Pages - Menu

Tuesday, February 28, 2017

Mudah dan Sederhana

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. —Yohanes 3:16
Mudah dan Sederhana
Dalam harian The Washington Post, Ariana Cha menulis tentang usaha yang dilakukan Peter Thiel dan para konglomerat teknologi lainnya untuk memperpanjang umur manusia tanpa batas. Mereka siap menghabiskan miliaran dolar untuk proyek tersebut.
Sebenarnya mereka terlambat. Maut sudah dikalahkan! Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26). Yesus meyakinkan kita bahwa mereka yang percaya kepada-Nya tidak akan pernah mati, dalam kondisi apa pun, untuk selama-lamanya.
Memang tubuh kita akan mati—dan tidak ada manusia yang dapat mengubahnya. Namun aspek-aspek dari jiwa kita—pemikiran, akal budi, ingatan, kasih, karakter yang unik—tidak akan pernah mati.
Inilah yang terbaik: Hidup yang kekal itu anugerah! Yang perlu kamu lakukan hanyalah menerima keselamatan yang Yesus tawarkan. Semudah dan sesederhana itu.
Mungkin ada yang mengatakan, “Itu terlalu mudah.” Tanggapan saya adalah, karena Allah telah mengasihimu jauh sebelum kamu dilahirkan dan Dia berharap kamu bisa hidup bersama-Nya selamanya, untuk apa Dia harus mempersulitnya? —David Roper
Tuhan Yesus, aku percaya Engkau telah mati bagi dosa-dosaku dan bangkit dari kematian. Aku ingin menerima-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamatku, serta mengikut-Mu. Ampunilah dosa-dosaku dan tolonglah aku untuk menjalani hidup yang menyenangkan-Mu mulai hari ini.
Kristus telah mengganti gerbang maut yang gelap menjadi gerbang kehidupan kekal yang bersinar terang.

Monday, February 27, 2017

Cincin yang Membuat Tak Terlihat

Barangsiapa berbuat jahat, membenci terang. —Yohanes 3:20
Cincin yang Membuat Tak Terlihat
Plato, seorang filsuf Yunani (sekitar 427-348 SM), mempunyai cara yang imajinatif untuk menerangi sisi gelap dari hati manusia. Ia menceritakan kisah tentang seorang gembala yang tanpa sengaja menemukan cincin emas yang selama ini tersembunyi jauh di dalam tanah. Suatu hari terjadilah gempa besar yang membelah sebuah makam kuno di sisi gunung dan cincin itu pun terlihat oleh si gembala. Secara kebetulan ia juga menemukan bahwa cincin tersebut memiliki kemampuan ajaib untuk membuat pemakainya bisa tidak terlihat kapan saja ia menghendakinya. Saat berpikir tentang sesuatu yang tak terlihat, Plato mengajukan pertanyaan ini: Jika seseorang tak merasa khawatir akan ketahuan dan dihukum, apakah ia akan menolak untuk berbuat jahat?
Dalam Injil Yohanes, kita melihat bahwa Yesus membawa gagasan itu ke arah yang berbeda. Sebagai Gembala yang Baik, Yesus berbicara tentang hati manusia yang tinggal dalam bayang-bayang kegelapan untuk menyembunyikan perbuatan mereka yang jahat (Yoh. 3:19-20). Dengan menyoroti hasrat kita untuk menyembunyikan kejahatan, Yesus tidak bermaksud menghakimi kita, melainkan menawarkan kepada kita keselamatan melalui diri-Nya (ay.17). Sebagai Gembala hati kita, Dia menerangi watak manusiawi kita yang terburuk untuk menunjukkan kepada kita betapa Allah sangat mengasihi kita (ay.16).
Dalam belas kasihan-Nya, Allah memanggil kita untuk keluar dari kegelapan yang menyelimuti kita dan mengundang kita untuk mengikut-Nya di dalam terang. —Mart DeHaan
Bapa Surgawi yang terkasih, kami mengucap syukur kepada-Mu untuk cahaya kehadiran-Mu dalam hidupku. Kiranya aku berjalan dengan taat dalam terang kebenaran-Mu untuk segala hal yang kulakukan hari ini.
Kegelapan dosa dienyahkan ketika terang Kristus disingkapkan.

Sunday, February 26, 2017

Akses Penuh

Kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya. —Efesus 3:12
Akses Penuh
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengundang saya untuk menemaninya menonton sebuah turnamen golf profesional. Karena itu pengalaman pertama saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketika kami tiba, saya terkejut saat menerima suvenir, pamflet informasi, dan peta dari lapangan golf di sana. Namun yang paling menyenangkan adalah ketika kami memperoleh akses untuk masuk ke tenda VIP di belakang area lubang ke-18, dan di sana kami mendapatkan makanan gratis dan tempat duduk yang nyaman. Saya tidak mungkin dapat masuk ke tenda tamu itu dengan usaha saya sendiri. Kuncinya terletak pada teman saya, karena hanya lewat dirinya, saya memperoleh akses penuh.
Dalam diri kita tidak ada apa pun yang dapat memulihkan hubungan kita yang terputus dengan Allah. Namun Yesus Kristus yang menanggung hukuman kita telah memberikan kepada kita hidup-Nya dan juga akses untuk datang kepada Allah. Rasul Paulus menulis, “Maksud Allah ialah supaya sekarang, melalui jemaat, semua . . . mengetahui kebijaksanaan Allah dalam segala macam bentuknya” (Ef. 3:10 BIS). Oleh kebijaksanaan-Nya, Allah Bapa telah membawa orang Yahudi dan orang non-Yahudi bersatu dalam Kristus, yang telah membuka jalan bagi kita agar dapat datang kepada Dia. “Kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada [Kristus]” (ay.12).
Ketika kita percaya kepada Yesus, kita menerima akses yang teragung, yakni jalan masuk kepada Allah yang mengasihi kita dan yang rindu menjalin persekutuan dengan kita. —Bill Crowder
Ya Bapa, memanggil-Mu sebagai Bapa merupakan anugerah yang luar biasa. Terima kasih untuk Anak-Mu, Yesus Kristus, yang membuka jalan bagi kami untuk datang ke hadapan-Mu, untuk mengenal-Mu secara pribadi, dan untuk memanggil-Mu sebagai Bapaku.
Karena salib Kristus, kita dapat menjadi sahabat Allah.

Saturday, February 25, 2017

Sepenuh Hati!

Hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. —Bilangan 14:24
Sepenuh Hati!
Kaleb adalah seorang yang mengikut Tuhan dengan “sepenuh hati”. Ia dan Yosua termasuk dari dua belas pengintai yang menjelajahi Tanah Perjanjian dan memberikan laporan kepada Musa dan umat Israel. Kaleb berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bil. 13:30). Namun sepuluh pengintai lainnya mengatakan bahwa mereka tidak mungkin berhasil. Meski Allah telah menjanjikan kemenangan, yang mereka lihat hanyalah rintangan (ay.31-33).
Kesepuluh orang itu menyebabkan bangsa Israel berkecil hati dan bersungut-sungut kepada Allah, dan akibatnya mereka harus mengembara selama 40 tahun di padang gurun. Namun Kaleb tidak pernah menyerah. Tuhan berkata, “Hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya” (14:24). Empat puluh lima tahun kemudian, Allah menepati janji-Nya. Kaleb yang telah berusia 85 tahun memperoleh kota Hebron “karena ia tetap mengikuti Tuhan, Allah Israel, dengan sepenuh hati” (Yos. 14:14).
Berabad-abad kemudian, seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus, “Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Yesus menjawabnya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” (Mat. 22:35-38).
Hingga kini, Kaleb masih mengilhami kita dengan keyakinannya yang kuat kepada Allah yang layak menerima kasih, kepercayaan, dan komitmen kita yang sepenuh hati. —David McCasland
Ya Tuhan, kiranya kami mengasihi-Mu dengan sepenuh hati hari ini dan mengikut-Mu setiap hari dalam perjalanan hidup kami.
Komitmen kepada Kristus adalah panggilan hidup kita setiap hari.

Friday, February 24, 2017

Berpikir "yang Ada Sekarang"

Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13
Berpikir
Bahkan bertahun-tahun setelah kami kehilangan Melissa, putri kami yang berusia 17 tahun, dalam kecelakaan mobil pada tahun 2002, saya masih sesekali berpikir “seandainya saja”. Dalam keadaan yang berduka, sangat mudah untuk membayangkan kembali peristiwa tragis malam itu dan memikirkan faktor-faktor yang andai saja berbeda mungkin akan membawa Melissa pulang ke rumah dengan aman. Pada kenyataannya, berpikir “seandainya saja” tidak membawa kebaikan apa pun. Pemikiran seperti itu hanya membuat seseorang berkanjang dalam penyesalan, kritikan, dan keputusasaan. Walau kepedihan terasa begitu nyata dan kesedihannya berkepanjangan, hidup akan menjadi lebih baik dan Allah pun dimuliakan apabila kita berpikir tentang “yang ada sekarang”.
Dengan berpikir tentang “yang ada sekarang”, kami dapat menerima pengharapan, penguatan, dan penghiburan. Kami memiliki pengharapan yang pasti (1 Tes. 4:13)—suatu keyakinan bahwa karena Melissa mengasihi Yesus, kini ia berada di tempat yang “jauh lebih baik” (Flp. 1:23). Kami dikuatkan oleh kehadiran Allah sumber segala penghiburan (2 Kor. 1:3). Kami memiliki Allah yang selalu menjadi “penolong dalam kesesakan” (Mzm. 46:2). Dan kami sering dikuatkan oleh saudara-saudara seiman kami.
Tentulah kita semua berharap dapat terhindar dari berbagai tragedi dalam hidup ini. Namun di saat menghadapi masa-masa yang sulit, pertolongan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah. Dialah pengharapan yang pasti di dunia “yang ada sekarang”. —Dave Branon
Allah Bapa, Engkau tahu hatiku yang hancur. Engkau tahu betapa sakitnya rasa kehilangan karena Engkau sendiri telah mengalami kematian Anak-Mu. Di tengah kepedihanku, tolong aku untuk terus bersandar dalam pengharapan-Mu, penguatan-Mu, dan penghiburan-Mu.
Pengharapan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah.

Thursday, February 23, 2017

Terus Berlari

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. —Filipi 3:14
Terus Berlari
Salah satu program televisi favorit saya adalah The Amazing Race. Dalam reality show itu, sepuluh pasangan dikirim ke suatu negara asing dan di sana mereka harus berlomba dengan menaiki kereta api, bus, taksi, sepeda, dan berjalan kaki, dari satu tempat ke tempat lain guna memperoleh instruksi yang mereka perlukan untuk tantangan selanjutnya. Tujuannya adalah bagi satu pasangan untuk mencapai tempat finis lebih awal dari pasangan-pasangan lainnya dan merebut hadiah sebesar satu juta dolar.
Rasul Paulus membandingkan kehidupan iman orang Kristen dengan perlombaan dan mengakui bahwa dirinya sendiri belum mencapai garis finis. Ia berkata, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:13-14). Paulus tidak menoleh ke belakang dan membiarkan kegagalan-kegagalannya di masa lalu terus membebaninya dengan rasa bersalah. Ia juga tidak membiarkan keberhasilannya di masa kini membuatnya berpuas diri. Ia terus berlari pada tujuan untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus.
Kita pun sedang berlari dalam perlombaan yang sama. Entah kita pernah gagal atau berhasil di masa lalu, marilah terus berlari menuju tujuan tertinggi untuk menjadi serupa dengan Yesus. Kita tidak berlomba untuk meraih hadiah duniawi, melainkan demi upah yang paling utama, yakni menikmati Dia selamanya. —Marvin Williams
Bacalah Filipi 4:11-13. Bagaimana kita dapat terus berlari menuju pengharapan kita di masa mendatang? Bacalah Ibrani 12:1-2. Hal-hal praktis apa yang harus kita lakukan untuk terus maju dan bertahan?
Jangan pernah berhenti berlari kepada Yesus.

Wednesday, February 22, 2017

Anugerah yang Sempurna

Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau.” —Yohanes 8:11
Anugerah yang Sempurna
Pengajaran Yesus tentang idealisme yang mutlak dan anugerah yang mutlak terlihat saling bertentangan.
Yesus tidak pernah menurunkan idealisme Allah yang sempurna. Dalam tanggapannya kepada seorang muda yang kaya raya, Dia berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Kepada seorang ahli Taurat yang bertanya tentang hukum yang terutama, Dia menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (22:37). Tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi perintah-perintah itu dengan sempurna.
Namun oleh kasih-Nya, Yesus juga memberikan anugerah yang sempurna. Dia mengampuni wanita yang berbuat zina, pencuri yang disalib bersama-Nya, murid yang menyangkal pernah mengenal Yesus, dan pria bernama Paulus yang pernah membunuh para pengikut-Nya. Anugerah itu mutlak dan begitu luas, bahkan menjangkau mereka yang menyalibkan Yesus. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” adalah salah satu ucapan terakhir Yesus di muka bumi (Luk. 23:34).
Selama bertahun-tahun saya merasa begitu tidak layak ketika melihat idealisme Yesus yang mutlak hingga saya tidak memahami arti anugerah-Nya. Namun ketika saya memahami kedua hal yang saling melengkapi itu, saya pun kembali dan akhirnya menemukan bahwa kehidupan dan pengajaran Yesus berlimpah ruah dengan kabar anugerah.
Anugerah tersedia bagi mereka yang putus asa, yang membutuhkan pertolongan, yang merasa hancur, dan tidak lagi sanggup jalan sendiri. Anugerah Tuhan tersedia bagi kita semua. —Philip Yancey
Bapa, anugerah-Mu yang begitu luas menyucikan kami dan membuat kami takjub. Kiranya kami hidup hari ini sebagai orang-orang yang telah Engkau ampuni secara mutlak dan yang kembali dalam hubungan pribadi dengan-Mu.
Yesus menggenapi syarat mutlak dari hukum Taurat sehingga kita dapat menikmati damai sejahtera yang sempurna dari anugerah-Nya.

Tuesday, February 21, 2017

Injil yang Viral

Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah. —1 Tesalonika 1:8
Injil yang Viral
Proyek Viral Texts yang dilakukan oleh Northeastern University di Boston mempelajari bagaimana suatu berita cetak pada abad ke-19 tersebar melalui surat kabar—jaringan media sosial pada zaman itu. Pada era revolusi industri itu, sebuah artikel dianggap “viral” (tersebar dengan cepat dan luas) apabila dicetak ulang hingga 50 kali atau lebih. Dalam artikelnya di majalah Smithsonian, Britt Peterson mencatat bahwa sebuah artikel berita dari abad ke-19 tentang para pengikut Yesus yang dihukum mati karena iman mereka pernah dicetak ulang setidaknya 110 kali.
Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Tesalonika, ia memuji mereka atas kesaksian mereka yang berani dan penuh sukacita tentang Yesus Kristus. “Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah” (1Tes. 1:8). Berita Injil menjadi viral melalui orang-orang yang hidupnya telah diubahkan oleh Yesus Kristus tersebut. Walaupun mengalami berbagai kesulitan dan penganiayaan, mereka tidak berdiam diri.
Kita mewartakan kisah tentang pengampunan dan kehidupan kekal di dalam Kristus melalui kebaikan hati, tindakan nyata, dan perkataan yang jujur dari kita semua yang sudah mengenal Tuhan. Injil mengubahkan hidup kita dan juga hidup orang-orang yang kita jumpai.
Kiranya kabar itu terus kita gemakan agar didengar semua orang hari ini! —David McCasland
Tuhan Yesus, tolong kami untuk menjalani hidup dengan berani dan membagikan kabar baik tentang Engkau kepada sesama kami hari ini.
Tidak ada kabar yang lebih baik daripada Injil. Mari beritakan!

Monday, February 20, 2017

Pohon di Tepi Sungai

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air. —Yeremia 17:8
Pohon di Tepi Sungai
Ada sebatang pohon yang membuat iri. Karena tumbuh di tepi sungai, pohon itu tidak perlu khawatir dengan ramalan cuaca, suhu panas yang menyengat, atau masa depan yang tak menentu. Dipelihara dan disegarkan oleh aliran air sungai, pohon itu menikmati hari-harinya dengan ranting-ranting yang mengarah ke sinar matahari, akar-akar yang mencengkeram bumi, daun-daun yang memurnikan udara, dan menyediakan tempat berteduh bagi semua yang memerlukan perlindungan dari teriknya sinar matahari.
Sebaliknya, Nabi Yeremia menuliskan tentang semak bulus (Yer. 17:6). Ketika hujan berhenti dan matahari pada musim panas mengubah tanah menjadi debu, semak bulus itu menyusut layu dan tidak bisa menjadi tempat berteduh atau menghasilkan buah apa pun.
Mengapa sang nabi membandingkan sebatang pohon yang tumbuh subur dengan semak bulus yang meranggas? Ia ingin bangsanya mengingat segala sesuatu yang telah terjadi sejak pembebasan mereka yang ajaib dari perbudakan di Mesir. Selama 40 tahun di padang gurun, mereka hidup seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai (2:4-6). Namun dalam kemakmuran yang mereka nikmati di Tanah Perjanjian, mereka lupa pada pengalaman mereka sendiri; mereka kemudian mengandalkan diri sendiri dan juga dewa-dewa yang mereka buat sendiri (2:7-8), bahkan sampai kembali ke Mesir untuk meminta bantuan (42:14).
Maka melalui Yeremia, Allah dengan penuh kasih mendesak umat Israel yang pelupa itu, dan juga mendesak kita, untuk berharap dan percaya kepada Dia, sehingga kita akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi air dan bukan semak bulus. —Mart DeHaan
Ya Bapa, dengan beragam cara Engkau telah mengajarkan kami bahwa hanya Engkau yang dapat dipercaya—bahkan ketika Engkau seakan berdiam diri. Tolonglah kami hari ini untuk mengingat lagi apa yang telah Engkau tunjukkan kepada kami selama ini.
Di masa-masa bahagia, ingatlah apa yang telah kamu pelajari di masa-masa yang sulit.

Sunday, February 19, 2017

Lebih Baik dari Pinata

Oleh kasih karunia kamu diselamatkan. —Efesus 2:5
Lebih Baik dari Pinata
Pesta ala Meksiko tidaklah lengkap tanpa piñata—sebuah wadah dari bahan karton atau tanah liat yang diisi permen atau mainan kecil. Anak-anak kemudian memukul piñata itu dengan tongkat sampai pecah agar dapat menikmati isinya.
Kaum biarawan menggunakan piñata pada abad ke-16 untuk mengajar para penduduk asli Meksiko. Dahulu piñata dibuat berbentuk bintang berujung tujuh yang melambangkan tujuh dosa mematikan. Memukul piñata menggambarkan pergumulan melawan kejahatan, dan ketika isi di dalam piñata itu berhasil ditumpahkan, orang boleh membawanya pulang untuk mengingatkan mereka atas upah kegigihan mereka mempertahankan iman.
Namun kita tidak dapat melawan kejahatan dengan kekuatan kita sendiri. Allah tidak menantikan upaya-upaya kita terlebih dahulu dan baru kemudian Dia menunjukkan belas kasihan-Nya. Kitab Efesus mengajarkan, “Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (2:8). Kita tidak mengalahkan dosa, Kristuslah yang sudah melakukannya.
Anak-anak harus berebut untuk mendapatkan permen dari dalam piñata, tetapi karunia Allah diberikan kepada kita semua ketika kita percaya kepada Yesus. Allah “telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (1:3). Kita memperoleh pengampunan dosa, penebusan, pengangkatan menjadi anak, kehidupan baru, kebahagiaan, kasih, dan masih banyak lagi. Kita tidak memperoleh segala berkat rohani itu karena kita kuat dan setia dalam mempertahankan iman, melainkan karena kita percaya kepada Yesus. Berkat-berkat rohani hanya diterima melalui kasih karunia—kasih karunia yang sama sekali tidak layak kita terima! —Keila Ochoa
Terima kasih, Tuhan, atas kemurahan-Mu yang agung dan cuma-cuma!
Kita telah diselamatkan oleh kasih karunia. Kini kita menikmati kelimpahan berkat yang dikaruniakan Allah.

Saturday, February 18, 2017

Mercusuar

[Tuhan] mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung. —Yesaya 61:3
Mercusuar
Sebuah pusat pelayanan di Rwanda bernama “Lighthouse” (Mercusuar) hadir menjadi lambang dari pemulihan. Bangunan itu berdiri di atas wilayah yang sama dengan lokasi rumah megah milik presiden yang berkuasa di Rwanda pada saat terjadinya genosida tahun 1994. Namun bangunan baru yang didirikan oleh orang-orang Kristen itu kini menjadi tempat terang dan pengharapan bersinar. Di sana terdapat sebuah sekolah Alkitab yang bertujuan untuk menghasilkan para pemimpin Kristen yang baru. Di dalamnya juga terdapat hotel, rumah makan, dan beragam pelayanan lain untuk masyarakat. Habis gelap terbitlah terang. Mereka yang membangun pelayanan tersebut berharap kepada Yesus sebagai sumber pengharapan dan penebusan sejati.
Ketika Yesus berada di sinagoge di Nazaret pada hari Sabat, Dia membaca dari kitab Yesaya dan menyatakan bahwa Dialah yang telah diurapi untuk memberitakan rahmat Tuhan (lihat Luk. 4:14-21). Dia telah datang untuk membalut luka mereka yang patah hati dan menawarkan penebusan serta pengampunan kepada manusia. Di dalam Yesus Kristus kita melihat keindahan yang muncul menggantikan abu (Yes. 61:3).
Kita melihat kekejaman genosida di Rwanda, ketika pertikaian antar suku menewaskan lebih dari lima ratus ribu nyawa. Dan saking tercengang dan ngerinya, kita pun kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan sanggup memulihkan kembali segala dampak kejahatan, baik di bumi atau kelak di surga. Dia yang mengaruniakan minyak untuk pesta sebagai pengganti kain kabung juga mengaruniakan pengharapan kepada kita, bahkan di tengah situasi yang paling kelam sekalipun. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, hati kami sedih ketika mendengar tentang kepedihan dan penderitaan yang dialami orang lain. Kami berdoa, kasihanilah kami.
Yesus datang untuk memberi kita pengharapan di tengah situasi yang paling kelam sekalipun.

Friday, February 17, 2017

Melihat Jauh ke Depan

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. —2 Korintus 5:7
Melihat Jauh ke Depan
Saya suka menatap langit biru yang bersih dari awan. Langit adalah salah satu mahakarya indah Pencipta kita, yang diberikan-Nya untuk kita nikmati. Para penerbang tentu sangat menyukai pemandangan langit seperti itu. Ada sejumlah istilah penerbangan yang mereka pakai dalam menggambarkan keadaan langit yang sempurna untuk terbang. Namun istilah favorit saya adalah, “kamu bisa melihat jauh ke depan.”
“Melihat jauh ke depan” berarti jauh di luar daya pandang kita. Terkadang kita bergumul untuk melihat atau memahami apa yang kita alami dalam hidup kita sekarang. Alkitab mengatakan kepada kita, “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yak. 4:14).
Namun penglihatan kita yang terbatas tidak membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita mempercayai Allah yang melihat semua hari-hari kita yang mendatang dengan sempurna—dan Dia mengetahui apa yang kita perlukan untuk menghadapi semua tantangan yang akan datang. Rasul Paulus memahaminya. Itulah alasan Paulus menguatkan kita dengan kata-kata yang penuh pengharapan, “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor. 5:7).
Ketika kita mempercayakan kepada Allah hari yang sedang kita jalani ini dan juga hari esok kita yang belum terlihat, kita tidak perlu khawatir tentang apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Kita berjalan bersama-Nya dan Dia tahu apa yang ada di depan kita; kekuatan dan hikmat-Nya cukup untuk menolong kita. —Bill Crowder
Tuhan, aku tahu aku dapat mempercayai-Mu untuk hari ini dan hari-hari mendatang, karena Engkau baik, pemurah, penuh kasih, bijaksana, dan berkuasa. Ajarlah aku untuk tidak khawatir.
Allah melihat seluruhnya, dari awal sampai akhir.

Thursday, February 16, 2017

Seniman Rongsokan yang Jenius

Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat! —Yohanes 9:25
Seniman Rongsokan yang Jenius
Noah Purifoy memulai kariernya sebagai seniman “perakit” dengan mengolah tiga ton puing dari bekas kerusuhan tahun 1965 di daerah Watts, Los Angeles. Dari roda sepeda dan bola boling yang penyok sampai ban kendaraan dan televisi yang usang—barang-barang yang tidak dapat digunakan lagi—Purifoy dan seorang temannya menciptakan patung-patung unik yang begitu kuat menyampaikan pesan tentang sebagian orang yang diperlakukan layaknya “barang rongsokan” di tengah masyarakat modern saat ini. Seorang jurnalis menyebut Purifoy sebagai “seniman rongsokan yang jenius”.
Pada zaman Yesus hidup, banyak orang memandang mereka yang ditimpa penyakit dan kendala fisik sebagai para pendosa yang sedang dihukum Allah. Mereka dihindari dan diabaikan. Namun ketika Yesus dan murid-murid-Nya bertemu dengan seorang pria yang buta sejak lahir, Tuhan menyatakan bahwa keadaannya bukanlah akibat dari dosa melainkan suatu kesempatan untuk melihat kuasa Allah. “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh. 9:5). Ketika orang buta itu mengikuti perintah Yesus, ia pun dapat melihat.
Ketika para pemuka agama bertanya kepada orang yang tadinya buta itu, ia menjawab dengan sederhana, “Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat!” (ay.25).
Yesus Kristus adalah Seniman yang paling jenius dan terhebat di dunia ini. Seperti rongsokan, kita semua telah rusak karena dosa, tetapi Dia mengambil hidup kita yang telah rusak itu, lalu membentuk kita menjadi karya-Nya yang baru. —David McCasland
Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu hari ini atas anugerah-Mu yang ajaib!
Yesus sanggup memulihkan kehidupan kita.

Wednesday, February 15, 2017

Kebohongan Kecil dan Anak Kucing

Sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —Roma 5:21
Kebohongan Kecil dan Anak Kucing
Seorang ibu memperhatikan Elias, anaknya yang berumur 4 tahun, berlari-lari mendekati beberapa ekor anak kucing yang baru lahir. Ia telah melarang Elias menyentuh anak-anak kucing itu. Lalu ia bertanya, “Elias, apa kau menyentuh anak kucing itu?” “Tidak!” jawab Elias dengan cepat. Ibunya bertanya lagi: “Apa bulu kucing itu terasa lembut?”
“Ya,” jawab Elias langsung, “dan kucing yang hitam mengeong.”
Kita mungkin tersenyum melihat sikap seorang anak berusia 4 tahun yang penuh tipu muslihat itu. Namun ketidaktaatan Elias menegaskan kondisi kita sebagai manusia. Tidak ada yang mengajari anak berusia 4 tahun untuk berbohong. Daud menuliskan dalam pengakuannya yang terkenal, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mzm. 51:7). Rasul Paulus berkata: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12). Kabar yang menyedihkan itu berlaku bagi para raja, anak-anak berusia 4 tahun, juga kamu dan saya.
Namun masih ada pengharapan. Paulus menulis, “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20).
Allah tidak menunggu kita gagal agar Dia dapat menghukum kita. Dia justru senang memberikan kasih karunia, pengampunan, dan pemulihan dari-Nya. Kita hanya perlu menyadari bahwa dosa itu merusak dan tidak bisa dibenarkan, dan kita boleh datang kepada-Nya dalam iman dan pertobatan. —Tim Gustafson
Ya Bapa, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. —Roma 8:1

Tuesday, February 14, 2017

Ungkapan Cinta

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. —1 Yohanes 4:9
Ungkapan Cinta
Ketika sejumlah papan bertuliskan “Aku mencintaimu” dalam warna merah jambu muncul secara beruntun dan misterius di kota Welland, Ontario, seorang wartawan lokal bernama Maryanne Firth memutuskan untuk menyelidikinya. Investigasinya tidak membuahkan hasil. Beberapa minggu kemudian, sejumlah papan baru muncul dan mencantumkan nama taman di kota itu sekaligus tanggal dan waktu tertentu.
Ditemani oleh sekelompok penduduk yang penasaran, Firth pergi ke taman tersebut pada tanggal dan waktu yang ditentukan. Di sana, Firth bertemu seorang pria yang mengenakan jas dan menutupi wajahnya dengan lihai. Alangkah terkejutnya Firth ketika pria itu memberinya sebuah karangan bunga dan melamarnya! Ternyata pria misterius itu adalah Ryan St. Denis, kekasih Firth. Firth pun menerima lamaran tersebut dengan gembira.
Ungkapan cinta sang pria kepada tunangannya itu mungkin agak berlebihan, tetapi ungkapan kasih Allah kepada kita jauh lebih luar biasa! “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1Yoh. 4:9).
Yesus bukan sekadar menjadi tanda bukti kasih Allah, seperti bunga mawar yang diberikan seseorang kepada kekasihnya. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang rela menyerahkan nyawa-Nya supaya setiap orang yang percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dapat menjalin hubungan perjanjian yang kekal dengan Allah. Tidak ada yang dapat memisahkan seorang Kristen “dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:39). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, terima kasih karena Engkau ungkapkan kasih-Mu kepadaku dengan cara yang terindah. Bimbing aku agar dapat menunjukkan kasihku kepada-Mu.
Kita tahu betapa Allah sangat mengasihi kita karena Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi menyelamatkan kita.

Monday, February 13, 2017

Keraguan yang Hilang

Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya. —Yohanes 20:25
Keraguan yang Hilang
Kita mengenalnya sebagai “Tomas si Peragu” (baca Yoh. 20:24-29), tetapi julukan itu sebenarnya tidak begitu adil. Lagipula, berapa banyak dari kita yang benar-benar percaya bahwa pemimpin kita yang dihukum mati telah bangkit dari kematian? Kita mungkin bisa menjulukinya “Tomas si Pemberani”. Setidaknya Tomas menunjukkan keberanian yang luar biasa pada saat Yesus sedang menjalani peristiwa demi peristiwa menjelang kematian-Nya.
Setelah Lazarus mati, Yesus berkata, “Mari kita kembali lagi ke Yudea” (Yoh. 11:7), dan itu diprotes oleh murid-murid-Nya. Kata mereka, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (ay.8). Tomaslah yang berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (ay.16).
Tindakan Tomas ternyata tidak sebanding dengan niatnya. Pada saat Yesus ditangkap, Tomas pun melarikan diri bersama murid-murid lain (Mat. 26:56), dan hanya Petrus dan Yohanes yang mendampingi Kristus hingga ke halaman Imam Besar. Hanya Yohanes yang terus mengikuti Yesus hingga ke bawah salib-Nya.
Walaupun sudah menyaksikan kebangkitan Lazarus (Yoh. 11:38-44), Tomas masih sulit mempercayai bahwa Tuhan Yesus yang disalibkan itu telah mengalahkan kematian. Setelah Tomas si Peragu yang manusiawi itu melihat Tuhan yang telah bangkit, barulah ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Respons Yesus memberikan keyakinan kepada si peragu dan penghiburan yang tak terkira kepada kita semua: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay.29). —Tim Gustafson
Bapa, ajar kami bertindak menurut apa yang kami yakini tentang Engkau dan kebaikan-Mu, dan beriman kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.
Orang yang murni keraguannya akan mencari jalan menuju terang, tetapi orang yang tidak percaya merasa puas berdiam dalam kegelapan.

Sunday, February 12, 2017

Lihat yang Telah Yesus Lakukan

Demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. —2 Korintus 8:7
Lihat yang Telah Yesus Lakukan
Ketika baru berumur delapan tahun, seorang anak pernah mengatakan kepada Wally, seorang sahabat dari orangtuanya, “Aku mengasihi Yesus dan aku mau melayani Tuhan di luar negeri suatu saat nanti.” Sepanjang kurang lebih sepuluh tahun, Wally mendoakan anak itu sambil melihatnya bertambah dewasa. Ketika pemuda itu kemudian memberikan diri untuk pergi bermisi ke negara Mali, Wally pun mengatakan kepadanya, “Sudah saatnya! Ketika dahulu aku mendengar apa yang ingin kamu lakukan, aku menginvestasikan sejumlah uang dan menabungnya untukmu, sambil menunggu kabar gembira ini.” Wally memiliki hati yang mengasihi orang lain dan senang mendukung upaya pemberitaan Injil pada dunia.
Yesus dan murid-murid-Nya membutuhkan dukungan dana dalam perjalanan mereka keluar masuk kota dan desa untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah (Luk. 8:1-3). Sekelompok perempuan yang telah dilepaskan dari roh jahat dan penyakit mendukung rombongan itu “dengan kekayaan mereka” (ay.3). Salah seorang dari perempuan itu adalah Maria Magdalena yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat. Ada juga Yohana, istri dari bendahara Herodes. Kita tidak tahu apa-apa tentang Susana dan “banyak perempuan lain” (ay.3), tetapi kita tahu bahwa Yesus telah menjawab kebutuhan rohani mereka. Sekarang mereka melayani Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya dengan memberikan dukungan dana.
Ketika kita menyadari apa yang telah Yesus lakukan untuk kita, maka kerinduan hati-Nya bagi sesama menjadi kerinduan kita juga. Mari tanyakan kepada Allah bagaimana Dia mau memakai kita dalam pelayanan-Nya. —Anne Cetas
Bagaimana kamu mengambil bagian dalam pemberitaan Injil kepada orang-orang di sekitarmu dan di dunia? Ceritakanlah kepada seseorang apa yang telah Yesus lakukan untukmu. Tulislah pesan yang dapat menyemangati seseorang. Berbagilah berkat dengan seorang misionaris. Berdoalah.
Yesus telah menyerahkan semua milik-Nya; Dia layak mendapatkan seluruh milik kita.

Saturday, February 11, 2017

Aku Sudah Tahu Semuanya

Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. —Mazmur 139:3
Aku Sudah Tahu Semuanya
Putra dan menantu kami pernah menghadapi kondisi darurat. Anak mereka, Cameron, menderita pneumonia dan bronkitis sehingga perlu segera dibawa ke rumah sakit. Mereka meminta bantuan kami untuk menjemput pulang putra mereka yang berumur lima tahun, Nathan, dari sekolahnya. Saya dan Marlene tentu saja senang melakukannya.
Ketika Nathan sudah masuk ke mobil, Marlene bertanya, “Kamu kaget tidak karena kami yang menjemputmu hari ini?” Nathan menjawab, “Tidak, dong!” Ketika kami menanyakan alasannya, ia menjawab, “Aku kan sudah tahu semuanya!”
Seorang anak umur lima tahun bisa mengaku sudah tahu semuanya, tetapi kita yang dewasa tentu lebih mengerti. Sering kali kita justru memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kita mempertanyakan banyak hal tentang hidup kita—dan kita sering lupa bahwa meskipun kita tidak tahu segalanya, kita mengetahui bahwa ada Allah yang Mahatahu.
Mazmur 139:1 dan 3 menyatakan tentang kemahatahuan Allah yang menyeluruh atas diri kita. Daud mengatakan, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; . . . Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” Sungguh menenangkan ketika menyadari bahwa Allah mengasihi kita dengan begitu sempurna. Dia tahu sepenuhnya apa yang akan kita hadapi hari ini dan Dia tahu cara terbaik untuk menolong kita dalam setiap situasi dari hidup ini.
Pengetahuan kita akan selamanya terbatas, tetapi yang terpenting adalah kita mengenal Allah. Kita dapat mempercayai-Nya. —Bill Crowder
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengetahui segalanya tentang diriku dan kebutuhanku.
Mengenal Allah adalah yang terpenting.

Friday, February 10, 2017

Bersandar kepada Yesus

Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihiNya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. —Yohanes 13:23
Bersandar kepada Yesus
Kadangkala ketika saya berdoa dan bersiap untuk tidur di malam hari, saya membayangkan diri saya sedang bersandar kepada Yesus. Bayangan itu membuat saya teringat pada apa yang dikatakan firman Tuhan tentang Rasul Yohanes. Yohanes menuliskan bagaimana ia duduk di sebelah Yesus pada saat Perjamuan Terakhir. “Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya” (Yoh. 13:23).
Yohanes menggunakan istilah “murid yang dikasihi-Nya” sebagai cara untuk menyebut dirinya tanpa menyebutkan nama. Ia juga menggambarkan tata cara perjamuan yang pada umumnya dilakukan di Israel pada abad pertama, di mana meja perjamuannya jauh lebih rendah daripada meja yang kita gunakan di zaman modern, yaitu kurang lebih selutut tingginya. Duduk tanpa kursi dengan bersandar setengah berbaring pada tikar atau bantal merupakan posisi orang pada umumnya di sekeliling meja. Yohanes duduk begitu dekat dengan Tuhan sehingga ketika ia berpaling untuk bertanya kepada-Nya, ia “merapat pada Yesus” (Yoh. 13:23 BIS), dengan kepala yang bersandar di dada Yesus.
Kedekatan Yohanes dengan Yesus saat itu memberikan gambaran yang menolong kita memahami hidup kita bersama-Nya saat ini. Kita mungkin tidak dapat menyentuh Yesus secara fisik, tetapi kita bisa mempercayakan segala situasi yang membebani hidup kita kepada-Nya. Dia mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Sungguh kita diberkati karena memiliki Juruselamat yang setia dan dapat kita percayai dalam setiap situasi kehidupan kita! Maukah kamu “bersandar dekat kepada-Nya” hari ini? —James Banks
Tuhan Yesus, tolong kami bersandar kepada-Mu hari ini dan mempercayai-Mu sebagai sumber kekuatan dan pengharapanku. Aku menyerahkan seluruh kekhawatiranku kepada-Mu dan memuji-Mu karena Engkau setia.
Hanya Yesus yang memberikan kelegaan yang kita butuhkan.

Thursday, February 9, 2017

Pengantara

Jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. —1 Yohanes 2:1
Pengantara
Pada Juni 1962, dari sebuah sel penjara di Florida, Clarence Earl Gideon mengajukan banding dan memohon Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk meninjau ulang hukuman yang dijalaninya atas kejahatan yang menurutnya tidak dilakukannya. Gideon juga menyatakan bahwa ia tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara.
Setahun kemudian, dalam kasus bersejarah Gideon v. Wainright, Mahkamah Agung memutuskan bahwa orang yang tidak bisa membiayai pengacara untuk membela dirinya harus mendapatkan pengacara publik—seorang pengantara—yang disediakan oleh negara. Dengan keputusan tersebut, dan dengan bantuan dari pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan, Clarence Gideon pun menjalani pengadilan ulang dan akhirnya dibebaskan.
Namun bagaimana jika kita memang bersalah? Menurut Rasul Paulus, kita semua telah berbuat dosa. Namun pengadilan surgawi menyediakan Pengantara yang, dengan pengorbanan Allah, bersedia membela dan mempedulikan jiwa kita (1Yoh. 2:2). Atas nama Bapa-Nya, Yesus Kristus datang dan menawarkan kepada kita kemerdekaan yang jauh lebih baik daripada yang dinikmati para narapidana setelah mereka bebas dari penjara. Kemerdekaan itu adalah kemerdekaan dalam hati dan pikiran.
Ketika kita menderita, baik akibat dosa yang kita perbuat atau dosa yang diperbuat orang lain terhadap kita, kita semua dapat dibela oleh Yesus. Dengan otoritas tertinggi, Yesus menanggapi setiap permohonan belas kasihan, pengampunan, dan penghiburan yang kita naikkan.
Yesus Kristus, Pengantara kita, dapat mengubah penjara keputusasaan, ketakutan, dan penyesalan yang mengekang kita menjadi tempat kehadiran-Nya. —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolong kami mengalami kasih dan kehadiran-Mu yang memerdekakan kami. Kiranya kami mengalami kemerdekaan itu bahkan di tempat-tempat yang selama ini terasa memenjarakan kami!
Pribadi yang mati menggantikan kita, kini hidup sebagai Pengantara kita.

Wednesday, February 8, 2017

Yang Baik, Buruk, dan Terburuk

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5
Yang Baik, Buruk, dan Terburuk
Sorang sahabat pernah mengirimkan pesan pendek yang tertulis, “Aku senang kita bisa bercerita tentang apa saja. Yang baik, yang buruk, bahkan yang jelek-jelek sekalipun!” Kami sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya, dan kami telah belajar untuk berbagi suka-duka yang kami alami. Kami menyadari bahwa masing-masing dari kami tidak sempurna, sehingga kami tidak hanya berbagi pergumulan tetapi juga berbagi sukacita dalam setiap keberhasilan yang kami raih.
Daud dan Yonatan juga menjalin persahabatan yang sangat erat. Persahabatan mereka terbangun pada masa-masa baik setelah Daud mengalahkan Goliat (1Sam. 18:1-4). Keduanya sama-sama merasakan kengerian pada masa-masa buruk ketika Raja Saul, ayah Yonatan, cemburu pada Daud (18:6-11; 20:1-2). Akhirnya, mereka sama-sama menderita pada masa-masa terburuk ketika Saul bersiasat untuk membunuh Daud (20:42).
Sahabat tidak akan meninggalkan kita di saat segala situasi eksternal berubah. Mereka akan tetap mendampingi kita melalui masa-masa yang baik dan buruk. Sahabat juga dapat mengarahkan kita kepada Allah di saat kita menghadapi masa-masa terburuk, yakni ketika kita mungkin tergoda untuk menjauh dari Tuhan kita.
Persahabatan sejati merupakan karunia Allah karena sahabat seperti itu mencerminkan Tuhan Yesus, Sahabat yang sempurna, yang tetap setia di sepanjang masa-masa yang baik, yang buruk, bahkan yang terburuk. Tuhan mengingatkan kita, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). —Keila Ochoa
Tuhan, aku bersyukur untuk semua sahabat yang Engkau berikan dalam hidupku. Namun lebih dari itu, aku bersyukur boleh menjadi sahabat-Mu.
Sahabat adalah orang pertama yang hadir tatkala seluruh dunia meninggalkan kita.

Tuesday, February 7, 2017

Apakah Ini Memancarkan Sukacita?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. —Filipi 4:8
Apakah Ini Memancarkan Sukacita?
Buku karya seorang pemudi Jepang tentang membenahi dan menyusun barang telah terjual sebanyak dua juta eksemplar di seluruh dunia. Marie Kondo ingin membantu orang menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan dari rumah dan lemari mereka—semua barang yang telah membebani mereka. “Peganglah setiap barang,” katanya, “dan tanyakan pada dirimu sendiri, ‘Apakah ini memancarkan sukacita?‘” Apabila jawabannya ya, simpanlah barang itu. Jika jawabannya tidak, singkirkanlah.
Rasul Paulus mendorong jemaat Kristen di Filipi untuk mengejar sukacita dalam hubungan mereka dengan Kristus. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp. 4:4). Paulus mendorong mereka untuk tidak menjalani hidup dengan dibebani kekhawatiran, melainkan membawa segala sesuatu dalam doa dan mengizinkan damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran mereka dalam Kristus (ay.6-7).
Dalam tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, kita menyadari bahwa tidak semua pekerjaan itu menyenangkan. Namun kita bisa bertanya, “Bagaimana pekerjaan ini bisa memancarkan sukacita di hati Allah dan di hatiku?” Mengubah motivasi kita dalam melakukan sesuatu dapat mengubah perasaan kita terhadap hal tersebut.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8).
Untuk memiliki sukacita, pikirkanlah kata-kata penutup dari Rasul Paulus tersebut. —David McCasland
Tuhan, tunjukkanlah kepadaku cara-Mu memancarkan sukacita dalam pekerjaanku hari ini.
Sukacita bermula dari hidup yang berfokus kepada Tuhan.

Monday, February 6, 2017

Diuji dan Dimurnikan

Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. —Ayub 23:10
Diuji dan Dimurnikan
Dalam sebuah wawancara, penyanyi dan penulis lagu Meredith Andrews menceritakan pergumulannya saat ia berusaha mencari keseimbangan antara mengurus pelayanan, pekerjaan, pernikahan, dan perannya sebagai ibu. Sambil merenungkan pergumulan itu, ia berkata, “Saya merasa sepertinya Allah membawa saya ke dalam masa pemurnian, bahkan hampir-hampir saya merasa patah semangat.”
Ayub pun merasa kewalahan setelah kehilangan penghidupannya, kesehatannya, dan keluarganya. Bahkan lebih parah dari itu, meskipun Ayub sangat setia beribadah kepada Allah, ia merasa Tuhan sedang mengabaikan permohonannya. Allah seolah tidak lagi hadir dalam pengalaman hidupnya. Ayub menyatakan bahwa ia tidak menemukan Allah ke mana pun ia mencari, entah ke utara, selatan, timur, atau barat (Ayb. 23:2-9).
Di tengah keputusasaannya, Ayub mendapat pencerahan. Imannya kembali berkelip seperti nyala lilin di suatu ruang yang gelap. Ia mengatakan, “Karena [Allah] tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (ay.10). Orang Kristen sedang diuji dan dimurnikan oleh Allah, ketika Dia memakai berbagai kesulitan untuk menyingkirkan kepercayaan kita pada diri sendiri, kebanggaan diri, dan hikmat duniawi yang kita andalkan. Jika sepertinya Allah membisu selama proses pemurnian itu dan Dia tidak menjawab seruan kita yang meminta pertolongan-Nya, mungkin Dia sedang memberi kita kesempatan untuk bertumbuh semakin kuat dalam iman kita.
Penderitaan dan masalah dapat membentuk karakter yang bersinar dan teguh dalam diri kita, dan itu terjadi ketika kita mempercayai Allah di tengah kesulitan hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan, tolonglah aku untuk percaya bahwa Engkau menyertaiku, bahkan di saat aku tak bisa melihat-Mu bekerja dalam hidupku. Dalam setiap penderitaanku, aku berserah pada tujuan-Mu.
Masa-masa yang menguji iman dapat menjadi masa-masa yang meneguhkan iman.

Sunday, February 5, 2017

Mulailah dari Tempat Kamu Berada

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. —Mazmur 19:2
Mulailah dari Tempat Kamu Berada
Saya pernah melihat setangkai bunga tumbuh di padang rumput—bunga mungil berwarna ungu yang “menyia-nyiakan keindahannya di sahara,” meminjam ungkapan indah dari puisi karya penyair Thomas Gray. Saya rasa tak seorang pun pernah melihat bunga itu, dan mungkin tidak akan ada lagi yang melihatnya. Jika demikian, mengapa keindahan itu tumbuh di sini? pikir saya.
Tidak ada yang sia-sia di alam ini. Setiap hari alam menampilkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan Pribadi yang menciptakannya. Di setiap hari yang baru, alam menceritakan kemuliaan Allah. Apakah saya melihat Allah melalui keindahan itu, ataukah saya hanya melirik dan kemudian mengabaikannya?
Seluruh isi alam memberitakan keindahan dari Pribadi yang menciptakannya. Kita bisa menanggapi dengan menyembah-Nya, mengagungkan-Nya, dan mengucap syukur kepada-Nya—untuk semaraknya bunga, megahnya matahari terbit, atau seimbangnya sebatang pohon.
Penulis C. S. Lewis mengisahkan perjalanannya di tengah hutan pada suatu hari di musim panas. Ia baru saja bertanya kepada temannya bagaimana caranya ia bisa memiliki hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Teman seperjalanannya itu pun berbelok ke sungai terdekat, mencuci wajah dan tangannya di sebuah air terjun kecil, dan bertanya, “Mengapa tidak mulai dengan ini?” Lewis mengatakan bahwa ia belajar prinsip yang baik dari pengalaman itu: “Mulailah dari tempat kamu berada.”
Air terjun yang mengalir, angin sejuk yang bertiup, burung mungil yang terbang, dan kuncup bunga yang indah. Mengapa tidak mulai mengucap syukur dengan setiap keindahan tersebut? —David Roper
Bapa, kiranya kami selalu ingat bahwa Engkau telah menempatkan keindahan di dunia ini karena hal itu mencerminkan karakter-Mu. Terpujilah nama-Mu!
Tuhanlah keindahan di balik semua keindahan. —Steve Dewitt

Saturday, February 4, 2017

Dalam Segala Keadaan

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. —1 Tesalonika 5:18
Dalam Segala Keadaan
Para penghuni di lingkungan kami mengeluhkan pemadaman listrik yang sering sekali terjadi. Listrik dapat padam tiga kali dalam seminggu dan kadang berlangsung hingga 24 jam, sehingga lingkungan perumahan kami sering menjadi gelap gulita. Ketidaknyamanan itu terasa berat ketika kami tidak bisa menggunakan peralatan rumah tangga kami sehari-hari.
Tetangga kami yang Kristen sering bertanya, “Apakah ini juga sesuatu yang patut disyukuri?” Ia merujuk pada 1 Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Kami selalu mengatakan, “Ya, tentu saja, kita bersyukur kepada Allah dalam segala hal.” Namun jawaban kami itu bertolak belakang dengan sikap kami yang bersungut-sungut setiap kali listrik padam.
Namun suatu hari, kami kembali memahami artinya bersyukur kepada Allah dalam segala hal. Sepulang kerja, saya melihat tetangga kami itu menangis sambil gemetar. Ia berkata, “Syukur kepada Tuhan Yesus karena listrik padam. Jika tidak padam, rumahku sudah pasti terbakar habis, dan kami sekeluarga pasti mati!”
Ternyata sebuah truk sampah telah menabrak tiang listrik di depan rumahnya dan memutus kabel listrik bertegangan tinggi sehingga kabel itu menggelantung di atas beberapa rumah. Seandainya ada arus listrik pada kabel bertegangan tinggi itu, peristiwa itu bisa berakibat fatal.
Kesusahan yang kita hadapi bisa membuat kita sulit mengucap syukur kepada Allah. Namun kita dapat bersyukur kepada Allah karena Dia melihat setiap situasi sebagai kesempatan bagi kita untuk mempercayai-Nya, entah kita memahami atau tidak maksud dan rencana-Nya. —Lawrence Darmani
Bapa, kami memuliakan-Mu dengan perkataan kami, tetapi perbuatan kami sering menunjukkan bahwa kami tidak sepenuhnya mempercayai-Mu. Tolong kami untuk melihat-Mu bekerja dalam setiap situasi, sesulit apa pun itu.
Oleh anugerah Allah, kita dapat mengucap syukur dalam segala hal.

Friday, February 3, 2017

Aku Melihatmu

Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku? —Kejadian 16:13
Aku Melihatmu
“Aku melihatmu,” tulis seorang teman dalam sebuah forum di dunia maya bagi para penulis tempat kami saling mendukung dan menguatkan. Di tengah tekanan dan kecemasan yang saya alami, tulisannya memberi saya perasaan lega dan damai. Ia “melihat” saya—segala harapan, ketakutan, pergumulan, impian saya— dan tetap mengasihi saya.
Ketika membaca dorongan sederhana yang diberikan teman saya itu, saya teringat kepada Hagar, seorang budak dalam rumah tangga Abraham. Sudah bertahun-tahun lamanya Sarai dan Abram menantikan keturunan tetapi belum juga menerimanya. Sarai pun mengikuti kebiasaan dalam budaya masa itu dan meminta suaminya untuk mendapatkan keturunan melalui Hagar. Namun saat Hagar mengandung, ia memandang rendah kepada Sarai. Ketika Sarai membalas perlakuannya, Hagar melarikan diri ke padang gurun.
Tuhan melihat Hagar yang sedang menderita dan kebingungan. Lalu Dia memberkati Hagar dengan janji bahwa ia akan menjadi ibu dari bangsa yang besar. Setelah pertemuan tersebut, Hagar menyebut Tuhan sebagai “El Roi” yang artinya “Dia yang telah melihat aku” (Kej. 16:13). Itu karena Hagar tahu bahwa ia tidak sendirian dan diabaikan.
Seperti Hagar dilihat dan dikasihi Tuhan, demikian juga dengan kita. Kita mungkin merasa diabaikan atau ditolak oleh teman atau keluarga. Namun kita tahu bahwa Bapa kita tidak hanya melihat penampilan kita, tetapi juga mengetahui semua perasaan dan ketakutan kita yang tersembunyi. Allah pun mengucapkan firman yang menghibur dan menghidupkan kita kembali. —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, sebagaimana Engkau melihat Hagar dalam keadaannya yang sulit, Engkau juga melihat mereka yang sedang terluka, melarikan diri dari penindasan, dan di bawah bayang-bayang ketakutan. Kirimkanlah pertolongan dan penguatan-Mu kepada mereka.
Penghiburan dan kepastian kita terima ketika kita mengetahui bahwa Allah melihat kita.

Thursday, February 2, 2017

Untuk Acara Apa?

Segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya. —Pengkhotbah 3:14
Untuk Acara Apa?
Wajah Asher yang masih berumur 4 tahun itu terlihat ceria di bawah tudung kaos kesukaannya. Kaos lengan panjang dengan tudung kepala berbentuk buaya itu lengkap dengan rahang bergigi yang terlihat seperti menerkam kepalanya! Ibunya sempat cemas. Mereka sekeluarga hendak berkunjung ke rumah kerabat yang sudah lama tidak mereka temui dan ia ingin memberikan kesan yang baik.
“Sayangku,” kata ibunya, “kaos itu tidak cocok untuk acara kita nanti.”
“Cocok!” ujar Asher dengan ceria.
“Hmm, untuk acara apa?” tanya ibunya. Asher menjawab, “Yah, untuk semuanya!” Akhirnya, ia pun diizinkan ibunya memakai kaos itu.
Anak laki-laki yang ceria itu rupanya sudah memahami kebenaran yang ada di Pengkhotbah 3:12—“Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.” Kitab Pengkhotbah kadang terasa muram dan sering disalah mengerti karena isinya ditulis dari sudut pandang manusia dan bukan Allah. Raja Salomo sebagai penulisnya bertanya, “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?” (ay.9). Namun di sepanjang kitab itu, kita melihat pengharapan di sana-sini. Salomo juga menulis: “Bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (ay.13).
Kita melayani Allah yang memberikan segala sesuatu yang baik untuk kita nikmati. Segala sesuatu yang dilakukan Allah “akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14). Ketika kita mengakui Dia dan taat mengikuti perintah-Nya yang penuh kasih, Dia mengisi hidup kita dengan tujuan, makna, dan sukacita. —Tim Gustafson
Ya Tuhan, tolonglah kami mengalami kembali sukacita sederhana seperti yang dirasakan anak-anak ketika kami menghargai segala pemberian-Mu yang baik.
Tuhan yang menjadikan kamu untuk menjadikan Dia sebagai pusat hidupmu.

Wednesday, February 1, 2017

Dia Selalu Peduli

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. —Mazmur 32:8
Dia Selalu Peduli
Pada saat putri bungsu kami terbang dari Munich ke Barcelona, saya mengakses situs pelacak penerbangan untuk mengikuti perkembangan perjalanan putri kami. Setelah saya memasukkan nomor penerbangannya, layar komputer saya menunjukkan bahwa pesawatnya sudah melewati Austria dan kini sedang menyusuri bagian utara Italia. Dari sana, pesawat akan terbang di atas Laut Tengah, bagian selatan dari French Riviera menuju Spanyol, dan dijadwalkan untuk tiba tepat waktu. Mungkin satu-satunya hal yang tidak saya ketahui hanyalah menu makan siang yang disajikan para pramugari di atas pesawat itu!
Mengapa saya peduli pada keberadaan dan keadaan putri saya? Karena saya mengasihinya. Saya peduli kepada dirinya, apa yang sedang dikerjakannya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya.
Dalam Mazmur 32, Daud mensyukuri betapa ajaibnya pengampunan, tuntunan, dan kepedulian Allah kepada kita. Tidak seperti ayah di bumi, Allah mengetahui setiap detail dari hidup kita dan kebutuhan terdalam dari hati kita. Tuhan berjanji kepada kita, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu” (ay.8).
Apa pun keadaan kita hari ini, kita dapat percaya bahwa Allah selalu hadir dan peduli, karena “orang [yang] percaya kepada Tuhan dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (ay.10). —David McCasland
Bapa Surgawi, terima kasih atas perhatian-Mu yang penuh kasih kepadaku dan tuntunan-Mu bagiku di sepanjang jalan-Mu hari ini.
Kita tidak pernah luput dari perhatian Allah dan tangan kasih-Nya yang memelihara kita.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate