Pages - Menu

Sunday, November 30, 2014

Dijual—“Apa Adanya”

Karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah. —Wahyu 5:9
Dijual—“Apa Adanya”
Sebuah rumah yang termasuk dalam daftar untuk dijual “Apa Adanya” biasanya berarti bahwa si penjual sudah tidak bisa atau tidak mau mengeluarkan uang untuk memperbaiki atau memoles rumah itu. Perbaikan apa pun yang diperlukan atau diinginkan merupakan tanggung jawab dari pembeli setelah proses jual-beli diselesaikan. Tanda “Apa Adanya” pada daftar penjualan sama artinya dengan mengatakan, “Perhatian bagi pembeli: Rumah ini mungkin membutuhkan investasi lanjutan yang cukup besar.”
Alangkah mengagumkannya ketika Yesus mati, Dia membayar harga tertinggi bagi setiap kita, tanpa memandang kondisi kita. Wahyu 5 menggambarkan sebuah adegan di surga ketika hanya “Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud” yang dapat membuka dan membaca gulungan kitab yang termeterai itu (ay.3-5). Dia muncul sebagai seekor Anak Domba dan kemudian menerima puji-pujian dalam suatu nyanyian baru, “Karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi” (ay.9-10).
Yesus Kristus dengan rela membeli kita bagi Allah dengan darah-Nya. Kita telah dibeli “apa adanya”, lengkap dengan segala cela, kekurangan, dan perbaikan yang diperlukan. Oleh iman, kita sekarang menjadi milik-Nya, dan kita sedang berada dalam proses pembentukan kembali demi kemuliaan Allah. Alangkah menakjubkannya bahwa Allah mengenal, mengasihi, dan membeli kita apa adanya. —DCM
Yesus Penebus
Umat manusia;
Noda dosa hatiku
Dihapus darah-Nya. —Hall
(Nyanyian Pujian, No. 108)
Allah mengenal kita luar-dalam. Tidak ada proyek renovasi yang terlalu berat bagi Dia.

Saturday, November 29, 2014

Akhir Yang Bahagia

Aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru. —Wahyu 21:1
Akhir Yang Bahagia
Dalam “alur ceritanya”, kisah Alkitab berakhir di tempat yang kurang lebih sama seperti permulaannya. Hubungan yang rusak antara Allah dan umat manusia akhirnya telah dipulihkan, dan kutukan yang tertulis di Kejadian 3 telah dihapuskan. Meminjam gambaran dari taman Eden, kitab Wahyu menggambarkan adanya sebuah sungai dan pohon kehidupan (Why. 22:1-2). Namun kali ini, taman itu digantikan oleh sebuah kota yang megah—kota yang dipenuhi dengan penyembah-penyembah Allah. Tidak akan ada lagi kematian atau kesedihan yang akan menodai tempat itu. Ketika kelak kita terbangun di langit yang baru dan bumi yang baru, akhirnya kita akan mengalami suatu akhir yang bahagia.
Surga bukanlah suatu rekaan atau keyakinan yang dibuat-buat. Surga adalah keadilan puncak bagi seluruh makhluk. Alkitab tidak pernah mengecilkan pahitnya tragedi dan kekecewaan yang dialami manusia—rasanya tidak ada kitab lain yang lebih jujur daripada Alkitab. Namun ada satu kata kunci yang menandainya: sementara. Apa yang kita rasakan sekarang, tidak akan kita rasakan selamanya. Masa penciptaan kembali akan tiba.
Bagi mereka yang merasa terperangkap dalam penderitaan atau dalam rumah tangga yang retak, dalam kesulitan ekonomi atau dalam kekhawatiran—bagi kita semua—surga menjanjikan suatu masa depan dengan kesehatan dan kepenuhan dan kebahagiaan dan damai untuk selama-lamanya. Alkitab dimulai dengan janji tentang seorang Penebus dalam kitab Kejadian (3:15) dan diakhiri dengan janji yang sama (Why. 21:1-7). Itulah jaminan akan kenyataan di masa mendatang. Akhir kisah itu akan menjadi suatu awal yang baru. —PDY
Setelah dukacita duniawi, terbentang sukacita surgawi;
Berkat-berkat abadi bersama Kristus Tuhanku;
Tangisan bumi berakhir, pencobaan dunia berlalu,
Berpulang kepada Yesus, anugerah yang terindah! —Gilmore
Berkat yang kelak diterima di surga lebih dari cukup untuk menggantikan segala kehilangan di dunia.

Friday, November 28, 2014

Amani

KomikStrip-WarungSateKamu-20141128-Damai-Sejahtera
Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. —2 Timotius 1:7
Amani
Amani, yang berarti “damai” dalam bahasa Swahili, merupakan nama seekor anak anjing jenis Labrador yang memiliki teman-teman istimewa. Amani hidup bersama dua ekor cheetah muda di Kebun Binatang Dallas. Para ahli ilmu hewan sengaja menempatkan binatang-binatang yang berbeda itu bersama supaya kedua cheetah itu dapat mempelajari sifat Amani yang tenang. Karena anjing pada umumnya bersikap tenang di depan umum, para ahli itu memperkirakan bahwa seiring pertumbuhan mereka bersama, Amani akan memberikan “pengaruh yang menenangkan” dalam kehidupan kedua cheetah itu.
Daud dapat membuat Raja Saul merasa tenang pada saat roh jahat mengganggunya (1Sam. 16:14). Ketika hamba-hamba Saul melihat masalah yang dialami sang raja, mereka berpikir bahwa musik mungkin dapat menenangkan kegelisahannya. Salah seorang hamba pun memanggil Daud yang merupakan seorang pemain kecapi yang pandai. Kapan saja sang raja merasa gelisah, Daud akan memainkan kecapi, maka kemudian “Saul merasa lega dan nyaman” (ay.23).
Ketika hati kita dipenuhi amarah, ketakutan atau kesedihan, kita pun merindukan penyegaran dan pemulihan kembali. Allah yang dinyatakan dalam Alkitab adalah “Allah damai sejahtera” (Ibr. 13:20-21) yang memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Ketika kita merasa gelisah dan khawatir, baiklah kita mengingat bahwa Roh Allah membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2Tim. 1:7). Pengaruh Allah dalam hidup kita dapat memberikan ketenangan yang membawa penghiburan dan kepenuhan dalam hidup. —JBS
Kami bersyukur, ya Bapa, atas damai sejahtera
yang Engkau berikan bagi hati kami. Tiada kuasa
yang dapat merenggutnya. Terima kasih karena
damai sejahtera-Mu menyertai kami senantiasa.
“Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu . . . tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” —Yesus

Thursday, November 27, 2014

Pelajaran Dalam Pujian

Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! —Mazmur 150:1
Pelajaran Dalam Pujian
Mazmur 150 tidak hanya menjadi suatu ungkapan pujian yang indah, melainkan juga merupakan pelajaran dalam memuji Tuhan. Mazmur 150 mengajarkan kepada kita tentang di mana kita patut memuji, mengapa kita memuji, bagaimana kita memuji, dan siapa yang seharusnya memberi pujian kepada Allah.
Di mana kita patut memuji? Kita memuji Allah dalam “tempat kudus-Nya” dan “cakrawala-Nya yang kuat” (ay.1). Di mana pun kita berada di dunia, kita berada di tempat yang pantas untuk menaikkan pujian kepada Allah yang telah menciptakan segala sesuatu.
Mengapa kita memuji? Pertama, karena apa yang telah dilakukan Allah. Dia melakukan “perbuatan-Nya yang perkasa” (BIS). Kedua, karena diri Allah itu sendiri. Pemazmur memuji Allah karena “kebesaran-Nya yang hebat” (ay.2). Sang Pencipta yang Mahakuasa adalah Penopang alam semesta ini.
Bagaimana kita seharusnya memuji? Dengan lantang. Dengan lembut. Dengan tenang. Dengan antusias. Dengan berirama. Dengan berani. Tanpa basa-basi. Tanpa rasa takut. Dengan kata lain, kita dapat memuji Tuhan dalam berbagai cara dan beragam kesempatan (ay.3-5).
Siapa yang seharusnya memuji? “Segala yang bernafas” (ay.6). Tua-muda. Kaya-miskin. Lemah-kuat. Semua makhluk hidup. Allah menghendaki agar setiap orang yang diberi-Nya napas kehidupan akan menggunakan napas itu untuk mengagungkan kuasa dan kebesaran-Nya.
Pujian adalah ungkapan syukur kita yang penuh semangat kepada Allah yang bertakhta dalam kemuliaan selamanya. —JAL
Makhluk semua, bangkitlah
Memuji Raja semesta!
Malaikat pun bernyanyilah
Dan bumi ikut bergema. —Watts
(Kidung Jemaat, No. 248b)
Pujian akan meluap dari sebuah hati yang bersukacita.

Wednesday, November 26, 2014

Allah Berbisik, “Ikan”

Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia. —Lukas 5:10
Allah Berbisik, “Ikan”
Beberapa tahun yang lalu, saya dan anak-anak saya menikmati kebersamaan selama beberapa hari dengan menyusuri dan memancing di sungai Madison di Montana. Kami ditemani oleh dua pemandu memancing yang juga menjadi awak dari perahu kami.
Pemandu yang saya ajak adalah seorang pria yang sepanjang hidupnya memang tinggal di kawasan sungai. Ia tahu betul lokasi tempat ikan trout besar hidup. Ia seorang pendiam yang jarang berbicara dan rasanya hanya mengeluarkan dua lusin kata di sepanjang perjalanan. Namun kata-katanya yang sedikit itu telah mencerahkan hari-hari saya.
Kami memancing dengan umpan serangga kecil pada sungai yang berombak. Penglihatan saya tidak sebaik dahulu, dan pancingan saya sering gagal. Pemandu saya yang sangat sabar itu memberikan tanda kepada saya dengan menggumamkan kata “ikan” apabila ia melihat seekor ikan trout meloncat di bawah umpan. Mengikuti isyaratnya, saya pun mengangkat ujung pancing saya dan . . . benar saja, seekor ikan trout berhasil saya pancing!
Saya sering teringat akan pemandu itu dan panggilan Yesus pada murid-murid-Nya yang adalah nelayan, “Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk. 5:10). Ada banyak peluang emas yang hadir dalam hidup kita tiap hari—orang-orang di sekitar kita yang sedang mencari pemuas dahaga jiwa mereka—kesempatan untuk menunjukkan kasih Kristus dan membagikan pengharapan yang kita miliki. Kita mungkin meluputkan peluang itu bila kita tidak waspada.
Kiranya sang Penjala Agung, yang mengenal setiap hati manusia, membisikkan kata “ikan” di telinga kita, dan kiranya kita punya telinga yang peka untuk mendengar bisikan-Nya. —DHR
Sepanjang hari ini, ya Tuhan, kiranya aku dapat menjangkau
sebanyak mungkin jiwa bagi-Mu—melalui perkataan yang
kuucapkan, doa yang kupanjatkan, surat yang kutulis,
dan hidup yang kujalani.
Ketika Roh Kudus mendorongmu, bertindaklah.

Tuesday, November 25, 2014

Mengandalkan Allah

Ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah . . . dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. —Roma 4:20-21
Mengandalkan Allah
Waktu itu adalah liburan keluarga kami yang terakhir sebelum putra sulung kami pergi untuk menempuh kuliahnya. Ketika kami duduk di barisan belakang dalam sebuah gereja kecil di tepi pantai, hati saya begitu terharu ketika saya melirik ke arah lima anak saya yang sedang duduk di dekat kami. “Tolong jaga iman mereka dan dekatkan mereka selalu kepada-Mu, ya Tuhan.” Saya berdoa dalam keheningan, sambil memikirkan beragam tekanan dan tantangan yang akan dihadapi oleh mereka masing-masing.
Refrain dari himne terakhir yang kami nyanyikan dengan penuh semangat didasarkan pada 2 Timotius 1:12, “Namun ‘ku tahu yang kupercaya dan aku yakin ‘kan kuasa-Nya, Ia menjaga yang kutaruhkan hingga hari-Nya kelak!” Pujian itu memberi saya damai sejahtera karena saya diyakinkan bahwa Allah akan selalu menjaga jiwa mereka.
Tahun demi tahun telah berlalu setelah peristiwa itu. Ada di antara anak-anak saya yang pernah menyimpang dari iman, dan ada juga yang pernah memberontak. Ada kalanya saya bertanya-tanya tentang kesetiaan Allah. Namun kemudian saya ingat pada Abraham. Abraham pernah tersandung, tetapi ia tidak pernah gagal mempercayai janji yang diterimanya (Kej. 15:5-6; Rm. 4:20-21). Sepanjang tahun-tahun penuh penantian yang diwarnai dengan usahanya yang gagal untuk memperbaiki keadaan, Abraham tetap bertahan dan memegang janji Allah sampai akhirnya Ishak lahir.
Pengalaman Abraham yang mengingatkan untuk tetap percaya itu sungguh telah menguatkan saya. Kita memberi tahu permohonan kita kepada Allah. Kita ingat bahwa Dia peduli. Kita tahu Dia sungguh berkuasa. Kita bersyukur kepada Allah atas kesetiaan-Nya. —MS
Ya Tuhan, aku sering kurang sabar dan rencanaku sering tidak sesuai
dengan kehendak-Mu. Ampunilah aku atas kebimbanganku,
dan tolonglah aku untuk lebih mempercayai-Mu.
Terima kasih atas kesetiaan-Mu.
Kesabaran adalah mata pelajaran untuk jangka panjang.

Monday, November 24, 2014

Pengharapan Dalam Penderitaan

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. —1 Petrus 1:6
Pengharapan Dalam Penderitaan
Ketika saya membuka Alkitab untuk membaca Yeremia pasal 1-4, sub judul yang diberikan untuk bagian tersebut sempat mengejutkan saya: “Pengharapan di Tengah Kedukaan”. Saya sempat menangis. Saat itu saya sedang berduka atas kepergian ibu saya, jadi pengalaman itu sangat tepat waktunya.
Saya juga merasakan hal yang sama setelah mendengarkan khotbah pendeta saya sehari sebelumnya. Judul khotbahnya adalah: “Sukacita di Tengah Penderitaan”, terambil dari 1 Petrus 1:3-9. Ia memberikan contoh dari kehidupannya sendiri lewat peringatan setahun ayahnya wafat. Khotbah itu begitu memberkati banyak orang, tetapi bagi saya, khotbah itu merupakan anugerah dari Allah. Serangkaian pengalaman bersama firman Tuhan itu memberikan peneguhan bahwa Allah tidak akan meninggalkan saya sendirian di tengah kedukaan yang saya alami.
Meskipun masa-masa dalam kedukaan itu terasa begitu berat, Allah terus mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Bagi bangsa Israel yang terusir dari Tanah Perjanjian karena ketidaktaatan mereka, Allah menyatakan kehadiran-Nya dengan cara mengutus para nabi, seperti Nabi Yeremia, untuk memberi mereka pengharapan—pengharapan akan pendamaian melalui pertobatan. Dan bagi mereka yang dipimpin-Nya melewati masa-masa penuh cobaan, Dia menyatakan kehadiran-Nya lewat sekumpulan orang percaya yang “bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati” (1Ptr. 1:22). Bukti-bukti dari kehadiran Allah selama masa pencobaan di dunia itu meneguhkan janji Allah akan suatu hidup penuh pengharapan yang menanti kita pada kebangkitan kelak. —JAL
Adakah Tuhanku mengawasi?
Berpisah atau mati;
Hatiku teriris tak yang simpati,
Adakah Tuhan mengawasi. —Graeff
(Puji-Pujian Kristen, No. 159)
Kita tidak perlu malu akan air mata kita. —Dickens

Sunday, November 23, 2014

Mengenyahkan Kepahitan

Ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. —Kolose 3:13
Mengenyahkan Kepahitan
Keluarga Corrie ten Boom memiliki usaha pembuatan jam tangan di Belanda. Selama Perang Dunia II, mereka sering memberi perlindungan kepada keluarga-keluarga keturunan Yahudi sebelum akhirnya seluruh anggota keluarga ten Boom ditawan dan dikirim ke kamp konsentrasi. Ayah Corrie meninggal 10 hari kemudian. Betsie, saudari Corrie, juga meninggal di kamp itu. Ketika Betsie dan Corrie berada di kamp tersebut, iman Betsie telah menguatkan iman Corrie.
Iman itulah yang memampukan Corrie untuk mengampuni orang-orang kejam yang pernah menjadi penjaga selama ia mendekam di kamp konsentrasi tersebut. Pada saat kebencian dan keinginan untuk membalas dendam terus merusak kehidupan banyak orang, bahkan sesudah kamp konsentrasi tersebut telah lama berlalu, Corrie menyadari kebenaran ini: Perasaan benci, walaupun kelihatannya dapat dibenarkan, sesungguhnya lebih melukai si pembenci daripada yang dibenci.
Seperti Corrie, masing-masing dari kita memiliki kesempatan untuk mengasihi musuh kita dan memilih untuk mengampuni mereka. Pengampunan tidak berarti kita membiarkan terjadinya pelanggaran, tetapi ketika mengampuni, kita sedang menyatakan sifat Kristus pada dunia. “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32).
Allah akan menolongmu untuk mengenyahkan setiap kemarahan yang menggerogoti jiwamu. Dan biarkanlah Roh Kudus berkarya untuk memberikan citra Sang Juruselamat dalam dirimu agar hidupmu dapat menjadi kesaksian bagi sesama. —RKK
Kasih Allah yang diam di dalam hati kita
Memampukan kita untuk menunjukkan
Pengampunan yang tidak layak kita terima
Agar orang lain juga akan mengalaminya. —Sper
Hidup kita paling terang memancarkan sifat serupa Yesus pada saat kita mengampuni sesama.

Saturday, November 22, 2014

Hangatnya Mentari

Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. —Mazmur 6:7
Hangatnya Mentari
Suatu hari pada bulan November 1963, Brian Wilson dan Mike Love dari grup musik The Beach Boys menulis sebuah lagu dengan nada yang jauh berbeda dari lagu-lagu riang yang menjadi ciri khas dari grup musik tersebut. Lagu tersebut adalah sebuah lagu sedih tentang cinta yang telah hilang. Di kemudian hari, Mike mengatakan, “Seberat apa pun perasaan kehilangan itu, satu hal baik yang muncul dari perasaan itu adalah pengalaman pernah jatuh cinta itu sendiri.” Mereka memberikan judul The Warmth of the Sun (Hangatnya Mentari) pada lagu tersebut.
Menulis lagu dengan didasari peristiwa yang menyedihkan bukanlah hal yang baru. Sejumlah mazmur Daud yang paling menyentuh hati ditulisnya pada saat mengalami peristiwa kehilangan yang sangat mendalam. Mazmur 6 adalah salah satunya. Walaupun tidak ada penjelasan tentang peristiwa yang mendorong penulisan tersebut, lirik mazmur itu dipenuhi kesedihan, “Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati” (ay.7-8).
Namun nyanyian tersebut tidak berakhir di situ. Daud memang merasa begitu pedih dan berduka, tetapi ia juga menyadari adanya penghiburan Allah. Dan ia pun menulis, “TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku” (ay.10).
Dalam kepedihannya, Daud bukan hanya menciptakan suatu nyanyian, tetapi ia juga meneguhkan hatinya untuk mempercayai Allah yang setia memberikan penghiburan di tengah masa-masa sulit dalam hidupnya. Lewat kehadiran Allah yang menghangatkan jiwa, kedukaan kita menyiratkan secercah harapan. —WEC
Bapa yang di surga, hidup ini dapat terasa sangat indah, tetapi juga
sangat sulit. Tolong kami untuk mencari-Mu baik di masa senang
maupun sulit. Tolong kami untuk selalu ingat, bahwa Engkaulah
harapan kami yang teguh di dunia yang kadang mengabaikan kami.
Nyanyian dukacita dapat mengarahkan hati kita kepada Allah yang menyediakan sukacita kekal bagi kita.

Friday, November 21, 2014

Mengatasi Gangguan

KomikStrip-WarungSateKamu-2014112/1-Mengatasi-Gangguan
Kekuatiran dunia ini . . . menghimpit firman itu. —Matius 13:22
Mengatasi Gangguan
Seorang pemilik restoran di desa Abu Ghosh, yang terletak di pinggir kota Yerusalem, menawarkan potongan harga sebesar 50 persen bagi para pelanggan yang bersedia mematikan telepon genggam mereka. Jawdat Ibrahim percaya bahwa penggunaan telepon pintar pada saat jamuan makan telah menggeser perhatian seseorang dari menikmati percakapan dan keakraban menjadi kegiatan menjelajah dunia maya, kirim-mengirim pesan singkat, dan menjawab telepon untuk membahas urusan bisnis. “Teknologi itu sangat baik,” kata Ibrahim. “Namun pada saat kamu sedang bersama keluarga dan teman-temanmu, seharusnya kamu bisa menahan diri selama setengah jam, lalu menikmati makanan yang terhidang serta menikmati kebersamaan dengan mereka.”
Betapa mudahnya perhatian kita teralihkan oleh banyak hal yang mengganggu, baik dalam hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan.
Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa gangguan rohani itu dimulai dari hati yang menjadi semakin bebal, telinga yang semakin enggan untuk mendengar, dan mata yang melekat tertutup (Mat. 13:15). Dengan menggunakan perumpamaan tentang seorang penabur benih, Yesus membandingkan benih yang jatuh di semak duri dengan seseorang yang mendengarkan firman Tuhan tetapi yang hatinya terpaut pada hal-hal lain. “Kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (ay.22).
Alangkah besar manfaat dari waktu yang kita habiskan hari demi hari ketika kita menghalau segala hal yang mengusik pikiran dan hati kita untuk memusatkan perhatian kita sepenuhnya pada Tuhan. —DCM
Ya Tuhan, tolong aku untuk menghalau semua gangguan
di sekitarku dan hanya berfokus kepada-Mu.
Kiranya hatiku menjadi tanah yang subur
untuk menerima taburan benih firman-Mu hari ini.
Memusatkan perhatian pada Kristus akan menempatkan segala sesuatu pada perspektif yang seharusnya.

Thursday, November 20, 2014

Bisakah Kamu Membantu?

Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. — Yakobus 2:17
Bisakah Kamu Membantu?
Pengurus suatu Sekolah Menengah Atas di Barrow, Alaska, telah jenuh melihat 50 persen dari murid mereka terjerumus masalah hingga harus berhenti sekolah. Untuk membuat para siswa tetap tertarik bersekolah, mereka membentuk sebuah tim sepakbola. Tim itu akan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan keterampilan diri, kerja sama tim, dan berbagai pelajaran-pelajaran tentang hidup. Akan tetapi, kegiatan sepakbola di Barrow menemui hambatan karena sulitnya membuat lapangan dari rumput di tengah iklim dingin yang mereka alami sepanjang tahun. Akibatnya, para siswa harus bertanding di atas lapangan yang dipenuhi dengan kerikil dan debu tanah.
Di Florida, sekitar 6.500 km dari Barrow, Cathy Parker mendengar tentang keadaan tim sepakbola itu dan lapangan mereka yang berbahaya. Karena merasa bahwa Allah menggerakkan dirinya untuk menolong, serta terkesan oleh perubahan positif yang dialami para siswa di sana, ia mulai mencari jalan. Kurang lebih setahun kemudian, sekolah itu telah mempunyai sebidang lapangan baru dengan permukaan rumput buatan yang cantik. Cathy berhasil mengumpulkan ribuan dolar untuk membantu anak-anak yang sama sekali tidak dikenalnya.
Yang penting di sini bukanlah soal sepakbola—atau uang. Ini soal mengingat untuk “berbuat baik dan memberi bantuan” (Ibr. 13:16). Yakobus mengingatkan bahwa iman kita terlihat nyata melalui perbuatan kita (2:18). Kebutuhan di dunia kita ini begitu beragam dan banyak, tetapi ketika kita mengasihi sesama kita seperti diri sendiri, seperti yang dikatakan Yesus (Mrk. 12:31), kita akan dapat menjangkau dengan kasih Allah. —JDB
Bukalah mata kami, ya Bapa, bagi mereka yang membutuhkan.
Biarlah kami menemukan cara untuk membantu mereka, baik berupa
uang atau hal lainnya. Tolong kami untuk tidak menaruh perhatian
pada diri sendiri, tetapi pada mereka yang perlu bantuan kami.
Buka hatimu kepada Allah untuk belajar berbelas kasih dan buka tanganmu untuk memberi pertolongan.

Wednesday, November 19, 2014

Selamat Tinggal

Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya. —Bilangan 11:1
Selamat Tinggal
Ketika Max Lucado berpartisipasi dalam suatu perlombaan separuh triatlon, ia mengalami pengaruh negatif dari keluh-kesah. Ia berkisah, “Setelah berenang sekitar 2 KM dan bersepeda sejauh 90 km, aku tak punya banyak tenaga lagi untuk berlari sejauh 21 km. Demikian juga halnya dengan orang yang berlari di sampingku. Orang itu berkata, ‘Ini sangat memuakkan. Mengikuti lomba ini adalah keputusan terbodoh yang pernah kulakukan.’ Aku berkata kepadanya, ‘Selamat tinggal.’” Max tahu, jika ia terlalu lama mendengarkan keluh-kesah itu, tidak lama kemudian ia akan menyetujui orang tersebut.
Oleh karena itu, ia mengucapkan selamat tinggal dan terus berlari.
Di antara umat Israel, terlalu banyak orang yang sudah terlalu lama mendengarkan keluh-kesah yang beredar dan mulai menyetujui orang-orang yang mengeluh tersebut. Sikap itu tidak berkenan kepada Allah, dan pantaslah Allah marah. Allah telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, dan berkenan untuk tinggal di tengah-tengah mereka, tetapi mereka tetap saja mengeluh. Selain kehidupan yang berat di tengah padang gurun, mereka juga tidak puas dengan manna yang disediakan Allah. Dengan berkeluh-kesah, orang Israel lupa bahwa manna itu adalah pemberian untuk mereka dari tangan Allah yang penuh kasih (Bil. 11:6). Karena berkeluh-kesah itu akan meracuni hati dengan sikap tidak tahu berterima kasih dan dapat menular, Allah harus menghakiminya.
Inilah cara yang pasti untuk mengucapkan “selamat tinggal” pada sikap keluh-kesah dan tidak tahu berterima kasih: Setiap hari, marilah mengingat kembali kesetiaan dan kebaikan Allah bagi diri kita. —MLW
Ya Tuhan, Engkau telah memberi kami begitu banyak. Ampunilah
lemahnya ingatan kami dan buruknya perilaku kami. Tolong kami
untuk mengingat dan bersyukur atas semua yang Engkau berikan.
Tolong kami menceritakan kebaikan-Mu bagi kami kepada sesama.
Menyuarakan kesetiaan Allah akan membungkam ketidakpuasan.

Tuesday, November 18, 2014

Kasih Yang Berakar

Janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan. —Ibrani 13:16
Kasih Yang Berakar
Ketika memikirkan tentang seluruh keajaiban dari karya ciptaan Allah yang luar biasa, secara khusus saya terkagum dengan pohon sequoia berukuran raksasa. Raksasa hutan yang mengagumkan itu dapat tumbuh mencapai ketinggian sekitar 90 meter dengan diameter lebih dari 6 meter. Pohon sequoia bisa hidup hingga lebih dari 3.000 tahun dan tahan terhadap api. Bahkan kebakaran hutan dapat membuat buah-buah sequoia pecah dan menyebarkan benih-benihnya di atas daratan hutan yang telah terpupuk oleh abu. Mungkin fakta yang paling mengagumkan dari sequoia adalah bahwa pepohonan tersebut dapat tumbuh di atas tanah sedalam 1 meter saja dan batangnya yang tinggi dapat bertahan terhadap tiupan angin kencang. Kekuatan pepohonan itu terletak pada kenyataan bahwa akar-akar dari setiap pohon sequoia terjalin satu sama lain, dan jalinan itu memberikan kekuatan dan sumber daya yang dinikmati bersama oleh setiap batang pohon.
Rencana Allah bagi kita adalah sama seperti itu. Kemampuan kita untuk tetap teguh berdiri, di tengah segala terpaan angin kehidupan, berhubungan langsung dengan kasih dan dukungan yang kita dapatkan dari Allah dan sesama. Dan kemudian, seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Ibrani, kita harus “berbuat baik dan memberi bantuan” (13:16). Bayangkan beratnya derita yang kita hadapi apabila tidak ada seorang pun yang membagikan akar kekuatannya dengan kita.
Alangkah besarnya kekuatan yang terjalin dalam untaian kata-kata yang memberikan dorongan, doa-doa syafaat, berbagi kesedihan, saling memperhatikan, dan juga kehadiran kita untuk mau mendampingi seseorang yang kita kasihi. —JMS
Ya Tuhan, terima kasih atas jalinan kekuatan-Mu dalam hidupku.
Arahkanlah aku hari ini kepada seseorang
yang membutuhkan kasih berupa kekuatan dari segala
sumber daya yang telah Engkau berikan kepadaku.
Kiranya akar dari kasih Allah dalam hidupmu terjalin dengan mereka yang membutuhkan dukunganmu.

Monday, November 17, 2014

Lawan Yang Telah Takluk

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. —1 Petrus 5:8
Lawan Yang Telah Takluk
Singa yang mengaum-aum adalah “sang raja hutan” yang legendaris. Namun singa-singa yang pernah dilihat oleh sebagian besar dari kita hanyalah berupa kucing besar yang lesu dan tinggal di kebun-kebun binatang. Hari-hari mereka dipenuhi dengan waktu istirahat yang sangat banyak, dan mereka menikmati makan malam yang diberikan kepada mereka tanpa perlu menggunakan cakarnya sedikitpun.
Namun di habitat asli mereka, para singa tidak selalu menjalani hidup yang santai. Rasa lapar mendorong mereka untuk pergi berburu, dan dalam perburuan itu mereka mencari mangsa yang muda, lemah, sakit, atau terluka. Sembari meringkuk di balik rerumputan yang tinggi, mereka merangkak maju dengan perlahan. Kemudian, dengan mendadak, singa itu menerkam dan mencengkeramkan cakar-cakarnya ke tubuh si mangsa.
Petrus menggunakan seekor “singa yang mengaum-aum” sebagai suatu metafora untuk Iblis. Iblis adalah pemangsa yang penuh keyakinan diri dan terus mencari mangsa-mangsa yang mudah dilahapnya (1Ptr. 5:8). Dalam menghadapi lawan itu, anak-anak Allah harus senantiasa waspada dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” sehingga mereka dapat menjadi “kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Ef. 6:10-11).
Kabar baiknya, Iblis adalah lawan yang telah ditaklukkan. Walaupun Iblis adalah musuh yang hebat, tetapi orang-orang yang dilindungi oleh keselamatan, doa, dan firman Allah tidak perlu dilumpuhkan oleh rasa takut terhadap singa yang mengaum-aum itu. Kita “dipelihara dalam kekuatan Allah” (1Ptr. 1:5). Yakobus 4:7 menyakinkan kita: “Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” —CHK
Ya Tuhan, kami tahu si musuh berusaha melahap kami.
Tolong lindungi kami darinya. Kami mempercayai firman-Mu
yang menyatakan bahwa Roh yang ada dalam diri kami jauh
lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.
Tidak ada panah Iblis yang dapat menembus perisai Allah.

Sunday, November 16, 2014

Pemandu Yang Hebat

Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi. —Yosua 21:45
Pemandu Yang Hebat
Saat para aktor dan aktris bermain film, sang sutradaralah yang melihat “gambar besarnya” dan memahami seluruh pengarahan yang dibutuhkan. Aktris Marion Cotillard mengakui bahwa ia tidak memahami setiap hal yang dilakukan oleh seorang sutradara pada salah satu film terbarunya. Ia berkata, “Menurutku sangat menarik untuk membiarkan diriku terhanyut, karena aku tahu aku punya seorang pemandu yang hebat . . . . Aku cukup menyerahkan diri sepenuhnya pada suatu cerita dan pada seorang sutradara yang akan membuat semuanya berjalan lancar.”
Menurut saya, Yosua dapat mengatakan hal yang serupa tentang Sutradara hidupnya. Dalam bacaan Alkitab hari ini, pemimpin Israel yang baru ditunjuk tersebut berdiri di ambang Tanah Perjanjian. Lebih dari 2 juta orang Israel kini mengharapkannya untuk memimpin mereka. Bagaimana ia akan melakukannya? Allah tidak memberi Yosua naskah yang terperinci, tetapi Dia memberinya jaminan bahwa Dia akan menyertainya.
Allah berkata, “Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau” (Yos. 1:5). Dia memerintahkan Yosua untuk mempelajari dan melakukan seluruhnya yang tertulis dalam firman- Nya (ay.7-8). Dia juga berjanji menyertai Yosua ke mana pun ia pergi. Yosua merespons dengan ketaatan dan penyerahan total kepada Pemandunya yang hebat, dan “dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN . . ., tidak ada yang tidak dipenuhi” (21:45).
Kita juga dapat menyerahkan diri kita untuk diarahkan sepenuhnya oleh Sutradara kita dan mempercayai kesetiaan-Nya. —PFC
Tenanglah kini hatiku:
Tuhan memimpin langkahku.
Di tiap saat dan kerja,
Tetap kurasa tangan-Nya. —Gilmore
(Kidung Jemaat, No. 410)
Iman tak pernah tahu ke mana ia dibawa; ia tahu dan mengasihi Dia yang memimpin. —Oswald Chambers

Saturday, November 15, 2014

Rejeki Nomplok

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. —Matius 6:11
Rejeki Nomplok
Pada tahun 2002, setelah memenangi lotere sebesar 314 juta dolar, seorang pengusaha yang bergembira itu mengungkapkan keinginan hatinya yang mulia. Ia menyatakan niatnya untuk mendirikan sebuah yayasan amal, mempekerjakan orang-orang yang telah kehilangan pekerjaan, dan berbuat hal-hal yang indah bagi keluarganya. Karena memang sudah kaya-raya, ia mengatakan kepada wartawan bahwa kemenangan besar tersebut tidak akan mengubah dirinya.
Beberapa tahun kemudian, sebuah artikel yang mengikuti jejak si pengusaha menyingkapkan suatu perkembangan yang berbeda. Sejak memenangi lotere besar-besaran itu, ia justru terjerumus ke dalam masalah-masalah hukum, nama baiknya rusak, dan ia kehabisan seluruh uangnya karena perjudian.
Seorang lelaki dengan pengamatan tajam bernama Agur menuliskan kata-kata yang mengantisipasi kehancuran hati seperti yang dialami pria di atas. Setelah menyadari keadaan dirinya yang tidak berarti (Ams. 30:2-3), Agur melihat bahaya dari hidup yang memiliki harta terlalu banyak atau justru terlalu sedikit. Jadi, ia berdoa, “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku” (ay.8-9).
Agur melihat tantangan yang didatangkan oleh kekayaan maupun kemiskinan, serta oleh kecenderungan hati kita. Setiap hal tersebut mendorong kita untuk berhati-hati. Seluruh tantangan itu menunjukkan kebutuhan kita akan Pribadi yang mengajar kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” —MRD II
Ya Tuhan, saat kami meminta kepada-Mu atas apa yang kami perlu,
tolong kami mengingat bahwa Engkau bijaksana dalam memberi
ataupun tidak memberi yang kami minta. Kami bersyukur Engkau
telah sering melepaskan kami dari niat kami yang berdosa.
Ketidakpuasan membuat orang kaya menjadi miskin, kepuasan membuat orang miskin menjadi kaya.

Friday, November 14, 2014

Hati Yang Hancur Dan Harapan

KomikStrip-WarungSateKamu-20141114-Hati-yang-hancur-dan-harapan
TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. —Ratapan 3:25
Hati Yang Hancur Dan Harapan
Ketika George Jones, penyanyi country asal Amerika Serikat, meninggal dunia pada usia 81 tahun, para penggemarnya mengenang suaranya yang luar biasa, perjuangan hidupnya yang keras serta pergumulan-pergumulan pribadinya. Banyak lagunya yang mencerminkan persis penderitaan serta kerinduan yang dialaminya. Namun yang sangat menyentuh banyak orang adalah cara Jones menyanyikan lagu-lagu tersebut. Greg Kot, seorang kritikus musik dari harian Chicago Tribune, berkata, “Suara Jones diciptakan untuk menyuarakan hati yang hancur.”
Kitab Ratapan mencatat tentang penderitaan mendalam yang dirasakan Nabi Yeremia atas kebebalan bangsa Yehuda yang menolak untuk menaati Allah. Yeremia, yang sering disebut sebagai “nabi peratap”, telah menyaksikan kehancuran Yerusalem dan melihat orang-orang sebangsanya itu dibawa ke pembuangan. Ia berkelana di tengah jalan-jalan kota, dengan perasaan yang diliputi oleh kedukaan (Rat. 1:1-5).
Namun demikian, di saat-saat tergelap yang dialaminya, Yeremia berkata, “Hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (3:21-23).
Entah kita menderita sebagai akibat dari pilihan-pilihan kita sendiri atau oleh karena perlakuan orang lain, rasa putus asa mungkin mengancam untuk menguasai kita. Pada saat semuanya terasa musnah, kita dapat berpegang pada kesetiaan Tuhan. “‘TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (ay.24). —DCM
Aku bersyukur atas kesetiaan-Mu, Bapa, bahkan di masa-masa
ketika aku tidak setia. Tolong aku untuk selalu mengingat,
sama seperti Yeremia, bahwa pengharapanku berasal dari-Mu,
dan bukan dari keadaan-keadaan di sekitarku.
Kesetiaan Allah bagaikan jangkar yang tertanam kokoh di tengah terjangan badai hidup yang terdahsyat.

Thursday, November 13, 2014

Natal Yang Menyusup?

Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! —2 Korintus 9:15
Natal Yang Menyusup?
Saya menyukai Natal. Perayaan hari kelahiran Kristus dan suasananya yang indah dan mengagumkan membuat Natal menjadi “saat terindah di sepanjang tahun” bagi saya. Namun belakangan ini, suasana indah itu disertai dengan rasa jengkel yang makin menjadi-jadi. Setiap tahun “pernak-pernik Natal” muncul semakin awal—perlahan-lahan menyusup dari awal musim gugur.
Masa Natal biasanya hanya dirasakan pada bulan Desember, tetapi kini kita mendengar lagu Natal diputar stasiun-stasiun radio sejak awal November. Toko-toko mulai mengiklankan promosi spesial Natal di bulan Oktober, dan permen Natal dijual sejak akhir September. Jika kita tidak berhati-hati, semua kehebohan yang datang bertubi-tubi itu dapat membuat kita mati rasa—bahkan hati kita dapat dipenuhi rasa jengkel di tengah suasana yang seharusnya membangkitkan ucapan syukur dan kekaguman kita.
Ketika rasa jengkel tersebut mulai menguasai jiwa saya, saya berusaha melakukan satu hal: Mengingat. Saya mengingatkan diri saya akan makna Natal yang sejati, siapa diri Yesus, dan mengapa Dia lahir. Saya mengingat kasih dan anugerah Allah yang Maha Pengampun yang telah mengirimkan pertolongan bagi kita dalam diri Anak-Nya. Saya mengingat bahwa, pada akhirnya, hanya satu pemberian yang benar-benar berarti—“karunia [Allah] yang tak terkatakan itu!” (2Kor. 9:15). Saya mengingat bahwa keselamatan yang diberikan melalui kedatangan Kristus merupakan pemberian yang tidak dapat dipisahkan dari Allah yang memberikan keselamatan itu.
Yesus adalah hidup kita untuk sepanjang tahun, dan Dialah keajaiban yang terbesar. “Datang dan sembah Dia!” —WEC
Ya Allah yang hidup, aku bersyukur kepada-Mu atas Putra-Mu
sebagai karunia yang tak terkatakan. Dekatkan hatiku kepada
hati-Mu, sehingga ibadahku dan ucapan syukurku atas Putra-Mu
takkan pernah pudar oleh tawaran-tawaran dunia di sekelilingku.
Yesus adalah hidup kita untuk sepanjang tahun.

Wednesday, November 12, 2014

Gambaran Besarnya

Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu. —Yesaya 40:26
Gambaran Besarnya
Yang semula hanyalah sebuah tanah kosong seluas 4,5 hektar di kawasan Belfast, Irlandia Utara, akhirnya berubah menjadi lukisan tanah terbesar di Kepulauan Inggris. Lukisan bertajuk Wish, karya seniman Jorge Rodriguez-Gerada, dibuat dari 30.000 pasak kayu, 2.000 ton tanah, 2.000 ton pasir, dan beragam bahan seperti rumput, bebatuan, dan tali-temali.
Awalnya hanya sang seniman yang mengetahui hasil akhir dari karya seni tersebut nantinya. Ia lalu menyewa tenaga para pekerja dan merekrut para sukarelawan untuk mengangkat bahan-bahan tersebut dan menempatkannya pada posisinya masing-masing. Pada saat bekerja, mereka mungkin tidak menyangka bahwa sesuatu yang luar biasa akan muncul dari pekerjaan mereka. Namun akhirnya itulah yang terjadi. Dari atas tanah, karya itu tidak terlalu terlihat. Namun ketika dilihat dari atas, orang dapat melihat sebuah potret yang sangat besar—gambar wajah seorang gadis cilik yang sedang tersenyum.
Allah sedang mengerjakan sesuatu yang luar biasa agung di dunia ini. Dialah Sang Seniman yang telah melihat hasil akhirnya. Kita adalah “kawan sekerja Allah” (1Kor. 3:9) yang sedang menolong Dia mewujudkannya. Melalui Nabi Yesaya, Allah mengingatkan umat-Nya bahwa Dialah “yang bertakhta di atas bulatan bumi” dan “membentangkan langit seperti kain” (Yes. 40:22). Kita tidak dapat melihat gambaran akhirnya, tetapi kita terus melangkah dalam iman, dengan menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu karya seni yang mengagumkan—karya yang sedang diciptakan di atas bumi tetapi yang kelak akan terlihat paling indah dari surga. —JAL
Saat terkadang aku berpikir bisa melihat seluruh maksud-Mu,
Tuhan, hatiku tahu aku hanya bisa melihat secuil saja.
Aku bersyukur karena Engkau sedang menggenapi kehendak-Mu
yang indah di dunia ini, dan aku bisa mempercayai-Mu.
Allah sedang memakai kita untuk menolong-Nya menciptakan suatu mahakarya.

Tuesday, November 11, 2014

The Drinking Gourd

Sehingga kamu bercahaya . . . seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan. —Filipi 2:15-16
The Drinking Gourd
Sebelum meletusnya Perang Saudara Amerika Serikat (1861-1865), para budak pelarian dapat menemukan kebebasan mereka dengan cara menelusuri “jalur kereta bawah tanah”, suatu istilah yang digunakan untuk menyebut rute-rute rahasia yang terbentang dari wilayah Selatan ke Utara serta kaum penentang perbudakan yang menolong mereka di sepanjang perjalanan. Para budak itu biasanya bepergian pada malam hari hingga berkilo-kilometer, dan mereka bertahan pada jalur tersebut dengan mengikuti cahaya yang terpancar dari “The Drinking Gourd”. Itulah nama sandi untuk suatu rasi bintang yang dikenal sebagai The Big Dipper, yang dapat menuntun kita kepada Bintang Utara. Sejumlah kalangan percaya bahwa para pelarian itu juga menggunakan petunjuk yang telah disandikan dalam lirik lagu Follow the Drinking Gourd (Ikuti The Drinking Gourd) supaya mereka tidak tersesat dalam perjalanan.
Para penentang perbudakan dan rasi bintang “The Drinking Gourd” sama-sama berfungsi sebagai titik terang yang membawa para budak tersebut menuju kebebasan. Rasul Paulus berkata bahwa orang percaya hendaknya bercahaya “seperti bintang-bintang di dunia” guna menunjukkan jalan bagi mereka yang sedang mencari kebenaran, penebusan, dan kebebasan rohani dari Allah (Flp. 2:15).
Kita tinggal di tengah kegelapan dunia yang sangat butuh untuk melihat terang Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk memancarkan cahaya kebenaran Allah agar orang lain dapat diarahkan kepada satu Pribadi yang menebus manusia dan menjadi jalan menuju kebebasan dan kehidupan sejati. Kita menuntun mereka kepada Yesus yang merupakan jalan, kebenaran, dan hidup (Yoh. 14:6). —HDF
Ya Tuhanku, terima kasih Engkau telah menebusku dan memberikan
hidup baru bagiku. Beriku belas kasihan bagi mereka yang jiwanya
masih terhilang dalam kegelapan. Pakailah aku untuk menjadi terang
yang mengarahkan orang lain kepada-Mu, Sang Terang Dunia.
Terangi duniamu dengan memancarkan terang Yesus.

Monday, November 10, 2014

Kehormatan Untuk Mengikuti

Yesus berkata kepada mereka: ”Mari, ikutlah Aku.” —Matius 4:19
Kehormatan Untuk Mengikuti
Dalam kunjungannya ke Yerusalem, seorang teman melihat seorang rabi yang telah lanjut usia sedang berjalan melewati Tembok Ratapan. Yang menarik dari sang rabi tua tersebut adalah adanya lima pemuda yang ikut berjalan di belakangnya. Mereka juga berjalan dengan membungkuk dan terseok-seok, sama seperti yang dilakukan oleh rabi mereka. Seorang penganut agama Yahudi Ortodoks yang memperhatikan mereka pasti segera tahu persis mengapa mereka meniru gerak-gerik guru mereka. Mereka adalah “para pengikut”.
Sepanjang sejarah agama Yahudi, salah satu kedudukan yang paling dijunjung oleh seorang pria Yahudi adalah hak istimewa untuk menjadi “pengikut” dari seorang rabi di daerahnya. Para pengikut biasanya duduk di kaki sang rabi saat ia mengajar. Mereka akan mempelajari kata-katanya dan memperhatikan bagaimana ia bertindak dan menanggapi hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Seorang pengikut melihat dirinya mendapat kehormatan besar apabila ia dapat melayani rabinya, sekalipun yang dilakukannya adalah sesuatu yang sepele. Karena kekaguman mereka, mereka pun bertekad untuk menjadi sama seperti sang rabi.
Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk mengikut Dia (Mat. 4:19), itulah undangan agar hidup mereka diubahkan oleh-Nya, menjadi sama seperti Dia, dan menghayati kerinduan-Nya untuk menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan Juruselamat. Kehormatan besar untuk menjadi pengikut-Nya haruslah juga terlihat nyata dalam hidup kita. Kita pun telah dipanggil untuk menarik perhatian dunia melalui ucapan, pikiran, dan tindakan kita yang meneladan Yesus—Sang Rabi dan Guru bagi jiwa kita. —JMS
Terima kasih, Tuhan, atas kehormatan besar mendapat
panggilan untuk mengikut-Mu. Kiranya hidupku dapat
meneladan-Mu sehingga orang lain akan tahu bahwa
Engkaulah tujuan hidupku dan guru bagi jiwaku.
Ikutilah Yesus dan biarlah dunia tahu bahwa Dialah gurumu.

Sunday, November 9, 2014

Merobohkan Tembok Info

Ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. —Kejadian 50:21
Merobohkan Tembok
Masa-masa setelah berakhirnya Perang Dunia II disebut sebagai masa Perang Dingin, dimana negara-negara saling melontarkan ancaman dan berebut kekuasaan. Tembok Berlin, yang dibangun pada bulan Agustus 1961, pernah berdiri selama hampir 3 dekade sebagai salah satu simbol yang paling kuat dari permusuhan yang membara. Kemudian, pada 9 November 1989, tersebar pengumuman bahwa warga Berlin Timur dapat menyeberang dengan bebas ke Berlin Barat. Seluruh tembok itu akhirnya dirobohkan pada tahun berikutnya.
Kisah Yusuf yang terkenal dalam Perjanjian Lama mengisahkan tentang seorang anak kesayangan yang dibenci oleh saudara-saudaranya (Kej. 37-50). Meski demikian, Yusuf menolak untuk mendirikan tembok kebencian yang memisahkan dirinya dengan saudara-saudaranya yang telah menjualnya sebagai budak. Ketika bertahun-tahun kemudian bencana kelaparan mempertemukan mereka, Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya dengan kebaikan hati, dan mengatakan, “Kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, . . . Ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya” (50:20-21), dan sikapnya itu menolong memulihkan hubungan kedua belah pihak.
Hari ini, dua puluh lima tahun yang lalu, sebuah tembok penindas buatan manusia telah dirobohkan, sehingga kemerdekaan bisa dirasakan dan para anggota keluarga serta sahabat dapat bersatu kembali.
Jika kita telah mendirikan tembok kemarahan yang memisahkan kita dari sesama, Tuhan bersedia dan sanggup menolong kita untuk mulai merobohkannya hari ini. —DCM
Bapa Surgawi, selidikilah hatiku; nyatakan padaku di mana saja
aku telah mendirikan tembok dalam semua relasiku dengan sesama.
Tunjukkanlah kepadaku cara untuk mulai merobohkannya
agar terjalin kembali perdamaian dengan mereka.
Amarah akan mendirikan tembok; tetapi kasih akan merobohkannya.

Saturday, November 8, 2014

Jeruk Atau Susu?

Makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. —Ibrani 5:14
Jeruk Atau Susu?
Saat saya memberi tahu putri saya yang masih kecil bahwa seorang bayi laki-laki berusia 3 bulan akan datang berkunjung ke rumah kami, ia merasa sangat gembira. Dalam kepolosannya, putri saya menyarankan agar kami menyajikan makanan yang kami punya untuk bayi tersebut; dan ia mengira si bayi akan menyukai jus jeruk dari mangkuk yang ada di atas meja dapur kami. Saya menjelaskan kepadanya bahwa untuk saat ini bayi itu hanya dapat minum susu, tetapi mungkin ia akan menyukai jus jeruk ketika sudah lebih besar nanti.
Alkitab menggunakan konsep yang serupa untuk menjelaskan tentang kebutuhan orang percaya akan makanan rohani. Kebenaran-kebenaran dasar dari Kitab Suci adalah seperti susu—berguna untuk menolong orang-orang yang baru percaya supaya bertumbuh dan berkembang (1Ptr. 2:2-3). Sebaliknya, “Makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa” (Ibr. 5:14). Orang percaya yang sudah memiliki waktu untuk mencerna dan memahami kebenaran-kebenaran dasar dapat beranjak untuk mencermati konsep-konsep alkitabiah lainnya dan mulai mengajarkan kebenaran itu kepada orang lain. Buah dari kedewasaan rohani adalah kebijaksanaan untuk membedakan yang baik dan yang jahat (ay.14), hikmat ilahi (1Kor. 2:6), dan kemampuan untuk menyampaikan kebenaran Allah kepada sesama (Ibr. 5:12).
Seperti orangtua yang penuh kasih, Allah ingin supaya iman kita bertumbuh. Dia tahu bahwa menikmati susu rohani saja tidak akan membawa kebaikan untuk kita. Allah menghendaki kita untuk terus melangkah maju agar kita dapat menikmati santapan rohani yang lebih keras. —JBS
Ya Tuhanku, tolong aku untuk memperdalam pemahamanku
akan firman-Mu. Biarlah Roh Kudus menuntunku
dan menerangi hatiku pada saat aku mencari kebenaran-Mu
sehingga aku dapat hidup menurut kehendak-Mu.
Pertumbuhan rohani terjadi ketika iman dipupuk.

Friday, November 7, 2014

Gandakan

Maka tidak akan ada lagi laknat. —Wahyu 22:3
Gandakan
Amy telah berjuang melawan kanker selama 5 tahun. Suatu hari dokter memberitahunya bahwa pengobatan yang dijalaninya tidak berhasil dan ia pun hanya mempunyai sisa waktu beberapa minggu untuk hidup. Karena rindu untuk mengerti beberapa hal dan mendapatkan jaminan mengenai kehidupan kekal, Amy bertanya kepada pendetanya, “Akan seperti apakah surga itu?”
Sang pendeta bertanya kepada Amy tentang hal-hal yang paling ia sukai dalam hidupnya di dunia ini. Amy menyebutkan bahwa ia suka berjalan-jalan, pelangi, teman-teman yang penuh perhatian serta suara tawa anak-anak. “Jadi, apakah maksud Bapak aku akan mendapatkan semua itu di surga nanti?” tanya Amy dengan penasaran.
Sang pendeta mennjawab, “Aku percaya hidupmu di surga akan jauh lebih indah dan menakjubkan daripada semua hal yang pernah kau cintai dan alami di dunia ini. Pikirkan tentang apa yang terbaik bagimu di sini, lalu gandakan itu berulang-ulang. Menurutku, seperti itulah surga.”
Alkitab tidak menjabarkan secara detail tentang bagaimana kehidupan kekal itu kelak, tetapi di dalamnya disebutkan bahwa hidup bersama Kristus di surga akan “jauh lebih baik” daripada keadaan kita saat ini (Flp. 1:23). “Maka tidak ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya.”
Yang terbaik dari semua itu adalah kita akan bertatap muka langsung dengan Tuhan Yesus. Segala kerinduan kita yang terdalam akan sepenuhnya terpuaskan di dalam Dia. —AMC
Ya Tuhan, kami bersyukur atas kehadiran-Mu saat ini dalam
hidup kami. Walau demikian, alangkah menakjubkannya ketika
kelak kami bertemu langsung dengan-Mu! Hidup bersama-Mu
di surga akan menjadi pengalaman yang jauh lebih indah.
Hidup bersama Yesus selamanya adalah puncak dari segala kebahagiaan.

Thursday, November 6, 2014

Tenaga Kuda

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib. —Mazmur 139:14
Tenaga Kuda
Bayangkanlah sejenak tentang kekuatan, keindahan, dan keanggunan dari seekor kuda yang sedang berderap. Bayangkanlah kepala sang kuda yang terangkat tinggi, surai pada tengkuknya yang melambai tertiup angin, dan kaki-kaki yang bergerak serentak untuk memberikan kecepatan, tenaga, dan kebebasan.
Kuda merupakan contoh yang menakjubkan dari makhluk ciptaan Allah yang luar biasa! Allah menciptakan kuda bukan hanya untuk kita kagumi dan nikmati, tetapi juga untuk menjadi pelengkap hidup umat manusia (Ayb. 39). Kuda yang terlatih dengan sangat baik tidak akan mengenal rasa takut, sehingga sangat berguna pada saat kita membutuhkan pendamping yang berani. Kuda digunakan sebagai sarana yang handal untuk membawa seorang prajurit maju ke medan perang dengan semangat menyala-nyala (ay.27) dan penuh kesigapan (ay.28).
Walaupun Allah menggunakan makhluk ciptaan-Nya untuk mengajar Ayub mengenai kedaulatan-Nya, melalui bagian Alkitab tersebut kita juga diingatkan tentang nilai diri kita sebagai manusia di dalam dunia milik Allah ini. Kita diciptakan tidak hanya sebagai makhluk indah yang menyandang mandat ilahi, namun juga sebagai makhluk yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Tenaga seekor kuda memang menakjubkan, tetapi nilai diri setiap manusia melampaui segala makhluk ciptaan Allah lainnya.
Allah menciptakan kita secara unik untuk menjalin hubungan dengan-Nya dan untuk tinggal bersama Dia selamanya. Ketika kita memuji Allah atas keindahan segala makhluk ciptaan-Nya, kita juga dibuat terkagum karena “kejadian [kita] dahsyat dan ajaib”. —JDB
Ya Allah dan Bapa kami yang Mahabesar, terima kasih atas karya
ciptaan-Mu. Engkau telah menyediakan begitu banyak makhluk luar
biasa untuk kami nikmati, tetapi tolonglah kami untuk menyadari
keunikan kami di antara semua ciptaan dengan ucapan syukur.
Dari segala makhluk ciptaan Allah, hanya manusia yang dapat mengalami kelahiran baru.

Wednesday, November 5, 2014

Tidak Layak

Sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini. —Kejadian 32:10
Tidak Layak
Tidak seperti orang-orang yang meninggikan diri mereka, Yakub sadar bahwa hidupnya telah dirusak oleh dosa (Kej. 32:10). Ia memandang dirinya tidak layak untuk menerima kasih karunia Allah. Ia telah menipu kakaknya Esau untuk mendapatkan hak kesulungan (psl.27), dan sang kakak pun membencinya karena hal itu. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, Yakub harus kembali berhadapan dengan Esau.
Yakub berdoa, “Sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan . . . . Lepaskanlah kiranya aku” (Kej. 32:10-11).
Alangkah janggal melihat kedua frasa ini saling berdampingan: Aku tidak layak untuk menerima segala kasih-Mu . . . . Lepaskanlah aku! Namun Yakub dapat berdoa memohon belas kasihan Allah karena pengharapannya tidak digantungkan pada keadaan dirinya, tetapi pada janji Allah. Allah berjanji bahwa Dia berkenan kepada siapa saja yang merendahkan diri di hadapan- Nya. Kerendahan hati dan penyesalan merupakan kunci yang membuka pintu hati Allah. Seseorang berkata bahwa sikap hati yang terbaik untuk berdoa dimiliki ketika kita telah kehilangan segalanya. Pada saat itu, doa menjadi seruan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam. Doa itu berasal dari jiwa yang menyadari kebobrokan dirinya.
Doa-doa seperti itu dipanjatkan oleh orang-orang yang sadar sepenuhnya akan dosa dan aib mereka, tetapi, pada saat yang sama, mereka juga diyakinkan akan anugerah Allah yang tercurah kepada manusia berdosa yang tidak layak menerimanya. Allah menyimak seruan mereka yang berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk. 18:13) —DHR
Ya Tuhan, aku ini seperti Yakub, yang membutuhkan belas kasih-Mu.
Aku telah berdosa kepada-Mu, dan kini kubersujud di kaki-Mu.
Terima kasih, Engkaulah Allah yang penuh belas kasih, yang selalu
siap dan sanggup untuk mengampuni dan memulihkanku.
Layaklah Allah yang agung mengampuni para pendosa besar.

Tuesday, November 4, 2014

Persepsi Atau Realitas?

KomikStrip-WarungSateKamu-20141104-Allah-Peduli
Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa? —Markus 4:38
Persepsi Atau Realitas?
Kita sering mendengar pemeo, “Persepsi adalah realitas.” Bagi warga Amerika Serikat, pendapat itu mungkin terbukti pada 26 September 1960. Pada tanggal itu, berlangsung debat calon presiden yang untuk pertama kalinya ditayangkan di televisi. Di depan kamera, John Kennedy tampil dengan meyakinkan; sementara Richard Nixon terlihat gugup. Persepsi yang ditangkap pemirsa adalah bahwa John Kennedy akan menjadi pemimpin yang lebih tangguh. Debat tersebut tidak hanya mengubah hasil pemilihan, tetapi juga mengubah praktik politik di Amerika Serikat. Politik berdasarkan persepsi menjadi praktik yang umum.
Terkadang persepsi memang menjadi realitas, tetapi tidak selalu—apalagi persepsi kita tentang Allah. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea dalam sebuah perahu nelayan yang kecil, badai tiba-tiba mengancam untuk menenggelamkan perahu tersebut. Melihat Yesus sedang tertidur, murid-murid yang dilanda kepanikan itu berusaha membangunkan-Nya, dan bertanya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38).
Pertanyaan mereka mirip dengan berbagai pertanyaan yang pernah saya ajukan. Adakalanya saya menganggap sikap diam Allah sebagai wujud ketidakpedulian-Nya. Namun sebenarnya, perhatian-Nya atas saya jauh melampaui apa yang dapat saya lihat atau ukur. Allah kita sungguh peduli atas segala sesuatu yang mengkhawatirkan kita. Dia mendorong kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada- Nya, “sebab Ia yang memelihara [kita]” (1Ptr. 5:7). Itulah realitas yang sesungguhnya. —WEC
Ia mengawasi, Ia mengawasi,
Karena Ia yang rahmani.
Keadaan sukar, semua berubah,
Tuhan tetap mengawasi. —Graeff
(Puji-Pujian Kristen, No. 159)
Bahkan ketika kita tidak merasakan kehadiran Allah, kasih pemeliharaan-Nya terlihat nyata di sekitar kita.

Monday, November 3, 2014

Apakah Allah Peduli?

Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku! —Mazmur 30:11
Apakah Allah Peduli?
Hidup Minnie dan George Lacy didera oleh berbagai pertanyaan seperti: “Apakah Yesus sanggup? Apakah hubungan kita dengan Kristus sanggup menopang kita? Apakah Dia sanggup menolong kita untuk terus melangkah? Apakah Dia peduli?”
Ketika melayani sebagai misionaris pada tahun 1904, putri bungsu mereka jatuh sakit. Kemudian berturut-turut, kelima anak mereka meninggal pada tahun yang sama karena demam scarlet. Dalam suratnya kepada lembaga misi yang mengutus mereka, George Lacy menulis tentang perasaan sepi dan duka mereka yang mendalam: “Terkadang semua itu rasanya tidak sanggup lagi kami tanggung.” Namun kemudian ia menambahkan, “Tuhan terus menyertai kami dan telah menolong kami dengan luar biasa.” Pada masa-masa terkelam dalam hidup mereka, mereka mengalami bahwa Yesus berada di dekat mereka dan Dia sanggup menolong mereka.
Banyak dari kita akan menghadapi keadaan-keadaan yang membuat kita merasa tidak lagi sanggup untuk terus melangkah. Jika kesehatan kita merosot, jika kita kehilangan pekerjaan, jika kita kehilangan orang-orang terdekat, akankah kita mengalami bahwa hubungan kita dengan Tuhan sanggup menolong kita untuk terus melangkah?
Pemazmur mengingatkan kita akan kehadiran dan kesetiaan Allah (Mzm. 30). Ketika merasa begitu tertekan, ia berseru, “Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!” (ay.11). Allah pun memberinya kesembuhan dan kelegaan (ay.3-4).
Sebagai umat yang percaya kepada Yesus, kita tidak akan pernah kekurangan apa pun yang kita butuhkan untuk bertahan. Tuhan akan senantiasa menyertai kita. —RKK
Meski didera cobaan yang membuat putus asa,
Jiwaku akan berlari menuju tempat perlindungan
Dan percaya pada jaminan yang teramat indah,
“Kasih karunia-Ku itu cukup bagimu.” —NN.
Iman dalam Kristus yang Mahasanggup memampukan kita untuk terus melangkah.

Sunday, November 2, 2014

Lepas Saja!

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! —Mazmur 46:11
Lepas Saja!
Saya ingat saya pernah mengikuti lomba makan apel ketika saya masih kecil. Permainan itu mengharuskan kedua tangan saya diikat di balik punggung. Apel yang tergantung pada seutas tali itu sangat sulit untuk saya gigit tanpa dibantu kedua tangan saya. Usaha itu membuat saya frustrasi. Perlombaan itu juga mengingatkan saya akan arti penting kedua tangan kita—kita makan dengan bantuan tangan, menyapa orang dengan tangan, dan menggunakan tangan untuk melakukan sebagian besar aktivitas penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ketika membaca Mazmur 46:11, saya tertarik pada pernyataan Allah, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Bahasa Ibrani untuk kata “diam” di ayat itu berarti “berhenti berjuang/berusaha”, atau dapat juga diartikan “menaruh tangan kita di kedua sisi tubuh kita”. Sekilas pernyataan itu terdengar seperti sebuah nasihat yang agak riskan, karena naluri awal kita saat menghadapi suatu masalah adalah untuk turun tangan dan berusaha mengendalikannya untuk keuntungan kita. Intinya Allah sedang berkata, “Lepaskan saja tanganmu! Biarkan Aku menangani masalahmu, dan yakinlah bahwa hasil akhirnya ada di tangan-Ku.”
Namun pada saat kita lepas tangan dan membiarkan Allah bekerja, kita bisa jadi merasa tidak berdaya. Kita tidak perlu merasa demikian, apabila kita mempercayai bahwa Allah sungguh merupakan “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ay.2) dan bahwa “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub” (ay.8). Di tengah pergumulan berat, kita dapat bersandar pada tangan perlindungan Allah. —JMS
Tuhan, ampuni aku karena selalu ingin mengendalikan
hidupku sendiri. Ajarku untuk mempercayai pengaturan-Mu
yang bijaksana dan tepat waktu atas hidupku
dan untuk tidak ikut campur dalam karya-Mu. —NN.
Ketika kita menyerahkan masalah kita ke tangan Allah, Dia akan memberikan damai-Nya dalam hati kita.

Saturday, November 1, 2014

Mosaik

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. —Efesus 2:10
Mosaik
Selama 3 minggu pada setiap musim gugur, kota tempat tinggal kami menjadi semacam galeri seni. Hampir 2.000 seniman dari berbagai penjuru dunia memamerkan karya-karya mereka di sejumlah galeri, museum, hotel, taman, jalan kota, tempat parkir, restoran, gereja, dan bahkan di sungai.
Salah satu karya favorit saya adalah mosaik yang terbuat dari potongan-potongan kecil kaca berwarna-warni. Karya yang memenangi penghargaan pada tahun 2011 adalah sebuah mosaik dari kaca berwarna tentang penyaliban berukuran 2,7 x 4 meter yang dibuat oleh seniman Mia Tavonatti. Ketika melihat karya seni itu, saya mendengar sang seniman menceritakan betapa sering jari-jarinya teriris saat sedang membentuk potongan-potongan kaca untuk mosaiknya.
Saat saya menatap penggambaran yang indah dari kejadian yang mengerikan itu, saya melihatnya lebih dari sekadar gambaran tentang penyaliban—tetapi juga tentang gereja, yang adalah tubuh Kristus. Lewat setiap potongan kaca, saya melihat masing-masing orang percaya, yang dibentuk sedemikian indahnya oleh Kristus supaya saling melengkapi dalam satu kesatuan (Ef. 2:16,21). Lewat kisah seniman tadi, saya menyadari bahwa darah Yesus yang telah tercurah memungkinkan terjadinya kesatuan itu. Dan lewat karya sang seniman, saya melihat bahwa perbuatan kasih diperlukan untuk menyelesaikan karya tersebut meski harus menderita dan berkorban.
Kita yang mempercayai Kristus adalah karya seni yang diciptakan Allah guna menunjukkan keagungan Sang Juruselamat yang sanggup menghasilkan keindahan dari hidup kita yang tidak sempurna. —JAL
Batu penjuru G’reja dan Dasar yang esa.
Yaitu Yesus Kristus, Pendiri umat-Nya.
Dengan kurban darah-Nya, gereja ditebus.
Baptisan dan firman-Nya membuatnya kudus. —Stone
(Kidung Jemaat, No. 252)
Kristus memberikan segala milik-Nya demi menghasilkan keindahan dari jemaat-Nya.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate