Pages - Menu

Tuesday, June 30, 2020

Mengarungi Jeram Kehidupan

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.—Mazmur 32:8
Mengarungi Jeram Kehidupan
“Semua yang di sisi kiri, dayung maju kuat-kuat!” teriak pemandu rakit arung jeram kami. Mereka yang duduk di sisi kiri mengayuh hingga rakit kami dapat menjauhi pusaran air yang bergolak. Selama beberapa jam, kami belajar pentingnya mendengarkan instruksi pemandu. Suaranya yang tegas menolong kami berenam yang tidak berpengalaman untuk bekerja sama mencari jalur yang tepat agar jeram itu dapat kami lalui dengan aman.
Kehidupan ini juga mengandung jeram-jeram yang berarus deras. Adakalanya kita mengarungi kehidupan dengan tenang. Namun, dalam sekejap, kita didesak untuk mendayung sekuat tenaga agar bisa lepas dari pusaran air yang kuat. Saat-saat menegangkan itu membuat kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan pemandu yang terampil dengan suara yang bisa dipercaya untuk membantu kita berlayar di tengah arus kehidupan yang bergelora.
Dalam Mazmur 32, Allah berjanji untuk menjadi suara itu: “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh” (ay.8). Kita bisa membaca di ayat-ayat sebelumnya bahwa sikap mengakui pelanggaran-pelanggaran kita (ay.5) dan sungguh-sungguh berdoa mencari-Nya (ay.6) sangatlah penting agar kita dapat mendengar suara-Nya. Namun, saya semakin terhibur karena Allah telah berjanji, “Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu”(ay.8). Ayat ini mengingatkan bahwa bimbingan-Nya keluar sebagai bentuk kasih-Nya. Di akhir pasal, pemazmur menyimpulkan, “orang percaya kepada Tuhan dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (ay.10). Ketika kita mempercayai-Nya, kita dapat mengandalkan janji-Nya untuk membimbing kita melewati jalan kehidupan yang terjal dan berliku.—ADAM HOLZ
WAWASAN
Mazmur 32 merupakan satu dari tujuh mazmur penyesalan (selain Mazmur 6; 38; 51; 102; 130; 143)—disebut demikian karena memuat pengakuan dosa dan permohonan belas kasihan serta pengampunan Allah. Banyak ahli percaya bahwa Daud menulis Mazmur 32 setelah ia berzina dengan Batsyeba. Selama kira-kira satu tahun setelahnya, Daud tidak mau bertobat dari dosa mengingini milik orang lain, berzina, menipu, memberi kesaksian palsu, dan membunuh. Kemudian, Nabi Natan datang dan menegurnya (2 Samuel 11–12).
Dalam Mazmur 32, Daud berbicara tentang beban rasa bersalah yang ia rasakan saat menyangkali dosa-dosanya (ay.3-4), perasan sukacitanya menerima pengampunan Allah setelah ia mengakui semua dosanya dan bertobat (ay.5), dan kerelaan hidupnya dipimpin oleh Allah (ay.7-11). Daud menunjukkan betapa berbedanya kebahagiaan orang yang bertobat (ay.1-2) dengan kesengsaraan batin orang yang menolak mengakui dosanya (ay.3-5). —K.T. Sim
Situasi apa dalam hidupmu saat ini yang membuatmu merasa seperti sedang mengarungi jeram yang berarus kencang? Bagaimana caramu mencari suara Allah yang membimbingmu untuk menanggapi segala kesulitan tersebut dengan benar?
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau berjanji menjadi Pemanduku. Tolonglah aku menemukan-Mu dan sungguh-sungguh mendengarkan suara-Mu ketika Engkau memimpin jalan hidupku.

Monday, June 29, 2020

Silakan Bertanya

Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya. —Yesaya 65:24
Silakan Bertanya
Dokter menyatakan bahwa retinanya yang terlepas tidak bisa lagi diperbaiki. Namun, setelah hidup tanpa penglihatan selama lima belas tahun—belajar huruf Braille, memakai tongkat dan dituntun oleh anjing yang khusus melayani orang buta—kehidupan seorang wanita asal Montana berubah drastis ketika suaminya mengajukan pertanyaan sederhana kepada dokter mata lain: “Apakah mata isteri saya bisa disembuhkan?” Jawabannya adalah ya. Sang dokter menemukan ternyata wanita itu hanya mengalami katarak, suatu gangguan mata yang umum, dan kemudian melakukan pengangkatan lapisan katarak yang menyelubungi mata kanannya. Ketika perban matanya dibuka keesokan harinya, penglihatan wanita itu kembali pulih dan normal. Operasi berikutnya terhadap mata kirinya juga berjalan sukses.
Sebuah pertanyaan sederhana juga telah mengubah kehidupan Naaman, seorang panglima besar yang menderita penyakit kusta. Dalam kesombongannya, Naaman sempat marah dan menolak perintah Nabi Elisa untuk “mandi tujuh kali dalam sungai Yordan” agar tubuhnya pulih kembali (2 Raj. 5:10). Namun, pegawai-pegawai Naaman mengajukan pertanyaan sederhana kepada sang panglima: “Seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya?” (ay.13). Setelah berhasil diyakinkan, Naaman akhirnya membenamkan dirinya “lalu pulihlah tubuhnya kembali . . . dan ia menjadi tahir” (ay.14).
Dalam hidup kita, seringkali kita bergumul dengan suatu persoalan karena kita tidak mau bertanya kepada Allah. Maukah Engkau menolongku? Haruskah aku melangkah? Maukah Engkau menuntunku? Allah tidak membutuhkan pertanyaan-pertanyaan rumit untuk turun tangan menolong kita. “Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya,” janji Allah kepada umat-Nya (Yes. 65:24). Jadi, hari ini, silakan bertanya kepada-Nya. —PATRICIA RAYBON
WAWASAN
Sungai Yordan, tempat Naaman disuruh “mandi tujuh kali” (2 Raja-Raja 5:10), adalah sumber air utama di Timur Dekat kuno dan merupakan sungai paling terkenal di Alkitab. Mencairnya salju Gunung Hermon di utara menjadi sumber air utama bagi sungai yang berkelok-kelok sejauh 251 kilometer itu, dengan air yang mengalir menuju Laut Galilea hingga terus ke Laut Mati tanpa bisa mengalir lagi ke luar. Yosua 3 mencatat terbelahnya air Sungai Yordan sehingga orang Israel dapat masuk ke Tanah Perjanjian. Dua kali airnya terbelah dalam 2 Raja-Raja 2 ketika dipukul dengan jubah Elia (ay.8,14). Dalam Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis membaptis orang yang percaya kepada Yesus dan bahkan Kristus sendiri, di Sungai Yordan ini (Matius 3:6,13-17). —Arthur Jackson
Seberapa rumitkah doa-doamu? Masalah hidup apa saja yang dapat kamu tanyakan kepada Allah dalam doa yang sederhana?
Bapa surgawi yang terkasih, ketika hidup terasa rumit dan sulit, aku bersyukur Engkau berjanji mendengar doa-doaku yang sederhana.

Sunday, June 28, 2020

Harapan Pertobatan

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.—Kisah Para Rasul 2:21
Harapan Pertobatan
Rasanya mustahil lelaki itu bisa bertobat. Berbagai tindak pidana telah diperbuatnya, termasuk delapan penembakan (yang menewaskan enam orang), dan memicu sekitar 1,500 peristiwa kebakaran yang meneror kota New York pada dekade 1970-an. Ia meninggalkan pesan di setiap lokasi kejadian untuk mengejek polisi, dan ketika tertangkap, ia pun dijatuhi hukuman penjara dua puluh lima tahun hingga seumur hidup untuk setiap pembunuhan yang ia lakukan.
Namun, Allah berkarya meraih orang itu. Kini, lelaki tersebut adalah seorang pengikut Kristus yang rajin membaca Kitab Suci setiap hari. Ia juga mengungkapkan penyesalan mendalam kepada seluruh keluarga korban kejahatannya dan terus berdoa untuk mereka. Meski sudah dipenjara lebih dari empat dekade, lelaki yang dahulu kelihatannya mustahil bertobat itu menemukan harapan di dalam Allah dan menyatakan: “Kuperoleh kebebasanku dalam satu kata: Yesus.”
Dalam Alkitab juga ada kisah pertobatan yang hampir sama mustahilnya. Sebelum bertemu dengan Kristus yang bangkit di jalan menuju Damaskus, Saulus (yang kemudian menjadi Rasul Paulus) sangat “berkobar-kobar . . . untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan” (Kis. 9:1). Namun, hati dan kehidupan Paulus diubah oleh Tuhan Yesus (ay.17-18), dan ia pun kemudian menjadi salah seorang saksi Kristus yang paling tangguh dalam sejarah. Orang yang pernah merencanakan kematian orang-orang Kristen itu kemudian justru mengabdikan hidupnya untuk mengabarkan Injil sumber pengharapan.
Pertobatan selalu merupakan karya Allah yang ajaib. Tidak semua pertobatan berlangsung dramatis, tetapi kebenaran yang mendasarinya tetap sama: tidak seorang pun dari kita layak memperoleh pengampunan-Nya, tetapi Yesus adalah Juruselamat yang penuh kuasa! Dia “menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah” (Ibr. 7:25).—JAMES BANKS
WAWASAN
Ketika Saulus tengah dalam perjalanan menuju Damsyik, Yesus berbicara kepadanya lewat sinar terang dari surga. Sesudahnya, ia buta selama 3 hari (Kisah Para Rasul 9:8-9). Tidak ada penjelasan mengapa Saulus buta. Mungkin itu merupakan akibat terangnya sinar, atau bisa juga peristiwa supernatural. Namun, yang menarik adalah penglihatannya dipulihkan melalui Ananias. Meski Allah yang menyebabkan ia buta, tetapi Dia memilih menyembuhkan Saulus melalui seseorang. Terkadang Allah berkarya dengan cara-cara yang tidak terduga. —J.R. Hudberg
Apakah kamu mengenal seseorang yang tampaknya sulit sekali bertobat? Tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah! Bawalah orang itu ke hadapan-Nya dalam doa.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau begitu mengasihi kami sehingga rela mati untuk membawa kami lebih dekat dengan-Mu.

Saturday, June 27, 2020

Cinta yang Diwariskan

Aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois . . . ibumu Eunike dan . . . yang hidup juga di dalam dirimu.—2 Timotius 1:5
Cinta yang Diwariskan
Putri saya sangat menyukai novel detektif remaja Nancy Drew. Selama tiga minggu terakhir, ia sudah membaca setidaknya selusin novel tentang gadis detektif itu. Kecintaannya pada cerita-cerita detektif menurun dari kecintaan saya dan ibu saya terhadap kisah Nancy Drew. Bahkan, serial novel bersampul biru yang dibaca ibu saya pada dekade 1960-an masih terpajang rapi di lemari bukunya.
Menyadari bahwa kecintaan seperti itu diwariskan, saya pun berpikir-pikir apa lagi yang sebenarnya saya turunkan kepada anak saya. Dalam suratnya yang kedua, Paulus menulis bahwa setiap kali teringat pada Timotius, ia teringat pula pada iman “tulus ikhlas” yang dimiliki nenek dan ibu Timotius. Selain soal kecintaan pada kisah-kisah misteri, saya berharap putri saya juga mewarisi iman—bahwa kelak ia juga akan “melayani” seperti kakek-neneknya, bahwa ia akan tekun berdoa, dan bahwa ia akan terus berpegang pada “janji tentang hidup dalam Kristus Yesus” (2 Tim. 1:1).
Saya juga melihat adanya harapan bagi mereka yang orangtua atau kakek-neneknya tidak mengenal Tuhan Yesus. Meski ayah Timotius tidak disebutkan, Paulus menyebut Timotius sebagai “anak[-nya] yang kekasih” (ay.2). Orang-orang dengan latar belakang keluarga yang tidak mengenal Kristus masih dapat memiliki orangtua dan kakek-nenek rohani di gereja—yaitu orang-orang yang menolong kita memahami jalan hidup dalam “panggilan kudus” (ay.9) agar kita menerima karunia “kekuatan, kasih dan ketertiban” dari Allah (ay.7). Syukur kepada Allah, kita semua telah menerima warisan yang indah. —Amy Peterson
WAWASAN
Dalam tulisan Paulus yang dikenal sebagai surat terakhirnya, sang rasul terdengar hangat dan akrab meskipun ia pasti menyadari bahwa sebentar lagi ia akan dihukum mati. Setelah memuji nenek dan ibu Timotius, Paulus menyinggung air mata anak rohaninya (2 Timotius 1:4). Apakah yang menyebabkan Timotius menangis? Kita tidak tahu pasti, tetapi kemungkinan Timotius sedih ketika mereka berpisah sebelumnya. Begitu juga ketika Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada sekelompok orang percaya di Miletus (lihat Kisah Para Rasul 20:37-38). Para pengikut Yesus itu tahu bahwa mereka tidak akan bertemu lagi dengan Paulus. Namun, sang rasul berharap bisa bertemu lagi dengan Timotius dalam hidupnya. Dalam komentar penutupnya, ia menulis, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku” (2 Timotius 4:9)—suatu kerinduan yang manusiawi dan mengharukan dari seorang tahanan yang sudah lansia. —Tim Gustafson
Pelajaran apa saja yang kamu petik dari para leluhur iman kita? Bagaimana kamu dapat berjuang untuk mewariskan iman kepada anak-anakmu sendiri atau orang-orang di gerejamu?
Bapa surgawi, aku bersyukur karena Engkau menyelamatkan aku dengan kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Tolonglah aku mewariskan anugerah serta kebenaran Injil yang telah kuterima ini kepada generasi berikutnya.

Friday, June 26, 2020

Berdetak Kembali

Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku!—Hakim-Hakim 5:21
Berdetak Kembali
Pada tahun 2012, grup vokal Phillips, Craig and Dean merilis lagu berjudul “Tell Your Heart to Beat Again” (Mintalah Jantungmu Berdetak Lagi). Lagu itu terinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh seorang dokter bedah jantung. Setelah mengoperasi jantung seorang pasien, dokter bedah itu memasukkan jantung itu kembali ke dada sang pasien lalu memijatnya perlahan agar kembali berdenyut. Namun, jantung itu tidak juga berdenyut. Berbagai upaya yang lebih kuat dilakukan tetapi jantung itu tidak juga berdenyut. Akhirnya, sang dokter berlutut di samping pasien yang belum sadar itu dan berkata: “Nona Johnson, ini dokter bedahmu. Operasi berjalan baik dan jantungmu sudah diperbaiki. Sekarang mintalah jantungmu berdetak lagi.” Jantung itu pun kemudian berdenyut kembali.
Pemikiran bahwa kita bisa meminta organ jantung kita melakukan sesuatu mungkin kedengarannya aneh, tetapi sebenarnya hal ini memiliki hubungan spiritual. Pemazmur pernah berkata kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!” (Mzm. 42:6). Di bagian lain, pemazmur juga berkata, “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu” (Mzm. 116:7). Setelah mengalahkan musuh-musuh Israel di medan perang, Debora, seorang hakim, mengungkapkan bagaimana ia juga berbicara kepada hatinya ketika peperangan berlangsung. “Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku!” (Hak. 5:21) karena Tuhan telah menjanjikan kemenangan (4:6-7).
Tabib Agung kita yang Mahakuasa sudah memulihkan hati kita (Mzm. 103:3). Jadi, apabila rasa takut, depresi, atau kecemasan datang, mungkin kita juga perlu berkata kepada jiwa kita: Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku! Oh hatiku yang lemah, jadilah kuat kembali! —Sheridan Voysey
WAWASAN
Bacaan hari ini (Hakim-Hakim 5:19-21) adalah bagian dari Nyanyian Debora (ay.1-31), yang dinyanyikan oleh Debora dan Barak setelah mereka menang atas orang Kanaan (4:23-24). Kita pertama kali membaca tentang Debora dalam Hakim-Hakim 4. Ia seorang nabiah, istri Lapidot, dan seorang hakim (satu-satunya hakim perempuan dalam kitab Hakim-Hakim) yang menyelesaikan banyak pertikaian di antara orang Israel (ay.4-5). Ia melayani pada waktu orang Israel, lagi-lagi, “melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN,” ditindas, lalu berseru kepada Allah (ay.1-3). Dalam hal ini, Yabin raja Kanaan, telah 20 tahun menindas orang Israel. Debora sedang bersidang ketika ia memanggil Barak (anak Abinoam dari Kedesh di Naftali) dan memberikan perintah Allah kepadanya untuk mempersiapkan pasukan tentara untuk menyerang Sisera, komandan tentara Yabin. Barak setuju, dengan syarat Debora menemaninya. Debora setuju dan tentara Sisera berhasil dikalahkan. —Alyson Kieda
Apa yang kamu pikirkan saat membaca kata-kata yang diucapkan oleh dokter bedah itu kepada pasiennya? Ayat-ayat Kitab Suci apa saja yang perlu kamu ucapkan kepada jiwamu hari ini?
Ya Tabib yang Ajaib, terima kasih karena Engkau selalu menyertaiku dalam setiap ujian dan pergumulan. Karena Engkau berjanji selalu menyertaiku, aku akan mengarahkan jiwaku untuk berani bertindak.

Thursday, June 25, 2020

Iman yang Berakar Kuat

Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti.—Matius 13:23
Iman yang Berakar Kuat
Sebatang pohon ek tua telah berdiri tegak di samping gereja Presbyterian Basking Ridge di New Jersey selama lebih dari enam ratus tahun sebelum akhirnya dipindahkan. Di masa jayanya, dahan-dahannya yang terpilin satu sama lain membentang tinggi dan jauh. Angin sepoi-sepoi bergemerisik di sela-sela dedaunan hijau dan biji-bijinya. Sinar matahari mengintip dari celah-celah daun yang tertiup angin hingga menghasilkan kedipan cahaya yang menari-nari di bawah naungannya yang rindang. Namun, keagungan sejati dari pohon ek itu terletak di bawah tanah, yaitu pada jaringan akarnya. Akar utama pohon ek tumbuh secara vertikal, sehingga selalu tersedia asupan makanan. Dari akar tunggang tersebut menjulur akar-akar lain secara horisontal untuk memasok cairan dan nutrisi bagi pohon itu. Sistem akar yang rumit itu seringkali tumbuh jauh lebih besar daripada pohon yang disangganya dan berfungsi untuk menopang kehidupan serta memberikan keseimbangan bagi batang pohon.
Seperti pohon ek yang gagah itu, sebagian besar pertumbuhan hidup kita terjadi di bawah permukaan. Ketika Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang penabur kepada murid-murid-Nya, Dia menekankan pentingnya berakar kuat dalam hubungan pribadi dengan Allah Bapa. Roh Kudus menjaga akar iman kita seiring dengan pengenalan kita akan Allah yang bertambah-tambah melalui penyingkapan Kitab Suci. Allah menolong umat-Nya bertumbuh melewati berbagai keadaan, pencobaan, penganiayaan, dan kekhawatiran (Mat. 13:18-23).
Allah Bapa yang penuh kasih memelihara hati kita dengan firman-Nya. Seiring perubahan karakter yang dikerjakan Roh-Nya, Dia memastikan buah dari iman kita yang berakar kuat terlihat nyata bagi orang lain di sekitar kita.—Xochitl Dixon
WAWASAN
Tidak seperti para pengajar hukum, Yesus mengajar dengan hikmat dan otoritas (Markus 1:22; 6:2; Lukas 4:32) dan sering memakai perumpamaan (Markus 4:2). Markus mengatakan bahwa “tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri” (4:34).
Matius 13 memuat delapan perumpamaan (penabur, lalang, biji sesawi, ragi, harta tersembunyi, mutiara, pukat, dan nabi yang tidak dihormati). Ayat 10-17 menjelaskan bahwa Yesus berbicara lewat perumpamaan untuk memisahkan pengikut-pengikut-Nya yang sejati dari mereka yang bukan pengikut sejati. —K.T. Sim
Apa yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk memastikan hatimu menjadi tanah yang baik bagi bertumbuhnya firman Allah? Buah apa yang dihasilkan oleh imanmu yang berakar kuat dalam hidupmu selama setahun terakhir?
Ya Bapa penuh kasih, ubahlah kami mulai dari batin kami dan topanglah kami lewat iman yang berakar kuat dalam Kitab Suci yang tak pernah berubah.

Wednesday, June 24, 2020

Penghapusan Utang

[Yesus Kristus] mengasihi kita dan . . . telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.—Wahyu 1:5
Penghapusan Utang
Terperangah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan reaksi para hadirin di acara wisuda Morehouse College di Atlanta, Georgia. Pembicara yang berpidato dalam acara itu mengumumkan bahwa ia dan keluarganya akan mendonasikan jutaan dolar kepada kampus untuk menghapuskan pinjaman biaya pendidikan yang ditanggung seluruh mahasiswa yang diwisuda hari itu. Seorang mahasiswa dengan pinjaman sejumlah $100.000 menjadi salah satu wisudawan yang terkejut dan meluapkan kegembiraannya dengan menangis serta bersorak-sorai.
Sebagian besar dari kita pernah berutang dalam berbagai bentuk—baik berupa cicilan rumah, kendaraan, biaya pendidikan, pengobatan, dan lain-lain. Namun, kita pasti pernah mengalami betapa leganya menerima tanda bukti pembayaran yang dicap “LUNAS”!
Setelah menyatakan Yesus sebagai “Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini,” Yohanes dengan penuh syukur mengakui karya Yesus yang menghapus utang dosa manusia: “Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya” (Why. 1:5). Pernyataan ini sederhana tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Yang lebih menggembirakan daripada pengumuman mengejutkan yang didengar para wisudawan tadi adalah kabar baik tentang kematian Yesus (pencurahan darah-Nya di kayu salib) yang membebaskan kita dari hukuman yang layak kita terima akibat perbuatan, hasrat, dan tindakan kita yang berdosa. Karena utang dosa itu telah dibayar sepenuhnya oleh Kristus, mereka yang percaya kepada Dia akan diampuni dan menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah (ay.6). Sungguh, itulah kabar terbaik yang pernah ada!—ARTHUR JACKSON
WAWASAN
Penggambaran Yohanes tentang Sang Anak yang ditikam itu “datang dengan awan-awan” (Wahyu 1:7) menggabungkan dua nubuat kuno yang meninggikan Kristus yang telah bangkit sebagai Allah “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (ay.8). Nubuat pertama disampaikan oleh Nabi Daniel yang menubuatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia dan kepadanya diberikan pemerintahan kekal atas seluruh umat dan bangsa (Daniel 7:13-14). Nubuat yang kedua diucapkan oleh Nabi Zakharia yang menubuatkan bahwa suatu hari nanti, penduduk Yerusalem akan memandang kepada “dia yang telah mereka tikam, dan . . . akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung” (Zakharia 12:10). Oleh Yohanes penglihatan yang didapat oleh Zakharia itu berkembang hingga ke luar Israel ketika ia mengatakan bahwa ketika Sang Anak yang ditikam itu dinyatakan dalam awan-awan kemuliaan, “semua bangsa di bumi akan meratapi Dia” (Wahyu 1:7). —Mart DeHaan
Apabila kamu belum menerima pengampunan melalui iman kepada Kristus, apa yang menghalangimu menerima anugerah-Nya yang cuma-cuma itu? Kapan terakhir kali kamu mengucap syukur kepada Allah atas pengampunan dan hidup baru dari-Nya?
Tuhan Yesus, terima kasih atas kematian-Mu yang menghapuskan utang dosaku; aku bersyukur!

Tuesday, June 23, 2020

Meremehkan Diri Sendiri

Berkatalah Samuel kepada Saul: “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?”—1 Samuel 15:17
Meremehkan Diri Sendiri
Pemuda itu menjadi kapten timnya. Klub olahraga profesional itu kini dipimpin oleh seorang anak muda yang masih hijau. Konferensi pers pertamanya berjalan kurang meyakinkan. Ia terkesan tunduk begitu saja kepada kemauan pelatih dan rekan-rekan satu timnya, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan klise seperti berjanji akan bermain sebaik mungkin. Timnya tampil buruk pada musim itu, dan di akhir musim, kapten muda itu pun dijual ke klub lain. Ia tidak memahami bahwa dirinya telah diberi otoritas untuk memimpin, atau mungkin ia sendiri tidak yakin mampu melakukannya.
Karena kegagalan-kegagalannya, Saul memandang dirinya sendiri “kecil” (1 Sam. 15:17)—ironis sebenarnya, karena Saul digambarkan berperawakan tinggi. Rata-rata tinggi orang Israel hanya sampai pundak Saul (9:2). Namun, bukan begitu ia memandang dirinya. Dalam pasal 15 ini, ia bahkan mencoba begitu keras untuk merebut hati rakyatnya. Ia tidak sepenuhnya memahami bahwa Allah sendiri dan bukan manusia yang telah memilih dan menugasinya.
Namun, kesalahan Saul merupakan gambaran kegagalan setiap manusia: kita bisa saja lupa bahwa kita diciptakan seturut gambar dan rupa Allah supaya kita menjadi wakil-Nya, dan akhirnya menyalahgunakan otoritas kita hingga menyebabkan kehancuran di dunia. Untuk memulihkannya, kita perlu kembali kepada Allah: mengizinkan Bapa menegaskan identitas kita oleh kasih-Nya, mengizinkan-Nya memenuhi kita dengan Roh Kudus, dan mengizinkan Yesus mengutus kita ke tengah-tengah dunia.—GLENN PACKIAM
WAWASAN
Samuel adalah hakim terakhir yang memerintah atas orang Israel. Ketika ia sudah lanjut usia, umat menolaknya dan minta agar ia digantikan oleh seorang raja untuk memerintah mereka, sama seperti bangsa-bangsa lain (1 Samuel 8:5,19-20). Permintaan itu membuat Samuel dan Allah, yang tadinya menginginkan orang Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain, tidak senang (ay.6). Namun, Allah memenuhi permintaan mereka dan mengakui bahwa orang Israel sedang menolak Dia, bukan Samuel (ay.7-9). Samuel mengurapi Saul sebagai raja (ps.9; 11:12-15); tetapi kemudian Allah menolak Saul karena ketidaktaatannya (13:13; ps.15). Saul digantikan oleh Daud, “seorang yang berkenan di hati [Allah]” (13:14). —Julie Schwab
Tugas apa yang Allah berikan kepadamu, yang rasanya tidak sanggup kamu lakukan? Mengapa sangat penting memiliki identitas yang didasarkan pada kebenaran firman Allah?
Ya Bapa, berilah aku mata untuk memandang diriku sebagaimana Engkau memandangku, dan anugerahiku kasih karunia untuk melakukan panggilan yang Engkau percayakan kepadaku dengan setia.

Monday, June 22, 2020

Mata yang Tertuju kepada Kekekalan

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan.—2 Korintus 4:18

Mata yang Tertuju kepada Kekekalan

Teman saya, Madeline, berdoa agar anak-cucunya memiliki “mata yang tertuju kepada kekekalan”. Keluarganya pernah mengalami pergumulan berat yang berakhir dengan kematian putrinya. Di tengah kedukaan berat yang mereka rasakan, Madeline berharap agar pandangan mereka tidak terbatas pada apa yang sedang dihadapi hingga tenggelam dalam kepedihan hidup di dunia ini. Ia rindu mereka memandang jauh ke depan dengan penuh pengharapan kepada Allah yang penuh kasih.

Rasul Paulus dan rekan-rekan pelayanannya pernah mengalami penderitaan hebat di tangan para penganiaya, termasuk dari saudara-saudara seiman yang mencoba menjatuhkan mereka. Namun, mereka mengarahkan pandangan mereka kepada kekekalan. Paulus berani menyatakan, “kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor. 4:18).

Walaupun melakukan pekerjaan Tuhan, pada kenyataannya hidup mereka “ditindas”, “habis akal”, “dianiaya”, dan “dihempaskan” (ay.8-9). Tidakkah Allah seharusnya melepaskan mereka dari semua persoalan itu? Namun, alih-alih menjadi kecewa, Paulus justru melandaskan pengharapannya pada “kemuliaan kekal” yang melebihi segala kesulitan yang sifatnya sementara (ay.17). Ia tahu kuasa Allah sedang bekerja di dalam dirinya dan yakin penuh bahwa “Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus” (ay.14).

Saat dunia di sekitar kita berguncang, pandanglah kepada Allah—Gunung Batu kekal yang takkan pernah tergoyahkan.—ESTERA PIROSCA ESCOBAR

WAWASAN
Paulus tidak asing lagi dengan yang namanya pergumulan dan kesukaran. Ia sendiri pernah mengalami banyak hal—kebutaan, difitnah, dihajar, dilempari batu, kapal karam, dipenjara, dan puncaknya, dihukum mati karena Yesus. Dalam 2 Korintus 4:8-9, Paulus menggunakan empat pasang gagasan— masing-masing dihubungkan dengan frasa “namun tidak”—untuk mengungkapkan kesulitan yang mungkin kita alami ketika kita memilih mengikut Yesus sekaligus juga pengharapan iman kita. “Kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Walaupun mungkin kita mengalami kesulitan atau aniaya, tidak ada yang dapat menghancurkan pengharapan kekal yang kita miliki di dalam Kristus. —J.R. Hudberg

Di tengah kesulitan yang melanda, pada hal apa kamu menggantungkan pengharapanmu? Bagaimana kamu telah mengalami kasih setia Tuhan?

Aku mengarahkan mataku hari ini, kepada-Mu ya Allah. Izinkan aku mengalami kembali rasa aman yang kumiliki di dalam-Mu.

Sunday, June 21, 2020

Seseorang dari Kelas Satu

[Jadilah] kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.—1 Timotius 6:18

Seseorang dari Kelas Satu

Kelsey berjalan melewati lorong pesawat yang sempit sambil menggendong putrinya yang berusia sebelas bulan, Lucy, dan menjinjing mesin oksigen yang membantu pernapasan Lucy. Mereka menempuh perjalanan untuk mengobati penyakit paru-paru kronis yang diderita oleh sang bayi. Tak lama setelah duduk bersama di sebuah kursi, seorang pramugari menghampiri mereka dan berkata bahwa ada seorang penumpang kelas satu yang ingin bertukar kursi dengan Kelsey dan putrinya. Sambil menangis penuh syukur, Kelsey kembali berjalan melewati lorong pesawat menuju tempat duduk yang lebih besar, sementara penumpang yang baik hati tersebut pindah ke tempat duduknya.

Dermawan dalam kisah Kelsey tadi menunjukkan kemurahan hati yang dianjurkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius. Paulus meminta Timotius mengajari jemaat yang dilayaninya dengan perintah agar mereka “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi“ (1 Tim. 6:18). Menurut Paulus, manusia cenderung menjadi tinggi hati dan berharap pada kekayaan dunia ini. Sebagai gantinya, ia menyarankan agar kita memusatkan perhatian kita untuk hidup dengan murah hati dan rela melayani orang lain, yaitu dengan menjadi “kaya” dalam perbuatan baik, seperti seseorang dari kursi kelas satu dalam penerbangan yang ditempuh Kelsey tadi.

Baik kita hidup berkelimpahan atau berkekurangan, kita semua dapat mengalami kekayaan hidup dalam kemurahan hati lewat kerelaan membagikan apa yang kita miliki dengan orang lain. Ketika kita melakukannya, Paulus berkata bahwa kita akan “mencapai hidup yang sebenarnya” (ay.19).—Kirsten Holmberg

WAWASAN
Paulus pernah memperingatkan para tua-tua agar waspada terhadap guru-guru palsu (Kisah Para Rasul 20:29) yang menyusup ke jemaat di Efesus dan menyesatkan banyak orang percaya. Akibatnya, banyak hubungan retak; persekutuan dan ibadah terganggu. Paulus meminta Timotius menolong mengembalikan orang-orang percaya di Efesus ke jalan yang benar, dan menulis surat ini kepadanya untuk membantunya dalam tugas kepemimpinan yang sulit ini (1 Timotius 1:3). Timotius harus tegas berurusan dengan guru-guru palsu (1:3-20; 4:1-16; 6:3-20), menguatkan kepemimpinan dengan menunjuk orang-orang saleh untuk menjadi tua-tua dan diaken-diaken (3:1-12), serta mengajar para anggota bagaimana caranya berhubungan satu sama lain (2:1-12; 3:14-16; 5:1–6:2). Di bagian terakhir suratnya, Paulus mendorong Timotius untuk menegur jemaat tentang masalah harta. Orang percaya harus belajar mencukupkan diri agar terhindar dari ketamakan (6:6-10), dan ia perlu memperingatkan jemaat yang kaya agar tidak sombong atau mengandalkan kekayaan mereka, melainkan dengan murah hati memakai harta mereka untuk menolong orang lain (ay.17-19). —K.T. Sim

Siapakah yang “suka memberi dan membagi” denganmu? Dengan siapa kamu dapat bermurah hati dan berbagi hari ini?

Ya Allah, berikanlah aku jiwa yang murah hati sembari aku terus berharap hanya kepada-Mu.

Saturday, June 20, 2020

Apakah Tuhan Menyertai?

Aku hendak menanti-nantikan Tuhan . . . aku hendak mengharapkan Dia.—Yesaya 8:17

Apakah Tuhan Menyertai?

Lela sedang berada di ambang kematian karena penyakit kanker, dan suaminya, Timothy, tidak mengerti mengapa Allah yang penuh kasih membiarkan istrinya menderita. Istrinya sudah lama melayani Tuhan sebagai guru Alkitab dan pembimbing bagi banyak orang. “Mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi?” serunya. Meski demikian, Timothy tetap setia beriman kepada Allah.

“Jadi, mengapa kau tetap percaya kepada Tuhan?” saya bertanya kepadanya dengan terus terang. “Apa yang membuatmu tidak lantas berpaling dari-Nya?”

“Karena apa yang telah terjadi sebelumnya,” jawab Timothy. Meskipun saat ini tidak bisa “melihat” Allah, ia ingat masa-masa ketika Allah pernah menolong dan melindunginya. Hal-hal tersebut merupakan tanda bagi Timothy bahwa Allah masih menyertai dan menjaga keluarganya. “Saya tahu bahwa Allah yang saya percayai akan bekerja dengan cara-Nya sendiri,” jawabnya.

Perkataan Timothy tersebut menggemakan ungkapan iman Yesaya dalam Yesaya 8:17. Di saat Yesaya tidak dapat merasakan kehadiran Allah di tengah pergumulan bangsanya menyiapkan diri terhadap serangan musuh, ia tetap “menanti-nantikan Tuhan.” Ia percaya kepada Allah karena berbagai tanda yang pernah diberikan Allah menegaskan kehadiran-Nya yang terus-menerus (ay.18).

Adakalanya kita merasa seolah-olah Allah tidak menyertai kita di masa-masa sukar. Pada saat itulah kita bergantung pada apa yang bisa kita saksikan lewat karya-karya-Nya dalam hidup kita, baik di masa lalu maupun di masa kini. Semua itu menjadi pengingat yang terlihat dari Allah yang tidak terlihat—Allah yang selalu menyertai kita dan menjawab kita seturut waktu dan cara-Nya. —Leslie Koh

WAWASAN
Konteks komitmen Yesaya untuk “menanti-nantikan TUHAN” (Yesaya 8:17) adalah peringatan nubuatan bagi Raja Ahas, dalam periode waktu yang disebut sebagai perang Yehuda vs Aram. Israel dan Aram (zaman sekarang Suriah) berperang melawan kerajaan Yehuda untuk menekan Yehuda agar bergabung dalam aliansi melawan Asyur (7:1-2). Raja Ahas dari Yehuda menolak dan malah mempertimbangkan kemungkinan bersekutu dengan Asyur.
Dalam Yesaya 8, Yesaya memperingatkan Ahas bahwa seandainya ia mengandalkan aliansi dengan Asyur dan bukan dengan Allah, Allah akan membiarkan umat-Nya ditaklukkan oleh Asyur (ay.4-7,11-13). Di ayat 18, Yesaya menyebut namanya sendiri dan nama kedua anaknya sebagai tanda yang menunjuk kepada penghakiman sekaligus penebusan Allah yang akan datang. Maher-Syalal-Hash-Bas (8:3) artinya “menjarah dengan cepat” dan Syear-Yasyub (7:3) artinya “yang tersisa akan pulang.” Nama Yesaya sendiri artinya “TUHAN itulah keselamatan”—menunjuk kepada penekanan Yesaya bahwa dalam penghakiman pun, Allah berjanji pada akhirnya akan membawa pemulihan dan kesembuhan bagi umat-Nya. —Monica La Rose

Tanda-tanda apa yang kamu lihat dari karya Allah dalam hidupmu? Bagaimana hal-hal tersebut dapat mengingatkanmu bahwa kamu dapat terus berharap kepada-Nya untuk menerima pengharapan dan penghiburan yang kamu butuhkan?

Ya Bapa, terima kasih karena Engkau selalu menyertaiku. Berilah aku kekuatan untuk mempercayai-Mu bahkan ketika aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Friday, June 19, 2020

Hidup Berkelimpahan

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik.—Yohanes 10:10-11

Hidup Berkelimpahan

Thomas Hobbes, seorang filsuf yang hidup di abad ke-17, pernah menulis bahwa hidup manusia dalam naturnya itu “sendirian, miskin, buruk, kasar, dan singkat.” Menurut Hobbes, insting manusia cenderung ingin berperang sebagai upaya meraih dominasi atas orang lain; karena itulah lembaga pemerintah dibentuk supaya hukum dan ketertiban terpelihara.

Keadaan manusia yang suram itu terdengar seperti gambaran yang diberikan Yesus ketika Dia berkata, “Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok” (Yoh. 10:8). Namun, Yesus menawarkan harapan di tengah keputusasaan. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan,” tetapi kemudian datanglah kabar baik: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (ay.10).

Mazmur 23 memberikan gambaran indah tentang kehidupan yang diberikan Sang Gembala yang baik kepada kita. Di dalam Dia, kita “takkan kekurangan” (ay.1) dan jiwa kita disegarkan (ay.3). Dia menuntun kita di jalan yang benar dari kehendak-Nya yang sempurna, sehingga sekalipun kita menghadapi masa-masa penuh kekelaman, kita tidak perlu takut; karena Dia hadir untuk menghibur kita (ay.3-4). Dia memberikan kemenangan di tengah kesulitan hidup dan melimpahi kita dengan berkat-berkat (ay.5). Kebaikan dan kasih-Nya akan mengikuti kita seumur hidup, dan kita memiliki hak istimewa untuk diam di dalam rumah-Nya selama-lamanya (ay.6).

Kiranya kita menjawab panggilan Sang Gembala dan mengalami hidup berkelimpahan yang kita terima lewat kedatangan-Nya.—Remi Oyedele

WAWASAN
Pada zaman Yesus, para gembala memakai dua macam kandang bagi domba-domba mereka. Di desa, para gembala memelihara domba-domba mereka di kandang gabungan yang bertembok batu dan berpintu gerbang, dan dijaga oleh para penjaga pintu. Di ladang, kandang domba sering kali berupa kandang darurat yang dibuat dari batu, dan sang gembala akan menjaga domba-dombanya dengan tidur melintang di depan bukaan sempit di bagian depan kandang. Dalam Yohanes 10, Yesus memakai gambaran tentang seorang gembala dan domba-dombanya untuk memberi jaminan perlindungan pribadi dari-Nya. Kata Yesus, Dialah “pintu ke domba-domba” (ay.7,9) yang “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (ay.11,15). Kandang domba gabungan pasti menampung banyak kawanan. Namun, ketika gembala memanggil domba-dombanya di antara kawanan yang bercampur baur itu, hanya domba-domba miliknya sendiri yang akan merespons panggilannya. Karena mengenali suara gembalanya, domba-domba itu akan mendekat kepadanya dan mengikutnya keluar dari kandang ke padang rumput (ay.3-5). —K.T. Sim

Bagaimana kamu menggambarkan hidup yang diberikan Yesus lewat kedatangan-Nya? Bagaimana kamu dapat membagikan hidup tersebut dengan orang lain?

Tuhan Yesus, Engkaulah sumber dari hidup sejati yang berkelimpahan. Tolonglah aku mencari kepenuhan hidupku hanya di dalam-Mu.

Thursday, June 18, 2020

Berjalan Lurus

Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.—2 Raja-Raja 22:2

Berjalan Lurus

Dahulu, dibutuhkan mata yang tajam dan tangan yang kuat dari seorang petani untuk mengendarai traktor atau menuai ladang dalam lajur yang lurus. Meski demikian, mata yang paling tajam sekalipun dapat melenceng dari jalur, dan pada akhirnya tangan yang paling kuat sekalipun akan merasa kelelahan. Namun, sekarang ada pengendali kemudi otomatis—sebuah teknologi berbasis GPS (Sistem Penentu Posisi Global) yang memungkinkan traktor bergerak lurus dengan ketepatan hingga dua setengah sentimeter saat melakukan proses menanam, mengolah, dan menyemprot tanah. Sistem yang sangat efisien dan tidak lagi membutuhkan kendali tangan! Petani bisa duduk di dalam kabin traktor yang besar sambil bersantai karena ia tidak lagi perlu mencengkeram setir. Alat yang luar biasa itu menjaga kendaraanmu untuk terus bergerak maju dengan lurus.

Kamu mungkin ingat nama Yosia. Yosia baru berusia delapan tahun waktu diangkat menjadi raja (2 Raj. 22:1). Bertahun-tahun kemudian, di saat Yosia berusia dua puluhan, Imam Besar Hilkia menemukan “kitab Taurat” di rumah Tuhan (ay.8). Kitab Taurat tersebut lalu dibacakan di hadapan sang raja muda, yang kemudian mengoyakkan pakaiannya dalam penyesalan karena nenek moyangnya sudah tidak taat kepada Allah. Yosia bertekad melakukan “apa yang benar di mata Tuhan” (ay.2). Kitab Taurat menjadi alat untuk menjaga bangsa Yehuda untuk tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Semua perintah Allah di dalamnya berguna untuk membawa umat berjalan lurus.

Ketika kita mengizinkan Kitab Suci memimpin kita hari demi hari, hidup kita akan terjaga dalam keselarasan dengan Allah dan kehendak-Nya. Jika ditaati, Alkitab akan menjaga kita untuk terus melangkah maju dengan lurus.—John Blase

WAWASAN
Yosia sang raja muda bukanlah satu-satunya tokoh dalam Alkitab yang begitu tergerak hatinya sehingga mengoyakkan pakaiannya (lihat 2 Raja-Raja 22:11). Praktik ini, yang asing bagi dunia Barat modern, merupakan pertanda kecemasan dan kesesakan besar. Insiden pertama dalam Alkitab tentang seseorang yang mengoyakkan pakaiannya ditemukan dalam Kejadian 37:29 ketika Ruben, anak sulung Yakub, mengoyakkan pakaiannya ketika ia mendapati bahwa ternyata Yusuf, anak kesayangan ayahnya, sudah tiada. Tidak lama setelah itu, Yakub yang tertimpa kesedihan, “mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu” (ay.34). —Arthur Jackson

Apakah membaca Alkitab menjadi bagian dari rutinitas hidupmu sehari-hari? Ayat mana saja yang Allah gunakan untuk menjaga hidupmu agar selalu berada di jalan yang benar?

Ya Allah, Kitab Suci adalah anugerah terindah yang membawa kebenaran dan kebebasan bagi hidup kami. Tolonglah kami agar selalu lapar dan haus akan firman-Mu.

Wednesday, June 17, 2020

Menari bagi Tuhan

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?”—Markus 14:4

Menari bagi Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya dan istri mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil. Di tengah ibadah, seorang wanita mulai menari di lorong ruang kebaktian. Tak lama kemudian beberapa jemaat lain ikut menari bersamanya. Saya dan istri berpandang-pandangan sambil memikirkan hal yang sama: “Kita tidak akan ikutan!” Kami datang dari latar belakang gereja yang beribadah dengan liturgi yang khidmat, sehingga jujur saja, bentuk penyembahan yang berbeda ini membuat kami kurang nyaman.

Namun, kisah tentang “pemborosan” minyak narwastu yang dilakukan oleh Maria dalam Injil Markus menunjukkan bahwa kasih kita kepada Tuhan Yesus bisa saja diungkapkan dalam cara-cara yang akan membuat orang lain merasa tidak nyaman (Mrk. 14:1-9). Minyak yang dicurahkan Maria itu bernilai lebih dari upah kerja selama setahun. Tindakan yang dipandang tidak bijaksana tersebut mengundang cemoohan para murid. Kata yang dipakai Markus untuk menjelaskan reaksi para murid menunjukkan bagaimana mereka mengolok-olok dan memandang rendah Maria. Maria mungkin sempat terperangah dan cemas akan tanggapan Yesus. Namun, Yesus justru memuji dan membela cara Maria memuliakan-Nya dan membelanya di hadapan murid-murid-Nya, karena Dia melihat kasih yang melatarbelakangi perbuatan yang oleh sebagian orang dianggap tidak berguna itu. Dia berkata, “Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (ay.6).

Entah bentuknya informal atau formal, tenang atau riang, setiap penyembahan keluar dari hati yang tulus mengasihi Yesus. Dia sungguh layak menerima segala penyembahan dari setiap hati yang mengasihi-Nya.—David H. Roper

WAWASAN
Markus 13 berakhir dengan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, dan semua orang, untuk berjaga-jaga agar tidak kedapatan sedang tidur ketika Dia kembali (ay.35-36). Pasal 14 memberi kita contoh-contoh kontras tentang apa artinya berjaga-jaga. Ke dalam kisah tentang mereka yang berkonspirasi untuk menyingkirkan Yesus (14:1-2,10-11), Markus menyisipkan kisah tentang seorang perempuan yang menghormati Yesus menjelang kematian-Nya (ay.3-9). Dalam semangatnya mengasihi Yesus, perempuan ini berjaga-jaga, walaupun mungkin ia tidak secara sadar mengetahui bahwa ia sedang mempersiapkan Yesus menghadapi penderitaan (ay.6-9). Di lain pihak, para pemimpin agama tidak tahu bahwa dengan rencana rahasia mereka untuk membunuh Yesus, sesungguhnya mereka, bersama Yudas, justru hendak mengkhianati dan menuntut penyaliban Juruselamat yang telah mereka nantikan sejak lama. Dua hari sebelum hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi, mereka tertidur dalam apa yang oleh Yesus disebut sebagai “ragi” kemunafikan (Lukas 12:1). —Mart DeHaan

Menurutmu, mengapa kita seringkali mengkritik bentuk penyembahan yang dirasa tidak lazim bagi kita? Bagaimana kita dapat mengubah pemikiran kita tentang cara penyembahan yang kurang nyaman bagi kita?

Aku tunduk di hadapan-Mu, Allah Mahakuasa, dan menyembah-Mu saat ini. Engkau sungguh layak menerima pujian dan pengagungan yang tertinggi.

Tuesday, June 16, 2020

Berhala untuk Jaga-Jaga

Mereka mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.—Yeremia 11:10

Berhala untuk Jaga-Jaga

Sam terbiasa memeriksa rekening tabungan hari tuanya dua kali sehari. Ia sudah menabung selama tiga puluh tahun, dan dengan naiknya harga saham, jumlah saldonya sudah cukup untuk membiayai kehidupannya setelah pensiun. Namun, Sam sering khawatir harga sahamnya anjlok sehingga ia merasa harus terus-menerus memeriksa jumlah uang dalam rekeningnya.

Nabi Yeremia telah memperingatkan hal ini: “Sebab seperti banyaknya kotamu demikian banyaknya para allahmu, hai Yehuda, dan seperti banyaknya jalan di Yerusalem demikian banyaknya mezbah yang kamu dirikan untuk membakar korban kepada Baal” (Yer. 11:13).

Penyembahan berhala begitu marak terjadi di antara bangsa Yehuda. Mereka tahu Allah adalah Tuhan. Namun, mengapa mereka masih menyembah allah lain? Alasannya adalah karena mereka ingin berjaga-jaga. Mereka membutuhkan Tuhan untuk kehidupan setelah kematian nanti, sebab hanya Allah sejati yang dapat membangkitkan orang mati. Namun, bagaimana dengan kehidupan saat ini? Ilah-ilah palsu menjanjikan kesehatan, kekayaan, dan kesuburan, jadi apa salahnya berdoa kepada mereka juga untuk jaga-jaga?

Dapatkah kamu melihat penyembahan berhala yang dilakukan oleh bangsa Yehuda juga merupakan godaan bagi kita? Bakat, pendidikan, dan uang memang baik. Namun, jika tidak berhati-hati, bisa jadi kita lebih mengandalkan itu semua. Kita tahu kita akan membutuhkan Allah ketika meninggalkan dunia ini, dan kita juga meminta Dia memberkati kita selama kita hidup. Akan tetapi, kita juga sering berusaha mengandalkan ilah-ilah lain, untuk jaga-jaga.

Di manakah imanmu? Berhala tetaplah berhala. Bersyukurlah kepada Allah atas anugerah-Nya yang berlimpah, dan katakan kepada-Nya bahwa kamu tidak mengandalkan yang lain, melainkan bergantung penuh kepada-Nya.—Mike Wittmer

WAWASAN
Karena penduduk Yehuda tetap bersikeras tidak mau hidup menurut cara Allah dan menolak perintah-perintah-Nya (Yeremia 11:10), Yeremia memperingatkan bahwa Allah akan mendatangkan sebuah bangsa dari jauh untuk menghukum mereka karena ketidaksetiaan mereka yang menyembah berhala (1:14-15; 5:15; 6:22; 25:9). Mereka juga akan dibuang ke Babel selama 70 tahun (25:11). Yeremia menyaksikan sendiri dibuangnya orang Israel ke Babel dan dihancurkannya Yerusalem serta Bait Suci (52:1-34). Ketidaksetiaan Yehuda dengan menyembah berhala merupakan kebiasaan yang sudah kronis dan parah. “Pada waktu Aku menuntun mereka keluar dari tanah Mesir; sampai kepada waktu ini,” demikian Allah mengatakan, “mereka tidak mau mendengarkan ataupun memperhatikannya, melainkan mereka masing-masing mengikuti kedegilan hatinya yang jahat” (11:7-8). Yeremia memanggil mereka untuk berbalik dari berhala-berhala mereka dan beribadah kepada TUHAN sebagai satu-satunya Allah Pencipta dan Raja mereka yang esa (10:1-11), serta memperingatkan bahwa mereka akan dihukum karena menyembah allah-allah palsu (11:12-13). —K.T. Sim

Hal baik apa yang berpotensi untuk kamu andalkan selain Allah? Bagaimana kamu dapat tetap menggunakan hal baik tersebut sambil tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah?

Ya Bapa, aku berharap hanya kepada-Mu. Tolonglah aku percaya sepenuhnya kepada-Mu dan bukan kepada kemampuan atau hartaku.

Monday, June 15, 2020

Membangun Kembali

Berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.—Nehemia 2:18

Membangun Kembali

Pada larut malam itu, sang pemimpin berangkat menunggang kuda untuk memeriksa pekerjaan yang masih harus dilakukan. Saat berkeliling, ia melihat tembok kota telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbang habis terbakar. Di beberapa tempat, puing-puing menumpuk tinggi hingga tidak dapat dilewati oleh kudanya. Karena sangat sedih, ia pun berbalik dan pulang.

Ketika menyampaikan laporannya tentang kehancuran yang dilihatnya kepada para penguasa kota, ia berkata, “Kamu lihat kemalangan yang kita alami” (Neh. 2:17). Ia menyampaikan kabar bahwa kotanya telah menjadi puing-puing, dan tembok-tembok pelindung kota tidak lagi berfungsi.

Namun kemudian, ia menyampaikan suatu pernyataan yang kembali menyemangati penduduk kota yang gelisah: “Kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku.” Mereka semua langsung menjawab, “Kami siap untuk membangun!” (ay.18).

Mereka benar-benar melakukan apa yang mereka ucapkan.

Dengan iman kepada Allah dan segenap daya upaya, meski harus menghadapi perlawanan musuh dan situasi yang tampaknya mustahil, para penduduk yang dipimpin Nehemia dapat membangun kembali tembok kota hanya dalam kurun waktu lima puluh dua hari (6:15).

Dalam keadaanmu sekarang, adakah sesuatu yang kelihatannya sulit tetapi kamu tahu itulah yang Tuhan ingin kamu lakukan? Dosa yang sulit untuk kamu tinggalkan? Perselisihan yang tidak sehat dengan orang lain? Atau tugas dari-Nya yang tampaknya terlalu sulit untuk dikerjakan?

Minta tuntunan Allah (2:4-5), pelajari masalahnya (ay.11-15), dan akui campur tangan-Nya (ay.18). Kemudian, mulailah membangun kembali.—DAVE BRANON

WAWASAN
Tidak seperti sebagian besar isi Perjanjian Lama, cerita dalam kitab Nehemia tidak disajikan oleh seorang narator. Hal itu menjadi jelas ketika Nehemia mengatakan, “Ketika itu aku ini juru minuman raja” (1:11)—sebuah pernyataan yang bukan saja menyingkapkan bentuk kitab itu sebagai autobiografi, tetapi juga memberikan gambaran sekilas kepada kita tentang kehidupannya. Nehemia adalah orang Yahudi yang dibuang ke Babel dan bekerja sebagai juru minuman raja. Dalam peran tersebut, ia pasti sangat dipercaya, karena racun merupakan sarana membunuh utama di zaman lampau. —Bill Crowder

“Reruntuhan” apa yang sedang menyulitkanmu? Bagaimana dengan berdoa sungguh-sungguh meminta pertolongan dan penyertaan Allah dapat membantumu membangun kembali?

Ya Allah, tolonglah aku yang tidak sanggup memperbaiki masalahku seorang diri. Tolong aku memahami situasi dan mencari pertolongan serta tuntunan-Mu untuk menyelesaikan tantangan yang ada.

Sunday, June 14, 2020

Diciptakan untuk Satu Sama Lain

Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.—Kejadian 2:18

Diciptakan untuk Satu Sama Lain

“Akulah yang mengurus semua keperluannya. Kalau ia bahagia, aku juga,” kata Stella. Merle berkata, “Aku senang selama ia ada di dekatku.” Merle dan Stella sudah menikah selama 79 tahun. Ketika Merle merana saat dirawat di panti jompo, Stella pun dengan senang hati membawanya pulang. Merle berusia 101 tahun dan Stella 95 tahun. Meskipun Stella membutuhkan alat bantu untuk berjalan, dengan penuh kasih ia masih melakukan apa yang dapat ia lakukan bagi suaminya, seperti menyiapkan makanan kesukaannya. Ada yang tidak dapat dilakukannya sendiri, tetapi cucu-cucu dan para tetangga datang membantu mengurusnya.

Kehidupan Stella dan Merle menjadi contoh dari firman Allah dalam Kejadian pasal 2, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (ay.18). Tak satu pun makhluk yang dibawa Allah kepada Adam sesuai dengan deskripsi itu. Hanya di dalam Hawa, yang diciptakan dari tulang rusuk Adam, Adam menemukan penolong dan teman hidup yang sepadan (ay.19-24).

Hawa adalah teman hidup yang sempurna untuk Adam, dan melalui mereka Allah membentuk lembaga pernikahan. Pernikahan tidak dibentuk hanya agar dua individu dapat saling menolong dan memiliki, tetapi juga agar mereka membangun keluarga dan memelihara ciptaan Allah, termasuk memperhatikan orang lain (1:28). Dari keluarga pertama itu terbentuklah komunitas, agar baik menikah atau lajang, tua atau muda, tidak ada dari kita yang hidup seorang diri saja. Sebagai komunitas, kita mendapat kesempatan berharga dari Allah untuk “menanggung beban” satu sama lain dengan rela (Gal. 6:2).—ALYSON KIEDA

WAWASAN
Kejadian 2:4-24 merupakan kali kedua kisah tentang penciptaan dituturkan dalam Alkitab. Mengapa ada dua? Dalam Kejadian 1, fokusnya terletak pada Allah dan kuasa-Nya yang menakjubkan: Dia berfirman maka alam semesta—segala sesuatu—terjadi. Dalam Kejadian 2, kita melihat fokus yang sangat berbeda. Setelah tidak ditemukan “penolong yang sepadan” bagi Adam di antara hewan-hewan itu (ay.20), Allah membuat Adam tertidur dan mengambil tulang rusuknya untuk menjadikan pasangan sekaligus sahabat yang sempurna: seorang perempuan, yaitu Hawa. Demikian sempurnanya mereka sehingga keduanya menjadi “satu daging” (ay.24). Kisah yang kedua berfokus pada kebutuhan mendasar kita akan hubungan sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dijadikan serupa dengan-Nya berarti tidak sendirian. Kedua kisah penciptaan ini menyingkapkan dua aspek mengagumkan dari karakter Allah: Dialah Allah Mahakuasa, yang telah menciptakan Anda dan saya dari tidak ada menjadi ada, tetapi kepedulian-Nya membuat Dia tidak ingin kita sendirian (ay.18). —Alyson Kieda

Terhiburkah kamu saat mengetahui bahwa baik menikah atau tidak, kita sebagai orang percaya tidak akan pernah seorang diri saja? Pernahkah kamu melihat dan mengalami karya nyata dari komunitas orang percaya sebagai tubuh Kristus?

Ya Allah, terima kasih Engkau telah menciptakan pria dan wanita untuk saling memiliki dan Engkau membentuk komunitas supaya tidak ada di antara kami yang benar-benar seorang diri saja.

Saturday, June 13, 2020

Dia Mengubahku

Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.—Yehezkiel 18:27

Dia Mengubahku

Ketika John, pengelola rumah bordil terbesar di London, dijatuhi hukuman penjara, ia masih meyakini bahwa dirinya “orang baik”. Selama di penjara, ia memutuskan untuk menghadiri kegiatan pendalaman Alkitab dengan niat agar bisa menikmati kue dan kopi yang disuguhkan. Namun, ia sangat terkejut melihat bagaimana sesama narapidana di sana terlihat begitu bersukacita. John menangis saat lagu pertama dinyanyikan, lalu seseorang memberinya sejilid Alkitab. Sebuah ayat yang dibacanya dari kitab Yehezkiel membuatnya seperti “disambar petir”. Ayat yang mengubah hidupnya itu berbunyi: “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, . . . ia pasti hidup, ia tidak akan mati” (Yeh. 18:27-28). Firman Tuhan membuka matanya dan membuatnya tersadar, “Aku bukan orang baik . . . aku orang jahat yang harus berubah.” Ketika berdoa dengan pembina rohani di penjara, ia berkata, “Aku sudah bertemu dengan Yesus Kristus dan Dia mengubahku.”

Kata-kata dalam kitab Yehezkiel tersebut disampaikan kepada umat Allah yang tinggal di pembuangan. Mereka telah berpaling dari Allah, tetapi Dia masih merindukan mereka bertobat dari pelanggaran mereka dan memperoleh hati dan roh yang baru (ay.31). Kata-kata itulah yang menolong John untuk bertobat dan menjalani hidup baru (ay.32) sembari ia mengikut Yesus, Pribadi yang memanggil orang berdosa untuk bertobat (Luk. 5:32).

Kiranya kita juga menanggapi teguran Roh Kudus atas dosa-dosa kita, supaya kita pun menikmati pengampunan dan kebebasan dari dosa.—AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Inclusio merupakan teknik sastra yang memakai pengulangan sebuah kata, frasa, atau ide pada awal dan akhir sebuah bacaan. Meski pengulangan terkadang menunjukkan gagasan penting dalam sebuah teks, tetapi poin utama inclusio tidak terkandung dalam kata-kata yang diulang melainkan pada gagasan di antaranya. Dalam Yehezkiel 18:25-29, ayat 25 dan 29 membentuk inclusio. Dengan pengecualian beberapa kata, kedua ayat tersebut persis sama. Itu berarti pesan yang ditekankan dari paragraf tersebut muncul di ayat 26-28. Di sini Allah mengingatkan umat-Nya tentang hubungan dosa dengan maut, dan kebenaran dengan hidup. Allah mengingatkan mereka bahwa Dia adil dan tidak menghendaki seorang pun binasa (lihat 2 Petrus 3:9). —J.R. Hudberg

Apa jawabmu apabila orang bertanya apakah kamu “orang baik”? Area mana saja dalam kehidupanmu yang masih perlu mengalami pertobatan?

Allah Bapa, terima kasih karena Engkau telah menyadarkan aku akan dosa-dosaku lewat teguran Roh Kudus-Mu. Lembutkanlah hatiku untuk rela bertobat dan menerima pengampunan dari-Mu.

Friday, June 12, 2020

Bersama Kita Menang

Berdua lebih baik dari pada seorang diri. . . . Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.—Pengkhotbah 4:9-10

Bersama Kita Menang

Pada suatu malam, Pendeta Samuel Baggaga menerima telepon yang memintanya datang ke rumah salah seorang jemaat. Setibanya di sana, ia mendapati rumah yang didatanginya itu sedang terbakar hebat. Meski mengalami luka bakar, sang tuan rumah masuk kembali ke rumah yang terbakar untuk menyelamatkan salah seorang anaknya, dan kemudian keluar lagi dengan membopong putrinya yang tidak sadarkan diri. Di pedesaan Uganda itu, rumah sakit terdekat berjarak 10 kilometer jauhnya. Karena tidak memiliki kendaraan, si pendeta menemani sang ayah berlari membawa anak gadisnya ke rumah sakit. Ketika salah seorang dari mereka kelelahan, yang lain akan mengambil alih untuk membopong si anak. Mereka bersama-sama menempuh perjalanan panjang itu hingga akhirnya sang ayah dan putrinya memperoleh perawatan medis untuk kembali pulih sepenuhnya.

Di Keluaran 17:8-13, Tuhan memberikan kemenangan besar kepada bangsa Israel dengan melibatkan upaya Yosua, yang memimpin orang-orang maju ke medan perang; dan Musa, yang mengangkat kedua tangannya sambil memegang tongkat Allah. Saat tangan Musa menjadi lelah, Harun dan Hur membantu dengan menopang masing-masing tangan Musa hingga matahari terbenam dan musuh pun kalah.

Kerelaan untuk saling menolong bukanlah hal yang sepele. Dalam kebaikan-Nya, Allah memberikan sesama kita sebagai alat-Nya demi kebaikan bersama. Kemauan untuk mendengarkan, kesiapan untuk membantu, dan kata-kata bijak yang menghibur serta menegur—semua itu dan pertolongan lain diberikan kepada kita dan diteruskan kepada orang lain melalui diri kita. Bersama kita menang dan Allah dimuliakan!—ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Orang Amalek adalah salah satu suku pada zaman dahulu yang selalu menjadi musuh bebuyutan Israel. Nama mereka berasal dari pendiri kelompok ini, yaitu Amalek, salah seorang cucu Esau (Kejadian 36:12). Itu berarti orang Amalek sesungguhnya adalah sepupu orang Israel, yang juga keturunan Yakub/Israel, saudara kembar Esau. Meski tampak jelas bahwa Esau dan Yakub sudah memperbaiki hubungan mereka lagi setelah bertahun-tahun bermusuhan, tidak demikian dengan keturunan Esau. Daud berperang melawan orang Amalek yang menyerbu dan mencuri harta benda, istri, dan anak-anak darinya dan dari anak buahnya (2 Samuel 1:1). Orang Amalek disebut terakhir kalinya dalam Perjanjian Lama di 1 Tawarikh 4:43, ketika akhirnya mereka dikalahkan dan dibinasakan oleh Israel. Sungguh kisah yang panjang dan menyedihkan tentang akibat-akibat yang merusak dari sebuah kebencian. —Bill Crowder

Dalam hidup ini, pernahkah kamu diberkati oleh dukungan yang diberikan seseorang? Adakah seseorang yang saat ini membutuhkan kehadiranmu untuk mendukung mereka?

Bapa, terima kasih untuk orang-orang yang telah Engkau hadirkan dalam hidupku dan juga untuk mereka yang Engkau izinkan berbagi hidup denganku untuk kebaikan kami bersama demi kemuliaan-Mu.

Thursday, June 11, 2020

Perspektif dari Atas

Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!—Yesaya 48:11

Perspektif dari Atas

Pada dekade 1970-an, ketika Peter Welch masih kecil, menggunakan detektor logam hanyalah hobi baginya. Namun, sejak tahun 1990, ia memandu orang-orang dari seluruh dunia dalam kegiatan yang dinamakan “wisata mendeteksi logam”. Mereka berhasil menemukan ribuan benda—pedang, perhiasan kuno, koin berharga. Dengan menggunakan Google Earth, suatu program komputer yang menampilkan gambar-gambar permukaan bumi berdasarkan citra satelit, mereka mencari pola-pola pada lanskap lahan pertanian di Inggris. Mereka dapat melihat di mana letak jalanan, gedung, dan struktur bangunan lain yang pernah ada berabad-abad lalu. Peter berkata, “Memiliki perspektif dari atas sungguh membawa kami kepada dunia yang sama sekali baru.”

Umat Allah pada zaman Yesaya membutuhkan “perspektif dari atas.” Meskipun membanggakan diri sebagai umat-Nya, mereka tetap tidak taat dan menolak melepaskan penyembahan kepada berhala-berhala mereka. Allah pun memiliki perspektif lain. Walaupun umat-Nya memberontak, Allah tetap mengembalikan mereka dari pembuangan di Babel. Mengapa Dia melakukannya? “Oleh karena Aku sendiri, . . . Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” (Yes. 48:11). Memiliki perspektif Allah berarti kita hidup untuk kemuliaan-Nya dan demi tujuan yang dikehendaki-Nya—bukan demi tujuan kita sendiri. Perhatian kita haruslah diberikan kepada-Nya dan rencana-rencana-Nya serta untuk mengajak orang lain ikut memuji Dia.

Memiliki perspektif hidup untuk memuliakan Allah akan membawa kita kepada dunia yang sama sekali baru. Hanya Dia yang tahu apa yang akan kita temukan tentang diri-Nya dan apa yang direncanakan-Nya bagi kita. Allah akan mengajarkan kita segala yang baik dan menuntun kita di jalan yang harus kita tempuh (ay.17).—ANNE CETAS

WAWASAN
Yesaya, nabi bagi bangsa Yehuda dari tahun 740–685 SM, memperingatkan bahwa Allah akan mendisiplinkan ketidaksetiaan mereka yang menyembah berhala. Ia menubuatkan kehancuran Yerusalem dan Bait Suci mereka, serta pembuangan mereka ke Babel selama 70 tahun (Yesaya 39:6-7; juga Yeremia 25:11) kira-kira 100 tahun sebelum hal itu terjadi. Yesaya juga menubuatkan bahwa Allah akan membawa umat-Nya pulang, memulihkan mereka, dan memberkati mereka. Dalam Yesaya 48, Yesaya menekankan bahwa apa pun yang Allah rancangkan, akan Dia genapi (ay.3-6). Janji tentang kepulangan dan pemulihan itu bukanlah karena mereka pantas mendapatkannya, melainkan “oleh karena nama-[Nya]” (ay.8-9). Niat Allah adalah memurnikan mereka, bukan membinasakan mereka seluruhnya. Selain itu, sebagai Allah yang memelihara perjanjian, Dia tidak akan melanggar janji-Nya tentang pemulihan dan merusak reputasi-Nya sendiri (ay.9-11). —K.T. Sim

Untuk hal apa saja kamu akan memuji Allah hari ini? Dalam hidupmu seterusnya, bagaimana kamu dapat lebih mengutamakan Allah dan semakin melepaskan kepentinganmu sendiri?

Ya Allah, aku ingin hidup untuk kemuliaan-Mu dan bukan bagi kepentingan diriku sendiri. Ajar dan ubahlah aku.

Wednesday, June 10, 2020

“Hal-Hal tentang Tuhan”

Hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki.—1 Petrus 3:15 BIS

“Hal-Hal tentang Tuhan”

Sebagian besar rekan kerja Mike tidak tahu banyak tentang Kekristenan, dan mereka juga tidak terlalu peduli. Namun, mereka tahu Mike peduli tentang imannya. Suatu hari menjelang Paskah, salah seorang dari mereka mengungkapkan kebingungannya tentang asal mula hari raya itu dan bertanya kepada Mike, “Hai, Mike! Kamu kan tahu hal-hal tentang Tuhan. Apa itu Paskah?”

Mike pun menjelaskan tentang asal mula Paskah dan bagaimana Allah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Ia menceritakan kepada mereka tentang sepuluh tulah, termasuk kematian anak sulung di setiap rumah orang Mesir. Ia menjelaskan bagaimana malaikat maut melewati rumah-rumah yang pintunya telah ditandai dengan darah domba yang dikorbankan. Kemudian ia juga bercerita bagaimana Yesus kemudian disalibkan pada masa Paskah sebagai Anak Domba yang dikorbankan sekali untuk selamanya. Mendadak Mike menyadari, Wah, aku sedang bersaksi!

Petrus, murid Yesus, memberikan nasihat kepada jemaat yang hidup dalam lingkungan dan budaya yang tidak mengenal Allah. Ia berkata, “Hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki” (1 Ptr. 3:15 BIS).

Karena selama ini Mike telah menunjukkan imannya secara terbuka, ia pun memperoleh kesempatan yang baik untuk membagikan kesaksiannya kepada orang lain dan dapat melakukannya dengan “lemah lembut dan hormat” (ay.15).

Kita juga dapat melakukan apa yang Mike lakukan. Oleh pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjelaskan dengan kata-kata sederhana hal-hal terpenting dalam hidup kita—yaitu “hal-hal” tentang Tuhan.—TIM GUSTAFSON

WAWASAN
Pertanyaan Petrus dalam 1 Petrus 3:13, “Siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?” jelas-jelas bersifat retorik. Ia tahu bahwa ada saatnya ketika kita justru akan dicelakakan karena melakukan hal yang benar. Rasul Petrus mengalaminya sendiri; ia pernah dipenjara dan dipukuli di masa-masa awal terbentuknya gereja (Kisah Para Rasul 5:40; 12:3-4). Petrus sendiri akhirnya dibunuh karena melayani Kristus (Yohanes 21:19; 2 Petrus 1:13-14). Jadi dorongan yang diberikan Petrus bukanlah karena ia sok tahu, melainkan karena ia sendiri pernah mengalami penderitaan. Karena itulah, kepada gereja yang terus-menerus terancam, ia berkata, “Sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia” (1 Petrus 3:14). Dalam konteks penderitaan itulah Petrus mendesak kita untuk siap sedia menjelaskan alasan-alasan kita mengikut Yesus. Memahami hal itu—dan mengenang penderitaan Kristus (ay.18)—akan menguatkan tekad kita untuk memberitakan kebenaran Allah dengan kasih. —Tim Gustafson

Bagaimana perasaanmu ketika seseorang ingin membahas hal-hal tentang iman denganmu? Mengapa Petrus menambahkan bahwa kita harus bersaksi “dengan lemah lembut dan hormat”?

Ya Bapa, tolonglah aku agar siap menjelaskan pengharapan dan tujuan mulia yang sanggup Engkau adakan dalam hidup kami.

Tuesday, June 9, 2020

Alasan Kita Bersukacita

Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!—Mazmur 149:2

Alasan Kita Bersukacita

Di awal tahun ajaran baru, C. J. yang berusia empat belas tahun biasa turun dari bus sekolah setiap siang dan berjoget sembari menyusuri halaman rumahnya. Ibunya suka merekam dan membagikan video C. J. berjoget. C. J. berjoget karena ia menikmati hidup dan senang “membuat orang lain bahagia” lewat gerakan tubuhnya. C. J. juga menginspirasi orang lain untuk menari bersamanya. Suatu hari, dua petugas pemungut sampah sengaja meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka untuk ikut berjoget dan bergoyang. Mereka bertiga menunjukkan betapa sukacita yang murni itu ternyata menular.

Penulis Mazmur 149 menggambarkan Allah sebagai sumber sukacita yang abadi dan tidak bersyarat. Pemazmur mendorong umat Allah untuk bersatu dan menyanyikan “bagi Tuhan nyanyian baru!” (ay.1). Ia mengundang Israel untuk “bersukacita atas Yang menjadikannya” dan “bersorak-sorak atas raja mereka” (ay.2). Ia memanggil kita untuk menyembah Allah dengan tari-tarian dan musik (ay.1-3). Apa alasannya? Karena “Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (ay.4).

Bapa kita yang penuh kasih menciptakan kita dan menopang seluruh alam semesta. Dia bersukacita atas kita karena kitalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Dia membentuk kita, mengenal kita, dan dan mengundang kita untuk memiliki hubungan pribadi dengan-Nya. Sungguh sebuah kehormatan! Allah kita yang hidup dan penuh kasih menjadi alasan kita dapat terus bersukacita. Kita dapat bersukacita karena Dia selalu hadir bagi kita, dan kita juga mengucap syukur untuk setiap hari yang kita terima dari Dia yang menjadikan kita. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Para ahli Alkitab tidak tahu pasti kapan Mazmur 149 ditulis atau bagaimana mazmur itu dipakai dalam ibadah, tetapi salah satu kemungkinannya adalah bahwa pada mulanya mazmur tersebut dipakai dalam perayaan tahunan Allah Israel (YHWH, TUHAN) dinobatkan sebagai Raja alam semesta (lihat ay.2). Mazmur 149 adalah yang keempat dari 5 mazmur (Mazmur 146–150) yang diawali dan diakhiri dengan ungkapan “Heleluya!” Kelima mazmur ini dapat dipandang sebagai kesimpulan atau rangkuman dari keseluruhan kitab Mazmur, yang menggemakan pujian atas karya penyelamatan dan kehadiran Allah di tengah umat-Nya.—Monica La Rose

Mengapa kita dapat bersukacita dalam segala keadaan ketika kita tahu Allah bersukacita atas diri kita? Bagaimana caramu mengungkapkan sukacita kepada Tuhan di sepanjang hari ini?

Terima kasih karena Engkau mengasihi kami, bersukacita atas kami, dan mengenal kami, ya Allah.

Monday, June 8, 2020

Kerendahan Hati Bukti Kebesaran Jiwa

[Kristus Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri.—Filipi 2:7

Kerendahan Hati Bukti Kebesaran Jiwa

Ketika Revolusi Amerika tanpa diduga berakhir dengan menyerahnya Inggris, banyak politikus dan pemimpin militer berniat menjadikan Jenderal George Washington sebagai raja yang baru. Seluruh dunia mengamati dengan bertanya-tanya apakah Washington akan tetap memegang teguh prinsip-prinsip kebebasan dan kemerdekaan ketika godaan meraih kekuasaan mutlak ada dalam genggamannya. Namun, Raja Inggris, George III, melihat realitas lain. Ia yakin, jika Washington dapat menahan diri dan menolak rayuan banyak orang untuk berkuasa serta kembali ke tanah pertaniannya di Virginia, maka ia akan menjadi “tokoh terbesar di dunia.” Sang raja tahu bahwa kesanggupan menolak daya tarik kekuasaan merupakan pertanda seseorang itu benar-benar berjiwa besar dan mulia.

Paulus mengetahui kebenaran yang sama dan ia mendorong kita untuk meneladani kerendahan hati Kristus. Meski Yesus “dalam rupa Allah,” tetapi Dia “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp. 2:6). Sebaliknya, Dia menyerahkan kekuasaan-Nya, menjadi “seorang hamba” dan “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (ay.7-8). Pribadi yang memegang seluruh kekuasaan rela melepaskan semuanya itu demi kasih.

Namun demikian, pada akhirnya, Allah “sangat meninggikan” Kristus dari kehinaan penghukuman di kayu salib (ay.9). Suatu pembalikan yang luar biasa! Meski Tuhan Yesus dapat saja menuntut kita menyembah-Nya dan memaksa manusia untuk taat kepada-Nya, Dia justru melepaskan kekuasaan dengan cara menakjubkan yang membuat kita mau datang dan menyembah-Nya. Lewat kerendahan hati-Nya yang begitu total, Yesus menunjukkan kebesaran sejati yang menjungkirbalikkan dunia.—Winn Collier

WAWASAN
Banyak ahli percaya bahwa Filipi 2:6-11 adalah contoh salah satu kidung Kristen paling awal. Ada beberapa hal yang mendukung teori tersebut. Menurut The New Bible Commentary, ayat-ayat tersebut dapat dibagi menjadi 6 stanza yang masing-masing terdiri dari 3 baris. Selain itu, stanza-stanzanya dibaca dengan cara yang sangat berirama dan musikal. Meski pasal ini bukanlah satu-satunya dalam Perjanjian Baru yang menampilkan kidung-kidung kuno, tetapi kidung tentang Kristus ini sangat sesuai dengan kondisi jemaat di Filipi. Di dalam jemaat itu banyak dijumpai sikap mementingkan diri sendiri dan mencari pujian yang sia-sia, sehingga Paulus merasa perlu menegur mereka (lihat 2:3-4; 4:2-3). —Bill Crowder

Bagaimana kerendahan hati Yesus yang begitu total membuatmu takjub? Bagaimana kerendahan hati-Nya mendesakmu untuk berpikir ulang tentang arti kebesaran?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena ketika Engkau berada di titik yang termiskin dan paling rendah, Engkau justru menunjukkan kebesaran sejati dan kekuasaan-Mu yang sesungguhnya.

Sunday, June 7, 2020

Butuh Diselamatkan

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.—Lukas 10:33

Butuh Diselamatkan

Aldi adalah seorang remaja yang bekerja sendirian di sebuah jermal, gubuk kayu yang didirikan di tengah laut untuk menangkap ikan. Lokasinya sekitar 125 kilometer dari lepas pantai Sulawesi, Indonesia. Suatu hari, angin kencang mengguncang gubuk itu hingga terlepas dari tiang-tiang penyangganya dan terhanyut ke laut. Selama empat puluh sembilan hari, Aldi terombang-ambing di lautan. Setiap kali ada kapal lewat, ia menyalakan lampu untuk menarik perhatian para pelaut, tetapi mereka tidak melihatnya dan terus melewatinya. Sekitar sepuluh kapal melewati remaja yang kekurangan gizi itu sebelum akhirnya ia diselamatkan.

Yesus menceritakan perumpamaan kepada seorang “ahli Taurat” (Luk. 10:25) tentang seseorang yang perlu diselamatkan. Dua orang—seorang imam dan seorang Lewi—melihat ada orang yang terluka dan tergeletak di tengah perjalanan mereka. Namun, alih-alih menolong orang yang terluka itu, keduanya justru “melewatinya dari seberang jalan” (ay.31-32). Apa alasannya, kita tidak tahu. Padahal, keduanya taat beragama dan seharusnya tidak asing lagi dengan hukum Allah yang memerintahkan mereka untuk mengasihi sesama (Im. 19:17-18). Mungkin mereka menganggap itu terlalu berbahaya. Mungkin juga mereka tidak ingin melanggar hukum Yahudi tentang menyentuh jenazah, yang dapat membuat mereka tidak tahir sehingga tidak dapat melayani di Bait Suci. Sebaliknya, seorang Samaria—yang dianggap rendah oleh orang Yahudi—melakukan perbuatan yang mulia. Ia melihat ada orang yang membutuhkan bantuan dan merawatnya tanpa pamrih.

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya dengan perintah kepada pengikut-pengikut-Nya, “pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37). Kiranya Allah memberikan kita kerelaan untuk mengambil risiko demi menolong sesama yang membutuhkan dengan penuh kasih.—Poh Fang Chia

WAWASAN
Sesi tanya jawab dalam Lukas 10:25-37 merupakan hasil inisiatif dari seorang “ahli Taurat” (ay.25,37). Dalam beberapa versi istilah ini diterjemahkan sebagai pengacara dan berasal dari kata Yunani nomikos (“yang berkaitan dengan perkara-perkara hukum”). Fokusnya adalah hukum Musa. Para ahli Taurat juga dikenal sebagai “ahli hukum” atau “guru agama”; mereka menduduki posisi otoritas (Matius 23:2) dan oleh karenanya disegani. Para ahli agama ini, teolog-teolog zaman itu, adalah yang melestarikan, menafsirkan, dan menghakimi dalam perkara-perkara hukum. Di awal Injil Lukas, ketika Yesus baru berusia 12 tahun, Ia terpisah dari orang tua-Nya selama 3 hari. Mereka menemukan dia di pelataran Bait Suci sedang duduk di antara alim ulama, berinteraksi dengan mereka dan membuat para ahli itu bingung (Lukas 2:46). Belakangan setelah Yesus dewasa, orang-orang seperti merekalah yang menjadi sasaran teguran-Nya (11:45-54). —Arthur Jackson

Siapa orang yang ditempatkan Tuhan di sekitarmu untuk kamu tolong? Bagaimana kamu dapat mempraktikkan kasih hari ini?

Ya Allah, bukalah mataku untuk melihat kebutuhan orang-orang di sekitarku dan berilah aku hati-Mu yang berbelas kasih kepada sesama.

Saturday, June 6, 2020

Tersisih tetapi Ditemukan

Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.—Lukas 19:10

Tersisih tetapi Ditemukan

Suatu hari saya mengunjungi ajang akrobatik motor tempat para peserta melakukan aksi-aksi yang mencengangkan. Karena ramainya, saya sampai harus berjinjit agar bisa menonton dengan jelas. Saat melihat-lihat keadaan sekitar, saya memperhatikan ada tiga anak duduk di atas sebatang pohon, karena rupanya mereka tidak bisa menerobos ke depan kerumunan orang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Melihat anak-anak itu menonton dari tempat yang tinggi, saya pun teringat pada Zakheus, yang oleh Lukas disebut sebagai kepala pemungut cukai yang kaya (Luk. 19:2). Orang Yahudi sering menganggap pemungut cukai sebagai pengkhianat karena mereka bekerja bagi pemerintah Romawi untuk memungut cukai dari kaum sebangsanya, dan juga karena para pemungut cukai itu sering menagih uang lebih guna memenuhi pundi-pundi mereka sendiri. Jadi, Zakheus kemungkinan adalah orang yang terkucil dari komunitasnya.

Ketika Yesus masuk ke kota Yerikho dan melintasinya, Zakheus ingin sekali melihat-Nya, tetapi tidak berhasil karena kerumunan orang banyak. Jadi, mungkin karena merasa putus asa dan juga kesepian, ia memanjat pohon ara untuk melihat Yesus (ay.3-4). Di sanalah, di luar kerumunan orang, Zakheus dipanggil oleh Yesus, yang kemudian menyampaikan keinginan untuk menumpang di rumahnya (ay.5).

Kisah Zakheus mengingatkan kita bahwa Yesus datang “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang,” dengan menawarkan persahabatan dan anugerah keselamatan (ay.9-10). Bahkan ketika di dalam komunitas kita merasa terpinggirkan, tersisih, dan tidak dianggap, kita dapat meyakini bahwa dalam kondisi seperti itu pun, Yesus akan menemukan kita.—Lisa M. Samra

WAWASAN
Yerikho, salah satu kota pertama yang didiami di dunia, berlokasi di Lembah Yordan, dengan Sungai Yordan di sebelah timur dan Yerusalem di sebelah barat. Di Perjanjian Lama, Yerikho disebut “Kota Pohon Korma” (Ulangan 34:3; Hakim-Hakim 3:13). Yerikho paling dikenal sebagai kota pertama yang direbut Israel dalam penaklukan mereka (Yosua 2;6). Setelah menaklukkan kota itu, Yosua mengutuk siapa saja yang mungkin membangunnya kembali (6:26). Kira-kira 500 tahun kemudian, Hiel dari Betel membangun kembali kota tersebut dengan mengorbankan dua anaknya (1 Raja-Raja 16:34), sehingga tergenapilah kutuk tersebut. Kisah tentang Zakheus (Lukas 19:1-10) terjadi di Yerikho Perjanjian Baru, yang juga dikenal sebagai Yerikho di zaman Herodes. Lokasinya dibangun oleh Raja Herodes lebih dari satu mil di sebelah selatan dari lokasinya dalam Perjanjian Lama. Yerikho yang ada saat ini dibangun di lokasi kira-kira 1,6 kilometer di sebelah timur Yerikho pada zaman Herodes. —Alyson Kieda

Pernahkah kamu merasa dikesampingkan oleh kawan atau keluarga? Di tengah perasaan sepi itu, bagaimana Yesus mencari dan mengundangmu untuk meluangkan waktu bersama-Nya?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak pernah mengabaikanku ketika aku terluka, melainkan Engkau rela melawatku, bahkan mengundangku menjadi sahabat-Mu.

Friday, June 5, 2020

Pencobaan yang Bermanfaat

Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.—Yakobus 1:21

Pencobaan yang Bermanfaat

Dalam Imitation of Christ (Mengikuti Jejak Kristus), biarawan Thomas à Kempis dari abad ke-15 memberikan pandangan yang mungkin mengagetkan tentang pencobaan. Ketimbang berfokus pada penderitaan dan kesulitan yang dialami akibat pencobaan, Kempis menulis, “[pencobaan] bermanfaat karena dapat membuat kita rendah hati, membersihkan kita, dan mengajar kita.” Ia menjelaskan, “Kunci kemenangan adalah kerendahan hati dan kesabaran yang sungguh; olehnya kita dapat mengalahkan musuh.”

Kerendahan hati dan kesabaran. Betapa berbedanya perjalanan saya bersama Kristus jika itulah respons alamiah saya terhadap pencobaan! Sayangnya, sering kali respons saya terhadap pencobaan adalah merasa malu, frustrasi, dan tidak sabar untuk segera mengenyahkan pergumulan tersebut.

Namun, Yakobus 1 mengajar kita bahwa pasti ada maksud di balik setiap pencobaan dan ujian yang kita hadapi. Bila kita menyerah kepada pencobaan, akibatnya memang membawa kesedihan dan kehancuran (ay.13-15). Namun, ketika kita berpaling kepada Allah untuk memohon hikmat dan kasih karunia-Nya dengan rendah hati, kita akan menyadari bahwa Allah “memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit” (ay.5). Oleh kuasa-Nya di dalam kita, pencobaan dan perjuangan kita melawan dosa akan menghasilkan ketekunan, “supaya [kita] menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (ay.4).

Ketika kita mempercayai Yesus, tidak ada lagi alasan untuk hidup dalam ketakutan. Sebagai anak-anak kesayangan Allah, kita dapat memperoleh damai sejahtera di dalam dekapan tangan-Nya yang penuh kasih, meski berada di tengah badai pencobaan.—Monica La Rose

WAWASAN
Yakobus mengawali suratnya kepada para pengikut Yesus yang terusir dan resah dengan mendesak mereka untuk meminta hikmat bagaimana hidup sebagai pengikut Yesus (1:5,19-22). Namun bagaimana mereka akan mengenali pertolongan ilahi itu? Setelah secara singkat membahas berbagai tantangan yang sulit dalam masalah hubungan, Yakobus memberi gambaran tentang hikmat yang didasarkan pada kerendahan hati dan tidak terpusat pada diri sendiri (3:13-16). Hikmat dari Allah itu cinta damai, penuh perhatian, bersedia mendengarkan, penuh belas kasihan dan kebaikan, dan tidak berprasangka atau munafik (ay.17). —Mart DeHaan

Bagaimana kerendahan hati dan kesabaran mengubah responsmu terhadap pencobaan atau pergumulan? Bagaimana sikap tersebut menolong dan melegakanmu?

Ya Yesus, aku sedih menyadari seringnya aku menghadapi pencobaan dan pergumulan dengan kekuatanku sendiri—seakan aku tidak membutuhkan-Mu. Terima kasih, Engkau panjang sabar terhadapku.

Thursday, June 4, 2020

Anak Ayah

Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.—Yohanes 14:9

Anak Ayah

Mereka memandangi lembaran foto yang sudah memudar itu, lalu menatap saya dan ayah saya silih berganti. Mata mereka terbelalak. “Ayah mirip sekali dengan Kakek waktu muda!” Saya dan kakek mereka tersenyum simpul, karena kami sudah lama menyadari hal itu tetapi anak-anak baru menyadarinya sekarang. Meski kami berdua berbeda, tetapi orang yang melihat saya ibarat melihat ayah saya di masa muda: tinggi, kurus, jangkung, rambut hitam lebat, hidung mancung, dan telinga yang agak besar. Memang saya bukan ayah saya, tetapi yang jelas saya adalah anak ayah saya.

Seorang murid Yesus bernama Filipus pernah meminta, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (Yoh. 14:8). Yesus pun menjawab, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (ay.9). Meskipun bukan untuk pertama kalinya Yesus menyatakan hal tersebut, tetap saja jawaban-Nya membuat orang berpikir. Berbeda dengan kemiripan fisik seperti antara saya dengan ayah saya, jawaban Yesus merupakan sesuatu yang revolusioner: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ay.10). Seluruh hakikat dan karakter Yesus sama seperti hakikat dan karakter Bapa-Nya.

Saat itu, dengan terus terang, Yesus mengungkapkan kepada murid-murid yang dikasihi-Nya dan juga kita: Jika engkau ingin tahu seperti apa Allah itu, lihatlah Aku. —John Blase

WAWASAN
Filipus, yang direkrut sendiri oleh Yesus (Yohanes 1:43), adalah salah satu murid yang paling awal dipanggil. Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik—Matius, Markus, Lukas—Filipus selalu dipasangkan dengan Bartolomeus (Matius 10:3; Markus 3:18; Lukas 6:14). Namun dalam Injil Yohanes, Bartolomeus tidak disebut dan Natanael (yang tidak disebut dalam Injil Sinoptik) disebut sebagai gantinya. Banyak ahli percaya bahwa Bartolomeus barangkali orang yang sama dengan Natanael, yang direkrut oleh Filipus (Yohanes 1:45-48). Dalam Yohanes 14:8-14, ketika para murid berkumpul di ruang atas, Filipus menanggapi sebuah pertanyaan yang diajukan oleh Tomas di ayat 5. Fakta bahwa Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa kepada mereka mengindikasikan bahwa, walaupun termasuk salah seorang murid yang dipanggil paling awal, Filipus belum benar-benar memahami hati dan misi Yesus—sehingga minta ditunjukkan Allah yang tidak kelihatan (lihat 1:18). Pantas saja Yesus menegur Filipus dengan lembut karena permintaannya yang tidak pada tempatnya tersebut; karena itu sudah tergenapi selama berbulan-bulan mereka bersama. —Bill Crowder

Apa sajakah karakter Yesus (dan Bapa-Nya) yang sangat mengena denganmu, dan mengapa demikian? Bagaimana cara Kristus membentuk karaktermu selama ini?

Tuhan Yesus, ketika keadaan yang ada membuatku kewalahan, ingatkanlah aku bahwa melihat-Mu sama dengan melihat Bapa. Mampukanlah aku untuk terus memandang kepada-Mu.

Wednesday, June 3, 2020

Pertemuan Kudus

Kamu harus bersukaria di hadapan Tuhan, Allahmu, tujuh hari lamanya.—Imamat 23:40

Pertemuan Kudus

Pada suatu akhir minggu yang panjang, saya mengikuti reuni bersama beberapa teman di tepi sebuah danau yang indah. Hari-hari itu diisi keseruan dengan bermain air dan makan bersama, tetapi yang paling saya nikmati adalah obrolan santai di malam hari. Di saat hari mulai gelap, kami pun mencurahkan isi hati masing-masing untuk membicarakan berbagai hal dengan terus terang dan cukup mendalam, seperti kepedihan dari pernikahan yang retak dan trauma yang dialami oleh sebagian anak-anak kami. Tanpa menutup-nutupi kenyataan hidup yang tidak ideal, kami berusaha mengingatkan satu sama lain akan Allah dan kasih setia-Nya yang telah membawa kami melewati berbagai kesulitan hidup tersebut. Saya sangat mensyukuri malam-malam kebersamaan yang kami lalui itu.

Dalam bayangan saya, malam-malam kebersamaan itu mirip dengan apa yang dikehendaki Allah ketika Dia memerintahkan umat-Nya berkumpul setiap tahun untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Hari raya ini, seperti banyak perayaan lain, mewajibkan bangsa Israel pergi ke Yerusalem. Begitu mereka sampai di sana, Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengadakan pertemuan kudus dan tidak melakukan “pekerjaan berat” selama perayaan yang berlangsung tujuh hari! (Im. 23:35). Hari raya Pondok Daun memperingati pemeliharaan Allah selama masa pengembaraan bangsa Israel di padang gurun setelah mereka keluar dari tanah Mesir (ay.42-43).

Pertemuan tersebut mengukuhkan keyakinan bangsa Israel akan identitas mereka sebagai umat pilihan Allah sekaligus menyerukan kebaikan-Nya yang telah mereka terima, kendati kesulitan hidup masih mendera mereka maupun masing-masing pribadi. Berkumpul bersama orang-orang yang kita kasihi untuk mengingat pemeliharaan dan kehadiran Allah dalam hidup kita akan dapat mengukuhkan kembali iman kita. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Imamat 23 menggambarkan secara garis besar delapan hari raya dalam kalender keagamaan Yahudi (termasuk hari perhentian Sabat yang disebutkan di ayat 3). Allah menetapkan setiap hari raya demi kepentingan dan kesenangan umat-Nya. Bayangkan bagaimana serunya perayaan Hari Raya Pondok Daun (ay.34). Umat membangun pondok dari ranting-ranting dan dedaunan lalu tinggal dalam pondok-pondok yang dibangun seadanya tersebut. Meski merupakan perayaan yang khusuk, tetapi pelaksanaannya seperti berkemah bersama; karena itu merupakan waktu yang penuh sukacita. Sungguh tak terhingga kreativitas Allah kita, memasukkan unsur kegembiraan dalam ibadah serta perayaan kudus! —Tim Gustafson

Dengan siapa kamu bisa berkumpul untuk bersekutu dan saling memberi semangat? Bagaimana imanmu diperkuat lewat persekutuanmu dengan orang lain?

Allah Bapa, terima kasih untuk orang-orang yang telah Engkau berikan dalam hidupku. Tolong kami untuk setia menyemangati satu sama lain.

Tuesday, June 2, 2020

Dipilih untuk Mengampuni

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.—Lukas 23:34

Dipilih untuk Mengampuni

Sebagai seorang pelajar sekolah menengah, Patrick Ireland pernah merasa Allah telah memilihnya untuk tujuan tertentu. Namun, ia tidak yakin apa tujuan yang dimaksud. Kemudian terjadilah peristiwa penembakan massal di SMA Columbine (Colorado, Amerika Serikat). Tiga belas orang tewas dan dua puluh empat orang terluka termasuk Patrick. Setelah peristiwa yang mengerikan itu, ia mulai mengerti jawabannya.

Setelah melalui masa pemulihan yang panjang, Patrick belajar bahwa memendam kepahitan akan menimbulkan luka berkepanjangan. Allah menunjukkan kepada Patrick bahwa untuk bisa mengampuni, ia harus berhenti berfokus pada apa yang telah diperbuat orang lain terhadap kita dan mengalihkan fokus kepada apa yang telah Yesus perbuat bagi kita. Dari kayu salib, Kristus memohon untuk mereka yang menganiaya Dia, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34), menggenapi nubuat Imam Zakharia tentang pengampunan dari-Nya (1:77). Selain itu, teladan-Nya mengungkapkan tujuan Allah bagi Patrick, sehingga dua puluh tahun setelah tragedi itu Patrick dapat berkata, “Mungkin saya dipilih untuk mengampuni.”

Meski sebagian besar dari kita tidak akan mengalami musibah sebesar peristiwa Columbine, setiap dari kita pasti pernah mengalami perbuatan orang lain yang tidak menyenangkan. Dikhianati pasangan. Anak yang memberontak. Diperlakukan tidak baik oleh atasan. Bagaimana kita sanggup untuk terus melangkah maju? Kita perlu melihat teladan Juruselamat kita. Dia mengampuni mereka yang menolak Dia dan berlaku kejam terhadap-Nya. Lewat pengampunan Yesus atas dosa-dosa kita, kita diselamatkan dan juga dimampukan untuk mengampuni sesama. Seperti Patrick, kita dapat memilih untuk membuang kepahitan dan membuka hati untuk rela mengampuni.—ELISA MORGAN

WAWASAN
Bacaan hari ini mencatat apa yang dikatakan oleh Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, tentang anaknya yang masih bayi serta hubungan anaknya dengan kedatangan Mesias. Yohanes—yang adalah sanak saudara Yesus (lihat Lukas 1:36) dan yang kelahirannya juga diumumkan oleh seorang malaikat (ay.5-25)—harus “mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya” (ay.76). Yohanes menerima peran dan identitas tersebut dan menyatakannya sendiri. Dalam Injil Yohanes (yang ditulis oleh Yohanes sang rasul, bukan Yohanes Pembaptis), ia memberitahukan identitas dan perannya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!” (Yohanes 1:23). Itu kutipan dari Nabi Yesaya yang menyampaikan pesan penghiburan bagi bangsa Israel (lihat Yesaya 40:1-3). —J.R. Hudberg

Apakah hatimu rela mengampuni? Bagaimana kamu bisa lebih menyelami keselamatan yang disediakan Yesus lewat kematian-Nya dengan mengampuni orang yang bersalah kepadamu?

Ya Bapa, tunjukkanlah hari ini siapa yang perlu kuampuni, dan berikanlah aku kekuatan untuk meneruskan pengampunan yang telah Engkau sediakan lewat kematian-Mu.

Monday, June 1, 2020

Butuh Tuntunan Allah

Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu.—Mazmur 61:3

Butuh Tuntunan Allah

Paman Zaki lebih dari sekadar teman bagi Kenneth Bailey, seorang ahli Alkitab; ia juga pemandu kepercayaan Bailey dalam perjalanan melintasi Gurun Sahara yang sangat luas dan menantang. Bailey berkata bahwa ia dan timnya menunjukkan kepercayaan penuh kepada Paman Zaki dengan cara mengikuti panduannya. Intinya, mereka menegaskan kepada Zaki, “Kami tidak tahu jalan, dan seandainya engkau tersesat kami pun akan tersesat dan mati. Kami percaya penuh kepada kepemimpinanmu.”

Di tengah situasi yang sangat melelahkan dan memilukan, Daud tidak sekadar membutuhkan bimbingan dari manusia. Ia memohon tuntunan dari Allah yang dilayaninya. Dalam Mazmur 61:3 kita membaca, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku.” Ia merindukan tempat perlindungan dan kelegaan yang ditemukan dalam hadirat Allah (ay.4-5).

Tuntunan Allah dalam hidup sangatlah dibutuhkan oleh umat yang dalam Kitab Suci disebut sebagai kawanan domba yang telah “sesat” (Yes. 53:6). Jika dibiarkan berjalan sendiri, pastilah kita tersesat dan tanpa pengharapan di tengah gurun dunia yang penuh dosa ini.

Namun, kita tidak dibiarkan berjalan sendiri! Kita mempunyai Gembala Agung yang membimbing kita ke “air yang tenang”, menyegarkan jiwa kita, dan menuntun kita di jalan yang benar (Mzm. 23:2-3).

Ke mana kamu butuh dituntun oleh-Nya hari ini? Berserulah kepada Dia. Dia tidak akan pernah meninggalkan kamu.—BILL CROWDER

WAWASAN
Konteks historis untuk Mazmur 61 tidak dijelaskan dalam kalimat pengantarnya, maka satu-satunya hal yang kita ketahui tentang latar belakang mazmur ini hanyalah bahwa Daud sedang diburu. Saat melarikan diri dari Yerusalem, ia berdoa, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu” (ay.3). Kita tidak diberitahu siapa yang sedang memburu dia; namun sebagian ahli percaya bahwa mungkin petunjuknya ada dalam ay.7: Daud meminta agar Allah menambahi “umur raja.” Tampaknya hal itu mengindikasikan bahwa itu periode waktu yang berbeda dengan ketika ia diburu oleh Saul yang ingin menghalanginya menjadi raja. Dalam mazmur ini, Daud sudah menjadi raja, jadi besar kemungkinan mazmur ini ditulis ketika ia melarikan diri dari upaya kudeta yang dirancang oleh Absalom, anaknya.—Bill Crowder

Apa rasanya ketika kamu merasa tersesat dan kehilangan arah? Bagaimana kamu dapat kembali mempercayai kerinduan Allah sebagai gembala untuk menuntun kamu dalam situasi sulit?

Bapa terkasih, terima kasih karena Engkau telah menjadi Gembala dan Penuntun hidupku. Tolonglah aku untuk tetap mempercayai-Mu dan mengandalkan hikmat-Mu. Biarlah Roh-Mu membimbingku melewati masa-masa yang berat dalam hidup ini.

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate