Pages - Menu

Sunday, January 31, 2016

Dia Datang untukmu

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. —Lukas 4:18
Dia Datang untuk Anda
Di dalam novel-novelnya, The Trial dan The Castle, Franz Kafka (1883-1924) menggambarkan kehidupan manusia sebagai suatu keberadaan tak berperikemanusiaan yang mengubah orang-orang menjadi lautan wajah kosong tanpa identitas maupun nilai. Kafka berkata, “Kehidupan bagai ban berjalan yang terus membawa kamu, entah ke mana. Seseorang lebih menyerupai sebuah objek atau benda, daripada sesosok makhluk hidup.”
Di awal masa pelayanan-Nya, Yesus pergi ke sebuah rumah ibadat di Nazaret, lalu berdiri di depan orang banyak, dan membaca dari kitab Yesaya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk. 4:18-19).
Kemudian Kristus duduk dan menyatakan, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (ay.21). Berabad-abad sebelumnya, Nabi Yesaya telah menyerukan kata-kata serupa (Yes. 61:1-2). Sekarang Yesus menyatakan bahwa Dialah penggenapan dari janji tersebut.
Perhatikanlah siapa saja yang hendak Yesus selamatkan—orang-orang yang miskin, remuk hati, tertawan, buta, dan tertindas. Dia datang untuk orang-orang yang nilai dirinya sebagai manusia telah direndahkan oleh dosa dan penderitaan, oleh kerusakan dan kesedihan. Dia datang untuk kita semua! —Bill Crowder
Demi mereka yang berdosa dan mereka yang menderita. Demi mereka yang menderita karena dosa. Demi mereka yang berdosa untuk meredakan penderitaan. Tuhan, kasihanilah kami. Robert Gelinas, The Mercy Prayer
Dunia mungkin merendahkan kita, tetapi Yesus mengasihi setiap dari kita seolah-olah kita ini milik-Nya satu-satunya.

Saturday, January 30, 2016

Hanya Sejauh Doa

Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. —Yohanes 16:22
Hanya Sejauh Doa
Ketika sang solis mulai mengangkat suaranya dalam kebaktian Minggu di gereja kami, jemaat pun menjadi tenang dan memberikan perhatian penuh. Suara bass-baritonnya yang lembut melantunkan kata-kata yang menyentuh jiwa dari pujian lama. Judul lagunya mengungkapkan sebuah kebenaran yang terasa semakin indah seiring bertambahnya usia kita: “Dia Hanya Sejauh Doa”.
Kita semua pernah mengalami saat-saat perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi. Seorang anak menikah dan pindah ke tempat yang jauh. Orangtua terpisah dari kita karena karier atau masalah kesehatan. Seorang anak pergi bersekolah di kota atau negara lain. Memang kita dapat berhubungan melalui kiriman pesan pendek dan video. Namun kita ada di sini dan mereka ada di sana. Pada akhirnya, akan ada perpisahan karena maut.
Akan tetapi, sebagai orang percaya dalam Kristus, kita memegang janji-Nya bahwa kita tidak akan pernah sendirian. Meski kita mungkin merasa demikian, sesungguhnya Dia tidak pernah beranjak dari kita. Dia selalu hadir bersama kita, sekarang dan untuk selamanya. Ketika Yesus meninggalkan dunia ini, Dia mengatakan kepada para pengikut-Nya, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Dia juga berjanji kepada kita, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5).
Permohonan yang terucap lembut dalam nama Yesus serta pemikiran tentang kehadiran-Nya sungguh memberi kita penghiburan dan kepastian. “Dia hanya sejauh doa.” Dave Egner
Yesus, aku bersyukur karena Engkau dekat. Aku sungguh membutuhkan-Mu.
Yesus tidak pernah menelantarkan atau melupakan umat-Nya.

Friday, January 29, 2016

Kebun Binatang Ayahnya

Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam. —Amsal 12:10
Kebun Binatang Ayahnya
June Williams baru berumur empat tahun ketika ayahnya membeli tanah seluas 2,8 hektar sebagai lokasi bagi pembangunan sebuah kebun binatang tanpa jeruji besi atau kandang. Setelah bertumbuh besar, June mengingat betapa kreatifnya sang ayah dalam menolong satwa liar itu merasa bebas di dalam kurungan mereka. Kini Chester Zoo merupakan salah satu dari atraksi satwa liar yang paling terkenal di Inggris. Kebun binatang yang menjadi kediaman bagi 11.000 hewan di atas tanah seluas 44,5 hektar tersebut mencerminkan kepedulian ayahnya terhadap kesejahteraan, pelatihan, dan pelestarian satwa.
Salomo memiliki ketertarikan serupa pada seluruh makhluk ciptaan Tuhan, baik besar maupun kecil. Selain mempelajari kehidupan fauna dari Timur Tengah, ia juga mendatangkan binatang-binatang eksotis, seperti kera dan burung merak dari negeri yang jauh (1Raj. 10:22). Namun salah satu amsal yang ditulisnya menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan Salomo tentang alam bukan sekadar keingintahuan intelektual semata. Dengan mengungkapkan implikasi rohani dari sikap kita dalam memperlakukan hewan peliharaan kita, ia mencerminkan isi hati Allah Pencipta kita: “Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam” (Ams. 12:10).
Dengan hikmat dari Allah, Salomo melihat bahwa hubungan kita dengan Pencipta kita tidak hanya mempengaruhi cara kita memperlakukan sesama, tetapi juga seberapa besarnya perhatian yang kita berikan pada hewan peliharaan kita. —Mart Dehaan
Bapa di surga, ketika kami memikirkan tentang keajaiban dan keanekaragaman dari dunia satwa ciptaan-Mu, tolonglah kami untuk tidak hanya menyembah-Mu, tetapi juga memelihara apa yang telah Engkau percayakan kepada kami.
Allah adalah Pemilik sejati dari seluruh ciptaan-Nya.

Thursday, January 28, 2016

Sebelum Meminta Tolong

Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN. —Mazmur 18:7
Sebelum Meminta Tolong
Sebagai seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil, terkadang saya mudah menjadi panik. Apabila putra saya terkena alergi atau putri saya tiba-tiba terserang batuk, reaksi pertama saya adalah menelepon ibu saya dan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk menolong mereka.
Ibu memang penolong yang hebat, tetapi ketika saya membaca Mazmur, saya diingatkan betapa seringnya kita membutuhkan pertolongan yang tidak dapat diberikan oleh manusia. Di Mazmur 18, Daud berada dalam bahaya yang sangat besar. Dalam ketakutannya karena nyaris mati dan sangat menderita, ia pun berseru kepada Tuhan.
Daud dapat berkata, “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN” karena ia mengerti bahwa Allah adalah bukit batu, kubu pertahanan, dan penyelamatnya (ay.2-3). Allah adalah perisainya, keselamatannya, dan kekuatannya. Mungkin kita tidak dapat memahami pujian Daud karena kita belum pernah mengalami pertolongan Allah. Mungkin kita cenderung mencari pertolongan manusia sebelum datang kepada Allah untuk menerima nasihat dan pertolongan-Nya.
Tentunya Allah menempatkan orang-orang dalam hidup kita untuk menolong dan menghibur kita. Namun, marilah kita juga senantiasa ingat untuk berdoa. Allah akan mendengar kita. Daud menyanyikan, “Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (ay.7). Ketika kita datang kepada Allah, kita ikut menyanyikan pujian Daud dan mengalami Dia sebagai bukit batu, kubu pertahanan, dan penyelamat kita.
Lain kali ketika kamu mencari pertolongan dari orang lain, ingatlah juga untuk berdoa. —Keila Ochoa
Ya Tuhanku, tolonglah aku untuk mengingat bahwa Engkaulah penyelamatku, dan Engkau selalu mendengar seruanku.
Doa menjadi jembatan antara kepanikan dan kedamaian.

Wednesday, January 27, 2016

Apakah Ini?

Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” —Keluaran 16:15
Apakah Ini?
Ibu saya pernah mengajar Sekolah Minggu selama puluhan tahun. Suatu waktu, ia ingin menjelaskan tentang bagaimana Allah menyediakan makanan bagi bangsa Israel di tengah padang gurun. Untuk membuat cerita tersebut lebih hidup, ia membuat sesuatu yang melambangkan “manna” bagi anak-anak di kelasnya. Ia memotong roti kecil-kecil dan melapisinya dengan madu. Resepnya diilhami oleh penjelasan Alkitab tentang manna yang menyatakan “rasanya seperti rasa kue madu” (Kel. 16:31).
Ketika bangsa Israel pertama kali memakan roti Allah dari surga, roti itu muncul di atas tanah di luar kemah mereka seperti embun beku. “Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: ‘Apakah ini?’” (ay.15). Kata Ibrani man berarti “apa”, maka mereka menyebutnya manna. Mereka mendapati bahwa mereka dapat menggiling manna itu dan membentuknya menjadi roti bundar atau memasaknya dalam periuk (Bil. 11:7-8). Apa pun manna itu, kemunculannya sangat mengherankan (Kel. 16:4,14), konsistensinya unik (ay.14), dan masa kadaluarsanya pendek (ay. 19-20).
Terkadang Allah memenuhi kebutuhan kita dengan cara-cara yang mengejutkan. Tindakan-Nya itu mengingatkan kita bahwa Allah tidaklah dibatasi oleh harapan kita, dan kita tidak dapat memperkirakan apa yang hendak Dia lakukan. Sementara kita menanti, lebih baik kita memusatkan perhatian kita pada diri-Nya daripada pada apa yang kita pikir harus dilakukan-Nya. Sikap tersebut akan memampukan kita mengalami sukacita dan kepuasan dalam hubungan kita dengan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, tolong aku untuk menerima dengan terbuka pemeliharaan-Mu dan cara yang Engkau pilih untuk melakukannya. Terima kasih karena Engkau memperhatikanku dan mencukupkan kebutuhanku.
Mereka yang berserah pada pemeliharaan Allah akan selalu dipuaskan.

Tuesday, January 26, 2016

Tetap Menjadi Pertanyaan

Karena Ia tahu jalan hidupku. —Ayub 23:10
Tetap Menjadi Pertanyaan
Pada 31 Oktober 2014, sebuah pesawat ruang angkasa uji coba mengalami kehancuran saat melakukan uji penerbangan dan jatuh di Gurun Mojave. Kecelakaan itu menewaskan sang kopilot, sementara pilotnya secara ajaib bertahan hidup. Para penyelidik dapat segera menentukan apa yang telah terjadi, tetapi tidak dapat mengetahui apa penyebabnya. Judul artikel sebuah surat kabar tentang jatuhnya pesawat itu menuliskan: “Tetap Menjadi Pertanyaan”.
Di sepanjang hidup ini, kita mungkin mengalami peristiwa kepedihan yang terjadi tanpa penjelasan. Beberapa di antaranya adalah peristiwa bencana yang berdampak luas, sementara yang lainnya adalah tragedi personal yang mengubah hidup kita dan keluarga kita. Kita ingin tahu alasannya, tetapi kita sepertinya menemukan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Namun demikian, sekalipun kita bergumul dengan pertanyaan “Mengapa?”, Allah mencurahkan bagi kita kasih-Nya yang tidak pernah berakhir.
Saat Ayub kehilangan anak-anaknya dan kekayaannya dalam satu hari (Ayb. 1:13-19), ia tenggelam dalam depresi kemarahan dan menolak penjelasan apa pun yang coba diberikan sahabat-sahabatnya. Namun ia masih berharap suatu hari nanti akan ada jawaban dari Allah. Bahkan dalam kegelapan, Ayub dapat berkata, “[Allah] tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (23:10).
Oswald Chambers berkata, “Suatu hari kelak akan ada sentuhan pribadi dan langsung dari Allah ketika setiap air mata dan kebingungan, setiap penindasan dan kesukaran, setiap penderitaan dan kesakitan, setiap kejahatan dan ketidakadilan, akan menerima penjelasannya yang utuh dan cukup bahkan berlimpah.”
Hari ini, ketika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab tentang hidup ini, kita dapat menemukan pertolongan dan pengharapan di dalam kasih dan janji-janji Allah. —David McCasland
Ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, kita menemukan pertolongan dan pengharapan di dalam kasih Allah.

Monday, January 25, 2016

Kata-Kata yang Sembrono

Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. —Yakobus 3:5
Kata-Kata yang Sembrono
Kesehatan putri saya sering bermasalah akhir-akhir ini, dan suaminya sangat memperhatikan dan mendukungnya. “Kamu sungguh beruntung!” kata saya.
“Ah, Mama tak berpikir begitu saat pertama kali aku mengenalnya,” jawabnya kepada saya dengan cengiran.
Putri saya benar. Ketika Icilda dan Philip bertunangan, saya agak khawatir. Masing-masing dari mereka memiliki kepribadian yang jauh berbeda. Keluarga kami besar dan heboh, sementara Philip bersifat pendiam. Dan saya menyampaikan tentang kekhawatiran tersebut kepada putri saya secara blak-blakan.
Saya sangat terkejut saat menyadari bahwa kritikan yang saya katakan tanpa pikir panjang 15 tahun lalu itu ternyata masih diingatnya dan mungkin saja menghancurkan relasi yang telah terbukti langgeng dan bahagia. Hal itu mengingatkan saya betapa kita perlu menjaga ucapan kita kepada orang lain. Begitu banyak dari kita yang dengan cepat mengutarakan apa yang kita anggap sebagai kelemahan dalam diri keluarga, teman, atau rekan kerja, atau kita lebih berfokus pada kesalahan daripada keberhasilan mereka. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh,” ucap Yakobus (3:5), tetapi dapat mengeluarkan perkataan yang menghancurkan relasi atau sebaliknya, menciptakan kedamaian dan harmoni di tengah lingkungan tempat kerja, gereja, atau keluarga.
Mungkin kita harus menjadikan doa Daud sebagai doa kita setiap kali kita mengawali hari: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3). —Marion Stroud
Bapa, tolonglah aku mengekang perkataanku yang sembrono dan jagalah lidahku hari ini dan setiap hari.
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. —Amsal 25:11

Sunday, January 24, 2016

Memuliakan Allah

[Yesus berkata,] “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” —Yohanes 15:5
Memuliakan Allah
Pagi itu di gereja, kami kedatangan sejumlah pengunjung baru. Kebaktian masih berlangsung dan pengkhotbah baru menyampaikan setengah dari khotbahnya ketika saya melihat salah satu pengunjung itu berjalan keluar. Merasa penasaran dan khawatir, saya pun berjalan keluar untuk berbicara dengannya.
“Kamu keluar begitu cepat,” kata saya sembari mendekatinya. “Apakah ada masalah yang bisa saya bantu?” Wanita itu menjawab dengan jujur dan terus-terang. “Ya,” katanya, “masalah saya adalah khotbah itu! Saya tidak bisa menerima perkataan pengkhotbah itu.” Pengkhotbahnya mengatakan bahwa apa pun yang kita capai dalam hidup ini, segala pujian dan syukur hanya patut diberikan kepada Allah. “Paling tidak,” wanita itu mengomel, “saya pantas menerima sedikit pujian untuk prestasi saya!”
Saya menjelaskan kepadanya apa yang dimaksudkan pendeta itu. Kita memang layak diakui dan dihargai atas apa yang kita lakukan. Namun demikian, talenta dan bakat kita sekalipun berasal dari Allah, sehingga Dialah yang patut dimuliakan. Bahkan Yesus, Anak Allah, berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). Dia mengatakan kepada para pengikut-Nya, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (15:5).
Kita mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong kita dalam mencapai segala sesuatu. —Lawrence Darmani
Tuhan, kiranya aku tidak lupa untuk mengakui Engkau atas segala yang Engkau lakukan untukku dan yang Engkau mampukan untuk aku lakukan.
Anak-anak Allah melakukan kehendak-Nya demi kemuliaan-Nya.

Saturday, January 23, 2016

Pelajaran untuk Si Kecil

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya. —Amsal 22:6
Pelajaran untuk Si Kecil
Ketika putri kecil saya menceritakan masalah yang sedang dihadapinya di ruang makan sekolah, saya langsung bertanya-tanya bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah itu untuknya. Namun kemudian muncul pemikiran lain. Mungkin Allah telah mengizinkan putri saya mengalami masalah itu agar ia bisa melihat-Nya berkarya dan mengenal-Nya dengan lebih baik. Alih-alih secepat mungkin menolong putri saya, saya memutuskan untuk berdoa bersamanya. Masalah itu lalu beres tanpa bantuan saya sedikit pun!
Situasi itu menunjukkan kepada buah hati saya bahwa Allah peduli kepadanya, bahwa Dia mendengarkan ketika ia berdoa, dan bahwa Dia menjawab doa-doanya. Alkitab mengatakan bahwa ada sesuatu yang signifikan tentang mempelajari hal-hal tersebut sejak dini. Jika kita “[mendidik] orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6). Ketika kita mendidik anak-anak dengan kesadaran akan Yesus dan kuasa-Nya, kita sedang memberi mereka tempat untuk bernaung kembali saat suatu hari mereka tersesat serta landasan bagi pertumbuhan rohani mereka di sepanjang hidup mereka.
Pikirkan bagaimana kamu bisa menumbuhkan iman dalam diri seorang anak. Tunjukkan rancangan Allah dalam alam, ceritakan kisah tentang cara Dia dalam menolongmu, atau ajaklah si kecil untuk bersamamu bersyukur kepada Allah ketika segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Allah dapat bekerja melalui dirimu untuk menyerukan kebaikan-Nya dari generasi ke generasi. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allahku, aku berdoa agar Engkau membangkitkan orang-orang percaya di generasi berikutnya. Tunjukkan bagaimana aku bisa mendorong anak-anak muda untuk mempercayai-Mu.
Kita mempengaruhi generasi mendatang dengan hidup bagi Kristus di masa sekarang.

Friday, January 22, 2016

Tak Lagi Terpenjara

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. —Roma 7:15
Tak Lagi Terpenjara
Seorang pria setengah baya mendekati saya setelah saya memimpin sebuah lokakarya di tempat kerjanya. Ia bertanya demikian: “Saya sudah menjadi Kristen hampir di sepanjang hidup saya, tetapi saya terus-terusan kecewa pada diri sendiri. Mengapa saya merasa selalu melakukan hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan dan tidak pernah melakukan hal-hal yang saya tahu seharusnya dilakukan? Tidakkah Allah lelah melihat saya?” Dua orang yang berdiri di samping saya juga tampak bersemangat menunggu tanggapan saya.
Itulah pergumulan manusia yang juga pernah dialami Rasul Paulus. “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu,” katanya, “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15). Namun inilah kabar baiknya: Kita tidak perlu terus berkutat dalam jerat kekecewaan. Menyadur tulisan Paulus dalam Roma 8, jalan keluarnya adalah dengan berhenti berfokus pada hukum Taurat dan mulai memusatkan perhatian kepada Yesus. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap keberdosaan kita. Jawabannya bukanlah dengan berusaha lebih keras untuk menaati segala aturan yang ada. Sebaliknya, kita harus memusatkan perhatian kita kepada Yesus, Pribadi yang menunjukkan belas kasihan kepada kita, dan berserah pada karya Roh Kudus yang mengubah kita.
Ketika kita berfokus pada hukum Taurat, kita terus-menerus diingatkan bahwa kita tidak akan pernah menjadi cukup baik untuk layak menerima anugerah Allah. Namun ketika kita berfokus kepada Yesus, kita akan semakin menjadi seperti Dia. —Randy Kilgore
Aku kadang terjebak dalam usaha untuk menjadi lebih baik, lalu gagal, putus asa, dan menyerah. Tolonglah aku, Tuhan, untuk bersandar pada anugerah-Mu dan untuk mendekat kepada-Mu sehingga Engkau dapat mengubah hatiku.
Pusatkanlah perhatianmu kepada Yesus.

Thursday, January 21, 2016

Datang Kembali!

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. —Lukas 15:20
Datang Kembali!
Ketika kami tengah mengalami saat-saat sulit dengan putra kami, seorang teman menemui saya seusai kebaktian di gereja. “Aku ingin kamu tahu, tiap hari aku mendoakanmu dan putramu,” katanya. Lalu ia menambahkan: “Aku merasa begitu bersalah.” “Mengapa?” tanyaku. “Karena aku tak pernah menghadapi anak-anak yang memberontak,” ujarnya. “Anak-anakku lumayan patuh. Namun itu bukan karena apa yang kulakukan atau tidak kulakukan pada mereka. Anak-anak akan mengambil jalan mereka sendiri,” katanya.
Mendengar itu saya ingin memeluknya. Belas kasihnya menjadi sebuah pengingat, suatu anugerah dari Allah, yang menyatakan kepada saya bahwa Allah Bapa juga memahami pergumulan saya dengan putra saya.
Tak seorang pun yang lebih memahami pergumulan dengan anak yang memberontak daripada Bapa kita di surga. Kisah anak yang hilang di Lukas 15 merupakan kisah kita dengan Allah. Yesus menceritakannya bagi semua pendosa yang begitu rindu kembali kepada Pencipta mereka dan mengalami hangatnya relasi yang penuh kasih bersama-Nya.
Yesus adalah Allah yang datang menjadi manusia karena Dia telah melihat kita dari kejauhan dengan penuh belas kasihan. Dialah Allah yang berlari mendapatkan dan merangkul kita. Dia menyambut dengan sukacita para pendosa yang pulang kembali kepada-Nya (ay.20).
Allah tak hanya diam di dalam rumah-Nya menunggu kita. Dia terus-terusan mengamati, menanti di depan rumah, dan memanggil kita untuk kembali. —James Banks
Tuhan, hari ini kami memohon lagi agar Engkau membawa pulang kekasih hati kami yang terhilang.
Orang yang kita kasihi mungkin tak menggubris permohonan kita, menolak pesan kita, menentang pendapat kita, membenci diri kita— tetapi mereka tak berdaya menghadapi doa kita. J. Sidlow Baxter

Wednesday, January 20, 2016

Manusia Biasa, Allah Luar Biasa

Saudara-saudara, ikutilah teladanku. —Filipi 3:17
Manusia Biasa, Allah Luar Biasa
Beberapa tahun silam setelah saya menuliskan tentang tragedi yang dialami keluarga kami, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca Our Daily Bread. “Ketika kamu menceritakan tentang tragedi yang kamu alami,” tulis pembaca itu, “saya menyadari bahwa para penulis renungan pun manusia biasa yang punya masalah nyata.” Benar sekali pernyataan itu! Saya mencermati daftar pria dan wanita yang menulis renungan ini, dan saya melihat adanya penyakit kanker, anak yang memberontak, mimpi yang kandas, dan berbagai kehilangan lainnya. Kami semua hanyalah manusia biasa yang menulis tentang Allah yang luar biasa, yang memahami masalah-masalah kami.
Rasul Paulus menjadi teladan dalam hidup sebagai manusia biasa ini. Ia bergumul dengan masalah kesehatan. Ia tersangkut masalah hukum. Ia harus menghadapi pergumulan dalam hubungan dengan orang lain. Namun dalam segala kemelut yang dialaminya itu, Paulus menjadi teladan bagi kita. Di Filipi 3:17, Paulus berkata, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.”
Orang-orang yang ada di sekitar kita membutuhkan Injil—mereka membutuhkan Yesus—dan mereka mencari sosok orang yang dapat dipercaya untuk mengarahkan mereka kepada Juruselamat kita yang sempurna. Untuk itulah kita dipanggil sebagai teladan yang hidup di tengah mereka. —Dave Branon
Tuhan, Engkau sempurna. Namun Engkau menyambut kami yang tak sempurna untuk datang kepada-Mu dan menerima keselamatan. Engkau mengutus Yesus, Anak-Mu yang sempurna, untuk mati bagi kami. Tolong kami bersikap tulus apa adanya dalam upaya kami membawa orang lain kepada-Mu.
Jika kita bersikap jujur dan tulus di hadapan Allah, kita tidak akan hidup dalam kepalsuan di hadapan sesama.

Tuesday, January 19, 2016

Kau Dahulu!

[Yesus] telah merendahkan diri- Nya. —Filipi 2:8
Kau Dahulu!
Sherpa Nawang Gombu asal Tibet dan Jim Whittaker asal Amerika berhasil mencapai puncak Gunung Everest pada tanggal 1 Mei 1963. Mendekati puncak itu, masing-masing dari mereka memikirkan tentang kehormatan untuk menjadi yang pertama menginjakkan kaki di puncak gunung itu. Whittaker memberi isyarat kepada Gombu untuk melangkah maju terlebih dahulu. Namun Gombu menolaknya, dan dengan senyuman ia berkata, “Kau dahulu, Big Jim!” Akhirnya, mereka memutuskan untuk bersama-sama melangkahkan kaki ke puncak gunung itu.
Paulus mendorong umat percaya di Filipi untuk menunjukkan kerendahan hati semacam itu. Ia berkata, “Jangan-lah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Sikap egois dan meninggikan diri berpotensi memecah belah, tetapi kerendahan hati akan menyatukan kita, karena sifat tersebut merupakan bagian dari berada “dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (ay.2).
Ketika terjadi pertengkaran atau perselisihan pendapat, kita dapat meredamnya dengan melepas hak kita untuk menjadi yang paling benar. Kerendahan hati mendorong kita untuk menunjukkan kasih dan kelemahlembutan, terutama pada saat kita terpancing untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri. “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (ay.3)
Bersikap rendah hati akan menolong kita untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus yang, demi kita, “telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (ay.7-8). Mengikuti jejak Yesus berarti melepaskan apa yang terbaik bagi diri sendiri demi mendahulukan yang terbaik bagi sesama. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Yesus, Engkau menyerahkan hidup-Mu bagiku. Tolong aku untuk meneladani kerendahan hati-Mu dalam setiap pengorbanan yang kujalani. Kiranya aku memuliakan-Mu dengan mendahulukan sesamaku.
Kerendahan hati menumbuhkan kesatuan.

Monday, January 18, 2016

Pelayanan Pendamaian

Kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. —Roma 5:10
Pelayanan Pendamaian
Pada saat Dr. Martin Luther King Jr. berkhotbah di suatu kebaktian Minggu pagi tahun 1957, ia berbicara kepada masyarakat yang begitu dirasuki oleh rasialisme tentang melawan godaan untuk membalas dendam.
“Apa yang kamu lakukan untuk mengasihi musuhmu?” tanya King pada jemaat Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama. “Mulailah dari dirimu sendiri . . . Ketika kamu berkesempatan untuk mengalahkan musuhmu, itulah justru saat yang tepat untuk tidak melakukannya.”
Mengutip perkataan Yesus, King berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45).
Ketika kita mengingat orang-orang yang pernah menyakiti kita, baiklah kita juga mengingat bahwa kita pun dahulu adalah musuh Allah (Lihat Rm. 5:10). Namun Allah “dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan . . . mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami,” tulis Paulus (2Kor. 5:18). Kini kita memiliki mandat yang mulia. “Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (ay.19). Kita harus mengabarkan berita itu pada dunia.
Tekanan rasial dan politik bukanlah hal baru. Akan tetapi tugas gereja bukanlah untuk memperlebar perpecahan. Kita tidak boleh menyerang mereka yang tidak sama dengan kita, yang memiliki pendapat berbeda, atau bahkan yang berusaha menghancurkan kita. Kita dipercaya untuk melakukan “pelayanan pendamaian” dengan meneladani hati Yesus yang rela menjadi hamba dan melayani sesama. —Tim Gustafson
Di dalam Kristus tiada timur atau barat, di dalam-Nya tiada selatan atau utara, melainkan satu persekutuan kasih di seluruh muka bumi. —John Oxenham
Kebencian menghancurkan yang membenci sekaligus yang dibenci. —Martin Luther King Jr.

Sunday, January 17, 2016

Cerminan Surga

Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. —1 Korintus 14:12
Cerminan Surga
Kebun raya kelas dunia di seberang gereja kami menjadi tempat berlangsungnya kegiatan kebersamaan bagi seluruh jemaat. Sambil berkeliling taman, saya pun menyapa orang-orang yang sudah lama saya kenal, mengobrol dengan mereka yang sudah lama tak bertemu, dan menikmati indahnya lingkungan yang dirawat oleh orang-orang yang mengerti dan mencintai tanaman. Bagi saya, kegiatan sore itu memberi gambaran tentang peran gereja yang seharusnya—menjadi cerminan surga di dunia.
Kebun merupakan tempat bagi setiap tanaman dipelihara dalam lingkungan yang membuatnya tumbuh dengan subur. Tukang kebun akan menyiapkan tanahnya, menjaga tanaman dari serangan hama, dan memastikan tiap tanaman mendapatkan makanan, air, dan sinar matahari yang dibutuhkan. Hasilnya adalah suatu kebun yang indah, penuh warna, dan harum yang dapat dinikmati siapa saja.
Seperti kebun, gereja dimaksudkan menjadi tempat setiap orang bekerja bersama untuk kemuliaan Allah dan kebaikan bersama; tempat setiap orang bertumbuh karena hidup bersama dalam lingkungan yang aman; tempat orang-orang diperhatikan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing; tempat kita melakukan pekerjaan yang kita sukai, yaitu pekerjaan yang memberikan manfaat bagi orang lain (1Kor. 14:26).
Seperti tanaman yang terpelihara baik, orang yang tumbuh dalam lingkungan yang sehat memancarkan keharuman yang menarik orang kepada Allah melalui keindahan kasih-Nya yang ditunjukkannya. Meski tidak sempurna, gereja tetap adalah cerminan surga. —Julie Ackerman Link
Bagaimana caranya kamu dapat mendorong gerejamu agar semakin sehat? Mintalah kepada Allah untuk menolongmu melayani sebagaimana Kristus telah melayani kita. Layanilah sesuai dengan kemampuan dan minatmu. Dengarkanlah orang lain dengan sungguh-sungguh dan doakanlah mereka.
Keindahan Kristus tampak dari hati yang dipenuhi keharuman kasih-Nya.

Saturday, January 16, 2016

Merindukan Pertumbuhan

Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. —Ibrani 5:13
Merindukan Pertumbuhan
Axolotl (dibaca ACK soh LOH tel) merupakan suatu satwa yang misterius. Alih-alih menjadi dewasa secara fisik, salamander dari Mexico yang terancam punah itu tetap bertahan seumur hidupnya dengan wujud mirip kecebong. Para penulis dan filsuf sering menggunakan axolotl sebagai simbol dari seseorang yang takut untuk bertumbuh.
Di Ibrani 5, kita belajar tentang orang-orang Kristen yang menolak untuk bertumbuh dengan sehat. Mereka cukup puas dengan “susu” rohani yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang yang baru percaya. Mungkin karena takut menghadapi penganiayaan, mereka tidak lagi bertumbuh dalam kesetiaan kepada Kristus, yang sedianya akan memampukan mereka untuk tahan menderita bersama-Nya demi kepentingan orang lain (ay.7-10). Sebaliknya, mereka terancam undur dari sikap hidup serupa dengan Kristus yang dahulu pernah mereka tunjukkan (6:9-11). Mereka belum siap menyantap makanan keras yang menuntut mereka untuk berkorban (5:14) sehingga si penulis menyatakan, “Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan” (ay.11).
Axolotl hidup mengikuti pola alami yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, tetapi para pengikut Kristus ditetapkan untuk bertumbuh dewasa secara rohani. Sepanjang proses itu, kita akan menemukan bahwa pertumbuhan di dalam Dia bukan sekadar soal damai sejahtera dan sukacita yang kita alami. Pertumbuhan kita dalam keserupaan dengan-Nya akan memuliakan Allah apabila kita juga dengan tulus menguatkan iman sesama kita. —Keila Ochoa
Tuhan, aku ingin bertumbuh. Tolonglah aku untuk menggali firman-Mu lebih dalam lagi. Ajarlah aku hari demi hari sehingga aku semakin diperlengkapi untuk melayani dan menyembah-Mu.
Semakin banyak kita menyantap firman Tuhan, semakin kita bertumbuh.

Friday, January 15, 2016

Perbekalan Rohani

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16
Perbekalan Rohani
Di musim dingin tahun 2009, sebuah pesawat penumpang berukuran besar melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson, New York. Kapten Chesley Sullenberger adalah pilot yang berhasil mendaratkan pesawat itu dengan selamat tanpa jatuh korban. Ia kemudian ditanya tentang saat-saat di udara ketika ia dihadapkan pada keputusan antara hidup atau mati. “Saya melihatnya begini,” katanya, “Selama 42 tahun terakhir ini sedikit demi sedikit saya telah membekali diri secara teratur dengan pengalaman, pendidikan, dan pelatihan. Dan pada [hari itu], perbekalan saya sudah cukup sehingga saya mampu menggali kekayaan dari perbekalan tersebut untuk mengatasi masalah besar yang menghadang.”
Cepat atau lambat, sebagian besar dari kita akan menghadapi krisis. Mungkin hal itu berupa pemberhentian kerja, atau hasil uji kesehatan yang kurang baik, atau kepergian seorang anggota keluarga atau teman yang dikasihi. Pada saat-saat seperti itulah kita harus menggali gudang perbekalan rohani yang kita miliki.
Apa yang mungkin kita temukan di dalamnya? Jika selama ini kita telah menikmati suatu relasi yang mendalam dengan Allah, kita telah membekali iman secara teratur. Kita telah mengalami kasih karunia-Nya (2Kor. 8:9; Ef. 2:4-7). Kita mempercayai janji dari Kitab Suci bahwa Allah itu adil dan setia (Ul. 32:4; 2Tes. 3:3).
Kasih dan anugerah Allah senantiasa tersedia ketika anak-anak-Nya membutuhkan penguatan iman (Mzm. 9:11; Ibr. 4:16). —Cindy Hess Kasper
Besar kesetiaan-Mu, ya Tuhan Allahku! Setiap hari aku melihat-Mu menyediakan yang kuperlukan dan menunjukkan belas kasihan-Mu. Terima kasih.
Mengingat kesetiaan Allah di masa lalu akan menguatkan kita dalam menghadapi masa mendatang.

Thursday, January 14, 2016

Mengucapkan Selamat Tinggal

Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. —Lukas 9:62
Mengucapkan Selamat Tinggal
Tidak mudah mengucapkan “selamat tinggal” pada keluarga dan teman, pada lokasi favorit yang telah mendapat tempat di hati, atau pada pekerjaan atau mata pencaharian tertentu.
Di Lukas 9:57-62, Tuhan kita menjabarkan harga yang harus dibayar untuk menjadi murid-Nya. Ada seseorang yang mau menjadi pengikut-Nya berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (ay.61-62). Apakah Tuhan meminta para pengikut-Nya mengucapkan selamat tinggal pada segala sesuatu dan siapa saja yang berharga bagi mereka?
Dalam bahasa Mandarin, tidak ada kata yang persis bisa digunakan secara langsung untuk menerjemahkan kata goodbye dalam bahasa Inggris. Dua aksara Tionghoa yang digunakan untuk menerjemahkan kata tersebut sebenarnya mengandung arti “sampai jumpa lagi”. Menjadi seorang murid Kristus mungkin menyebabkan beberapa orang akan menolak kita. Namun, hal itu tidak berarti kita mengucapkan “selamat tinggal” kepada siapa saja dan kemudian melupakan semua jalinan hubungan kita dengan mereka. Mengucapkan “selamat tinggal” berarti Allah menghendaki kita untuk mengikut Dia sesuai ketentuan-Nya, yakni dengan segenap hati. Barulah kemudian kita akan memandang setiap orang dengan cara pandang yang benar.
Allah menghendaki yang terbaik untuk kita, tetapi kita pun harus mengizinkan Dia untuk menjadi yang utama di atas segalanya. —C. P. Hia
Ya Tuhanku, aku ingin mengikut Engkau dengan segenap hati. Tolonglah aku untuk tidak mementingkan apa pun dan siapa pun lebih daripada Engkau.
Mengikut Yesus akan mengubah cara pandang kita.

Wednesday, January 13, 2016

Gerbang Surga

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat. —Yohanes 10:9
Gerbang Surga
Seniman asal Italia, Lorenzo Ghiberti (1378-1455) menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahat dengan indahnya lukisan tentang kehidupan Yesus pada pintu-pintu perunggu dari gedung Florence Baptistery di Italia. Relief perunggu tersebut begitu menggetarkan jiwa sampai-sampai Michelangelo menyebutnya sebagai Gerbang Surga.
Sebagai sebuah kekayaan artistik, gerbang itu menyapa para pengunjung dengan gaung berita Injil. Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh. 10:9). Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (14:6). Beberapa jam sebelum disalibkan, Yesus berkata kepada salah seorang penjahat yang disalibkan di sisi-Nya, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).
Beberapa minggu kemudian, Rasul Petrus dengan penuh keberanian menyatakan kepada orang-orang yang telah menyerukan kematian Yesus bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain . . . yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). Bertahun-tahun kemudian, Rasul Paulus menulis bahwa hanya ada satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1Tim. 2:5).
Gerbang surga dapat ditemukan di dalam Juruselamat yang menawarkan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya dan datang kepada-Nya. Marilah kita masuk dan menikmati sukacita dari keselamatan-Nya. —Dennis Fisher
Aku memerlukan pengantara oleh karena dosa-dosaku. Terima kasih, Yesus, karena Engkau menjadi jalan kepada Bapa melalui kematian dan kebangkitan-Mu. Selamanya kubersyukur kepada-Mu.
Yesus telah mati untuk menggantikan kita demi memberi kita damai sejahtera-Nya.

Tuesday, January 12, 2016

Berpeganglah!

Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu. —Wahyu 3:11
Berpeganglah!
Seorang teman saya yang bekerja sebagai koboi dan tumbuh besar di sebuah peternakan di Texas mempunyai sejumlah ungkapan yang menarik. Salah satu yang saya sukai adalah “Kopi enak tidak butuh banyak air.” Dan ketika ada seorang koboi yang berusaha menjerat seekor lembu jantan muda yang terlalu besar untuk dikendalikannya atau tengah mengalami masalah, teman saya akan berseru, “Pegang erat-erat apa yang sedang kamu pegang!” yang berarti, “Bantuan akan segera tiba! Jangan menyerah!”
Dalam kitab Wahyu, kita membaca surat-surat yang ditujukan kepada “ketujuh jemaat yang di Asia Kecil” (Pasal 2-3). Pesan-pesan dari Allah itu diwarnai dengan dorongan, teguran, dan tantangan, dan surat-surat itu juga berbicara kepada kita di masa kini, sama seperti kepada para penerimanya di abad pertama.
Dalam surat-surat tersebut, kita menemukan frasa seperti berikut sebanyak dua kali, “Peganglah apa yang ada padamu.” Tuhan mengatakan kepada jemaat di Tiatira, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang” (2:25). Dan kepada jemaat di Filadelfia, Dia berkata, “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu” (3:11). Di tengah-tengah pencobaan dan perlawanan yang hebat, orang-orang percaya itu terus bergantung pada janji Allah dan bertekun dalam iman.
Di tengah keadaan yang sulit dan kepedihan menekan sukacita kita, Yesus berseru kepada kita, “Peganglah erat-erat apa yang sedang kamu pegang! Bantuan akan segera tiba!” Dan dengan janji tersebut, kita dapat bertekun dalam iman dan tetap bersukacita. —David McCasland
Tuhan, kami bersandar pada janji-Mu, berharap pada kedatangan-Mu kembali, dan bertekun dengan keyakinan teguh, sembari berkata, “Amin! Datanglah, Tuhan Yesus!”
Janji kedatangan Kristus yang kedua kali memanggil kita untuk bertekun dalam iman.

Monday, January 11, 2016

Kamu Berharga

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. —1 Korintus 6:20
Kamu Berharga
Setelah ibu mertua saya meninggal dunia, saya dan istri menemukan setumpuk uang sen logam Amerika Serikat, yang bergambar kepala orang Indian, di dalam laci meja rias di apartemennya. Ibu mertua saya bukanlah kolektor koin, tetapi ia hidup di zaman ketika uang logam itu masih beredar dan ia pernah mengumpulkan sejumlah uang tersebut.
Sebagian dari koin itu berada dalam kondisi yang sangat baik; sisanya tidak. Ada koin-koin yang sudah begitu rusak dan usang sampai-sampai tidak terlihat lagi gambar dan tulisan yang tercetak di atasnya. Pada semua koin tertera tulisan “Satu Sen” di sisi lainnya. Meski sekarang ini koin satu sen hampir tidak ada harganya dan banyak yang menganggapnya tidak lagi berguna, pada zaman dahulu jumlah itu cukup untuk membeli koran 1 eksemplar. Kini para kolektor masih melihat nilai dari koin-koin kuno tersebut, bahkan dari koin yang sudah rusak dan usang.
Mungkin saat ini kamu merasa penuh cela, lapuk, tua, atau tidak berguna lagi. Meski demikian, Allah memandang dirimu bernilai. Sang Pencipta alam semesta ini menginginkanmu—bukan karena pikiran, tubuh, pakaian, pencapaian, kepandaian, atau kepribadianmu, melainkan karena dirimu sendiri! Dia rela menempuh apa pun dan membayar harga berapa pun untuk memilikimu (1Kor. 6:20).
Dan Dia sungguh telah melakukannya. Dari surga, Dia datang ke dunia untuk membeli kamu dengan darah-Nya sendiri (Rm. 5:6,8-9). Sedemikian besar keinginan-Nya untuk memilikimu. Kamu sungguh berharga di mata-Nya, dan Dia mengasihimu. —David Roper
Bapa, saat merenungkan kasih-Mu kepadaku, aku terkagum karena Engkau rela mengasihi seseorang seperti diriku. Aku sungguh-sungguh memuji-Mu.
Kematian Kristus menjadi ukuran kasih Allah kepadamu.

Sunday, January 10, 2016

Tempat Perlindungan Sejati

Nama TUHAN adalah menara yang kuat; ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. —Amsal 18:10
Tempat Perlindungan Sejati
Pada Maret 2014, terjadi konflik antar suku di kota kelahiran saya yang memaksa keluarga ayah saya, bersama para pengungsi lainnya, mencari perlindungan di ibu kota provinsi tersebut. Sepanjang sejarah, orang-orang yang merasa nyawa mereka terancam di tanah kelahirannya telah berkelana untuk mendapatkan rasa aman dan hidup yang lebih baik.
Ketika mengunjungi dan berbincang dengan orang-orang dari kota kelahiran saya, saya teringat pada kota perlindungan di Yosua 20:1-9. Kota-kota itu ditetapkan sebagai tempat yang aman bagi mereka yang melarikan diri dari “orang yang hendak membalas dendam” jika terjadi pembunuhan yang tidak disengaja (ay.3 BIS). Kota-kota tersebut menawarkan kedamaian dan perlindungan.
Pada masa kini orang masih mencari tempat-tempat perlindungan karena berbagai alasan. Sekalipun sangat diperlukan untuk memberikan penampungan dan makanan, tempat perlindungan itu tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan para pengungsi dan pelarian. Perteduhan itu hanya didapatkan di dalam Allah. Mereka yang berjalan bersama Allah akan memperoleh tempat bernaung yang sejati dan perlindungan yang paling aman. Ketika bangsa Israel kuno dibawa ke pembuangan, Tuhan berkata, “Aku menjadi tempat kudus [perlindungan] . . . bagi mereka di negeri-negeri di mana mereka datang” (Yeh. 11:16).
Bersama sang pemazmur, kita dapat dengan yakin berkata kepada Tuhan, “Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak” (32:7). —Lawrence Darmani
Bapa, terima kasih karena Engkau telah menjadi gunung batu tempat kami berlindung. Di mana pun kami berada atau dalam kondisi apa pun, Engkau senantiasa menyertai kami. Tolong kami untuk mengingat bahwa di malam yang paling gelap sekalipun, Engkaulah menara kami yang kuat.
Takkan ada yang mampu menggoyahkan mereka yang aman di dalam genggaman tangan Allah.

Saturday, January 9, 2016

Mata Air Keselamatan

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. —Yesaya 12:3
Mata Air Keselamatan
Biasanya orang mengebor hingga ke dalam perut bumi guna mengambil contoh bebatuan, menggali sumber minyak, atau mencari air.
Di Yesaya 12, kita belajar bahwa Allah menginginkan umat-Nya, yang sedang tinggal di padang gurun baik secara fisik maupun spiritual, untuk menemukan “mata air keselamatan” dari-Nya. Yesaya menyamakan keselamatan dari Allah dengan mata air yang memancarkan air yang paling menyegarkan. Setelah bertahun-tahun lamanya berpaling dari Allah, bangsa Yehuda ditentukan-Nya untuk mengalami masa pembuangan ketika Dia mengizinkan bangsa-bangsa asing untuk menaklukkan Yehuda dan menyerakkan penduduknya. Namun, Nabi Yesaya berkata bahwa sekelompok sisa dari umat-Nya pada akhirnya akan kembali ke tanah kelahiran mereka sebagai tanda bahwa Allah menyertai mereka (Yes. 11:11-12).
Yesaya 12 merupakan kidung pujian kepada Allah atas kesetiaan-Nya dalam memenuhi segala janji-Nya, terutama janji keselamatan. Yesaya membesarkan hati umat Allah dengan menyampaikan bahwa dari “mata air keselamatan” Allah, mereka akan menerima kesegaran berupa anugerah, kekuatan, dan sukacita Allah (ay.1-3). Semua itu akan menyegarkan dan menguatkan hati mereka dan mendorong mereka untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah (ay.4-6).
Allah rindu setiap dari kita, melalui pengakuan dosa dan pertobatan, menemukan kesegaran sukacita yang terdapat dalam mata air keselamatan-Nya yang kekal. —Marvin Williams
Apa yang akan kamu lakukan untuk mereguk dari mata air Allah agar kamu menerima sukacita, kesegaran, dan kekuatan-Nya?
Mata air keselamatan dari Allah tidak akan pernah kering.

Friday, January 8, 2016

Kebahagiaan Tertinggi

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. —Yohanes 8:31-32
Kebahagiaan Tertinggi
“Semua orang melakukannya” tampaknya menjadi argumen terbaik saat saya masih muda. Namun argumen semacam itu tak pernah berhasil melunakkan orangtua saya, sekalipun saya telah berusaha keras memperoleh izin untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap tidak aman atau tidak bijaksana.
Saat usia bertambah, kita menambahkan alasan dan pembenaran pada daftar argumen kita untuk melakukan apa yang kita kehendaki: “Takkan ada yang terluka.” “Ini bukan hal yang ilegal.” “Ia yang lebih dahulu melakukannya kepadaku.” “Ia takkan tahu.” Di balik tiap argumen itu, ada keyakinan bahwa apa yang kita inginkan lebih penting daripada apa pun.
Gawatnya, cara berpikir yang sesat itu bisa menjadi dasar keyakinan kita akan Allah. Salah satu kebohongan yang terkadang kita percayai adalah kita, bukan Allah, merupakan pusat dari segala sesuatu. Kita berpikir kita akan bebas dan bahagia hanya apabila kita dapat mengatur segalanya sesuai keinginan kita. Kebohongan itu begitu meyakinkan karena menjanjikan cara yang lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan keinginan kita. Kita berdalih, “Allah itu kasih, jadi Dia ingin aku melakukan apa pun yang membahagiakan diriku.” Namun cara berpikir seperti itu akan menghasilkan sakit hati, bukan kebahagiaan.
Yesus berkata kepada mereka yang percaya kepada-Nya bahwa kebenaran akan benar-benar memerdekakan mereka (Yoh. 8:31-32). Namun Dia juga memperingatkan, “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (ay.34). Sumber kebahagian tertinggi adalah kemerdekaan yang kita alami saat kita menerima kebenaran bahwa Yesus adalah jalan menuju kehidupan yang utuh dan bahagia. —Julie Ackerman Link
Tuhan, kami mengakui kecenderungan kami untuk mencari pembenaran atas segalanya demi mendapatkan kemauan kami. Tuntun kami hari ini agar kami memilih untuk menaati perintah-Mu daripada mengejar hasrat diri sendiri.
Tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan sejati.

Thursday, January 7, 2016

Mulai dari Atas

Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada- Nya. —Matius 6:8
Mulai dari Atas
Rumah saya terletak di tepi anak sungai pada ngarai di dekat sebuah gunung besar. Setelah salju mencair di musim semi dan hujan turun dengan lebat, aliran anak sungai itu meluap dan lebih menyerupai aliran sungai. Banyak orang pernah tenggelam di anak sungai itu. Suatu hari saya menyusuri anak sungai itu hingga ke sumbernya—padang salju di puncak gunung. Dari sanalah salju yang mencair memulai perjalanannya menuruni gunung dan bergabung dengan aliran air lainnya membentuk anak sungai yang mengalir di bawah rumah saya.
Saat merenungkan tentang doa, saya sempat terpikir bahwa saya sering berdoa dengan salah arah. Saya biasa berdoa mulai dari bawah, dengan menyatakan segala kebutuhan saya sendiri dan membawanya kepada Allah. Saya memberi tahu Allah, seolah-olah Dia belum tahu apa-apa. Saya memohon terus, seakan-akan berharap bahwa itu akan mengubah pikiran Allah yang mungkin enggan mengabulkannya. Namun yang benar adalah saya harus memulainya dari atas, dari sumber aliran berkat itu.
Saat kita membalik arah doa kita, kita akan menyadari bahwa Allah memang selalu peduli pada pergumulan kita—kekasih hati kita yang menderita kanker, keluarga yang hancur, anak remaja yang memberontak—jauh melampaui kepedulian kita. Bapa kita tahu apa yang kita butuhkan (Mat. 6:8).
Anugerah, seperti air, mengalir ke bagian yang paling rendah. Demikian pula belas kasihan. Kita mulai berdoa dengan memandang kepada Allah dan bertanya kepada-Nya apa yang dapat kita perbuat bagi pekerjaan-Nya di bumi. Dengan titik tolak yang baru itu, persepsi kita berubah. Kita melihat karya Sang Pelukis Agung di alam semesta. Kita melihat sesama sebagai individu kekal yang diciptakan sesuai gambar Allah. Wajarlah jika kita bersyukur dan memuji nama-Nya! —Philip Yancey
Ya Tuhan, aku memuji-Mu atas kasih dan perhatian-Mu yang begitu besar kepadaku. Entah apa yang dapat kulakukan tanpa-Mu.
Doa menyalurkan berkat dari Allah bagi kebutuhan kita.

Wednesday, January 6, 2016

Lonceng Pengingat

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. —Mazmur 37:24
Lonceng Pengingat
Menara jam di Westminster, dengan loncengnya yang dikenal dengan nama Big Ben, merupakan simbol terkenal di kota London, Inggris. Konon melodi dari dentangan lonceng itu diambil dari nada lagu “I Know That My Redeemer Liveth” (Ku Tahu Penebusku Hidup) dari Messiah karya Handel. Lirik pun ditambahkan dan dipajang di ruang menara jam tersebut:
Tuhan, di sepanjang waktu ini, kiranya Engkau menuntun kami; Maka oleh kuasa-Mu, kami takkan goyah.
Lirik itu mengacu pada Mazmur 37: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (ay.23-24). Perhatikan betapa eratnya keterlibatan Allah dalam pengalaman hidup anak-anak-Nya: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” (ay.23). Ayat 31 menambahkan, “Taurat Allahnya ada di dalam hatinya; langkah-langkahnya tidak goyah.”
Sungguh menakjubkan! Sang Pencipta alam semesta tidak hanya menopang dan menolong kita, tetapi Dia juga sangat mempedulikan setiap saat dalam kehidupan kita. Maka tidak heran apabila dengan penuh keyakinan Rasul Petrus dapat mengundang kita, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr. 5:7). Karena jaminan akan pemeliharaan-Nya terus bergaung di dalam hati kita, kita memperoleh keberanian untuk menghadapi apa saja yang menerpa hidup kita. —Bill Crowder
Bapa yang Mahakasih, terima kasih karena setiap bagian dalam kehidupanku berarti bagi-Mu. Beriku semangat di dalam pergumulanku sehingga aku dapat menempuh jalan yang mencerminkan kasih-Mu yang besar dan memuliakan nama-Mu yang agung.
Tiada tempat yang lebih aman daripada di dalam genggaman Allah.

Tuesday, January 5, 2016

Saat-Saat Kesepian

Akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku. —Efesus 1:16
Saat-Saat Kesepian
Di antara tumpukan surat yang saya terima setelah masa Natal, saya menemukan sesuatu yang berharga, yakni selembar kartu Natal buatan tangan dengan lukisan yang dibuat di atas karton tebal hasil daur ulang. Sapuan cat air yang sederhana itu melukiskan suasana perbukitan di musim dingin yang dicerahkan oleh pepohonan hijau yang asri. Di bagian tengah bawah, tergores tulisan tangan yang dibingkai gambar buah beri merah, dengan kata-kata: Damai besertamu!
Pelukisnya adalah seorang narapidana sahabat saya. Ketika mengagumi hasil karyanya itu, saya pun tersadar bahwa sudah dua tahun lamanya saya tidak menulis surat untuknya!
Dahulu kala, ada seorang narapidana lain yang pernah dilupakan ketika berada di penjara. “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku,” tulis Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim. 4:11). “Tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku” (ay.16). Paulus tetap dikuatkan sekalipun di dalam penjara, dan ia menulis, “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku” (ay.17). Namun Paulus tentu merasakan pedihnya kesepian karena dilupakan.
Di sisi belakang dari kartu Natal yang indah itu, teman saya menulis, “Kiranya damai, sukacita, pengharapan, dan kasih yang dianugerahkan melalui kelahiran Yesus menyertaimu dan keluargamu.” Ia menutup pesannya dengan tanda tangan, “Saudaramu di dalam Kristus.” Saya memajang kartu itu di dinding sebagai pengingat untuk mendoakannya. Kemudian, saya menulis surat untuknya.
Di sepanjang tahun mendatang, marilah kita mengulurkan tangan kepada saudara-saudari kita yang kesepian. —Tim Gustafson
Siapakah orang-orang kesepian yang terpikirkan oleh saya saat ini? Pendatang baru di komunitas saya? Para narapidana? Pasien di rumah sakit atau di panti jompo? Apa yang dapat saya lakukan, meski kecil, untuk melayani mereka?
Jalinlah persahabatan dan kuatkanlah mereka yang kesepian.

Monday, January 4, 2016

Apakah Dia Mendengarkan?

Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? —Matius 27:46
Apakah Dia Mendengarkan?
Kerap kali aku merasa seolah Allah tak mendengarkanku.” Kata-kata itu diucapkan seorang wanita yang berusaha tetap teguh dalam perjalanan imannya bersama Allah sementara ia masih mendampingi suaminya yang kecanduan alkohol. Kata-kata itu juga menggemakan jeritan hati banyak orang percaya. Bertahun-tahun lamanya, wanita itu meminta Allah untuk mengubah suaminya. Namun perubahan itu tidak pernah terjadi.
Apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita berulang kali meminta Allah untuk memberikan sesuatu yang baik—sesuatu yang dengan mudah memuliakan Allah—tetapi jawabannya tidak juga datang? Kita berpikir, apakah Allah mendengarkan kita atau tidak?
Mari kita memperhatikan kehidupan Yesus, Juruselamat kita. Di taman Getsemani, Dia bergumul berjam-jam dalam doa, mencurahkan isi hati-Nya dan memohon, “Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Mat. 26:39). Namun dengan jelas Bapa menjawab “Tidak.” Demi memberikan keselamatan, Allah mengutus Yesus untuk mati di kayu salib. Meskipun Yesus merasa seolah-olah Bapa-Nya telah meninggalkan Dia, Dia terus berdoa dengan tekun dan sabar karena Dia percaya bahwa Allah mendengarkan.
Ketika kita berdoa, mungkin kita tidak melihat bagaimana cara Allah bekerja atau tidak memahami bagaimana Dia akan mendatangkan kebaikan di tengah semua kesulitan yang ada. Maka, kita harus mempercayai-Nya. Kita harus melepaskan hak kita untuk tahu dan mengizinkan Allah melakukan yang terbaik menurut-Nya.
Kita harus menyerahkan apa yang tidak kita ketahui kepada Allah yang Mahatahu. Dia senantiasa mendengarkan dan bekerja menurut cara-Nya. —Dave Branon
Tuhan, kami tidak perlu tahu mengapa doa-doa kami terkadang tak terjawab. Tolong kami untuk menantikan waktu-Mu, karena Engkau baik.
Ketika kita berlutut untuk berdoa, Allah menyendengkan telinga-Nya untuk mendengarkan kita.

Sunday, January 3, 2016

Segala Kebaikan-Nya

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2
Segala Kebaikan-Nya
Perjalanan hidup kita sering menjadi sulit karena perhatian kita begitu tersita pada apa yang kita pikir kita butuhkan saat ini sehingga kita lupa pada apa yang sesungguhnya sudah kita miliki. Saya diingatkan akan hal itu ketika paduan suara di gereja kami menyanyikan sebuah pujian yang indah dari Mazmur 103. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (ay.2). Bagi kita, Tuhan itu maha pengampun, penyembuh, penebus, penyedia, pemuas, dan pembaru (ay.4-5). Bagaimana mungkin kita melupakan semua itu? Namun kenyataannya, itulah yang sering kita lakukan ketika pengalaman hidup sehari-hari membuat perhatian kita tersita oleh berbagai kebutuhan yang mendesak, kegagalan yang berulang, dan keadaan yang tidak lagi dapat kita kendalikan.
Penulis mazmur ini mengajak kita untuk mengingat, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih. . . . Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia” (ay. 8,10-11).
Dalam perjalanan iman kita, kita merendahkan diri datang kepada Yesus Kristus karena ketidaklayakan kita. Kita merasa sama sekali tidak berhak menerima anugerah-Nya dan dibuat takjub oleh kasih-Nya yang berlimpah. Itu semua mengingatkan kita akan segala kebaikan-Nya.
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku” (ay.1). —David McCasland
Bapa Surgawi, kami berdiam diri sejenak untuk mengingat-ingat segala yang kami miliki di dalam Engkau. Beri kami mata untuk melihat berkat pemeliharaan-Mu dan tolong kami untuk mengingat setiap kebaikan yang telah Engkau berikan kepada kami.
Kasih terbukti ketika Allah menjadi manusia.

Saturday, January 2, 2016

Dia akan Menjawab

Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab. —Mazmur 91:15
Dia akan Menjawab
Saya begitu gembira ketika menemukan halaman Twitter dari bintang film Korea favorit saya. Saya pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya. Saya menuliskan pesan terbaik yang bisa saya tuliskan, lalu menunggu jawaban darinya. Saya sadar, kecil kemungkinan saya akan mendapatkan balasan. Seorang selebriti seperti dirinya bisa menerima banyak sekali surat dan pesan dari para penggemar setiap harinya. Namun demikian, saya berharap ia akan membalas pesan saya. Saya pun sangat kecewa ketika tak ada balasan yang saya terima.
Bersyukurlah, kita tahu Allah menjawab kita. Dialah “Yang Mahatinggi dan . . . Yang Mahakuasa” (Mzm. 91:1). Dia tinggi luhur dan kuasa-Nya tak terbatas, tetapi kita tetap bisa berhubungan dengan-Nya. Allah mengundang kita: “Bila [engkau] berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab” (ay.15).
Sebuah legenda kuno bercerita tentang seorang raja yang menyewa para penenun untuk membuat permadani dan pakaian untuknya. Raja memberikan kain sutra dan polanya kepada para penenun itu disertai instruksi tegas supaya mereka segera bertanya kepadanya jika menemui kesulitan. Seorang penenun muda bekerja dengan senang dan berhasil, sementara yang lain selalu menemui kesulitan. Ketika anak muda itu ditanya mengapa ia bisa berhasil, ia menjawab, “Tidakkah kalian memperhatikan berapa sering saya menghadap sang raja?” Mereka menjawab, “Ya, tetapi baginda sangat sibuk, dan kami berpikir kamu keliru karena sering mengganggunya.” Pemuda itu menjawab, “Saya memegang perkataannya, dan baginda selalu senang membantu saya!”
Allah kita sama seperti raja itu—bahkan jauh lebih hebat. Karena begitu kasih dan baik hati-Nya, Dia memperhatikan kebutuhan kita sampai yang terkecil dan menjawab doa kita yang paling sederhana sekalipun. —Poh Fang Chia
Tuhan, aku sungguh kagum karena Engkau—Allah yang menciptakan alam semesta—mengasihiku dan menghendakiku datang kepada-Mu di dalam doa. Terima kasih karena Engkau begitu mengasihiku.
Allah selalu memperhatikan kita.

Friday, January 1, 2016

Bisa Jadi Tahun Ini

Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan . . . menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. —1 Tesalonika 4:17
Bisa Jadi Tahun Ini
Ayah saya adalah seorang pendeta, dan pada hari Minggu pertama di setiap tahun baru, ia selalu berkhotbah tentang kedatangan Kristus dan biasanya mengutip dari 1 Tesalonika 4. Inti khotbahnya selalu sama: “Bisa jadi tahun ini, Yesus akan datang kembali. Sudah siapkah kamu bertemu dengan-Nya?” Saya tidak akan pernah melupakan khotbah yang saya dengar saat berusia 6 tahun itu. Sembari mendengarkan, saya berpikir: Jika itu benar, aku tidak yakin apakah aku termasuk di antara orang-orang yang akan Dia jemput.
Saya merasa yakin bahwa orangtua saya akan masuk surga, dan saya juga mau. Jadi, ketika ayah pulang ke rumah setelah melayani di gereja, saya bertanya bagaimana saya bisa yakin akan masuk surga. Ayah membuka Alkitab, membacakan beberapa ayat, dan menjelaskan tentang perlunya saya menerima Juruselamat. Tak perlu banyak waktu untuk meyakinkan saya tentang dosa-dosa saya. Hari itu, ayah pun membimbing saya untuk menerima Kristus. Saya akan selalu berterima kasih kepadanya karena telah menanamkan kebenaran tersebut di dalam hati saya.
Di dunia yang semakin lama semakin kacau, alangkah berbahagianya membayangkan bahwa bisa saja tahun ini Yesus datang kembali. Yang terlebih menghibur dari itu adalah antisipasi bahwa semua orang yang percaya dan menerima keselamatan dari-Nya akan dikumpulkan bersama, dibebaskan dari penderitaan, kesedihan, dan ketakutan yang ada di dunia. Yang terbaik dari seluruhnya, kita akan bersama Tuhan selama-lamanya! —Joe Stowell
Tuhan, ingatkan aku selalu tentang kedatangan-Mu yang pasti akan terjadi. Terima kasih untuk kepastian bahwa bukan dunia ini yang akan kami miliki melainkan kekekalan indah yang menanti semua yang percaya kepada-Mu.
Mungkin hari ini! —Dr. M. R. De Haan
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate