Pages - Menu

Advertisement

Saturday, November 28, 2020

Singkatnya Hidup

 

Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. —Mazmur 139:16

Singkatnya Hidup

Saya, ibu, dan saudara-saudara perempuan saya sedang menunggui ayah kami di sisi tempat tidurnya ketika napasnya semakin lama semakin pendek dan jarang—sampai akhirnya berhenti. Ayah berpulang ke pangkuan Bapa hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-89. Kepergiannya meninggalkan suatu ruang kosong di dalam hati kami yang pernah ia tempati, dan sekarang hanya diisi dengan kenangan indah yang mengingatkan kami pada dirinya. Namun, kami memiliki pengharapan bahwa suatu hari kami akan bertemu kembali. Kami memiliki pengharapan itu karena kami yakin Ayah sudah bersama Allah yang mengenal dan mengasihinya. Ketika Ayah bernapas untuk pertama kalinya, Allah ada di sana, mengembuskan napas ke dalam paru-parunya (Yes. 42:5). Namun, bahkan sebelum Ayah bernapas, Allah sudah berkarya merajut setiap detail hidupnya, sebagaimana Dia juga berkarya dalam hidup kamu dan saya. Dialah yang secara ajaib merancang dan “menenun” Ayah dalam kandungan ibunya (Mzm. 139:13-14). Kemudian, ketika ia mengembuskan napasnya yang terakhir, Roh Allah ada di sana, menggenggamnya dengan penuh kasih dan membawanya kembali bersama-Nya (ay.7-10). Hal yang sama berlaku juga bagi semua anak Allah. Setiap saat dari hidup kita yang singkat di dunia ini diketahui oleh-Nya (ay.1-4). Kita sungguh berharga di mata-Nya. Dengan setiap hari yang tersisa dari kehidupan kita dan dalam penantian akan kehidupan yang mendatang, marilah bersama “segala yang bernafas” kita memuji Tuhan. “Haleluya!” (150:6).—Alyson Kieda

WAWASAN
Saat menanggapi ancaman dari para musuh yang ingin membunuhnya (Mazmur 139:19-22), Daud mengalihkan pikirannya kepada Allah dan merenungkan tentang diri-Nya. Sang pemazmur begitu terkagum-kagum oleh kemahatahuan Allah—pengetahuan-Nya tentang keseluruhan dirinya (ay.1-6). Ia diyakinkan oleh kemahahadiran Allah—bahwa Dia selalu ada dan tidak akan meninggalkannya (ay.7-12). Ia pun terpukau oleh kemahakuasaan-Nya—Dialah Sang Pencipta, pemegang segala kuasa yang menciptakannya (ay.13-18). Daud berkata-kata mengenai Allah yang selalu ada untuk membimbing, memelihara, dan melindunginya. Tidak ada tempat yang luput dari kehadiran dan pemeliharaan Allah yang ajaib (ay.7-12). Karena itu, ia bertekad untuk menjalani hidup yang tidak serong (ay.23-24), karena “segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13). —K.T. Sim

Apakah kamu merasa mendapatkan pengharapan saat mengetahui Allah berkarya secara detail dalam hidupmu? Bagaimana kamu dapat memakai napasmu untuk selalu memuji Dia?

Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau telah menciptakan aku dan memberiku napas kehidupan—bahkan memberiku pengharapan. Dalam kedukaan dan kehilangan yang kualami dalam hidup ini, tolonglah aku untuk terus berharap kepada-Mu.

Friday, November 27, 2020

Menghadapi Pertempuran

 

Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! —1 Tawarikh 16:11

Menghadapi Pertempuran

Belum lama ini saya bertemu dengan beberapa teman, dan lewat obrolan kami, saya menduga masing-masing dari kami sedang menghadapi pertempuran berat. Dua dari kami memiliki orangtua yang sedang berjuang melawan penyakit kanker, ada satu yang anaknya mengidap penyakit gangguan makan, seorang teman menderita sakit kronis, dan seorang yang lain sedang menghadapi operasi besar. Sungguh tidak mudah bagi kami yang berusia antara tiga puluhan hingga empat puluhan. 1 Tawarikh 16 menceritakan suatu momen penting dalam sejarah Israel ketika Tabut Perjanjian dibawa ke kota Daud (Yerusalem). Samuel menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada masa damai ketika tidak ada pertempuran (2 Sam. 7:1). Ketika tabut itu sudah berada di tempatnya, sebagai lambang kehadiran Allah, Daud memimpin rakyatnya untuk menyanyikan syukur (1 Taw. 16:8-36). Bersama-sama, bangsa itu bernyanyi tentang kuasa Allah yang ajaib, janji-Nya yang selalu ditepati, dan perlindungan-Nya di masa lalu (ay.12-22). “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya,” mereka berseru; “carilah wajah-Nya selalu!” (ay.11). Mereka perlu melakukannya, karena masih ada banyak pertempuran yang akan datang. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya. Carilah wajah-Nya selalu. Ini nasihat yang patut kita ikuti di saat kita menghadapi penyakit, masalah keluarga, dan pertempuran-pertempuran lainnya, karena kita tidak pernah dibiarkan bertarung sendirian dengan kekuatan kita yang terbatas. Allah hadir dan Dia kuat; Dia yang telah menjaga kita di masa lalu, Dia pasti akan melakukannya lagi. Allah akan membawa kita kepada kemenangan.—SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Sebuah momen pribadi menodai kegembiraan Daud dalam menyambut datangnya tabut Allah ke Yerusalem. Istrinya, Mikhal, mengatakan kepada Daud bahwa ia malu melihat Daud menari-nari di jalanan Yerusalem (1 Tawarikh 15:29; 2 Samuel 6:16-23). Mikhal mungkin berbicara karena didorong rasa sakit hatinya. Dia adalah anak perempuan dari seorang raja yang memberikannya kepada Daud dengan niat membunuh Daud (1 Samuel 18:20-28). Kemudian Saul memberikan Mikhal sebagai hadiah kepada seorang temannya (25:44)—lalu direbut kembali oleh Daud ketika ia naik takhta (2 Samuel 3:13-16). Dengan terbunuhnya ayah dan saudara-saudara lelakinya dalam peperangan (1 Tawarikh 10), sosok Mikhal menjadi kenangan tentang jejak sang ayah yang penuh persoalan (2 Samuel 6:23). —Mart DeHaan

Pertempuran apa yang menuntutmu memakai kekuatan Allah untuk menghadapinya? Bagaimana kamu dapat menyerahkan pergumulanmu kepada-Nya saat ini?

Ya Allah yang ajaib, aku menyerahkan pertempuran di hadapanku ke dalam tangan-Mu. Aku percaya pada kekuatan dan janji-Mu.

Thursday, November 26, 2020

Bersyukur Selalu

 

Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! —Yesaya 12:4

Bersyukur Selalu

Pada abad ke-17, Martin Rinkart melayani sebagai rohaniwan di Saxony, Jerman, selama lebih dari tiga puluh tahun semasa perang dan wabah merebak. Dalam satu tahun, ia memakamkan lebih dari 4.000 orang, termasuk istrinya sendiri, dan adakalanya makanan sangat sulit didapat sehingga keluarganya harus menahan lapar. Meski ia dapat memilih berputus asa dalam kondisi seperti itu, imannya kepada Allah tetap kuat, bahkan ia selalu mengucap syukur. Ia pun mencurahkan rasa syukurnya dengan menulis sebuah lagu berjudul “Nun danket Alle Gott,” atau “Sekarang B’ri Syukur” (judul dalam Kidung Jemaat No. 287), yang kemudian menjadi himne yang terkenal dan disukai banyak orang. Rinkart meneladani Nabi Yesaya, yang memerintahkan umat Allah untuk bersyukur setiap saat, termasuk ketika mereka telah mengecewakan Dia (Yes. 12:1) atau ketika musuh menindas mereka. Pada saat itu pun mereka harus memashyurkan nama Allah, “[memberitahukan] perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (ay.4). Kita mungkin dapat bersyukur dengan mudah dalam masa-masa kelimpahan seperti pada hari raya Thanksgiving, ketika kita menikmati makanan yang enak dan berlimpah bersama kerabat dan sahabat. Akan tetapi, masihkah kita mengucap syukur kepada Allah di masa-masa sulit, seperti ketika kita kehilangan orang yang kita cintai, atau berada dalam krisis keuangan, atau sedang bertikai dengan seseorang yang dekat dengan kita? Marilah kita meneladani Rinkart, dengan menyatukan hati dan suara kita untuk menaikkan pujian dan syukur kepada “Sang Bapa, Anak, Roh di takhta mahatinggi”. Mari, “bermazmurlah bagi Tuhan, sebab perbuatan-Nya mulia!” (ay.5).—AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Keselamatan—sebuah istilah yang digunakan untuk menyatakan pertolongan, kelepasan, dan kemenangan—adalah tema besar dalam Perjanjian Lama dan Baru. Meskipun istilah ini banyak sekali digunakan dalam kitab Yesaya (bentuk kata bendanya muncul lebih dari dua puluh lima kali), istilah ini pertama kali digunakan secara eksplisit dalam 12:2-3. Akar dari kata yang diterjemahkan sebagai “keselamatan” dalam ayat-ayat ini adalah kata yang paling penting untuk menggambarkan keselamatan dalam Perjanjian Lama. Itulah kata kerja yaw-shah’, yang berarti “kebebasan dari sesuatu yang mengikat atau membatasi; . . . untuk melepaskan, membebaskan, dan melegakan.” Keselamatan juga merupakan kata favorit sang pemazmur (digunakan kira-kira empat puluh kali) termasuk ayat-ayat seperti “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mazmur 27:1). Yunus mengatakan, “Keselamatan adalah dari TUHAN” (Yunus 2:9). Nama Yosua berasal dari kata ini dan berarti, “Tuhan menyelamatkan.” Nama Yesus (Matius 1:21) adalah kata Yosua dalam bahasa Yunani. —Arthur Jackson

Di masa-masa sulit, bagaimana kamu dapat terus bersyukur dan memuji Allah? Apa peran Allah lewat Roh Kudus-Nya dalam pujianmu?

Allah Bapa, aku bersyukur atas karya-Mu yang ajaib dalam hidupku. Kau mengasihiku tanpa batas, lebih dari yang dapat kuungkapkan.

Wednesday, November 25, 2020

Setiap Orang dan Siapa Saja

 

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. —Roma 10:13

Setiap Orang dan Siapa Saja

Negara El Salvador menghormati Yesus dengan mendirikan patung Kristus di pusat ibu kota San Salvador. Meskipun monumen tersebut berdiri di tengah-tengah bundaran lalu lintas yang ramai, posisinya yang tinggi membuatnya mudah terlihat, dan namanya—Juruselamat Dunia yang Ilahi—hendak menyatakan penghormatan terhadap status supernatural-Nya. Nama monumen tersebut menegaskan apa yang Alkitab katakan tentang Yesus dalam 1 Yohanes 4:14. Dialah yang menawarkan keselamatan bagi semua orang. Yesus Kristus melintasi batasan budaya dan menerima siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mengenal Dia, tak peduli usia, pendidikan, suku, dosa masa lalu, atau status sosialnya. Rasul Paulus melayani dari satu tempat ke tempat lain pada masanya untuk mengabarkan tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus kepada semua orang. Ia membagikan kabar baik ini kepada para pemimpin politik dan agama, tentara, orang Yahudi, non-Yahudi, pria, wanita, dan anak-anak. Paulus menjelaskan bahwa seseorang bisa memulai hubungannya dengan Kristus jika ia mengaku bahwa “Yesus adalah Tuhan” dan percaya bahwa “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm. 10:9). Ia berkata, “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan. . . . Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (ay.11,13). Yesus bukanlah sosok yang jauh di sana untuk dihormati, melainkan Tuhan yang dapat berhubungan secara pribadi dengan kita. Untuk itu, kita harus datang kepada-Nya melalui iman. Kiranya kamu dapat melihat betapa berharganya keselamatan yang Dia tawarkan dan mau membuka diri untuk masuk ke dalam hubungan rohani dengan-Nya hari ini.—JENNIFER BENSON SCHULDT

WAWASAN
Dalam Roma 10:5-15, Paulus mengutip berbagai referensi dari Taurat (kelima kitab pertama dalam Kitab Suci). Namun, di ayat 11 dan 13, ia mengutip dari Yesaya 28:16 dan Yoel 2:32. Ketika ia mengutip Yesaya, ia mengutip dari Septuaginta—terjemahan Yunani dari Kitab Suci Ibrani. Inilah mengapa kedua kutipan tersebut tidak persis sama: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan” (Roma 10:11) dan “Siapa yang percaya, tidak akan gelisah” (Yesaya 28:16). Dalam mengutip Yoel, Paulus menggunakan istilah Perjanjian Lama, Yahweh (Tuhan), untuk menyebut Yesus. Sangat jelas bahwa Paulus sedang mengajarkan para pembacanya bahwa Kristus adalah Tuhan. —Tim Gustafson

Bagaimana kamu bisa semakin dekat dengan Yesus hari ini? Maukah kamu mengikuti cara Paulus yang berbagi kabar baik tentang Yesus kepada setiap orang dan siapa saja?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengasihi semua orang dan menawarkan hidup kekal kepada siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mengenal-Mu. Hari ini, mampukanlah aku menjadi wakil-Mu yang baik di dunia.

Tuesday, November 24, 2020

Belajar Dari Kalkun

 

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. —Matius 6:26

Belajar Dari Kalkun

Saya baru saja kembali dari kegiatan akhir pekan di sebuah pondok di gunung. Selama di sana, setiap hari saya mengagumi sekawanan kalkun yang berjalan berbaris melewati teras kami. Saya tidak pernah memperhatikan kalkun sebelumnya. Mereka mengais-ngais tanah dengan cakarnya yang besar dan kokoh. Lalu mereka berburu dan mematuk-matuki tanah. Untuk makan, rasanya. (Saya tidak begitu yakin karena itu pertama kalinya saya mengamati kalkun.) Tumbuh-tumbuhan di kawasan itu terlihat gersang dan tidak dapat menjadi bahan pangan. Namun, selusin kalkun itu terlihat gemuk dan sehat. Melihat kalkun-kalkun yang cukup makan itu, saya teringat pada perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 6:26: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Yesus menggunakan karya pemeliharaan Allah terhadap burung-burung yang kelihatannya tidak berharga itu untuk mengingatkan kita pada pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Jika hidup seekor burung saja berharga di mata-Nya, betapa lebih berharganya kita bagi Dia? Kemudian Yesus membandingkan kekhawatiran kita atas kebutuhan hidup sehari-hari (ay.27-31) dengan hidup yang mendahulukan “Kerajaan Allah dan kebenarannya” (ay.33), yaitu hidup yang meyakini pemeliharaan-Nya yang berlimpah atas segala kebutuhan kita. Jika Allah dapat memelihara hidup sekawanan kalkun liar, Dia pasti juga dapat memelihara hidupmu dan saya.—Adam R. Holz

WAWASAN
Matius 6:25-34 mendorong kita untuk tidak khawatir mengenai makanan dan pakaian, dua kebutuhan dasar setiap manusia untuk bertahan hidup. Tentu tidak hanya kedua hal ini yang kita khawatirkan. Perasaan khawatir mengalihkan perhatian orang percaya dari pengabdian yang penuh kepada Tuhan. Ayat 32 mengatakan bahwa “semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” “Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” kemungkinan besar merujuk kepada mereka yang berada di luar komunitas umat Tuhan. Konteks ayat 33 mengindikasikan bahwa kekhawatiran akan hilang ketika kita berfokus pada Kerajaan Allah. Ketika kita memenuhi pikiran kita dengan hal-hal tentang Allah, kita dapat menjauhi kekhawatiran sambil mengingat bahwa Dia pasti akan memelihara kita. —Julie Schwab

Pernahkah kamu mengalami pemeliharaan Allah atas sesuatu yang kamu khawatirkan? Bagaimana mengingat pemeliharaan Allah di masa lalu membantu kita tidak mengkhawatirkan masa depan?

Ya Bapa, terkadang aku takut, khawatir, dan sulit untuk percaya. Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu atas hidupku. Tolonglah aku mengingat bahwa Engkau telah menyediakan kebutuhanku di masa lalu supaya aku dapat mempercayakan masa depanku kepada-Mu.

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate