Pages - Menu

Tuesday, May 31, 2016

Pengetahuan dan Tindakan

Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah. —Markus 10:27
Pengetahuan dan Tindakan
Seorang filsuf Tiongkok, Han Feizi, memberikan komentarnya tentang kehidupan, “Mengetahui fakta itu mudah. Yang sulit adalah mengetahui bagaimana bertindak sesuai fakta itu.” Seorang pria kaya dengan masalah tersebut pernah datang kepada Yesus. Ia tahu betul hukum Musa dan yakin bahwa ia telah menaati semua perintah Allah sejak muda (Mrk. 10:20). Namun tampaknya ia penasaran apakah ada fakta-fakta lain yang dikemukakan Yesus. “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay.17).
Jawaban Yesus mengecewakan orang kaya itu. Yesus memerintahkannya untuk menjual segala miliknya, memberikan uang hasil penjualan itu kepada orang miskin, lalu mengikuti Dia (ay.21). Yesus menyingkapkan sebuah fakta yang tak ingin didengar orang itu. Pria kaya itu lebih mencintai dan mengandalkan kekayaannya daripada mempercayai Yesus. Perintah untuk melepaskan jaminan keuangannya dan menjadi pengikut Yesus itu dianggapnya sebagai risiko yang terlalu besar, maka ia pun pergi dengan sedih (ay.22).
Apa yang dimaksud oleh Sang Guru? Murid-murid-Nya sendiri gempar dan bertanya, “Siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus menjawab, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (ay.27). Yang dibutuhkan adalah keberanian dan iman. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9). —Poh Fang Chia
Ya Allah, terima kasih untuk kabar baik tentang Yesus. Beri kami keberanian untuk menindaklanjuti kebenaran yang kami ketahui, dan untuk menerima keselamatan yang Yesus berikan. Terima kasih karena Engkau memberi kami kekuatan untuk bertindak menuruti fakta yang ada.
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat. —Kisah Para Rasul 16:31

Monday, May 30, 2016

Pujian dari Hati yang Tulus

Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. —Mazmur 51:19
Pujian dari Hati yang Tulus
Dalam perjalanannya ke luar negeri, teman saya mendatangi suatu gereja untuk beribadah. Ia memperhatikan bahwa orang-orang yang memasuki ruang kebaktian segera berlutut dan berdoa dengan membelakangi mimbar yang terletak di bagian depan gereja. Teman saya menyadari bahwa jemaat gereja itu sedang mengakui dosa mereka kepada Allah sebelum mereka memulai kebaktian.
Bagi saya, tindakan yang menunjukkan kerendahan hati itu melukiskan perkataan Daud di Mazmur 51, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (ay.19). Daud sedang menggambarkan penyesalan dan pertobatannya sendiri atas dosa perzinahan yang diperbuatnya dengan Batsyeba. Penyesalan yang sungguh atas dosa terjadi ketika kita menerima pandangan Allah terhadap perbuatan kita— dengan memandang dosa sebagai sesuatu yang jelas-jelas salah, membencinya, dan tidak ingin lagi meneruskannya.
Ketika kita benar-benar menyesali dosa kita, Allah menerima kita kembali dengan penuh kasih. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Pengampunan itu membuat kita merasa lega di hadapan-Nya dan menggugah kita untuk memuji nama-Nya. Setelah Daud bertobat, mengakui dosanya, dan diampuni Allah, ia merespons dengan mengatakan, “Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu” (Mzm. 51:17).
Kerendahan hati adalah respons yang tepat terhadap kekudusan Allah. Dan pujian merupakan respons hati kita terhadap pengampunan yang dianugerahkan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tidak membenarkan atau menyepelekan dosaku. Terimalah aku dalam kejatuhanku, dan jangan biarkan apa pun menghalangiku untuk memuji nama-Mu.
Pujian adalah lagu yang keluar dari jiwa yang telah dibebaskan.

Sunday, May 29, 2016

Hanya Bisa Mati Sekali

Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. —Matius 10:28
Hanya Bisa Mati Sekali
Lahir sebagai budak dan diperlakukan dengan buruk di masa mudanya, Harriet Tubman (hidup sekitar tahun 1822-1913) menemukan secercah pengharapan dalam kisah-kisah Alkitab yang diceritakan ibunya. Kisah tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Firaun menunjukkan kepadanya tentang Allah yang menghendaki kebebasan bagi umat-Nya.
Harriet sendiri menemukan kebebasan dari perbudakan dengan cara menyusup ke wilayah perbatasan Maryland. Namun, ia belum merasa tenang karena tahu masih ada begitu banyak orang yang terperangkap dalam perbudakan. Maka ia pun memimpin lebih dari selusin upaya penyelamatan untuk membebaskan para budak yang lain, tanpa mempedulikan bahaya yang akan dihadapinya. “Toh aku hanya bisa mati sekali,” katanya.
Harriet mengenal kebenaran dari pernyataan: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa” (Mat. 10:28). Yesus mengatakan hal itu ketika Dia mengutus murid-murid-Nya dalam misi pertama mereka. Dia tahu bahwa mereka akan menghadapi bahaya, dan tidak semua orang akan menerima mereka dengan baik. Jadi mengapa Dia tetap membiarkan para murid menghadapi risiko itu? Jawabannya ditemukan di pasal sebelumnya. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (9:36).
Ketika Harriet Tubman tidak melupakan sesamanya yang masih terperangkap dalam perbudakan, ia mencontohkan Kristus, yang tidak melupakan kita ketika kita terperangkap dalam dosa-dosa kita. Teladan keberaniannya menginspirasi kita untuk mengingat orang-orang yang masih membutuhkan harapan di dunia ini. —Tim Gustafson
Kiranya kami menemukan kedamaian dan tujuan hidup kami di dalam-Mu, Tuhan, dan menceritakan tentang-Mu kepada orang lain.
Kebebasan sejati diperoleh ketika kita mengenal dan melayani Kristus.

Saturday, May 28, 2016

Dia Pernah Mengalaminya

Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. —Ibrani 2:18
Dia Pernah Mengalaminya
Agar para arsitek muda yang bekerja baginya memahami kebutuhan orang-orang yang rumahnya mereka rancang, David Dillard meminta mereka untuk “menginap”. Mereka mengenakan piyama dan menghabiskan waktu selama 24 jam di sebuah panti wreda dalam kondisi yang sama seperti para penghuni panti yang berusia 80-an dan 90-an tahun. Anak-anak muda itu mengenakan penutup telinga untuk berpura-pura kehilangan pendengaran, membebat jari-jari mereka untuk membatasi geraknya, dan mengganti kacamata untuk merasakan masalah penglihatan. Dillard mengatakan, “Manfaat terbesarnya adalah bahwa para arsitek berusia sekitar 27 tahun itu kembali dengan hati yang jauh lebih peka. Mereka bertemu dengan orang-orang dan mampu memahami keadaan mereka” (Rodney Brooks, USA Today).
Yesus menjalani hidup di bumi ini selama 33 tahun dan ikut merasakan pengalaman yang manusiawi. Yesus menjadi sama seperti kita, “dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya” (Ibr. 2:17), sehingga Dia tahu bagaimana rasanya hidup di dalam tubuh manusiawi di muka bumi ini. Dia memahami pergumulan yang kita hadapi dan sanggup memberikan penguatan yang kita butuhkan.
“Sebab oleh karena [Yesus] sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (ay.18). Tuhan bisa saja menghindari salib, tetapi Dia menaati Bapa-Nya. Melalui kematian-Nya, Dia mematahkan kuasa Iblis dan membebaskan kita dari ketakutan kita akan kematian (ay.14-15).
Dalam setiap pencobaan, Yesus senantiasa menyertai kita untuk memberi kita keberanian, kekuatan, dan harapan. —David McCasland
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah mengalami sendiri hidup sebagai manusia di bumi ini dan untuk penyertaan-Mu atas kami. Kiranya kami mengalami kehadiran-Mu hari ini.
Yesus mengerti.

Friday, May 27, 2016

Damai yang Mengalir

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. —Yohanes 14:27
Damai yang Mengalir
Aku tak heran kamu sanggup memimpin retret,” ujar seorang kenalan saya. “Kamu memiliki aura yang bagus.” Saya kaget sekaligus senang dengan komentarnya, karena saya menyadari bahwa apa yang dilihatnya sebagai “aura” pada diri saya sebenarnya adalah damai sejahtera dari Kristus. Ketika kita mengikut Yesus, Dia memberi kita damai sejahtera yang melampaui segala akal (Flp. 4:7) dan memancar dari dalam diri—meski kita mungkin tidak menyadarinya.
Setelah perjamuan makan terakhir, Yesus menjanjikan damai sejahtera kepada murid murid-Nya di saat Dia sedang menyiapkan mereka untuk menghadapi kematian dan kebangkitan-Nya. Dia berkata kepada mereka, bahwa meskipun mereka akan mengalami penderitaan di dunia, Allah Bapa akan mengutus bagi mereka Roh Kebenaran yang akan diam bersama dan di dalam mereka (Yoh. 14:16-17). Roh tersebut akan mengajar mereka, mengingatkan mereka pada kebenaran-Nya; Roh itu akan menghibur mereka dan mengaruniakan damai sejahtera-Nya atas mereka. Meski mereka akan segera menghadapi tantangan—termasuk perlawanan keras dari para pemuka agama dan menyaksikan Yesus dihukum mati—Dia meminta mereka agar tidak takut. Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan mereka.
Meskipun anak-anak Tuhan mengalami masa sulit, kita juga memiliki Roh-Nya yang hidup di dalam dan berkarya melalui diri kita. Damai sejahtera Allah dapat menjadi kesaksian bagi siapa saja yang kita temui, baik itu di pasar, di sekolah, di lingkungan pekerjaan, atau di mana saja. —Amy Boucher Pye
Bapa, Putra, dan Roh Kudus, terima kasih sudah menerimaku dalam lingkaran kasih karunia-Mu. Hari ini, izinkan aku membagikan damai-Mu kepada seseorang yang ada di lingkunganku.
Jika pikiran kita tetap tertuju kepada Allah, Roh-Nya akan memberi kita damai sejahtera.

Thursday, May 26, 2016

Seperti Domba

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. —Yesaya 53:6
Seperti Domba
Ketika tinggal bersama kakek di Ghana bagian utara, salah satu tugas saya sehari-hari adalah memelihara domba. Setiap pagi saya membawa sekawanan domba ke padang rumput dan membawa mereka kembali di sore hari. Itulah pertama kalinya saya menyadari betapa keras kepalanya domba itu. Contohnya, jika domba melihat ada lahan pertanian, seketika itu juga naluri domba itu menggerakkannya masuk ke lahan tersebut. Tindakan domba-domba itu sempat beberapa kali membuat saya bermasalah dengan sejumlah petani.
Adakalanya ketika saya kelelahan akibat kepanasan dan sedang berteduh di bawah pohon, saya melihat domba-domba itu lari berpencar menuju semak-semak dan mengarah ke lereng perbukitan. Saya harus mengejar domba-domba itu dan akibatnya kaki saya tergores oleh semak belukar. Saya mengalami kesulitan untuk mengarahkan domba-domba tersebut agar terhindar dari bahaya dan masalah, terutama ketika perampok sesekali datang menyerang dan mencuri domba yang tersesat.
Karena itu, saya cukup memahami perkataan Yesaya, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (53:6). Kita tersesat dalam berbagai hal: mengingini dan melakukan apa yang tidak menyenangkan Tuhan, melukai sesama dengan tindakan kita, dan mengabaikan waktu bersama Tuhan dan firman-Nya karena kita terlalu sibuk atau kurang tertarik. Kita bersikap seperti domba di padang tadi.
Kita patut bersyukur karena mempunyai Gembala Baik yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk kita (Yoh. 10:11) dan menanggung kesengsaraan dan dosa-dosa kita (Yes. 53:4-6). Sebagai Gembala, Dia memanggil kita kembali ke padang rumput yang aman sehingga kita dapat mengikuti-Nya dengan lebih sungguh. —Lawrence Darmani
Gembala jiwaku, aku memang sering tersesat. Aku bersyukur karena Engkau selalu mencari dan membawaku kembali kepada-Mu.
Apabila kamu ingin Tuhan memimpin, bersedialah untuk mengikuti-Nya.

Wednesday, May 25, 2016

Ketika Pepohonan Bersemi

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. —Yohanes 11:25
Ketika Pepohonan Bersemi
Di tengah musim dingin yang bersalju dan membeku, harapan akan datangnya musim semi telah menguatkan kami yang tinggal di Michigan, Amerika Serikat. Bulan Mei menjadi jawaban dari penantian itu. Perubahannya begitu menakjubkan. Dahan pohon yang tadinya kering pada awal Mei mulai berubah menjadi ranting yang akan ditumbuhi daun-daun hijau lebat di akhir bulan. Meski dari hari ke hari perubahannya nyaris tak terlihat, tetapi pada akhir Mei, pepohonan di halaman telah berubah dari keabu-abuan menjadi kehijauan.
Allah membuat siklus antara istirahat dan pembaruan bagi karya ciptaan-Nya. Apa yang terlihat mati bagi manusia, bagi Allah adalah masa istirahat. Sebagaimana istirahat menjadi persiapan untuk pembaruan, kematian pun menjadi persiapan untuk kebangkitan.
Saya suka mengamati pepohonan yang seakan hidup kembali di musim semi, karena hal itu mengingatkan saya bahwa kematian hanyalah kondisi sementara yang bertujuan untuk mempersiapkan kehidupan dan awal baru bagi sesuatu yang jauh lebih baik. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).
Meski serbuk sari sering dianggap sebagai gangguan di musim semi karena mengotori perabot rumah dan membuat orang bersin, bagi saya hal itu mengingatkan bahwa Allah masih bekerja untuk memelihara keberlangsungan dari segala sesuatu. Setelah kematian yang membawa dukacita, Dia menjanjikan kebangkitan yang mulia bagi mereka yang percaya kepada Anak-Nya. —Julie Ackerman Link
Kiranya kamu dikuatkan saat membaca 1 Korintus 15:35-58 yang mengingatkan kita pada pengharapan akan kebangkitan.
Setiap helai daun yang baru bertumbuh di musim semi mengingatkan kita pada kebangkitan yang telah dijanjikan Allah.

Tuesday, May 24, 2016

Tak Perlu Khawatir

Marilah kita bertolak ke seberang. —Markus 4:35
Tak Perlu Khawatir
Suatu penerbangan yang semula nyaman tiba-tiba mulai mengalami guncangan. Suara pilot terdengar menyela layanan bagi penumpang dan meminta penumpang untuk memasang sabuk keselamatan mereka. Tidak lama kemudian pesawat itu mulai meluncur dan terguncang seperti kapal di tengah samudera yang dihempas angin kencang. Sementara para penumpang yang lain berusaha sebaik mungkin menghadapi guncangan tersebut, seorang gadis kecil terlihat duduk dengan tenang di tengah semua itu sambil membaca bukunya. Setelah pesawat mendarat, ada yang bertanya mengapa ia bisa begitu tenang. Gadis itu menjawab, “Ayahku pilotnya dan ia sudah berjanji akan mengantarku selamat sampai tujuan.”
Meskipun murid-murid Yesus adalah nelayan yang berpengalaman, mereka sangat ketakutan ketika badai besar mengancam akan menenggelamkan perahu mereka. Mereka telah mengikuti perintah Yesus, tetapi mengapa badai bisa terjadi? (Mrk. 4:35-38). Yesus bersama mereka tetapi Dia tertidur di buritan perahu. Hari itu, mereka belajar bahwa tidak benar apabila kita melakukan perintah Tuhan, badai tidak akan melanda hidup kita. Namun karena Yesus bersama mereka, mereka juga belajar bahwa badai takkan menghentikan kita untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya (5:1).
Meski badai yang kita hadapi hari ini mungkin dampak dari suatu peristiwa tragis, atau karena kehilangan pekerjaan, atau ujian-ujian lainnya, kita bisa meyakini bahwa masih ada harapan bagi kita. Juruselamat kita sanggup mengatasi badai, dan Dia akan mengantar kita selamat sampai tujuan. —C. P. Hia
Badai apa yang sedang kamu hadapi hari ini? Mungkin kamu kehilangan orang yang kamu kasihi atau sedang mengidap penyakit yang berat. Mungkin kamu mengalami kesulitan menemukan pekerjaan. Mintalah kepada Tuhan untuk menguatkan imanmu dan mengantarmu tiba di tujuan dengan aman.
Jika Yesus menjadi sauh, kita tak perlu takut menghadapi badai.

Monday, May 23, 2016

Mengapa Aku?

Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu? —Rut 2:10
Mengapa Aku?
Rut adalah orang asing. Ia seorang janda miskin. Di banyak tempat di dunia ini, orang seperti Rut tidak akan dianggap—seseorang yang masa depannya suram dan tak berpengharapan. Namun Rut mendapat belas kasihan dari seorang kerabat dari suaminya yang telah meninggal. Kerabat itu adalah seorang kaya dan pemilik ladang tempat Rut diizinkan untuk memungut jelai. Menanggapi kebaikan hati orang tersebut, Rut bertanya, “Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?” (Rut 2:10).
Boas, pria yang menunjukkan belas kasihan kepada Rut itu, menjawabnya dengan jujur. Ia berkata bahwa ia telah mendengar tentang perbuatan baik Rut terhadap ibu mertuanya, Naomi, dan pilihannya untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan mengikuti Allah Naomi. Boas berdoa agar Allah, “yang di bawah sayap-Nya [Rut] datang berlindung”, akan memberkati Rut (1:16; 2:11-12; lihat Mzm. 91:4). Dengan menikahi Rut dalam keberadaannya sebagai kerabat yang wajib menebus (Rut 3:9), Boas pun menjadi pelindungnya dan salah satu jawaban atas doanya.
Seperti Rut, kita pun orang asing di bumi ini dan jauh dari Allah. Kita mungkin takjub atas pilihan Allah untuk mengasihi kita di saat kita tak layak untuk menerima kasih itu. Alasannya tidak terletak pada diri kita, melainkan di dalam Dia. “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Kristus telah menjadi Penebus kita. Ketika kita datang kepada-Nya untuk menerima keselamatan, kita pun dapat berlindung di bawah sayap kasih-Nya. —Keila Ochoa
Tuhan, aku tak tahu mengapa Engkau mengasihiku, tetapi aku tak meragukan kasih-Mu. Aku bersyukur kepada-Mu. Terimalah penyembahanku!
Ucapan syukur adalah respons hati terhadap kasih Allah yang sesungguhnya tak layak kita terima.

Sunday, May 22, 2016

Teruslah Mendayung

Ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. —Filipi 3:13
Teruslah Mendayung
Saya menyukai Reepicheep, tikus kecil yang ulet dan bisa berbicara dalam cerita The Chronicles of Narnia karya C. S. Lewis. Setelah memutuskan untuk pergi ke “Lautan Timur” dan bergabung dengan singa agung bernama Aslan [simbol dari Kristus], Reepicheep menyatakan tekadnya: “Selagi aku bisa, aku akan berlayar ke Timur dengan kapal Dawn Treader. Jika kapal itu berhenti berlayar, aku akan mendayung ke Timur dengan perahu kecilku. Jika perahu kecil itu tenggelam, aku akan berenang ke Timur dengan keempat kakiku. Saat aku tak mampu lagi berenang, dan belum juga sampai ke Negeri Aslan, maka aku akan tenggelam dengan hidung yang terus menghadap ke arah matahari terbit.”
Paulus menyatakan hal serupa dengan cara lain: “[Aku] berlari-lari kepada tujuan” (FLP. 3:14). Tujuan hidupnya adalah untuk menjadi seperti Yesus. Tidak ada hal lain yang lebih penting. Paulus menyadari bahwa ia masih jauh dari sasaran, tetapi ia tidak akan menyerah sampai ia memperoleh apa yang menjadi panggilan Yesus baginya.
Tak seorang pun dari kita sudah mencapai apa yang seharusnya kita capai, tetapi seperti Rasul Paulus, kita bisa terus berdoa dan berlari kepada tujuan itu. Sama seperti Paulus, kita akan selalu berkata, “Bukan seolah-olah aku . . . telah sempurna.” Namun demikian, meski kita lemah, gagal, dan lelah, kita harus terus mengejarnya (ay.12). Akan tetapi segalanya bergantung kepada Allah. Tanpa Dia, kita tidak bisa melakukan apa-apa!
Ingatlah bahwa Allah selalu menyertaimu, dan Dia memanggil kamu untuk terus maju. Teruslah mendayung! —David Roper
Tuhan, tolong kami memahami bahwa kami tidak sanggup mencapai tujuan kami dengan kekuatan kami, melainkan lewat doa dan bimbingan Roh Kudus. Tanpa-Mu, kami tak bisa berbuat apa pun. Bekerjalah di dalamku hari ini.
Allah menyediakan kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap bertahan.

Saturday, May 21, 2016

Tempat Kediaman Allah

Maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita. —Wahyu 21:4
Tempat Kediaman Allah
James Oglethorpe (1696-1785) adalah seorang jenderal dan juga anggota Parlemen Inggris. Ia memiliki visi untuk membangun suatu kota yang megah. Dalam tugasnya untuk menempati negara bagian Georgia di Amerika Utara, ia pun merencanakan pembangunan kota Savannah sesuai dengan visinya itu. Ia merancang berpetak-petak tanah, di mana setiap petaknya memiliki kawasan hijau, area-area yang diperuntukkan bagi gereja dan pertokoan, dan sisanya dikhususkan untuk perumahan. Saat ini, buah pemikirannya Oglethorpe yang visioner terlihat pada kota Savannah yang tertata rapi, hingga disebut sebagai salah satu kota terindah di wilayah selatan Amerika Serikat.
Di Wahyu 21, Yohanes menerima penglihatan tentang suatu kota yang berbeda—kota Yerusalem Baru. Yang berkesan bagi Yohanes dari kota itu bukanlah rancangannya, melainkan Pribadi yang diam di sana. Saat menggambarkan tentang kediaman kekal kita itu, Yohanes menulis, “Aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka’” (ay.3). Karena Pribadi yang diam di sana, yaitu Allah sendiri, tempat kediaman itu akan dikenal karena apa yang tidak ada di sana. Mengutip dari Yesaya 25:8, Yohanes menulis, “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi” (ay.4).
Maut tidak akan ada lagi! Tidak akan ada lagi “perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita.” Semua kesedihan kita akan digantikan oleh kehadiran Allah alam semesta yang indah dan yang membawa pemulihan. Itulah tempat kediaman yang sedang Yesus siapkan bagi semua orang yang telah menerima pengampunan-Nya. —Bill Crowder
Bapa, terima kasih karena Anak-Mu sedang menyiapkan tempat kediaman kami untuk tinggal bersama-Mu. Terima kasih karena tempat itu tidak hanya indah, tetapi juga menjadi kediaman kami untuk mengenal-Mu selamanya.
Sementara Engkau menyiapkan tempat kediaman untuk kami, siapkanlah kami agar layak untuk berdiam di tempat itu.

Friday, May 20, 2016

Cabai

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. —Yakobus 1:27
Cabai
Ibu saya memberi kami cabai sebelum kami tidur,” kata Samuel, sambil mengenang masa kecilnya yang sulit di daerah selatan Gurun Sahara, Afrika. “Kami minum banyak air untuk mendinginkan mulut, hingga kami merasa kenyang. Namun itu tak selalu berhasil.”
Pergolakan dalam pemerintahan memaksa ayah Samuel untuk melarikan diri dan membuat ibunya harus bekerja mencari nafkah bagi keluarga. Kemudian saudara laki-laki Sam menderita penyakit anemia sel sabit, dan mereka tak mampu membiayai pengobatannya. Ibu pun membawa mereka ke gereja, tetapi bagi Sam hal itu tidak terlalu berguna. Sam bertanya-tanya, Bagaimana mungkin Allah membiarkan keluarga kami menderita seperti ini?
Lalu suatu hari seseorang tahu tentang keadaan mereka. Ia menemukan obat yang dibutuhkan saudara Sam dan memberikannya kepada mereka. “Hari Minggu nanti, kita akan beribadah di gereja orang itu,” kata ibunya. Sam segera merasakan ada yang berbeda dengan gereja itu. Jemaat gereja itu menunjukkan iman mereka kepada Yesus dengan cara meneruskan kasih-Nya melalui hidup mereka.
Peristiwa itu terjadi tiga dekade yang lalu. Saat ini di daerahnya, Sam telah membangun lebih dari 20 gereja, sebuah sekolah yang besar, dan sebuah panti asuhan. Ia terus menerapkan pengajaran dari Yakobus, saudara Yesus, tentang ibadah yang murni. Ia mendorong kita untuk “menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (Yak. 1:22). “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” (ay.27).
Alangkah ajaibnya pengaruh dari satu perbuatan baik sederhana yang dilakukan dalam nama Yesus. —Tim Gustafson
Adakalanya perbuatan baik menjadi kesaksian kita yang terbaik.

Thursday, May 19, 2016

Karya Literatur Agung

Betapa manisnya janji-Mu itu . . . lebih dari pada madu bagi mulutku. —Mazmur 119:103
Karya Literatur Agung
Belum lama ini, saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan tentang apa yang dianggap sebagai karya literatur agung. Penulisnya berpendapat bahwa karya yang agung “akan mengubahmu. Setelah membacanya, kamu akan menjadi seorang yang berbeda.”
Jika kita mengikuti pandangan tersebut, Alkitab akan dapat digolongkan sebagai karya literatur agung. Bacaan Alkitab selalu menantang kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beragam kisah kepahlawanan dalam Alkitab menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang berani dan tabah. Kitab-kitab hikmat dan nubuat mengingatkan kita tentang bahaya dari menjalani hidup dengan mengikuti naluri manusiawi yang berdosa. Allah berbicara melalui berbagai penulis untuk menulis mazmur-mazmur yang mengubahkan hidup kita. Ajaran Yesus membentuk karakter kita agar menjadi semakin serupa dengan-Nya. Surat-surat Paulus mendorong pikiran dan perbuatan kita pada kekudusan hidup. Lewat pertolongan Roh Kudus yang mengingatkan kita pada ayat-ayat Kitab Suci, setiap bagian firman Allah pun menjadi sarana yang berkuasa untuk mengubah hidup kita.
Penulis Mazmur 119 mencintai firman Allah karena pengaruhnya yang telah mengubah hidupnya. Ia menyadari bahwa Taurat Tuhan yang diwariskan oleh Musa itu menjadikannya lebih bijaksana dan berakal budi daripada semua pengajarnya (ay.99). Firman itu menjauhkannya dari segala jalan kejahatan (ay.101). Tak heran ia berseru, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” dan “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (ay.97,103).
Nikmatilah sukacita dari membaca karya literatur agung, terutama Alkitab, firman Allah yang berkuasa mengubahkan hidup! —Joe Stowell
Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu dan pengaruhnya yang dahsyat dalam hidupku. Tolonglah aku untuk belajar menerapkan kebenarannya.
Dengan firman Allah, Roh Allah berkarya mengubah umat Allah.

Wednesday, May 18, 2016

Santapan yang Memuaskan

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya. —Lukas 11:3
Santapan yang Memuaskan
Saya belajar menghafal dan mengucapkan Doa Bapa Kami sejak masih di sekolah dasar. Setiap kali mengucapkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11), saya selalu teringat akan persediaan makanan yang pas-pasan di rumah kami. Hanya setelah ayah kembali dari perjalanannya ke kota, kami dapat menikmati makanan yang lebih memadai. Jadi, memohon kepada Allah untuk memberikan makanan kami yang secukupnya setiap hari adalah doa yang sangat relevan bagi saya.
Saya merasa penasaran ketika bertahun-tahun kemudian saya menemukan buklet renungan Our Daily Bread (Santapan Rohani). Saya tahu judulnya dikutip dari isi Doa Bapa Kami, tetapi saya yakin buklet itu tidak mungkin berbicara tentang santapan berupa makanan fisik. Setelah membaca buklet tersebut secara teratur, saya mendapati bahwa “santapan” yang dimaksud adalah makanan rohani bagi jiwa, dengan pembahasan firman Allah dan ilustrasi yang bermanfaat di dalamnya.
Santapan rohanilah yang dipilih Maria ketika ia duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya dengan penuh perhatian (Luk. 10:39). Sementara Marta menyibukkan dirinya dengan santapan jasmani, Maria mengambil waktu untuk duduk dekat tamu mereka, Tuhan Yesus, dan mendengarkan-Nya. Baiklah kita juga mengambil waktu untuk mendengarkan-Nya. Dialah Roti Hidup (Yoh. 6:35), dan Dia mengenyangkan hati kita dengan santapan rohani. Hanya Dialah Santapan yang memuaskan jiwa. —Lawrence Darmani
Sekarang aku duduk di hadapan-Mu, Tuhan, hendak belajar dari-Mu. Hatiku terbuka untuk mendengar-Mu melalui firman-Mu.
“Akulah roti hidup.” —Yesus

Tuesday, May 17, 2016

Saatnya Bertumbuh

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9
Saatnya Bertumbuh
Di rumah barunya, Debbie menemukan sebatang tanaman yang tidak terurus di suatu sudut dapur yang gelap. Dedaunan yang sudah berdebu dan koyak tersebut sepertinya berasal dari tanaman anggrek kumbang, dan ia membayangkan indahnya tanaman itu apabila bunga-bunganya kembali mekar. Ia pun memindahkan pot tanaman itu ke dekat jendela, memangkas daun-daunnya yang mati, dan menyiraminya dengan rajin. Ia membeli dan menebar pupuk pada akar-akarnya. Minggu demi minggu, ia memeriksa tanaman itu, tetapi tidak ada tunas baru yang muncul. “Akan kuberikan waktu sebulan lagi,” kata Debbie kepada suaminya, “bila masih tak ada perubahan, akan kubuang saja tanaman itu.”
Ketika sebulan sudah hampir berlalu, Debbie pun terkejut oleh apa yang dilihatnya. Ada dua tunas kecil yang mencuat di antara dedaunan! Tanaman yang hampir dibuangnya itu ternyata masih hidup.
Pernahkah kamu putus asa karena merasa kerohanianmu bertumbuh begitu lamban? Mungkin kamu masih mudah kehilangan kesabaran atau sering tergoda untuk menyebarkan gosip. Atau mungkin kamu sering terlambat bangun untuk berdoa dan membaca Alkitab, walaupun sebelumnya kamu sudah bertekad melakukannya.
Cobalah untuk menceritakan kepada seorang sahabat yang kamu percayai tentang aspek pertumbuhan rohani apa yang kamu rindukan. Mintalah bantuannya untuk ikut mendoakan dan mendorongmu bertanggung jawab pada keputusanmu. Kemudian bersabarlah. Kerohanianmu akan bertumbuh apabila kamu mengizinkan Roh Kudus bekerja di dalam dirimu. —Marion Stroud
Tuhan, berilah aku kesabaran terhadap diriku sendiri dan sesamaku. Tolonglah aku untuk bekerja sama dengan Roh Kudus ketika Dia membentuk kerinduanku dan menolongku bertumbuh.
Setiap langkah kecil dalam iman merupakan langkah besar menuju pertumbuhan rohani.

Monday, May 16, 2016

Apakah Allah Baik?

Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman . . . ?” —Kejadian 3:1
Apakah Allah Baik?
“Aku tak yakin Allah itu baik,” kata seorang teman. Sudah bertahun-tahun ia mendoakan masalah-masalah dalam hidupnya, tetapi tidak ada perubahan. Ia semakin marah dan getir terhadap sikap Allah yang membisu. Saya mengenalnya dengan baik, karena itu saya dapat merasakan bahwa jauh di lubuk hatinya ia masih mempercayai Allah itu baik. Namun penderitaan yang terus menetap dalam hatinya dan perasaannya bahwa Allah tidak peduli telah menyebabkan dirinya ragu. Lebih mudah baginya untuk marah daripada terus-menerus bersedih.
Meragukan kebaikan Allah sudah terjadi sejak masa Adam dan Hawa (Kej. 3). Ular mempengaruhi pikiran Hawa ketika ia memberikan kesan bahwa Allah melarang Hawa makan buah itu karena “Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (ay.5). Dengan angkuhnya Adam dan Hawa berpikir bahwa mereka sendiri dan bukan Allah yang berhak untuk menentukan apa yang baik bagi mereka.
Bertahun-tahun setelah kematian putrinya, James Bryan Smith menyadari bahwa akhirnya ia harus mengakui kebaikan Allah. Dalam bukunya, The Good and Beautiful God (Allah yang Baik dan Indah), Smith menulis, “Kebaikan Allah tidaklah tergantung pada keputusan saya. Saya hanyalah manusia biasa dengan pengertian yang terbatas.” Pernyataan Smith yang mengagumkan itu bukanlah bentuk kepolosan, melainkan buah dari pergumulannya dengan dukacita dan pencariannya akan maksud hati Allah selama bertahun-tahun.
Dalam keputusasaan, baiklah kita saling melayani dan menolong untuk dapat melihat kebenaran bahwa Allah itu baik. —Anne Cetas
Tuhan, seperti pemazmur, kami hendak memuji-Mu di tengah kesulitan kami. Engkau mengenal kami, dan kami berharap kepada-Mu karena kami tahu Engkau baik.
Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. —Mazmur 145:9

Sunday, May 15, 2016

Selalu dalam Pemeliharaan-Nya

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. —Mazmur 139:2
Selalu dalam Pemeliharaan-Nya
Scott Pelley, seorang wartawan veteran, tidak pernah pergi bertugas tanpa membawa perangkat-perangkat yang penting untuk pekerjaannya—radio gelombang pendek, kamera, koper yang tahan banting, komputer laptop, telepon, dan alat suar darurat yang dapat menentukan lokasi dan berfungsi di mana saja. “Saya hanya perlu menarik antenanya, menekan dua tombol, dan perangkat ini segera mengirim sinyal pada sebuah satelit yang terhubung ke Badan Nasional Kelautan dan Atmosfer,” kata Pelley. “Alat ini memberi tahu mereka tentang siapa saya dan di mana saya berada. Tergantung di negara mana saya berada, mereka bisa mengirimkan regu penyelamat” (sumber: AARP The Magazine). Pelley tidak pernah merasa perlu menggunakan alat suar itu, tetapi ia tak pernah bepergian tanpa alat tersebut.
Namun dalam hubungan kita dengan Allah, kita tidak memerlukan radio, telepon, atau perangkat suar darurat. Segenting apa pun keadaan yang kita hadapi, Allah sudah tahu siapa kita dan bagaimana keadaan kita. Pemazmur mensyukuri kenyataan itu dengan menuliskan, “Engkau menyelidiki dan mengenal aku. . . . Segala jalanku Kaumaklumi” (Mzm. 139:1-3). Kebutuhan kita tidak pernah tersembunyi dari Allah, dan kita tidak pernah lepas dari pemeliharaan-Nya.
Hari ini, kita dapat mengatakan dengan yakin, “Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (ay.9-10).
Tuhan tahu siapa kita, bagaimana keadaan kita, dan apa yang kita butuhkan. Kita selalu ada dalam pemeliharaan-Nya. —David McCasland
Ya Tuhan, kami memuji-Mu karena kasih-Mu yang tak berkesudahan dan pemeliharaan-Mu yang tak pernah gagal.
Kita selalu berada dalam pemeliharaan-Nya.

Saturday, May 14, 2016

Beristirahat dan Menanti

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Yohanes 4:34
Beristirahat dan Menanti
Saat itu tepat siang hari. Karena letih setelah menempuh perjalanan panjang, Yesus beristirahat di samping sumur Yakub. Murid-murid-Nya telah pergi ke kota Sikhar untuk membeli roti. Seorang wanita keluar dari kota untuk menimba air . . . dan menemukan Sang Mesias. Diceritakan bahwa wanita tersebut kemudian cepat-cepat kembali ke kotanya dan mengundang orang-orang untuk datang menemui “seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat” (Yoh. 4:29).
Lalu para murid datang membawa roti. Saat mereka mendesak Yesus untuk makan, Dia berkata kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (ay.34).
Pertanyaannya: Pekerjaan apa yang telah Yesus lakukan? Sedari tadi Yesus hanya beristirahat dan menanti di tepi sumur.
Karena keterbatasan fisik yang saya alami sekarang, kisah di atas memberikan saya dorongan yang sangat membesarkan hati. Kisah tersebut mengingatkan bahwa saya tidak perlu tergesa-gesa dan khawatir tentang bagaimana saya dapat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya. Di masa hidup saya sekarang ini, saya bisa beristirahat dan menantikan Allah bekerja membawa seseorang untuk saya layani.
Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Mungkin kamu berada di apartemen yang sederhana, di ruang kerja yang kecil, di dalam sel penjara, atau di atas ranjang rumah sakit. Semua itu dapat menjadi “sumur Yakub” kamu sendiri, yakni tempat untuk beristirahat dan menantikan Bapa bekerja membawa jiwa-jiwa untuk kamu layani. Siapakah yang akan Dia bawa kepadamu hari ini? —David Roper
Tuhan, situasi kami sering mengancam untuk menenggelamkan kami. Tolonglah kami hari ini untuk melihat Engkau di seluruh kehidupan kami. Kami belajar mempercayai bahwa Engkau bekerja menurut kehendak-Mu.
Lihatlah ladang pelayanan yang terbentang luas di sekitarmu.

Friday, May 13, 2016

Tak Melihat, tetapi Mengasihi

Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. —1 Petrus 1:8
Tak Melihat, tetapi Mengasihi
Seperti pada umumnya dalam komunitas blogging, saya tidak pernah bertemu dengan seseorang yang menyebut dirinya BruceC. Namun saat istri dari BruceC mengabarkan pada komunitas kami bahwa suaminya sudah meninggal dunia, banyaknya tanggapan yang berdatangan dari berbagai tempat memperlihatkan bahwa kami sadar kami telah kehilangan seorang teman.
BruceC kerap kali mencurahkan isi hatinya kepada kami. Ia terang-terangan berbicara tentang keprihatinannya kepada sesama dan hal-hal yang penting baginya. Banyak dari kami merasa seakan-akan kami sungguh mengenalnya. Kami merindukan kearifan yang bersumber dari pengalaman hidupnya sebagai penegak hukum dan dari imannya di dalam Tuhan.
Saat mengenang percakapan dengan BruceC di dunia maya, saya semakin menghargai kata-kata yang ditulis oleh seorang saksi mata Yesus di abad pertama. Dalam surat pertamanya di Perjanjian Baru yang ditujukan bagi para pembaca yang tersebar di berbagai penjuru Kekaisaran Romawi, Petrus menulis, “Sekalipun kamu belum pernah melihat [Kristus], namun kamu mengasihi-Nya” (1Ptr. 1:8).
Petrus, sebagai sahabat dekat Yesus, menulis surat kepada orang-orang yang selama ini hanya mendengar tentang satu Pribadi yang telah memberi mereka pengharapan di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Meski tidak pernah melihat Yesus, sebagai bagian dari satu komunitas besar umat percaya, mereka mengasihi Dia. Mereka tahu bahwa dengan menyerahkan nyawa-Nya, Yesus telah membawa mereka masuk ke dalam satu keluarga Allah yang kekal. —Mart Dehaan
Tuhan, kami tidak pernah melihat-Mu, tetapi kami percaya dan mengasihi-Mu. Teguhkanlah kasih kami untuk saudara-saudari seiman kami yang juga mengasihi-Mu. Jadikanlah kami menjadi satu keluarga di dalam Engkau.
Kasih kita kepada Kristus terbukti nyata lewat kasih kita kepada sesama.

Thursday, May 12, 2016

Pembawa Kasih

Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. —Yohanes 3:17
Pembawa Kasih
Dalam pelayanan saya sebagai pembina rohani, terkadang saya diminta untuk menolong seseorang dalam pergumulannya. Saya merasa senang bisa membantu mereka, dan kenyataannya, sayalah yang belajar banyak dari mereka. Contohnya ketika seorang petobat baru yang jujur berkata kepada saya dengan pasrah, “Saya rasa lebih baik tidak membaca Alkitab. Semakin banyak saya tahu tentang apa yang Allah harapkan dari diri saya, saya justru semakin menghakimi orang lain yang tak berperilaku seperti yang tertulis dalam Alkitab.”
Mendengar itu, saya sadar bahwa saya ikut bertanggung jawab terhadap sikap menghakimi yang tertanam dalam dirinya. Dahulu, salah satu hal yang pertama-tama saya ajarkan kepada para petobat baru adalah daftar perilaku tertentu yang tidak boleh lagi mereka lakukan sebagai orang percaya. Dengan kata lain, saya lebih menuntut mereka untuk “menampilkan sikap selayaknya orang Kristen” daripada menunjukkan kasih Allah kepada mereka dan membiarkan Roh Kudus berkarya mengubah hidup mereka.
Namun sekarang saya semakin memahami Yohanes 3:16-17. Setelah Yesus mengundang manusia untuk percaya kepada-Nya di ayat 16, Dia berkata: “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Yesus tidak datang untuk menghakimi kita. Akan tetapi, dengan memberikan daftar perilaku yang harus diikuti oleh para petobat baru, saya justru mengajari mereka untuk menghakimi diri sendiri, sehingga pada akhirnya mereka terjebak dalam sikap menghakimi orang lain. Ingatlah bahwa kita diutus Allah bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi pembawa kasih dan rahmat Allah. —Randy Kilgore
Bapa, ajarku untuk tidak menghakimi sesamaku hari ini. Ajari aku agar benar-benar memahami hal itu hingga aku semakin serupa dengan Kristus.
Jika Yesus tidak datang untuk menghakimi dunia, kita pun tidak patut melakukannya!

Wednesday, May 11, 2016

Awal yang Baru

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23
Awal yang Baru
Sewaktu masih kecil, salah satu buku favorit saya adalah Anne of Green Gables (Anne dari Green Gables) karya Lucy Maud Montgomery. Dalam salah satu bagian yang kocak, diceritakan bahwa Anne yang masih kecil tidak sengaja memasukkan obat kulit dan bukannya bubuk vanili ke dalam adonan kue yang sedang dibuatnya. Setelah itu, ia berseru dengan nada ceria pada Marilla, pengawasnya yang bertampang galak, “Alangkah menyenangkannya membayangkan bahwa esok adalah hari baru yang belum ternoda oleh kesalahan apa pun!”
Saya suka dengan perkataan Anne: esok adalah hari baru—kesempatan kita untuk memulai kembali dari awal. Kita semua pernah membuat kesalahan. Namun dalam hal dosa, hanya pengampunan Allah yang memampukan kita untuk memulai setiap pagi dengan awal yang benar-benar baru. Jika kita bertobat, Dia memilih untuk tidak lagi mengingat dosa-dosa kita (Yer. 31:34; Ibr. 8:12).
Ada di antara kita yang pernah mengambil jalan yang salah dalam hidup ini. Akan tetapi perkataan dan tindakan kita di masa lalu tidak sepatutnya membatasi masa depan kita di hadapan Allah. Awal yang baru selalu tersedia bagi kita. Dengan memohon pengampunan-Nya, kita mengambil langkah pertama untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9).
Kasih setia dan rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi (Rat. 3:23), sehingga kita dapat menerima awal yang baru setiap harinya. —Cindy Hess Kasper
Terima kasih untuk hari baru ini, Tuhan. Ampunilah aku karena melakukan hal-hal yang tidak semestinya kulakukan dan tidak melakukan hal-hal yang semestinya kulakukan. Tuntunlah langkahku pada jalan kebenaran-Mu hari ini.
Hari baru memberi kita alasan baru untuk memuji Tuhan.

Tuesday, May 10, 2016

Senjata Ilahi Kita

Terimalah . . . pedang Roh, yaitu firman Allah. —Efesus 6:17
Senjata Ilahi Kita
Di bawah pengawasan Nehemia, para pekerja Israel membangun kembali tembok yang mengelilingi Yerusalem. Akan tetapi, di tengah proses pembangunan itu, mereka mendengar berita tentang musuh-musuh mereka yang bersekongkol untuk menyerang Yerusalem. Kabar itu semakin menjatuhkan semangat para pekerja yang sudah kelelahan itu.
Nehemia memutuskan untuk bertindak. Pertama, ia berdoa dan menempatkan banyak penjaga pada tempat-tempat yang strategis. Lalu, ia mempersenjatai para pekerja. “Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata. Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya” (Neh. 4:17-18).
Kita yang membangun kerajaan Allah juga perlu mempersenjatai diri untuk menghadapi serangan Iblis, musuh spiritual kita. Senjata kita adalah pedang Roh, yaitu firman Allah. Menghafal isi Kitab Suci dan merenungkannya akan memampukan kita untuk “dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11). Apabila kita berpikir bahwa bekerja untuk Allah tidaklah penting, kita perlu mengingat kembali bahwa pekerjaan kita bagi Yesus itu bernilai kekal (1Kor. 3:11-15). Ketika kita takut Allah tidak akan memakai kita lagi karena besarnya dosa kita, kita harus ingat bahwa kita telah diampuni oleh kuasa darah Yesus (Mat. 26:28). Dan ketika kita khawatir akan gagal dalam melayani Allah, kita dapat mengingat kembali perkataan Yesus yang menyatakan bahwa kita akan berbuah banyak selama kita tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:5).
Firman Allah adalah senjata ilahi kita! —Jennifer Benson Schuldt
Allah, terima kasih untuk Alkitab. Aku percaya bahwa firman-Mu hidup dan berkarya dengan aktif. Tolonglah aku mengingatnya ketika aku khawatir dan takut, ataupun ketika aku memerlukan dorongan dan inspirasi.
Firman Allah adalah senjata ilahi untuk menghadapi serangan Iblis.

Monday, May 9, 2016

Teruslah Mendaki!

Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari. —Ibrani 3:13
Teruslah Mendaki!
Richard membutuhkan dorongan, dan ia mendapatkannya. Ia sedang memanjat tebing bersama Kevin, temannya yang bertugas sebagai belayer (orang yang mengamankan pemanjat dengan memegangi tambang di bawahnya). Karena merasa lelah, Richard ingin menyerah saja dan meminta Kevin menurunkannya agar ia dapat kembali ke tanah. Namun Kevin mendorong Richard untuk bertahan, dengan berkata bahwa ia sudah mendaki cukup jauh dan sayang jika ia memilih untuk turun. Sambil terayun di udara, Richard pun memutuskan untuk melanjutkan usahanya. Luar biasa, Richard berhasil mengaitkan dirinya kembali dengan tebing itu dan menyelesaikan pemanjatan berkat dorongan dari temannya.
Dalam jemaat mula-mula, para pengikut Yesus saling mendorong untuk tetap setia ketika mengikut Tuhan dan menunjukkan belas kasihan. Di tengah budaya yang marak dengan perbuatan amoral, mereka giat menasihati satu sama lain untuk tetap hidup kudus (Rm. 12:1; 1Tes. 4:1). Orang percaya saling menguatkan setiap hari sesuai dengan dorongan Allah (Kis. 13:15). Mereka saling menasihati untuk berdoa bagi tubuh Kristus (Rm. 15:30), agar tetap giat beribadah bersama (Ibr. 10:25), dan lebih bersungguh-sungguh dalam mengasihi satu sama lain (1Tes. 4:10).
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah menyatukan kita sebagai satu tubuh. Oleh karena itu, kita memiliki tanggung jawab dan hak istimewa menurut kemampuan yang diberikan Allah untuk menyemangati saudara-saudari seiman kita supaya tetap setia mempercayai dan menaati-Nya. —Marvin Williams
Kapan terakhir kali kamu menguatkan orang lain agar mereka tetap beriman kepada Kristus? Siapakah orang yang telah mendorongmu untuk selalu hidup kudus, tekun berdoa, dan semakin mengasihi Kristus dan sesama?
Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah. —1 Tesalonika 5:11

Sunday, May 8, 2016

Tidak Dilupakan

Aku tidak akan melupakan engkau. —Yesaya 49:15
Tidak Dilupakan
Dalam perayaan ulang tahun sang ibu yang ke-50, di hadapan ratusan tamu yang hadir, Kukua si putri sulung menceritakan kembali tentang apa yang telah dilakukan sang ibu untuknya. Kukua teringat pada masa-masa sulit di mana mereka tidak memiliki banyak uang. Di tengah keadaan itu, sebagai orangtua tunggal, sang ibu rela melepaskan kenyamanan dirinya. Ibunya menjual perhiasan yang disayanginya dan barang-barang berharga lainnya supaya Kukua dapat bersekolah hingga tamat SMA. Dengan berlinang air mata, Kukua mengatakan bahwa sesulit apa pun situasi pada masa itu, ibunya tidak pernah meninggalkannya ataupun saudara-saudaranya.
Allah membandingkan kasih-Nya kepada umat-Nya dengan kasih seorang ibu kepada anaknya. Ketika orang Israel merasa ditinggalkan Allah di tengah masa pengasingan, mereka mengeluh, “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Namun Allah berkata, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (ay.15).
Ketika kita merasa tertekan atau kecewa, kita mungkin merasa diabaikan oleh lingkungan, keluarga, dan teman. Akan tetapi, Allah tidak meninggalkan kita. Betapa kita dikuatkan ketika mendengar Allah berkata, “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (ay.16). Itulah cara Allah untuk menunjukkan betapa Dia mengenal dan dan melindungi kita. Meskipun orang-orang meninggalkan kita, Allah tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. —Lawrence Darmani
Tuhan, terima kasih karena aku menjadi milik-Mu selamanya. Aku bersyukur karena aku tidak akan pernah menjalani segala sesuatu seorang diri.
Allah tidak akan pernah melupakan kita.

Saturday, May 7, 2016

Roh Kudus yang Dijanjikan

Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” —2 Raja-Raja 2:9
Roh Kudus yang Dijanjikan
Kegigihan dan keberanian—dua sifat yang menonjol dari Elisa. Meluangkan waktu bersama Elia telah membuat Elisa menyaksikan cara Tuhan bekerja melalui nabi-Nya dengan melakukan mukjizat dan menyatakan kebenaran di tengah zaman yang bengkok. 2 Raja-Raja 2:1 bercerita tentang Elia yang hendak diangkat Tuhan ke surga, dan Elisa yang tidak ingin Elia pergi.
Ketika tiba waktunya untuk perpisahan yang ditakutkannya itu, Elisa tahu bahwa ia membutuhkan apa yang Elia miliki untuk dapat melanjutkan pelayanannya dengan baik. Elisa pun mengajukan sebuah permintaan yang berani kepada Elia: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu” (2Raj. 2:9). Permohonan Elisa yang terang-terangan itu merujuk pada dua bagian yang diberikan kepada anak sulung atau penerus takhta yang sah menurut hukum (Ul. 21:17). Elisa ingin diakui sebagai penerus Elia yang sah, dan Tuhan menyetujuinya.
Baru-baru ini salah seorang wanita yang menjadi mentor saya, dan setia memberitakan Injil Kristus, telah meninggal dunia. Setelah berjuang dengan penyakitnya selama bertahun-tahun, ia telah siap untuk bertemu dengan Tuhan yang dikasihinya. Kami yang mengasihinya sangat bersyukur karena akhirnya ia terbebas dari sakit dan dapat menikmati kehadiran Tuhan, meskipun kami merasakan kehilangan kasih dan teladannya. Namun, ia tidak meninggalkan kami sendirian, sebab kami juga mengalami kehadiran Allah dalam hidup kami.
Elisa menerima dua bagian dari roh Elia—suatu keistimewaan dan berkat yang luar biasa. Kita, yang hidup setelah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, juga memiliki Roh Kudus yang dijanjikan-Nya. Allah Tritunggal diam bersama kita! —Amy Boucher Pye
Ya Tuhan, kami ingin makin serupa dengan-Mu. Tolonglah kami untuk menjadi saksi Roh-Mu yang tinggal di dalam diri kami.
Ketika Kristus naik ke surga untuk tinggal bersama Bapa, Dia mengutus Roh-Nya untuk tinggal bersama kita.

Friday, May 6, 2016

Tak Ada Sukacita yang Lebih Besar

Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. —3 Yohanes 1:4
Tak Ada Sukacita yang Lebih Besar
Sebagai pasangan suami-istri dengan tiga anak laki-laki yang masih kecil, hidup Bob dan Evon Potter mengalami perubahan yang dahsyat dan indah. Pada tahun 1956, mereka menghadiri KKR yang dipimpin Billy Graham di kota Oklahoma, dan di sana mereka memberikan hidup mereka kepada Kristus. Setelah itu, mereka rindu menjangkau sesama dengan membagikan kesaksian mereka dan kebenaran tentang Kristus. Maka mereka membuka pintu rumah mereka setiap Sabtu malam bagi para siswa dan mahasiswa yang rindu mempelajari Alkitab. Seorang teman mengajak saya untuk bergabung sehingga saya pun sangat sering berkunjung ke rumah keluarga Potter.
Kami melakukan kegiatan pendalaman Alkitab dengan serius, termasuk menyiapkan pembahasan dan menghafal ayat Alkitab. Kami saling menguatkan dalam suasana penuh persahabatan, sukacita, dan tawa, dan Tuhan mengubah hidup kami bersama pada masa-masa itu.
Setelah masa itu berlalu, saya masih terus berhubungan dengan keluarga Potter dan menerima banyak kartu ucapan serta surat dari Bob. Ia selalu mengakhiri pesannya dengan kata-kata berikut: “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran” (3Yoh. 1:4). Seperti yang Yohanes tulis untuk “Gayus yang kekasih” (ay.1), Bob menguatkan semua orang yang pernah dikenalnya agar mereka tetap setia dalam iman kepada Tuhan.
Beberapa tahun lalu, saya menghadiri upacara peringatan untuk mengenang Bob—suatu acara penuh sukacita yang dipadati oleh orang-orang yang masih bertekun dalam iman. Semuanya itu ada karena sepasang suami-istri muda telah membuka rumah dan hati mereka untuk menolong orang lain menemukan Tuhan. —David McCasland
Terima kasih Tuhan, untuk orang-orang yang telah menguatkanku agar aku tetap hidup dalam kebenaran-Mu. Kiranya aku menghormati jasa mereka dengan cara menolong seseorang dalam perjalanan imannya hari ini.
Kuatkanlah semangat seseorang hari ini.

Thursday, May 5, 2016

Doa Maraton

Tetaplah berdoa. —1 Tesalonika 5:17
Doa Maraton
Apakah kamu bergumul untuk memiliki kehidupan doa yang teratur? Banyak dari kita bergumul dengan hal itu. Kita tahu bahwa doa itu penting, tetapi doa itu juga dapat sulit dilakukan. Adakalanya kita merasa begitu erat bersekutu dengan Allah. Namun, di waktu-waktu lain kita bisa merasa doa hanyalah rutinitas belaka. Mengapa kita bergumul begitu rupa dengan doa-doa kita?
Kehidupan iman kita ibarat sebuah perlombaan maraton. Semangat yang berkobar, semangat yang menurun, dan perasaan sekadar menjalankan rutinitas dalam kehidupan doa kita merupakan cerminan dari perlombaan itu. Dan seperti halnya dalam maraton, kita perlu tetap berlari, maka kita pun tetap berdoa. Poinnya adalah: Jangan menyerah!
Allah juga mendorong kita untuk bertekun. Rasul Paulus berkata, “Tetaplah berdoa” (1Tes. 5:17), “bertekunlah dalam doa!” (Rm. 12:12), dan “hendaklah kalian berdoa dengan tekun” (Kol. 4:2 BIS). Semua pernyataan tersebut mengandung ide untuk mengambil sikap teguh dan tekun dalam berdoa.
Karena Allah, Bapa Surgawi, adalah satu pribadi, kita dapat membangun suatu waktu persekutuan yang erat dengan-Nya, sama seperti kita menjalin hubungan dengan orang-orang yang terdekat dengan kita. A. W. Tozer menulis bahwa ketika kita belajar berdoa, kehidupan doa kita dapat bertumbuh “dari mengucapkan doa yang seadanya hingga mencapai suatu persekutuan terakrab yang sanggup digapai oleh jiwa manusia.” Itulah yang sangat kita rindukan— terjalinnya komunikasi yang akrab dengan Allah. Hal itu terjadi ketika kita tetap berdoa. —Poh Fang Chia
Ya Bapa, kami sering bergumul untuk mempunyai waktu bersama-Mu. Tolong kami untuk menyediakan waktu, dan mampukan kami agar dapat merasakan kebaikan dan hadirat-Mu.
Tak ada satu hari pun di mana kita tak perlu berdoa.

Wednesday, May 4, 2016

Bangkit dari Reruntuhan

Engkau membuat kami disayangi oleh raja-raja Persia dan diizinkan hidup serta membangun kembali Rumah-Mu yang tinggal puing-puing itu. —Ezra 9:9 BIS
Bangkit dari Reruntuhan
Di kawasan Jewish Quarter, Yerusalem, kamu dapat menemukan Sinagoge Tiferet Yisrael. Dibangun pada abad ke-19, sinagoge itu diledakkan tentara pada masa Perang Arab-Israel tahun 1948. Selama bertahun-tahun, bangunan itu dibiarkan runtuh. Lalu pada tahun 2014, pemugaran dimulai. Saat pemerintah kota menaruh sebongkah puing sebagai batu penjuru, salah satu puingnya mencantumkan ayat dari kitab Ratapan: “Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!” (5:21).
Kitab Ratapan merupakan kidung duka Yeremia untuk Yerusalem. Dengan penggambaran yang gamblang, Yeremia melukiskan dampak perang atas kotanya. Ayat 21 menjadi permohonan hatinya yang terdalam agar Allah turun tangan. Meski demikian, sang nabi tidak yakin apakah hal itu akan terjadi. Ia menutup kidung dukanya dengan mengajukan pertanyaan yang menakutkan: “Apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?” (ay.22). Puluhan tahun kemudian, Allah menjawab doa itu ketika kaum buangan Israel pulang kembali ke Yerusalem.
Hidup kita mungkin juga bagaikan reruntuhan. Masalah yang kita buat sendiri dan konflik yang tak terhindarkan mungkin telah membuat kita hancur berkeping-keping. Akan tetapi, kita mempunyai Allah Bapa yang memahami keadaan kita. Dengan lemah lembut dan sabar, Dia menyingkirkan puing-puing, merombaknya, dan membangun kembali sesuatu yang lebih baik. Semua itu memang memerlukan waktu, tetapi kita dapat selalu mempercayai-Nya. Allah sanggup memulihkan hidup kita. —Tim Gustafson
Tuhanku, Engkau telah memperoleh kami kembali dan memperbarui kami. Terima kasih untuk kasih dan kepedulian-Mu, meskipun kami sering menyimpang dan merusak diri kami sendiri. Terima kasih untuk pengampunan dan kesatuan sejati di dalam-Mu.
Kelak Allah akan memulihkan semua keindahan yang pernah hilang.

Tuesday, May 3, 2016

Sesuai yang Saya Butuhkan

Kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. —2 Korintus 1:4
Sesuai yang Saya Butuhkan
Suatu waktu, saya berdiri di bagian belakang ruangan panti wreda di kota Palmer, Alaska, sembari mendengarkan paduan suara SMA putri saya menyanyikan pujian It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Saya bertanya-tanya mengapa Lisa, anak saya yang memimpin paduan suara, memilih lagu itu. Pujian itu pernah dimainkan di upacara pemakaman kakaknya, Melissa, dan Lisa tahu persis bahwa saya tidak pernah mendengarkan lagu tersebut tanpa rasa haru.
Pikiran saya terhenti oleh perkataan pria di samping saya, “Lagu ini sesuai dengan yang kubutuhkan.” Saya pun bertanya mengapa ia membutuhkan lagu itu. Ia menjawab, “Aku baru saja kehilangan putraku, Cameron, minggu lalu karena kecelakaan lalu lintas.”
Wow! Saya begitu berfokus pada diri sendiri hingga tak lagi memikirkan kebutuhan orang lain, sementara Allah terus memakai lagu itu untuk melayani seseorang menurut kehendak-Nya. Saya pun meneruskan pembicaraan dengan Mac, teman baru saya yang bekerja di panti tersebut, tentang pemeliharaan Allah dalam masa-masa tersulit hidupnya itu.
Di sekitar kita, ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan, dan terkadang kita harus mengesampingkan perasaan dan rencana kita untuk menolong mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengingat bagaimana Allah telah menghibur kita dalam beragam ujian dan masalah yang kita hadapi “sehingga [kita] sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang [kita] terima sendiri dari Allah” (2Kor. 1:4). Alangkah mudahnya kita terhanyut oleh urusan kita sendiri dan lupa bahwa di dekat kita ada seseorang yang mungkin membutuhkan doa, penguatan, pelukan, atau uluran tangan yang kita berikan di dalam nama Yesus. —Dave Branon
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk melihat siapa yang sedang butuh pertolongan, dan biarlah aku siap untuk memberikannya. Terima kasih untuk penghiburan yang Engkau berikan kepadaku; tolonglah aku untuk membagikannya.
Penghiburan yang kita terima patutlah kita bagikan pada sesama.

Monday, May 2, 2016

Meneruskan Pancaran Terang

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang. —Matius 5:16
Meneruskan Pancaran Terang
Seorang gadis kecil merasa penasaran dengan rupa orang kudus. Suatu hari mamanya membawanya ke sebuah katedral megah untuk melihat-lihat jendela-jendela kaca patri yang indah dan dihiasi dengan kisah-kisah Alkitab. Ketika melihat indahnya semua jendela itu, gadis kecil itu berseru dengan lantang, “Sekarang aku tahu seperti apakah rupa orang kudus itu. Mereka adalah orang-orang yang meneruskan pancaran terang!”
Mungkin ada dari kita yang berpikir bahwa orang-orang kudus adalah mereka yang pada zaman dahulu hidup dengan sempurna dan melakukan berbagai mukjizat seperti yang telah Yesus perbuat. Namun ketika Alkitab menggunakan kata “orang-orang kudus”, sesungguhnya hal itu mengacu kepada siapa saja yang menjadi milik Allah melalui iman kepada Kristus. Dengan kata lain, orang kudus merupakan manusia biasa seperti kita yang dipanggil khusus untuk melayani Allah dan mencerminkan relasi kita dengan-Nya di mana pun kita berada dan apa pun yang kita kerjakan. Itulah alasan Rasul Paulus berdoa agar mata hati dan pemahaman para pembacanya dibukakan, agar mereka dapat menghayati keberadaan mereka sebagai harta mulia milik Kristus dan orang-orang kudus kepunyaan Allah (Ef. 1:18).
Jadi, apakah yang sebenarnya kita lihat ketika melihat cermin? Mungkin kita tidak terlihat seperti gambaran orang kudus di jendela-jendela kaca patri. Namun jika kita bersedia menjawab panggilan Allah, lambat laun kita akan menjadi orang yang meneruskan pancaran kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kelemahlembutan, kesetiaan, dan penguasaan diri yang berasal dari Allah. —Keila Ochoa
Ya Tuhan, Engkaulah terang dunia. Terima kasih karena Engkau telah bersedia memancarkan terang itu dalam hidup kami. Bersihkan aku pada hari ini ya Tuhan, sehingga aku dapat terus meneruskan pancaran terang-Mu.
Orang-orang kudus adalah siapa saja yang hidupnya meneruskan pancaran terang Allah.

Sunday, May 1, 2016

Bisnis Barang Bekas

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8
Bisnis Barang Bekas
Adam Minter memiliki bisnis barang bekas. Sebagai anak dari pengusaha barang bekas, ia berkeliling dunia untuk mencari tahu tentang sampah dan rongsokan. Dalam buku berjudul Junkyard Planet (Planet Barang Bekas), ia membahas tentang industri daur ulang sampah yang bernilai milyaran dolar. Ia bercerita tentang pengusaha-pengusaha di seluruh dunia yang mencurahkan tenaga mereka untuk mencari barang-barang bekas, seperti kawat tembaga, kain usang, dan plastik, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang baru dan berguna.
Setelah Rasul Paulus menyerahkan hidupnya kepada Yesus, ia pun menganggap segala prestasi dan kemampuannya tidak lebih daripada sampah. Namun Yesus mengubah semua itu menjadi sesuatu yang baru dan berguna. Ia berkata, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Di bawah didikan hukum agama Yahudi, ia tumbuh menjadi seorang yang pemarah dan bertindak keras terhadap para pengikut Kristus (Kis. 9:1-2). Setelah diubahkan oleh Kristus, tabiat lamanya yang pemarah dan pengacau itu diubahkan menjadi penuh dengan kasih Kristus kepada sesamanya (2Kor. 5:14-17).
Jika kamu merasa hidupmu tidak lagi berguna bagaikan seonggok barang bekas, ingatlah bahwa Allah selalu sanggup mengubah kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Dia akan memperbarui kita agar berguna bagi-Nya dan bagi sesama. —Dennis Fisher
Bagaimana caranya menjadi manusia baru? Roma 3:23 dan 6:23 menyatakan bahwa ketika kita mengakui dosa dan memohon pengampunan Allah, Dia memberi kita anugerah hidup kekal yang diperoleh melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Nyatakanlah kepada-Nya apa yang kamu butuhkan.
Kristus menjadikan segala sesuatu baru.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate