Pages - Menu

Thursday, March 31, 2016

Ikutlah Aku

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. —Markus 2:17
Ikutlah Aku
Pusat-pusat kebugaran menawarkan berbagai program bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan dan tetap bugar. Salah satu pusat kebugaran hanya melayani mereka yang ingin menurunkan berat badan setidaknya 22 kg dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat. Seorang anggota dari pusat kebugaran itu berkata bahwa ia berhenti menjadi anggota di pusat kebugaran sebelumnya karena ia merasa anggota-anggota lainnya yang langsing dan bugar terus menatapnya dan menghakimi bentuk tubuhnya yang tidak ideal. Kini ia berolahraga lima hari dalam seminggu dan berhasil mencapai berat badan yang sehat dalam lingkungan yang positif dan mau menerimanya.
Dua ribu tahun yang lalu, Yesus datang untuk memanggil mereka yang lemah imannya supaya mengikut Dia. Salah satunya adalah Lewi. Yesus melihatnya sedang duduk di rumah cukai dan berkata, “Ikutlah Aku” (Mrk. 2:14). Kata-kata-Nya menggerakkan hati Lewi dan ia segera mengikut Yesus. Pemungut cukai sering bertindak serakah dan tidak jujur dalam pekerjaan mereka. Karena itu mereka dianggap najis secara agamawi. Ketika para ahli Taurat melihat Yesus makan di rumah Lewi bersama para pemungut cukai lainnya, mereka bertanya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (2:16). Yesus menjawab, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (2:17).
Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk kita semua. Dia mengasihi kita, menyambut kita masuk dalam hadirat-Nya, dan memanggil kita untuk mengikut-Nya. Dengan berjalan bersama-Nya, iman kita semakin bertambah kuat dan sehat. —Marvin Williams
Bacalah Kisah Para Rasul 9:10-19 dan lihatlah bagaimana seseorang menaati Allah dan menyambut seseorang yang dianggap lemah iman. Apakah hasilnya? Bagaimana kamu bisa menjangkau mereka yang memerlukan Juruselamat? Bagaimana kamu dapat menolong gerejamu untuk lebih terbuka dalam menerima mereka yang lemah iman?
Tangan Yesus selalu terbuka menyambut kita.

Wednesday, March 30, 2016

Dikejutkan oleh Kasih Karunia

Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah. —Efesus 3:7
Dikejutkan oleh Kasih Karunia
Seorang wanita dari Grand Rapids, Michigan, Amerika Serikat, tertidur lelap di sofa setelah suaminya tidur. Tiba-tiba, seseorang diam-diam menyusup masuk ke dalam rumah melalui pintu dorong yang lupa dikunci oleh pasangan itu. Penyusup itu masuk ke kamar tidur di mana sang suami sedang tidur dan berusaha mencuri televisi. Sang suami terbangun dan melihat sesosok bayangan orang berdiri di kamar, lalu berbisik, “Sayang, ayo tidur di sini.” Pencuri itu pun panik, mengembalikan televisi yang diambilnya tadi ke tempatnya, mengambil setumpuk uang di meja rias, dan melarikan diri.
Pencuri itu menerima kejutan besar! Uang yang diambilnya itu ternyata adalah setumpuk traktat penginjilan yang satu sisinya menampilkan gambar seperti uang dua puluh dolar dan di sisi lainnya terdapat penjelasan tentang kasih dan pengampunan yang dianugerahkan Allah untuk manusia. Alih-alih mendapatkan uang, pencuri itu mendapatkan penjelasan tentang kasih Allah baginya.
Saya bertanya-tanya hal apakah yang Saulus harapkan saat menyadari bahwa Yesuslah yang telah menampakkan diri di hadapannya dalam perjalanan ke Damsyik, sedangkan ia telah menganiaya dan bahkan membunuh para pengikut Yesus? (Kis. 9:1-9). Saulus, yang kemudian disebut Paulus, pasti dikejutkan oleh kasih karunia Allah baginya, yang disebutnya “pemberian”: “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugrahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya” (Ef. 3:7).
Pernahkah kamu dikejutkan oleh kasih karunia yang diberikan Allah dalam hidupmu ketika Dia menunjukkan kepadamu kasih dan pengampunan-Nya? —Anne Cetas
Tuhan, anugerah-Mu sungguh luar biasa bagiku. Aku sungguh bersyukur bahwa meskipun aku manusia berdosa, Engkau memberikan kasih-Mu bagiku.
Jangan pernah mengukur kuasa Allah yang tak terbatas dengan pengharapan kita yang terbatas.

Tuesday, March 29, 2016

Allah Kekuatanku

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. —Yesaya 41:10
Allah Kekuatanku
Para prajurit Babel kuno terkenal karena kekejaman mereka. Selain kejam, mereka juga tangguh, ganas, dan menyerang bangsa-bangsa lain bagaikan seekor rajawali mencaplok mangsanya. Tidak hanya kuat, mereka juga sangat sombong. Mereka mengagung-agungkan kemampuan tempur mereka. Alkitab bahkan menyebut bahwa mereka “mendewakan kekuatannya sendiri” (Hab. 1:11 BIS).
Allah tidak ingin sikap bergantung pada diri sendiri itu menular pada pasukan Israel yang sedang bersiap-siap untuk berperang melawan bangsa Midian. Maka Dia berkata kepada Gideon, komandan pasukan Israel, “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku” (Hak. 7:2). Oleh karena itu, Gideon memulangkan setiap orang yang merasa gentar. Ada 22.000 orang yang kembali ke rumahnya, sementara 10.000 orang tetap tinggal. Allah terus mengurangi jumlah pasukan itu hingga hanya tertinggal 300 orang (ay.3-7).
Dengan pasukan yang dikurangi, jumlah prajurit Israel kalah jauh dibandingkan musuh mereka, yang memenuhi lembah itu “seperti belalang banyaknya” (ay.12). Meskipun demikian, Allah memberikan kemenangan bagi pasukan Gideon.
Adakalanya Allah membiarkan sumber daya kita menyusut begitu rupa, sehingga kita hanya akan mengandalkan kekuatan-Nya untuk terus maju. Kebutuhan kita menunjukkan kuasa-Nya yang dahsyat, tetapi Dia sendiri yang berkata, “Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku” (Yes. 41:10). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, aku bersyukur atas kekuatan-Mu. Engkau mengangkatku saat aku lemah. Tolong aku untuk memuji-Mu atas setiap kemenangan di hidupku.
Allah ingin agar kita mengandalkan kekuatan-Nya, bukan kekuatan kita sendiri.

Monday, March 28, 2016

Kejutan!

Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia. —Lukas 24:31
Kejutan!
Michelangelo Merisi da Caravaggio (1571-1610) adalah seorang seniman asal Italia yang dikenal karena pembawaannya yang temperamental dan tekniknya yang tidak lazim. Ia suka memakai orang biasa sebagai model untuk tokoh Alkitab dalam lukisannya dan mampu membuat orang yang memandangi lukisannya merasa sebagai bagian dari lukisan itu. Lukisan Supper at Emmaus (Makan Malam di Emaus) menampilkan pemilik penginapan yang sedang berdiri, sementara Yesus dan kedua murid-Nya duduk di meja ketika mereka mengenali-Nya sebagai Tuhan yang telah bangkit (Luk. 24:31). Salah seorang murid itu sedang akan beranjak dari tempat duduknya, sedangkan murid yang lain membentangkan tangannya karena keheranan.
Lukas, yang mencatat kejadian tersebut dalam kitab Injilnya, mengatakan kepada kita bahwa kedua murid itu dengan segera kembali ke Yerusalem. Di sana mereka mendapati kesebelas murid Tuhan sedang berkumpul bersama teman-teman mereka dan berkata, “‘Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.’ Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti” (ay.33-35).
Oswald Chambers berkata, “Yesus jarang datang di saat kita mengharapkan-Nya; Dia muncul di saat yang paling tidak kita duga, dan selalu melalui cara-cara yang paling tidak masuk akal. Satu-satunya cara seorang pelayan tetap setia kepada Allah adalah dengan selalu siap menerima kunjungan-Nya yang mengejutkan.” Bagaimana pun perjalanan hidup yang kita tempuh saat ini, kiranya kita selalu siap menerima Yesus untuk menyatakan diri-Nya kepada kita dengan cara-cara yang baru dan mengejutkan. —David McCasland
Tuhan Yesus, bukalah mata kami untuk dapat melihat-Mu, Kristus yang telah bangkit, sedang menyertai kami dan berkarya dalam segala situasi kehidupan kami hari ini.
Untuk menemukan Tuhan Yesus Kristus, kita harus bersedia mencari-Nya.

Sunday, March 27, 2016

Awal Paskah

Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. —Yohanes 20:27
Awal Paskah
Ada satu bagian dalam kisah Paskah yang selalu membuat saya bertanya-tanya. Mengapa Yesus membiarkan bekas-bekas luka dari penyaliban-Nya tetap ada? Yesus tentu dapat memiliki apa pun tubuh kebangkitan yang diinginkan-Nya, tetapi Dia memilih suatu tubuh yang mudah dikenali orang terutama melalui bekas luka-Nya yang dapat dilihat dan disentuh. Mengapa demikian?
Saya percaya bahwa kisah Paskah belumlah lengkap tanpa bekas-bekas luka pada tangan, kaki, dan lambung Yesus (Yoh. 20:27). Manusia memimpikan gigi seputih mutiara, kulit yang bebas keriput, dan bentuk tubuh yang ideal. Kita memimpikan kondisi yang tidak alami, yaitu tubuh yang sempurna. Namun bagi Yesus, dibatasi oleh tulang dan kulit manusia justru merupakan kondisi yang tidak alami. Bagi-Nya, bekas-bekas luka tersebut menjadi pengingat yang permanen terhadap keterbatasan dan penderitaan yang dialamiNya selama berada di planet kita.
Dari sudut pandang surga, bekas-bekas luka tersebut mewakili peristiwa paling mengerikan yang pernah terjadi dalam sejarah alam semesta. Meski kelam, peristiwa itu akan menjadi kenangan masa lalu. Oleh karena Paskah, kita dapat berharap bahwa setiap air mata yang kita cucurkan, penderitaan yang kita tanggung, luka batin, dan kesedihan yang dialami saat kehilangan sahabat dan orang yang kita kasihi— semua itu akan menjadi kenangan masa lalu, seperti halnya bekas luka Yesus. Bekas luka mungkin tidak akan pernah dapat dihapus, tetapi kepedihannya tidak akan terasa lagi. Kelak kita akan memiliki tubuh yang baru, surga dan bumi yang baru (Why. 21:4). Kita akan mengalami suatu awal yang baru layaknya Paskah. —Philip Yancey
Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengharapan yang Engkau berikan lewat kebangkitan-Mu, dari masa sekarang sampai selamanya. Hari ini aku mau percaya kepada-Mu.
Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bagi kebangkitan kita.

Saturday, March 26, 2016

Tidak akan Pernah Ditinggalkan

Berserulah Yesus dengan suara nyaring: . . . Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? —Matius 27:46
Tidak akan Pernah Ditinggalkan
Penulis asal Rusia, Fyodor Dostoyevsky, pernah berkata, “Tingkat peradaban suatu masyarakat dapat dinilai dengan melihat isi penjaranya.” Sambil mengingat pernyataan itu, saya membaca sebuah artikel di dunia maya yang mengupas tentang “8 Penjara Paling Mematikan di Dunia”. Dalam salah satu penjara yang disebutkan, setiap tahanannya dikurung dalam sel isolasi.
Manusia dimaksudkan untuk menjalani hidup dan berhubungan dengan sesamanya dalam suatu komunitas, bukan dalam isolasi. Alasan itulah yang membuat sel isolasi menjadi hukuman yang sangat berat.
Isolasi adalah bentuk penderitaan yang ditanggung Kristus pada saat hubungan-Nya yang kekal dengan Bapa-Nya terputus di kayu salib. Kita mendengarnya dalam seruan Yesus yang tertulis di Matius 27:46: “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ketika Yesus menderita dan mati dengan menanggung beban dosa-dosa kita, tiba-tiba saja Dia ditinggalkan sendirian, terisolasi, dan terputus dari hubungan-Nya dengan Bapa. Namun isolasi yang diderita-Nya itu telah memberi kita jaminan dari janji Bapa: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5).
Kristus telah menanggung penderitaan dan diabaikan di kayu salib demi kita, agar kita tidak pernah dibiarkan sendirian atau diabaikan oleh Allah kita selamanya. —Bill Crowder
Bapa, terima kasih Engkau telah membuka jalan bagiku untuk menjadi anak-Mu. Selamanya aku bersyukur untuk harga yang dibayar Yesus agar hubungan itu dapat terjalin. Terima kasih karena Engkau berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku.
Semua yang mengenal Yesus tidak pernah dibiarkan sendirian.

Friday, March 25, 2016

Obituarium Tiga Kata

Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah. —Roma 8:34
Obituarium Tiga Kata
Sebelum Stig Kernell meninggal dunia, ia menitipkan pesan kepada rumah duka setempat bahwa ia tidak menginginkan obituarium (berita kematian) yang seperti biasanya. Sebaliknya, pria asal Swedia itu menginstruksikan supaya mereka hanya menerbitkan tiga kata untuk memberitakan tentang kematiannya: “Aku sudah mati.” Ketika Kernell wafat di usia 92 tahun, benar-benar hanya tiga kata itulah yang dicantumkan. Keberanian dan kesederhanaan dari pemberitaan tentang kematiannya yang tidak lazim tersebut telah menarik perhatian surat kabar di seluruh dunia. Ironisnya, keingintahuan dunia internasional tentang pria dengan obituarium tiga kata itu justru membawa lebih banyak perhatian pada kematiannya daripada yang ia kehendaki.
Ketika Yesus disalibkan, obituarium-Nya dapat saja mencantumkan, “Dia telah mati.” Namun setelah tiga hari, pemberitahuan itu tentu digantikan oleh tajuk berita utama yang berbunyi, “Dia telah bangkit!” Sebagian besar isi Perjanjian Baru secara khusus menyatakan dan menjelaskan dampak dari kebangkitan Kristus. “Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? . . . kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Rm. 8:34-37).
Obituarium tiga kata tentang Yesus, “Dia telah mati”, sudah tergantikan dengan kidung pujian bagi Juruselamat kita yang berkumandang selamanya. Dia bangkit! Dia sungguh telah bangkit! —David McCasland
Ya Tuhan, kami bersukacita untuk kemenangan-Mu yang dahsyat atas dosa dan kematian melalui kebangkitan-Mu. Kiranya kami selalu hidup dalam terang kebangkitan itu setiap hari.
Yesus mengorbankan nyawa-Nya demi nyawa kita.

Thursday, March 24, 2016

Pemeras Minyak

Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. —Markus 14:32
Pemeras Minyak
Jika kamu mengunjungi pedesaan Kapernaum di sebelah Danau Galilea, kamu akan melihat pameran alat pemeras minyak kuno. Dengan bahan dari batu basal, alat pemeras minyak itu terdiri atas dua bagian: bagian dasar dan roda penggiling. Bagian dasarnya berbentuk bundar, berukuran besar dan mempunyai cekungan yang terpahat di dalamnya. Buah zaitun ditaruh dalam cekungan itu, lalu roda penggiling yang juga terbuat dari batu berat digulirkan di atas buah zaitun tersebut untuk mengeluarkan minyaknya.
Pada malam sebelum kematian-Nya, Yesus pergi ke bukit Zaitun yang menghadap ke kota Yerusalem. Di sana, di sebuah taman bernama Getsemani, Yesus berdoa kepada Bapa dengan menyadari apa yang akan dialami-Nya sebentar lagi.
Kata Getsemani berarti “tempat pemerasan minyak”—dan itu dengan tepat menggambarkan masa-masa awal dari penderitaan berat yang dialami Yesus demi kita. Di Getsemani, “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44).
Yesus, Sang Anak, menderita dan mati untuk “menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29) dan memulihkan hubungan kita yang terputus dengan Allah Bapa. “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya . . . Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:4-5)
Hati kita pun berseru dalam sembah syukur. —Bill Crowder
Bapa, mampukan aku untuk memahami apa yang telah ditanggung Anak-Mu demi diriku. Mampukan aku untuk menghargai kedalaman kasih yang membuat Kristus, Tuhanku, rela diremukkan untuk tiap kesalahanku dan demi keselamatanku.
Lenyaplah segala pelanggaranku, dan kini aku bebas— semua karena Yesus mati bagiku. —W. G. Ovens

Wednesday, March 23, 2016

Pondok Kuno yang Sarat Kisah

[Kristus] telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia. —Ibrani 9:11
Pondok Kuno yang Sarat Kisah
Ada sebuah pondok kuno indah yang dibangun dengan ahli dari kayu-kayu yang dipotong dengan tangan. Namun bangunan itu sendiri hanyalah sebagian dari keunikan yang dimiliki pondok tersebut. Pada dinding dalamnya tergantung berbagai harta warisan keluarga yang sarat dengan kenangan. Di atas meja, terletak sebuah keranjang telur hasil anyaman tangan, baki kuno, dan lampu petromaks. Di pintu depan bertengger sebuah topi yang telah usang. “Ada kisah di balik setiap benda tersebut,” ucap si pemilik pondok dengan bangga.
Ketika Allah memerintahkan Musa untuk membangun Kemah Suci, setiap bagian mempunyai “kisahnya” masing-masing (Kel. 25-27). Kemah itu hanya memiliki satu pintu masuk, sama seperti kita hanya punya satu jalan kepada Allah (lihat Kis. 4:12). Tabir tebal yang memisahkan manusia dari Tempat Mahakudus di mana hadirat Allah berdiam menyatakan bahwa dosa memisahkan kita dari Allah. Di dalam Tempat itu terdapat tabut perjanjian yang melambangkan hadirat Allah. Imam besar adalah pendahulu dari Imam Besar yang akan datang, yaitu Yesus. Darah korban persembahan melambangkan pengorbanan Kristus yang sempurna: “Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus . . . dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal” (Ibr. 9:12).
Semua itu mengisahkan tentang Kristus dan karya yang dituntaskan-Nya demi kita. Dia melakukannya “supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan” (ay.15). Yesus mengundang kita untuk menjadi bagian dari kisah-Nya. —Tim Gustafson
Adakah benda yang bermakna khusus bagimu dan mengapa demikian? Kisah apa yang ada di balik kehadiran benda itu? Bagaimana kisah itu dapat menolongmu untuk memperkenalkan seseorang kepada Yesus?
Yesus menanggung dosa kita agar kita beroleh keselamatan.

Tuesday, March 22, 2016

Yang Terbaik Masih Menjelang

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. —Kolose 3:2
Yang Terbaik Masih Menjelang
Bagi keluarga kami, bulan Maret tidak sekadar berarti penghujung musim dingin. Maret menandai dimulainya musim kompetisi bola basket kampus yang seru, yang disebut March Madness. Sebagai penggemar fanatik, kami menyaksikan kejuaraan itu di televisi sambil mendukung tim-tim favorit kami dengan antusias. Jika menyimak tayangannya sejak awal, kami berkesempatan menyaksikan para penyiar membahas tentang pertandingan yang akan disiarkan, sekaligus menikmati sesi-sesi latihan sebelum pertandingan, di mana para pemain berlatih menembakkan bola dan melakukan pemanasan dengan rekan satu tim mereka.
Hidup kita di dunia ini mirip dengan latihan sebelum pertandingan. Hidup memang penuh dengan kegembiraan dan harapan, tetapi semua itu tidaklah sebanding dengan apa yang akan kita terima di masa mendatang. Alangkah indahnya membayangkan bahwa sekalipun kita menikmati hidup di dunia ini, di hadapan kita masih ada hidup yang jauh lebih baik! Ketika kita memberi dengan penuh sukacita kepada orang yang membutuhkan uluran tangan kita, itulah simpanan harta surgawi kita. Di tengah penderitaan dan dukacita yang kita alami, kita menerima pengharapan saat kita menghayati kebenaran tentang suatu kekekalan tanpa air mata dan rasa sakit yang menanti kita. Tidaklah mengherankan jika Paulus menasihatkan kita, “Pikirkanlah perkara yang di atas” (Kol. 3:2).
Masa depan yang Allah janjikan kepada kita akan memampukan kita untuk melihat seluruh pengalaman hidup dengan perspektif yang baru. Meskipun kita menikmati hidup di dunia, ingatlah bahwa hidup yang terbaik masih akan kita jelang. Alangkah bahagianya menjalani hidup di dunia ini dengan pengharapan akan surga. —Joe Stowell
Marilah kita tekun dan setia, penuh iman, dan giat melayani; sekilas saja kemuliaan-Nya mampu gantikan segala jerih lelah kita. Ketika tiba di surga kelak, alangkah gembiranya kita hari itu! —Eliza E. Hewitt
Menjalani hidup demi kekekalan akan membuat kita memandang hari ini dengan perspektif yang benar.

Monday, March 21, 2016

Perlu Banyak Sinar Matahari

Hiduplah sebagai anak-anak terang. —Efesus 5:8
Perlu Banyak Sinar Matahari
Saya sudah tahu yang seharusnya saya lakukan, tetapi saya tetap mencobanya. Petunjuk yang tertulis di label tanaman itu sudah jelas: “Perlu banyak sinar matahari”. Sebagian besar area halaman kami berada di bawah naungan dedaunan dan tidak cocok untuk tanaman yang memerlukan banyak sinar matahari. Namun saya menyukai tanaman itu. Saya menyukai warnanya, bentuk daunnya, ukurannya, dan juga keharumannya. Jadi saya membeli tanaman itu, membawanya pulang, menanamnya, dan merawatnya dengan sangat baik. Namun tanaman itu tidak bahagia hidup di rumah saya. Perawatan dan perhatian saya tidaklah cukup. Tanaman tersebut memerlukan sinar matahari, dan itu tidak bisa saya berikan. Saya menyangka saya dapat mengatasi kurangnya sinar matahari dengan memberi tanaman itu perawatan dalam bentuk lain. Namun ternyata hal itu tidak membantu sama sekali. Tanaman itu tetap memerlukan apa yang memang mereka perlukan.
Begitu pun dengan manusia. Walau kita bisa bertahan untuk sementara waktu dalam keadaan yang kurang ideal, kita tidak dapat bertumbuh. Selain kebutuhan fisik yang mendasar, kita juga mempunyai kebutuhan rohani yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Kitab Suci berkata bahwa orang percaya adalah anak-anak terang. Artinya, kita perlu hidup dalam cahaya kehadiran Allah untuk dapat bertumbuh (Mzm. 89:16). Jika kita berusaha hidup dalam kegelapan, kita tidak akan menghasilkan apa pun selain “perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa” (lihat Ef. 5:3-4,11). Namun jika kita hidup di dalam terang Yesus, Sang Terang dunia, kita pun akan menghasilkan perbuatan-perbuatan terang yang berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. —Julie Ackerman Link
Tuhan, terima kasih karena Engkau sudah menebusku dan memberiku hidup yang baru. Tolonglah aku untuk hidup sebagai anak-anak Terang.
Anak-anak Terang akan hidup di dalam Terang-Nya.

Sunday, March 20, 2016

Air Pun Merah Tersipu

Pada mulanya adalah Firman; . . . Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Yohanes 1:1,3
Air Pun Merah Tersipu
Mengapa Yesus datang ke dunia sebelum ditemukannya fotografi dan video? Bukankah Dia akan bisa menjangkau lebih banyak orang jika setiap orang bisa melihat-Nya? Lagi pula, ada ungkapan yang berkata, sebuah gambar bernilai ribuan kata.
“Tidak,” kata Ravi Zacharias, sambil menegaskan bahwa sebuah kata justru dapat bernilai “ribuan gambar”. Sebagai bukti, beliau mengutip kalimat yang luar biasa dari syair karya Richard Crashaw, “Air pun mengenali Pencipta-Nya dan merah tersipu.” Dalam sebaris kalimat yang sederhana itu, Crashaw merangkum inti dari mukjizat pertama yang dilakukan Yesus (Yoh. 2:1-11). Karya ciptaan mengenali Yesus sebagai Penciptanya. Seorang tukang kayu biasa tidak akan bisa mengubah air menjadi anggur.
Dalam kesempatan lain, Yesus menenangkan badai hanya dengan berkata, “Diam! Tenanglah!” Murid-murid-Nya yang tertegun bertanya-tanya, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Mrk. 4:39,41). Di lain waktu, Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, bahwa jika orang banyak tidak memuji-Nya, “batu ini akan berteriak” (Luk 19:40). Batu-batu pun mengenali diri-Nya.
Yohanes mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya” (Yoh. 1:14). Dari pengalamannya bersama Yesus, Yohanes juga menulis, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, . . . Firman hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (1Yoh. 1:1). Seperti Yohanes, kita dapat menggunakan perkataan kita untuk memperkenalkan orang lain kepada Yesus, Sang Penguasa atas angin, air, dan alam semesta. —Tim Gustafson
Yesus, kami mengakui bahwa Engkaulah Pencipta yang mengenal dan mengasihi ciptaan-Mu. Namun Engkau menanti kami untuk mengundang-Mu masuk dalam tiap aspek kehidupan kami. Ampuni kami jikalau kami pernah menjauh dari-Mu. Hari ini kami memilih untuk mengenal-Mu lebih dalam lagi.
Firman yang tertulis menyingkapkan tentang Sang Firman Hidup.

Saturday, March 19, 2016

Pengingat yang Penting

Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. —Mazmur 19:9
Pengingat yang Penting
Saya tidak tahu bagaimana mereka dapat mengetahui alamat saya, tetapi saya makin sering menerima selebaran melalui pos dari orang-orang yang mengundang saya untuk hadir dalam acara yang mengajarkan tentang program manfaat di masa pensiun. Semuanya berawal dari beberapa tahun yang lalu ketika saya menerima undangan untuk bergabung dengan sebuah lembaga yang melayani kebutuhan para pensiunan. Semua undangan itu menjadi semacam pengingat yang mengatakan: “Kamu sudah semakin tua. Bersiaplah!”
Selama ini saya bisa mengabaikan semua undangan tersebut. Namun dengan bertambahnya usia, saya pikir perlu juga datang ke salah satu acara mereka. Saya benar-benar perlu bertindak sesuai saran mereka.
Adakalanya saya menerima pengingat yang serupa dari Kitab Suci. Mungkin kita sadar bahwa apa yang dinyatakan oleh bagian Alkitab tertentu juga berlaku bagi kita, tetapi kita merasa belum siap untuk menaatinya. Mungkin ayat itu adalah Roma 14:13 yang berkata, “Janganlah kita saling menghakimi lagi!” Atau 2 Korintus 9:6 yang mengingatkan, “Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Atau pengingat dari Filipi 1, “[Hendaklah] kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikit pun” (ay.27-28).
Saat kita membaca firman Allah, kita diingatkan akan hal-hal yang sangat penting. Marilah dengan sungguh-sungguh kita memperhatikan semua pengingat yang diberikan oleh Bapa kita. Dia tahu apa yang memuliakan nama-Nya dan apa yang terbaik bagi kita. —Dave Branon
Terima kasih, Tuhan, untuk pengingat-Mu yang lembut. Kami tahu bahwa yang Engkau sampaikan dalam firman-Mu untuk kami lakukan adalah demi kebaikan kami dan untuk kemuliaan nama-Mu. Tolong kami untuk berani melangkah dan melakukan hal-hal yang memuliakan nama-Mu.
Kekudusan sesungguhnya berarti bahwa Kristus bekerja di dalam kita untuk menggenapi kehendak dan perintah Allah Bapa.

Friday, March 18, 2016

Menjauhi Godaan

Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. —1 Korintus 10:13
Menjauhi Godaan
Ketika ayah saya menjadi Kristen di masa tuanya, ia sering membuat saya kagum dengan caranya mengatasi godaan. Ketika godaan datang, ia cukup menjauhinya! Misalnya, ketika adu pendapat dengan seorang tetangga sudah mengarah pada pertengkaran, Ayah memilih untuk pergi sejenak menjauhi masalah itu daripada tergoda untuk meneruskannya menjadi pertengkaran.
Suatu hari, sejumlah teman yang ditemuinya memesan pito (sejenis minuman beralkohol khas daerah setempat). Ayah saya pernah kecanduan minuman keras dan telah memutuskan untuk berhenti menenggak alkohol. Maka, ia pun berdiri, mengucapkan selamat tinggal, lalu pergi meninggalkan pertemuan dengan para sobat lamanya itu.
Di kitab Kejadian, kita membaca bagaimana istri Potifar menggoda Yusuf. Yusuf segera menyadari bahwa jika ia menyerah, hal itu akan membuatnya “berbuat dosa terhadap Allah”, maka ia pun lari ke luar (Kej. 39:9-12)
Pencobaan sering menggoda kita. Terkadang pencobaan datang dari keinginan kita sendiri. Di saat lain, pencobaan berasal dari keadaan dan orang yang kita temui. Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.” Namun ia juga menulis, “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13).
“Jalan ke luar” itu mungkin termasuk menjauhkan hal yang menggoda tersebut atau menjauhkan diri darinya. Bisa jadi, sikap kita yang terbaik adalah cukup dengan menjauhinya. —Lawrence Darmani
Tuhan, berilah aku hikmat dan kekuatan agar mengetahui saat yang tepat untuk menjauhi keadaan dan orang yang menggodaku jatuh dalam dosa.
Setiap pencobaan merupakan kesempatan untuk mendekat kepada Allah.

Thursday, March 17, 2016

Dorongan yang Berulang-Ulang

Pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya. —Ulangan 30:16
Dorongan yang Berulang-Ulang
Seorang wartawan memiliki kebiasaan yang tidak lazim. Ia tidak mau menggunakan pena bertinta biru. Jadi, ketika rekannya bertanya kepadanya apakah ia mau dibelikan sesuatu dari toko, ia minta dibelikan sejumlah pena, tetapi, “Jangan yang berwarna biru,” katanya. “Aku tak mau pena biru. Aku tak suka warna biru. Warna biru tidak cocok buat saya. Jadi, tolong belikan selusin pena, warnanya boleh apa saja, asal jangan biru!” Keesokan harinya, si wartawan menerima selusin pena yang dibelikan rekannya itu, tetapi semuanya berwarna biru. Ketika ditanya, rekannya itu hanya berkata, “Kamu terus-menerus mengatakan ‘biru, biru’. Kata itu yang paling menancap di pikiranku!” Kata yang diucapkan berulang-ulang oleh wartawan itu memang memberikan dampak, tetapi berlawanan dengan apa yang sebenarnya ia kehendaki.
Musa, yang meneruskan hukum Allah kepada umat Israel, juga menggunakan pengulangan dalam menyampaikan dorongan kepada bangsanya. Lebih dari 30 kali ia mendesak bangsanya untuk tetap berpegang pada perintah dan peraturan yang diberikan Allah mereka. Namun apa yang terjadi berlawanan dengan apa yang dimintanya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ketaatan akan membawa mereka pada kehidupan dan berkat, tetapi ketidaktaatan akan membawa mereka pada kebinasaan (Ul. 30:15-18).
Jika kita mengasihi Allah, kita ingin hidup menurut jalan-Nya. Kita melakukannya bukan karena kita takut pada konsekuensinya, tetapi karena kita bersukacita ketika menyenangkan Dia yang kita kasihi. Baiklah kita mengingat hal tersebut. —Poh Fang Chia
Ya Tuhan, ketika kami membaca firman-Mu yang diilhami Roh, kiranya Roh-Mu itu yang mengajar kami. Tatkala kami mendengar isi hati-Mu, tolonglah kami melangkah dengan ketaatan penuh.
Kasih kepada Allah akan mengilhami kami hidup bagi Allah.

Wednesday, March 16, 2016

Begitu Dikasihi

Burung-burung di langit . . . diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? —Matius 6:26
Begitu Dikasihi
Bertahun-tahun lalu, saya pernah memiliki kantor di Boston. Dari kantor itu, saya dapat memandang ke arah Taman Makam Granary, tempat banyak pahlawan Amerika yang penting dimakamkan. Di sana terdapat nisan dari John Hancock dan Samuel Adams, dua tokoh penanda tangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Tidak jauh dari nisan mereka, terdapat nisan Paul Revere, pahlawan perang revolusi Amerika.
Namun tidak ada yang tahu pasti lokasi dari setiap jenazah itu sebenarnya, karena batu-batu nisan itu telah dipindahkan berkali-kali, baik agar taman makam itu terlihat lebih indah ataupun agar mesin pemotong rumput dapat lewat di antaranya. Walaupun dalam Taman Makam Granary terdapat sekitar 2.300 batu nisan, tetapi sesungguhnya hampir 5.000 orang yang dimakamkan di sana! Ada sejumlah orang yang tetap tidak dikenal bahkan setelah mereka meninggal dunia.
Adakalanya kita mungkin merasa seolah-olah bagaikan para penghuni makam tanpa nisan di Granary—tidak dikenal dan tidak terlihat. Perasaan kesepian dapat membuat kita merasa tidak terlihat oleh orang lain—dan mungkin juga oleh Allah. Namun, kita harus mengingatkan diri sendiri, bahwa sekalipun kita merasa demikian, sesungguhnya kita tidak pernah dilupakan oleh Allah Pencipta kita. Allah tidak saja menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26-27), tetapi Dia juga menilai setiap dari kita berharga di mata-Nya, dan mengaruniakan Anak-Nya untuk menyelamatkan kita (Yoh. 3:16)
Di tengah masa-masa tersulit sekalipun, kita dapat meyakini dengan teguh bahwa kita tidak pernah ditinggalkan sendirian, karena Allah Mahakasih selalu menyertai kita. —Randy Kilgore
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tak pernah meninggalkanku sendirian dan Engkau mengenal diriku sepenuhnya. Sadarkanlah aku akan kehadiran-Mu agar aku juga membagikan penghiburan ini kepada orang-orang yang merasa kesepian.
Hidup kita berarti karena Allah mengasihi kita.

Tuesday, March 15, 2016

Melayangkan Pandangan

Tuhan menegakkan orang yang tertunduk. —Mazmur 146:8
Melayangkan Pandangan
Sebuah artikel dalam jurnal Surgical Technology International (Teknologi Bedah Internasional) mengatakan bahwa menatap layar ponsel dengan posisi kepala tertunduk itu setara dengan menahan beban seberat 27 kg di leher. Jika kita memikirkan bahwa jutaan orang di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 2-4 jam setiap harinya untuk membaca dan mengirimkan pesan pendek dengan ponsel mereka, tidak heran apabila makin banyak orang yang mengalami masalah pada leher dan tulang belakang mereka sebagai akibat dari kebiasaan tersebut.
Terbebani oleh masalah hidup sehari-hari juga dengan mudah membuat hati kita lesu dan tertunduk. Betapa seringnya kita dibuat berkecil hati oleh masalah-masalah yang kita hadapi dan oleh kebutuhan orang-orang yang kita kasihi. Pemazmur menyadari beban kekhawatiran itu, tetapi ia melihat adanya pengharapan ketika ia menulis tentang “Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung, Tuhan membuka mata orang-orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar” (Mzm 146:6-8).
Ketika kita merenungkan tentang pemeliharaan Allah, kuasa-Nya yang dahsyat, dan hati-Nya yang penuh kasih, kita dapat melayangkan pandangan kita dan memuji Dia. Kita sanggup melalui hari demi hari dengan menyadari bahwa “Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, . . .[hingga] turun-temurun!” (ay.10).
Allah akan mengangkat dan menegakkan kita yang tertunduk. Terpujilah Dia! —David McCasland
Ya Tuhan, layangkanlah mata kami untuk menyaksikan kuasa dan kasih-Mu hari ini, sehingga kami dapat menegakkan kepala dan mengangkat hati kami dalam pujian yang penuh syukur kepada-Mu.
Mengimani kebaikan Allah membuat hati kita penuh dengan pujian.

Monday, March 14, 2016

Menjaga Privasi Saya

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. —Ibrani 4:15
Menjaga Privasi Saya
Dalam suatu lokakarya, seorang lulusan desain industri dari universitas di Singapura ditantang untuk memberikan solusi baru bagi suatu masalah umum dengan hanya menggunakan benda-benda yang biasanya ada di sekitar kita. Ia pun menciptakan sejenis rompi untuk menjaga privasi seseorang dari gangguan selama perjalanan dalam kereta dan bus yang padat penumpang. Rompi itu dibalut dengan banyak paku plastik yang fleksibel dan berukuran panjang yang biasanya digunakan untuk melindungi tanaman dari serangan burung dan kucing.
Yesus tahu artinya kehilangan privasi di tengah kerumunan orang yang berdesak-desakan untuk melihat dan menyentuh-Nya. Seorang wanita yang tidak kunjung sembuh dari pendarahannya selama 12 tahun telah menjamah jumbai jubah-Nya. Saat itu juga pendarahannya berhenti (Luk. 8:43-44).
Pertanyaan Yesus, “Siapa yang menjamah Aku?” (ay.45) bukanlah pertanyaan yang janggal. Dia merasakan ada kuasa yang keluar dariNya (ay.46). Jamahan wanita itu berbeda dari sentuhan orang-orang yang tidak sengaja menyentuh-Nya.
Kita harus mengakui bahwa adakalanya kita ingin menjaga privasi kita, tetapi satu-satunya cara untuk menolong jiwa-jiwa yang terluka di dunia ini adalah dengan mengizinkan mereka mendekat kepada kita. Hanya dengan demikianlah mereka akan terbuka untuk menerima penguatan, penghiburan, dan kasih karunia Kristus yang ada di dalam diri kita. —C. P. Hia
Tuhan Yesus, aku ingin dekat dengan-Mu dan mengenal-Mu agar dalam hubunganku dengan orang lain, mereka dapat melihat-Mu melalui diriku.
Kehidupan seorang Kristen bagaikan jendela, yang melaluinya orang lain dapat melihat Yesus.

Sunday, March 13, 2016

Memperhatikan Diri Sendiri

Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika! —Markus 6:31
Memperhatikan Diri Sendiri
Setelah suami saya menjalani operasi jantung, saya bermalam menemaninya di rumah sakit dengan rasa cemas. Keesokan paginya, saya teringat sudah membuat janji untuk memotong rambut di salon. “Aku harus membatalkannya,” kata saya, sembari menyusuri rambut saya yang acak-acakan.
“Ma, cucilah muka Mama dan pergilah ke salon,” kata Rosie, putri saya.
“Tidak,” saya bersikeras. “Tidak masalah. Aku harus tetap di sini.”
“Aku akan di sini,” kata Rosie. “Perhatikan saja dirimu, Ma. Papa akan lebih terbantu jika Mama memperhatikan diri Mama sendiri.”
Musa merasa begitu lelah setelah melayani seorang diri sebagai hakim atas umat Israel. Yitro memperingatkan menantunya itu: “Engkau akan menjadi sangat lelah, . . . sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja” (Kel. 18:18). Yitro pun menasihati Musa agar mendelegasikan tugas dan berbagi beban dengan orang lain.
Meski terlihat bertentangan bagi seorang Kristen untuk memperhatikan dirinya sendiri, tindakan tersebut sangatlah esensial bagi suatu kehidupan yang sehat (Mat. 22:37-39; Ef. 5:29-30). Kita memang harus pertama-tama mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama, tetapi kita juga perlu menikmati istirahat yang cukup untuk menyegarkan tubuh dan jiwa kita. Terkadang memperhatikan diri sendiri berarti mundur sejenak dan mengizinkan orang lain menolong dengan meringankan beban kita.
Yesus sering menyepi untuk beristirahat dan berdoa (Mrk. 6:30-32). Dengan mengikuti teladan-Nya, kita akan menjadi lebih efektif dalam hubungan dengan sesama dan lebih mampu memperhatikan kebutuhan mereka. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, segarkanlah jiwaku hari ini. Tolonglah aku untuk menjaga keseimbangan hidup di tengah segala tanggung jawabku. Terima kasih atas kasih dan kepedulian-Mu.
Janganlah berusaha melakukan segala sesuatu—sediakanlah waktu untuk menyegarkan tubuh dan jiwamu.

Saturday, March 12, 2016

Peringatan dari Abigail

Jikalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia. —Amsal 16:7
Peringatan dari Abigail
Daud dan 400 prajuritnya bergerak menyusuri pedesaan untuk mencari Nabal, orang kaya yang dengan keji pernah menolak untuk menolong mereka. Daud mungkin sudah membunuhnya, andaikata ia tidak terlebih dahulu bertemu dengan Abigail, istri Nabal. Dengan persediaan makanan yang telah disiapkannya untuk para prajurit Daud, Abigail menemui mereka dengan harapan dapat mencegah bencana yang akan terjadi. Dengan sikap hormat, ia mengingatkan Daud tentang rasa bersalah yang akan menghantui Daud apabila ia menuntaskan rencananya membalas dendam (1Sam. 25:31). Daud sadar bahwa Abigail benar dan memujinya atas kebijaksanaan yang ditunjukkannya.
Kemarahan Daud memang beralasan. Ia telah melindungi para gembala Nabal di padang gurun (ay.14-17), tetapi kebaikannya justru dibalas dengan kejahatan. Namun kemarahan Daud telah menuntunnya pada dosa. Naluri awal Daud adalah membunuh Nabal, meski ia tahu bahwa Allah melarang pembunuhan dan pembalasan dendam (Kel. 20:13; Im. 19:18).
Saat tersinggung, ada baiknya kita membandingkan naluri kita dengan maksud Allah bagi perilaku manusia. Kita mungkin terdorong untuk menyerang orang lain dengan kata-kata, untuk mengasingkan diri, atau untuk melarikan diri melalui berbagai macam cara. Namun demikian, memilih untuk merespons dengan penuh kasih akan menghindarkan kita dari penyesalan, dan yang terpenting, kita pun menyenangkan Allah. Ketika kita rindu untuk menghormati Allah dalam hubungan kita dengan sesama, Dia sanggup mendamaikan kita dengan musuh kita (lihat Ams. 16:7). —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan, terima kasih Engkau telah menahan amarah-Mu dan mengasihaniku. Tolonglah aku berjalan menurut Roh-Mu sehingga setiap perbuatanku akan selalu menyenangkan hati-Mu.
Kita sanggup menanggung ketidakadilan dalam hidup karena kita tahu bahwa akhirnya keadilan akan ditegakkan Allah.

Friday, March 11, 2016

Jangan Menyerah!

Marilah kita . . .berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. —Ibrani 12:1-2
Jangan Menyerah!
Pada tahun 1952, Florence Chadwick berusaha berenang hampir sejauh 42 km dari pantai California ke Pulau Catalina. Setelah berenang selama 15 jam, kabut tebal mulai menghalangi pandangannya. Ia pun kehilangan arah dan menyerah. Ia sangat menyesal setelah menyadari bahwa ia berhenti ketika tujuannya hanya tinggal 1,5 km lagi.
Dua bulan kemudian, Chadwick kembali mencoba berenang ke Pulau Catalina. Kabut tebal kembali menghalanginya, tetapi kali ini, ia berhasil mencapai tujuannya. Prestasi itu menjadikannya sebagai wanita pertama yang berhasil berenang melintasi Kanal Catalina. Chadwick berkata bahwa ia terus membayangkan garis pantai yang akan ditujunya, sekalipun ia tak dapat melihatnya.
Ketika pergumulan hidup mengaburkan pandangan kita, kita beroleh kesempatan untuk belajar memandang tujuan kita dengan mata iman. Kitab Ibrani di Perjanjian Baru mendorong kita untuk “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita . . . melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (12:1-2). Ketika kita merasa ingin menyerah, itulah saatnya bagi kita untuk mengingat bahwa Yesus tidak hanya pernah menderita bagi kita, tetapi saat ini juga Dia sedang memampukan kita untuk menanggung pergumulan yang kita hadapi—sampai suatu hari kelak kita bertemu muka dengan-Nya. —Dennis Fisher
Bapa, terkadang aku merasa tak sanggup menghadapi tantangan hidup ini. Tolonglah agar mataku terus tertuju pada-Mu dan hatiku mempercayai-Mu. Aku bersyukur Engkau sedang menggenapi rencana-Mu yang baik di dalamku.
Kita akan sanggup mencapai garis akhir dengan baik, apabila mata kita terus tertuju kepada Kristus.

Thursday, March 10, 2016

Orang Asing dan Pendatang

Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. —Ibrani 11:10
Orang Asing dan Pendatang
Saya memarkir sepeda, lalu menelusuri peta wilayah Cambridge untuk memastikan bahwa saya berada di jalan yang benar. Saya tidak pandai membaca peta dan khawatir dapat tersesat di tengah keruwetan jalanan yang dijejali banyak bangunan bersejarah itu. Saya membayangkan hidup akan begitu indah, karena saya baru saja menikahi seorang pria Inggris dan pindah ke negaranya. Namun sekarang saya justru merasa terkatung-katung. Saya baru bisa berbaur kalau saya berdiam diri, karena jika saya berbicara, dengan seketika saya merasa dianggap sebagai turis asal Amerika. Saya belum tahu apa yang bisa saya lakukan, tetapi saya segera menyadari bahwa menyatukan dua pribadi yang keras kepala dalam pernikahan ternyata lebih sulit daripada yang pernah saya bayangkan.
Saya memahami perasaan Abraham, yang meninggalkan segala sesuatu yang akrab baginya demi menaati panggilan Tuhan untuk hidup sebagai pendatang dan orang asing di tanah yang baru (Kej. 12:1). Ia terus maju menghadapi tantangan budaya yang ada dengan tetap beriman kepada Allah, dan dua ribu tahun kemudian penulis kitab Ibrani menyebutnya sebagai pahlawan (11:9). Seperti tokoh-tokoh lainnya dalam pasal itu, Abraham hidup oleh iman dengan menantikan penggenapan janji Tuhan, sambil mengharapkan dan merindukan rumah surgawinya.
Mungkin selama ini kamu selalu tinggal di kota yang sama, tetapi sebagai pengikut Kristus, kita semua adalah pendatang dan orang asing di bumi ini. Kita melangkah maju oleh iman, dengan menyadari Allah yang memimpin dan membimbing kita, dan dengan iman, kita percaya bahwa Dia takkan pernah membiarkan atau meninggalkan kita. Oleh iman, kita merindukan rumah surgawi kita. —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, aku ingin hidup oleh iman, dengan mempercayai janji-Mu dan meyakini bahwa Engkau akan menyambutku dalam kerajaan-Mu. Aku berdoa, tambahkanlah imanku, ya Tuhan.
Allah memanggil kita untuk hidup oleh iman, dengan mempercayai bahwa Dia akan menggenapi setiap janji-Nya.

Wednesday, March 9, 2016

Mari Masuk

Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh. —Ibrani 10:22
Mari Masuk
Rumah Jenny terletak di tepi jalan kecil yang menyusuri pedesaan. Pada jam-jam sibuk, jalan kecil itu sering dilalui para pengendara yang ingin menghindari jalan besar dan lampu lalu lintas. Beberapa minggu lalu, sejumlah pekerja datang untuk memperbaiki jalan kecil yang sudah rusak parah itu. Mereka membawa pembatas-pembatas berukuran besar dan rambu-rambu bertuliskan “Dilarang Masuk”. “Semula saya khawatir saya tidak akan dapat mengeluarkan mobil sampai jalan itu selesai diperbaiki,” kata Jenny. “Namun setelah membaca lagi rambu-rambu itu dengan lebih saksama, saya baru menyadari bahwa yang tertulis sebenarnya, “Dilarang Masuk: Akses Hanya Bagi Penghuni”. Tidak ada penghalang atau pembatas yang mengharuskan saya berputar arah. Saya berhak masuk dan keluar kapan saja karena saya tinggal di sana. Saya merasa sangat diistimewakan!”
Dalam Perjanjian Lama, akses kepada Allah dalam Kemah Pertemuan dan Bait Suci sangatlah dibatasi. Hanya imam besar yang dapat masuk melewati tabir dan memberikan persembahan di Tempat Maha Kudus, sekali saja dalam setahun (Im. 16:2-20; Ibr. 9:25-26). Namun tepat pada saat Yesus mati, tabir Bait Suci pun terbelah dua dari atas sampai ke bawah, sebagai tanda bahwa pembatas yang menghalangi manusia dengan Allah telah dimusnahkan untuk selama-lamanya (Mrk. 15:38).
Karena pengorbanan Kristus bagi dosa-dosa kita, semua orang yang mengasihi dan mengikut Dia dapat datang kepada Allah kapan saja. Dia telah membukakan jalan bagi kita. —Marion Stroud
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah membayar harga yang begitu besar agar aku dimampukan untuk langsung masuk menghadap Engkau!
Jalan menuju ke takhta Allah selalu terbuka.

Tuesday, March 8, 2016

Persediaan yang Berlimpah

Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. —Mazmur 36:9
Persediaan yang Berlimpah
Kami mempunyai wadah makanan burung di kebun kami, dan kami senang melihat burung-burung kecil datang untuk minum air gula yang kami sediakan pada wadah itu. Namun belum lama ini, kami sempat ke luar rumah untuk sementara waktu dan lupa mengisi kembali wadah makanan tersebut. Saat kami pulang, wadah makanan burung tersebut sudah kosong sama sekali. Kasihan burung-burung itu, pikir saya. Gara-gara saya lupa, mereka jadi tidak makan. Kemudian saya pun tersadar. Bukan saya, melainkan Tuhanlah yang memberi mereka makan.
Mungkin kita sering merasa bahwa segala tuntutan hidup yang ada telah menggerogoti kekuatan kita dan tak seorang pun dapat menguatkan kita kembali. Namun bukan orang lain yang dapat memuaskan jiwa kita, melainkan Tuhan saja.
Di Mazmur 36, kita membaca tentang kasih setia Allah. Di sana digambarkan bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan dipuaskan dengan berlimpah-limpah. Allah memberi mereka minum dari “sungai kesenangan” milik-Nya (ay.9). Dialah mata air kehidupan!
Kita dapat datang kepada Allah setiap hari untuk memperoleh persediaan baru bagi segala sesuatu yang kita butuhkan. Charles Spurgeon menulis, “Mata air iman dan anugerah yang kumiliki; mata air kehidupan dan segala kenikmatan yang kurasakan; mata air dari segala aktivitas dan segala perbuatan benar yang kulakukan; mata air pengharapanku, dan segala penantian surgawiku, segalanya ada di dalam Engkau, ya Tuhanku.”
Kiranya kita selalu dipenuhi dengan persediaan-Nya yang berlimpah. Mata air-Nya takkan pernah kering. —Keila Ochoa
Tuhan, aku datang kepada-Mu dengan keyakinan bahwa Engkau akan memenuhi segala hal yang kubutuhkan.
Kasih Allah sungguh berlimpah.

Monday, March 7, 2016

Dengan Sikap Terhormat

Oleh sebab itu, jikalau dianggap baik oleh raja, maka hendaklah diadakan penyelidikan di dalam gedung perbendaharaan raja, di sana, di Babel, apakah pernah dikeluarkan perintah oleh raja Koresh. —Ezra 5:17
Dengan Sikap Terhormat
Warga Israel sedang menghadapi masalah dengan pemerintah. Di akhir tahun 500-an SM, bangsa Yahudi sangat mendambakan tuntasnya pembangunan Bait Allah yang pernah dimusnahkan bangsa Babel pada tahun 586 SM. Namun bupati yang berkuasa di wilayah mereka meragukan apakah bangsa Israel diizinkan untuk melaksanakan keinginan mereka itu, sehingga ia pun mengirimkan surat kepada Raja Darius (Ezr. 5:6-17).
Dalam suratnya, bupati itu melaporkan bahwa ia mendapati orang-orang Yahudi sedang membangun rumah Allah dan ia mempertanyakan izin mereka untuk melakukan pembangunan tersebut. Surat itu juga mencatat sikap bangsa Israel yang dengan terhormat menyampaikan bahwa mereka memang pernah diberi izin pembangunan, melalui perintah yang dikeluarkan oleh raja terdahulu, yaitu Raja Koresh. Ketika Raja Darius menelusuri hal tersebut, ia menemukan bahwa memang benar Raja Koresh pernah memberikan izin. Maka Darius tidak hanya memberikan izin, tetapi juga mendanai pembangunan rumah Allah itu (lihat 6:1-12). Setelah bangsa Yahudi selesai membangun rumah Allah, mereka “merayakan . . . dengan sukacita” karena menyadari bahwa Tuhanlah yang telah “memalingkan hati raja” (6:22).
Saat menghadapi suatu masalah yang perlu segera ditangani, kita menghormati Allah ketika kita membela perkara kita dengan sikap terhormat, mempercayai bahwa Allah berdaulat atas setiap keadaan, dan mengucap syukur atas hasil yang kita terima. —Dave Branon
Tuhan, tolong kami untuk menghadapi keadaan di sekitar kami dengan sikap terhormat. Kami membutuhkan hikmat-Mu untuk melakukannya. Kiranya kami selalu menghormati, mempercayai, dan memuliakan-Mu.
Menghormati penguasa membawa kemuliaan bagi Allah.

Sunday, March 6, 2016

Kuasa dari Musik Allah

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, . . . dengan segala hikmat . . . menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani. —Kolose 3:16
Kuasa dari Musik Allah
The Sound of Music, salah satu film musikal tersukses yang pernah diproduksi, ditayangkan pertama kalinya di bioskop pada tahun 1965. Film tersebut dianugerahi banyak penghargaan, termasuk 5 Academy Awards, dan berhasil memikat hati dan jiwa banyak orang di seluruh penjuru dunia. Lebih dari separuh abad kemudian, para penonton masih menghadiri penayangan spesial dari film tersebut dengan berdandan bak bintang pujaan mereka dan ikut bernyanyi bersama sepanjang pemutaran film.
Musik begitu mengakar dalam jiwa kita. Dan bagi para pengikut Yesus, musik menjadi sarana yang ampuh untuk menguatkan seorang akan yang lain di sepanjang perjalanan iman. Paulus mendorong umat percaya di Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kol. 3:16).
Menyanyikan bersama pujian untuk Tuhan akan membuat pesan kasih Allah tertanam di dalam jiwa dan pikiran kita. Itulah kuasa pengajaran dan nasihat yang kita alami bersama. Baik saat hati kita berseru, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah” (Mzm. 51:12), atau menyatakan dengan penuh sukacita, “Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Why. 11:15), kuasa musik yang mengagungkan Allah akan membangkitkan semangat kita dan memberi kita damai sejahtera. Mari bernyanyi untuk Tuhan hari ini. —David McCasland
Terima kasih, Tuhan, untuk musik pemberian-Mu. Kami semua menyanyikan lagu pujian bagi-Mu dan mengenal lebih dalam kasih dan kuasa-Mu.
Musik membersihkan jiwa dari noda kehidupan sehari-hari.

Saturday, March 5, 2016

Sampaikan kepada Allah

Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya Tuhan, dan lihatlah. —2 Raja-Raja 19:16
Sampaikan kepada Allah
Sebelum ditemukannya telepon, e-mail, dan telepon seluler, telegram biasanya menjadi sarana tercepat untuk menyampaikan pesan. Namun demikian, hanya pesan penting yang dikirim melalui telegram, dan biasanya pesan itu berisi kabar buruk.
Hizkia adalah raja Yehuda saat terjadi peperangan di zaman Israel kuno. Sanherib, raja Asyur, sedang menyerang dan telah merebut kota-kota Yehuda. Ia mengirim surat kepada Hizkia, semacam “telegram” berisi kabar buruk yang mendesak Hizkia untuk menyerah. Hizkia menyebut momen itu sebagai “hari kesesakan, hari hukuman dan penistaan” (2 Raj. 19:3).
Dengan ejekan dan cemoohan, Sanherib menyombongkan keberhasilan serangan militernya di masa lalu dan merendahkan Allah yang disembah Israel, sambil mengancam untuk mengadakan kekacauan (ay.11-13). Pada momen yang mengerikan itu, Raja Hizkia melakukan hal yang tak lazim dengan surat yang berisi kabar buruk itu: “Pergilah ia ke rumah Tuhan dan membentangkan surat itu di hadapan Tuhan” (ay.14). Kemudian ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan mengakui kuasa Allah atas keadaan suram yang sedang mereka hadapi (ay.15-19). Allah pun turun tangan dengan cara yang dahsyat (ay.35-36).
Kabar buruk dapat menimpa kita kapan saja. Pada momen-momen seperti itu, kita dapat mencontoh tindakan Hizkia. Bentangkanlah kabar buruk itu di hadapan Tuhan di dalam doa dan dengarlah penghiburan yang diberikan-Nya, “Apa yang telah kaudoakan kepada-Ku . . . telah Kudengar” (ay.20). —Lawrence Darmani
Bapa Surgawi, ketika orang menyerang kami, kami cenderung membela diri. Ajar kami berpaling kepada-Mu dan tidak berusaha menyelesaikan masalah itu sendiri. Kami mempercayai-Mu dan mengasihi-Mu. Belalah kami hari ini.
Doa adalah seruan seorang anak yang tak berdaya kepada Bapa yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Friday, March 4, 2016

Menurut Waktu-Nya

Masa hidupku ada dalam tangan-Mu. —Mazmur 31:16
Menurut Waktu-Nya
Ketika Andrew Murray, hamba Tuhan asal Afrika Selatan, mengunjungi Inggris di tahun 1895, tiba-tiba ia merasakan nyeri akibat cedera punggung yang pernah dideritanya. Ketika Murray dalam masa pemulihan, pemilik penginapan yang ditempatinya bercerita tentang seorang wanita yang menghadapi masalah besar. Ia ingin tahu apakah Murray bisa menasihati wanita itu. Murray berkata, “Berikan kertas ini, semoga ini bisa menolongnya.” Inilah yang ditulis Murray:
“Saat menghadapi masalah, ucapkanlah: Pertama—Allah telah membawaku ke mari. Oleh kehendak-Nyalah, aku mengalami kesulitan ini. Itulah keyakinanku. Kemudian—Dia akan selalu menjagaku dalam naungan kasih-Nya dan memberiku anugerah di masa pencobaan ini untuk tetap berperilaku selayaknya anak-Nya. Selanjutnya—Dia akan menjadikan pencobaan ini sebagai berkat, mengajariku tentang hal-hal yang dikehendaki-Nya untuk kupelajari, dan bekerja di dalam diriku menurut anugerah yang hendak dicurahkan-Nya bagiku. Terakhir—Pada waktu terbaik yang telah ditetapkan-Nya, Dia akan melepaskanku dari masalah itu—tetapi hanya Dia yang mengetahui cara dan waktunya hal itu terjadi. Aku berada di sini—oleh ketetapan Allah, di dalam pemeliharaan-Nya, di bawah didikan-Nya, menurut waktu-Nya.”
Kita sering menginginkan solusi yang instan dan cepat, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat serta-merta dikesampingkan dan hanya dapat diterima dengan lapang dada. Allah akan menjaga kita menurut kasihNya. Oleh anugerah-Nya, kita dapat mempercayai-Nya. —David Roper
Ya Tuhan, memang sulit bagiku untuk menahan rasa sakit dan derita. Hiburlah dan tolonglah aku untuk tetap percaya kepada-Mu.
Saat Allah mengizinkan penderitaan, Dia juga menyediakan penghiburan.

Thursday, March 3, 2016

Resep Masakan Nenek

Ingatlah akan zaman dahulu, perhatikan zaman angkatan-angkatan yang lalu.Tanyakanlah kepada orang tuamu, supaya mereka memberitahukannya kepadamu. —Ulangan 32:7 BIS
Resep Masakan Nenek
Banyak keluarga mempunyai resep rahasia, yakni cara istimewa dalam memasak suatu hidangan hingga membuatnya luar biasa lezat. Kami dari kaum Hakka mempunyai hidangan tradisional yang disebut biji sempoa—dinamakan demikian karena tampilannya yang mirip biji sempoa. Suatu hidangan yang unik dan lezat!
Bagi kami, resep Neneklah yang terbaik. Tiap Tahun Baru Tionghoa, saat makan malam bersama keluarga besar, kami sering berujar, “Kita perlu belajar cara memasak hidangan ini.” Namun kami tak pernah menanyakan resepnya kepada Nenek. Sekarang Nenek sudah tiada, bersama dengan resep rahasianya.
Kami gagal mewarisi resep masakan Nenek. Namun, akan jauh lebih tragis apabila kita gagal melestarikan warisan iman yang dipercayakan kepada kita. Allah menghendaki tiap generasi meneruskan kisah tentang karya-karya-Nya yang agung kepada generasi berikutnya. “Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan [Allah],” demikian kata pemazmur (Mzm. 145:4), menggemakan perintah Musa sebelumnya, “Ingatlah akan zaman dahulu . . . tanyakanlah kepada orang tuamu, supaya mereka memberitahukannya kepadamu” (Ul. 32:7 BIS).
Dengan meneruskan kisah tentang keselamatan yang kita terima dan pertolongan Tuhan dalam tantangan yang kita hadapi, kita saling menguatkan dan menghormati-Nya. Dia ingin kita menikmati keluarga dan komunitas dengan cara mendukung satu sama lain. —Poh Fang Chia
Adakah seseorang yang berbeda usia yang mau mendengarkan kesaksian imanmu? Cobalah meminta seseorang dari generasi yang lebih tua untuk menceritakan kesaksian imannya. Apa saja yang dapat kamu pelajari darinya?
Apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita hari ini akan mempengaruhi dunia pada hari esok.

Wednesday, March 2, 2016

Singa yang Mengintai

Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. —Bilangan 14:9
Singa yang Mengintai
Ketika saya masih kecil, Ayah suka “menakut-nakuti” kami dengan bersembunyi di balik semak-semak dan mengaum seperti singa. Meski kami tinggal di pedesaan Ghana di dekade 1960-an, hampir mustahil seekor singa sungguhan dapat mengendap dan mendekati kami. Saya dan kakak biasanya hanya tertawa, lalu mencari-cari sumber auman itu dengan gembira, karena itu tandanya kami bisa bermain bersama Ayah.
Suatu hari, seorang teman datang berkunjung. Ketika bermain, kami mendengar auman yang tidak asing itu. Saya dan kakak sudah mengenal suara Ayah—auman itu hanyalah ancaman kosong. Namun, teman kami itu kaget, menjerit, dan kabur. Lucunya, kami ikut kabur bersamanya. Ayah merasa bersalah karena telah membuatnya ketakutan. Saya dan kakak pun belajar untuk tidak terpengaruh oleh kepanikan orang lain.
Kaleb dan Yosua tidak terpengaruh oleh kepanikan orang lain. Saat Israel bersiap memasuki Tanah Perjanjian, Musa mengutus 12 orang untuk mengintai wilayah itu. Semua pengintai sepakat bahwa wilayah itu indah, tetapi 10 dari mereka memusatkan perhatian pada hambatan yang ada dan mengecilkan hati seluruh bangsa (Bil. 13:27-33). Kepanikan pun merebak di antara mereka (14:1-4). Hanya Kaleb dan Yosua yang dengan tepat menilai situasi saat itu (ay.6-9). Keduanya tahu pengalaman pendahulu mereka dan percaya bahwa Allah akan membuat mereka berhasil.
Sejumlah bahaya memang memberikan ancaman nyata, tetapi ada pula ancaman kosong. Meski demikian, sebagai pengikut Yesus, kita dapat mempercayai Dia, karena kita telah mengenal suara-Nya dan mempercayai perbuatan-Nya. —Tim Gustafson
Ya Tuhan, kami menghadapi banyak ketakutan hari ini. Tolonglah kami membedakan antara bahaya nyata dengan ancaman kosong, dan mempercayai Engkau sepenuhnya. Kiranya kami hidup bukan dalam ketakutan, melainkan dalam iman.
Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda. —Amsal 28:1

Tuesday, March 1, 2016

Condong pada Terang

[Dia] telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. —1 Petrus 2:9
Condong pada Terang
Suatu hari saya menerima sebuah karangan bunga tulip merah muda. Ketika saya menempatkannya di dalam vas yang saya taruh di tengah meja makan, kelopak bunganya bergoyang-goyang pada tangkai yang tebal. Keesokan harinya, saya perhatikan, kelopak bunga itu sudah menghadap ke arah yang lain. Bunga-bunga mekar yang tadinya menghadap ke atas sekarang condong ke samping, merekah dan menggapai ke arah sinar matahari yang terpancar melalui jendela di dekatnya.
Demikianlah kita semua diciptakan untuk menjadi seperti bunga-bunga tersebut. Allah telah memanggil kita untuk datang kepada terang kasih-Nya. Rasul Petrus menulis tentang keajaiban dipanggil “keluar dari kegelapan kepada terang [Allah] yang ajaib” (1Ptr. 2:9). Sebelum mengenal Allah, kita hidup dalam bayang-bayang dosa dan maut, yang membuat kita terpisah dari-Nya (Ef. 2:1-7). Namun oleh rahmat dan kasih-Nya, Allah telah menyediakan jalan bagi kita untuk keluar dari kegelapan rohani melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya (Kol. 1:13-14).
Yesus adalah Terang dunia, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk pengampunan dosa akan menerima hidup yang kekal. Hanya dengan datang kepada-Nya, kita akan semakin mencerminkan kebaikan dan kebenaran-Nya (Ef. 5:8-9).
Kiranya kita tidak pernah lupa untuk semakin condong ke arah Sang Terang. —Jennifer Benson Schuldt
Kami puji dengan riang, Dikau Allah yang besar; Bagai bunga t’rima siang, hati kami pun mekar. —Henry Van Dyke (Kidung Jemaat No. 3).
Keselamatan dari dosa berarti keluar dari kegelapan rohani menuju kepada terang Allah.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate