukanlah bahwa Allah berbelas kasih kepada mereka yang ketakutan terhadap Dia, seolah Tuhan mengawasi dan memastikan agar semua orang menerima otoritas-Nya karena tertekan oleh rasa takut. Sebaliknya, kata “takut” di sini memiliki pengertian sebagai pengenalan yang tepat dan sikap yang patut kepada pribadi yang memang layak dihormati. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada mereka yang takut akan Dia, yang memiliki pengertian dan menyembah-Nya dengan penuh hormat.
Mungkin kita cenderung berpikir bahwa rasa takut kitalah yang menghasilkan belas kasih-Nya. Namun, dalam ungkapan puitisnya, Daud mengajarkan bahwa belas kasihan itu berasal dari Allah, sama sekali bukan balasan atas pengakuan kita tentang Dia. Belas kasih Allah merupakan sikap Allah terhadap kita karena melihat siapa kita sebenarnya—debu. Allah berbelas kasih kepada kita karena kita hanya debu. —J.R. Hudberg
Dalam hal apa Anda bisa “berbunga” di saat ini? Bagaimana Anda dapat memberikan sukacita kepada orang lain?
Allah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh bagi-Nya.

Tuesday, April 16, 2019

Merayakan Kreativitas

Berfirmanlah Allah, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup.” —Kejadian 1:20
Merayakan Kreativitas
Seekor ubur-ubur langka berenang mengikuti arus di kedalaman 1.200 meter di lautan dekat Baja, California. Badannya mengeluarkan cahaya berkilauan berwarna biru, ungu, dan merah muda, kontras dengan latar belakang air yang hitam. Tentakel-tentakelnya yang elegan melambai dengan indahnya seiring dengan tiap denyutan bagian payungnya yang berbentuk lonceng. Saat menonton video National Geographic tentang ubur-ubur Halitrephes maasi, saya membayangkan bagaimana Allah memilih dengan khusus bentuk yang unik bagi makhluk licin kenyal yang indah ini. Allah juga merancang secara khusus ubur-ubur jenis lain yang menurut para ahli sampai Oktober 2017 telah mencapai 2.000 jenis banyaknya.
Meskipun kita menyadari Allah adalah Sang Pencipta Agung, pernahkah kita berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk benar-benar memikirkan kebenaran luar biasa yang diungkapkan dalam Kejadian pasal pertama? Allah kita yang luar biasa menghadirkan terang dan kehidupan ke dalam keragaman dunia yang diciptakan-Nya dengan penuh kreativitas melalui kuasa firman-Nya. Dia merancang “binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air” (Kej. 1:21). Bahkan sampai saat ini, para ilmuwan baru menemukan sebagian kecil saja dari banyaknya makhluk hidup menakjubkan yang diciptakan Tuhan sejak permulaan zaman.
Allah juga secara khusus membentuk setiap pribadi di dunia ini dan memberi makna dalam setiap hari hidup kita, bahkan sejak sebelum kita dilahirkan (Mzm. 139:13-16). Sembari merayakan kreativitas Allah, kita dapat bersukacita pula atas banyaknya cara yang dipakai-Nya untuk menolong kita berimajinasi dan berkreasi bersama Dia serta untuk kemuliaan-Nya. —Xochitl Dixon
WAWASAN

Kitab Kejadian menggambarkan karya penciptaan Allah: pertama langit, bumi, dan lautan; diikuti oleh segala bentuk kehidupan—burung, ikan, binatang darat, dan manusia (Kejadian 1:1-27). Para ilmuwan memperkirakan ada dua sampai lima puluh juta jenis hewan pada masa kini, dan hanya kurang dari dua juta yang sudah diberi nama. Jumlah ini sangat luar biasa dan menjadi bukti dari Allah kita yang kreatif dan penuh kuasa. —K.T. Sim
Karunia kreatif apa yang Allah berikan kepada Anda? Bagaimana Anda dapat memakainya untuk kemuliaan-Nya?
Allah Pencipta, terima kasih Kau mengajak kami menghargai kreativitas-Mu yang luar biasa dan menikmati segala yang telah Kau berikan kepada kami.

Monday, April 15, 2019

Tanda-Tanda Persahabatan

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. —Yohanes 15:14
Tanda-Tanda Persahabatan
Saat masih kecil dan bertumbuh di Ghana, saya senang sekali menggandeng tangan ayah saya dan berjalan bersamanya ke tempat-tempat ramai. Beliau ayah sekaligus teman saya, dan bergandengan tangan di budaya kami adalah tanda persahabatan sejati. Sambil berjalan-jalan, kami mengobrol tentang berbagai hal. Setiap kali merasa kesepian, saya terhibur oleh kehadiran ayah saya. Saya sangat menghargai persahabatan kami!
Tuhan Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai sahabat, dan Dia menunjukkan kepada mereka tanda persahabatan-Nya. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu,” kata Yesus (Yoh. 15:9), bahkan hingga memberikan nyawa-Nya untuk mereka (ay.13). Dia menunjukkan tatanan yang berlaku dalam kerajaan-Nya (ay.15). Dia mengajarkan segala sesuatu yang telah Bapa katakan kepada-Nya (ay.15). Dia juga memberikan kepada mereka kesempatan untuk mengambil bagian dalam misi-Nya (ay.16).
Yesus berjalan bersama kita sebagai Sahabat kita seumur hidup. Dia mendengarkan setiap kesakitan dan kerinduan hati kita. Ketika kita kesepian dan kecewa, Yesus Sang Sahabat sejati tetap menemani kita.
Persahabatan kita dengan Yesus akan terjalin lebih erat ketika kita mengasihi satu sama lain dan menuruti perintah-perintah-Nya (ay.10,17). Saat kita mematuhi perintah-perintah-Nya, kita akan menghasilkan buah yang tetap (ay.16).
Dalam mengarungi dunia yang penuh sesak dan berbahaya ini, kita dapat mengandalkan penyertaan Tuhan kita. Itulah tanda dari persahabatan-Nya. —Lawrence Darmani
WAWASAN

Yohanes 14-16 sering disebut “Khotbah Yesus di Ruang Atas” Yesus. Inilah saat terakhir-Nya untuk mengajar murid-murid, yang dilakukan pada waktu antara penetapan Perjamuan Kudus (Matius 26; Markus 14; Lukas 22) dan rangkaian peristiwa sengsara-Nya, yang dimulai dengan doa dan pengkhianatan di Getsemani (Yohanes 18).
Dalam Yohanes 15:9-13, berbagai bentuk kata kasih muncul delapan kali. Kasih ini mengacu kepada kasih antara Bapa dan Anak, kasih Allah (Bapa dan Anak) kepada kita, dan kasih kita kepada sesama. Pada ayat 14-17, kata sahabat atau sahabat-sahabat muncul dua kali -menggambarkan sebuah gebrakan baru dalam relasi kita dengan Kristus. Apa artinya? Relasi dihasilkan dari kasih, dan seperti yang ditekankan dalam ayat 17, relasi kita satu sama lain ditandai oleh kasih timbal balik yang berakar dalam kasih-Nya kepada kita. —Bill Crowder
Apakah artinya “menjadi sahabat Yesus” bagi Anda? Bagaimana Dia telah menyatakan kehadiran-Nya kepada Anda?
Bapa Surgawi, sahabat kami akan mengecewakan kami, dan kami juga akan mengecewakan mereka. Namun, Engkau tidak pernah mengecewakan, bahkan Kau berjanji menyertai kami “sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Tolong kami menunjukkan syukur dengan selalu setia melayani-Mu.

Sunday, April 14, 2019

Kembali Berharap

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ . . . berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” —Yohanes 5:6
Kembali Berharap
Apakah matahari terbit dari timur? Apakah langit berwarna biru? Apakah air laut asin? Apakah massa atom kobalt 58,9? Baiklah, pertanyaan terakhir itu mungkin hanya bisa Anda jawab apabila Anda penggemar sains atau pengetahuan umum, tetapi pertanyaan-pertanyaan lainnya memiliki jawaban yang sangat jelas: Ya. Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan dengan nada sedikit sinis.
Jika tidak berhati-hati, kita bisa mengira Yesus sedang bersikap sinis dengan mengajukan pertanyaan kepada seorang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh. 5:6). Bagi sebagian dari kita, mungkin jawabannya seperti ini, “Yang benar saja?! Saya sudah menunggu-nunggu selama tiga puluh delapan tahun!” Namun, sebenarnya sama sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan Yesus. Suara Yesus selalu penuh dengan belas kasihan, dan pertanyaan-pertanyaan-Nya selalu ditujukan untuk kebaikan kita.
Yesus tahu laki-laki itu ingin disembuhkan. Dia juga tahu bahwa mungkin sudah lama sekali tidak ada orang menunjukkan kepedulian kepadanya. Sebelum mengadakan mukjizat, Yesus bermaksud menghidupkan kembali harapan yang mungkin sudah lama mati dalam diri orang lumpuh itu. Caranya adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat jelas, dan kemudian memberinya kesempatan untuk merespons: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay.8). Sama seperti orang lumpuh itu, masing-masing dari kita menyimpan harapan yang sudah lama layu. Yesus melihat kita dan dengan penuh belas kasihan mengundang kita untuk kembali berharap serta percaya kepada-Nya. —John Blase
WAWASAN

Kota Yerusalem terletak sekitar 760 meter di atas permukaan laut, 53 km sebelah timur Laut Tengah, dan 22 km sebelah barat dari ujung utara Laut Mati. Seperti Roma, kota ini dibangun di atas perbukitan. Pintu Gerbang Domba yang disebutkan dalam Yohanes 5:2 adalah salah satu gerbang masuk ke Yerusalem zaman dahulu. Gerbang ini terletak di timur Gerbang Ikan dekat kolam Betesda dan tidak terlalu jauh dari Gerbang Santo Stefanus pada zaman modern. Pintu gerbang Domba inilah bagian dari tembok runtuh yang diperbaiki oleh “imam besar Elyasib dan para imam” di bawah pengawasan Nehemia (Nehemia 3:1; sekitar tahun 445 SM). Orang-orang lain bergotong royong membangun pintu gerbang Ikan, Lama, Lebak, Mata Air, Kuda, Timur, Pendaftaran, dan tembok-tembok penghubungnya (Nehemia 3:2-32). —Alyson Kieda
Dalam hal apa saja harapan Anda telah memudar? Apa yang pernah Yesus lakukan untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada Anda?
Tuhan Yesus, Engkau tahu betul ada bagian-bagian dalam hidupku yang di dalamnya harapanku telah pudar, layu, bahkan mati. Engkau juga tahu aku ingin kembali berharap. Kumohon, buatlah aku kembali bersukacita dalam pengharapan yang lahir karena aku mempercayai-Mu.

Saturday, April 13, 2019

Adakah Kau di Sana?

Bukankah Aku akan menyertai engkau? —Keluaran 3:12
Adakah Kau di Sana?
Ketika istrinya tertular penyakit yang berpotensi menyebabkan kematian, Michael berharap istrinya mengalami damai sejahtera seperti yang ia alami lewat hubungan pribadinya dengan Allah. Ia sudah pernah menceritakan tentang imannya kepada sang istri, tetapi istrinya tidak tertarik. Suatu hari, ketika sedang berjalan melewati sebuah toko buku, ada judul buku menarik perhatiannya: Allah, Adakah Kau di Sana? Karena tidak yakin pada reaksi istrinya bila diberi buku tersebut, Michael beberapa kali keluar-masuk toko itu sebelum kemudian membelinya juga. Ia cukup terkejut ketika istrinya mau menerima buku tersebut.
Buku itu menyentuh hati sang istri, dan ia mulai membaca Alkitab juga. Dua minggu kemudian, istri Michael meninggal dunia—dalam damai bersama Allah dan beristirahat dengan tenang karena meyakini Allah tidak akan pernah meninggalkannya.
Ketika Allah memanggil Musa untuk memimpin umat-Nya keluar dari Mesir, Dia tidak menjanjikan kekuasaan kepada Musa. Akan tetapi, Dia menjanjikan kehadiran-Nya: “Aku akan menyertai engkau” (Kel. 3:12). Dalam pesan terakhir-Nya kepada para murid sebelum penyaliban, Yesus juga menjanjikan kehadiran Allah yang kekal, yang akan mereka terima melalui Roh Kudus (Yoh. 15:26).
Ada banyak hal yang dapat Allah berikan untuk menolong kita melewati berbagai tantangan hidup, seperti kenyamanan materi, kesembuhan, atau solusi cepat terhadap masalah-masalah kita. Kadang-kadang Dia melakukannya. Namun, anugerah terbesar yang Dia berikan adalah diri-Nya sendiri. Inilah penghiburan terbesar yang kita miliki: apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Dia akan selalu menyertai kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. —Leslie Koh
WAWASAN

Kepastian penyertaan Allah bagi Musa dan umat Israel dinyatakan dengan kata Ibrani yang muncul empat kali dalam bacaan hari ini, yaitu hayah. Pada ayat 12, kata itu diterjemahkan menjadi, “Aku akan menyertai engkau.” Kata yang cukup kompleks ini juga merupakan nama pribadi Allah dalam perjanjian-Nya dengan Israel. Tiga kali kata ini diterjemahkan sebagai, “AKU ADALAH AKU” dalam ayat 14. Ketika dipakai sebagai kata benda penunjuk orang (nama), huruf-huruf penyusunnya dialihbahasakan menjadi “Yahweh”. Kata “TUHAN” yang ditulis dengan huruf kapital dalam berbagai versi terjemahan bahasa Indonesia juga berasal dari kata hayah, menyatakan keberadaan Allah yang kekal.
Yohanes 1:14 mencatat bahwa Firman Allah yang kekal “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Juga dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah yang kekal melalui berbagai pernyataan “Akulah,” salah satunya yang paling gamblang, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (8:58). —Arthur Jackson
Bagaimana Anda dapat dikuatkan oleh kehadiran Allah? Bagaimana Anda menjalani hidup secara berbeda karena tahu bahwa Dia menyertai setiap langkah Anda?
Tuhan, terima kasih untuk janji indah bahwa Engkau akan selalu bersamaku. Di tengah krisis dan rutinitas kehidupan ini, izinkan aku belajar mengandalkan kehadiran-Mu, karena aku tahu Engkau berjalan bersamaku.

Friday, April 12, 2019

Terbakar Habis

Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.—Mazmur 32:3
Terbakar Habis
Dalam buku The Call, Os Guinness bercerita tentang suatu waktu ketika Winston Churchill berlibur bersama para sahabatnya di wilayah selatan Prancis. Saat itu ia duduk dekat perapian untuk menghangatkan badan di malam yang dingin. Sambil memandangi api, mantan perdana menteri itu melihat batang-batang pinus “bergemeretak, mendesis, dan memercik saat terbakar dilalap api. Tiba-tiba, ia bersuara, ‘Saya tahu mengapa batang kayu memercikkan api. Saya tahu rasanya terbakar habis.’”
Berbagai kesulitan, keputusasaan, bahaya, kesusahan, dan konsekuensi dari kesalahan kita sendiri bisa membuat kita merasa terbakar habis. Kondisi yang ada perlahan-lahan mengikis sukacita dan damai sejahtera dalam hati kita. Ketika Daud menerima konsekuensi yang berat akibat dosanya sendiri, ia menulis, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; . . . sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas” (Mzm. 32:3-4).
Di saat-saat sulit seperti itu, ke manakah kita pergi mencari pertolongan? Kepada siapa kita berharap? Paulus, yang mengalami sendiri banyaknya pelayanan yang berat dan penuh kepedihan, menulis, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 Kor. 4:8-9).
Bagaimana itu bisa terjadi? Dengan bersandar kepada Yesus, Sang Gembala Baik yang menyegarkan jiwa kita (Mzm. 23:3) dan menguatkan kita untuk terus melangkah maju. Dia berjanji untuk menyertai setiap langkah dalam perjalanan kita (Ibr. 13:5). —Bill Crowder
WAWASAN

Mazmur 32 mulanya merupakan sebuah lagu untuk dinyanyikan. Daud, sang gembala, pemazmur, raja, dan penulis lagu dari Israel, memang tidak mencantumkan nada pada lagunya sehingga kita tak dapat memainkannya sekarang; di samping itu, lagu dan puisi dari zaman Daud juga kehilangan rima atau pola sajak setelah diterjemahkan sehingga kita tak dapat menikmati keindahan kata-katanya. Namun demikian, yang terpenting ialah kesadaran bahwa pengenalan akan Allah merupakan musik bagi setiap jiwa, sehingga tiap generasi, tempat, dan kebudayaan harus dibangunkan dengan suara penuh sukacita ini (Efesus 5:18-19; Kolose 3:16). —Mart DeHaan
Pernahkah Anda mengalami pergumulan yang membuat Anda lesu? Bagaimana respons Anda? Bagaimana Allah melayani Anda dalam saat-saat sulit itu?
Bapa, berikanku kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hari ini, dan pengharapan dalam Kristus akan masa depan abadi yang Kau janjikan.

Thursday, April 11, 2019

Hati yang Penuh Damai Sejahtera

Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. —Amsal 14:30
Hati yang Penuh Damai Sejahtera
Selama empat puluh lima tahun setelah karirnya sebagai atlet profesional berakhir, nama Jerry Kramer tidak pernah masuk dalam daftar atlet berprestasi (Hall of Fame) dari bidang olahraga yang digelutinya. Ia pernah mendapatkan banyak penghargaan dan pencapaian lain, tetapi yang satu itu belum pernah ia terima. Walaupun sudah sepuluh kali dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan itu, ia belum pernah mendapatkannya. Meski harapannya kandas berulang kali, Kramer tidak sakit hati. Ia berkata, “Saya merasa NFL (badan liga football Amerika) sudah memberi saya 100 hadiah di sepanjang hidup saya, jadi alangkah tololnya bila hanya karena satu penghargaan yang tidak saya dapat, saya lantas kecewa atau marah.”
Orang lain mungkin akan sakit hati apabila dikecewakan berkali-kali dan dikalahkan oleh pemain-pemain lainnya, tetapi Kramer tidak. Perilakunya menunjukkan bagaimana kita bisa menjaga hati kita dari perasaan iri hati yang “membusukkan tulang” (Ams. 14:30). Ketika kita terobsesi dengan apa yang tidak kita punyai—dan gagal menghargai banyaknya hal yang kita punyai—damai sejahtera Allah tidak akan tinggal dalam hati kita.
Setelah dinominasikan untuk kesebelas kalinya, akhirnya Jerry Kramer dinobatkan masuk ke dalam NFL Hall of Fame pada bulan Februari 2018. Mungkin keinginan duniawi kita tidak kunjung terwujud seperti yang akhirnya dialami Kramer. Namun, kita semua bisa memiliki “hati yang tenang” ketika kita memilih memusatkan perhatian pada berbagai bentuk kemurahan hati Allah yang telah kita terima. Apa pun keinginan kita yang tidak kunjung terpenuhi, kita selalu bisa menikmati damai sejahtera dari Allah yang memberi kehidupan. —Kirsten Holmberg
WAWASAN

Pemahaman tentang ragam puisi Ibrani akan sangat membantu saat kita membaca kitab-kitab Hikmat dalam Perjanjian Lama. Bentuk puisi ini disusun dengan berbagai majas seperti metafora, simile, akrostik, dan aliterasi. Salah satu majas lebih kompleks yang ditemukan dalam Amsal adalah paralelisme, yaitu pengulangan pokok pikiran utama sebanyak dua kali dalam satu pepatah.
Paralelisme antitesis terdapat dalam enam dari tujuh amsal yang kita baca hari ini (ay.29,30,31,32,34,35). Dalam bentuk antitesis, suatu konsep disajikan dengan dua kalimat yang saling berlawanan, menggunakan kata sambung tetapi untuk menunjukkan kontras. Paralelisme sinonim ditemukan pada ayat 33. Dalam paralel sinonim, suatu pemikiran disajikan dengan pengulangan serupa menggunakan kata-kata yang berbeda serta kata sambung dan untuk menunjukkan perbandingan. —Bill Crowder
Dalam hal apa Anda tergoda untuk memusatkan perhatian pada apa yang tidak Anda miliki? Langkah-langkah apa yang dapat Anda ambil dalam minggu ini untuk berfokus pada apa yang Allah sudah sediakan?
Allah memberikan kita damai sejahtera dan masih banyak yang lainnya.

Wednesday, April 10, 2019

Melalui Lembah Kekelaman

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4
Melalui Lembah Kekelaman
Hae Woo (bukan nama asli) pernah dipenjara dalam sebuah kamp kerja paksa di Korea Utara karena berupaya menyeberangi perbatasan ke Tiongkok. Siang-malam ia tersiksa, baik secara fisik oleh para penjaga yang kejam maupun oleh kerja paksa yang berat. Ia pun hanya boleh tidur sebentar di atas lantai yang sedingin es bersama tikus dan kutu. Namun, setiap hari Allah menolongnya, termasuk menunjukkan kepadanya tahanan mana yang perlu ia dekati agar ia dapat menceritakan tentang imannya.
Setelah dilepas dari kamp itu dan pindah ke Korea Selatan, Woo mengingat kembali pengalamannya di penjara dan menyimpulkan bahwa Mazmur 23 menjadi rangkuman dari pengalamannya di sana. Walau terperangkap dalam lembah yang kelam, Yesus adalah Gembalanya yang memberi rasa damai: “Walaupun saya merasa benar-benar berada dalam lembah kekelaman, saya tidak takut apa pun. Setiap hari Allah menghibur saya.” Ia mengalami kebaikan dan kasih Allah serta terus meyakini bahwa ia adalah anak yang dikasihi-Nya. “Waktu itu kondisi saya sangat menyedihkan, tetapi saya tahu . . . saya akan mengalami kebaikan dan kasih Allah.” Ia pun tahu bahwa ia akan tetap tinggal dalam hadirat Tuhan sampai selama-lamanya.
Kisah Woo sangat menguatkan kita. Meskipun situasinya sangat buruk, ia tetap merasakan kasih dan pimpinan Allah, dan Allah menguatkan serta mengenyahkan rasa takutnya. Jika kita mengikut Yesus, Dia akan menuntun kita dengan lembut melewati masa-masa yang sulit. Kita tidak perlu takut, karena “[kita] akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (23:6). —Amy Boucher Pye
WAWASAN

Di dunia Timur Dekat Kuno, gembala adalah gambaran yang lazim sekaligus memiliki makna yang berkaitan dengan kerajaan. Gambaran gembala kadang dipakai sebagai kiasan untuk menggambarkan peran para dewa dan raja dalam memimpin dan memperhatikan rakyatnya. Jadi, Mazmur 23 bukan hanya gambaran relasi yang hidup dengan Allah, tetapi juga sebuah pernyataan yang tegas bahwa sang pemazmur percaya dan berkomitmen untuk mengikuti “TUHAN” (YHWH) saja, bukan para penguasa duniawi.
Tepat di bagian tengah Mazmur 23 tertulis, “Engkau besertaku” (ay.4). Ini menggemakan tema Alkitab yang terus berulang mengenai hadirat Allah yang menenangkan dan memimpin kita sehingga kita tidak perlu takut (lihat Kejadian 15:1; Yosua 1:9). Ketika Yesus datang, Dia menekankan bahwa Dialah Gembala yang Baik, sebuah penggenapan mutlak dari janji penyertaan-Nya (Matius 1:23; Yohanes 10:11). —Monica Brands
Kapan Anda pernah mengalami kehadiran Allah dalam lembah kekelaman? Siapakah yang dapat Anda kuatkan hari ini?
Ya Allah, saat aku berjalan dalam lembah kekelaman, Engkau menyertai dan mengenyahkan ketakutanku. Engkau menghiburku dan menyediakan hidangan bagiku, dan aku akan tinggal di rumah-Mu selamanya.

Tuesday, April 9, 2019

Kabar Baik untuk Diberitakan

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. —Kisah Para Rasul 8:35
Kabar Baik untuk Diberitakan
“Siapa namamu?” tanya Arman, seorang mahasiswa asal Iran. Setelah saya memberi tahu bahwa nama saya Estera, wajahnya langsung berseri-seri dan ia berseru, “Wah, kita punya nama yang mirip! Dalam bahasa Farsi, nama saya adalah Setare.” Interaksi sederhana itu menjadi awal dari percakapan yang luar biasa. Saya menceritakan kepadanya bahwa saya diberi nama mengikuti salah seorang tokoh Alkitab, “Ester,” seorang ratu Yahudi di Persia (sekarang Iran). Dimulai dari kisah Ester, saya pun membagikan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Sebagai tindak lanjut dari percakapan kami, Arman mulai mengikuti kelas Alkitab mingguan untuk belajar lebih dalam tentang Kristus.
Salah seorang pengikut Yesus, Filipus, dituntun oleh Roh Kudus untuk mengajukan pertanyaan yang memicu percakapan dengan seorang pejabat Etiopia yang sedang berada dalam perjalanan dengan keretanya: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Pria Etiopia itu sedang membaca bagian dari kitab Yesaya dan ingin menerima pemahaman rohani. Jadi, pertanyaan Filipus datang di saat yang tepat. Lalu ia mengundang Filipus duduk di sampingnya dan dengan rendah hati mendengarkan penjelasannya. Menyadari betapa luar biasanya kesempatan itu, “mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya” (ay.35).
Seperti Filipus, kita juga memiliki kabar baik untuk diberitakan. Mari manfaatkan kesempatan yang terbuka sehari-hari di tempat kerja, di pasar swalayan, atau di lingkungan kita. Biarlah kita mengizinkan Roh Kudus menuntun langkah kita dan memberikan kita kata-kata yang tepat untuk membagikan harapan dan sukacita yang kita miliki dalam Yesus Kristus. —Estera Pirosca Escobar
WAWASAN

Seluruh Alkitab menunjuk kepada Yesus dan semua bagian berbicara tentang Dia. Dalam bacaan hari ini (Kisah Para Rasul 8:26-35), mudah untuk melihat kutipan dari Yesaya 53 sebagai nubuatan tentang Yesus karena memang sudah digenapi. Namun, Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa seluruh Alkitab mengarah kepada Dia, bukan bagian nubuatan saja. “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (Lukas 24:27). —J.R. Hudberg
Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk lebih terbuka dalam berbicara kepada orang lain tentang Yesus? Dorongan apa yang Anda dapatkan dari teladan Filipus?
Ya Allah, tuntunlah langkahku hari ini kepada seseorang yang membutuhkan harapan yang hanya mungkin diterimanya dari Yesus Kristus.

Monday, April 8, 2019

Pemenang yang Tak Terduga

Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. —Matius 19:30
Pemenang yang Tak Terduga
Mungkin peristiwa paling tak terduga dan menakjubkan dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 adalah ketika atlet juara dunia papan seluncur salju asal Republik Ceko, Ester Ledecka, memenangi juga perlombaan cabang olahraga yang berbeda sama sekali, yaitu ski! Ia berhasil meraih medali emas meskipun ia berlomba pada giliran ke-26—sebuah upaya yang bisa dikatakan hampir mustahil.
Hebatnya, Ledecka lolos kualifikasi untuk berlomba dalam nomor super-G wanita yang menggabungkan ski menuruni bukit dengan lintasan slalom. Setelah memenangi lomba dengan selisih waktu hanya 0.01 detik dan menggunakan alat ski pinjaman, Ledecka sama terkejutnya dengan awak media dan para kontestan lain yang mengira bahwa pemenangnya pastilah salah satu pemain ski yang sudah berpengalaman.
Itulah yang lazim terjadi di dunia. Kita mengira para pemenang akan terus menang, sementara yang lain terus saja kalah. Jadi, tidak heran bila para murid terkejut mendengar Yesus berkata bahwa “sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 19:23). Yesus memutarbalikkan segala sesuatu. Bagaimana mungkin menjadi kaya (pemenang) justru adalah penghambat? Rupanya, apabila kita mengandalkan apa yang kita miliki (kemampuan dan status diri sendiri), maka bukan hanya sulit bagi kita untuk mempercayai Allah tetapi juga tidak mungkin.
Kerajaan Allah tidak diatur menurut cara dunia. “Banyak orang yang terdahulu,” kata Yesus, “akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (ay.30). Baik Anda di posisi terdahulu atau terakhir, segala sesuatu yang kita terima adalah semata-mata anugerah—suatu kebaikan Allah yang tidak layak diterima. —Winn Collier
WAWASAN

“Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab pertanyaan itu dengan perintah-perintah dari Sepuluh Hukum Allah paruh kedua, yakni hukum yang mengatur hubungan antar manusia. Bagian pertama, yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, lebih sulit untuk dilakukan. —Bill Crowder
Pikirkan cara Anda memandang orang lain, atau memandang hidup Anda sendiri. Bagaimana cara Yesus memandang mereka yang dianggap pecundang maupun pemenang itu mengubah cara pandang Anda?
Menang-kalah akan diputarbalikkan dalam Kerajaan Allah.

Sunday, April 7, 2019

Perubahan Dapat Terjadi

Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. —Filipi 2:13
Perubahan Dapat Terjadi
Suatu Sabtu sore, beberapa remaja dari gereja kami berkumpul untuk membahas sejumlah pertanyaan sulit dari Filipi 2:3-4: “[Janganlah] mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Pertanyaan sulit itu antara lain: Seberapa sering Anda memperhatikan kepentingan orang lain? Apakah orang lain menganggap Anda rendah hati atau sombong? Mengapa?
Saya senang mendengar jawaban-jawaban mereka yang jujur. Para remaja itu setuju bahwa meskipun mudah mengakui kekurangan diri sendiri, tetapi amatlah sulit untuk berubah, bahkan ingin berubah pun sulit. Salah seorang remaja berkata, “Egoisme sudah mendarah daging.”
Keinginan untuk melepaskan fokus dari diri sendiri kepada kerelaan melayani orang lain hanya bisa dilakukan oleh Roh Allah yang hidup dalam kita. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk merenungkan apa yang telah dilakukan dan dimungkinkan Allah bagi mereka. Oleh kemurahan-Nya, Allah telah mengangkat mereka sebagai anak-Nya, menghibur mereka dengan kasih-Nya, dan memberikan Roh-Nya sebagai penolong mereka (Flp. 2:1-2). Mungkinkah mereka—dan juga kita—tidak menanggapi segala kebaikan itu dengan kerendahan hati?
Benar, Allah menjadi alasan bagi kita untuk berubah, dan hanya Dia yang dapat mengubah kita. Karena Dia membuat kita “rela dan sanggup menyenangkan hati Allah” (ay.13 BIS), kita dapat mengalihkan fokus dari diri sendiri kepada orang lain dan melayani mereka. —Poh Fang Chia
WAWASAN

Tantangan yang Paulus berikan kepada umat percaya di Filipi nyata secara sempurna dalam teladan inkarnasi Kristus. Paulus memperingatkan mereka tentang bahaya persaingan atau kesombongan (ay.1-4), dan dalam ayat 6 dikatakan bahwa Yesus dengan sukarela melepaskan hak dan kedudukan-Nya. Mereka ditantang untuk mengutamakan orang lain (ay.3), seperti Yesus yang memberi teladan kerendahan hati sejati dengan mengosongkan diri-Nya (ay.7). Jemaat Filipi dinasihati untuk tidak mengutamakan kepentingannya sendiri (ay.4), seperti Yesus sepenuhnya menjadi hamba bagi kita (ay.7). Mereka dipanggil untuk mengingat bahwa Yesus memenuhi semuanya itu, hingga “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (ay.8). Pengorbanan-Nya untuk kita adalah juga teladan cara hidup yang paling mulia. —Bill Crowder
Dengan cara apa Allah telah menolong Anda berbalik dari keegoisan dan membuat Anda lebih rela melayani orang lain? Bagaimana kerendahan hati Tuhan Yesus mendorong Anda untuk rela melayani dengan rendah hati?
Kita bertanggung jawab untuk menanggapi kesanggupan yang diberikan Allah dengan penuh kerendahan hati.

Saturday, April 6, 2019

Bertahan dalam Kesesakan

Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku”. —Kejadian 16:13
Bertahan dalam Kesesakan
The Experience Project adalah salah satu komunitas dunia maya terbesar pada abad ke-21, tempat puluhan juta orang pernah berbagi pengalaman paling menyakitkan dalam kehidupan mereka. Ketika membaca kisah-kisah memilukan di dalamnya, saya merenung betapa kita amat merindukan adanya seseorang yang dapat melihat—menyelami—penderitaan kita.
Dalam kitab Kejadian, ada kisah tentang seorang hamba perempuan yang menunjukkan betapa berharganya kepedulian tersebut. Hagar adalah budak perempuan yang kemungkinan diberikan Firaun Mesir kepada Abram (baca Kej. 12:16; 16:1). Ketika Sarai, istri Abram, tidak dapat memberikan keturunan, ia meminta Abram memperolehnya dari Hagar—suatu praktek yang meragukan tetapi lazim pada waktu itu. Namun, ketika Hagar hamil, terjadi perselisihan yang mendesaknya lari ke padang gurun untuk menghindari penindasan Sarai (16:1-6).
Namun, kesusahan yang dialami Hagar, hamil dan sendirian di padang gurun yang gersang, tidaklah luput dari pandangan Tuhan. Seorang malaikat Tuhan memberi penguatan kepadanya (ay.7-12) dan Hagar berkata, “Engkaulah El-Roi” (Mahamelihat) (ay.13). Hagar memuji Allah yang melihat lebih dari yang kasatmata. Allah yang sama telah dinyatakan dalam Yesus, yang ketika “melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-[Nya] oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar” (Mat. 9:36). Hagar bertemu dengan Allah yang menyelami penderitaannya.
Pribadi yang melihat dan menyelami penderitaan Hagar juga melihat penderitaan kita (Ibr. 4:15-16). Menerima empati ilahi dapat meringankan beban kita di tengah kesesakan yang amat menekan. —Jeff Olson
WAWASAN

Situasi yang digambarkan dalam Kejadian 16 yakni seorang istri yang mandul memberikan hambanya kepada sang suami untuk menghasilkan keturunan bukanlah hal yang asing dalam sejarah Timur Dekat Kuno. “Budak atau hamba perempuan diperhitungkan sebagai hak milik dan perpanjangan tangan nyonya mereka yang sah secara hukum. Karena itu, Sarai bisa meminta Hagar melakukan berbagai urusan rumah tangga, termasuk meminjam rahimnya untuk menggantikan rahim Sarai sendiri yang mandul” (IVP Bible Background Commentary: Old Testament). Dengan adat istiadat itu pulalah Rahel dan Lea memberikan hamba perempuan mereka untuk melahirkan keturunan dari Yakub (Kejadian 30:1-24). —Arthur Jackson
Bagaimana Anda dikuatkan dengan mengetahui bahwa Allah memahami tantangan-tantangan yang Anda hadapi? Bagaimana Anda dapat menjadi saluran empati dan belas kasihan Tuhan terhadap sesama?
Tuhan menyelami penderitaan kita seakan-akan Dia mengalaminya sendiri.

Friday, April 5, 2019

Butuh Hati yang Baru?

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu. —Yehezkiel 36:26
Butuh Hati yang Baru?
Kabar itu begitu suram. Belakangan, ayah saya mengalami sakit di bagian dadanya. Pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pada tiga titik di pembuluh darah arterinya. Ayah saya dijadwalkan menjalani operasi triple-bypass pada tanggal 14 Februari. Meskipun cemas, Ayah merasa tanggal tersebut membawa pengharapan baginya: “Saya akan dapat jantung baru sebagai hadiah Valentine!” Operasi berjalan lancar, sehingga pembuluh darah kembali mengalirkan kehidupan kepada jantung yang selama ini bekerja susah payah—jantungnya yang “baru”.
Operasi itu mengingatkan saya bahwa Tuhan juga menawarkan hidup baru kepada kita. Karena dosa telah menyumbat “arteri” rohani kita—kapasitas untuk berhubungan dengan Allah—kita memerlukan “operasi” rohani untuk membersihkan sumbatan itu.
Itulah janji Allah kepada umat-Nya di Yehezkiel 36. Dia meyakinkan mereka, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru. . . . Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (ay.26). Dia juga berjanji, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu” (ay.25) dan “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu” (ay.27). Bagi yang putus asa, Allah menjanjikan awal yang baru karena hanya Dia yang dapat memperbarui kita.
Janji itu pun digenapi melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Ketika percaya kepada-Nya, kita menerima hati baru yang telah bersih dari dosa dan keputusasaan. Hati kita yang baru dipenuhi Roh Kristus untuk mengalirkan darah kehidupan spiritual yang diberikan Allah, supaya kita juga “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4). —Adam Holz
WAWASAN

Para nabi Perjanjian Lama kerap menuliskan nubuatan mereka dalam beberapa bagian. Saat membacanya pada zaman ini, kita seperti sedang berusaha merangkai berbagai bagian dari sebuah teka-teki. Bacaan kitab Yehezkiel hari ini berkesinambungan dengan bagian sebelumnya. Pada pasal 18, Yehezkiel berkata, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!” (ay.31). Namun, bangsa Yehuda tidak sanggup melakukannya dengan kekuatan mereka sendiri (demikian juga kita). Itulah sebabnya Yehezkiel menulis, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru” (36:26).
Pesan bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan diri sendiri itu kembali bergema dalam Perjanjian Baru. Paulus berkata, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1), kemudian ia menyampaikan bahwa kita diselamatkan “karena kasih karunia” dan “oleh iman” (ay.8). Ia juga menyimpulkan, “Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (ay.10). —Tim Gustafson
Bagaimana janji Tuhan tentang hidup baru membawa harapan saat Anda berjuang mengatasi rasa bersalah dan malu? Bagaimana hari ini Anda dapat lebih bergantung kepada kuasa Roh Kudus daripada bergantung kepada kekuatan sendiri?
Bapa, terima kasih untuk pengharapan dan hidup baru yang telah Engkau berikan melalui Yesus. Tolonglah kami mempercayai-Mu setiap hari di saat Roh-Mu menuntun kami dalam jalan hidup kami yang baru.

Thursday, April 4, 2019

Berjaga-jagalah!

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. —1 Petrus 5:8
Berjaga-jagalah!
Saya tumbuh besar di kawasan selatan Amerika Serikat yang bersuhu hangat, sehingga ketika saya pindah ke wilayah utara, dibutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi. Saya perlu membiasakan diri mengemudi dengan aman semasa musim dingin yang panjang dan bersalju. Pengalaman musim dingin pertama saya sangatlah berat, sampai tiga kali mobil saya terjebak dalam gundukan salju! Namun setelah bertahun-tahun latihan, saya akhirnya terbiasa dan merasa nyaman berkendara di jalanan musim dingin yang licin. Adakalanya saya justru terlalu nyaman sehingga tidak lagi waspada. Pada saat itulah, mobil saya tergelincir di jalanan beraspal yang berlapis es tipis hingga menabrak tiang telepon di pinggir jalan!
Syukurlah, tidak ada yang terluka dalam peristiwa itu, tetapi saya mempelajari satu hal penting pada hari itu. Betapa berbahayanya bila kita merasa terlalu nyaman. Alih-alih waspada, saya justru lengah dan membiarkan mobil lepas kendali.
Kita perlu menerapkan kewaspadaan yang sama dalam kehidupan rohani kita. Rasul Petrus memperingatkan orang-orang percaya untuk tidak menjalani hidup ini dengan lengah, melainkan dengan tetap berjaga-jaga (1 Ptr. 5:8). Iblis bekerja aktif untuk menghancurkan kita, sehingga kita juga perlu aktif melawan godaan dan berdiri teguh dalam iman kita (ay.9). Kita tidak perlu melakukannya seorang diri karena Allah berjanji akan menyertai kita dalam penderitaan, dan pada akhirnya “meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan” kita (ay.10). Dengan kuasa Allah, kita belajar untuk tetap waspada dan berjaga-jaga dalam melawan godaan dan setia mengikut Dia. —Amy Peterson
WAWASAN

Ada pepatah yang berkata, “Pilihan-pilihan bijak didapat dari pengalaman, dan pengalaman didapat dari pilihan-pilihan yang salah.” Barangkali, nasihat bijaksana yang Petrus berikan dalam bacaan hari ini dipelajarinya lewat malam tergelap dalam hidupnya, yaitu ketika ia memilih untuk menyangkal Yesus. Nasihat untuk rendah hati (1 Petrus 5:6) bertolak belakang dengan bualan kesombongan Petrus yang mengaku bersedia mati bersama Yesus (Lukas 22:33). Bukannya berjaga-jaga (1 Petrus 5:8), Petrus malah tidur ketika ia seharusnya berdoa di Getsemani (Lukas 22:54-62). Bukannya berdiri teguh (1 Petrus 5:8-9), Petrus bahkan mengaku tidak mengenal Tuhannya (Lukas 22:54-62). Apakah tanggapan Allah terhadap kegagalan Petrus? Kasih karunia (1 Petrus 5:10). Mungkin, pelajaran terbesar yang Petrus dapatkan berasal dari kegagalan terburuknya. —Bill Crowder
Bagian apa dalam hidup Anda yang menuntut Anda untuk lebih waspada? Dengan cara apa Anda dapat tetap waspada dalam mengikut Yesus?
Tuhan, tolong aku untuk tidak terlena atau terlalu nyaman dalam kehidupan rohaniku. Tolong aku untuk tetap waspada dan bertahan melawan godaan!

Wednesday, April 3, 2019

Kesadaran pada Situasi

Inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. —Filipi 1:9
Kesadaran pada Situasi
Kami sekeluarga pernah berada di kota Roma untuk liburan Natal. Belum pernah saya melihat suasana seramai itu. Saat kami berdesak-desakan menembus kerumunan orang untuk melihat-lihat tempat wisata seperti Vatikan dan Koloseum, berulang kali saya menekankan kepada anak-anak saya untuk memiliki “kesadaran pada situasi”—yaitu memperhatikan di mana mereka berada, siapa yang ada di sekitar mereka, dan apa yang sedang terjadi. Kita hidup di tengah dunia yang tidak lagi aman, baik di dalam maupun di luar negeri. Ketika anak-anak (dan juga orang dewasa) selalu sibuk dengan telepon genggam dan alat dengar, mereka tidak selalu menyadari situasi di sekeliling mereka.
Kesadaran pada situasi juga menjadi aspek doa Paulus untuk jemaat di Filipi, seperti yang tertulis dalam Filipi 1:9-11. Ia berdoa agar mereka semakin memiliki kearifan untuk mengenali siapa/apa/di mana situasi mereka. Namun, bukan demi keamanan diri Paulus berdoa demikian. Ia berdoa dengan maksud yang lebih besar, yaitu agar orang-orang pilihan Allah menjadi pengelola yang baik dari kasih Kristus yang telah mereka terima, sehingga mereka “memilih apa yang baik”, hidup “suci dan tak bercacat”, dan dipenuhi “dengan buah kebenaran” yang hanya dapat dihasilkan oleh Yesus Kristus.
Hidup semacam itu bersumber dari kesadaran tentang siapa Allah dalam hidup kita dan apa yang menyukakan hati-Nya (yaitu sikap kita yang semakin mengandalkan Dia sebagai Tuhan kita). Lebih dari itu, kita pun menyadari di mana kita dapat membagikan kelimpahan kasih-Nya, yaitu dalam situasi apa pun yang Tuhan izinkan kita alami. —John Blase
WAWASAN

Kota Filipi dinamai berdasarkan nama ayah Aleksander Agung, yaitu Filipus dari Makedonia. Ia merebut kota tersebut pada tahun 360 SM. Filipi merupakan kota utama di provinsi Makedonia, yang sekarang meliputi bagian utara dan tengah negara Yunani serta sebagian Albania. Filipi diperhitungkan sebagai wilayah koloni Romawi sehingga penduduknya memperoleh hak-hak warga negara Romawi.
Paulus pertama kali datang ke Filipi setelah mendapat penglihatan tentang seseorang yang berkata, “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami.” Paulus pun menyimpulkan bahwa Allah menghendaki agar ia memberitakan Injil di sana, maka ia segera bersiap untuk berangkat (Kisah Para Rasul 16:9-10). Di luar gerbang kota, Paulus mengajar sekelompok perempuan yang berkumpul di tepi sungai. Di antara mereka terdapat Lidia. Wanita ini dianggap orang pertama yang dimenangkan Paulus di Eropa (ay.13-15). —Alyson Kieda
Bagaimana Anda dapat makin bersemangat membawa kasih Allah ke dalam berbagai situasi yang Anda hadapi?
Bapa, sadarkanlah kami agar kasih-Mu makin melimpah untuk kami bagikan.

Tuesday, April 2, 2019

Kasih yang Tidak Terselami

Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. —Yohanes 13:34
Kasih yang Tidak Terselami
Jemaat kecil kami memutuskan memberi kejutan pada anak lelaki saya pada ulang tahunnya yang keenam. Mereka menghiasi ruang kelas Sekolah Minggu dengan balon-balon dan menyiapkan satu meja kecil dengan kue di atasnya. Ketika anak saya membuka pintu, semua orang pun berteriak: “Selamat ulang tahun!”
Belakangan, saat saya memotong kue, anak saya datang menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Ibu, mengapa semua orang di sini sayang padaku?” Saya juga memiliki pertanyaan yang sama! Kami baru enam bulan mengenal mereka tetapi mereka memperlakukan kami seolah-olah kawan lama.
Kasih mereka kepada anak saya mencerminkan kasih Allah kepada kita. Kita tidak bisa memahami mengapa Dia mengasihi kita, tetapi itulah yang Dia lakukan—dan kasih-Nya diberikan secara cuma-cuma. Kita tidak melakukan apa pun yang membuat kita layak menerima kasih-Nya, tetapi Dia melimpahi kita dengan kasih-Nya. Kitab Suci mengatakan: “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Itulah Dia.
Allah telah mencurahkan kasih-Nya kepada kita supaya kita dapat menunjukkan kasih yang sama kepada sesama. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35)
Jemaat di gereja kecil kami mengasihi karena kasih Allah ada dalam mereka. Kasih itu terpancar dan menandai mereka sebagai pengikut-pengikut Yesus. Kita tidak sepenuhnya bisa memahami kasih Allah, tetapi kita dapat mencurahkan kasih itu kepada sesama, sehingga kita menjadi contoh kasih-Nya yang tidak terselami. —Keila Ochoa
WAWASAN

Kata kunci dalam bacaan hari ini adalah mulia (dipermuliakan). Lima kali kata itu dipakai dalam ayat 31-32. Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya (dipermuliakan), kemuliaan Allah (Bapa), dan hubungan antara dua kemuliaan tersebut. Hubungannya timbal balik: ketika Yesus dipermuliakan, Allah dipermuliakan; ketika Allah dipermuliakan, Yesus pun dipermuliakan.
Menurut kamus konkordansi Strong, mempermuliakan artinya “memberi bobot dengan mengakui nilai sesungguhnya.” “Mempermuliakan Allah” berarti mengakui Dia sebagaimana Pribadi-Nya yang sesungguhnya. Sebagai contoh, “memberi kemuliaan kepada Allah” ialah secara pribadi mengakui Allah dalam karakter (esensi)-Nya yang sejati.”
Yesus mengungkapkan siapa Dia sebenarnya; ketika jati diri-Nya disingkapkan, Dia juga mengungkapkan Bapa. —J.R. Hudberg
Bentuk kasih Allah apa yang baru-baru ini Anda alami melalui orang lain? Apa yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan belas kasih-Nya kepada sesama hari ini?
Karena Allah mengasihi kita, kita dapat mengasihi sesama.

Monday, April 1, 2019

Berkat Pinjaman

Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya. —Mazmur 24:1
Berkat Pinjaman
Saat kami menundukkan kepala untuk berdoa sebelum menikmati makan siang, teman saya Jeff berdoa: ”Bapa, terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk menghirup udara-Mu dan menyantap makanan-Mu.” Saat itu Jeff baru saja mengalami masa-masa sulit karena kehilangan pekerjaan, sehingga saya sangat tersentuh oleh kepercayaannya yang penuh kepada Allah dan kesadaran bahwa semua hal adalah milik-Nya. Saya pun berpikir: Apakah saya sejujurnya mengerti bahwa hal-hal yang paling mendasar sekalipun, yang setiap hari hadir dalam hidup saya, sesungguhnya adalah milik Allah, dan Dia sekadar mengizinkan saya menggunakan semua itu?
Ketika Raja Daud menerima persembahan dari bangsa Israel untuk membangun Bait Suci di Yerusalem, ia berdoa, “Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” Lalu ia menambahkan: “Punya-Mulah segala-galanya” (1Taw. 29:14,16).
Kitab Suci mengatakan bahwa “kekuatan untuk memperoleh kekayaan” dan mencari nafkah pun datangnya dari Dia (Ul. 8:18). Ketika memahami bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman, kita akan tergerak untuk mengendurkan pegangan kita terhadap harta dunia ini dan hidup dengan hati serta tangan terbuka—leluasa berbagi dengan sesama karena sangat bersyukur atas kebaikan yang diterima setiap hari.
Allah sangat bermurah hati—begitu besar kasih-Nya kepada kita sehingga Dia memberikan Anak-Nya sendiri “bagi kita semua” (Rm. 8:32). Karena sudah menerima begitu banyak, kita patut mengucap syukur kepada-Nya untuk segala berkat, kecil maupun besar. —James Banks
WAWASAN

Doa Daud yang tercatat dalam 1 Tawarikh 29 menyatakan beberapa hal penting tentang Allah yang benar dan hidup. Daud memuji Allah karena kekekalan-Nya (ay.10), kemasyhuran dan keagungan-Nya (ay.11), kebijakan kerajaan-Nya (ay.12), juga karena Dia adalah sumber segala pemeliharaan (ay.14). Inilah hakikat Allah yang Daud puja serta yang menggerakkannya untuk mempersiapkan pembangunan bait Allah (pasal 28-29). —Bill Crowder
Berkat apa yang Tuhan pinjamkan hari ini yang dapat Anda syukuri kepada-Nya? Bagaimana Anda semakin terdorong untuk bersyukur kepada Allah saat menyadari bahwa semua pemberian yang baik berasal dari-Nya?
Apa pun yang kita miliki sesungguhnya adalah milik Allah.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate