Pages - Menu

Advertisement

Friday, October 23, 2020

Tembakan yang Hebat?

 

Kepada Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:10

Tembakan yang Hebat?

Ketika film kartun Bambi dari Walt Disney ditayangkan kembali, banyak orangtua ingin bernostalgia mengenang masa kecil sambil mengajak anak-anak mereka. Salah satunya adalah seorang ibu muda, yang suaminya sangat gemar berburu dan memiliki sebuah ruangan khusus di rumahnya untuk menyimpan hiasan kepala-kepala hewan hasil buruan yang sudah diawetkan. Ibu muda itu ikut terkejut dan merintih saat menyaksikan adegan Bambi kehilangan ibunya yang mati karena ditembak pemburu. Namun, sampai hari ini, ia selalu diingatkan orang pada kejadian memalukan di dalam bioskop, yaitu ketika putra kecilnya menyaksikan adegan tadi dan berteriak tanpa rasa bersalah, “Wah, tembakan yang hebat!”

Bisa jadi kita tertawa mendengar hal-hal memalukan yang dilontarkan oleh anak-anak kita. Namun, bagaimana reaksi kita membaca orang-orang dalam Mazmur 136 ternyata melakukan hal yang mirip? Israel, umat pilihan yang telah diselamatkan oleh Allah, merayakan kasih setia-Nya yang dialami seluruh makhluk dan mereka sendiri—tetapi musuh-musuh mereka tidak. Mazmur tersebut menyanyikan pujian kepada “Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir” —(ay.10; lihat juga Keluaran 12:29-30). Tidakkah ini terdengar seperti bersukacita di atas penderitaan keluarga-keluarga yang kehilangan anak mereka?

Oleh sebab itu kita perlu memahami keseluruhan cerita. Ketika terang datang lewat kebangkitan Yesus, barulah seluruh dunia diundang untuk menikmati sukacita menjadi satu keluarga yang saling berbagi kisah, tangis, dan tawa. Hanya setelah kita menerima Yesus sebagai Juruselamat dan dihidupkan kembali dengan Dia, kita dapat bersama-sama merasakan keajaiban Allah yang mengasihi setiap orang—lewat pengorbanan diri-Nya sendiri. —MART DEHAAN

WAWASAN
Mazmur 135 dan 136 mempunyai beberapa kemiripan. Keduanya memuji Allah karena karya ciptanya yang ajaib (135:6-7; 136:4-9). Keduanya menggambarkan peran Allah dalam memelihara umat-Nya ketika orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir (135:8-9; 136:10-15). Keduanya juga mengenang bagaimana orang Israel memasuki Tanah Perjanjian dan perbuatan tangan Allah dalam menghalau raja-raja penyembah berhala yang menentang orang Ibrani (135:10-12; 136:17-22). Tema besar dari kedua mazmur tersebut adalah tentang Allah sebagai satu-satunya Allah sejati (135:5,13; 136:1-3,26), dan hanya Dia yang pantas kita puji. Mazmur 136 adalah pujian antifonal; yaitu sebagian jemaat akan menyanyikan kalimat pertama, lalu sebagian jemaat lain akan menanggapi dengan mengucapkan “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pola itu diulang-ulang di setiap ayat dari mazmur ini. Menyanyikan kebaikan Allah kepada kita, terutama bersama saudara-saudari seiman, akan mengingatkan kita kepada karakter Allah dan menggerakkan emosi kita untuk rindu mengucap syukur kepada-Nya. —Tim Gustafson

Alasan apa yang diberikan sampai dua puluh enam kali dalam mazmur ini? Bagian mana dari mazmur ini yang menunjukkan bahwa kasih Allah juga meraih mereka yang bukan umat Israel?

Bapa yang tak terlihat oleh kami, terima kasih karena Engkau meyakinkanku untuk percaya bahwa visi dan kasih-Mu bagi setiap orang lebih baik dan lebih luas daripada kasihku kepada diriku sendiri.

Thursday, October 22, 2020

Hari Binatu

 

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. —Matius 28:19

Hari Binatu

Saat berkendara melewati kawasan pemukiman kelas menengah ke bawah dekat gerejanya di Colorado, pendeta Chad Graham mulai mendoakan warga di sana. Kemudian ia berhenti dan masuk ke sebuah gerai binatu mandiri, lalu menemukan tempat itu sangat ramai dengan pelanggan. Salah seorang dari mereka meminta dari Graham uang logam untuk mengoperasikan mesin pengering. Permintaan sederhana itu mengilhami kegiatan mingguan bernama “Hari Binatu” yang disponsori oleh gereja Graham. Jemaat menyumbangkan uang logam dan deterjen kepada gerai itu, berdoa bersama para pelanggan, dan memberikan dukungan kepada pemilik gerai tersebut.

Penjangkauan lingkungan yang dilakukan gereja itu dengan melibatkan sebuah gerai binatu telah mencerminkan Amanat Agung yang diperintahkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dia berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:18-19). Penyertaan kuasa Roh Kudus akan memampukan kita melakukan penjangkauan di mana saja, termasuk di sebuah gerai binatu. Kita memang tidak melakukannya sendirian. Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Pendeta Chad mengalami kebenaran tersebut setelah di gerai itu ia mendoakan Jeff, seorang pelanggan yang sedang berjuang melawan kanker. Chad bercerita, “Ketika kami membuka mata, setiap pelanggan di ruangan itu berdoa bersama kami, dengan tangan-tangan yang terangkat mendoakan Jeff. Itu salah satu momen paling sakral yang saya alami sebagai seorang pendeta.”

Apa yang bisa kita pelajari? Pergilah ke mana saja untuk memberitakan Kristus.—Patricia Raybon

WAWASAN
Perintah Yesus agar murid-murid-Nya pergi dan menjadikan lebih banyak murid (Matius 28:19) umumnya dikenal sebagai Amanat Agung. Namun, terselip di tengah adegan itu ada sebuah frasa yang biasanya jarang mendapat perhatian. Ketika para murid bertemu dengan Yesus di atas bukit, mereka menyembah-Nya. Kemudian dicatat bahwa “beberapa orang ragu-ragu” (ay.17). Beberapa penafsir berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang lain yang hadir dan berdiri agak jauh. Namun, apa yang mereka ragukan? Kata yang diterjemahkan sebagai “ragu-ragu” di dalam bahasa Yunani adalah edistasan. Matius adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang menggunakan kata tersebut (yang juga ditemukan dalam 14:31, yang diterjemahkan sebagai “kurang percaya”). Kata itu dapat berarti bimbang, meragukan, atau enggan. Mungkin “enggan” lebih tepat. Bisa jadi mereka yang berdiri agak jauh dari tempat Yesus mengajar (mereka yang berada di pinggiran mungkin belum pernah melihat Kristus yang telah bangkit) menunjukkan keengganan dan tidak langsung menyembah. —J.R. Hudberg

Ke mana kamu bisa melangkah untuk memberitakan Kristus di lingkunganmu hari ini? Bagaimana penyertaan-Nya yang penuh kuasa itu memampukanmu?

Tuhan Yesus, mampukanlah aku untuk memberitakan kabar baik-Mu hari ini—di mana saja Engkau menghendakinya.

Wednesday, October 21, 2020

Apa yang Salah dengan Dunia Ini?

 

Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. —1 Timotius 1:15

Apa yang Salah dengan Dunia Ini?

Surat kabar The London Times pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepada para pembacanya sebelum memasuki abad kedua puluh: Apa yang salah dengan dunia ini?

Pertanyaan yang luar biasa, bukan? Mungkin ada orang yang dengan cepat menjawab: “Tergantung berapa banyak waktu yang diberikan kepadaku untuk menjawabnya?” Jawaban itu cukup masuk akal, karena memang banyak sekali yang salah dengan dunia kita. Singkat cerita, surat kabar itu menerima banyak jawaban, tetapi ada satu jawaban cemerlang yang meski pendek tetapi sangat menarik perhatian. Penulis, penyair, sekaligus filsuf Inggris, G. K. Chesterton, mengirimkan tanggapan dengan kata-kata yang tidak biasa tetapi sangat tepat: “Jawabannya: saya.”

Tidak ada yang tahu kebenaran cerita itu. Namun, jawaban tersebut jelas benar. Jauh sebelum Chesterton, ada seorang rasul bernama Paulus yang kehidupannya jauh dari kriteria seorang warga teladan. Paulus pun mengakui segala cacat celanya di masa lalu: “Aku . . . tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (1 Tim. 1:13). Setelah menyebutkan siapa yang hendak diselamatkan Tuhan Yesus lewat kedatangan-Nya (“orang berdosa”), Paulus membuat pernyataan yang mirip dengan jawaban Chesterton: “di antara mereka akulah yang paling berdosa” (ay.15). Paulus tahu persis apa yang salah dengan dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Lebih jauh lagi, ia tahu satu-satunya harapan untuk memperbaiki semuanya itu adalah “kasih karunia Tuhan kita” (ay.14). Kenyataan yang sangat mengagumkan! Kebenaran abadi ini mengajak kita memandang terang kasih Kristus yang menyelamatkan. —John Blase

WAWASAN
Di 1 Timotius 1:13, Paulus mengenang bagaimana sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, ia telah menganiaya secara ganas orang-orang yang percaya kepada Yesus, tetapi oleh kasih karunia-Nya, Yesus menyelamatkan dirinya di jalan menuju Damsyik (Kisah Para Rasul 9:10-19; 22:3-21; 26:9-18). Ia menganggap dirinya seseorang yang paling tidak layak untuk menerima belas kasihan dan kasih karunia Allah (1 Timotius 1:13-14). Namun, Allah berfirman kepada Ananias bahwa Paulus adalah “alat pilihan” bagi-Nya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (Kisah Para Rasul 9:15). Paulus melihat alasan lain dari pilihan Allah untuk menyelamatkannya: “Kristus Yesus memakai [dirinya] sebagai contoh untuk memperlihatkan kepada setiap orang betapa sabarnya Ia terhadap orang yang paling berdosa sekalipun” Karena Allah menyelamatkan Paulus, “orang lain akan sadar, bahwa mereka juga dapat memperoleh hidup kekal” (1 Timotius 1:16 FAYH). Allah memikirkan kita ketika Dia menyelamatkan Paulus—sungguh luar biasa! Paulus dengan jelas menyatakan bahwa jika Yesus sanggup menyelamatkan dan memakai dirinya, orang yang paling berdosa, maka tidak seorang pun yang tidak sanggup diselamatkan oleh belas kasihan dan kasih karunia Allah. —K.T. Sim

Apa yang salah dengan dunia ini? Dapatkah kamu memakai jawaban Paulus dan Chesterton? Bagaimana cara kamu menerima kenyataan itu tanpa harus membenci diri sendiri?

Ya Allah, terima kasih untuk kesabaran-Mu yang luar biasa terhadap diriku, orang berdosa. Bagi-Mulah segala hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

Tuesday, October 20, 2020

Luka Emas

 

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. —2 Korintus 11:30

Luka Emas

Di Belanda, sekelompok perancang busana menawarkan pelatihan yang diberi nama “Golden Joinery.” Kegiatan ini terinspirasi dari teknik Kintsugi asal Jepang, suatu seni memperbaiki porselen yang retak atau pecah dengan garis emas yang terlihat. Para peserta pelatihan diajak bekerja sama memperbaiki pakaian yang robek dengan cara-cara yang sengaja memperlihatkan daripada menutupi bagian yang diperbaiki. Peserta yang diundang diminta membawa “baju kesayangan yang sudah robek dan memperbaikinya dengan emas.” Setelah dijahit kembali, hasil perbaikannya menjadi semacam hiasan yang terlihat seperti “luka emas.”

Baju-baju itu diubah dengan cara menonjolkan bagian-bagian yang koyak atau usang. Mungkin ini mirip seperti yang dimaksud Rasul Paulus ketika ia mengatakan bahwa ia akan “bermegah” dalam hal-hal yang memperlihatkan kelemahannya. Walaupun Rasul Paulus pernah mendapatkan “penyataan-penyataan yang luar biasa”, ia tidak bermegah tentang hal tersebut (2 Kor. 12:6-7). Ia dihalangi untuk menjadi angkuh atau terlalu percaya diri oleh suatu “duri di dalam daging” (ay.7). Tidak ada yang tahu pasti apa yang dimaksud oleh sang rasul—mungkin depresi, penyakit malaria, aniaya dari musuh, atau hal lain. Apa pun itu, Paulus memohon kepada Allah agar duri itu disingkirkan darinya. Namun, Allah berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna” (ay.9).

Sama seperti robekan di kain tua dapat berubah menjadi tampilan yang indah di tangan para perancang, demikian pula kebobrokan dan kelemahan diri kita dapat dipakai Allah sebagai sarana untuk menunjukkan kuasa dan kemuliaan-Nya. Dialah yang memulihkan kita, mengubah kita, dan membuat kelemahan kita menjadi indah. —Amy Peterson

WAWASAN
Menanggapi guru-guru palsu yang mengatakan bahwa ia bukan rasul sejati karena ia tidak mempunyai pengalaman rohani yang spektakuler, Paulus sengaja bermegah atas penglihatan dan wahyu luar biasa yang pernah diterimanya (2 Korintus 12:1-7). Setelah diubah dan ditugaskan menjadi rasul melalui penglihatan Kristus yang telah bangkit (Kisah Para Rasul 9:1-19; 22:17-21), Paulus pun membawa berita Injil ke tanah Eropa dengan dituntun penglihatan tentang “seorang Makedonia” (16:6-10). Lalu, Paulus “diangkat ke Firdaus” dan melihat surga (2 Korintus 12:1-4). Menyombongkan diri seperti itu sama sekali bukan watak Paulus, karena ia “tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahan[nya]” (ay.5; lihat juga 11:30; Galatia 6:14). —K.T. Sim

Kelemahan apa saja yang kamu coba sembunyikan dari orang lain? Bagaimana Allah telah menunjukkan kuasa-Nya melalui kelemahanmu?

Ya Allah, biarlah semua lukaku menjadi emas lewat kesembuhan dan pemulihan yang Engkau kerjakan, agar nama-Mu semakin dimuliakan.

Monday, October 19, 2020

Kasih Mengalahkan Kebencian

 

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. —Lukas 23:34

Kasih Mengalahkan Kebencian

Dalam kurun waktu 24 jam setelah kematian tragis ibunya, Chris berulang kali menggumamkan kalimat yang menguatkan ini: “Kasih mengalahkan kebencian.” Ibunya yang bernama Sharonda tewas bersama delapan orang lain saat sedang mengikuti pendalaman Alkitab di Charleston, Carolina Selatan. Apa yang telah begitu kuat membentuk kehidupan remaja ini sehingga kata-kata itu dapat keluar dari bibir dan hatinya? Chris percaya kepada Tuhan Yesus dan ia memiliki ibu yang “mengasihi semua orang dengan segenap hatinya.”

Lukas 23:26-49 seperti membawa kita menyaksikan langsung hukuman mati terhadap dua orang penjahat dan Yesus yang tidak bersalah (ay.32). Ketiga orang itu disalibkan (ay.33). Di tengah desah napas dan rintihan orang-orang yang tergantung di kayu salib, kata-kata ini terdengar keluar dari mulut Yesus: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (ay.34). Inisiatif jahat yang didasari kebencian para pemimpin agama telah mengakibatkan disalibkannya satu Pribadi yang selalu berbicara tentang kasih. Meski dalam kesakitan yang luar biasa, kasih Yesus tetap tak terkalahkan.

Pernahkah kamu atau seseorang yang kamu kasihi menjadi sasaran kebencian, kedengkian, atau kepahitan orang lain? Kiranya kepedihan hatimu mendorongmu untuk berdoa, dan kiranya teladan Yesus dan orang-orang seperti Chris menguatkanmu, sehingga dengan kuasa Roh Kudus, kamu memilih untuk mengasihi daripada membenci. —Arthur Jackson

WAWASAN
Di Lukas 23:34, Yesus meminta Allah Bapa untuk mengampuni mereka yang mengolok-olok dan menyalibkan-Nya. Orang banyak dan para pemimpin mengejek Dia dengan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah” (ay.35). Mereka tidak memahami bahwa Yesus sedang menyelamatkan orang lain, termasuk mereka, dengan kerelaan-Nya memberikan nyawa-Nya. Yang perlu dilakukan hanyalah menerima karunia keselamatan itu. Mazmur 22 menggema melalui kata-kata Lukas. Perkataan di Mazmur 22:9, “Biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?” tecermin dalam Lukas 23:35. Peristiwa Yesus diolok-olok adalah penggenapan Mazmur 22:7-19, yang menggambarkan “gerombolan penjahat” mengepung-Nya, menusuk tangan dan kaki-Nya, serta membuang undi atas jubah-Nya. Para pengolok-olok itu kemungkinan tidak menyadari bahwa tindakan-tindakan mereka menggenapi nubuatan Perjanjian Lama dan dengan demikian membuktikan bahwa Kristus adalah Mesias. —Julie Schwab

Pernahkah kamu merasa sulit mengasihi seseorang? Adakah seseorang yang sulit untuk kamu ampuni saat ini? Langkah-langkah apa yang mungkin perlu kamu lakukan?

Ya Bapa, ampunilah aku ketika aku sulit mengampuni orang lain. Tolonglah aku untuk dapat menunjukkan bahwa kasih mengalahkan kebencian.

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate