Pages - Menu

Saturday, January 31, 2015

Pintu Yang Menutup

Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. —2 Korintus 6:2
Pintu Yang Menutup
Bip, bip, bip, bip. Bunyi peringatan dan lampu yang berkedip memberitahukan para penumpang bahwa pintu kereta akan segera menutup. Namun demikian, ada saja beberapa orang yang sudah terlambat tetapi ingin tetap berusaha menerobos dan masuk ke dalam kereta dengan terburu-buru. Pintu itu pun menjepit salah satu dari mereka. Untunglah pintunya terbuka kembali, dan penumpang itu dapat masuk ke gerbong dengan aman. Saya terkadang heran mengapa orang mengambil risiko semacam itu, padahal kereta berikutnya akan tiba hanya dalam waktu 4 menit kemudian.
Ada sebuah pintu yang jauh lebih penting, yang harus kita masuki sebelum pintu itu menutup. Itulah pintu belas kasihan Allah. Rasul Paulus mengatakan kepada kita, “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Kor. 6:2). Kristus telah datang, mati untuk dosa-dosa kita, dan telah bangkit dari kubur. Dia telah membuka jalan bagi kita untuk diperdamaikan dengan Allah dan telah menyatakan hari penyelamatan itu kepada kita.
Hari ini adalah hari penyelamatan itu. Suatu hari nanti, pintu belas kasihan itu akan menutup. Bagi mereka yang menerima dan melayani Kristus, Dia akan berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat. 25:34). Namun mereka yang tidak mengenal Dia akan mendapatkan hukuman kekal (ay.46).
Respons kita terhadap Yesus Kristus menentukan akhir hidup kita. Hari ini Yesus mengundang kita, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh. 10:9). —PFC
Hari ini gerbang-Mu terbuka,
Dan semua yang memasukinya
Akan mendapat sambutan dari Bapa,
Dan pengampunan atas dosa mereka. —Allen
Tiada hari yang lebih baik selain hari ini untuk bergabung dalam keluarga Allah.

Friday, January 30, 2015

Berseluncur Dan Berdoa

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. —Lukas 6:12
Berseluncur Dan Berdoa
Ketika salju turun di Michigan, Amerika Serikat, saya suka mengajak cucu-cucu saya berseluncur di halaman belakang rumah dengan seluncuran plastik. Kami berseluncur menuruni bukit sekitar 10 detik, naik kembali ke atas bukit, lalu berseluncur ke bawah lagi, hingga berulang-ulang.
Ketika saya pergi ke Alaska bersama sekelompok remaja, kami juga biasa akan berseluncur. Kami diangkut bus sampai hampir tiba di puncak sebuah gunung. Kami melompat ke atas papan seluncur, dan selama 10 sampai 20 menit kemudian (tergantung pada tingkat keberanian masing-masing orang), kami berseluncur menuruni gunung itu dengan kecepatan sangat tinggi, seakan-akan kami sedang mempertaruhkan nyawa.
Sepuluh detik di halaman belakang rumah saya versus 10 menit menuruni gunung di Alaska. Keduanya sama-sama disebut berseluncur, tetapi jelas jauh sekali bedanya.
Saya sedang memikirkan tentang hal itu dalam kaitannya dengan doa. Terkadang kita berdoa bagaikan “berseluncur 10 detik di halaman belakang rumah”—doa-doa yang singkat, spontan, atau sebuah ucapan syukur yang pendek sebelum makan. Di saat-saat yang lain, kita didorong untuk berdoa seperti “berseluncur menuruni gunung”—doa-doa panjang yang membutuhkan konsentrasi dan kesungguhan yang mengobarkan hubungan kita dengan Allah. Kedua doa itu memiliki tempatnya masing-masing dan sama-sama penting bagi kehidupan kita.
Yesus sering berdoa dan terkadang Dia berdoa dengan waktu yang lama (Luk. 6:12; Mrk. 14:32-42). Bagaimanapun bentuknya, marilah kita mengungkapkan kerinduan hati kita kepada Allah, baik dalam doa yang singkat maupun doa yang panjang. —JDB
Tuhan, tolong tantang kami untuk senantiasa berdoa—singkat
ataupun panjang doa itu. Saat kami menjalani naik-turunnya
kehidupan kami, kiranya kami senantiasa mencurahkan isi hati
dan pikiran kami kepada-Mu dengan tidak bosan-bosannya.
Yang terpenting dari doa adalah doa itu keluar dari hati.

Thursday, January 29, 2015

Sumber Pertolongan Kita

Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. —Mazmur 121:2
Sumber Pertolongan Kita
Lygon Stevens, pemudi berusia 20 tahun, adalah seorang pendaki gunung yang telah kenyang pengalaman. Ia telah berhasil mendaki sampai ke puncak Gn. McKinley, Gn. Rainier, empat puncak Andes di Ekuador, dan 39 dari gunung tertinggi yang ada di Colorado, Amerika Serikat. “Aku mendaki karena mencintai pegunungan,” katanya, “dan aku bertemu Allah di sana.” Pada Januari 2008, Lygon meninggal karena bencana longsor saat mendaki Little Bear Peak di wilayah selatan Colorado bersama kakaknya, Nicklis, yang selamat dari bencana itu.
Saat orangtua Lygon menemukan catatan hariannya, mereka begitu tersentuh oleh kedekatan Lygon dengan Kristus. “Lygon selalu menjadi terang yang bersinar bagi-Nya,” kata sang ibu, “dan hubungannya dengan Tuhan sangatlah mendalam dan jujur, dalam kedekatan yang bahkan didambakan oleh mereka yang telah lama beriman.”
Dalam tulisan terakhir Lygon, yang ia tulis di dalam tendanya 3 hari sebelum bencana longsor, ia mengatakan: “Allah itu baik, dan Dia memiliki rencana bagi hidup kita yang jauh lebih besar dan lebih indah daripada kehidupan yang kita pilih untuk diri kita sendiri, dan aku sangat bersyukur untuk itu. Terima kasih, Tuhan, karena telah membawaku sejauh ini dan sampai ke tempat ini. Kuserahkan sisa hidupku—masa depanku—ke dalam tangan-Mu juga dan kuucapkan terima kasih.”
Lygon telah menggemakan kata-kata sang pemazmur berikut ini: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:2). —DCM
Kau, Allah, benteng yang baka,
Suaka yang teguh,
Dahulu dan selamanya
Harapan umat-Mu. —Watts
(Kidung Jemaat, No. 330)
Kita dapat mempercayai Allah kita yang Mahatahu untuk menghadapi masa depan yang tidak kita ketahui.

Wednesday, January 28, 2015

Mengatasi Pengalih Perhatian

Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. —Lukas 10:42
Mengatasi Pengalih Perhatian
Setiap hari saya berkendara di jalan raya yang sama dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dari hari ke hari saya melihat semakin bertambahnya jumlah pengemudi yang teralihkan perhatiannya. Biasanya mereka sedang berbicara di telepon atau mengirim/membaca SMS, tetapi saya juga pernah melihat pengemudi yang membaca koran, merias wajah, dan makan semangkuk sereal sambil berusaha mengemudikan mobil yang melaju dengan kecepatan lebih dari 110 km per jam! Dalam keadaan tertentu, pengalih perhatian itu akan berlalu dengan cepat dan tidak membahayakan. Namun dalam sebuah kendaraan yang sedang melaju, pengalih perhatian bisa mematikan.
Terkadang pengalih perhatian dapat membawa masalah dalam hubungan kita dengan Allah. Bahkan, hal itulah yang menjadi keprihatinan Yesus terhadap sahabat-Nya, Marta. Marta “sibuk sekali dengan pekerjaan rumah tangganya” dalam menyiapkan hidangan (Luk. 10:40 BIS). Ketika Marta mengeluh tentang Maria, saudara perempuannya, yang tidak membantunya (tampaknya karena pengabdian Maria kepada Kristus dan ajaran-Nya), Yesus berkata kepadanya, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (ay.41-42).
Meski teralihkan perhatiannya, Marta sebenarnya bertujuan baik. Namun ia kehilangan kesempatan untuk mendengarkan Yesus dan menikmati kehadiran-Nya. Yesus layak mendapatkan pengabdian kita yang tertinggi, dan hanya Dia yang dapat sepenuhnya memampukan kita untuk mengatasi setiap pengalih perhatian dalam hidup ini. —WEC
Tuhan, aku ingin punya hati seperti Maria—yang menyediakan waktu
untuk duduk di kaki-Mu agar belajar dari-Mu dan berada dekat
dengan-Mu. Dan aku ingin punya hati seperti Marta—yang
menyediakan waktu untuk melayani-Mu, satu-satunya yang kukasihi.
Jika ingin merasa sedih, lihat diri sendiri; ingin teralihkan, lihat sekeliling; ingin damai, lihat ke atas.

Tuesday, January 27, 2015

Tangan Allah

KomikStrip-WarungSateKamu-20150127-Payung
Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. —Mazmur 63:9
Tangan Allah
Ketika NASA (Lembaga Aeronautik dan Ruang Angkasa Amerika Serikat) mulai menggunakan sebuah teleskop ruang angkasa jenis baru untuk menangkap spektrum-spektrum cahaya yang berbeda, para peneliti dikejutkan oleh salah satu foto yang dihasilkannya. Foto itu menunjukkan sesuatu yang tampak seperti jari-jari tangan, sebuah jempol, dan telapak tangan yang terbuka dengan perpaduan warna biru, ungu, hijau, dan emas yang sangat spektakuler. Beberapa orang menyebutnya sebagai “Tangan Allah”.
Pemikiran bahwa Allah akan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita pada saat kita membutuhkan adalah tema utama dari Kitab Suci. Dalam Mazmur 63 kita membaca: “Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku” (ay.8-9). Pemazmur merasakan pertolongan dari Allah itu bagaikan tangan kanan yang menopangnya. Sejumlah pengajar Alkitab percaya bahwa Raja Daud menulis mazmur itu di tengah padang gurun Yehuda sepanjang masa-masa kelam dari pemberontakan Absalom, putranya. Absalom telah bersekongkol untuk menggulingkan sang ayah, dan Daud pun melarikan diri ke padang gurun (2Sam. 15-16). Bahkan sepanjang masa sulit itu, Allah hadir dan Daud percaya kepada-Nya. Ia berkata, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau” (Mzm. 63:4).
Terkadang hidup ini memang bisa terasa menyakitkan, tetapi Allah terus mengulurkan tangan-Nya yang memberikan penghiburan di tengah masa-masa sulit tersebut. Kita tidak pernah jauh dari jangkauan tangan-Nya. —HDF
Di bawah pengawasan mata-Nya
Umat-Nya yang kudus aman berdiam;
Tangan yang menopang seluruh alam
Akan sanggup menjaga anak-anak-Nya. —Doddridge
Allah menanggung beban dunia di atas bahu-Nya, tetapi memegang anak-anak-Nya dengan telapak tangan-Nya.

Monday, January 26, 2015

Kuatkanlah Aku

Aku berdoa, “Ya Allah, kuatkanlah aku!” —Nehemia 6:9 BIS
Kuatkanlah Aku
Perdana Menteri pertama Singapura, Lee Kuan Yew, adalah tokoh yang dipuji karena telah membawa Singapura hingga menjadi seperti sekarang ini. Di bawah kepemimpinannya, Singapura bertumbuh menjadi kaya dan makmur serta menjadi salah satu negara yang paling maju di Asia. Ketika ditanya apakah ia pernah merasa ingin menyerah ketika dihadapkan pada kritik dan tantangan selama bertahun-tahun melayani masyarakat, ia pun menjawab, “Semua ini adalah komitmen seumur hidup.”
Nehemia, yang memimpin pembangunan kembali tembok Yerusalem, juga menolak untuk menyerah. Ia menghadapi penghinaan dan intimidasi dari musuh-musuh di sekelilingnya serta ketidakadilan dari bangsanya sendiri (Neh. 4-5). Para musuhnya bahkan secara tidak langsung menuduh bahwa Nehemia mempunyai kepentingan pribadi (6:6-7). Nehemia mencari pertolongan Allah sembari mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan diri.
Meski menghadapi banyak tantangan, tembok Yerusalem selesai dikerjakan dalam 52 hari (6:15). Namun pekerjaan Nehemia belumlah selesai. Ia mendorong bangsa Israel untuk mempelajari Kitab Suci, beribadah, dan memelihara hukum Allah. Setelah menyelesaikan 12 tahun jabatannya sebagai gubernur (5:14 BIS), ia datang kembali untuk memastikan bahwa perubahan yang dibawanya terus berlanjut (13:6). Nehemia berkomitmen seumur hidup untuk memimpin bangsanya.
Kita semua menghadapi beragam tantangan dan kesulitan dalam hidup. Namun sama seperti Allah menolong Nehemia, Dia juga akan menguatkan kita (6:9) di sepanjang hidup kita dalam tugas apa pun yang dipercayakan-Nya kepada kita. —CPH
Ya Tuhan, terkadang aku mudah menjadi kecewa ketika aku
menghadapi kritik atau tantangan. Tolong aku untuk bertahan
dan berikanlah kepadaku kekuatan untuk tetap setia dan taat
pada panggilan yang Engkau mau untuk kulakukan.
Tantangan hidup tidaklah untuk menghancurkan kita, melainkan untuk menuntun kita kepada Allah.

Sunday, January 25, 2015

Istirahat Yang Tenang

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. —Mazmur 4:9
Istirahat Yang Tenang
Beberapa tahun lalu, saya dan Brian, putra saya, sepakat untuk bersama-sama mengangkut beberapa peralatan untuk seorang teman yang tinggal di suatu peternakan terpencil di Idaho, Amerika Serikat. Tidak ada jalan menuju ke wilayah tersebut yang dapat dilewati truk saya. Jadi Ralph, anak muda yang menjadi manajer di peternakan itu, berencana menemui kami di ujung jalan dengan sebuah gerobak kecil yang ditarik sepasang keledai.
Dalam perjalanan menuju peternakan itu, Ralph dan saya mulai mengobrol dan saya mengetahui bahwa ia tinggal di peternakan itu sepanjang tahun. “Apa yang kau lakukan pada musim dingin?” tanya saya, karena saya tahu bahwa musim dingin di pegunungan tersebut berlangsung lama dan cukup parah. Peternakan itu juga tidak memiliki aliran listrik atau saluran telepon; yang ada hanyalah sebuah radio satelit. “Bagaimana kau bisa bertahan?”
“Sebenarnya,” jawab Ralph dengan pelan, “Aku merasa tempat itu begitu damai.”
Di tengah hari-hari kita yang penuh dengan tekanan, terkadang kita mendambakan kedamaian dan ketenangan. Ada terlalu banyak suara bising dan terlalu banyak orang di sekitar kita. Kita ingin “pergi ke tempat yang sunyi, di mana kita . . . dapat beristirahat sebentar” (Mrk. 6:31 bis). Adakah tempat sunyi untuk kita dapat beristirahat sebentar?
Ya, tempat itu memang ada. Ketika kita menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kasih dan rahmat Allah, serta menyerahkan beban kita kepada-Nya, di tempat yang tenang bersama Tuhan itulah kita akan menerima damai sejahtera yang selama ini telah direnggut oleh dunia ini. —DHR
Tempat abadi yang permai,
Di dalam Tuhanku,
Penuh senang serta damai,
Di dalam Tuhanku. —McAfee
(Nyanyian Pujian, No. 274)
Waktu teduh yang dilalui bersama Allah akan membawa ketenangan yang memberi kedamaian.

Saturday, January 24, 2015

Menjawab Seruan

TUHAN berbelaskasihan, dan segera menjawab kamu bila kamu berseru minta tolong kepada-Nya. —Yesaya 30:19 BIS
Menjawab Seruan
Ketika cucu-cucu saya masih kecil, putra saya membawa mereka untuk menyaksikan sandiwara The Lion King (Singa Sang Raja Rimba). Dalam salah satu adegan, Simba sang singa muda tengah berdiri di atas jasad ayahnya, Raja Mufasa, yang telah dibunuh oleh pamannya yang jahat. Karena ketakutan dan sendirian, si kecil Simba pun berseru, “Tolong, Tolong, Tolong!” Pada saat itu, cucu saya yang masih berusia 3 tahun berdiri dari bangkunya dalam gedung pertunjukan yang sunyi senyap itu dan berseru, “Mengapa tak ada yang menolongnya?”
Perjanjian Lama mengandung banyak catatan tentang umat Allah yang berseru meminta pertolongan. Meskipun masalah yang mereka alami sering kali disebabkan oleh ketidaktaatan mereka sendiri, Allah masih tetap bersedia memberi mereka pertolongan.
Dalam tugasnya, Nabi Yesaya harus menyampaikan banyak berita buruk. Akan tetapi, di antara banyaknya berita buruk itu, ia meyakinkan umat Israel bahwa “TUHAN menanti-nantikan saatnya untuk menunjukkan belas kasihan-Nya kepadamu, Ia siap sedia untuk mengasihani kamu. . . . TUHAN berbelaskasihan, dan segera menjawab kamu bila kamu berseru minta tolong kepada-Nya” (Yes. 30:18-19 BIS). Namun Allah sering mengharapkan umat-Nya sendiri untuk menjadi jawaban atas seruan minta tolong itu (lihat Yes. 58:10 BIS).
Hari ini, orang-orang di sekitar kita membutuhkan seseorang yang mau bertindak untuk menolong mereka. Kini kita mendapat kehormatan untuk menjadi perpanjangan tangan Allah dengan menanggapi seruan mereka yang meminta pertolongan. —JMS
Tuhan, ingatkan aku bahwa Engkau rindu menunjukkan belas kasihan
kepada mereka yang sedang membutuhkan. Engkau juga sering
memanggil kami untuk menjadi alat-Mu. Beriku kesempatan hari ini
untuk menunjukkan kasih-Mu kepada satu orang yang membutuhkan.
Tunjukkan kepedulian Allah melalui uluran tanganmu.

Friday, January 23, 2015

Saat Orang Tak Mau Mengampuni

Aku melupakan apa yang telah di belakangku . . . dan berlari-lari kepada tujuan. —Filipi 3:13-14
Saat Orang Tak Mau Mengampuni
Saya pernah makan siang bersama dua pria yang telah menerima Kristus saat mereka mendekam di penjara. Pria yang lebih muda merasa kecewa setelah mengetahui bahwa keluarga yang telah ia curi hartanya ternyata tidak bersedia mengampuninya.
“Kejahatan yang kulakukan memang kejam,” kata pria yang lebih tua. “Hal itu terus menghantui dan mempengaruhi keluarga itu sampai sekarang. Mereka tidak bersedia mengampuniku, . . . karena mereka begitu menderita. Awalnya, aku dibuat tidak berdaya oleh kerinduanku yang besar untuk menerima pengampunan mereka.” Ia pun melanjutkan ceritanya: “Lalu suatu hari aku sadar bahwa aku telah menambahkan keegoisan pada keterpurukanku. Nyaris mustahil keluarga itu akan mengampuniku. Aku telah berfokus pada apa yang kupikir memang kubutuhkan untuk pulih dari masa laluku. Perlu waktu lama untuk menyadari bahwa pengampunan mereka bagiku sebenarnya adalah urusan antara mereka dengan Allah.”
“Bagaimana Anda bisa bertahan?” tanya pria yang lebih muda.
Pria yang lebih tua itu menjelaskan bahwa Allah telah melakukan baginya sesuatu yang tidak layak diterimanya dan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang lain: Dia mati demi dosa-dosa kita, dan Dia memegang janji-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita “sejauh timur dari barat” (Mzm. 103:12) dan “tidak mengingat-ingat dosa [kita]” (Yes. 43:25).
Setelah menerima kasih yang sedemikian ajaib, kita dapat memuliakan Allah dengan menyadari bahwa pengampunan-Nya itu sudah cukup bagi kita. Kita harus melupakan apa yang telah di belakang kita dan terus mengejar tujuan di hadapan kita (Flp. 3:13-14). —RKK
Terima kasih, Bapa, atas karya Kristus di kayu salib. Tolong aku
untuk memahami dan menerima apa artinya hal itu bagiku,
dan agar aku menjadi pembawa berita pengampunan tersebut
kepada orang-orang yang kutemui di sepanjang jalan hidupku.
Karya Kristus cukup untuk menutupi setiap dosa.

Thursday, January 22, 2015

Letupan Indah

Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. —Yohanes 13:34
Letupan Indah
Dalam buku Kisses from Katie (Ciuman Katie), Katie Davis menceritakan sukacita yang dirasakannya ketika ia pindah ke Uganda dan mengadopsi beberapa anak perempuan asal Uganda. Suatu hari, salah satu putrinya bertanya, “Mama, jika aku mengizinkan Yesus masuk ke dalam hatiku, apakah aku akan meletup?” Awalnya, Katie mengatakan tidak. Ketika Yesus masuk ke dalam hati kita, itu adalah sebuah pengalaman rohani.
Namun setelah merenungkan lagi pertanyaan itu, Katie menjelaskan bahwa ketika kita memutuskan untuk memberikan hidup dan hati kita kepada Yesus, “kita akan meletup dengan kasih, dengan belas kasihan, dengan duka yang mendalam untuk mereka yang terluka, dan dengan sukacita bagi mereka yang bersukacita.” Intinya, mengenal Kristus akan membuat kita memiliki kepedulian yang mendalam bagi orang-orang di sekitar kita.
Alkitab menantang kita, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm. 12:15). Kita dapat secara konsisten menunjukkan sikap yang penuh kasih tersebut karena Roh Kudus berkarya di dalam hati kita. Ketika kita menerima Kristus, Roh Kudus datang untuk tinggal di dalam diri kita. Rasul Paulus menggambarkannya demikian, “Di dalam [Kristus] kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Ef. 1:13).
Mempedulikan orang lain—dimampukan oleh pertolongan ilahi dari Allah—akan menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah murid-murid-Nya (Yoh. 13:35). Hal itu juga mengingatkan kita akan kasih-Nya kepada kita. Yesus berkata, “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (ay.34). —JBS
Ya Yesus, tolonglah aku untuk mengalami kasih-Mu
lebih dalam lagi sehingga aku bisa membagikannya
kepada sesama. Mampukan aku melalui Roh Kudus-Mu
supaya aku dapat memuliakan nama-Mu.
Kasih yang kita berikan mencerminkan kasih yang telah kita terima.

Wednesday, January 21, 2015

Menyebut Allah

Ingatlah akan Penciptamu . . . sebelum tiba hari-hari yang malang. —Pengkhotbah 12:1
Menyebut Allah
Ya Allah, berkatilah tanah air kami, Ghana” merupakan baris pertama dari lagu kebangsaan negara Ghana. Contoh lagu kebangsaan negara-negara Afrika lainnya: “Oh Uganda, kiranya Allah menopangmu”, “Tuhan, berkatilah bangsa kami” (Afrika Selatan), dan “Ya Allah Pencipta, tuntunlah perjuangan luhur kami” (Nigeria). Dengan menggunakan lagu kebangsaan sebagai doa, para pendiri negara-negara tersebut memohon kepada Allah untuk memberkati tanah air dan bangsa mereka. Banyak lagu kebangsaan dari negara-negara Afrika dan lainnya di dunia menyebut Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Selanjutnya, lagu-lagu kebangsaan itu menyerukan terjadinya perdamaian, perubahan, dan pengharapan bagi anak bangsa yang sering terpecah-belah karena perbedaan suku, politik, dan status sosial.
Namun saat ini, banyak pemimpin negara dan warga negara yang cenderung melupakan Allah dan tidak menjalani hidup sesuai dengan pernyataan-pernyataan tersebut—terutama saat kehidupan berjalan baik-baik saja. Namun perlukah terjadi perang, wabah penyakit, bencana alam, serangan teroris, atau kekerasan politik, baru kita teringat untuk mencari Allah? Musa memperingatkan bangsa Israel kuno untuk tidak melupakan Allah dan tidak berhenti berpegang pada jalan-jalan-Nya ketika hidup mereka makmur (Ul. 8:11). Pengkhotbah 12:1 mendorong kita, “Ingatlah akan Penciptamu . . . sebelum tiba hari-hari yang malang.”
Mendekat kepada Allah pada saat kita masih kuat dan sehat akan menyiapkan kita untuk bersandar kepada-Nya demi mendapatkan pertolongan dan pengharapan ketika “hari-hari yang malang” tersebut menimpa hidup kita. —LD
Bapa, aku selalu membutuhkan-Mu. Ampunilah aku karena
menganggap bahwa aku sanggup melakukan segalanya seorang diri.
Tolong aku untuk mengikut Engkau dan jalan-Mu, baik di saat senang
ataupun susah. Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu atasku.
Mengingat Pencipta kita dapat menjadi “lagu kebangsaan” kita.

Tuesday, January 20, 2015

Ketika Tuhan Diam

Sesudah itu [Elia] berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” —1 Raja-Raja 19:5
Ketika Tuhan Diam
Saya suka sekali memotret matahari terbenam di Danau Michigan. Mataharinya terkadang menampilkan pemandangan dengan warna pastel lembut; sementara di lain waktu, warna mataharinya begitu cerah dengan garis-garis yang tajam. Adakalanya matahari dengan tenang terbenam di belakang danau, dan di kesempatan lain matahari turun seperti api yang menyala-nyala dengan dahsyatnya.
Kalau harus memilih antara melihat potret atau melihatnya secara langsung, saya akan memilih yang kedua. Namun keduanya sama-sama menampilkan karya tangan Allah. Saya pun memilih untuk melihat karya Allah di dunia ini secara langsung. Saya lebih ingin melihat jawaban doa yang dramatis daripada pemeliharaan Allah yang biasa dialami sehari-hari. Namun demikian, keduanya juga sama-sama merupakan karya tangan Allah.
Elia mungkin mempunyai kecenderungan yang serupa. Ia telah terbiasa mengalami langsung kemegahan dari pernyataan kuasa Allah. Ketika ia berdoa, Allah datang dengan cara yang dramatis—pertama-tama dalam kemenangan ajaib atas para nabi Baal, lalu pada akhir dari masa kekeringan besar yang panjang (1Raj. 18). Namun kemudian Elia ketakutan dan melarikan diri. Allah mengirimkan seorang malaikat untuk memberi Elia makan dan menguatkannya untuk perjalanannya. Setelah 40 hari, Elia tiba ke Horeb. Allah menunjukkan kepada Elia bahwa Dia kini menyampaikan pesan-Nya dengan suara yang tenang dan kecil, bukan dengan keajaiban yang dahsyat (19:11-12).
Jadi, jika kamu merasa kecewa karena Allah belum hadir dengan gelegar kedahsyatan-Nya, mungkin saja Dia sedang mengungkapkan kehadiran-Nya dengan cara yang lembut dan tenang. —JAL
Tuhan, kiranya kami dapat melihat Engkau hari ini dalam hal-hal
sederhana dalam kehidupan kami, sesuatu yang biasanya tidak kami
perhatikan sebelumnya. Terima kasih untuk kehadiran-Mu yang
lembut dan tenang, di mana pun kami jumpai sepanjang hari ini.
Allah hadir dalam perkara-perkara kecil maupun dalam perkara-perkara besar.

Monday, January 19, 2015

Harus Bertindak

Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu! —Yohanes 7:46
Harus Bertindak
John Lewis, seorang anggota Kongres Amerika Serikat, baru berusia 23 tahun saat ikut serta dalam suatu gerakan bersejarah untuk mendorong persamaan hak asasi manusia yang disebut March on Washington, yang dipimpin oleh Dr. Martin Luther King Jr. pada tahun 1963. Setengah abad kemudian, seorang wartawan bernama Bill Moyers menanyakan kepada Lewis bagaimana pengaruh pidato Dr. King, I Have A Dream (Aku Mempunyai Mimpi), terhadap dirinya. Lewis menjawab, “Setelah mendengar pidatonya, kami tak bisa bersikap biasa-biasa saja dan kembali ke kehidupan kami yang lama. Kami merasa harus melakukan sesuatu, kami harus bertindak. Kami harus bergerak. Kami harus pergi keluar dan memberitakan kabar baik tersebut.”
Banyak orang yang telah berjumpa dengan Yesus merasa mustahil untuk tetap bersikap netral tentang Dia. Yohanes 7:25-46 mencatat dua reaksi orang yang berlainan tentang Yesus. Meskipun “banyak yang percaya kepada-Nya” (ay.31), para pemimpin agama berusaha membungkam Yesus dengan menyuruh para penjaga Bait Allah untuk menangkap-Nya (ay.32). Para penjaga itu mungkin hadir saat Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (ay.37-38). Para penjaga kembali tanpa membawa Yesus, dan mereka ditanya, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” (ay.45). Mereka menjawab, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (ay.46).
Perkataan Yesus mendesak kita untuk bertindak, bergerak, dan berubah dari kehidupan kita yang lama. —DCM
Biarlah lidah dan hidup kita mengungkapkan
Kebenaran Injil suci yang kita yakini;
Biarlah karya dan kebajikan kita memancar,
Sebagai bukti firman yang ilahi. —Watts
Kematian Yesus mengampuni dosaku di masa lalu dan mendorongku untuk taat di masa kini.

Sunday, January 18, 2015

Ajaibnya Penglihatan

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. —Mazmur 139:14
Ajaibnya Penglihatan
Di situs livescience.com, saya membaca sepenggal informasi yang sangat menakjubkan: “Jika Anda berdiri di puncak suatu gunung dan mengarahkan pandangan pada suatu bercak di atas bumi yang tampak lebih besar daripada biasanya, mata Anda akan dapat menangkap cahaya terang yang berada ratusan mil jauhnya. Dan di suatu malam yang gelap, Anda bahkan dapat melihat kerlip sebatang lilin yang jaraknya sejauh 30 mil (48 km).” Kamu tidak memerlukan teleskop atau kacamata khusus untuk malam hari—karena mata manusia dirancang sedemikian luar biasa sehingga dengan mata telanjang pun kita bahkan dapat melihat dengan jelas benda yang sedemikian jauh.
Fakta itu menjadi pengingat yang kuat akan kebesaran Allah Pencipta kita, yang merancang tidak hanya mata manusia, tetapi juga setiap seluk-beluk dari alam semesta kita yang teramat luas ini. Kemudian, kita telah diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26), sama sekali berbeda dari karya ciptaan-Nya yang lain. “Menurut gambar dan rupa-Nya” mencakup makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan untuk melihat. Yang dimaksud adalah suatu keserupaan dengan Allah yang memungkinkan kita untuk mempunyai hubungan dengan Dia.
Kita dapat meneguhkan pernyataan Daud, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mzm. 139:14). Kita bukan saja telah diberi mata untuk melihat, tetapi juga telah diciptakan sedemikian rupa sehingga suatu hari kelak, di dalam Kristus, kita akan dapat memandang Dia muka dengan muka! —WEC
Tuhan, betapa keajaiban-Mu terpampang,
Ke mana pun mataku memandang,
Ketika kulihat tanah tempatku berpijak,
Maupun mataku menatap langit tak beranjak! —Watts
Segala karya ciptaan Allah memberi kesaksian tentang Dia sebagai Pencipta kita yang agung.

Saturday, January 17, 2015

Meninggalkan

Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ . . . [dan berkata]: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” —Yohanes 4:28-29
Meninggalkan
Kira-kira satu tahun setelah putra kami memperoleh SIM-nya dan mulai membawa dompet, kami mulai menerima beberapa kabar melalui telepon dari orang-orang yang menemukan dompet tersebut di suatu tempat. Kami pun mengingatkan putra kami untuk lebih berhati-hati dan tidak meninggalkan dompetnya di sembarang tempat.
Terkadang meninggalkan sesuatu, bukanlah hal yang buruk. Dalam Yohanes 4, kita membaca tentang seorang perempuan yang telah datang untuk menimba air dari sumur. Namun setelah bertemu Yesus pada hari itu, tiba-tiba ia mengubah niatnya. Perempuan itu segera meninggalkan tempayannya dan bergegas menceritakan kepada orang-orang tentang apa yang Yesus katakan kepadanya (ay.28-29). Bahkan kebutuhan fisiknya untuk mendapatkan air telah dikesampingkan oleh semangatnya untuk bercerita kepada orang banyak tentang Pribadi yang baru saja ditemuinya.
Petrus dan Andreas juga melakukan hal serupa ketika Yesus memanggil mereka. Mereka berdua segera meninggalkan jala mereka (yang merupakan sumber mata pencaharian mereka) untuk pergi mengikuti Yesus (Mat. 4:18-20). Yakobus dan Yohanes juga meninggalkan jala, perahu, bahkan ayah mereka pada saat Yesus memanggil mereka berdua (ay.21-22).
Kehidupan baru kita dalam mengikuti Yesus Kristus bisa jadi membuat kita harus meninggalkan sejumlah hal, termasuk segala sesuatu yang tidak memberi kita kepuasan abadi. Apa yang sebelumnya sangat kita dambakan kini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan hidup dan “air hidup” yang Yesus tawarkan. —CHK
Selain Kristus, tiada yang bisa memuaskan,
Kini tiada nama lain bagiku;
Segala kasih dan hidup dan sukacita abadi,
Kutemukan dalam Tuhan Yesus saja. —McGranahan
Kristus menunjukkan kasih-Nya dengan mati bagi kita; kita menunjukkan kasih kita dengan hidup bagi Dia.

Friday, January 16, 2015

Ucapan Allah Yang Menyegarkan

Firman-Ku . . . tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia. —Yesaya 55:11
Ucapan Allah Yang Menyegarkan
Ketika saya masih kanak-kanak, keluarga kami sesekali bepergian melewati gurun Nevada. Kami menyukai hujan badai yang terjadi di tengah gurun. Hujan yang sangat lebat, disertai kilatan petir dan bunyi guntur yang menggelegar berbalasan, terlihat seperti selaput yang melapisi panasnya pasir gurun sejauh mata memandang. Air hujan yang sejuk menyegarkan tanah—dan juga kami.
Air membawa perubahan luar biasa di daerah gersang. Sebagai contoh, ada sekumpulan tanaman kaktus yang sama sekali kering di musim kemarau. Namun setelah turunnya hujan pertama di musim panas, kaktus itu berbunga dan menampilkan kelopak-kelopak indah berwarna merah muda, emas, dan putih.
Hal serupa juga terjadi di Tanah Perjanjian. Seusai terjadinya hujan badai, tanah yang kering sepertinya dapat memunculkan tunas-tunas tanaman hanya dalam waktu satu malam. Yesaya menggunakan daya pembaruan dari hujan untuk menggambarkan firman Allah yang menyegarkan: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:10-11).
Di dalam Kitab Suci terkandung vitalitas rohani. Itulah sebabnya firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia. Bilamana firman itu menyirami sebuah hati yang terbuka, ia akan memberikan kesegaran, kekuatan, dan hidup yang baru. —HDF
Janji Tuhan ibarat hujan yang menyegarkan
Yang membasahi tanaman dan benih;
Membawa hidup baru bagi hati yang terbuka,
Dan memenuhi kebutuhan kita pada waktunya. —Sper
Bagai air bagi tanah yang gersang, demikianlah Alkitab bagi jiwa yang haus.

Thursday, January 15, 2015

Kebaikan Yang Tersebar Luas

KomikStrip-WarungSateKamu-20150115-Tempat-Bersandar
Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. —Markus 10:14
Kebaikan Yang Tersebar Luas
Berita tentang suatu perbuatan baik sederhana yang terjadi dalam suatu gerbong kereta bawah tanah di New York telah tersebar ke seluruh dunia. Seorang pria muda sedang terlelap, dengan tudung kaos menutupi kepalanya. Kepalanya itu juga bersandar di bahu seorang penumpang yang lebih tua. Ketika seorang penumpang lain tergerak untuk membangunkan pria muda itu, pria tua tadi berkata perlahan, “Ia pasti telah melalui suatu hari yang berat. Biarkan ia tidur. Kita semua pernah mengalami hal serupa.” Pria tua itu membiarkan penumpang yang kelelahan tadi tidur di bahunya selama hampir satu jam, sampai ia perlahan-lahan bangkit dari duduknya karena hendak turun di stasiun tujuannya. Sementara itu, seorang penumpang mengabadikan kejadian itu dan memasang fotonya pada media sosial, dan foto itu pun tersebar luas.
Kebaikan yang ditunjukkan pria tua tersebut seakan menggaungkan apa yang kita semua dambakan—suatu kebaikan yang mencerminkan hati Allah. Kita melihat kebaikan yang lemah lembut itu dalam diri Yesus ketika murid-murid-Nya mencoba untuk menjaga-Nya dari keriuhan dan kerumunan anak-anak. Yesus justru berkeras untuk memeluk anak-anak itu dan memberkati mereka (Mrk. 10:16). Lewat peristiwa itu, Yesus mengundang kita semua untuk beriman kepada-Nya selayaknya seorang anak kecil (ay.13-16).
Yesus memberitahukan kepada kita bahwa kita semua aman bersama Dia. Baik kita terbangun atau tertidur, kita dapat bersandar kepada-Nya. Ketika kita lelah pun, Dia menyediakan tempat perteduhan yang aman bagi kita. —MRD II
Di bawah naung sayap-Hu terpelihara
Meski g’lap malam angin ributlah.
Demi iman aku dilindungkan-Nya
‘Ku ditebus jadi anak-Nya. —Cushing
(Nyanyian Kemenangan Iman, No. 88)
Allah adalah tempat berlindung yang aman.

Wednesday, January 14, 2015

Layak Untuk Diperjuangkan

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. —2 Korintus 11:30
Layak Untuk Diperjuangkan
Aku tak bisa melakukannya,” kata Robert yang putus asa sembari melempar pensilnya. “Ini terlalu sulit!” Membaca, menulis, dan mengeja seakan mustahil bagi seorang penderita disleksia (gangguan pada penglihatan dan pendengaran karena kelainan saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca) seperti anak kami yang berusia 9 tahun. Akhirnya kami ditawari sebuah solusi yang baik, tetapi berat untuk dijalankan. Kami harus melakukan latihan membaca dan mengeja bersamanya selama 20 menit setiap malam—tanpa kecuali. Adakalanya kami merasa enggan melakukannya, dan adakalanya kami merasa putus asa melihat minimnya perkembangan yang dihasilkan. Namun kami sudah berketetapan untuk mendidik Robert agar dapat memiliki kemampuan membaca sesuai usianya, jadi kami terus berjuang melakukannya.
Setelah 2,5 tahun, segala air mata dan perjuangan kami terbayar sudah. Robert pun dapat membaca dan mengeja. Dan kami semua belajar untuk bertahan dengan sabar.
Rasul Paulus menderita beragam kesukaran dalam usahanya memberitakan kabar baik tentang Yesus kepada siapa saja yang belum pernah mendengar kabar itu. Ia rela didera, disesah, dipenjara, dan disalah mengerti orang, bahkan harus menghadapi kematian (2Kor. 11:25). Namun sukacita dari melihat banyaknya orang yang menerima pemberitaannya membuat semua perjuangannya itu terbayar lunas.
Jika kamu merasa bahwa tugas yang diberikan Allah kepadamu terlalu berat, ingatlah bahwa dalam perjalanan iman, pasti terselip suatu hikmah rohani dan sukacita yang mungkin awalnya tak terlihat. Allah akan menolongmu menemukan berkat tersebut. —MS
Adakalanya kita belajar bahwa kesukaran
Merupakan berkat yang tersamar,
Kesungguhan kerja dan iman kepada Allah
Memang terbukti tidak sia-sia. —Hess
Perjalanan yang ditempuh sama pentingnya dengan tempat yang ingin dituju.

Tuesday, January 13, 2015

Keluar Dari Kegelapan

Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah . . . Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? —Mazmur 77:2,14
Keluar Dari Kegelapan
Saya tidak mengetahui persis keadaan menyedihkan apa yang mencengkeram Asaf, penulis Mazmur 77, tetapi saya pernah mendengar, bahkan mengucapkan ratapan seperti yang diucapkannya. Selama belasan tahun sejak saya kehilangan putri saya, banyak orang, yang juga pernah kehilangan seseorang yang mereka kasihi, telah membagikan kepedihan mereka kepada saya.
Mereka pernah berseru nyaring kepada Allah (ay.2); mengulurkan tangan tanda putus asa (ay.3); mengerang dan lemah lesu setiap kali mengingat Allah karena keadaan yang menyedihkan (ay.4); begitu terbeban hingga kehilangan kata-kata (ay.5); sangat takut Allah menolak mereka (ay.8), mengingkari janji (ay.9), dan merenggut kasih setia-Nya (ay.9).
Namun Asaf mengalami titik balik di ayat 11 setelah ia mengingat kembali karya-karya Allah yang luar biasa. Segala pikirannya berbalik untuk tertuju pada kasih Allah; pada ingatan tentang apa yang telah dilakukan-Nya; pada semua perbuatan Allah yang ajaib di masa lalu; pada penghiburan dari kasih setia dan belas kasihan-Nya; pada segala hal yang membangkitkan ingatan akan keajaiban dan kebesaran Allah; pada kekuatan dan pertolongan-Nya.
Keputusasaan dalam hidup itu memang nyata, dan tidak ada jawaban yang mudah untuk segala keraguan kita. Namun di tengah kegelapan—ketika kita mengingat kemuliaan, keagungan, kuasa, dan kasih Allah—keputusasaan kita akan mereda sedikit demi sedikit. Seperti Asaf, kita juga dapat mengingat kembali segala karya Allah, terutama berkat keselamatan yang dianugerahkan-Nya melalui Yesus, dan kita dapat kembali pada keadaan awal kita—bersandar dengan penuh rasa syukur dalam kasih-Nya yang ajaib. —JDB
Tuhan, kami takkan sanggup memahami kedalaman karakter-Mu
atau hikmat dari tindakan-Mu saat masalah menghimpit kami.
Tolong kami untuk datang kepada-Mu dengan mengingat kembali
segala kebaikan-Mu dan kasih-Mu yang mulia.
Mengingat masa lalu dapat membangkitkan harapan bagi masa kini.

Monday, January 12, 2015

Seorang Pencerita

Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah . . . sekarang diperdamaikan-Nya. —Kolose 1:21-22
Seorang Pencerita
Pada masa pasca Perang Saudara Amerika Serikat (1861-1865), Mayor Jenderal Lew Wallace, seorang pemimpin dari pihak Perserikatan, menjabat sebagai gubernur dari wilayah New Mexico. Pada saat itu, New Mexico belum ditetapkan menjadi sebuah negara bagian. Tugas yang dilakukan Wallace di wilayah tersebut membuatnya sering bersentuhan dengan banyak tokoh berpengaruh dalam sejarah yang nyaris berbau mitos dari dunia Wild West (mengacu pada teritori di sepanjang Barat Amerika yang belum terjamah oleh hukum), termasuk di antaranya Billy the Kid dan Sheriff Pat Garrett. Di tempat itulah Wallace menulis sebuah buku, yang dianggap oleh sejumlah orang sebagai “buku Kristen paling berpengaruh” pada abad ke-19, berjudul Ben Hur: A Tale of the Christ (Ben Hur: Kisah tentang Kristus).
Wallace menjadi saksi atas dampak dosa yang teramat keji atas hidup umat manusia ketika ia melihat pelbagai kekerasan yang terjadi selama Perang Saudara dan di era Wild West. Baik dalam kehidupannya maupun dalam buku terlarisnya tersebut, Wallace mengerti betul bahwa hanya kisah tentang Yesus Kristus yang mempunyai kuasa untuk menebus dan mendamaikan manusia.
Bagi para pengikut Kristus seperti kita, kehidupan ini mencapai puncaknya ketika Allah “melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (Kol. 1:13-14). Sekarang kita mempunyai hak istimewa untuk menjadi pencerita yang membawa kabar tentang karya penebusan Allah yang luar biasa itu kepada sesama. —RKK
Tuhan, tolong kuasailah lidahku hari ini. Penuhi aku dengan
kata-kata kasih dan rahmat. Gunakan perkataanku untuk
membawa hati seseorang berbalik kepada-Mu.
Tanpa-Mu, aku tak dapat melakukan apa pun.
Perubahan yang Kristus berikan dalam hidupmu adalah kisah yang layak kamu ceritakan kepada sesama.

Sunday, January 11, 2015

Apa Moto Hidupmu?

Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. —Lukas 12:7
Apa Moto Hidupmu?
Grug Crood, tokoh ayah dari satu keluarga penghuni gua dalam sebuah film animasi, percaya bahwa tidak ada tempat yang aman di luar gua tempat mereka tinggal. Maka setiap malam keluarga Grug akan berkumpul dan berhimpitan di dalam gua agar ia dapat melindungi mereka. Grug juga berpendapat bahwa jiwa petualang putri remajanya harus dihilangkan, karena itu hanya akan membawanya pada bahaya. Moto Grug untuk keluarganya adalah “Jangan pernah tidak takut” atau dengan kata lain, “Harus selalu takut”.
Sebaliknya, Yesus sering berkata kepada para pengikut-Nya: “Jangan takut.” Yesus mengatakannya kepada Simon ketika Dia memanggil Simon untuk mengikuti-Nya (Luk. 5:10). Ketika Yairus, seorang kepala rumah ibadat, datang kepada Yesus karena putrinya sekarat, Dia menghiburnya dengan kata-kata kepedulian yang sama (8:50).
Lukas 12 mencatat bahwa Yesus meminta murid-murid-Nya untuk tidak takut ketika Dia mengajarkan bagaimana Allah memandang mereka jauh lebih berharga daripada burung pipit (ay.7). Setelah bangkit, Yesus berkata kepada para wanita yang datang ke kubur, “Salam bagimu! . . . Jangan takut” (Mat. 28:9-10).
Takut adalah perasaan yang umum. Kita mengkhawatirkan orang yang kita cintai, kebutuhan kita, dan masa depan yang belum kita ketahui. Bagaimana kita dapat belajar untuk beriman? Tuhan telah memberi kita suatu dasar untuk membangun keyakinan kita kepada-Nya. Ibrani 13:5-6 berkata, “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’ Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ‘Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.’” —AMC
Bapa, kehidupan di dunia ini terkadang bisa jadi menakutkan.
Terima kasih atas janji-Mu bahwa Engkau tidak akan lalai
dalam mengasihi dan menjaga kami. Saat ketakutan seakan
melingkupi, tolong kami untuk mengingat janji-janji-Mu.
Kasih Allah membebaskan kita dari cengkeraman rasa takut.

Saturday, January 10, 2015

Terlambat Untuk Berubah?

Kata Nikodemus kepada [Yesus]: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? —Yohanes 3:4
Terlambat Untuk Berubah?
Ada pepatah dalam berbagai bahasa yang mengungkapkan tentang sulitnya mengubah kebiasaan yang sudah lama terbentuk. Bahasa Inggris memiliki ungkapan, “You can’t teach an old dog new tricks” (Tidak mungkin mengajarkan trik-trik baru pada seekor anjing yang sudah tua). Dalam Bahasa Perancis, dikenal “Ce n’est pas a un vieux singe qu’on apprend a faire la grimace” (Tidak mungkin mengajar seekor monyet tua untuk membuat raut wajah yang lucu). Kemudian, dalam bahasa Spanyol, “El loro viejo no aprende a hablar” (Burung beo yang sudah tua tidak lagi bisa belajar bicara).
Ketika Yesus mengatakan bahwa seseorang harus “dilahirkan kembali” untuk “melihat Kerajaan Allah,” Nikodemus menjawab, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:3-4). Seorang profesor dan penulis bernama Merrill Tenney berpendapat bahwa Nikodemus bermaksud mengatakan, “Aku tahu lahir baru itu penting, tetapi aku sudah terlalu tua untuk berubah. Pola hidupku sudah terbentuk. Kelahiran fisik tidak lagi mungkin dan kelahiran baru secara psikologis lebih tidak mungkin lagi . . . . Bukankah aku tidak lagi punya harapan?”
Jawab Yesus, antara lain, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (ay.16). Itulah tawaran hidup baru dan awal yang baru bagi setiap orang, baik tua maupun muda.
Berapa pun umur kita dan bagaimana pun keadaan hidup kita, dengan kuasa Allah, tidak ada kata terlambat untuk berubah. —DCM
Ya Bapa, kebiasaan lama kami sulit untuk diubah, kebiasaan baru
lebih sukar untuk dipelajari, dan kadang kami memang tidak ingin
berubah dan belajar. Terima kasih atas kesetiaan-Mu dalam
mengajari kami hal-hal yang baru, yaitu cara-cara-Mu sendiri.
Karena Allah berkuasa, perubahan selalu mungkin terjadi.

Friday, January 9, 2015

Surat Cinta

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. —Mazmur 119:97
Surat Cinta
Setiap pagi ketika tiba di kantor, saya memiliki satu kebiasaan sederhana—membaca semua e-mail yang masuk. Sering kali saya akan membaca kebanyakan e-mail tersebut secara sekilas. Namun ada sejumlah e-mail yang membuat saya bersemangat untuk membacanya. Itu adalah e-mail yang dikirim oleh orang-orang yang saya kasihi.
Ada yang mengatakan bahwa Alkitab adalah surat cinta Allah kepada kita. Namun, adakalanya, sama seperti saya, kamu merasa enggan untuk membukanya dan hatimu tidak merasakan hal yang sama seperti yang dikatakan pemazmur, “Betapa kucintai Taurat-Mu!” (Mzm. 119:97). Kitab Suci adalah “perintah-Mu” (ay.98), “peringatan-peringatan-Mu” (ay.99), “titah-titah-Mu” (ay.100), “firman-Mu” (ay.101).
Serangkaian pertanyaan yang pernah diajukan Thomas Manton (1620-1677), seorang pengkhotbah di Westminster Abbey pada masa silam, rasanya masih relevan bagi kita di zaman sekarang ini. Manton bertanya, “Siapa penulis Kitab Suci? Allah. . . . Apakah tujuan dari Kitab Suci? Allah. Mungkinkah Kitab Suci ditulis dengan tujuan agar kita bisa selama-lamanya menikmati Allah yang mulia?”
Ada yang mengatakan, semakin kita mengenal seseorang, semakin berkurang rasa kagum kita pada dirinya; tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Allah. Semakin kita mengenal firman Allah, atau lebih tepatnya Allah sumber Firman itu, semakin kita akan mengasihi-Nya, dan kasih itu membuat kita ingin mengenal-Nya dengan lebih lagi.
Saat kamu membaca Alkitab, ingatlah bahwa Allah—Pribadi yang paling mengasihimu—mempunyai pesan untukmu. —PFC
Ya Tuhan, buat Firman-Mu
Menjadi tambangku,
Menjadi taman yang permai
Dan bintang panduku. —Hodder
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 115)
Mengenal Alkitab menolong kita mengenal Allah dari Alkitab.

Thursday, January 8, 2015

Hujan Yang Luar Biasa Melimpah

Itu adalah hujan yang membawa berkat. —Yehezkiel 34:26
Hujan Yang Luar Biasa Melimpah
Apakah kesamaan yang dimiliki ikan, kecebong, dan laba-laba? Ketiga jenis binatang itu pernah jatuh dari langit, seperti hujan, di berbagai daerah di dunia. Pernah ada hujan ikan di kota Lajamanu di Australia. Kecebong pernah menghujani wilayah Jepang bagian tengah beberapa kali. Laba-laba dalam jumlah besar pernah merambat turun di Pegunungan San Bernardo di Argentina. Meskipun para ilmuwan memperkirakan bahwa angin mempunyai andil dalam peristiwa hujan yang tidak biasa tersebut, tidak ada yang dapat menjelaskan kejadian-kejadian tersebut secara pasti.
Nabi Yehezkiel menyebutkan tentang turunnya sebuah hujan yang lebih luar biasa, yaitu hujan yang membawa berkat (Yeh. 34:26). Yehezkiel berbicara tentang suatu masa ketika Allah akan mengirimkan berkat melimpah bagaikan hujan untuk menyegarkan umat-Nya. Bangsa Israel akan aman terlindung dari bangsa-bangsa musuh. Mereka akan mempunyai cukup makanan, dibebaskan dari perbudakan, dan tidak lagi akan menanggung malu (ay.27-29). Berkat-berkat tersebut akan memulihkan hubungan bangsa Israel dengan Allah. Bangsa itu akan mengetahui bahwa Allah menyertai mereka, dan bahwa “mereka, kaum Israel, adalah umat-[Nya]” (ay.30).
Allah memberkati para pengikut-Nya di zaman ini juga (Yak. 1:17). Terkadang berkat-berkat-Nya turun dengan melimpah seperti hujan; terkadang menetes seperti gerimis. Besar atau kecil, semua kebaikan itu kita terima dengan disertai pesan dari Allah: Aku tahu kebutuhanmu. Engkau adalah milik-Ku, dan Aku akan memeliharamu. —JBS
Hujan berkat ‘kan tercurah,
Itulah janji kudus;
Hidup segar dari sorga
‘Kan diberi Penebus. —Whittle
(Kidung Jemaat, No. 403)
Berkat yang kita terima setiap hari mengingatkan kita setiap hari pada Allah.

Wednesday, January 7, 2015

Bagaimana Saya Bisa Menolong?

Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. —Galatia 6:10
Bagaimana Saya Bisa Menolong?
Musim dingin yang lalu, sebuah badai es sempat menghantam kota kami. Karena dijejali oleh es, ada ratusan cabang pohon ambruk dan membuat putus kabel listrik sehingga ribuan rumah dan kantor mengalami pemadaman listrik berhari-hari lamanya. Keluarga kami tetap bisa mendapatkan daya listrik yang terbatas melalui generator, tetapi kami tidak bisa memasak makanan. Waktu pergi mencari tempat untuk makan, kami menempuh jarak yang jauh dan melewati toko-toko yang sudah tutup. Akhirnya kami menemukan tempat sarapan di suatu restoran yang tidak mengalami gangguan listrik. Hanya saja, restoran itu penuh sesak dengan para pelanggan yang kelaparan karena mengalami masalah yang sama seperti kami.
Seorang wanita pun datang untuk mencatat pesanan kami dan ia berkata, “Saya sebenarnya tidak bekerja di restoran ini. Sekelompok jemaat dari gereja kami sedang sarapan di sini, dan kami melihat para pegawai restoran kewalahan dalam melayani banyaknya pelanggan yang datang. Kami memberi tahu pengelola restoran bahwa kami bersedia membantu untuk melayani pelanggan kalau hal itu bisa mengurangi beban mereka dan menolong pelanggan mendapatkan pesanannya.”
Kesediaan wanita itu untuk melayani mengingatkan saya akan perkataan Paulus, “Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang” (Gal. 6:10). Dengan banyaknya kebutuhan orang-orang yang harus dipenuhi di sekitar kita, saya membayangkan alangkah luar biasanya jika kita semua meminta kepada Allah untuk menunjukkan kepada kita setiap kesempatan untuk melayani Dia dan menolong sesama kita hari ini. —HDF
Ya Tuhan, tunjukkanlah kepada kami di mana dan bagaimana
kami bisa melayani sesama dan meringankan beban mereka.
Berilah kami hati yang berbelaskasihan dan memancarkan
kasih-Mu. Dan tolonglah kami untuk mau berbuat sesuatu.
Ketika kita melayani mereka yang membutuhkan, kita sedang mengikuti teladan Kristus.

Tuesday, January 6, 2015

Kesalahan Yang Diubah Menjadi Indah

Lalu [Yesus] menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya. —Lukas 22:51
Kesalahan Yang Diubah Menjadi Indah
Di awal kariernya, pemain jazz Herbie Hancock diundang untuk bermain dalam kuintet pimpinan Miles Davis, seorang pemusik legendaris. Dalam suatu wawancara, Hancock mengakui bahwa ia memang merasa gugup, tetapi ia juga menikmati pengalaman yang luar biasa karena Davis sangat mendukungnya. Dalam satu penampilan, ketika Davis hampir tiba di bagian puncak solonya, Hancock memainkan paduan nada yang salah. Ia merasa sangat malu, tetapi Davis tidak berhenti, seolah tidak terjadi apa-apa. “Davis memainkan sejumlah nada yang membuat nada saya terdengar benar,” kata Hancock.
Sungguh sebuah teladan kepemimpinan yang indah! Davis tidak memarahi Hancock atau mempermalukannya. Ia tidak menyalahkan Hancock karena telah merusak penampilannya. Ia hanya menyesuaikan permainannya dan mengubah kesalahan yang hampir fatal itu menjadi sesuatu yang indah.
Apa yang dilakukan Davis untuk Hancock, itulah juga yang dilakukan Yesus untuk Petrus. Ketika Petrus memotong telinga salah seorang anggota dari rombongan yang datang untuk menangkap Yesus, Yesus menempelkan kembali telinga itu (Luk. 22:51). Yesus hendak menunjukkan bahwa kerajaan-Nya hadir untuk menyembuhkan, bukan untuk melukai. Berulang kali, Yesus memakai kesalahan murid-murid-Nya guna menunjukkan jalan lain yang lebih baik.
Apa yang Yesus lakukan untuk murid-murid-Nya, itu juga yang dilakukan-Nya untuk kita. Dan apa yang dilakukan-Nya untuk kita, dapat juga kita lakukan untuk orang lain. Daripada membesar-besarkan setiap kesalahan, kita bisa mengubah kesalahan itu menjadi tindakan pengampunan, penyembuhan, dan penebusan yang indah. —JAL
Tuhan, Engkau mengerti bahwa kami begitu mudah melakukan
kesalahan yang bodoh dan egois. Ampuni dan pulihkan kami. Demi
nama-Mu, biarlah Engkau rela memakai bagian-bagian yang
terburuk dari hidup kami untuk membawa kemuliaan bagi-Mu.
Yesus rindu mengubah kesalahan kita menjadi bukti yang luar biasa dari anugerah-Nya.

Monday, January 5, 2015

Perlu Dipasang

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah. —Filipi 4:6
Perlu Dipasang
Putri kami dan calon suaminya sangat gembira menerima hadiah pernikahan sebelum hari pernikahan mereka. Salah satu hadiah itu adalah sebuah rak kayu yang harus dipasang—dan saya mengajukan diri untuk membantu memasangnya karena mereka sudah sangat sibuk dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Memasang rak itu ternyata lebih mudah daripada yang saya bayangkan, meski tetap butuh beberapa jam untuk menyelesaikannya. Semua bagiannya yang dari kayu sudah dipotong dan dilubangi, dan semua perkakas yang dibutuhkan untuk memasangnya sudah tersedia. Instruksinya sangatlah jelas dan lengkap.
Sayangnya, sebagian besar kehidupan kita tidak demikian. Tidak ada petunjuk-petunjuk sederhana yang diberikan untuk kita dalam menjalani hidup ini dan tidak semua bagian yang kita perlukan tersedia. Kita masuk ke dalam situasi-situasi yang tidak kita mengerti atau yang tidak mudah untuk kita selesaikan. Kita begitu mudah merasa kewalahan dalam menghadapi masa-masa sukar itu.
Namun, kita tidak perlu menghadapi segala beban kita seorang diri. Allah ingin supaya kita membawa beban-beban itu kepada-Nya: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah . . . Damai sejahtera Allah . . . akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:6-7).
Kita memiliki Juruselamat yang sungguh memahami kita dan Dia memberikan damai sejahtera-Nya di tengah-tengah pergumulan hidup yang kita hadapi. —WEC
Haraplah Hu,
Allah janji-Nya teguh—
Berkat-Nya berlimpah,
Damai g’nap penuh. —Havergal
(Nyanyian Kemenangan Iman, No. 84)
Kedamaian diperoleh dengan menyerahkan setiap kekhawatiran kita kepada Allah.

Sunday, January 4, 2015

Mempelai Wanita Yang Cantik

Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. —Wahyu 19:7
Mempelai Wanita Yang Cantik
Saya sudah memberikan pemberkatan pada banyak pernikahan. Masing-masing acara pernikahan tersebut terasa unik karena biasanya dirancang sesuai dengan impian sang mempelai wanita. Namun ada satu hal yang selalu sama: sang mempelai wanita, yang mengenakan gaun pengantin dengan rambut tertata apik dan wajah yang bersinar-sinar itu, selalu menjadi pusat perhatian.
Menurut saya, alangkah menariknya pada saat Allah menggambarkan kita sebagai mempelai wanita-Nya. Ketika berbicara tentang gereja, Dia berkata, “Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia” (Why. 19:7).
Itu merupakan suatu pemikiran yang luar biasa bagi siapa pun di antara kita yang telah dikecewakan oleh keadaan yang ada di gereja. Saya tumbuh besar sebagai anak seorang pendeta, pernah menggembalakan tiga gereja, dan sudah berkhotbah di banyak gereja pada berbagai tempat di dunia. Saya juga pernah memberikan bimbingan, baik kepada para pendeta maupun jemaat mengenai masalah-masalah yang serius dan sulit di dalam gereja. Dan meskipun gereja terkadang rasanya sulit sekali untuk dikasihi, kasih saya terhadap gereja tidak pernah berubah.
Meskipun demikian, alasan saya dalam mengasihi gereja telah berubah. Sekarang saya mengasihi gereja terutama karena menyadari siapa pemiliknya. Gereja adalah milik Kristus; gereja adalah mempelai wanita Kristus. Karena gereja berharga di mata-Nya, maka gereja juga berharga bagi saya. Kasih-Nya pada gereja, sang mempelai wanita, dengan segala cacat dan cela kita, sungguh adalah kasih yang luar biasa ajaib! —JMS
Tuhan, kami menantikan hari ketika kami akan memakai kain lenan
halus dari kekudusan dan bergabung dengan-Mu dalam perjamuan
kawin Anak Domba. Sambil menunggu hari itu tiba, ingatkan kami
untuk mengasihi mempelai-Mu dan hidup dalam kekudusan bagi-Mu.
Karena Kristus mengasihi mempelai-Nya, yaitu gereja, kita juga harus mengasihi gereja.

Saturday, January 3, 2015

Aku Sudah Ditebus!

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. —Mazmur 96:2
Aku Sudah Ditebus!
Suatu hari, ketika mengunjungi suaminya di rumah sakit, Ann mengobrol dengan seorang perawat pria yang sedang melayani suaminya. Ann senang bercakap-cakap dengan siapa saja di mana pun ia berada, dan selalu berusaha mencari celah untuk berbicara tentang Yesus kepada mereka. Ann bertanya apakah perawat itu tahu apa yang ingin dilakukannya di masa depan. Ketika perawat itu menjawab bahwa ia masih ragu, Ann menyebut tentang pentingnya mengenal Allah terlebih dahulu, agar Allah bisa menolongnya mengambil keputusan tentang masa depannya. Perawat pria itu lalu menggulung lengan bajunya dan menunjukkan tato di sepanjang lengannya yang bertuliskan, “Aku sudah ditebus!”
Mereka menyadari bahwa mereka sama-sama mengasihi Tuhan Yesus Kristus! Dan keduanya punya cara masing-masing untuk menunjukkan keyakinan iman mereka di dalam satu Pribadi yang telah mati demi memberi hidup bagi kita.
Judul sebuah lagu lama karya Steve Green menyatakan dengan tepat, “People need the Lord” (Mereka Perlukan). Kita bebas memilih cara untuk memberitakan “kabar gembira” kepada mereka (Mzm. 40:10 BIS). Tidak setiap orang merasa nyaman bercakap-cakap dengan orang yang tidak mereka kenal, dan tidak semua metode yang cocok untuk segala keadaan. Namun Allah akan memakai kepribadian kita dan terang-Nya dalam diri kita untuk menyebarkan kasih-Nya.
“Aku sudah ditebus!” Kiranya Allah membimbing kita untuk menemukan cara yang terbaik dalam memberitakan tentang Yesus Kristus, Penebus kita, kepada sesama kita! —JDB
Kusuka mengundangkan s’lamat
Dari Anak Domba kudus.
Oleh Tuhan yang penuh rahmat—
Kami ‘ni telah tertebus. —Crosby
(Puji-Pujian Kristen Pemuda/Remaja, No. 29)
Kabar baik Injil terlalu indah untuk kita simpan sendiri.

Friday, January 2, 2015

Di Manakah Engkau?

TUHAN Allah . . . berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” —Kejadian 3:9
Di Manakah Engkau?
Ketika mendengar suara mobil orangtua mereka mendekati rumah, kedua remaja pria itu menjadi panik. Bagaimana mereka akan menjelaskan kekacauan yang terjadi di rumah? Pagi itu, sebelum orangtua mereka pergi ke luar kota, sang ayah sudah jelas-jelas memberikan instruksi: tidak boleh berpesta-pora dan tidak boleh mengundang teman yang ugal-ugalan. Namun kedua remaja itu mengabaikan peringatan sang ayah, dan mengizinkan teman-teman mereka yang nakal untuk datang dan tinggal di rumah mereka. Sekarang rumah mereka porak-poranda dan kedua anak tersebut dalam keadaan mabuk dan berantakan. Mereka pun bersembunyi karena ketakutan.
Mungkin seperti itulah yang dirasakan Adam dan Hawa setelah mereka memilih untuk tidak taat kepada Allah dan kemudian mendengar suara Allah yang datang mendekat. Mereka bersembunyi karena ketakutan. “Di manakah engkau?” tanya Allah (Kej. 3:9). Adam menjawab, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi” (ay.10). Dosa membuat kita merasa takut dan telanjang, dan kita menjadi rentan terhadap lebih banyak godaan.
Allah masih tetap mencari manusia, “Di manakah engkau?” Banyak yang lari, mencoba bersembunyi dari-Nya atau meredam suara-Nya. Namun kita tidak bisa bersembunyi dari Allah; Dia tahu persis di mana kita berada. Daripada bersembunyi dalam ketakutan, kita bisa menjawab-Nya dengan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk. 18:13). —LD
Maukah engkau bebas dari dosa?
Dalam darah-Nya, ada kuasa.
Dan menangkan s’gala nafsu jahat,
Ajaiblah kuasa darah-Nya. —Jones
(Kidung Puji-Pujian Kristen, No. 170)
Satu-satunya tempat untuk menyembunyikan dosa adalah di dalam darah Kristus.

Thursday, January 1, 2015

Membaik Atau Memburuk?

Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini. —2 Timotius 3:14
Membaik Atau Memburuk?
Pada setiap permulaan tahun baru, ada ahli-ahli dari berbagai bidang yang mencoba memaparkan perkiraan mereka tentang keadaan ekonomi, politik, cuaca, dan banyak lagi topik yang lain. Akankah terjadi perang atau perdamaian? Akankah masyarakat semakin miskin atau bertambah sejahtera? Adakah kemajuan atau justru stagnasi? Semua orang mengharapkan tahun ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya, tetapi tidak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi.
Akan tetapi, satu hal dapat kita yakini. Seorang pembicara tamu di gereja kami pernah menyatakan bahwa ketika kita bertanya apakah dunia akan membaik atau memburuk, jawabannya adalah, “Dua-duanya!”
Paulus menasihati Timotius, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; . . . orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (2Tim. 3:1,13-14).
Firman yang diilhamkan Allah akan mengajar, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran jika kita mengikuti jalan Allah (ay.16-17). J. B. Phillips menggambarkan Kitab Suci sebagai “perangkat komprehensif” milik kita yang menyiapkan kita sepenuhnya untuk melakukan segala pekerjaan yang ditugaskan Allah.
Ketika kegelapan rohani dalam dunia ini bertambah pekat, kiranya terang Kristus bersinar semakin cemerlang melalui semua orang yang mengenal dan mengasihi-Nya. Yesus adalah sukacita dan pengharapan kita—hari ini, esok, dan selamanya! —DCM
Bapa Surgawi, masalah dalam dunia ini dapat mengalihkan
pandangan kami dari-Mu. Terima kasih untuk firman-Mu yang
menolong kami tetap berpusat pada-Mu. Kiranya kami bersukacita
dalam kasih-Mu dan membagikannya pada sesama kami hari ini.
Kuasa jahat di sekitarmu bukanlah tandingan bagi kuasa Yesus di dalam dirimu.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate