Pages - Menu

Thursday, February 28, 2019

Kabar Baik!

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu. —Mazmur 51:3
Kabar Baik!
Saya membaca kisah yang begitu menyentuh dalam sebuah artikel singkat di surat kabar. Setelah mengikuti program pembinaan iman tentang cara mempererat ikatan keluarga, sekelompok narapidana memperoleh kesempatan langka. Mereka diizinkan menerima kunjungan terbuka dari keluarga mereka. Ada sejumlah narapidana yang bertahun-tahun belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka. Kali ini, mereka tidak hanya berbicara melalui pembatas kaca, melainkan boleh bersentuhan dan berpelukan dengan keluarga yang mereka kasihi. Air mata pun mengalir ketika hubungan dalam keluarga para narapidana itu bertambah erat dan mengalami pemulihan.
Bagi kebanyakan pembaca, artikel itu hanya cerita biasa. Namun, bagi keluarga-keluarga tersebut, kesempatan untuk saling berpelukan adalah peristiwa yang mengubahkan hidup—bagi sebagian yang lain, hal itu menjadi awal dari pengampunan dan rekonsiliasi.
Pengampunan dosa dan perdamaian yang Allah tawarkan melalui Anak-Nya sesungguhnya lebih dari sekadar fakta dalam iman Kristen. Rekonsiliasi yang diceritakan dalam artikel di atas mengingatkan kita bahwa pengorbanan Yesus merupakan kabar baik, tak hanya bagi dunia, tetapi juga bagi kamu dan saya secara pribadi.
Pada saat kita tertekan oleh rasa bersalah karena pelanggaran yang pernah kita lakukan, kabar baik itu menjadi suatu kepastian yang dapat kita andalkan. Fakta tentang belas kasihan Allah yang tak berkesudahan itu patut kita terima secara pribadi: karena Yesus telah mati bagi kita, kita boleh datang kepada Bapa dalam kondisi suci, “lebih putih dari salju” (Mzm. 51:9). Ketika kita sadar bahwa kita tak layak untuk diampuni, kita dapat berpegang pada satu hal yang selalu bisa diandalkan: kasih setia Allah dan belas kasihan-Nya (ay.3). —Leslie Koh
Bapa, ampuni aku jika aku pernah memandang remeh belas kasih dan cinta-Mu. Terima kasih atas berkat dan hak istimewa yang indah ini, sesuatu yang tak layak kuterima tetapi yang Engkau berikan secara cuma-cuma.
Pengampunan adalah kabar baik yang luar biasa bagi setiap orang!

Wednesday, February 27, 2019

Dari Mulut Bayi-Bayi

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu. —Mazmur 8:3
Dari Mulut Bayi-Bayi
Setelah melihat Viola yang berumur 10 tahun menggunakan ranting pohon sebagai mikrofon untuk meniru sikap seorang pendeta, Michele memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Viola untuk “berkhotbah” dalam suatu pelayanan di sebuah desa. Viola bersedia. Menurut kesaksian Michele, misionaris di Sudan Selatan, “Para hadirin terpana . . . melihat seorang anak perempuan yang pernah ditelantarkan itu berdiri dengan penuh wibawa di hadapan mereka sebagai putri dari Raja segala raja. Dengan penuh semangat, Viola berkhotbah tentang Kerajaan Allah yang hidup. Separuh hadirin pun menanggapinya dengan maju ke depan dan menerima Yesus pada saat itu” (Michele Perry, Love Has a Face).
Para hadirin hari itu tidak menyangka akan mendengar seorang anak berkhotbah. Peristiwa itu mengingatkan saya pada frasa “dari mulut bayi-bayi” yang terdapat dalam Mazmur 8. Daud menulis, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu” (ay.2). Yesus mengutip ayat itu dalam Matius 21:16, setelah imam-imam kepala dan para ahli Taurat mengecam anak-anak yang memuji Yesus di Bait Allah. Anak-anak itu dianggap sebagai gangguan di mata para pemimpin agama. Dengan mengutip nas itu, Yesus menunjukkan bahwa Allah benar-benar memperhitungkan puji-pujian dari anak-anak. Mereka memuliakan Mesias yang telah lama dinantikan, sesuatu yang tidak mau dilakukan oleh para pemimpin agama itu.
Seperti yang ditunjukkan oleh Viola dan anak-anak di Bait Allah, Allah bahkan dapat memakai seorang anak kecil untuk memuliakan nama-Nya. Puji-pujian mengalir dengan limpahnya dari hati mereka yang tulus. —Linda Washington
Bagaimana aku bisa memuji Allah hari ini? Mengapa Dia layak menerima pujianku?
Tuhan, tolonglah aku memiliki hati yang tulus seperti seorang anak saat aku memuji-Mu.

Tuesday, February 26, 2019

Mengatasi Informasi Buruk

Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan. —Amsal 23:12
Mengatasi Informasi Buruk
Dalam kunjungan ke kota New York baru-baru ini, saya bersama istri ingin menikmati malam yang bersalju. Kami pun menyewa taksi untuk membawa kami ke sebuah restoran Kuba yang berjarak sekitar 5 km dari hotel. Setelah memasukkan alamat ke aplikasi pemesanan taksi, saya terbelalak melihat tarif untuk jarak sependek itu: Rp. 22.340.887. Setelah beberapa saat, saya baru sadar telah memasukkan alamat rumah kami yang jaraknya ratusan kilometer dari sana sebagai tujuan!
Dengan informasi yang salah, apa yang kamu kerjakan pasti akan berantakan. Itulah sebabnya Amsal mendorong kita untuk mengarahkan “perhatian [kita] kepada didikan, dan telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan”—yakni hikmat Allah (Ams. 23:12). Jika kita meminta nasihat dari orang bodoh dan bebal, yaitu mereka yang bersikap sok tahu dan mengabaikan Allah, kita pasti akan mendapat masalah. Mereka akan “meremehkan [kata-kata] yang bijak” dan bisa membuat kita tersesat dengan saran yang tidak bermanfaat, keliru, bahkan menipu (ay.9).
Karena itu, lebih baik kita mencondongkan “telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan” (ay.12). Bukalah hati untuk menerima petunjuk Allah yang memberi kemerdekaan, yakni firman-Nya yang penuh kejelasan dan pengharapan. Nasihat dari orang-orang yang mengenal Allah akan menolong kita untuk menerima dan menaati hikmat-Nya. Hikmat Allah takkan pernah menyesatkan, tetapi selalu menguatkan dan menuntun kita menuju keutuhan hidup di dalam Dia. —Winn Collier
Tuhan, condongkanlah telinga dan hatiku kepada hikmat. Tolong aku agar terbuka terhadap kebenaran-Mu dan menolak sikap yang bebal.
Hikmat orang bebal selalu membawa kita ke jalan buntu, tetapi hikmat Allah selalu memberikan jalan keluar.

Monday, February 25, 2019

Semangat Fika

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. —Lukas 24:30
Semangat Fika
Kedai kopi dekat rumah saya diberi nama Fika, kata dalam bahasa Swedia yang berarti beristirahat dengan menyantap roti dan segelas kopi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman-teman. Saya bukan orang Swedia, tetapi kata fika menggambarkan satu hal yang paling saya sukai tentang Yesus—sikap-Nya yang senang mengambil waktu untuk makan dan bergaul dengan orang lain.
Para pakar Alkitab berpendapat bahwa perjamuan makan Yesus bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa tujuan. Teolog Mark Glanville menyebutnya sebagai “hidangan kedua yang menyenangkan” dari pesta dan perayaan yang biasa dilakukan bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Di meja perjamuan-Nya, Yesus menjadi apa yang dikehendaki Allah dari bangsa Israel, yaitu “sumber sukacita, kemeriahan, dan keadilan bagi seluruh dunia.”
Lewat perjamuan yang dilayani Yesus, dari pemberian makan kepada 5.000 orang, Perjamuan Terakhir bersama para murid, hingga makan bersama dua murid setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:30)—kita diajak berhenti sejenak dari pergumulan kita dan berserah penuh kepada-Nya. Setelah kedua murid itu bersantap bersama Yesus, mereka baru menyadari bahwa Dialah Tuhan yang telah bangkit. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (ay.30-31).
Baru-baru ini, saat duduk bersama seorang teman di kedai kopi Fika sembari menikmati cokelat panas dan bolu gulung, kami pun berbincang-bincang tentang Yesus. Dialah Sang Roti Hidup. Kiranya kita menikmati perjamuan-Nya dan semakin mengenal Dia. —Patricia Raybon
Tuhan, terima kasih karena Engkau menyediakan waktu dan tempat bagi kami di meja perjamuan-Mu agar kami semakin mengenal-Mu.
Luangkanlah waktu untuk menikmati Sang Roti Hidup.

Sunday, February 24, 2019

Kagum dalam Keheningan

Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. —Mazmur 104:24
Kagum dalam Keheningan
Hidup saya sering terasa padat dan sesak, bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lain dengan tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, saya menerima telepon sembari memeriksa daftar pekerjaan yang tampaknya tak kunjung habis. Suatu hari Minggu, karena kelelahan, saya memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur gantung yang ada di halaman belakang rumah. Ponsel saya ada di dalam, begitu juga suami dan anak-anak. Semula saya berencana untuk rebah sejenak. Namun, dalam keheningan itu, saya mulai memperhatikan hal-hal yang membuat saya enggan beranjak. Saya bisa mendengar derit ayunan tempat tidur gantung, dengungan lebah di dekat bunga lavender, dan suara kepak burung di atas kepala. Langit berwarna biru cerah, awan berarak ditiup angin.
Air mata saya menetes tatkala menyadari semua yang telah Allah ciptakan. Ketika saya mengambil waktu untuk menyerap banyak hal menakjubkan yang bisa ditangkap oleh mata dan telinga, saya pun tergerak untuk menyembah Allah dalam ucapan syukur atas kuasa penciptaan-Nya. Penulis Mazmur 104 juga dibuat kagum oleh karya tangan Allah, dan ia berseru, “Bumi penuh dengan hasil karya-Mu”(ay.13 BIS).
Di tengah kehidupan yang serba cepat, saat-saat hening yang kita ambil dapat mengingatkan kita pada kuasa penciptaan Allah! Dia melingkupi kita dengan bukti kekuatan sekaligus kelembutan-Nya; Dia menciptakan gunung-gunung yang menjulang dan juga ranting-ranting pepohonan agar burung-burung dapat bertengger. “Semuanya Kaujadikan dengan bijaksana” (ay.24 bis). —Kirsten Holmberg
Tuhan, aku kagum pada ciptaan-Mu. Engkau menciptakan segala sesuatu dengan kuasa tak terbatas, dan kami diajak menikmati keindahannya di sekitar kami. Tolong aku untuk menyadari karya-Mu dan menyembah-Mu dalam keheningan.
Kita dilingkupi oleh karya ciptaan Allah yang Mahakuasa.

Saturday, February 23, 2019

Hidup dalam Kisah Allah

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. —Roma 13:12
Hidup dalam Kisah Allah
Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisah yang menyentuh hanya dengan enam kata. Tanggapannya: “Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai.” Kisah Hemingway itu sangat luar biasa karena kita didorong untuk memikirkan isi ceritanya. Kita pun bertanya-tanya, apakah sang bayi itu sehat sehingga ia tidak memerlukan sepatu itu? Ataukah ada kematian yang tragis—suatu peristiwa yang memerlukan kehadiran kasih dan penghiburan dari Allah?
Kisah-kisah yang terbaik adalah cerita yang memicu imajinasi kita. Jadi, tidaklah mengejutkan apabila kisah terbaik sepanjang sejarah—kisah Allah—akan membangkitkan kreativitas kita. Kisah Allah memiliki alur cerita utama: Dia menciptakan segala sesuatu; kita (manusia) jatuh ke dalam dosa; Yesus datang ke dunia, lalu mati dan bangkit kembali untuk menyelamatkan kita dari dosa; sekarang kita menantikan kedatangan-Nya kembali dan pemulihan atas segala sesuatu.
Setelah mengetahui apa yang telah terjadi di masa silam dan apa yang menanti di masa depan, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup saat ini? Jika Yesus sedang memulihkan seluruh ciptaan-Nya dari cengkeraman Iblis yang jahat, maka kita harus “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang” (Rm. 13:12). Hal itu mencakup tindakan kita untuk berpaling dari dosa dengan kuasa Allah dan memilih untuk sungguh-sungguh mengasihi Dia dan sesama (ay.8-10).
Cara kita berjuang bersama Yesus dalam melawan kejahatan tergantung pada karunia kita masing-masing dan kebutuhan yang ada di sekitar kita. Pakailah imajinasi dan lihatlah sekelilingmu. Carilah mereka yang terluka dan menderita, kemudian jadilah saluran kasih, keadilan, dan penghiburan Allah, dengan taat mengikuti tuntunan-Nya. —Mike Wittmer
Bapa, datanglah kerajaan-Mu di bumi dan dalam hidupku.
Jalani peranmu dalam kisah Allah dengan taat mengikuti tuntunan-Nya.

Friday, February 22, 2019

Tuhan Memegang Tangan Kita

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. —Yesaya 41:10
Tuhan Memegang Tangan Kita
Pada suatu hari Minggu, saya menyaksikan seorang gadis cilik yang tampaknya belum berusia dua tahun berusaha menuruni tangga gereja. Ia sangat lucu, berani, dan mandiri. Satu demi satu anak tangga itu ditapakinya dengan penuh tekad, dan ia berhasil. Saya tersenyum saat memikirkan keberanian dan kemandiriannya. Anak itu tidak takut karena tahu bahwa ibunya yang penuh perhatian selalu mengawasi dan tangan ibunya selalu siap menolong. Hal itu sangat tepat menggambarkan kesiapan Allah untuk menolong anak-anak-Nya di tengah perjalanan hidup mereka yang diwarnai beragam ketidakpastian.
Bacaan Kitab Suci hari ini dua kali berbicara tentang “tangan”. Setelah memperingatkan umat Israel agar tidak takut dan bimbang, Tuhan berkata kepada mereka, “Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10). Anak-anak yang merasa takut dan cemas biasanya akan ditenangkan oleh kekuatan orangtuanya. Di sinilah kita melihat kuasa Allah. Kata “tangan” disebutkan sekali lagi tentang Tuhan yang bekerja untuk menjamin keselamatan umat kesayangan-Nya. “Sebab Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu” (ay.13). Walau situasi hidup dan zaman telah berubah, Allah tidak pernah berubah. Kita tidak perlu putus asa karena Tuhan masih meyakinkan kita dengan janji-Nya untuk menopang kita (ay.10) dan dengan firman yang sangat kita rindukan, “Janganlah takut” (ay.10,13). —Arthur Jackson
Bapa, terima kasih karena Engkau selalu menjagaku.
Aku aman, karena tangan Allah selalu memegang tanganku!

Thursday, February 21, 2019

Persembahan yang Hidup

Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. —Roma 12:1
Persembahan yang Hidup
Bibi buyut saya pernah memiliki pekerjaan yang bagus dalam bidang periklanan dan kerap bepergian antara kota Chicago dan New York. Namun, ia memilih untuk melepaskan karier itu demi kasihnya pada orangtuanya. Mereka tinggal di Minnesota dan perlu dirawat. Kedua saudaranya telah meninggal dengan tragis pada usia muda dan bibi buyut saya adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Baginya, merawat orangtua merupakan perwujudan imannya.
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menasihatkan orang Kristen untuk menjadi “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Ia berharap mereka akan menerapkan kasih Kristus yang rela berkorban kepada satu sama lain. Ia juga meminta mereka untuk tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya (ay.3). Ketika mereka mengalami perselisihan dan perpecahan, Paulus mengingatkan mereka untuk mengesampingkan keangkuhan mereka, sebab “kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; . . . kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (ay.5). Paulus rindu agar mereka saling menunjukkan kasih yang rela berkorban.
Setiap hari, kita mendapat kesempatan untuk melayani orang lain. Misalnya, kita dapat mempersilakan orang lain mendahului kita di jalur antrean, atau memberi diri merawat orang sakit, seperti yang dilakukan bibi buyut saya. Kita juga bisa berbagi pengalaman, saran, dan nasihat kepada orang lain. Kita menghormati Allah dengan mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup. —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah merendahkan diri dan mengorbankan nyawa-Mu agar aku dapat hidup. Kiranya aku takkan pernah melupakan anugerah dan kasih yang paling berharga tersebut.
Kita menyenangkan Allah dengan melayani orang lain demi nama-Nya.

Wednesday, February 20, 2019

Kirimkan Lewat Surat

Sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. —Kolose 1:9
Kirimkan Lewat Surat
Seperti kebanyakan anak usia empat tahun, Ruby suka berlari, bernyanyi, menari, dan bermain. Namun, ia mulai sering mengeluh tentang rasa sakit di lututnya. Orangtua Ruby pun membawanya ke dokter. Hasilnya mengejutkan—Ruby didiagnosis menderita kanker neuroblastoma (sejenis kanker sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak) stadium 4. Ternyata kesehatan Ruby bermasalah dan ia langsung dirawat di rumah sakit.
Ruby diopname cukup lama, sampai mendekati Natal, masa-masa yang sulit untuk berada jauh dari rumah. Salah satu perawat memiliki ide untuk menempatkan kotak surat di luar kamarnya sehingga kerabat Ruby dapat mengirimkan dukungan doa dan semangat untuknya. Hal ini kemudian tersiar di Facebook, hingga jumlah surat yang masuk dari para sahabat dan orang-orang yang tidak dikenalnya sangat mengejutkan, terutama bagi Ruby. Setiap surat yang masuk (lebih dari 100.000 surat) sangat membangkitkan semangat Ruby, sampai akhirnya ia bisa kembali ke rumah.
Hal serupa terjadi dengan jemaat di Kolose yang menerima surat Paulus (Kol. 1:2). Kata-kata yang ditulis sang rasul di atas lembaran papirus membawa harapan bagi mereka untuk terus berbuah dan bertumbuh dalam pengetahuan, kekuatan, ketekunan, serta kesabaran (ay.10-11). Dapatkah kamu bayangkan dampak luar biasa dari kata-kata tersebut bagi orang percaya di Kolose? Dengan mengetahui bahwa seseorang mendoakan mereka tanpa henti, mereka pun dikuatkan untuk tetap teguh dalam iman kepada Tuhan Yesus.
Kata-kata kita yang memberi semangat dapat menjadi berkat luar biasa bagi orang lain yang membutuhkannya. —John Blase
Bagaimana perkataan orang lain telah menguatkan saya? Bagaimana saya dapat menolong orang lain dengan kata-kata yang menguatkan mereka?
Ya Allah, tunjukkan seseorang yang membutuhkan dorongan semangat dan tolonglah aku bertindak sesuai dengan tuntunan-Mu.

Tuesday, February 19, 2019

Simpan dan Terus Melangkah

Orang yang mengindahkan teguran tergolong orang bijaksana. —Amsal 15:31 BIS
Simpan dan Terus Melangkah
Saya teringat nasihat bijak yang pernah diberikan oleh teman saya yang bekerja sebagai penyiar radio. Pada awal kariernya, ketika ia merasa kesulitan untuk menyikapi baik kritik maupun pujian dengan baik, ia merasa Allah mendorongnya untuk menyimpan kedua-duanya dalam hati. Apa yang ia pelajari dari sikapnya tersebut? Ia berkata, “Aku belajar memperbaiki diri lewat kritik dan juga menerima pujian. Aku menyimpan kedua-duanya, lalu berusaha merendahkan hati untuk melangkah lagi dalam anugerah dan kuasa Allah.”
Kritik dan pujian memang membawa dampak besar bagi perasaan kita. Jika perasaan itu dibiarkan, kritik dapat membuat kita membenci diri sendiri, dan sebaliknya, pujian bisa membuat kita tinggi hati. Dalam kitab Amsal tertulis manfaat dari dorongan dan nasihat bijak: “Wajah gembira meriangkan hati, berita yang baik menyegarkan jiwa. . . . Orang yang tidak mau dinasihati, tidak menghargai diri sendiri; orang yang mau menerima teguran, menjadi berbudi” (15:30,32 BIS).
Ketika menerima teguran, kiranya kita memberi diri untuk diasah olehnya. Amsal berkata, “Orang yang mengindahkan teguran tergolong orang bijaksana” (ay.31). Namun ketika menerima pujian, kiranya kita disegarkan dan hati kita dipenuhi ucapan syukur. Saat kita berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah, Dia akan menolong kita belajar dari kritik sekaligus pujian, menyimpan kedua-duanya, dan terus melangkah maju di dalam Dia (ay.33). —Ruth O’Reilly-Smith
Allah Bapa, terima kasih atas pujian dan kritik yang kuterima. Kiranya aku bertumbuh dan diasah oleh kedua hal itu saat aku berserah pada-Mu dalam kerendahan hati.
Belajarlah dari pujian maupun kritik, simpanlah kedua-duanya, dan teruslah melangkah.

Monday, February 18, 2019

Berdoa dan Bertumbuh

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. —Kolose 3:17
Berdoa dan Bertumbuh
Ketika istrinya mengidap penyakit Alzheimer, kawan saya David sangat bergumul dengan berbagai perubahan yang harus dijalaninya. Ia harus pensiun dini, dan ketika penyakit itu semakin parah, istrinya memerlukan perhatian yang lebih besar.
“Aku sangat marah kepada Allah,” katanya kepada saya. “Namun, semakin sering aku mendoakannya, semakin Allah membukakan hatiku dan menunjukkan betapa egoisnya aku dalam pernikahan kami selama ini.” Air matanya berlinang saat ia berkata, “Sudah sepuluh tahun istriku sakit, tetapi Allah menolongku untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sekarang, aku merawatnya karena cintaku padanya dan karena aku mengasihi Yesus. Merawat istriku adalah kehormatan terbesar dalam hidupku.”
Kadang, Allah bukan menjawab doa-doa kita dengan memberikan apa yang kita inginkan, melainkan dengan menantang kita untuk berubah. Ketika Nabi Yunus marah karena Allah menyelamatkan kota Niniwe yang jahat dari kehancuran, Allah menumbuhkan pohon jarak untuk menaungi Yunus dari terik matahari (Yun. 4:6). Lalu, Tuhan membuat pohon jarak itu layu. Saat Yunus mengeluh, Allah menjawab, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” (ay.7-9). Yunus yang hanya mementingkan dirinya tetap berusaha membenarkan diri. Namun, Allah menantangnya untuk memikirkan orang lain dan mempunyai belas kasihan.
Adakalanya, Allah memakai doa kita dengan cara tak terduga untuk membuat kita belajar dan bertumbuh. Bukalah hati untuk perubahan itu karena Allah ingin mengubah kita dengan kasih-Nya. —James Banks
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menolongku bertumbuh saat aku berdoa. Tolong aku untuk mengenali kehendak-Mu atas hidupku hari ini.
Allah membuat kita bertumbuh ketika kita menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya.

Sunday, February 17, 2019

Suasana yang Membangun

Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. —Roma 15:2
Suasana yang Membangun
Saya bersemangat setiap kali masuk ke pusat kebugaran dekat rumah kami. Tempat yang ramai itu penuh dengan orang-orang yang berusaha meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik mereka. Tulisan-tulisan yang dipajang di sana mengingatkan kami untuk tidak saling menghakimi, tetapi justru mendorong kami untuk memberikan kata-kata dan sikap yang menyemangati upaya orang lain.
Itu sangat tepat menggambarkan kehidupan rohani yang seharusnya kita jalani! Mungkin ada sebagian dari kita yang sedang berupaya untuk berubah dan bertumbuh dalam iman, tetapi kadangkala merasa tidak termasuk dalam komunitas karena kerohanian yang belum matang dan tidak sedewasa saudara-saudara seiman yang lain.
Paulus memberikan nasihat yang tegas dan singkat ini: “Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu” (1Tes. 5:11). Kepada orang percaya di Roma, Paulus berkata, “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm. 15:2). Dengan menyadari kemurahan hati Bapa kepada kita, marilah kita meneruskan kemurahan itu kepada orang lain lewat perkataan dan perbuatan kita.
Ketika kita “menerima satu sama lain dengan senang hati” (Rm. 15:7 BIS), marilah kita juga mempercayakan pertumbuhan rohani kita kepada Allah dan karya Roh Kudus-Nya. Selagi kita berusaha mengikut Dia setiap hari, kiranya kita menciptakan suasana yang membangun bagi saudara-saudari seiman kita, karena mereka juga sedang berusaha untuk bertumbuh dalam iman. —Dave Branon
Tuhan, tolong aku untuk menyemangati orang lain yang kutemui hari ini. Bimbinglah aku untuk tidak mengucapkan hal-hal yang mengecilkan hati, melainkan memacu mereka untuk hidup semakin dekat kepada-Mu dalam kasih-Mu.
Kata-kata yang membangun dapat menguatkan orang untuk tetap maju di saat mereka hampir menyerah.

Saturday, February 16, 2019

Berbuat Baik

[Tabita] banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. —Kisah Para Rasul 9:36
Berbuat Baik
“Estera, ada hadiah buatmu dari Helen, teman kita!” kata ibu sepulang dari tempat kerjanya. Kehidupan keluarga kami memang tidak berlimpah. Jadi, menerima kiriman hadiah lewat pos terasa seperti hari Natal kembali. Saya merasa dikasihi, diingat, dan dihargai oleh Allah melalui wanita luar biasa yang memberikan hadiah itu.
Janda-janda miskin yang dibuatkan pakaian oleh Tabita (Dorkas) tentu merasakan hal yang sama. Ia adalah murid Yesus yang tinggal di Yope dan terkenal di lingkungannya karena kebaikan hatinya. Tabita “banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kis. 9:36). Kemudian, ia sakit lalu meninggal. Pada waktu itu, Petrus sedang mengunjungi sebuah kota dekat Yope, maka dua orang dari jemaat pergi menemui Petrus dan memintanya datang ke Yope.
Ketika Petrus tiba, para janda yang pernah ditolong Tabita menunjukkan bukti kebaikannya—“semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup” (ay.39). Kita tidak tahu apakah mereka meminta Petrus untuk melakukan sesuatu, tetapi dengan pimpinan Roh Kudus, Petrus berdoa dan Allah pun membangkitkan Dorkas! Dampak dari kebaikan Allah tersebut adalah “peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan” (ay.42).
Kiranya perbuatan baik yang kita tunjukkan kepada orang-orang di sekitar kita akan mendorong mereka memikirkan tentang Allah dan merasa dikasihi pula oleh Allah. —Estera Pirosca Escobar
Tuhan, tolong kami untuk mengikut Engkau dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kami sehingga mereka dapat melihat Engkau dalam diri kami.
Jadilah bukti nyata dari kebaikan Allah; kebaikan yang terpancar di wajahmu, di matamu, di senyummu. —Bunda Teresa

Friday, February 15, 2019

Masuk dalam Peristirahatan

Sebab [Allah] memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. —Mazmur 127:2
Masuk dalam Peristirahatan
Akhirnya, pada 8 Januari 1964, Randy Gardner yang berusia 17 tahun melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama sebelas hari dan dua puluh lima menit: ia tertidur. Ia ingin mengalahkan rekor berapa lama manusia dapat bertahan tanpa tidur dalam Guinness Book World Record. Ditemani minuman ringan, bermain basket, dan boling, Gardner berhasil bertahan tidak tidur selama 1,5 minggu. Ketika menyerah, indera pengecap, penciuman, dan pendengarannya sudah terganggu. Ternyata, beberapa puluh tahun kemudian, Gardner mengidap insomnia akut. Ia menciptakan rekor, tetapi juga membuktikan sesuatu yang pasti: tidur itu penting.
Banyak dari kita bergumul untuk dapat tidur cukup di malam hari. Tak seperti Gardner yang sengaja tidak mau beristirahat, kita mungkin sulit tidur karena sejumlah alasan—antara lain kegelisahan yang menumpuk, khawatir dikejar tenggat, tuntutan orang lain, tekanan dari kehidupan yang serba cepat. Kadangkala sulit bagi kita untuk meredam segala ketakutan itu dan beristirahat.
Pemazmur mengajarkan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm. 127:1). Kerja keras dan upaya kita yang tanpa henti akan berakhir sia-sia jika Allah tidak menyediakan keperluan kita. Syukurlah, Allah setia menyediakan apa yang kita perlukan. Dia “memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (ay.2). Kasih Allah menjangkau kita semua. Dia mengundang kita untuk menyerahkan kegelisahan kita kepada-Nya dan masuk dalam peristirahatan-Nya, ke dalam anugerah-Nya. —Winn Collier
Tuhan, aku sangat gelisah. Hatiku bergolak. Tolonglah aku mempercayakan hari-hariku, siang dan malam, serta seluruh hidupku kepada-Mu.
Mempercayai Allah melenyapkan kegelisahan dan memberikan kita kelegaan.

Thursday, February 14, 2019

Di Luar Konteks

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. —Yohanes 20:14
Di Luar Konteks
Ketika sedang mengantre masuk ke pesawat, seseorang menepuk pundak saya. Saya pun menengok dan menerima sapaan hangat. “Elisa! Masih ingat aku? Aku Joan!” Saya berpikir keras mengingat-ingat sejumlah “Joan” yang saya kenal, tetapi yang ini tidak kunjung teringat. Apakah ia tetangga lama? Mantan rekan kerja? Oh tidak . . . saya benar-benar lupa.
Melihat kebingungan saya, Joan berkata, “Elisa, kita dulu teman SMA.” Sebuah kenangan muncul: pertandingan-pertandingan sepakbola Jumat malam, dan kami sama-sama menyoraki tim sekolah kami dari bangku penonton. Begitu konteksnya menjadi jelas, saya bisa mengenali Joan.
Setelah kematian Yesus, Maria Magdalena pergi ke kubur pagi-pagi, lalu mendapati batu sudah terguling dan jasad-Nya tidak ada (Yoh. 20:1-2). Maria berlari menemui Petrus dan Yohanes, lalu mereka ikut bersamanya untuk melihat kubur yang kosong (ay.3-10). Namun, Maria termenung di luar kubur dalam kesedihannya (ay.11). Ketika Yesus muncul di sana, “[Maria] tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus” (ay.14). Maria mengira Dia adalah tukang kebun (ay.15).
Bagaimana mungkin Maria tidak mengenali Yesus? Apakah tubuh kebangkitan-Nya telah jauh berubah sehingga sulit dikenali? Apakah kepedihan membutakannya untuk mengenali Yesus? Atau mungkin, seperti saya, karena Yesus telah berada “di luar konteks”, Dia hidup dan muncul di taman, sedangkan Maria berpikir Dia mati di dalam kubur, sehingga ia tidak mengenali-Nya?
Mungkinkah kita juga melewatkan Yesus ketika Dia datang di tengah keseharian kita—saat kita berdoa atau membaca Alkitab, atau saat Dia berbicara dalam hati kita? —Elisa Morgan
Tuhan, berilah kami mata untuk melihat Yesus, bagaimana pun caranya Dia datang—dalam konteks yang kami kenal maupun dengan cara-cara tak terduga.
Nantikanlah Yesus di tempat-tempat yang tak terduga.

Wednesday, February 13, 2019

Peperangan

Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap. —Mazmur 39:8
Peperangan
Di tengah dentuman senjata-senjata artileri yang mengguncang bumi, seorang prajurit muda berdoa dengan sungguh-sungguh, “Tuhan, jika Engkau menyelamatkan aku dari peperangan ini, aku akan masuk ke sekolah Alkitab seperti kemauan ibuku.” Prajurit itu adalah ayah saya. Allah menjawab doanya, dan setelah Perang Dunia ke-2 usai, ayah saya pun masuk kuliah di Moody Bible Institute dan menyerahkan dirinya melayani penuh waktu.
Ada pejuang lain yang mengalami suatu krisis yang membawanya berhadapan dengan Allah, yakni Raja Daud. Namun, masalah Daud timbul justru karena ia menghindari peperangan. Saat pasukannya berperang melawan bani Amon, Daud tinggal di istana dan berbuat lebih jauh daripada sekadar memandang istri orang (lihat 2 Sam. 11). Dalam Mazmur 39, Daud mencatat proses pemulihan yang menyakitkan dari dosa keji yang pernah dilakukannya. “Aku kelu, aku diam, aku membisu, . . . tetapi penderitaanku makin berat. Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah” (ay.3-4).
Jiwanya yang hancur membuat Daud merenung: “Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku” (ay.5). Saat fokus pikirannya diperbarui, Daud tidak putus asa. Ia tidak berpaling kepada yang lain. “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (ay.8). Daud pun berhasil menang atas pergumulan pribadinya dan masih terus melayani Allah.
Fokus doa kita lebih penting daripada motivasi doa itu sendiri. Allah adalah sumber pengharapan kita. Dia mau kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. —Tim Gustafson
Bapa, hanya kepada-Mu kami berharap. Ampuni kami karena mencari-cari jawaban di luar Engkau. Bawalah kami mendekat kepada-Mu hari ini.
Tiada tempat yang lebih baik bagi kita untuk mengadu daripada di dalam doa kepada Allah.

Tuesday, February 12, 2019

Dilihat oleh Allah

Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?” —Kejadian 16:13
Dilihat oleh Allah
Kacamata saya yang pertama membuat saya melihat dunia dengan lebih jelas. Saya rabun jauh, artinya benda-benda yang dekat tampak lebih tajam. Tanpa kacamata, objek di seberang ruangan atau dalam jarak tertentu terlihat buram. Pada usia dua belas tahun, dengan kacamata pertama itu, saya terkejut dapat melihat lebih jelas kata-kata di papan tulis, daun-daun kecil di pepohonan, dan mungkin yang paling penting, wajah-wajah yang tersenyum kepada saya.
Melihat teman-teman yang balik tersenyum saat saya menyapa mereka, saya pun sadar bahwa dilihat merupakan karunia yang sama berharganya dengan melihat.
Hagar menyadari hal itu ketika ia kabur dari Sara, majikan yang memperlakukannya dengan buruk. Hagar yang “bukan siapa-siapa” pada zamannya, dalam keadaan hamil dan sendirian, melarikan diri ke padang gurun tanpa pertolongan maupun harapan. Namun, karena dilihat oleh Allah, Hagar pun mampu melihat Dia. Allah tak lagi merupakan konsep yang samar, melainkan sungguh nyata bagi Hagar, begitu nyata hingga ia menyebut-Nya El Roi, yang berarti “Engkaulah Allah yang telah melihat aku.” Kata Hagar, “Di sini kulihat Dia yang telah melihat aku” (Kej. 16:13).
Allah yang melihat itu juga memperhatikan kita masing-masing. Apakah kamu merasa tak dianggap, sendirian, atau bukan siapa-siapa? Allah melihat kamu dan masa depanmu. Oleh sebab itu, pandanglah Dia yang menjadi pengharapan, kekuatan, keselamatan, dan sukacita kita yang selalu nyata—baik untuk hari ini maupun masa mendatang. Pujilah Dia hari ini atas karunia luar biasa yang memampukan kita melihat satu-satunya Allah yang hidup dan sejati. —Patricia Raybon
Ya Tuhan, aku hanyalah satu pribadi kecil di dunia yang besar, tetapi aku bersyukur karena Engkau melihat dan memperhatikanku sehingga aku juga boleh melihat-Mu.
Allah mengenal dan melihat kamu secara pribadi.

Monday, February 11, 2019

Memberi Penghormatan

Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. —1 Korintus 1:31
Memberi Penghormatan
Pada awal dekade 1960-an, beberapa lukisan dengan gaya tidak lazim yang menampilkan orang atau binatang bermata besar dan memelas menjadi terkenal. Ada yang menganggapnya norak, ada pula yang menyukainya. Suami sang pelukis mempromosikan karya istrinya ke mana-mana hingga kehidupan pasangan itu bertambah makmur. Namun, tanda tangan sang seniman, Margaret Keane, tidak tampak pada hasil karyanya. Suami Margaret justru mengakui lukisan itu sebagai karyanya sendiri. Karena takut, Margaret tutup mulut tentang penipuan tersebut selama 20 tahun hingga perceraian mereka. Di dalam persidangan, mereka berdua harus adu lukis untuk membuktikan siapa pelukis aslinya.
Penipuan itu memang jelas salah, tetapi sebagai pengikut Yesus, kita sendiri juga bisa dengan mudahnya terlena dengan segala pujian yang kita terima karena bakat kita, kecakapan memimpin yang kita tunjukkan, dan bahkan perbuatan baik kita kepada sesama. Namun, kita perlu menyadari bahwa kualitas-kualitas tersebut kita miliki hanya karena anugerah Allah. Dalam Yeremia 9, sang nabi meratapi umat Israel yang tinggi hati dan tak mau bertobat. Ia menuliskan firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita tidak patut bermegah dalam hikmat, kekuatan, maupun kekayaan kita, melainkan hanya dalam pengenalan dan pemahaman bahwa Dialah Tuhan “yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi” (ay.24).
Hati kita dipenuhi ucapan syukur ketika mengetahui siapa Seniman yang sejati. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, . . . diturunkan dari Bapa segala terang” (Yak. 1:17). Seluruh penghormatan dan pujian layak diberikan kepada Allah, Sang Pemberi segala karunia yang baik. —Cindy Hess Kasper
Bapa, terima kasih atas semua karunia yang Engkau berikan dengan murah hati.
Kita diciptakan untuk memuliakan Allah.

Sunday, February 10, 2019

Hidup dalam Terang

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. —Mazmur 119:105
Hidup dalam Terang
Saya dan seorang rekan pernah ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas ke suatu tempat sejauh 400 km. Malam telah larut ketika kami mulai berjalan pulang. Tubuh dan mata saya yang renta membuat saya kesulitan mengemudi di malam hari. Meski demikian, saya memilih giliran pertama untuk menyetir. Dengan tangan mencengkeram kemudi, mata saya pun memelototi jalan yang temaram. Saya bisa melihat jalanan dengan lebih jelas ketika mobil-mobil di belakang kami menyalakan lampu sorotnya. Betapa leganya saya ketika akhirnya tiba giliran teman saya untuk mengemudi. Saat itulah ia mendapati bahwa sejak tadi saya menyetir dengan lampu kabut, bukan lampu utama!
Mazmur 119 adalah mahakarya pemazmur yang tahu bahwa firman Allah merupakan sumber terang untuk kehidupan kita sehari-hari (ay.105). Namun, seberapa sering kita berada dalam situasi remang yang mengganggu seperti pengalaman saya tadi? Dengan susah payah kita berusaha melihat, bahkan kadang menyimpang dari jalur yang terbaik karena lupa menggunakan terang firman Allah. Mazmur 119 mendorong kita untuk tidak lupa “menyalakan lampu yang benar”. Apa yang terjadi ketika kita melakukannya? Kita akan mendapat hikmat untuk hidup suci (ay.9-11); kita menemukan motivasi dan semangat baru untuk menjauhi jalan kejahatan (ay.101-102). Ketika hidup dalam terang, kita pun menjiwai pujian sang pemazmur, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (ay.97). —Arthur Jackson
Bapa, penuhi hatiku dengan firman-Mu agar aku memiliki terang yang kuperlukan untuk hari ini.
Berjalan dalam terang firman Allah membuat kamu tidak akan tersandung dalam kegelapan.

Saturday, February 9, 2019

Menemukan Jati Diri

Kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. —1 Yohanes 3:2
Menemukan Jati Diri
Siapa aku? Itulah yang ditanyakan oleh sebuah boneka binatang lusuh pada dirinya sendiri dalam buku cerita anak berjudul Nothing karya Mick Inkpen. Terlupakan di sudut loteng yang berdebu, boneka itu mendengar tukang pengangkut barang menyebutnya “Nothing” (bukan siapa-siapa) sehingga ia mengira namanya adalah Nothing.
Pertemuan dengan boneka-boneka lain lalu membangkitkan ingatannya. Nothing pun menyadari bahwa ia pernah memiliki ekor, kumis, dan garis-garis di tubuhnya. Namun, setelah ia bertemu seekor kucing kelabu yang membantunya menemukan jalan pulang, Nothing akhirnya ingat siapa dirinya sebenarnya: sebuah boneka kucing bernama Toby. Sang pemilik dengan penuh kasih memperbaikinya, menjahit sepasang telinga baru, ekor, kumis, dan garis-garis di tubuhnya.
Setiap kali membaca buku itu, saya jadi memikirkan identitas diri saya sendiri. Siapa saya? Dalam suratnya kepada orang percaya, Yohanes menuliskan bahwa Allah menyebut kita sebagai anak-anak-Nya (1Yoh. 3:1). Kita tidak mengerti identitas itu sepenuhnya, tetapi saat melihat Yesus, kita akan menjadi sama seperti Dia (ay.2). Seperti halnya Toby si boneka kucing, suatu hari nanti, diri kita yang telah tercemar oleh dosa akan dipulihkan Allah sesuai dengan identitas yang dikehendaki-Nya bagi kita. Untuk saat ini, kita dapat mengerti identitas itu secara tidak sempurna, dan kita dapat melihat rupa Allah dalam diri sesama. Namun kelak, ketika berjumpa dengan Yesus, kita akan sepenuhnya dipulihkan sesuai jati diri yang Allah kehendaki bagi kita. Kita akan dijadikan-Nya baru. —Amy Peterson
Di mana saya bisa menemukan jati diri saya? Menurut Kitab Suci, bagaimana Allah memandang saya?
Ya Allah, terima kasih, Engkau telah menyelamatkan dan memulihkan kami.

Friday, February 8, 2019

Kasih dan Damai

Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, . . . Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. —Mazmur 16:10-11
Kasih dan Damai
Saya selalu takjub menyaksikan bagaimana damai—damai yang berkuasa dan melampaui segala akal (Flp. 4:7)—dapat menguasai hati kita bahkan di tengah kedukaan yang mendalam. Baru-baru ini, saya mengalaminya dalam kebaktian penghiburan ayah saya. Ketika deretan kerabat mengungkapkan rasa dukacita mereka, saya merasa lega melihat seorang sahabat di SMA. Tanpa sepatah kata pun, ia memeluk saya dengan erat beberapa waktu lamanya. Bentuk perhatiannya yang tenang itu mengalirkan damai yang baru saya rasakan di tengah duka pada hari yang berat itu. Saya disadarkan bahwa saya tidak benar-benar sendirian.
Seperti kata Daud dalam Mazmur 16, damai dan sukacita yang Allah berikan bukanlah hasil dari pikiran kita yang sengaja mengabaikan rasa sakit. Damai tersebut merupakan pemberian yang kita terima dan alami saat berlindung pada Allah kita yang baik (ay.1-2).
Kita bisa saja menyikapi kesedihan karena kematian seseorang dengan cara mengalihkan perhatian. Kita pikir kepedihan takkan terasa jika kita mengabaikannya. Namun, cepat atau lambat kita akan sadar bahwa segala upaya untuk menghindari kepedihan justru membuat kita semakin menderita (ay.4).
Sebaliknya, kita dapat berpaling kepada Allah, dengan mempercayai bahwa hidup yang sudah Dia berikan itu—meski ada kepedihan—tetap baik dan indah, meski kita tidak mengerti sepenuhnya (ay.6-8). Kita bisa berserah kepada tangan kasih-Nya yang dengan lembut menopang kita di dalam kedukaan dan memberi kita damai serta sukacita yang tak bisa direnggut oleh maut sekalipun (ay.11). —Monica Brands
Bapa, terima kasih atas tangan-Mu yang selalu memeluk dan menopang kami di kala suka maupun duka. Tolong kami untuk mencari pemulihan kami di dalam Engkau.
Kasih Allah memampukan kita melewati kepedihan dan mengubahnya menjadi damai dan sukacita.

Thursday, February 7, 2019

Pekerjaan Baik Telah Dipersiapkan

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. —Efesus 2:10
Pekerjaan Baik Telah Dipersiapkan
Seorang pria asing bertubuh kekar menghampiri saya dan istri saat kami berjalan kaki di luar negeri. Kami pun langsung ketakutan, mengingat dalam liburan itu kami sudah beberapa kali mengalami perlakuan tidak menyenangkan: dibentak, ditipu, dan diperas orang. Akankah kami mengalami peristiwa buruk lagi? Kami terkejut ketika ternyata orang itu hanya ingin memberi tahu tempat terindah di kotanya. Ia bahkan memberi kami sebatang cokelat, tersenyum, lalu pergi. Tindakan sederhana itu membuat hati kami ceria dan sisa liburan kami terasa menyenangkan. Kami pun berterima kasih—kepada orang tersebut sekaligus Allah yang telah menghibur kami.
Mengapa pria itu berbuat baik kepada dua orang asing seperti kami? Apakah ia memang berkeliling membawa sebatang cokelat sepanjang hari itu, sambil mencari seseorang yang bisa diberkatinya?
Sungguh menakjubkan bagaimana tindakan yang sangat sederhana bisa menghasilkan kebahagiaan yang sangat besar—bahkan mungkin membawa seseorang kepada Allah. Alkitab menyatakan pentingnya perbuatan baik (Yak. 2:17,24). Jika itu tampaknya sulit, kita mendapat kepastian bahwa Allah tidak hanya akan memampukan kita melakukan pekerjaan baik itu, tetapi juga telah mempersiapkan semua pekerjaan itu sebelumnya (Ef. 2:10).
Mungkin Allah telah mengatur kita untuk “berpapasan” dengan seseorang yang membutuhkan penghiburan atau Dia memberi kita kesempatan untuk membantu seseorang. Yang perlu kita lakukan hanyalah menanggapinya dengan taat. —Leslie Koh
Siapa yang bisa kita bantu dan doakan hari ini? Siapa saja yang Allah pertemukan denganmu?
Tuhan, kiranya aku taat membagikan kasih-Mu kepada sesamaku sebagaimana Engkau telah mengasihiku.

Wednesday, February 6, 2019

Kasih Kristus Mengubah Kita

Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. —Kisah Para Rasul 9:20
Kasih Kristus Mengubah Kita
Sebelum mengenal Yesus, hati saya pernah begitu terluka hingga saya enggan menjalin hubungan akrab karena takut terluka lebih dalam. Ibu menjadi sahabat terdekat saya, sampai kemudian saya menikah dengan Alan. Tujuh tahun kemudian, di ambang perceraian, saya pergi ke sebuah kebaktian bersama anak kami yang masih TK, Xavier. Saya duduk di dekat pintu, enggan untuk percaya, meski sebenarnya sangat mengharapkan pertolongan.
Syukurlah, jemaat di sana menyambut kami, mendoakan keluarga kami, dan mengajari saya cara menjalin hubungan dengan Allah melalui doa dan pembacaan Alkitab. Seiring waktu, kasih Kristus dan para pengikut-Nya mengubah saya.
Dua tahun setelah pertama kalinya menghadiri kebaktian itu, saya, Alan, dan Xavier meminta untuk dibaptis. Beberapa waktu kemudian, dalam perbincangan yang biasa kami lakukan tiap minggu, ibu saya berkata, “Sekarang kamu lain. Ceritakan lebih banyak tentang Yesus.” Beberapa bulan kemudian, ia pun menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.
Yesus mengubah kehidupan . . . seperti kehidupan Saulus, salah satu penganiaya yang paling ditakuti oleh gereja pada zamannya sebelum ia bertemu dengan Kristus (Kis. 9:1-5). Orang percaya lainnya menolong Saulus belajar lebih banyak tentang Yesus (ay.17-19). Perubahan hidupnya yang drastis telah meneguhkan kredibilitas pengajarannya yang penuh dengan kuasa Roh Kudus (ay.20-22).
Perjumpaan pertama kita secara pribadi dengan Yesus mungkin tidak sedramatis pengalaman Saulus. Perubahan hidup kita mungkin tidak terjadi begitu cepat atau drastis. Namun, karena orang-orang memperhatikan bagaimana kasih Kristus mengubah kita dari waktu ke waktu, akan datang kesempatan bagi kita untuk menceritakan kepada orang lain tentang karya Allah dalam diri kita. —Xochitl Dixon
Kehidupan yang diubahkan oleh kasih Kristus layak untuk diceritakan.

Tuesday, February 5, 2019

Perubahan Hati

Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. —Bilangan 9:17
Perubahan Hati
Menurut Lembaga Sensus AS, orang Amerika pindah rumah rata-rata 11 sampai 12 kali sepanjang hidup mereka. Dalam setahun terakhir, 28 juta orang berkemas, pindah, dan menempati rumah mereka yang baru.
Sepanjang 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun, tiang awan tanda kehadiran Allah memimpin seluruh bangsa itu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain menuju negeri baru yang telah dijanjikan. Perpindahan itu terjadi begitu seringnya hingga tampak lucu. Keluarga demi keluarga dalam jumlah besar berulang kali mengemas dan membongkar barang-barang mereka, serta kemah dan perabotan tabernakel, tempat Allah bertemu dengan Musa dalam tiang awan (lihat Kel. 25:22).
Berabad-abad kemudian, Tuhan Yesus menyatakan makna sejati dari riwayat Israel yang sering berpindah-pindah. Yesus tidak datang dalam bentuk tiang awan, melainkan sebagai pribadi. Ketika berkata, “Mari, ikutlah Aku” (Mat. 4:19), Yesus mulai menunjukkan bahwa yang terpenting dari perpindahan tempat adalah terjadinya perubahan hati. Di hadapan kawan dan lawan yang berkumpul di bawah kaki salib-Nya, Yesus menunjukkan sejauh mana Allah—yang dahulu hadir dalam bentuk tiang awan dan di dalam tabernakel—rela bertindak untuk menyelamatkan kita.
Seperti pindah rumah, perubahan hati juga tidak mudah. Namun, suatu hari nanti, saat kita sudah berdiam di rumah Bapa, kita akan menyadari bahwa Yesus telah memimpin kita di sepanjang jalan hidup ini. —Mart DeHaan
Dalam hal apa saja kamu kesulitan untuk mengikut Tuhan? Bagaimana doa dapat menguatkan iman dan keyakinanmu kepada-Nya?
Tuhan, Engkau tahu kami tidak suka berpindah-pindah, tetapi kami ingin mengikuti Engkau. Tolong kami untuk menaati tuntunan kasih-Mu hari ini.

Monday, February 4, 2019

Semua yang Kulihat

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30
Semua yang Kulihat
Di tengah musim dingin, pada suatu hari yang bersalju, Krista berdiri sembari memandang keindahan mercusuar yang tertutup salju di tepi danau. Saat mengeluarkan ponsel untuk memotret pemandangan itu, kacamatanya ditutupi kabut. Karena tak bisa melihat apa pun, ia memutuskan untuk mengarahkan kamera ponsel ke arah mercusuar dan mengambil tiga gambar dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Setelah melihat hasil fotonya, ia baru sadar kalau kameranya diatur di posisi selfie. Sambil tertawa, ia berkata, “Fokusku selalu aku, aku, dan aku. Semua yang kulihat hanya diriku sendiri.” Foto-foto Krista membuat saya terpikir tentang kesalahan serupa yang kita lakukan: Kita bisa terlalu berfokus pada diri sendiri hingga gagal melihat gambaran yang lebih besar dari rencana Allah.
Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus, tahu betul bahwa yang menjadi fokus bukanlah dirinya sendiri. Sejak awal ia menyadari bahwa posisi atau panggilannya adalah untuk mengarahkan orang kepada Yesus, Anak Allah. “Lihatlah Anak domba Allah!” kata Yohanes ketika melihat Yesus berjalan ke arahnya dan para pengikutnya (Yoh. 1:29). Ia melanjutkan, “Untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel” (ay.31). Ketika belakangan murid-murid Yohanes menceritakan bahwa Yesus mendapat banyak pengikut, Yohanes berkata, “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. . . . Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (3:28-30).
Kiranya fokus utama dalam hidup kita adalah Yesus dan mengasihi-Nya dengan segenap hati. —Anne Cetas
Bagaimana aku bisa mengasihi Yesus dengan sebaik-baiknya? Siapa yang dikehendaki-Nya untuk kukasihi sekarang ini?
Tuhan, sering aku berfokus pada diri, kebutuhan, dan keinginanku sendiri. Tolong aku tak lagi berfokus pada diriku, melainkan kepada diri-Mu.

Sunday, February 3, 2019

Telinga untuk Mendengar

Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol dan yang tidak mempunyai pikiran, yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar! —Yeremia 5:21
Telinga untuk Mendengar
Aktris Diane Kruger pernah ditawari sebuah peran yang akan membuat namanya tenar. Ia diminta untuk memerankan istri sekaligus ibu muda yang kehilangan suami dan anaknya. Karena belum pernah mempunyai pengalaman semacam itu, ia tak tahu apakah bisa memerankannya dengan baik. Diane tetap menerima tawaran tersebut, dan dalam persiapannya, ia pun menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk memberikan dukungan bagi orang yang sedang berduka.
Awalnya, ia mencoba memberi saran dan pandangan saat orang-orang dalam kelompoknya membagikan kisah mereka. Seperti kebanyakan dari kita, ia berniat baik dan mencoba memberi pertolongan. Namun, lambat laun ia berhenti bicara dan hanya mendengar saja. Saat itulah ia benar-benar belajar merasakan penderitaan orang lain. Ia belajar ketika ia mendengarkan.
Yeremia mengecam Israel karena mereka tidak mau memakai “telinga” mereka untuk mendengarkan suara Tuhan. Sang nabi memberi teguran keras dengan menyebut mereka “tolol dan . . . tidak mempunyai pikiran” (Yer. 5:21). Allah senantiasa bekerja dalam hidup kita untuk menyatakan pesan kasih, pengajaran, dorongan, dan peringatan. Allah Bapa rindu agar kita belajar dan menjadi dewasa. Setiap orang telah diperlengkapi, salah satunya dengan telinga, untuk dapat belajar. Maukah kita menggunakan telinga kita untuk mendengarkan suara hati Bapa? —John Blase
Ya Bapa, aku percaya Engkau selalu berbicara kepadaku. Ampuni kebebalanku yang membuatku berpikir bahwa aku sudah tahu semuanya dan tidak perlu belajar lagi. Bukalah telingaku supaya aku mendengar suara-Mu.
Telinga yang bersedia mendengar dapat menolong kita bertumbuh dewasa dalam iman.

Saturday, February 2, 2019

Dipulihkan

Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang. —Yoel 2:25
Dipulihkan
Pada tahun 2003, serangan jangkrik Mormon menyebabkan gagal panen yang membawa kerugian lebih dari 25 juta dolar AS. Serangga itu muncul begitu banyaknya hingga nyaris menutup permukaan tanah. Serangga mirip belalang itu dijuluki demikian karena pernah menyerang tanaman milik para penduduk pertama di wilayah Utah pada tahun 1848. Satu ekor jangkrik dapat melahap makanan dalam jumlah mencengangkan—lebih dari 17 kg hasil tanaman di sepanjang masa hidupnya—meskipun ukuran tubuhnya hanya 5-7,5 cm. Dampak buruk dari hama serangga itu bagi penghidupan petani—dan perekonomian negara secara menyeluruh—sangatlah dahsyat.
Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yoel menyebut serbuan serangga yang merusak seluruh Yehuda sebagai akibat ketidaktaatan mereka sebagai sebuah bangsa. Ia menubuatkan datangnya serangan belalang yang lebih dahsyat daripada tahun-tahun terdahulu (Yl. 1:2). Gerombolan belalang itu akan melahap semua yang mereka temui hingga bangsa Yehuda mengalami paceklik dan jatuh miskin. Namun, jika Yehuda mau bertobat dari dosa mereka dan memohon pengampunan dari Allah, Yoel mengatakan bahwa Tuhan akan ”memulihkan kepada [mereka] tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang” (2:25).
Kita juga bisa belajar dari Yehuda: seperti belalang, pelanggaran kita menggerogoti kehidupan yang indah dan berbuah seperti yang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, jika kita datang kepada-Nya dan melepaskan semua pilihan kita di masa lalu, Allah berjanji akan menghapus aib kita dan memulihkan kita untuk kembali mengalami hidup yang berkelimpahan di dalam Dia. —Kirsten Holmberg
Untuk hal apa kamu ingin meminta pengampunan dari Allah hari ini?
Kasih Allah memulihkan.

Friday, February 1, 2019

Kedalaman Kasih

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8
Kedalaman Kasih
Waktu pertama kali keduanya bertemu, Edwin Stanton memandang rendah presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara pribadi maupun profesional. Stanton bahkan menjuluki Lincoln sebagai “mahkluk bertangan panjang”. Namun, Lincoln menghargai kemampuan Stanton dan memaafkannya, bahkan memberi Stanton posisi penting di dalam kabinetnya semasa Perang Saudara. Stanton pun mulai menganggap Lincoln sebagai sahabatnya. Stantonlah yang sepanjang malam berada di samping tempat tidur Lincoln setelah sang presiden ditembak di Gedung Ford’s Theater. Pada saat Lincoln wafat, dengan berlinang air mata Stanton berkata, “Sekarang, ia telah masuk dalam keabadian.”
Perdamaian adalah hal yang indah. Rasul Petrus menganjurkannya kepada para pengikut Yesus lewat tulisannya, “Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr. 4:8). Perkataan Petrus membuat saya bertanya-tanya apakah saat itu ia teringat akan penyangkalannya sendiri terhadap Yesus (Luk. 22:54-62) dan pengampunan yang Yesus berikan kepadanya (dan kepada kita) melalui karya-Nya di kayu salib.
Kedalaman kasih yang ditunjukkan Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib membebaskan kita dari utang dosa dan membuka jalan bagi kita untuk berdamai dengan Allah (Kol. 1:19-20). Pengampunan-Nya memampukan kita mengampuni sesama ketika kita menyadari ketidakmampuan kita untuk mengampuni dengan kekuatan kita sendiri dan meminta Dia untuk menolong kita. Ketika kita mengasihi sesama karena Sang Juruselamat juga mengasihi mereka, dan kita bersedia mengampuni orang lain karena Dia sudah mengampuni kita, Allah akan memberi kekuatan untuk meninggalkan masa lalu dan berjalan maju bersama-Nya untuk mengalami anugerah yang indah dan baru. —James Banks
Kerelaan Allah untuk mengampuni menjadi ujian terhadap sikap saya sendiri. —Oswald Chambers
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate