Pages - Menu

Sunday, August 31, 2014

Pengorbanan Terbesar

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa [Yesus] telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. —1 Yohanes 3:16
Pengorbanan Terbesar
Ketika Deng Jinjie melihat ada orang-orang yang sedang berjuang menyelamatkan diri mereka agar tidak terbawa arus Sungai Sunshui di provinsi Hunan, China, ia tidak mengabaikan mereka. Bertindak bak seorang pahlawan, ia pun melompat ke dalam air dan berhasil membantu menyelamatkan empat orang dari satu keluarga. Sayangnya, keluarga itu meninggalkan wilayah tersebut sementara Jinjie masih berada di dalam air. Alangkah mengenaskan, Jinjie yang begitu kelelahan karena usahanya itu harus terseret dan tersapu arus sungai hingga kemudian ia pun tenggelam.
Ketika kita tenggelam dalam dosa kita, Yesus Kristus memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan kita. Kitalah orang-orang yang hendak diselamatkan oleh-Nya. Dia turun dari surga dan menarik kita ke tempat yang aman. Dia melakukan itu semua dengan jalan menanggung hukuman atas segala kesalahan kita, yaitu dengan Dia mati di kayu salib (1Ptr. 2:24) dan tiga hari kemudian dibangkitkan dari maut. Alkitab berkata, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa [Yesus] telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita” (1Yoh. 3:16). Kasih Yesus yang rela berkorban demi kita kini mengilhami kita untuk menunjukkan kasih yang tulus “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (ay.18) kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.
Jika kita mengabaikan pengorbanan terbesar yang Yesus perbuat bagi kita, kita pun gagal untuk melihat dan mengalami kasih-Nya. Hari ini, renungkanlah kaitan antara pengorbanan Yesus dengan kasih-Nya kepadamu. Dia telah datang untuk menyelamatkanmu. —JBS
Diselamatkan: Oleh kasih Yesus;
Diselamatkan: Untuk hidup di surga;
Diselamatkan: Untuk melayani Rajaku;
Diselamatkan: Untuk membawa pujianku. —Verway
Yesus menyerahkan nyawa-Nya demi menunjukkan kasih-Nya bagi kita.

Saturday, August 30, 2014

Bertindaklah!

Bertindaklah!

Info Sabtu, 30 Agustus 2014
Bertindaklah!

Baca: 2 Tawarikh 15:1-12

15:1 Azarya bin Oded dihinggapi Roh Allah.

15:2 Ia pergi menemui Asa dan berkata kepadanya: "Dengarlah kepadaku, Asa dan seluruh Yehuda dan Benyamin! TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya.

15:3 Lama sekali Israel tanpa Allah yang benar, tanpa ajaran dari pada imam dan tanpa hukum.

15:4 Tetapi dalam kesesakan mereka berbalik kepada TUHAN, Allah orang Israel. Mereka mencari-Nya, dan Ia berkenan ditemui oleh mereka.

15:5 Pada zaman itu tidak dapat orang pergi dan pulang dengan selamat, karena terdapat kekacauan yang besar di antara segenap penduduk daerah-daerah.

15:6 Bangsa menghancurkan bangsa, kota menghancurkan kota, karena Allah mengacaukan mereka dengan berbagai-bagai kesesakan.

15:7 Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

15:8 Ketika Asa mendengar perkataan nubuat yang diucapkan oleh nabi Azarya bin Oded itu, ia menguatkan hatinya dan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah Yehuda dan Benyamin dan dari kota-kota yang direbutnya di pegunungan Efraim. Ia membaharui mezbah TUHAN yang ada di depan balai Bait Suci TUHAN.

15:9 Ia mengumpulkan seluruh Yehuda dan Benyamin dan orang-orang Efraim, Manasye dan Simeon yang tinggal di antara mereka sebagai orang asing. Sebab dari Israel banyak yang menyeberang memihak kepadanya ketika mereka melihat bahwa TUHAN, Allahnya, beserta dengan dia.

15:10 Mereka berkumpul di Yerusalem pada bulan ketiga tahun kelima belas dari pemerintahan Asa.

15:11 Pada hari itu mereka mempersembahkan kepada TUHAN tujuh ratus lembu sapi dan tujuh ribu kambing domba dari jarahan yang mereka bawa pulang.

15:12 Mereka mengadakan perjanjian untuk mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dengan segenap hati dan jiwa.
[Asa] menguatkan hatinya dan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah Yehuda. . . . Ia membaharui mezbah TUHAN yang ada di depan balai Bait Suci TUHAN. —2 Tawarikh 15:8
Bertindaklah!
Saat seekor marmot tanah mulai menggerogoti garasi kami (maksud saya, kusen garasinya), saya membeli sebuah perangkap dengan maksud untuk menjebak binatang kecil itu. Saya memasang umpan dari beragam makanan, lalu membuka pintu perangkapnya. Esok paginya, saya pikir akan melihat makhluk kecil itu ada di dalam perangkap tersebut—tetapi bukan marmot tanah yang tertangkap, melainkan seekor musang yang dapat mengeluarkan bau busuk.
Saya segera mencari tahu melalui internet cara untuk melepas musang itu tanpa bau busuknya. Solusinya mengharuskan saya untuk berhati-hati dan melindungi diri saat melepas musang itu. Yang perlu disiapkan antara lain: kantong plastik, sarung tangan, terpal, selimut, dan kacamata pelindung. Kelihatannya begitu ngeri dan berbahaya.
Namun kemudian Ewing, menantu saya, ikut turun tangan. Yang ia lakukan hanyalah berjalan mendekati perangkap itu, membuka pintunya, dan mendorong binatang kecil itu keluar dengan beberapa semprotan air ledeng.
Terkadang ketakutan dapat melumpuhkan kita. Kita begitu mengkhawatirkan diri sendiri sehingga untuk melangkah saja kita enggan. Ketika Raja Asa memahami bahwa Tuhan menghendaki dirinya untuk mengenyahkan dewa-dewa berhala dari tanah Israel, ia “menguatkan hatinya” (2Taw. 15:8). Ia bisa saja dihadapkan pada pemberontakan rakyat karena tindakannya tersebut. Namun ia pun bertindak, dan alhasil, bangsa itu bersukaria (ay.15).
Apakah kamu sedang menghadapi tantangan dalam iman? Tuhan akan menolongmu untuk bertindak dengan penuh keberanian dan menyerahkan hasil dari tindakan itu kepada-Nya. —JDB
Meski jalannya keras dan suram,
Dan ujungnya jauh tidak terlihat,
Melangkahlah berani, kuat atau lelah;
Percayai Allah dan lakukan yang benar. —Macleod
Keberanian adalah rasa takut yang telah dibawa dalam doa.

Friday, August 29, 2014

Ketentuan Layanan

Ampunilah dan kamu akan diampuni. —Lukas 6:37
Ketentuan Layanan
Jika kamu seperti orang pada umumnya, kamu pasti jarang membaca teks kontrak untuk suatu layanan online sampai habis sebelum kamu menyetujuinya. Panjang teks itu biasanya berlembar-lembar, dan sebagian besar dari istilah hukumnya tidak dapat dimengerti oleh orang awam seperti saya.
Oleh karena itu, saya cukup terkejut ketika seorang sahabat dari Afrika meneruskan kepada saya sebuah teks ketentuan layanan yang lain daripada yang lain untuk sebuah perangkat lunak online. Pengembang perangkat itu tidak mencantumkan berbagai larangan yang berbelit-belit, melainkan ucapan doa yang mendorong orang menggunakan perangkatnya untuk kebaikan:
Kiranya kamu berbuat baik dan bukan kejahatan. Kiranya kamu memperoleh pengampunan untuk dirimu dan rela mengampuni orang lain. Kiranya kamu senang berbagi dengan tulus, dengan lebih banyak memberi daripada menerima.
Awalnya saya berpikir, Wow. Andai saja lebih banyak ketentuan layanan yang ditulis sebagai doa, daripada sebagai dokumen hukum. Lalu saya berpikir, Itulah perjanjian yang Yesus buat dengan kita. Dia menawarkan kepada kita pengampunan dosa, perdamaian dengan Allah, dan kehadiran dari Roh Kudus. Sebagai imbalannya, Dia hanya meminta kita untuk berbuat baik (Gal. 6:10), mengampuni sesama sebagaimana kita telah diampuni (Luk. 6:37), dan mengasihi sesama seperti Dia senantiasa mengasihi kita (Yoh. 13:34).
Yang terbaik dari perjanjian Yesus dengan kita adalah bahwa meskipun kita gagal untuk hidup sesuai dengan ketentuan perjanjian tersebut, kita masih menerima berkat dari-Nya. —JAL
Berlimpah berkat hari demi hari,
Diturunkan oleh Bapa Surgawi;
Kasih dan anugerah melimpah,
Anugerah dari kasih ajaib-Nya. —NN.
Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang. —Galatia 6:10

Thursday, August 28, 2014

Gambaran Kerendahan Hati

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. —Yakobus 4:6
Gambaran Kerendahan Hati
Pada masa Paskah, saya dan istri pernah menghadiri sebuah kebaktian gereja di mana jemaatnya berusaha meneladan peristiwa yang dialami Yesus dan murid-murid-Nya pada malam sebelum Dia disalibkan. Sebagai bagian dari kebaktian, para pekerja gereja bersama-sama membasuh kaki sejumlah relawan dalam gereja tersebut. Saat menyaksikan peristiwa itu, saya pun bertanya-tanya, manakah yang dipandang lebih rendah oleh orang pada masa kini—membasuh kaki orang lain atau memberikan kaki kita dibasuh oleh orang lain. Bagi saya, baik orang yang membasuh maupun mereka yang dibasuh sama-sama menyajikan dengan jelas gambaran dari suatu sikap rendah hati.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya berkumpul untuk mengadakan Perjamuan Terakhir (Yoh. 13:1-20), Yesus, dalam sikap rendah hati sebagai hamba, membasuh kaki murid-murid-Nya. Namun, Simon Petrus sempat menolak dan berkata, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.’’ Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku’’ (13:8). Membasuh kaki para murid bukanlah sebuah ritual belaka. Perbuatan ini juga bisa menggambarkan kebutuhan kita akan pengudusan oleh Kristus—sebuah pengudusan yang tidak akan pernah kita alami kecuali kita bersedia merendahkan diri di hadapan Sang Juruselamat.
Yakobus menulis, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Kita menerima kasih karunia Allah ketika kita mengakui kebesaran Allah, yang merendahkan diri-Nya sendiri di kayu salib (Flp. 2:5-11). —WEC
Kulihat salib-Mu,
Ya Jurus’lamatku, di Golgota.
T’rimalah doaku, hapuskan dosaku;
Akulah milik-Mu selamanya. —Palmer
(Kidung Jemaat, No. 32)
Kedudukan yang paling berkuasa di bumi terdapat pada lutut yang bertelut di hadapan Tuhan semesta alam.

Wednesday, August 27, 2014

Saat-Saat Terkelam

Seorang malaikat menyentuh [Elia] serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” —1 Raja-Raja 19:5
Saat-Saat Terkelam
Charles Whittlesey adalah seorang pahlawan sejati. Sebagai pemimpin dari unit yang disebut “Batalyon yang Hilang” dalam Perang Dunia I, ia dianugerahi Medali Kehormatan atas keberaniannya di tengah keadaan unitnya yang terjebak di belakang garis musuh. Dalam peresmian Makam untuk Prajurit Tak Dikenal di Amerika Serikat, Charles dipilih sebagai salah satu pengangkat keranda bagi prajurit pertama yang dimakamkan di sana. Dua minggu kemudian, diduga ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan meloncat keluar dari sebuah kapal pesiar di tengah laut.
Seperti Nabi Elia (1Raj. 19:1-7), Charles tampil sebagai orang yang tangguh di muka umum, tetapi di luar penampilannya itu, jiwanya dipenuhi perasaan putus asa. Banyak orang pada masa kini sering merasa tidak mampu menghadapi keadaan hidup yang begitu membebani mereka. Terkadang kelelahan membawa rasa putus asa yang berlangsung sementara, seperti yang dialami oleh Elia. Ia baru saja mengalami kemenangan besar atas nabi-nabi Baal (18:20-40), tetapi kemudian ia begitu takut kehilangan nyawa dan melarikan diri ke padang gurun (19:1-3). Namun sering kali, yang kita alami lebih dari sekadar perasaan putus asa dan itu tidak berlalu begitu saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membicarakan tentang depresi secara terbuka dan penuh kasih.
Allah rindu mendampingi kita di saat-saat terkelam dalam hidup ini, agar kemudian di lain waktu, kita dimampukan menjadi perwakilan-Nya untuk mendampingi sesama kita yang tengah terluka. Berseru meminta pertolongan—baik kepada orang lain maupun kepada Allah—justru menunjukkan kekuatan hidup kita. —RKK
Bapa, berilah kami keterbukaan untuk mengakui kepada satu sama
lain bahwa terkadang beban hidup begitu menekan kami. Berilah
kami keberanian untuk menolong orang lain agar mereka tertolong—
dan kerelaan untuk meminta pertolongan saat kami membutuhkannya.
Harapan datang melalui pertolongan Allah dan sesama.

Tuesday, August 26, 2014

Penunjuk Arah Rohani

KomikStrip-WarungSateKamu-20140826-Penunjuk Arah Rohani
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. —Mazmur 119:105
Penunjuk Arah Rohani
Longitude (Garis Bujur), buku pemenang penghargaan, karya Dava Sobel, menggambarkan satu dilema yang dihadapi para pelaut masa lalu. Mereka bisa dengan mudah menentukan posisi mereka pada garis lintang utara atau selatan dengan memperhatikan panjang hari atau ketinggian matahari. Namun cara menentukan posisi pada garis bujur timur atau barat tetaplah tidak mudah dan tidak benar-benar dapat diandalkan. Hal itu terjadi sampai John Harrison, seorang pembuat jam asal Inggris, menemukan kronometer laut. Itulah “jam yang akan selalu menunjukkan waktu yang tetap dari titik awal berlabuh . . . hingga ke sudut terpencil mana pun di dunia” sehingga para pelaut dapat menentukan posisi mereka pada garis bujur.
Dalam mengarungi lautan hidup ini, kita memiliki Alkitab sebagai penunjuk arah rohani yang benar-benar dapat diandalkan. Pemazmur menulis, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (Mzm. 119:97). Pemazmur tidak hanya sesekali membaca firman Allah, melainkan ia merenungkan petunjuk Tuhan di sepanjang hari: “Peringatan-peringatan-Mu kurenungkan” (ay.99). Hal itu diperkuat dengan komitmen pemazmur untuk menaati Sang Penulis: “Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil” (ay.106).
Sebagaimana para pelaut zaman dahulu, kita memerlukan panduan yang terus-menerus dapat menolong kita dalam mengetahui arah hidup dan menjaga kita tetap berada di jalur yang benar. Itulah yang terjadi ketika kita mencari Tuhan hari demi hari dengan hati yang terbuka dan rela untuk mengatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” —DCM
Kita perlu bimbingan Allah sumber hikmat surgawi,
Tuntunan dan kasih-Nya dari hari ke hari;
Saat kita mempercayai arah yang ditunjukkan-Nya,
Dia akan meluruskan langkah hidup kita. —Fitzhugh
Jika Allah menjadi penunjuk arah, kamu akan menuju ke arah yang benar.

Monday, August 25, 2014

Bukan Sekadar Menanti

Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku. —Yohanes 16:16
Bukan Sekadar Menanti
Saya tidak tahu apa yang terjadi di tempat tinggalmu, tetapi di tempat saya tinggal, ketika saya menghubungi sebuah penyedia jasa servis untuk memperbaiki salah satu perabotan rumah tangga saya yang rusak, biasanya mereka akan mengatakan kurang lebih demikian, “Juru servisnya akan tiba antara pukul 1 siang dan 5 sore.” Karena saya tidak tahu kapan tepatnya juru servis itu akan tiba, yang bisa saya lakukan hanyalah menanti.
Yesus memberitahukan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan segera meninggalkan mereka dan mereka perlu menantikan kedatangan-Nya kembali yang “tinggal sesaat saja” (Yoh. 16:16). Setelah kebangkitan-Nya, mereka bertemu dengan Yesus lagi dan mereka berharap Dia akan menegakkan kerajaan-Nya di atas bumi pada saat itu juga. Namun Dia berkata kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (Kis. 1:7). Mereka harus menanti lebih panjang lagi.
Namun yang harus mereka lakukan bukan sekadar menanti. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk “menjadi saksi-[Nya] di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (ay.8). Dan Yesus memberi mereka Roh Kudus yang akan memampukan mereka untuk melakukan tugas tersebut.
Kita sedang menanti kedatangan Yesus kembali. Sementara kita menanti, kita bersukacita, oleh kuasa Roh Kudus, dalam memberitakan dan menunjukkan kepada orang lain tentang diri Yesus, karya yang telah diperbuat-Nya bagi kita semua melalui kematian dan kebangkitan- Nya, dan bahwa Dia telah berjanji untuk datang kembali. —AMC
Ya Tuhan, kami sangat mengasihi Engkau.
Kami rindu perkataan dan hidup kami dapat menyaksikan
kebaikan dan anugerah-Mu. Pakailah kami melalui cara-cara
yang tak pernah terpikirkan oleh kami sebelumnya.
Bersabar dan bersaksilah sampai Yesus datang kembali.

Sunday, August 24, 2014

Hilang Ingatan

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 118:1
Hilang Ingatan
Ketika kita sedang menghadapi masa-masa sulit, ada kalanya kita mungkin mengalami semacam amnesia rohani dan melupakan kasih karunia Allah. Namun ada satu cara yang baik untuk kembali memiliki hati yang bersyukur. Caranya adalah dengan menyediakan suatu waktu tertentu yang bebas dari segala gangguan untuk secara khusus mengingat pemeliharaan Allah bagi kita di masa lalu dan mengucap syukur pada-Nya.
Ketika bangsa Israel sedang mengembara di tengah padang gurun yang panas dan tandus, mereka mulai kehilangan ingatan akan kasih karunia Allah. Mereka mulai berpikir seandainya mereka masih berada di Mesir untuk menikmati semua makanan di sana (Kel. 16:2-3) dan kemudian mengeluh tentang kebutuhan mereka akan air minum (17:2). Mereka telah melupakan karya ajaib Allah yang membebaskan mereka dan bagaimana Dia telah melimpahi mereka dengan kekayaan (12:36). Mereka begitu dikuasai oleh pemikiran akan keadaan mereka saat itu dan melupakan pemeliharaan Allah yang begitu melimpah di masa lalu.
Sang pemazmur menantang kita: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1). Kata “kasih setia” itu mengacu pada kesetiaan Allah. Dia telah berjanji untuk selalu hadir untuk memperhatikan dan memelihara anak-anak-Nya.
Dengan mengingat perbuatan-perbuatan Allah secara spesifik dalam menyediakan kebutuhan kita di masa lalu, kita bisa memperbaiki cara pandang kita. Sungguh, untuk selama-lamanya kasih setia Allah bagi kita! —HDF
Nantikanlah Tuhan dari hari ke hari,
Kekuatan Dia beri dengan cara-Nya sendiri;
Tidak perlu khawatir, tidak perlu takut,
Dialah Allah kita yang selalu dekat. —Fortna
Mengingat pemeliharaan Allah di masa lalu memberikan pengharapan dan kekuatan untuk hari ini.

Saturday, August 23, 2014

Menghalau Kegelapan

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Menghalau Kegelapan
Dalam The Hobbit, karya J. R. R. Tolkien, Gandalf si penyihir menjelaskan mengapa ia memilih seorang hobbit kecil seperti Bilbo untuk mendampingi kaum kurcaci dalam melawan musuh mereka. Gandalf berkata, “Saruman meyakini hanya kekuatan besarlah yang dapat menghadang kejahatan, tetapi bukan itu yang kutemukan. Aku menemukan, justru perbuatan sederhana yang dilakukan sehari-hari oleh orang-orang biasalah yang sanggup menghalau kegelapan. Perbuatan baik dan kasih yang sederhana.”
Itulah yang Yesus ajarkan juga kepada kita. Sembari memperingatkan kita akan gelapnya dunia yang ada di sekitar kita, Dia mengingatkan bahwa karena Dia sajalah maka kita adalah “terang dunia” (Mat. 5:14). Yesus juga menyatakan bahwa perbuatan kita yang baik akan menjadi kekuatan yang sanggup menghalau kegelapan demi kemuliaan Allah (ay.16). Dalam tulisannya kepada umat Tuhan yang sedang menderita penganiayaan berat, Rasul Petrus mendorong mereka untuk hidup dengan saleh sehingga orang-orang yang memfitnah mereka “harus mengakui perbuatan [mereka] yang baik, sehingga mereka akan memuji Allah” (1Ptr. 2:12 BIS).
Ada satu kekuatan yang tidak bisa ditaklukkan kegelapan, yakni kekuatan dari perbuatan baik dan kasih yang dilakukan demi nama Yesus. Umat Allah yang bersedia memberikan pipinya untuk ditampar (ay.39), dipaksa berjalan lebih jauh (ay.41), memberikan pengampunan, bahkan mengasihi para musuh yang membenci mereka adalah orang-orang yang memiliki kuasa untuk menghalau laju kejahatan. Jadi hari ini, rebutlah kesempatan istimewa untuk melakukan perbuatan baik yang memancarkan terang Kristus kepada sesama. —JMS
Tuhan, ajarku melihat betapa bodohnya usahaku membalas kejahatan
dengan kejahatan. Kiranya dalam sikap yang bersyukur kepada-Mu
atas tindakan kasih yang telah Engkau tunjukkan kepadaku,
dengan gembira aku mau melakukan perbuatan baik pada sesama!
Terangilah dunia lewat kebaikan yang kamu pancarkan.

Friday, August 22, 2014

Hidup Dalam Kasih

Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. —Mazmur 112:4
Hidup Dalam Kasih
Di negara Afrika, tempat tinggal teman saya, Roxanne, air merupakan komoditas berharga yang langka. Sering orang harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan air dari sungai-sungai kecil yang telah tercemar, dan akibatnya ada warga yang jatuh sakit bahkan meninggal. Kondisi kurangnya air bersih itu juga menyulitkan lembaga-lembaga seperti panti asuhan dan gereja yang hendak melayani mereka. Namun perubahan sudah mulai terjadi.
Lewat kepemimpinan Roxanne dan persembahan kasih yang diberikan secara sukarela oleh sejumlah orang dari gereja-gereja yang berdiri di sana, berlangsunglah penggalian untuk membangun sumur air bersih. Sekarang setidaknya enam sumur baru sudah berfungsi, dan gereja pun berperan menjadi sumber pengharapan dan penghiburan. Sebuah pusat kesehatan dan panti bagi 700 anak yatim-piatu juga dapat dibuka karena sudah ada akses untuk mendapatkan air bersih.
Itulah kasih yang dapat mengalir dari hati orang-orang percaya dalam Kristus yang telah mengalami kasih dan kemurahan Allah. Paulus berkata di dalam 1 Korintus 13 bahwa jika kita tidak mempunyai kasih, suara kita hanya bergemerincing di telinga orang-orang dan iman kita bernilai hampa. Dan Rasul Yohanes berkata bahwa jika kita memiliki harta benda, dan kita bertindak untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan kita, hal itu membuktikan bahwa kasih Allah tinggal di dalam kita (1Yoh. 3:16).
Allah rindu kita “menaruh belas kasihan” (Mzm. 112:5) kepada orang-orang yang membutuhkan, karena hati-Nya pun menaruh belas kasihan kepada kita. —JDB
Janganlah lelah dalam pelayanan kita;
Lakukan yang terbaik bagi yang membutuhkan;
Kebaikan akan mendapat upahnya
Dari Tuhan yang mendorong kita. —NN.
Kebaikan adalah wujud nyata dari iman Kristen.

Thursday, August 21, 2014

Penghiburan Bagi Yang Bergumul

Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. —Ibrani 10:35
Penghiburan Bagi Yang Bergumul
Ada sebuah pepatah lama mengatakan, “Jangan menggigit lebih banyak daripada yang dapat kamu kunyah.” Dengan kata lain, tidak mengambil tanggung jawab lebih banyak daripada yang dapat kita tangani adalah suatu sikap yang bijaksana. Namun demikian, ada kalanya kita mungkin merasa dibuat kewalahan oleh besar dan beratnya tugas yang hendak kita dilakukan.
Hal tersebut dapat terjadi juga dalam perjalanan iman kita bersama Kristus. Ada kalanya tekad kita kepada Allah rasanya terlalu berat untuk kita tanggung. Namun Tuhan sanggup menghibur kita di saat keyakinan kita mulai goyah.
Penulis kitab Ibrani mengajak pembacanya untuk mengingat kembali keberanian yang mereka tunjukkan pada masa-masa mereka baru percaya (10:32-33). Sekalipun meng-alami penghinaan dan penganiayaan di muka umum, mereka tetap membantu orang-orang percaya yang mendekam dalam penjara dan menerima perampasan harta mereka dengan sukacita (ay.33-34). Dengan mengingat hal itu, ia berkata, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” (ay. 35-36).
Keyakinan kita tidaklah didasarkan pada diri sendiri melainkan dalam Yesus dan janji-Nya untuk kembali pada waktu yang tepat (ay.37).
Kuasa Allahlah yang memampukan kita untuk terus melangkah dalam perjalanan iman kita. Mengingat kesetiaan Tuhan di masa lalu membangkitkan keyakinan kita kepada-Nya pada masa kini. —DCM
Ketika beban hidup bertambah berat,
Saat jalan terjal mendaki dan berkelok-kelok,
Dalam tugas sehari-hari, Tuhan, izinkan aku melihat
Bahwa Engkau akan selalu bersamaku. —D. DeHaan
Mempercayai kesetiaan Allah akan membangkitkan keyakinan kita.

Wednesday, August 20, 2014

Fondasi Kita

Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. —1 Korintus 3:11
Fondasi Kita
Kota Nordlingen di wilayah Bavaria, Jerman, adalah sebuah kota yang unik. Kota itu terletak di tengah-tengah Kawah Ries, suatu tanah depresi berukuran bulat dan besar yang terbentuk akibat peristiwa jatuhnya sebongkah meteor yang besar pada masa lampau. Tekanan yang teramat besar dari kejatuhan itu menghasilkan sejenis bebatuan kristal yang sangat unik dan juga jutaan berlian yang berukuran sangat kecil. Pada abad ke-13, bebatuan yang belang-belang itu digunakan untuk membangun Gereja St. George. Pengunjung dapat melihat keindahan lapisan kristal pada dasar dan dinding-dinding gereja tersebut. Ada yang mengatakan bahwa dasar gereja itu bagaikan fondasi yang datang dari surga.
Alkitab berbicara tentang suatu fondasi surgawi yang lain. Dari surga, Tuhan Yesus datang ke dalam dunia kita (Yoh. 3:13). Ketika Yesus kembali ke surga setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia meninggalkan pengikut-pengikut- Nya yang menjadi “bait dari Allah yang hidup”, dengan Kristus sebagai dasarnya. Rasul Paulus mengatakan, “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor. 3:11).
Gedung gereja di Bavaria itu dibangun di atas suatu fondasi berupa bebatuan yang turun dari langit jasmaniah. Namun gereja rohaniah—seluruh orang percaya dalam Kristus—dibangun di atas fondasi surgawi yang sejati, yaitu Yesus Kristus (Yes. 28:16, 1Kor. 10:3-4). Terpujilah Allah karena oleh karya Yesus Kristus, keselamatan kita pun terjamin. —HDF
Dalam Kristus, keselamatan terjamin;
Gunung Batu yang Kekal akan bertahan;
Tiada iman yang dapat tumbang
Jika bersandar pada “Batu yang Hidup.” —NN.
Kristus, Sang Gunung Batu, adalah pengharapan kita yang pasti.

Tuesday, August 19, 2014

Mengikuti Sang Tuan

Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat. —Bilangan 9:23
Mengikuti Sang Tuan
Pada sebuah pertunjukan anjing di dekat rumah saya, saya menyaksikan penampilan seekor anjing jenis corgi Cardigan Welsh bernama Trevor. Sesuai perintah sang tuan, Trevor berlari beberapa meter jauhnya dan kemudian kembali secepatnya, melompati sejumlah rintangan, dan mengenali benda-benda dengan menggunakan indera penciumannya. Setelah menyelesaikan setiap perintah, Trevor pun duduk di dekat kaki sang tuan dan menunggu perintah selanjutnya.
Perhatian Trevor yang cermat pada instruksi tuannya itu mengingatkan saya pada pengabdian yang Allah inginkan dari umat- Nya ketika mereka mengikuti Dia di sepanjang padang gurun. Allah memimpin mereka dengan cara yang unik, yakni hadir sebagai tiang awan. Jika awan naik, berarti Dia menghendaki umat-Nya berangkat dan pindah ke daerah lain. Jika awan turun, di sanalah mereka tinggal dan berkemah. “Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat” (Bil. 9:23). Bangsa Israel menaati instruksi itu siang dan malam, tanpa tahu berapa lama mereka harus tinggal di suatu tempat.
Allah bukan hanya sekadar menguji bangsa Israel; Dia sedang memimpin mereka menuju Tanah Perjanjian (10:29). Allah ingin membawa mereka menuju ke tempat yang lebih baik. Begitu juga dengan kita, ketika Allah memanggil kita untuk mengikuti-Nya. Dia ingin memimpin kita menuju pada suatu persekutuan yang lebih erat dengan-Nya. Firman Allah memberi kita jaminan bahwa dengan penuh kasih dan kesetiaan, Dia memimpin setiap orang yang rela mengikuti kehendak-Nya. —JBS
O betapa senang hidup dalam terang,
Beserta Tuhan di jalan-Nya,
Jika mau mendengar serta patuh benar;
Dan tetap berpegang pada-Nya. —Sammis
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 116)
Allah meminta anak-anak-Nya untuk mengikuti Sang Pemimpin.

Monday, August 18, 2014

Percaya Lebih Dahulu

KomikStrip-WarungSateKamu-20140815-Percaya-Lebih-Dahulu
Ya, Aku datang segera!
—Wahyu 22:20

Percaya Lebih Dahulu
Dalam sebuah kamp penjara milik Jerman pada masa Perang Dunia II, tanpa sepengetahuan penjaga penjara, sejumlah tawanan Amerika merangkai perangkat radio mereka sendiri. Suatu hari, tersiarlah berita bahwa pemerintah Jerman sudah menyerah, dan perang pun berakhir. Namun karena putusnya komunikasi, para penjaga penjara belum mengetahui kabar tersebut. Saat berita itu tersebar di antara para tawanan, mereka pun merayakan peristiwa besar itu. Selama 3 hari, mereka bernyanyi, melambai-lambaikan tangan kepada penjaga penjara, dan bersenda gurau saat makan. Pada hari ke-4, mereka bangun pada pagi hari dan mendapati bahwa seluruh pasukan Jerman yang menjaga mereka telah pergi. Penantian mereka pun telah berakhir.
Sejumlah cerita dalam Alkitab berpusat pada penantian: Abraham menantikan seorang anak (Kej. 12-21). Bangsa Israel menantikan pembebasan dari tanah Mesir. Para nabi menantikan penggenapan dari nubuat mereka. Para murid menantikan Yesus untuk menunjukkan kuasa-Nya sebagai Mesias seperti yang selama ini mereka harapkan. Perkataan terakhir Yesus di kitab Wahyu adalah, “Ya, Aku datang segera!” diikuti dengan sebuah doa yang mendesak, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (22:20). Untuk ini, kita masih menanti penggenapannya.
Inilah pertanyaan yang saya ajukan pada diri saya sendiri: Mengapa kita sering merasa takut dan cemas dalam penantian? Layaknya para tentara Sekutu dalam penjara di atas, kita dapat menjalani hidup berdasarkan kabar baik yang kita percayai. Lagipula, bukankah sikap itu yang dinamakan beriman kepada Allah, yaitu mempercayai terlebih dahulu apa yang kelak baru akan kita mengerti? —PDY
Iman melihat melampaui bayang-bayang
Kebimbangan, keraguan, dan ketakutan
Lalu mendapati Juruselamat sedang menanti
Dan Dia senantiasa dekat pada kita. —French
Masa penantian merupakan ujian atas iman kita, karena itulah kita menanti dalam pengharapan.

Sunday, August 17, 2014

Adakah Yang Bernyanyi?

Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:2-3
Adakah Yang Bernyanyi?
Dari sekitar 320 km di atas bumi, Chris Hadfield, seorang astronot asal Kanada dan komandan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, ikut bernyanyi bersama sekelompok murid yang berada dalam sebuah studio di bumi. Bersama-sama mereka menyanyikan lagu Is Somebody Singing (Adakah Yang Bernyanyi), yang ditulis oleh Hadfield dan Ed Robertson.
Salah satu frasa dari lagu itu menarik perhatian saya, “Tak ada pembatas yang terlihat dari luar angkasa ini.” Meskipun sebagai manusia kita membuat banyak pembatas untuk memisahkan diri kita dari satu sama lain—menurut kebangsaan, suku, ideologi—lagu itu mengingatkan saya bahwa Allah tidak melihat batasan-batasan tersebut. Yang penting bagi Allah adalah bahwa kita mengasihi Dia dan sesama (Mrk. 12:30-31).
Bagaikan seorang bapa yang penuh kasih, Allah menginginkan umat-Nya bersatu. Kita tidak dapat menggenapi apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan apabila kita enggan hidup dalam perdamaian. Dalam doa-Nya yang amat mendalam, pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus memohon kepada Bapa demi kesatuan dari para pengikut-Nya, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita” (Yoh. 17:21).
Bernyanyi merupakan suatu bentuk kesatuan karena kita menaikkan lirik, nada, dan irama lagu yang sama. Bernyanyi juga mempererat kesatuan karena nyanyian itu menyatukan kita bersama dalam perdamaian, mengumandangkan kuasa Allah melalui pujian, dan menunjukkan kemuliaan Allah kepada dunia ini. —JAL
Beribu lidah patutlah
Memuji Tuhanku,
Dan mewartakan kuasa-Nya,
Dengan kidung merdu. —Wesley
(Kidung Jemaat, No. 294)
Menyanyikan pujian bagi Allah takkan pernah ketinggalan zaman.

Saturday, August 16, 2014

Iklan Berjalan

Kami ini adalah utusan-utusan Kristus. —2 Korintus 5:20
Iklan Berjalan
Pertama kalinya Pete Peterson berhubungan dengan Vietnam adalah pada saat berlangsungnya Perang Vietnam. Dalam suatu serangan bom pada tahun 1966, pesawatnya tertembak jatuh dan ia pun tertawan. Lebih dari 30 tahun kemudian, ia kembali sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Vietnam. Salah satu laporan pers menyebutnya sebagai “sebuah iklan berjalan bagi pendamaian”. Peterson menyadari bertahun-tahun yang lalu bahwa Allah tidak menyelamatkan hidupnya supaya ia hidup dalam kemarahan. Karena keyakinannya tersebut, ia pun menggunakan sisa hidup dan kedudukannya untuk memberikan pengaruh dengan mendorong diterapkannya standar keselamatan yang lebih baik bagi anak-anak di Vietnam.
Alangkah mulia tanggung jawab dan kehormatan seseorang yang ditunjuk mewakili negaranya sebagai utusan bagi negara lain. Sebagai pengikut Kristus, kita adalah “utusan-utusan Kristus” (2Kor. 5:20). Sebagaimana Allah mengutus Kristus untuk mendamaikan kita dengan diri-Nya (ay.18), kita sekarang memiliki pelayanan “pendamaian” (ay.19). Berita yang kita sampaikan adalah bahwa semua orang dapat ditebus dalam Kristus karena Kristus “yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (ay.21).
Sebagai tanggapan atas kasih pendamaian yang Yesus tawarkan kepada kita, kita pun dapat membagikan kasih itu kepada sesama. Mari jalankan peran kita dengan sungguh-sungguh. Di mana pun Allah menempatkan kita di tengah dunia ini, Dia dapat memakai kita sebagai iklan berjalan dari pendamaian bagi Yesus Kristus. —CPH
Ku datang dari jauh, diutus Rajaku;
Dunia fana ini bukanlah rumahku;
Sebagai utusan Kerajaan Tuhan,
Aku bawa Berita Baik. —Cassel
(Nyanyian Pujian, No. 298)
Berita baik yang hanya disimpan bukanlah berita sama sekali.

Friday, August 15, 2014

Masihkah Ada Harapan?

KomikStrip-WarungSateKamu-20140815-Masihkah-Ada-Harapan
“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.” —Matius 28:6
Masihkah Ada Harapan?
Saya duduk terdiam di samping makam ayah saya, sambil menunggu dimulainya upacara pemakaman ibu saya yang diadakan oleh keluarga. Pegawai rumah duka sedang membawa wadah yang berisi abu jenazah ibu saya. Hati saya terasa beku dan pikiran saya begitu kalut. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasi kesedihan atas kepergian Ayah dan Ibu yang hanya berselang 3 bulan? Dalam duka, saya merasa begitu kehilangan dan kesepian. Saya pun merasa tidak berdaya menghadapi masa depan tanpa mereka berdua.
Kemudian sang pendeta membacakan tentang suatu makam yang lain. Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar, sejumlah wanita pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah yang telah mereka siapkan untuk jasad Yesus (Mat. 28:1; Luk. 24:1). Setibanya di sana, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu dan ada seorang malaikat. Kata malaikat itu kepada mereka, “Janganlah kamu takut” (Mat. 28:5). Mereka tidak perlu merasa takut karena kosongnya kubur itu atau kepada sang malaikat, karena malaikat itu membawa kabar baik untuk mereka.
Harapan dalam hati saya pun bangkit saat saya mendengar perkataan selanjutnya, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (ay.6). Karena Yesus telah hidup kembali, maut pun sudah ditaklukkan! Yesus mengingatkan para pengikut-Nya hanya beberapa hari sebelum kematian-Nya, “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup” (Yoh. 14:19).
Meski merasa sedih karena kehilangan orang yang kita kasihi, kita mendapat pengharapan melalui kebangkitan Yesus dan janji yang diberikan-Nya akan adanya kehidupan setelah kematian. —AMC
Terima kasih, Tuhan, untuk penghiburan dan pengharapan dari-Mu.
Apakah yang dapat kami lakukan tanpa Engkau? Kematian dan
kebangkitan-Mu memberikan segala sesuatu yang kami butuhkan
untuk hidup kami yang sekarang ini dan yang akan datang.
Sebab Dia hidup, kita pun hidup.

Thursday, August 14, 2014

Perumpamaan Sengat Lebah

Supaya . . . mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. —1 Petrus 2:12
Perumpamaan Sengat Lebah
Saya masih ingat betapa terkejutnya Jay Elliott saat hampir 50 tahun lalu saya mendobrak masuk ke rumahnya dengan membawa “sekawanan” lebah yang tengah mengerubungi saya. Saat berlari keluar lewat pintu belakang rumahnya, saya menyadari lebah-lebah itu telah pergi. Sebenarnya yang terjadi adalah saya meninggalkan lebah-lebah itu di dalam rumah Jay. Tak lama kemudian, Jay pun berlari keluar dengan dikejar lebah yang saya bawa masuk tadi.
Saya terkena lebih dari selusin sengatan yang tidak terlalu parah. Lain halnya dengan Jay. Meski hanya disengat satu atau dua kali, mata dan tenggorokan Jay membengkak oleh reaksi alergi yang amat menyakitkan. Perbuatan saya menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi sahabat saya.
Itulah yang juga terjadi dalam hubungan kita dengan sesama. Kita menyakiti orang lain lewat perbuatan kita yang tidak meneladani Kristus. Meski telah meminta maaf, “sengatan” itu tetap menyakitkan.
Memang wajar jika orang mengharapkan para pengikut Kristus untuk mempunyai sifat yang sabar dan tidak kasar. Terkadang kita lupa bahwa orang-orang yang tengah bergumul dalam soal iman atau kehidupan ini sebenarnya memperhatikan orang Kristen dengan suatu harapan. Mereka mengharapkan adanya orang-orang percaya yang tidak lekas marah dan rela mengampuni, tidak suka menghakimi dan lebih berbelas kasih, tidak cepat mengecam dan lebih giat memberi semangat. Yesus dan Petrus memerintahkan kita untuk memiliki cara hidup yang baik agar Allah dimuliakan (Mat. 5:16; 1Ptr. 2:12). Kiranya perbuatan dan tanggapan kita akan menuntun sesama kita kepada Bapa yang penuh kasih. —RKK
Kami telah mengalami sendiri betapa mudahnya kami melukai orang
lain lewat perkataan atau perbuatan kami. Ajarkan kepada kami,
Bapa, untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum kami berbicara
atau bertindak. Penuhi kami dengan sifat yang baik dan peduli.
Kiranya orang lain melihat Yesus jauh lebih besar daripada diri saya.

Wednesday, August 13, 2014

Curahan Kuasa Pemberi Hidup

Mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. —Kisah Para Rasul 6:10
Curahan Kuasa Pemberi Hidup
Di tengah cuaca yang terik menyengat pada Agustus 1891, R. G. Dyrenforth tiba di Midland, Texas. Ia bertekad untuk menurunkan hujan dengan cara menggemparkan langit. Bumi dan langit pun berguncang saat Dyrenforth dan timnya meluncurkan lalu meletuskan balon-balon raksasa berisi gas yang mudah meledak, menembakkan meriam, dan meledakkan bertumpuk-tumpuk dinamit di atas tanah. Ada yang percaya bahwa ia berhasil membuat hujan turun sejenak, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa yang dihasilkannya cuma suara ribut. Segala daya yang sangat menggemparkan itu memang mengesankan, tetapi ternyata tidak menghasilkan apa-apa.
Ketika jemaat mula-mula membutuhkan peran para penilik, mereka mencari orang-orang yang mempunyai suatu daya yang berbeda. Mereka memilih tujuh orang “yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat” (Kis. 6:3) untuk mengatur pembagian makanan sehari-hari. Salah satu di antaranya adalah Stefanus, seorang yang “penuh dengan karunia dan kuasa, [yang] mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” (ay.8). Ketika terjadi perselisihan, orang-orang yang bertanya jawab dengan Stefanus “tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara” (ay.10).
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kesanggupan iman Stefanus itu disebabkan karena Roh Kudus memenuhi dirinya dengan iman, hikmat, dan kuasa yang dibutuhkannya.
Lantangnya tekanan dunia yang mendesak kita untuk mementingkan diri sendiri kini digantikan dengan curahan kuasa yang lembut dan menghidupkan dari Roh Allah yang tinggal dalam hidup kita. —DCM
Ya Roh Kudus, aku ingin hidupku menyatakan kuasa-Mu.
Kiranya perkataanku dan perbuatanku menjadi curahan kuasa
pemberi hidup yang dapat mendorong sesama
untuk mau mengenal dan mempercayai Engkau.
Dalam hidup kita bagi Kristus, tiada yang dapat kita capai tanpa kuasa Roh Kudus.

Tuesday, August 12, 2014

Teladan Yang Menguatkan

Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, . . . Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. —Yohanes 13:14-15
Teladan Yang Menguatkan
Konon kisah ini terjadi pada akhir abad ke-19 saat sekelompok pendeta asal Eropa menghadiri suatu seminar Alkitab yang dibawakan D. L. Moody di Massachusetts, Amerika Serikat. Sebagaimana kebiasaan dalam budaya mereka, para pendeta itu melepas dan meletakkan sepatu mereka di luar ruangan sebelum tidur, dengan harapan sepatu-sepatu itu akan dibersihkan oleh pegawai hotel. Saat melihat sepatu-sepatu itu, Moody memberitahukan pada seseorang tentang perlunya sepatu-sepatu itu dibersihkan sesuai dengan harapan para tamu. Namun tidak ada yang mau melakukannya. Moody pun kemudian mengumpulkan semua sepatu itu dan membersihkannya satu demi satu. Seorang sahabat yang kebetulan mengunjungi kamarnya menceritakan apa yang telah dilakukan Moody. Kabar itu menyebar, dan pada malam-malam selanjutnya, orang-orang pun bergantian membersihkan sepatu mereka.
Gaya kepemimpinan Moody yang rendah hati itu mengilhami orang lain untuk mengikuti teladannya. Rasul Paulus mengingatkan Timotius, “Jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2Tim. 2:1-2). Saat mengingat bahwa kekuatan kita datang dari kasih karunia Allah, kita pun dapat tetap bersikap rendah hati. Melalui kerendahan hati itu, kita meneruskan kebenaran Allah dengan menjadi teladan yang dapat menguatkan dan mengilhami orang lain untuk mengikuti Tuhan.
Yesus sendiri menjadi teladan penghambaan bagi kita. Dia telah menyerahkan seluruh hidup-Nya untuk kita. —AL
Tuhan Yesus, aku tidak tahu banyak tentang kerendahan hati.
Tunjukkan dan ajarlah aku saat aku melihat teladan-Mu
dalam firman-Mu. Berikanlah aku kasih karunia untuk
rela merendahkan diri dan melayani sesamaku.
Kerendahan hati merupakan buah dari pengenalan kita akan Allah dan akan diri sendiri.

Monday, August 11, 2014

Nilai Dari Kesederhanaan

Lalu seorang ahli Taurat . . . datang kepada-Nya dan bertanya, “Hukum manakah yang paling utama?” —Markus 12:28
Nilai Dari<br />
Kesederhanaan
Tidak banyak orang yang mau menghabiskan waktu untuk membaca dan mempelajari buku peraturan perpajakan dari Kantor Pelayanan Pajak Amerika Serikat. Wajar saja, karena menurut majalah Forbes, kode pajak untuk tahun 2013 telah melampaui empat juta kata. Bahkan, saking rumitnya hukum perpajakan itu sehingga para ahli dalam bidang perpajakan pun mengalami kesulitan untuk memahami seluruh peraturan tersebut. Segala keruwetan tersebut telah menjadi beban tersendiri.
Para pemimpin agama di masa Israel kuno juga melakukan hal yang sama dalam hubungan mereka dengan Allah. Mereka membuat hubungan itu begitu ruwet dengan banyaknya hukum dan peraturan. Beban yang bertambah-tambah dari berbagai peraturan agama itu telah membuat seorang ahli Taurat sekalipun mengalami kesulitan untuk dapat memahami intinya. Saat salah seorang pemuka agama bertanya kepada Yesus tentang hal yang terutama dalam Hukum Taurat, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk. 12:30-31).
Hukum Taurat Musa begitu membebani, tetapi iman dalam Kristus begitu sederhana dan “beban-[Nya] pun ringan” (Mat. 11:30). Beban itu ringan karena Allah bersedia mengampuni kita dan mengasihi kita. Sekarang Allah memberi kita kesanggupan untuk mengasihi Dia dan sesama. —WEC
Engkau lebih dulu mengasihiku;
Kau hapus dosaku dengan darah-Mu.
Menanggung sengsara Kau tidak gentar;
Kasihku pada-Mu semakin besar. —Featherstone
(Kidung Jemaat, No. 382)
Kasih Yesus dalam hati kita membuat kita memiliki hati yang rela mengasihi Dia dan sesama.

Sunday, August 10, 2014

Menemukan Jalan Allah

Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan. —Mazmur 77:20
Menemukan Jalan Allah
Terowongan Channel dibuka pada 6 Mei 1994, hampir dua abad setelah ide pembuatannya pertama kali diusulkan oleh seorang insinyur yang bekerja untuk Napoelon, Albert Mathieu, pada tahun 1802. Saat ini lintasan sepanjang 50 km di bawah Selat Inggris tersebut memungkinkan ribuan orang, mobil, dan truk menempuh perjalanan dengan kereta api dari Inggris ke Prancis dan sebaliknya setiap hari. Sebelumnya, selama berabad-abad, orang-orang harus berlayar untuk menyeberangi Selat Inggris. Hal itu dilakukan sampai jalan perlintasan di bawah selat, yang tidak terpikirkan sebelumnya, selesai dibangun.
Allah juga merencanakan suatu jalan yang tidak terduga bagi umat-Nya—jalan yang disebutkan dalam Keluaran 14:10-22. Bangsa Israel hampir dihinggapi rasa panik ketika mereka dihadapkan dengan kematian, baik oleh tangan para tentara Firaun atau oleh air yang dapat menenggelamkan mereka. Namun Allah membelah Laut Merah dan mereka pun berjalan melintasi tanah yang kering. Bertahun-tahun kemudian, Asaf sang pemazmur menggunakan peristiwa itu sebagai bukti dari kuasa Allah yang luar biasa, “Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan. Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun” (Mzm. 77:20-21).
Allah dapat membuka jalan-jalan yang baru ketika yang dapat kita lihat hanyalah halangan. Ketika jalan di hadapan kita tampak tidak menentu, ada baiknya kita mengingat apa yang sudah Allah lakukan di masa lalu. Dia sanggup membuka jalan dalam keadaan apa pun—jalan yang mengarahkan kita pada kasih dan kuasa-Nya. —DCM
Terima kasih, ya Allah, untuk perbuatan demi perbuatan ajaib
yang telah Kau lakukan di masa lalu. Tolonglah aku untuk
mengingat kuasa dan kesetiaan-Mu saat aku diliputi
oleh beragam masalah dan kesulitan.
Allah yang membuka jalan bagi keselamatan kita pasti dapat menjaga kita di tengah cobaan sehari-hari.

Saturday, August 9, 2014

Kudus, Kudus, Kudus

Dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” —Wahyu 4:8
Kudus, Kudus, Kudus
Waktu begitu cepat berlalu ketika kita bersenang-senang.” Walaupun waktu sebenarnya tidak berjalan lebih cepat, tetapi begitulah perasaan yang sering kita alami.
Ketika kita sedang bergembira, waktu terasa berlalu begitu cepat. Mengerjakan apa yang saya senangi, atau menemani orang yang saya sukai bisa membuat saya lupa waktu.
Mengalami “kenyataan” itu memberi saya pemahaman baru tentang peristiwa yang terlukiskan dalam Wahyu 4. Dahulu, saat membayangkan keempat mahkluk hidup yang duduk di sekeliling takhta Allah itu terus mengulangi kata-kata yang sama, saya berpikir, Alangkah membosankannya!
Sekarang saya tak lagi berpikir demikian. Saya berpikir tentang peristiwa-peristiwa yang telah mereka saksikan dengan mata mereka yang banyak (ay.8). Saya membayangkan pemandangan yang mereka lihat dari tempat mereka di sekeliling takhta Allah (ay.6). Saya berpikir, pastilah mereka menyaksikan dengan kagum bagaimana Allah yang bijaksana dan penuh kasih mau berurusan dengan umat manusia yang berdosa. Lalu saya berpikir, Mungkinkah ada respons yang lebih baik? Adakah yang bisa dikatakan selain, “Kudus, kudus, kudus”?
Apakah mengatakan kata-kata yang sama berulang kali itu membosankan? Tidak, apabila kamu bersama orang yang kamu kasihi. Tidak, apabila kamu sedang menggenapi maksudmu diciptakan.
Seperti keempat makhluk itu, kita diciptakan untuk memuliakan Allah. Hidup kita takkan pernah terasa membosankan jika kita memusatkan perhatian pada Allah dan memuliakan nama-Nya. —JAL
Suci, suci, suci, Tuhan Mahakuasa
Dikau kami puji di pagi yang teduh.
Suci, suci, suci, murah dan perkasa,
Allah Tritunggal, agung nama-Mu! —Heber
(Kidung Jemaat, No. 2)
Hati yang selaras dengan Allah, tidak mungkin tidak, pasti akan menaikkan pujian bagi-Nya.

Friday, August 8, 2014

Jempol Tangan Ke Atas

Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. —Kejadian 6:8
Jempol Tangan Ke Atas
Alkisah menurut sebuah dongeng dari Afrika, keempat jari dan satu jempol dahulu hidup bersama pada sebuah tangan. Mereka adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Suatu hari, mereka melihat sebuah cincin emas tergeletak di sebelah mereka dan mereka pun bersepakat untuk mengambilnya. Si jempol mengatakan bahwa mencuri cincin itu adalah perbuatan yang salah, tetapi keempat jari lainnya menyebut si jempol sebagai pengecut yang munafik dan mereka tidak lagi mau berteman dengannya. Si jempol tidak merasa keberatan, karena ia tidak ingin terlibat dalam kejahatan mereka. Itulah mengapa, menurut legenda tersebut, jempol kini terpisah dari keempat jari lainnya.
Dongeng itu mengingatkan saya bahwa ada saatnya kita mungkin merasa begitu sendirian di tengah kejahatan yang merebak di sekitar kita. Pada masa hidup Nuh, bumi telah dipenuhi dengan kekerasan; setiap pikiran dalam hati manusia “selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kej. 6:5,11). Namun “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN” (ay.8). Dalam pengabdian yang sepenuh hati, Nuh menaati Allah dan membangun bahtera yang diperintahkan-Nya. Oleh kasih karunia-Nya, Tuhan pun menyelamatkan Nuh dan keluarganya.
Allah juga telah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada kita melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, Anak-Nya. Kita mendapat kehormatan untuk memuliakan Allah dan teguh mengabdi kepada-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Allah selalu dekat, bahkan tinggal di dalam kita, sehingga sesungguhnya kita tidak pernah sendirian. “Ia mendengar bila [kita] berteriak minta tolong” (Mzm. 34:15 BIS). —JBS
Pendirian seseorang akan nyata ketika ia berteguh
Demi membela nilai yang benar dan sejati;
Dan yang mempertaruhkan segalanya dalam Allah
Sungguh berkenan di mata-Nya. —D. DeHaan
Tidaklah sulit untuk hidup mengikuti arus; butuh keberanian untuk berjuang melawan arus.

Thursday, August 7, 2014

Orang-Orang Yang Sulit

Hiduplah sesuai dengan kedudukanmu sebagai orang yang sudah dipanggil oleh Allah. . . . Tunjukkanlah kasihmu dengan membantu satu sama lain. —Efesus 4:1-2 BIS
Orang-Orang Yang Sulit
Dalam buku God in the Dock (Allah Teradili), penulis C. S. Lewis menggambarkan sejumlah tipe orang yang sulit untuk diajak bergaul. Sifat egois, pemarah, cemburuan, atau kebiasaan-kebiasaan lainnya sering kali menyulitkan hubungan kita dengan mereka. Terkadang kita berpikir, Rasanya hidup akan menjadi jauh lebih mudah andai saja aku tidak harus berhadapan dengan orang-orang yang sulit seperti itu.
Lalu Lewis membalikkan pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa rasa frustrasi semacam itulah yang tiap hari harus dihadapi Allah dengan kita masing-masing. Lewis menuliskan: “Kamulah orang yang sulit itu. Kamu juga mempunyai cela yang fatal pada karaktermu. Segala harapan dan rencana orang lain berulang kali kandas saat berhadapan dengan karaktermu sama seperti harapan dan rencanamu kandas saat berhadapan dengan karakter mereka.” Kesadaran diri itu haruslah mendorong kita untuk berusaha menunjukkan kesabaran dan penerimaan terhadap orang lain, sama seperti yang ditunjukkan Allah terhadap kita setiap hari.
Dalam kitab Efesus, Paulus menasihati kita untuk bergaul dengan menunjukkan sifat yang “selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasih [kita] dengan membantu satu sama lain” (4:2 bis). Seseorang yang sabar akan lebih mampu menghadapi orang yang sulit tanpa terpancing untuk melampiaskan kemarahan dan membalas. Sebaliknya, ia akan mampu bertahan dan menunjukkan sikap penuh kasih walaupun dihadapkan pada tingkah laku yang menyebalkan.
Adakah orang-orang yang sulit di dalam hidupmu? Mintalah Allah untuk menunjukkan kasih-Nya melalui dirimu. —HDF
Ada orang yang terasa sulit untuk dikasihi,
Jadi kita merasa tak ada gunanya untuk peduli;
Tetapi Allah berkata, “Kasihi mereka seperti Aku mengasihimu—
Kau akan memuliakan-Ku saat kau bagikan kasih-Ku.” —Cetas
Pandanglah sesama sebagaimana Allah memandangmu.

Wednesday, August 6, 2014

Hancur Tetapi Indah

Apabila bejana . . . itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. —Yeremia 18:4
Hancur Tetapi Indah
Baru-baru ini putri saya menunjukkan koleksi kaca laut miliknya kepada saya. Beragam pecahan kaca aneka warna yang banyak ditemukan di pantai itu terkadang berasal dari pecahan tembikar, tetapi sering kali itu merupakan serpihan botol-botol kaca. Awalnya botol-botol kaca itu memiliki suatu kegunaan, tetapi setelah dipakai, akhirnya dibuang begitu saja dan hancur berkeping-keping.
Apabila pecahan-pecahan kaca yang dibuang itu terdampar di lautan, perjalanannya justru baru dimulai. Ketika pecahan-pecahan kaca itu terus diombang-ambingkan oleh hempasan arus dan gelombang, ujung-ujungnya yang tajam tergerus oleh pasir dan ombak hingga akhirnya menjadi halus dan membulat. Hasilnya menjadi sangat indah. Pecahan kaca laut dengan tampilan bagai perhiasan itu telah mengalami kehidupan baru dan diburu oleh para kolektor dan seniman.
Demikian juga kehidupan seseorang yang telah hancur dapat diperbarui ketika ia menerima jamahan kasih dan anugerah Allah. Dalam Perjanjian Lama, kita membaca tentang Nabi Yeremia yang menyaksikan pekerjaan seorang tukang periuk. Ia memperhatikan bahwa ketika sebuah benda dari tanah liat telah rusak, tukang periuk itu dapat membentuknya kembali (Yer. 18:1-6). Allah menjelaskan bahwa di dalam tangan-Nya, bangsa Israel kuno itu bagaikan tanah liat, yang dapat dibentuk-Nya menurut yang terbaik di mata-Nya.
Tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk dapat dibentuk kembali oleh Allah. Dia mengasihi kita sekalipun kita tidak sempurna dan penuh kegagalan, dan Dia rindu untuk menjadikan kita indah. —CHK
Jadilah, Tuhan, kehendak-Mu!
Ku tanah liat di tangan-Mu;
Bentuklah aku sesuka-Mu,
Aku nantikan sentuhan-Mu. —Pollard
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 127)
Saat hancur terhempas oleh pencobaan, kita dapat seutuhnya dibentuk kembali oleh Sang Tukang Periuk.

Tuesday, August 5, 2014

Melepaskan Diri

KomikStrip-WarungSateKamu-20140805-Gajah
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. —Roma 8:1
Melepaskan Diri
Gajah adalah binatang yang terbesar di atas muka bumi—dan salah satu yang terkuat. Namun hanya dibutuhkan seutas tali untuk mengendalikannya. Berikut ini caranya. Ketika gajah masih muda, gajah itu diikat pada sebatang pohon besar. Selama berminggu-minggu, ia akan memberontak dan berusaha menarik tali pengikatnya. Namun, tali itu tetap mengikatnya dengan kencang. Pada akhirnya gajah itu pun menyerah.
Lalu, ketika gajah itu mencapai ukuran dewasa dan berada pada puncak kekuatannya, ia tidak akan memberontak lagi untuk membebaskan diri; sekali saja merasakan perlawanan, gajah itu akan berhenti. Gajah itu percaya bahwa ia masih ditawan dan tidak akan dapat melepaskan diri.
Iblis dapat memainkan tipu daya yang sama untuk membelenggu dan mengikat kita. Alkitab meyakinkan kita bahwa “sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Kita telah mengalami kemerdekaan “dari hukum dosa dan hukum maut” (ay.2). Namun musuh dari jiwa kita, berusaha memperdaya kita untuk percaya bahwa kita masih dibelenggu oleh dosa.
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Renungkan apa yang telah dilakukan oleh Kristus. Dia mati demi dosa kita dan menyatakan berakhirnya kuasa dosa atas kita (ay.3). Kristus bangkit dari kematian dan memberi kita Roh Kudus. Sekarang kita dimampukan untuk hidup dalam kemenangan bersama-Nya karena “Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam [kita]” (ay.11).
Di dalam Kristus, kita telah dimerdekakan. —PFC
Dia telah merebut keselamatan kita,
Dia menebus jiwa kita yang tertawan,
Dia mendamaikan kita dengan Allah,
Dia membasuh kita dalam darah-Nya. —Wesley
Alamilah kemerdekaan sejati dengan menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Monday, August 4, 2014

Yang Perlu Kita Sadari

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. —Roma 7:18
Yang Perlu Kita Sadari
Di sela-sela pujian “Just As I Am” (Sebagaimana Diriku) yang dibawakan oleh Fernando Ortega, samar-samar terdengar suara Billy Graham pada latar belakangnya. Dr. Graham sedang mengingat kembali suatu masa ketika ia pernah menderita sebuah penyakit yang membuatnya berpikir bahwa dirinya sedang sekarat. Ketika merenungkan masa lalunya, Graham menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa besar dan betapa ia selalu membutuhkan pengampunan dari Allah setiap harinya.
Billy Graham mematahkan anggapan bahwa di luar Allah, kita ini baik adanya. Kita dapat dipenuhi rasa percaya diri, akan tetapi keyakinan tersebut haruslah datang dari kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah yang begitu dikasihi-Nya (Yoh. 3:16), bukan karena kita adalah manusia yang baik adanya (Rm. 7:18).
Langkah pertama untuk menjadi seorang pengikut Kristus yang benar-benar “baik” adalah dengan berhenti berpura-pura bahwa kita ini baik dengan sendirinya, dan meminta Allah untuk menjadikan kita sesuai dengan apa yang baik di mata-Nya. Kita akan gagal berkali-kali, tetapi Dia akan terus memberi kita pertumbuhan dan perubahan. Allah itu setia dan—menurut waktu-Nya dan oleh cara-Nya—Dia akan melakukannya.
Menjelang akhir hidupnya, John Newton, penulis pujian “Amazing Grace”, menderita demensia dan meratapi ingatannya yang sedang meredup. Walaupun demikian ia yakin, “Aku hanya mengingat dua hal: aku ini pendosa besar, dan Yesuslah Juruselamat yang agung.” Dalam iman, hanya dua hal itulah yang perlu disadari setiap orang. —DHR
Kudapat janji yang teguh,
Kuharap sabda-Nya;
Dan Tuhanlah perisaiku
Tetap selamanya. —Newton
(Kidung Jemaat, No. 40)
Menerima karunia Allah berarti mengalami damai Allah.

Sunday, August 3, 2014

Ikatan Bersama

Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. —Galatia 3:28
Ikatan Bersama
Saat membutuhkan seorang tukang kunci untuk membuka mobil saya, saya mendapatkan sebuah kejutan yang menyenangkan. Setelah si tukang datang dan mulai membuka pintu mobil Ford mungil milik saya, kami mulai berbincang-bincang dan saya mengenali logatnya yang khas dan tidak asing di telinga saya.
Ternyata orang yang telah menolong saya itu berasal dari Jamaika—sebuah negeri yang sering saya kunjungi dan saya cintai. Hal itu mengubah sebuah peristiwa yang negatif menjadi pengalaman yang positif. Kami dapat menikmati kebersamaan tersebut sedikit banyak karena kecintaan kami yang sama terhadap negeri pulau yang indah itu.
Peristiwa tersebut mengingatkan saya akan suatu kebersamaan yang lebih indah, yaitu sukacita yang dialami saat berkenalan dengan seseorang dan mendapati bahwa ia juga beriman kepada Kristus.
Peristiwa itu mungkin umum terjadi di tempat-tempat dengan jumlah orang Kristen yang cukup banyak. Namun di wilayah-wilayah tertentu di mana orang percaya tidak begitu banyak, bertemu dengan seseorang yang juga mengasihi Yesus tentu membawa sukacita yang lebih besar. Alangkah indahnya mengalami bersama suatu kenyataan yang luar biasa bahwa kita telah dimerdekakan dari dosa oleh Kristus!
Semua orang yang mengenal Yesus masuk dalam suatu ikatan bersama, suatu kesatuan dalam Kristus (Gal. 3:28), suatu persekutuan penuh sukacita yang dapat menerangi masa-masa hidup kita yang paling gelap sekalipun. Syukur kepada Allah karena Dia telah mengumpulkan semua orang yang mengenal-Nya sebagai Juruselamat dalam satu ikatan yang indah. —JDB
Betapa ajaibnya, Tuhan, karena Engkau dapat mengumpulkan
orang-orang dari segala suku, bahasa, dan bangsa
untuk bersatu dalam Kristus—untuk saling berbagi
dalam ikatan cinta dan kasih kepada Yesus.
Persekutuan iman membangun dan menyatukan kita.

Saturday, August 2, 2014

Graceland

Jauh lebih besar lagi karunia Allah . . . yang dilimpahkan-Nya atas semua orang. —Roma 5:15
Graceland
The Graceland Mansion di Memphis, Tennessee, adalah salah satu rumah yang paling sering dikunjungi orang di Amerika Serikat. Rumah megah itu dibangun pada tahun 1930-an dan dinamai Grace, sesuai dengan nama bibi dari pemilik aslinya. Di kemudian hari rumah tersebut menjadi terkenal sebagai kediaman Elvis Presley.
Saya menyukai nama Graceland (tanah kasih karunia) karena itu menggambarkan suatu wilayah yang menakjubkan, di mana Allah telah menempatkan saya ketika Dia mengampuni dosa saya dan menjadikan saya sebagai milik-Nya. Allah membawa saya keluar dari kegelapan dan menempatkan saya dalam “graceland” milik-Nya.
Rasul Paulus berkata, “Jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Rm. 5:15). Saya akan selamanya bersyukur karena saya termasuk dalam “semua orang” dan karena kasih Allah telah memindahkan saya ke dalam wilayah kasih karunia-Nya yang begitu menakjubkan, tak terbatas, dan tiada taranya itu!
Bayangkanlah berkat yang kita terima dengan berada dalam “graceland” milik Allah. Itulah tempat di mana Allah membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam hadirat-Nya dan di sanalah kasih karunia yang sama terus mengalir dengan limpahnya ke dalam hidup kita hari demi hari. Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam keputusasaan pun, Allah melimpahi kita dengan kecukupan kasih karunia yang cukup untuk menolong kita melaluinya (lihat 2Kor. 12:9).
Apa pun yang terjadi di dalam hidup ini, tiada yang dapat memindahkan kita dari lingkup kasih karunia Allah. —JMS
Ya Tuhan, atas berkat kasih karunia-Mu,
aku selamanya bersyukur! Ajarlah aku menerima
karunia-Mu dan hidup oleh kuasanya. Tolonglah aku
untuk menceritakan kisah-Mu kepada sesama.
Ingatlah keadaanmu sekarang dan bersukacitalah dalam kasih karunia Allah.

Friday, August 1, 2014

Kota Perlindungan

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140801-Melindungi-Hati

Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. —Mazmur 59:17
Kota Perlindungan
Saat memasuki sebuah kota di Australia, kami disambut oleh suatu papan yang bertuliskan “Kami menyambut siapa saja yang mencari perlindungan dan suaka.” Sambutan itu terlihat selaras dengan konsep kota perlindungan dalam Perjanjian Lama. Pada masa itu, kota-kota perlindungan (Bil. 35:6) didirikan untuk menjadi tempat pelarian yang aman bagi orang-orang yang telah membunuh seseorang secara tidak sengaja dan membutuhkan perlindungan. Allah memerintahkan bangsa Israel membangun kota-kota tersebut untuk memberikan perlindungan seperti itu.
Namun konsep tersebut bukan dimaksudkan untuk sekadar menjadi suatu praktek yang dilakukan oleh bangsa Israel kuno. Lebih dari itu, kota-kota perlindungan tersebut mencerminkan isi hati Allah bagi semua orang. Allah sendiri rindu menjadi tempat pelarian yang aman dan kota perlindungan bagi kita di tengah pahitnya kegagalan, sakit hati, dan kehilangan yang kita alami dalam hidup ini. Kita dapat membacanya dalam Mazmur 59:17-18, “Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya.”
Dari generasi ke generasi, bagi setiap orang yang terluka hatinya, “kota perlindungan” kita bukanlah sebuah tempat. Kota perlindungan kita adalah satu Pribadi, yaitu Allah yang mengasihi kita dengan kasih abadi. Kiranya kita memperoleh perlindungan dan ketenangan di dalam Dia. —WEC
Sering kali dalam konflik, saat musuh menekanku,
Aku datang kepada Pelindungku, dan melepaskan sesakku;
Sering kali ketika cobaan seperti ombak bergulung
Aku bernaung di dalam-Mu, Engkau Kekuatan jiwaku. —Cushing
Perlindungan dapat kita temukan dalam Allah, Gunung Batu yang Kekal.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate