Pages - Menu

Saturday, June 30, 2018

Terang Dunia

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya. —Wahyu 3:20
Terang Dunia
Salah satu karya seni favorit saya tergantung di ruang kapel Keble College di Oxford, Inggris. Lukisan The Light of the World (Terang Dunia) karya William Holman Hunt asal Inggris itu menunjukkan Yesus yang memegang lentera dan sedang mengetuk pintu sebuah rumah.
Salah satu aspek menarik dari lukisan itu adalah pintunya tidak memiliki pegangan. Ketika ditanya tentang tidak adanya cara untuk membuka pintu itu, Hunt menjelaskan bahwa ia ingin memberikan gambaran yang sesuai dengan Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.”
Tulisan Rasul Yohanes dan lukisan itu menggambarkan kebaikan hati Yesus. Dengan lembut Dia mengetuk pintu hati kita untuk menawarkan damai sejahtera-Nya. Yesus berdiri dengan sabar sambil menantikan respons kita. Dia tidak akan membuka sendiri pintu hati kita dan memaksakan diri-Nya masuk ke dalam hidup kita. Dia tidak memaksakan kehendak-Nya atas kita. Alih-alih, Yesus menawarkan anugerah keselamatan kepada tiap orang dan terang-Nya untuk menuntun kita.
Kepada tiap orang yang membuka pintu hatinya, Yesus berjanji akan masuk dan mendapatkannya. Tak ada syarat dan ketentuan lainnya.
Apabila kamu mendengar suara Tuhan Yesus dan ketukan lembut-Nya pada pintu hati kamu, yakinlah bahwa Yesus sedang menantimu dengan sabar dan Dia akan masuk ke dalam hatimu jika kamu mempersilakan-Nya. —Lisa Samra
Tuhan, terima kasih atas anugerah keselamatan dan janji-Mu untuk masuk mendapatkan kami di saat kami membuka pintu hati kami. Tolonglah kami untuk merespons anugerah itu dan membuka pintu hati kami bagi-Mu hari ini.
Bukalah pintu hatimu untuk Yesus; Dia dengan sabar menanti kamu membukanya.

Friday, June 29, 2018

Gambaran Kasih

Saya minta dengan sangat supaya kita semua saling mengasihi. Yang saya kemukakan ini bukanlah suatu perintah yang baru; perintah ini sudah diberikan kepada kita sejak kita mula-mula percaya. —2 Yohanes 1:5 BIS
Gambaran Kasih
Saya dan anak-anak telah mempraktikkan suatu aktivitas harian baru. Setiap malam sebelum tidur, kami mengumpulkan pensil warna-warni dan menyalakan lilin. Sembari meminta Allah untuk menerangi jalan kami, kami membuka buku jurnal kami masing-masing, lalu menggambar atau menulis jawaban dari dua pertanyaan berikut: Kapan aku menunjukkan kasih hari ini? dan Kapan aku gagal menyatakan kasih hari ini?
Mengasihi sesama telah menjadi bagian penting dari kehidupan Kristen sejak semula (2Yoh. 1:5). Itulah yang ditulis Yohanes dalam surat kedua kepada jemaatnya. Ia meminta mereka semua untuk saling mengasihi dalam ketaatan kepada Allah (2Yoh. 1:5-6). Kasih adalah salah satu topik favorit Yohanes dalam surat-suratnya. Ia mengatakan bahwa menerapkan kasih secara nyata merupakan salah satu cara untuk mengetahui bahwa kita “berasal dari kebenaran,” yaitu bahwa kita sungguh-sungguh hidup di hadapan Allah (1Yoh. 3:18-19). Ketika saya dan anak-anak merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami menemukan bahwa dalam hidup kami, kasih ditunjukkan lewat perbuatan-perbuatan sederhana: meminjamkan payung, menghibur seseorang yang bersedih, atau memasak makanan kesukaan teman. Momen-momen saat kami gagal menunjukkan kasih juga sama sederhananya: kami bergosip, enggan berbagi, atau memuaskan keinginan kami sendiri tanpa peduli kebutuhan orang lain.
Perenungan yang kami lakukan setiap malam itu menolong kami untuk makin peka dan menangkap apa yang ditunjukkan Roh Kudus kepada kami di sepanjang hidup ini. Dengan pertolongan-Nya, kami belajar untuk “hidup di dalam kasih” (2Yoh. 1:6). —Amy Peterson
Tuhan, kiranya kami tidak hanya mengasihi dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Ajarlah kami menaati panggilan-Mu untuk saling mengasihi.
Bagaimana saya dapat menyatakan kasih hari ini?

Thursday, June 28, 2018

Cincin di Tempat Sampah

Carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. —Matius 7:7
Cincin di Tempat Sampah
Suatu pagi, semasa kuliah, saya terbangun dan melihat teman sekamar saya Carol sedang panik. Cincin stempelnya hilang. Kami pun mencarinya ke mana saja, bahkan sampai mengubek-ubek tempat sampah.
Saya menyobek salah satu plastik sampah. “Kamu begitu gigih mencari cincin ini!”
“Aku tak rela kehilangan cincin seharga $200 (sekitar Rp2.800.000)!” serunya.
Tekad Carol itu mengingatkan saya pada perumpamaan Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Surga. Dia menyatakan bahwa kerajaan itu “seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Mat. 13:44). Sungguh, ada hal-hal tertentu yang memang layak dicari dan diperjuangkan.
Di sepanjang Alkitab, Allah menjamin bahwa mereka yang mencari-Nya pasti akan menemukan-Nya. Dalam kitab Ulangan, Allah menjelaskan kepada bangsa Israel bahwa mereka akan menemukan-Nya saat mereka berpaling dari dosa-dosa mereka dan mencari-Nya dengan segenap hati (4:28-29). Dalam kitab 2 Tawarikh, Raja Asa dikuatkan oleh janji yang serupa (15:2). Lalu, dalam kitab Yeremia, Allah memberikan janji yang sama kepada umat-Nya yang terbuang, dengan mengatakan bahwa Dia akan membawa mereka kembali dari pembuangan (29:13-14).
Apabila kita mencari Allah, melalui firman-Nya, ibadah, dan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pasti akan menemukan-Nya. Seiring waktu, kita akan semakin dalam mengenal-Nya. Itu bahkan jauh lebih indah daripada kebahagiaan yang dialami Carol saat menemukan cincinnya di dalam plastik sampah! —Julie Schwab
Tuhan, tolong aku untuk mencari-Mu dengan segenap hatiku.
Untuk menemukan Allah, kita harus mau mencari-Nya.

Wednesday, June 27, 2018

Terbebas

Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah . . . sekarang diperdamaikan-Nya. —Kolose 1:21-22
Terbebas
Jonathan adalah anak laki-laki yang terlahir dengan cerebral palsy (kelumpuhan otak). Ia sempat tidak dapat berbicara atau berkomunikasi. Namun ibunya, Chantal Bryan, tidak pernah menyerah. Saat anak itu berusia sepuluh tahun, ibunya menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya melalui gerak-gerik mata dan sebuah papan huruf. Setelah mengalami terobosan itu, sang ibu berkata, “Ia seakan terbebas dan kami dapat menanyakan apa pun kepadanya.” Kini Jonathan dapat membaca dan menulis, bahkan mengarang puisi; semuanya lewat komunikasi dengan kedua matanya. Saat ditanya bagaimana rasanya bisa “berbicara” dengan keluarga dan teman-temannya, ia menjawab, “Sungguh luar biasa aku bisa mengatakan bahwa aku mengasihi mereka.”
Kisah Jonathan begitu menyentuh dan membuat saya merenungkan karya Allah yang luar biasa dalam melepaskan kita dari belenggu dosa. Seperti yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, dahulu kita “hidup jauh dari Allah” (Kol. 1:21), perbuatan kita yang jahat membuat kita berseteru dengan-Nya, tetapi melalui kematian Kristus di kayu salib, sekarang kita ditempatkan “kudus . . . di hadapan-Nya” (ay.22). Kini kita dapat hidup “layak di hadapan-Nya” dengan memberi buah, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, dan dikuatkan dengan kuasa-Nya (ay.10-11).
Setelah terbebas dari dosa, kita dapat memakai suara kita untuk memuji Allah dan membagikan kabar baik-Nya tentang hidup yang tidak lagi terikat oleh dosa. Sambil bertekun dalam iman, kita dapat tetap memegang teguh pengharapan kita di dalam Kristus. —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, Engkau telah melepaskan kami dari belenggu ketidakpercayaan dan memberi kami kata-kata untuk memuji-Mu. Kiranya kami rela membagikan kebebasan ini dengan orang lain untuk kemuliaan-Mu.
Tuhan membebaskan kita dari belenggu dosa kita.

Tuesday, June 26, 2018

Dimerdekakan

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. —Roma 8:1
Dimerdekakan
Saat saya masih kecil dan tinggal di desa, ada satu hal tentang ayam yang menarik perhatian saya. Setiap kali berhasil menangkap seekor anak ayam, saya akan menggenggamnya sebentar, lalu dengan lembut melepaskannya. Namun, anak ayam itu tetap diam karena dikiranya masih berada dalam genggaman saya; meski bisa bebas berlari, anak ayam itu merasa terperangkap.
Saat kita beriman kepada Yesus, dengan penuh rahmat Dia melepaskan kita dari dosa dan cengkeraman Iblis atas kita. Namun, karena dibutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan dan perilaku kita yang berdosa, Iblis dapat membuat kita merasa terperangkap. Akan tetapi, Roh Allah telah memerdekakan kita dan Dia tidak memperbudak kita. Kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:1-2).
Melalui pembacaan Alkitab, doa, dan kuasa Roh Kudus, Allah bekerja di dalam diri kita untuk memurnikan dan memampukan kita hidup bagi-Nya. Alkitab mendorong kita agar tetap berjalan bersama Yesus dengan penuh kepastian dan tidak dibelenggu keraguan seolah-olah kita belum dimerdekakan.
Yesus berkata, “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36). Kiranya kemerdekaan yang kita miliki di dalam Yesus Kristus mendorong kita untuk senantiasa mengasihi dan melayani-Nya. —Lawrence Darmani
Tuhan, ampuni aku yang terkadang masih mengingat masa lalu dan lupa bahwa Engkau telah menghapus dosa-dosaku. Terima kasih karena Engkau telah memikul bebanku dan memerdekakanku untuk menikmati hidup bagi-Mu.
Terbukalah pasunganku; ‘ku bangkit dan mengikut-Mu. Charles Wesley [Kidung Jemaat, No. 31b]

Monday, June 25, 2018

Berdoa

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. —Kolose 3:17
Berdoa
Selama bertahun-tahun, saya menyukai tulisan-tulisan karya penulis Inggris, G. K. Chesterton. Selera humor dan wawasannya sering membuat saya tertawa dan kemudian terdiam sejenak untuk merenungkannya lebih serius. Sebagai contoh, ia menulis, “Kamu berdoa sebelum makan. Itu baik. Namun, saya berdoa sebelum drama dan opera dimulai, berdoa sebelum konser dan pantomim berlangsung, dan berdoa sebelum membaca buku, menggambar, melukis, berenang, bermain anggar, bertinju, berjalan-jalan, bermain, berdansa; dan berdoa sebelum saya mencelupkan pena ke dalam tinta untuk menulis.”
Memang baik untuk bersyukur kepada Tuhan sebelum kita makan, tetapi tidak cukup sampai di situ. Rasul Paulus memandang setiap aktivitas dan perbuatan sebagai alasan untuk bersyukur kepada Allah dan sesuatu yang sepatutnya kita lakukan untuk kemuliaan-Nya. “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17). Rekreasi, pekerjaan, dan pendidikan adalah sarana-sarana yang dapat kita gunakan untuk memuliakan Tuhan dan mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya.
Paulus juga mendorong jemaat di Kolose, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (ay.15).
Di mana pun dan kapan pun kita ingin mengucap syukur kepada Tuhan dan memuliakan nama-Nya, itulah tempat dan waktu terbaik bagi kita untuk “berdoa”. —David C. McCasland
Tuhan, terima kasih untuk hidup kekal yang Engkau karuniakan. Kiranya kami mengakui dan memuliakan-Mu sepanjang hari ini.
Marilah mengucap syukur kepada Allah dan memuliakan nama-Nya lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Sunday, June 24, 2018

Penghiburan dari Sahabat

Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya. —Ayub 2:13
Penghiburan dari Sahabat
Saya pernah membaca kisah tentang seorang ibu yang kaget saat melihat putrinya pulang sekolah dengan berlepotan lumpur dari pinggang sampai kaki. Putrinya menjelaskan bahwa seorang temannya terpeleset dan jatuh ke dalam kubangan lumpur. Selagi teman yang lain mencari bantuan, ia merasa kasihan kepada temannya yang sedang duduk sendirian sambil memegangi kakinya yang terluka itu. Jadi, ia pun ikut duduk dalam kubangan lumpur itu dan menemani temannya sampai ada guru yang datang.
Ketika Ayub mengalami kehilangan hebat dengan kematian anak-anaknya dan didera bisul yang menyakitkan di sekujur tubuhnya, penderitaannya begitu tak tertahankan. Alkitab mengatakan bahwa ada tiga teman Ayub yang ingin menghiburnya. Saat mereka menemukan Ayub, “menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb. 2:12-13).
Teman-teman Ayub awalnya menunjukkan pengertian yang luar biasa. Mereka bisa merasakan bahwa yang Ayub butuhkan hanyalah seseorang yang rela menemani dan ikut berduka bersamanya. Ketiga teman itu baru berbicara kepada Ayub di pasal-pasal berikutnya, tetapi ironisnya, mereka justru memberinya nasihat yang tidak baik (16:1-4).
Sering kali, hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk menghibur seorang teman yang sedang terluka adalah dengan mendampinginya di tengah penderitaannya. —Lisa Samra
Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk menjadi teman yang baik bagi mereka yang sedang terluka. Terima kasih karena Engkau berjanji menyertai mereka yang menderita dan menguatkan mereka dengan kehadiran Roh Kudus-Mu.
Sahabat yang hadir di tengah penderitaan sungguh memberikan penghiburan yang luar biasa.

Saturday, June 23, 2018

Milik Tuhan

Akulah Tuhan yang menjadikan engkau, . . . dan yang menolong engkau. Jangan takut, . . . umat pilihan-Ku yang Kukasihi. —Yesaya 44:2 bis
Milik Tuhan
Malam sebelumnya saya pulang larut, seperti yang biasa saya lakukan setiap Sabtu malam. Saat itu, di usia 20 tahun, saya sedang melarikan diri dari Allah sejauh mungkin. Namun tiba-tiba saja, hari itu saya merasakan dorongan yang kuat untuk menghadiri kebaktian di gereja yang digembalakan ayah saya. Dengan mengenakan celana jeans yang pudar warnanya, kaos usang, dan sepatu kets dengan tali terurai, saya berkendara ke gereja.
Saya tak ingat lagi isi khotbah ayah saya hari itu, tetapi saya tak pernah lupa betapa bahagianya beliau saat melihat saya. Ia memperkenalkan saya kepada setiap orang yang ditemuinya. “Ini anak saya!” katanya dengan bangga. Sukacitanya menjadi gambaran kasih Allah yang hingga puluhan tahun kemudian masih membekas dalam hati saya.
Gambaran Allah sebagai Bapa yang pengasih muncul di sepanjang Alkitab. Dalam Yesaya 44, sang nabi menyela serangkaian peringatan untuk menyampaikan pesan Allah tentang kasih dalam keluarga-Nya. Allah berkata, “Umat pilihan-Ku yang Kukasihi. . . . Aku akan memberikan kuasa-Ku kepada keturunanmu, dan memberkati anak cucumu” (ay.2-3 bis). Yesaya mencatat bagaimana respons dari kaum keturunan itu memperlihatkan kebanggaan mereka menjadi anggota keluarga Allah. “Seorang demi seorang akan mengaku dirinya milik-Ku, . . . Masing-masing menulis di tangannya: Milik Tuhan” (ay.5).
Orang Israel yang bebal itu adalah milik Allah, sama seperti saya menjadi bagian dari keluarga ayah angkat saya. Tiada yang dapat membuatnya berhenti mengasihi saya. Itulah gambaran dari kasih Bapa Surgawi kepada kita. —Tim Gustafson
Bapa Surgawi, kami semua berasal dari keluarga yang tidak sempurna. Terima kasih karena Engkau mengasihi kami di dalam ketidaksempurnaan itu dan menunjukkan kepada kami apa yang dimaksud dengan kasih sejati.
Kasih Allah yang kita terima menjamin status dan identitas kita sebagai anggota keluarga-Nya.

Friday, June 22, 2018

Persekutuan dengan Yesus

Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8
Persekutuan dengan Yesus
Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman istimewa untuk duduk di sebelah penginjil besar Billy Graham pada sebuah acara makan malam. Saya merasa terhormat sekaligus agak gugup memikirkan apa yang sepantasnya saya katakan kepadanya. Saya pikir menarik juga jika saya membuka percakapan dengan menanyai beliau tentang apa yang paling memberinya sukacita dalam pelayanannya selama bertahun-tahun. Kemudian saya mencoba untuk mengusulkan beberapa kemungkinan jawaban: Apakah waktumu mengenal banyak pemimpin negara di dunia? Atau waktu memberitakan Injil kepada jutaan orang di seluruh dunia?
Sebelum saya selesai menyebutkan kemungkinan-kemungkinan itu, Rev. Graham menghentikan saya. Tanpa ragu, ia berkata, “Persekutuan saya dengan Yesus. Merasakan kehadiran-Nya, menerima hikmat-Nya, mengalami tuntunan dan arahan-Nya—itulah sukacita terbesar saya.” Seketika itu juga saya merasa malu sekaligus tertantang oleh jawabannya. Saya merasa malu karena saya tidak yakin jawaban itu akan menjadi jawaban saya jika saya yang ditanya. Saya merasa tertantang karena saya ingin dapat menjawab seperti itu.
Itulah yang dipikirkan Paulus ketika ia menganggap semua pencapaian besarnya tidak lagi berarti jika dibandingkan dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:8). Pikirkanlah, betapa berlimpahnya hidup kita apabila Tuhan Yesus dan persekutuan kita dengan-Nya menjadi prioritas utama kita. —Joe Stowell
Tuhan, ampunilah aku karena sering memprioritaskan hal-hal yang lebih remeh daripada persekutuanku dengan-Mu. Terima kasih karena Engkau selalu rindu memperkaya hidupku dengan kehadiran dan kuasa-Mu.
Agar tetap setia di mana pun Allah menempatkanmu saat ini, tempatkanlah Kristus sebagai yang utama di dalam hatimu.

Thursday, June 21, 2018

Mempergunakan Waktu

Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. —Efesus 5:16
Mempergunakan Waktu
“Orang Barat punya jam. Orang Afrika punya waktu.” Demikianlah peribahasa Afrika yang dikutip Os Guinness dalam bukunya Impossible People. Perkataan itu membuat saya merenungkan saat-saat ketika saya menanggapi permintaan seseorang dengan jawaban, “Maaf, aku tak punya waktu.” Saya terpikir tentang bagaimana saya ditindas oleh hal-hal yang terasa mendesak dan bagaimana jadwal serta tenggat mendominasi hidup saya.
Musa berdoa dalam Mazmur 90, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (ay.12). Dan Paulus menulis, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Ef. 5:15-16).
Saya pikir, Paulus dan Musa tentu setuju bahwa mempergunakan waktu yang ada secara bijak bukanlah soal mengatur jadwal dengan bermacam-macam kegiatan. Keadaan bisa saja mengharuskan kita untuk mempunyai jadwal yang padat—atau sebaliknya, kita mungkin didorong untuk menyisihkan lebih banyak waktu bagi seseorang.
Kita hanya punya waktu sesaat saja untuk mempengaruhi dunia ini bagi Kristus dan kita perlu memaksimalkan kesempatan itu. Hal itu mungkin berarti kita perlu mengesampingkan jadwal atau rencana kita untuk sementara waktu dan menunjukkan belas kasihan Kristus kepada orang-orang yang dibawa-Nya masuk dalam hidup kita.
Kita mempengaruhi zaman ini dengan dampak yang kekal ketika kita mengisi waktu yang ada dengan kekuatan dan anugerah dari Kristus yang hidup selama-lamanya. —Bill Crowder
Ya Bapa, Engkau telah memberi kami waktu yang kami butuhkan untuk menggenapi apa yang Engkau kehendaki untuk kami lakukan. Kiranya kami mempergunakan waktu yang ada itu dengan cara-cara yang memuliakan-Mu.
Manajemen waktu bukanlah soal mengisi jadwal, tetapi soal mempergunakan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya.

Wednesday, June 20, 2018

Setiap Momen Berarti

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. —Filipi 1:21
Setiap Momen Berarti
Ketika saya bertemu seorang wanita lanjut usia bernama Ada, ia telah hidup lebih lama dari semua sahabat dan kerabatnya. Ada kini tinggal di panti wreda. “Bagian tersulit dari bertambah tua,” katanya kepada saya, “adalah melihat satu demi satu kenalan kita berpulang dan meninggalkan kita.” Suatu hari saya bertanya kepada Ada apa yang membuatnya bertahan dan bagaimana ia mengisi waktunya. Ia menjawab dengan mengutip sebuah ayat Kitab Suci yang ditulis Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Kemudian ia berkata, “Selagi masih diberi napas, masih ada yang harus kulakukan. Jika kondisiku baik, aku bisa bercerita tentang Yesus kepada orang-orang di panti ini; jika kondisiku menurun, aku masih bisa berdoa.”
Penting untuk diketahui bahwa Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi saat ia berada di dalam penjara. Ia mengakui kenyataan yang dipahami oleh banyak orang Kristen menjelang kematian mereka: Sekalipun surga tampak begitu memikat, sisa masa hidup yang masih kita miliki di bumi sangatlah berarti bagi Allah.
Seperti Paulus, Ada menyadari bahwa setiap tarikan napasnya merupakan kesempatan untuk melayani dan memuliakan Allah. Jadi, Ada mengisi hari-harinya dengan mengasihi orang lain dan memperkenalkan mereka kepada Juruselamatnya.
Dalam momen-momen tergelap sekalipun, kita sebagai orang Kristen dapat berpegang pada janji bahwa kita akan menerima sukacita abadi bersama Allah di surga kelak. Namun, selama kita masih hidup, kita menikmati hubungan yang erat dengan-Nya. Dia menjadikan setiap momen dalam hidup kita berarti. —Randy Kilgore
Tuhan, berilah aku kekuatan untuk melayani-Mu dengan setiap tarikan napasku, supaya setiap momen dari sisa hidupku ini menjadi berarti bagi Kerajaan-Mu.
Ketika tiba waktunya Allah memanggil kita pulang, kiranya Dia menemukan kita sedang melayani-Nya.

Tuesday, June 19, 2018

Tergesa-gesa Menghakimi

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. —Matius 7:1
Tergesa-gesa Menghakimi
Saya sering tergesa-gesa menghakimi orang-orang yang berjalan kaki sambil menatap ponsel mereka. Saya pikir, bagaimana mungkin mereka begitu masa bodoh dengan mobil yang lalu-lalang dan bisa saja menabrak mereka? Tidakkah mereka peduli dengan keselamatan mereka sendiri? Namun suatu hari, saat menyeberangi jalan menuju suatu gang, saya begitu terpaku pada sebuah pesan di ponsel sampai-sampai saya tidak menyadari mobil yang datang dari sisi kiri saya. Syukurlah, pengemudi mobil itu melihat saya dan berhenti saat itu juga. Namun, saya merasa malu. Tadinya saya pikir saya ini lebih baik daripada orang lain, tetapi kini semua penghakiman yang saya lontarkan kepada mereka berbalik kepada saya. Saya telah menghakimi orang lain karena satu hal, tetapi ternyata saya sendiri melakukan perbuatan yang sama.
Kemunafikan saya adalah perbuatan yang ditegur Yesus dalam Khotbah di Bukit: “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5). Ada “balok” besar di mata saya—sebuah kekurangan dalam diri yang tidak saya sadari tetapi yang saya pakai untuk menghakimi orang lain.
“Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi,” kata Yesus (7:2). Saat membayangkan kembali raut wajah kesal pengemudi yang berhenti mendadak saat saya melintas di depan mobilnya hari itu, saya diingatkan pada kejengkelan yang saya tunjukkan kepada orang lain yang sedang asyik dengan ponsel mereka.
Tak satu pun dari kita sempurna. Namun, terkadang saya melupakan hal itu ketika saya begitu tergesa-gesa menghakimi orang lain. Kita semua sungguh membutuhkan anugerah Allah. —Linda Washington
Bapa Surgawi, tolonglah aku agar lebih cepat menghibur atau menguatkan sesamaku daripada menghakimi mereka.
Janganlah tergesa-gesa menghakimi orang lain.

Monday, June 18, 2018

Berkat di Tengah Kekacauan

Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. —Filipi 1:6
Berkat di Tengah Kekacauan
Kadang saya berpikir, ketika saya membuat kacau, saya sendiri yang harus membereskannya. Walaupun saya percaya bahwa Allah penuh kasih sayang, saya cenderung bersikap seolah-olah Dia hanya mau menolong pada saat keadaan saya baik-baik saja.
Pandangan yang tidak benar itu tergambar dengan sangat indah lewat perjumpaan pertama Allah dengan Yakub.
Seumur hidup, Yakub berusaha mengubah nasibnya. Ia lahir sebagai anak kedua di masa ketika putra sulunglah yang menerima berkat dari sang ayah—berkat yang diyakini sebagai jaminan kesejahteraan masa depan seseorang.
Jadi, Yakub memutuskan untuk melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan berkat ayahnya. Akhirnya, dengan menipu, ia berhasil mendapatkan berkat yang sebenarnya dimaksudkan untuk kakaknya (Kej. 27:19-29).
Namun, sebagai akibatnya, keluarga Yakub terpecah dan ia harus melarikan diri dari kakaknya yang murka (ay.41-43). Keadaan itu tentu jauh sekali dari bayangan Yakub tentang hidup yang diberkati.
Akan tetapi, setelah menjalani hidup yang penuh siasat, Yakub bertemu dengan Allah pada suatu malam (28:11). Allah menunjukkan kepada Yakub bahwa ia tidak perlu bersiasat untuk menerima berkat, karena ia sudah diberkati. Tujuan hidup Yakub—yang jauh lebih besar daripada kelimpahan materi (ay.14)—dijamin penuh oleh Pribadi yang tidak akan pernah meninggalkan dirinya (ay.15).
Itulah pelajaran yang harus dipelajari Yakub di sepanjang hidupnya.
Demikian juga kita. Sebesar apa pun penyesalan yang kita rasakan atau seberapa pun kita merasa jauh dari Allah, sesungguhnya Dia tetap hadir—menuntun kita dengan lembut dan membawa kita keluar dari tengah kekacauan untuk menerima berkat dari-Nya. —Monica Brands
Tuhan, kami sering merasa terperangkap oleh kesalahan kami sendiri, sehingga kami merasa tak ada lagi masa depan bagi kami. Ingatkan kami bahwa Engkaulah Allah Yakub yang takkan melalaikan tujuan-Mu atas hidup kami.
Allah tidak pernah melalaikan kasih dan tujuan-Nya atas hidup kita.

Sunday, June 17, 2018

Tempat Perlindungan yang Teguh

[Orang] akan berkata kepada Tuhan: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” —Mazmur 91:2
Tempat Perlindungan yang Teguh
Pekerjaan pertama saya adalah menjadi pegawai sebuah restoran cepat saji. Pada suatu Sabtu malam, seorang pria datang ke restoran dan bertanya kapan saya selesai bekerja. Itu membuat saya merasa tidak nyaman. Ketika hari semakin larut, ia kembali memesan kentang goreng, lalu memesan minuman, sehingga manajer saya tidak bisa mengusirnya. Walaupun rumah saya tidak terlalu jauh, saya takut berjalan pulang sendirian melewati beberapa tempat parkir yang gelap dan jalan setapak yang melintasi sebuah lapangan. Akhirnya, pada tengah malam, saya masuk ke ruang kantor untuk menelepon.
Orang yang saya telepon adalah ayah saya. Tanpa pikir panjang, ia segera meninggalkan kehangatan tempat tidurnya dan lima menit kemudian telah tiba di restoran untuk menjemput saya.
Keyakinan saya kepada ayah untuk datang dan menolong saya malam itu mengingatkan saya pada kepastian yang kita baca dalam Mazmur 91. Bapa kita di surga selalu menyertai, melindungi, dan memperhatikan kita ketika kita bingung, takut, atau membutuhkan pertolongan. Dia berkata, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab” (Mzm. 91:15). Allah tidak hanya menjadi tempat kita mencari perlindungan. Dia sendiri adalah perlindungan kita (ay.1). Dialah Gunung Batu yang dapat kita andalkan sebagai perlindungan (ay.2).
Di masa-masa yang menakutkan, membahayakan, atau penuh ketidakpastian, kita dapat mempercayai janji Allah. Dia berjanji bahwa ketika kita berseru kepada-Nya, Dia akan menjawab dan menyertai kita dalam kesesakan (ay.14-15). Allah itulah tempat perlindungan kita yang teguh. —Cindy Hess Kasper
Ya Bapa, terima kasih Engkau telah menjadi Gunung Batu dan tempat perlindunganku yang teguh.
Allah yang hidup akan selalu menjadi tempat perlindungan kita.

Saturday, June 16, 2018

Persis Seperti di Iklan

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33
Persis Seperti di Iklan
Dalam suatu liburan, saya dan suami mendaftarkan diri mengikuti wisata arung jeram santai di Sungai Chattahoochee, Georgia, Amerika Serikat. Hari itu saya mengenakan sandal, gaun terusan santai, dan topi lebar. Betapa kagetnya kami saat mengetahui bahwa wisata itu akan melewati sebuah jeram kecil yang cukup deras. Itu tidak ada di iklan yang kami lihat! Syukurlah kami serakit dengan pasangan yang sudah cukup berpengalaman mengarungi jeram. Mereka mengajari suami saya dasar-dasar mendayung dan berjanji mengarahkan kami untuk tiba di tujuan dengan selamat. Meski memakai pelampung, saya tetap menggenggam erat pegangan plastik pada rakit itu sambil berteriak-teriak. Setibanya di tepian sungai yang berlumpur dan turun dari rakit, saya harus membuang air dari dalam tas, sementara suami membantu saya memeras ujung gaun saya yang basah kuyup. Kami sangat senang, meskipun perjalanan itu tidak seperti yang diiklankan.
Tidak seperti brosur wisata yang tidak mencantumkan detail penting tentang jalur yang akan ditempuh, Yesus secara gamblang memperingatkan murid-murid-Nya tentang kesulitan yang akan mereka hadapi. Dia mengatakan bahwa mereka akan dianiaya dan dibunuh, serta Dia sendiri akan mati lalu dibangkitkan. Namun, Yesus juga menjamin bahwa Dia dapat dipercaya dan akan memandu mereka menuju kemenangan yang pasti dan pengharapan abadi (Yoh. 16:16-33).
Mungkin lebih menyenangkan apabila hidup mengikut Yesus berjalan mulus, tetapi Dia jelas mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, Dia berjanji untuk selalu menyertai kita. Kesulitan-kesulitan itu tidak menentukan, membatasi, atau menggagalkan rencana Allah bagi kita, karena kebangkitan Yesus telah mengarahkan kita pada kemenangan abadi. —Xochitl Dixon
Tuhan, kami bersyukur untuk firman-Mu yang meyakinkan kami bahwa apa pun yang terjadi, Engkau telah merancang jalan kami dan selalu menyertai kami.
Yesus berjanji menyertai kita menghadapi terjangan gelombang kehidupan.

Friday, June 15, 2018

Disayang!

Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. —Yeremia 31:3
“Disayang!”
“Disayang!”
Kata itu diteriakkan putri saya ketika ia sedang bersiap-siap di suatu pagi. Saya tidak tahu apa yang dimaksudnya. Ia lalu menepuk baju yang dikenakannya, selembar baju yang diwarisi dari sepupunya. Di bagian depan baju itu tertulis kata itu: “Disayang.” Saya memeluknya dengan hangat dan ia tersenyum bahagia. Saya mengikuti ucapannya, “Kamu memang disayang!” Senyumnya makin lebar, dan sambil melompat, ia pergi dan terus mengulang kata itu.
Saya memang bukan ayah yang sempurna. Namun, momen tadi terasa sempurna. Dalam interaksi yang spontan dan indah tersebut, saya melihat wajah putri saya yang berseri-seri dan mengalami apa rasanya menerima kasih yang tak bersyarat, yakni sukacita yang terlihat jelas. Ia tahu bahwa tulisan di bajunya benar-benar sesuai dengan perasaan ayahnya kepadanya.
Berapa banyak dari kita menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa kita dikasihi oleh Allah Bapa dengan kasih yang tak terbatas? Terkadang kita masih tidak yakin dengan kebenaran itu. Begitu pula dengan bangsa Israel. Mereka bertanya-tanya apakah pencobaan yang mereka alami berarti bahwa Allah tidak lagi mengasihi mereka. Namun, dalam Yeremia 31:3, sang nabi mengingatkan mereka pada pernyataan Allah di masa lampau: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.” Kita juga merindukan kasih tak bersyarat seperti itu. Akan tetapi, luka hati, kekecewaan, dan kesalahan yang kita alami dapat membuat kita merasa tidak dikasihi. Namun, Allah membuka tangan-Nya—tangan Bapa yang sempurna—dan mengundang kita untuk mengalami dekapan kasih-Nya. —Adam Holz
Tuhan, adakalanya kesukaran dalam hidup ini menggoda kami untuk mengira bahwa kami tidak dikasihi. Namun, Engkau berkata sebaliknya. Tolonglah kami untuk menerima kasih kekal-Mu yang sanggup mengubah hidup kami.
Tak seorang pun mengasihi kita seperti Bapa kita.

Thursday, June 14, 2018

Membungkam Kritik

Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri. —Nehemia 4:4
Membungkam Kritik
Saya bekerja dalam sebuah tim untuk menyelenggarakan acara tahunan bagi komunitas kami. Sebelas bulan kami habiskan untuk merencanakan setiap detail agar acara tersebut berhasil. Kami memilih tanggal dan tempat, menetapkan harga tiket masuk, dan memilih segala sesuatu dari penjual makanan hingga teknisi suara. Menjelang pelaksanaannya, kami menjawab pertanyaan publik dan menyediakan petunjuk. Setelah acara, kami mengumpulkan masukan. Ada masukan yang memuji, tetapi ada juga yang tidak mengenakkan. Tim kami mendengar antusiasme dan juga keluhan-keluhan dari hadirin. Masukan yang negatif terkadang membuat kami kecewa dan ingin menyerah.
Nehemia juga dikritik ketika memimpin sebuah tim untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Orang mengejek Nehemia dan mereka yang bekerja bersamanya dengan berkata, “Lihat tembok yang mereka bangun! Anjing hutan pun bisa merobohkannya!” (Neh. 4:3 bis). Tanggapan Nehemia telah menolong saya dalam menghadapi kritik: Alih-alih gundah atau berusaha menimpali, ia memohon pertolongan Tuhan. Alih-alih langsung membalas, Nehemia meminta Allah untuk mendengar bagaimana umat-Nya telah dihina dan meminta-Nya untuk membela mereka (ay.4). Setelah menyerahkan pergumulan tersebut kepada Allah, Nehemia dan rekan-rekannya melanjutkan pekerjaan pembangunan tembok itu “dengan segenap hati” (ay.6).
Kita dapat belajar dari Nehemia dengan tidak terusik oleh kritik yang ditujukan terhadap pekerjaan kita. Ketika dikritik atau diejek, daripada membalas karena marah atau sakit hati, kita dapat berdoa dan meminta Allah untuk menjaga hati kita dari kekecewaan sehingga kita dapat terus bekerja dengan segenap hati. —Kirsten Holmberg
Tuhan, tolong aku untuk menilai kebaikan dan keburukan dari kritik-kritik yang kuterima, selalu mempercayai-Mu, dan terus bekerja dengan segenap hati.
Allah adalah Pembela kita yang terbaik dalam menghadapi kritik.

Wednesday, June 13, 2018

Kasih yang Rendah Hati

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Matius 23:11
Kasih yang Rendah Hati
Ketika Benjamin Franklin masih muda, ia pernah membuat daftar berisi dua belas kebajikan yang ingin dicapainya sepanjang perjalanan hidupnya. Ia menunjukkan daftar itu kepada seorang teman yang kemudian menyarankan kepadanya untuk menambahkan “kerendahan hati” dalam daftarnya. Franklin senang dengan saran itu. Ia lalu menambahkan sejumlah panduan untuk membantunya dalam mencapai setiap kebajikan yang diharapkannya itu. Dalam tulisan Franklin, Yesus disebutnya sebagai salah satu pribadi rendah hati yang ingin diteladaninya.
Yesus menunjukkan kepada kita teladan yang terbesar tentang kerendahan hati. Kita membaca dalam firman Tuhan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:5-7).
Yesus menunjukkan kerendahan hati yang teragung. Meski hidup kekal bersama Bapa, Dia memilih untuk menanggung hukuman salib karena kasih agar melalui kematian-Nya, Dia dapat membawa setiap orang yang menerima-Nya masuk dalam hadirat-Nya yang penuh sukacita.
Kita meneladani kerendahan hati Yesus ketika kita melayani Bapa Surgawi dengan cara melayani sesama. Kebaikan hati Yesus memampukan kita melihat sekilas keindahan yang menakjubkan dari suatu sikap yang bersedia mengesampingkan kepentingan diri demi memenuhi kebutuhan orang lain. Memang tidak mudah untuk bersikap rendah hati di tengah dunia kita yang serba egois. Namun, ketika kita bersandar sepenuhnya pada kasih Yesus, Juruselamat kita, Dia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk mengikuti-Nya. —James Banks
Juruselamat yang Agung, aku adalah hamba-Mu. Tolonglah aku untuk hidup dalam kasih-Mu dan menjadi berkat bagi orang lain hari ini.
Kita dapat melayani karena kita terlebih dahulu dikasihi.

Tuesday, June 12, 2018

Dikenal Secara Pribadi

Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. —Yohanes 20:16
Dikenal Secara Pribadi
Para pengiklan telah menyimpulkan bahwa kata yang paling memikat perhatian pemirsa adalah nama pemirsa itu sendiri. Karena itu, sebuah saluran televisi di Inggris telah menampilkan iklan-iklan yang dibuat personal melalui tayangan mereka di dunia maya.
Kita mungkin senang mendengar nama kita disebutkan di televisi, tetapi itu tidak terlalu berarti tanpa adanya kedekatan yang dirasakan saat seseorang yang mengasihi kita memanggil nama kita.
Ketika berada di tempat Yesus dikuburkan setelah disalibkan, Maria Magdalena tersadar saat Yesus memanggil namanya (Yoh. 20:16). Mendengar satu kata itu, Maria Magdalena berpaling dan mengenali Sang Guru yang dikasihi dan diikutinya. Saya membayangkan bagaimana perasaan Maria bercampur aduk antara tak percaya dan bersukacita. Kedekatan yang terasa saat Yesus memanggil namanya telah memberikan kepastian kepada Maria bahwa Pribadi yang sangat mengenalnya itu benar-benar hidup dan tidak lagi mati.
Maria mengalami momen yang unik dan spesial bersama Yesus, dan kita pun dikasihi secara pribadi oleh Allah. Yesus berkata kepada Maria bahwa Dia akan pergi kepada Bapa-Nya (ay.17). Namun, Dia juga mengatakan kepada para murid bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu (Yoh. 14:15-18). Allah akan mengutus Roh Kudus untuk datang dan berdiam dalam diri anak-anak-Nya (lihat Kis. 2:1-13).
Kisah Allah tak pernah berubah. Baik dahulu maupun sekarang, Allah selalu mengenal setiap orang yang dikasihi-Nya (lihat Yoh. 10:14-15). Dia mengenal kita secara pribadi. —Amy Boucher Pye
Bapa yang terkasih, Tuhan Yesus yang hidup, Roh Kudus sumber penghiburan, terima kasih karena Engkau mengenalku sepenuhnya dan mengasihiku selamanya.
Allah yang menciptakan alam semesta juga menciptakanmu, dan Dia mengenalmu secara pribadi.

Monday, June 11, 2018

Nasihat Ayah

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. —Amsal 3:5
Nasihat Ayah
Setelah diberhentikan dari suatu pekerjaan editorial, saya berdoa dan meminta Allah untuk menolong saya mendapatkan pekerjaan baru. Namun, saat minggu demi minggu berlalu dan upaya saya menghubungi kenalan dan mengirim lamaran tidak juga membuahkan hasil, saya mulai bersungut-sungut. “Tuhan, tidakkah Engkau tahu betapa pentingnya bagiku memiliki pekerjaan?” tanya saya dengan sikap protes karena merasa doa saya tidak dijawab-jawab.
Saya lalu membahas keadaan saya tersebut dengan ayah saya. Ayah sering mengingatkan saya untuk mempercayai janji-janji Allah, dan kali itu beliau berkata, “Ayah ingin kamu mengalami sendiri apa artinya tetap mempercayai firman Allah.”
Nasihat ayah itu mengingatkan saya pada Amsal 3 yang berisi nasihat bijak dari orangtua kepada seorang anak yang dikasihinya. Bagian yang sudah sering dikutip ini sangat tepat diterapkan dalam kondisi saya: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Ams. 3:5-6). “Meluruskan jalan” berarti bahwa Allah akan menuntun kita menuju maksud yang dikehendaki-Nya untuk pertumbuhan kita. Maksud utama-Nya adalah agar saya menjadi makin serupa dengan-Nya.
Itu tidak berarti jalan yang dipilih-Nya bagi kita akan mudah. Namun, saya dapat memilih untuk percaya bahwa tuntunan dan waktu-Nya adalah yang terbaik untuk saya.
Apakah kamu sedang menanti-nantikan jawaban Allah? Pilihlah untuk mendekat kepada-Nya dan percaya bahwa Dia akan menuntunmu. —Linda Washington
Tuhan, terima kasih Engkau menuntun dan memperhatikan setiap langkah kami. Tolonglah kami untuk mempercayai-Mu dari hari ke hari.
Bapa Surgawi tahu yang terbaik untuk kamu.

Sunday, June 10, 2018

Sambutan Hangat

Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. —1 Petrus 4:9
Sambutan Hangat
“Sekarang, siapa yang akan menyambut jemaat yang datang?”
Itulah salah satu pertanyaan teman kami Steve setelah ia menerima kabar bahwa dirinya mengidap kanker dan harus absen dari gereja untuk sementara waktu. Dengan keramahannya, Steve bisa membuat siapa pun merasa diterima. Ia akan menyapa dengan sikap yang bersahabat, menjabat tangan dengan erat, bahkan memberikan “pelukan kudus” kepada jemaat yang datang ke gereja. Ia mengadaptasi Roma 16:16, yang menyatakan, “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus.”
Sekarang, di saat kami mendoakan Steve agar Allah menyembuhkannya, ia justru mengkhawatirkan tidak adanya orang yang menyambut jemaat seperti itu selama ia absen dari gereja untuk menjalani operasi dan perawatan lanjutan.
Mungkin tidak setiap orang memberikan penyambutan sedemikian rupa seperti yang dilakukan oleh Steve. Namun, perhatiannya kepada orang lain menjadi teladan dan pengingat yang baik bagi kita. Perhatikan bahwa dalam Kitab Suci, Petrus mendorong orang percaya untuk memberikan “tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut,” atau dengan cara yang berpusatkan pada kasih (1Ptr. 4:9; lihat Flp. 2:14). Meski memberikan tumpangan kepada orang yang melakukan perjalanan merupakan bentuk keramahtamahan yang umum pada abad pertama, tindakan itu haruslah selalu diawali dengan sambutan yang hangat.
Saat kita berinteraksi dengan orang lain di dalam kasih, baik melalui pelukan atau senyum hangat yang kita berikan, kita melakukannya “supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus” (1Ptr. 4:11). —Dave Branon
Tuhan, mampukan kami menjadi saksi-Mu di hadapan sesama. Tuntun kami untuk menunjukkan keramahtamahan yang membuat mereka bisa mengenal kasih-Mu.
Lewat keramahtamahan, kita membagikan kebaikan Allah.

Saturday, June 9, 2018

Bapa yang Sempurna

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku. —Mazmur 27:10
Bapa yang Sempurna
Hari itu, di lorong pertokoan yang padat, saya sedang bergumul mencari kartu ucapan yang tepat untuk Hari Ayah. Meskipun saya dan ayah sudah berdamai setelah mengalami ketegangan bertahun-tahun, saya tak pernah merasa dekat dengan ayah.
Wanita di sebelah saya mengeluh dan mengembalikan selembar kartu yang sempat dibacanya ke rak. “Mengapa sih tidak ada kartu untuk orang-orang yang sudah berusaha sebisa mungkin mempunyai hubungan baik dengan ayahnya?”
Ia pergi dengan frustrasi sebelum saya bisa menanggapi. Yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakannya. Sambil bersyukur kepada Allah yang telah menunjukkan bahwa hanya Dialah Bapa yang sempurna, saya memohon agar Dia menguatkan hubungan saya dengan ayah saya.
Saya juga rindu menjalin hubungan yang makin akrab dengan Bapa saya di surga. Saya ingin seperti Daud yang meyakini penyertaan, kuasa, dan perlindungan Allah (Mzm. 27:1-6).
Ketika Daud berseru minta tolong, ia tahu Allah akan menjawabnya (ay.7-9). Daud menyatakan bahwa meskipun orangtua duniawi bisa menolak, meninggalkan, atau mengabaikan anak-anaknya, Allah menyambut dan menerima kita tanpa syarat (ay.10). Daud menjalani hidup dengan kepastian akan kebaikan Allah (ay.11-13). Seperti kebanyakan dari kita, adakalanya Daud bergumul, tetapi Roh Kudus menolongnya tetap bertahan dalam kepercayaan dan ketergantungan kepada Allah (ay.14).
Kita pasti akan menghadapi masalah-masalah dalam hubungan kita dengan sesama di sepanjang perjalanan hidup ini. Namun, meskipun orang lain mengecewakan, menjatuhkan, atau menyakiti kita, kita tetap dikasihi dan dilindungi sepenuhnya oleh Allah, satu-satunya Bapa yang Sempurna. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Bapa yang selalu bisa kami andalkan.
Sebagai Bapa yang Sempurna, Allah takkan pernah mengecewakan, meninggalkan, atau berhenti mengasihi kita.

Friday, June 8, 2018

Wajah

Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. . . . kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. —2 Korintus 3:18
Wajah
Ketika cucu kami, Sarah, masih kecil, ia berusaha menjelaskan kepada saya apa yang terjadi ketika seseorang meninggal: “Yang masuk surga itu cuma wajah kita, bukan tubuh kita. Di surga nanti kita punya tubuh baru, tetapi wajah kita tidak berubah.”
Tentu saja, konsep Sarah tentang keberadaan manusia dalam kekekalan itu masih pemikiran kanak-kanak. Namun sebenarnya, ia telah menangkap satu kebenaran yang penting, yaitu bahwa wajah kita, bisa dikatakan, merupakan cerminan kasatmata dari jiwa kita yang tak terlihat.
Ibu pernah mengatakan bahwa jika saya sering memasang raut wajah yang galak maka itu bisa menjadi tampang saya seumur hidup. Ibu memang bijak. Alis yang berkerut, mulut yang menyeringai, dan tatapan culas dari mata kita mungkin menunjukkan bahwa jiwa kita sedang merana. Sementara itu, meski keriput, kerut, dan perubahan fisik lainnya mulai menghiasi wajah kita, tetapi sorot mata yang teduh, raut wajah yang tenang, senyum yang hangat dan ramah bisa menandakan adanya hati yang telah diubahkan.
Tidak banyak yang bisa kita lakukan terhadap wajah yang kita miliki sejak lahir. Namun, kita bisa melakukan sesuatu untuk bertumbuh menjadi pribadi yang kita inginkan. Kita dapat berdoa agar kita makin memiliki kerendahan hati, kesabaran, kebaikan, toleransi, rasa syukur, kerelaan mengampuni, damai sejahtera, dan kasih (Gal. 5:22-26).
Oleh anugerah Allah, dan pada waktu-Nya, kiranya hatimu dan saya bertumbuh semakin menyerupai Tuhan kita, dan keserupaan itu tecermin pada wajah kita seiring dengan bertambahnya usia. Dengan demikian, seperti diungkapkan penyair Inggris, John Donne (1572-1631), kita bertambah tua “semakin indah hingga akhir hayat”. —David H. Roper
Tuhan Yesus, aku ingin semakin menyerupai-Mu dari hari ke hari. Tolonglah aku untuk rela dibentuk saat Engkau berkarya di dalam hatiku.
Tiada yang dapat menandingi keindahan hati yang penuh kasih.

Thursday, June 7, 2018

Dalam Kebenaran

Ia membaharui Engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. —Zefanya 3:17
Dalam Kebenaran
Bertahun-tahun lalu, saya pernah menghadiri pernikahan dari sepasang mempelai yang berasal dari negara yang berbeda. Perpaduan budaya seperti itu memang indah, tetapi perayaan tersebut mencampur unsur tradisi Kristen dengan ritual-ritual dari sebuah kepercayaan lain yang menyembah dewa-dewa.
Zefanya mengutuk keras tindakan mencampur kepercayaan lain dengan iman kepada satu-satunya Allah yang sejati (biasa disebut sinkretisme). Bangsa Yehuda telah menyembah Allah sekaligus mengandalkan Dewa Milkom (Zef. 1:5). Zefanya menyebutkan bagaimana bangsa itu menyerap budaya yang tidak mengenal Allah (ay.8) sembari memperingatkan bahwa sebagai akibat dari perbuatan itu, Allah akan membuang mereka dari tanah air mereka.
Meski demikian, Allah tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya. Penghakiman-Nya dimaksudkan agar mereka menyadari kebutuhan mereka untuk berpaling kepada-Nya. Zefanya pun mendorong bangsa Yehuda untuk mencari keadilan dan kerendahan hati (2:3). Kemudian Tuhan berjanji akan memberi mereka pemulihan di masa mendatang: “Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu” (3:20).
Sinkretisme seperti yang terjadi pada pesta pernikahan yang saya hadiri itu memang sangat disesali. Namun pada kenyataannya, kita semua bisa dengan mudahnya mencampuradukkan kebenaran Allah dengan keyakinan-keyakinan lain dalam budaya kita. Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk menguji keyakinan kita dengan kebenaran firman Allah dan memegang kebenaran itu dengan penuh keyakinan dan kasih. Allah Bapa kita menerima siapa saja yang menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran (lihat Yoh. 4:23-24). —Tim Gustafson
Saat ada dalam masalah, ke mana aku berpaling? Krisis menyingkapkan siapa yang sesungguhnya kuandalkan. Apakah aku beriman sepenuhnya kepada Allah? Pergumulan apa yang patut kuserahkan kepada-Nya hari ini?
Allah selalu siap mengampuni dan memulihkan umat-Nya.

Wednesday, June 6, 2018

Bahu-membahu

Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. —Pengkhotbah 4:9
Bahu-Membahu
Pada zaman kuno, kota yang temboknya rusak menjadi indikasi bahwa penduduknya telah dikalahkan. Mereka terancam bahaya dan berisiko dipermalukan. Itulah alasan orang Yahudi membangun kembali tembok kota Yerusalem. Nehemia 3 menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan bahu-membahu.
Sekilas, pasal 3 mungkin terlihat seperti cerita bertele-tele tentang apa tugas orang-orang dalam pembangunan tersebut. Namun, jika dicermati, pasal itu memperlihatkan bagaimana bangsa itu bergotong-royong. Para imam bahu-membahu dengan para penguasa. Juru campur rempah-rempah dan tukang emas sama-sama bekerja. Orang-orang dari kota-kota sekitar datang membantu. Yang lainnya memperbaiki rumah di depan rumah mereka. Anak-anak perempuan Salum ikut mengadakan perbaikan (3:12) dan ada yang memperbaiki dua bagian, seperti orang-orang Tekoa (ay.5,27).
Ada dua hal yang menonjol dari pasal ini. Pertama, mereka semua bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Kedua, mereka semua dipuji karena telah mengambil bagian dalam pekerjaan itu dan bukan karena besar-kecilnya pekerjaan mereka masing-masing.
Saat ini kita melihat banyaknya keluarga yang hancur dan masyarakat yang rusak. Namun, Yesus datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan mengubah hidup manusia. Kita dapat mengambil bagian untuk membangun kembali lingkungan kita dengan menunjukkan kepada sesama kita bahwa mereka bisa menemukan pengharapan dan hidup baru di dalam Yesus Kristus. Tugas itu memanggil kita semua. Karena itu, marilah kita bahu-membahu dalam mengerjakan bagian kita—besar atau kecil—untuk menciptakan komunitas kasih yang memungkinkan orang bertemu dengan Yesus. —Keila Ochoa
Allah terkasih, tolong aku untuk dapat bekerja sama dengan sesamaku, dengan bahu-membahu dalam menunjukkan kasih dan mengarahkan orang lain kepada Yesus.
Marilah kita bahu-membahu membangun Kerajaan Allah.

Tuesday, June 5, 2018

Seruan Orang Buta

Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! —Lukas 18:38
Seruan Orang Buta
Beberapa tahun lalu, seorang rekan perjalanan memperhatikan bahwa saya berusaha sangat keras untuk dapat melihat benda-benda yang terletak di kejauhan. Ia kemudian melakukan satu hal yang sederhana, tetapi mengubah hidup saya. Ia melepas kacamatanya dan meminta saya untuk memakainya. Ketika saya memakai kacamatanya, penglihatan saya yang semula kabur, langsung menjadi jelas. Akhirnya saya pun pergi ke dokter dan ia meresepkan sepasang kacamata yang bisa saya pesan untuk memperbaiki masalah penglihatan saya.
Bagian dari Lukas 18 yang kita baca hari ini bercerita tentang seseorang yang tidak bisa melihat sama sekali. Menjalani hidup dalam kegelapan total telah memaksanya untuk bekerja sebagai pengemis. Berita tentang Yesus, sang guru dan pembuat mukjizat yang terkenal, telah didengarnya. Ketika rute perjalanan Yesus membawa-Nya melewati tempat orang buta itu mengemis, tersulutlah harapan dalam hati orang itu. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” serunya (ay.38). Walaupun tidak bisa melihat secara fisik, secara rohani orang itu dapat melihat jati diri Yesus yang sebenarnya dan ia percaya bahwa Dia sanggup memenuhi kebutuhannya. Kepercayaannya itu mendorongnya untuk semakin keras berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay.39). Hasilnya? Kebutaannya disembuhkan, dan ia tidak lagi mengemis melainkan memuliakan Allah karena kini ia dapat melihat (ay.43).
Di masa-masa kegelapan, ke manakah kamu berpaling? Atas dasar apa kamu berseru? Kepada siapa kamu berseru? Kacamata memang menolong untuk memperbaiki penglihatan saya, tetapi jamahan Yesus, Anak Allah, yang penuh belas kasihan sanggup membuka mata hati seseorang yang buta secara rohani. —Arthur Jackson
Ya Bapa, bukalah mata hatiku supaya aku melihat dengan jelas siapakah Yesus dan apa yang sanggup dilakukan-Nya.
Allah Bapa berkenan membuka mata hati mereka yang memohon kepada-Nya.

Monday, June 4, 2018

Membuka Mata

Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. —Yohanes 14:26
Membuka Mata
Saat pertama kalinya mengunjungi Gereja Chora yang sangat megah di Istanbul, saya dapat memahami beberapa cerita Alkitab yang tergambar dalam lukisan dinding dan mosaik zaman Bizantium yang terdapat pada langit-langit gereja itu. Namun, ada banyak detail yang terlewatkan oleh saya. Dalam kunjungan kedua, saya didampingi oleh seorang pemandu. Ia pun menunjukkan semua detail yang saya lewatkan sebelumnya, sehingga saya mendapatkan gambaran yang utuh! Misalnya, gambaran pada lorong pertama dari gereja itu melukiskan kehidupan Yesus sebagaimana yang dicatat dalam Injil Lukas.
Adakalanya ketika membaca Alkitab, kita bisa memahami kisah-kisah dasarnya, tetapi bagaimana kaitan antara satu bagian dan yang lainnya? Bagaimana dengan detail-detail Kitab Suci yang saling terjalin hingga menjadi satu kisah yang sempurna? Memang tersedia buku-buku tafsiran Alkitab dan bahan pendalaman Alkitab, tetapi kita juga membutuhkan pemandu, yaitu pribadi yang akan membuka mata kita dan menolong kita melihat keajaiban-keajaiban dari firman Allah yang tertulis. Pemandu itu adalah Roh Kudus dan Dialah yang akan mengajarkan kepada kita “segala sesuatu” (Yoh. 14:26). Paulus menulis bahwa Roh Kudus “menjelaskan hal-hal mengenai Allah . . . menurut ajaran Roh Allah” (1Kor. 2:13).
Betapa indahnya ketika Sang Penulis Alkitab itu sendiri menunjukkan kepada kita segala keajaiban dari firman-Nya! Allah tidak hanya memberi kita firman-Nya yang tertulis dan pewahyuan-Nya, tetapi Dia juga menolong kita memahami dan belajar darinya. Bersama pemazmur, marilah berdoa, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mzm. 119:18). —Keila Ochoa
Allah terkasih, saat aku membaca firman-Mu, singkapkanlah mataku supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari pewahyuan-Mu.
Kita membutuhkan Allah untuk dapat memahami Kitab Suci.

Sunday, June 3, 2018

Jam dan Tanggal

Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. —Mazmur 62:9
Jam dan Tanggal
Ayah saya meninggal dunia pada usia 58 tahun. Sejak saat itu, di setiap tanggal kematiannya, saya akan mengambil waktu untuk mengenang dirinya dan merenungkan kembali pengaruh yang telah diberikannya dalam hidup saya. Ketika menyadari bahwa saya sudah hidup lebih lama tanpa dirinya daripada hidup bersama beliau, saya mulai merenungkan betapa singkatnya masa hidup saya sendiri.
Dalam perenungan seperti itu, mungkin kita tidak saja bergumul dengan peristiwa yang pernah terjadi, tetapi juga dengan perasaan yang kita alami pada saat itu. Kita memang mengukur masa hidup kita dengan jam dan tanggal, tetapi kita mengingat masa-masa tersebut karena segala peristiwa yang mengisinya. Momen-momen kehidupan yang paling membekas dalam ingatan kita adalah berbagai sukacita, rasa kehilangan, berkat, rasa sakit, kesuksesan, atau kegagalan yang pernah kita alami.
Kitab Suci menguatkan kita: “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9). Pernyataan yang penuh keyakinan itu tidak timbul dari masa-masa hidup yang mudah. Daud menulis kata-kata tersebut ketika sedang dikepung musuh-musuhnya (ay.4-5). Meski demikian, ia tetap menanti dengan tenang di dekat Allah (ay.2,6) dan mengingatkan kita bahwa kasih setia Allah (ay.13) lebih besar daripada masa-masa sulit yang kita hadapi.
Dalam setiap peristiwa, kita mempunyai satu keyakinan pasti: Allah kita selalu mendampingi kita, dan Dia lebih dari sanggup untuk membawa kita melalui segala pasang surut yang terjadi dalam hidup ini. Ketika terjadi sesuatu yang mengancam untuk menggoyahkan kita, pertolongan Allah akan tiba tepat pada waktunya. —Bill Crowder
Bapa, kami bersyukur karena Engkau selalu dan akan senantiasa setia kepada kami.
Allah selalu menyertai kita dalam pasang surut hidup kita.

Saturday, June 2, 2018

Masa “Mengunyah”

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. —Matius 5:6
Masa “Mengunyah”
Baru-baru ini istri saya memberikan seekor anak anjing kepada saya. Kami menamainya Max. Suatu hari Max menemani saya di ruang kerja. Saat sedang berkonsentrasi bekerja, saya mendengar suara kertas robek di belakang saya. Saya menoleh dan mendapati tampang bersalah pada anak anjing itu. Sebuah buku telah terbuka lebar dan selembar kertas dari buku itu berjuntai di mulutnya.
Dokter hewan mengatakan kepada kami bahwa Max sedang dalam “masa mengunyah”. Saat gigi-gigi susu tanggal dan gigi-gigi tetapnya mulai tumbuh, anak anjing akan meredakan nyeri gusinya dengan mengunyah apa saja. Kami harus benar-benar mengawasi Max untuk memastikan agar ia tidak menggigiti sesuatu yang dapat membahayakannya dan membuatnya mengunyah benda lain yang lebih sehat.
Keinginan Max untuk mengunyah—dan tanggung jawab saya untuk mengawasinya—membuat saya terpikir tentang apa yang kita “kunyah” dalam pikiran dan hati kita. Saat membaca buku, menjelajahi dunia maya, atau menyaksikan TV, apakah kita sungguh-sungguh mempertimbangkan apa yang kita konsumsi dan pengaruhnya pada jiwa kita? Alkitab mendorong kita, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan” (1Ptr. 2:2-3). Setiap hari, kita perlu mengisi diri kita dengan firman Tuhan dan kebenaran apabila kita ingin terus maju sebagai pengikut Kristus. Hanya dengan demikianlah kita dapat bertumbuh dewasa di dalam Dia. —James Banks
Tuhan terkasih, tolong aku untuk merindukan Engkau dan firman-Mu dan jauhkanlah diriku dari hal yang membahayakanku. Penuhi aku dengan kebaikan-Mu hari ini.
Ketika Kristus datang kembali, akankah Dia mendapati kita sedang merindukan-Nya?

Friday, June 1, 2018

Diam

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! —Mazmur 46:11
Diam
Suatu hari, saya dan seorang teman sedang berselonjor di pantai sambil menikmati deburan ombak yang berirama di laut. Saat matahari mulai terbenam di kejauhan, ombak demi ombak terus bergulung ke arah kami, berhenti sebentar, lalu beriak lagi hingga hampir menyentuh ujung jari kami, dan kemudian surut kembali. “Aku suka sekali dengan laut,” kata teman saya sembari tersenyum. “Laut bergerak sehingga aku cukup diam dan tidak perlu bergerak.”
Alangkah cemerlangnya pemikiran teman saya itu! Banyak dari kita merasa sangat sulit untuk diam. Kita terus-terusan bergerak dan bekerja karena khawatir jika kita berhenti bergerak, kita akan kehilangan makna diri. Atau kita berpikir, apabila kita berhenti, kita harus menghadapi kenyataan hidup yang selama ini ada, tetapi kita hindari.
Dalam Mazmur 46:9-10, Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya dan menyatakan kuasa-Nya secara terbuka, “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, . . . yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” Allah kita adalah Allah yang senantiasa bekerja untuk menciptakan ketenangan dari tengah-tengah segala kekacauan yang kita hadapi hari demi hari.
Namun kemudian, di ayat 11 kita membaca, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
Tentu saja kita dapat mengenal Allah di tengah segala kesibukan yang kita lakukan ke sana kemari. Namun, undangan pemazmur untuk diam telah memanggil kita untuk memiliki pengenalan yang berbeda. Pengenalan itu membuat kita menyadari bahwa kita boleh diam—tanpa kehilangan makna diri—karena Allah sendiri tak pernah diam. Kita juga mengetahui bahwa hanya kuasa Allah yang sanggup memberikan kepada kita makna, perlindungan, dan kedamaian yang sejati. —Elisa Morgan
Ya Allah, tolonglah aku menemukan ketenteraman yang kurindukan di dalam-Mu.
Kita akan menemukan ketenteraman saat kita berada dalam dekapan kasih Allah dan kehendak-Nya yang sempurna.
 

Total Pageviews

Translate