Pages - Menu

Wednesday, January 31, 2018

Seputih Salju

Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju. —Yesaya 1:18
Seputih Salju
Desember tahun lalu, saya dan keluarga pergi berjalan-jalan ke daerah pegunungan. Sepanjang hidup kami selalu tinggal di wilayah beriklim tropis, maka itulah pertama kalinya kami dapat melihat salju dengan segala keindahannya. Saat kami mengagumi salju bak permadani putih yang menutupi dataran, suami saya mengutip Yesaya, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (1:18).
Setelah bertanya tentang arti kirmizi, putri kami yang berusia tiga tahun bertanya, “Apa warna merah itu tidak bagus?” Ia menanyakan hal itu karena tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Namun, ayat tersebut tidak membahas tentang warna. Sang nabi sedang menggambarkan pewarna merah terang yang diperoleh dari telur-telur seekor serangga kecil. Kain-kain biasanya dicelup dua kali ke dalam pewarna itu agar warna merahnya tidak berubah. Baik hujan atau pun pencucian tidak akan membuat warna itu luntur. Seperti itulah dosa. Tidak ada upaya manusia yang dapat menghapusnya. Dosa manusia sudah demikian berakar di dalam hatinya.
Hanya Allah yang dapat membersihkan hati manusia dari dosa. Saat memandangi pegunungan bersalju itu, kami mengagumi warna putih bersih yang tidak mungkin dicapai dengan proses penggosokan dan pemutihan pada selembar kain yang dicelupkan dalam pewarna merah. Ketika kita menaati perintah Petrus, “Sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (Kis. 3:19), Allah akan mengampuni kita dan memberi kita hidup baru. Hanya melalui pengorbanan Yesus Kristus, kita dapat menerima hati yang murni, sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun kecuali Allah. Sungguh hadiah yang indah! —Keila Ochoa
Allah Bapaku, terima kasih Engkau telah mengampuni dosaku dan menyucikanku.
Allah mengampuni dan juga menyucikan kita.

Tuesday, January 30, 2018

Selalu Siap Sedia

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.—Mazmur 46:2
Selalu Siap Sedia
Suami saya sedang bekerja di kantornya ketika saya menerima kabar tentang diagnosis kanker ibu saya. Saya pun mengirim pesan singkat kepada suami saya dan mencoba untuk menghubungi beberapa teman dan keluarga. Tidak ada yang siap sedia saat itu. Dengan gemetar, saya menangis tersedu-sedu dan berseru, “Tolong aku, Tuhan.” Kepastian yang Allah berikan bahwa Dia menyertai saya sungguh menghibur saat saya merasa sangat sendirian dalam menghadapi momen-momen itu.
Saya bersyukur kepada Tuhan saat suami saya pulang dan dukungan dari teman-teman serta keluarga mulai berdatangan. Meski demikian, ketenangan yang saya alami dari kesadaran akan penyertaan Tuhan pada beberapa jam di awal itu telah meneguhkan keyakinan saya bahwa Allah selalu siap sedia, di mana pun dan kapan pun saya membutuhkan pertolongan-Nya.
Di Mazmur 46, pemazmur menyerukan bahwa Allah adalah tempat perlindungan, kekuatan, dan penolong kita yang setia (ay.2). Jika kita merasakan guncangan atau segala sesuatu yang kita anggap stabil mulai goyah, kita tidak perlu takut (ay.3-4). Allah tidak berguncang dan goyah (ay.5-8). Kuasa-Nya nyata dan bekerja dengan dahsyat (ay.9-10). Penopang kita yang kekal membuat kita yakin pada karakter-Nya yang tidak berubah (ay.11). Tuhan, kota benteng kita, menyertai kita selamanya (ay.12).
Allah menciptakan umat-Nya untuk mendukung dan menguatkan satu sama lain dengan cara saling mendoakan. Namun, Allah juga menegaskan bahwa Dia selalu siap sedia menolong kita. Ketika kita berseru kepada Allah, kita dapat percaya bahwa Dia akan menepati janji-Nya untuk menyediakan kebutuhan kita. Allah akan menghibur kita melalui umat-Nya sekaligus melalui kehadiran-Nya. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih karena telah meyakinkan kami bahwa Engkau selalu terbuka menyambut kami karena Engkau selalu menyertai kami.
Allah selalu siap sedia menolong kita.

Monday, January 29, 2018

Seperti Anak Kecil

Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. —Matius 18:3
Seperti Anak Kecil
Suatu malam, bertahun-tahun lalu, setelah doa malam bersama putri kami yang waktu itu berusia dua tahun, istri saya dikejutkan oleh pertanyaan putri kami. Ia bertanya, “Mami, di mana Tuhan Yesus?”
Luann menjawab, “Tuhan Yesus ada di surga dan Dia ada di mana-mana. Dia juga di sini bersama kita. Dia bisa tinggal dalam hatimu jika kamu meminta-Nya.”
“Aku mau Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku.”
“Kamu bisa meminta-Nya kapan saja kamu mau.”
“Aku mau meminta Tuhan Yesus tinggal dalam hatiku sekarang.”
Kemudian putri kami yang mungil pun berkata, “Tuhan Yesus, tinggallah dalam hatiku sekarang. Sertailah aku, ya Tuhan.” Dan itulah permulaan perjalanan imannya bersama Yesus.
Ketika murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Yesus memanggil seorang anak kecil untuk datang dan bergabung dengan mereka (Mat. 18:1-2). Yesus berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. . . . Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (ay.3-5).
Dengan mata seperti mata Yesus, kita dapat melihat seorang anak yang percaya sebagai teladan iman kita. Kita pun diperintahkan untuk menyambut semua orang yang mau membuka hati dan percaya kepada Yesus. Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (19:14). —David C. McCasland
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memanggil kami untuk mengikut-Mu dengan keyakinan iman seperti yang dimiliki seorang anak.
Iman kita kepada Yesus haruslah seperti iman seorang anak yang percaya.

Sunday, January 28, 2018

Sukacita

Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai. —Mazmur 92:5
Sukacita
Saya semakin mendekati fase baru dalam hidup saya. Saya mulai merasakan berbagai kesulitan yang menyertai usia senja, tetapi syukurlah, saya masih dapat mengatasinya. Meskipun tahun demi tahun berlalu dengan begitu cepat dan adakalanya saya ingin memperlambat waktu, saya masih memiliki sukacita yang terus menopang saya. Setiap hari adalah hari baru yang diberikan Tuhan untuk saya. Bersama pemazmur, saya dapat mengatakan, “Sungguh baiklah bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan memuji Engkau, Allah Yang Mahatinggi; mewartakan kasih-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam” (Mzm. 92:2-3 bis).
Meskipun saya menghadapi beragam pergumulan dan penderitaan, serta kesulitan yang dialami orang lain terkadang juga membuat saya kewalahan, Allah memampukan saya ikut bersama pemazmur untuk menyatakan, “Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai” (ay.5). Saya bersukacita karena semua berkat yang telah diberikan Allah: keluarga, teman-teman, dan pekerjaan yang memuaskan. Saya bersukacita karena ciptaan Allah yang menakjubkan dan firman-Nya yang kudus. Saya bersukacita karena Tuhan Yesus begitu mengasihi kita hingga Dia rela mati demi dosa-dosa kita. Dan saya bersukacita karena Allah memberi kita Roh Kudus, sumber sukacita sejati (Rm. 15:13). Karena Tuhan, orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat “bertunas seperti pohon kurma . . . yang masih berbuah di masa tua” (Mzm. 92:13,15 bis).
Buah apakah yang dimaksud? Apa pun situasi atau fase hidup yang sedang kita jalani, kita dapat menjadi teladan dari kasih-Nya lewat cara hidup dan perkataan kita. Ada sukacita dari mengenal dan menjalani hidup bagi Tuhan dan menceritakan kabar baik tentang Dia kepada orang lain. —Alyson Kieda
Ya Tuhan, terima kasih atas sukacita yang kami miliki melalui kehadiran Roh Kudus.
Allah adalah sumber sukacita.

Saturday, January 27, 2018

Menang Berargumen

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah. —Pengkhotbah 5:1
Menang Berargumen
Suatu hari dalam kelas filsafat di sebuah universitas, seorang mahasiswa memberikan komentar yang lumayan kasar terhadap pandangan-pandangan dosennya. Mahasiswa-mahasiswa lain di kelas itu terkejut ketika sang dosen hanya mengucapkan terima kasih dan melanjutkan dengan membahas komentar berikutnya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menanggapi mahasiswa yang agresif itu, dosen itu berkata, “Saya sedang melatih diri untuk tidak perlu menang berargumen.”
Pengajar itu mengasihi dan menghormati Allah, dan ia ingin menunjukkan sikap rendah hati di hadapan orang lain sebagai wujud dari kasihnya kepada Allah. Kata-katanya mengingatkan saya pada seorang pengajar lain dari zaman lampau—sang penulis kitab Pengkhotbah. Meskipun tidak sedang membahas cara menghadapi orang yang marah, ia mengatakan bahwa ketika hendak beribadah kepada Tuhan, kita harus menjaga langkah kita dan “menghampiri untuk mendengar” daripada terburu-buru dengan mulut kita dan hati kita terlalu cepat mengeluarkan perkataan. Dengan demikian, kita mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan kita adalah manusia ciptaan-Nya (Pkh. 4:17–5:1).
Bagaimana cara Anda menghampiri Allah? Jika Anda merasa bahwa sikap Anda masih perlu dibenahi, cobalah meluangkan waktu untuk memikirkan tentang keagungan dan kebesaran Tuhan. Saat kita merenungkan hikmat, kuasa, dan kehadiran-Nya yang tidak pernah berakhir, kita akan dibuat kagum oleh kasih-Nya yang melimpah ruah bagi kita. Dengan sikap rendah hati di hadapan Allah seperti itu, keinginan untuk menang berargumen pun sirna. —Amy Boucher Pye
Ya Tuhan Allah, aku ingin menghormati-Mu dan sekarang aku bersujud di hadapan-Mu dalam keheningan. Ajarilah aku berdoa dan mendengarkan-Mu.
Kita menghormati Allah dengan menjaga ucapan kita.

Friday, January 26, 2018

Kudus, Kudus, Kudus

Dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” —Wahyu 4:8
Kudus, Kudus, Kudus
“Waktu rasanya cepat berlalu saat kita bersenang-senang.” Ungkapan klise tersebut sebenarnya tidak berdasarkan fakta, tetapi rasanya bisa dibuktikan lewat pengalaman.
Apabila hidup itu menyenangkan, waktu terasa berlalu begitu cepat. Mengerjakan tugas yang saya sukai atau mengobrol dengan seorang yang enak diajak bicara membuat saya tidak lagi memperhatikan waktu.
Pengalaman saya dalam hal itu memberi saya pemahaman baru tentang adegan yang terjadi dalam Wahyu 4. Dahulu saya pernah membayangkan bahwa melihat keempat makhluk yang duduk mengelilingi takhta Allah dan terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama itu pasti sangat membosankan!
Kini saya tidak lagi berpikir seperti itu. Saya memikirkan adegan-adegan yang mereka saksikan dengan mata mereka yang banyak (ay.8). Saya membayangkan apa yang bisa mereka lihat dari posisi mereka di sekeliling takhta Allah (ay.6). Saya pikir mereka pasti terkagum-kagum akan hikmat Allah dan perbuatan-Nya yang penuh kasih bagi manusia yang berdosa. Lalu saya berpikir, mungkinkah ada respons lain yang lebih baik? Masih adakah kata-kata yang dapat diucapkan selain, “Kudus, kudus, kudus”?
Apakah mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali itu membosankan? Tidak, ketika Anda bersama orang yang Anda kasihi. Tidak, saat Anda memang melakukan apa yang sesuai dengan tujuan Anda diciptakan.
Seperti keempat makhluk itu, kita diciptakan untuk memuliakan Allah. Hidup kita takkan membosankan jika kita memusatkan perhatian kepada Allah dan menggenapi tujuan-Nya. —Julie Ackerman Link
Suci, suci, suci! Tuhan Mahakuasa! Patut Kau dipuji seluruh karya-Mu. Suci, suci, suci, murah dan perkasa, Allah Tritunggal, agung nama-Mu! Reginald Heber (Kidung Jemaat, No. 2)
Hati yang selaras dengan Allah akan senantiasa memuji-Nya.

Thursday, January 25, 2018

Pengharapan Sejati

Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.—Roma 8:16
Pengharapan Sejati
Baru-baru ini saya mengunjungi Empire State Building bersama seorang teman. Antrean masuknya terlihat pendek—hanya di sepanjang blok dan di seputar tikungan. Namun saat memasuki gedungnya, kami menemukan orang-orang berbaris sepanjang lobi, menyusuri tangga, hingga masuk ke suatu ruangan. Di balik setiap tikungan, kami melihat bahwa ternyata tujuan kami masih jauh.
Berbagai tempat atraksi dan wahana taman hiburan memang mengatur keramaian pengunjungnya dengan jeli supaya antreannya terlihat lebih pendek. Namun, kita bisa jadi kecewa ketika merasa tidak semakin dekat dengan tujuan kita walaupun kita telah lama mengantre.
Dalam hidup ini, terkadang kita mengalami kekecewaan yang jauh lebih berat. Pekerjaan yang kita idam-idamkan tidak terwujud; teman-teman yang kita andalkan mengecewakan kita; hubungan romantis yang coba kita kembangkan harus kandas di tengah jalan. Namun, dalam segala hal yang mengecewakan itu, firman Allah memberikan kebenaran yang menguatkan tentang pengharapan kita di dalam Dia. Rasul Paulus menuliskan, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm. 5:3-5).
Ketika kita mempercayai Allah, Dia membisikkan kebenaran itu kepada kita melalui Roh-Nya. Dia meyakinkan kita bahwa kita dikasihi-Nya apa adanya dan suatu hari kelak kita akan bersama-Nya—terlepas dari apa pun rintangan yang kita hadapi. Di dalam dunia yang sering mengecewakan kita, alangkah indahnya menyadari bahwa Allah telah memberikan kepada kita pengharapan yang sejati. —James Banks
Ya Abba, Bapa, terima kasih karena aku dapat selalu mempercayai kasih-Mu yang sempurna dan tak berkesudahan.
Di dalam Kristus, orang yang putus asa akan menemukan pengharapan.

Wednesday, January 24, 2018

Allah atas Kehidupan

Tuhan, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak. —Mazmur 104:1
Allah atas Kehidupan
Beberapa waktu lalu, pada waktu musim dingin, kota tempat saya tinggal dilanda cuaca yang tidak lazim berupa angin kencang berkepanjangan dengan suhu dingin yang menusuk tulang. Selama dua minggu berturut-turut, termometer di luar rumah menunjukkan angka jauh di bawah 0 derajat (-20ºC; -5ºF).
Suatu kali di pagi hari yang sangat dingin itu, suara kicauan burung memecah kegelapan yang sunyi. Lusinan, bahkan ratusan burung berkicau dengan sangat nyaring. Kalau saya boleh membayangkan, saya pikir burung-burung kecil itu sedang berseru kepada Sang Pencipta agar cuacanya dibuat menjadi lebih hangat!
Para ahli burung menyatakan bahwa ramainya kicauan burung yang biasa terdengar pada pagi hari di akhir musim dingin kebanyakan berasal dari burung-burung jantan. Burung-burung itu berusaha memikat burung betina dan mengklaim daerah kekuasaan mereka. Kicauan burung itu mengingatkan saya bahwa Allah mengatur ciptaan-Nya dengan begitu cermat agar mereka dapat bertahan hidup dan bertumbuh dengan indah—karena Dialah Allah atas kehidupan.
Dalam sebuah mazmur yang mengagumi keindahan kehidupan di bumi ciptaan Allah, penulis mengawalinya demikian, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (Mzm. 104:1). Kemudian ia melanjutkan tulisannya, “Di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan” (ay.12).
Dari burung yang berkicau dan bersarang hingga lautan luas dengan “binatang-binatang yang kecil dan besar” (ay.25) yang tidak terbilang banyaknya, kita memiliki begitu banyak alasan untuk memuji Allah Pencipta atas karya-Nya yang begitu cermat demi memastikan agar segala makhluk ciptaan-Nya bertumbuh dengan indah. —Jeff Olson
Bersyukurlah kepada Allah atas dunia yang diciptakan-Nya. Tuliskan apa saja karya ciptaan-Nya yang sangat Anda nikmati. Bersyukurlah untuk semua itu satu demi satu.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Kolose 1:17

Tuesday, January 23, 2018

Tindakan Kasih

Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. —1 Yohanes 3:18
Tindakan Kasih
Pada tanggal 21 Agustus 2016, Carissa mengunggah foto-foto tentang bencana banjir yang menerjang Louisiana di akun media sosialnya. Esok paginya, ia menambahkan pesan permohonan bantuan dari seseorang yang tinggal di daerah bencana. Lima jam kemudian, Carissa dan suaminya, Bobby, turun tangan dengan mengajak sejumlah orang untuk melakukan perjalanan sejauh 1.600 km untuk menolong para korban banjir yang rumahnya rusak parah. Kurang dari 24 jam kemudian, ada 13 orang yang berangkat bersama ke Louisiana.
Apa yang memotivasi orang-orang itu untuk mau meninggalkan kesibukan mereka, mengemudi selama 17 jam, dan bekerja memindahkan perlengkapan, memperbaiki rumah, serta memberikan harapan di suatu tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya? Mereka dimotivasi oleh kasih.
Renungkanlah ayat Alkitab yang dikutip Carissa di dalam seruannya untuk meminta bantuan: “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mzm. 37:5). Ucapan itu sungguh benar ketika kita mengikuti panggilan Allah untuk memberikan bantuan kepada sesama. Rasul Yohanes berkata, “Barangsiapa . . . melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh. 3:17). Mungkin memberi bantuan itu tidak selalu mudah, tetapi Allah berjanji akan menolong kita ketika kita “berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (ay.22).
Ketika ada yang membutuhkan bantuan, kita dapat memuliakan Allah dengan rela menyediakan diri dan melakukan tindakan kasih bagi orang tersebut sesuai dengan dorongan dari Allah. —Dave Branon
Tuhan, bukalah mata kami untuk melihat kebutuhan orang lain, bukalah hati kami kepada mereka, dan ringankan tangan kami untuk siap menolong ketika dibutuhkan.
Kita menunjukkan kasih Allah ketika kita bersedia menolong orang lain dan kuasa-Nya ketika kita mengerjakan tugas yang Dia percayakan kepada kita.

Monday, January 22, 2018

Sikap Kita

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. —Yakobus 1:2
Sikap Kita
Regina berkendara pulang dari tempat kerjanya dengan kondisi lelah dan kecewa. Di awal hari itu, ia mendapat kabar tragis dari seorang teman melalui pesan pendek. Selanjutnya hari itu bertambah berat, ketika di dalam rapat, rekan-rekan kerjanya menolak untuk melakukan gagasan apa pun yang diberikannya. Ketika Regina sedang mencurahkan kegalauannya kepada Tuhan, terlintas di pikirannya untuk mengesampingkan dahulu tekanan yang dialaminya hari itu. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi temannya, Maria, yang telah lanjut usia di panti wreda. Semangat Regina bangkit lagi ketika Maria menceritakan segala kebaikan Allah yang telah diterimanya. Maria berkata, “Aku punya tempat tidur dan sofaku sendiri, makan tiga kali sehari, dan sangat terbantu oleh para perawat di sini. Kadang-kadang Allah mengirimkan burung gereja bertengger di jendela kamarku karena Dia tahu aku menyukainya dan Dia sangat mengasihiku.”
Masalahnya adalah sikap dan sudut pandang kita. Sebuah ungkapan menyatakan, “Hidup ditentukan 10 persennya oleh apa yang kita alami, sementara 90 persennya lagi oleh reaksi kita terhadap pengalaman itu.” Orang-orang yang menerima surat dari Yakobus sedang hidup terpencar-pencar karena penganiayaan, dan Yakobus menantang mereka untuk memandang kesulitan dari sudut yang berbeda. Ia mendorong mereka dengan perkataan ini, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2).
Masing-masing dari kita berada dalam proses untuk belajar mempercayai Allah dalam situasi-situasi yang sulit. Sudut pandang yang dipenuhi sukacita, sebagaimana yang disampaikan Yakobus, dialami ketika kita belajar untuk melihat bahwa Allah dapat memakai setiap pergumulan untuk mendewasakan iman kita. —Anne Cetas
Tuhan, ubahlah sikapku dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Tumbuhkanlah sukacita, ketekunan, dan kedewasaan dalam diriku.
Allah dapat menumbuhkan iman kita lewat peristiwa sulit yang kita hadapi.

Sunday, January 21, 2018

Janji demi Janji

Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi. —2 Petrus 1:4
Janji demi Janji
Saya dan putri saya yang bungsu senang memainkan permainan yang kami sebut “Cubit”. Cara bermainnya begini: Ketika ia menaiki tangga, saya akan mengejarnya dan berusaha mencubitnya. Aturannya adalah saya hanya boleh mencubitnya (dengan lembut tentunya) ketika ia berada di tangga. Begitu ia tiba di lantai atas, ia selamat. Namun, adakalanya ia sedang tidak ingin bermain. Bila saya coba mengejarnya, ia akan dengan tegas berkata, ”Jangan cubit!” Dan saya akan menjawab, “Oke, tak ada cubitan sekarang. Ayah janji.”
Janji saya mungkin terlihat sepele. Namun ketika saya menepati janji itu, putri saya mulai belajar sesuatu tentang karakter saya. Ia merasakan konsistensi saya. Ia tahu bahwa janji saya pasti ditepati, dan ia dapat mempercayai saya. Menepati janji seperti itu tidaklah sulit. Namun, janji—lebih tepatnya “janji yang ditepati”—merekatkan hubungan antara kedua belah pihak. Janji yang ditepati menjadi dasar untuk membangun kasih dan rasa percaya.
Menurut saya, itulah yang dimaksudkan oleh Rasul Petrus ketika menulis bahwa janji-janji Allah membuka jalan bagi kita untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr. 1:4). Ketika kita mempercayai firman Allah, segala sesuatu yang Dia katakan tentang diri-Nya dan tentang kita, kita melihat isi hati-Nya kepada kita. Dia berkenan mengungkapkan kesetiaan-Nya ketika kita mempercayai kebenaran firman-Nya. Saya sungguh bersyukur Kitab Suci dipenuhi dengan janji-janji-Nya. Semua itu mengingatkan dengan jelas kepada saya bahwa “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi” (Rat. 3:22-23). —Adam Holz
Tuhan, terima kasih untuk “janji-janji yang berharga dan yang sangat besar”. Tolonglah kami untuk memahami dan mempercayai firman-Mu sebagai kebenaran sehingga kami dapat sepenuhnya mengalami kebaikan-Mu yang indah.
Allah mengungkapkan isi hati-Nya kepada kita melalui firman-Nya.

Saturday, January 20, 2018

Pertolonganku!

Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. —Mazmur 121:2
Pertolonganku!
Selama beberapa dasawarsa paduan suara dari gereja Brooklyn Tabernacle yang terkenal telah menjadi berkat bagi banyak orang melalui nyanyian-nyanyian rohani mereka yang menyegarkan jiwa. Salah satu nyanyian itu berjudul “My Help” (Pertolonganku) yang terilhami dari Mazmur 121.
Mazmur 121 diawali dengan pengakuan pemazmur tentang imannya kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dan yang menjadi sumber pertolongannya (ay.1-2). Apakah artinya? Hidupnya mempunyai stabilitas (ay.3), dipelihara sepanjang waktu (ay.3-4), disertai dan dilindungi terus-menerus (ay.5-6), dan dijaga dari segala malapetaka dari sekarang sampai selama-lamanya (ay.7-8).
Diinspirasi oleh Kitab Suci, umat Allah di sepanjang zaman telah menyatakan keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber “pertolongan” mereka dengan menuangkannya ke dalam puji-pujian. Saya sendiri sangat menikmati menyanyikan puji-pujian bersama jemaat Tuhan, salah satunya adalah himne gubahan Charles Wesley, “Tanganku menadah Tuhan, mengharap kasih-Mu. Andai Tuhan mengabaikan, ke mana ku pergi.” Tokoh reformasi, Martin Luther, sangat tepat menuliskan syair berikut, “Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku, menolong bila ‘ku jatuh, dan jadi pengharapanku.”
Apakah Anda merasa sendirian, terabaikan, terlantar, dan bingung? Renungkanlah Mazmur 121. Izinkan kata-katanya memenuhi jiwa Anda dengan iman dan keberanian. Anda tidak sendirian. Karena itu, jangan berusaha menjalani hidup Anda dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, bersukacitalah dalam pemeliharaan Allah dari sekarang hingga selamanya, seperti yang nyata dalam kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Langkah apa pun yang akan Anda tempuh di depan, lakukanlah dengan pertolongan-Nya. —Arthur Jackson
Ya Bapa, kami bersyukur untuk ayat-ayat Alkitab dan pujian yang mengingatkan kami bahwa Engkaulah sumber pertolongan kami. Tolong aku untuk mengingatnya hari ini.
Allah Sang Pencipta alam semesta adalah penolong bagi umat-Nya!

Friday, January 19, 2018

Oleh Kuasa Roh Kudus

Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. —Zakharia 4:7
Oleh Kuasa Roh Kudus
Apa yang akan Anda lakukan ketika sebuah gunung menghalangi jalan Anda? Kisah Dashrath Manjhi dapat menginspirasi kita. Istrinya meninggal dunia karena Manjhi tidak sanggup membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Karena peristiwa itu, Manjhi pun melakukan sesuatu yang kelihatannya mustahil. Ia menghabiskan waktu selama 22 tahun untuk memahat lubang besar di sebuah gunung supaya penduduk desa lainnya dapat pergi ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan medis yang mereka butuhkan. Sebelum Manjhi tutup usia, pemerintah India sempat memberikan penghargaan atas usahanya itu.
Membangun kembali Bait Allah pasti kelihatan mustahil bagi Zerubabel, salah seorang pemimpin Israel yang kembali dari pembuangan. Rakyat sedang patah semangat, sementara musuh-musuh mengancam dan mereka kekurangan sumber daya atau jumlah pasukan yang cukup untuk bertahan. Namun, Allah mengirimkan Zakharia untuk mengingatkan Zerubabel bahwa tugas itu membutuhkan sesuatu yang lebih dahsyat daripada kekuatan militer, keperkasaan individu, atau sumber daya buatan manusia. Pekerjaan itu membutuhkan kuasa Roh Allah (Zak. 4:6). Dengan jaminan pertolongan ilahi, Zerubabel percaya bahwa Allah akan meratakan gunung kesulitan apa pun yang menghalangi pembangunan kembali Bait Allah dan proses pemulihan umat-Nya (ay.7).
Apa yang akan kita lakukan menghadapi “gunung” di hadapan kita? Kita memiliki dua pilihan: mengandalkan kekuatan kita sendiri atau mempercayai kuasa Roh Allah. Ketika kita mempercayai kuasa-Nya, Allah sanggup meratakan gunung itu, atau sebaliknya, memberi kita kekuatan dan ketahanan untuk mengatasinya. —Marvin Williams
Tujuan-tujuan Allah hanya dapat dicapai oleh kuasa Allah. Manusia takkan sanggup melakukannya dengan kekuatannya sendiri.

Thursday, January 18, 2018

Menghadapi Penundaan

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah. —Kejadian 45:8
Menghadapi Penundaan
Kita sering menghadapi berbagai macam penundaan. Kerusakan sistem komputer global menyebabkan pembatalan penerbangan besar-besaran sehingga ratusan ribu penumpang pun terlantar di sejumlah bandara. Di lain waktu, ketika badai musim dingin melanda, kecelakaan yang menimpa beberapa mobil membuat sejumlah jalan raya utama harus ditutup. Seseorang yang sudah berjanji untuk “segera” mengirimkan jawaban, ternyata tidak menepatinya. Penundaan-penundaan seperti itu acap kali membuat kita marah dan frustrasi. Namun sebagai pengikut Kristus, kita dapat datang kepada-Nya untuk meminta pertolongan.
Salah satu teladan yang sangat baik tentang kesabaran di Alkitab adalah Yusuf. Ia pernah dijual kepada pedagang budak oleh saudara-saudaranya yang iri hati, dituduh secara tidak adil oleh istri majikannya, dan kemudian dipenjara di Mesir. “Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf” (Kej. 39:20-21). Beberapa tahun kemudian, ketika Yusuf berhasil menafsirkan mimpi Firaun, ia pun diangkat menjadi penguasa kedua atas Mesir (Pasal 41).
Buah yang paling luar biasa dari kesabarannya muncul ketika saudara-saudaranya datang untuk membeli gandum selama masa kelaparan. “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir,” kata Yusuf kepada mereka, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu . . . Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (45:4-5,8).
Dalam segala penundaan yang kita alami, biarlah kita menjadi seperti Yusuf—memupuk kesabaran, memperoleh perspektif baru, dan mengalami damai sejahtera yang datang dari sikap mempercayai Tuhan. —David C. McCasland
Bapa di surga, dalam segala penundaan yang kami alami, kiranya kami terus meyakini tuntunan-Mu yang setia dan mengalami penyertaan-Mu di setiap situasi yang ada.
Kepercayaan kepada Allah memampukan kita untuk menerapkan iman kita dengan sabar.

Wednesday, January 17, 2018

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. —Roma 11:36
Menumbuhkan Sikap Bersyukur
Apakah Anda ingin makin memiliki sikap hati yang bersyukur? George Herbert, penyair Inggris dari abad ke-17, mendorong para pembacanya untuk mencapai tujuan itu melalui puisinya “Gratefulness” (Ucapan Syukur): “Walau begitu banyak yang telah Engkau berikan padaku, berilah satu hal lagi: hati yang bersyukur.”
Herbert menyadari bahwa satu-satunya hal yang ia perlukan agar dapat bersyukur hanyalah kesadaran akan berkat-berkat Allah yang telah diterimanya.
Roma 11:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sumber segala berkat: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” “Segala sesuatu” mencakup semua pemberian, baik pemberian yang luar biasa maupun yang biasa kita terima dalam hidup kita sehari-hari. Setiap hal yang kita terima dalam hidup ini berasal langsung dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17), dan Allah rela memberikan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.
Untuk menumbuhkan kesadaran saya akan berkat-berkat Allah di dalam hidup saya, saya belajar untuk mengembangkan sikap hati yang menyadari sumber dari seluruh sukacita yang saya alami setiap hari, khususnya berkat-berkat yang sering saya pandang enteng atau yang saya anggap biasa-biasa saja. Berkat-berkat seperti itu termasuk, misalnya, cuaca yang cerah untuk lari pagi, pertemuan yang santai dengan teman-teman, persediaan makanan yang cukup untuk keluarga saya, keindahan alam yang terlihat dari jendela rumah, bahkan hingga aroma kopi yang baru diseduh.
Apa saja berkat yang telah dilimpahkan Allah bagi Anda? Buka mata Anda untuk melihat berkat-berkat tersebut dan Anda akan dimampukan untuk menumbuhkan sikap hati yang bersyukur.  - Lisa Samra
Sediakan waktu beberapa menit untuk bersyukur kepada Allah atas apa pun yang muncul di benak Anda saat ini. Cobalah melakukan hal itu sepanjang hari ini.
Ketika Anda memikirkan segala hal yang baik, bersyukurlah kepada Allah.

Tuesday, January 16, 2018

Kuasa Doa

Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada Tuhan, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu. —1 Samuel 7:8
Kuasa Doa
Suatu hari, ketika mengkhawatirkan keadaan dari seseorang yang dekat dengan saya, saya dikuatkan oleh sepenggal kisah Samuel di dalam Perjanjian Lama. Samuel adalah pemimpin Israel yang bijaksana. Setelah membaca tentang Samuel yang mendoakan umat Allah yang sedang menghadapi masalah, saya menguatkan tekad untuk berdoa bagi orang yang saya kasihi itu.
Bangsa Israel menghadapi ancaman dari bangsa Filistin yang pernah mengalahkan Israel ketika umat Allah tidak mempercayai Allah (lihat 1 Samuel 4). Setelah bertobat dari dosa-dosanya, Israel mendengar bahwa Filistin akan menyerang lagi. Namun, kali ini Israel meminta Samuel untuk terus mendoakan mereka (7:8), dan Tuhan menjawab doa itu dengan mengacaukan para musuh sehingga mereka terpukul kalah (ay.10). Meskipun Filistin mungkin lebih hebat dari bangsa Israel, Tuhan jauh lebih kuat dari kedua bangsa itu.
Ketika kita terbeban saat melihat tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang kita kasihi dan mengkhawatirkan situasi mereka yang sepertinya tidak akan berubah, bisa saja kita berpikir bahwa Tuhan tidak akan bertindak. Namun, janganlah kita menganggap rendah kuasa doa, karena Allah kita yang Maha Pengasih mendengar setiap permohonan kita. Kita tidak tahu bagaimana Allah akan bertindak dalam menanggapi permohonan kita. Namun, kita tahu bahwa sebagai Bapa kita, Allah rindu kita mengalami kasih-Nya dan mempercayai kesetiaan-Nya.
Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini?
—Amy Boucher Pye
Allah Bapa, aku mengagumi cara-Mu mendengar dan menjawab doa-doaku. Kuatkanlah imanku agar aku senantiasa mempercayai kebaikan dan kasih-Mu.
Allah mendengarkan saat kita berdoa.

Monday, January 15, 2018

Mengupayakan Kesatuan

Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. —Kolose 3:11
Mengupayakan Kesatuan
Tumbuh besar di era 1950-an, saya tidak pernah mempertanyakan rasisme dan praktik pemisahan golongan yang mewarnai kehidupan sehari-hari di kota tempat saya tinggal. Di berbagai sekolah, restoran, transportasi umum, dan lingkungan tempat tinggal, orang-orang yang warna kulitnya berbeda memang dipisahkan.
Sikap saya berubah pada tahun 1968 ketika mulai mengikuti Pelatihan Dasar Angkatan Darat Amerika Serikat. Kompi saya beranggotakan para pemuda dari berbagai latar belakang. Kami belajar bahwa kami perlu saling memahami dan menerima satu sama lain, bekerja sama, dan menyelesaikan misi kami.
Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose pada abad pertama, ia menyadari keragaman dalam jemaat itu. Ia mengingatkan mereka, “Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (Kol. 3:11). Kepada sekelompok orang yang sangat mudah terpecah belah, baik oleh perbedaan yang sepele maupun yang serius, Paulus mendorong mereka untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay.12). Dan yang lebih utama daripada segala perilaku yang mulia itu, ia mengatakan kepada mereka untuk mengenakan kasih “sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (ay.14).
Menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam hidup kita mungkin terasa seperti upaya yang tak pernah usai. Namun, itulah panggilan Yesus bagi kita. Yang menyatukan kita sebagai umat percaya adalah kasih kita kepada-Nya. Dengan dasar itulah kita mengejar pengertian, damai sejahtera, dan kesatuan sebagai sesama anggota tubuh Kristus.
Di tengah segala keragaman kita, marilah mengupayakan kesatuan yang semakin erat di dalam Kristus. —David C. McCasland

Kasih Kristus menciptakan kesatuan dalam keragaman.

Sunday, January 14, 2018

Mengenal dan Mengasihi

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. —Yohanes 10:27
Mengenal dan Mengasihi
“Jesus loves me, this I know, for the Bible tells me so” (Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku)” adalah pesan dari salah satu lagu rohani yang paling diingat orang, terutama oleh anak-anak. Ditulis oleh Anna B. Warner pada tahun 1800-an, lirik itu secara lembut menegaskan hubungan kita dengan Yesus—yaitu bahwa kita disayang dan dikasihi-Nya.
Seseorang memberi istri saya sebuah hiasan dinding untuk rumah kami berisi lirik lagu tersebut, tetapi dengan kata-kata yang bertukar posisi. Pada hiasan itu tertulis, “Jesus knows me, this I love” (Yesus mengenalku, aku suka hal itu). Kalimat tersebut memberikan perspektif yang berbeda pada hubungan kita dengan-Nya—yaitu bahwa kita dikenal oleh Kristus.
Pada masa Israel kuno, yang membedakan gembala sejati dengan gembala upahan adalah gembala sejati menyayangi dan mengenal domba-dombanya. Gembala itu menghabiskan begitu banyak waktu bersama domba-dombanya hingga ia memiliki perhatian dan pengenalan yang mendalam akan domba-dombanya. Karena itu, tidak heran Yesus berkata kepada domba-domba milik-Nya, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. . . . Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:14,27).
Dia mengenal dan mengasihi kita! Kita dapat mempercayai tujuan Yesus bagi hidup kita dan meyakini janji pemeliharaan-Nya karena Bapa “mengetahui apa yang [kita] perlukan, sebelum [kita] minta kepada-Nya” (Mat. 6:8). Dalam pasang surut kehidupan, tenanglah, karena Anda dikenal dan dikasihi oleh Gembala jiwa Anda. —Bill Crowder
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau begitu mengasihi dan memperhatikanku. Tolonglah aku mempercayai-Mu dalam semua area kehidupanku.
Yang terindah dari semuanya— membayangkan bahwa Yesus sayang pada saya!

Saturday, January 13, 2018

Allah yang Pemarah?

Aku Tuhan, adalah Allah yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan. Kasih-Ku berlimpah-limpah, Aku setia dan tidak lekas marah. —Keluaran 34:6 BIS
Allah yang Pemarah?
Ketika mempelajari tentang mitologi Yunani dan Romawi di perguruan tinggi, saya terkesima dengan sifat dari dewa-dewi dalam kisah-kisah itu yang tidak stabil dan cenderung mudah marah. Hidup orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan para dewa itu akan hancur, dan kadang terjadi tanpa alasan yang kuat.
Saya pun mencibir sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin orang bisa percaya kepada dewa-dewa seperti itu. Namun kemudian, saya bertanya kepada diri sendiri, Sama atau tidakkah pandangan saya tentang Allah yang sejati? Bukankah saya menganggap-Nya mudah marah saat saya meragukan-Nya? Sayangnya, saya memang sering berpikir demikian.
Itulah mengapa saya memahami permintaan Musa kepada Allah, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (Kel. 33:18). Ketika dipilih untuk memimpin sejumlah besar orang yang sering mengeluh kepadanya, Musa ingin tahu apakah Allah memang akan menolongnya dalam tugas yang sangat besar itu. Allah mengabulkan permintaan itu dan menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah menyatakan nama dan sifat-sifat-Nya kepada Musa. Dialah “Allah yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan. Kasih-Ku berlimpah-limpah, Aku setia dan tidak lekas marah” (34:6 BIS).
Ayat itu mengingatkan saya bahwa Allah tidaklah impulsif, tiba-tiba marah dan bertindak semaunya. Kebenaran itu sangat melegakan hati saya, terutama saat saya mengingat bahwa adakalanya saya yang justru bersikap tidak sabar dan mudah marah kepada-Nya. Selain itu, Allah juga terus bekerja untuk menjadikan saya makin serupa dengan-Nya.
Kita dapat melihat Allah dan kemuliaan-Nya melalui banyak hal: kesabaran-Nya terhadap kita, kata-kata yang menguatkan dari sahabat, keindahan matahari yang terbenam. Namun, yang terbaik dari semuanya adalah bisikan Roh Kudus dalam hati nurani kita. —Linda Washington
Allah Bapa, aku bersyukur Engkau selalu berbelas kasih, mengampuni, dan setia.
Kita sering berubah-ubah, tetapi Allah tidak akan pernah berubah.

Friday, January 12, 2018

Membaur

Lalu orang-orang yang takut kepada Tuhan berbicara satu sama lain. Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan. —Maleakhi 3:16 BIS
Membaur
Lee adalah pegawai bank yang rajin dan dapat diandalkan. Namun, karena ingin menerapkan imannya dengan sungguh-sungguh, ia sering harus tampil beda dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, ketika ia memilih untuk keluar dari ruang istirahat di kantornya saat percakapan sudah menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Dalam kelompok penggalian Alkitab yang diikutinya, ia menceritakan pergumulannya, “Aku takut kehilangan kesempatan untuk dipromosikan karena tak mau membaur.”
Umat Allah pada zaman Nabi Maleakhi menghadapi tantangan serupa. Mereka telah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun ulang. Namun, mereka ragu dengan rencana Allah bagi masa depan mereka. Ada di antara mereka yang berkata, “Percuma saja berbakti kepada Allah. Apa gunanya melakukan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Mahakuasa . . . ? Kita lihat sendiri bahwa orang-orang sombong bahagia. Orang jahat tidak hanya bertambah makmur, tetapi kalau mereka menguji kesabaran Allah dengan berbuat jahat, mereka luput juga” (Mal. 3:14-15 bis).
Bagaimana kita dapat tetap setia kepada Allah di tengah suatu dunia yang menganggap kita ketinggalan zaman jika kita tidak membaur? Mereka yang hidup setia pada zaman Maleakhi menjawab tantangan itu dengan berkumpul bersama orang percaya lainnya untuk saling menguatkan. Maleakhi menyatakan satu hal yang penting: “Tuhan mendengar dan memperhatikan apa yang mereka katakan” (ay.16 BIS).
Benar, Allah memperhatikan dan mempedulikan semua orang yang takut kepada-Nya dan yang menghormati-Nya. Dia tidak memerintahkan kita “membaur” dengan dunia, melainkan untuk makin mendekat kepada-Nya setiap hari sembari kita menguatkan satu sama lain. Karena itu, marilah kita hidup dengan setia! —Poh Fang Chia
Tuhan, tolonglah kami untuk senantiasa saling menguatkan agar kami tetap setia kepada-Mu di tengah dunia yang tak setia ini.
Iman kita mungkin diuji agar kita terus mempercayai kesetiaan Allah.

Thursday, January 11, 2018

Apa Isinya?

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Apa Isinya?
“Apakah kamu mau lihat apa isinya?” tanya teman saya Emily. Saya baru saja memuji boneka kain yang sedang dipeluk putrinya yang masih kecil. Saya memang sangat ingin tahu apa isi boneka itu. Teman saya membalik boneka itu dan membuka ritsleting tersembunyi yang dijahit pada punggung boneka tersebut. Dari dalam tubuh boneka itu, Emily dengan lembut mengeluarkan sebuah harta terpendam: boneka kain yang pernah disayang dan disukainya selama bertahun-tahun di masa kanak-kanaknya, lebih dari dua puluh tahun lalu. Boneka “luar” itu hanya sekadar bungkus jika tanpa boneka “dalam” yang menopang dan memberikan bentuk pada boneka “luar” itu.
Paulus menggambarkan kebenaran tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus sebagai sebuah harta, yang tersimpan dalam diri umat Allah yang rapuh sebagai manusia. Harta itu memampukan mereka yang percaya kepada-Nya untuk menanggung penderitaan yang sangat berat dan untuk terus melayani dengan setia. Saat mereka mempercayai Tuhan, terang-Nya—hidup-Nya—bersinar cemerlang melalui “kerapuhan” mereka sebagai manusia. Paulus menguatkan kita semua agar “tidak tawar hati” (2Kor. 4:16) karena Allah senantiasa menguatkan kita untuk melakukan pekerjaan-Nya.
Seperti boneka “dalam” tadi, harta rohani yang ada di dalam diri kita memberikan tujuan dan kekuatan yang pasti bagi hidup kita. Ketika kekuatan Allah bersinar melalui diri kita, orang lain akan tergerak untuk bertanya, “Apa yang kau miliki di dalam dirimu?” Pada saat itulah kita dapat membuka isi hati kita dan menyatakan kepada mereka janji hidup baru dari keselamatan yang diberikan Kristus. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menyelamatkanku. Pancarkanlah terang-Mu melalui hidupku yang rapuh agar orang lain juga rindu untuk mengenal-Mu.
Injil kebenaran bersinar melalui kerapuhan diri umat Allah.

Wednesday, January 10, 2018

Hati Sebagai Hamba

Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. —Lukas 22:27
Hati Sebagai Hamba
Hari itu pekerjaan di kantor sangat melelahkan. Namun saat sampai di rumah, tiba waktunya bagi saya untuk memulai “pekerjaan lain”: menjadi ayah yang baik. Sambutan dari istri dan anak saya segera berubah menjadi, “Pa, mau makan malam apa?” “Pa, boleh ambilkan aku minum?” “Pa, main bola yuk?”
Sebenarnya saya hanya ingin duduk santai. Dan meskipun sebagian dari diri saya benar-benar ingin bersikap sebagai ayah yang baik, saya tidak merasa bersemangat untuk melayani kebutuhan keluarga saya. Saat itulah saya melihat sesuatu: sepucuk kartu ucapan terima kasih yang diterima istri saya dari salah seorang jemaat gereja. Kartu itu menggambarkan semangkuk air, handuk, dan sandal kotor. Di bagian bawah gambar itu terdapat kata-kata dari Lukas 22:27, “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”
Pernyataan tentang misi Yesus—yakni untuk melayani orang-orang yang hendak dicari dan diselamatkan-Nya (Luk. 19:10)—benar-benar saya butuhkan saat itu. Jika Yesus saja bersedia melakukan pekerjaan yang paling hina bagi para pengikut-Nya—seperti membasuh kaki murid-murid-Nya yang sudah pasti kotor (Yoh. 13:1-17)—tentulah saya dapat mengambilkan minum untuk anak saya tanpa berkeluh kesah. Pada saat itu, saya diingatkan bahwa permintaan keluarga saya untuk melayani mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kesempatan untuk mencerminkan hati sebagai hamba yang dimiliki Yesus dan juga kasih-Nya kepada mereka. Ketika kita diminta untuk berbuat sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus, Pribadi yang melayani dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. —Adam Holz
Tuhan, terkadang sulit bagi kami untuk melayani kebutuhan orang lain. Tolong kami untuk menjadi semakin seperti Engkau, mau menyatakan kasih-Mu dalam banyaknya kesempatan yang kami punya untuk melayani orang-orang di sekitar kami setiap hari.
Kasih Allah yang kita terima memampukan kita untuk melayani sesama.

Tuesday, January 9, 2018

Batu Peringatan

Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya. —Mazmur 105:5
Batu Peringatan
Terkadang saat membuka Facebook, saya ditunjukkan pada “kenangan”—hal-hal yang pernah saya unggah pada hari yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah kenangan itu, seperti foto pernikahan kakak saya atau video putri saya yang sedang bermain dengan nenek saya, biasanya membuat saya tersenyum. Namun, sebagian kenangan yang lain memberikan dampak emosional yang lebih mendalam. Ketika membaca lagi tulisan tentang menengok saudara ipar yang menjalani kemoterapi atau melihat foto jahitan di kulit kepala ibu saya setelah operasi pada otaknya tiga tahun lalu, saya diingatkan pada kehadiran Allah yang setia di masa-masa sulit tersebut. Kenangan yang ditampilkan oleh Facebook itu mendorong saya untuk berdoa dan bersyukur.
Kita semua cenderung melupakan hal-hal yang telah Allah lakukan bagi kita. Kita membutuhkan pengingat. Ketika Yosua memimpin umat Allah menuju tanah tempat tinggal mereka yang baru, mereka harus menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:15-16). Allah membelah sungai itu sehingga umat-Nya dapat berjalan melalui tanah yang kering (ay.17). Untuk mengingatkan mereka pada mukjizat itu, umat Israel mengambil dua belas batu dari tengah sungai dan meletakkannya di seberang (4:3,6-7). Ketika ada yang bertanya tentang arti batu-batu itu, umat Allah dapat menceritakan tentang apa yang telah Allah lakukan pada hari itu.
Benda-benda yang mengingatkan kita akan kesetiaan Allah di masa lalu dapat mengingatkan kita untuk senantiasa mempercayai-Nya di masa sekarang dan juga di masa yang akan datang. —Amy Peterson
Ya Allah, aku bersyukur atas kesetiaan-Mu kepadaku selama bertahun-tahun! Tolong aku untuk mempercayai-Mu di masa sekarang dan juga di masa mendatang.

Monday, January 8, 2018

Penghapus Utang

Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. —Mazmur 103:12
Penghapus Utang
Saya coba menahan air mata saat mencermati tagihan pengobatan saya. Mengingat gaji suami saya yang turun jauh jika dibandingkan dengan pekerjaan lamanya, membayar setengah dari jumlah tagihan itu saja memerlukan cicilan bulanan selama bertahun-tahun. Saya berdoa sebelum menelepon klinik untuk menjelaskan situasi kami dan meminta dibuatkan rencana pembayaran yang sanggup saya tanggung.
Setelah saya diminta menunggu sesaat, resepsionis memberi tahu saya bahwa dokter telah membebaskan kami dari tagihan itu.
Saya terisak sambil mengucapkan terima kasih. Berkat luar biasa itu membuat saya sangat bersyukur. Setelah menutup telepon, saya pun memuji Allah. Saya terpikir untuk menyimpan lembar tagihan itu, bukan untuk mengingatkan pada besarnya utang saya, melainkan pada apa yang telah diperbuat Allah bagi saya.
Keputusan dokter untuk menghapus utang saya mengingatkan saya pada keputusan Allah untuk menghapus utang dosa saya yang karena begitu besarnya tidak mungkin saya lunasi. Kitab Suci meyakinkan kita bahwa Allah itu “penyayang dan pengasih” dan “berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita” (ay.10). Dia menjauhkan dosa kita “sejauh timur dari barat” (ay.12), ketika kita bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Pengorbanan-Nya menghapus utang kita—seluruhnya.
Setelah diampuni, hidup kita tidak lagi ditentukan atau dibatasi oleh utang dosa kita di masa lalu. Menanggapi limpah ruahnya anugerah Tuhan dapat kita lakukan dengan mengakui segala karya-Nya. Lewat persembahan dan ucapan syukur yang tulus, kita dapat hidup bagi-Nya dan menceritakan tentang Dia kepada sesama kita. —Xochitl Dixon
Terima kasih, Tuhan, Engkau menghapus utang kami seluruhnya saat kami percaya kepada-Mu.
Utang kita yang terbesar, yang disebabkan oleh dosa, telah dihapus oleh Allah kita yang Mahabesar.

Sunday, January 7, 2018

Satu Nama

Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. —Filipi 2:10
Satu Nama
Cleopatra, Galileo, Shakespeare, Elvis, Pelé. Mereka begitu terkenal sehingga satu kata dari nama mereka sudah cukup untuk mengenali mereka. Tokoh-tokoh tersebut menjadi terkenal karena diri mereka dan apa yang mereka lakukan. Namun, ada satu nama lain yang jauh lebih unggul daripada mereka atau nama-nama lain di dunia!
Sebelum Anak Allah lahir ke dunia, malaikat mengatakan kepada Maria dan Yusuf untuk menamakan bayi mereka Yesus, karena “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21), dan “Ia . . . akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 1:32). Yesus tidak datang untuk menjadi orang yang tersohor melainkan menjadi hamba yang merendahkan diri dan mati di kayu salib agar setiap orang yang menerima-Nya dapat diampuni dan dilepaskan dari kuasa dosa.
Rasul Paulus menulis, “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).
Di masa-masa penuh sukacita maupun di saat-saat yang tersulit, kita dapat menyerukan nama Yesus. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kasih-Nya tidak akan pernah berkesudahan. —David C. McCasland
Yesus, nama-Mu lebih besar daripada segala nama, Juruselamat dan Tuhan kami. Kami memuji nama-Mu dengan mensyukuri kehadiran dan kuasa-Mu dalam hidup kami hari ini.
Kita gagal memuliakan Yesus Kristus apabila kita tidak memuliakan Dia lebih daripada segala sesuatu. —Agustinus

Saturday, January 6, 2018

Hadiah dari Orang Majus

Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia. —Matius 2:2
Hadiah dari Orang Majus
Alkisah sepasang anak muda yang saling mencintai tetapi tidak mempunyai banyak uang. Menjelang Natal, keduanya bersusah-payah mencari hadiah yang akan menunjukkan besarnya cinta mereka kepada pasangannya. Akhirnya, pada malam Natal, Della menggunting rambutnya yang sepanjang lutut dan menjualnya agar dapat membeli rantai berbahan platinum untuk arloji milik Jim yang diwarisinya dari ayah dan kakeknya. Namun sayang sekali, ternyata Jim telah menjual arlojinya agar dapat membeli seperangkat sisir yang mahal untuk rambut Della.
Penulis O. Henry memberikan judul The Gift of the Magi (Hadiah dari Orang Majus) untuk cerita tentang pasangan muda itu. Cerita tersebut menunjukkan bahwa meskipun hadiah Natal mereka tidak berguna dan mungkin terlihat bodoh, perbuatan mereka yang penuh kasih menjadikan pemberian itu terlihat sangat bijaksana.
Orang-orang majus di Alkitab mungkin juga terlihat bodoh dengan hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur yang mereka bawa ke Betlehem (Mat. 2:11). Sebagai orang non-Yahudi, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengusik ketenangan di kota Yerusalem ketika mereka bertanya tentang raja orang Yahudi yang baru lahir (ay.2).
Seperti pengalaman Jim dan Della dalam cerita fiksi di atas, rencana orang-orang majus itu tidak berjalan seperti harapan mereka. Meski demikian, mereka telah memberikan sesuatu yang tidak terbeli dengan uang. Mereka memang datang membawa hadiah, tetapi mereka kemudian bersujud menyembah Pribadi yang pada akhirnya akan memberikan diri-Nya dalam perbuatan kasih yang terbesar—berkorban untuk mereka dan untuk kita semua. —Mart DeHaan
Bapa di surga, tolonglah kami di masa-masa sekarang ini untuk belajar artinya memberikan hal-hal yang tidak terbeli dengan uang.
Anugerah yang diberikan Allah sungguh tak ternilai harganya.

Friday, January 5, 2018

Sama Seperti Bapa

Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.—1 Petrus 1:16
Sama Seperti Bapa
Ayah saya pernah mempunyai sepatu bot koboi setinggi lutut yang kini sudah berdebu dan ditaruh di lantai ruang kerja saya. Setiap hari, saat melihat sepatu bot itu, saya teringat pada kepribadian beliau.
Salah satu hal yang dilakukan ayah saya adalah memelihara dan melatih kuda-kuda penggiring ternak—kuda-kuda atletis yang bergerak lincah. Saya sangat senang melihat ayah bekerja dan mengagumi bagaimana ia dapat tetap duduk di atas pelana sepanjang melakukan pekerjaannya.
Ketika masih kecil, saya ingin tumbuh besar menjadi seperti beliau. Saya berusia 80-an tahun sekarang, tetapi saya masih belum menyamai apa yang telah beliau kerjakan.
Ayah saya sudah berpulang ke surga, tetapi saya mempunyai Bapa lain untuk diteladani. Saya ingin menjadi seperti Dia—dipenuhi kebaikan-Nya dan menyebarkan kasih-Nya. Saya belum sepenuhnya menjadi seperti Dia, bahkan takkan pernah bisa menyamai-Nya seumur hidup saya. Dia terlebih mulia dibandingkan saya.
Namun, Rasul Petrus pernah berkata, “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu” (1Ptr. 5:10). Dia memiliki hikmat dan kuasa untuk melakukan semua itu (ay.11).
Ketidaksanggupan kita untuk sepenuhnya menyerupai Allah Bapa tidak akan berlangsung selamanya. Dia telah memanggil kita untuk membagikan keindahan karakter-Nya. Di dalam hidup ini, kita tidak akan mencerminkan karakter-Nya dengan sempurna. Namun, di surga kelak, segala dosa dan dukacita kita tidak akan ada lagi dan kita akan mencerminkan Allah dengan seutuhnya! Sungguh, itulah “kasih karunia yang benar-benar dari Allah” (ay.12). —David H. Roper
Allah Bapa, kami ingin menjadi seperti-Mu. Tolong kami untuk terus bertumbuh semakin serupa dengan-Mu tiap hari!
Melalui salib Kristus, orang berdosa dipandang tak bercela oleh Allah.

Thursday, January 4, 2018

Apa yang Dikatakan Para Ahli?

Walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. —Yohanes 5:39-40
Apa yang Dikatakan Para Ahli?
Kolumnis surat kabar Boston Globe, Jeff Jacoby, pernah menulis tentang “kepercayaan diri para ahli yang bisa salah besar dan sangat fatal dalam memprediksi sesuatu”. Jika melihat perjalanan sejarah dari abad ke abad, kita bisa membenarkan tulisan Jacoby. Misalnya saja, penemu hebat Thomas Edison pernah menyatakan bahwa film bersuara tidak akan pernah menggantikan keberadaan film bisu. Lalu pada tahun 1928, Henry Ford menyatakan, “Manusia sudah terlalu cerdas untuk kembali masuk ke dalam peperangan.” Tak terhitung jumlah prediksi dari para “ahli” yang akhirnya melenceng jauh. Ternyata kecerdasan pun ada batasnya.
Hanya satu Pribadi yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan Dia pernah menegur keras sejumlah orang yang menyebut diri mereka ahli. Para pemimpin agama pada zaman Yesus mengaku telah mengetahui kebenaran. Para ahli Taurat dan pemuka agama itu mengira bahwa mereka tahu seperti apakah Mesias yang dijanjikan Allah pada saat Dia datang.
Tuhan Yesus memperingatkan mereka, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40).
Di awal tahun yang baru, kita tentu mendengar banyak prediksi, mulai dari yang menakutkan hingga yang sangat optimis. Sebagian besar prediksi itu dinyatakan dengan penuh keyakinan dan otoritas. Janganlah kita menjadi khawatir, melainkan tetaplah percaya kepada Pribadi yang menjadi pusat dari Kitab Suci. Allah Mahakuasa yang menopang kita juga berkuasa memegang hari esok. —Tim Gustafson
Bapa, kapan pun kami merasa takut atau khawatir, tolonglah kami untuk mencari-Mu. Kami menyerahkan kepada-Mu tahun yang baru dan semua yang akan terjadi kelak.
Hari esok serba tidak pasti, tetapi kepastian kita peroleh ketika kita mengenal satu-satunya Pribadi yang memegang hari esok.

Wednesday, January 3, 2018

Kemuliaan yang Menakjubkan

Ya Tuhan, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan. —1 Tawarikh 29:11
Kemuliaan yang Menakjubkan
Salah satu hal yang menyenangkan dari perjalanan ke Eropa adalah kesempatan mengunjungi katedral-katedral megah yang banyak terdapat di sana. Keindahan dari setiap katedral yang menjulang tinggi itu sungguh menakjubkan. Karya arsitektur, seni, dan simbol-simbol pada bangunan-bangunan luar biasa tersebut seakan memancarkan keajaiban dan kemegahan yang dapat membuat seseorang terpesona.
Saat memikirkan bahwa semua katedral tersebut dibangun untuk mencerminkan kebesaran Allah dan keagungan-Nya yang tak tertandingi, saya pun bertanya-tanya bagaimana hati dan pikiran manusia dapat merasakan kembali keagungan Allah dan diingatkan lagi akan kebesaran-Nya.
Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memandang jauh melampaui bangunan megah yang dibuat oleh manusia dan merenungkan keagungan dari alam semesta ciptaan Allah sendiri. Lihatlah langit malam yang bertabur bintang dan pikirkanlah tentang kuasa Allah saat Dia berfirman untuk menciptakan alam semesta. Gendonglah bayi yang baru lahir dan bersyukurlah kepada Allah untuk keajaiban hidup itu sendiri. Lihatlah gunung-gunung yang tertutup salju atau luasnya samudera raya yang dipenuhi jutaan mahkluk ciptaan Allah dan bayangkanlah kuasa yang membuat ekosistem tersebut berfungsi sebagaimana adanya.
Memang, tidak salah manusia mendirikan bangunan-bangunan yang tinggi dan megah dengan tujuan untuk mengarahkan pandangan kita kepada Allah. Namun demikian, kekaguman kita yang sejati sudah sepatutnya ditujukan kepada Allah sendiri, sambil kita mengatakan kepada-Nya, “Ya Tuhan, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan” (1Taw. 29:11). —Dave Branon
Tuhan, kebesaran-Mu sungguh membuat kami terpesona. Terima kasih, Engkau telah mengingatkan kami akan kebesaran-Mu di dalam dunia ini dan di dalam firman-Mu.
Hanya Allah yang layak kita sembah.

Tuesday, January 2, 2018

Terus Maju

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah. —Filipi 3:14
Terus Maju
Ketika berjalan di luar gedung kantor tempat saya bekerja, saya tercengang melihat sebatang tanaman bunga yang indah tumbuh di suatu celah lempengan beton yang menutupi tanah. Meskipun keadaannya tidak mendukung, tanaman itu berhasil menemukan tempat untuk berakar di retakan yang kering dan bertumbuh dengan baik. Saya kemudian menyadari bahwa tepat di atas tanaman itu terpasang unit pendingin udara yang meneteskan air pada tanaman itu sepanjang hari. Jadi, meskipun lingkungannya tidak bersahabat, tanaman tersebut menerima pertolongan yang dibutuhkannya untuk bertumbuh dari tetesan air itu.
Dalam hidup kita sebagai orang percaya, terkadang kita menemui berbagai hambatan untuk bertumbuh. Namun, jika kita bertekun dalam Kristus, hambatan-hambatan itu dapat diatasi. Mungkin lingkungan kita tidak bersahabat dan kekecewaan hidup bisa jadi menghalangi kita untuk bertumbuh. Akan tetapi, jika kita terus maju dalam persekutuan dengan Allah, kita akan dapat bertumbuh seperti tanaman bunga di atas. Itulah yang dialami oleh Rasul Paulus. Meskipun menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat berat (2Kor. 11:23-27), ia tidak pernah menyerah. “Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” demikian tulis Paulus. “[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah” (Flp. 3:12,14).
Paulus menyadari bahwa ia sanggup menanggung segala perkara di dalam Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya (4:13). Demikian juga kita dapat terus maju dengan pertolongan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita. —Lawrence Darmani
Hari ini adalah hari yang Engkau ciptakan, Bapa. Terima kasih karena Engkau akan selalu menyertaiku dalam segala hal yang kuhadapi hari ini.
Allah memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk bertekun dan bertumbuh.

Monday, January 1, 2018

Mulai Kembali

Setiap orang yang hatinya digerakkan oleh Allah, berkemas-kemas untuk pulang ke Yerusalem dan membangun kembali Rumah Tuhan. —Ezra 1:5 BIS
Mulai Kembali
Setelah perayaan Natal berakhir pada akhir Desember, pikiran saya mulai tertuju pada tahun yang akan datang. Di saat anak-anak sedang libur sekolah dan rutinitas sehari-hari agak longgar, saya dapat merenungkan kembali apa saja yang telah saya alami setahun lalu dan apa yang saya harapkan di tahun yang baru. Perenungan saya terkadang disertai rasa sakit dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Namun, penantian untuk memulai tahun yang baru telah memenuhi hati saya dengan pengharapan dan semangat baru. Saya merasa mempunyai kesempatan untuk memulai kembali dengan awal yang baru, terlepas dari apa pun yang terjadi setahun lalu.
Semangat saya untuk memulai awal yang baru tidaklah sebanding dengan besarnya pengharapan yang dirasakan orang Israel pada saat Koresh, raja Persia, membebaskan mereka untuk kembali ke kampung halaman mereka di Yehuda. Saat itu orang Israel telah menjalani masa pembuangan di Babel selama tujuh puluh tahun. Raja yang terdahulu, Nebukadnezar, telah mengasingkan orang Israel dari tanah kelahiran mereka. Namun, Allah menggerakkan Koresh untuk memulangkan para tawanan ke Yerusalem untuk membangun Bait Allah (Ezr. 1:2-3). Koresh juga mengembalikan kepada mereka segala harta benda yang telah diambil dari Bait Allah. Hidup mereka sebagai umat pilihan Allah, di tanah yang sudah Allah janjikan bagi mereka, dimulai kembali dengan awal yang baru setelah menjalani masa-masa yang sulit di Babel sebagai konsekuensi dari dosa mereka.
Apa pun yang terjadi di masa lalu, saat kita mengakui dosa, Allah mengampuni kita dan memberi kita awal yang baru. Karena itulah, kita dapat memasuki tahun baru dengan penuh harap! —Kirsten Holmberg
Anugerah Allah memberi kita awal yang baru.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate