Pages - Menu

Saturday, November 28, 2020

Singkatnya Hidup

 

Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. —Mazmur 139:16

Singkatnya Hidup

Saya, ibu, dan saudara-saudara perempuan saya sedang menunggui ayah kami di sisi tempat tidurnya ketika napasnya semakin lama semakin pendek dan jarang—sampai akhirnya berhenti. Ayah berpulang ke pangkuan Bapa hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-89. Kepergiannya meninggalkan suatu ruang kosong di dalam hati kami yang pernah ia tempati, dan sekarang hanya diisi dengan kenangan indah yang mengingatkan kami pada dirinya. Namun, kami memiliki pengharapan bahwa suatu hari kami akan bertemu kembali. Kami memiliki pengharapan itu karena kami yakin Ayah sudah bersama Allah yang mengenal dan mengasihinya. Ketika Ayah bernapas untuk pertama kalinya, Allah ada di sana, mengembuskan napas ke dalam paru-parunya (Yes. 42:5). Namun, bahkan sebelum Ayah bernapas, Allah sudah berkarya merajut setiap detail hidupnya, sebagaimana Dia juga berkarya dalam hidup kamu dan saya. Dialah yang secara ajaib merancang dan “menenun” Ayah dalam kandungan ibunya (Mzm. 139:13-14). Kemudian, ketika ia mengembuskan napasnya yang terakhir, Roh Allah ada di sana, menggenggamnya dengan penuh kasih dan membawanya kembali bersama-Nya (ay.7-10). Hal yang sama berlaku juga bagi semua anak Allah. Setiap saat dari hidup kita yang singkat di dunia ini diketahui oleh-Nya (ay.1-4). Kita sungguh berharga di mata-Nya. Dengan setiap hari yang tersisa dari kehidupan kita dan dalam penantian akan kehidupan yang mendatang, marilah bersama “segala yang bernafas” kita memuji Tuhan. “Haleluya!” (150:6).—Alyson Kieda

WAWASAN
Saat menanggapi ancaman dari para musuh yang ingin membunuhnya (Mazmur 139:19-22), Daud mengalihkan pikirannya kepada Allah dan merenungkan tentang diri-Nya. Sang pemazmur begitu terkagum-kagum oleh kemahatahuan Allah—pengetahuan-Nya tentang keseluruhan dirinya (ay.1-6). Ia diyakinkan oleh kemahahadiran Allah—bahwa Dia selalu ada dan tidak akan meninggalkannya (ay.7-12). Ia pun terpukau oleh kemahakuasaan-Nya—Dialah Sang Pencipta, pemegang segala kuasa yang menciptakannya (ay.13-18). Daud berkata-kata mengenai Allah yang selalu ada untuk membimbing, memelihara, dan melindunginya. Tidak ada tempat yang luput dari kehadiran dan pemeliharaan Allah yang ajaib (ay.7-12). Karena itu, ia bertekad untuk menjalani hidup yang tidak serong (ay.23-24), karena “segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13). —K.T. Sim

Apakah kamu merasa mendapatkan pengharapan saat mengetahui Allah berkarya secara detail dalam hidupmu? Bagaimana kamu dapat memakai napasmu untuk selalu memuji Dia?

Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau telah menciptakan aku dan memberiku napas kehidupan—bahkan memberiku pengharapan. Dalam kedukaan dan kehilangan yang kualami dalam hidup ini, tolonglah aku untuk terus berharap kepada-Mu.

Friday, November 27, 2020

Menghadapi Pertempuran

 

Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! —1 Tawarikh 16:11

Menghadapi Pertempuran

Belum lama ini saya bertemu dengan beberapa teman, dan lewat obrolan kami, saya menduga masing-masing dari kami sedang menghadapi pertempuran berat. Dua dari kami memiliki orangtua yang sedang berjuang melawan penyakit kanker, ada satu yang anaknya mengidap penyakit gangguan makan, seorang teman menderita sakit kronis, dan seorang yang lain sedang menghadapi operasi besar. Sungguh tidak mudah bagi kami yang berusia antara tiga puluhan hingga empat puluhan. 1 Tawarikh 16 menceritakan suatu momen penting dalam sejarah Israel ketika Tabut Perjanjian dibawa ke kota Daud (Yerusalem). Samuel menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada masa damai ketika tidak ada pertempuran (2 Sam. 7:1). Ketika tabut itu sudah berada di tempatnya, sebagai lambang kehadiran Allah, Daud memimpin rakyatnya untuk menyanyikan syukur (1 Taw. 16:8-36). Bersama-sama, bangsa itu bernyanyi tentang kuasa Allah yang ajaib, janji-Nya yang selalu ditepati, dan perlindungan-Nya di masa lalu (ay.12-22). “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya,” mereka berseru; “carilah wajah-Nya selalu!” (ay.11). Mereka perlu melakukannya, karena masih ada banyak pertempuran yang akan datang. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya. Carilah wajah-Nya selalu. Ini nasihat yang patut kita ikuti di saat kita menghadapi penyakit, masalah keluarga, dan pertempuran-pertempuran lainnya, karena kita tidak pernah dibiarkan bertarung sendirian dengan kekuatan kita yang terbatas. Allah hadir dan Dia kuat; Dia yang telah menjaga kita di masa lalu, Dia pasti akan melakukannya lagi. Allah akan membawa kita kepada kemenangan.—SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Sebuah momen pribadi menodai kegembiraan Daud dalam menyambut datangnya tabut Allah ke Yerusalem. Istrinya, Mikhal, mengatakan kepada Daud bahwa ia malu melihat Daud menari-nari di jalanan Yerusalem (1 Tawarikh 15:29; 2 Samuel 6:16-23). Mikhal mungkin berbicara karena didorong rasa sakit hatinya. Dia adalah anak perempuan dari seorang raja yang memberikannya kepada Daud dengan niat membunuh Daud (1 Samuel 18:20-28). Kemudian Saul memberikan Mikhal sebagai hadiah kepada seorang temannya (25:44)—lalu direbut kembali oleh Daud ketika ia naik takhta (2 Samuel 3:13-16). Dengan terbunuhnya ayah dan saudara-saudara lelakinya dalam peperangan (1 Tawarikh 10), sosok Mikhal menjadi kenangan tentang jejak sang ayah yang penuh persoalan (2 Samuel 6:23). —Mart DeHaan

Pertempuran apa yang menuntutmu memakai kekuatan Allah untuk menghadapinya? Bagaimana kamu dapat menyerahkan pergumulanmu kepada-Nya saat ini?

Ya Allah yang ajaib, aku menyerahkan pertempuran di hadapanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya pada kekuatan dan janji-Mu.

Thursday, November 26, 2020

Bersyukur Selalu

 

Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! —Yesaya 12:4

Bersyukur Selalu

Pada abad ke-17, Martin Rinkart melayani sebagai rohaniwan di Saxony, Jerman, selama lebih dari tiga puluh tahun semasa perang dan wabah merebak. Dalam satu tahun, ia memakamkan lebih dari 4.000 orang, termasuk istrinya sendiri, dan adakalanya makanan sangat sulit didapat sehingga keluarganya harus menahan lapar. Meski ia dapat memilih berputus asa dalam kondisi seperti itu, imannya kepada Allah tetap kuat, bahkan ia selalu mengucap syukur. Ia pun mencurahkan rasa syukurnya dengan menulis sebuah lagu berjudul “Nun danket Alle Gott,” atau “Sekarang B’ri Syukur” (judul dalam Kidung Jemaat No. 287), yang kemudian menjadi himne yang terkenal dan disukai banyak orang. Rinkart meneladani Nabi Yesaya, yang memerintahkan umat Allah untuk bersyukur setiap saat, termasuk ketika mereka telah mengecewakan Dia (Yes. 12:1) atau ketika musuh menindas mereka. Pada saat itu pun mereka harus memashyurkan nama Allah, “[memberitahukan] perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (ay.4). Kita mungkin dapat bersyukur dengan mudah dalam masa-masa kelimpahan seperti pada hari raya Thanksgiving, ketika kita menikmati makanan yang enak dan berlimpah bersama kerabat dan sahabat. Akan tetapi, masihkah kita mengucap syukur kepada Allah di masa-masa sulit, seperti ketika kita kehilangan orang yang kita cintai, atau berada dalam krisis keuangan, atau sedang bertikai dengan seseorang yang dekat dengan kita? Marilah kita meneladani Rinkart, dengan menyatukan hati dan suara kita untuk menaikkan pujian dan syukur kepada “Sang Bapa, Anak, Roh di takhta mahatinggi”. Mari, “bermazmurlah bagi Tuhan, sebab perbuatan-Nya mulia!” (ay.5).—AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Keselamatan—sebuah istilah yang digunakan untuk menyatakan pertolongan, kelepasan, dan kemenangan—adalah tema besar dalam Perjanjian Lama dan Baru. Meskipun istilah ini banyak sekali digunakan dalam kitab Yesaya (bentuk kata bendanya muncul lebih dari dua puluh lima kali), istilah ini pertama kali digunakan secara eksplisit dalam 12:2-3. Akar dari kata yang diterjemahkan sebagai “keselamatan” dalam ayat-ayat ini adalah kata yang paling penting untuk menggambarkan keselamatan dalam Perjanjian Lama. Itulah kata kerja yaw-shah’, yang berarti “kebebasan dari sesuatu yang mengikat atau membatasi; . . . untuk melepaskan, membebaskan, dan melegakan.” Keselamatan juga merupakan kata favorit sang pemazmur (digunakan kira-kira empat puluh kali) termasuk ayat-ayat seperti “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mazmur 27:1). Yunus mengatakan, “Keselamatan adalah dari TUHAN” (Yunus 2:9). Nama Yosua berasal dari kata ini dan berarti, “Tuhan menyelamatkan.” Nama Yesus (Matius 1:21) adalah kata Yosua dalam bahasa Yunani. —Arthur Jackson

Di masa-masa sulit, bagaimana kamu dapat terus bersyukur dan memuji Allah? Apa peran Allah lewat Roh Kudus-Nya dalam pujianmu?

Allah Bapa, aku bersyukur atas karya-Mu yang ajaib dalam hidupku. Kau mengasihiku tanpa batas, lebih dari yang dapat kuungkapkan.

Wednesday, November 25, 2020

Setiap Orang dan Siapa Saja

 

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. —Roma 10:13

Setiap Orang dan Siapa Saja

Negara El Salvador menghormati Yesus dengan mendirikan patung Kristus di pusat ibu kota San Salvador. Meskipun monumen tersebut berdiri di tengah-tengah bundaran lalu lintas yang ramai, posisinya yang tinggi membuatnya mudah terlihat, dan namanya—Juruselamat Dunia yang Ilahi—hendak menyatakan penghormatan terhadap status supernatural-Nya. Nama monumen tersebut menegaskan apa yang Alkitab katakan tentang Yesus dalam 1 Yohanes 4:14. Dialah yang menawarkan keselamatan bagi semua orang. Yesus Kristus melintasi batasan budaya dan menerima siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mengenal Dia, tak peduli usia, pendidikan, suku, dosa masa lalu, atau status sosialnya. Rasul Paulus melayani dari satu tempat ke tempat lain pada masanya untuk mengabarkan tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus kepada semua orang. Ia membagikan kabar baik ini kepada para pemimpin politik dan agama, tentara, orang Yahudi, non-Yahudi, pria, wanita, dan anak-anak. Paulus menjelaskan bahwa seseorang bisa memulai hubungannya dengan Kristus jika ia mengaku bahwa “Yesus adalah Tuhan” dan percaya bahwa “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm. 10:9). Ia berkata, “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan. . . . Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (ay.11,13). Yesus bukanlah sosok yang jauh di sana untuk dihormati, melainkan Tuhan yang dapat berhubungan secara pribadi dengan kita. Untuk itu, kita harus datang kepada-Nya melalui iman. Kiranya kamu dapat melihat betapa berharganya keselamatan yang Dia tawarkan dan mau membuka diri untuk masuk ke dalam hubungan rohani dengan-Nya hari ini.—JENNIFER BENSON SCHULDT

WAWASAN
Dalam Roma 10:5-15, Paulus mengutip berbagai referensi dari Taurat (kelima kitab pertama dalam Kitab Suci). Namun, di ayat 11 dan 13, ia mengutip dari Yesaya 28:16 dan Yoel 2:32. Ketika ia mengutip Yesaya, ia mengutip dari Septuaginta—terjemahan Yunani dari Kitab Suci Ibrani. Inilah mengapa kedua kutipan tersebut tidak persis sama: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan” (Roma 10:11) dan “Siapa yang percaya, tidak akan gelisah” (Yesaya 28:16). Dalam mengutip Yoel, Paulus menggunakan istilah Perjanjian Lama, Yahweh (Tuhan), untuk menyebut Yesus. Sangat jelas bahwa Paulus sedang mengajarkan para pembacanya bahwa Kristus adalah Tuhan. —Tim Gustafson

Bagaimana kamu bisa semakin dekat dengan Yesus hari ini? Maukah kamu mengikuti cara Paulus yang berbagi kabar baik tentang Yesus kepada setiap orang dan siapa saja?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengasihi semua orang dan menawarkan hidup kekal kepada siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mengenal-Mu. Hari ini, mampukanlah aku menjadi wakil-Mu yang baik di dunia.

Tuesday, November 24, 2020

Belajar Dari Kalkun

 

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. —Matius 6:26

Belajar Dari Kalkun

Saya baru saja kembali dari kegiatan akhir pekan di sebuah pondok di gunung. Selama di sana, setiap hari saya mengagumi sekawanan kalkun yang berjalan berbaris melewati teras kami. Saya tidak pernah memperhatikan kalkun sebelumnya. Mereka mengais-ngais tanah dengan cakarnya yang besar dan kokoh. Lalu mereka berburu dan mematuk-matuki tanah. Untuk makan, rasanya. (Saya tidak begitu yakin karena itu pertama kalinya saya mengamati kalkun.) Tumbuh-tumbuhan di kawasan itu terlihat gersang dan tidak dapat menjadi bahan pangan. Namun, selusin kalkun itu terlihat gemuk dan sehat. Melihat kalkun-kalkun yang cukup makan itu, saya teringat pada perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 6:26: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Yesus menggunakan karya pemeliharaan Allah terhadap burung-burung yang kelihatannya tidak berharga itu untuk mengingatkan kita pada pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Jika hidup seekor burung saja berharga di mata-Nya, betapa lebih berharganya kita bagi Dia? Kemudian Yesus membandingkan kekhawatiran kita atas kebutuhan hidup sehari-hari (ay.27-31) dengan hidup yang mendahulukan “Kerajaan Allah dan kebenarannya” (ay.33), yaitu hidup yang meyakini pemeliharaan-Nya yang berlimpah atas segala kebutuhan kita. Jika Allah dapat memelihara hidup sekawanan kalkun liar, Dia pasti juga dapat memelihara hidupmu dan saya.—Adam R. Holz

WAWASAN
Matius 6:25-34 mendorong kita untuk tidak khawatir mengenai makanan dan pakaian, dua kebutuhan dasar setiap manusia untuk bertahan hidup. Tentu tidak hanya kedua hal ini yang kita khawatirkan. Perasaan khawatir mengalihkan perhatian orang percaya dari pengabdian yang penuh kepada Tuhan. Ayat 32 mengatakan bahwa “semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” “Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” kemungkinan besar merujuk kepada mereka yang berada di luar komunitas umat Tuhan. Konteks ayat 33 mengindikasikan bahwa kekhawatiran akan hilang ketika kita berfokus pada Kerajaan Allah. Ketika kita memenuhi pikiran kita dengan hal-hal tentang Allah, kita dapat menjauhi kekhawatiran sambil mengingat bahwa Dia pasti akan memelihara kita. —Julie Schwab

Pernahkah kamu mengalami pemeliharaan Allah atas sesuatu yang kamu khawatirkan? Bagaimana mengingat pemeliharaan Allah di masa lalu membantu kita tidak mengkhawatirkan masa depan?

Ya Bapa, terkadang aku takut, khawatir, dan sulit untuk percaya. Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu atas hidupku. Tolonglah aku mengingat bahwa Engkau telah menyediakan kebutuhanku di masa lalu supaya aku dapat mempercayakan masa depanku kepada-Mu.

Monday, November 23, 2020

Tempat Untuk Saya

 

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. —Markus 3:13

Tempat Untuk Saya

Lelaki tua itu seorang veteran tentara yang berwatak keras dan bermulut pedas. Suatu hari, seorang teman yang peduli kepadanya bertanya tentang keyakinannya. Jawab lelaki tua itu dengan nada ketus: “Tuhan tidak punya tempat untuk orang seperti aku.” Mungkin itu hanya salah satu topeng “jagoan” yang ia tampilkan, tetapi apa yang ia katakan sama sekali tidak benar! Allah menyediakan tempat terutama bagi orang-orang kasar, mereka yang dibelenggu rasa bersalah, dan kaum yang terpinggirkan supaya mereka tumbuh dan berkembang dalam komunitas-Nya. Hal ini jelas terlihat sejak awal pelayanan Yesus, ketika Dia memilih orang-orang yang tidak terduga untuk menjadi murid-murid-Nya. Pertama, Dia memilih beberapa nelayan dari Galilea—orang-orang dari kalangan miskin pada masa itu. Dia juga memilih seorang pemungut cukai, Matius, yang bekerja memeras orang-orang sebangsanya. Lebih dari itu, Dia juga memanggil Simon orang Zelot (Mrk. 3:18). Kita tidak tahu banyak tentang Simon yang ini (yang pasti bukan Simon Petrus), tetapi kita tahu sedikit tentang orang Zelot. Mereka membenci para pengkhianat seperti Matius, yang menjadi kaya karena bekerja untuk pemerintah Romawi yang menjajah tanah Israel. Namun ironisnya, Yesus justru memilih Simon dan Matius yang sangat bertolak belakang, menyatukan mereka, dan menjadikan mereka bagian dari kelompok-Nya. Tidak ada orang yang “terlalu buruk” bagi Yesus. Lagipula Dia berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:32). Dia memiliki banyak tempat untuk orang-orang yang sulit diatur—orang-orang seperti kamu dan saya.—Tim Gustafson

WAWASAN
Yesus mendoakan dan secara khusus memilih dua belas orang yang Ia sebut rasul (Lukas 6:12-18) untuk dua tujuan spesifik: untuk “menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3:14). Kata Yunani apĆ³stolos berarti “seorang yang diutus, seorang duta.” Kitab-kitab Injil menceritakan kisah-kisah perubahan sebagian dari mereka: Simon Petrus dan Andreas (anak-anak Yohanes) serta Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus) dahulu bekerja sebagai nelayan (Matius 4:18-22; Markus 1:16-20; Lukas 5:1-11; Yohanes 1:35-42). Filipus dan Natanael (para ahli mengatakan bahwa Natanael adalah orang yang sama dengan Bartolomeus), berasal dari kota perikanan Betsaida dan kemungkinan besar juga nelayan (Yohanes 1:43-51). Matius [Lewi] adalah bekas pemungut cukai dari Kapernaum (Markus 2:1,14; Lukas 5:27-28). Kita tidak mengetahui kisah perubahan hidup rasul-rasul lainnya: Tomas (Yohanes 20:24-25); Yakobus anak Alfeus (Markus 3:18); Tadeus (para sarjana menyamakannya dengan Yudas anak Yakobus, 3:18; Lukas 6:16); Simon orang Zelot (Lukas 6:15; Kisah Para Rasul 1:13); dan Yudas Iskariot, anak Simon, yang mengkhianati Yesus (Yohanes 6:71). —K.T. Sim

Adakah kenalanmu yang kamu rasa sulit untuk menyerahkan hidupnya kepada Yesus? Bagaimana kamu dapat mengajaknya untuk mengenal Kristus dan mengikut Dia?

Ya Bapa, terima kasih karena keselamatan dari-Mu tersedia bagi siapa saja yang percaya kepada Yesus Kristus.

Sunday, November 22, 2020

Tangan yang Terbuka dan Murah Hati

 

[Jadilah] murah hati dan suka memberi. — 1 Timotius 6:18 BIS

Tangan yang Terbuka dan Murah Hati

Ketika mobil lama Vicki mogok dan tidak bisa diperbaiki lagi, ia mulai mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru. Suatu hari, Chris, seorang pelanggan di restoran tempat Vicki bekerja, mendengar kebutuhannya itu. “Saya terus memikirkannya,” kata Chris. “dan saya [harus] melakukan sesuatu.” Akhirnya ia membeli mobil bekas milik anak lelakinya (yang baru saja mengiklankan mobilnya untuk dijual), memolesnya supaya terlihat lebih indah, lalu memberikan kuncinya kepada Vicki. Vicki sangat terkejut. “Orang mana . . . yang berbuat begitu?” katanya dengan perasaan takjub dan bersyukur. Firman Tuhan mendorong kita untuk hidup dengan tangan terbuka—memberikan apa yang bisa kita berikan dengan tulus hati dan menyediakan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Rasul Paulus berkata, “Peringatkanlah [orang-orang kaya] agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan” (1 Tim. 6:18). Kita tidak hanya sekadar berbuat baik di sana-sini, tetapi benar-benar memiliki gaya hidup yang suka memberi dengan tulus. Bermurah hati haruslah menjadi sesuatu yang normal dalam hidup kita. “[Jadilah] murah hati dan suka memberi,” demikian perintah Kitab Suci (ay.18 BIS). Ketika kita hidup dengan tangan yang terbuka dan murah hati, kita tidak perlu takut berkekurangan. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa dalam kemurahan hati yang didasari rasa belas kasihan, kita akan “mencapai hidup yang sebenarnya” (ay.19). Hidup sejati di dalam Tuhan berarti kita tidak menggenggam milik kita terlalu erat tetapi rela memberikannya kepada sesama kita yang membutuhkan dengan tulus hati. —Winn Collier

WAWASAN
Dalam 1 Timotius dan di sepanjang Alkitab, umat Allah didorong untuk suka memberi (6:18). Ketika kita melakukannya, kita akan diberkati. Ulangan 15:10 mengatakan, “Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita . . . , sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.” Dalam Amsal kita membaca, “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (22:9). Mengapa memberi? Karena Allah “dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1 Timotius 6:17). Yakobus juga berkata, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17). Rasul Paulus, yang juga menuliskan surat-surat ini kepada Timotius, menawarkan pedoman untuk memberi: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7). —Alyson Kieda

Pernahkah kamu merasa sulit berbagi? Bagaimana kemurahan hati Allah mendorongmu untuk memberi dengan lebih tulus?

Aku tidak ingin menggenggam erat-erat apa yang kupunya, ya Allah. Aku ingin menjadi murah hati, seperti Engkau. Ubahlah hatiku dan tolong aku agar dapat memberi dengan tulus.

Saturday, November 21, 2020

Alat Pendamaian

 

Buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. —Yakobus 3:18

Alat Pendamaian

Ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, negarawan Inggris Sir Edward Grey menyatakan, “Lampu-lampu mati di seluruh Eropa; kita tidak akan melihatnya menyala lagi dalam masa hidup kita.” Grey benar. Ketika “perang untuk mengakhiri semua perang” itu akhirnya usai, sekitar 20 juta orang telah tewas (10 juta di antaranya warga sipil) dan 21 juta lainnya terluka. Meski tidak dalam skala atau ukuran yang sama, kehancuran juga dapat terjadi dalam kehidupan pribadi kita. Rumah, tempat kerja, gereja, atau lingkungan kita juga dapat diselimuti oleh suramnya pertikaian. Inilah salah satu alasan Allah memanggil kita untuk memberi pengaruh di dunia ini. Namun, untuk melakukannya, kita harus mengandalkan hikmat-Nya. Rasul Yakobus menulis, “Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yak. 3:17-18). Peran pembawa damai menjadi penting karena apa yang dihasilkannya. Kata kebenaran mempunyai arti “kedudukan yang benar” atau “hubungan yang benar.” Seorang pembawa damai dapat menolong memulihkan hubungan. Tidak heran Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Dengan mengandalkan hikmat-Nya, anak-anak Allah dapat menjadi alat pendamaian-Nya di mana pun perdamaian itu dibutuhkan.—BILL CROWDER

WAWASAN
Yakobus 3 menunjukkan mengapa kitab ini disebut “Amsal dari Perjanjian Baru.” Misalnya, kedua kitab tersebut sama-sama membahas tema tentang perkataan dan hikmat. Yakobus 3:5-12 menggambarkan kekuatan lidah dan potensinya yang bisa merusak (lihat Amsal 10:19-20,31; 15:2,4). Yakobus 3:13-18 mengarahkan perhatian para pembaca kepada hikmat dan masalah hati: “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran” (ay.14). Ciri-ciri “hikmat” dari dunia atau setan-setan yang disebuat dalam ayat 15-16—sikap iri hati, mementingkan diri sendiri, kekacauan, dan perbuatan jahat—dikontraskan dengan kualitas luhur yang dimiliki hikmat sejati dari Allah, yakni murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak, dan tidak berpura-pura (ay.17). Pentingnya hikmat juga dapat dilihat dalam Amsal 1:7; 3:13-18; 4:6-7; 14:8; dan 29:11. —Arthur Jackson

Dalam konflik pribadi seperti apa kamu membutuhkan hikmat Allah untuk menyelesaikannya? Bagaimana damai Allah dapat menolongmu menjadi pembawa damai ketika orang-orang di sekitarmu memilih untuk bertikai?

Ya Bapa, terang-Mu dapat menembus kegelapan yang terkelam dan damai-Mu sanggup menenangkan hati yang paling kalut. Tolonglah aku untuk mengenal hikmat dan damai-Mu serta membawanya kepada orang lain dalam pergumulan mereka juga.

Friday, November 20, 2020

Menyelesaikan Konflik

 

Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. —Efesus 4:26

Menyelesaikan Konflik

Dalam penghormatan terakhirnya pada penguburan Hendrik A. Lorentz, seorang ilmuwan Belanda yang terkenal, Albert Einstein sama sekali tidak menyebut tentang perdebatan ilmiah di antara mereka. Ia justru mengenang Lorentz, seorang fisikawan yang dikenal ramah dan selalu memperlakukan orang lain dengan adil, sebagai pribadi yang “sangat baik hati.” Einstein berkata, “Semua orang dengan senang hati mengikutinya, karena mereka merasa ia tidak pernah ingin mendominasi tetapi hanya ingin berguna bagi orang lain.” Lorentz menginspirasi para ilmuwan untuk mengesampingkan prasangka politik dan bekerja sama, terutama setelah Perang Dunia I. “Bahkan sebelum perang usai,” kata Einstein tentang rekannya sesama peraih Anugerah Nobel itu, “[Lorentz] mengabdikan dirinya dalam upaya rekonsiliasi.” Upaya melakukan rekonsiliasi sepatutnya juga menjadi tujuan semua orang di gereja. Memang adakalanya konflik tidak bisa dihindari. Namun, kita harus melakukan bagian kita untuk mengupayakan terciptanya perdamaian. Paulus menulis, “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef. 4:26). Agar dapat bertumbuh bersama, sang rasul menasihati, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (ay.29). Akhirnya, Paulus berkata, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (ay.31-32). Menghindari konflik selagi kita bisa akan menolong gereja Allah tetap bersatu. Inilah cara kita memuliakan Dia.—PATRICIA RAYBON

WAWASAN
Sebagai orang-orang yang percaya pada Yesus Kristus, kita dinasihati Rasul Paulus untuk hidup dengan cara yang berbeda dari orang-orang yang tidak percaya. Hidup kita haruslah kudus—dikhususkan dan dibaktikan kepada Allah (Efesus 4:20-24). Perkataan kita harus mengandung kata-kata yang jujur dan yang menolong, memperbaiki, membangun, menguatkan, dan bermanfaat bagi orang lain (ay.25,29). Melalui kekuatan yang diberikan oleh Roh Kudus dalam diri ini, kita mau membuang tutur kata yang tidak patut dan keji, juga kata-kata yang pedih, penuh kemarahan, kasar, memfitnah, atau berniat jahat (ay.29-31). Kerelaan mengampuni sesama harus menjadi ciri khas orang-orang percaya dalam Tuhan. Kita harus mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita (ay.32; Kolose 3:13). Bukti bahwa kita telah diampuni Bapa adalah ketika kita rela mengampuni orang lain. Orang percaya yang telah diampuni di dalam Yesus adalah orang yang rela mengampuni (Matius 18:21-35; Lukas 7:36-50). —K.T. Sim

Bagaimana Allah dapat menolong kita menghadapi konflik? Supaya Allah dimuliakan dan kesatuan gereja dihormati, adakah konflik yang perlu kamu selesaikan?

Ya Tuhan Mahakasih, ketika aku menghadapi konflik, ingatkan hatiku untuk menyerahkan kemarahanku kepada-Mu.

Thursday, November 19, 2020

Tindakan Berani

 

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku . . . dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. —Yohanes 10:14-15

Tindakan Berani

John Harper tidak tahu apa yang akan terjadi ketika ia dan putrinya yang berusia enam tahun menaiki kapal “Titanic”. Namun, satu hal yang ia tahu: ia mengasihi Yesus dan ingin orang lain juga mengenal Dia. Begitu kapal tersebut menabrak gunung es dan air mulai menyerbu masuk, Harper, seorang duda, mendudukkan anak perempuannya dalam sekoci penyelamat dan kembali ke tengah kekacauan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Sambil membagikan jaket pelampung, konon ia berseru-seru, “Biarkan para wanita, anak-anak, dan mereka yang belum diselamatkan naik ke sekoci.” Sampai napas terakhirnya, Harper menceritakan tentang Yesus kepada siapa saja yang ada di sekitarnya. John rela mengorbankan hidupnya agar orang lain bisa hidup. 

Ada satu Pribadi yang rela menyerahkan nyawa-Nya dua ribu tahun lalu supaya kamu dan saya bisa hidup, bukan hanya untuk masa kini, tetapi juga untuk selama-lamanya. Itu bukan sesuatu yang tiba-tiba saja ingin Yesus lakukan, melainkan sudah menjadi misi hidup-Nya untuk membayar hukuman atas dosa manusia. Saat berbicara dengan para pemimpin agama Yahudi, Dia berulang kali mengatakan “Aku memberikan nyawa-Ku” (Yoh. 10:11,15,17,18). Dia tidak hanya berkata-kata tetapi sungguh-sungguh melakukannya dengan mati secara mengerikan di atas kayu salib. Dia datang agar orang-orang Farisi, John Harper, dan kita semua “mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (ay.10).—ESTERA PIROSCA ESCOBAR

WAWASAN
Injil Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Anak domba (Yohanes 1:29) sebelum menggambarkan-Nya sebagai Gembala yang baik (pasal 10). Akhirnya, kita dapat memahami rahasia besar dalam Kitab Suci Yahudi. Hingga sekarang, tanpa bantuan Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menghubungkan seorang rabi dari Nazaret (1:45-46) dengan mazmur Daud mengenai gembala yang baik (Mazmur 23), penglihatan Nabi Yesaya mengenai umat manusia yang perlu diselamatkan oleh Dia yang digiring seperti anak domba ke pembantaian (Yesaya 53:6-7), dan peringatan Nabi Yehezkiel mengenai gembala-gembala yang, berlawanan dengan Yesus (Yohanes 10:14-15), hanya memikirkan diri mereka sendiri daripada kawanan dombanya (Yehezkiel 34:1-2,11-16). —Mart DeHaan

Bagaimana cara kamu menunjukkan bahwa kamu memang mengasihi orang-orang di sekitarmu? Bagaimana kamu dapat menunjukkan kasih Yesus kepada seseorang melalui perbuatanmu hari ini?

Tuhan Yesus, tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan terima kasihku atas karya kasih-Mu yang terbesar. Terima kasih karena Engkau menyerahkan nyawa-Mu supaya aku dapat hidup. Tolonglah aku agar dapat menunjukkan kasih-Mu kepada orang lain, berapa pun harga yang harus kubayar.

Wednesday, November 18, 2020

Kepercayaan Diri yang Salah

 

Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8

Kepercayaan Diri yang Salah

Beberapa tahun lalu, dokter memberi peringatan keras kepada saya berkaitan dengan masalah kesehatan. Saya menuruti kata-katanya dan mulai rajin berolahraga dan mengatur pola makan. Pelan-pelan, kolesterol dan berat badan saya turun, dan kepercayaan diri saya naik. Namun kemudian, sesuatu yang kurang baik terjadi: saya mulai memperhatikan pola makan orang lain dan menghakimi mereka. Alangkah konyolnya ketika kita menemukan sistem penilaian yang membuat kita tampil baik, tetapi menggunakannya untuk menyombongkan diri sendiri dan menjatuhkan orang lain. Tampaknya sudah menjadi kecenderungan manusiawi untuk menetapkan standar pribadi sebagai upaya membenarkan diri. Paulus memperingatkan orang-orang Filipi tentang hal itu. Sebagian dari mereka membangga-banggakan ritual keagamaan atau tradisi budaya, dan Paulus berkata bahwa kalau itu yang dijadikan ukuran, ia bisa lebih sombong daripada mereka: “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi” (3:4). Namun, Paulus menyadari bahwa asal usul dan pencapaiannya hanyalah “sampah” dibandingkan dengan “pengenalan akan Kristus Yesus” (ay.8). Hanya Yesus yang mengasihi kita apa adanya, menyelamatkan kita, dan memberi kita kuasa untuk menjadi semakin serupa Dia. Kita tidak perlu membuktikan diri di hadapan-Nya, karena penilaian apa pun mustahil untuk kita penuhi. Bermegah saja sudah tidak baik, apalagi bermegah berdasarkan kepercayaan diri yang salah. Injil memanggil kita menjauhi kepercayaan diri yang salah tempat dan masuk dalam persekutuan dengan Juruselamat yang mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya untuk kita.—Glenn Packiam

WAWASAN
Menjuluki seseorang “anjing” adalah sebuah penghinaan yang amat besar oleh seorang Yahudi, tetapi Paulus mengatakannya kepada mereka yang bersandar pada aturan-aturan agamawi untuk membenarkan diri mereka (Filipi 3:2). Aturan yang dimaksud di sini adalah sunat, sebuah tanda fisik perjanjian Allah dengan umat-Nya. Allah menerapkan praktik ini sebagai bagian dari perjanjian-Nya dengan Abram (Abraham) untuk menjadikan keturunannya sebuah bangsa yang besar (Kejadian 17:9-14). Sunat merupakan “tanda perjanjian” antara Allah dan umat-Nya (ay.11), tetapi itu hanyalah sebuah tanda lahiriah. Musa, Yeremia, dan Paulus mengatakan bahwa umat Allah seharusnya “bersunat hati” (lihat Ulangan 10:16; Yeremia 9:25-26; Roma 2:28-29). Inilah yang dimaksud Allah ketika Dia mengatakan kepada Abram untuk “memegang perjanjian-Ku” (Kejadian 17:9). Paulus menulis, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (Galatia 6:15) dan kita menjadi ciptaan baru dengan cara beriman kepada Kristus. —Tim Gustafson

Apa buktinya kamu mempercayai anugerah Allah hari ini? Bagaimana kamu dapat hidup dan bekerja sehari-hari dengan berserah dan percaya penuh kepada kasih Allah bagimu?

Tuhan Yesus yang terkasih, terima kasih atas kasih-Mu kepadaku. Kusingkirkan semua caraku membenarkan diri. Semua itu adalah dasar kepercayaan diri yang salah.

Tuesday, November 17, 2020

Seandainya Bisa...

 

Tuhan adalah kekuatan umat-Nya. —Mazmur 28:8

Seandainya Bisa . . .

Pohon aras Alaska itu meliuk-liuk tertiup angin badai yang kencang. Pohon itu disayang Regie bukan hanya karena menjadi tempat berteduh dari terik matahari tetapi juga memberi perlindungan bagi keluarganya. Sekarang badai dahsyat telah mencabut akar pohon itu dari tanah. Bersama anaknya yang berumur lima belas tahun, Regie cepat-cepat berlari untuk menyelamatkan pohon itu. Dengan tubuh seberat empat puluh kilogram dan kedua tangannya, Regie dan anaknya berusaha menahan pohon itu agar tidak tumbang. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat. 

Allah adalah kekuatan Raja Daud ketika ia berteriak minta tolong dalam pergumulannya (Mzm. 28:8). Sejumlah ahli Alkitab mengatakan Daud menulis mazmur ini saat hidupnya sedang hancur berantakan. Anak lelakinya bangkit melawannya dan berusaha merebut takhtanya (2 Sam. 15). Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya, sehingga ia takut Allah akan terus berdiam, dan ia akan mati (Mzm. 28:1). “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong,” seru Daud kepada Allah (ay.2). Allah pun memberi Daud kekuatan untuk terus melangkah maju, meskipun hubungan Daud dengan anaknya tidak pernah membaik. Betapa kita rindu dapat mencegah hal-hal buruk terjadi! Andai saja kita bisa. Namun, dalam kelemahan kita, Allah berjanji bahwa kita selalu bisa berseru kepada-Nya agar Dia menjadi Gunung Batu tempat kita berlindung (ay.1-2). Di saat kita tidak lagi memiliki kekuatan, Sang Gembala yang baik akan mendukung kita selama-lamanya (ay.8-9).—Anne Cetas

WAWASAN
Mazmur 28 disebut sebagai mazmur kutukan—sebuah mazmur yang menyerukan murka atau kutukan atas seseorang atau suatu bangsa yang berbuat kesalahan. Kutukan dalam ayat 4-5 menggambarkan kebencian Allah terhadap dosa. Dalam keadaannya yang pedih, Daud berseru kepada Allah, gunung batunya (ay.1). Penafsir John Phillips menulis tentang sebutan terhadap Allah ini, “Sebuah gunung batu memberikan kesan permanen, besar, dan tak tergoyahkan. Dalam Perjanjian Lama figur sebuah gunung batu tidak pernah digunakan untuk manusia, hanya untuk Allah. Allah sama tetapnya dengan sebuah gunung batu.” Ketika kehidupan Daud terguncang, ia menyandarkan dirinya kepada Sang gunung batu. Allah mendengar seruannya, dan Daud pun merespons dengan puji-pujian (ay.6-7). —Alyson Kieda

Kapan kamu pernah merasa lemah dan tidak berdaya memperbaiki suatu masalah? Bagaimana pengalamanmu menerima pertolongan Allah?

Ya Allah, rasanya ada saja yang membuatku selalu membutuhkan kekuatan ekstra dari-Mu. Tolonglah aku untuk mengingat bahwa tanpa-Mu aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Monday, November 16, 2020

Sepatu Pinjaman

 

Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. —Galatia 5:13

Sepatu Pinjaman

Seorang siswa SMA bernama Gabe berada dalam keadaan serba tak menentu setelah ia dan keluarganya menyelamatkan diri dari ancaman kebakaran hutan di California pada tahun 2018. Gabe kehilangan kesempatan mengikuti babak kualifikasi untuk lomba lari lintas alam tingkat negara bagian, padahal selama ini ia sudah berlatih untuk kejuaraan tersebut. Kegagalan mengikuti ajang ini akan membuatnya tidak bisa berlomba di tingkat negara bagian—kejuaraan yang dapat memberikan pencapaian tertingginya sebagai atlet. Setelah mempertimbangkan kondisi Gabe, komisi atletik negara bagian itu mau memberinya kesempatan. Namun, ia harus berlari sendiri dalam waktu yang memenuhi kualifikasi, di atas lintasan atletik milik sekolah lawan, dengan mengenakan “sepatu sehari-hari” karena sepatu larinya tertinggal di rumahnya yang sekarang sudah hangus terbakar. Ketika ia datang pada hari “perlombaan,” Gabe terkejut melihat para pesaingnya juga datang. Mereka bahkan memberinya sepatu lari yang layak, dan ikut berlari mendampinginya untuk memastikan ia berlari dalam kecepatan yang diperlukan untuk lolos ke perlombaan tingkat negara bagian. Lawan-lawan Gabe tidak punya kewajiban menolongnya. Mereka bisa saja menuruti keinginan alamiah manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri (Gal. 5:13); dengan begitu, peluang mereka menang akan lebih besar. Namun, Paulus mendorong kita untuk menunjukkan buah Roh dalam hidup kita—“layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” dan tunjukkanlah “kemurahan” dan “kebaikan” (ay.13,22). Ketika bersandar kepada Roh Kudus untuk menolong kita agar tidak bertindak menurut keinginan alamiah kita, kita akan semakin dimampukan mengasihi orang-orang di sekitar kita.—Kirsten Holmberg

WAWASAN
Kita semua terlahir dengan natur dosa yang diturunkan dari Adam (Mazmur 51:7; Roma 5:12,14), tetapi mereka yang mempercayai Yesus untuk menerima keselamatan “lahir dari Roh” (Yohanes 3:8) dan menerima natur yang baru (1:13; Titus 3:5). “Kodrat ilahi” yang baru ini (2 Petrus 1:4) “telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:24). Dalam Galatia 5, Paulus memperingatkan bahwa keinginan daging (kebiasaan berdosa) kita terus-menerus berlawanan dengan keinginan Roh (ay.17). Untuk mematikan natur duniawi kita (Kolose 3:5), kita harus berjalan dan hidup oleh Roh, mengikuti gerak langkah-Nya yang memimpin dan mengarahkan kita (Galatia 5:16,18,25). —K.T. Sim

Bagaimana kamu menunjukkan “buah Roh” lewat perlakuamu terhadap orang lain? Apa yang dapat kamu lakukan untuk lebih menunjukkan kasih kepada sesamamu?

Ya Allah, naluri alamiahku adalah lebih dahulu mementingkan diriku sendiri. Tolonglah aku melayani orang lain karena kasihku kepada-Mu.

Sunday, November 15, 2020

Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit

 

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. —Ibrani 11:1

Tak Ada Rintangan yang Terlalu Sulit

Sebagai pemimpin tim, saya mengajak murid-murid saya ke sebuah wahana halang rintang. Kami menginstruksikan para siswa untuk mengenakan perangkat keselamatan dan memanjat dinding setinggi 2.5 meter. Mereka yang sudah memanjat terlebih dahulu harus menyemangati pemanjat berikutnya agar mengandalkan perangkat keselamatan mereka, sambil terus memanjat tanpa melihat ke bawah. Salah seorang siswa menatap tantangan di depannya sambil bergumam, “Aku tidak mungkin bisa.” Setelah meyakinkannya bahwa tali dan sabuk pengaman yang dipasangkan kepadanya sangat kuat, kami pun menyemangati dan menyorakinya saat ia memanjat dinding sampai ke puncak. Ketika kita menghadapi masalah yang terlihat mustahil untuk ditaklukkan, perasaan takut dan tidak aman dapat menimbulkan keraguan dalam hati. Namun, keyakinan pada kekuatan, kebaikan, dan kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah dapat membangun rasa percaya yang kuat. Keyakinan inilah yang menyulut keberanian orang-orang percaya di Perjanjian Lama. Mereka menunjukkan bahwa oleh iman, kita tidak perlu mengetahui setiap detail rencana Allah (Ibr. 11:1-13,39). Kita mencari Allah dengan keyakinan dan kesungguhan, sekalipun hanya kita sendiri yang percaya kepada-Nya. Kita dapat menyesuaikan cara kita menghadapi tantangan dengan melihat keadaan kita melalui perspektif kekekalan—dengan mengetahui bahwa pencobaan yang kita hadapi sekarang hanya bersifat sementara (ay.13-16). Jika hanya memperhatikan jalan yang sulit dan terjal, kita bisa ragu bahwa Allah akan membawa kita melaluinya. Namun, ketika kita yakin Dia menyertai kita, keragu-raguan itu sirna oleh iman, dan kita percaya Allah akan menolong kita mengatasi rintangan-rintangan yang tadinya terlihat mustahil.—XOCHITL DIXON

WAWASAN
Kitab Ibrani ditulis untuk pembaca berlatar belakang Yahudi. Mereka melihat diri mereka sebagai keturunan fisik Abraham, Ishak, dan Yakub. Sebelum mendengar tentang Yesus, mereka memiliki identitas fisik berupa tanah, kota, dan Bait Allah. Sekarang, mereka menghadapi ketakutan dan ketidakjelasan dari mengikut Yesus, dan beberapa dari mereka menjadi ragu (10:32-39). Jadi, sang penulis yang diilhami Roh Kudus menyebutkan sederet nama nenek moyang yang sudah dikenal para pembaca itu untuk mengingatkan bahwa mereka bukanlah yang pertama menaruh pengharapan kepada Allah yang tidak kelihatan (11:1). Dengan menekankan iman yang tidak mengandalkan penglihatan, dari awal hingga akhirnya, surat ini memberikan banyak alasan bagi orang percaya untuk tetap memandang kepada Yesus (12:1-3). —Mart DeHaan

Bagaimana kamu bisa lebih berani menghadapi suatu tugas yang tampaknya mustahil? Bagaimana perasaanmu ketika kamu berhasil menyelesaikan sesuatu yang kamu kira tidak bisa kamu kerjakan?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkaulah Pencipta dan Penyempurna iman kami, sehingga ukuran iman kami saat menghadapi rintangan itu bergantung penuh kepada kekuatan-Mu, bukan kekuatan kami sendiri.

Saturday, November 14, 2020

Di Tengah-Tengah Api

 

Ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka. —Daniel 3:25

Di Tengah-Tengah Api

Kebakaran hutan di Andilla, Spanyol, telah menghanguskan area seluas hampir 50.000 hektar. Namun, di tengah kehancuran tersebut, hampir 1.000 pohon cemara berwarna hijau terang masih tegak berdiri. Kemampuan pohon-pohon tersebut menyimpan air membuatnya sanggup bertahan di tengah kebakaran. Pada pemerintahan Raja Nebukadnezar di Babel, sekelompok orang berhasil selamat dari amarah raja yang menyala-nyala. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak menyembah patung yang dibuat Nebukadnezar, dan berkata kepadanya, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja” (Dan. 3:17). Dengan geram, raja menaikkan tingkat panas perapian itu tujuh kali lipat dari biasanya (ay.19). Para prajurit yang melaksanakan perintah raja dan melemparkan keempat pemuda tersebut ke dalam kobaran api ikut terbakar, tetapi orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu melihat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api dan “tidak terluka.” Ada sesosok lain yang berada di tengah perapian itu—orang keempat yang “rupanya seperti anak dewa” (ay.25). Banyak ahli percaya ini adalah penampakan Yesus sebelum inkarnasi-Nya. Tuhan Yesus menyertai kita ketika kita menghadapi intimidasi dan pencobaan. Kita tidak perlu takut di saat kita didesak untuk menyerah pada tekanan. Kita tidak selalu tahu bagaimana atau kapan Allah akan menolong kita, tetapi kita tahu Dia pasti menyertai kita. Allah akan memberi kita kekuatan untuk tetap setia kepada-Nya melewati “api” apa pun yang kita alami.—JENNIFER BENSON SCHULDT

WAWASAN
Memahami lebih dalam tentang perapian yang digambarkan dalam Daniel 3 membantu kita menghayati mukjizat yang terjadi. Kemungkinan besar perapian tersebut digunakan untuk melebur atau mengekstrak metal dari bijihnya. Bijih tersebut dimasukkan ke dalam perapian lewat bukaan atas—kemungkinan inilah cara Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian. Sebuah bukaan di sisi perapian menjadi tempat bara api dimasukkan ke dalam tungku. Bisa jadi Nebukadnezar menyaksikan peristiwa itu melalui bukaan tersebut. Menyuruh perapian itu “dibuat tujuh kali lebih panas” (ay.19) adalah istilah yang berarti dipanaskan setinggi mungkin; dengan perkiraan suhu mencapai 980 derajat Celsius. Ini menjelaskan mengapa para tentara yang melemparkan ketiga orang itu ke dalam perapian langsung terbakar mati (ay.22). —Julie Schwab

Mengapa kehadiran Allah yang supernatural dapat menguatkan hatimu? Bagaimana kamu dapat mendukung orang lain yang mungkin sedang menghadapi permusuhan atau pertentangan?

Ya Allah, penuhilah aku dengan Roh-Mu supaya aku bisa bertahan ketika aku sudah terdesak dan ingin menyerah. Aku ingin memuliakan-Mu dengan tetap berdiri teguh.

Friday, November 13, 2020

Ketika Allah Berfirman

 

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia. —Yesaya 55:11

Ketika Allah Berfirman

Seorang penerjemah Alkitab bernama Lily ditahan di bandara ketika hendak terbang pulang ke negaranya. Telepon selulernya digeledah, dan ketika petugas menemukan Perjanjian Baru versi audio di dalamnya, mereka menyita teleponnya dan menginterogasinya selama dua jam. Di satu titik mereka meminta Lily membuka aplikasi Alkitab suara itu, yang sedang menampilkan Matius 7:1-2: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Mendengar kata-kata tersebut diucapkan dalam bahasa mereka sendiri, salah seorang petugas langsung pucat pasi. Akhirnya, Lily dibebaskan tanpa syarat. Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam hati petugas di bandara itu, tetapi kita tahu bahwa “firman [Allah] yang keluar dari mulut-[Nya]” akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya (Yes. 55:11). Nabi Yesaya menubuatkan kata-kata pengharapan tersebut kepada umat Allah di pengasingan, untuk meyakinkan mereka bahwa seperti hujan dan salju membuat bumi subur dan menumbuhkan tanaman, demikian pula apa yang “keluar dari mulut-[Nya]” akan mencapai segala hal yang menjadi tujuan-Nya (ay.10-11). Kita dapat membaca bagian ini untuk meneguhkan kepercayaan kita kepada Allah. Ketika kita menghadapi keadaan yang sulit, seperti yang dialami Lily di bandara, kiranya kita percaya bahwa Allah sedang bekerja—bahkan ketika kita tidak melihat hasil akhirnya.—AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Bacaan dari Yesaya 55 ini mengingatkan kita pada salah satu elemen terpenting dalam hubungan kita dengan Allah, yakni elemen misteri. Terkadang kita membuat kesalahan dengan berusaha menggolongkan atau memasukkan Allah semesta alam yang tak terbatas ke dalam pemahaman kita yang sempit dan terbatas. Namun, allah yang dapat diperlakukan seperti itu bukanlah Allah dalam Alkitab, bukan juga Allah yang kita butuhkan. Hal inilah yang sepertinya mendasari tulisan J. B. Phillips dalam buku kecilnya yang sangat penting, Your God Is Too Small (Allahmu Terlalu Kecil). Allah yang kita sembah terlalu besar, ajaib, dan tidak terpahami untuk diperkecil dan masuk dalam pemikiran kita. Rancangan dan jalan pemikiran-Nya melampaui pemahaman kita (ay.8-13), dan ini berarti kita, dalam keterbatasan dan kefanaan kita, harus belajar menerima misteri kebesaran-Nya. —Bill Crowder

Kapan terakhir kali kamu menyadari Allah sedang bekerja? Apakah kamu merasakan kasih Allah melalui firman yang Dia nyatakan kepadamu?

Bapa Surgawi, terima kasih untuk hal-hal yang telah Engkau ungkapkan, yang memberiku pengharapan, damai sejahtera, dan kasih. Tolonglah aku agar semakin mengasihi-Mu.

Thursday, November 12, 2020

Jalan Panjang

 

Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat. —Keluaran 13:17

Jalan Panjang

Ketika rekan kerjanya satu per satu mendapat kenaikan jabatan, Benjamin merasa sedikit iri. “Mengapa kamu belum jadi manajer? Padahal kamu sudah pantas, lho,” kata teman-temannya kepada Benjamin. Namun, Ben memutuskan untuk menyerahkan kariernya kepada Allah. “Jika ini memang rencana-Nya bagiku, aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik,” katanya kepada mereka. Akhirnya, beberapa tahun kemudian, Ben naik jabatan. Saat itu, pengalaman kerja yang lebih lama telah menolongnya bekerja dengan penuh percaya diri dan membuatnya disegani oleh bawahannya. Sementara itu, beberapa rekan Ben yang naik jabatan lebih dahulu masih mengalami kesulitan berperan sebagai pemimpin, karena ternyata mereka belum siap untuk naik jabatan. Ben menyadari bahwa Allah membuatnya “berjalan lebih jauh” supaya ia lebih siap mengerjakan peran barunya. Ketika Allah memimpin orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 13:17-18), Dia memilih jalan yang lebih jauh karena “jalan pintas” ke Kanaan sangat berbahaya. Para penafsir Alkitab berpendapat bahwa perjalanan yang lebih jauh juga memberi mereka waktu yang lebih panjang untuk memperkuat fisik, mental, dan iman mereka untuk pertempuran-pertempuran yang akan mereka hadapi. Jalan pintas belum tentu jalan yang terbaik. Terkadang Allah mengizinkan kita menempuh jalan yang lebih panjang dalam hidup ini, entah dalam karier atau hal-hal lain, supaya kita lebih siap melakukan perjalanan di depan. Ketika merasa banyak hal berjalan terlalu lambat, kita dapat mempercayai Allah—Dialah yang setia memimpin dan memandu kita.—Leslie Koh

WAWASAN
Setelah lebih dari empat ratus tahun diperbudak di Mesir, perjalanan umat Israel menuju Tanah Perjanjian dimulai di Keluaran 13. Dengan meninggalkan Mesir, tergenapilah sebuah nubuat sekaligus suatu permintaan. Nubuat tersebut diberikan oleh Allah kepada Abraham ketika Dia menetapkan perjanjian-Nya dengan sang leluhur. Di Kejadian 15:13, Allah memperingatkan bahwa “empat ratus tahun lamanya” keturunan Abraham akan “menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, . . . diperbudak dan dianiaya”—tetapi Allah akan melepaskan mereka dari penindasan tersebut. Kelepasan tersebut digenapi dalam Keluaran 13. Di Kejadian 50:25, Yusuf meminta agar tulang-tulangnya dibawa ke tanah perjanjian dan dikuburkan di sana. Keluaran 13:19 mengatakan bahwa permintaan ini tidak dilupakan oleh bangsanya. Yosua 24:32 mencatat penguburan tersebut. —Bill Crowder

Mungkinkah Allah sedang menguatkanmu dengan mengizinkanmu menempuh “jalan yang lebih panjang” dalam hidup ini? Bagaimana caramu mengingatkan diri untuk tetap percaya kepada-Nya?

Allah yang penuh kasih, Engkau tahu perasaanku ketika aku merasa banyak hal berjalan begitu lambat. Berikanlah aku kesabaran untuk mempercayai-Mu dan meyakini tujuan serta rencana-Mu yang agung.

Wednesday, November 11, 2020

Kembali Pulang

 

Di tempat-tempat yang jauh mereka akan ingat kepada-Ku; . . . dan mereka akan kembali. —Zakharia 10:9

Kembali Pulang

Walter Dixon memiliki waktu lima hari untuk berbulan madu sebelum ia ditugaskan ke Perang Korea. Tidak sampai setahun kemudian, para tentara menemukan jaket milik Dixon di medan perang, dengan surat-surat dari istrinya masih tersimpan dalam kantongnya. Petinggi militer pun menghubungi istrinya yang masih muda dan menyampaikan kabar bahwa Dixon tewas di medan perang. Namun, sebenarnya Dixon masih hidup dan menjadi tawanan perang selama 2,5 tahun berikutnya. Setiap saat ia selalu memikirkan cara untuk melarikan diri. Ia berusaha kabur sebanyak lima kali tetapi selalu tertangkap lagi. Dixon pun akhirnya dibebaskan. Bayangkan betapa terkejutnya orang-orang ketika ia pulang! Umat Allah tahu apa rasanya ditawan, diasingkan ke tempat yang jauh, dan merindukan kampung halaman. Karena pemberontakan mereka terhadap Allah, mereka harus diasingkan. Setiap pagi mereka rindu pulang, tetapi tidak ada jalan keluar yang bisa mereka usahakan. Syukurlah, Tuhan berjanji tidak akan melupakan mereka. “Aku akan membawa mereka kembali, sebab Aku menyayangi mereka” (Zak. 10:6). Dia akan memenuhi keinginan orang-orang yang rindu pulang, bukan karena kegigihan mereka, tetapi karena kemurahan-Nya: “Aku akan bersiul memanggil mereka . . . dan mereka akan kembali.” (ay.8-9). Perasaan terasing yang kita alami mungkin berasal dari keputusan buruk atau kesulitan yang terjadi di luar kendali kita. Bagaimanapun juga, Allah tidak pernah melupakan kita. Dia tahu kerinduan kita dan akan memanggil kita. Jalan untuk kembali kepada-Nya adalah dengan menjawab panggilan itu.—Winn Collier

WAWASAN
Untuk sebuah kitab Perjanjian Lama yang cukup pendek, Zakharia sangat banyak dikutip dalam Perjanjian Baru. Setidaknya ada tujuh puluh satu kutipan, dengan tiga puluh satu ditemukan dalam kitab Wahyu. Dua puluh tujuh ditemukan di dalam kitab-kitab Injil (empat belas dalam Matius, tujuh dalam Markus, masing-masing tiga dalam Lukas dan Yohanes), dan sebagian besar terdapat dalam catatan tentang minggu terakhir pelayanan Yesus. Zakharia 9-14 berbicara tentang seorang raja manusia (9:9-10) dan Tuhan sebagai raja (14:1-17). Bagian ini juga menyebutkan seorang figur yang penderitaannya membawa penebusan (12:10-13). Lewat kedatangan Yesus sebagai manusia, semua gambaran ini menjadi nyata dalam pribadi-Nya. Sebagai anak Daud, Yesus memiliki hak atas takhta kerajaan manusia. Sebagai Allah dalam rupa manusia, Yesus menggenapi nubuatan tentang raja surgawi yang datang ke dunia, termasuk menderita demi dosa-dosa dunia dan membawa pengampunan bagi manusia berdosa. Ketika Yesus Kristus datang kembali, Dia akan menghadirkan Kerajaan-Nya ke dalam dunia. —Con Campbell

Dalam hal apa kamu merasa terasing dalam hidup ini? Apakah kamu mendengar Allah memanggilmu kembali karena Dia hendak menunjukkan jalan untuk pulang?

Ya Allah, aku merasa jauh dari-Mu. Aku tahu Engkau dekat, tetapi aku merasa begitu jauh. Maukah Engkau menolongku mendengar panggilan-Mu? Maukah Engkau membawaku pulang?

Tuesday, November 10, 2020

Kemenangan Pengampunan

 

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! —Mazmur 32:1

Kemenangan Pengampunan

Mack sudah lama bergumul dengan penyalahgunaan narkoba dan dosa seksual, dan sekarang ia merasa putus asa. Hubungan yang selama ini sudah dibinanya sedang bermasalah, dan hati nuraninya diliputi perasaan bersalah. Dalam kesusahan hatinya, ia pergi ke sebuah gereja dan meminta waktu berbicara dengan seorang pendeta. Di sana, ia merasa lega dapat menceritakan kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan juga mendengar tentang belas kasihan dan pengampunan Allah. Para ahli meyakini Mazmur 32 ditulis oleh Daud setelah ia melakukan dosa seksual. Kesalahannya bertambah besar ketika ia merancang strategi jahat yang menyebabkan kematian suami perempuan yang ditidurinya (lihat 2 Samuel 11-12). Meski semua kejadian buruk itu telah berlalu, dampak dari perbuatannya tetap ada. Mazmur 32:3-4 menggambarkan pergumulan luar biasa yang ia alami sebelum mengakui kekejian dari perbuatannya; dosa yang tidak diakui telah menggerogoti hati Daud. Jadi, apa yang dapat memberinya kelegaan? Kelegaan dialami ketika Daud mengakui dosanya kepada Allah dan menerima pengampunan yang Dia berikan (ay.5). Sungguh langkah awal yang luar biasa—menyerahkan diri kepada belas kasihan Allah—di saat kita telah mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti diri sendiri atau orang lain. Rasa bersalah akibat dosa itu tidak perlu selamanya kita rasakan. Ada Pribadi yang selalu membuka lebar-lebar tangan-Nya untuk menerima kita ketika kita mengakui kesalahan kita dan meminta pengampunan dari-Nya. Kita bisa ikut menyanyikan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” (ay.1).—Arthur Jackson

WAWASAN
Kitab Mazmur mengandung berbagai jenis lagu, antara lain tentang penyembahan, ucapan syukur, sejarah penciptaan, dan sejarah keselamatan. Salah satu jenis yang umum adalah mazmur ratapan, yaitu ketika sang pemazmur meratapi sesuatu. Lewat mazmur-mazmur ratapan, Daud meratapi hidupnya yang sedang berada di dalam ancaman, pertama oleh Saul dan kemudian oleh Absalom. Namun, dalam Mazmur 32, Daud tidak meratapi ancaman orang lain, melainkan menangisi dosa dan kegagalannya sendiri. Meskipun Alkitab tidak menyatakannya secara spesifik, banyak ahli menghubungkan Mazmur 32 dengan Mazmur 51 dan pertobatan Daud setelah perbuatan dosanya dengan Batsyeba. Meski demikian, ratapan tersebut dengan cepat bergeser menjadi mazmur pujian dan ucapan syukur atas pengampunan, kebaikan, dan pemulihan dari Allah. Meratapi kegagalan spiritual kita adalah sesuatu yang patut dilakukan, tetapi patutlah juga kita merayakan besarnya pengampunan yang kita terima dari Allah. Daud melakukan keduanya dalam Mazmur 32. —Bill Crowder

Ke manakah kamu mencari pertolongan ketika kamu merasa tidak lagi kuat menanggung dampak perbuatan atau perkataanmu? Ketika seseorang yang sedang bergumul dengan rasa bersalah mendatangimu, bagaimana kamu dapat menasihatinya?

Ya Bapa, ampuni aku karena adakalanya aku masih jatuh dalam pencobaan. Tolonglah aku agar selalu berlindung kepada-Mu dan meminta pengampunan dari-Mu dan dari orang lain bila dibutuhkan.

Monday, November 9, 2020

Melakukan Peran Kita

 

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. —1 Petrus 4:10

Melakukan Peran Kita

Ketika dua cucu saya mengikuti audisi untuk pertunjukan musikal Alice in Wonderland Jr., mereka berharap bisa mendapatkan peran-peran utama. Maggie ingin menjadi Alice muda, sementara Katie merasa tokoh Mathilda cocok untuknya. Namun, mereka berdua akhirnya terpilih menjadi bunga. Namun, menurut ibu mereka, keduanya “ikut senang bersama teman-temannya yang mendapat peran utama. Kelihatannya mereka justru lebih senang mendukung teman-temannya dan ikut merasakan kegembiraan mereka.” Begitulah seharusnya interaksi antar anggota dalam satu tubuh Kristus! Setiap gereja lokal mempunyai apa yang bisa dianggap sebagai peran utama. Namun, gereja juga membutuhkan bunga, yakni mereka yang melakukan hal-hal penting tetapi tidak selalu dilihat orang. Bila orang lain mendapat peran yang kita inginkan, kita bisa memilih untuk menyemangati mereka dan kita sendiri melakukan peran yang dipercayakan Allah kepada kita dengan kesungguhan. Membantu dan menyemangati orang lain merupakan salah satu cara menyatakan kasih kita kepada Allah. Ibrani 6:10 (BIS) berkata, “Ia tidak melupakan apa yang kalian kerjakan bagi-Nya, dan kasih yang kalian tunjukkan kepada-Nya sewaktu menolong saudara-saudara seiman.” Tidak ada karunia dari Allah yang tak berarti. “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Ptr. 4:10). Bayangkan sebuah gereja dengan anggota-anggota yang tekun memakai karunia dari Allah untuk kemuliaan-Nya. Alangkah luar biasa!—DAVE BRANON

WAWASAN
Pernyataan penulis tentang orang-orang percaya berlatar belakang Yahudi yang memiliki “sesuatu yang lebih baik” (Ibrani 6:9) sepertinya merujuk pada gambaran penghakiman yang keras atas mereka yang murtad (ay.4-8) dan kembali kepada Yudaisme. Di ayat 9, penulis menggunakan nada yang lebih hangat, dengan menyebut mereka sebagai “saudara-saudara” dan menggunakan kata ganti orang kedua (“kamu”). Ia menyatakan keyakinannya bahwa mereka akan tetap setia. Frasa “sesuatu yang lebih baik” juga merujuk kepada inti pesan dari kitab Ibrani. Karena menulis kepada pembaca Yahudi yang telah—dan mungkin masih—menghadapi penganiayaan (10:33-36), penulis berusaha menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan dari semua janji dalam Perjanjian Lama. Kristus jauh “lebih baik” daripada orang atau kepercayaan mana pun, di masa lalu maupun di masa sekarang, yang dapat mereka harapkan (6:11-12). Meskipun mereka harus membayar harga, Yesus amat pantas mendapatkan ketaatan mereka sepenuhnya. —Monica La Rose

Adakah seseorang yang bisa kamu dukung, meskipun ia menerima kedudukan, tugas, dan peran yang kamu inginkan? Mengapa kamu perlu berterima kasih kepada Allah atas tugas yang diberikan-Nya kepadamu untuk melayani sesama?

Allah yang agung, tolonglah aku agar perhatianku tidak tersita untuk melihat peran orang lain, melainkan berfokus melayani Engkau dalam panggilan-Mu bagiku. Mampukanlah aku menolong orang lain dengan menyemangati mereka dalam pengabdian mereka kepada-Mu.

Sunday, November 8, 2020

Mudah Lupa

 

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu. —Ulangan 8:2

Mudah Lupa

Seorang wanita mengeluh kepada gembala gerejanya karena sang pendeta berulang kali mengatakan hal yang sama dalam khotbahnya. “Mengapa kamu melakukan itu?” tanyanya. Sang pendeta menjawab, “Karena orang mudah lupa.” Ada banyak alasan mengapa kita mudah lupa—karena sudah lama berlalu, usia yang semakin tua, atau karena terlalu sibuk. Kita melupakan kata sandi, nama-nama orang, bahkan tempat kita memarkir mobil. Suami saya berkata, “Otakku sudah tidak bisa menampung lagi. Aku harus menghapus beberapa hal sebelum bisa mengingat hal-hal baru.” Pendeta tadi benar. Orang mudah lupa. Karena itu kita perlu sering diingatkan untuk mengingat lagi apa yang sudah Allah perbuat bagi kita. Orang Israel juga mempunyai kecenderungan yang sama. Walaupun sudah melihat dan mengalami banyak mukjizat, mereka masih perlu diingatkan tentang pemeliharaan Allah atas hidup mereka. Dalam Ulangan 8, Allah mengingatkan bangsa Israel bahwa Dia pernah mengizinkan mereka mengalami kelaparan di padang gurun, tetapi kemudian menyediakan makanan yang luar biasa bagi mereka berupa manna. Dia juga menyediakan pakaian yang tidak pernah usang. Dia telah memimpin mereka melewati padang gurun yang penuh ular dan kalajengking serta menyediakan air yang keluar dari batu. Umat Israel telah belajar merendahkan diri karena menyadari betapa mereka perlu bergantung total kepada kasih dan pemeliharaan Allah (ay.2-4,15-18). Kesetiaan Allah “tetap turun-temurun” (Mzm. 100:5). Setiap kali mulai lupa, kita dapat memikirkan kembali bagaimana Dia telah menjawab doa-doa kita, dan itu mengingatkan kita pada kebaikan dan janji setia-Nya.—CINDY HESS KASPER

WAWASAN
Ulangan 8:10-18 berasal dari khotbah Musa yang kedua (dan terpanjang) dari tiga khotbahnya kepada orang-orang Israel sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian (Ulangan 5-26). Ayat 3 merupakan ayat kunci dalam Ulangan 8, ketika Musa mengatakan: “[Allah] merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna . . . untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Hal ini menjelaskan perintah Yesus kepada kita mengenai cara berdoa: “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Lukas 11:3). —Tim Gustafson

Dalam hal apa saja kamu bergumul untuk mempercayai Allah? Apa saja ayat Alkitab yang menolongmu mengingat kasih dan pemeliharaan Allah atas hidumu?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau selalu setia. Tolonglah aku mempercayai-Mu dalam apa pun yang kuhadapi hari ini.

Saturday, November 7, 2020

Serahkan Hasilnya kepada Allah

 

Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. —Lukas 10:20

Serahkan Hasilnya kepada Allah

Bertahun-tahun lalu, saya diundang berbicara kepada anggota sebuah organisasi sosial dalam suatu universitas. Karena para anggotanya memiliki reputasi yang kurang baik, saya membawa seorang teman untuk menemani saya. Saat itu suasana hati mereka sedang senang karena kampus mereka baru saja memenangkan kejuaraan football. Saat makan malam, suasana mendadak rusuh! Lalu, ketua organisasi itu mengumumkan: “Kita kedatangan dua orang yang akan berbicara kepada kalian tentang Tuhan.” Saya berdiri dengan kaki lemas dan mulai berbicara tentang kasih Allah, dan seisi ruangan pun menjadi sunyi. Mereka semua sungguh-sungguh menyimak. Setelah itu ada sesi tanya jawab yang sangat aktif. Kami lalu memulai kelas pendalaman Alkitab, dan dari tahun ke tahun, banyak di antara mereka yang menerima Tuhan Yesus dan diselamatkan. Saya ingat banyak momen luar biasa, ketika saya seperti “melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk. 10:18), tetapi ada pula hari-hari ketika rasanya saya yang terjatuh dan gagal. Lukas 10 bercerita tentang murid-murid Yesus yang baru pulang dari pelayanan yang berhasil. Banyak jiwa dimenangkan, setan-setan diusir, dan banyak orang disembuhkan. Murid-murid sangat bersukacita! Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.” Namun, Yesus lalu memperingatkan mereka, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (ay.20). Kita bersukacita ketika berhasil. Namun, kita mungkin sangat sedih ketika kita merasa gagal. Akan tetapi, lakukanlah terus panggilan Allah—dan serahkanlah hasilnya kepada Dia. Dia telah mencatat namamu di surga! —DAVID H. ROPER

WAWASAN
Lukas 10:1 mengatakan bahwa Yesus mengutus “tujuh puluh murid yang lain” mendahului-Nya. Murid-murid “yang lain” ini merupakan tambahan pada kedua belas murid yang Dia utus dalam Lukas 9:1-6. Ini berarti Yesus mengirimkan setidaknya delapan puluh dua orang mendahului-Nya untuk menyampaikan pesan-Nya kepada banyak orang. Merespons antusiasme para murid atas takluknya setan-setan kepada mereka dalam nama-Nya (10:17), Yesus mengatakan bahwa Dia melihat Iblis jatuh dari langit (ay.18). Gambaran ini mengingatkan pada kata-kata Nabi Yesaya dalam Yesaya 14:12. Ia mengatakan bahwa sisa-sisa bangsa Israel setelah pembuangan akan menantang Babel, dengan mengatakan, “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!” Kepercayaan Yudaisme menghubungkan kejatuhan Iblis dengan kedatangan Mesias. Takluknya para setan dalam nama dan kuasa Yesus menjadi bukti bahwa Dialah Sang Mesias. —J.R. Hudberg

Bayangkanlah namamu tertulis pada hati Allah. Bagaimana hal itu menyemangati untuk terus melangkah dalam keadaan yang baik-baik saja? Bagaimana apabila keadaannya kurang baik?

Terima kasih, ya Allah, ketika Engkau memberiku kemenangan atas musuh-musuhku, tetapi tolonglah aku untuk tetap kuat ketika aku gagal. Aku bersyukur berada dalam keluarga-Mu.

Friday, November 6, 2020

Buah Termanis

 

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak. —Yohanes 15:5

Buah Termanis

Saat kami membeli rumah, kami juga memperoleh kebun anggur yang sudah jadi. Karena belum berpengalaman, kami sekeluarga menghabiskan banyak waktu untuk belajar menyiangi, mengairi, dan merawatnya. Ketika panen pertama tiba, saya kecewa karena ternyata buahnya asam dan tidak enak. Perasaan frustrasi karena menerima buah yang asam setelah bersusah payah merawat kebun anggur juga ditemui dalam Yesaya 5. Di sana kita membaca perumpamaan tentang hubungan Allah dengan bangsa Israel. Allah, yang digambarkan sebagai petani, telah membersihkan lereng bukit, mencangkulnya dan membuang batu-batunya, menanaminya dengan pokok anggur pilihan, mendirikan menara jaga di tengah-tengahnya, dan membuat tempat pemerasan anggur; semuanya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik (Yes. 5:1-2). Namun, sang petani kecewa, karena kebun anggurnya, yang melambangkan bangsa Israel, menghasilkan buah anggur yang asam berupa keegoisan, kelaliman, dan keonaran (ay.7). Akhirnya, Allah dengan berat hati menghancurkan kebun anggur-Nya, sambil menyelamatkan sisa pokok anggur yang suatu hari akan menghasilkan panen yang baik. Dalam Injil Yohanes, Yesus sekali lagi menggunakan ilustrasi tentang pokok anggur dengan berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh. 15:5). Di dalam ilustrasi yang serupa itu, Yesus mengumpamakan orang-orang yang percaya kepada-Nya sebagai ranting anggur yang terhubung dengan Dia, Sang Pokok Anggur. Ketika kita terus terhubung dengan Yesus lewat Roh-Nya yang kita andalkan, kita dapat langsung menerima nutrisi rohani yang akan menghasilkan buah termanis dalam diri kita, yaitu kasih.—Lisa M. Samra

WAWASAN
Yesaya (yang namanya berarti “Yahweh adalah keselamatan”) memiliki awal yang menarik dalam pelayanannya sebagai nabi. Dalam Yesaya 1-5, sang nabi menuturkan serangkaian kabar “celaka” kepada Israel. The Bible Knowledge Commentary memberi tahu kita bahwa celaka itu “adalah sebuah seruan kesedihan atau ancaman yang diutarakan di hadapan sebuah bencana yang sedang atau akan terjadi.” Dalam pasal 6, setelah kematian Raja Uzia, sang nabi dibawa ke dalam ruang takhta Allah yang hidup, dan kedahsyatan keadaan itu membuatnya justru menyerukan celaka atas dirinya sendiri. Yesaya mengatakan, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (ay.5). Ketika ia melihat Allah, Yesaya menjadi sangat sadar akan kebobrokan dirinya, bukan hanya kerusakan bangsanya. —Bill Crowder

Bagaimana buah kasih dapat dihasilkan lewat keterhubunganmu dengan Yesus? Apa saja berkat lain yang kita dapatkan bila kita terhubung dengan-Nya?

Tuhan Yesus, terima kasih untuk buah-buah baik yang Engkau hasilkan selagi aku terus terhubung dengan-Mu. Kiranya kuasa-Mu yang mengalir dalam diriku menghasilkan lebih banyak buah kasih bagi-Mu.

Thursday, November 5, 2020

Runtuhkan Rumah Ini

 

Runtuhkanlah Rumah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali. — Yohanes 2:19 BIS

Runtuhkan Rumah Ini

Di kota Pontiac, Michigan, Amerika Serikat, sebuah perusahaan penghancur bangunan telah meruntuhkan bangunan yang salah. Para penyelidik yakin pemilik rumah yang seharusnya diruntuhkan itu memindahkan nomor rumahnya ke rumah tetangganya, supaya rumahnya tidak dihancurkan. Yesus justru melakukan yang sebaliknya. Dia membiarkan “rumah”-Nya sendiri diruntuhkan demi kepentingan orang lain. Bayangkan situasi yang terjadi dan rasa bingung dari semua orang yang mendengar perkataan-Nya, termasuk murid-murid-Nya sendiri. Bayangkan mereka berpandang-pandangan heran saat Yesus menantang para pemimpin agama: “Runtuhkanlah Rumah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali” (Yoh. 2:19 BIS). Lalu para pemimpin itu membalas Dia dengan kesal, “Empat puluh enam tahun dibutuhkan untuk membangun Rumah Tuhan ini. Dan Engkau mau membangunnya kembali dalam tiga hari?” (ay.20 BIS). Mereka tidak tahu bahwa yang dimaksud Yesus sebagai Rumah Tuhan itu adalah tubuh-Nya sendiri (ay.21). Mereka tidak mengerti bahwa Yesus telah datang untuk menunjukkan bahwa semua kejahatan dan dosa yang kita lakukan terhadap diri sendiri atau orang lain pada akhirnya akan ditanggung oleh Dia. Tuhan Yesus yang akan menebusnya bagi kita. Allah selalu mengetahui isi hati kita, lebih daripada kita sendiri. Karena itulah Yesus tidak mengungkapkan terlebih dahulu segala rencana-Nya, bahkan tidak kepada orang-orang yang menyaksikan mukjizat-Nya dan percaya kepada-Nya (ay.23-25). Perkataan Yesus tidak akan mampu kita mengerti sekalipun Dia telah mengatakannya kepada kita. Akan tetapi, baik dahulu maupun sekarang, Allah secara perlahan menyingkapkan kasih dan kebaikan yang dikehendaki-Nya atas kita.—Mart DeHaan

WAWASAN
Bait Allah megah yang dibangun oleh Salomo untuk Allah (1 Raja-Raja 6) dijarah dan dihancurkan pada tahun 586 SM. Ketika orang-orang buangan Israel kembali dari penawanan di Babel (538 SM), Bait Allah dibangun lagi di bawah pimpinan Zerubabel (sekitar 516 SM). Namun, seiring berjalannya waktu, Bait Allah yang dibangun ulang ini juga dijarah dan dihancurkan. Pada tahun 19 SM, Herodes Agung berinisiatif memperbaiki strukturnya, dan bangunan ini dikenal sebagai Bait Allah Herodes. Meskipun sudah berfungsi pada masa hidup Yesus (lihat Yohanes 2:13-22), Bait Allah tersebut baru benar-benar selesai pada tahun 64 M, tetapi kembali dihancurkan pada tahun 70 M oleh orang-orang Romawi. —Arthur Jackson

Emosi apa yang biasanya kita anggap ada dalam hati Yesus ketika Dia “menyucikan Bait Allah”? Setelah kamu mengerti maksud Yesus, apakah kamu melihat tindakan-Nya sebagai bentuk belas kasihan Allah?

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk percaya bahwa Engkau selalu bekerja di balik segala sesuatu, melakukan yang jauh lebih banyak—dan jauh lebih baik—daripada yang kuketahui atau kumengerti.

Wednesday, November 4, 2020

Waktu Bersantai

 

Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan. —Amsal 30:24

Waktu Bersantai

Ramesh senang bercerita tentang Yesus kepada orang lain. Ia tidak segan-segan bersaksi kepada rekan-rekan kerjanya, dan sebulan sekali ia pulang kampung untuk mewartakan Injil dari rumah ke rumah. Sikapnya yang antusias itu menular—terutama sejak ia belajar pentingnya bersantai dan beristirahat.

Sebelum ini, Ramesh pergi ke luar rumah memberitakan Injil setiap akhir pekan dan hampir setiap malam. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan saat ia pergi, tetapi ketika Ramesh berada di rumah, ia sudah sangat kelelahan. Ia merasa bahwa waktu dan kesempatan yang ada harus digunakan untuk sesuatu yang berharga. Ia tidak bisa bersantai sejenak atau sekadar ngobrol-ngobrol. Ramesh terlalu serius.

Ia baru sadar bahwa hidupnya tidak seimbang ketika sang istri menegurnya secara terus terang, ditambah nasihat teman-temannya dan sejumlah ayat Kitab Suci yang tidak diduganya. Amsal 30 menyebutkan beberapa hewan yang biasa-biasa saja—semut, ayam jantan, dan belalang. Penulis amsal menyatakan kekagumannya terhadap “cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja” (ay.28).

Ramesh heran mengapa hal-hal biasa itu ada dalam Alkitab. Untuk memperhatikan cicak dibutuhkan waktu senggang yang cukup. Ada orang yang melihat cicak berkeliaran di istana dan menganggapnya menarik, lalu menghentikan kesibukannya untuk memperhatikan lebih jauh. Barangkali Allah memasukkan hal itu ke dalam firman-Nya untuk mengingatkan kita pada pentingnya keseimbangan antara kerja dan istirahat. Kita perlu waktu untuk melamun tentang alam, bermain dengan anak, atau sekadar bersantai bersama keluarga dan teman. Kiranya Allah memberi kita hikmat untuk mengetahui kapan kita harus bekerja, melayani, dan beristirahat!—Mike Wittmer

WAWASAN
Amsal 30 adalah kumpulan perkataan “Agur bin Yake” (Amsal 30:1). Kita tidak mengetahui siapa Agur maupun ayahnya, tetapi mereka mungkin berasal dari suku Masa, yang merupakan keturunan Ismael dan tinggal di daerah utara Arab (Kejadian 25:13-14; 1 Tawarikh 1:29-31). Jika Agur dan Yake merupakan orang Masa, maka kumpulan perkataan Agur dalam Amsal 30 adalah contoh dari karakter multibudaya dari Sastra Hikmat Ibrani, yang diadopsi dan dibentuk untuk teologi umat Israel. Salah satu alasan mengapa kitab Amsal terkadang “meminjam” materi dari budaya lain adalah karena Sastra Hikmat sering mengambil pelajaran dari dunia sekitar dan pengalaman hidup pada umumnya. Pengamatan-pengamatan seperti ini bersifat universal dan mencerminkan rancangan penciptaan Tuhan yang baik. Amsal 30 mengandung pengamatan dari alam dan hubungan-hubungan sosial yang memberikan pelajaran-pelajaran untuk hidup bijaksana. —Con Campbell

Bagaimana kamu menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat? Apakah menurut orang-orang terdekatmu, kamu mengasihi mereka? Jika ya, atau tidak, mengapa?

Tuhan Yesus, kasih-Mu memberiku kebebasan sehingga aku dapat bekerja dengan produktif dan beristirahat dengan cukup.

Tuesday, November 3, 2020

Pemelihara Pohon

 

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. —Mazmur 1:3

Pemelihara Pohon

Sebagian orang menjulukinya “pemelihara pohon.” Tony Rinaudo sebenarnya adalah penanam pohon yang bekerja bagi lembaga World Vision Australia. Ia misionaris sekaligus agronomis yang sudah tiga puluh tahun memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus sambil memerangi penggundulan hutan di Sahel, sebuah kawasan di selatan gurun Sahara, Afrika. Ketika melihat bahwa “semak-semak” kerdil sebenarnya adalah pohon yang tidak tumbuh sempurna, Rinaudo mulai membersihkan, merawat, dan menyirami semak-semak tersebut. Pekerjaan yang dilakukannya telah mengilhami ratusan ribu petani untuk menyelamatkan ladang-ladang mereka yang gagal panen dengan cara memulihkan hutan-hutan di sekitarnya dan memperbaiki tanah yang erosi. Sebagai contoh, para petani di Niger mengalami peningkatan panen dua kali lipat lebih banyak, demikian pula dengan penghasilan mereka. Jumlah orang yang memperoleh makanan dari hasil bumi mereka pun bertambah 2,5 juta per tahun. Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus menyebutkan prinsip pertanian yang serupa ketika Dia berkata, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (ay.1-2) Tanpa pemeliharaan yang dikerjakan Allah setiap hari, jiwa kita akan menjadi gersang dan kering. Namun, ketika kita menyukai firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam, kita akan menjadi “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air” (Mzm. 1:3). Daun-daun kita tidak akan “layu” dan apa saja yang kita kerjakan akan “berhasil“ (ay.3). Ketika kita dibersihkan dan berakar di dalam Dia, kita akan selalu bertumbuh dan berbuah banyak.—PATRICIA RAYBON

WAWASAN
Mazmur 1:1 menggunakan dua teknik sastra: paralelisme sintetis dan tricolon. Dalam paralelisme sintetis, baris kedua menyatakan ulang atau melanjutkan baris pertama. Tricolon menggunakan tiga frasa atau kata yang tampil secara berurutan tanpa interupsi. Dalam tiga pernyataan (tricolon) yang melanjutkan satu pernyataan ke pernyataan berikutnya (paralelisme sintetis), Mazmur 1 dibuka dengan gambaran apa yang tidak dilakukan oleh seseorang yang berbahagia: ia tidak “berjalan menurut nasihat orang fasik,” “berdiri di jalan orang berdosa,” atau “duduk dalam kumpulan pencemooh.” Berjalan dengan seseorang berarti berhubungan dengannya, tetapi tidak seakrab berdiri atau duduk dengannya. Para pencemooh menjadi puncak dari daftar ini karena mereka tidak hanya terlibat dalam kejahatan, tetapi juga mencemooh mereka yang mengejar kebenaran. Sebaliknya, ayat 2 menggambarkan apa yang dilakukan oleh seorang yang berbahagia: mereka menikmati Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Frasa “siang dan malam” menggambarkan totalitas. Seorang yang berbahagia tidak memikirkan hal-hal selain petunjuk Allah. —J.R. Hudberg

Bagaimana bentuk pemeliharaan Allah atas jiwamu? Apa yang kamu lakukan untuk dapat menyukai firman Tuhan?

Ya Allah pemeliharaku, kuserahkan hidupku yang penuh kegagalan ini untuk Engkau bersihkan dan sirami. Kuserahkan jiwaku yang kering ini agar dapat menjadi subur dan berbuah kembali di dalam Engkau.

Monday, November 2, 2020

Allah Mendengar Semuanya

 

Biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah. —1 Raja-raja 18:36

Allah Mendengar Semuanya

Salah satu jangka waktu keterlambatan pengiriman surat yang terlama dalam sejarah adalah delapan puluh sembilan tahun. Pada tahun 2008, seorang pemilik rumah di Inggris menerima undangan pesta yang dikirim pada tahun 1919 dan ditujukan kepada pemilik rumahnya di masa lalu. Undangan itu diletakkan dalam kotak suratnya oleh petugas pos, tetapi alasan mengapa undangan itu baru diterima setelah sekian puluh tahun masih tidak diketahui. Upaya manusia yang terbaik untuk berkomunikasi terkadang berakhir dengan kegagalan, tetapi Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa Allah tidak pernah gagal mendengar seruan umat-Nya yang setia. Dalam 1 Raja-Raja 18, Nabi Elia menunjukkan perbedaan yang sangat nyata antara dewa Baal dan Tuhan Allah. Dalam suatu kontes untuk membuktikan siapa Allah yang benar, Elia menyindir nabi-nabi Baal yang telah berdoa berjam-jam tanpa hasil: ”Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga” (ay.27). Kemudian Elia berdoa memohon jawaban Allah agar umat-Nya berpaling kembali kepada-Nya, dan kuasa Allah pun benar-benar dinyatakan. Walaupun doa-doa kita mungkin tidak selalu dijawab secepat doa Elia, kita tetap bisa yakin bahwa Allah mendengar doa-doa kita (Mzm. 34:18). Alkitab mengingatkan kita bahwa Dia begitu menghargai doa-doa kita sehingga semua doa itu ditaruh di hadapan-Nya dalam “satu cawan emas,” bagaikan kemenyan yang berharga (Why. 5:8). Allah akan menjawab setiap doa dengan hikmat dan cara-Nya yang sempurna. Doa yang dikirim ke surga tidak akan hilang di tengah jalan. —JAMES BANKS

WAWASAN
Kebudayaan Timur Dekat kuno didominasi oleh kepercayaan politeistis, yang meyakini banyaknya dewa-dewi yang hidup dalam sebuah hierarki, masing-masing dengan kekuatan yang berbeda-beda. Baal dipercaya sebagai dewa kesuburan dan badai, dan digambarkan sebagai seorang petarung yang membawa sebuah kilat petir. Para dewa juga dipandang memiliki karakteristik manusiawi—mereka butuh tidur atau sering bepergian, sehingga manusia sulit mendapatkan perhatian mereka. Karenanya, Elia menyindir para nabi Baal dengan kepercayaan mereka sendiri—dengan mencemooh ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan perhatian dewa mereka—sebelum menunjukkan kuasa Yahweh yang tak tertandingi dalam hal-hal yang diklaim sebagai ranah kekuasaan Baal (api, petir, dan badai). —Monica La Rose

Apa artinya bagimu bahwa Allah peduli dan mendengar doa-doamu? Bagaimana caramu berterima kasih kepada-Nya atas kesetiaan-Nya mendengarkan seruan doamu hari ini?

Ya Bapa, sungguh luar biasa bahwa Engkau selalu mendengar doa-doaku! Aku memuji-Mu karena doa-doaku berharga bagi-Mu.

Sunday, November 1, 2020

Sebuah Taco

 

Barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun . . . Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya. —Matius 10:42

Sebuah Taco

Setelah lulus dari sebuah universitas Kristen, Ashton dan Austin Samuelson mempunyai kerinduan yang besar untuk melayani Tuhan. Namun, keduanya tidak merasa terpanggil melayani seperti kebanyakan orang di gereja. Mereka ingin melakukan pelayanan yang berbeda di tengah dunia. Jadi, mereka memadukan kerinduan mereka untuk mengentaskan kelaparan anak-anak di dunia dengan keterampilan wirausaha yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Pada tahun 2014, mereka pun membuka restoran yang menjual taco, suatu makanan khas Meksiko. Namun, tidak seperti restoran lainnya, Samuelson bersaudara menerapkan prinsip “beli satu-beri satu.” Jadi, untuk setiap makanan yang dibeli, mereka akan mendonasikan uang bagi penyediaan makanan yang khusus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak yang kurang sehat. Sejauh ini, mereka sudah berkontribusi di lebih dari enam puluh negara. Mereka ingin mengambil bagian dalam upaya pengentasan kelaparan yang terjadi pada anak-anak—lewat setiap taco yang mereka jual. Maksud Yesus dalam Matius 10 sangat jelas: ketaatan dibuktikan dengan tindakan, bukan kata-kata (ay.37-42). Salah satu tindakan itu adalah memberi kepada “salah seorang yang kecil ini.’’ Bagi Ashton dan Austin, itu artinya memberi kepada anak-anak. Namun, perhatikan bahwa istilah “kecil” di sini tidak terbatas pada usia. Kristus memanggil kita untuk memberi kepada siapa pun yang dianggap “kecil” oleh dunia: orang miskin, orang sakit, narapidana, pengungsi, dan mereka yang berkekurangan dalam apa pun. Lalu, apa yang kita beri? Yesus berkata, “memberi air sejuk secangkir sajapun” (ay.42). Sesuatu yang kecil dan sederhana seperti secangkir air saja memenuhi syarat, apalagi sebuah taco.—JOHN BLASE

WAWASAN
Setiap penulis Injil, oleh ilham Roh Kudus, memiliki rencana yang jelas dalam menuturkan kisah Yesus. Setiap penulis memiliki sasaran pembaca masing-masing dan ingin agar mereka dapat memahami tulisannya sebaik mungkin. Kepada pembaca utama yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Matius membangun kesaksiannya dalam lima pokok pengajaran utama, dimulai dengan Khotbah di Bukit (pasal 5-7) dan diakhiri dengan Pengajaran di Bukit Zaitun (pasal 24-25), dengan tiga lagi di antaranya (pasal 10,13,18). Beberapa ahli mengatakan bahwa cara ini akan dipahami oleh para pembaca Yahudi karena kelima pokok pengajaran Yesus menjadi sejajar dengan kelima kitab Musa (Taurat) dan kelima jilid dari Mazmur. Selain itu, Matius sangat bergantung pada Perjanjian Lama, dengan mengutipnya sebanyak kurang lebih lima puluh kali dan menggunakannya sebagai acuan sekitar tujuh puluh lima kali. —Bill Crowder

Dalam hidumu, siapakah yang dianggap “kecil” oleh dunia? Hal kecil apa yang dapat kamu lakukan hari ini untuk melayani “salah seorang yang kecil ini”?

Tuhan Yesus, berilah aku mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, agar aku dapat melayani orang-orang “kecil” yang kutemui hari ini, walau dengan cara yang sederhana.

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate