Pages - Menu

Saturday, October 31, 2015

Diperbaiki atau Diganti?

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. —2 Korintus 5:17
Diperbaiki atau Diganti?
Sudah tiba saatnya untuk memperbaiki kosen jendela di rumah kami. Maka saya pun mengelupaskan kosen itu, mengamplasnya, dan menggunakan dempul untuk membuat kosen kayu yang sudah tua itu siap dicat ulang. Setelah melakukan semua itu—termasuk melapisinya dengan cat dasar dan cat yang lumayan mahal—kosen itu terlihat cukup baik. Namun tetap saja tidak terlihat seperti baru lagi. Satu-satunya cara untuk membuat kosen itu terlihat baru adalah mengganti kayunya yang sudah tua.
Mungkin kita tidak mempermasalahkan ketika kosen jendela yang telah dimakan cuaca itu terlihat “cukup baik”. Namun beda halnya dengan hati yang rusak oleh dosa. Tidak cukup upaya kita untuk sekadar memperbaikinya. Dari sudut pandang Allah, kita butuh segala sesuatunya diubah menjadi baru (2Kor. 5:17).
Itulah indahnya keselamatan melalui iman kepada Yesus. Dia telah mati di atas salib sebagai korban untuk menebus kita dari dosa dan Dia bangkit dari kematian untuk memperlihatkan kuasa-Nya atas dosa dan maut. Alhasil, di mata Allah, iman kepada karya Kristus akan menjadikan kita “ciptaan baru” (2Kor. 5:17) dan menggantikan hidup yang lama dengan “hidup yang baru” (Kis. 5:20 BIS). Melalui Yesus dan karya-Nya di kayu salib bagi kita, Bapa Surgawi memandang setiap orang yang telah beriman kepada-Nya sebagai ciptaan baru yang tak bercela.
Dosa telah menyebabkan kerusakan besar. Kita tidak dapat memperbaikinya sendiri. Kita harus mempercayai Yesus sebagai Juruselamat dan mengizinkan Dia untuk memberikan kita hidup yang sama sekali baru. —Dave Branon
Bapa Surgawi, aku tahu bahwa dosa telah merusak hatiku. Aku mau percaya pada pengorbanan Yesus, Juruselamatku. Basuhlah dosa-dosaku dan jadikan aku pribadi yang baru. Terima kasih atas apa yang telah Yesus lakukan bagiku.
Hanya Yesus yang dapat memberimu hidup baru.

Friday, October 30, 2015

Badai Kehidupan

Sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu . . . sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. —1 Petrus 1:6-7
Badai Kehidupan
Dalam Injil Markus, kita membaca tentang badai yang dahsyat. Waktu itu para murid sedang bersama Yesus di dalam perahu untuk menyeberangi Danau Galilea. Ketika “mengamuklah taufan yang sangat dahsyat,” para murid—di antaranya nelayan-nelayan yang sangat berpengalaman—merasa sangat ketakutan (4:37-38). Apakah Allah tidak peduli? Bukankah mereka dipilih langsung oleh Yesus sendiri dan paling dekat dengan Dia? Bukankah mereka sedang menaati Yesus yang meminta mereka “bertolak ke seberang” (ay.35)? Jika demikian, mengapa mereka harus mengalami keadaan sulit itu?
Tak seorang pun luput dari badai kehidupan. Namun seperti para murid yang awalnya takut terhadap badai itu tetapi yang kemudian lebih mengagumi Kristus, demikian juga badai yang kita hadapi pun dapat membawa kita pada pengenalan yang lebih mendalam akan Allah. “Siapa gerangan orang ini,” demikian para murid bertanya-tanya, “sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (ay.41). Lewat pencobaan yang kita alami, kita dapat belajar bahwa tak ada badai yang terlalu besar untuk dapat menghalangi Allah menggenapi kehendak-Nya (5:1).
Meskipun kita mungkin belum mengerti alasan Allah mengizinkan pencobaan itu menerpa hidup kita, kita bersyukur kepada-Nya karena melalui pencobaan-pencobaan tersebut kita bisa lebih mengenal Dia. Kita hidup untuk melayani Allah karena Dia telah memelihara hidup kita. —Albert Lee
Tuhan, aku tahu aku tak perlu takut terhadap badai kehidupan di sekitarku. Tolong aku untuk tetap tenang karena aku aman di dalam-Mu.
Badai kehidupan akan membuktikan kekuatan sauh kita.

Thursday, October 29, 2015

Jangan Sentuh Pagarnya!

TUHAN . . . berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya. —2 Tawarikh 36:15
Jangan Sentuh Pagarnya!
Ketika masih anak-anak, saya pernah pergi bersama orangtua mengunjungi buyut saya yang tinggal dekat sebuah ladang peternakan. Halamannya dipagari dengan pagar listrik, yang mencegah sapi-sapi memakan rumput di ladangnya. Ketika saya meminta izin kepada orangtua saya untuk bermain di luar, mereka mengizinkan, tetapi juga memperingatkan, jika saya menyentuh pagar kawat berduri itu, saya akan tersetrum oleh aliran listrik.
Sayangnya saya mengabaikan peringatan mereka. Saya menjulurkan jari untuk menyentuh kawat berduri itu dan langsung tersengat aliran listrik yang cukup kuat untuk membuat seekor sapi jera. Saya pun tahu bahwa orangtua saya telah memperingatkan saya karena mengasihi saya dan tidak mau saya terluka.
Ketika Allah melihat bangsa Israel kuno di Yerusalem membuat dan menyembah berhala, Dia “berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya” (2Taw. 36:15). Allah berbicara melalui Nabi Yeremia, tetapi bangsa itu berkata, “Kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri” (Yer. 18:12). Oleh karena itu, Allah mengizinkan Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem dan menawan sebagian besar penduduknya.
Mungkin hari ini Allah sedang memperingatkanmu tentang dosa tertentu dalam hidupmu. Jika benar, berbesar hatilah. Peringatan itu merupakan bukti belas kasih-Nya kepada kita (Ibr. 12:5-6). Dia melihat apa yang ada di hadapan kita dan menghendaki kita terhindar dari masalah-masalah yang akan datang. —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan, berilah aku kesanggupan untuk mendengar bukan saja perkataan-Mu melainkan juga isi hati-Mu. Tolonglah aku belajar dari kesalahan-kesalahan mereka yang kisahnya telah Engkau nyatakan kepada kami. Tolonglah aku menghormati-Mu dengan hidupku.
Peringatan-peringatan Allah diberikan untuk melindungi kita, bukan untuk menghukum kita.

Wednesday, October 28, 2015

Ke Mana Fokus Saya Tertuju?

Kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang . . . , sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. —Ibrani 10:34
Ke Mana Fokus Saya Tertuju?
Pada awal September 2011, terjadi kebakaran besar yang menghabiskan 600 tempat tinggal di dalam dan seputar kota Bastrop di pusat Texas. Beberapa minggu kemudian, judul artikel dalam surat kabar American-Statesman di Austin tertulis: “Korban yang mengalami kerugian terbesar, berfokus pada apa yang tidak mungkin musnah.” Artikel itu menceritakan tentang kemurahan hati yang ditunjukkan anggota masyarakat dan kesadaran dari mereka yang menerima bantuan bahwa para tetangga, sahabat, dan komunitas mereka jauh lebih berharga daripada apa pun milik mereka yang telah musnah oleh api.
Penulis kitab Ibrani menasihati para pengikut Yesus di abad pertama untuk mengingat bagaimana mereka telah berani menanggung penganiayaan di awal kehidupan iman mereka. Mereka tetap teguh beriman di tengah cercaan dan penindasan, dan turut menderita bersama saudara seiman lainnya (Ibr. 10:32-33). “Kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya” (ay.34). Fokus mereka tidak tertuju pada apa yang dirampas dari mereka, melainkan pada hal-hal kekal yang tak dapat direnggut dari mereka.
Kata Yesus kepada murid-murid-Nya, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Ketika kita berfokus pada Tuhan dan segalanya yang kita miliki di dalam Dia, harta kita yang paling berharga pun tak terlalu kita genggam erat. —David McCasland
Ya Tuhan, bukalah mata kami untuk melihat-Mu dan untuk menggenggam apa yang terpenting setiap harinya.
Ke mana fokusmu tertuju hari ini?

Tuesday, October 27, 2015

Kehilangan Kesempatan

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. —1 Korintus 13:2
Kehilangan Kesempatan
Saya mendengar perkataan yang paling menyedihkan hari ini. Dua saudara seiman sedang berbeda pendapat tentang sesuatu. Pria yang lebih tua menggunakan ayat-ayat Alkitab seperti senjata, dengan menebas apa pun yang dianggapnya salah dalam hidup lawan bicaranya. Pria yang lebih muda kelihatan jenuh menanggapi lawan bicaranya yang tengah menguliahi dirinya dan merasa sangat dikecewakan.
Saat obrolan mereka hampir usai, pria yang lebih tua mengomentari sikap lawan bicaranya yang terlihat tidak acuh. “Dahulu kamu begitu bersemangat,” katanya, sebelum akhirnya ia terdiam. “Aku tak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.”
“Bapak kehilangan kesempatan untuk mengasihiku,” kata si orang muda. “Selama Bapak mengenalku, sepertinya yang penting bagi Bapak adalah membuktikan kesalahan-kesalahanku. Apa yang kuinginkan? Aku ingin melihat Yesus, di dalam dan melalui diri Bapak.”
Saya berpikir, Seandainya perkataan itu ditujukan kepada saya, hati saya pasti hancur. Saat itu, Roh Kudus mengingatkan saya bahwa ada banyak kesempatan yang terlewat bagi saya untuk mengasihi orang lain. Dan saya sadar ada banyak orang yang juga tidak dapat melihat Yesus di dalam dan melalui diri saya.
Rasul Paulus menasihatkan kita bahwa kasih haruslah menjadi pendorong utama dari apa pun yang kita lakukan; dalam segala sesuatu yang kita lakukan (1Kor. 13:1-4). Janganlah kita melewatkan kesempatan mendatang untuk menyatakan kasih kepada sesama. —Randy Kilgore
Mintalah Roh Kudus untuk menunjukkan kepadamu siapa yang telah lalai kamu kasihi. Mintalah agar Allah memberikan kesempatan lain. Mulailah mengasihi orang tersebut dengan mengucapkan permohonan maaf kepadanya.
Perbuatan kasih selalu jauh lebih baik daripada sekadar perkataan.

Monday, October 26, 2015

Tersimpan di dalam Hatiku

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu. —Mazmur 119:11
Tersimpan di dalam Hatiku
Saya mulai terbiasa membaca majalah-majalah digital. Saya juga merasa senang bahwa dengan itu saya ikut menyelamatkan lingkungan. Selain itu, saya tidak perlu lagi menunggu-nunggu kiriman majalah tersebut lewat pos. Meski demikian, ada rasa rindu juga untuk membaca versi cetaknya, karena saya sangat menikmati membuka halaman demi halaman untuk mencari, menggunting, dan mengoleksi resep favorit saya.
Saya juga memiliki Alkitab versi digital di perangkat baca elektronik saya. Akan tetapi saya masih menyimpan buku Alkitab favorit saya, yang isinya telah banyak saya garis bawahi dan baca berulang kali. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan media cetak, tetapi ada satu hal yang kita tahu pasti: Tempat terbaik untuk menyimpan firman Allah bukanlah di telepon genggam, di perangkat baca elektronik, atau di meja kerja kita.
Di Mazmur 119, kita membaca tentang cara mencintai Kitab Suci dengan sepenuh hati: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu” (ay.11). Tak ada yang dapat menggantikan indahnya merenungkan firman Allah, mengenal Dia lebih dalam, dan menerapkan firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Tempat terbaik untuk menyimpan firman Allah terletak jauh di dalam lubuk hati kita.
Mungkin kita mempunyai banyak alasan untuk tidak membaca, merenungkan, atau menghafalkannya, tetapi kita sungguh-sungguh memerlukan firman Allah. Saya berdoa, kiranya Allah akan menolong kita untuk menyimpan firman-Nya di tempat yang terbaik, yaitu di dalam hati kita. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, berikanlah aku kerinduan untuk membaca firman-Mu. Lalu tanamlah firman-Mu di dalam hati dan pikiranku, dan tolong aku menerapkannya dalam hidupku sehari-hari.
Hati kita adalah tempat terbaik untuk menyimpan firman Allah.

Sunday, October 25, 2015

Di Balik Layar

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30
Di Balik Layar
Kegiatan penjangkauan yang dilakukan gereja kami berpuncak dengan penyelenggaraan kebaktian kebangunan rohani yang mengundang penduduk dari seluruh wilayah kota. Ketika tim yang mengatur dan memimpin acara itu—terdiri dari kelompok musik kaum muda, para konselor, dan para pemimpin gereja—naik ke atas panggung, kami semua dengan gembira bertepuk tangan dan menyerukan apresiasi kami atas kerja keras mereka.
Namun ada seorang pria di antara mereka tidak terlihat mencolok, meskipun ia adalah ketua dari tim tersebut. Ketika bertemu dengannya beberapa hari kemudian, saya berterima kasih dan mengucapkan selamat atas hasil kerjanya. Saya mengatakan, “Kami jarang melihatmu sepanjang kegiatan itu.”
Ketua tim tersebut menjawab, “Saya suka bekerja di balik layar.” Ia tidak mementingkan pengakuan bagi dirinya. Baginya, mereka yang bekerja di depanlah yang pantas menerima penghargaan.
Sikapnya yang tidak banyak bicara itu justru berbicara banyak bagi saya. Saya diingatkan bahwa ketika melayani Tuhan, saya tidak perlu mencari-cari pengakuan diri. Saya dapat memuliakan Allah, entah saya diberi penghargaan atau tidak oleh orang lain. Sikap yang mengutamakan Kristus akan dapat mencegah timbulnya perasaan cemburu buta dan persaingan yang tidak sehat.
Yesus, yang ada “di atas semuanya” (Yoh. 3:31), “harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay.30). Dengan sikap itu, kita akan semakin mengupayakan kemajuan dari pekerjaan Allah. Kristus sajalah, dan bukan kita, yang patut menjadi pusat perhatian dari segala sesuatu yang kita lakukan. —Lawrence Darmani
Yesus, jadilah pusat dari pikiranku, keinginanku, dan perbuatanku. Kendalikanlah aku dan pakailah aku.
Sorotan utama haruslah tertuju kepada Kristus.

Saturday, October 24, 2015

Menjadi Tak Terlihat

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1
Menjadi Tak Terlihat
Di tempat saya tinggal, inilah masa ketika tanaman-tanaman menolak untuk mati, dengan cara tetap berada di bawah tanah sampai tiba waktu yang aman untuk muncul kembali. Sebelum salju turun dan tanah membeku, tanaman-tanaman itu menanggalkan kelopak bunganya yang telah bermekaran dengan indah dan menarik diri ke suatu tempat di mana mereka dapat beristirahat dan menyimpan energi untuk musim tumbuh berikutnya. Meski terlihat mati, sesungguhnya tanaman itu tidak mati, melainkan hanya istirahat. Ketika salju mencair dan tanah tidak lagi beku, tanaman itu akan bangun dan kembali menengadah ke langit untuk menyapa Sang Pencipta dengan warna-warna yang cemerlang dan bau yang harum semerbak.
Musim-musim dalam kehidupan kita pun menuntut kita untuk sesekali masuk dalam masa istirahat. Kita tidak mati, tetapi kita mungkin merasa tidak terlihat. Sepanjang masa-masa itu, kita mungkin merasa tidak berguna, kemudian kita bertanya-tanya apakah Allah akan dapat memakai hidup kita lagi. Namun demikian, masa-masa seperti itu sesungguhnya bermanfaat untuk melindungi dan menyiapkan kita. Ketika waktunya sudah tepat dan keadaannya aman, Allah akan memanggil kita sekali lagi untuk melayani dan menyembah Dia.
Musa pernah mengalami masa-masa seperti itu. Setelah membunuh orang Mesir yang melukai seorang Ibrani, Musa harus melarikan diri ke tanah Midian yang sangat jauh guna menyelamatkan nyawanya (Kel. 2:11-22). Di sana, Allah melindungi Musa dan menyiapkannya untuk tugas terbesar yang akan ia jalani dalam hidupnya (3:10). Jadi, teruslah bersemangat! Kita tidak pernah tidak terlihat oleh Allah. — Julie Ackerman Link
Tuhan, Kau Gembala kami, tuntun kami, domba-Mu;
B’rilah kami menikmati hikmat pengurbanan-Mu.
—Dorothy A. Thrupp [Kidung Jemaat, No. 407]
Tidak seorang pun yang tidak terlihat oleh Allah.

Friday, October 23, 2015

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas. —Yesaya 49:13
Untuk Inilah Aku Punya Yesus
Dalam hidup kita, jarang sekali ada masa-masa yang bebas dari masalah, tetapi adakalanya masalah yang menerjang terasa begitu menakutkan.
Rose melihat seluruh keluarganya, kecuali dua putri kecilnya, dibantai dalam peristiwa genosida di Rwanda pada tahun 1994. Ia menjadi seorang janda di antara banyak janda yang jatuh miskin. Namun ia tak mau menyerah. Ia lalu mengadopsi dua anak yatim piatu dan semata-mata mempercayai Allah untuk menyediakan makan dan uang sekolah untuk keluarganya yang kini terdiri dari lima orang. Rose bekerja dengan menerjemahkan literatur Kristen ke dalam bahasa setempat dan mengatur penyelenggaraan pertemuan tahunan bagi sesama kaum janda. Ia menangis sambil menceritakan kisahnya kepada saya. Akan tetapi, untuk setiap masalah yang dialaminya, ia memiliki satu solusi sederhana. “Untuk semua inilah,” katanya, “aku punya Yesus.”
Allah tahu persis apa yang kamu hadapi saat ini. Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah mengenal kita dengan begitu lekat, sehingga seolah-olah nama kita terlukis di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Adakalanya kita mungkin lalai dalam menolong orang lain yang membutuhkan kita, bahkan kepada mereka yang dekat dengan kita, tetapi Allah memahami setiap seluk-beluk kehidupan kita. Dan Dia telah memberi kita Roh-Nya untuk membimbing, menghibur, dan menguatkan kita.
Tuliskanlah tantangan apa saja yang sedang kamu hadapi saat ini, kemudian tambahkanlah kata-kata berikut di sebelah tulisan tadi sebagai pengingat akan kesetiaan dan kepedulian-Nya: “Untuk semua inilah, aku punya Yesus.” —Marion Stroud
Terima kasih, ya Yesus, karena Engkau menyertaiku saat ini.
Aku bersyukur untuk kesetiaan-Mu.
Hidup itu mengambil perspektif dalam terang Kristus.

Thursday, October 22, 2015

Sukacita dalam Hadirat-Nya

Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. —Mazmur 96:4
Sukacita dalam Hadirat-Nya
“Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya,” menurut Katekismus Westminster. Sebagian besar isi Kitab Suci menyerukan manusia untuk bersyukur kepada Allah yang hidup dengan hati yang penuh sukacita dan pengagungan. Ketika kita menghormati Allah, kita mengagungkan Dia sebagai Pemberi dari segala kebaikan yang kita terima.
Pada saat kita memuji Allah dengan segenap hati, kita pun mengalami sukacita yang menjadi tujuan penciptaan kita itu. Sama seperti indahnya matahari terbenam atau pemandangan alam yang teduh mengarahkan kita pada kemuliaan Allah Pencipta, demikianlah penyembahan menarik kita pada persekutuan rohani yang intim dengan-Nya. Pemazmur mengatakan, “Besarlah TUHAN dan sangat terpuji. . . . TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya”(Mzm 145:3,18).
Allah tidak membutuhkan pujian kita, tetapi kita perlu memuji Allah. Dengan menikmati hadirat-Nya, kita mereguk sukacita yang mengalir dari kasih-Nya yang tak terbatas dan bersuka di dalam Dia yang telah datang untuk menebus dan memulihkan kita. “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah,” kata pemazmur. “Di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). —Dennis Fisher
Ya Tuhan, Engkaulah Allah yang Mahabesar dan Mahakuasa, Pencipta alam semesta. Aku akan memuji nama-Mu selalu. Tiada Allah selain Engkau saja.
Penyembahan terutama adalah hati yang berlimpah pujian kepada Allah.

Wednesday, October 21, 2015

Angkuh Sampai ke Akarnya

Ezra . . . adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa. —Ezra 7:6
Angkuh Sampai ke Akarnya
“Ia pikir dirinya begitu penting!” Itulah penilaian teman saya tentang seorang saudara seiman yang kami kenal. Kami merasa bahwa ia telah dikuasai oleh kesombongan. Kami sangat prihatin ketika mengetahui bahwa sahabat kami itu kemudian terlibat dalam masalah serius. Dengan meninggikan diri, masalah pun menimpanya. Kami sadar hal itu dapat menimpa kami juga.
Memang mudah menganggap enteng dosa kesombongan yang mengerikan di dalam hati kita. Semakin banyak yang kita ketahui dan semakin besar sukses yang kita nikmati, semakin besar kecenderungan kita untuk berpikir bahwa kita ini “luar biasa”. Kesombongan memang sudah berakar dalam jiwa kita.
Dalam Kitab Suci, Ezra disebut sebagai “seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa” (EZR. 7:6). Raja Artahsasta menunjuk Ezra untuk memimpin ekspedisi kaum buangan Israel untuk kembali ke Yerusalem. Ezra bisa bersikap sombong. Namun tidak demikian. Ezra tidak saja tahu isi Taurat, tetapi ia juga menerapkan Taurat itu dalam hidupnya.
Saat tiba di Yerusalem, Ezra mendapati bahwa banyak pria Yahudi telah menikahi wanita yang menyembah ilah lain, sehingga mereka menentang perintah Allah (9:1-2). Ezra pun mengoyakkan jubahnya dan berdoa dengan pertobatan yang sungguh-sungguh (ay. 5-15). Pengertian dan kedudukan Ezra dibentuk oleh tujuan yang lebih tinggi, yakni kasihnya kepada Allah dan bangsanya. Ia berdoa, “Kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu” (ay.15).
Ezra memahami besarnya dosa umat Israel. Namun dengan rendah hati, ia pun bertobat dan mempercayai kebaikan Allah yang Maha Pengampun. —Tim Gustafson
Tuhan, penuhilah kami dengan kasih bagi-Mu agar kami mendahulukan apa yang berkenan kepada-Mu, dan bukannya diri kami sendiri. Bebaskan kami dari kesombongan yang diam-diam menjerat kami.
Kesombongan menuntun pada segala sifat buruk: suatu pola pikir yang sepenuhnya menentang Allah. —C. S. Lewis

Tuesday, October 20, 2015

Tampak Dalam

TUHAN melihat hati. —1 Samuel 16:7
Tampak Dalam
Seorang ahli fisika yang telah pensiun, Arie van’t Riet, telah menciptakan sejumlah karya seni dengan cara yang unik. Riet mengatur tanaman dan binatang yang sudah mati dalam berbagai komposisi, lalu memotretnya dengan sinar X. Potret sinar X tersebut kemudian dipindainya ke komputer, dan beberapa bagian dari gambar itu diwarnainya. Karya seninya tersebut memperlihatkan kerumitan organ dalam dari berbagai jenis bunga, ikan, burung, reptil, dan kera.
Tampak dalam dari suatu benda sering kali lebih menakjubkan dan lebih penting daripada tampak luarnya. Pada pandangan pertama, Samuel berpikir bahwa penampilan Eliab cocok untuk menjadi raja Israel berikutnya (1Sam. 16:6). Namun Allah mengingatkan Samuel untuk tidak memandang perawakan atau paras Eliab. Ia berfirman kepada Samuel, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (ay.7). Allah memilih Daud, daripada Eliab, untuk menjadi raja Israel berikutnya.
Ketika Allah melihat kita, Dia lebih tertarik pada apa yang ada di dalam hati kita daripada perawakan kita, keadaan jiwa kita lebih daripada paras kita. Dia tidak pernah menilai kita terlalu tua, terlalu muda, terlalu kecil, atau terlalu besar. Dia langsung melihat apa yang penting, yakni tanggapan kita terhadap kasih-Nya bagi kita dan kepedulian kita kepada sesama (Mat. 22:37-39). 2 Tawarikh 6:30 mengatakan bahwa hanya Allah yang mengenal hati anak-anak manusia. Apabila Allah yang telah melakukan sedemikian banyaknya bagi kita itu melihat hati kita, apakah yang akan Dia temukan? —Jennifer Benson Schuldt
Allahku, tolong aku untuk menghargai apa yang Engkau hargai. Ketika aku mengikuti teladan-Mu, aku berdoa agar Engkau berkenan dengan apa yang Engkau lihat di dalam hatiku.
Nilai sejati seorang manusia terletak pada apa yang ada di dalam hatinya.

Monday, October 19, 2015

Menanti Jawaban

Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN. —Mazmur 9:11
Menanti Jawaban
Ketika putri kami berusia 15 tahun, ia kabur dari rumah. Ia pergi selama lebih dari 3 minggu—3 minggu terpanjang dalam kehidupan kami. Kami mencarinya ke pelbagai tempat dan meminta bantuan penegak hukum dan kawan-kawan kami. Sepanjang hari-hari yang sulit itu, saya dan istri belajar pentingnya menantikan Allah dalam doa. Kami telah kehabisan kekuatan dan sumber daya. Kami harus mengandalkan Allah.
Tepat pada Hari Ayah, kami menemukan putri kami. Kami sedang berada di area parkir sebuah restoran untuk makan malam dan telepon pun berbunyi. Seorang pelayan di restoran lain telah melihat putri kami. Lokasinya hanya 3 blok dari tempat kami berada. Kami segera menjemput putri kami dan ia pun pulang dengan aman dan selamat.
Kita harus menantikan Allah ketika kita berdoa. Kita mungkin tidak tahu bagaimana atau kapan doa kita akan dijawab oleh-Nya, tetapi kita dapat terus-menerus mencurahkan isi hati kita kepada-Nya di dalam doa. Terkadang jawaban doa kita tidaklah datang pada waktu yang kita harapkan. Keadaan bahkan dapat berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Namun kita harus tetap bertahan, tetap percaya, dan terus memohon.
Penantian tidak pernah mudah, tetapi hasil akhirnya, apa pun itu, akan setimpal. Daud menyatakannya demikian: “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN” (Mzm. 9:11). Tetaplah mencari. Tetaplah percaya. Tetaplah meminta. Tetaplah berdoa. —James Banks, Penulis Tamu
Apakah beban berat yang ingin kamu sampaikan dari dalam hatimu kepada Allah hari ini? Maukah kamu mempercayai-Nya dan terus berdoa?
(James Banks adalah penulis buku Prayers for Prodigals yang diterbitkan oleh Discovery House.)
Waktu yang digunakan untuk berdoa tidak pernah sia-sia.

Sunday, October 18, 2015

Salib dan Mahkota

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. —Yohanes 11:25
Salib dan Mahkota
Gereja Westminster Abbey di London mempunyai sejarah yang kaya dan panjang. Di sana, pada abad ke-10, para biarawan Benedictine memulai tradisi ibadah harian yang masih dilakukan sampai sekarang. Westminster Abbey juga menjadi tempat penguburan dari banyak orang terkenal, dan sejak tahun 1066 M menjadi tempat penobatan raja atau ratu Inggris. Bahkan 17 di antara raja atau ratu tersebut juga dikubur di sana. Pemerintahan mereka bermula dan berakhir di tempat yang sama.
Tak peduli seagung apa pun penguburan mereka, para penguasa di dunia bertakhta dan tumbang; mereka hidup lalu mati. Akan tetapi, Yesus adalah raja yang berbeda, yang walaupun pernah mati tetapi Dia tidak tetap di dalam kubur. Pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus diberi mahkota duri dan disalibkan sebagai “Raja orang Yahudi” (Yoh. 19:3,19). Karena Yesus bangkit dari kematian dengan penuh kejayaan, kita yang percaya kepada Kristus mempunyai pengharapan yang melampaui liang kubur dan memegang jaminan bahwa kita akan hidup bersama Dia selamanya. Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26).
Kita melayani Raja yang telah bangkit! Kiranya kita dengan rela menundukkan diri kepada kekuasaan-Nya atas hidup kita saat ini sambil menantikan suatu hari ketika “Tuhan, Allah kita, yang Mahakuasa” akan memerintah untuk selama-lamanya (Why. 19:6). —Bill Crowder
Terima kasih, Yesus, karena Engkau bangkit dari antara orang mati dan Engkau hidup untuk selamanya.
Kebangkitan Yesus mematikan kematian.

Saturday, October 17, 2015

Jalan yang Berat

Tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. —Yeremia 6:16
Jalan yang Berat
Seorang teman memancing menceritakan kepada saya tentang danau yang letaknya tinggi di lereng utara Gunung Jughandle di Idaho, Amerika Serikat. Ada kabar bahwa di sana terdapat sejenis ikan trout yang besar. Ia menggambarkan peta ke sana di selembar serbet kertas. Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat dengan truk mengikuti petunjuk yang diberikannya. Peta itu ternyata membawa saya melalui salah satu jalan terburuk yang pernah saya lalui! Jalan itu dahulu merupakan jalan tembus yang dibuka paksa oleh para penebang pohon dengan buldoser dan tidak pernah diperbaiki. Tanah yang becek, balok-balok kayu yang berserakan, alur-alur yang dalam, dan bebatuan yang besar telah menyiksa tulang punggung saya dan membengkokkan kerangka bawah truk saya. Butuh waktu sepanjang pagi untuk mencapai tujuan saya, dan ketika sudah tiba, saya berpikir, “Mengapa seorang teman tega memberi petunjuk untuk melalui jalan yang buruk seperti ini?”
Namun ternyata danau itu memang sangat indah dan ikannya sungguh sangat besar dan agresif! Teman saya telah membawa saya melalui jalan yang tepat—jalan yang juga akan saya pilih dan jalani dengan sabar apabila saya tahu seperti apa tujuan akhirnya.
Firman Allah berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). Ada jalan Allah yang terasa berat dan tidak mulus, sementara jalan yang lain terasa membosankan dan melelahkan, tetapi semuanya dipenuhi kasih setia dan kebenaran-Nya. Di ujung perjalanan, ketika kita menyadari apa yang telah terjadi, kita akan berkata, “Jalan Allah memang yang terbaik untukku.” —David Roper
Ya Bapa, kami tak melihat ujung jalannya, tetapi Engkau tahu. Kami mempercayai-Mu atas semua yang tak bisa kami lihat. Kami tahu Engkau memampukan kami untuk melaluinya.
Sekalipun jalan kita penuh rintangan, Allah tetap akan memimpin kita.

Friday, October 16, 2015

Harta di Surga

Kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. —Matius 6:20
Harta di Surga
Instalasi kabel listrik yang buruk telah membakar habis rumah kami yang baru selesai dibangun. Api meluluhlantakkan rumah kami dalam waktu satu jam tanpa menyisakan apa pun selain puing-puing. Di lain waktu, ketika kami pulang dari gereja di hari Minggu, kami mendapati rumah kami telah dimasuki maling dan beberapa barang kami dicuri.
Di dunia kita yang tidak sempurna ini, kehilangan harta kekayaan adalah hal yang sangat lumrah—mobil dicuri atau ditabrak, kapal tenggelam, gedung runtuh, rumah dilanda banjir, dan barang milik pribadi dicuri. Semua itu membuat nasihat Yesus untuk tidak mempercayakan diri kita pada harta dunia menjadi sangat berarti (Mat. 6:19).
Yesus menceritakan tentang seseorang yang mengumpulkan harta yang sangat banyak dan memutuskan untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri (Luk. 12:16-21). Orang itu berkata pada dirinya sendiri: “Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ay.19). Namun pada malam itu juga, ia kehilangan segalanya, termasuk nyawanya. Yesus menyimpulkan, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (ay.21).
Kekayaan materi hanya bersifat sementara. Tidak ada satu hal pun yang bernilai kekal, kecuali hal-hal yang dimampukan Allah untuk kita lakukan bagi sesama. Memberikan waktu dan sumber daya yang kita miliki untuk mengabarkan Injil, mengunjungi sahabat yang kesepian, dan menolong orang-orang yang membutuhkan hanyalah beberapa cara yang dapat kita tempuh untuk mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:20). —Lawrence Darmani
Bagaimana caramu mengumpulkan harta di surga? Bagaimana kamu dapat berubah dan bertumbuh dalam aspek tersebut dalam hidupmu?
Harta kita yang sesungguhnya adalah segala sesuatu yang kita investasikan untuk kekekalan.

Thursday, October 15, 2015

Perubahan Arah dari Allah

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. —Amsal 3:6
Perubahan Arah dari Allah
Seabad yang lalu, Oswald Chambers, yang pada saat itu berusia 41 tahun, tiba di Mesir untuk melayani sebagai pembina rohani dari YMCA bagi pasukan Persemakmuran Inggris selama Perang Dunia I. Chambers ditempatkan di kamp di Zeitoun, sekitar 10 km di sebelah utara Kairo. Di malam pertamanya, tanggal 27 Oktober 1915, Chambers menulis dalam buku hariannya, “[Daerah] ini benar-benar merupakan gurun di tengah-tengah pasukan dan memberikan kesempatan yang luar biasa bagi kami. Semuanya sama sekali asing dan berbeda dari apa yang biasanya aku alami, tetapi aku memandang dengan penuh harap tentang segala hal baru yang akan Allah rancang dan lakukan di sini. “
Chambers meyakini dan menerapkan firman Tuhan dalam Amsal 3:5-6: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Perkataan tersebut sungguh menghibur sekaligus menantang kita. Kita memang bisa merasa aman ketika kita yakin bahwa Tuhan akan menuntun kita hari demi hari, tetapi kita tidak boleh menjadi begitu terikat pada rencana kita sendiri sampai-sampai kita menolak perubahan arah yang dikehendaki Allah atau waktu yang ditetapkan-Nya.
“Kita tidak memiliki hak untuk mengatur di mana seharusnya kita ditempatkan, atau untuk mempunyai praduga akan apa yang sedang Allah rancang atas diri kita,” kata Chambers. “Allah merancang segala sesuatu. Di mana saja Dia menempatkan kita, biarlah kita meneguhkan tekad untuk sepenuh hati mencurahkan pengabdian kita kepada-Nya dalam pekerjaan apa pun yang sedang kita lakukan.” —David McCasland
Ya Tuhan, kiranya aku mengasihi dan melayani-Mu dengan sepenuh hati di mana pun Engkau tempatkan aku hari ini.
Ketika kita percaya kepada Allah, Dia akan menuntun langkah kita.

Wednesday, October 14, 2015

Semua Selamat!

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. —Ibrani 11:1
Semua Selamat!
Pada Januari 1915, kapal Endurance terjebak dan terjepit hingga hancur di hamparan es di lepas pantai Antartika. Sekelompok penjelajah kutub, yang dipimpin oleh Ernest Shackleton, dapat bertahan hidup dan berhasil mencapai Elephant Island dengan tiga sekoci kecil. Terjebak di pulau tak berpenghuni yang jauh dari jalur pelayaran yang normal itu, mereka mempunyai satu harapan. Pada 24 April 1916, 22 laki-laki menyaksikan Shackleton dan lima awaknya pergi berlayar dalam sekoci kecil menuju South Georgia, sebuah pulau sekitar 1.300 km jauhnya. Kemungkinan mereka untuk berhasil memang kecil, dan jika keenam orang itu gagal, mereka semua pasti mati. Sungguh menggembirakan, setelah lebih dari empat bulan berlalu, sebuah kapal muncul di cakrawala dan Shackleton yang berada di haluan kapal itu berteriak, “Apakah kalian baik-baik saja?” Mereka yang di pulau membalas, “Semua selamat! Kami baik-baik saja!”
Apa yang membuat mereka tetap bertahan hidup selama berbulan-bulan? Keyakinan dan harapan mereka pada satu orang. Mereka percaya Shackleton akan menemukan cara untuk menyelamatkan mereka.
Teladan keyakinan dan harapan manusiawi ini mencerminkan iman dari para tokoh Alkitab yang tercantum dalam Ibrani 11. Iman mereka pada “segala sesuatu yang [mereka] harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak [mereka] lihat” telah menolong mereka bertahan saat melalui berbagai kesulitan dan pencobaan besar (Ibr. 11:1).
Ketika kita memandang ke cakrawala masalah yang ada di hadapan kita, janganlah kita putus asa. Biarlah kita terus berpengharapan oleh karena keyakinan iman kita kepada Satu Pribadi, yaitu Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. —Randy Kilgore
Ya Bapa, terima kasih untuk janji pengampunan yang diberikan oleh Yesus.
Kiranya janji itu mencerahkan hari-hari kami yang kelam.
Pengharapan dari Yesus tetap bersinar cemerlang di tengah kelamnya hari-hari yang kita jalani.

Tuesday, October 13, 2015

Pertanyaan yang Membara

“Aku adalah Aku.” —Keluaran 3:14
Pertanyaan yang Membara
Sebuah hikayat dari para penduduk asli Amerika mengisahkan tentang seorang pemuda yang dikirim ke tengah hutan sendirian pada suatu malam di musim gugur dengan maksud untuk membuktikan keberaniannya. Segera saja langit menjadi gelap dan bunyi-bunyian di malam hari mulai terdengar. Dedaunan menggerisik dan ranting-ranting berderak, seekor burung hantu berdecit, dan anjing hutan melolong. Meski takut, pemuda itu tetap tinggal di hutan itu sepanjang malam untuk melewati ujian keberaniannya. Akhirnya pagi pun tiba, dan ia melihat sesosok orang berada di dekatnya. Ternyata itu adalah kakeknya yang telah menjaganya sepanjang malam.
Ketika Musa berada di padang gurun, ia melihat semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api. Kemudian Allah mulai berbicara kepadanya dari semak itu lalu mengutusnya kembali ke Mesir untuk membawa bangsa Israel keluar dan merdeka dari perbudakan yang kejam. Musa yang merasa enggan mulai mengajukan pertanyaan: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun?”
Allah hanya menjawab, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”
“Apabila aku . . . berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya?—apakah yang harus kujawab kepada mereka?”
Allah menjawab, “Aku adalah Aku. . . . Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu” (Kel. 3:11-14). Frasa “Aku adalah Aku” dapat diartikan, “Aku akan selalu menjadi diri-Ku” dan itu mengungkapkan sifat Allah yang kekal dan mahakuasa.
Allah telah berjanji untuk senantiasa menyertai setiap orang yang percaya kepada Yesus. Segelap apa pun jalan hidup yang kita lalui, Allah yang tak terlihat itu selalu siap memenuhi segala sesuatu yang kita butuhkan. —Dave Egner
Ya Bapa, terima kasih atas sifat-Mu yang tidak pernah berubah.
Allah senantiasa hadir dan berkarya.

Monday, October 12, 2015

Bukan Kekhawatiranku

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! —Mazmur 55:23
Bukan Kekhawatiranku
Ada seorang pria yang selalu khawatir tentang segala sesuatu. Suatu hari teman-temannya mendengar pria itu bersiul riang dan terlihat sangat santai. “Apa yang terjadi?” tanya mereka sambil keheranan.
Pria itu berkata, “Aku sudah membayar seseorang untuk merasakan kekhawatiranku.”
“Kamu bayar berapa orang itu?” tanya mereka.
“2.000 dolar AS seminggu.” jawab pria itu.
“Wow! Memangnya kamu sanggup membayar sebesar itu?”
“Aku memang tak sanggup,” jawabnya, “tetapi biar orang itu saja yang mengkhawatirkannya!”
Meskipun cara menangkal stres yang lucu di atas tidak mungkin terjadi di dunia nyata, sebagai anak-anak Allah kita boleh menyerahkan kekhawatiran kita kepada satu Pribadi yang mengendalikan segala sesuatu dengan sempurna, sekalipun—dan terutama—ketika kita merasa segalanya telah berjalan di luar kendali.
Nabi Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah memanggil keluar bintang-bintang dan memanggil nama mereka (Yes. 40:25-26). Karena “Ia mahakuasa dan mahakuat”, tidak ada satu pun bintang yang terhilang (ay.26). Dan sebagaimana Allah mengenal nama-nama bintang, Dia mengenal kita masing-masing secara pribadi. Setiap dari kita berada di bawah perhatian-Nya yang penuh kasih (ay.27).
Ketika kita mulai merasa khawatir, kita dapat menyerahkan kekhawatiran itu kepada Tuhan. Dia tidak pernah merasa jemu atau lelah untuk memperhatikan kita. Segala hikmat dan kuasa ada di dalam Dia, dan dengan sukarela Dia mencurahkan hikmat dan kuasa itu demi kepentingan kita. Allah Mahakudus yang memerintah bintang-bintang itu memeluk kita dengan tangan kasih-Nya. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, Engkau tahu ada kalanya aku merasa sangat takut. Dan aku lupa bahwa Engkau telah berjanji tidak akan meninggalkanku sendirian untuk menghadapi kesulitan atau kehilanganku. Tolong aku untuk mempercayai-Mu.
Kekhawatiran lenyap ketika kita mulai beriman.

Sunday, October 11, 2015

Pemeriksaan Rohani

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. —Markus 12:30
Pemeriksaan Rohani
Untuk mendeteksi masalah kesehatan, dokter menyarankan perlunya pemeriksaan fisik secara rutin. Kita juga dapat memeriksa kesehatan rohani kita dengan mengajukan pertanyaan yang bersumber dari perintah agung yang disebutkan oleh Yesus (Mrk. 12:30).
Apakah aku mengasihi Allah dengan segenap hatiku karena Dia lebih dahulu mengasihiku? Manakah yang lebih kuat, keinginanku untuk meraih harta duniawi atau harta rohaniku di dalam Kristus? (Kol. 3:1). Dia rindu damai sejahtera-Nya menguasai hati kita.
Apakah aku mengasihi Allah dengan segenap jiwaku? Apakah aku mendengarkan perkataan Allah tentang identitasku? Apakah aku menjauhi nafsu untuk memuaskan diri? (ay.5). Apakah aku lebih berbelas-kasihan, murah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar? (ay.12).
Apakah aku mengasihi Allah dengan segenap akal budiku? Apakah aku memusatkan perhatian pada hubunganku dengan Yesus, Anak-Nya, atau membiarkan pikiranku berkelana? (ay.2). Apakah pikiranku membawaku pada masalah atau solusi? Persatuan atau perpecahan? Pengampunan atau pembalasan dendam? (ay.13).
Apakah aku mengasihi Allah dengan segenap kekuatanku? Apakah aku rela dianggap lemah agar Allah dapat menyatakan kekuatan-Nya melalui diriku? (ay.17). Apakah aku bersandar pada kasih karunia-Nya untuk menjadi kuat dalam kuasa Roh Kudus?
Ketika kita mengizinkan “perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara [kita] . . . dengan segala hikmat” (ay.16), kita akan menjadi sehat rohani dan berguna bagi-Nya, dan Dia akan memperlengkapi kita untuk menguatkan iman satu sama lain. — Julie Ackerman Link
Bapa Surgawi, dalam usahaku menolong orang lain berubah, aku sering lupa untuk mengandalkan kasih. Aku pun lalai untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatanku. Hari ini aku memilih untuk menyerahkan kekuatanku dan mengandalkan kekuatan-Mu.
Untuk sehat rohani, santaplah firman Allah dan latihlah imanmu.

Saturday, October 10, 2015

Kasihlah yang Pertama

Kita mengasihi [Allah], karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19
Kasihlah yang Pertama
Pada satu malam seorang kawan menunjukkan kepada saya salah satu dari tiga plakat hiasan yang akan dipasang pada dinding ruang keluarganya. “Nah, aku sudah mempunyai Kasih,” katanya sambil memegang plakat yang bertuliskan kata tersebut. “Yang berikutnya adalah Iman dan Pengharapan.”
Kasih yang pertama kali muncul, pikir saya. Barulah setelah itu Iman dan Pengharapan!
Kasih memang yang pertama. Kasih bahkan berasal dari Allah. 1 Yohanes 4:19 mengingatkan kita bahwa “Kita mengasihi [Allah], karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Kasih Allah, seperti yang dijabarkan dalam 1 Korintus 13 (pasal yang dikenal sebagai “pasal kasih”), menjelaskan salah satu ciri dari kasih sejati dengan menyatakan bahwa “Kasih tidak berkesudahan” (ay.8).
Iman dan pengharapan itu penting bagi hidup orang percaya. Hanya dengan dibenarkan karena iman, “kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm. 5:1). Dan pengharapan disebutkan dalam Ibrani 6 sebagai “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita” (ay.19).
Suatu hari nanti, kita tidak lagi memerlukan iman dan pengharapan. Iman akan menjadi penglihatan dan pengharapan kita akan diwujudkan ketika kita bertatap muka dengan Juruselamat kita. Namun, kasih itu kekal, karena kasih berasal dari Allah dan Allah adalah kasih (1Yoh. 4:7-8). “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”—kasihlah yang pertama dan terutama (1Kor. 13:13). —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, terima kasih untuk kasih setia-Mu dan kasih dari keluarga dan teman. Tolonglah aku menemukan cara-cara untuk menunjukkan kasih-Mu kepada sesama kami hari ini.
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Friday, October 9, 2015

Lagu Tema Hidup Kami

TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku. —Yesaya 12:2
Lagu Tema Hidup Kami
Setiap orang mendengar suatu karya musik dengan cara berbeda. Sang pencipta lagu mendengar musiknya dengan membayangkannya di dalam benaknya. Para penonton mendengar musik itu dengan indra dan perasaan mereka. Para anggota orkestra mendengar paling jelas suara alat musik yang terdekat dengan mereka.
Dalam beberapa segi, kita adalah anggota dalam orkestra Allah. Sering kali yang kita dengar hanyalah alat musik yang paling dekat dengan kita. Karena kita tidak mendengar seluruh lagunya, kita pun berseru seperti Ayub di tengah sengsaranya, “Sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka” (Ayb. 30:9).
Ayub ingat bagaimana para pembesar dan pejabat pernah menghormatinya. Hidupnya “bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak didekatnya” (29:6). Namun kini, ia telah menjadi objek penghinaan. Ayub mengeluh, “Permainan kecapiku menjadi ratapan” (30:31). Namun musik yang dimainkan Ayub bukanlah segala-galanya. Ia hanya tak bisa mendengar keseluruhan lagunya.
Mungkin hari ini kamu hanya dapat mendengar nada sendu dari musik yang kamu mainkan. Jangan putus asa. Setiap bagian dalam hidupmu mempunyai peran dalam musik gubahan Allah. Atau mungkin kamu sedang memainkan nada riang. Pujilah Allah untuk sukacita itu, dan bagikanlah sukacitamu dengan orang lain.
Karya agung penebusan Allah adalah simfoni yang sedang kita semua mainkan, dan pada akhirnya, segala sesuatu akan terjalin indah untuk mencapai maksud-Nya yang baik. Allah adalah penggubah agung kehidupan kita. Musik gubahan-Nya itu sempurna, dan kita dapat mempercayai-Nya. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu, terutama ketika hidupku tampaknya tidak harmonis dan bernada sendu. Aku bersyukur kepada-Mu, karena aku menjadi bagian dari simfoni-Mu dan gubahan-Mu itu sempurna.
Tatkala kita mengimani kebaikan Allah terdengarlah lagu pujian dalam hati kita.

Thursday, October 8, 2015

Omongan yang Sembarangan

Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki. —1 Petrus 2:23
Omongan yang Sembarangan
Saya telah mengemudi selama hampir setengah jam, ketika putri saya yang duduk di kursi belakang tiba-tiba menangis. Ketika saya bertanya apa yang telah terjadi, ia berkata bahwa adik laki-lakinya telah mencengkeram lengannya. Adiknya mengaku telah mencengkeram lengan kakaknya karena si kakak telah mencubitnya. Kakaknya mengatakan, ia mencubitnya karena si adik mengucapkan sesuatu yang kasar.
Sayangnya, pola yang umum terdapat di kalangan anak-anak itu juga dapat muncul dalam hubungan antar orang dewasa. Seseorang menyinggung perasaan orang lain, dan pihak yang disakiti itu menyerang balik dengan kata-kata kasar. Orang yang pertama tadi kemudian membalas dengan penghinaan lain. Tak lama kemudian, hubungan mereka telah dirusak oleh kemarahan dan kata-kata kasar.
Alkitab mengatakan bahwa “Omongan yang sembarangan dapat melukai hati seperti tusukan pedang” (Ams. 12:18 BIS) dan bahwa “perkataan yang pedas membangkitkan marah” tetapi “jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (Ams. 15:1). Dan terkadang, tidak memberikan jawaban sama sekali menjadi cara terbaik dalam menghadapi perkataan atau komentar yang kasar atau kejam.
Sebelum penyaliban Yesus, para pemimpin agama berusaha memancing-Nya dengan kata-kata mereka (Mat. 27:41-43). Namun, “ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; . . . tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil” (1Ptr. 2:23).
Teladan Yesus dan pertolongan Roh Kudus memberi kita cara yang bijak untuk menanggapi orang-orang yang menyinggung kita. Dengan mempercayai Tuhan, kita tidak perlu membalas orang lain dengan perkataan kita. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, berilah diriku penguasaan diri lewat kuasa Roh Kudus-Mu manakala aku tergoda untuk membalas dengan perkataanku.
Sering kali dibutuhkan jawaban yang lemah lembut untuk melunakkan hati yang keras.

Wednesday, October 7, 2015

Penglihatan yang Terbatas

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. —Ayub 42:5
Penglihatan yang Terbatas
Teman saya Meaghan adalah penunggang kuda yang berprestasi, dan saya belajar sejumlah hal menarik tentang kuda darinya. Sebagai contoh, meskipun kuda mempunyai mata terbesar dari semua binatang menyusui yang hidup di darat, kuda memiliki penglihatan yang buruk dan melihat lebih sedikit warna daripada manusia. Oleh karena itu, kuda tidak selalu bisa mengenali benda yang ada di tanah. Ketika melihat sebilah kayu, kuda tidak bisa membedakan apakah itu kayu yang dengan mudah bisa dilompatinya atau seekor ular besar yang mungkin membahayakan mereka. Karena sifatnya, kuda yang tidak terlatih dengan baik akan sangat mudah ketakutan dan melarikan diri.
Mungkin kita juga ingin lari dari segala keadaan yang mengkhawatirkan. Mungkin kita merasa seperti Ayub yang tidak memahami maksud penderitaannya dan berharap tidak pernah dilahirkan. Karena tidak dapat melihat bahwa Iblislah yang sebenarnya berusaha menjatuhkan imannya, Ayub takut bahwa Allah yang dipercayainya justru ingin menghancurkannya. Dalam ketidakberdayaannya, Ayub berseru, “Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku” (Ayb. 19:6)
Sama seperti Ayub, penglihatan kita pun terbatas. Kita merasa ingin lari dari keadaan sulit yang menakutkan kita. Akan tetapi, dari sudut pandang Allah, kita tidak sendirian. Dia memahami kebingungan dan ketakutan kita. Dia tahu kita aman bersama dengan-Nya di sisi kita. Inilah kesempatan kita untuk mempercayai hikmat Allah, daripada bersandar pada pengertian kita sendiri. —Anne Cetas
Dalam hal apa saja kamu telah meragukan kebaikan Tuhan? Bagaimana kamu melihat-Nya bekerja di tengah masa-masa yang sulit dalam hidupmu?
Mempercayai kesetiaan Allah akan mengenyahkan ketakutan kita.

Tuesday, October 6, 2015

Bermain Api

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. . . . Dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. —Yohanes 14:21
Bermain Api
Saat saya masih anak-anak, Ibu memperingatkan saya untuk tidak bermain api. Namun suatu hari, saya memutuskan untuk melihat apa yang akan terjadi jika saya melakukannya. Dengan membawa sekotak korek api dan beberapa lembar kertas, saya pergi ke halaman belakang rumah untuk bereksperimen. Dengan jantung berdebar kencang, saya berlutut, menyalakan korek api, dan membakar kertas yang saya bawa.
Tiba-tiba saya melihat ibu mendekat. Karena tidak ingin ketahuan, cepat-cepat saya menutupi api tersebut dengan kedua tungkai kaki saya. Namun ibu berteriak, “Denny, angkat kakimu! Ada api di bawahnya!” Syukurlah, saya segera menjauhkan kaki saya dari api itu sehingga tak terbakar. Barulah saya menyadari bahwa aturan yang diberikan ibu saya untuk tidak bermain api bukanlah untuk merampas kesenangan saya tetapi merupakan bentuk kepeduliannya agar saya terhindar dari bahaya.
Terkadang kita tidak memahami maksud di balik perintah yang diberikan Allah. Kita mungkin menyangka bahwa Dia ingin merampas kesenangan kita dengan memberikan perintah dan aturan yang menghalangi kita untuk menikmati hidup. Namun Allah meminta kita menaati-Nya karena Dia menghendaki apa yang terbaik bagi kita. Jika kita taat, kita “tinggal di dalam kasih-Nya” dan hidup kita dipenuhi sukacita (Yoh. 15:10-11).
Oleh sebab itu, ketika Allah memperingatkan kita untuk tidak berbuat dosa, Dia melakukannya demi kebaikan kita. Dia sungguh-sungguh bermaksud untuk melindungi kita dari bahaya “bermain api” agar kita tidak terbakar. —Dennis Fisher
Bapa Surgawi, kiranya Roh Kudus-Mu memampukan kami untuk menaati firman-Mu. Terima kasih untuk perlindungan yang diberikan oleh perintah-Mu, serta kasih dan sukacita yang kami alami tatkala kami taat kepada-Mu.
Allah memberi kita peringatan yang penuh kasih dalam firman-Nya untuk melindungi kita.

Monday, October 5, 2015

Detik-detik yang Berarti

Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku. —Mazmur 39:5
Detik-detik yang Berarti
Di usia 59 tahun, teman saya Bob Boardman menulis, “Jika masa hidup manusia pada umumnya adalah 70 tahun, dan masa itu dilihat sebagai satu hari yang berlangsung selama 24 jam, maka sekarang aku hidup pada pukul 20:30. . . . Waktu bergulir dengan begitu cepat.”
Kecenderungan manusia yang sulit untuk menyadari terbatasnya masa hidup kita di dunia ini telah menginspirasi para pembuat “Tikker”, yaitu jam tangan yang memberitahukan tentang waktu yang sedang berjalan, menghitung perkiraan masa hidupmu, dan menunjukkan penghitungan mundur dari sisa masa hidupmu. Dalam iklannya, Tikker disebut-sebut sebagai jam tangan “yang menghitung mundur masa hidupmu, agar kamu dapat menjadikan setiap detik hidupmu berarti.”
Dalam Mazmur 39, Daud yang bergumul dengan singkatnya masa hidupnya mengatakan, “Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” (ay.5). Ia menggambarkan bahwa umurnya begitu singkat, seperti sesuatu yang hampa di mata Allah, dan bagai hembusan nafas belaka (ay.6). Daud menyimpulkan, “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (ay.8).
Jam hidup kita terus bergulir. Sekaranglah saatnya memohon kuasa Allah untuk menolong kita menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya. Menemukan pengharapan di dalam Allah yang kekal akan memberikan arti bagi kehidupan kita hari ini. —David McCasland
Bagaimana aku telah menyia-nyiakan waktuku? Bagaimana aku telah membuat hari-hariku berarti? Dalam hal apa sajakah aku perlu membuat perubahan?
Sekaranglah waktunya untuk hidup bagi Yesus.

Sunday, October 4, 2015

Mukjizat Hujan

Akulah Allah dan tidak ada yang lain. —Yesaya 46:9
Mukjizat Hujan
Para penduduk desa di wilayah perbukitan di propinsi Yunnan, Tiongkok, hidup dalam kondisi yang sulit. Makanan pokok mereka adalah jagung dan beras. Namun pada bulan Mei 2012, musim kemarau yang sangat berat melanda wilayah itu dan membuat tanaman di sawah mereka layu. Warga mulai cemas, dan banyak praktik takhyul mereka lakukan dengan maksud untuk mengakhiri kemarau. Saat semua usaha itu gagal, mereka mulai menyalahkan lima orang Kristen yang tinggal di desa itu dan menuduh mereka telah membuat marah roh leluhur.
Kelima orang Kristen itu lalu berkumpul untuk berdoa. Tidak lama kemudian, langit menjadi gelap dan terdengar bunyi guruh. Hujan yang sangat deras lalu turun dan terus berlangsung dari siang hingga malam. Tanaman mereka terselamatkan! Meski sebagian besar penduduk tidak percaya bahwa Allah yang telah mengirimkan hujan, ada sebagian yang percaya dan ingin mengetahui lebih jauh tentang Allah dan Yesus.
Di 1 Raja-Raja 17 dan 18, kita membaca tentang kekeringan hebat yang melanda Israel. Namun dalam hal ini, kita diberi tahu bahwa keadaan itu adalah bentuk penghukuman Allah atas umat-Nya (17:1). Mereka telah menyembah Baal, dewa orang Kanaan, dan mempercayai bahwa sang dewa dapat mengirim hujan bagi ladang mereka. Kemudian Allah, melalui Nabi Elia, menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya Allah yang sejati, yang menentukan kapan hujan akan turun.
Allah kita yang Mahakuasa rindu mendengar dan menjawab doa kita. Meski kita tak selalu mengerti waktu dan maksud-Nya, Allah selalu menjawab dengan memberikan yang terbaik bagi kita. —Poh Fang Chia
Menurut pengalamanmu, bagaimana cara Allah menjawab doamu di masa lalu? Apa sajakah kebutuhan yang perlu kamu bawa kepada-Nya hari ini? Hal apa saja yang ingin kamu syukuri kepada-Nya?
Melalui doa, kita menerima kekuatan dari Allah yang tak terbatas.

Saturday, October 3, 2015

Lebih Baik dari Bangun Tidur

Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. —Lukas 23:43
Lebih Baik dari Bangun Tidur
Pernahkah kamu merasa bahwa hidupmu hancur karena kamu telah melakukan sesuatu yang membawa aib, memalukan, atau bahkan bersifat kriminal—tetapi kemudian kamu terbangun dan menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi? Namun bagaimana kalau semua itu benar-benar terjadi dan bukan hanya mimpi buruk? Bagaimana jika peristiwa dalam mimpi itu sungguh-sungguh dialami olehmu atau seseorang yang kamu kasihi?
Itulah keadaan yang diceritakan dalam novel dari abad ke-19 karya George MacDonald yang berjudul The Curate’s Awakening (Kesadaran Sang Pendeta). Kisahnya bercerita tentang seorang pendeta yang menyadari bahwa selama ini ia telah berkhotbah tentang Allah yang ia rasa tidak lagi dipercayainya. Di kemudian waktu, ia dipanggil untuk menjenguk seorang pemuda yang menderita depresi dan tengah sekarat karena dihantui oleh pembunuhan yang pernah dilakukannya.
Dalam pergumulan iman yang memilukan, pendeta itu kemudian menyadari sesuatu yang kita semua perlu sadari. Kelegaan yang dialami saat terbangun dari mimpi buruk tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kesadaran bahwa pengampunan Allah itu benar-benar nyata dan bukan angan-angan belaka.
Di mana kita akan menemukan belas kasihan yang kita butuhkan? Belas kasihan itu ditemukan di dalam Yesus, yang pada saat disalib berkata kepada penjahat yang berpaling kepada-Nya di tengah penderitaannya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolong kami untuk percaya bahwa pengampunan-Mu atas kami sepadan dengan penebusan yang Engkau tanggung demi keselamatan kami.
Kita diselamatkan oleh belas kasihan Allah, bukan oleh usaha kita.

Friday, October 2, 2015

Kita Punya Buah!

Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan. —Yosua 24:13
Kita Punya Buah!
Seorang ibu muda sedang menyiapkan makan siang untuk putrinya yang berusia tiga tahun. Melihat keranjang buah yang kosong di atas meja, ibu itu mengeluh dan berkata, “Andai kita punya sekeranjang buah, aku akan merasa kaya!” Ucapan itu didengar oleh putrinya yang masih kecil.
Minggu demi minggu, Allah setia memelihara keluarga itu. Namun sang ibu masih khawatir. Suatu hari putrinya berseru, “Mama, kita kaya!” sambil menunjuk ke arah keranjang buah yang penuh. Tak ada yang berubah, selain keluarga itu baru membeli sekantung apel.
Menjelang kematiannya, Yosua sang pemimpin bangsa Israel memberikan pesan dari Tuhan yang menceritakan segala perbuatan yang telah dilakukan-Nya bagi mereka. Ia menambahkan, “Lama kamu diam di padang gurun” (Yos. 24:7). Lalu ia berkata, “Demikianlah [Allah] berikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya” (ay.13). Kemudian Yosua mendirikan batu besar untuk mengingatkan umat Israel pada pemeliharaan Allah (ay.26).
Seperti umat Israel, setelah melewati tantangan dan kekurangan, keluarga di atas kini tinggal di tempat yang lain dengan halaman yang luas dan pohon buah-buahan yang pernah ditanam oleh pemilik sebelumnya. Jika kamu mampir, kamu akan mendapati semangkok buah di dapur mereka. Hal itu mengingatkan mereka pada kebaikan Allah dan pada anak berusia 3 tahun yang menebarkan iman, sukacita, dan sudut pandang yang baru di tengah keluarga mereka. —Tim Gustafson
Bersyukurlah kepada Allah untuk pemberian-Nya di masa lalu. Bersyukur untuk segala yang akan dikerjakan-Nya. Tanyakanlah apa yang dikehendaki-Nya untukmu dan percayalah pada-Nya.
Mengingat pemeliharaan Allah di masa lalu memberi harapan dan kekuatan untuk hari ini.

Thursday, October 1, 2015

Kita Bisa Tahu

Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu . . . tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. —1 Yohanes 5:13
Kita Bisa Tahu
Saat menaiki kereta untuk pergi ke sebuah pertemuan penting, saya mulai bertanya-tanya apakah saya sudah duduk di kereta dengan jurusan yang benar. Saya belum pernah melewati rute itu sebelumnya dan lupa bertanya pada petugas. Akhirnya, karena merasa makin ragu dan tidak pasti, saya pun turun di stasiun terdekat. Setelah itu barulah saya diberi tahu bahwa saya sebenarnya sudah berada di kereta yang benar!
Insiden itu mengingatkan saya bagaimana keraguan dapat merampas kedamaian dan keyakinan iman kita. Dahulu saya pernah bergumul dengan kepastian keselamatan saya, tetapi Allah telah menolong saya mengatasi keraguan tersebut. Kemudian, setelah saya membagikan kisah tentang pertobatan saya dan keyakinan bahwa saya akan pergi ke surga, ada yang bertanya, “Bagaimana kamu bisa yakin telah diselamatkan dan akan pergi ke surga?” Dengan sikap yakin dan niat tulus, saya menunjukkan kepadanya ayat yang telah digunakan Allah untuk menolong saya: “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1Yoh. 5:13).
Allah berjanji bahwa melalui iman kepada Anak-Nya, Yesus, kita sudah memiliki hidup kekal: “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya” (ay.11). Kepastian tersebut akan meneguhkan iman kita, membangkitkan kita di tengah kekecewaan, dan menyemangati kita di saat kita diterpa berbagai keraguan. —Lawrence Darmani
Tuhan terkasih, saat aku ragu tolong aku untuk mengingat janji firman-Mu. Karena aku telah mengundang Yesus untuk datang dalam hidupku dan mempercayai penebusan-Nya atas dosa-dosaku, Engkau telah menjanjikanku kehidupan kekal bersama-Mu.
Mengingat-ingat janji Allah akan melenyapkan keraguan.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate