Pages - Menu

Friday, May 31, 2019

Hadir bagi Sesama

Aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu. —Ulangan 15:11
Hadir bagi Sesama
Di pinggiran kota Paris, ada komunitas-komunitas yang mengulurkan tangan untuk membantu kaum tunawisma di lingkungan mereka. Terbungkus dalam kantong-kantong kedap air, helai demi helai baju digantungkan pada pagar khusus supaya dapat diambil oleh para tunawisma yang membutuhkan. Kantong-kantong tersebut diberi tulisan, “Aku bukan barang hilang, silakan ambil jika kamu kedinginan.” Upaya tersebut tidak hanya menghangatkan tubuh mereka yang tidak memiliki tempat berteduh, tetapi juga mengajarkan masyarakat pentingnya menolong sesama yang membutuhkan di sekitar mereka.
Alkitab menekankan pentingnya memperhatikan mereka yang miskin, dengan memberi perintah kepada kita untuk “membuka tangan lebar-lebar” bagi mereka (Ul. 15:11). Mungkin kita tergoda mengabaikan kesulitan orang miskin, dan enggan berbagi berkat dengan mereka. Namun Allah menantang kita untuk melihat bahwa kita akan selalu dikelilingi oleh mereka yang berkekurangan, sehingga kita perlu melayani mereka dengan murah hati dan rela, bukan dengan “berdukacita” (ay.10). Yesus berkata bahwa dengan memberi kepada orang miskin, kita akan menerima harta yang abadi di surga (Luk. 12:33).
Kemurahan hati kita mungkin tidak akan diketahui oleh siapa pun selain Allah. Namun, ketika memberi dengan leluasa, kita tidak saja memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar kita, tetapi kita juga mengalami sukacita yang Allah ingin kita alami dengan memenuhi kebutuhan sesama. Tolonglah kami, ya Tuhan, untuk mempunyai mata dan tangan yang terbuka demi memenuhi kebutuhan mereka yang telah Engkau tempatkan di sekitar kami! —Kirsten Holmberg
WAWASAN

Perintah Allah kepada bangsa Israel untuk memelihara orang miskin di antara mereka tergambar dalam penyebutan tiga kaum paling miskin—janda, anak yatim, dan orang asing. Karena orang Israel diberkati dengan kemakmuran, mereka harus berbagi dengan mereka yang lemah ekonomi (Ulangan 16:9-12; 26:8-11). Salah satu cara untuk bermurah hati ialah dengan membiarkan orang miskin makan dari hasil tanah mereka, hal ini diatur dalam hukum tentang pemetikan ladang (Imamat 19:9-10; Ulangan 24:19-21). Mereka juga harus menyisihkan sepersepuluh dari hasil panen mereka setiap tahun ketiga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka “kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang.” (Ulangan 26:12). —K. T. Sim
Apakah saya merasa sulit berbagi berkat dengan orang lain? Jika ya, mengapa? Kebutuhan siapa yang dapat saya penuhi hari ini?
Kemurahan hati menunjukkan keyakinan pada pemeliharaan Allah yang setia dan penuh kasih.

Thursday, May 30, 2019

Kasih Tanpa Rasa Takut

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19
Kasih Tanpa Rasa Takut
Selama bertahun-tahun, saya membentengi hati saya dengan ketakutan. Benteng itu menjadi alasan untuk tidak mencoba hal-hal baru, mengejar impian saya, dan menaati perintah Allah. Namun, rasa takut akan mengalami kehilangan, sakit hati, dan ditolak membuat saya tidak bisa membangun hubungan yang tulus dalam kasih dengan Allah dan sesama. Ketakutan membuat saya menjadi istri yang pencemburu, tidak percaya diri, dan selalu gelisah, serta ibu yang terlalu protektif dan selalu khawatir. Namun, sambil terus mempelajari betapa besarnya kasih Allah kepada saya, Dia juga mengubah cara saya berhubungan dengan-Nya dan dengan sesama. Karena tahu bahwa Allah akan selalu memelihara saya, saya merasa lebih aman dan bersedia menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri saya sendiri.
Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:7-8). Kematian Kristus di kayu salib—ungkapan tertinggi dari kasih Allah—menunjukkan kedalaman kasih Allah kepada kita (ay.9-10). Karena Allah mengasihi kita dan hidup di dalam kita, kita dapat mengasihi sesama dengan dasar diri-Nya dan karya-Nya (ay.11-12).
Ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat, Dia memberikan Roh Kudus bagi kita (ay.13-15). Di saat Roh Kudus menolong kita mengenal dan bersandar pada kasih Allah, Dia juga membuat kita semakin menyerupai Yesus (ay.16-17). Bertumbuh dalam keyakinan dan iman perlahan-lahan dapat menghapus rasa takut, semata-mata karena kita tahu tanpa ragu bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi kita (ay.18-19).
Setelah mengalami kasih Allah yang pribadi dan tanpa syarat, kita akan bertumbuh dan berani menjalin hubungan dengan Dia dan sesama dengan kasih yang bebas dari rasa takut. —Xochitl Dixon
WAWASAN

Perjanjian Baru memakai empat kata berbeda yang diterjemahkan sebagai “kasih”: phileo, storge, eros, dan agape. Agape adalah satu-satunya istilah yang digunakan dalam 1 Yohanes 4:7-12 dan dipakai sebanyak 13 kali. Hal ini mengejutkan sebab ada dua subjek yang mengasihi: manusia dan Allah.
Artinya, Yohanes menyuruh kita untuk mengasihi Allah dan orang lain dengan kasih yang sama seperti kasih Allah kepada kita. Kasih Agape lahir dari hati kita karena keberhargaan dari sesuatu yang dikasihi. Kasih ini berarti menghargai sesuatu tanpa memperhitungkan kebaikan atau kelayakan dari pihak yang dikasihi. —J.R. Hudberg
Ketakutan apa yang ada dalam hati Anda? Apakah merenungkan kasih Allah yang amat besar bagi Anda dapat menolong meringankan ketakutan tersebut?
Tuhan, terima kasih, Kau curahkan kasih-Mu yang tak terbatas kepada kami agar kami dapat mengasihi Engkau dan sesama tanpa rasa takut.

Wednesday, May 29, 2019

Tempat Tidur Kosong

Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. —Matius 28:19
Tempat Tidur Kosong
Saya sangat bersemangat untuk kembali ke rumah sakit St. James Infirmary di Montego Bay, Jamaica, dan bertemu kembali dengan Rendell, yang dua tahun sebelumnya mendengar tentang kasih Yesus baginya. Evie, seorang remaja di kelompok paduan suara sekolah yang pergi bersama saya waktu itu, mengajak Rendell membaca Kitab Suci dan menerangkan tentang Injil kepadanya. Rendell kemudian menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya.
Saya masuk ke ruang perawatan laki-laki di rumah sakit tersebut, tetapi melihat tempat tidur Rendell sudah kosong. Saya bertanya kepada perawat, dan perawat memberitahukan sesuatu yang tidak ingin saya dengar. Rendell telah meninggal dunia—hanya lima hari sebelum kami tiba.
Dengan berurai air mata, saya mengirimkan kabar dukacita itu kepada Evie. Evie menjawab dengan singkat, “Rendell sedang bersukacita bersama Yesus.” Di kemudian hari, Evie berkata, “Syukurlah kita telah menceritakan tentang Yesus kepadanya waktu itu.”
Perkataan Evie mengingatkan saya pada pentingnya selalu siap sedia membagikan pengharapan yang kita miliki dalam Yesus kepada orang lain. Memang tidak selalu mudah mengabarkan pesan Injil tentang Pribadi yang senantiasa menyertai kita (Mat. 28:20), tetapi ketika kita memikirkan dampaknya yang kekal bagi kita dan bagi orang-orang seperti Rendell, mungkin kita akan terdorong untuk siap menjadikan orang-orang “murid” Kristus ke mana pun kita pergi (ay.19).
Saya tidak akan pernah melupakan perasaan sedih yang saya rasakan saat melihat tempat tidur kosong itu—sekaligus perasaan sukacita karena mengetahui langsung dampak yang diberikan seorang remaja dalam kehidupan Rendell selamanya. — Dave Branon
WAWASAN

Matius 28:19-20 (sering disebut “Amanat Agung”) memiliki susunan yang sama seperti panggilan nabi pada Perjanjian Lama. Pertama adalah perjumpaan dengan Allah yang disusul dengan keraguan (ay.17); keraguan itu kemudian diatasi lewat keyakinan dan kekuatan yang Allah berikan (ay.18-20; Yesaya 6:1-8).
Dengan mengikuti struktur tersebut, Matius menekankan bahwa orang yang percaya kepada Kristus dipanggil untuk menjadi saksi sukacita hidup dalam kerajaan Kristus. Walaupun Yesus telah mengalahkan yang jahat dan memerintah dengan “segala kuasa” (28:18), Dia tidak menghilangkan seluruh kejahatan sekaligus. Sebaliknya, dengan lembut Yesus menarik orang lain “entah cepat atau lambat, di bawah kuasa kasih-Nya yang memberi hidup” (N.T. Wright)—hingga kelak ketika maut itu dibinasakan dan dunia mengikut Dia. Kemenangan Kristus terungkap dengan sendirinya saat ini lewat ketaatan orang-orang yang mau menjalani cara hidup baru dengan kuasa hadirat-Nya yang penuh kasih (ay.20). —Monica Brands
Hal-hal apa yang dapat Anda lakukan untuk memperkenalkan orang kepada Yesus hari ini? Dalam membagikan iman Anda, bagaimana Anda dikuatkan oleh kesadaran bahwa Yesus “menyertai kamu senantiasa” (Matius 28:20)?
Ya Allah, kami tahu orang-orang membutuhkan Engkau. Tolong kami tidak takut untuk menceritakan tentang Engkau kepada orang lain.

Tuesday, May 28, 2019

Tidak Pernah Sendirian

Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. —Yohanes 14:16-17
Tidak Pernah Sendirian
Ketika sedang menulis pedoman Alkitab untuk para pendeta di Indonesia, seorang kawan kagum pada budaya kebersamaan yang diterapkan di negeri ini. Budaya yang disebut gotong-royong tersebut dilakukan di desa-desa, ketika warga bekerja bersama memperbaiki atap rumah seseorang atau membangun kembali jembatan atau jalan. Bahkan, menurut teman saya, itu terjadi di kota besar, “Orang biasanya pergi bersama ke suatu tempat, misalnya saat berobat ke dokter. Itulah kebiasaan di sana. Mereka tidak pernah sendirian.”
Para pengikut Yesus di seluruh dunia patut bersukacita karena kita juga tidak pernah sendirian. Sahabat yang selalu dan terus-menerus menemani kita itu adalah Roh Kudus, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Dengan kesetiaan yang melebihi kasih seorang kawan, Roh Allah diberikan Bapa Surgawi kepada setiap pengikut Kristus agar menjadi “Penolong . . . supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:16).
Yesus berjanji Roh Allah akan turun setelah masa pelayanan-Nya di bumi berakhir. “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu,” kata Yesus (ay.18), tetapi Roh Kudus—“Roh Kebenaran” yang “menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu”—mendiami setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat (ay.17).
Roh Kudus adalah Penolong, Penghibur, Pendorong, dan Penasihat kita—Sahabat yang terus menemani kita di tengah dunia yang mudah membuat orang merasa kesepian, termasuk mereka yang paling aktif sekalipun. Kiranya kita senantiasa hidup dalam kasih dan pertolongan-Nya yang menghibur kita. — Patricia Raybon
WAWASAN

Ketika Yesus hampir kembali kepada Bapa-Nya, Dia berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Dia takkan meninggalkan mereka, tetapi meminta agar Bapa mengutus “seorang Penolong yang lain,” yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:16-17). Penolong berasal dari kata Yunani paraklĂ©tos, yang berarti “seseorang yang menolong atau memampukan orang lain” (Yohanes 14:16, 26; 15:26; 16:7-8). Berbagai versi lain menerjemahkan kata ini sebagai “Penolong” (NKJV), “Penasihat” (NIV), “Penghibur” (KJV), dan “Sahabat” (THE MESSAGE).
Ada dua kata Yunani yang memiliki arti “yang lain”. Pertama heteros, dipakai untuk menyatakan objek lain dengan jenis berbeda. Kedua, allos, yang berarti objek lain dengan jenis yang sama. Allos adalah kata yang dipakai dalam Yohanes 14:16. Ketika Bapa mengirim Roh Kudus, Dia mengutus seorang pribadi yang setara—seorang perwakilan pribadi (ay.26), bukan pengganti yang lebih rendah atau tak sederajat. Roh Kudus melanjutkan pekerjaan Yesus: Dia menghibur, memberi semangat, membimbing, dan menguatkan. Dia mengingatkan kita akan segala yang telah Yesus ajarkan (ayat 26; 16:12-15). —K. T. Sim
Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, bagaimana kesadaran bahwa Roh Kudus hidup dalam diri Anda dapat memberi semangat dan dorongan kepada Anda? Pernahkah Anda mengabaikan penghiburan dari Allah?
Yesus berjanji bahwa kita akan senantiasa didampingi oleh Roh Kudus. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Monday, May 27, 2019

Kenangan yang Terus Hidup

Berkatalah Daud: “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.” —2 Samuel 9:1
Kenangan yang Terus Hidup
Saya besar di gereja yang sarat tradisi. Salah satu tradisi itu diterapkan ketika ada anggota keluarga atau sahabat terkasih yang meninggal dunia. Sering kali, tidak lama sesudahnya, muncul lempengan tembaga yang disematkan pada bangku gereja atau lukisan yang terpajang di lorong dengan tulisan: “Untuk mengenang . . .” Nama orang yang sudah meninggal itu terukir pada lempeng tersebut sebagai kenangan atas kehidupan yang sudah berlalu. Saya menghargai kenangan semacam itu. Sampai sekarang pun masih. Namun, di saat yang sama, saya sering merenung karena benda-benda itu mati dan statis, dalam arti benar-benar “tidak hidup.” Adakah cara untuk menambahkan suatu elemen “kehidupan” pada benda kenangan tersebut?
Setelah kematian sahabatnya, Yonatan, Daud ingin mengenangnya dan menepati janji kepadanya (1 Sam. 20:12-17). Namun, alih-alih membuat kenangan dari benda mati, Daud mencari dan menemukan sesuatu yang hidup—anak laki-laki Yonatan (2 Sam. 9:3). Keputusan Daud sangat dramatis. Ia memilih menunjukkan kasih (ay.1) kepada Mefiboset (ay.6-7) dalam bentuk yang spesifik, yaitu pengembalian segala harta benda (“segala ladang Saul, nenekmu”) dan jaminan persediaan makanan dan minuman selamanya (“engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku”).
Sambil terus mengenang mereka yang telah meninggal dunia dengan nama yang terukir pada lempengan dan lukisan, baiklah kita juga mengingat contoh yang Daud berikan dan menunjukkan kasih kepada mereka yang masih hidup. —John Blase
WAWASAN

Saul, ayah Yonatan, membenci dan ingin membunuh Daud karena iri (1 Samuel 18:1-16). Daud bisa saja meneruskan rasa permusuhan kepada anggota keluarga Saul yang masih hidup, tetapi ia memilih untuk menghormati keluarga Yonatan. Ia mendapati bahwa salah seorang putra Yonatan, yaitu Mefiboset, masih hidup, walaupun cedera dan menderita cacat permanen. Ia terjatuh dari gendongan inang pengasuhnya dalam kekacauan saat terdengar kabar kematian ayah dan kakeknya (2 Samuel 4:4). Daud sendiri belakangan membutuhkan belas kasihan (Mazmur 25:11). Kemurahannya menjadi bayang-bayang kedatangan Kristus (Lukas 1:26–27), yang demi nama-Nya, Allah memerintahkan kita untuk berbelas kasih dan bermurah hati satu sama lain. —Mart DeHaan
Adakah para pendahulu yang ingin selalu Anda kenang? Bentuk kebaikan khusus apa yang ingin Anda lakukan untuk orang lain?
Tuhan Yesus, berikan aku kekuatan untuk menunjukkan kasih tidak saja karena mengingat kebaikan yang kuterima dari orang lain, tetapi yang terutama karena kebaikan-Mu yang sangat besar bagiku.

Sunday, May 26, 2019

Panggilan untuk Berani

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. —1 Tawarikh 28:20
Panggilan untuk Berani
Di antara patung-patung tokoh pria (Nelson Mandela, Winston Churchill, Mahatma Gandhi, dan lain-lain) yang dipajang di Alun-alun Gedung Parlemen London, terdapat satu-satunya patung tokoh perempuan. Perempuan tersebut adalah Milicent Fawcett, pejuang hak pilih kaum wanita. Ia diabadikan dalam rupa patung perunggu yang memegang spanduk bertuliskan kata-kata yang ia sampaikan sebagai penghargaan kepada sesama pejuang hak pilih: “Courage calls to courage everywhere” (Keberanian memanggil keberanian di mana pun). Menurut Fawcett, keberanian satu orang akan memberikan semangat bagi yang lain—memanggil jiwa-jiwa yang takut untuk segera bertindak.
Ketika Daud bersiap-siap menyerahkan takhta kepada Salomo, ia menjelaskan tanggung jawab besar yang akan segera dipikul oleh anaknya itu. Wajar bila Salomo dibuat gentar oleh beratnya beban yang ia hadapi: memimpin Israel untuk menaati semua perintah Allah, menjaga tanah yang telah dipercayakan Allah kepada mereka, dan mengawasi tugas penting dari pembangunan bait suci (1 Taw. 28:8-10).
Mengetahui kegentaran hati Salomo, Daud memberikan kata-kata penguatan, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu; . . . janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau” (ay.20). Keberanian sejati tidak lahir dari kemampuan atau kepercayaan diri Salomo sendiri, melainkan dari mengandalkan kehadiran dan kekuatan Allah. Allah memberikan keberanian yang diperlukan Salomo.
Ketika mengalami masa sulit, kita sering berusaha mengumpulkan keberanian atau menyemangati diri sendiri. Namun, Allah saja yang dapat memperbarui iman kita. Dia akan menyertai kita, dan kehadiran-Nya akan membuat kita berani. —Winn Collier
WAWASAN

Karena Daud adalah prajurit yang telah banyak menumpahkan darah, ia tidak diizinkan membangun Bait Allah (1 Tawarikh 28:3). Tugas itu harus dilaksanakan oleh Salomo yang “dikaruniai keamanan” (22:8-10). Mengetahui bahwa Salomo akan mengemban dua tugas berat—menjadi raja yang baik seperti Daud dan membangun rumah untuk kediaman Allah—Daud mengingatkan Salomo bahwa Allah akan memberinya keberhasilan hanya jika Salomo “bertekun melakukan segala perintah dan peraturan [Allah]” (28:7). Empat ratus tahun sebelumnya, Musa menyampaikan kebenaran yang sama kepada Yosua, penerusnya (Yosua 1:7-8). Ketaatan mereka tidak berarti bahwa mereka sudah sempurna, tetapi merupakan bukti kesetiaan dan kepercayaan mereka kepada Allah. —K. T. Sim
Apa yang menyebabkan hati Anda gentar? Bagaimanakah Anda dapat mencari hadirat Allah dan kuasa-Nya agar kemudian melangkah dengan berani?
Ya Allah, sering kali aku merasa takut dan tergoda untuk mengandalkan akal atau keberanianku sendiri—tetapi itu tidak pernah cukup. Sertailah aku dan berikanku keberanian-Mu.

Saturday, May 25, 2019

Terbelenggu tetapi Tidak Diam

Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. —Kisah Para Rasul 16:25
Terbelenggu tetapi Tidak Diam
Pada musim panas tahun 1963, seorang aktivis hak asasi manusia, Fannie Lou Hamer, beserta enam orang kulit hitam lainnya berhenti untuk makan di sebuah kedai di Winona, Mississippi setelah semalaman menempuh perjalanan dengan bus. Setelah aparat penegak hukum mengusir mereka, mereka ditangkap dan dipenjarakan. Namun, penghinaan belum berakhir. Mereka semua dipukuli hingga babak belur, tetapi Fannie menderita yang terparah. Namun, setelah diserang secara brutal hingga hampir mati, ia justru menyanyi keras-keras, “Paulus dan Silas dalam penjara, biarkanlah umat-Ku pergi.” Ia tidak sendirian. Tahanan lain yang terbelenggu secara fisik tetapi yang bebas jiwanya pun ikut memuji bersamanya.
Menurut Kisah Para Rasul 16, Paulus dan Silas menemui masalah ketika mereka dipenjara karena memberitakan tentang Yesus. Namun, ketidaknyamanan tidak melemahkan iman mereka. “Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah” (ay.25). Penyembahan yang dilakukan dengan berani tersebut membuka kesempatan untuk terus berbicara tentang Yesus. “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepada [kepala penjara] dan kepada semua orang yang ada di rumahnya” (ay.32).
Sebagian besar dari kita mungkin tidak menghadapi masalah sebesar yang dihadapi Paulus, Silas, atau Fannie, tetapi setiap dari kita akan menghadapi situasi-situasi yang tidak mengenakkan. Ketika hal itu terjadi, kekuatan kita berasal dari Allah yang setia. Semoga hati kita terus bernyanyi memuji Allah dan memberi kita keberanian untuk berbicara bagi-Nya—meski tengah dalam kesulitan. —Arthur Jackson
WAWASAN

Alkitab tidak selalu menceritakan sesuatu secara terperinci, tetapi kita percaya bahwa para penulis Kitab Suci mendapat inspirasi Roh Kudus untuk mencatat apa yang perlu guna menyampaikan makna dan pesan yang hendak Allah firmankan. Kisah Para Rasul 16:31-32 adalah salah satu contoh yang tepat. Ayat 31 jelas merupakan inti Injil, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat.” Seluruh Injil terangkum dalam pernyataan ini, tetapi ayat 32 menunjukkan bahwa kepala penjara dan keluarganya tetap membutuhkan pengajaran lebih lanjut tentang arti mengikut Kristus, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.” Tidak dicantumkan secara mendetail “firman Tuhan” mana yang Paulus dan Silas sampaikan. —J.R. Hudberg
Kapan terakhir kali Anda mengalami situasi yang amat sulit? Pada saat itu, bagaimana Allah menolong Anda untuk menghidupi iman Anda dan menyaksikannya?
Masa-masa sulit menjadi kesempatan untuk berdoa dan menaikkan pujian kepada Pribadi yang mengendalikan segala sesuatu.

Friday, May 24, 2019

Allah Menyelamatkan Hidup Saya

Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. —Yohanes 8:44
“Allah Menyelamatkan Hidup Saya”
Ketika Aaron (bukan nama sebenarnya) berumur 15 tahun, ia mulai berdoa kepada Iblis. Ia bahkan mengakui, “Saya merasa Iblis adalah rekan saya.” Aaron mulai berdusta, mencuri, dan memanipulasi keluarga dan teman-temannya. Ia juga mengalami mimpi buruk: “Saya terbangun suatu pagi dan melihat ada setan di ujung tempat tidur saya. Ia memberi tahu bahwa saya akan lulus ujian lalu meninggal.” Namun, setelah ujian selesai, ia masih hidup. Pikir Aaron, “Jelas sekali Iblis itu pembohong.”
Suatu hari, dengan harapan bisa bertemu dan berkenalan dengan lawan jenis, Aaron pergi ke sebuah kegiatan Kristen, dan di sana seseorang menawarkan diri untuk mendoakannya. “Saat ia berdoa, saya merasakan kedamaian memenuhi raga saya.” Ia merasakan sesuatu yang “lebih berkuasa, dan lebih membebaskan,” daripada yang pernah ia rasakan dari Iblis. Pria yang berdoa itu berkata kepada Aaron bahwa Allah memiliki rencana atas hidupnya dan Iblis adalah pendusta. Perkataan pria itu sejalan dengan perkataan Yesus tentang Iblis saat Dia menjawab beberapa orang yang menentang-Nya: “Ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yoh. 8:44).
Aaron pun meninggalkan Satanisme lalu percaya kepada Kristus, dan sekarang ia “berasal dari Allah” (ay.47). Ia melayani di sebuah komunitas perkotaan untuk memberi kesaksian tentang perubahan hidupnya setelah mengikut Yesus. Ia adalah saksi hidup dari kuasa Allah yang menyelamatkan: “Saya dapat berkata dengan yakin bahwa Allah telah menyelamatkan hidup saya.”
Allah adalah sumber segala yang baik, kudus, dan benar. Kita dapat berpaling kepada-Nya untuk menemukan kebenaran. —Amy Boucher Pye
WAWASAN

Dalam bacaan hari ini, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Iblis adalah “bapa segala dusta” (Yohanes 8:44). Iblis (juga dikenal sebagai setan, musuh, pencuri, si jahat, penggoda) berlawanan langsung dengan Yesus, “kebenaran” yang memerdekakan kita (ay.32). Di dalam Iblis tidak ada kebenaran (ay.44), sedangkan Yesus adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (14:6). Menjelang penyaliban, saat Yesus berdiri di hadapan Pilatus, Dia berkata, “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (18:37). Yesus datang ke bumi untuk memberitakan kebenaran tentang diri-Nya, menyatakan Bapa kepada kita, dan untuk menyingkapkan kenyataan tentang diri kita sendiri, seperti yang Dia lakukan terhadap perempuan Samaria di dekat sumur (Yohanes 4). Iblis “[datang] hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan” (10:10) dan merupakan “pembunuh manusia sejak semula” (8:44), tetapi Yesus membawakan hidup yang kekal (3:16). —Alyson Kieda
Bagaimana pengalaman Anda diselamatkan Allah dari si jahat? Dengan siapa Anda dapat berbagi kesaksian Anda minggu ini?
Allah lebih berkuasa daripada bapa segala dusta.

Thursday, May 23, 2019

Melempari Batu

Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. —Yohanes 8:7
Melempari Batu
Dulu Lisa paling sulit bersimpati dengan orang yang berselingkuh . . . sampai suatu saat ia merasa sangat tidak puas dengan pernikahannya dan berjuang menolak godaan berbahaya yang memikatnya. Pengalaman yang menyakitkan itu menolongnya untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan dan memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang perkataan Kristus: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu” (Yoh. 8:7).
Yesus sedang mengajar di Bait Allah ketika Dia membuat pernyataan itu. Para ahli Taurat dan orang Farisi baru saja menyeret seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah ke hadapan Yesus dan menantang-Nya, “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (ay.5). Karena mereka menganggap Yesus adalah ancaman bagi kekuasaan mereka, tujuan pertanyaan itu adalah “untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya” (ay.6)—lalu menyingkirkan-Nya.
Namun, saat Yesus menjawab, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa . . .” tidak seorang pun dari para penuduh wanita itu berani memungut batu. Satu per satu, mereka semua berjalan pergi.
Agar tidak menghakimi perilaku orang lain dengan pedas sambil memandang ringan dosa kita sendiri, mari kita ingat bahwa kita semua “telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Ketimbang mengutuk, Juruselamat kita menunjukkan kepada wanita itu—dan kepada kita—kasih karunia dan pengharapan (Yoh. 3:16; 8:10-11). Bagaimana mungkin kita tidak melakukan hal yang sama bagi orang lain? —Alyson Kieda
WAWASAN

Walaupun kisah dalam Yohanes 8:1–11 tidak ada pada manuskrip Yunani yang paling tua, para pakar meyakini bahwa ini adalah peristiwa kehidupan Yesus yang benar-benar pernah terjadi—berasal dari tradisi lisan yang belakangan ditambahkan ke dalam Injil Yohanes. Hukum Musa memerintahkan agar pezinah lelaki maupun perempuan dirajam sampai mati (Imamat 20:10; Ulangan 22:22-24). Kalau Yesus melepaskan perempuan yang kedapatan berzinah tanpa dihukum, orang Farisi akan menuduh dan mengutuk Dia karena menentang dan menolak hukum Allah (Yohanes 8:6). Kalau Yesus menyetujui hukuman mati, Ia akan dicela karena dianggap tak berbelas kasih, bahkan bisa dituduh melanggar hukum Romawi karena pada zaman itu ada undang-undang bahwa hanya orang Romawi yang boleh mengeksekusi seseorang. —K. T. Sim
Bagaimana Anda dapat menerapkan pelajaran dari Yohanes 8 dalam memperlakukan orang lain? Bagaimana Anda dapat menggunakan pengalaman Anda itu untuk membantu orang lain yang menghadapi tantangan yang sama?
Tuhan, terima kasih Engkau telah mengasihi kami! Tolong kami berbelas kasihan serta penuh perhatian dalam apa yang kami ucapkan dan lakukan.

Wednesday, May 22, 2019

Makna Utama Puasa

Waktu puasa . . . akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!—Zakharia 8:19
Makna Utama Puasa
Perut yang keroncongan mulai mengusik ketenangan saya. Mentor saya menyarankan puasa sebagai satu cara untuk fokus kepada Allah. Namun, seiring berjalannya waktu, saya pun bertanya-tanya: Bagaimana bisa Yesus melakukan ini selama empat puluh hari? Saya bergumul untuk mengandalkan Roh Kudus agar merasa damai, kuat, dan sabar. Terutama sabar.
Jika kita mampu secara fisik, puasa dapat mengajari kita pentingnya makanan rohani. Yesus sendiri mengatakan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Namun, seperti yang telah saya alami, berpuasa itu sendiri tidak serta-merta membuat kita lebih dekat dengan Allah!
Bahkan, Allah melalui Nabi Zakharia pernah mengatakan kepada umat-Nya bahwa puasa mereka sia-sia karena tidak membuat mereka lebih peduli terhadap kaum miskin. “Adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku?” tanya Allah dengan tajam (Zak. 7:5).
Pertanyaan Allah mengungkapkan bahwa masalah utamanya bukanlah perut mereka, melainkan hati mereka yang dingin. Dengan terus melayani diri sendiri, mereka gagal mengenal hati Allah. Jadi Dia mendesak mereka, “Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin” (ay.9-10).
Tujuan kita dalam disiplin rohani apa pun adalah supaya kita lebih dekat kepada Yesus. Saat kita bertumbuh semakin menyerupai Dia, kita juga akan mengasihi hal-hal yang Dia kasihi. —Tim Gustafson
WAWASAN

Keterangan waktu dalam kitab Zakharia (1:1, 7; 7:1) menunjukkan bahwa Zakharia hidup dalam zaman pemerintahan Darius, raja Persia yang memerintah dari tahun 522–486 SM. Periode waktu ini dalam sejarah Israel terjadi setelah 70 tahun masa pembuangan di Babel (7:5). Pesan untuk mengutamakan kesetiaan kepada Allah melebihi puasa (salah satu bentuk ibadah) juga telah diajarkan berabad-abad sebelumnya oleh nabi Yesaya. Dengan perkataan serupa, Yesaya menyerukan kepada umat Allah agar menghormati Tuhan dengan tidak menelantarkan orang-orang yang kekurangan: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk” (Yesaya 58:6). —Arthur Jackson
Bagaimana Allah dapat menggunakan disiplin rohani sebagai alat untuk menghancurkan tanah berbatu di dalam hati kita? Apa yang telah menolong Anda semakin dekat dengan Yesus belakangan ini?
Tuhan, aku cenderung mencari kesenangan diri dan penerimaan dari orang lain. Tolonglah agar hidupku menyenangkan-Mu dan melayani sesamaku.

Tuesday, May 21, 2019

Sangat Unik

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib. —Mazmur 139:14
Sangat Unik
Manusia bukan makhluk istimewa—setidak-tidaknya menurut Kebun Binatang London. Pada tahun 2005, kebun binatang tersebut menyelenggarakan pameran empat hari berjudul “Manusia dalam Lingkungan Alamiah”. Orang-orang yang mereka “pajang” dipilih melalui kontes di dunia maya. Untuk membantu para pengunjung memahami kehidupan manusia, pekerja kebun binatang membuat papan yang memuat secara terperinci penjelasan tentang makanan, habitat, serta hal apa saja yang menjadi ancaman bagi manusia. Menurut juru bicara kebun binatang, tujuan pameran tersebut adalah untuk mengecilkan keunikan manusia. Seorang peserta di pameran itu sepertinya setuju, “Ketika mereka melihat manusia sebagai binatang, di sini, mereka akan merasa kita manusia memang tidak terlalu istimewa.”
Betapa kontrasnya hal itu dengan apa yang dikatakan dalam Alkitab mengenai manusia: Allah menjadikan kita “dahsyat dan ajaib” serupa dengan “gambar-Nya” (Mzm. 139:14, Kej. 1:26-27).
Daud memulai Mazmur 139 dengan merayakan betapa intimnya Allah mengenal dirinya (ay.1-6) dan tentang keberadaan Allah yang Mahahadir (ay.7-12). Seperti penenun yang mahir, Allah tidak hanya membentuk sosok Daud, sejak masih berupa janin hingga menjadi seorang manusia (ay.13-14), tetapi juga menjadikan jiwa yang hidup, memberikan kehidupan spiritual dan kemampuan untuk bergaul intim dengan Allah. Merenungkan karya Allah yang begitu luar biasa, Daud merasa sangat kagum, takjub, dan memuji-muji Allah (ay.14).
Manusia memang istimewa. Allah menciptakan kita dengan sangat unik dan kemampuan luar biasa untuk mempunyai hubungan yang akrab dengan Dia. Seperti Daud, kita dapat memuji Dia karena kita adalah hasil karya dari tangan kasih-Nya. —Marvin Williams
WAWASAN

Mazmur adalah firman yang diinspirasikan Allah, maka saat membacanya, kita perlu membedakan mana ungkapan dari sudut pandang manusia dan mana yang perkataan Allah. Misalnya, dalam delapan belas ayat pertama dari Mazmur 139, pemazmur jelas mengungkapkan keajaiban sang Pencipta. Namun, ayat 19-22 tiba-tiba beralih pada ekspresi kebenciannya yang sengit terhadap musuh-musuh Allah. Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana perkataan yang penuh kebencian itu selaras dengan ajaran Yesus dan Paulus untuk mengasihi musuh (Matius 5:43-48; Lukas 6:32-36). Barangkali, kesimpulan pemazmur itu (ay.23-24) menunjukkan bahwa ia berubah pikiran dan meminta Roh Allah menolongnya memahami apa yang terjadi dalam batinnya sendiri. —Mart DeHaan
Apa implikasinya bagi Anda mengetahui dan mempercayai bahwa kejadian Anda dahsyat dan ajaib? Apa konsekuensi negatifnya bila tidak mempercayai hal itu?
Allah menciptakan manusia supaya menjadi serupa dengan Dia.

Monday, May 20, 2019

Pembebasan Ilahi

Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. —Yohanes 11:53
Pembebasan Ilahi
Serial misteri Hercule Poirot karangan Agatha Christie berjudul “The Clocks” menampilkan beberapa tokoh antagonis yang melakukan serangkaian pembunuhan. Walaupun rencana awal hanya menargetkan satu korban, mereka mulai membunuh lebih banyak orang untuk menutupi kejahatan aslinya. Ketika dipertanyakan oleh Poirot, salah seorang anggota komplotan mengakui, “Seharusnya hanya satu orang saja yang mati.”
Sama seperti orang-orang yang berkomplot melakukan pembunuhan dalam kisah tersebut, para pemuka agama juga berkomplot merencanakan kejahatan. Setelah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh. 11:38-44), mereka mengadakan pertemuan darurat dan sepakat untuk membunuh Dia (ay.45-53). Namun, mereka tidak berhenti sampai di situ. Setelah Yesus bangkit dari kematian, para pemuka agama menyebarkan berita bohong mengenai apa yang terjadi dalam kubur (Mat. 28:12-15). Mereka mulai gencar berkampanye untuk membungkam mulut pengikut-pengikut Yesus (Kis. 7:57–8:3). Dari yang awalnya sebuah rencana religius menentang satu orang demi “kebaikan yang lebih besar” bagi suatu bangsa menjadi serangkaian cerita bohong, tipuan, dan menelan banyak korban.
Dosa menjerumuskan kita ke jalan yang seringkali tampaknya tak berujung, tetapi Allah selalu menyediakan jalan keluar. Ketika Imam Besar Kayafas berkata, “Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa”(Yoh. 11:50), ia tidak menyadari kebenaran dari kata-katanya. Konspirasi para pemuka agama tersebut membantu terjadinya penebusan seluruh umat manusia.
Yesus menyelamatkan kita dari cengkeraman dosa yang kejam. Sudahkah Anda terima pembebasan yang Dia tawarkan? —Remi Oyedele
WAWASAN

Untuk menghentikan ketenaran Yesus yang semakin bertambah, diadakanlah pertemuan Sanhedrin oleh “imam-imam kepala dan orang-orang Farisi” (Yohanes 11:47). Sanhedrin, yang dibentuk berdasarkan struktur kepemimpinan Musa dengan tujuh puluh tua-tua (Keluaran 24:1), terdiri dari 70 orang ditambah satu imam besar. Sanhedrin berfungsi sebagai dewan pemerintahan sekaligus pengadilan tertinggi Yahudi. Para imam kepala (sebagian besarnya adalah orang Saduki, yaitu kaum agamawan dan politikus) membentuk jajaran keimaman bangsa dan di dalamnya termasuk sang imam besar. Orang Farisi, sebagian besarnya adalah ahli Taurat, merupakan pemelihara Hukum Taurat yang teliti, khususnya hukum-hukum tentang kesucian seremonial.
Para imam kepala mendominasi Sanhedrin. Mereka merupakan lawan politik dan agama dari orang Farisi (Kisah Para Rasul 5:17). Namun, orang Farisi adalah kelompok minoritas yang berkuasa. Nikodemus (Yohanes 3) dan Yusuf dari Arimatea (Markus 15:43) adalah orang Farisi. Mereka juga anggota-anggota utama dalam Sanhedrin sekaligus menjadi murid Yesus. Merekalah yang mempersiapkan jenazah-Nya untuk dimakamkan serta menguburkan Dia (Yohanes 19:38-42). —K. T. Sim
Jalan apa yang Anda tempuh yang dapat membawa Anda jauh dari Allah? Dia menawarkan kebebasan sejati. Apa yang perlu Anda akui kepada-Nya hari ini?
Saat Anda memberi celah bagi dosa, ia akan merebut kendali hidup Anda!

Sunday, May 19, 2019

Menara Gereja yang Miring

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. —2 Korintus 12:9
Menara Gereja yang Miring
Ternyata menara gereja yang miring membuat orang gelisah. Ketika kami mengunjungi beberapa teman, mereka bercerita bahwa setelah terjadi badai topan yang sangat dahsyat, menara gereja kebanggaan mereka miring dan menimbulkan kepanikan.
Tentu saja gereja segera memperbaiki menara yang miring tersebut, tetapi bayangan lucu tersebut membuat saya berpikir. Sering kali gereja dilihat sebagai tempat yang di dalamnya semua orang diharapkan tampil sempurna, bukan sebagai tempat yang menyambut orang-orang dalam keadaan tidak sempurna. Betulkah demikian?
Namun, di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan kacau ini, kita semua tidak sempurna dan masing-masing penuh dengan kelemahan diri. Mungkin kita tergoda untuk menyembunyikan kerapuhan kita, tetapi Kitab Suci justru mendorong kita mengambil sikap sebaliknya. Dalam 2 Korintus 12, misalnya, Paulus menunjukkan bahwa justru di dalam kelemahan kitalah—baginya suatu pergumulan yang tidak disebut secara spesifik, hanya sebagai “duri di dalam dagingku” (ay.7)—maka kuasa Kristus akan dinyatakan. Yesus pernah berkata kepada Paulus, “Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ay.9). Paulus pun menyimpulkan, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ay.10).
Mungkin kita tidak menyukai kekurangan kita, tetapi menyembunyikannya berarti menolak kuasa Yesus bekerja dalam aspek-aspek diri kita. Saat kita mengundang Yesus masuk ke dalam ketidaksempurnaan kita, Dia dengan lembut akan memperbaiki dan menebus dengan cara-cara yang tidak mungkin kita capai oleh usaha sendiri. —Adam Holz
WAWASAN

Paulus mengalami penglihatan surgawi berisi “penyataan-penyataan yang luar biasa” (2 Korintus 12:7). Karena kehormatan besar ini, Paulus diberi “duri dalam daging” (ay.7). “Duri” itu tidak disebutkan secara spesifik sehingga dapat mewakili apapun bentuk penderitaan kita.
Mungkin kita tidak mendapat penglihatan surgawi, tetapi kita semua tahu seperti apa rasanya menderita “duri dalam daging”. Masalah serta persoalan hidup mendorong kita untuk bersandar dan mengandalkan Allah. —Tim Gustafson
Tempat “miring” apa saja yang ada dalam hidup Anda? Dalam hal apa saja Anda telah melihat Allah bekerja melalui kekurangan Anda?
Undanglah Yesus ke dalam ketidaksempurnaan Anda agar Dia dapat memperbaikinya.

Saturday, May 18, 2019

Kita Saling Membutuhkan

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. —Kolose 3:15
Kita Saling Membutuhkan
Ketika berjalan-jalan dengan anak-anak, kami menemukan tumbuhan hijau lebat yang tumbuh berkelompok di sepanjang jalan. Menurut papan nama, itulah lumut kerak, sejenis jamur yang tumbuh bersama ganggang dalam simbiosis mutualisme (masing-masing organisme membutuhkan satu sama lain). Baik jamur maupun ganggang tidak dapat hidup sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama mereka dapat tumbuh menjadi tanaman keras yang hidup hingga 4.500 tahun di daerah dataran tinggi. Karena mampu bertahan dalam kondisi kekeringan dan suhu yang rendah, tumbuhan ini menjadi salah satu dari sedikit sumber makanan bagi caribou (rusa kutub) dalam musim dingin yang panjang.
Hubungan antara jamur dan ganggang itu mengingatkan saya pada hubungan antar manusia. Kita bergantung kepada satu sama lain. Untuk dapat bertumbuh dan berkembang, kita harus ada dalam hubungan dengan satu sama lain.
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menggambarkan bagaimana seharusnya hubungan yang terjalin di antara kita. Kita harus mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol. 3:12). Kita harus mengampuni satu sama lain dan hidup dalam damai sebagai “satu tubuh” (ay.15).
Tidak selalu mudah untuk hidup damai dengan keluarga ataupun teman-teman kita. Namun, ketika Roh Kudus memperlengkapi kita untuk menunjukkan kerendahan hati dan pengampunan dalam hubungan kita dengan sesama, kasih kita untuk satu sama lain akan mengarahkan kita kepada Kristus (Yoh. 13:35) dan membawa kemuliaan bagi Allah. —Amy Peterson
WAWASAN

Dalam Kolose 3:12-14, Paulus menasihati jemaat Kolose untuk mengenakan—artinya memakai, mengembangkan, melakukan, memperlihatkan—karakteristik tertentu. Daftarnya sangat mirip dengan buah Roh yang terdapat dalam Galatia 5:22-23. Buah Roh ditumbuhkan dan dikembangkan oleh Roh Kudus.
Daftar dalam Kolose 3:12-14 dan Galatia 5:22-23 menyebutkan sejumlah karakter yang sama (kasih, kemurahan, kelemahlembutan). Namun, ada sesuatu yang kadang kita abaikan. Dalam surat kepada jemaat Kolose, Paulus menasihati pembacanya untuk “mengenakan” (3:12). Mengenakan adalah kata kerja refleksif—objeknya sama dengan si pelaku. Artinya, Paulus menyuruh mereka melakukan sesuatu (dengan kata lain, karakteristik buah Roh itu bukan sifat yang muncul begitu saja, kita harus mengerjakannya terhadap diri sendiri). Pertumbuhan rohani merupakan kerja sama antara dua pihak: diri kita dan Roh Kudus. Paulus mengingatkan orang percaya di Kolose sekaligus kita semua bahwa kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus dalam pertumbuhan rohani. —J.R. Hudberg
Bagaimana hubungan Anda dengan sesama mengarahkan semua pihak kepada Yesus? Bagaimana cara Anda mengusahakan kedamaian?
Allah Roh Kudus, penuhilah kami dengan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran seorang terhadap yang lain agar dunia dapat melihat kasih-Mu di dalam kami.

Friday, May 17, 2019

Tangan Allah yang Luar Biasa

Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia. —Mazmur 31:6
Tangan Allah yang Luar Biasa
Setelah terbang selama dua puluh menit dalam penerbangan dari New York ke San Antonio, penerbangan yang semula tenang mendadak berubah menjadi panik. Ketika salah satu mesin pesawat mati, serpihan-serpihan mesin menghantam jendela pesawat hingga menyebabkan kabin kehilangan tekanan udara. Yang menyedihkan, sejumlah penumpang terluka dan satu orang meninggal dunia. Jika bukan karena pembawaan pilot yang cakap dan tenang dalam mengendalikan pesawat—seorang penerbang pesawat tempur untuk Angkatan Laut—keadaan mungkin akan berakhir lebih buruk. Tajuk utama surat kabar lokal kami menulis: “Dalam Tangan yang Luar Biasa.”
Dalam Mazmur 31, Daud menyatakan bahwa ia mengenal tangan Tuhan yang luar biasa dan penuh perhatian. Oleh sebab itu ia dapat berkata dengan yakin, “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku” (ay.6). Daud yakin Tuhan dapat dipercaya, walaupun kehidupannya sendiri penuh gelombang. Karena menjadi target musuh-musuhnya, hidup Daud tidak tenang. Di tengah berbagai gangguan yang dialaminya, Daud bisa bernafas lega dan bersukacita karena Allahnya yang penuh kasih setia menjadi sumber keyakinannya (ay.6-8).
Mungkin saat ini Anda sedang menghadapi berbagai masalah yang bertubi-tubi, dan Anda sulit melihat apa yang ada di depan Anda. Di tengah segala ketidakpastian, kebingungan, dan kekacauan, satu hal yang selalu pasti: mereka yang ada di dalam Tuhan berada dalam tangan yang luar biasa. —Arthur Jackson
WAWASAN

Daud menulis Mazmur 31 ketika ia berada dalam bahaya aniaya besar (ay.5, 14). Teman-teman dekatnya telah pergi (ay.12-13), membiarkannya berjuang sendiri melawan musuhnya. Daud menegaskan bahwa satu-satunya perlindungan dan keamanan hanya ada pada Allah, tempat perlindungan, gunung batu, dan kubu pertahanannya (ay.2-3). Dua kali Daud menandaskan iman dan kepercayaannya yang teguh kepada Allah, “Aku percaya kepada TUHAN” (ay.7, 15). Entah hidup atau mati, Daud menyerahkan diri kepada Allah, “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku” (ay.6). Bertahun-tahun kemudian, Yesus juga menghadapi persepakatan jahat serupa (Yohanes 11:53), murid-murid-Nya meninggalkan Dia (Markus 14:50). Saat tergantung di kayu salib, Yesus memanjatkan doa kepercayaan yang sama: “Ke dalam tangan-Mulah Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46). —K. T. Sim
Sudahkah Anda menyerahkan hidup—keberadaan Anda di dunia maupun kelak di keabadian—kepada Tuhan? Bagaimana Anda dapat menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mempercayai-Nya dalam suka maupun duka?
Bapa, aku terhibur saat mengetahui Yesus berdoa mengutip Mazmur 31:6 saat Dia sedang tergantung di kayu salib. Di tengah rasa sakit dan penderitaan, Dia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan-Mu.

Thursday, May 16, 2019

Dekapan Si Beruang

Allah adalah kasih. —1 Yohanes 4:16
Dekapan Si Beruang
“Si Beruang” adalah hadiah untuk cucu saya—ungkapan cinta dalam bentuk boneka beruang raksasa. Bagaimana respons Baby D? Pertama-tama, heran. Kemudian, takjub dan terkagum-kagum. Berikutnya, timbul rasa ingin tahu yang membuatnya berani menyelidiki lebih jauh. Ia memasukkan jarinya yang gemuk ke lubang hidung si Beruang, dan ketika si Beruang terjatuh ke dalam pelukannya, ia memekik gembira. Baby D lalu meletakkan kepalanya yang kecil ke dada si Beruang yang berbulu dan mendekapnya erat-erat. Senyum merekah di pipinya yang berlesung pipit ketika ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di badan boneka beruang yang empuk itu. Bocah itu sama sekali tidak tahu si Beruang tidak bisa balik mengasihinya. Dalam kepolosan dan keluguannya, ia merasakan kasih dari si Beruang dan membalasnya dengan segenap hati.
Dalam surat pertama dari tiga suratnya kepada jemaat Kristen mula-mula, Rasul Yohanes dengan berani menyatakan bahwa Allah sendiri adalah kasih. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita,” tulisnya. “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:16).
Allah mengasihi. Bukan dalam bentuk boneka binatang melainkan lewat kedua tangan yang terentang dalam rupa manusia dengan hati yang merasakan dan meratap bersama kita (Yoh. 3:16). Melalui Yesus Kristus, Allah menunjukkan kasih-Nya yang berlimpah dan rela berkorban kepada kita.
Yohanes melanjutkan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Ketika kita percaya kita dikasihi, kita pun balas mengasihi. Kasih Allah yang sejati memungkinkan kita mengasihi Allah dan sesama manusia dengan segenap hati. —Elisa Morgan
WAWASAN

Selain dikenal sebagai anak Zebedeus, saudara Yakobus (Matius 4:21), dan salah seorang “anak guruh” (Markus 3:17), Yohanes juga dijuluki “rasul kasih.” Mengapa? Ada beberapa faktor. Dalam Injil tulisan Yohanes, ia menggambarkan dirinya sebagai murid “yang dikasihi Yesus” (Yohanes 13:23; 20:2; 21:7, 20). Selain itu, tampak jelas bahwa kasih adalah tema utama dalam tulisannya. Kata agape (kasih) muncul berulang kali baik dalam bentuk kata benda maupun kata kerja, pertama dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Sang rasul yang telah menerima kasih akhirnya memahami kasih sebagai ciri anggota keluarga Allah. —Arthur Jackson
Menurut Anda, apa yang paling menakjubkan dari kasih Allah kepada Anda? Bagaimana Anda mengungkapkan kasih-Nya kepada orang lain hari ini?
Ya Allah, tolonglah aku untuk memberi-Mu kesempatan untuk mengasihiku dan kemudian mampukan aku membalas kasih-Mu dengan segenap hatiku.

Wednesday, May 15, 2019

Ketika Semua Terasa Hilang

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? —Mazmur 22:2
Ketika Semua Terasa Hilang
Hanya dalam waktu 6 bulan, hidup Gerald berantakan. Krisis ekonomi membuat bisnisnya bangkrut dan merenggut hartanya, lalu kecelakaan tragis merenggut nyawa anak lelakinya. Karena sangat terguncang, ibunya terkena serangan jantung dan meninggal, istrinya menjadi depresi, dan kedua putrinya begitu sedih hingga menolak untuk dihibur. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggemakan seruan pemazmur, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”(Mzm. 22:2).
Satu-satunya yang membuat Gerald terus bertahan adalah pengharapan bahwa Allah, yang membangkitkan Yesus dari kematian, pasti akan membebaskan dirinya dan keluarganya dari penderitaan menuju kehidupan kekal yang penuh kebahagiaan. Ia berharap Allah akan menjawab seruannya minta tolong. Dalam keputusasaan, seperti pemazmur Daud, ia menetapkan hati untuk percaya kepada Allah di tengah segala penderitaannya. Ia berpegang pada pengharapan bahwa Allah akan membebaskan dan menyelamatkannya (ay.5-6).
Pengharapan itu menopang Gerald. Selama bertahun-tahun, setiap kali ditanya keadaannya, ia berkata, “Aku masih percaya kepada Allah.”
Allah menghargai iman Gerald, dengan memberinya penghiburan, kekuatan, dan keberanian untuk tetap melangkah dari tahun ke tahun. Keluarganya perlahan-lahan pulih dari krisis, dan tidak lama kemudian Gerald menyambut kelahiran cucu pertamanya. Seruannya sekarang adalah kesaksian atas kesetiaan Allah. “Aku tidak lagi bertanya, ‘Mengapa Engkau meninggalkan aku?’ Tuhan sudah memberkati aku.”
Saat tidak ada lagi yang tersisa, pengharapan tetap ada. —Leslie Koh
WAWASAN

Mazmur 22 adalah ratapan berisi curahan hati Daud kepada Allah di tengah kesedihan dan pergumulan yang hebat. Namun, dalam derita itu, perkataan Daud menubuatkan pergumulan ilahi yang dialami Yesus di kayu salib. Kristus mengucapkan perkataan dari Mazmur 22 selama penderitaan-Nya (Matius 27:46; Markus 15:34). Namun, itu baru permulaan dari nubuatan mazmur ini tentang salib. Ejekan yang Daud alami (Mazmur 22:8) mewakili cemooh yang dilontarkan kepada Yesus (Matius 27:39-44). Daud menulis kiasan tentang tusukan (Mazmur 22:17) yang Yesus alami dalam bentuk nyata lewat paku penyaliban (Lukas 24:39-40). Kesedihan karena pakaian Daud diperebutkan lewat undi oleh para penindasnya (Mazmur 22:19) terulang ketika prajurit di bawah salib membuang undi untuk jubah Yesus yang berupa selembar kain utuh (Matius 27:35). Roh Kudus memakai sajak dari mazmur Perjanjian Lama untuk menyiapkan jalan bagi peristiwa penyaliban Kristus. —Bill Crowder
Apa yang akan membantu Anda mengingat dan berpegang pada pengharapan akan pembebasan yang pasti dari Allah? Bagaimana kepercayaan kepada Allah membuat Anda terus bertahan dalam kesulitan?
Tuhan, saat aku merasa ditinggalkan, aku berpegang pada pengharapan yang Engkau berikan melalui kebangkitan Kristus, yaitu bahwa suatu saat nanti aku akan dibebaskan untuk mengalami sukacita yang abadi.

Tuesday, May 14, 2019

Kritikan yang Baik

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.—Yohanes 1:17
Kritikan yang Baik
Suatu hari dalam pelajaran melukis pemandangan, guru saya, seorang seniman profesional yang sangat berpengalaman, datang untuk menilai karya pertama saya. Ia berdiri di depan lukisan saya sambil memegang dagunya. Oh tidak, pikir saya. Ia pasti bilang lukisan saya jelek.
Ternyata tidak.
Menurutnya, ia suka susunan warna dan kesan terbuka dalam lukisan saya. Kemudian ia berkata bahwa pohon-pohon yang saya lukis di kejauhan bisa dibuat sedikit lebih terang. Rumpun ilalang bisa diperhalus sapuannya. Ia memiliki otoritas untuk mengkritik karya saya berdasarkan aturan perspektif dan warna, tetapi kritikannya jujur dan disampaikan dengan baik.
Yesus, yang sangat berhak menghukum manusia karena dosa mereka, tidak menggunakan Sepuluh Perintah Allah untuk menegur wanita Samaria yang Dia temui di tepi sumur. Yesus dengan lembut mengkritik hidup wanita itu hanya dengan beberapa pernyataan. Hasilnya, wanita itu sadar bahwa pencariannya terhadap kepuasan telah membawanya kepada dosa. Dari kesadaran itu, Yesus menyingkapkan diri-Nya sebagai satu-satunya sumber kepuasan abadi (Yoh. 4:10-13).
Kombinasi anugerah dan kebenaran yang Yesus pakai dalam situasi itu sama seperti yang kita alami dalam hubungan kita dengan Dia (1:17). Anugerah-Nya membuat kita terlepas dari dosa, dan kebenaran-Nya membuat kita sadar bahwa dosa adalah masalah yang serius.
Maukah kita mengundang Yesus untuk menunjukkan area mana saja dalam hidup kita yang perlu bertumbuh agar kita bisa lebih menyerupai Dia? —Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN

Pada bagian awal bacaan hari ini, Yesus hendak meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea bersama murid-murid-Nya (Yohanes 4:3). Namun, alih-alih menempuh rute lebih jauh yang biasanya ditempuh orang Yahudi demi menghindari orang Samaria yang mereka benci, Yesus justru “harus melintasi daerah Samaria” (ay.4). Yesus tergerak pergi ke Samaria karena tahu bahwa di sana ada seorang perempuan di dekat sumur yang sangat membutuhkan “air hidup” (ay.11)—dan bahwa melalui perempuan itu, pesan-Nya akan tersiar kepada yang lain (ay.39-42). —Alyson Kieda
Bagaimana Yesus menggunakan anugerah dan kebenaran untuk menunjukkan berbagai masalah dalam hidup Anda? Di bagian-bagian mana saja Dia ingin Anda berubah agar dapat lebih memuliakan-Nya?
Tuhan Yesus, terima kasih Engkau sudah membebaskan kami dari konsekuensi dosa. Tolonglah aku rela dikoreksi dan dikuatkan oleh-Mu.

Monday, May 13, 2019

Kerinduan yang Terukir

Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana. —Ulangan 34:4
Kerinduan yang Terukir
“Ah, setiap dermaga adalah kerinduan yang terukir!” begitulah bunyi sebaris kalimat dalam puisi berbahasa Portugis “Ode MarĂ­tima” karya Fernando Pessoa. Dermaga itu mewakili perasaan kita saat sebuah kapal beranjak perlahan meninggalkan kita. Kapal berangkat tetapi dermaga tetap di tempatnya, menjadi monumen abadi yang melambangkan harapan dan impian, perpisahan dan kerinduan. Kita merasa sedih karena ada yang hilang, dan atas sesuatu yang tidak dapat kita raih.
“Kerinduan” merujuk kepada hasrat nostalgia yang kita rasakan—suatu kepedihan mendalam yang tak terjelaskan. Sang pujangga melukiskan sesuatu yang tidak terlukiskan.
Bagi Musa, Gunung Nebo mungkin adalah “kerinduan yang terukir”. Dari Nebo, ia melihat tanah perjanjian yang takkan dicapainya. Firman Tuhan kepada Musa—“Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana”(Ul. 34:4)—mungkin terdengar keras. Namun, jika hanya itu yang kita lihat, kita justru melewatkan inti masalahnya. Allah justru sedang menghibur Musa: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu” (ay.4). Tidak lama setelah itu, Musa meninggalkan Nebo untuk suatu negeri yang jauh lebih indah dari Kanaan (ay.5).
Dalam kehidupan ini, sering kita seperti berdiri di dermaga. Orang yang kita cintai pergi; pengharapan kita musnah; impian kita pupus. Namun di tengah itu semua, kita merasakan sekilas keindahan taman Eden dan secercah surga. Kerinduan kita membawa kita kepada Tuhan. Dialah yang memuaskan segala kerinduan kita. —TIM GUSTAFSON
WAWASAN

Pasal terakhir dalam kitab Ulangan menceritakan kembali perihal Musa yang dilarang masuk ke tanah perjanjian karena ketidaktaatannya kepada Allah di mata air Meriba (Bilangan 20:1-13; Mazmur 106:32-33). Namun, Musa diizinkan melihat tanah perjanjian dari Gunung Nebo di Moab (wilayah Yordania zaman modern), di sebelah timur Sungai Yordan (Ulangan 34:1-4).
Seluruh angkatan Israel pertama yang berumur dua puluh tahun ke atas telah mati di padang gurun, kecuali Musa, Yosua, dan Kaleb (Bilangan 32:11-12). Musa sedang mempersiapkan angkatan kedua untuk memasuki Kanaan, saat itulah orang Israel menggerutu kepada Musa karena tidak ada air untuk diminum (20:1-13). Allah menyuruh Musa, “Katakanlah kepada bukit batu itu . . . demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka” (ay.8). Namun bukannya berkata kepada bukit batu, Musa memukulnya dua kali (ay.11). Dengan perbuatan itu, di depan rakyat ia menunjukkan kurangnya iman bahwa Allah mampu memenuhi kebutuhan umat-Nya, dan hal itu sama dengan tidak menghormati Allah (ay.12). —K.T. Sim
Apa saja kerinduan Anda yang belum tergenapi? Area mana saja dalam hidup ini yang coba Anda puaskan dengan hal-hal yang salah? Bagaimana Anda dapat menemukan kepuasan sejati dalam Allah saja?
Hal terindah dalam hidupku adalah kerinduan—untuk meraih Gunung yang mulia dan menemukan asal usul semua keindahan yang ada. —C. S. Lewis

Sunday, May 12, 2019

Kasih Takkan Berhenti

Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. —Lukas 15:6
Kasih Takkan Berhenti
Saat saya berumur 19, bertahun-tahun sebelum memiliki pager ataupun ponsel, saya pindah ke satu wilayah yang berjarak 1.000 kilometer lebih dari rumah ibu saya. Suatu hari, saya berangkat pagi-pagi sekali untuk suatu keperluan, hingga lupa kalau saya sudah berjanji akan menelepon ibu saya. Malam itu, 2 petugas polisi datang ke rumah. Ternyata ibu saya khawatir karena sebelumnya saya tidak pernah lupa dengan janji saya. Setelah menelepon berkali-kali dan mendengar nada sibuk, ibu saya meminta polisi mengecek kondisi saya. Salah seorang polisi itu berkata kepada saya, “Anda sungguh diberkati karena kasih ibu takkan berhenti mencari sampai Anda ditemukan.”
Saat mengangkat telepon untuk menghubungi ibu saya, saya baru sadar rupanya gagang telepon tidak diletakkan dengan benar di atas perangkatnya. Sesudah saya meminta maaf, ibu saya berkata ia harus menyebarkan kabar baik tentang saya yang ditemukan kembali kepada keluarga dan teman-temannya. Saya merasa ibu saya agak sedikit berlebihan, walaupun saya merasa senang karena disayang begitu rupa.
Kitab Suci memberikan gambaran indah tentang Allah, Sang Kasih, yang tanpa henti memanggil anak-anaknya yang terhilang. Seperti gembala yang baik, Dia mempedulikan dan mencari setiap domba yang hilang, dan dengan itu menegaskan bahwa setiap anak Allah sungguh tak ternilai di hadapan-Nya (Luk. 15:1-7).
Kasih takkan berhenti mencari kita. Dia akan selalu mencari kita sampai kita kembali kepada-Nya. Kita juga dapat berdoa untuk mereka yang perlu mengetahui bahwa Kasih—Allah itu sendiri—tidak akan pernah berhenti mencari mereka. —Xochitl Dixon
WAWASAN

Perumpamaan ini (Lukas 15:1-7) adalah yang pertama dalam rangkaian perumpamaan tentang kehilangan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan perumpamaan terkenal tentang anak bungsu yang hilang (ay.11-32). Yang membuat Yesus menceritakan kisah-kisah ini adalah gerutuan “orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”—para pemimpin agama. Kita lekas sekali menghakimi para pemimpin yang merasa dirinya benar itu, tetapi mungkin kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan alasan kejengkelan mereka. Para pemuka itu kesal karena Yesus menerima “para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” (ay.1-2) yang bahkan tidak berupaya hidup menenuhi standar yang ditetapkan oleh kalangan elit agama bagi mereka. Para pemungut cukai misalnya, mereka memeras sesama orang Ibrani, memanfaatkan kekuasaan penjajah Romawi demi mendapat uang dari bangsa mereka sendiri. Yesus memandang orang-orang itu bukan sebagai kaum pengacau yang perlu dihindari, melainkan sebagai “domba yang hilang,” berharga dan perlu diselamatkan. —Tim Gustafson
Bagaimana rasanya mengetahui bahwa Allah selalu mencari Anda karena kasih-Nya? Bagaimana Dia memakai Anda untuk membawa kasih-Nya kepada orang lain?
Tuhan, terima kasih karena Engkau terus mencari kami dan menyediakan tempat perlindungan yang aman bagi kami yang kembali ke pelukan-Mu.

Saturday, May 11, 2019

Tuhan Menyediakan

Abraham menamai tempat itu: “Tuhan menyediakan.” —Kejadian 22:14
Tuhan Menyediakan
Kegelisahan saya semakin menjadi-jadi sepanjang musim panas setelah saya lulus sarjana dan akan memulai program magister. Saya senang jika segala sesuatu sudah terencana, jadi membayangkan harus pindah ke luar negara bagian dan masuk kuliah tanpa memiliki pekerjaan membuat saya gelisah. Namun, beberapa hari sebelum mengakhiri pekerjaan saya di musim panas, saya diminta terus bekerja untuk perusahaan tersebut dari jarak jauh. Saya menerima tawaran tersebut dan merasa tenang karena tahu Allah memelihara hidup saya.
Allah menyediakan, tetapi menurut waktu-Nya, bukan waktu saya. Abraham mengalami situasi yang jauh lebih sulit dengan anaknya, Ishak. Ia diminta membawa anaknya untuk dipersembahkan di atas gunung (Kej. 22:1-2). Tanpa ragu, Abraham taat dan membawa Ishak ke sana. Dalam perjalanan yang memakan waktu 3 hari, Abraham sebenarnya mempunyai banyak waktu untuk berubah pikiran, tapi ia tidak melakukannya (ay.3-4).
Saat Ishak bertanya kepada ayahnya, Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya” (ay.8). Saya bertanya-tanya apakah Abraham merasakan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi setiap kali ia membuat simpul demi simpul yang mengikatkan badan Ishak di mezbah dan juga saat ia mulai mengambil pisau untuk menyembelih anaknya (ay.9-10). Betapa leganya Abraham ketika malaikat meminta ia berhenti! (ay.11-12). Allah benar-benar menyediakan korban bakaran, seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar (ay.13). Allah telah menguji iman Abraham, dan ia telah terbukti setia. Pada saat yang tepat, dengan tidak terlambat sedetik pun, Tuhan menyediakan (ay.14). —Julie Schwab
WAWASAN

Dengan menyuruh Abraham ke tanah Moria untuk mempersembahkan Ishak (Kejadian 22:2), Allah mempersiapkan persembahan-persembahan korban di masa mendatang. Daud membeli tempat pengirikan Arauna untuk persembahan yang mengakhiri suatu tulah (2 Samuel 24:21-25). Di lokasi yang sama, yaitu Gunung Moria, Salomo putra Daud membangun Bait Suci tempat bangsa mereka mengadakan persembahan korban (2 Tawarikh 3:1). —Bill Crowder
Adakah jawaban doa yang sudah lama Anda tunggu? Pernahkah Anda melihat Tuhan menyediakan bagi Anda pada saat yang tepat?
Tuhan, terima kasih atas penyediaan-Mu. Tolong aku untuk percaya bahwa Engkau selalu menyediakan, meskipun penantianku terasa sangat lama.

Friday, May 10, 2019

Menteri Urusan Kesepian

Peliharalah kasih persaudaraan! —Ibrani 13:1
Menteri Urusan Kesepian
Sejak suaminya meninggal, Betsy banyak menghabiskan waktu di rumah, menonton TV dan membuat teh untuk dirinya sendiri. Bukan hanya Betsy yang hidup dalam kesepian. Lebih dari 9 juta warga Inggris (15% dari populasi) mengatakan bahwa mereka sering atau selalu merasa kesepian, dan pemerintah Inggris Raya telah menunjuk seorang Menteri Urusan Kesepian untuk mencari tahu penyebab dan cara menolong orang-orang yang kesepian tersebut.
Sejumlah penyebab kesepian yang umum ditemui: kita terlalu sering berpindah-pindah sehingga tidak berakar di satu tempat. Kita yakin bisa mengurus diri sendiri, sehingga merasa tidak memerlukan orang lain. Kita dipisahkan oleh teknologi—terlalu asyik dengan gawai dan layar kita masing-masing.
Saya merasakan sisi gelap kesepian, dan mungkin Anda merasakannya juga. Itulah satu alasan mengapa kita membutuhkan saudara-saudari seiman. Dalam kitab Ibrani, pembahasan panjang mengenai pengorbanan Yesus diakhiri dengan dorongan bagi kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (10:25). Kita adalah bagian dari keluarga Allah, sehingga kita harus memelihara “kasih persaudaraan” dan senang “memberi tumpangan kepada orang” (13:1-2). Jika setiap dari kita melakukan hal-hal tersebut dengan sungguh-sungguh, setiap orang akan merasa diperhatikan.
Orang-orang yang kesepian mungkin tidak dapat membalas kebaikan kita, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Yesus berjanji tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita (13:5), dan kita dapat menggunakan kasih persahabatan-Nya sebagai motivasi untuk mengasihi orang lain. Apakah Anda kesepian? Apa yang dapat Anda lakukan untuk melayani keluarga Allah? Para sahabat yang Anda dapatkan dalam persekutuan dengan Yesus akan bertahan selamanya, sepanjang hidup ini, bahkan sampai selamanya. —Mike Wittmer
WAWASAN

Banyak surat Perjanjian Baru memiliki bagian penutup berupa nasihat atau dorongan kepada pembaca untuk memiliki sikap dan perilaku tertentu. Demikian pula halnya surat Ibrani.
Secara berturut-turut, penulis menyebutkan apa saja yang harus dilakukan pembaca, dan tidak banyak yang berhubungan. Hal unik dalam deretan nasihat ini adalah adanya alasan untuk setiap nasihat. Misalnya, kita harus memberi tumpangan (ay.2), sebab dengan berbuat demikian, siapa tahu kita menjamu malaikat. Kita harus menghormati kesucian perkawinan (ay.4), sebab Allah akan menghakimi. Kita juga harus mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki, (ay.5), sebab Allah menyertai kita. Perintah itu diberikan bukan supaya kita menjadi budak peraturan, melainkan demi kebaikan kita. —J.R. Hudberg
Siapa yang membutuhkan persahabatan Anda saat ini? Bagaimana Anda dapat melayani seseorang dalam gereja atau komunitas Anda dalam minggu ini?
Keluarga Allah hadir untuk menjadi jawaban bagi masalah kesepian.

Thursday, May 9, 2019

Strategi Terbaik untuk Hidup Ini

Bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. —Pengkhotbah 4:12
Strategi Terbaik untuk Hidup Ini
Saat menyaksikan pertandingan basket regu anak perempuan saya dari bangku penonton, saya mendengar pelatih meneriakkan kata “dobel” kepada regunya yang sedang bermain di lapangan. Saat itu juga, strategi pertahanan mereka bergeser dari satu-lawan-satu menjadi dua pemain bertugas menjaga anggota tim lawan dengan postur tubuh yang paling tinggi. Mereka sukses menghalang-halangi usaha pemain itu untuk menembak dan mencetak skor, hingga berhasil merebut bola dan mencetak angka bagi tim mereka sendiri.
Ketika Salomo, penulis kitab Pengkhotbah, bergumul dengan rasa frustrasi dan jerih payah di dunia ini, ia juga mengakui bahwa mempunyai seorang rekan dalam pekerjaan kita akan menghasilkan “upah yang baik” (Pkh. 4:9). Ketika orang yang berjuang sendirian “dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan” (ay.12). Ketika kita jatuh, seorang sahabat dapat mengangkat kita kembali (ay.10).
Perkataan Salomo mendorong kita untuk berbagi perjalanan hidup kita kepada orang lain sehingga kita tidak akan menghadapi berbagai cobaan hidup sendirian. Sebagian dari kita perlu bersikap lebih terbuka dan itu mungkin akan membuat kita sedikit tidak nyaman. Namun ada juga yang justru merindukan kedekatan tetapi menemui kesulitan mendapatkan teman untuk berbagi. Apa pun kondisinya, kita tidak boleh putus asa dalam berusaha.
Salomo dan si pelatih basket tadi sepakat: bahwa memiliki rekan di sekitar kita yang bisa diajak bekerja sama merupakan strategi terbaik untuk menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang kita, baik di lapangan pertandingan maupun dalam kehidupan nyata. Terima kasih, Tuhan, atas orang-orang yang Kau hadirkan dalam hidup kami untuk mendorong dan menguatkan kami. —Kirsten Holmberg
WAWASAN

Setelah mengamati kehidupan di dunia ini, penulis kitab Pengkhotbah menyimpulkan, “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2). Sia-sia diterjemahkan dari kata Ibrani hebel (38 kali dipakai dalam kitab ini) yang secara harfiah berarti “uap” dan secara tersirat mengandung arti hal-hal yang sementara, cepat pudar, tanpa tujuan. Meski demikian, tulisannya tidak berakhir tanpa harapan. Salomo mengingatkan kita akan makna dan kepuasan yang bisa ditemukan dalam persekutuan dengan sesama (4:4-12). —Arthur Jackson
Siapa yang pernah membantu Anda melewati masa-masa sulit? Siapa yang dapat Anda dukung dan kuatkan? Bagaimana cara Anda menolong mereka?
Allah memberikan para sahabat untuk menolong kita menghadapi pergumulan hidup.

Wednesday, May 8, 2019

Mangkuk Air Mata

Tetapi aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku. —Mazmur 55:17
Mangkuk Air Mata
Di Boston, Massachusetts, terdapat sebuah plakat bertuliskan “Menyeberangi Mangkuk Air Mata” yang dipasang untuk mengenang orang-orang yang dengan berani menyeberangi Samudra Atlantik agar tidak mati kelaparan di tengah bencana kelaparan hebat yang melanda Irlandia di akhir tahun 1840-an. Lebih dari sejuta orang meninggal dalam bencana kelaparan itu, sementara satu juta lebih lainnya memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk menyeberangi lautan, yang secara puitis oleh John Boyle O’Reilly disebut sebagai “Mangkuk Air Mata.” Terdorong oleh kepedihan dan kelaparan hebat, orang-orang itu pergi mencari setitik pengharapan di tengah masa-masa sulit.
Dalam Mazmur 55, Daud menceritakan bagaimana ia mengejar pengharapan. Walaupun kita tidak tahu pasti ancaman apa yang sedang dihadapinya saat itu, tetapi begitu beratnya pengalaman itu hingga mentalnya jatuh (ay.5-6). Reaksi pertamanya ketika menghadapi kesulitan itu adalah berdoa, “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang” (ay.7).
Seperti halnya Daud, mungkin kita ingin melarikan diri ke tempat aman di tengah-tengah situasi yang menyakitkan. Namun, setelah melihat keadaannya yang buruk, Daud memilih lari kepada Allah daripada melarikan diri dari kesulitannya, dengan bernyanyi, “Tetapi aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku” (ay.17).
Ketika masalah datang, ingatlah bahwa Allah sumber segala penghiburan mampu membawa Anda melewati masa-masa yang tergelap dan paling menakutkan. Dia berjanji suatu hari nanti akan menghapuskan segala air mata dari mata kita (Why. 21:4). Dengan dikuatkan oleh pengharapan ini, kita bisa sungguh-sungguh mempercayakan seluruh air mata kita kepada-Nya. —Bill Crowder
WAWASAN

Dalam Mazmur 55, Daud meratapi pengkhianatan pribadi yang sangat menyakitkan. Diduga, yang ia maksud di sini adalah pengkhianatan Ahitofel, penasihat yang mendukung pemberontakan Absalom, anak Daud (2 Samuel 15:12). Namun, karena tidak adanya rincian, mazmur ini dapat mewakili ungkapan kepedihan yang sifatnya umum, sebuah ekspresi yang menyatakan betapa sulitnya untuk kembali percaya setelah dikhianati (Mazmur 55:6-8), apalagi jika pengkhianatan itu terselubung dalam topeng persahabatan dan pelayanan bagi Allah (ay.12-15). —Monica Brands
Apa yang membuat Anda ingin lari? Apa reaksi pertama Anda ketika masalah datang?
Bapa, ketika hidup terasa menekan, berilah aku kekuatan. Hadir dan hiburlah aku, karena tanpa Engkau, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Tuesday, May 7, 2019

Seorang Pembimbing

Demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau. —2 Raja-Raja 2:6
Seorang Pembimbing
Saat mendengar kata “mentor”, siapa yang terlintas dalam benak Anda? Bagi saya, itulah Pendeta Rich. Ia melihat potensi yang saya miliki dan menguatkan saya ketika saya merasa diri tidak mampu. Beliau memberi teladan kepemimpinan lewat pelayanan yang penuh kasih dan kerendahan hati. Saya pun kini melayani Tuhan dengan membimbing orang lain.
Nabi Elia berperan sangat penting dalam pertumbuhan Elisa sebagai pemimpin. Elia menemukan Elisa sedang membajak dan mengajaknya menjadi anak didiknya setelah Allah menyuruhnya mengurapi Elisa sebagai penggantinya (1 Raj. 19:16,19). Sang murid muda ini melihat langsung bagaimana Nabi Elia mengadakan berbagai mukjizat dan patuh kepada Allah tanpa kompromi. Allah menggunakan Elia untuk menyiapkan Elisa untuk pelayanan seumur hidupnya. Menjelang akhir hidup Elia, Elisa punya kesempatan untuk pergi. Namun, ia memilih memperbarui komitmennya kepada sang mentor. Tiga kali Elia menawarkan Elisa untuk melepaskan tanggung jawabnya, tetapi setiap kali Elisa selalu menolak dengan berkata, “Demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau”(2 Raj. 2:2,4,6). Sebagai hasil dari kesetiaan Elisa, ia juga dipakai Allah secara luar biasa.
Kita semua membutuhkan seseorang yang memberi teladan arti sesungguhnya dari mengikut Tuhan Yesus. Kiranya Allah memberikan kepada kita orang-orang beriman yang dapat membimbing kita bertumbuh secara rohani. Kiranya kita pula, dengan pertolongan Roh Kudus, membimbing sesama dengan teladan kita. —Estera Pirosca Escobar
WAWASAN

Perjalanan Elia dan Elisa yang dikisahkan dalam 2 Raja-Raja 2:1–6 mengandung aspek yang menarik, yaitu tempat-tempat penting dalam peristiwa masuknya Israel ke tanah perjanjian. Di Gilgal, bangsa Israel berhenti untuk merayakan Paskah pertama mereka di negeri itu dan untuk menyunatkan orang-orang yang lahir di padang gurun (Yosua 5). Yerikho merupakan kota pertama yang ditaklukkan secara dahsyat saat Israel mulai merebut tanah perjanjian (Yosua 6). Sungai Yordan adalah jalan masuk orang Israel ke tanah Kanaan dengan mukjizat Allah yang membelah airnya (Yosua 3). Penyeberangan sungai itu tentu mengingatkan mereka akan peristiwa terbelahnya Laut Merah empat puluh tahun sebelumnya sehingga nenek moyang mereka bisa menyeberang dari Mesir menuju kebebasan dan hidup sebagai bangsa yang baru. —Bill Crowder
Saat ini, siapakah mentor yang sedang atau pernah membimbing hidup Anda? Kenapa penting bagi kita untuk membimbing sesama dalam iman kepada Tuhan?
Bapa, kami bersyukur Kau tempatkan orang-orang di sekitar kami yang mau menegur dan menguatkan kami. Mampukan kami berbuat yang sama kepada sesama.

Monday, May 6, 2019

Datang dan Terimalah

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! —Yesaya 55:3
Datang dan Terimalah
Saya mengintip melalui pagar tanaman anggur yang mengelilingi halaman belakang rumah kami. Dari sana saya bisa melihat orang-orang yang sedang berlari, jogging, berjalan kaki, dan berjalan cepat mengitari jalur yang mengelilingi taman di belakang rumah kami. Saya pernah melakukan itu semua ketika saya masih kuat, pikir saya. Seketika itu juga gelombang ketidakpuasan melanda saya.
Belakangan, ketika sedang membaca Alkitab, saya dibuat terhenyak oleh Yesaya 55:1, “Ayo, hai semua orang yang haus,” dan menyadari lagi bahwa ketidakpuasan (kehausan) dalam hidup ini merupakan keniscayaan, bukan pengecualian. Tidak ada, bahkan hal-hal baik dalam hidup sekalipun, yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Andai kata saya memiliki kaki yang kuat untuk mendaki gunung, pasti tetap saja ada sesuatu dalam hidup saya yang akan membuat saya merasa tidak puas.
Budaya kita selalu mengatakan kepada kita melalui berbagai cara bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh melalui apa yang kita lakukan, yang kita beli, pakai, miliki, atau naiki. Semua itu tidak benar. Kita tidak akan bisa memperoleh kepuasan penuh dari apa pun di dunia ini, tak peduli apa yang kita lakukan.
Nabi Yesaya mengajak kita untuk datang dan datang lagi kepada Allah dan Kitab Suci untuk mendengarkan apa yang Allah katakan. Jadi, apa yang Allah katakan? Kasih-Nya kepada Daud di masa silam adalah “abadi” dan “teguh” (ay.3). Kasih itu berlaku juga untuk Anda dan saya! Kita boleh “datang” kepada-Nya. —David H. Roper
WAWASAN

Yesaya 55 merupakan satu rangkaian dengan dua pasal sebelumnya. Pasal 53 menubuatkan penderitaan sang Mesias yang akan datang dan menunjuk pada keturunan yang akan lahir karenanya. Melalui penderitaan ini, Mesias akan “menanggung dosa banyak orang” (ay.12)—dengan kata lain, menyelamatkan kita. Pasal 54 menggambarkan bahwa Mesias ini kelak akan memulihkan bangsa Israel sepenuhnya. Dalam pasal 55 ini, nabi Yesaya menunjukkan bahwa Allah menawarkan keselamatan tersebut kepada kita semua: “Ayo, hai semua orang yang haus” (ay.1). Ia mengundang kita untuk menerima sesuatu yang sangat dibutuhkan dan kita tak sanggup menggapainya dengan usaha sendiri. Kontras dengan roti “yang tidak mengenyangkan” (ay.2), Yesus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35). Melalui Kristus sang Air Hidup (4:1-15), kita meredakan dahaga rohani yang mendalam. Kelegaan ini tak bisa diperoleh dengan uang maupun upaya kita sendiri. —Tim Gustafson
Dalam hal apakah Anda merasa haus? Bagaimana kesadaran bahwa Allah itu setia akan menolong Anda hari ini?
Siapakah yang kami miliki, Tuhan, selain Engkau yang puaskan dahaga jiwa? Mata air yang tiada habis-habisnya mengalir! Air anugerah yang cuma-cuma! Mata air lain tak bisa diharapkan. —Mary Bowley

Sunday, May 5, 2019

Kecil tetapi Penting

Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami. —2 Korintus 1:10-11
Kecil tetapi Penting
Hari itu dimulai seperti hari-hari biasa, tetapi berakhir seperti mimpi buruk. Esther (bukan nama sebenarnya) dan beberapa ratus wanita lain diculik dari asrama sekolah mereka oleh sebuah kelompok relijius yang militan. Sebulan kemudian, semua tawanan wanita itu dibebaskan—kecuali Esther, karena ia menolak menyangkal Kristus. Ketika saya dan seorang teman membaca tentang pengalaman Esther dan orang-orang lain yang dianiaya karena iman mereka, hati kami tergerak. Kami ingin melakukan sesuatu. Namun, apa?
Saat menulis surat kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menuliskan tentang kesulitan yang dialaminya di Asia Kecil. Penganiayaan luar biasa yang dialami Paulus dan rekan-rekannya membuat mereka “putus asa juga akan hidup” (2 Kor. 1:8). Namun, Rasul Paulus tertolong oleh doa-doa orang percaya (ay.11). Walaupun jemaat Korintus berada sangat jauh dari sang rasul, doa mereka sangat berarti dan Allah mendengarkan mereka. Di sinilah terdapat misteri yang luar biasa: Allah yang berdaulat memilih menggunakan doa-doa kita untuk mencapai tujuan-Nya. Sungguh sebuah hak istimewa!
Hari ini, kita dapat terus mengingat saudara-saudari kita dalam Kristus yang mengalami penderitaan karena iman mereka. Ada sesuatu yang dapat kita lakukan. Kita dapat berdoa bagi mereka yang terpinggirkan, tertindas, tersingkir, tersiksa, dan terkadang dibunuh karena keyakinan mereka kepada Kristus. Marilah mendoakan mereka agar mereka mengalami penghiburan dan kekuatan dari Allah, serta dikuatkan oleh pengharapan di saat mereka berdiri teguh bagi nama Yesus. —Poh Fang Chia
WAWASAN

Dalam bacaan hari ini, Paulus ingin pembacanya mengetahui beratnya aniaya yang telah ia alami bersama teman-teman seperjalanan setelah meninggalkan Korintus dan selama berada di Asia, salah satu provinsi Romawi. Mungkin yang ia maksudkan adalah saat-saat menegangkan dan mengancam nyawa yang mereka alami di tangan massa yang mengamuk di Efesus (Kisah Para Rasul 19:23-34). Namun, Paulus tidak menceritakan secara terperinci. Mengapa?
Mungkin Paulus tidak mau pengharapan mereka terjerat dalam hal-hal yang spesifik. Sesuai argumennya dalam surat 1 Korintus, ia ingin penghiburan dan kekuatan mereka tertanam pada Allah yang membangkitkan Putra-Nya dari antara orang mati (15:35–58). Dialah Allah yang memberi kelepasan di masa silam, sekarang, dan yang akan datang; Dialah yang memberikan pengharapan dan kepastian—baik dalam kehidupan maupun kematian (2 Korintus 1:9-10; 4:13-18). —Mart DeHaan
Bagi siapa Anda berkomitmen untuk berdoa minggu ini? Kapan Anda pernah mengalami kesetiaan Allah di tengah masa-masa penganiayaan?
Dalam doa, kita menyerahkan diri kita di bawah kaki Allah Mahakuasa.

Saturday, May 4, 2019

Lebih dari Sekadar Menunggu

[Yesus] melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang . . . “telah kamu dengar dari pada-Ku.” —Kisah Para Rasul 1:4
Lebih dari Sekadar Menunggu
Polisi menindak seorang wanita yang mengemudi ugal-ugalan dengan membawa mobilnya keluar dari jalan, naik ke trotoar, dan kembali ke jalan. Itu dilakukannya karena ia tidak mau menunggu sebuah bus sekolah yang sedang menurunkan murid-murid.
Meski menunggu dapat membuat kita merasa tidak sabar, tetapi ada hal-hal baik yang bisa dilakukan dan dipelajari ketika menunggu. Yesus mengetahui hal itu ketika Dia melarang murid-murid-Nya untuk “meninggalkan Yerusalem” (Kis. 1:4). Mereka sedang menunggu “untuk dibaptis dengan Roh Kudus” (ay.5)
Ketika berkumpul di ruang atas, rasanya dalam suasana kegembiraan dan penuh harap, para murid mengerti bahwa ketika Yesus meminta mereka untuk menunggu, Dia tidak menyuruh mereka untuk berhenti melakukan apa-apa. Mereka pun menggunakan waktu untuk berdoa (ay.14); dan seperti dituliskan dalam Kitab Suci, mereka juga memilih seorang murid baru menggantikan Yudas (ay.26). Ketika mereka bersatu dalam doa dan penyembahan, Roh Kudus pun turun atas mereka (2:1-4).
Para murid tidak hanya menunggu—mereka juga bersiap-siap. Menantikan Allah bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau terburu-buru berbuat sesuatu karena tidak sabar. Kita dapat berdoa, beribadah, serta menikmati kebersamaan dengan saudara seiman sambil menantikan apa yang akan Dia lakukan. Penantian itu menyiapkan hati, pikiran, dan tubuh kita untuk hal-hal yang akan datang.
Ketika Allah meminta kita untuk menunggu, kita boleh merasa bersemangat, karena tahu bahwa kita bisa mempercayai diri-Nya dan rencana yang dimiliki-Nya bagi kita! —Peter Chin
WAWASAN

Sebelum diangkat ke surga, Yesus menegaskan kembali Amanat Agung kepada para pengikut-Nya: “Kamu akan menjadi saksi-Ku . . . sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Mereka juga menerima tiga janji. Pertama, Roh Kudus akan turun ke atas mereka (ay.8) sesuai perkataan Yesus sebelumnya di ruang atas (Yohanes 14–16). Beberapa hari kemudian, janji ini digenapi pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Kedua, hadirat Roh Kudus dalam kehidupan mereka akan memampukan mereka menjalankan amanat tersebut (1:8). Hingga sekarang, para pengikut Kristus harus hidup dalam kuasa Roh Kudus, bukan kekuatan mereka sendiri. Terakhir, ketika tiba waktunya, Yesus akan kembali ke dunia ini dalam tubuh yang nyata (ay.11). —Bill Crowder
Apakah Anda sedang dalam masa penantian? Bagaimana Anda dapat melihatnya sebagai masa persiapan?
Ya Allah, saat aku bergumul, ingatkan aku bahwa masa penantian bukanlah kesia-siaan, melainkan cara-Mu menyingkapkan karya-Mu dalam hidupku.

Friday, May 3, 2019

Kasih yang Melampaui Batas

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. —Markus 12:31
Kasih yang Melampaui Batas
Di musim panas tahun 2017, serangan Badai Harvey telah mengakibatkan kerugian besar berupa nyawa dan harta benda di daerah Pantai Teluk Amerika Serikat. Banyak orang yang terpanggil untuk menyediakan makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal bagi para korban yang sangat membutuhkan bantuan.
Seorang pemilik toko piano di Maryland terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih. Ia memikirkan bagaimana musik dapat menolong terjadinya pemulihan kepada keadaan yang normal kepada mereka yang telah kehilangan segala-galanya. Jadi, bersama para pegawainya, ia mulai memperbaiki piano-piano bekas dan mencari tahu siapa yang paling membutuhkannya. Musim semi itu, Dean Kramer dan Lois, istrinya, memulai perjalanan panjang ke Houston, Texas, dengan mengendarai truk yang mengangkut piano-piano bekas untuk diberikan kepada keluarga, gereja, dan sekolah di daerah-daerah yang terkena bencana.
Terkadang kita mengartikan kata sesama sebagai mereka yang tinggal dekat dengan kita atau setidak-tidaknya orang yang kita kenal. Namun, dalam Lukas 10, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati untuk mengajarkan bahwa kasih kita kepada sesama seharusnya tidak memiliki batasan. Orang Samaria itu tidak segan-segan membantu orang asing yang terluka, walaupun ia seorang Yahudi, yang merupakan musuh orang Samaria (ay.25-37).
Ketika Dean ditanya tentang alasannya membagi-bagikan piano, ia menjelaskan dengan singkat: “Kita diajar untuk mengasihi sesama kita.” Yesus sendiri berkata, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama,” (Mrk. 12:31) daripada mengasihi Allah dan sesama kita. —Cindy Hess Kasper
WAWASAN

Siapakah ahli Taurat itu (Lukas 10:25)? Juga dikenal sebagai ahli kitab, mereka adalah pemegang otoritas hukum Musa. Dalam kitab-kitab Injil, mereka biasanya sepihak dengan orang Farisi dan para imam besar yang menentang Yesus (Matius 22:34-35; Lukas 7:30; 11:46-52), padahal mereka bertanggung jawab memelihara Perjanjian Lama dan menerapkannya dalam kehidupan orang percaya Yahudi. —Alyson Kieda
Bagaimana selama ini Anda membatasi pemahaman Anda tentang kata sesama? Bagaimana Allah mendesak Anda mengembangkan batasan Anda tentang siapa saja yang menjadi sesama Anda?
Bapa, tolonglah aku melihat melampaui batasan dan hambatan, memandang semua orang sebagai sesamaku, dan mengasihi dengan kemurahan hati yang telah Kau ajarkan kepadaku.

Thursday, May 2, 2019

Terus Mendoakan dari Jauh

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. —Kolose 4:2
Terus Mendoakan dari Jauh
Kevin menyeka air matanya sembari menyerahkan selembar kertas untuk dibaca Cari, istri saya. Ia tahu Cari dan saya sedang mendoakan anak perempuan kami agar kembali percaya kepada Tuhan Yesus. “Tulisan ini ditemukan dalam Alkitab milik ibu saya setelah beliau meninggal, dan saya berharap ini dapat menguatkan kalian,” katanya. Pada kertas itu tertulis, “Untuk anakku, Kevin.” Di bawahnya tertulis sebuah doa untuk keselamatannya.
“Sekarang saya menyimpan catatan ini dalam Alkitab saya,” Kevin menjelaskan. “Ibu saya berdoa untuk keselamatan saya selama lebih dari tiga puluh lima tahun. Saat itu saya sangat jauh dari Allah, tetapi sekarang saya telah menjadi orang percaya.” Ia menatap kami dengan sungguh-sungguh dan tersenyum sambil berurai air mata: “Jangan pernah menyerah mendoakan anak kalian—berapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan.”
Kata-katanya yang menguatkan mengingatkan saya pada pengantar sebuah cerita tentang doa yang disampaikan Yesus dalam Injil Lukas. Lukas memulai dengan kata-kata, “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1).
Dalam cerita itu, Yesus membandingkan seorang “hakim yang lalim” (ay.6), yang mengabulkan permintaan hanya agar ia tidak diganggu lagi, dengan Bapa Surgawi yang benar-benar peduli kepada kita dan menginginkan kita datang kepada-Nya. Kita akan dikuatkan setiap kali kita berdoa karena kita tahu Allah mendengar dan menerima doa-doa kita. —James Banks
WAWASAN

Bacaan hari ini menjelaskan bahwa Yesus menceritakan perumpamaan hakim dan janda untuk mengajar murid-murid-Nya agar “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (ay.1). Meski begitu, ada dua poin dalam perumpamaan ini. Tentu, poin utamanya adalah berdoa tiada henti. Seperti si janda terus mendesak hakim yang lalim untuk mengabulkan permohonannya, demikianlah kita harus berdoa kepada Allah secara terus-menerus dan konsisten. Yang kedua, ada sesuatu yang perlu diperhatikan dalam permintaan sang janda, sebab Yesus juga menyinggungnya. Ia meminta keadilan, bukan keluhan pribadi atau upaya mendapat keuntungan. Ia menderita ketidakadilan, itu sebabnya si janda terus memohon kepada hakim—hakim yang tidak adil—agar memberi keadilan kepadanya. Yesus mengatakan bahwa Bapa (yang jelas adil) tentu akan “membenarkan orang-orang pilihan-Nya” (ay.7). Allah Bapa mendengar dan menjawab doa-doa kita yang tiada jemu meminta keadilan. —J.R. Hudberg
Siapa yang terus Anda doakan keselamatannya? Bagimana Anda merasa dikuatkan ketika mendengar cerita orang lain yang dijawab doanya?
Abba, Bapa, terima kasih karena tidak ada permintaan yang terlalu besar atau terlalu kecil bagi-Mu. Tolonglah aku berdoa dengan tekun untuk mereka yang belum mengenal-Mu!

Wednesday, May 1, 2019

Resep Alkitabiah

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. —Amsal 17:22
Resep Alkitabiah
Greg dan Elizabeth memiliki rutinitas “Malam Lelucon” bersama keempat anak mereka yang masih bersekolah. Masing-masing anak membawa beberapa lelucon yang mereka baca atau dengar (atau karang sendiri!) sepanjang minggu itu untuk diceritakan di meja makan. Tradisi ini menciptakan kenangan gembira mengenai hal-hal menyenangkan yang mereka nikmati bersama di meja makan. Greg dan Elizabeth bahkan menyadari bahwa tertawa itu sehat bagi anak-anak mereka, sehingga mereka tetap bersemangat di tengah hari-hari yang sulit.
Manfaat dari obrolan yang menyenangkan di meja makan juga tidak luput dari perhatian C. S. Lewis, yang menulis, “Tidak ada keceriaan yang melebihi gelak tawa di seputar meja makan.”
Hikmat tentang memelihara hati yang gembira bisa kita temukan di Amsal 17:22, yang menyebutkan bahwa, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal menawarkan “resep” untuk merangsang kesehatan dan pemulihan dengan membiarkan sukacita mengisi hati kita sebagai obat yang tidak mahal dan sangat mujarab.
Kita semua membutuhkan resep alkitabiah ini. Sukacita yang kita bawa ke dalam pembicaraan dapat menyelesaikan perselisihan. Sukacita juga dapat menolong kita merasakan kedamaian, bahkan setelah ujian yang membuat stres di sekolah atau hari yang berat di kantor. Tawa di antara keluarga dan sahabat dapat menciptakan tempat yang aman bagi kita. Di sanalah kita mengetahui dan merasakan bahwa kita dicintai.
Apakah Anda perlu lebih banyak tertawa sebagai “obat yang manjur” bagi jiwa Anda? Ingatlah, Alkitab mendorong Anda untuk memelihara hati yang gembira. —Lisa Samra
WAWASAN

Salah satu tantangan dalam mempelajari kitab Amsal adalah memahami apa itu amsal sendiri. Kamus Alkitab Harper’s Bible Dictionary mendefinisikan amsal sebagai “pepatah singkat populer yang menyampaikan kebenaran atau pengamatan dalam bentuk yang ekspresif dan mudah diingat . . . Contoh paling umum adalah peribahasa tentang perilaku atau pengalaman manusia yang dikemas secara menarik, penuh wawasan, jenaka, bahkan lucu.” Kadang mungkin kita suka memaknai amsal sebagai janji yang pasti, padahal bukan. Amsal adalah pepatah-pepatah bijaksana yang memberikan kebijaksanaan hidup yang sifatnya umum. Amsal bukan jaminan; amsal memberikan prinsip-prinsip dan pemikiran yang dapat membimbing kita dengan bijaksana. —Bill Crowder
Bagaimana selera humor yang baik membantu Anda menjalani tantangan hidup baru-baru ini? Apa artinya dipenuhi dengan sukacita Allah bagi Anda?
Allah Mahakuasa, terima kasih untuk anugerah sukacita yang memenuhi hati kami.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate