Pages - Menu

Saturday, April 30, 2016

Berbuat yang Benar di Mata Allah

Yoas melakukan apa yang benar . . . seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia. —2 Raja-raja 12:2
Berbuat yang Benar di Mata Allah
“Tukang koboi” adalah istilah yang digunakan oleh banyak pemilik rumah di Inggris bagi para pekerja yang melakukan pekerjaan konstruksi mereka dengan kualitas buruk. Istilah itu biasanya diucapkan dengan rasa takut atau sesal, seringkali karena orang tersebut telah mengalami sendiri hasil pekerjaan yang buruk itu. Tentu saja ada tukang kayu, tukang bangunan, dan tukang batu yang tidak dapat dipercaya pada zaman Alkitab. Akan tetapi, dalam kisah Raja Yoas yang memperbaiki rumah Tuhan, terselip satu baris mengenai kejujuran dari para pengawas dan tukang yang mengerjakan perbaikan itu (2Raj. 12:15).
Namun, Raja Yoas “melakukan apa yang benar di mata Tuhan” (ay.2) hanya selama imam Yoyada mengajarnya. Di 2 Tawarikh 24:17-27, kita melihat bahwa setelah Yoyada meninggal, Yoas pun berpaling dari Tuhan dan tergoda untuk menyembah berhala.
Warisan kebaikan yang bercampur dengan keburukan dari seorang raja yang sempat melakukan apa yang benar, ketika berada di bawah tuntunan rohani seorang imam yang saleh, membuat saya merenung. Warisan apakah yang akan kita tinggalkan kelak? Apakah iman kita akan terus bertumbuh dan berkembang di sepanjang hidup kita, dengan menghasilkan buah-buah yang baik? Ataukah perhatian kita akan teralih oleh hal-hal duniawi dan hati kita berpaling kepada berhala-berhala zaman modern ini, seperti kenyamanan, kekayaan, dan kepentingan diri sendiri? —Amy Boucher Pye
Pelajarilah: Bandingkan bagian ini dengan surat Yesus kepada jemaat di Efesus di Wahyu 2? Bagaimana penerapan dari bagian-bagian Alkitab itu dalam kehidupanmu ?
Untuk menjalani hidup dengan baik dan melakukan yang benar dibutuhkan ketekunan dan tuntunan rohani.

Friday, April 29, 2016

Keharuman Kristus

Bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus. —2 Korintus 2:15
Keharuman Kristus
Dari kelima indra manusia, manakah yang paling kuat dalam membuatmu terkenang akan sesuatu? Bagi saya sudah pasti indra penciuman. Bau dari sejenis minyak pelindung sinar matahari langsung membawa saya teringat pada sebuah pantai di Prancis. Bau makanan ayam mengingatkan saya pada masa kecil saat saya berkunjung ke rumah Nenek. Sekilas saja harum pinus membuat saya membayangkan tentang Natal, dan wewangian dari sebuah merek aftershave (semacam losion yang dipakai setelah bercukur) mengingatkan saya tentang masa remaja putra saya.
Paulus mengingatkan umat Tuhan di Korintus bahwa mereka adalah bau yang harum dari Kristus: “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus” (2 Kor. 2:15). Kemungkinan Paulus sedang mengacu pada pawai kemenangan yang diadakan oleh orang Romawi. Orang Romawi ingin semua orang mengetahui tentang kemenangan mereka, maka mereka membakar dupa pada mezbah sesembahan mereka di berbagai penjuru kota. Bagi yang menang, bau harum itu menyenangkan; tetapi bagi para tawanan bau itu berarti perbudakan atau kematian mereka. Jadi sebagai orang percaya, kita adalah prajurit-prajurit yang menang. Dan ketika Injil Kristus diberitakan, itu menjadi bau yang harum di hadapan Allah.
Sebagai bau yang harum dari Kristus, wewangian apakah yang dibawa orang Kristen ketika mereka berada dalam suatu ruangan? Wewangian itu tidak dapat dibeli dalam sebuah botol atau wadah. Ketika kita menghabiskan banyak waktu dengan seseorang, kita mulai berpikir dan bertindak seperti orang tersebut. Meluangkan banyak waktu dengan Yesus akan menolong kita menyebarkan bau yang harum kepada orang orang di sekitar kita. —Marion Stroud
Ya Tuhan, bentuklah pikiran dan tindakanku sehingga orang-orang dapat merasakan bahwa saya telah hidup dekat dengan-Mu.
Ketika kita berjalan bersama Allah, orang-orang akan melihat dan memperhatikan.

Thursday, April 28, 2016

Kasih yang Ajaib

“Aku mengasihi kamu,” firman Tuhan. —Maleakhi 1:2
Kasih yang Ajaib
Tindakan bersejarah terakhir dalam Perjanjian Lama digambarkan di kitab Ezra dan Nehemia ketika Allah mengizinkan umat Israel kembali dari pengasingan dan menetap kembali di Yerusalem. Kota Daud kembali didiami oleh keluarga-keluarga orang Ibrani, sebuah bait suci yang baru dibangun, dan tembok-temboknya diperbaiki.
Hal itu mengarahkan kita kepada Maleakhi. Nabi Maleakhi kemungkinan besar hidup sezaman dengan Nehemia. Kitabnya menjadi penutup dari Perjanjian Lama. Perhatikan hal pertama yang dikatakannya kepada umat Israel: “‘Aku mengasihi kamu,’ firman Tuhan.” Dan lihatlah tanggapan bangsa itu: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” (1:2).
Menakjubkan, bukan? Kesetiaan Allah telah terbukti di sepanjang perjalanan sejarah mereka, tetapi setelah ratusan tahun Allah terus-menerus memelihara umat pilihan-Nya, baik melalui perkara yang ajaib maupun yang biasa, mereka masih bertanya-tanya tentang bukti dari kasih-Nya. Selanjutnya, Maleakhi mengingatkan umat Israel akan ketidaksetiaan mereka (lihat ay.6-8). Pengalaman panjang mereka menunjukkan pola bahwa pemeliharaan Allah atas mereka akan diikuti dengan ketidakpatuhan, kemudian disusul penghukuman dari Allah.
Waktunya sudah tiba untuk sebuah cara baru—dan segera akan tiba. Sang nabi memberikan petunjuk tentang hal itu di Maleakhi 4:5-6. Sang Mesias akan datang. Akan ada harapan di masa mendatang bagi seorang Juruselamat yang akan menunjukkan kepada kita kasih-Nya dan yang membayar lunas hukuman atas dosa kita sekali untuk selamanya.
Mesias itu sungguh telah datang! Harapan Maleakhi telah menjadi kenyataan di dalam diri Yesus. —Dave Branon
Bapa, terima kasih untuk kisah yang telah Engkau ceritakan di dalam firman-Mu mengenai umat Israel. Cerita itu mengingatkan kami untuk bersyukur atas apa yang telah Engkau lakukan bagi kami. Terima kasih karena kasih-Mu yang begitu ajaib Engkau mengaruniakan Yesus bagi kami.
Barangsiapa percaya kepada Yesus akan mempunyai hidup kekal.

Wednesday, April 27, 2016

Badai di Cakrawala

Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya? —Matius 8:27
Badai di Cakrawala
Putra kami, Josh, adalah seorang penangkap ikan salmon profesional di Kodiak, Alaska. Beberapa waktu lalu, ia mengirimkan kepada saya foto sebuah perahu kecil berjarak beberapa ratus meter di depan perahunya dan sedang bergerak melalui suatu celah yang sempit. Awan badai yang kelihatannya buruk tampak bergulung-gulung di cakrawala. Namun terlihat pelangi, tanda pemeliharaan dan penyertaan Allah yang penuh kasih, membentang dari satu sisi ke sisi lain dari celah tersebut dan melingkupi perahu kecil itu.
Foto tersebut mencerminkan perjalanan kita di bumi ini: Kita sedang berlayar menuju suatu masa depan yang tidak menentu, tetapi kita dilingkupi dengan kesetiaan Allah!
Murid-murid Yesus pernah dikelilingi badai, dan Dia menggunakan pengalaman itu untuk mengajar mereka tentang kuasa dan kesetiaan Allah (Mat. 8:23-27). Kita mencari jawaban atas ketidakpastian hidup ini. Kita menyaksikan masa depan yang semakin dekat dan bertanya-tanya tentang apa yang akan kita alami kelak. Seorang penyair dari kaum Puritan, John Keble, merangkum perasaan tersebut di dalam salah satu puisinya. Ia menatap masa depan yang semakin menjelang, tetapi sembari melakukannya, ia juga “menantikan apa yang hendak Allah lakukan.”
Tua atau muda, kita semua menghadapi masa depan yang tidak menentu. Namun dengarlah penghiburan dari surga: apa pun yang menghadang kita, kasih, dan kebaikan Allah selalu melingkupi kita. Kita pun menanti dan melihat apa yang hendak Allah lakukan! —David Roper
Apa yang perlu kamu percayakan kepada Allah hari ini?
Kita sedang berlayar menuju masa depan yang tak menentu dengan dilingkupi oleh kesetiaan Allah!

Tuesday, April 26, 2016

Agar Kita Mengerti

Segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita. —Roma 15:4
Agar Kita Mengerti
Saya senang mengunjungi museum seperti Galeri Nasional di London dan Galeri Negara Tretyakov di Moskow. Meskipun sebagian besar karya seni di dalamnya sangat mengagumkan, ada juga di antaranya yang membingungkan saya. Saya bisa melihat sesuatu yang tampak seperti percikan warna yang serampangan di atas kanvas dan menyadari bahwa saya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang saya lihat, meskipun pelukisnya adalah ahli di bidangnya.
Kadang-kadang kita merasakan hal yang sama dengan Kitab Suci. Kita bertanya-tanya, Mungkinkah saya bisa mengerti isi Kitab Suci? Dari mana saya harus mulai? Barangkali nasihat Rasul Paulus dapat membantu kita: “Segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4).
Allah telah memberikan Kitab Suci kepada kita untuk mengajar dan menguatkan kita. Dia juga telah mengutus Roh Kudus untuk membantu kita mengerti maksud-maksud-Nya. Yesus berkata bahwa Dia mengutus Roh Kebenaran untuk “memimpin [kita] ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13). Paulus menegaskan hal ini di 1 Korintus 2:12, “Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”
Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat membaca Alkitab dengan penuh keyakinan, karena kita mengetahui bahwa melalui lembaran-lembaran Alkitab, Allah menginginkan kita untuk mengenal Dia dan jalan-jalan-Nya. —Bill Crowder
Bapa, terima kasih untuk Anak-Mu yang telah Kauberikan untuk memulihkan hubungan kami dengan-Mu. Terima kasih untuk Kitab Suci yang Kauberikan sehingga kami bisa lebih mengenal-Mu. Terima kasih untuk Roh-Mu yang Kauberikan untuk membimbing kami kepada kebenaran yang perlu kami ketahui tentang Engkau dan kasih-Mu yang besar.
Bacalah Alkitab untuk mengenal Sang Penulisnya.

Monday, April 25, 2016

Lebih Besar dari Semua Kekacauan

Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku. —2 Samuel 22:29
Lebih Besar dari Semua Kekacauan
Bisa dikatakan bahwa tema utama dari kitab 2 Samuel di Perjanjian Lama adalah “Hidup ini memang kacau!” Membaca kitab itu seperti menyaksikan sebuah serial televisi yang seru dan menegangkan. Sementara Daud berusaha memantapkan kedudukannya sebagai raja di Israel, ia dihadapkan pada tantangan militer, intrik politik, dan pengkhianatan dari sahabat dan anggota keluarganya. Raja Daud sendiri tentu tidak lepas dari kesalahan, seperti yang dinyatakan dengan jelas melalui hubungannya dengan Batsyeba (pasal 11-12).
Namun di penghujung kitab 2 Samuel, kita menemukan nyanyian Daud yang bersyukur kepada Allah atas belas kasihan, kasih setia, dan kelepasan yang diberikan-Nya. “Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku” (22:29).
Dalam banyak kesulitan yang dihadapinya, Daud berpaling kepada Tuhan. “Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok” (ay.30).
Mungkin kita dapat merasakan dan memahami pergumulan-pergumulan Daud karena seperti kita, ia pun jauh dari sempurna. Namun Daud tahu bahwa Allah jauh lebih besar daripada bagian-bagian hidupnya yang paling kacau sekalipun.
Bersama Daud, kita dapat berkata, “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda Tuhan itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (ay.31). “Semua orang” itu termasuk kita!
Hidup ini memang kacau, tetapi Allah jauh lebih besar daripada semua kekacauan itu. —David McCasland
Tuhan, kami tidak dapat membaca tentang kegagalan dan kesulitan orang lain tanpa diingatkan akan kegagalan dan kesulitan kami sendiri. Kami membawa semua itu kepada-Mu, dan memohon pengampunan, serta kuasa-Mu untuk suatu awal yang baru.
Belumlah terlambat untuk memulai suatu awal yang baru bersama Allah.

Sunday, April 24, 2016

Kelegaan bagi yang Tertindas

[Allah akan] memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas. —2 Tesalonika 1:7
Kelegaan bagi yang Tertindas
Salah satu adegan favorit saya dalam karya sastra terdapat di novel yang ditulis oleh Charles Dickens dengan judul yang diambil dari nama tokoh utamanya, David Copperfield. Novel itu mengisahkan tentang seorang bibi yang berani menentang seorang ayah tiri jahat yang telah melecehkan David keponakannya.
Saat David Copperfield muncul di rumah bibinya, si ayah tiri menyusul tidak jauh di belakangnya. Bibi Betsy Trotwood tidak senang melihat kehadiran Tuan Murdstone yang jahat. Bibi Betsy menyebutkan satu per satu kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan Tuan Murdstone dan tidak membiarkannya lolos dari tanggung jawab atas setiap tindakan kejamnya itu. Tuduhan si Bibi begitu keras dan blak-blakan sehingga Tuan Murdstone yang biasanya agresif akhirnya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melalui kekuatan dan kebaikan tokoh Bibi Betsy, David akhirnya menerima keadilan.
Ada Pribadi lain yang juga kuat dan baik, dan suatu hari kelak Dia akan menegakkan keadilan di dunia. Ketika Yesus datang kembali, Dia akan turun dari surga dengan bala tentara malaikat-Nya yang penuh kuasa. Dia akan “memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas,” dan membalas mereka yang telah menindas anak-anak-Nya (2Tes. 1:6-7). Sebelum hari itu tiba, Yesus menghendaki kita tetap berdiri teguh dan memiliki keberanian. Apa pun pergumulan yang harus kita tanggung di dunia ini, keselamatan kita telah terjamin selamanya. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, lindungilah kami dan berikanlah hikmat-Mu melalui Roh Kudus-Mu. Tolong kami untuk bersikap adil dan benar dalam segala sesuatu yang kami lakukan sehingga kami layak mewakili-Mu di tengah dunia ini.
Suatu hari kelak Allah akan menegakkan keadilan-Nya.

Saturday, April 23, 2016

Firman Allah yang Kekal

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. —Matius 24:35
Firman Allah yang Kekal
Di awal Perang Dunia II, serangan bom udara meluluhlantakkan sebagian besar isi kota Warsawa, Polandia. Balok-balok semen, pipa yang meledak, dan pecahan kaca berserakan di seluruh kota tersebut. Namun di pusat kota, sebagian besar dinding dari sebuah bangunan yang sudah rusak masih berdiri dengan kokoh. Itulah kantor pusat British and Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab Britania dan Luar Negeri) di Polandia. Pada dinding yang masih bertahan tersebut tertulis kata-kata berikut: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mat. 24:35).
Yesus membuat pernyataan tersebut untuk membesarkan hati murid-murid-Nya saat mereka bertanya kepada-Nya tentang “tanda kesudahan dunia” (ay.3). Namun firman-Nya juga memberi kita keberanian di tengah kesulitan yang mendera kita hari ini. Di hadapan puing-puing mimpi kita yang kandas, kita masih dapat mempercayai sifat, kedaulatan, dan janji-janji Allah yang tidak dapat tergoncangkan.
Pemazmur menuliskan: “Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, firman-Mu tetap teguh di sorga” (Mzm. 119:89). Namun bukan hanya firman Tuhan, sifat-Nya juga teguh dan kekal. Karena itulah, pemazmur juga dapat mengatakan, “Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan” (ay.90).
Di saat menghadapi beragam pengalaman yang mengecewakan, kita dapat memandangnya dengan kacamata keputusasaan, atau sebaliknya dengan penuh harapan. Karena Allah tidak akan membiarkan kita dalam keadaan tersebut, dengan yakin kita dapat memilih untuk berharap. Firman-Nya yang kekal selama-lamanya meyakinkan kita akan kasih-Nya yang tak pernah berakhir. —Dennis Fisher
Tuhan, terima kasih untuk karunia firman-Mu. Terima kasih untuk kebenaran firman-Mu yang tak lekang oleh waktu, dan untuk bimbingan yang Kauberikan kepada kami melalui firman-Mu. Tolong kami untuk mempercayai dan meyakini semua yang Kau katakan.
Kita dapat mempercayai firman Allah yang tidak pernah berubah.

Friday, April 22, 2016

Roh Kudus Menyampaikan

Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. —Roma 8:26
Roh Kudus Menyampaikan
Hingga beberapa tahun lalu, banyak kampung di pelosok Irlandia tidak memakai nomor rumah atau kode pos. Jika ada tiga orang bernama Patrick Murphy di kampung itu, Patrick Murphy yang paling belakangan tinggal di sana tidak akan menerima suratnya sebelum surat itu diantar terlebih dahulu pada dua warga bernama sama yang sudah lebih awal menetap. “Patrick-Patrick yang lain akan membaca suratnya terlebih dahulu,” kata Patrick Murphy (yang belakangan). “Setelah mencermatinya, mereka akan berkata, ‘Surat ini bukan untuk kami.’” Untuk mengakhiri kebingungan, baru-baru ini pemerintah menerapkan untuk pertama kalinya sistem kode pos yang akan menjamin pengiriman surat sebagaimana mestinya.
Terkadang saat berdoa, kita merasa perlu pertolongan untuk menyampaikan isi hati kita kepada Allah. Kita mungkin tidak tahu kata-kata yang tepat untuk diucapkan atau cara yang benar untuk mengungkapkan kerinduan kita yang terdalam. Paulus berkata di Roma 8 bahwa Roh Kudus menolong dan berdoa untuk kita dengan membawa “keluhan-keluhan” kita yang tidak terucapkan dan menyampaikannya kepada Bapa. “Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (ay.26). Roh Kudus selalu berdoa sesuai dengan kehendak Allah, dan Bapa mengetahui maksud Roh itu.
Yakinlah bahwa Allah mendengarkan saat kita berdoa dan Dia mengetahui kebutuhan kita yang terdalam. —Marvin Williams
Bapa, terima kasih untuk Roh Kudus-Mu yang menolongku di saat aku berdoa. Terima kasih Engkau mendengar doa-doaku dan selalu mengasihiku.
Saat kamu tidak dapat mengungkapkan doamu dengan kata-kata, Allah mendengar seruan hatimu.

Thursday, April 21, 2016

Yesus Menangis

Sengat maut ialah dosa. . . . Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —1 Korintus 15:56-57
Yesus Menangis
Saya sedang asyik membaca sebuah buku ketika seorang teman melongok untuk melihat apa yang sedang saya baca. Seketika itu juga ia terperanjat dan menatap saya dengan ngeri. “Judulnya suram sekali!” katanya. Saya sedang membaca “The Glass Coffin” (Peti Mati Kaca) dari Grimm’s Fairy Tales (Serial Dongeng karya Grimm), dan ia terganggu dengan kata peti mati. Banyak dari kita tidak suka diingatkan tentang kematian kita. Padahal kenyataannya, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya.
Kematian selalu membangkitkan reaksi emosional yang sangat kuat. Di depan kuburan salah seorang sahabat-Nya, Yesus menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ketika Dia melihat Maria, yang belum lama kehilangan saudara laki-lakinya, “masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yoh. 11:33). Ada yang menerjemahkannya seperti ini, “kemarahan yang besar lalu meluap dari dalam hati-Nya.”
Hati Yesus terharu—bahkan marah—tetapi terhadap apa? Sangat mungkin Dia marah terhadap dosa dan akibat yang ditimbulkannya. Allah tidak menciptakan dunia yang dipenuhi penyakit, penderitaan, dan kematian. Namun dosa masuk ke dalam dunia dan mencemari rencana Allah yang indah.
Tuhan menemani kita dalam dukacita kita dan menangis bersama kita dalam kesedihan kita (ay.35). Namun lebih dari itu, Kristus mengalahkan dosa dan kematian dengan mati menggantikan kita dan bangkit dari kematian (1Kor. 15:56-57).
Yesus berjanji, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Sebagai orang percaya, kita menikmati persekutuan dengan Juruselamat kita sekarang, dan kita menantikan kekekalan bersama-Nya di mana kelak tidak akan ada lagi air mata, penderitaan, penyakit, dan kematian. —Poh Fang Chia
Kubur Kristus yang kosong menjadi jaminan kemenangan kita atas maut.

Wednesday, April 20, 2016

Jalan Tuhan

Barang-barang suci yang menjadi tanggung jawab mereka, harus mereka pikul di atas pundak. —Bilangan 7:9 BIS
Jalan Tuhan
Kami sungguh membutuhkan petunjuk dari Allah. Kami diminta mengasuh dua anak kecil untuk sementara waktu selama tiga bulan dan kami harus memberikan keputusan. Karena kami sudah mempunyai tiga anak kandung, menjadi orangtua angkat bagi anak balita tampaknya tidaklah sesuai dengan rencana hidup kami. Kemudian kami membaca renungan karya seorang misionaris veteran, Amy Carmichael, yang mengarahkan kami pada beberapa ayat yang asing di kitab Bilangan pasal ke-7.
“Aku bertanya-tanya bagaimana perasaan bani Kehat?” tulis Amy. “Semua imam yang lain menggunakan pedati untuk membawa bagian-bagian Kemah Suci di padang gurun. Namun bani Kehat harus berjalan susah payah melalui jalan bebatuan dan pasir yang panas membara, dengan memikul ‘barang-barang suci yang menjadi tanggung jawab mereka’. Pernahkah mereka menggerutu dalam hati, karena merasa para imam yang lain mempunyai tugas yang lebih mudah? Mungkin saja! Namun Allah tahu bahwa ada barang-barang yang terlalu berharga untuk dibawa dengan pedati sehingga Dia meminta kita memikul benda-benda tersebut di atas pundak kita.”
Saya dan suami tahu bahwa itulah jawaban kami. Kami sering terpikir untuk mensponsori seorang anak dari sebuah negara miskin, tetapi kami belum juga melakukannya. Melakukan itu tentu lebih mudah, seperti menggunakan pedati tadi. Namun sekarang di rumah kami, ada dua anak yang harus kami pikul “di atas pundak kami” karena mereka begitu berharga bagi Allah.
Allah mempunyai rencana yang berbeda-beda untuk kita masing-masing. Kita mungkin merasa bahwa orang lain mendapat tugas yang lebih mudah atau peran yang lebih mentereng. Namun jika Bapa kita yang penuh kasih telah menetapkan kita untuk melakukan tugas tertentu, pantaskah kita mengatakan, “Aku tak dapat melakukannya, Tuhan”? —Marion Stroud
Allah memakai orang-orang biasa untuk melakukan rencana-rencana-Nya yang luar biasa.

Tuesday, April 19, 2016

Allah yang Melukis

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. —Mazmur 42:3
Allah yang Melukis
Nama Nezahualcoyotl (1402-1472) mungkin sulit untuk diucapkan, tetapi nama itu sarat dengan makna. Nama itu berarti “Anjing Hutan Lapar”, dan tulisan-tulisan karyanya menunjukkan adanya suatu kelaparan rohani. Sebagai seorang penyair dan penguasa di Mexico sebelum kedatangan orang-orang Eropa, ia menulis, “Sesungguhnya para dewa, yang kusembah, adalah berhala-berhala dari batu yang tak bisa bicara dan tak berperasaan. . . . Ada satu Allah yang mahakuasa, tersembunyi, dan tidak dikenal yang merupakan pencipta alam semesta ini. Dialah satu-satunya yang dapat menghiburku dalam kesusahanku dan menolongku ketika hatiku merasakan penderitaan, aku mau Dia menjadi penolong dan pelindung saya.”
Kita tidak tahu apakah Nezahualcoyotl menemukan Allah, Sang Pemberi Kehidupan. Namun selama masa pemerintahannya, ia membangun sebuah piramida bagi “Allah yang melukis segala sesuatu dengan keindahan”, dan ia melarang penyerahan korban manusia di kotanya.
Penulis Mazmur 42 berseru, “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup” (ay.3). Setiap manusia merindukan Allah yang sejati, “seperti rusa yang merindukan sungai yang berair” (ay.2).
Dewasa ini, seperti Nezahualcoyotl, banyak orang yang menyadari bahwa berhala-berhala berupa ketenaran, uang, dan hubungan dengan sesama tidak dapat mengisi kehampaan jiwa mereka. Allah yang hidup telah menyatakan diri-Nya melalui Yesus, satu-satunya Pribadi yang dapat memberikan kita arti dan kepuasan. Ini adalah kabar baik bagi mereka yang haus akan Allah yang melukis segala sesuatu dengan keindahan. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, Engkaulah satu-satunya yang diperlukan jiwaku. Hanya Engkau yang dapat memberikan arti dan kepuasan bagi hidupku. Kepada Engkaulah, hatiku berseru. Aku berharap hanya kepada-Mu.
Di balik segala hasrat kita, ada kerinduan yang mendalam akan Allah.

Monday, April 18, 2016

Taktik yang Tidak Lazim

Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu. —2 Tawarikh 20:12
Taktik yang Tidak Lazim
Pada tahun 1980, seorang wanita naik ke kereta bawah tanah ketika lomba maraton di Boston sedang berlangsung. Masalahnya, wanita itu adalah peserta lomba maraton itu! Ada sejumlah saksi mata yang melihat wanita itu masuk lagi ke dalam perlombaan kurang dari dua kilometer sebelum garis finis. Wanita itu berhasil menyelesaikan lomba jauh lebih cepat daripada para peserta wanita lainnya, dan anehnya, ia tampak tidak terlalu lelah atau banyak berkeringat. Untuk sesaat, wanita itu terlihat sebagai pemenang.
Dalam sebuah peperangan di masa silam, suatu bangsa yang nyaris kalah menemukan cara yang lebih terhormat untuk menang. Ketika pembawa berita memberitahukan kepada Raja Yosafat, “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku,” ia pun menjadi takut (2Taw. 20:2-3). Namun alih-alih mempelajari taktik-taktik peperangan, Yosafat berpaling kepada Allah. Ia mengakui kedaulatan Allah serta ketakutan dan kecemasannya sendiri. “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (ay.12). Lalu raja mengangkat para penyanyi menjadi pemimpin peperangan. yang mereka ucapkan bukanlah seruan perang melainkan puji-pujian tentang kasih setia Allah (ay.21). Hasilnya sungguh mengejutkan. Musuh-musuh mereka saling memerangi dan membunuh di antara mereka sendiri (ay.22-24). Akhirnya, “kerajaan Yosafat amanlah, karena Allahnya mengaruniakan keamanan kepadanya di segala penjuru” (ay.30).
Tantangan yang berat dapat menyergap hidup kita kapan saja. Namun ketakutan dan kebimbangan kita justru memberikan kepada kita kesempatan untuk berpaling kepada Allah yang Mahakuasa. Allah suka berkarya di tengah keadaan yang tidak lazim. —Tim Gustafson
Ya Tuhan, Engkau bukanlah sumber kebingungan atau ketakutan, melainkan sumber kekuatan dan kedamaian. Kami tak ingin panik dan mencari jalan kami sendiri, tetapi kami menginginkan jalan keluar dari-Mu yang ajaib. Kuatkanlah kami selagi kami menantikan-Mu.
Allah kita memang tidak dapat diduga, tetapi selalu dapat diandalkan.

Sunday, April 17, 2016

Langkah Bunglon

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari. —Kisah Para Rasul 2:46
Langkah Bunglon
Ketika kita memikirkan tentang bunglon, mungkin kita terpikir tentang kelihaian bunglon dalam mengubah warna tubuh agar sesuai dengan lingkungannya. Namun bunglon mempunyai ciri lain yang unik. Saya pernah beberapa kali memperhatikan cara jalan bunglon dan sempat bertanya-tanya bagaimana bunglon dapat mencapai tujuannya. Dengan ogah-ogahan, bunglon menjulurkan satu kakinya ke depan, lalu seperti hendak berubah pikiran, kemudian mencoba untuk melangkah lagi, lalu dengan hati-hati menjejakkan kakinya dengan bimbang, seakan-akan takut tanah yang dipijaknya itu akan runtuh. Oleh sebab itu saya tak dapat menahan tawa jika ada orang yang berkata, “Jangan menjadi anggota gereja yang suka berubah pikiran seperti bunglon dengan berkata, ‘Hari ini aku akan ke gereja . . . ah tidak jadi, minggu depan saja . . . ah tidak usahlah, kapan-kapan saja!”
“Rumah Tuhan” di Yerusalem merupakan tempat Raja Daud beribadah, dan Daud sama sekali bukan “bunglon”. Ia justru bersukacita ketika ada yang mengatakan, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan” (Mzm. 122:1). Demikian juga dengan orang-orang percaya dalam jemaat mula-mula. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. . . . Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah” (Kis. 2:42,46).
Alangkah bersukacitanya kita dapat berkumpul dengan saudara seiman lainnya dalam ibadah dan persekutuan. Berdoa dan menyembah Tuhan bersama, mempelajari Kitab Suci bersama, dan memperhatikan satu sama lain adalah hal-hal yang penting bagi pertumbuhan rohani kita dan kesatuan kita sebagai umat Tuhan. —Lawrence Darmani
Baik suka, baik keluh berpadu berserah; segala doa bertemu di takhta rahmat-Nya. John Fawcett (Kidung Jemaat, No. 448)
Beribadah bersama memberikan kekuatan dan sukacita.

Saturday, April 16, 2016

Seperti Biji Mata Tuhan

Siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya. —Zakharia 2:8
Seperti Biji Mata Tuhan
Ketika anak bayinya sedang menderita kejang-kejang, teman saya segera melarikannya ke rumah sakit dengan ambulans. Dengan hati yang berdegup kencang, ia mendoakan bayi perempuannya. Saat teman saya memegangi jari-jari kecil bayinya, kasih sayangnya yang menggebu-gebu pada sang anak telah membawanya teringat bagaimana Tuhan jauh lebih mengasihi kita dan menyebut kita sebagai biji mata-Nya sendiri.
Nabi Zakharia menggunakan ungkapan tersebut dalam perkataan-Nya kepada umat Allah yang telah kembali ke Yerusalem dari pengasingan mereka di Babel. Ia menyerukan agar mereka bertobat, membangun kembali bait Allah, dan hati mereka diperbarui untuk mengasihi Allah yang sejati. Semua itu karena Allah sangat mengasihi umat-Nya; mereka adalah seperti biji mata-Nya sendiri.
Para cendekiawan Yahudi memahami ungkapan yang berasal dari kitab Zakharia pasal ke-2 itu sebagai bayangan seseorang yang tampak pada biji mata orang lain, dengan penggunaan kata “biji” untuk melambangkan suatu objek yang berbentuk bulat. Seperti mata kita begitu berharga dan rapuh sehingga perlu dilindungi, demikianlah Tuhan ingin mengasihi dan melindungi umat-Nya—dengan menjaga kita selalu dekat dengan hati-Nya.
Tuhan yang berdiam di antara kita mencurahkan kasih-Nya kepada kita, bahkan luar biasanya, kasih-Nya itu jauh melebihi kasih seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi anaknya yang sakit. Kita adalah biji mata Allah dan kekasih hati-Nya. —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, begitu besarnya kasih-Mu kepada kami sehingga Engkau mengaruniakan Anak-Mu yang tunggal untuk mati agar kami dapat hidup. Kiranya kami menerima kasih-Mu hari ini dan tinggal di dalamnya.
Kasih orangtua kepada anaknya mencerminkan kasih Allah Bapa kepada kita.

Friday, April 15, 2016

Pengorbanan Agung

Tuhan Yesus Kristus . . . telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita. —Galatia 1:3-4
Pengorbanan Agung
W. T. Stead, wartawan asal Inggris yang hidup di awal abad ke-20, dikenal berpikiran maju dan suka menulis tentang isu-isu sosial yang kontroversial. Ia pernah menulis dua artikel yang membahas tentang bahaya dari kapal-kapal penumpang yang beroperasi dengan jumlah sekoci penolong yang tidak sebanding dengan kapasitas penumpangnya. Ironisnya, Stead berada di atas kapal Titanic ketika kapal itu menabrak gunung es di Atlantik Utara pada tanggal 15 April 1912. Menurut laporan, setelah membantu para wanita dan anak-anak naik ke dalam sekoci, Stead mengorbankan nyawanya dengan membiarkan orang lain memakai pelampungnya dan mengambil tempatnya di sekoci yang ada agar mereka dapat diselamatkan.
Pengorbanan diri memang sangat mengharukan. Tidak ada teladan pengorbanan diri yang lebih besar daripada yang telah diberikan oleh Yesus Kristus. Penulis kitab Ibrani berkata, “Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah. . . . Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibr. 10:12,14). Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus memulai dengan kata-kata yang menggambarkan tentang pengorbanan agung itu: “Tuhan Yesus Kristus . . . telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Gal. 1:3-4).
Penyerahan diri Yesus yang menggantikan kita menjadi bukti kasih-Nya bagi kita. Pengorbanan-Nya yang rela itu masih terus membawa jiwa-jiwa pada keselamatan dan menawarkan kepada manusia jaminan hidup kekal bersama-Nya. —Bill Crowder
Ya Allah yang penuh kasih dan rahmat, tak ada kata-kata yang cukup untuk merangkum keajaiban dari pengorbanan Kristus yang menggantikan kami. Kiranya kasih kami mendorong kami untuk beriman dan menyembah-Mu, karena Anak-Mu yang mati bagi kami itu layak menerima segala pujian.
Yesus menyerahkan nyawa-Nya demi menunjukkan kasih-Nya bagi kita.

Thursday, April 14, 2016

Inilah Harinya

Inilah hari yang dijadikan Tuhan marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! —Mazmur 118:24
Inilah Harinya
Pada tahun 1940, Dr. Virginia Connally, pada usia 27 tahun, dengan berani menghadapi beragam tentangan dan kritik untuk menjadi dokter wanita pertama di Abilene, Texas, Amerika Serikat. Beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-100 pada tahun 2012, Asosiasi Dokter di Texas menganugerahinya Distinguished Service Award, sebuah penghargaan tertinggi bagi para dokter di Texas atas pengabdian mereka yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, Dr. Connally tidak saja berkobar-kobar dalam kerinduan untuk mengabarkan Injil di seluruh dunia melalui banyak perjalanan misi kesehatan yang dilakukannya, tetapi juga dalam pelayanannya kepada Allah dan sesama dari hari ke hari.
Phil Christopher, gembala Dr. Connally, berkata, “Bagi Conally, setiap hari merupakan anugerah.” Ia teringat pada tulisan Dr. Connally dalam suratnya, “Setiap kali aku melakukan tur, perjalanan, dan pelayanan, aku bertanya-tanya apakah ini akan menjadi yang terakhir bagiku? Hanya Tuhan yang tahu. Dan itu sudah cukup bagiku.”
Pemazmur menulis, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm 118:24). Begitu seringnya kita memusatkan perhatian pada kekecewaan di masa lalu atau pada ketidakpastian hari esok, sehingga kita kehilangan anugerah tiada banding yang diberikan Allah bagi kita, yaitu hari ini!
Mengenai perjalanan imannya bersama Kristus, Dr. Connally berkata, “Dalam menjalani kehidupan iman, kita tidak sedang mencari hasil. Aku hanya melakukan apa yang Tuhan tanamkan dalam hidup dan hatiku.”
Inilah hari yang telah dijadikan Tuhan. Marilah kita mensyukurinya dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melayani sesama kita dalam nama-Nya. —David McCasland
Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Biarlah aku menerimanya sebagai anugerah dari-Mu, mensyukuri kesetiaan-Mu, dan hidup sepenuhnya bagi-Mu hari ini.
Sambutlah setiap hari sebagai anugerah dari Allah.

Wednesday, April 13, 2016

Pemeriksaan Hati

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. —Lukas 12:34
Pemeriksaan Hati
Dalam perjalanan menuju Chicago dengan kereta api, saya selalu menaati “norma tak tertulis” yang berlaku—seperti jangan berbicara dengan penumpang di sebelahmu yang tidak kamu kenal. Hal itu sulit bagi orang seperti saya, karena saya suka berbicara dengan orang-orang yang baru saya kenal! Meskipun saya berhasil berdiam diri sepanjang perjalanan, saya menyadari bahwa saya masih bisa belajar sesuatu tentang orang lain berdasarkan bagian surat kabar yang mereka baca. Karena itu, saya suka memperhatikan bagian mana yang pertama-tama mereka baca: Bisniskah? Olahraga? Politik? Berita aktual? Pilihan mereka akan mengungkapkan minat mereka.
Pilihan kita selalu mengungkapkan sesuatu tentang diri kita. Tentu saja, Allah tidak perlu menunggu dan melihat pilihan kita untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Hal-hal yang menyita waktu dan perhatian kitalah yang menyatakannya. Yesus berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk. 12:34). Terlepas dari apa yang kita mau Dia pikirkan tentang kita, kondisi sesungguhnya dari hati kita jelas terlihat dari cara kita menggunakan waktu, uang, dan talenta kita. Jika kita menginvestasikan segala hal yang kita miliki itu pada hal-hal yang dipedulikan Allah, itu mengungkapkan bahwa hati kita memang selaras dengan hati-Nya.
Hati Allah sangat peduli pada kebutuhan umat manusia dan perluasan Kerajaan-Nya. Apa yang akan dikatakan Allah dan orang lain tentang prioritas hatimu ketika mereka melihat pilihan-pilihan hidupmu? —Joe Stowell
Tuhan, aku ingin hatiku selaras dengan hati-Mu. Ampunilah aku yang memberikan hati pada hal-hal yang kurang bernilai, dan ajarlah aku bersukacita dalam menginvestasikan waktuku untuk melayani-Mu. Terima kasih.
Di mana hartamu berada?

Tuesday, April 12, 2016

Menolak Jebakan

Dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. —Kejadian 4:7
Menolak Jebakan
Tanaman Venus Flytrap (Venus Pemakan Serangga) dapat mencerna seekor serangga selama lebih kurang 10 hari. Proses itu dimulai ketika seekor serangga yang tidak menaruh curiga mencium bau nektar pada dedaunan yang menjadi tempat jebakan. Sambil menyelidik, serangga pun merayap ke dalam rahang tanaman, hingga kemudian daun-daun tersebut mengatup dan menjepit dalam waktu setengah detik dan cairan pencernaan tanaman itu pun melarutkan serangga tersebut.
Tanaman pemakan serangga itu mengingatkan saya tentang cara dosa memangsa kita apabila kita terpikat ke dalamnya. Dosa hendak menguasai kita. Di Kejadian 4:7 dikatakan, “Jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau.” Allah mengatakan itu kepada Kain tepat sebelum ia membunuh saudaranya Habel.
Dosa mungkin mencoba untuk memikat kita dengan menawarkan pengalaman baru, dengan meyakinkan kita bahwa hidup benar tidaklah penting, atau dengan memikat indra-indra fisik kita. Namun ada satu cara bagi kita agar dapat berkuasa atas dosa daripada membiarkan dosa menguasai hidup kita. Alkitab mengatakan, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal. 5:16). Ketika kita menghadapi cobaan, kita tidak menghadapinya sendirian. Kita memiliki bantuan ilahi. Dengan mengandalkan Roh Allah, kita menerima kekuatan untuk hidup bagi Dia dan sesama. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, kadangkala aku lengah dan begitu menikmati dosa. Tolonglah aku untuk memperhatikan peringatan-Mu dan menaati firman-Mu. Lindungilah aku dari kecenderungan hatiku sendiri dan jadikanlah aku serupa gambaran-Mu. Terima kasih untuk karya-Mu dalam hidupku.
Kita terjatuh dalam pencobaan ketika kita tidak melarikan diri darinya.

Monday, April 11, 2016

Untuk Siapa Aku Bekerja?

Untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? —Pengkhotbah 4:8
Untuk Siapa Aku Bekerja?
Henry bekerja 70 jam seminggu. Ia mencintai pekerjaannya dan memperoleh penghasilan besar yang dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Ia selalu berencana untuk mengurangi jam kerjanya, tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Suatu malam, ia pulang ke rumah dengan kabar gembira—ia dipromosikan ke posisi tertinggi di perusahaannya. Akan tetapi, tidak seorang pun ada di rumah. Anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan menjalani hidup mereka masing-masing, sementara sang istri sibuk dengan kariernya sendiri. Tidak seorang pun ada di rumah untuk mendengar kabar gembira tersebut.
Salomo berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup dengan pekerjaan kita. Salomo menulis, “Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri” (Pkh. 4:5). Kita tidak ingin bersikap ekstrem dengan bermalas-malasan, tetapi kita juga tidak ingin terjebak hingga menjadi orang yang sangat gila kerja. “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” (ay.6). Dengan kata lain, lebih baik harta yang lebih sedikit, tetapi lebih menikmatinya. Mengorbankan hubungan dengan sesama demi mengejar kesuksesan adalah sikap yang tidak bijaksana. Pencapaian tidak akan bertahan lama, tetapi hubungan dengan sesama itulah yang menjadikan hidup berarti, memuaskan, dan menyenangkan (ay.7-12).
Kita dapat belajar bekerja untuk hidup dan bukan hidup untuk bekerja, dengan memilih untuk membagi-bagi waktu kita dengan bijaksana. Tuhan akan memberi kita hikmat dalam melakukannya, ketika kita mencari dan mempercayai-Nya sebagai Allah Pemelihara hidup kita. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, sadarkanlah aku apabila prioritasku telah menyimpang dan tunjukkan perubahan apa yang perlu kulakukan. Terima kasih untuk keluarga dan teman yang Kau anugerahkan kepadaku.
Bijaklah menggunakan waktu dengan menginvestasikannya pada kekekalan.

Sunday, April 10, 2016

Pengingat yang Manis

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. —Amsal 16:24
Pengingat yang Manis
Saat makam Raja Mesir Tutankhamun ditemukan pada tahun 1922, tempat itu dipenuhi benda-benda yang dipercayai orang Mesir kuno berguna untuk kehidupan setelah kematian. Selain tempat pemujaan dari emas, perhiasan, pakaian, perabot, dan senjata, ada bejana berisi madu yang masih dapat dikonsumsi setelah 3.200 tahun!
Di zaman sekarang, kita beranggapan bahwa madu terutama berguna sebagai pemanis makanan. Namun di zaman kuno, madu memiliki banyak manfaat lain. Madu dikenal sebagai satu-satunya bahan makanan yang memiliki semua unsur gizi yang diperlukan untuk kehidupan, sehingga madu dikonsumsi sebagai makanan. Madu juga berguna untuk kesehatan. Madu adalah salah satu penutup luka yang paling kuno dan ampuh karena mengandung unsur-unsur yang dapat mencegah peradangan.
Ketika menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah berjanji akan menuntun mereka ke “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel. 3:8,17), gambaran tentang kelimpahan. Saat perjalanan mereka harus diperpanjang karena dosa, Allah memberi mereka roti (manna) yang rasanya seperti madu (ay.16:31). Umat Israel bersungut-sungut karena harus makan makanan yang sama untuk jangka waktu yang sangat lama. Namun, kemungkinan itu merupakan cara Allah yang baik untuk mengingatkan mereka tentang apa yang akan mereka nikmati kelak di Tanah Perjanjian.
Allah tetap menggunakan madu untuk mengingatkan kita bahwa kehendak dan firman-Nya jauh lebih manis daripada madu tetesan dari sarang lebah (Mzm. 19:11). Jadi, perkataan kita haruslah juga seperti madu yang kita makan—manis dan membawa pemulihan. —Julie Ackerman Link
Bacalah ayat-ayat yang berbicara tentang penggunaan mulut dan lidah berikut ini: Amsal 12:18; Amsal 13:3; Efesus 4:29; Kolose 3:8. Kebenaran apakah yang Allah ingin kamu terapkan di hidupmu hari ini?
Luangkan waktu untuk menghitung berkat-berkatmu, bukan untuk mengumbar keluh kesahmu.

Saturday, April 9, 2016

Kuatkanlah Hatimu!

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33
Kuatkanlah Hatimu!
Saya suka melihat burung-burung bercengkerama. Jadi beberapa tahun lalu, saya membangun tempat perteduhan kecil di halaman belakang rumah kami untuk memikat mereka. Selama beberapa bulan, saya dapat menikmati pemandangan burung-burung itu makan dan beterbangan. Kesenangan pun berakhir ketika seekor elang cooper mulai memburu burung-burung yang sedang bernaung di tempat perteduhan itu.
Begitu juga dengan kehidupan: Baru saja kita menenangkan diri dan menikmati hidup, tiba-tiba muncul sesuatu atau seseorang yang mengganggu ketenangan kita. Kita pun bertanya-tanya, mengapa sebagian besar hidup ini harus menjadi lembah air mata?
Saya telah mendengar banyak jawaban bagi pertanyaan klasik itu. Namun akhir-akhir ini, ada satu jawaban yang memuaskan saya. George MacDonald dalam Life Essential mengatakan, “Seluruh hajaran yang dialami di dunia ini adalah untuk menjadikan [kita] anak-anak, supaya Allah dapat dinyatakan kepada [kita].” Ketika kita menjadi seperti anak-anak, kita mulai percaya dan bersandar penuh pada kasih Bapa kita di surga, dengan kerinduan untuk terus mengenal-Nya dan menjadi seperti Dia.
Pergumulan dan dukacita mungkin akan terus membebani sepanjang hidup kita, tetapi “[kita] tidak tawar hati. . . . Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi [kita] kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya. . . . Sebab [kita] tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor. 4:16-18).
Dengan akhir yang mulia itu, bagaimana mungkin kita tidak bersukacita? —David Roper
Tuhan, kami dapat bersukacita bahkan di tengah pergumulan kami, karena diri-Mu dan rencana-Mu yang baik bagi kami. Engkau Mahakuasa, Mahakasih, berdaulat, dan kekal adanya. Kami mempercayai-Mu dan mengasihi-Mu.
Sukacita surgawi akan jauh melampaui segala kesulitan di dunia ini.

Friday, April 8, 2016

Dalam Masa Peralihan

Kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. —1 Tesalonika 4:17
Dalam Masa Peralihan
Di Ghana, orang selalu memasang berita duka pada papan iklan atau menempelkannya pada tembok-tembok. Dengan judul seperti Masih Terlalu Muda, atau Mensyukuri Kehidupan, atau Kabar Mengejutkan!, berita duka itu mencantumkan nama mendiang dan rencana waktu penguburan yang akan diadakan. Salah satu judul yang saya baca adalah Dalam Masa Peralihan—judul yang merujuk pada kehidupan setelah kematian.
Ketika seorang kerabat atau sahabat meninggal dunia, kita berduka seperti halnya Maria dan Marta berduka ketika saudara mereka, Lazarus, meninggal dunia (Yoh. 11:17-27). Kita merasa begitu kehilangan sehingga hati kita hancur dan kita pun menangis, sebagaimana Yesus menangisi kepergian sahabat-Nya itu (ay.35).
Namun demikian, justru di masa berduka itu Yesus mengucapkan suatu pernyataan yang indah tentang kehidupan sesudah kematian: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (ay.25-26).
Atas dasar tersebut, kita hanya mengalami perpisahan sementara dengan orang-orang percaya yang sudah tiada. Paulus menekankan bahwa mereka “akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17). Tentu saja, perpisahan itu terasa menyakitkan, tetapi kita dapat meyakini bahwa mereka kini aman di tangan Tuhan.
Dalam Masa Peralihan menyatakan bahwa kita hanya berpindah dari satu keadaan pada keadaan yang lain. Walaupun hidup kita di dunia berakhir, kita akan terus menjalani hidup yang kekal dan lebih baik di kehidupan mendatang bersama Yesus. “Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (ay.18). —Lawrence Darmani
Karena Engkau, ya Yesus, kami memiliki pengharapan dan kepastian akan kehidupan kekal. Kami sungguh bersyukur.
Hanya karena Yesus, kita beroleh hidup kekal.

Thursday, April 7, 2016

Rencana-Nya atau Rencana Kita?

“Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, . . . sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” —1 Tawarikh 17:16
Rencana-Nya atau Rencana Kita?
Ketika suami saya berusia 18 tahun, ia memulai sebuah usaha pencucian mobil. Ia menyewa sebuah garasi, mempekerjakan sejumlah orang untuk membantunya, dan menyebarkan brosur promosi. Usahanya berhasil. Ia bermaksud menjual usaha itu dan menggunakan hasil penjualan tersebut untuk membiayai kuliahnya. Ia pun gembira ketika ada calon pembeli yang menyatakan minatnya. Setelah beberapa kali negosiasi, tampaknya transaksi tersebut akan berjalan mulus. Namun ternyata, di menit-menit terakhir, kesepakatan itu kandas. Rencananya untuk menjual usaha tersebut baru terwujud beberapa bulan kemudian.
Wajar jika kita merasa kecewa ketika waktu dan rancangan Allah bagi kehidupan kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Ketika Daud ingin membangun bait Allah, ia memiliki motivasi yang benar, kepemimpinan yang baik, dan sumber daya yang cukup. Namun Allah tidak mengizinkan Daud untuk mengerjakan proyek tersebut karena Daud telah menumpahkan darah banyak orang di medan peperangan (1Taw. 22:8).
Daud bisa saja mengajukan protes keras kepada Allah. Ia bisa saja bersungut-sungut atau terus maju dengan rencananya sendiri. Namun dengan rendah hati ia justru berkata, “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, . . . sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” (17:16). Kemudian Daud memuji Allah dan menegaskan kesetiaannya kepada Allah. Ia lebih mementingkan hubungannya dengan Allah daripada ambisi pribadinya.
Manakah yang lebih penting—mencapai harapan dan impianmu, atau kasihmu kepada Allah? —Jennifer Benson Schuldt
Bapa Surgawi, aku menyerahkan seluruh rencanaku kepada-Mu. Terima kasih karena Engkau telah membawaku sejauh ini. Engkau lebih berarti bagiku daripada apa pun yang ada di dunia ini.
Kepuasan sejati dialami ketika kita tunduk menyerahkan diri pada kehendak Allah.

Wednesday, April 6, 2016

Salib di Bukit Hollywood

Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. Galatia 6:14
Salib di Bukit Hollywood
Salah satu ikon yang paling dikenali di Amerika Serikat adalah penanda bertuliskan “HOLLYWOOD” yang terdapat di California Selatan. Orang dari seluruh penjuru dunia datang ke kota penuh gemerlap itu untuk melihat cetakan kaki para bintang di atas semen dan berharap dapat berpapasan dengan sejumlah selebriti. Penanda yang menjulang dari kaki bukit dekat kota itu tidak mungkin terlewatkan oleh para pengunjung.
Namun ada simbol lain di bukit Hollywood yang tidak terlalu dikenal, padahal simbol itu memiliki makna kekal. Sebuah salib berukuran hampir 10 meter, yang disebut sebagai Hollywood Pilgrimage Memorial Monument (Monumen Peringatan Peziarah di Hollywood), menjulang tegak menghadap ke arah kota. Salib itu ditempatkan di sana untuk mengenang Christine Wetherill Stevenson, seorang pewaris harta yang pada dekade 1920-an mendirikan Pilgrimage Theater (sekarang menjadi Teater John Anson Ford), tempat pementasan The Pilgrimage Play, sebuah drama tentang Kristus.
Kedua ikon tersebut memperlihatkan kekontrasan yang menarik. Sebaik atau seburuk apa pun sebuah film, nilai hiburan, kontribusi artistik, dan relevansi dari film tersebut tidak akan bertahan lama.
Sebaliknya, salib mengingatkan kita akan sebuah drama yang bersifat kekal. Karya Kristus merupakan kisah tentang Allah Mahakasih yang mencari dan mengundang kita untuk menerima pengampunan total yang ditawarkan-Nya. Drama agung dari kematian Yesus merupakan bagian dari catatan sejarah, sementara kebangkitan-Nya mengalahkan maut dan memberi dampak kekal bagi kita semua. Sungguh, salib Kristus tidak akan pernah kehilangan makna dan kuasanya. —Dennis Fisher
Bapa, terima kasih untuk dampak kekal dari salib Kristus. Tolong kami untuk mengerti dan menghargai kasih yang membuat Anak-Mu rela memikul salib-Nya demi kami.
Untuk mengenal makna yang sejati dari salib, kamu harus mengenal Pribadi yang mati pada salib itu.

Tuesday, April 5, 2016

Jangan Menyerah

Sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. —Yeremia 1:5
Jangan Menyerah
Tahun 1986, John Piper hampir mundur dari jabatannya sebagai gembala dari sebuah gereja besar. Waktu itu, ia menuliskan di jurnalnya: “Aku sangat kecewa, aku merasa begitu hampa. Rasanya ada banyak musuh di sekelilingku.” Namun Piper tidak menyerah, dan Allah memakainya untuk memimpin suatu pelayanan yang kemudian berkembang luas melampaui lingkup gerejanya.
Meski pengertian sukses sering disalahartikan, kita bisa menyebut John Piper sukses. Namun bagaimana jika pelayanannya tidak pernah berkembang?
Allah memberikan panggilan langsung kepada Yeremia. Allah berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yer. 1:5). Allah menguatkan Yeremia agar tidak takut menghadapi musuh-musuhnya, “sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (ay.8).
Di kemudian hari, Yeremia meratapi panggilannya dengan ucapan yang ironis bagi seseorang yang telah dipanggil sebelum dilahirkan. “Sungguh sial aku ini! Untuk apa ibuku melahirkan aku? Dengan setiap orang di negeri ini aku harus bertengkar dan berbantah” (15:10 BIS).
Allah memang melindungi Yeremia, tetapi pelayanannya tidak pernah berkembang. Bangsanya tidak pernah bertobat. Yeremia melihat mereka dibantai, diperbudak, dan tercerai-berai. Namun, meski seumur hidup merasa putus asa dan tertolak, ia tak pernah menyerah. Ia tahu bahwa Allah tidak memanggilnya untuk meraih sukses, melainkan untuk setia. Ia mempercayai Allah yang telah memanggilnya. Ketabahan dari belas kasihan Yeremia menunjukkan kepada kita hati Allah Bapa yang merindukan semua orang berbalik kepada-Nya. —Tim Gustafson
Apakah kamu merasakan adanya panggilan dari Allah? Dalam memenuhi panggilan itu, kapan kamu pernah merasa putus asa? Apa definisi sukses bagimu, dan bagaimana reaksimu saat mengalaminya?
Janganlah menyerah terlalu dini, karena emosi kita bukanlah panduan yang dapat diandalkan. —John Piper

Monday, April 4, 2016

Hikmat dan Anugerah

Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, —yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit. —Yakobus 1:5
Hikmat dan Anugerah
Pada 4 April 1968, tokoh hak asasi Amerika, Dr. Martin Luther King Jr., dibunuh. Jutaan orang pun marah dan kecewa. Di Indianapolis, sekumpulan besar warga keturunan Afrika-Amerika mendengarkan pidato Robert F. Kennedy. Banyak yang belum mendengar kabar kematian Dr. King, maka ia harus menyampaikan berita tragis itu. Ia menghimbau mereka untuk tenang, tidak saja dengan mengakui rasa duka mereka, tetapi juga dukacita yang masih dirasakannya akibat pembunuhan kakaknya, Presiden John F. Kennedy.
Kennedy lalu mengutip variasi dari sepenggal puisi kuno karya Aeschylus (526-456 SM):
Bahkan saat kita terlelap, duka tak terlupa merasuk ke hati, hingga dalam keputusasaan kita dan berlawanan dengan kemauan kita, muncul hikmat melalui kasih karunia Allah yang ajaib.
“Hikmat melalui kasih karunia Allah yang ajaib” adalah pernyataan yang luar biasa. Itu berarti kasih karunia Allah melingkupi kita dengan rasa takjub dan memberi kita kesempatan untuk bertumbuh dalam hikmat di tengah masa-masa tersulit dalam hidup kita.
Yakobus menulis: “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit,—maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak. 1:5). Yakobus berkata bahwa hikmat bertumbuh di ladang pencobaan (ay.2-4), karena melalui pencobaan itulah, kita tidak hanya belajar dari hikmat Allah, tetapi juga bersandar pada kasih karunia-Nya. —Bill Crowder
Ya Bapa, saat menghadapi situasi hidup yang terkadang menakutkan, kiranya kami menemukan kasih karunia-Mu yang ajaib dan menakjubkan. Ajarlah kami di tengah pencobaan dan topanglah saat kami tak berdaya.
Gelapnya pencobaan makin membuat anugerah Allah bersinar terang.

Sunday, April 3, 2016

Pandai Besi dan Sang Raja

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. —Kolose 3:23
Pandai Besi dan Sang Raja
Pada tahun 1878, Alexander Mackay asal Skotlandia tiba sebagai misionaris di daerah yang sekarang dikenal sebagai Uganda. Ia membuka bengkel pandai besi di tengah suku yang dipimpin Raja Mutesa. Penduduk desa yang berkumpul mengelilingi Mackay, yang sedang bekerja dengan tangannya, merasa heran karena budaya mereka menganggap bahwa bekerja adalah urusan wanita. Pada masa itu, kaum pria di Uganda tidak pernah bekerja dengan tangan. Mereka biasa menyerang desa lain untuk menangkap budak yang kemudian dijual kembali. Namun orang asing itu bekerja menempa alat pertanian.
Etos kerja dan hidup Mackay membuatnya diterima oleh warga dan juga sang raja. Mackay kemudian menantang Raja Mutesa untuk mengakhiri praktik perdagangan budak, dan raja pun melakukannya.
Dalam Kitab Suci, kita membaca tentang Bezaleel dan Aholiab, yang telah ditunjuk dan dikaruniai Allah untuk bekerja menggunakan tangan mereka. Keduanya merancang Kemah Pertemuan dan segala perkakas ibadahnya (Kel. 31:1-11). Seperti Mackay, mereka menghormati dan melayani Allah dengan keahlian dan pekerjaan mereka.
Kita cenderung membeda-bedakan pekerjaan kita, entah sebagai pelayanan gereja atau pekerjaan sekuler. Sesungguhnya perbedaan itu tidak ada. Allah menciptakan setiap dari kita secara khusus sehingga kita dapat memberikan kontribusi tersendiri yang berarti bagi kerajaan-Nya. Bahkan ketika kita tidak mempunyai banyak pilihan atas tempat atau bentuk pekerjaan kita, Allah memanggil kita untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi—dan Dia akan menunjukkan kepada kita cara untuk melayani-Nya di mana pun kita ditempatkan-Nya. —Randy Kilgore
Bapa, beriku kepekaan untuk menyadari tempatku dalam pekerjaan-Mu. Tolong aku untuk melihat Engkau berkarya di antara orang-orang dan tempat di mana aku mengisi waktuku sehari-hari.
Allah akan menunjukkan kepada kita cara untuk melayani-Nya di mana pun kita berada.

Saturday, April 2, 2016

Terlalu Dekat

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. —Amsal 3:6
Terlalu Dekat
Saya besar di Oklahoma, Amerika Serikat, di mana cuaca buruk sering terjadi dari awal musim semi sampai akhir musim panas. Saya ingat suatu malam ketika langit dipenuhi kumpulan awan hitam dan pembawa acara prakiraan cuaca di TV memperingatkan akan datangnya badai tornado, tiba-tiba listrik padam. Kami sekeluarga segera menuruni tangga kayu menuju ruang perlindungan bawah tanah di belakang rumah dan tetap tinggal di sana sampai badai berlalu.
Sekarang kegiatan “mengejar badai” telah menjadi hobi dan bisnis yang menguntungkan bagi banyak orang. Tujuan kegiatan tersebut adalah berusaha berada sedekat mungkin dengan pusaran angin puting beliung tanpa mencelakakan diri. Banyak dari pengejar badai itu adalah para ahli peramal cuaca yang dibekali dengan informasi yang akurat. Saya sendiri tidak pernah terpikir untuk ikut-ikutan mengejar badai seperti itu.
Namun dalam lingkup moral dan spiritual dari kehidupan saya, saya bisa dengan bodohnya mengejar hal-hal berbahaya yang diminta Allah untuk saya hindari karena kasih-Nya kepada saya. Saya mengira tidak akan mendapat celaka karena perbuatan saya itu. Saya perlu membaca kitab Amsal, karena di dalamnya terdapat banyak petunjuk positif yang akan menghindarkan saya dari jerat-jerat tersebut.
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri,” tulis Salomo. “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Ams. 3:5-6).
Tuhan adalah pemimpin kita di tengah perjalanan hidup ini. Mengikuti hikmat-Nya akan membawa kita pada hidup yang utuh dan berkelimpahan. —David McCasland
Bapa, hikmat-Mu memimpin kami di sepanjang perjalanan hidup ini. Tolong kami untuk mengikuti pimpinan-Mu hari ini.
Setiap pencobaan merupakan kesempatan untuk mempercayai Allah.

Friday, April 1, 2016

Galeri Keindahan Allah

Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya. —Mazmur 100:5
Galeri Keindahan Allah
Mazmur 100 adalah bagaikan karya seni yang memandu kita dalam memuji Allah yang tidak kasat mata. Meski fokus ibadah kita tidak terlihat, umat-Nya mengakui kehadiran-Nya.
Bayangkan seorang seniman dengan kuas dan paletnya melukiskan kata-kata indah dari mazmur tersebut di atas kanvas. Pada lukisan itu, kita melihat dunia—“seluruh bumi”—bersorak-sorak bagi Tuhan (ay.1). Sukacita—karena menebus kita dari kematian membawa sukacita bagi Allah kita. Demi “sukacita yang disediakan bagi Dia,” Yesus rela menderita di kayu salib (Ibr. 12:2).
Ketika mata kita bergerak menelusuri lukisan tersebut, kita melihat paduan suara dengan anggota yang tidak terhitung banyaknya dari seluruh bumi sedang bernyanyi “dengan sukacita” dan “dengan sorak-sorai” (Mzm. 100:2). Hati Bapa kita di surga pun bersukacita ketika umat-Nya menyembah Dia karena diri dan karya-Nya yang ajaib.
Lalu kita melihat gambaran kita sendiri, dijadikan dari debu tanah oleh tangan Pencipta kita, dan dituntun layaknya kawanan domba ke padang rumput yang hijau (ay.3). Sebagai umat-Nya, kita mempunyai Gembala yang penuh kasih.
Akhirnya, kita melihat tempat kediaman Allah yang megah dan indah—dan melihat pintu gerbang yang akan dilalui umat yang telah diselamatkan-Nya untuk memasuki hadirat-Nya yang tak terlihat, sambil menaikkan puji-pujian dan ucapan syukur (ay.4).
Alangkah luar biasanya pemandangan yang diilhamkan Allah itu. Allah kita itu baik, penuh kasih, dan setia. Layaklah kita selama-lamanya menikmati kebesaran-Nya! —Dave Branon
Bapa Surgawi yang Mahabesar, terima kasih atas kehidupan, sukacita, perlindungan, dan janji hidup kekal bersama-Mu selamanya. Tolonglah kami untuk menjalani hidup dengan selalu mengingat kebesaran-Mu di dalam hati dan pikiran kami.
Tiada yang lebih mengagumkan selain mengenal Allah.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate