Pages - Menu

Thursday, October 31, 2019

Kisah Bekas Luka

Lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. —Yohanes 20:27
Kisah Bekas Luka
Semasa kecil, saya pernah melihat kupu-kupu terbang di antara tanaman bunga ibu saya dan saya ingin menangkapnya. Saya pun buru-buru berlari kembali ke dapur dan menyambar stoples kaca, tetapi karena terburu-buru, saya tersandung dan terjatuh di atas lantai teras yang terbuat dari beton. Stoples yang saya bawa pecah berantakan dan menyayat bagian bawah pergelangan tangan saya hingga dibutuhkan delapan belas jahitan untuk menutupnya. Bekas luka itu melingkar seperti ulat di pergelangan tangan saya sebagai kesaksian tentang luka dan kesembuhan yang saya alami.
Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kematian-Nya, Dia juga membawa bekas luka-Nya. Yohanes melaporkan bahwa Tomas ingin melihat “bekas paku pada tangan-Nya” dan Yesus mengundang Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh. 20:25,27). Untuk membuktikan bahwa Dialah Yesus yang sama, Dia bangkit dari kematian dengan bekas-bekas luka dari penderitaan-Nya yang masih terlihat jelas.
Bekas luka Yesus membuktikan bahwa Dialah Juruselamat dan menjadi kesaksian tentang kisah penyelamatan kita. Bekas paku di tangan dan kaki-Nya serta lubang di lambung-Nya mengungkapkan kisah tentang penderitaan yang ditimpakan kepada-Nya, yang ditanggung-Nya, dan yang kemudian disembuhkan—semua demi kita. Dia melakukannya agar kita dipulihkan dan kembali kepada-Nya.
Pernahkah kamu merenungkan bekas luka Kristus? —Elisa Morgan
WAWASAN
Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas)—disebut demikian karena ketiganya berisi banyak peristiwa serupa dengan urutan waktu yang sama—tidak menceritakan apapun tentang Tomas kecuali mencantumkan namanya dalam daftar dua belas rasul (Matius 10:3; Markus 3:18; Lukas 6:15). Dalam Injil Yohanes, barulah kita melihat lebih banyak mengenai interaksinya dengan Yesus (Yohanes 11:14-16; 14:5-6; 20:24-29; 21:1-14). Dalam Yohanes 11:16, ia disebut “Tomas (yang disebut Didimus).” Tomas adalah namanya dalam bahasa Ibrani; Didimus dalam bahasa Yunani, yang bermakna “kembar.” Jadi, sejumlah terjemahan menuliskan namanya sebagai “Thomas, si kembar” (NLT, ESV, NKJV). Yohanes menggambarkan Tomas sebagai orang yang sungguh-sungguh mempercayai Yesus. Ketika Lazarus mati, Yesus hendak kembali ke Yudea untuk melihatnya (11:14). Sebelum itu, orang Yahudi berusaha merajam Yesus (10:31, 39), sehingga sangatlah berbahaya bagi-Nya untuk kembali ke Yudea. Tomas memperlihatkan pengabdian penuh kepada Kristus ketika ia mengajak para murid lainnya, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (11:16). —K.T. Sim
Bagaimana bekas luka Sang Juruselamat menjanjikan pemulihan bagi luka-luka yang kita tanggung? Luka apa yang akan kamu bawa kepada-Nya hari ini?
Ya Tuhan Yesus, betapa aku mensyukuri kesaksian dari bekas luka-Mu yang Engkau ceritakan kepadaku dan kepada dunia ini. Kiranya aku belajar semakin mengasihi-Mu melalui kisah tentang bekas luka-Mu itu.

Wednesday, October 30, 2019

Terang Dalam Kegelapan

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33
Terang Dalam Kegelapan
Dalam buku These Are the Generations, Mr. Bae bercerita tentang kesetiaan Allah dan kuasa Injil dalam menembus kegelapan. Kakek, orangtua, dan keluarganya sendiri menderita penganiayaan karena membagikan iman mereka di dalam Kristus ke orang lain. Namun, ada hal menarik yang terjadi ketika Mr. Bae dipenjara karena bersaksi tentang Allah kepada seorang teman: Ia merasakan imannya bertumbuh. Hal yang sama terjadi kepada orangtuanya ketika mereka dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Mereka terus membagikan kasih Kristus di sana. Bagi Mr. Bae, janji dalam Yohanes 1:5 itu benar adanya: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”
Sebelum ditangkap dan disalibkan, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya mengenai penganiayaan yang akan mereka hadapi. Mereka akan ditolak oleh orang-orang yang “akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku” (16:3). Namun, Yesus memberikan penghiburan ini: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (ay.33).
Meskipun banyak orang yang percaya kepada Yesus belum pernah mengalami penganiayaan seperti yang dialami keluarga Mr. Bae, bukan berarti hidup kita akan bebas dari masalah. Namun, kita tidak perlu menyerah, kecewa, atau menyimpan kebencian. Kita mempunyai Penolong, yaitu Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Kita dapat meminta tuntunan dan penghiburan dari-Nya (ay.7). Kuasa kehadiran Allah sanggup menopang kita di masa-masa yang kelam. —Linda Washington
WAWASAN
Yesus berjanji bahwa kenaikan-Nya ke surga adalah hal baik bagi para murid-Nya karena kepergian-Nya akan mengawali turunnya Roh Kudus, Penghibur dan Pembela kita (Yohanes 16:7). Namun, setelah Roh Kudus datang, penganiayaan akan terjadi. Para pemuka agama akan membunuh pengikut Yesus, dengan berpikir bahwa tindakan itu adalah pelayanan kepada Allah (ay.2). Yesus tahu para murid-Nya akan membutuhkan penghiburan dan pertolongan Roh Kudus selama masa-masa sulit itu—sesuatu yang juga kita butuhkan saat ini. —J.R. Hudberg
Kesulitan apa yang pernah dialami kamu atau orang lain yang kamu kenal sebagai orang percaya? Apa reaksi mula-mula kamu saat menghadapi kesulitan tersebut?
Bapa Surgawi, lindungilah anak-anak-Mu yang menderita penganiayaan.

Tuesday, October 29, 2019

Jalan yang Tidak Dikenal

Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. —Yesaya 42:16
Jalan yang Tidak Dikenal
Orang-orang bertanya apakah saya mempunyai rencana lima tahunan. Bagaimana mungkin saya merencanakan lima tahun ke depan sementara saya belum pernah menjalaninya?
Saya terkenang kembali ke dekade 1960-an sewaktu saya menjadi pembina rohani bagi para mahasiswa Universitas Stanford. Waktu kuliah, saya mengambil jurusan pendidikan jasmani dan sangat menikmati masa-masa itu, tetapi saya tidak mempunyai pengalaman mengajar. Saya merasa sangat tidak kompeten dalam kedudukan baru saya. Saya sering berkeliling di kampus, seperti orang buta yang menggapai-gapai dalam kegelapan, memohon Allah untuk menunjukkan apa yang harus saya lakukan. Suatu hari, seorang mahasiswa tiba-tiba meminta saya memimpin pendalaman Alkitab untuk kelompoknya. Dari sanalah semuanya bermula.
Allah tidak berdiri di persimpangan jalan dan menunjukkan arah yang harus kita tempuh, karena Dia bukan rambu jalan. Dia adalah Pemandu yang berjalan bersama kita, menuntun kita ke jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kita hanya perlu berjalan bersama-Nya.
Jalannya tidak mudah; akan ada “tanah yang berkeluk-keluk”, tetapi Allah telah berjanji akan “membuat kegelapan . . . menjadi terang” dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita (Yes. 42:16). Dia akan selalu menyertai kita di sepanjang jalan.
Paulus berkata bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20). Kita bisa merencanakan dan membayangkan apa yang mau kita lakukan, tetapi pemikiran Tuhan jauh melampaui rencana kita. Serahkanlah rencana kita kepada-Nya dan lihatlah apa yang menjadi kehendak-Nya atas kita. —David H. Roper
WAWASAN
Dalam Yesaya 42:1-9, Allah berfirman mengenai “hamba-Ku,” nubuat pertama dari empat nubuatan Yesaya (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12) yang dikenal dengan “Nyanyian Hamba.” Pertama, hamba merujuk kepada bangsa Israel (Yesaya 41:8; 49:3) dan kemudian kepada Yesus (Matius 12:17-20). Setelah memberitahukan tugas dan belas kasih hamba Allah (Yesaya 42:1-9), sang nabi menuliskan “nyanyian baru” (ay.10), mengajak kita “bersorak sorai . . . [dan] memberi penghormatan kepada TUHAN” (ay.11-12) atas keselamatan dari-Nya. —K.T. Sim
Bagaimana cara Allah mengubah kegelapanmu menjadi terang? Apa sukacita terbesarmu ketika kamu berjalan bersama-Nya?
Tuhan Yesus, aku mengucap syukur karena rencana-Mu bagiku jauh melampaui yang dapat kubayangkan. Tolonglah aku setia mengikut-Mu.

Monday, October 28, 2019

Berjalan Seperti Pahlawan

Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada [Gideon] dan berfirman kepadanya, . . . “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” —Hakim-hakim 6:12
Berjalan Seperti Pahlawan
Emma yang berusia delapan belas tahun sangat setia berbicara tentang Yesus di media sosial, meskipun banyak orang yang mengkritik semangat dan kasihnya kepada Kristus. Beberapa orang mengejek penampilannya. Yang lain menganggapnya bodoh karena imannya kepada Allah. Meskipun ejekan itu sangat menyakiti hati, Emma tetap mengabarkan Injil dengan keberanian dan kasih. Namun, ia sempat tergoda meyakini bahwa identitas dan nilai dirinya ditentukan oleh kritikan orang. Saat itu terjadi, ia meminta Allah menolongnya, berdoa bagi mereka yang memusuhinya, merenungkan Alkitab, dan tetap bertekun dengan keberanian dan keyakinan dari Roh Kudus.
Gideon juga menghadapi orang-orang Midian yang kejam (Hak. 6:1-10). Meskipun Allah menyebutnya “pahlawan yang gagah berani,” Gideon bergumul mengenyahkan keragu-raguannya, batasan yang dibuatnya sendiri, dan ketidakpercayaan dirinya (ay.11-15). Beberapa kali ia mempertanyakan kehadiran Tuhan dan kemampuan dirinya sendiri, tetapi akhirnya ia mau berserah dalam iman kepada Allah.
Ketika kita mempercayai Allah, kita bisa hidup dengan mempercayai bahwa apa yang difirmankan-Nya tentang kita adalah benar. Bahkan di saat pertentangan membuat kita mempertanyakan identitas kita, Bapa yang penuh kasih menegaskan bahwa Dia hadir dan berperang untuk kita. Dia menegaskan bahwa kita bisa berjalan seperti pahlawan yang gagah berani, dipersenjatai dengan kasih-Nya yang luar biasa, dipelihara dengan anugerah-Nya yang tidak berkesudahan, dan terlindung aman dalam kebenaran-Nya yang dapat diandalkan. —Xochitl Dixon
WAWASAN
Ketika bangsa Israel berseru kepada Allah dan meminta tolong setelah bertahun-tahun mengabaikan-Nya (Hakim-hakim 6:6), Dia mengutus seorang nabi untuk menegur mereka (ay.7-10). Kemudian Allah mulai bekerja, tetapi Gideon tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra” (ay.11). Gideon bertanya kepada-Nya, “Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami?” (ay.13). Ketika api membakar habis persembahan Gideon (ay.21), barulah ia merasakan hadirat Allah (ay.22). Setelah tanda ajaib ini, Gideon masih membutuhkan jaminan yang lebih banyak dari-Nya (ay.36-40) sebelum memimpin kawanan yang sedikit jumlahnya untuk melawan musuh (ps.7). —Tim Gustafson
Bagian Alkitab mana yang membantu kamu tetap kuat ketika kamu mulai meragukan identitas dan nilai dirimu? Apa yang dapat kamu lakukan untuk menghadapi ucapan-ucapan yang mengkritikmu?
Ya Tuhan, tolong kami mengingat kasih-Mu dan menanggapi dengan penuh kasih setiap kali seseorang menggoda kami untuk meragukan nilai diri kami atau mempertanyakan peran yang Engkau percayakan kepada kami.

Sunday, October 27, 2019

Turun ke Jalan

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. —Markus 2:17
Turun ke Jalan
Para petugas dinas kesehatan kota San Francisco memutuskan untuk turun ke jalan guna menyediakan obat-obatan dan perawatan bagi kaum tunawisma yang kecanduan opium. Program tersebut dimulai sebagai respons atas meningkatnya jumlah tunawisma yang menjadi pecandu. Biasanya, dokterlah yang menunggu pasien datang ke klinik. Dengan program turun ke jalan ini, pasien tidak perlu lagi merogoh kocek untuk membayar ongkos ke klinik atau mengingat-ingat jadwal pemeriksaan dengan dokter.
Kerelaan para petugas dinas kesehatan untuk mendatangi mereka yang membutuhkan perawatan itu mengingatkan saya pada cara Tuhan Yesus yang datang kepada kita di saat kita membutuhkan-Nya. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mencari orang-orang yang tidak dipedulikan oleh para pemuka agama: Dia makan bersama “pemungut cukai dan orang berdosa” (ay.16). Ketika ditanya mengapa Dia melakukannya, Yesus menjawab, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (ay.17). Dia lalu menyatakan bahwa Dia memang bermaksud memanggil mereka yang berdosa, bukan orang yang benar, untuk menjalin hubungan dengan-Nya.
Ketika menyadari bahwa kita semua “sakit” dan membutuhkan Sang Tabib (Rm. 3:10), kita akan semakin menghargai kesediaan Yesus untuk makan bersama “pemungut cukai dan orang berdosa”—yaitu kita. Kemudian, Yesus pun menetapkan kita untuk “turun ke jalan” guna membawa pesan keselamatan dari-Nya kepada setiap orang yang membutuhkannya. —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Pemungut cukai dihujat dan dibenci oleh bangsa Yahudi karena mereka dipandang sebagai orang upahan dan pengkhianat yang bekerja bagi Romawi, bangsa penjajah. Mereka juga memungut pajak lebih banyak daripada ketentuan resmi, mengantongi selisihnya dan secara licik memperkaya diri di atas penderitaan bangsa mereka sendiri (Lukas 3:13-14). Istilah “orang berdosa” digunakan untuk menggambarkan mereka yang terkenal jahat—para pemberontak yang menolak hukum Allah. Orang Farisi juga menggunakan istilah “orang berdosa” untuk menyebut siapapun yang tidak sungguh-sungguh menjaga kekudusan ibadah ataupun mengikuti aturan mereka yang kaku. Para pemungut cukai sengaja digolongkan bersama para pendosa untuk memperlihatkan betapa bejat dan jahatnya mereka. Yesus diundang makan oleh berbagai jenis orang, bahkan oleh orang Farisi (Lukas 7:36; 11:37; 14:1). Namun, Dia justru sering makan bersama mereka terkucilkan secara sosial dan rohani—dianggap sebagai sampah masyarakat—sehingga Dia dikenal sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Matius 11:19). —K.T. Sim
Bagaimana cara Yesus mencarimu? Kepada siapa kamu dapat membawa kesembuhan dari Yesus?
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau telah menemukanku di saat aku sangat membutuhkan-Mu.

Saturday, October 26, 2019

Benih-Benih Anugerah

Benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. —Markus 4:27
Benih-Benih Anugerah
Selama hampir empat dekade, seorang pria di India bekerja keras membuat sebuah lahan kosong yang berpasir menjadi hijau kembali. Setelah melihat erosi dan perubahan ekosistem merusak pulau yang ia cintai, ia pun mulai menanam pohon satu demi satu, dari pohon bambu hingga pohon kapas. Sekarang, pohon-pohon hijau dan satwa liar memenuhi lahan seluas 1.300 hektar itu. Namun, pria itu bersikeras bahwa kelahiran kembali wilayah tersebut dari kegersangan bukanlah hasil kerja kerasnya. Ia menyadari betapa luar biasanya cara kerja alam ini sekaligus kagum pada cara angin yang dapat membawa benih-benih ke tanah yang subur. Burung-burung dan hewan-hewan liar ikut berpartisipasi dalam menaburkannya, dan sungai juga berperan dalam membantu berbagai tanaman dan pohon berkembang.
Cara kerja alam ini tidak selalu dapat kita mengerti atau kendalikan. Menurut Yesus, prinsip yang sama juga berlaku dalam Kerajaan Allah. Dia berkata, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk. 4:26-27). Allah memberikan kehidupan dan pemulihan kepada dunia sebagai anugerah, tanpa campur tangan kita. Kita hanya melakukan apa yang Tuhan kehendaki dari kita, lalu kita melihat kehidupan berkembang. Kita tahu bahwa segala sesuatu berasal dari anugerah-Nya.
Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah hati seseorang atau memastikan hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan setia. Kita tidak perlu hidup dengan tekanan tersebut, karena Allah sendiri yang akan menumbuhkan benih yang kita tabur. Semua karena anugerah-Nya. —Winn Collier
WAWASAN
Dalami Markus 4 (lihat juga Matius 13:1-3; Lukas 5:1-3), tertulis bahwa orang banyak yang berkumpul untuk mendengarkan pengajaran Yesus begitu besar jumlahnya sehingga Dia harus naik ke atas perahu. Mengapa begitu? Karena suara bisa merambat lebih jauh di atas perairan, dan pantai Danau Galilea atau Danau Genesaret (juga disebut Danau Tiberias) di dekat Kapernaum adalah amfiteater alami. Bentuknya melandai turun menuju danau atau teluk—yang kini disebut Teluk Perumpamaan—yang sanggup menampung ribuan orang duduk nyaman dan tata letaknya memungkinkan semua orang mendengarkan suara Kristus. —Alyson Kieda
Pernahkah kamu tergoda untuk berpikir bahwa kamu bertanggung jawab atas pertumbuhan atau hasil yang kamu usahakan? Mengapa sangat penting bagi kita untuk mengandalkan anugerah Allah daripada usaha kita sendiri?
Allah terus berkarya menumbuhkan Kerajaan-Nya oleh anugerah-Nya.

Friday, October 25, 2019

Diikat Menjadi Satu

Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. —Pengkhotbah 4:12
Diikat Menjadi Satu
Seorang teman memberikan tanaman hias koleksinya yang sudah dipeliharanya selama lebih dari empat puluh tahun. Tanaman itu setinggi saya dengan daun-daun besar yang tumbuh dari tiga batang kurus yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, berat daun-daun itu menyebabkan ketiga batangnya tumbuh melengkung ke bawah. Untuk meluruskannya, saya menyangganya dengan pasak yang ditaruh di bawah pot dan meletakkan pot tersebut dekat jendela supaya sinar matahari dapat menarik daun-daun tersebut ke atas dan mengembalikan bentuk tanaman tersebut seperti semula.
Tak lama setelah menerima pemberian tersebut, saya melihat tanaman yang mirip di ruang tunggu sebuah kantor. Tanaman itu juga tumbuh dari tiga batang terpisah yang tinggi kurus, tetapi ketiga batang tersebut diikat menjadi satu sehingga menghasilkan satu batang besar yang lebih kukuh. Tanaman itu dapat berdiri tegak tanpa bantuan penyangga.
Dua orang bisa saja tinggal dalam satu “wadah” yang sama selama bertahun-tahun, tetapi tumbuh masing-masing dan tidak mengalami secara penuh kebaikan-kebaikan yang Allah sediakan bagi mereka. Namun, ketika hidup mereka diikat menjadi satu bersama Allah, hidup mereka akan menjadi lebih mantap dan dekat. Hubungan mereka akan semakin kuat. “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pkh. 4:12)
Seperti halnya tanaman hias, pernikahan dan persahabatan juga harus dipelihara. Merawat hubungan-hubungan tersebut membutuhkan kesatuan rohani dengan kehadiran Allah di pusat dari setiap ikatannya. Allah adalah sumber yang abadi dari kasih dan anugerah—dua hal yang paling kita butuhkan untuk dapat tetap menyatu dengan bahagia dalam kehidupan bersama. —Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Kitab Pengkhotbah digolongkan ke dalam kelompok Kitab Puisi atau Kitab Hikmat. Menurut penafsiran tradisional, penulis kitab ini diperkirakan adalah Salomo karena adanya keterangan “anak Daud, raja di Yerusalem” (1:1). Namun, istilah “anak” pada zaman itu sering digunakan untuk merujuk kepada keturunan, bukan melulu putra/anak secara langsung. Orang ini bisa saja keturunan Daud yang kesekian. Banyak pakar Alkitab menyebut penulisnya Qoheleth (Pengkhotbah 1:2), kata Ibrani yang artinya guru. Kata ini merujuk kepada individu yang mengajar sekumpulan orang. Sejumlah pakar beranggapan bahwa kitab ini ditulis oleh dua orang karena bahasa yang digunakan berubah dari orang pertama kepada orang ketiga lalu kembali ke orang pertama. —Julie Schwab
Apa yang dapat kamu lakukan untuk mempererat ikatan persekutuanmu dengan orang-orang terdekatmu? Perubahan apa yang mungkin terjadi apabila melayani Tuhan dan beribadah kepada Dia menjadi prioritasmu bersama?
Ya Allah, aku menyambut-Mu masuk dalam hubunganku dengan orang-orang terdekatku.

Thursday, October 24, 2019

Hanya Sentuhan Biasa

Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.” —Wahyu 1:17
Hanya Sentuhan Biasa
Hanya sentuhan biasa, tetapi ternyata itu membawa dampak besar bagi Colin. Ia merasakan ketegangan yang semakin meningkat saat kelompok kecilnya sedang bersiap untuk mengikuti suatu pelayanan sosial di daerah yang dikenal sangat tidak bersahabat kepada orang Kristen. Ketika menceritakan kekhawatirannya tersebut kepada seorang rekannya, rekan ini berhenti sejenak, meletakkan tangannya di bahu Colin, lalu mengucapkan beberapa kalimat yang menguatkan hatinya. Kini Colin mengenang sentuhan biasa itu sebagai titik balik yang mengingatkannya kepada kebenaran sederhana, yaitu bahwa Allah selalu menyertainya.
Yohanes, murid dan sahabat karib Yesus, tengah dibuang ke pulau Patmos yang terpencil karena memberitakan Injil, dan di sana ia mendengar “suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala” (Why. 1:10). Kejadian yang mengejutkan itu diikuti dengan kemunculan Tuhan sendiri di hadapannya, dan Yohanes pun tersungkur “di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati.” Namun, di saat yang sangat menakutkan itu, ia mendapat penghiburan dan keberanian. Yohanes menulis, “Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir’” (ay.17).
Allah membawa kita keluar dari zona nyaman untuk memperlihatkan hal-hal baru, memperbesar kapasitas kita, dan menolong kita bertumbuh. Namun, Dia juga mengaruniakan penghiburan dan keberanian yang memampukan kita melewati setiap keadaan. Dia tidak akan meninggalkan kita menghadapi pencobaan seorang diri. Segala sesuatu berada di bawah kendali-Nya. Tangan-Nya terus memegang kita. —Tim Gustafson
WAWASAN
Saat melihat Yesus dalam sebuah penglihatan, Yohanes tersungkur di depan kaki-Nya seperti orang yang mati (Wahyu 1:17). Hal serupa juga dialami Yohanes enam puluh tahun sebelumnya ketika melihat Kristus dimuliakan di atas Gunung Hermon: “Tersungkurlah murid-murid-Nya [termasuk Yohanes] dan mereka sangat ketakutan” (Matius 17:6). Itulah sikap yang tepat di hadapan “Alfa dan Omega . . . Yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 1:8, 17). Ketika mengungkapkan diri-Nya sebagai “yang Awal dan Yang Akhir,” Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Karena Allah Bapa sendiri sebelumnya befirman, “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku” (Yesaya 44:6). —K.T. Sim
Bagaimana cara Allah membawamu keluar dari zona nyaman? Siapa saja sahabat yang telah diberikan-Nya kepada kamu untuk mendukung dan menghiburmu?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenali kehadiran-Mu dan sentuhan-Mu di tengah hal-hal yang menakutkanku.

Wednesday, October 23, 2019

Inilah Aku

Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. —Yakobus 3:10
Inilah Aku
“This Is Me” (Inilah Aku) adalah lagu hit dari The Greatest Showman, sebuah film musikal sukses yang mengangkat kisah P. T. Barnum dan rombongan sirkus kelilingnya. Dalam film, lagu itu dinyanyikan oleh para tokoh yang pernah dihina dan dilecehkan secara verbal karena dianggap tidak sejalan dengan norma sosial dalam masyarakat. Liriknya menyebutkan bahwa perkataan seseorang bagaikan peluru yang mematikan dan pisau yang melukai. Popularitas lagu itu menunjukkan banyaknya orang yang menderita luka batin akibat kata-kata yang tajam.
Yakobus memahami potensi dari kata-kata kita untuk menimbulkan kerusakan dan luka batin jangka panjang. Ia menyebut lidah sebagai “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:8). Dengan analogi yang tegas, Yakobus menekankan pentingnya orang percaya menyadari kekuatan luar biasa dari ucapan mereka. Ia bahkan menyoroti adanya kontradiksi ketika kita menggunakan lidah kita untuk memuji Allah, tetapi menggunakannya juga untuk mengutuk sesama kita yang diciptakan menurut rupa Allah (ay.9-10).
Lagu “This Is Me” juga menantang ucapan-ucapan yang melukai itu dengan menegaskan bahwa sesungguhnya kita semua adalah ciptaan yang mulia—suatu kebenaran yang juga diakui Alkitab. Alkitab menetapkan bahwa martabat dan keindahan yang unik dari setiap manusia bukan disebabkan oleh penampilan lahiriah atau perbuatan kita, melainkan karena setiap dari kita telah diciptakan dengan indah oleh Allah—sebagai mahakarya-Nya yang unik (Mzm. 139:14). Kata-kata yang kita lontarkan kepada dan tentang satu sama lain berdampak besar untuk menegaskan kebenaran yang menguatkan itu. - Lisa Samra
WAWASAN
Peringatan Yakobus akan bahaya menyalahgunakan lidah berada dalam konteks pengaruh perkataan seorang pengajar (3:1). Perkataan dapat membuahkan perpecahan dan akibat buruk, terutama bila diucapkan oleh orang yang berkuasa dan berpengaruh, maka Yakobus menekankan betapa pentingnya kelemahlembutan sebagai hikmat sejati (ay. 2, 13). Jadi, ketika ia mengatakan bahwa “tidak seorangpun berkuasa menjinakkan lidah” (ay.8), Yakobus bukan memaklumi ucapan-ucapan buruk (seolah karena kita tidak mampu, maka biarkan saja), tetapi justru menekankan pentingnya kelemahlembutan. —Monica Brands
Kepada siapa kamu perlu meminta maaf karena kata-katamu yang melukainya? Bagaimana kamu dapat memberikan dorongan semangat kepada seseorang hari ini?
Allah Pencipta, terima kasih Engkau menciptakan kami satu per satu. Tolonglah kami menggunakan kata-kata kami untuk memuji-Mu dan menyemangati orang lain yang telah Engkau ciptakan dengan indah.

Tuesday, October 22, 2019

Kabar Baik untuk Kaki

Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut . . . Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang hidup. —Mazmur 116:8-9
Kabar Baik untuk Kaki
Iklan itu membuat saya tersenyum: “Kaus kaki paling nyaman sepanjang sejarah kaki.” Kemudian, untuk menegaskan pernyataannya sebagai kabar baik untuk kaki, iklan itu mengatakan bahwa karena kaus kaki adalah jenis pakaian yang paling banyak dibutuhkan di tempat-tempat penampungan tunawisma, maka untuk setiap pasang kaus kaki yang terjual, perusahaan akan mendonasikan sepasang kaus kaki bagi mereka yang membutuhkan.
Bayangkan senyum yang terkembang saat Yesus menyembuhkan kaki seorang laki-laki yang lumpuh selama tiga puluh delapan tahun (Yoh. 5:2-8). Sebaliknya, bayangkanlah raut wajah para pemuka agama yang sama sekali tidak senang melihat kepedulian Yesus terhadap kondisi seseorang yang sudah sekian lama terabaikan. Mereka justru menyalahkan orang tersebut dan juga Yesus karena telah melanggar hukum Taurat yang melarang orang memikul tilam pada hari Sabat (ay.9-10,16-17). Fokus mereka hanyalah pada peraturan, sementara Yesus berfokus pada kebutuhan seseorang akan belas kasihan.
Saat itu, laki-laki tersebut bahkan tidak tahu siapa yang telah menyembuhkan kakinya. Baru di kemudian waktu ia dapat mengatakan bahwa Yesuslah yang telah memberinya kesembuhan (ay.13-15)—Yesus yang juga merelakan kaki-Nya sendiri dipaku pada kayu salib supaya Dia dapat memberikan kepada orang itu—dan kita semua—kabar terbaik sepanjang sejarah manusia yang telah hancur oleh dosa. —Mart DeHaan
WAWASAN
Dalam Lukas 4:18-19, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan mengutip kitab Yesaya (61:1-2) bahwa Mesias akan mengadakan mukjizat. Mukijzat yang dilakukan Kristus menjadi bukti bahwa Dia benar-benar sang Mesias. Dalam Yohanes 5, Yesus berseteru secara terbuka dengan para pemuka agama mengenai jati diri-Nya. Ketika mereka mulai memojokkan Dia karena bekerja pada hari Sabat, Dia menyebut Allah sebagai “Bapa-Ku” (ay.17) dan menyatakan bahwa Allah juga bekerja (pada hari Sabat). Sebagai bukti keilahian-Nya, Yesus menyinggung mukjizat yang baru dilakukan-Nya dan mengatakan bahwa seperti Bapa yang menghidupkan, demikian pula Anak (ay.21). Dengan kata lain, Dia tidak akan sanggup menyembuhkan kaki orang timpang jika tidak memiliki kuasa Bapa. —J.R. Hudberg
Apa yang dibutuhkan orang-orang di sekitarmu? Dalam hal apa Yesus telah memenuhi kebutuhanmu sendiri?
Ceritakanlah kepada orang lain bagaimana Yesus telah memulihkan hidupmu.

Monday, October 21, 2019

Perjamuan Kasih

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. —Yohanes 6:51
Perjamuan Kasih
Dalam film Denmark Babette’s Feast (Perjamuan Babette), seorang pengungsi asal Prancis datang ke sebuah desa di kawasan pesisir. Dua perempuan kakak-beradik lanjut usia yang juga menjadi pemimpin agama di sana menerima pengungsi itu di rumah mereka, dan selama empat belas tahun Babette bekerja sebagai pengurus rumah tangga. Ketika Babette menerima sejumlah besar uang, ia pun mengundang jemaat yang berjumlah dua belas orang untuk menghadiri jamuan mewah dengan hidangan khas Prancis seperti kaviar, pastry isi burung puyuh, dan masih banyak lagi.
Sementara hidangan demi hidangan disajikan, para tamu bersantai; beberapa mulai berbaikan, beberapa kembali pada cinta lama, ada juga yang mengenang kembali berbagai mukjizat yang mereka saksikan dan kebenaran yang mereka pelajari semasa kanak-kanak. “Ingatkah apa yang diajarkan kepada kita?” kata mereka. “Anak-anak, kasihilah seorang akan yang lain.” Ketika perjamuan itu usai, Babette menceritakan kepada kakak-beradik itu bahwa ia telah menghabiskan seluruh uangnya untuk menjamu para tamu. Ia memberikan seluruhnya—termasuk melepas kesempatan untuk kembali ke kehidupan lamanya sebagai juru masak ternama di Paris—supaya teman-temannya dapat bercengkerama sambil menikmati masakannya.
Yesus hadir di dunia ini sebagai orang asing dan hamba, dan Dia telah memberikan segala-galanya agar lapar dan dahaga jiwa kita dapat dipuaskan. Dalam Injil Yohanes, Dia mengingatkan para pendengar-Nya bahwa ketika nenek moyang mereka kelaparan di padang gurun, Allah menyediakan burung puyuh dan manna untuk mereka (Kel. 16). Makanan itu memang mengenyangkan untuk sementara waktu, tetapi Yesus berjanji bahwa siapa saja yang menerima Dia sebagai “roti hidup” akan “hidup selama-lamanya” (Yoh. 6:48,51). Pengorbanan-Nya memuaskan kerinduan jiwa kita. —Amy Peterson
WAWASAN
Di antara semua “tanda” (mukjizat) yang Yesus adakan, Yohanes hanya mencatat tujuh yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yohanes 20:30-31). Salah satunya mukjizat pelipatgandaan ikan dan roti dalam Yohanes 6:1-14 (Ini juga dicatat dalam Injil lainnya—Matius 14:13-21; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17). Mukjizat tambahan yang Yohanes cantumkan antara lain mengubah air menjadi anggur (2:1-11), menyembuhkan anak seorang pegawai istana (4:46-54), menyembuhkan orang timpang (5:1-15), berjalan di atas air (6:16-21), mencelikkan orang buta (9:1-7), dan membangkitkan Lazarus (11:1-45). —Arthur Jackson
Bagaimana Allah telah memuaskan kerinduanmu? Bentuk pengorbanan apa yang rela kamu berikan?
Tuhan Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk kita supaya menjadi makanan dan minuman dari hidup baru yang kekal bersama Dia.

Sunday, October 20, 2019

Bukan Kelas Dua

Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul. —Roma 16:7
Bukan Kelas Dua
Setelah Perang Dunia I berakhir, presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson diakui sebagai salah satu pemimpin paling berkuasa di dunia. Namun, hanya sedikit orang yang tahu bahwa setelah Wilson terserang stroke hebat di tahun 1919, istrinya, Edith, yang mengatur hampir semua urusannya, termasuk menentukan masalah mana saja yang perlu diperhatikan oleh Wilson. Para sejarawan modern bahkan meyakini bahwa untuk beberapa waktu lamanya, Edith Wilson yang sebenarnya menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.
Jika diminta menyebutkan nama-nama pemimpin jemaat mula-mula, sebagian besar dari kita akan menyebut Petrus, Paulus, dan Timotius sebagai orang-orang yang mempunyai sejumlah karunia rohani yang dikenal luas. Namun, dalam Roma 16, Paulus menyebut hampir empat puluh nama dari berbagai latar belakang—pria, wanita, hamba, Yahudi, dan bukan Yahudi—semuanya telah berkontribusi bagi kehidupan jemaat dalam berbagai cara.
Alih-alih menganggap orang-orang tersebut sebagai anggota jemaat kelas dua, tampak jelas Paulus sangat menghargai keberadaan mereka. Ia menyebut mereka sebagai “yang terpandang di antara para rasul” (ay.7)—orang-orang yang patut disyukuri karena pelayanan mereka untuk Tuhan.
Banyak di antara kita merasa bahwa kita terlalu biasa-biasa saja untuk menjadi pemimpin di gereja. Padahal kenyataannya, setiap dari kita memiliki karunia yang dapat digunakan untuk melayani dan menolong sesama. Dengan kekuatan dari Tuhan, marilah kita menggunakan karunia-karunia kita bagi kemuliaan-Nya! —Peter Chin
WAWASAN
Dalam surat-suratnya, Paulus menunjukkan apresiasinya kepada sesama pelayan Injil dengan menyebutkan nama mereka satu per satu. Hal ini mencerminkan hati seorang gembala. Paulus bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga seorang pembimbing rohani dan sahabat yang bisa diandalkan. Pada akhir suratnya kepada jemaat Roma (pasal 16), Paulus secara khusus menyebut nama-nama orang yang tekun bekerja bersamanya dalam mengabarkan Injil. Banyak dari mereka adalah perempuan. Ini membuktikan besarnya peran kaum perempuan di tengah jemaat. Di Kolose, Paulus menyebut sepuluh rekan kerjanya dengan hangat—orang Yahudi maupun bukan Yahudi, budak dan orang bebas, laki-laki dan perempuan (4:7-18). Jika kitab Kisah Para Rasul dan semua surat Paulus digabungkan, kira-kira ada delapan puluh rekan pekabar Injil yang disebutkannya (lihat 2 Timotius 1:15-18; 4:9-22; Titus 3:12-13). —K.T. Sim
Sebagai anggota tubuh Kristus, mengapa kamu tak boleh merasa tidak penting? Dalam hal apa saja kamu dapat melayani jemaat di gerejamu?
Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengingat bahwa aku adalah bagian penting dari tubuh Kristus!

Saturday, October 19, 2019

Baja dan Beludru

Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. —Yohanes 8:7
Baja dan Beludru
Penyair Carl Sandburg menulis tentang mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “Dalam sejarah umat manusia, tidak sering kita bertemu seorang manusia yang terbuat dari baja dan beludru, . . . yang menampilkan dalam hati dan pikirannya suatu paradoks antara badai yang mengamuk dan keteduhan yang sempurna.” “Baja dan beludru” menjadi gambaran bagaimana Lincoln berhasil menyeimbangkan kekuasaan dari jabatannya dengan kepedulian-nya terhadap orang-orang yang merindukan kebebasan dari perbudakan.
Sepanjang sejarah, hanya ada satu pribadi yang secara sempurna menyeimbangkan ketegasan dan kelembutan, kuasa dan belas kasihan. Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8, ketika Yesus diperhadapkan dengan para pemimpin agama yang ingin agar Dia menghukum seorang wanita yang berdosa, Yesus menunjukkan ketegasan sekaligus kelembutan-Nya. Dia menunjukkan ketegasan dengan bertahan menghadapi tuntutan massa yang haus darah, bahkan membalikkan tuduhan mereka kepada diri mereka sendiri. Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay.7). Kemudian Yesus menunjukkan kelembutan belas kasihan-Nya dengan berkata kepada perempuan itu, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay.11).
Dengan mencerminkan ketegasan dan kelembutan Yesus dalam perlakuan kita terhadap orang lain, kita dapat menyingkapkan karya Bapa yang membentuk kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Kita dapat menunjukkan kerinduan hati-Nya kepada dunia yang haus akan belas kasih yang lembut sekaligus keadilan yang tegas. —Bill Crowder
WAWASAN
Dalam catatan Yohanes 8:1-11, para pemuka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Anehnya, hanya si perempuan yang dituduh bersalah, pasangan berzinahnya tidak turut diseret. Kaum perempuan cenderung tertarik kepada Yesus dan lebih berani mengikut Dia ketimbang para murid-Nya. Hanya Yohanes yang menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya menuju penyaliban, tetapi Matius mencatat bahwa “ada di situ banyak perempuan” (27:55-56). Mereka ingin mengikut Yesus bukan karena Dia menarik secara fisik (lihat Yesaya 53:2), tetapi karena Dia memandang mereka sebagai manusia seutuhnya. Dia menghargai kaum wanita, sesuatu yang tidak dilakukan oleh pria zaman itu. Kisah hari ini adalah contoh betapa Yesus melindungi martabat perempuan sebagai manusia sejati. —Tim Gustafson
Bagaimana responsmu terhadap kebobrokan dunia ini jika dibandingkan dengan keseimbangan belas kasihan dan keadilan yang ditunjukkan Kristus? Bagaimana Allah dapat menolongmu untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya kepada sesama?
Bapa, terima kasih untuk Anak-Mu, yang sempurna menyingkapkan isi hati-Mu kepada dunia yang terhilang lewat ketegasan dan kelembutan-Nya.

Friday, October 18, 2019

Saat Kita Memuji

Seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. —Kisah Para Rasul 16:26
Saat Kita Memuji
Ketika Willie, yang masih berusia sembilan tahun, diculik dari halaman depan rumahnya di tahun 2014, ia tak henti-hentinya menyanyikan lagu rohani favoritnya Every Praise. Selama tiga jam yang mengkhawatirkan itu, Willie mengabaikan perintah si penculik yang berulang-ulang memintanya diam di dalam mobil yang terus melaju. Akhirnya, si penculik membiarkan Willie turun dari mobil tanpa melukainya. Willie kemudian menceritakan bagaimana ia merasa ketakutannya hilang dan berganti dengan keyakinan, tetapi penculiknya justru merasa gelisah mendengar lagu yang dinyanyikannya.
Reaksi Willie terhadap situasi yang mengerikan itu mengingatkan kita pada pengalaman Paulus dan Silas. Setelah dicambuk dan dijebloskan ke penjara, mereka bereaksi dengan “berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua” (Kis. 16:25-26).
Setelah melihat kedahsyatan yang begitu luar biasa tersebut, sang sipir penjara pun percaya kepada Allah yang disembah Paulus dan Silas, dan seluruh keluarganya dibaptis bersamanya (ay.27-34). Lewat puji-pujian, baik belenggu fisik maupun rohani dihancurkan malam itu.
Kita mungkin tidak selalu mengalami penyelamatan dramatis seperti yang dialami oleh Paulus dan Silas, atau Willie. Namun, kita tahu bahwa Allah menanggapi puji-pujian umat-Nya! Ketika Dia bekerja, semua belenggu pun lepas. —Remi Oyedele
WAWASAN
Siapakah Paulus? Paulus, yang juga dikenal sebagai Saulus dari Tarsus, adalah seorang yang gigih menganiaya gereja mula-mula, sebelum pertobatannya yang dramatis (Kisah Para Rasul 7:58; 8:3; 9:1-19; Galatia 1:13-14). Ia “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat [ia] orang Farisi” (Filipi 3:5). Kota kelahiran Paulus, yaitu Tarsus, terletak di jalur perdagangan utama di provinsi Kilikia, Asia Kecil. Ia seorang Yahudi yang berkewarganegaraan Roma sejak lahir, artinya kemungkinan besar Paulus menerima pendidikan ala Yunani sejak kecil. Ia juga sangat memahami Perjanjian Lama dan hukum Taurat berkat pendidikannya di bawah pimpinan guru besar Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3). —Alyson Kieda
Pelajaran apa yang kamu dapatkan dari kisah tentang puji-pujian dan doa yang dinaikkan Paulus dan Silas? Bagaimana kamu dapat menerapkan pelajaran tersebut dalam situasi sulit yang kamu alami?
“[Allah], Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” Mazmur 22:4

Thursday, October 17, 2019

Kebenaran itu Pahit atau Manis?

Lalu aku memakan-nya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. —Yehezkiel 3:3
Kebenaran itu Pahit atau Manis?
Di hidung saya sempat muncul bintik dan saya membiarkannya selama beberapa waktu sebelum akhirnya memeriksakannya ke dokter. Hasil biopsi yang diterima beberapa hari kemudian memberikan kesimpulan yang tidak ingin saya dengar: kanker kulit. Meskipun kanker itu bisa diangkat dan tidak mematikan, tetap saja kenyataan itu bagaikan pil pahit yang harus ditelan.
Allah memerintahkan Yehezkiel untuk menelan pil pahit, yakni gulungan kitab berisi nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan (Yeh. 2:10; 3:1-2). Perintah-Nya kepada Yehezkiel, “Isilah perutmu dengan itu” (3:3), dan ia harus menyampaikan perkataan-perkataan Allah kepada bangsa Israel yang “keras kepala dan tegar hati” (2:4). Gulungan kitab yang berisi teguran kemungkinan besar terasa bagaikan pil pahit. Namun, Yehezkiel justru menyebutkan rasanya “manis seperti madu” dalam mulutnya (3:3).
Yehezkiel tampaknya mulai memahami teguran Allah. Alih-alih menganggap teguran-Nya sebagai sesuatu yang harus dihindari, Yehezkiel menyadari bahwa sesuatu yang berguna bagi jiwa pastilah “manis”. Allah mengajar dan mengoreksi kita dengan penuh kasih sayang, menolong kita agar hidup dengan cara yang memuliakan dan menyenangkan Dia.
Sejumlah kebenaran terasa bagai pil pahit yang harus kita telan, tetapi ada juga yang terasa manis. Jika kita ingat betapa Allah sangat mengasihi kita, kebenaran-Nya akan terasa seperti madu. Firman-Nya diberikan untuk kebaikan kita, memberi kita hikmat dan kekuatan untuk mengampuni orang lain, menahan diri untuk tidak bergosip, dan tetap tabah meski diperlakukan tidak baik. Tolonglah kami, ya Allah, untuk mengenali hikmat-Mu sebagai nasihat yang manis! —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Yehezkiel bukanlah satu-satunya nabi yang pernah diperintahkan Allah untuk memakan “gulungan kitab” ratapan dan penghakiman (2:9-3:3). Rasul Yohanes di Pulau Patmos juga disuruh memakan sebuah gulungan kitab. Karena Yohanes menubuatkan penghakiman berat dan kesengsaraan besar atas umat Allah, gulungan kitab itu “membuat perut [Yohanes] terasa pahit” (Wahyu 10:9). Kendati demikian, karena itu adalah firman Allah, “di dalam mulut [Yohanes] ia terasa manis seperti madu” (ay.10), sama seperti kesaksian orang-orang yang mengasihi Allah: Firman-Nya “lebih indah dari pada emas . . . dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mazmur 19:10). —K.T. Sim
Kebenaran apa yang Allah tunjukkan kepada kamu baru-baru ini? Bagaimana kamu menerimanya? Sebagai pil pahit atau madu yang manis?
Kebenaran Allah itu manis.

Wednesday, October 16, 2019

Menjalani Hidup dengan Tenang

Berusahalah hidup dengan tenang. —1 Tesalonika 4:11 BIS
Menjalani Hidup dengan Tenang
“Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?” Kita semua pernah ditanya seperti itu sewaktu kecil, bahkan terkadang saat sudah dewasa. Pertanyaan itu terlontar karena rasa ingin tahu, dan jawaban yang diberikan sering kali bisa menjadi indikasi dari ambisi. Jawaban saya berubah-ubah, dari ingin menjadi koboi, sopir truk, tentara, hingga memutuskan untuk belajar menjadi dokter di perguruan tinggi. Meski demikian, tidak pernah satu kali pun saya ingat ada yang menyarankan, atau saya secara sadar mempertimbangkan, untuk berusaha “hidup dengan tenang.”
Namun, itulah yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Pertama, ia mendorong mereka untuk saling mengasihi dan terutama mengasihi seluruh keluarga Allah (1 Tes. 4:10). Ia lalu memberikan mereka nasihat yang mencakup secara luas apa pun yang mereka usahakan saat itu: “Berusahalah hidup dengan tenang” (ay.11 BIS). Apa yang sebenarnya dimaksudkan Paulus? Ia menghendaki mereka untuk “tidak mencampuri persoalan orang lain. Hendaklah [mereka] bekerja mencari nafkah sendiri,” supaya tidak menjadi beban bagi siapa pun dan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus akan menghormati mereka (ay.11-12 BIS). Ini bukan berarti bahwa anak-anak tidak boleh mengembangkan bakat atau mewujudkan cita-cita mereka, tetapi kita dapat mengingatkan mereka bahwa apa pun yang kelak dijalani, mereka patut mengerjakannya dengan sikap yang tenang.
Jika kita melihat keadaan dunia saat ini, sulit rasanya menjalani hidup yang tenang di tengah dunia yang ambisius. Namun, nasihat Kitab Suci selalu relevan terhadap segala zaman, jadi mungkin kita perlu memikirkan bagaimana kita dapat mulai menjalani hidup yang lebih tenang. —John Blasé
WAWASAN
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika adalah salah satu surat penggembalaannya yang paling menonjol. Pada pasal 2, berulangkali ia menyapa mereka dengan penuh kasih, menyebut mereka “saudara-saudara” (ay.1, 14, 17). Rasul Paulus juga mengungkapkan kepeduliannya dengan mengatakan bahwa ia dan rekan pelayanannya tidak bersikap memerintah, tetapi memperlakukan mereka dengan ramah (ay.7). Paulus bahkan menggambarkan dirinya seperti seorang “ibu” yang mengasuh dan merawat anaknya. Sebagai bukti kasihnya, Paulus menunjukkan jerih lelahnya dalam memberitakan Injil kepada mereka dan melengkapi gambaran kekeluargaan itu dengan melukiskan dirinya sebagai bapa bagi anak-anaknya (ay.8-11). Semua itu bukan hanya memperlihatkan karakter surat penggembalaan, tetapi juga sebuah surat pribadi. —Bill Crowder
Apakah nasihat Paulus untuk “tidak mencampuri persoalan orang lain” dapat kamu terima? Siapakah temanmu yang hidup dengan tenang dan ingin kamu teladani?
Tuhan Yesus, menjalani hidup dengan tenang memang menarik, tetapi tidak mudah. Mampukanlah aku mengurus persoalanku sendiri, bukan karena aku menutup diri, tetapi agar aku tidak menambah masalah di dalam dunia ini.

Tuesday, October 15, 2019

Berdoa di Tumpukan Jerami

Kamu juga turut membantu mendoakan kami. —2 Korintus 1:11
Berdoa di Tumpukan Jerami
Samuel Mills dan empat orang temannya sering berkumpul untuk berdoa bersama, memohon agar Allah mengirimkan lebih banyak orang untuk membagikan kabar baik tentang Yesus. Suatu hari di tahun 1806, setelah kembali dari persekutuan doa, mereka terjebak dalam badai petir dan berlindung di dalam setumpuk jerami. Di kemudian hari, pertemuan doa mingguan mereka dikenal sebagai Persekutuan Doa Haystack (Tumpukan Jerami), dan dari sana lahir sebuah gerakan misi ke seluruh dunia. Saat ini, Monumen Doa Haystack berdiri di Williams College di Amerika Serikat sebagai peringatan atas apa yang sanggup Allah lakukan melalui doa.
Bapa Surgawi sungguh senang ketika anak-anak-Nya datang membawa permohonan mereka bersama. Hal itu seperti sebuah pertemuan keluarga tempat mereka bersatu untuk sebuah tujuan dan menanggung beban yang sama.
Rasul Paulus mengakui bagaimana Allah telah menolongnya melalui doa orang lain di tengah penderitaan berat yang dilaluinya: “Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami” (2 Kor 1:10-11). Allah memilih untuk menggunakan doa-doa kita—terutama doa kita bersama—untuk menggenapi rencana-Nya atas dunia ini. Tidak heran ayat tadi dilanjutkan dengan kalimat: “supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.”
Marilah berdoa bersama agar kita sekalian juga bisa bersukacita dalam kebaikan Allah. Bapa kita yang penuh kasih sedang menunggu kita datang kepada-Nya supaya Dia dapat berkarya melalui kita dengan cara-cara yang bahkan tak terbayangkan oleh kita. —Poh Fang Chia
WAWASAN
Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus mengungkapkan kesediaan Paulus melakukan apapun untuk berbagi hati Kristus (1:3-11; 2:4; 4:7-12; 6:3-10; 11:16-29; 12:6-10). Ia mengungkapkan betapa besar kasihnya kepada mereka di dalam Kristus yang telah menderita bagi mereka semua. Paulus menunjukkan teladan Yesus yang rela mengorbankan diri-Nya, menjadi perantara, dan bersyafaat bagi kita, sehingga kita pun bisa berkorban dan berdoa bagi orang lain. Paulus juga mendoakan supaya para pembacanya menemukan pengharapan sekalipun ada kematian, mendapat kekuatan di tengah kelemahan, keberanian di tengah ketakutan, dan sukacita dalam jawaban doa. —Mart DeHaan
Permohonan apa yang dapat kamu dan teman-temanmu doakan? Bagaimana imanmu dikuatkan saat kamu berdoa bersama orang lain?
Saat kita berdoa bersama, kita sedang bekerja sama.

Monday, October 14, 2019

Dikuatkan Oleh Pujian

Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku. —Mazmur 59:17
Dikuatkan Oleh Pujian
Ketika penduduk sebuah kota kecil di Prancis menolong para pengungsi Yahudi bersembunyi dari Nazi selama Perang Dunia II, beberapa orang bernyanyi di tengah hutan lebat yang mengelilingi kota supaya para pengungsi tahu bahwa situasi sudah aman bagi mereka untuk keluar dari tempat persembunyian. Penduduk kota Le Chambon-sur-Lignon yang berani itu menjawab ajakan seorang pendeta setempat bernama André Trocmé dan istrinya, Magda, untuk memberikan perlindungan semasa perang bagi kaum Yahudi di dataran tinggi berangin kencang yang dikenal sebagai “La Montagne Protestante”. Nyanyian isyarat itu hanyalah satu dari sekian banyak tindakan warga kota yang berani menyelamatkan hingga tiga ribu orang Yahudi dari kematian yang hampir tak terelakkan.
Di masa lain yang juga rawan bahaya, Daud bernyanyi ketika Saul musuhnya mengirimkan para pembunuh ke rumahnya pada malam hari. Nyanyiannya bukanlah isyarat, melainkan suatu pujian syukur kepada Allah, tempat perlindungannya. Daud bersukacita, ”Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku” (Mzm. 59:17).
Nyanyian itu bukanlah cara untuk memberanikan diri dalam bahaya. Pujian Daud adalah ungkapan kepercayaannya kepada Allah Mahakuasa. “Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya” (ay.18).
Pujian Daud, dan nyanyian penduduk Le Chambon, mengajak kita untuk memuliakan Allah hari ini dengan puji-pujian kita, bernyanyi kepada-Nya sekalipun hidup ini dipenuhi kekhawatiran. Kehadiran kasih-Nya akan melingkupi dan menguatkan hati kita. —Patricia Raybon
WAWASAN
Dalam Mazmur 59, kata “benteng” digunakan empat kali untuk menekankan perlindungan Allah di tengah masa sulit (ay.2, 10, 17, 18). Benteng menghadirkan rasa aman, tempat berlindung dan beristirahat, serta memenuhi kebutuhan. Benteng juga menjadi tempat terbaik untuk menghadapi musuh. Pada ayat 2, Allah adalah benteng yang menghalau serangan. Ayat 9 mengemukakan sudut pandang lain tentang bagaimana Allah menjadi benteng. Pemazmur menulis, “Aku mau berpegang pada-Mu.” Ketika bahaya mengancam, dengan yakin ia menanti-nantikan pertolongan Allah sebab ia tahu bahwa rasa aman hanya ada dalam Dia. Oleh sebab itu, kita pun dapat bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya (ay.16-17). —J.R. Hudberg
Apa yang kamu rasakan saat menyanyikan lagu pujian favoritmu? Mengapa lagu pujian menginspirasi kita menjadi lebih kuat?
Ya Allah, kuatkanlah hatiku dengan puji-pujian yang mengubah ketakutan dan kekhawatiranku menjadi penyembahan kepada-Mu.

Sunday, October 13, 2019

Layak Dinantikan

Kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. —Filipi 3:20
Layak Dinantikan
Di luar stasiun kereta Shibuya di Tokyo terdapat sebuah patung anjing jenis Akita bernama Hachiko. Hachiko dikenang karena kesetiaannya yang luar biasa kepada sang tuan, seorang pengajar di universitas yang berangkat dan pulang kerja melalui stasiun tersebut setiap harinya. Anjing itu menemani sang dosen berjalan ke stasiun di pagi hari dan menjemputnya setiap sore ketika keretanya tiba.
Suatu hari, sang dosen tidak kembali ke stasiun, karena ia meninggal dunia di tempat kerjanya. Namun, sepanjang sisa hidupnya—lebih dari sembilan tahun—Hachiko selalu datang ke stasiun yang sama bertepatan dengan waktu kedatangan kereta di sore hari. Hari demi hari, bagaimanapun keadaan cuacanya, Hachiko dengan setia menunggu kedatangan tuannya.
Paulus memuji kesetiaan jemaat Tesalonika atas “pekerjaan iman”, “usaha kasih”, dan “ketekunan pengharapan [mereka] kepada Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Tes. 1:3). Walaupun harus menghadapi tantangan berat, mereka meninggalkan hidup mereka yang lama “untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga” (ay.9-10).
Pengharapan jemaat yang sangat besar dan kasih Sang Juruselamat kepada mereka telah menginsipirasi mereka untuk tidak lagi memperhatikan kesusahan mereka sehingga mereka pun bersaksi dengan antusias. Mereka yakin bahwa tidak ada yang lebih baik daripada hidup bagi Tuhan Yesus. Alangkah bahagianya mengetahui bahwa Roh Kudus yang telah menguatkan mereka (ay.5) juga tetap menguatkan kita hari ini untuk senantiasa setia melayani Tuhan Yesus sembari kita menantikan kedatangan-Nya kembali. —James Banks
WAWASAN
Kamus Alkitab Easton menulis: “Tesalonika adalah ibukota dari salah satu empat daerah Romawi di Makedonia. . . . Dalam perjalanan misi yang kedua, Paulus berkhotbah di sebuah sinagoge di Tesalonika—ini adalah tempat ibadah utama bagi orang Yahudi di Makedonia—dan meletakkan dasar bagi perintisan jemaat (Kisah Para Rasul 17:1-4; 1 Tesalonika 1:9). Perlawanan sengit dari orang Yahudi membuat Paulus terpaksa meninggalkan kota ini lalu pergi ke Berea (Kisah Para Rasul 17:5-10). Paulus mengunjungi jemaat Tesalonika pada kesempatan berikutnya (20:1-3). Jemaat Tesalonika kemudian menjadi saksi kunci bagi pekabaran Injil di Yunani bagian utara. —Bill Crowder
Apa yang paling kamu nantikan dari hidup kekal yang kelak kita jalani bersama Tuhan Yesus? Bagaimana cara kamu membagikan pengharapanmu di dalam Dia?
Juruselamat yang mulia, “kuatkanlah dan teguhkanlah” hatiku untuk menantikan kedatangan-Mu! (mazmur 24:14)

Saturday, October 12, 2019

Cantumkan Namamu

[Dia] yang mengeluarkan benda-benda angkasa menurut jumlahnya, dan memanggil mereka menurut nama mereka. —Yesaya 40:26
Cantumkan Namamu
Dalam buku Love Letters from God, Glenys Nellist mengajak anak-anak untuk berinteraksi secara pribadi dengan Tuhan. Dalam buku itu terdapat sebuah catatan dari Tuhan dengan kolom kosong untuk mencantumkan nama anak di akhir setiap cerita Alkitab. Menerima kebenaran Alkitab sebagai milik pribadi seperti itu menolong anak-anak memahami bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku cerita. Mereka belajar bahwa Tuhan ingin berhubungan secara pribadi dengan mereka dan Dia berbicara kepada anak-anak yang dikasihi-Nya melalui Kitab Suci.
Saya membeli buku itu untuk keponakan saya dan menuliskan namanya di setiap kolom yang ada. Ia sangat senang melihat namanya di sana dan berseru, “Tuhan juga sayang padaku!” Betapa bahagianya mengetahui bahwa Allah Pencipta mengasihi kita dengan kedalaman kasih yang sangat pribadi.
Ketika Allah berbicara kepada bangsa Israel melalui Nabi Yesaya, Dia mengarahkan pandangan mereka ke langit. Tuhan menegaskan bahwa Dia berkuasa atas “benda-benda angkasa” (Yes. 40:26) dan Dia menentukan nilai serta arah setiap bintang oleh kasih-Nya. Dia meyakinkan umat-Nya bahwa Dia tidak akan melupakan atau kehilangan satu bintang pun . . . dan juga setiap anak yang dibentuk-Nya untuk tujuan yang mulia dan dengan kasih yang tak berkesudahan.
Kita dapat mencantumkan nama kita sendiri di dalam janji Tuhan yang indah dan pernyataan kasih-Nya dalam Kitab Suci. Seperti seorang anak kecil, kita bisa berseru dengan yakin dan gembira, “Tuhan juga sayang padaku!” —Xochitl Dixon
WAWASAN
Salah satu bentuk penghormatan kepada Allah dalam Yesaya 40 adalah dengan penggunaan pertanyaan retoris—pertanyaan yang bukan untuk dijawab tetapi untuk memancing pemikiran orang pada maksud tertentu. Contohnya ada pada kitab Ayub, terutama pasal 38-41, ketika Allah mengajukan pertanyaan. Dalam Yesaya 40, setelah nubuat tentang penghiburan yang akan datang melalui kedatangan Tuhan (ay.1-5), keteguhan janji Allah (ay.6-8), serta kuasa dan belas kasih yang akan menyertai kedatangan-Nya (ay. 9-11), sejumlah pertanyaan mulai muncul pada ayat 12 hingga 28! Pertanyaan ini bertujuan untuk membantu orang percaya sepanjang masa merenungkan betapa kebesaran Allah yang Mahakasih tiada duanya. —Arthur Jackson
Bagaimana rasanya saat kamu mengetahui bahwa Allah mengasihimu dan mengetahui setiap kebutuhanmu? Ayat Alkitab apa yang dapat kamu hafalkan sebagai janji Tuhan yang sangat pribadi kepadamu?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau menegaskan bahwa kasih-Mu adalah pemberian istimewa bagi kami masing-masing. Kami percaya Engkau mengenal nama kami dan mampu menjawab segala kebutuhan kami.

Friday, October 11, 2019

Pelaku Utama

Itulah perbuatan Tuhan. —Mazmur 118:23 BIS
Pelaku Utama
Saya pernah mendengar cerita tentang seorang mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah berkhotbah di sebuah seminari terkemuka. Anak muda itu, dengan gaya yang terlalu percaya diri, menyampaikan khotbahnya dengan fasih dan penuh semangat. Selesai berkhotbah, ia duduk dengan perasaan puas. Dosennya terdiam sejenak, lalu memberikan tanggapannya: “Khotbahmu sangat baik dan pesannya sangat kuat. Strukturnya tertata rapi dan isinya menyentuh hati. Persoalannya, Allah tidak pernah menjadi subjek utama dalam satu kalimat pun.”
Sang dosen menyoroti satu masalah yang terkadang menjadi pergumulan kita semua: Kita berbicara seolah-olah kita adalah tokoh utama dalam hidup kita (dengan lebih menekankan pada apa yang kita lakukan dan katakan), padahal sesungguhnya Allah yang menjadi pelaku utamanya. Kita sering mengaku bahwa Allah “memegang kendali” atas diri kita, tetapi kita bersikap seolah-olah seluruh hasilnya tergantung pada kita.
Kitab Suci menegaskan bahwa Allah adalah subjek yang benar dalam hidup kita dan Dialah kuasa yang sejati. Bahkan semua perbuatan iman yang sudah sepatutnya kita lakukan itu diperbuat “dengan kuasa Tuhan”—demi nama-Nya (Mzm. 118:10-11 BIS). Tuhan menetapkan keselamatan kita. Tuhan menyelamatkan kita. Tuhan memperhatikan setiap kebutuhan kita. “Itulah perbuatan Tuhan” (ay.23 BIS).
Jadi, kita tidak perlu lagi merasa tertekan. Kita tidak perlu resah, membanding-bandingkan diri, bekerja mati-matian, atau terus-menerus gelisah. Tuhanlah yang memegang kendali. Kita hanya perlu percaya dan mengikuti tuntunan-Nya dengan taat. —Winn Collier
WAWASAN
Mazmur 118 merupakan salah satu mazmur Hallel (pujian) yang dinyanyikan pada hari-hari raya Israel zaman Perjanjian Lama. Selain itu, mazmur perayaan ini juga memiliki ciri pesan Mesianik—yang isinya menantikan kedatangan Mesias di Israel. Dalam Matius 21:9, ketika Kristus dielu-elukan sebagai raja, orang banyak sedang menggenapi Mazmur 118:25-26 yang berkata, “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN.” Kata Ibrani hosanna artinya “Tuhan, selamatkan kami”. Ketika berhadapan dengan para pemuka agama dalam Matius 21:42, Yesus mengutip Mazmur 118:22-23 yang menubuatkan tentang diri-Nya, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Selain digunakan untuk ibadah liturgi dalam perayaan bangsa Israel, Mazmur 118 juga berisi penantian kedatangan Dia yang akan menggenapi makna sejati dari semua perayaan itu. —Bill Crowder
Kapan kamu merasa paling tergoda untuk memandang dirimu sebagai pelaku utama dalam hidup ini? Bagaimana cara Allah mengundangmu untuk menjadikan Dia sebagai pusat dalam kehidupanmu?
Ya Allah, aku sering tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa Engkaulah pemilik hidupku. Kepura-puraan itu sangat melelahkan dan aku mau berhenti melakukannya. Tolonglah aku mempercayai-Mu.

Thursday, October 10, 2019

Jangan Lupa!

Terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. —Kisah Para Rasul 1:9
Jangan Lupa!
Bersama keponakan saya dan Kailyn, putrinya yang berusia empat tahun, saya menghabiskan Sabtu sore yang menyenangkan. Kami meniup gelembung sabun di luar rumah, mewarnai buku gambar, dan makan roti berlapis selai kacang dan stroberi. Ketika sudah waktunya mereka pulang, Kailyn berseru dari balik jendela mobilnya yang terbuka, “Jangan lupakan aku ya, Tante Anne.” Saya cepat-cepat menghampiri mobil dan berbisik di telinganya, “Tante tidak akan melupakanmu. Lain kali kita pasti ketemu lagi.”
Dalam Kisah Para Rasul 1, para murid menyaksikan Yesus “diangkat ke surga di depan mata mereka” (ay.9 BIS). Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka pernah merasa akan dilupakan oleh Tuhan mereka. Namun, Yesus baru saja berjanji akan mengirimkan Roh-Nya untuk berdiam di dalam mereka dan memampukan mereka menghadapi penganiayaan yang akan datang (ay.8). Yesus juga pernah mengajar mereka bahwa Dia pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka dan akan datang kembali untuk membawa mereka ke tempat Dia berada (Yoh. 14:3). Akan tetapi, mereka pasti pernah bertanya-tanya sampai kapan mereka harus menunggu. Mungkin mereka ingin berkata, “Jangan lupakan kami, Yesus!”
Bagi kita yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, Dia tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus. Mungkin sampai sekarang kita masih bertanya-tanya kapan Dia akan datang kembali untuk sepenuhnya memulihkan kita dan ciptaan-Nya. Percayalah, hal itu pasti terjadi—Tuhan tidak akan melupakan kita. “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan” (1 Tes. 5:11). —Anne Cetas
WAWASAN
Kisah Para Rasul 1:1-11 berfungsi sebagai kilas balik Injil Lukas (tulisan Lukas sebelumnya), sekaligus menjadi pengantar bagi cerita-cerita dalam Kisah Para Rasul sendiri. Di dalam kedua kitab, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan memenuhi para rasul dengan kuasa (Lukas 24:46-49; Kisah Para Rasul 1:8). Roh Kudus adalah “jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (Efesus 1:14); suatu janji yang tidak akan pernah terlupakan. —Julie Schwab
Bagaimana kamu merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupmu? Apa yang paling kamu nantikan dalam kekekalan nanti?
Kami senang berjalan bersama-Mu sekarang, tetapi kami terus menantikan harinya ketika segalanya akan dipulihkan. Datanglah segera, Tuhan Yesus.

Wednesday, October 9, 2019

Tetap Bertahan

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. —Yesaya 41:10
Tetap Bertahan
Ayah mertua saya baru merayakan ulang tahun ketujuh puluh delapan tahun, dan dalam acara syukuran yang diadakan keluarga, beliau ditanya, “Apa hal terpenting yang kamu pelajari dalam hidup sejauh ini?” Jawabnya? “Tetap bertahan.”
Tetap bertahan. Bisa saja menganggap itu terlalu menggampangkan masalah. Namun, ayah mertua saya tidak sedang mendorong optimisme buta atau pola pikir positif. Berbagai persoalan berat telah dihadapinya selama hampir delapan dekade. Tekadnya untuk terus maju tidak didasarkan pada harapan semu bahwa keadaan akan menjadi lebih baik, melainkan pada karya Kristus dalam hidupnya.
“Tetap bertahan”—Alkitab menyebutnya sebagai ketekunan—tidak mungkin terjadi bila hanya bermodalkan tekad. Kita dapat bertekun karena Allah berjanji, berulang kali, bahwa Dia selalu menyertai dan memberikan kepada kita kekuatan, dan bahwa Dia akan menggenapi rencana-Nya dalam hidup kita. Itulah pesan yang dikatakan-Nya kepada bangsa Israel melalui Nabi Yesaya: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10).
Apa yang dibutuhkan untuk “tetap bertahan”? Menurut Yesaya, dasar pengharapan kita adalah karakter Allah. Dengan mengetahui kebaikan Allah, kita dapat terbebas dari ketakutan sehingga kita bisa bergantung kepada Bapa dan janji-Nya untuk terus menyediakan kebutuhan kita setiap hari: kekuatan, pertolongan, dan kehadiran Allah yang menghibur, menguatkan, serta menopang kita. Adam Holz
WAWASAN
Dalam nubuatan Yesaya, pasal 1-39 ibarat malam yang kian gelap mencekam karena menanti datangnya hukuman atas perzinahan Yerusalem dengan para berhala (Yesaya 39:6-7). Ketika peringatan ini sudah terlaksana, pasal 40-55 pun timbul layaknya sinar mentari di pagi hari. Menurut sang nabi, Allah sekali lagi akan memperlihatkan belas kasihan kepada umat-Nya, seperti yang telah ditunjukkan-Nya kepada Yakub—nenek moyang mereka yang adalah pendusta dan penipu. Tuhan akan memanggil mereka dari Babel seperti Dia telah memimpin Abraham, nenek moyang mereka, keluar dari penyembahan berhala di Ur. Dengan cara yang tak terduga, Dia akan menyelamatkan mereka melalui seorang raja asing yang bahkan tidak mengenal-Nya (45:1-13). Koresy, raja Persia, akan menghancurkan Babel dan memberikan hak kepada bangsa Yahudi untuk kembali ke negeri mereka. Melalui firman yang penuh harapan dan petunjuk akan rancangan-Nya yang besar atas dunia ini, Dia mendorong mereka untuk kembali kepada-Nya (41:13). —Mart DeHaan
Pernahkah kamu mengalami penyertaan Allah di saat kamu merasa takut? Bagaimana dukungan dari saudara seiman juga dapat menolongmu untuk bertahan?
Bapa, kasih-Mu memberikan kepada kami segala sesuatu yang kami perlukan untuk “tetap bertahan”. Tolonglah kami untuk selalu ingat pada kekuatan yang Engkau janjikan dan mengandalkannya setiap hari.

Tuesday, October 8, 2019

Perlindungan dari Badai

Apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku sampai Aku berjalan lewat. —Keluaran 33:22
Perlindungan dari Badai
Konon, pada tahun 1763, seorang pendeta muda yang sedang menyusuri jalan setapak di bibir tebing di Somerset, Inggris, harus menyusup ke sebuah gua untuk menyelamatkan diri dari sambaran petir dan hujan yang sangat deras. Saat memandang ke arah Ngarai Cheddar, ia merenungkan anugerah perlindungan dan damai sejahtera yang dimilikinya di dalam Tuhan. Sambil menunggu badai reda, ia pun menuliskan himne berjudul “Batu Karang yang Teguh”, dengan lirik pembuka yang begitu lekat dalam ingatan: “Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh” (Kidung Jemaat No. 37).
Kita tidak tahu apakah Augustus Toplady terpikir tentang pengalaman Musa di dalam lekuk gunung ketika ia menuliskan himne tersebut (Kel. 33:22). Bukan tidak mungkin itu yang terjadi. Kitab Keluaran menceritakan bagaimana Musa meminta jaminan dan jawaban dari Allah. Ketika Musa meminta Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepadanya, Allah menanggapinya dengan lembut, karena Dia tahu bahwa “tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ay.20). Allah menempatkan Musa dalam lekuk gunung ketika Dia lewat, sehingga Musa hanya melihat punggung-Nya. Musa pun tahu bahwa Allah menyertainya.
Kita dapat meyakini bahwa, seperti yang dikatakan Allah kepada Musa, “Aku sendiri hendak membimbing engkau” (ay.14), kita juga akan memperoleh perlindungan di dalam Dia. Mungkin kita akan mengalami banyak badai dalam hidup kita, seperti yang dialami Musa dan pendeta muda dalam cerita di atas, tetapi saat kita berseru kepada-Nya, Dia akan memberikan kita damai sejahtera dari kehadiran-Nya. —Amy Boucher Pye
WAWASAN
Musa memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah. Dalam Keluaran 33:11 tertulis, “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun, pada ayat 20 Allah berfirman kepadanya, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Interaksi antara Musa dengan Allah adalah begitu akrab tetapi tetap ada pemisahan antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Melalui kelahiran-Nya (kedatangan Kristus ke dunia sebagai Allah dan manusia), Yesus menjembatani jarak tersebut. Sang Pencipta menjadi ciptaan sehingga kita bisa kembali memiliki persekutuan dengan-Nya. —J.R. Hudberg
Saat kamu melihat kembali berbagai pengalaman hidupmu, apakah kamu melihat kehadiran Allah yang penuh kasih di tengah badai kehidupan yang terjadi? Bagaimana kamu telah mengalami kehadiran-Nya hari ini?
Allah Bapa, tolonglah aku untuk selalu percaya bahwa Engkau menyertaiku, bahkan di tengah badai hidup yang kualami.

Monday, October 7, 2019

Hati Allah untuk Orang Munafik

Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar. —Kejadian 38:26
Hati Allah untuk Orang Munafik
“Seandainya salah seorang anggota tim kita yang melakukan hal tersebut, aku pasti sangat kecewa,” ujar seorang pemain kriket saat mengomentari seorang pemain kriket lain asal Afrika Selatan yang berbuat curang dalam sebuah pertandingan pada tahun 2016. Namun, dua tahun kemudian, ia sendiri terlibat dalam skandal yang hampir sama.
Rasanya tidak ada hal yang lebih membuat kita jengkel daripada kemunafikan. Namun, dalam kisah di Kejadian 38, perilaku munafik Yehuda nyaris mengakibatkan kematian seseorang. Setelah dua dari tiga anak lelakinya meninggal tidak lama setelah menikahi Tamar, Yehuda diam-diam mengabaikan kewajibannya untuk menanggung kehidupan Tamar (ay.8-11). Dalam keputusasaannya, Tamar pun mengenakan selubung seperti seorang pelacur, dan kemudian Yehuda tidur dengannya (ay.15-16).
Namun, ketika Yehuda mendengar bahwa menantu perempuannya mengandung padahal ia tidak bersuami, reaksi Yehuda sangat kejam. “Bawalah perempuan itu, supaya dibakar,” perintah Yehuda (ay.24). Akan tetapi, Tamar justru membuktikan bahwa Yehuda sendirilah ayah dari anak yang dikandungnya (ay.25). Yehuda bisa saja menyangkali kebenaran itu. Namun, ia mengakui kemunafikannya dan bersedia bertanggung jawab atas Tamar, dengan berkata, “Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar” (ay.26).
Babak suram dalam hidup Yehuda dan Tamar ini dapat ditenun Allah menjadi bagian dari kisah penebusan-Nya atas kita. Anak-anak Tamar (ay.29-30) kelak akan menjadi nenek moyang Yesus (Mat. 1:2-3).
Mengapa Kejadian 38 dicatat dalam Alkitab? Salah satunya adalah karena bagian itu bercerita tentang kemunafikan hati manusia—dan hati Allah yang penuh kasih, karunia, dan kemurahan. —Tim Gustafson
WAWASAN
Tidak ada kata Ibrani yang bermakna munafik, tetapi kata Yunani hypokrites digunakan dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk menggambarkan manusia yang tak bertuhan. Kata hypokrites aslinya berarti “pemain sandiwara.” Ini berasal dari zaman Yunani kuno di mana para pemeran mementaskan adegan dengan mengenakan topeng. Makna ini kemudian diadaptasi menjadi seorang munafik yang menipu dengan menyelubungi niat (wajah) mereka yang sesungguhnya. —Bill Crowder
Bagaimana reaksi kamu ketika menyadari bahwa kamu sebenarnya munafik? Apa yang akan terjadi bila kita semua bersikap apa adanya satu sama lain?
Ya Bapa, tolonglah aku melihat bahwa pada intinya kami semua adalah orang-orang munafik yang sangat membutuhkan pengampunan-Mu.

Sunday, October 6, 2019

Meneliti dan Menerapkan

Lebih berbahagia lagi orang yang mendengar perkataan Allah dan menjalankannya. —Lukas 11:28 BIS
Meneliti dan Menerapkan
Brian ditugaskan menjadi penerima tamu di kebaktian pernikahan saudara laki-lakinya, tetapi ia tidak datang pada harinya. Sangat bisa dimengerti apabila keluarganya kecewa, termasuk Jasmine, saudara perempuannya yang bertugas membacakan bagian Alkitab hari itu. Jasmine pun berhasil membaca 1 Korintus 13 yang sudah umum dikenal tentang kasih. Namun, seusai acara, ayah Jasmine memintanya mengantarkan hadiah ulang tahun untuk Brian, tetapi ia menolak. Jasmine menyadari bahwa lebih sulit melaksanakan kasih daripada sekadar membacanya. Akan tetapi, sebelum hari itu berakhir, Jasmine berubah pikiran dan mengakui, “Aku tidak bisa cuma membaca bagian Alkitab tentang kasih, tetapi tidak menerapkannya.”
Pernahkah kamu merasa ditegur oleh Kitab Suci yang kamu baca atau dengar, tetapi mengalami kesulitan untuk menerapkannya? kamu tidak sendiri. Memang lebih mudah membaca dan mendengarkan firman Tuhan daripada menaatinya. Itulah sebabnya tantangan Yakobus sangat tepat: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). Ilustrasi cermin yang dipakai Yakobus membuat kita tersenyum karena kita tahu apa artinya mengamat-amati sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus pada diri kita. Namun, kita menipu diri sendiri jika kita mengira bahwa mengamat-amati saja sudah cukup. Ketika Yakobus meminta kita untuk “meneliti” dan “bertekun” di dalam kebenaran Allah (ay.25), ia mendorong kita untuk melakukan seperti yang akhirnya Jasmine lakukan—menerapkan kebenaran itu. Firman Tuhan menghendakinya, dan Dia layak menerimanya. - Arthur Jackson
WAWASAN
Dalam Alkitab, ada berbagai kiasan untuk menggambarkan kebenaran firman Allah, misalnya cermin (Yakobus 1:23), api dan palu (Yeremia 23:29), pelita (Mazmur 119:105), air (Efesus 5:26), benih (1 Petrus 1:23), dan air susu (1 Petrus 2:2). Firman Allah menyingkapkan, membakar, mematahkan, menerangi, menyucikan, mendakwa, menumbuhkan kembali, memuaskan, dan menguatkan orang percaya. Menguasai Alkitab saja tidaklah cukup; kita harus menaatinya (Yakobus 1:22-25). —K.T. Sim
Pernahkah kamu membuat perubahan dalam hidupmu setelah meneliti isi Kitab Suci? Bagaimana kehidupanmu diperkaya oleh ketaatanmu?
Bapa Surgawi, tolonglah aku memahami dengan lebih sungguh apa artinya meneliti firman-Mu dan menerapkan apa yang kubaca.

Saturday, October 5, 2019

Senjata Andalan

Pergilah! Tuhan menyertai engkau. —1 Samuel 17:37
Senjata Andalan
Dahulu, sebagai penulis muda, saya sering merasa tidak percaya diri saat mengikuti lokakarya penulisan. Di sekitar saya adalah “raksasa-raksasa”, yaitu para penulis yang dididik secara formal atau sudah berpengalaman bertahun-tahun. Saya tidak punya kedua-duanya. Yang saya miliki hanya telinga yang terbiasa mendengar gaya bahasa, intonasi, dan irama Alkitab bahasa Inggris versi King James. Saya menganggapnya sebagai “senjata andalan” saya, yang mempengaruhi gaya serta cara saya menulis, sesuatu yang membawa sukacita bagi saya dan, saya harap, berkat bagi orang lain.
Kita tidak mendapat kesan bahwa Daud, si gembala muda, merasa tidak percaya diri saat ia mengenakan baju zirah Saul untuk melawan Goliat (1 Sam. 17:38-39). Ia hanya merasa tidak leluasa bergerak. Daud sadar bahwa baju zirah yang menjadi pelindung bagi seseorang dapat menjadi kerangkeng bagi yang lain—“Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini” (ay.39). Oleh karena itu, Daud mempercayai senjata andalannya sendiri. Allah telah menyiapkan Daud untuk menghadapi momen tersebut dengan apa yang memang dibutuhkan pada saat itu (ay.34-35). Daud terbiasa menggunakan umban dan batu sebagai senjata andalannya, dan Allah memakai hal tersebut untuk membawa kemenangan bagi pasukan Israel hari itu.
Pernahkah kamu merasa tidak percaya diri dan berangan-angan, Andai saja aku memiliki apa yang dimiliki orang lain, pasti hidupku akan berbeda? Pikirkanlah kembali karunia atau pengalaman yang telah Allah berikan secara khusus kepada kamu. Percayalah kepada “senjata andalan” yang diberikan-Nya kepadamu. - John Blasé
WAWASAN
Daud pernah berhadapan dengan Goliat, lawan yang ditakuti dari Filistin. Negeri Filistin berbatasan dengan Laut Tengah dan terletak di sebelah barat Kerajaan Yehuda. Bangsa Filistin telah lama menjadi duri dalam daging bagi bangsa Israel. Goliat berasal dari kota Gat dan diutus oleh bangsa Filistin untuk memerangi tentara Israel yang dipimpin Saul. Pemenangnya akan menentukan nasib seluruh pasukan (1 Samuel 17:8-11). Dalam balutan baju zirah yang luar biasa, Goliat adalah raksasa di mata manusia—tingginya “enam hasta sejengkal,” hampir 3 meter! (ay.4-7). Ketika Daud yang masih remaja menginjak medan perang, ia hanya mengandalkan kuasa Allah (ay.45). —Alyson Kieda
Apa contoh “senjata andalan” orang lain yang sering membuatmu iri atau membanding-bandingkan diri dengannya? Kebutuhan apa yang dapat dijawab dengan menggunakan “senjata andalan”-mu hari ini?
Allah yang berdaulat, aku cenderung mudah merasa tidak percaya diri, terutama ketika tantangan terasa bagaikan raksasa yang besar. Tolonglah aku percaya bahwa apa yang Engkau berikan kepadaku memang sesuai dengan kebutuhanku. Engkaulah yang menenun jalan hidupku.

Friday, October 4, 2019

Dia Menenangkan Badai

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” —Matius 14:27
Dia Menenangkan Badai
Jim dengan berapi-api menceritakan tentang permasalahan yang dihadapinya di kantor: perpecahan, sikap suka menghakimi, dan kesalahpahaman di antara rekan-rekan satu timnya. Setelah satu jam mendengarkan kekhawatirannya, saya menyarankan, “Mari kita bertanya kepada Tuhan Yesus apa yang Dia mau kita lakukan dalam situasi seperti ini.” Kami pun duduk diam selama lima menit, kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi. Kami berdua merasakan damai sejahtera dari Allah turun menyelimuti kami. Kami merasa lebih tenang saat merasakan kehadiran dan tuntunan-Nya, sehingga kami merasa percaya diri untuk kembali menghadapi masalah yang ada.
Petrus, salah seorang murid Yesus, juga membutuhkan kehadiran Allah yang menenangkan. Suatu malam ia dan murid-murid lainnya sedang berlayar melintasi Danau Galilea ketika terjadi badai besar. Tiba-tiba saja Yesus muncul dengan berjalan di atas air! Tentulah hal itu mengejutkan para murid. Yesus meyakinkan mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut” (Mat. 14:27). Petrus sontak bertanya kepada Yesus apakah ia bisa datang menghampiri-Nya. Lalu, ia turun dari perahu dan berjalan menghampiri Yesus. Namun, tidak lama kemudian, ia sudah kehilangan fokus dan tersadar akan bahaya yang mengancam serta situasi tidak masuk akal yang sedang dialaminya. Ia pun mulai tenggelam. Petrus berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” dan dengan penuh kasih, Yesus menyelamatkannya (ay.30-31).
Seperti Petrus, kita dapat belajar bahwa Yesus, Anak Allah, selalu menyertai kita, bahkan dalam badai kehidupan! —Estera Pirosca Escobar
WAWASAN
Injil Matius dan Markus menceritakan dua peristiwa berbeda ketika Yesus meredakan angin ribut di Danau Galilea, di hadapan para murid-Nya yang ketakutan. Pada peristiwa pertama, Yesus sedang tidur di buritan ketika taufan yang sangat dahsyat mendera kapal itu (Matius 8:23-27; Markus 4:35-41). Pada peristiwa kedua, para murid sedang menyeberangi danau ketika Yesus mendatangi mereka di tengah tiupan angin sakal dengan berjalan di atas air (Matius 14:22-33; Markus 6:45-51).
Injil Lukas hanya menceritakan peristiwa ketika Yesus tertidur di kapal (8:22-25), sedangkan Yohanes hanya memuat peristiwa Yesus berjalan di atas air (6:16-21). Catatan di Matius dan Markus memperlihatkan bahwa ketika Kristus menginjakkan kaki di atas kapal dan meredakan badai dengan kehadiran-Nya, para murid sudah pernah menyaksikan Dia meneduhkan danau itu dengan perkataan-Nya. —Mart DeHaan
Badai kehidupan apa yang sedang kamu alami hari ini? Apa yang dapat kamu lakukan untuk mengalihkan fokus dari permasalahan yang sedang kamu hadapi kepada Pribadi yang dapat menenangkan badai itu?
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sanggup dan berkuasa untuk menenangkan badai dalam hidup kami. Tolonglah kami mempercayai-Mu.

Thursday, October 3, 2019

Daya Jangkau Kasih

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! —Roma 11:33
Daya Jangkau Kasih
Mary Lee adalah seekor hiu putih besar dengan panjang hampir lima meter dan berat sekitar 1.587 kilogram yang dipasangi alat penanda khusus oleh para ahli kelautan di lepas pantai timur Amerika Serikat pada tahun 2012. Alat pemancar yang dipasangkan pada sirip punggungnya akan terlacak oleh satelit bila hiu tersebut naik ke permukaan. Selama lima tahun berikutnya pergerakan Mary Lee diamati secara online oleh para peneliti maupun peselancar di sepanjang pantai. Total jarak yang terlacak dari hiu itu kurang lebih sejauh 64.375 kilometer sampai suatu hari sinyalnya berhenti, kemungkinan karena daya baterai di alat pemancar pada hiu tersebut sudah habis.
Daya jangkau pengetahuan manusia dan teknologi mempunyai batasan. Mereka yang “mengikuti” Mary Lee akhirnya kehilangan jejaknya, tetapi kamu dan saya tidak akan bisa lepas dari pengawasan Allah setiap saat dalam hidup kita. Daud berdoa, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau”(Mzm. 139:7-8) “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu,” serunya penuh syukur (ay.6).
Allah memilih untuk mengenal kita karena Dia mengasihi kita. Karena kepedulian-Nya, Dia tidak hanya memperhatikan hidup kita tetapi juga memasuki dan memperbaruinya. Dia datang kepada kita lewat Yesus yang hidup, mati, dan bangkit, supaya kita bisa mengenal dan mengasihi-Nya untuk selama-lamanya. Kita tidak mungkin terlepas dari jangkauan kasih Allah yang ajaib. —James Banks
WAWASAN
Secara sederhana, teologi artinya “ilmu yang mempelajari tentang Allah.” Mazmur 139 bukanlah sebuah kursus teologi, tetapi tulisan Daud ini sarat dengan pengetahuan tentang Allah. Ayat 1-18 meliputi tiga sifat yang hanya ada pada Allah: Dia maha tahu (ay.1-6), maha hadir (ay.7-12), dan maha kuasa (ay.13-18). Betapa menakjubkannya Allah menurut gambaran Mazmur 139. Tulisan pemazmur ini lahir dari pengalaman pribadinya bersama Tuhan (perhatikan jumlah kata ganti orang pertama). Daud tidak menuliskan pemikiran abstrak mengenai Allah yang jauh, tetapi perenungannya menghasilkan penerapan pribadi: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (ay.23-24). —Arthur Jackson
Bagaimana kesadaran bahwa Allah mengenal dan mengasihi kita sepenuhnya dapat menyemangatimu? Apa yang akan kamu lakukan hari ini untuk menjangkau sesamamu dengan kasih-Nya?
Terima kasih, karena Engkau selalu mengawasiku, ya Bapa! Tolonglah aku menjalani hidup hari ini dengan semakin menyadari kehadiran dan kasih-Mu yang sempurna.

Wednesday, October 2, 2019

Menangkap Rubah

Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur. —Kidung Agung 2:15
Menangkap Rubah
Ketika pertama kalinya seekor kelelawar masuk ke dalam rumah, kami menganggap kedatangannya hanya kebetulan. Namun, setelah hal itu terjadi lagi, saya mulai mempelajari tentang makhluk kecil tersebut dan mendapati fakta bahwa kelelawar tidak membutuhkan celah yang lebar untuk menyelinap. Dengan lebar lubang setipis sisi koin saja mereka bisa masuk.
Saya pun mengisi lem tembak silikon dan menjalankan misi saya: mengelilingi rumah dan menutup setiap celah yang saya temukan.
Dalam Kidung Agung 2:15, Salomo menyinggung tentang hewan mamalia lain yang juga menimbulkan masalah. Ia menuliskan tentang bahaya “rubah-rubah yang kecil” yang dapat “merusak kebun-kebun anggur”. Secara simbolis, ia berbicara tentang ancaman yang masuk ke dalam sebuah hubungan dan menghancurkannya. Saya tidak bermaksud menyinggung para pecinta kelelawar atau rubah, tetapi mencegah kelelawar masuk ke dalam rumah dan rubah ke kebun anggur kurang lebih sama dengan menghadapi dosa dalam hidup kita (Ef. 5:3). Oleh anugerah Allah, Roh Kudus bekerja di dalam diri kita supaya kita “tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:4). Dengan kuasa Roh Kudus, kita dapat menolak godaan untuk berbuat dosa.
Puji Tuhan, di dalam Kristus, sekarang kita adalah “terang di dalam Tuhan” dan dapat hidup dengan cara yang “berkenan” kepada Dia (Ef. 5:8-10). Roh Allah akan menolong kita menangkap rubah-rubah kecil tersebut. —Dave Branon
WAWASAN
Bacaan hari ini masih merupakan lanjutan dari pasal 4, di mana Paulus mengajarkan cara hidup dalam Kristus. Pertama, menjauhi pikiran sia-sia seperti orang yang terpisah dari Allah. “Pengertian [mereka] yang gelap” (Efesus 4:18) sehingga “mengerjakan … segala macam kecemaran” (ay.19). Sebaliknya, “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah” (ay.24). Manusia baru merujuk pada gaya hidup yang jujur dan berintegritas, berguna dan murah hati (ay.25-28). Gaya hidup ini ditandai dengan kemurahan, belas kasih, pengampunan (ay.32). Perilaku yang serupa Kristus ini bertolak belakang dengan kegelapan yang pernah menguasai kita. “Sebagai anak-anak terang” (5:8) kita mencerminkan Dia yang adalah Terang (lihat 1 Yohanes 1:5-7). —Tim Gustafson
Ketika kamu tergoda berbuat dosa, bagaimana kamu mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk menolaknya? Rubah-rubah kecil apa yang dapat kamu hadapi hari ini dengan pertolongan kuasa Roh Kudus?
Ya Allah, nyatakanlah kuasa-Mu yang memberiku kekuatan untuk melawan dosa yang merusak hubunganku dengan-Mu dan sesamaku.

Tuesday, October 1, 2019

Makan Lagi dan Lagi

Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat. —Bilangan 11:6
Makan Lagi dan Lagi
Ketika Kerry dan Paul menikah, tidak ada dari mereka yang bisa memasak. Namun, suatu malam Kerry memutuskan untuk mencoba memasak spageti—ia memasak sangat banyak hingga malam berikutnya mereka berdua masih makan spageti. Pada hari ketiga, Paul menawarkan diri untuk memasak, menambah jumlah pasta dan saus, dengan harapan sisa spageti yang masih banyak itu bisa bertahan hingga akhir pekan. Namun, saat keduanya duduk untuk makan malam itu, Kerry mengakui, “Aku bosan sekali makan spageti terus.”
Coba bayangkan orang Israel yang makan makanan yang sama terus selama empat puluh tahun. Setiap pagi mereka mengumpulkan “makanan ajaib” yang manis dari Allah dan memasaknya (tidak boleh ada yang tersisa kecuali bila hari berikutnya adalah hari Sabat, Kel. 16:23-26). Mereka bisa berkreasi mengolah manna tersebut—dibakar atau dimasak (ay.23). Meski demikian, betapa rindunya mereka kepada makanan-makanan lezat yang pernah mereka nikmati di Mesir (ay.3; Bil. 11:1-9), sekalipun semuanya itu harus dibayar dengan kekejaman dan perbudakan yang mereka derita!
Mungkin adakalanya kita menyesali hidup ini ketika kita merasa segalanya tidak lagi seperti dahulu. Mungkin juga hidup yang “begitu-begitu saja” menyebabkan kita terus-terusan merasa tidak puas. Namun, Keluaran 16 menceritakan tentang penyediaan Allah yang setia atas bangsa Israel, sehingga sudah sepatutnya mereka percaya dan bergantung kepada pemeliharaan-Nya setiap hari.
Allah berjanji memberikan segala sesuatu yang kita perlukan, “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9). —Cindy Hess Kasper
WAWASAN
Dalam bahasa Ibrani, kata manna artinya, “Apa ini?” Roti manna bertekstur halus, wujudnya menyerupai sisik, berwana putih, dan rasanya “seperti rasa kue madu” (Keluaran 16:14,31). Sajak dalam Mazmur 78:24 berkata, “[Allah] menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit.” Gambaran manna sebagai roti kembali diangkat dalam Perjanjian Baru. Dalam Yohanes 6, orang banyak menyebutnya sebagai “roti dari sorga” (ay.31). Yesus kemudian mengungkapkan makna tertinggi sebagai gambaran atas diri-Nya sendiri (ay.32-33)! Kristus menyebut diri-Nya “roti yang telah turun dari sorga” (ay.41). Dia berfirman, “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.” (ay.49-50). —Bill Crowder
Bagaimana Allah telah memenuhi kebutuhanmu di masa lalu? Kerinduan apa yang saat ini membuatmu sulit mempercayai-Nya?
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah berjanji memeliharaku dengan setia dan menyediakan segala yang kuperlukan.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate