Pages - Menu

Monday, December 31, 2018

Pembawa Pesan

Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. —Maleakhi 3:1
Pembawa Pesan
“Ada pesan untukmu!” seru seorang wanita yang bekerja di konferensi yang saya hadiri, seraya menyerahkan secarik kertas untuk saya baca. Saya tak tahu apakah harus gugup atau gembira. Namun, ketika membaca, “Keponakanmu sudah lahir!” saya pun langsung bersukacita.
Suatu pesan bisa berisi kabar baik, berita buruk, atau kata-kata yang mendorong kita. Dalam Perjanjian Lama, Allah memakai para nabi untuk menyampaikan pesan pengharapan atau penghukuman. Namun, bila diperhatikan dengan cermat, pesan penghukuman-Nya pun dimaksudkan untuk menuntun kepada pertobatan, penyembuhan, dan pemulihan.
Dua jenis pesan tersebut muncul dalam Maleakhi 3 ketika Tuhan menjanjikan seorang utusan yang akan menyiapkan jalan bagi-Nya. Yohanes Pembaptis mengumumkan kedatangan Sang Pembawa Pesan sejati, yaitu Yesus (lihat Mat. 3:11)—“Malaikat Perjanjian” (Mal. 3:1) yang akan menggenapi janji-janji Allah. Dia akan bertindak “seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu” (ay.2), karena Dia akan menyucikan orang-orang yang mempercayai firman-Nya. Tuhan mengirim pesan untuk menyucikan umat-Nya sebab Dia peduli pada kesejahteraan mereka.
Pesan Allah berisi kasih, pengharapan, dan kebebasan. Dia mengutus Anak-Nya untuk berbicara dengan bahasa yang kita mengerti—pesan-Nya terkadang berisi teguran, tetapi selalu mengandung pengharapan. Percayalah pada pesan-Nya. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, tolonglah supaya aku tak hanya memahami pesan-Mu, tetapi juga menerapkannya dalam hidupku.
Mintalah kepada Tuhan agar Dia menolongmu membagikan kabar baik-Nya kepada orang lain di tahun yang baru.

Sunday, December 30, 2018

Segala Sesuatunya Baru

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. —2 Korintus 5:17
Segala Sesuatunya Baru
Saya sangat suka pergi ke tempat penjualan barang bekas. Karena suka mengutak-atik mobil, saya sering pergi ke salah satu tempat seperti itu yang tak jauh dari rumah. Tempat itu sepi, hanya angin yang berhembus di antara rongsokan mobil yang dahulu pernah menjadi kesayangan seseorang. Ada yang bekas kecelakaan, rusak, maupun usang. Saat berjalan di antara deretan kendaraan itu, terkadang ada mobil yang menarik perhatian dan membuat saya membayangkan petualangan apa saja yang pernah dilalui mobil itu selama “masa hidupnya.” Bagaikan sebuah portal ke masa lalu, masing-masing mobil mempunyai kisahnya sendiri—tentang manusia yang selalu mendambakan keluaran terbaru dan kendaraan yang lama-kelamaan usang dimakan waktu.
Namun, saya paling suka menghidupkan kembali suku cadang lama. Setiap kali berhasil mendaur ulang suku cadang yang sudah dibuang dan menempatkannya pada mobil yang baru, rasanya seperti menang atas waktu dan kerusakan.
Adakalanya hal itu mengingatkan saya akan perkataan Yesus pada kitab terakhir dalam Alkitab: “Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why. 21:5). Maksud-Nya ialah pembaruan ciptaan Allah, termasuk umat-Nya. Semua orang yang telah menerima Yesus sesungguhnya sudah menjadi “ciptaan baru” di dalam Dia (2 Kor. 5:17).
Kelak kita akan menerima janji-Nya untuk tinggal bersama Dia selamanya (Yoh. 14:3). Tiada lagi penderitaan karena umur dan penyakit, lalu kita akan melanjutkan petualangan baru dalam kekekalan. Sungguh kisah yang ajaib untuk dikabarkan—kisah tentang kasih penebusan dan kesetiaan yang tak berkesudahan dari Juruselamat kita. —James Banks
Tuhan yang penuh kasih, aku memuji-Mu karena aku adalah ciptaan baru di dalam Engkau, dan karena Engkau telah menjanjikan hidup kekal kepadaku oleh karena kebaikan dan rahmat-Mu.
Akhir dan awal tahun adalah kesempatan untuk pembaruan. Apa yang sedang Allah perbarui dalam kehidupanmu?

Saturday, December 29, 2018

Saat Allah Berkata “Tidak”

Tuhan, Engkaulah Allahku, kuagungkan Engkau dan kupuji nama-Mu. Sebab karya-karya-Mu sangat menakjubkan; Engkau merencanakannya sejak dahulu, dan melaksanakannya dengan setia. —Yesaya 25:1 BIS
Saat Allah Berkata “Tidak”
Ketika masuk wajib militer pada usia delapan belas tahun, sebagaimana diwajibkan atas semua pemuda Singapura, saya sungguh berdoa agar mendapat penempatan yang mudah, seperti posisi administrasi atau sopir. Karena fisik yang tidak terlalu kuat, saya ingin terhindar dari kerasnya latihan tempur. Namun, suatu malam sewaktu membaca Alkitab, ada satu ayat yang menarik perhatian saya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. . . ” (2kor. 12:9).
Sempat hati saya luruh, tetapi seharusnya saya siap, karena itulah jawaban Allah bagi doa saya. Kalaupun harus menerima tugas yang sulit, Dia pasti akan memampukan saya.
Akhirnya, saya memang dimasukkan dalam regu infanteri bersenjata dan melakukan hal-hal yang tak selalu saya nikmati. Sekarang, saat mengenangnya, saya bersyukur Allah tidak mengabulkan permintaan saya. Pelatihan dan pengalaman yang saya jalani telah menguatkan saya secara fisik dan mental serta memberi kepercayaan diri untuk memasuki usia dewasa.
Dalam Yesaya 25:1-5, setelah menubuatkan hukuman atas Israel sekaligus kelepasan dari musuh yang kelak mereka terima, Nabi Yesaya memuji Allah atas rencana-Nya. Yesaya menyadari bahwa karya-karya-[Nya] “sangat menakjubkan” dan telah direncanakan-Nya “sejak dahulu” (ay.1 bis), termasuk masa-masa sukar.
Tak mudah menerima jawaban “tidak” dari Allah, apalagi bila kita mendoakan sesuatu yang baik, misalnya meminta seseorang dilepaskan dari kesulitan. Saat itulah kita harus berpegang pada kebenaran bahwa rencana Allah itu baik. Kita tak selalu mengerti alasannya, tetapi kasih, kebaikan, dan kesetiaan-Nya pasti dapat dipercaya. —Leslie Koh
Tuhan, berikanku iman untuk tetap mempercayai-Mu, bahkan ketika Engkau menjawab “tidak” bagi doaku.
Ada maksud Allah ketika Dia menjawab “tidak”. Tetaplah percaya kepada-Nya!

Friday, December 28, 2018

Hari Selamat Tinggal

Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. —Mazmur 103:12
Hari Selamat Tinggal
Sejak 2006, sekelompok orang merayakan tradisi unik pada Tahun Baru yang disebut Hari Selamat Tinggal. Dalam perayaan yang didasarkan pada tradisi dari Amerika Latin itu, orang menuliskan kenangan buruk, peristiwa memalukan, dan hal-hal negatif lainnya dari tahun yang akan berlalu, kemudian melemparnya ke mesin penghancur kertas yang besar. Ada juga yang menghancurkan dengan palu barang-barang yang ingin mereka singkirkan sebagai tanda selamat tinggal kepada masa lalu.
Lebih dari sekadar ucapan selamat tinggal kepada kenangan tak menyenangkan, Mazmur 103 mengingatkan bahwa Allah mengucapkan selamat tinggal kepada dosa-dosa kita. Untuk mengungkapkan kasih Allah yang teramat besar bagi umat-Nya, sang pemazmur menggambarkannya dengan kiasan. Ia membandingkan besarnya kasih setia Allah dengan jarak antara langit dan bumi (ay.11). Pengampunan-Nya digambarkan dengan ukuran ruang, yaitu Tuhan telah menyingkirkan dosa umat-Nya begitu rupa hingga jaraknya sejauh tempat matahari terbit dari tempat matahari terbenam (ay.12). Pemazmur memberitahukan kita bahwa kasih serta pengampunan-Nya tak terbatas dan utuh. Allah membebaskan umat-Nya dari jerat pelanggaran mereka dengan pengampunan penuh.
Sungguh kabar baik! Kita tak perlu menunggu sampai Tahun Baru untuk merayakan Hari Selamat Tinggal. Melalui iman kepada Yesus, ketika kita mengakui dan meninggalkan dosa-dosa kita, Dia mengucapkan selamat tinggal kepada dosa kita dan melemparkannya ke dasar laut. Hari ini, ucapkanlah selamat tinggal kepada dosa-dosamu! —Marvin Williams
Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah membebaskanku dari dosa.
Dosa apa yang perlu kamu tinggalkan? Bagaimana perasaanmu saat tahu bahwa Allah melupakan dosamu sepenuhnya dan untuk selamanya?

Thursday, December 27, 2018

Tempat Tertinggi

Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. —Kolose 1:17
Tempat Tertinggi
Suatu hari, suami saya mengajak seorang teman ke gereja. Setelah kebaktian, temannya bertanya, “Aku suka lagu-lagu yang dinyanyikan dan juga suasananya. Hanya, aku tidak mengerti, mengapa orang Kristen begitu menghormati Yesus?” Suami saya lalu menjelaskan kepadanya bahwa kekristenan sesungguhnya adalah hubungan dengan Kristus. Tanpa Kristus, kekristenan tak ada artinya. Kita berkumpul dan memuji Tuhan Yesus karena perbuatan-Nya dalam kehidupan kita.
Siapakah Yesus dan apa yang telah dikerjakan-Nya? Rasul Paulus menjawab pertanyaan itu dalam Kolose 1. Tak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Yesus datang sebagai gambar Allah (ay.15). Yesus, Anak Allah, datang untuk mati bagi kita dan membebaskan kita dari dosa. Dosa telah memisahkan kita dari Allah yang kudus, maka damai sejahtera hanya dapat diperoleh melalui pribadi yang sempurna, yaitu Yesus (ay.14,20). Dengan kata lain, Yesus sudah memberikan kepada kita apa yang tak dapat diberikan oleh siapa pun—jalan kepada Allah dan hidup kekal (Yoh. 17:3).
Mengapa Dia layak dihormati setinggi itu? Yesus telah menaklukkan kematian. Dia memenangkan hati kita dengan kasih dan pengorbanan-Nya. Dia memberi kita kekuatan baru tiap hari. Dialah segalanya bagi kita!
Kita memberi-Nya kemuliaan karena Dia layak menerimanya. Kita meninggikan Dia karena Dia memang layak ditinggikan. Berikanlah kepada-Nya tempat tertinggi di hati kita. —Keila Ochoa
Yesus, Engkaulah Juruselamat dan Tuhanku. Aku mau memberi-Mu tempat tertinggi di hidupku.
Tuhan Yesus adalah pusat penyembahan kita.

Wednesday, December 26, 2018

Hari yang Biasa Saja?

Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus. —Kisah Para Rasul 3:13
Hari yang Biasa Saja?
Dalam cerita Christmas Every Day karangan William Dean Howells, dikisahkan seorang gadis kecil yang harapannya terkabul, yaitu Natal sepanjang tahun. Namun, pada hari ketiga, keceriaan Natal mulai menipis. Tak lama kemudian, semua orang sudah muak melihat permen. Kalkun menjadi langka dan dijual dengan harga selangit. Kado tak lagi diterima dengan gembira karena sudah bertumpuk di mana-mana. Orang saling membentak dengan jengkel. Tahun itu terasa panjang dan menjemukan.
Untungnya, cerita Howell hanya sebuah kisah satir. Namun, alangkah luar biasanya ketika sang tokoh utama Natal tak pernah membuat kita jemu meskipun Dia terus-menerus muncul di sepanjang Alkitab.
Setelah Yesus naik ke surga, Rasul Petrus memberitakan kepada orang banyak di Bait Allah Yerusalem bahwa Yesuslah yang dinubuatkan Musa ketika ia berkata, “Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku” (Kis. 3:22, Ul. 18:18). Janji Allah kepada Abraham, “Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati,” sesungguhnya mengacu kepada Yesus (Kis. 3:25; Kej. 22:18). Petrus menegaskan, “Semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini,” yaitu kedatangan Mesias (Kis. 3:24).
Setelah perayaan Natal selesai, kita bisa menjaga semangatnya terus hidup. Dengan melihat Kristus dalam seluruh cerita Alkitab, kita pun menyadari betapa Natal itu lebih dari sekadar hari yang biasa saja. —Tim Gustafson
Bapa, terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan Anak-Mu dan mewahyukan kisah-Nya pada lembaran-lembaran Alkitab.
Meski kemeriahan Natal telah usai, jagalah agar semangatnya tidak pudar.

Tuesday, December 25, 2018

Salju Musim Dingin

Ia tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring, suaranya tak akan terdengar di jalan. Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya. —Yesaya 42:2-3a BIS
Salju Musim Dingin
Saat bangun pagi di musim dingin, saya sering mendapati alam yang berselimut salju dengan suasana yang hening dan damai. Tak seperti hujan petir musim semi yang menggelegar di malam hari, salju turun dengan lemah lembut.
Dalam lagu Winter Snow Song, Audrey Assad bernyanyi tentang Yesus yang bisa saja datang ke dunia dengan kedahsyatan bak puting beliung, tetapi Dia justru datang dengan tenang dan perlahan seperti salju musim dingin yang turun dengan lembut pada malam hari di luar sana.
Kedatangan Yesus diam-diam mengejutkan banyak orang. Alih-alih dilahirkan di istana, Dia lahir di tempat yang tak terduga dan sederhana di luar Betlehem. Dia pun tidur di satu-satunya tempat yang tersedia, sebuah palungan (luk. 2:7). Bukannya dilayani oleh para bangsawan dan pejabat pemerintah, Yesus disambut oleh para gembala sederhana (ay.15-16). Orangtua Yesus pun hanya mampu mempersembahkan korban sederhana berupa dua ekor burung ketika mereka menyerahkan-Nya di Bait Allah (ay.24).
Kedatangan Yesus yang sederhana telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dengan mengatakan bahwa Sang Juruselamat “tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring” (yes. 42:2 bis). Dia juga takkan hadir dengan kekuatan yang akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (ay.3). Sebaliknya, Dia datang dengan lembut untuk merangkul kita dan menawarkan perdamaian dengan Allah—damai yang masih tersedia bagi siapa pun yang mempercayai kisah agung tentang Sang Juruselamat yang lahir di palungan. —Lisa Samra
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau rela meninggalkan kemuliaan-Mu dan datang ke dunia untuk menawarkan damai bagi kami.
Tenang di malam sunyi, t’rang surga berseri; demikianlah karunia bagimu diberi. —Hai Kota Mungil Betlehem (Kidung jemaat 094)

Monday, December 24, 2018

Renungkanlah

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. —Lukas 2:19
Renungkanlah
Selama mengajar di Bible Training College di London (1911-15), Oswald Chambers sering mengejutkan mahasiswa dengan ucapan-ucapannya di depan kelas. Seorang mahasiswi bercerita bahwa karena diskusi baru diizinkan di acara makan bersama berikutnya, Chambers pun diberondong dengan beragam pertanyaan dan keberatan. Mendapat tanggapan yang begitu banyak, Oswald sering kali hanya tersenyum dan berkata, “Jangan dipikirkan sekarang, nanti juga kamu akan mengerti dengan sendirinya.” Ia mendorong mereka untuk merenungkan hal-hal tersebut dan menunggu Allah menyingkapkan kebenaran-Nya pada waktu-Nya.
Merenung berarti berkonsentrasi dan memikirkan sesuatu secara mendalam. Setelah mengalami berbagai peristiwa menjelang kelahiran Yesus di Betlehem, lalu diikuti dengan penampakan malaikat dan gembala yang datang untuk melihat Sang Mesias, “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (luk. 2:19). Seorang pakar Perjanjian Baru, W. E. Vine, berkata bahwa “merenungkan” di ayat itu berarti “mengumpulkan [berbagai pertimbangan], berhitung, membandingkan satu hal dengan yang lain dalam menilai keadaan yang ada” (Expository Dictionary of New Testament Words).
Tatkala kita berusaha memahami makna di balik peristiwa yang menimpa kita, ikutilah teladan Maria yang mencari Allah serta hikmat-Nya.
Seperti Maria, bila kita menerima pimpinan Allah dalam hidup ini, kita akan menemukan banyak hal baru tentang penyertaan kasih-Nya untuk disimpan dan direnungkan dalam hati. —David C. McCasland
Bapa, bimbinglah kami oleh Roh Kudus-Mu sembari kami merenungkan kebesaran kasih-Mu dan mengikuti rencana-Mu dalam kehidupan kami.
Ambillah waktu teduh di tengah kesibukan untuk merenung dan menyimak apa yang mungkin sedang Allah sampaikan kepadamu.

Sunday, December 23, 2018

Dalam Kelimpahan atau Kesesakan

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! —Ayub 1:21
Dalam Kelimpahan atau Kesesakan
Buku Ann Voskamp berjudul One Thousand Gifts (Seribu Anugerah) mendorong para pembaca untuk memikirkan apa yang sudah Tuhan lakukan bagi hidup mereka hari demi hari. Dalam buku itu, ia menulis catatan harian yang berisi limpahnya kemurahan Allah kepadanya dalam anugerah besar maupun kecil, dari yang sederhana seperti keindahan warna-warni busa sabun di tempat cuci piring hingga yang tak terukur seperti keselamatan orang berdosa seperti dirinya (dan kita semua!). Ann menegaskan bahwa bersyukur merupakan kunci untuk melihat Allah di tengah kesengsaraan yang berat sekalipun.
Tokoh Ayub terkenal dengan kisah “sengsaranya”. Kehilangan yang dihadapinya memang pahit dan besar. Sekejap setelah kehilangan seluruh ternaknya, Ayub mendapat kabar kematian sepuluh anaknya sekaligus. Reaksi Ayub mengungkapkan dukacitanya yang mendalam: ia “mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya” (ayb. 1:20). Perkataannya di tengah kesengsaraan menunjukkan bahwa Ayub tahu arti bersyukur, karena ia mengakui semua miliknya berasal dari Allah (ay.21). Kalau tidak, mana mungkin ia bisa menyembah di tengah kesedihan yang begitu melumpuhkannya?
Kebiasaan mengucap syukur setiap hari memang tak dapat menghapus pedihnya penderitaan yang kita rasakan karena kehilangan. Di sepanjang kitab, kita melihat Ayub masih bertanya-tanya dan bergumul untuk mengatasi kepedihannya. Namun, mengenali kebaikan Allah kepada kita—bahkan dalam hal terkecil sekalipun—akan memampukan kita untuk berlutut menyembah Allah yang Mahakuasa di tengah kekelaman yang kita jalani di dunia ini. —Kirsten Holmberg
Ya Allah, Engkaulah Pemberi segala yang baik. Tolong aku untuk mengenali kemurahan-Mu dalam hal terkecil sekalipun dan percaya kepada-Mu di tengah kehilangan dan kesukaran yang kualami.
Cobalah menulis daftar ucapan syukur. Perhatikan bagaimana kebiasaan bersyukur yang dilakukan terus-menerus itu akan mengubah hidupmu.

Saturday, December 22, 2018

Strategi Kita Hanyalah Berharap

Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! —Mikha 7:7
Strategi Kita Hanyalah Berharap
Tim sepakbola favorit saya sudah kalah delapan kali berturut-turut pada waktu saya menulis renungan ini. Dengan banyaknya kekalahan, sulit untuk berharap mereka akan bertahan hingga akhir musim. Pelatih sudah mengubah strategi permainannya setiap minggu, tetapi tak juga membuahkan hasil. Dalam percakapan dengan seorang rekan kerja, saya bergurau sambil mengatakan bahwa niat saja tidak akan menjamin terjadinya perubahan. “Harapan bukan strategi,” ledek saya.
Prinsip itu berlaku dalam dunia sepakbola, tetapi dalam kehidupan rohani justru sebaliknya. Berharap, beriman, dan percaya kepada Allah bukan hanya salah satu strategi, melainkan satu-satunya strategi. Dunia kerap mengecewakan kita, tetapi pengharapan dapat mengokohkan kita dalam kebenaran dan kekuatan Allah di tengah pergolakan.
Nabi Mikha memahami kenyataan ini. Ia patah hati melihat Israel berpaling dari Allah. “Celaka aku! . . . Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia” (mi. 7:1-2). Namun, ia kembali memusatkan perhatian kepada pengharapannya yang sejati: “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” (ay.7)
Bagaimana kita dapat tetap berharap pada masa-masa sukar? Mikha menunjukkannya: dengan menunggu, sambil berdoa dan tetap mengingat Allah. Dia mendengar seruan kita sekalipun kita sedang terpuruk. Dalam situasi itu, strategi kita hanyalah berpaut kepada Allah dan bertindak sesuai dengan pengharapan kita. Itulah satu-satunya strategi yang memampukan kita melewati badai kehidupan. —Adam Holz
Bapa, Engkau telah berjanji menjadi sumber kekuatan kami ketika keadaan tampak menakutkan. Tolong kami untuk berseru kepada-Mu dengan iman dan pengharapan, karena kami percaya Engkau mendengar jeritan hati kami.
Bagaimana kita dapat tetap berharap pada masa-masa sukar? Menunggu, sambil berdoa dan tetap mengingat Allah.

Friday, December 21, 2018

Jangan Takut!

Kerajaan Allah sudah dekat. —Markus 1:15
Jangan Takut!
Hampir semua kemunculan malaikat dalam Alkitab didahului dengan perkataan “Jangan takut!” Ini tak mengherankan, sebab ketika makhluk supernatural menampakkan diri, biasanya manusia yang melihatnya akan tersungkur gemetar. Namun, Lukas menceritakan kemunculan Allah dalam rupa yang tidak menakutkan. Allah hadir dalam rupa Yesus yang lahir di antara hewan dan terbaring dalam palungan. Allah mengambil cara yang tak menakutkan. Adakah yang menakutkan dari sosok bayi baru lahir?
Di bumi, Yesus adalah Allah sekaligus manusia. Sebagai Allah, Dia sanggup mengadakan mukjizat, mengampuni dosa, mengalahkan kematian, dan mengetahui masa depan. Namun, bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan rupa Allah dalam bentuk awan terang atau tiang api, Yesus menyebabkan kebingungan. Bagaimana mungkin sang bayi di Betlehem, anak tukang kayu asal Nazaret, adalah Mesias dari Allah?
Mengapa Allah mengambil rupa manusia? Peristiwa ketika Yesus yang berumur 12 tahun berdebat dengan para rabi di Bait Allah memberikan satu petunjuk. “Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya,” tulis Lukas (2:47). Untuk pertama kalinya, manusia dapat bercakap-cakap langsung dengan Allah dalam wujud kasatmata.
Yesus bisa berbicara dengan siapa saja—orangtua-Nya, seorang rabi, seorang janda miskin—tanpa harus didahului dengan ucapan ”Jangan takut!” Dalam Yesus, Allah mendekat kepada kita. —Philipi Yancey
Bapa Surgawi, pada Natal kali ini, kami mengingat Anak-Mu yang telah datang ke dunia dalam rupa seorang bayi tak berdaya. Kami menyembah dengan kagum dan takjub karena Allah datang mendekat kepada kami.
Yesus adalah Allah yang menjadi manusia supaya Allah dan manusia dapat kembali berbahagia bersama. —George Whitefield

Thursday, December 20, 2018

Ikuti Sang Pemimpin

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. —Lukas 9:23
Ikuti Sang Pemimpin
Langit di atas rumah kami menderu dengan desingan tiga pesawat tempur yang membentuk formasi sedemikian dekat satu sama lain sehingga terlihat menyatu. Saya dan suami pun berdecak kagum. Kami tinggal di dekat pangkalan Angkatan Udara sehingga pemandangan itu tak lagi asing bagi kami.
Namun, setiap kali melihat pesawat-pesawat jet itu melintas, saya selalu bertanya-tanya: Bagaimana bisa mereka terbang begitu dekat tanpa kehilangan kendali? Ternyata, satu alasan yang jelas adalah kerendahan hati. Karena yakin bahwa pilot yang berperan sebagai pemimpin regu akan terbang persis dalam kecepatan dan lintasan yang seharusnya, para pilot pendamping di sisi kiri dan kanannya tidak akan mengambil arah yang berbeda atau mempertanyakan jalan yang ditunjukkan sang pimpinan. Sebaliknya, mereka mengikuti formasi yang ada dengan persis. Dengan demikian, mereka akan menjadi regu yang lebih kuat.
Demikian pula para pengikut Kristus. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (luk. 9:23).
Jalan Yesus adalah penyangkalan diri dan penderitaan yang tak mudah diikuti. Namun, agar menjadi murid yang bertumbuh, kita harus mengesampingkan nafsu mementingkan diri sendiri dan rela memikul tanggung jawab rohani hari demi hari dalam mengikut Yesus—contohnya dengan mendahulukan kepentingan orang lain.
Betapa indahnya berjalan dalam kerendahan hati bersama Allah. Dengan mengikuti pimpinan-Nya dan melekat kepada-Nya, kita akan terlihat menyatu dengan Kristus, sehingga yang tampak bukan lagi kita, melainkan Dia. —Patricia Raybon
Tuhan, bawalah kami dekat pada-Mu. Penuhi kami dengan Roh-Mu yang membawa kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Mampukan kami menjadi terang yang bersinar di dunia ini.
Hidup kita ibarat jendela—melaluinya, orang lain dapat melihat Yesus.

Wednesday, December 19, 2018

Sepucuk Surat Natal

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14
Sepucuk Surat Natal
Setiap Natal, seorang teman menulis surat panjang untuk istrinya dengan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang telah dilalui sepanjang tahun dan impian masa depannya. Di dalamnya ia mengungkapkan cinta beserta pujian kepada istrinya. Demikian pula ia menulis surat untuk setiap anaknya. Kata-kata cintanya menjadi hadiah Natal yang tak terlupakan.
Yesus bagaikan surat cinta Natal yang pertama—Firman yang menjadi manusia. Yohanes menekankan kebenaran itu dalam Injil yang ditulisnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Kata “Firman” dalam bahasa Yunani adalah logos, dan dalam filsafat kuno dipahami sebagai pikiran atau tatanan ilahi yang menyatukan alam realitas. Namun, Yohanes memperluas definisi kata logos untuk mengungkapkan Firman itu sebagai pribadi: Yesus, Anak Allah yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (ay.2). Firman itu, “Anak Tunggal Bapa,” “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (ay.14). Melalui Yesus sang Firman, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan sempurna.
Selama berabad-abad, para teolog telah bergumul dengan misteri yang indah tersebut. Meski sukar dipahami, kita dapat meyakini bahwa Yesus adalah Firman pembawa terang ke dalam dunia kita yang gelap (ay.9). Jika kita percaya kepada-Nya, kita akan memperoleh kuasa untuk menjadi anak-anak kesayangan Allah (ay.12).
Yesus, surat cinta Allah kepada kita, telah datang dan berdiam di antara kita. Itulah hadiah Natal yang mengagumkan! —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Firman Allah yang menghadirkan terang ke dalam hidupku. Kiranya aku memancarkan kebaikan dan rahmat-Mu sehingga nama-Mu dipermuliakan.
Bagaimana kamu membagikan Yesus, pemberian terindah itu, kepada orang lain hari ini?

Tuesday, December 18, 2018

Kebangkitan Agung

Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. —1 Tesalonika 4:14
Kebangkitan Agung
Ada kenangan berharga ketika berkunjung ke rumah sahabat keluarga kami sewaktu anak-anak masih kecil. Orang-orang dewasa seperti kami biasa berbincang-bincang sampai larut malam, sementara anak-anak yang kelelahan bermain meringkuk tertidur di sofa atau di kursi.
Ketika tiba waktunya pulang, saya akan menggendong anak-anak dalam pelukan, membawa mereka ke mobil, membaringkan mereka di kursi belakang, lalu pulang. Sesampainya di rumah, saya membopong mereka lagi, menaruh mereka di tempat tidur, memberi kecupan selamat malam, dan mematikan lampu. Mereka pun bangun keesokan harinya—di rumah mereka sendiri.
Bagi saya, pengalaman itu sarat akan metafora dari peristiwa kita yang “meninggal dalam Yesus” (1tes. 4:14). Kita hanya akan tertidur sejenak . . . lalu terbangun di kediaman abadi, suatu rumah yang akan memulihkan kita dari segala keletihan hidup yang pernah kita jalani.
Suatu hari, saya membaca teks dari Perjanjian Lama yang mengejutkan. Itu adalah kalimat dari bagian akhir kitab Ulangan: “Lalu matilah Musa, . . . di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan” (ul. 34:5). Dalam bahasa Ibrani, secara harfiah ayat itu berbunyi, “Matilah Musa . . . dengan mulut Tuhan.“ Menurut tafsiran kuno para rabi, frasa itu bisa diartikan “dengan kecupan dari Tuhan.”
Rasanya tidak berlebihan untuk membayangkan bahwa Allah membungkuk, membaringkan kita, lalu memberi kecupan selamat malam pada saat-saat terakhir kita di bumi. Kemudian, seperti kata John Donne, “Berlalulah satu tidur yang singkat, dan kita pun bangun dalam kekekalan.” —David H. Roper
Bapa Surgawi, kami dapat tidur dengan damai karena tangan-Mu menggendong kami.
Kematian hanya memindahkan kita dari ikatan waktu ke dalam keabadian. —William Penn

Monday, December 17, 2018

Dari Aib Menjadi Mulia

Sekarang [Tuhan] berkenan menghapuskan aibku di depan orang. —Lukas 1:25
Dari Aib Menjadi Mulia
Natal adalah momen tahunan bagi keluarga untuk berkumpul merayakan kebahagiaan bersama. Namun, ada pula yang merasa segan bertemu dengan sanak dan kerabat tertentu yang suka menanyakan hal-hal ‘sensitif’ seperti “Kapan menikah?” atau “Kapan punya anak?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan mengindikasikan ada yang tidak beres dengan orang yang ditanyai.
Bayangkan kesusahan Elisabet yang tidak mempunyai anak setelah lama menikah. Dalam budayanya, hal itu dipandang sebagai tanda bahwa Allah tak berkenan (lihat 1 Sam. 1:5-6), bahkan dianggap sebagai aib. Jadi, meski Elisabet hidup benar di hadapan Allah (Luk. 1:6), tetangga dan kerabatnya mungkin menganggap ia hidup dalam dosa.
Kendati demikian, Elisabet dan suaminya terus melayani Tuhan dengan setia. Lalu, ketika keduanya telah sangat lanjut usia, terjadilah mukjizat. Allah mendengar doa mereka (ay.13). Allah suka menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita (ay.25). Walau tampaknya Allah menunda-nunda, waktu-Nya selalu tepat dan hikmat-Nya selalu sempurna. Bagi Elisabet dan Zakharia, Allah memberikan karunia khusus: seorang anak yang akan mendahului Sang Mesias (Yes. 40:3-5).
Apakah kamu merasa tidak mampu karena tidak punya sesuatu, misalnya gelar sarjana, pasangan, anak, pekerjaan, atau rumah? Tetaplah hidup bagi Allah dengan setia dan sabarlah menanti Dia serta penggenapan rencana-Nya, seperti yang dilakukan Elisabet. Bagaimana pun keadaan kita, Allah terus bekerja di dalam dan melalui diri kita. Dia mengenal hatimu. Dia mendengar doamu. —Poh Fang Chia
Tuhan, Engkau selalu setia dan baik. Tolong kami untuk terus percaya kepada-Mu, sekalipun hati kami telah dilukai.
Tetaplah hidup bagi Allah dengan setia dan sabarlah menanti penggenapan rencana-Nya atas hidupmu.

Sunday, December 16, 2018

Cermin dan Firman

Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya . . . ia akan berbahagia oleh perbuatannya. —Yakobus 1:25
Cermin dan Firman
Saat keluar dari tempat penginapan saya di Kampala, Uganda, tuan rumah yang menjemput saya ke acara seminar menatap dengan senyum geli. “Apakah ada yang lucu?” tanya saya. Ia tertawa dan bertanya, “Sudahkah kamu menyisir rambut?” Giliran saya yang tertawa, karena saya memang lupa menyisir rambut, padahal tadi sudah becermin. Bisa-bisanya saya tidak sadar.
Yakobus menggunakan analogi dari kehidupan sehari-hari tentang cermin supaya pembelajaran Alkitab yang kita lakukan lebih memberi dampak. Kita becermin untuk memeriksa adakah yang perlu dikoreksi pada diri kita—rambut sudah disisir, muka sudah dicuci, baju sudah dikancing dengan benar. Seperti cermin, Alkitab membantu kita melihat pada karakter, sikap, pikiran, dan perilaku kita (Yak. 1:23-24). Dengan begitu, kita dapat menyelaraskan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dinyatakan Allah. Kita mau “mengekang” lidah (ay.26), “mengunjungi yatim piatu dan janda-janda” yang berkesusahan (ay.27), memperhatikan pimpinan Roh Kudus di dalam kita, dan menjaga diri supaya “tidak dicemarkan oleh dunia” (ay.27).
Bila kita menyimak dan melakukan “hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang,” kita akan diberkati dalam apa yang kita lakukan (ay.25). Ketika memandang cermin Kitab Suci, kita dapat menerima “dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hati [kita]” (ay.21). —Lawrence Darmani
Bapa Surgawi, “singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mzm. 119:18). Tolong aku menata hidupku sesuai dengan pengajaran-Mu dalam Kitab Suci.
Seperti cermin memantulkan rupa kita, demikianlah Alkitab menyingkapkan jati diri kita.

Saturday, December 15, 2018

Mosaik Keindahan

Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. —Lukas 1:46-47
Mosaik Keindahan
Tatkala duduk di halaman Gereja Visitasi di Ein Karem, Israel, saya sangat tergugah oleh keelokan enam puluh tujuh mosaik bertuliskan perkataan dari Lukas 1:46-55 dalam berbagai bahasa. Bagian Alkitab tersebut umumnya dikenal sebagai Magnificat, bahasa Latin yang artinya “memuliakan”, dan merupakan ungkapan sukacita Maria menanggapi berita bahwa ia akan menjadi ibu dari Sang Mesias.
Setiap plakat berisi pujian Maria tersebut, termasuk: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, . . . karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (ay.46-49). Nyanyian Alkitab yang terukir pada potongan mosaik itu adalah lagu pujian Maria yang menceritakan kesetiaan Allah kepadanya dan kepada bangsa Israel.
Setelah menerima anugerah Allah, Maria bersyukur dan bersukaria karena keselamatannya (ay.47). Ia mengakui bahwa rahmat Tuhan telah diberikan kepada bangsa Israel turun-temurun (ay.50). Sembari mengingat kembali pemeliharaan Allah bagi bangsa Israel, Maria memuji Allah atas perbuatan tangan-Nya yang penuh kuasa bagi umat-Nya (ay.51). Ia juga bersyukur kepada Allah, karena menyadari bahwa pemeliharaan yang ia alami setiap hari itu berasal dari Tuhan (ay.53).
Maria menunjukkan bahwa mengingat-ingat perbuatan besar Allah bagi kita adalah satu cara untuk mengungkapkan pujian dan dapat membuat kita bersukacita. Pada masa Natal ini, ingatlah kebaikan Allah yang telah dialami sepanjang tahun. Keping-keping kenangan itu akan menghasilkan bagimu mosaik pujian yang sangat indah. —Lisa Samra
Bapa, kami memuji-Mu atas perbuatan-perbuatan-Mu yang besar dalam kehidupan kami tahun ini. Kami bersukacita atas rahmat dan pemeliharaan-Mu atas kami.
Buatlah daftar berkat Allah tahun ini dan renungkanlah dalam keheningan. Lalu, ceritakanlah kebaikan-Nya kepada seseorang.

Friday, December 14, 2018

Lagu Cinta dari Surga

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19
Lagu Cinta dari Surga
Tahun 1936, pengarang lagu Billy Hill merilis karya emasnya yang berjudul The Glory of Love (Kemuliaan Cinta). Dalam waktu singkat, seantero negeri pun bernyanyi tentang indahnya melakukan hal-hal sederhana karena cinta kepada sesama. Lima puluh tahun kemudian, pengarang lagu lainnya bernama Peter Cetera menulis lagu romantis dengan judul yang serupa. Ia membayangkan dua insan yang hidup selamanya dan melakukan semuanya—demi kemuliaan cinta.
Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, menggambarkan tentang sebuah lagu cinta baru yang kelak dinyanyikan oleh semua orang di surga dan bumi (why. 5:9,13). Namun, lagu itu diawali dengan nada sendu. Yohanes, sang narator, menangis karena tidak melihat adanya jawaban atas persoalan dunia (ay.3-4). Namun, suasana hatinya menjadi lebih cerah dan lagunya semakin bersemangat (ay.12-13) setelah Yohanes melihat kemuliaan dan kisah kasih yang sejati. Seketika ia mendengar seluruh ciptaan memuji sang Raja, Singa dari suku Yehuda yang penuh kuasa (ay.5). Dia telah merebut hati umat-Nya dengan jalan mengorbankan diri-Nya dalam kasih, seperti seekor Anak Domba, untuk penebusan kita (ay.13).
Lewat lirik lagu-lagu yang paling menyentuh hati di dunia ini, kita melihat bagaimana perbuatan baik yang paling sederhana pun bisa menginspirasi kita untuk bernyanyi. Lewat bagian dari kitab Wahyu tadi kita melihat bahwa kemuliaan kasih yang kita nyanyikan bercerita tentang isi hati Allah kita. Kita bernyanyi tentang Allah karena Dia telah memenuhi kita dengan nyanyian syukur. —Mart DeHaan
Bapa, bantulah kami untuk melihat bahwa tindakan kasih dan kebaikan yang paling sederhana pun dapat mengingatkan kami akan kasih-Mu kepada kami.
Perbuatan sederhana apa yang dapat kamu lakukan hari ini sebagai ucapan syukurmu kepada Allah?

Thursday, December 13, 2018

Pohon “Menanti Sang Bayi”

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23
Pohon “Menanti Sang Bayi”
Setelah menghias pohon Natal dengan lampu kerlap-kerlip, saya ikatkan pita merah muda dan biru pada dahan-dahannya. Kami menamainya pohon “Menanti Sang Bayi”. Telah lebih dari empat tahun, saya dan suami menunggu kehadiran seorang bayi melalui proses adopsi. Kali ini kami pasti memperolehnya menjelang Natal!
Setiap pagi, sambil memandang pohon itu, saya berdoa dan mengingatkan diri sendiri akan kesetiaan Allah. Tanggal 21 Desember, kami menerima berita: tak ada bayi yang bisa kami adopsi pada Natal kali ini. Dengan hancur hati, saya berhenti sejenak di depan pohon yang menjadi lambang pemeliharaan Tuhan itu. Saya pun bertanya-tanya, Masihkah Allah setia? Apa salah saya?
Terkadang, Allah menahan jawaban doa untuk mendisiplin kita. Adakalanya, Dia sengaja menunda untuk memperbarui kepercayaan kita. Dalam kitab Ratapan, Nabi Yeremia menggambarkan hukuman Tuhan atas Israel. Rasa sakitnya nyata: “Anak panah-Nya menembus tubuhku sampai menusuk jantungku” (3:13 BIS). Namun, di tengah semua penderitaan itu, Yeremia menyatakan kepercayaan mutlaknya kepada kesetiaan Allah: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay. 22-23).
Pohon itu tetap berdiri setelah Natal berlalu dan saya tetap berdoa setiap pagi. Akhirnya, menjelang Paskah, kami menerima seorang bayi perempuan. Allah terbukti selalu setia, meski tidak selalu sesuai dengan waktu atau keinginan kita.
Sekarang, anak-anak saya sudah berusia tiga puluhan, tetapi setiap tahun saya memasang miniatur pohon itu untuk mengingatkan diri dan orang lain untuk tetap berharap pada kesetiaan Allah. —Elisa Morgan
Ya Allah, tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu meski aku tak melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, sebab Engkau setia.
Kesetiaan Allah adalah alasan terbaik untuk tetap berharap.

Wednesday, December 12, 2018

Resep Hidup

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. —Roma 7:15
Resep Hidup
Seorang rekan kerja mengaku bahwa ia tidak merasa dirinya layak diselamatkan oleh Tuhan. Saya mendengarkan penuturannya tentang bagaimana ia hidup selama ini dengan begitu nyaman dan bersenang-senang, tetapi hal-hal itu ternyata tak memuaskannya. “Masalahnya, saya sudah berusaha menjadi orang baik, bahkan peduli kepada orang lain, tetapi rasanya semua itu percuma. Hal baik yang ingin saya lakukan justru tidak mampu saya lakukan, tetapi hal buruk yang kubenci, itulah yang terus kulakukan.”
“Apa resep hidupmu?” tanyanya dengan penuh kesungguhan. “Resepnya . . .” jawab saya, “sebenarnya tidak ada. Seperti kamu, saya juga tidak mampu hidup menurut standar Allah. Karena itu, kita memerlukan Yesus.”
Saya menunjukkan kepadanya perkataan Rasul Paulus dalam Roma 7:15. Ungkapan frustrasi Paulus sering mengena baik kepada orang belum percaya maupun orang Kristen yang merasa harus berusaha membuat diri layak di hadapan Allah tetapi tetap gagal juga. Mungkin kamu pun merasakannya. Jika demikian, pernyataan Paulus bahwa Kristuslah sumber keselamatan dan perubahan hidup kita seharusnya menggetarkan jiwamu (7:25-8:2). Yesus sendiri telah menyelesaikan karya penyelamatan agar kita terbebas dari hal-hal yang membuat kita frustrasi!
Dosa yang menjadi penghalang antara kita dan Allah telah disingkirkan tanpa usaha kita sama sekali. Keselamatan—dan perubahan hidup yang dikerjakan Roh Kudus dalam proses pertumbuhan kita—adalah kehendak Allah bagi semua orang. Dia mengetuk pintu hati kita. Izinkanlah Dia masuk. Dialah “resep” hidup kita. —Randy Kilgore
Tanpa Yesus, takkan ada keselamatan dan pertumbuhan rohani.

Tuesday, December 11, 2018

Mengharapkan Juruselamat

“Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria?” —Matius 13:55
Mengharapkan Juruselamat
Montir itu tampak masih muda—terlalu muda untuk membereskan mesin mobil kami yang tidak bisa menyala. Dalam keraguan, suami saya, Dan, berbisik, “Ia masih kecil.” Ketidakpercayaannya kepada montir itu mirip seperti gerutuan orang banyak di Nazaret yang meragukan Yesus.
“Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” tanya mereka (Mat. 13:55) ketika Yesus mengajar di rumah ibadah. Sambil mencemooh, warga kota itu heran melihat seseorang yang mereka kenal bisa menyembuhkan dan mengajar. Mereka pun bertanya, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?” (ay.54). Alih-alih percaya kepada Yesus, mereka merasa terganggu oleh kuasa yang ditunjukkan-Nya (ay.15,58).
Demikian pula kita mungkin sulit mempercayai hikmat dan kuasa Juruselamat kita, terutama untuk hal-hal yang biasa dialami sehari-hari. Ketika tidak mengharapkan pertolongan-Nya, mungkin saja kita akan melewatkan mukjizat-Nya yang mengubahkan hidup kita (ay.58).
Suami saya akhirnya menyadari bahwa bantuan yang ia perlukan sudah ada di hadapannya. Ia mau menerima pertolongan anak muda itu dan mengizinkannya memeriksa aki mobil tua kami. Hanya dengan mengganti satu baut, montir itu pun dapat menyalakan mesin mobil dalam sekejap. Mesin menderum dan lampu-lampu menyorot terang. “Lampunya terang sekali seperti pada hari Natal,” kata Dan.
Itulah yang kita harap akan dialami ketika Sang Juruselamat membawa cahaya, kehidupan, dan pertolongan yang selalu baru dalam perjalanan kita sehari-hari bersama-Nya. —Patricia Raybon
Ketika aku meragukan Engkau, ya Tuhan, tolonglah aku yang tidak percaya ini.
Hal praktis apa yang bisa kamu lakukan untuk mengingatkan diri sendiri maupun orang lain bahwa Allah sanggup dan berdaulat penuh?

Monday, December 10, 2018

Kepunyaan Tuhan

Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. —Roma 8:16
Kepunyaan Tuhan
Zaman sekarang, banyak sekali orang yang bertato. Ada tato yang sangat kecil sehingga hampir tidak kelihatan. Ada juga atlet, aktor, hingga orang biasa yang hampir seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tato warna-warni berupa tulisan dan gambar. Tren yang menghasilkan pemasukan sebesar 3 milyar dolar AS sepanjang tahun 2014 itu—dan 66 juta dolar untuk usaha penghapusan tato—tampaknya masih akan bertahan lama.
Terlepas dari pandangan kamu terhadap tato, Yesaya 44 merupakan kiasan tentang orang yang menuliskan “Kepunyaan Tuhan” pada tangan mereka (ay.5). Tulisan yang ditulis sendiri itu merupakan puncak dari satu bagian firman yang berbicara tentang pemeliharaan Allah atas orang-orang pilihan-Nya (ay.1). Mereka dapat mengandalkan pertolongan-Nya (ay.2) dan tanah serta keturunan mereka akan penuh dengan berkat (ay.3). Dua kata yang sederhana tetapi dahsyat itu, “Kepunyaan Tuhan”, meneguhkan bahwa umat Allah tahu mereka adalah kepunyaan-Nya dan bahwa Dia akan senantiasa memelihara mereka.
Siapa saja yang datang kepada Allah dengan iman kepada Yesus Kristus boleh dengan yakin berkata bahwa mereka adalah “Kepunyaan Tuhan!” Kita adalah umat-Nya, domba-Nya, anak-Nya, warisan-Nya, dan tempat kediaman-Nya. Itulah yang menjadi pegangan kita dalam melewati berbagai musim kehidupan. Mungkin kita tidak mempunyai tanda yang kelihatan atau tato pada tubuh kita, tetapi yakinlah bahwa kita ini milik-Nya karena Roh Allah sendiri yang menyatakannya di dalam hati kita (Rm. 8:16-17). —Arthur Jackson
Allah Bapa, bukti kasih dan pemeliharaan-Mu ada di sekelilingku, bahkan Roh-Mu tinggal di dalamku. Terima kasih!
Bagaimana status kamu sebagai “kepunyaan Tuhan” mempengaruhi cara hidupmu?

Sunday, December 9, 2018

Kasih yang Tak Berkesudahan

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:1
Kasih yang Tak Berkesudahan
“Ayah sayang padamu!” seru ayah ketika saya membanting pintu mobil dan berlari ke gerbang sekolah. Waktu itu, saya masih kelas 6 sekolah dasar, dan selama berbulan-bulan adegan yang sama terjadi setiap pagi. Ayah mengantar saya ke sekolah, lalu beliau akan berkata, “Belajar yang rajin, ya! Ayah sayang padamu!” Namun, jawaban saya hanyalah, “Dah.” Saya tidak sedang marah atau berusaha mengabaikannya, hanya saja saya terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, sehingga tidak menyimak kata-katanya. Meski demikian, ayah tetap menyayangi saya.
Seperti itulah kasih Allah—bahkan lebih. Kasih setia-Nya tetap untuk selamanya. Dalam bahasa Ibrani, kasih setia seperti itu disebut hesed. Kata tersebut sering dipakai dalam Perjanjian Lama, dan sebanyak dua puluh enam kali dalam Mazmur 136 saja! Tidak ada kata modern yang dapat merangkum maknanya secara penuh; kita menerjemahkannya menjadi “kebaikan,” “cinta kasih,” “belas kasihan,” atau “kasih setia.” Hesed adalah kasih sayang yang berdasarkan komitmen perjanjian; suatu cinta yang teguh dan setia. Bahkan, di saat umat-Nya berdosa, Allah tetap setia mengasihi mereka. Kasih setia adalah bagian yang tak terpisahkan dari karakter Allah (Kel. 34:6).
Waktu kecil, adakalanya saya menganggap kasih ayah sebagai hal yang biasa saja. Sekarang, adakalanya saya juga memperlakukan kasih Bapa surgawi dengan cara yang sama. Saya lupa mendengarkan Allah dan menanggapi-Nya. Saya lupa mengucap syukur. Namun, saya tahu bahwa kasih setia Allah kepada saya tetap teguh—itulah landasan pasti bagi seluruh kehidupan saya. —Amy Peterson
Ya Tuhan, kami memuji-Mu karena kasih setia-Mu tak berkesudahan bagi kami! Sekalipun kami tidak setia, Engkau tetap setia.
Ambillah waktu untuk menunjukkan kasih Allah kepada seseorang hari ini.

Saturday, December 8, 2018

Rumah

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2
Rumah
Baru-baru ini, Patsy, seorang teman yang bekerja sebagai makelar rumah meninggal dunia karena kanker. Sewaktu mengenang kehidupan Patsy, istri saya ingat bahwa bertahun-tahun lalu Patsy pernah membawa seseorang percaya kepada Yesus dan orang itu sekarang menjadi salah satu teman baik kami.
Betapa indahnya mengingat bahwa Patsy tak hanya membantu orang menemukan rumah di dunia ini, tetapi juga membantu mereka mendapat rumah yang kekal.
Tatkala Yesus bersiap menuju salib demi kita, Dia menunjukkan perhatian yang besar pada kediaman kita yang kekal. Kata-Nya kepada para murid, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2). Dia mengingatkan mereka bahwa ada banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Nya bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Kita senang memiliki rumah yang indah dalam kehidupan ini—tempat yang istimewa bagi keluarga kita untuk makan-minum, beristirahat, dan menikmati kebersamaan. Namun, renungkanlah betapa luar biasanya ketika kita memasuki kehidupan selanjutnya dan melihat bahwa Allah telah menyiapkan rumah kita yang kekal. Terpujilah Allah yang memberi kita kehidupan ”dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10), termasuk kehadiran-Nya bersama kita saat ini dan persekutuan dengan Dia kelak di tempat yang telah disediakan-Nya untuk kita (Yoh. 14:3).
Mengingat apa yang telah Allah sediakan bagi orang percaya, semestinya kita pun tertantang untuk mengikuti jejak Patsy dengan memperkenalkan orang lain kepada Yesus. —Dave Branon
Tuhan, selagi kami menantikan rumah yang Engkau siapkan, mampukan kami untuk mengabarkan kepada orang lain bahwa mereka juga dapat menikmati rumah kekal yang Engkau sediakan bagi semua yang percaya kepada Yesus.
Hari ini, siapa yang dapat kamu ajak bicara tentang rumah dan kepastian kekal yang mereka butuhkan?

Friday, December 7, 2018

Tangan Allah yang Tersembunyi

Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. —Mazmur 139:16
Tangan Allah yang Tersembunyi
Teman saya diadopsi oleh pasangan misionaris dari Amerika Serikat dan dibesarkan di Ghana. Setelah keluarganya kembali ke Amerika, ia sempat berkuliah tetapi kemudian terpaksa harus putus sekolah. Belakangan, ia masuk ke dalam ketentaraan. Pilihan itu membantunya untuk meneruskan kuliah dan membawanya keliling dunia. Melalui semua peristiwa itu, Allah sedang bekerja mempersiapkannya untuk suatu peran istimewa. Kini, ia menjadi penulis dan penyunting untuk sebuah terbitan Kristen yang memberkati pembaca dari seluruh dunia.
Istrinya juga memiliki kisah yang menarik. Ia pernah gagal dalam ujian-ujian mata kuliah kimia pada tahun pertama kuliahnya akibat obat keras yang harus diminumnya karena penyakit epilepsi. Setelah mempertimbangkan masak-masak, ia pun pindah ke jurusan Bahasa Isyarat Amerika dengan beban kuliah yang lebih mudah ia jalani. Becermin dari pengalaman itu, ia pun berkata, “Tuhan mengarahkan hidupku kepada tujuan yang lebih besar.” Kini, ia membantu penyebaran firman Allah yang mengubahkan hidup kepada para penyandang tunarungu.
Pernahkah kamu bertanya-tanya ke mana Allah membawamu? Mazmur 139:16 mengakui kedaulatan tangan Tuhan dalam kehidupan kita: “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Kita memang tidak tahu bagaimana Allah akan memakai beragam situasi yang terjadi dalam hidup kita, tetapi kita dapat tetap tenang karena meyakini bahwa Allah tahu segala sesuatu tentang kita dan Dia menuntun langkah kita. Meski tangan-Nya yang berdaulat tampak tersembunyi, sesungguhnya Dia senantiasa mendampingi kita. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu meski adakalanya aku tidak mengerti.
Apa yang kamu lakukan untuk mengenali pimpinan Allah atau melangkah sesuai dengan panggilan-Nya bagi hidupmu?

Thursday, December 6, 2018

Natal yang Sepi

Mataku tetap terarah kepada Tuhan. —Mazmur 25:15
Natal yang Sepi
Natal paling sepi yang pernah saya alami adalah ketika berada di pondok milik kakek saya di dekat Sakogu, wilayah utara Ghana. Saat itu, saya baru berusia lima belas tahun, sementara orangtua dan saudara-saudara saya tinggal seribu kilometer jauhnya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika tinggal bersama mereka dan teman-teman sekampung, Natal selalu terasa ramai dan mengesankan. Namun, Natal kali ini begitu sunyi dan sepi. Sembari berbaring di atas tikar pada pagi harinya, saya teringat lagu daerah: Tahun telah berakhir; Natal telah tiba; Anak Allah lahir; damai dan sukacita bagi semua. Dengan sedih, saya menyanyikan lagu itu berulang-ulang.
Nenek saya datang dan bertanya, “Lagu apa itu?” Kakek dan nenek saya tidak tahu apa-apa tentang Natal, apalagi tentang Kristus. Jadi, saya pun menceritakan apa yang saya ketahui tentang Natal kepada mereka. Saat itulah kesepian saya terasa sirna.
Sendirian di padang, dengan hanya ditemani domba dan hewan liar yang sesekali muncul, Daud sang gembala muda mengalami kesepian. Bukan kali itu saja ia mengalaminya. Di kemudian hari, ia menulis, “Aku kesepian dan sengsara” (Mzm. 25:16 BIS). Namun, Daud tak membiarkan dirinya putus asa ditelan rasa sepi. Sebaliknya, ia bernyanyi: “Aku berharap kepada-Mu” (ay.21 BIS).
Dari waktu ke waktu, kita semua pasti mengalami kesepian. Di mana pun kamu berada pada Natal tahun ini, baik dalam kesepian maupun kehangatan, Kristus senantiasa menemanimu. —Lawrence Darmani
Tuhan, terima kasih karena bersama-Mu aku tidak sendirian meski didera kesepian. Natal kali ini, tolonglah aku untuk menikmati persekutuan dengan Engkau dan juga melayani orang lain yang membutuhkan kasih-Mu.
Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.

Wednesday, December 5, 2018

Tangan yang Mengangkat Kita

Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. —Pengkhotbah 4:10
Tangan yang Mengangkat Kita
Anak-anak saya sangat menikmati serunya berseluncur di halaman belakang rumah kami di Idaho pada musim dingin. Ketika masih kecil, sangat sulit bagi mereka untuk belajar memainkan seluncur es. Tak mudah membujuk mereka untuk mau menapaki permukaan es yang keras dan dingin karena mereka tahu rasanya sakit saat jatuh. Setiap kali mereka terpeleset, saya atau suami saya akan merengkuh dan membantu mereka berdiri kembali.
Mempunyai seseorang yang menolong kita saat jatuh adalah berkat yang digambarkan dalam Pengkhotbah. Bekerja bersama orang lain membuat pekerjaan kita lebih baik dan lebih efektif (Pkh. 4:9), ditambah lagi kehadiran seorang sahabat membawa kehangatan dalam hidup kita. Ketika kita menghadapi tantangan, kehadiran seseorang yang memberi dukungan emosional dan pertolongan praktis akan sangat membantu. Hubungan seperti itu memberi kita kekuatan, tujuan, dan penghiburan.
Ketika kita jatuh di atas dinginnya kesulitan hidup, adakah orang di sekitarmu yang dapat mengangkat kamu kembali? Jika ada, Tuhanlah yang mengirimkannya. Sebaliknya, apabila orang lain membutuhkan teman, maukah kita menjadi jawaban Allah untuk mengangkat mereka kembali? Dengan menjadi sahabat bagi sesama, kita pun mendapatkan seorang sahabat. Bila tampaknya tidak ada orang yang membantu kita bangkit lagi, ketahuilah bahwa Allah selalu ada sebagai Penolong kita (Mzm. 46:2). Ketika kita mengulurkan tangan ke arah-Nya, Dia siap meraihnya dengan genggaman-Nya yang teguh. —Kirsten Holmberg
Terima kasih, Bapa, sebab Engkau menolongku berdiri saat aku ditumbangkan oleh kerasnya kehidupan ini. Terima kasih untuk orang-orang yang Engkau pakai untuk menghibur dan menguatkanku. Namun, Engkaulah sahabatku yang paling setia.
Bagaimana kamu dapat membuka diri lebih lagi untuk semakin mengalami kehadiran Allah dalam hidupmu?

Tuesday, December 4, 2018

Pertanyaan di Hari Natal

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” —Matius 16:15
Pertanyaan di Hari Natal
Jauh sebelum kalender menunjukkan bulan Desember, kemeriahan Natal mulai tampak di kota kami yang terletak di wilayah utara. Pepohonan dan semak-semak di halaman sebuah klinik digantungi lampu hias warna-warni sehingga pada malam hari cahayanya berpendar memukau. Kantor lain menghias bangunannya seperti sebuah kado Natal raksasa yang megah. Ke mana pun mata memandang, terlihat jelas adanya semangat Natal—atau setidaknya kegiatan berbagai usaha yang menjajakan produknya menjelang Natal.
Ada yang menyukai tampilan mewah itu, ada pula yang memandang sinis. Namun, pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana pandangan orang tentang Natal. Sebaliknya, kita perlu merenungkan apa makna perayaan itu bagi kita masing-masing.
Tiga puluh tahun lebih setelah kelahiran-Nya, Yesus bertanya kepada para murid, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (mat. 16:13). Mereka pun melaporkan perkataan orang lain: Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu dari para nabi. Kemudian, pertanyaan Yesus menjadi lebih pribadi sifatnya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ay.15). Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (ay.16).
Banyak orang merayakan Natal tanpa memikirkan siapa sesungguhnya Bayi yang kelahirannya dirayakan itu. Ketika berbincang dengan mereka, kita dapat menolong mereka memikirkan pertanyaan penting ini: Apakah Natal hanya sebuah kisah mengharukan tentang bayi yang lahir di kandang, ataukah Pencipta kita benar-benar datang kepada ciptaan-Nya dan menjadi manusia seperti kita? —Tim Gustafson
Bapa di surga, kiranya perayaan Natal tahun ini, baik mewah maupun sederhana, dapat memuliakan Sang Mesias yang datang untuk menebus ciptaan-Nya.
Menurutmu, siapakah Yesus?

Monday, December 3, 2018

Aku Bersyukur untuk Dirimu!

Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur. —Mazmur 100:4
Aku Bersyukur untuk Dirimu!
Sewaktu merawat ibu saya di rumah perawatan bagi para penderita kanker, saya berkenalan dengan Lori, pengasuh lain yang tinggal bersama suaminya, Frank, di lorong yang sama dengan kami. Saya biasa mengobrol, bercanda, mencurahkan isi hati, menangis, dan berdoa bersama Lori di ruang duduk. Kami sangat senang dapat mendukung satu sama lain selagi kami merawat anggota keluarga terkasih kami masing-masing.
Suatu hari, saya pernah ketinggalan bus antar-jemput gratis yang mengantar warga ke pusat perbelanjaan. Lori pun menawarkan tumpangannya malam itu. Dengan air mata haru, saya pun menerima tawarannya. Saya mengucapkan kepadanya, “Aku bersyukur untuk dirimu.” Saya sungguh menghargai Lori karena dirinya, bukan semata karena bantuannya.
Mazmur 100 menunjukkan penghargaan kepada Allah untuk diri-Nya, bukan sekadar karena perbuatan-Nya. Pemazmur mengundang “seluruh bumi” (ay.1), “Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita” (ay.2), sebab kita yakin “bahwa Tuhanlah Allah” (ay.3). Sang Pencipta mengundang kita ke hadirat-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dan memuji nama-Nya (ay.4). Ya, Tuhan memang layak menerima ucapan syukur kita terus-menerus karena Dia “baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (ay.5).
Allah senantiasa merupakan Pencipta dan Pemelihara alam semesta sekaligus Bapa kita yang penuh kasih. Dia layak menerima ucapan syukur yang tulus dan penuh sukacita dari kita. —Xochitl Dixon
Tuhan, aku bersyukur untuk diri-Mu!
Kepada siapa bisa kamu bagikan kasih Allah hari ini?

Sunday, December 2, 2018

Tempat yang Aman

Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. —Mazmur 17:6
Tempat yang Aman
Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan di daerah West Virginia dengan hutannya yang berbukit-bukit, sebuah pemandangan yang membangkitkan imajinasi dalam diri anak-anak seperti kami. Di sana, kami memainkan adegan yang kami temukan dalam bacaan maupun film, misalnya bergelantungan seperti Tarzan atau membangun rumah pohon. Salah satu permainan favorit kami adalah membangun benteng lalu bertingkah seolah-olah kami berlindung dari serangan musuh. Bertahun-tahun kemudian, anak-anak saya pun membangun benteng dari selimut, seprai, dan bantal—membangun “tempat yang aman” dari musuh-musuh khayalan mereka sendiri. Tampaknya, mencari tempat persembunyian untuk merasa aman adalah naluri alami setiap orang.
Ketika Daud, sang pemazmur Israel, mencari tempat yang aman, Allah menjadi tujuan satu-satunya. Mazmur 17:8 menegaskan, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.” Jika kita melihat kehidupan Daud dan ancaman yang nyaris tak henti dihadapinya, perkataannya menunjukkan tingkat kepercayaan yang luar biasa kepada Allah (ay.6). Meski dirundung bahaya, Daud yakin bahwa di dalam Allah ada keamanan sejati.
Kita pun bisa memiliki keyakinan yang sama apabila kita mempercayakan setiap detik kehidupan kita kepada Allah yang berjanji takkan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibr. 13:5) . Meski dunia tidak aman, Allah memberi kita damai sejahtera dan kepastian—sekarang dan selamanya. Dialah tempat yang aman bagi kita. —Bill Crowder
Ya Bapa, dunia di sekitarku kadang terasa menakutkan, menyesakkan, dan membahayakan diriku. Namun, Engkau memberiku kedamaian, kekuatan, dan pertolongan.
Bersyukurlah kepada Allah yang menjadi tempat perlindunganmu.

Saturday, December 1, 2018

Allah Mendengar

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! —Roma 12:12
Allah Mendengar
Tatkala masing-masing anggota kelompok mengajukan pokok doa untuk kerabat dan sahabat mereka yang sedang sakit atau berada dalam kesulitan, Diane hanya menyimak. Ia juga memiliki anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun bergumul dengan masalah kecanduan. Namun, Diane diam saja dan tidak mau mengungkapkan permohonan doanya. Ia tidak tahan melihat reaksi orang atau mendengar pertanyaan dan saran yang sering muncul setiap kali ia menceritakan pergumulannya, sehingga pikirnya, hal itu lebih baik ia rahasiakan. Ada saja orang yang tak mengerti bagaimana kerabatnya yang sudah percaya kepada Tuhan itu masih jatuh bangun dalam hidupnya.
Meski Diane tidak mengutarakan pokok doanya kepada kelompok itu, ia masih mempunyai beberapa teman tepercaya yang mendoakannya. Bersama, mereka memohon agar Allah membebaskan orang yang dikasihinya dari belenggu kecanduan yang sangat kuat supaya ia mengalami kelepasan dalam Kristus—dan agar Diane diberi ketenangan dan kesabaran yang dibutuhkan. Ketika berdoa, ia merasakan penghiburan dan kekuatan lewat kedekatannya dengan Tuhan.
Banyak dari kita yang berdoa dengan sungguh-sungguh dan tekun, tetapi tampaknya tak kunjung dijawab. Namun, yakinlah bahwa Allah benar-benar peduli dan Dia sungguh mendengar semua permohonan kita. Dia mendorong kita untuk terus berjalan dekat dengan-Nya, bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa (Roma 12:12). Dia dapat diandalkan. —Alyson Kieda
Tuhan, firman-Mu mendorong kami untuk terus berdoa. Bantu kami untuk bertekun dalam doa dan mampukan kami untuk menjadi rekan doa yang setia bagi orang lain.
Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh. —Ibrani 10:22
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate