Pages - Menu

Saturday, November 30, 2013

Memperhatikan Perkataan Kita

Baca: Mazmur 66:10-20
Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. —Mazmur 66:19
Seminggu setelah wafatnya C. S. Lewis pada tahun 1963, para rekan kerja dan sahabatnya berkumpul di ruang kapel dari Magdalen College, Oxford, Inggris, untuk memberi penghormatan kepada Lewis, seorang pribadi yang tulisan-tulisannya telah mengilhami iman dan imajinasi dalam diri anak-anak maupun para cendekiawan.
Dalam ibadah tersebut, Austin Farrer, seorang teman dekat Lewis, mengenang bagaimana Lewis selalu mengirimkan surat yang ditulis dengan tangannya sendiri untuk membalas setiap surat yang diterimanya dari para pembaca di seluruh dunia. “Sikap yang penuh perhatian dan penghormatan kepada siapa saja merupakan sikap dasar yang dimiliki oleh Lewis,” kata Farrer. “Lewis menghargai Anda dengan cara memperhatikan setiap perkataan Anda.”
Dengan perhatiannya itu, Lewis telah mencerminkan perhatian Allah yang luar biasa terhadap setiap perkataan yang kita ucapkan kepada-Nya dalam doa. Di tengah pergumulan sulit yang dialaminya, penulis Mazmur 66 berseru kepada Allah (ay.10-14). Kemudian ia memuji Tuhan atas pertolongan yang diberikan-Nya, “Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan” (ay.19).
Ketika kita berdoa, Tuhan mendengar setiap perkataan kita dan mengetahui isi hati kita. Kita dapat sungguh-sungguh berkata bersama pemazmur, “Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku!” (ay.20). Doa kita menjadi sarana untuk menjalin relasi yang lebih mendalam bersama-Nya. Kapan pun, bahkan di saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan, Allah memperhatikan perkataan kita. —DCM
Juruselamatku mendengarkan doaku,
Mengandalkan firman-Nya, aku pun tenang;
Pada waktu-Nya, dengan cara-Nya sendiri,
Kutahu Dia akan beri yang terbaik bagiku. —Hewitt
Kita selalu diperhatikan Allah.

Friday, November 29, 2013

Kesan Pertama

Baca: 1 Samuel 16:1-7
Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. —1 Samuel 16:7
Suatu hari, ketika saya sedang berbelanja bahan makanan, saya disangka sebagai pencuri oleh seseorang dan dianggap pahlawan oleh seorang lainnya.
Ketika saya hendak meninggalkan supermarket, seorang pegawai berkata, “Maaf, Pak. Ada terlalu banyak barang yang tidak dimasukkan ke dalam kantong di kereta belanja Anda.” Rupanya inilah strategi yang biasa digunakan para pengutil. Ketika pegawai itu melihat bahwa barang-barang di kereta belanja saya memang terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam kantong, ia pun meminta maaf dan mempersilakan saya lewat.
Di tempat parkir, seorang wanita melihat sekilas topi olahraga saya yang bersulam emas. Rupanya wanita ini mengira bahwa topi saya adalah topi seorang anggota militer, sehingga ia berkata, “Terima kasih telah membela negara kita!” sambil berlalu.
Baik pegawai supermarket maupun wanita di tempat parkir itu telah membuat kesimpulan yang tergesa-gesa tentang diri saya. Memang mudah membentuk persepsi kita tentang seseorang berdasarkan kesan pertama yang kita terima.
Ketika Samuel hendak mengangkat raja Israel berikutnya dari para putra Isai, ia pun menilai berdasarkan kesan pertama yang diterimanya. Namun pilihan Allah tidak jatuh pada salah satu dari anak-anak yang tertua. Roh Kudus memberi tahu Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi” (1Sam. 16:7). Allah memilih Daud, si anak bungsu, yang tidak berpenampilan bak seorang raja sama sekali.
Allah dapat menolong kita untuk memandang sesama sebagaimana Dia melihat mereka, karena “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; . . . TUHAN melihat hati” (ay.7). —HDF
Bila kita bisa melihat melalui mata iman
Orang-orang yang kita jumpai setiap hari
Segera kita lihat karya Allah yang penuh kasih
Dalam diri orang yang kita jumpai. —D. DeHaan
Kesan pertama sering kali membawa kita pada kesimpulan yang salah.

Thursday, November 28, 2013

Bagaimana Menikmati Harta Benda

Baca: Pengkhotbah 5:12-19
Setiap orang . . . menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah. —Pengkhotbah 5:18
Dalam bukunya Daring To Draw Near (Berani Mendekat), Dr. John White menulis bahwa beberapa tahun sebelumnya Allah telah memberinya kesanggupan untuk memiliki sebuah rumah indah dengan banyak harta benda yang mewah. Ia mengaku bahwa memiliki rumah tersebut membuat perasaannya naik-turun secara drastis.
Ketika ia mengingatkan dirinya bahwa semua itu merupakan pemberian dari tangan Allah yang penuh kasih, ia merasa sangat bersukacita dan penuh syukur. Namun ketika ia mulai membandingkan rumahnya dengan milik teman-temannya, ia berbangga diri karena memiliki rumah seindah itu dan sukacitanya pun lenyap. Akhirnya rumah itu dirasakannya sebagai beban. Yang dapat dilihatnya hanyalah banyaknya pagar tanaman dan pepohonan yang harus dirawat dan berbagai perawatan rumah yang tiada habisnya. White berkata, “Sementara kesombongan mengaburkan pandanganku dan membebani hatiku, rasa syukur mencerahkan penglihatanku dan meringankan bebanku.”
Penulis kitab Pengkhotbah melihat kehadiran Allah dalam setiap kenikmatan yang diperolehnya dari harta benda. Kekuatan untuk menikmati hasil jerih payah kita, bahkan kekuatan untuk menerima dan bersukacita di dalamnya, berasal dari Allah (5:17-18).
Seluruh hidup kita, dari lahir hingga ajal, adalah anugerah Allah yang tiada hentinya diberikan kepada kita. Kita tidak layak menerima apa pun. Dia tak berutang apa pun kepada kita, namun Dia memberikan segalanya untuk kita. Jika kita mengingat ini, kita tidak perlu merasa telah bersikap egois atau merasa bersalah. Berkat harta benda apa pun yang kita miliki adalah karunia Allah kita yang Maha Pemurah. —DJD
Untuk puluhan ribu karunia indah
Kunaikkan syukur setiap harinya;
Hati yang gembira pun tak ketinggalan,
Bersukacita menikmati karunia itu. —Addison
Allah yang telah memberi kita begitu banyak juga mengaruniai kita hati yang penuh syukur. —Herbert

Wednesday, November 27, 2013

Tempat Air

Baca: Mazmur 42:1-5
Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. —Yohanes 4:14
Afrika Timur merupakan salah satu daerah paling gersang di atas bumi ini, dan itulah sebabnya “Nairobi” menjadi nama yang bermakna penting bagi sebuah kota di daerah tersebut. Nama itu berasal dari istilah dalam bahasa Masai yang berarti “air dingin,” dan secara harfiah berarti “tempat air”.
Sepanjang sejarah, keberadaan air telah berpengaruh besar untuk menjamin kelangsungan hidup seseorang. Baik bagi orang yang tinggal di daerah beriklim kering atau di tengah hutan tropis, air merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa diganggugugat. Di tengah suatu iklim yang kering dan gersang, mengetahui di mana seseorang bisa memperoleh air dapat membuatnya bertahan hidup.
Kehidupan rohani kita juga memiliki elemen-elemen tertentu yang tidak dapat diganggu-gugat. Itulah sebabnya ketika Yesus bertemu dengan seorang wanita yang haus jiwanya di tepi sebuah sumur, Dia menyatakan kepada wanita itu bahwa hanya Dialah yang dapat menyediakan air hidup. Yesus berkata kepada wanita itu, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14).
Seperti seekor rusa yang merindukan air dalam Mazmur 42:1-3, jiwa kita pun haus kepada Allah dan rindu kepada-Nya (63:1). Kita sangat membutuhkan bahan pokok yang hanya bisa kita terima dari Yesus Kristus. Dialah sumber air hidup yang menyegarkan kembali hati kita. —WEC
Aliran-aliran air hidup,
Aliran kehidupan yang bebas,
Mengalir dari-Mu, Juruselamatku,
Berilah aliran-Mu melalui diriku. —Wood
Yesus adalah sumber air hidup.

Tuesday, November 26, 2013

Kasih Sejati

Baca: 1 Korintus 13:1-8
[Kasih] menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. —1 Korintus 13:7-8
Beberapa tahun yang lalu, ibu dari teman saya, Beth, telah didiagnosa mengidap penyakit Alzheimer. Sejak saat itu, Beth pun didesak untuk mengambil sejumlah keputusan sulit mengenai perawatan ibunya, dan hatinya sering hancur menyaksikan sang ibu yang selama ini hidup dengan penuh semangat dan gembira itu perlahan-lahan kehilangan kekuatannya. Sepanjang pengalamannya itu, teman saya belajar bahwa menunjukkan kasih sejati itu tidaklah selalu mudah atau nyaman.
Setelah pada tahun lalu ibunya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, Beth menuliskan kata-kata berikut ini kepada sejumlah temannya: “Sekalipun segala sesuatu tampaknya mengalami kemunduran, aku sangat berterima kasih atas perjalanan hidup yang kujalani bersama Ibu. Di balik memudarnya ingatan, kebingungan, dan ketidakberdayaan total, Ibu tetap menjadi pribadi yang cantik, yang mencintai hidup dan yang sepenuhnya diliputi damai sejahtera. Aku belajar sangat banyak tentang arti kasih sejati, dan walaupun mungkin aku tidak menghendaki perjalanan yang penuh dengan air mata dan kepedihan hati ini, aku tidak menyesal sama sekali.”
Alkitab mengingatkan kita bahwa kasih itu sabar dan murah hati. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri dan tidak mudah marah. Kasih “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor. 13:4-7).
Kasih yang sejati datang dari Bapa kita di surga yang telah mengaruniakan Anak-Nya. Dalam upaya kita untuk menunjukkan kasih-Nya kepada sesama, kita dapat mengikuti teladan Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita (1Yoh. 3:16-18). —CHK
Ajarlah aku mengasihi, inilah doaku—
Kasih sayang dari hati-Mu itu kubagikan;
Siap sedia memberikan pertolongan,
Dan rela hidup demi sesamaku. —Peterson
Kasih sejati berarti rela menolong orang lain demi Yesus, bahkan ketika mereka tak bisa membalas kebaikan itu.

Monday, November 25, 2013

Plagiatisme Rohani

Baca: Yohanes 1:1-18
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, . . . yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14
Ketika mengajar mata pelajaran mengarang dalam bahasa Inggris, saya meminta para siswa untuk menulis saat pelajaran berlangsung di kelas. Saya mengetahui bahwa tulisan yang mereka hasilkan di kelas adalah karya mereka sendiri. Dengan demikian, saya dapat mengenali gaya tulisan dari masing-masing siswa sekaligus mengetahui apakah mereka terlalu berlebihan dalam “meminjam” gaya penulis lain. Para siswa tidak menduga bahwa gaya tulisan mereka itu—mencakup isi tulisan serta cara mereka menuangkannya—sama khasnya dengan gaya bicara mereka. Seperti halnya kata-kata yang kita ucapkan berasal dari dalam hati kita, demikian pula kata-kata yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan kita mengungkapkan siapa diri kita.
Kita pun mampu mengenali suara Allah dengan cara yang kurang lebih sama. Dengan membaca apa yang sudah dituliskan-Nya, kita belajar mengenali diri-Nya dan bagaimana Dia menyingkapkan diri-Nya. Namun demikian, Iblis berusaha menyamarkan dirinya untuk menyerupai Allah (2Kor. 11:14). Dengan memakai firman Allah yang telah diubahnya sedikit, Iblis memberikan argumen-argumen yang meyakinkan untuk mencari pembenaran atas hal-hal yang tidak benar. Contohnya, Iblis telah menyesatkan banyak orang dengan menjebak mereka untuk melakukan kesalehan yang palsu, seperti bergantung pada ketaatan lahiriah daripada mempercayai kematian Kristus sebagai syarat memperoleh keselamatan (Kol. 2:23).
Allah telah melangkah sedemikian jauh untuk memastikan agar kita dapat mengenali suara-Nya. Allah tidak hanya memberikan firman-Nya, Dia memberi kita Yesus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14), supaya kita tidak mudah tertipu atau disesatkan. —JAL
Tanamkanlah dalam hatiku, ya Tuhanku,
Kerinduan besar untuk mengenal firman-Mu,
Kuingin belajar mendengar suara-Mu
Agar kurela melakukan kehendak-Mu. —D. DeHaan
Janji-Mu teguh dan dapat dipercaya, aku sangat mencintainya. —Mazmur 119:140 BIS

Sunday, November 24, 2013

Kapan Waktunya?

Baca: Galatia 3:26-4:7
Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. —Galatia 4:4
Pepatah kuno ini benar: Waktu yang tepat menentukan segalanya! Itulah sebabnya pernyataan Paulus ini, “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya” sangat menggugah perhatian saya (Gal. 4:4).
Jika kita melihat sejarah secara sekilas, kita akan mengetahui bahwa kedatangan Kristus benar-benar terjadi pada waktu yang tepat. Berabad-abad sebelumnya, Alexander Agung berhasil menaklukkan sebagian besar peradaban dunia masa itu, sehingga tersebarlah kebudayaan dan bahasa Yunani di seantero wilayah kekuasaannya itu. Segera setelah kematian Alexander, Kekaisaran Romawi meneruskan pengaruh yang ditinggalkannya dan memperluas wilayah kekuasaan mereka dengan pengaruh kebudayaan dan bahasa Yunani yang memberi kesatuan. Di bawah kekuasaan Romawi inilah, peristiwa penyaliban Yesus terjadi, saat darah Kristus ditumpahkan bagi kita. Di bawah kekuasaan Romawi pulalah Injil dapat tersebar hingga melintasi tiga benua. Hal itu dikarenakan berbagai kondisi yang mendukung penyebarannya telah siap, antara lain: jalan-jalan yang baik, kebebasan bagi warga untuk melintas antarwilayah, dan satu bahasa pemersatu. Penentuan Allah telah merangkai segala sesuatu dengan begitu terperinci sehingga memang itulah waktu yang tepat bagi-Nya untuk mengutus Anak-Nya.
Waktu Allah adalah yang terbaik dan sempurna. Sementara Anda menanti, dan mungkin juga bertanya-tanya mengapa Allah tampaknya tidak melakukan apa pun untuk menolong Anda, ingatlah bahwa Dia terus bekerja di balik layar untuk menyiapkan waktu yang terbaik bagi-Nya untuk turun tangan dan menolong Anda. Percayalah kepada-Nya. Dia tahu kapan waktu yang terbaik. —JMS
Tuhan, dalam hikmat dan kuasa-Mu yang tak terbatas, Engkau
bekerja di balik layar dalam menyiapkan segala sesuatu untuk saat
yang tepat. Ajarlah aku untuk menanti dengan baik dan mempercayai
Engkau untuk mengetahui tibanya waktu yang terbaik.
Ajar kami, ya Tuhan, tekun bersabar, karena menanti sering kali lebih sulit daripada bertindak. —Marshall

Saturday, November 23, 2013

Surat Hidup

Baca: 2 Korintus 3:1-11
Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup. —2 Korintus 3:3
Pada bulan November 1963, di hari yang sama ketika Presiden John F. Kennedy ditembak mati, ada seorang pemimpin lain juga wafat, yakni Clive Staples Lewis. Cendekiawan lulusan Oxford yang telah berpaling dari paham ateisme dan kemudian menjadi seorang Kristen ini merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Dari goresan penanya, lahirlah karya-karya intelektual, fiksi ilmiah, dongeng anak-anak, dan tulisan-tulisan lain yang kental dengan nilai-nilai iman Kristen. Buku-buku karya C. S. Lewis telah dipakai Allah untuk membawa banyak orang kepada pertobatan, termasuk seorang politikus dan seorang ilmuwan pemenang Hadiah Nobel.
Ada sebagian orang yang merasa terpanggil untuk memberitakan kabar tentang Kristus kepada sesamanya melalui tulisan mereka, tetapi seluruh orang percaya dipanggil untuk menjadi “surat Kristus” melalui cara kita menjalani hidup. Rasul Paulus berkata, “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (2Kor. 3:3).
Tentu saja Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa kita sungguh-sungguh menjadi secarik kertas yang bertuliskan pesan-pesan Allah. Namun sebagai “surat-surat” yang hidup, kita dapat menyampaikan pesan tentang pengaruh yang diberikan Yesus Kristus dalam perlakuan kita terhadap sesama dan perjuangan kita untuk hidup jujur.
Mungkin hanya sedikit orang yang dapat memberikan pengaruh seperti yang telah diberikan oleh C. S. Lewis. Namun kita semua dipanggil untuk memuliakan Yesus, Pribadi yang begitu mengasihi kita dan telah menebus kita dari jerat dosa! —HDF
Ya Tuhan, Engkau telah memanggilku menjadi saksi-Mu di mana pun
Engkau menempatkan diriku. Setiap hari hidupku dilihat sesama.
Tolonglah aku untuk menjalani hidup yang mendorong orang lain
mau mengenal Engkau dan hidup limpah yang Kau tawarkan.
Kita merupakan “surat pujian” Kristus bagi semua yang membaca hidup kita.

Friday, November 22, 2013

Dinaungi

Baca: Lukas 1:26-38
Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau. —Lukas 1:35
Tepat hari ini 50 tahun yang lalu, peristiwa pembunuhan presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, telah membuat orang-orang di seluruh dunia terperanjat. Sehari setelah terjadinya penembakan itu, sebuah artikel dalam surat kabar The Times (London) membahas tentang dampak dari peristiwa tersebut yang dirasakan oleh seluruh pasar keuangan dunia. Artikel itu menampilkan judul, “Tragedi di Amerika Serikat Telah Menyelubungi Semua Peristiwa Lain di Dunia”.
Ada kalanya dalam hidup kita, suatu peristiwa kematian, tragedi, atau perubahan yang mendadak terjadi begitu mengejutkan hingga menyelubungi segala sesuatu. Inilah yang dialami oleh seorang wanita muda yang belum menikah ketika ia diberi tahu akan menjadi ibu dari Mesias yang telah dijanjikan, Anak Allah itu sendiri (Luk. 1:26-33). Ketika Maria bertanya bagaimana hal ini akan terjadi, malaikat Gabriel menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (ay.35).
Kemustahilan dalam hidup Maria tidaklah diselubungi oleh kegelapan melainkan dinaungi oleh terangnya kemuliaan dan kuasa Allah. Jawaban Maria terus membuat kita merasa takjub: “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay.38).
Dalam minggu-minggu yang akan datang, pada saat kita membaca kembali kisah Natal dan merenungkan tentang kelahiran Yesus ke dalam dunia ini, ada baiknya kita merenungkan kata menaungi. Kata tersebut berbicara dengan begitu kuat tentang kehadiran Tuhan di dalam hati kita dan kesanggupan-Nya untuk menerangi masa-masa hidup kita yang tersuram sekalipun. —DCM
Aku dinaungi oleh kasih-Nya yang agung,
Kasih abadi, tak terubahkan, murni,
Dinaungi oleh kasih-Nya yang agung,
Tenanglah jiwaku, aman, damai. —Ironside
Dalam segala keadaan, kita terus dinaungi oleh kasih dan kuasa Allah yang agung.

Thursday, November 21, 2013

Nama Itu

Baca: Filipi 2:5-11
Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. —Filipi 2:9
Setelah mengunjungi kami di Grand Rapids, Michigan, Maggie, cucu perempuan kami yang masih kecil, pulang bersama keluarganya ke Missouri. Ibunya menceritakan kepada kami bahwa selama beberapa hari setelah tiba di rumah mereka, Maggie suka berjalan mengelilingi rumah dengan gembira sambil berseru, “Michigan! Michigan!”
Ada sesuatu tentang nama Michigan itu yang menarik bagi Maggie. Mungkin saja cara pengucapannya yang lucu baginya. Mungkin juga ia teringat pada saat-saat menyenangkan yang dialaminya di sana. Sulit untuk mengetahui alasan dari seorang anak yang masih berusia 1 tahun, tetapi nama “Michigan” telah memberi dampak sedemikian rupa pada Maggie, sehingga ia tidak dapat berhenti mengucapkannya.
Hal ini membuat saya terpikir tentang satu nama lain, yakni nama Yesus, “nama di atas segala nama” (Flp. 2:9). Sebuah lagu yang diciptakan oleh Bill dan Gloria Gaither mengingatkan kita betapa kita begitu mencintai nama itu. Yesus adalah Sang “Tuan” dan “Juruselamat”. Sungguh betapa dalamnya makna yang terkandung di dalam nama-nama yang menggambarkan Tuhan kita itu! Ketika kita menyebut nama Yesus yang agung itu kepada mereka yang membutuhkan Dia sebagai Juruselamat, kita dapat mengingatkan mereka tentang apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita.
Yesus adalah Juruselamat kita. Dia telah menebus kita dengan darah-Nya, dan kita dapat memberikan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Yesus. Biarlah seluruh surga dan bumi—termasuk kita juga—mengumandangkan nama-Nya yang mulia! —JDB
Yesus, Yesus, Yesus;
Sungguh indah nama itu!
Sang Tuan, Juruselamat, Yesus,
Semerbak nama-Nya tersebar. —Gaither
Yesus adalah nama yang paling mulia.

Wednesday, November 20, 2013

Perhatian Yang Tulus

Baca: Filipi 2:1-5
Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. —Filipi 2:4
Pada malam pertama dari suatu acara retret bagi keluarga, pemimpin acara menginformasikan jadwal sepanjang minggu yang akan diikuti para peserta. Setelah selesai, ia bertanya apakah ada yang ingin menambahkan sesuatu. Seorang gadis muda lalu berdiri untuk memohon pertolongan. Gadis ini bercerita tentang saudara laki-lakinya—seorang anak berkebutuhan khusus—dan tentang keadaan saudaranya yang membutuhkan pengawasan ketat itu. Ia berbicara tentang kelelahan yang dialami keluarganya, lalu memohon kepada setiap orang yang berada di situ untuk membantunya dalam mengawasi saudara laki-lakinya sepanjang minggu itu. Permohonan gadis itu keluar dari perhatiannya yang tulus kepada orangtua dan saudara laki-lakinya. Sungguh indah untuk kemudian melihat orang-orang di situ menyingsingkan lengan untuk membantu keluarga ini sepanjang berlalunya minggu itu.
Permohonan gadis itu mengingatkan kita akan betapa mudahnya kita terkungkung dalam dunia, kehidupan, dan masalah kita sendiri, sehingga kita gagal melihat kebutuhan orang lain. Paulus menjelaskan tanggung jawab kita: “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Ayat berikutnya mengingatkan kita bahwa inilah bagian dari teladan Kristus: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Perhatian kita menunjukkan kepedulian seperti yang Kristus berikan bagi mereka yang terluka. Kiranya kita terus bersandar pada kasih karunia Allah, dengan terus mempercayai-Nya untuk memampukan kita melayani sesama pada saat mereka membutuhkannya. —WEC
Tuhan, bukalah mataku untuk melihat jiwa-jiwa yang terluka,
yang berkekurangan, dan yang bergumul di tengah dunia
yang sangat membutuhkan kasih-Mu. Jadikanlah aku alat-Mu
untuk menyalurkan kasih-Mu kepada hidup mereka yang terluka.
Kepedulian menuntut pengorbanan yang sangat besar; tetapi ketidakpedulian akan membuat kita rugi besar.

Tuesday, November 19, 2013

Kawan Seperjalanan

Baca: Mazmur 39
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku. —Mazmur 39:13
Baru-baru ini saya mencari tahu kabar tentang teman-teman seangkatan dari seminari tempat saya belajar dahulu. Saya mendapati banyak kawan saya yang telah meninggal dunia, dan ini mengingatkan saya akan singkatnya hidup. Masa hidup manusia mencapai 70 tahun, bisa kurang atau lebih, setelah itu kita pun lenyap (Mzm. 90:10). Pemazmur asal Israel itu memang benar: Kita tak lain adalah orang yang menumpang dan pendatang di bumi (39:13).
Singkatnya hidup membuat kita berpikir tentang “akhir hidup” kita—batas umur kita dan betapa fananya hari-hari itu (ay.5), suatu perasaan yang tumbuh semakin jelas ketika kita semakin mendekati akhir hidup kita. Dunia ini bukanlah rumah kita; kita hanya menumpang dan menjadi pendatang.
Namun kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kita adalah orang asing dan pendatang bersama Allah (39:13), dan pemikiran inilah yang membuat perjalanan hidup kita terasa lebih ringan, lebih melegakan, dan lebih menenangkan hati. Kita melintasi dunia ini dan menuju ke alam baka yang akan datang bersama Bapa penuh kasih sebagai teman seperjalanan dan penuntun yang selalu menyertai kita. Kita hanyalah orang asing di dunia ini, tetapi kita tak pernah sendirian dalam perjalanan ini (73:23-24). Kita memiliki satu Pribadi yang bersabda, “Aku menyertai kamu senantiasa” (Mat. 28:20).
Mungkin kita pernah kehilangan ayah, ibu, pasangan serta teman-teman kita, tetapi kita senantiasa tahu bahwa Allah terus berjalan menyertai kita. Satu pepatah lama menyatakannya demikian: “Teman seperjalanan yang baik akan membuat perjalanan kita terasa lebih ringan.” —DHR
Waktuku ada di tangan Bapaku;
Adakah yang kuragukan lagi?
Dia yang merancang jalannya
Menuntunku sampai akhirnya. —Fraser
Di tengah pergulatan Anda dalam hidup ini, biarlah Yesus mengangkat beban berat Anda.

Monday, November 18, 2013

Selamat Datang Kembali

Baca: Nehemia 9:7-21
Engkaulah Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang. —Nehemia 9:17
Jim pernah memutuskan untuk mengikut Kristus pada usia 10 tahun. Lima belas tahun kemudian komitmennya telah memudar. Ia hanya mementingkan kesenangan hidupnya sekarang dan terjerumus dalam sejumlah kebiasaan buruk. Kemudian hidupnya semakin porak-poranda. Ia mengalami masalah dalam pekerjaannya. Tiga orang anggota keluarganya meninggal pada waktu yang hampir bersamaan. Ketakutan dan keraguan mulai mengusik Jim, dan tampaknya tak ada satu hal pun yang dapat menolongnya—sampai suatu hari ia membaca Mazmur 121:2, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Ayat ini menerobos ketakutan dan kebingungan dalam hatinya. Ia datang kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan, dan Allah pun menyambutnya kembali.
Perjalanan rohani Jim mengingatkan saya pada sejarah Israel kuno. Umat Israel memiliki hubungan yang khusus dengan Allah—mereka adalah umat pilihan-Nya (Neh. 9:1-15). Hanya, begitu banyak tahun yang mereka habiskan dengan memberontak dan tidak mengindahkan kebaikan Allah, sambil menyimpang untuk mengambil jalan mereka sendiri (ay.16-21). Namun ketika mereka kembali kepada-Nya dan bertobat, Allah “sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (ay.17).
Sifat-sifat Allah ini mendorong kita untuk mau mendekat kepada-Nya—bahkan setelah kita menjauh dari-Nya. Ketika kita rela meninggalkan sikap kita yang memberontak dan bertekad kembali ke jalan Allah, Dia akan memperlihatkan kasih sayang dan menyambut kita kembali untuk mengalami kedekatan dengan-Nya. —JBS
Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil,
Memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menunggu,
Menunggu aku dan kau. —Thompson
(Kidung Jemaat, No. 353)
Tangan Allah senantiasa terbuka untuk menyambut kita.

Sunday, November 17, 2013

Pahlawan Yang Mengalahkan Dosa

Baca: 1 Yohanes 1
Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah. —Mazmur 51:12
Beberapa waktu yang lalu, seseorang mengajukan suatu pertanyaan yang sangat sulit kepada saya: “Berapa lama Anda bisa bertahan tanpa berbuat dosa? Seminggu, sehari, atau satu jam?” Bagaimana kita dapat menjawab pertanyaan semacam itu? Jika mau jujur, kita mungkin berkata, “Tak ada hari tanpa aku berbuat dosa.” Atau ketika kita mengingat kembali sepanjang minggu yang baru saja berlalu, mungkin kita menyadari bahwa kita belum mengakui dosa-dosa kita kepada Allah. Tentulah kita sedang membodohi diri sendiri apabila kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa dalam pikiran maupun tindakan kita selama seminggu ini.
Allah mengetahui isi hati kita dan tahu apakah kita memang peka terhadap teguran dari Roh Kudus. Jika kita benar-benar mengenal diri sendiri, kita akan menghayati 1 Yohanes 1:8, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada dalam kita.” Tentulah kita tidak ingin mengalami apa yang dikatakan oleh ayat 10, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, . . . firman-Nya tidak ada di dalam kita.”
Mungkin inilah pertanyaan yang lebih menguatkan iman kita: “Bagaimanakah Allah menanggapi pengakuan dosa kita dan kebutuhan kita untuk diampuni?” Jawabannya: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (ay.9). Yesus telah menuntaskan masalah dosa itu bagi kita dengan mati menggantikan kita dan bangkit kembali. Itulah sebabnya Dia dapat membuat hati kita menjadi tahir (Mzm. 51:12). Perkataan seorang teman saya yang masih muda ini sungguh benar, “Yesus adalah pahlawan yang mengalahkan dosa kita.” —AMC
Tak seorang pun dapat berkata
Ia tak perlu diampuni dosanya,
Karena semua harus menghadap Kristus
Dengan iman untuk hidup baru. —Branon
Pengampunan Kristus membuka lembaran hidup baru.

Friday, November 15, 2013

Berpalinglah Kepada Allah

Santapan Harian
Yesaya 45:20-25

Sekali lagi Yesaya menampilkan ironi dalam beritanya. Yaitu, manusia mengelu-elukan kayu yang mereka jadikan dewa, serta berdoa kepadanya (20; lihat 42:17; 44:9-20). Tuhan bukanlah dewa yang butuh penghargaan sehingga harus diarak dan Tuhan bukan juga dewa yang tidak mampu menyelamatkan bangsanya. Tuhan adalah Allah yang telah ada sejak zaman purbakala. Ia adalah Allah yang setia. Setia pada janji yang telah difirmankan-Nya walaupun umatnya tidak setia.

Allah umat Israel berbeda dari dewa-dewi yang disembah bangsa-bangsa di sekitarnya. Jika dewa-dewa itu butuh pengakuan akan kemahakuasaan mereka, maka Tuhan tidak demikian. Sebab Tuhan adalah Allah yang sejati, bukan allah jadi-jadian. Tidak ada allah lain yang dapat menandingi-Nya karena kemampuan-Nya untuk menyelamatkan bangsa yang menyembah-Nya (21).

Kepada siapakah berita ini ditujukan? Kepada bangsa Israel yang kocar-kacir oleh pembuangan (22) Mereka diminta untuk kembali kepada Tuhan, Allah yang sejati itu, untuk dapat diselamatkan karena Dia setia akan janji-Nya (23-24). Namun, bangsa-bangsa lainnya pun diminta untuk percaya kepada Tuhan. Termasuk sisa-sisa Babel yang akan hancur oleh raja Koresh dari Persia. Mereka diminta untuk berpaling kepada Tuhan dan bukan bersandar pada dewa-dewi sesembahan mereka agar dapat diselamatkan.

Pernyataan Allah ini sangat relevan untuk kita hayati pada masa sekarang ini. Dewa teknologi dan uang meraja lela. Namun, kita diingatkan untuk hanya bersandar dan bergantung pada Allah. Kita tidak diperbolehkan untuk mengandalkan diri pada penguasa manusia karena mereka dapat berganti setiap saat. Kiranya hal ini menguatkan kita dalam menghadapi kesulitan dan kesukaran yang ada pada masa kini. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melupakan mereka yang setia kepada-Nya! Tuhan tidak pernah berpaling dan mengingkari apa yang telah Ia janjikan kepada umat-Nya. Maka berpalinglah kepada Allah, bersandar hanya pada tangan-Nya yang kekal!

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Pahlawan Kita Yang Tak Kenal Rasa Takut

Baca: Matius 8:23-34
Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? —Matius 8:26
Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya pernah merasa sangat takut untuk tidur di malam hari. Segera setelah orangtua saya mematikan lampu kamar tidur, saya membayangkan tumpukan baju kotor di atas kursi akan berubah bentuk menjadi seekor naga yang ganas. Saya juga membayangkan ada sesosok makhluk mengerikan di bawah tempat tidur, dan itu membuat saya panik dan tidak berani memejamkan mata.
Saya telah menyadari bahwa rasa takut yang melumpuhkan itu tidak hanya terjadi pada waktu saya kecil. Sekarang, rasa takut juga menghalangi kita untuk mau mengampuni, untuk mempunyai sikap yang benar di tengah pekerjaan, untuk menyerahkan harta bagi Kerajaan Allah, atau untuk berani menolak dosa dan tidak terbawa oleh arus yang menyesatkan. Jika kita menghadapi semua itu seorang diri, kita akan berhadapan dengan banyak “naga yang ganas” dalam hidup ini.
Dalam kisah tentang para murid yang berada dalam perahu yang diombang-ambingkan badai, saya tertegun saat menyadari bahwa satu-satunya pribadi yang tidak diliputi ketakutan hanyalah Yesus. Dia tidak takut terhadap angin ribut, terhadap orang gila di pekuburan, ataupun kepada sepasukan setan yang merasuki orang tersebut (Mat. 8:23-34).
Ketika dihadapkan dengan rasa takut, kita perlu mendengar pertanyaan Yesus, “Mengapa kamu takut?” (ay.26). Kita diingatkan kembali bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan ataupun meninggalkan kita (Ibr. 13:5-6). Tak ada satu hal pun yang tak dapat diatasi-Nya, sehingga tak ada satu hal pun yang ditakuti-Nya. Jadi, ketika kelak Anda dicekam rasa takut, ingatlah bahwa Anda dapat mengandalkan Yesus, Pahlawan kita yang tak kenal rasa takut! —JMS
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengingatkanku bahwa Engkau
takkan membiarkan atau meninggalkanku. Saat aku takut, aku tahu
aku dapat mengandalkan penyertaan-Mu dan kuasa-Mu
untuk menenangkan hatiku dan mengatasi ketakutanku.
Ketika rasa takut mencekam, berserulah kepada Yesus, Pahlawan kita yang tak kenal rasa takut.

Thursday, November 14, 2013

Menolong Orang Lain

Baca: Imamat 19:9-15
Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. —Imamat 19:9
Ketika badai salju mengubur lahan rerumputan, para peternak harus memberi makan ternak mereka dengan tangan. Ketika jerami diturunkan dari gerobak dan truk, dengan segera binatang yang kuat menyeruak ke depan. Binatang yang lemah atau sakit-sakitan hanya mendapat sedikit makanan atau tidak sama sekali kecuali peternak turun tangan.
Para pekerja dalam kamp pengungsian dan dapur umum melaporkan terjadinya pola yang sama. Ketika mereka membuka toko-toko mereka bagi orang yang membutuhkan, mereka yang lemah dan sakit-sakitan biasanya kesulitan mencapai bagian depan antrian. Sama seperti para peternak, para pekerja kemanusiaan ini harus memastikan bahwa pelayanan mereka dapat diterima oleh mereka yang lemah, sakit, dan terabaikan masyarakat.
Mereka menerapkan prinsip yang telah ditetapkan Allah dahulu kala. Di Imamat 19, Musa memerintahkan para petani dan penggarap kebun di Israel untuk meninggalkan sebagian panen mereka bagi orang miskin dan orang asing sehingga mereka dapat makan (ay.9-10).
Kita juga dapat berperan dengan memperhatikan orang yang lemah dan berbeban berat, entah sebagai seorang guru yang bisa dipercaya oleh para siswa, seorang pekerja yang mau menolong rekan yang sedang ada dalam masalah, seorang tahanan penjara yang mau menolong para tahanan baru, ataupun sebagai orangtua yang menunjukkan perhatian kepada anak-anak kita. Kita semua mempunyai kesempatan untuk menghormati Allah dengan cara menolong sesama.
Dalam upaya kita melayani mereka yang membutuhkan, kiranya anugerah Allah yang menjawab kebutuhan kita akan menggerakkan kita untuk melayani sesama yang membutuhkan anugerah itu. —RKK
Bapa, bukalah mataku untuk melihat mereka yang bergumul untuk
mendapatkan makanan, cinta, dan pengharapan; bukalah hatiku
untuk dapat menolong mereka menikmati kasih, menggunakan
tanganku melayani mereka—dan melalui mereka, aku melayani-Mu.
Kita melayani Allah dengan melayani sesama.

Kedaulatan Allah

Santapan Harian
Yesaya 45:9-19

Bisa bayangkan apa reaksi umat Israel ketika Allah menyatakan akan memilih dan mengurapi Koresh untuk menyelamatkan mereka dari pembuangan? Nas hari ini dimulai dengan kata-kata "celakalah!" dan diulang pada ayat berikutnya (10). Hal ini kontras dengan nada positif yang dirasakan di ayat 1-8. Kalau begitu, mungkin sekali reaksi umat Israel terhadap rencana Allah ini justru negatif. Bagi mereka, bagaimana mungkin Allah memakai orang yang bukan Israel, yang tidak mengenal Allah untuk menjadi juru selamat mereka! Bandingkan dengan protes Habakuk saat Allah menyatakan bahwa Ia akan memakai Babel untuk menghukum umat-Nya (Hab. 1:12-17).

Kalau begitu, apa hubungan bagian ini dengan bagian sebelumnya? Bagian ini berbicara tentang hak Allah sebagai Pencipta dan Pemilik. Allah berhak mengatur ciptaan dan milik-Nya sepenuhnya dan semau-Nya. Ilustrasi yang digunakan ialah tanah liat di tangan penjunan (9), juga anak terhadap orang tua (10). Tanah liat tidak bisa mempertanyakan apalagi mengatur penjunan, bejana macam apa yang harus dibuatnya. Sebagaimana ciptaan tidak berhak untuk mempertanyakan karya sang pencipta, atau seorang anak menggugat orang tuanya mengapa melahirkannya, demikian umat Israel tidak berhak untuk menanyakan dan mempersoalkan hak Allah ketika Ia menggunakan Koresh untuk kepentingan-Nya, apalagi ujungnya untuk kepentingan mereka (11-13, 17-19). Allah juga berhak menentukan bagian yang akan diterima Koresh pada saat ia menjalankan kehendak Tuhan (14-16).

Kita belajar bahwa ternyata kedaulatan Tuhan ditujukan untuk kepentingan umat-Nya. Rencana-Nya tidak bisa dibatalkan dan selalu terbaik untuk umat-Nya. Apa yang Allah lakukan untuk umat-Nya dahulu, juga berlaku untuk umat-Nya sekarang. Oleh karena itu, jangan pernah bertanya mengapa kepada pengaturan Tuhan, sebaliknya belajar percaya dan bersandar penuh kepada-Nya. Senantiasa ingat bahwa Allah bekerja untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Rm. 8:28).

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Wednesday, November 13, 2013

Allah yang Berdaulat

Santapan Harian
Yesaya 45:1-8

Sangat mengejutkan! Tak masuk di akal. Koresh, raja dari bangsa penyembah berhala, yang tidak mengenal Allah Israel dipakai Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya (4).Tuhan sendiri yang memanggil, mengurapi, dan memimpin Koresh untuk menaklukkan raja-raja dunia (1). Tuhan sendiri yang memastikan keberhasilan Koresh (2-3, 5). Padahal pengurapan dalam Perjanjian Lama ialah penugasan Tuhan kepada orang pilihan-Nya dari umat-Nya untuk jabatan tertentu!

Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat dan berkuasa untuk memakai siapa saja. Sepasti kekuasaan-Nya atas terang dan gelap, atas kemujuran dan malapetaka dan atas seluruh alam semesta ini (7-8) sedemikian pula kekuasaan-Nya atas Koresh. Allah melalui Yesaya memberitahu umat Israel, dan bangsa-bangsa bahwa Koresh adalah alat di tangan-Nya, yang dipakai untuk kebesaran dan kemuliaan-Nya (6).

Untuk apa Koresh dipanggil dan diurapi? Allah membangkitkan Koresh dengan suatu tujuan, yaitu untuk membebaskan bangsa Israel (4). Allah memakai raja bangsa Persia ini untuk menggantikan raja-raja adikuasa Babel. Yeremia menubuatkan kehancuran Babel (Yer. 25:12-14).. Koreshlah yang nantinya menjadi "juruselamat" bagi bangsa Yahudi. Hal ini terlihat dari tindakan Koresh di kemudian hari. Ia memberikan kebebasan bagi bangsa Israel untuk pulang ke negerinya serta mengizinkan pembangunan kembali tembok Yerusalem dan Bait Suci (44:28; 2Taw. 36:22-23; Ezra 1:1-4). Yeremia telah menubuatkan pemulihan umat Israel ini (Yer. 29:10-14) dan Daniel telah mendoakannya sebagai antisipasi ketika saat pembebasan yang dijanjikan itu telah tiba (Dan. 9:1-19).

Seringkali kita membatasi kehendak Tuhan sebatas logika kita. Apa yang bagi kita tidak masuk akal, Allah sanggup melakukannya. Jika kita lihat apa yang Tuhan nyatakan pada hari ini, maka kita akan belajar bahwa Tuhan bisa menggunakan siapa saja walaupun itu orang yang tidak seiman, bahkan mungkin musuh kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. Percayalah Allah berdaulat dan berkuasa.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Sekeping Jigsaw

Baca: 1 Korintus 12:12-27

Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. —1 Korintus 12:18

Pada perayaan hari ulang tahunnya, sang tuan rumah mengubah tradisi dengan cara memberikan bingkisan kepada setiap tamu yang datang ke pestanya. Kriste memberi suatu pesan pribadi kepada kami masing-masing untuk menyatakan betapa berartinya kami baginya. Pesan itu juga disertai kata-kata yang menguatkan tentang bagaimana Allah menjadikan kami sebagai pribadi yang dikehendaki-Nya. Di setiap pesan dilampiri sekeping jigsaw untuk mengingatkan bahwa masing-masing kami itu unik dan berarti dalam rencana Allah.

Pengalaman itu membuat saya membaca 1 Korintus 12 dengan pemahaman yang baru. Paulus membandingkan gereja yang adalah tubuh Kristus dengan tubuh manusia. Sebagaimana tubuh kita memiliki tangan, kaki, mata, dan telinga, semuanya merupakan bagian dari satu tubuh. Tidak ada pengikut Kristus dapat menyatakan dirinya terlepas dari tubuh itu, juga tidak ada satu bagian tubuh yang dapat mengatakan bahwa bagian tubuh lainnya tidak diperlukan (ay.12-17). “Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya” (ay.18).

Mudah bagi kita untuk merasa tidak sepenting orang lain yang berbeda karunia dan yang mungkin lebih menonjol daripada kita. Namun, Tuhan ingin supaya kita melihat diri sendiri sebagaimana Dia melihat kita—sebagai ciptaan yang unik dan sangat berharga bagi-Nya.

Anda adalah sekeping jigsaw dari sebuah gambar besar yang tidak akan lengkap tanpa kehadiran Anda. Allah telah memberi Anda karunia untuk menjadi suatu bagian yang penting dari tubuh Kristus demi kemuliaan-Nya. —DCM

Tuhan, tolong aku untuk tak membandingkan diriku dengan orang
lain dalam keluarga-Mu. Kiranya aku berusaha menjadi pribadi yang
Engkau kehendaki. Tolong aku untuk menggunakan segalanya yang
telah Engkau berikan bagiku untuk memberkati orang lain hari ini.

Hidup Anda adalah pemberian Allah bagi Anda; persembahkanlah kembali hidup Anda kepada Allah.

Tuesday, November 12, 2013

Pengharapan Baru Dalam Tuhan

Santapan Harian
Yesaya 44:21-28

Dalam nas sebelumnya ada orang membuat allah dari sisa kayu yang dipakainya, yang kemudian sujud menyembah dan berdoa kepada patung tersebut: "Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku" (17), tetapi kemudian yang ia dapatkan adalah kehancuran (20).

Pada nas ini, Israel diberikan penegasan bahwa Allah berbeda dari allah yang dibuat tersebut. Perbedaan yang sangat besar tersebut digambarkan dengan pengontrasan. Jika sebelumnya orang-orang membentuk patung (9, 10), maka adalah Allah yang membentuk Israel (21). Penyembah berhala berdoa "tolonglah aku" (17), tetapi kepada Israel Allah berkata, "Aku telah menebus engkau" (22-23). Sang penyembah berhala menyembah kepada kayu kering (harafiah "bagian dari pohon, " 19), sedangkan hutan dan segala pohon di dalamnya diperintahkan untuk bersorak-sorak bagi TUHAN (23). Berhala buatan manusia tidak dapat menyelamatkan orang yang meminta pertolongannya, sebaliknya Allah Israel menebus dan menyelamatkan umat-Nya.

Rencana penyelamatan tersebut Tuhan nyatakan dengan menekankan relasinya dengan Israel: "Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan." Tuhan adalah penebus yang akan menyelamatkan umat-Nya yang membutuhkan pertolongan. Ia yang membentuk, menunjukkan sentuhan pribadi dalam menjadikan Israel umat-Nya, dan Ia telah melakukannya sejak dari kandungan, menunjukkan semua ini dapat terjadi semata-mata karena inisiatif Allah.

Karenanya Tuhan akan membangun kembali kota-kota Yehuda yang telah menjadi reruntuhan (26), dan Ia akan membangkitkan Koresh (raja Persia) yang akan mengizinkan orang Israel kembali dari pembuangan untuk membangun kembali Bait Allah (28).

Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan baru. Bahkan ketika kita telah berdosa dan dihukum oleh Tuhan, janganlah berputus asa karena Ia adalah Allah yang telah membentuk kita menjadi umat-Nya, dan Ia adalah Penebus kita dan yang akan tetap setia untuk menolong kita bahkan setelah Ia menghukum kita.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Momen Memalukan

Baca: Yohanes 8:1-11
Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” —Yohanes 8:11
Kilatan lampu dari mobil polisi menarik perhatian saya pada seorang pengendara mobil yang dipaksa menepi setelah melanggar lalu lintas. Ketika polisi yang memegang surat tilang berjalan kembali ke mobilnya, saya dapat melihat dengan jelas si pengendara mobil duduk tanpa daya di belakang setir sambil menahan malu. Dengan tangannya, wanita itu berusaha menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang yang melintas untuk menyembunyikan siapa dirinya. Perbuatannya mengingatkan saya betapa memalukannya apabila pilihan kita yang buruk dan konsekuensinya diketahui oleh orang lain.
Ketika seorang perempuan yang bersalah dibawa kepada Yesus dan perbuatan asusilanya terungkap, orang banyak di situ tidak hanya sekadar menonton. Mereka menuntut perempuan ini dihukum, tetapi Yesus justru menunjukkan belas kasihan. Satu-satunya Pribadi yang berhak menghakimi dosa menanggapi kegagalannya dengan belas kasihan. Setelah membubarkan para penuduh perempuan itu, Yesus berkata, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Belas kasihan-Nya mengingatkan kita akan anugerah-Nya yang mengampuni dosa. Perintah-Nya kepada perempuan itu menunjukkan kerinduan-Nya yang besar agar kita hidup dalam sukacita dari anugerah-Nya itu. Kedua elemen ini menunjukkan besarnya perhatian Kristus kepada kita pada saat kita tersandung dan jatuh dalam dosa.
Bahkan pada saat-saat yang paling memalukan dari kegagalan kita, kita dapat berseru kepada-Nya dan mengalami sendiri bahwa anugerah-Nya memang sungguh ajaib. —WEC
Ajaib benar anugerah
Pembaru hidupku!
Kuhilang, buta, bercela;
Oleh-Nya kusembuh. —Newton
(Kidung Jemaat, No. 40)
Hanya Yesus yang dapat memberikan anugerah yang kita perlukan untuk setiap pencobaan yang kita alami.

Monday, November 11, 2013

Buku Harian Dari Bencana

Baca: Ratapan 3:19-33
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23
Yves Congar masih berusia 10 tahun pada saat pecahnya Perang Dunia I dan ketika kota tempat tinggalnya di Prancis diserbu tentara Jerman. Ibu Yves mendorongnya untuk menulis pada sebuah buku harian, dan dari tulisannya lahirlah sebuah catatan berisi penggambaran yang blak-blakan tentang suatu masa pendudukan militer, lengkap dengan narasi dan sketsa yang berwarna. Buku hariannya merekam suatu peristiwa bencana dari sudut pandang seorang anak. Apa yang disaksikan Yves begitu membekas pada dirinya sehingga ia merasa terpanggil untuk meneruskan pengharapan dari Kristus kepada sesamanya.
Berabad-abad sebelumnya, Nabi Yeremia menjadi saksi mata dari penyerbuan Yerusalem oleh Raja Nebukadnezar. Yeremia menuliskan pengamatannya dalam “buku harian” miliknya, yaitu Kitab Ratapan. Di tengah masa-masa yang memilukan hati tersebut, sang nabi menemukan pengharapan di dalam isi hati Allah. Ia menuliskan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (3:22-23).
Dari masa ke masa, kita mungkin mengalami atau menyaksikan beragam bencana dan merasakan sepertinya ada gelombang kekuatan musuh yang menyerbu kehidupan kita. Namun masa-masa kesukaran ini tidak akan berlangsung selamanya. Dan seperti Yeremia, pengharapan yang paling dapat kita andalkan dialami ketika kita merenungkan kesetiaan dan pemeliharaan Bapa surgawi kita. Kasih setia serta rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi, dan alangkah besar kesetiaan-Nya! —HDF
Setia-Mu Tuhanku, mengharu hatiku,
Setiap pagi bertambah jelas;
Yang kuperlukan tetap Kauberikan,
Sehingga aku pun puas lelas. —Chisholm
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 138)
Kesetiaan Allah menjadi alasan terbaik bagi kita untuk berharap kepada-Nya.

Ironi Penyembahan Berhala

Santapan Harian
Yesaya 44:9-20

Judul: Ironi penyembahan berhala
Penyembahan berhala merupakan ironi yang tidak masuk akal yang dilakukan manusia. Manusia menyembah yang diciptakannya sendiri!

Keironisan itu tergambar demikian. Seorang tukang kayu menebang pohon. Kayunya dipakai menjadi kayu bakar untuk memanaskan diri juga membakar roti. Tetapi tukang kayu itu juga membuat sebagian kayu tersebut menjadi allah lalu menyembah padanya (15).

Tentu Yesaya mengerti bahwa penyembah berhala bukan sekadar menyembah patung. Mereka yang menyembah berhala menganggap mereka menyembah allah yang diwakili oleh patung tersebut. Namun, Yesaya sengaja menggambarkan bahwa manusia menyembah patung buatan tangannya sendiri, untuk menunjukkan keironisan penyembahan berhala. Sesungguhnya berhala adalah allah yang dicipta oleh manusia berdasarkan pemikirannya, berdasarkan karakteristik si pencipta, untuk memenuhi kebutuhannya. Sungguh terbalik dengan ajaran Alkitab bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar-Nya. Tidak mengherankan kita melihat bahwa berhala mempunyai kelemahan seperti manusia, yang perlu untuk merenung, menyelesaikan urusannya, bepergian, ataupun tidur (bnd. 1Raj. 18:27), yang mempunyai kekuasaan terbatas, dan dapat dibujuk atau dimanipulasi.

Akibat bagi mereka yang menyembah berhala adalah mereka menjadi seperti berhala yang mereka sembah, yaitu kesia-siaan. Mereka mejadi buta dan bodoh, sehingga mereka akan mendapat malu (9). Ia "disesatkan oleh hatinya yang tertipu, " dan "ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya" (20).

Menukar Allah dengan berhala merupakan kebodohan ganda. Allah adalah pencipta manusia, sehingga Ia pantas untuk disembah, sedang berhala adalah allah yang dicipta oleh manusia yang jelas tidak masuk akal untuk disembah. Dengan demikian adalah ironi bahwa manusia menyembah apa yang telah diciptanya. Lebih ironi lagi ialah ketika manusia menukar Allah yang menciptanya dengan para berhala yang diciptanya. Akibatnya ialah kesia-siaan dan kebinasaan.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Sunday, November 10, 2013

Mengingat Perkataan Ayah Kita

Baca: Mazmur 119:89-93

Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku. —Mazmur 119:93

Ketika Jim Davidson sedang menuruni Gunung Rainier, ia terjatuh di atas sebuah jembatan dari salju dan terperosok ke dalam suatu jurang gletser (celah yang sangat dalam dan sama sekali gelap yang terletak di antara dua tebing es pada suatu gletser). Sementara Jim berdiri dengan tubuh penuh darah dan memar di dalam jurang es yang gelap itu, ia merenungkan masa kecilnya dan mengingat kembali perkataan ayahnya. Sang ayah senantiasa mengingatkannya bahwa ia akan dapat mencapai hal-hal besar jika ia terus berjuang untuk mengatasi kesukaran yang dialaminya. Perkataan itu menolong Jim untuk terus bertahan sembari menghabiskan waktu lima jam berikutnya untuk memanjati jurang es yang gelap hingga mencapai tempat yang aman, hanya dengan peralatan terbatas dan dalam keadaan yang sangat sulit.

Sang pemazmur sepertinya memanjat keluar dari jurang kesengsaraan dan penderitaannya sendiri dengan mengingat firman Bapa surgawinya. Daud mengakui bahwa jika Allah dan firman-Nya tidak memberikan sukacita yang menopang hidupnya, ia pasti sudah binasa dalam penderitaan (Mzm. 119:92). Ia menyatakan keyakinannya yang penuh pada firman Tuhan yang kekal (ay.89), dan pada sifat Allah yang setia (ay.90). Sebagai dampak dari kesetiaan Allah, sang pemazmur bertekad tidak akan melupakan firman Allah bagi dirinya karena firman itu berperan besar dalam menyelamatkan dan menguatkan dirinya.

Dalam masa-masa penderitaan dan kekelaman tergelap yang sedang kita alami, jiwa kita dapat disegarkan kembali oleh Bapa surgawi kita ketika kita mengingat dan memenuhi pikiran kita dengan firman-Nya yang sanggup memberi kekuatan. —MLW

Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Keadaan putus asa apa yang Anda alami saat ini? Bagaimana Anda
dapat menggunakan kesempatan ini untuk menyegarkan jiwa dengan
membiarkan firman Tuhan mengisi hati dan pikiran Anda?

Mengingat firman Tuhan akan menyegarkan jiwa kita.

Mengingat Perkataan Ayah Kita

Baca: Mazmur 119:89-93

Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku. —Mazmur 119:93

Ketika Jim Davidson sedang menuruni Gunung Rainier, ia terjatuh di atas sebuah jembatan dari salju dan terperosok ke dalam suatu jurang gletser (celah yang sangat dalam dan sama sekali gelap yang terletak di antara dua tebing es pada suatu gletser). Sementara Jim berdiri dengan tubuh penuh darah dan memar di dalam jurang es yang gelap itu, ia merenungkan masa kecilnya dan mengingat kembali perkataan ayahnya. Sang ayah senantiasa mengingatkannya bahwa ia akan dapat mencapai hal-hal besar jika ia terus berjuang untuk mengatasi kesukaran yang dialaminya. Perkataan itu menolong Jim untuk terus bertahan sembari menghabiskan waktu lima jam berikutnya untuk memanjati jurang es yang gelap hingga mencapai tempat yang aman, hanya dengan peralatan terbatas dan dalam keadaan yang sangat sulit.

Sang pemazmur sepertinya memanjat keluar dari jurang kesengsaraan dan penderitaannya sendiri dengan mengingat firman Bapa surgawinya. Daud mengakui bahwa jika Allah dan firman-Nya tidak memberikan sukacita yang menopang hidupnya, ia pasti sudah binasa dalam penderitaan (Mzm. 119:92). Ia menyatakan keyakinannya yang penuh pada firman Tuhan yang kekal (ay.89), dan pada sifat Allah yang setia (ay.90). Sebagai dampak dari kesetiaan Allah, sang pemazmur bertekad tidak akan melupakan firman Allah bagi dirinya karena firman itu berperan besar dalam menyelamatkan dan menguatkan dirinya.

Dalam masa-masa penderitaan dan kekelaman tergelap yang sedang kita alami, jiwa kita dapat disegarkan kembali oleh Bapa surgawi kita ketika kita mengingat dan memenuhi pikiran kita dengan firman-Nya yang sanggup memberi kekuatan. —MLW

Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Keadaan putus asa apa yang Anda alami saat ini? Bagaimana Anda
dapat menggunakan kesempatan ini untuk menyegarkan jiwa dengan
membiarkan firman Tuhan mengisi hati dan pikiran Anda?

Mengingat firman Tuhan akan menyegarkan jiwa kita.

Tetap Bertahan Karena JanjiNya

Santapan Harian
Mazmur 119:49-64

Tatkala tekanan hidup terlalu kuat, sepertinya hanya tinggal menyerah kalah, janji Tuhan selalu menjadi penguat dan pembangkit harapan. Itulah yang diungkap di dua bait ini.

Pemazmur telah menerima janji dari Tuhan sendiri (49-50) bahwa Tuhan adalah bagiannya (57). Pada masa penaklukan tanah Kanaan, dua belas suku masing-masing mendapatkan tanah pusaka yang pembagiannya dilakukan menurut undi (Yos. 13:7-8). Hanya suku Lewi tidak mendapatkan tanah pusaka (Yos. 13:14) karena Tuhanlah milik pusaka (bagian) mereka. Suku Lewi bersama dengan klan Harun mendapatkan kehormatan untuk melayani Tuhan dalam kemah suci. Selama mereka melayani Tuhan dengan cara yang benar, sesuai dengan petunjuk-Nya, mereka pun akan disertai dan diberkati Tuhan.

Kesadaran diri dipercaya melayani Tuhan merupakan kekuatan untuk tetap setia. Itulah janji Tuhan kepada kita. Tidak heran kalau tugas atau jabatan mulia itu tidak disenangi orang fasik. Mereka tidak senang karena yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan itu pasti berlawanan dengan kehendak para pelaku kejahatan.

Berangkat dari kesadaran akan janji Tuhan tersebut, pemazmur memohonkan belas kasihan Tuhan (58) agar ia sanggup menghadapi segala upaya musuh menjatuhkannya, dan tetap setia melayani Dia. "Belas kasihan-Mu" dalam terjemahan harfiahnya, "Muka-Mu". Artinya, perkenan Tuhan. Dengan menyadari bahwa Tuhan berkenan atas hidupnya, pemazmur disanggupkan untuk tidak menyerah atas tekanan dari orang-orang fasik.

Apa tantangan yang Anda sedang hadapi hari ini? Fitnahan musuh? Dipersulit dalam mengurus izin karena tidak mau suap? Tekanan dari kelompok anarkis untuk membungkam iman Anda? Peganglah janji firman-Nya bahwa Dia akan menyertai Anda saat Anda berkomitmen untuk hidup berkenan kepada-Nya.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Saturday, November 9, 2013

Kehendak Tuhan yang Tidak Berubah

Santapan Harian
Yesaya 44:1-8

Allah kita tidak berubah. Walaupun umat tidak setia, Allah tetap setia dengan pemilihan-Nya, dan akan terus membentuk umat-Nya menjadi seperti yang telah direncanakan-Nya.

Walau nas sebelumnya menunjukkan dosa dari umat Allah yang telah begitu memberati dan menyusahi Allah, Allah tetap menyertai dan menghibur umat-Nya. Tuhan memulai penghiburan-Nya dengan berkata "Dengarlah, hai Yakub, hamba-Ku, dan hai Israel, yang telah Kupilih!" (1). Pernyataan ini menegaskan bahwa status Israel tidak berubah di hadapan-Nya: mereka tetap hamba-Nya. Sedangkan kata Kupilih memakai tensa perfek yang menunjuk pada suatu tindakan yang sudah selesai. Tuhan telah "menjadikan" dan "membentuk" Israel dari kandungan, dan "menolong" mereka (2). Kata "menolong" diberikan dalam tensa imperfek, menunjukkan kepada pertolongan Tuhan yang terus menerus diberikan ketika dibutuhkan. Ini adalah penegasan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka.

Di ayat kedua, Tuhan mengulang sebutan-Nya bagi Israel: hamba-Ku yang telah Kupilih. Ada hal lain yang menarik, nama Yakub disejajarkan dengan nama Yesyurun. Yakub berarti "dia memegang tumit" (Kej. 25:26), yang secara figuratif berarti "penipu." Sedangkan Yesyurun, berasal dari kata yasar, yang berarti "lurus/benar." Nama Yakub menunjukkan kegagalan dari umat, nama Yesyurun menunjukkan apa yang akan terjadi pada umat berdasarkan anugerah. Ini merupakan suatu ironi yang positif, menunjukkan kasih Allah yang begitu agung yang terus akan membentuk umat-Nya sampai menjadi seperti yang Ia rencanakan walaupun umat-Nya terus menerus tidak taat dan gagal.

Umat tidak perlu takut karena Allah sendiri yang akan menggenapi rencana-Nya, yang dimulai dengan pencurahan Roh-Nya. Hasil dari pencurahan Roh Tuhan tersebut umat akan bertobat dan menyebut diri mereka kepunyaan TUHAN (5).

Keselamatan semata-mata dapat tergenapi karena kasih dan kehendak Tuhan yang tidak berubah bagi umat-Nya. Marilah bersyukur untuk anugerah yang indah dan tak berubah tersebut.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Batu Karang

Baca: Matius 7:24-27; Efesus 2:18-22
Kristus Yesus [adalah] batu penjuru. —Efesus 2:20
Dalam suatu perjananan ke Massachusetts, saya dan suami mengunjungi Plymouth Rock, suatu simbol yang penting bagi Amerika Serikat. Menurut tradisi, batu karang ini dikenang sebagai tempat para pengembara menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah Amerika setelah berlayar dengan kapal Mayflower pada tahun 1620. Walaupun kami senang mendengar penjelasan tentang makna penting dari tempat itu, kami merasa terkejut dan kecewa karena melihat ukurannya yang sangat kecil. Kami diberi tahu bahwa karena erosi dan orang-orang yang mengikis permukaannya, besarnya batu karang itu sekarang hanya tinggal sepertiga dari ukurannya yang semula.
Alkitab menyebut Yesus sebagai Batu Karang (1Kor. 10:4), yang tidak pernah berubah (Ibr. 13:8). Dialah Batu Karang teguh yang menjadi dasar untuk membangun hidup kita. Gereja (persekutuan orang percaya) dibangun di atas dasar “Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Di dalam Dia, semua orang percaya disatukan (Ef. 2:20-22).
Yesus adalah Batu Karang yang teguh, tempat kita dapat bersandar pada saat badai kehidupan menerpa dan menghempaskan kita (Mat. 7:25). Seorang penulis bernama Madeleine L’Engle berkata, “Sesekali ada baiknya semua hal yang kita andalkan direnggut dari kita. Kita akan dapat merasakan apakah kita memang berdiri di atas batu yang kokoh atau justru pasir yang rapuh.”
Plymouth Rock adalah bongkahan mineral yang menarik dengan makna sejarah yang memikat. Akan tetapi, Yesus adalah batu penjuru yang sangat mulia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya selalu dapat berharap kepada-Nya, Sang Batu Karang yang teguh. —CHK
Bangunlah di atas Batu Karang yang teguh,
Landasan yang terjamin dan sejati,
Pengharapannya akan kekal selamanya—
Harapan akan keselamatan kita. —Belden
Kristus, Sang Batu Karang, adalah pengharapan kita yang pasti.

Friday, November 8, 2013

Ritual Agama yang Memberati Allah

Santapan Harian
Yesaya 43:22-28

Kebanyakan orang berpikir bahwa semakin kita melakukan aktivitas atau ritual agama, kita semakin dekat dengan Allah. Padahal hal itu belum tentu menunjukkan kedekatan kita dengan Allah. Dengan mudah ritual itu dapat menjadi ritual kosong yang menjijikkan Tuhan.

Allah menyatakan dosa umat-Nya, dan dosa tersebut bukanlah karena mereka tidak mempersembahkan korban kepada Allah. Ayat 22 seharusnya diterjemahkan "Sungguh, bukan Aku engkau panggil, hai Yakub." Ini menekankan bahwa walaupun mereka membawa kurban bakaran, mereka tidak membawanya untuk Tuhan (23), dalam arti Tuhan tidak berkenan dengan persembahan mereka.

Mari kita melihat permainan kata memberati dan menyusahi yang muncul di ayat 23-24. Kata "memberati" berasal dari akar kata 'abad, yaitu "menjadikan budak." Sepertinya Yesaya tetap memakai latar belakang keluaran. Orang Mesir memaksa Israel menjadi budak, tetapi Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir (Kel. 20:2). Allah kemudian memberikan mereka hukum-Nya, supaya dengan ketaatan mereka dapat menikmati kebebasan (Mz. 119:45). Namun, Israel memakai hukum yang membebaskan itu untuk masuk kepada perbudakan yang baru, yaitu perbudakan ritual agama (bnd. Yes. 1:10-15). Dengan menjadikan ritual sebagai esensi agama, mereka telah menghilangkan pengampunan yang seharusnya mereka dapatkan melalui persembahan korban.

Tuhan telah memanggil umat-Nya untuk masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Untuk itu umat perlu mendengar dan menaati firman-Nya (Kel. 19:5). Namun, umat memberontak dan tidak taat (Yes. 30:9-11). Dengan hanya memberikan persembahan dan kemenyan tanpa hati yang taat, mereka telah "menyusahkan" Allah. Persembahan yang seharusnya menyenangkan hati Allah telah menyusahi Allah.

Ritual tanpa hati yang benar dan relasi yang baik dengan Tuhan adalah sia-sia dan tidak berkenan kepada-Nya? Apakah kita telah memiliki relasi pribadi dengan Allah dalam Yesus Kristus? Apakah relasi tersebut adalah relasi yang hidup?

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Berkat Dari Memberi

Baca: Markus 12:38-44
Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. —Kisah Para Rasul 20:35
Rasanya tidak masuk akal bagi seorang janda untuk mempersembahkan kepingan uang terakhirnya kepada suatu lembaga korup di Yerusalem, dimana para ahli Taurat yang menerimanya “merampas rumah [janda]” (Mrk. 12:40 BIS). Namun lewat tindakan janda itu, Yesus melihat teladan hidup dari sikap yang benar terhadap uang (ay.41-44).
Ketika melayani sebagai gembala Church of the Saviour di Washington, DC, Gordon Cosby bercerita tentang seorang janda yang pendapatannya hampir-hampir tidak cukup untuk menyediakan makanan dan pakaian bagi keenam anaknya. Namun setiap minggu, janda itu dengan setia memberikan persembahan sebesar $4 (hampir Rp. 40.000). Seorang diaken mengusulkan kepada Cosby agar menasihati janda itu untuk memakai uangnya guna memenuhi kebutuhan keluarga.
Cosby mengikuti usul itu, tetapi kemudian menyesalinya. “Engkau berusaha merampas hal terakhir yang memberi martabat dan makna hidup bagiku,” kata si janda. Janda itu memahami kunci dari memberi: Si pemberi bisa lebih mendapatkan manfaat daripada si penerima. Memang, orang yang berkekurangan perlu bantuan keuangan. Namun kebutuhannya untuk memberi bisa jadi sama penting dengan kebutuhannya untuk menerima.
Sikap memberi mengingatkan kita bahwa kita hidup oleh kasih karunia Allah, sama seperti burung dan bunga. Makhluk-makhluk itu tidak khawatir tentang masa depannya; begitu pula seharusnya kita. Dengan memberi, kita mendapat kesempatan untuk menyatakan keyakinan kita bahwa Allah akan memelihara kita sebagaimana Dia memelihara burung pipit dan bunga bakung (Mat. 6:25-34). —PDY
Pemberian kami selamanya
Dari tangan-Mu asalnya;
Yang Kauterima itulah
Yang Kauberi. —Wordsworth
(Kidung Jemaat, No. 289)
Uang tak lagi berkuasa atas kita ketika kita tak lagi enggan untuk memberi.

Thursday, November 7, 2013

Dua Kemenangan

Baca: 2 Samuel 5:17-25

Bertanyalah Daud kepada TUHAN. —2 Samuel 5:19

Raja Daud berhadapan dengan musuh yang tidak lagi asing baginya. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika masih menjadi seorang gembala muda, ia telah menghadapi Goliat, seorang prajurit gagah asal Filistin, dan berhasil membunuhnya dengan sebuah batu (1Sam. 17). Sekarang, ketika Daud menjadi raja Israel, pasukan Filistin datang kembali! Mereka mendengar bahwa Daud menjadi raja dan memutuskan untuk menyerangnya (2Sam. 5:17).

Apa yang pertama kali kita lakukan ketika masalah menghadang kita? Kita bisa panik. Kita bisa membuat rencana. Atau kita bisa mencontoh yang Daud lakukan, yakni berdoa. “Bertanyalah Daud kepada TUHAN” (ay.19), dan Allah pun memandunya.

Daud harus menghadapi dua pertempuran melawan bangsa Filistin—pertama di Baal-Perasim, dan berikutnya di Lembah Refaim. Alangkah baiknya Daud telah bertanya kepada Allah, karena masing-masing pertempuran itu membutuhkan strategi yang berbeda. Di pertempuran pertama, Allah memenanginya cukup dengan kuasa-Nya: “TUHAN telah menerobos musuhku,” kata Daud (ay.20). Pada pertempuran berikutnya, Allah memberi Daud suatu strategi, dan ketika Daud melakukannya, Israel pun berhasil memenangi pertempuran itu (ay.23-25).

Ada banyak tantangan yang harus kita hadapi setiap hari. Meski tidak ada satu jawaban yang pas untuk setiap masalah, tindakan pertama kita haruslah bertanya kepada Allah. Dengan pimpinan Allah, kita dapat mempercayai Dia. Baik kemenangan itu berasal dari campur tangan-Nya yang ajaib atau melalui tuntunan tangan-Nya, biarlah seluruh kemuliaan hanya bagi Allah. —JDB

Pertempuran tak berpihak pada yang kuat,
Perlombaan tak berpihak pada yang tangkas;
Tetapi pada mereka yang setia dan benar
Kemenangan dijanjikan melalui kasih karunia. —Crosby

Agar Anda dapat menghadapi setiap tantangan, sediakanlah waktu untuk bertelut dalam doa.

Kepastian Janji Allah

Santapan Harian
Yesaya 43:8-21

Iman ialah percaya kepada Allah dan firman-Nya walaupun secara kasat mata nampaknya mustahil apa yang Allah janjikan akan dapat terjadi. Esensi iman ialah percaya dengan apa yang tidak kelihatan (bnd . Ibr. 11:1). Nas hari ini menegaskan bahwa janji Allah pasti akan tergenapi.

Janji penyertaan Allah pada nas sebelumnya dapat menimbulkan keraguan. Nas hari ini menegaskan Allah tidak berubah. Ia akan menepati janji-Nya. "Aku tetap Dia" (10, 13) dan "Aku, Akulah TUHAN" (YAHWEH, "Aku adalah Aku" Kel. 4:13), menekankan bahwa Dia Allah yang tidak berubah.

Kepastian janji Allah tersebut menegaskan ulang janji yang Allah telah nyatakan kepada umat-Nya sebelum ini. Yaitu, Ia akan membawa mereka keluar dari Babel. "Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel" akan menyuruh orang ke Babel untuk membuka semua palang pintu penjara (14).

Penebusan tersebut dilakukan dengan menjatuhkan Babel. Kejatuhan Babel tersebut digambarkan seperti peristiwa keluaran dari Mesir (16-17). Penebusan ini disebut sebagai "keluaran baru". Keduanya tidak persis sama. Umat diingatkan untuk "janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, " karena Ia akan "membuat sesuatu yang baru" (19). Yang lama, bersifat lebih nasional, yang baru meluas juga untuk bangsa lain. Yang lama karena kesetiaan-Nya pada perjanjian-Nya dengan Abraham. Yang baru karena kesetiaan-Nya, walaupun umat-Nya tidak setia! Umat dipanggil sebagai saksi-saksi karya penebusan Allah atas mereka (10, 12).

Alasan tindakan Allah tersebut adalah karena Israel adalah "umat pilihan-Ku; umat yang telah Ku-bentuk bagi-Ku untuk memberitakan kemasyhuran-Ku" (20-21). Perhatikan kata "Ku" yang berkali-kali muncul, menunjukkan bahwa Allah melakukan penebusan tersebut karena Ia adalah Allah yang mengingat perjanjian-Nya.

Allah kita adalah Allah yang tidak akan mengingkari janji-Nya Oleh karena itu kita dapat dengan yakin mengimani janji Allah yang telah Ia berikan kepada kita di dalam Alkitab. Terutama janji penebusan dan keselamatan-Nya untuk mereka yang percaya kepada Kristus.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Wednesday, November 6, 2013

Anugerah Penyertaan Tuhan

Santapan Harian
Yesaya 43:1-7
Tuhan adalah Allah yang beranugerah. Walaupun umat-Nya tidak layak untuk mendapat penyertaan-Nya, namun dalam kemurahan-Nya Allah tetap menyertai dan melindungi mereka. Nas hari ini memperlihatkan bahwa dalam pembuangan Allah tetap menyertai dan melindungi mereka.
Pada ayat 42:25 Allah menumpahkan murka kepada umat yang tidak mau mengikuti jalan-Nya dan menghanguskan mereka. Namun, Allah menyatakan bahwa Ia tetap menyertai dan melindungi umat yang sedang Ia hukum. Inilah anugerah! Allah setia dengan perjanjian-Nya. Allah telah menciptakan dan membentuk Israel, Ia telah menebus dan memanggil Israel dengan nama-Nya, dan mereka adalah kepunyaan-Nya (1). Oleh karena itu, dalam murka Ia tetap mengingat kasih sayang (bnd. doa Habakuk, Hab. 3:2), dan menyelamatkan umat-Nya dari air maupun api. Kontras antara air dan api merupakan sebuah idiom yang menyatakan totalitas dari kesulitan.
Penyertaan Tuhan juga dilandasi oleh apa yang telah Ia lakukan bagi umat-Nya di masa yang lampau. Istilah "TUHAN, Allah-mu" merupakan istilah yang dipakai dalam Keluaran (Kel. 20:2), untuk menyatakan penebusan yang telah dilakukan-Nya. "Yang Mahakudus, Allah Israel, " adalah istilah yang secara khusus Yesaya pakai untuk Allah, menyatakan realitas kekudusan Allah dan relasinya dengan Israel. Kedua istilah ini memberikan penghiburan. Walaupun Allah murka karena kekudusan telah dilanggar, relasi perjanjian-Nya dengan Israel tetap bertahan. Allah setia dengan kasih-Nya, maka Ia akan menyelamatkan Israel walau harus menghancurkan bangsa lain (4). Semua ini karena umat-Nya merupakan orang yang disebut dengan nama-Nya, yang telah Ia ciptakan untuk kemuliaan-Nya.
Puji Tuhan! Walaupun kita umat Allah yang sering tidak taat, Allah tetap memberikan anugerah penyertaan-Nya dan melindungi kita. Marilah kita bersyukur untuk anugerah-Nya yang begitu luar biasa ini. Berbaliklah dari dosa kita dan berkomitmenlah untuk lebih taat lagi kepada-Nya.
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Masa Untuk Segalanya

Baca: Pengkhotbah 3:1-8
Untuk segala sesuatu ada masanya. —Pengkhotbah 3:1
Pada tahun 1960an, grup band rock The Byrds mempopulerkan lagu berjudul Turn! Turn! Turn! Lagu ini pernah menduduki puncak tangga 100 lagu terpopuler versi majalah Billboard dan meraih popularitas di seluruh dunia. Orang-orang seolah terpikat oleh lirik lagu tersebut. Meski demikian, yang menarik adalah bahwa seluruh lirik lagu ini, kecuali baris terakhir, terambil dari kitab Pengkhotbah dalam Perjanjian Lama.
“Untuk segala sesuatu ada masanya,” kata penulis kitab Pengkhotbah, “untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (3:1). Setelah itu, sang penulis mulai menyebutkan masa-masa yang berlangsung di dalam hidup manusia: waktu untuk lahir dan untuk meninggal, waktu untuk menemukan dan untuk kehilangan, waktu untuk menangis dan tertawa, waktu untuk meratap dan untuk menari. Sebagaimana musim pada alam mengalami pergantian, demikian juga masa-masa dalam hidup kita. Keadaan kita tidak pernah sama dan bertahan lama.
Terkadang kita dapat menerima datangnya perubahan dalam hidup. Namun sering kali kita sulit menerimanya, terutama ketika perubahan itu melibatkan rasa duka dan kehilangan. Meski demikian, kita dapat tetap mensyukuri bahwa Allah tidak berubah. “Bahwasanya Aku, TUHAN” kata-Nya melalui Nabi Maleakhi, “tidak berubah” (Mal. 3:6).
Karena Allah tidak berubah, kita dapat bersandar kepada-Nya sepanjang masa-masa hidup kita yang terus berubah. Dia selalu menyertai kita (Mzm. 46:2), damai sejahtera-Nya berkuasa untuk memelihara hati kita (Flp. 4:7), dan kasih-Nya memberikan keteguhan bagi jiwa kita (Rm. 8:39). —JBS
Allahmu benteng yang teguh,
Perisai dan senjata;
Betapapun sengsaramu,
Pertolongan-Nya nyata. —Luther
(Kidung Jemaat, No. 250a)
Sifat Allah yang tak berubah menjadi pegangan kita di tengah perubahan dari masa ke masa.

Tuesday, November 5, 2013

Hadiah Untuk Sikap Baik

Baca: 2 Korintus 5:1-11
Sebab itu juga kami berusaha, . . . supaya kami berkenan kepada [Allah]. —2 Korintus 5:9
Dalam pelayanan sekolah Minggu bagi anak-anak di gereja saya, kami memberikan selembar kartu kepada anak-anak yang kami lihat telah bersikap baik. Mereka dapat mengumpulkan kartu-kartu tersebut dan menerima hadiah atas sikap baik mereka. Kami berusaha mendorong anak mengembangkan sikap yang baik ketimbang berfokus pada sikap yang tidak baik.
Ketika Tyree, anak berusia 11 tahun, hendak diberi kartu oleh gurunya, ia mengatakan, “Tidak, terima kasih. Aku tidak perlu kartu itu. Aku ingin bersikap baik, dan bukan karena mau mendapat hadiah.” Bagi Tyree, melakukan hal yang benar itu memang sudah sepatutnya. Tyree jelas memiliki nilai moral yang baik terpatri di dalam dirinya, dan ia ingin mewujudkannya dalam perbuatan—dengan atau tanpa iming-iming upah.
Sebagai umat yang percaya kepada Yesus, suatu hari nanti kita akan menerima upah. 2 Korintus 5:10 mengatakan bahwa setiap orang akan “memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Akan tetapi, memperoleh upah seharusnya tidak menjadi motivasi kita untuk menjalani hidup dengan benar. Upah pun bukan menjadi dasar kita untuk memperoleh keselamatan. Sudah sepatutnya kita rindu menjalani hidup karena hati kita didorong oleh kasih kepada Allah dan keinginan untuk menyenangkan Dia.
Kita mengasihi Allah karena kita ingin menyenangkan Dia yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita (1Yoh. 4:19) dan ingin melayani-Nya dengan motivasi yang murni (Ams. 16:2, 1Kor. 4:5). Hidup bersama Dia adalah upah yang terbaik dari segalanya! —AMC
Dalam segala pikiran, ucapan, dan perilaku,
Ya Allah, Aku ingin selalu memuliakan-Mu;
Namun kiranya motivasi terbesarku adalah
Mengasihi Kristus yang telah mati bagiku. —D. DeHaan
Kerinduan kita untuk menyenangkan Allah menjadi motivasi terbesar kita untuk menaati Dia.

Umat Allah yang Buta dan Tuli

Santapan Harian
Yesaya 42:18-25

Tidak semua yang mengaku umat Allah merupakan umat yang beriman sejati. Dalam Perjanjian Lama kebanyakan umat tidak sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan (bnd. generasi pertama yang keluar dari tanah Mesir yang karena ketidakpercayaan mereka akhirnya dihukum untuk mati di padang gurun). Dalam nas hari ini Tuhan mengecam umat-Nya yang buta dan tuli.

Tuli dan buta di sini bisa menunjuk kepada orang-orang pada ayat 7, yang memerlukan pimpinan Tuhan karena kebutaan mereka (16). Namun, di sini umat Israel, sebagai hamba Tuhan dikatakan sebagai buta dan tuli (19). Kebutaan merupakan metafora untuk kebutuhan rohani pada ayat 16-17. Kebutaan Israel menunjukkan bahwa sama seperti bangsa yang lain, Israel juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan. Ketulian Israel menunjukkan bahwa mereka tidak mau mendengarkan apa yang telah Allah firmankan, walau sesungguhnya Allah telah banyak berbicara kepada umat-Nya (20).

Tuhan berkenan untuk menunjukkan pengajaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain melalui Israel. Yang terjadi justru sebaliknya. Israel malah ikut-ikutan keberdosaan bangsa-bangsa lain, sehingga mereka yang menjadi dominan dan Israel menjadi jarahan mereka (22). Namun masih ada pengharapan, di tengah-tengah umat yang tidak taat, Tuhan memanggil mereka yang mau memasang telinga untuk Tuhan pakai di kemudian hari (23).

Dalam ayat 24 terdapat kata pengganti yang berubah dari "kita" menjadi "mereka" ("Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, tetapi mereka tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya; LAI menerjemahkan "mereka" dengan "orang"). Ini berarti Yesaya mengidentifikasikan dirinya dengan umat Allah dalam keberdosaan mereka, tetapi ia memisahkan diri dengan umat yang tidak mau mengikuti Allah.

Apakah kita merupakan umat yang seperti Yesaya yang mau mengikuti jalan Tuhan? Ataukah kita seperti umat yang buta dan tuli, yang tidak mau mendengarkan perintah Tuhan? Harusnya mengikuti jalan Tuhan bukan pilihan bebas melainkan kebutuhan dan kesadaran diri!

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Monday, November 4, 2013

Melewati Tembok Pemisah

Baca: Roma 12:14-21

Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. —Amsal 25:21

Sersan Richard Kirkland adalah seorang anggota pasukan Konfederasi (negara-negara bagian selatan) pada Perang Saudara Amerika Serikat (1861-1865). Dalam pertempuran di Fredericksburg, pasukan Serikat (negara-negara bagian utara) menderita kekalahan di Dataran Tinggi Marye. Melihat banyaknya prajurit yang terluka di daerah tak bertuan, Kirkland meminta izin untuk menolong mereka. Setelah mengumpulkan ransum, ia pun melompati tembok yang memisahkannya dengan tentara musuh dan menolong seorang prajurit yang memerlukan bantuannya. Dengan mempertaruhkan nyawa, Kirkland yang disebut “Malaikat dari Dataran Tinggi Marye” itu menjadi saluran belas kasihan Kristus bagi musuhnya.

Tidak banyak dari kita yang akan menghadapi musuh di medan perang, tetapi kita mengetahui adanya orang-orang yang menderita di sekitar kita. Mereka bergumul melawan rasa sepi, kehilangan, penyakit, dan dosa. Tangisan mereka, yang ditenggelamkan oleh banyaknya hal yang mengalihkan perhatian kita, memohon rahmat dan penghiburan, juga harapan dan pertolongan.

Teladan Kirkland dalam menyatakan belas kasihan Kristus itu menjadi wujud nyata dari perintah Yesus, “kasihilah musuhmu” (Mat. 5:44). Paulus menjabarkan tema itu ketika ia mengutip Amsal 25:21, “Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum” (Rm. 12:20). “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan,” kata Paulus, “tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (ay.21).

Tantangan Paulus mendorong kita untuk meniru Kirkland. Hari ini, marilah “melompati tembok” kenyamanan kita untuk memberikan penghiburan dari Allah bagi mereka yang membutuhkannya. —RKK

Bapa, beriku keberanian untuk menjangkau mereka
yang tak ingin kujangkau. Tunjukkanlah kasih-Mu melalui diriku
dengan cara-cara yang akan menyatakan kemuliaan-Mu
dan damai yang sejati bagi lingkungan di sekelilingku.

Kita tetap dapat berbuat baik kepada seseorang, walaupun kita tidak menyukainya. —Samuel Johnson

Sukacita Atas Karya Sang Hamba

Santapan Harian
Yesaya 42:10-17

Nas hari ini memaparkan panggilan kepada bumi untuk merespons dengan sukacita (10, 12) karya sang hamba yang akan mencakupi seluruh bumi. Jika sang penakluk menimbulkan teror (41:25), maka sang hamba mendatangkan sukacita.

Bagian ini dengan bagian sebelumnya dihubungkan dengan kata-kata dan konsep yang sama. Sang hamba akan menegakkan hukum di bumi (4), dan ujung bumi dipanggil untuk memuji Tuhan (10). Segala pulau mengharapkan pengajaran sang hamba (4), dan pulau-pulau dan segala penduduknya dipanggil untuk memujinya (10; bnd 12). Allah yang menciptakan segala makhluk hidup di bumi (5), dan seluruh isi dari laut maupun pulau-pulau dipanggil untuk memuji Dia (10). Panggilan untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan (10) berkaitan dengan hal-hal yang baru yang hendak Tuhan nyatakan (9).

Keluasan dari panggilan pujian ini dapat kita lihat dari penggunaan istilah-istilah berikut. Seluruh isi dari kedalaman laut maupun dari atas puncak gunung-gunung; mereka yang tinggal di pulau-pulau maupun di padang gurun; mereka yang mendiami kota maupun desa; mereka yang tinggal di ujung bumi maupun yang dekat di Kedar, semuanya dipanggil untuk memuji Tuhan (10-11).

Landasan untuk pujian tersebut nyata pada ayat 13-17. Tuhan akan menyertai, memimpin, dan beranugerah kepada mereka yang datang kepada-Nya. Namun Ia akan menghancurkan mereka yang memilih berhala. Ada pekikan peperangan (13), yang menimbulkan erangan seperti perempuan yang melahirkan (14), dan murka yang menghancurkan (15), tetapi ada kelembutan yang memimpin mereka yang lemah (16). Ada yang mengalami kebaikan dari Tuhan (16b), dan ada yang jatuh dalam murka Allah (17).

Sang Hamba, yaitu Yesus Kristus telah datang dan menyelamatkan kita yang percaya kepada-Nya. Kita dipanggil untuk bersukacita. Marilah kita mengajak orang-orang yang di sekitar kita maupun yang jauh untuk bersama-sama ikut dalam sukacita ini.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Sunday, November 3, 2013

Tekad untuk Fokus pada Firman Tuhan

Santapan Harian
Mazmur 119:33-48

Menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen di tengah dunia yang melawan Tuhan tidak mudah. Godaan kita ialah untuk kompromi dengan cara dunia. Cara dunia ialah jalan pintas untuk mencapati tujuan atau tujuan menghalalkan cara, yang penting sensasinya, yang penting ialah saat ini. Cara dunia sepertinya menyenangkan dan bebas dari tanggung jawab. Namun jeratannya mencekik iman dan menjerumuskan kita pada kehancuran.

Bait kelima mazmur ini (33-40) mengungkapkan kerinduan pemazmur untuk fokus pada firman Tuhan. Perhatikan kata-kata kerja yang digunakan pemazmur pada tujuh baris (ayat) pertama. Semuanya berisikan permohonan yang menyatakan kerinduan itu. Ada kesadaran di hati pemazmur bahwa mengejar keuntungan itu sia-sia (36), sebaliknya mendapatkan keadilan Tuhan itulah yang berarti (40). Hanya firman yang dibaca dan diwujudkan dalam kehidupan yang akan membawa pemazmur merasakan dan menikmati keadilan Allah.

Dalam bait selanjutnya (41-48), pemazmur mengungkapkan keyakinan dan tekadnya. Dengan mengandalkan kasih setia dan keselamatan yang dari Tuhan (41), pemazmur yakin dapat menjawab semua tudingan palsu para musuh kepada dirinya (42). Dengan terus menerus memperkatakan firman Tuhan baik untuk diri sendiri maupun untuk mengajar orang lain (43, 46) pemazmur yakin hidupnya justru mendapatkan kemerdekaan (kelegaan; ay. 45). Yaitu kemerdekaan untuk bertindak dengan benar sesuai firman-Nya. Ini sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus sendiri, "kebenaran yang memerdekakan" (Yoh. 8:32).

Jadikan firman Tuhan fokus dalam hidup Anda. Firman Tuhan adalah kebenaran yang memerdekakan. Yaitu, merdeka untuk mengikut Tuhan. Anda tidak akan mudah digoda untuk mengikuti jalan dunia ini yang menghalalkan segala cara.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Berdiamlah

Baca: Mazmur 46
Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! —Mazmur 46:11
Eric Liddell, tokoh yang dikenang dalam film Chariots of Fire, memenangi medali emas pada Olimpiade Paris tahun 1924 sebelum kemudian ia pergi ke negeri China untuk menjadi seorang misionaris. Beberapa tahun kemudian, setelah pecah Perang Dunia II, Liddell mengungsikan keluarganya demi keamanan mereka ke Kanada, tetapi ia tetap tinggal di China. Segera setelah itu, Liddell dan sejumlah misionaris asing lainnya diasingkan oleh tentara Jepang ke dalam kamp tahanan. Setelah beberapa bulan ditahan, Liddell mengidap penyakit yang diduga para dokter sebagai tumor otak.
Setiap hari Minggu sore, sebuah band biasa bermain musik di dekat rumah sakit. Sekali waktu, Liddell meminta mereka untuk memainkan himne Be Still, My Soul (Tenang dan Sabarlah). Sementara Liddell mendengarkan musik itu, saya bertanya-tanya apakah Liddell merenungkan lirik dari pujian tersebut: Tenang dan sabarlah, wahai jiwaku / Sebentar lagi saat tibalah / Bahwa engkau berjumpa dengan Dia / Yang menghiburmu di masa lelah. / Di sanalah engkau ‘kan memuji-Nya, / Menyanyi riang s’lama-lamanya.
Himne indah tersebut begitu menghibur hati Liddell sepanjang pergumulan menghadapi penyakit yang menyebabkan kematiannya tiga hari kemudian. Pujian itu mengungkapkan kebenaran Kitab Suci yang indah. Dalam Mazmur 46:11, Daud menulis, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Dalam masa-masa hidup kita yang tergelap sekalipun, kita dapat merasakan ketenangan, karena Tuhan kita telah menaklukkan maut bagi kita. Berdiamlah, dan izinkanlah Tuhan meneduhkan ketakutan terbesar yang Anda rasakan. —WEC
Ajarlah aku, Tuhan, untuk menenangkan jiwaku di hadapan-Mu.
Tolong aku untuk menanggung dengan sabar setiap pencobaan yang
kuhadapi, dan menyerahkan segala sesuatu kepada-Mu untuk
Engkau arahkan dan sediakan. Aku tahu Engkau akan selalu setia.
Bisikan penghiburan dari Allah dapat menenangkan segala kebisingan dari pencobaan yang kita hadapi.

Saturday, November 2, 2013

Hamba Yang Menegakkan Hukum

Santapan Harian
Yesaya 42:1-9

Kitab Yesaya terkenal dengan empat nubuat tentang Mesias sebagai hamba Tuhan (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12). Nas hari ini adalah nubuat yang pertama.

Ayat 1 dimulai dengan kata "lihat." Kata ini dalam bahasa Ibrani sama dengan kata "sesungguhnya" pada 41:24, 29. Yesaya membandingkan sang hamba dengan berhala/allah. Jika pada 41:21-29 berhala dibandingkan dengan Allah, maka dalam nas ini Sang Hamba dibandingkan dengan berhala. Ini menyiratkan bahwa Sang Hamba bukanlah manusia biasa.

Tugas Sang Hamba (1-4) adalah menyatakan "hukum" kepada segala bangsa (1), tetapi dengan cara yang berbeda dengan penakluk lain. Yaitu Ia tidak akan berteriak-teriak ataupun membuang orang-orang yang sudah tidak berguna/berdaya (2-3). Kata "hukum" muncul tiga kali (1, 3, 4), menunjukkan tugas utama Sang Hamba ialah menegakkan hukum. Tugas yang tidak akan mudah, karena Ia akan mendapat banyak tekanan. Namun, tekanan yang dapat mematahkan atau memadamkan orang lain, tidak dapat menggoyahkan-Nya (4; bdk. 3).

Tuhan menegaskan tugas Sang Hamba yang akan memengaruhi bangsa-bangsa dan memastikan hasil yang akan dicapai (5-9). Bagian ini berisikan tiga pernyataan Allah tentang diri-Nya (5a, 6a, 8a). Pertama, Dia adalah Tuhan pencipta langit dan bumi dan segala yang hidup di dalamnya (5). Kedua, Tuhan telah memanggil Sang Hamba untuk menjadi perjanjian, terang, dan pembebasan bagi umat-Nya (6-7). Ketiga, penegasan bahwa nama Tuhan adalah eksklusif! Tidak untuk para berhala yang mati! Buktinya ialah Dia dulu telah bernubuat dan sekarang sudah tergenapi. Dia akan bernubuat, dan akan digenapi pula (8-9). Dengan demikian kita melihat bahwa Tuhan mau menyatakan bahwa tugas yang Ia berikan pada Sang Hamba pasti akan tergenapi karena Tuhan yang mengutusnya merupakan Pencipta semuanya dan berdaulat atas semuanya.

Tuhan akan menegakkan hukum di bumi melalui Hamba-Nya yaitu Yesus Kristus. Kita perlu tunduk kepada Kristus, atau kita akan mendapatkan hukuman.

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

__________
Santapan Harian / e-Santapan Harian
Bahan saat teduh yang diterbitkan secara teratur oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) dan diterbitkan secara elektronik oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
© 1999-2012 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber tulisan dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

Siapa Yang Mengatakan Kebenaran?

Baca: Yohanes 8:31-47
Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? —Yohanes 8:46
Di sepanjang kampanye kepresidenan Amerika Serikat di tahun 2012, liputan stasiun-stasiun televisi terhadap pidato dan debat para calon sering disertai dengan “pengujian fakta” oleh para pengamat yang membandingkan pernyataan para kandidat dengan rekam jejak mereka. Apakah mereka mengatakan kebenaran ataukah memanipulasi fakta-fakta demi keuntungan mereka sendiri?
Rasul Yohanes mencatat debat antara Yesus dengan sekelompok orang yang meyakini bahwa Dia telah membuat pernyataan palsu tentang diri-Nya. Yesus berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:31-32). Mereka berkata kepada Yesus bahwa mereka tidak pernah menjadi hamba siapa pun, dan bertanya, “Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” (ay.33).
Sepanjang debat itu, Yesus terus mengatakan bahwa Dia sedang mengatakan kebenaran kepada mereka (ay.34,40,45-46,51). Ada orang-orang yang percaya kepada-Nya, tetapi sebagian yang lain tetap marah kepada-Nya dan tidak percaya.
Sebenarnya, debat tersebut masih terjadi hingga masa kini. Mereka yang menentang Yesus berusaha menjatuhkan dan memutarbalikkan pernyataan-Nya menjadi dusta. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya,” dan berjanji bahwa Dia akan memberi kita kemerdekaan yang takkan dapat kita temukan di tempat lain.
Ketika kita hendak memutuskan siapa yang akan kita ikuti, yakinlah bahwa catatan Alkitab tentang kehidupan Yesus memang tahan uji. Ada keputusan penting yang harus diambil oleh kita semua. —DCM
Iman berarti mempercayai janji itu benar,
Percaya dalam Yesus kekuatan Anda diperbarui;
Bersandar dengan tenang, diteguhkan firman-Nya,
Terlindung dari bahaya bersama Yesus Tuhan. —Teasley
Kebenaran Allah teguh bertahan terhadap ujian apa pun.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate