Pages - Menu

Wednesday, August 31, 2016

Benar-Benar Merdeka

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. —Yohanes 8:36
Benar-Benar Merdeka
Olaudah Equiano (± 1745-1796) baru berumur 11 tahun ketika diculik dan dijual sebagai budak. Ia berhasil melewati perjalanan yang sangat berat dari Afrika Barat menuju Hindia Barat, lalu sampai ke wilayah koloni Virginia, dan terakhir sampai di Inggris. Ketika berumur 20 tahun, ia menebus sendiri kemerdekaannya, dengan masih membawa luka fisik dan emosi dari perlakuan tidak manusiawi yang pernah diterimanya.
Karena merasa tidak dapat menikmati kemerdekaannya sendirian sementara masih ada orang yang menjadi budak, Equiano pun aktif dalam pergerakan untuk menghapus perbudakan di Inggris. Ia menulis autobiografi (pencapaian luar biasa yang tak terpikirkan bagi seorang mantan budak pada masa itu) yang berisi penggambarannya tentang perlakuan keji yang diterima para budak saat itu.
Ketika Yesus datang, Dia berjuang bagi kita semua yang berada di bawah perbudakan dan yang tidak mampu melepaskan diri kita sendiri. Perbudakan kita bukanlah perbudakan secara jasmani. Kita semua dibelenggu oleh kebobrokan dan dosa-dosa kita sendiri. Yesus berkata, “Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal di dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh 8:34-36).
Firman-Nya perlu diberitakan di tempat-tempat yang belum pernah mendengar tentang kebebasan sejati dari Yesus. Kita dapat dimerdekakan dari kesalahan, rasa malu, dan keputusasaan kita. Dengan percaya kepada Yesus, kita akan benar-benar merdeka! —Bill Crowder
Terima kasih, Tuhan Yesus, atas pengorbanan-Mu yang menjamin kemerdekaan dan hidup kekal yang kuterima. Kiranya aku terus mengasihi-Mu sedemikian rupa sehingga aku menghargai kasih yang telah Engkau nyatakan kepadaku.
Harga kemerdekaan kita dari dosa telah dibayar lunas dengan darah Yesus.

Tuesday, August 30, 2016

Pengaruh yang Lemah Lembut

Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. —Kolose 3:12
Pengaruh yang Lemah Lembut
Beberapa tahun sebelum menjadi presiden Amerika Serikat ke-26 (1901-1909), Theodore Roosevelt mendapat kabar bahwa putra sulungnya, Theodore Jr. (Ted), sedang sakit. Walaupun anaknya kembali pulih, penyebab dari penyakit Ted membuat Roosevelt terpukul. Dokter memberitahukan kepada Roosevelt bahwa dirinyalah penyebab sakitnya sang anak. Ted menderita “kelelahan mental” karena ditekan begitu keras oleh sang ayah untuk menjadi tipe “jagoan” yang tak bisa dicapai Roosevelt sendiri di masa kecilnya yang sakit-sakitan dahulu. Setelah mendengar hal itu, Roosevelt pun berjanji: “Mulai sekarang, aku takkan pernah lagi menekan Ted, baik secara jasmani maupun rohani.”
Sang ayah menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia sangat berhati-hati dalam memperlakukan putranya. Kelak sang putra akan menjadi pahlawan yang dengan gagah berani memimpin penerjunan tentara sekutu di Pantai Utah dalam Perang Dunia II.
Allah telah mempercayakan kepada setiap dari kita kemampuan untuk mempengaruhi hidup orang lain. Kita memiliki tanggung jawab besar dalam setiap hubungan kita dengan sesama, tidak hanya kepada pasangan dan anak-anak kita, tetapi juga kepada teman, karyawan, dan pelanggan kita. Godaan untuk menekan mereka dengan keras, menuntut terlalu banyak, memaksakan diri untuk maju, atau mengakali cara-cara mencapai sukses dapat membuat kita tanpa sadar menyakiti orang lain. Karena itulah, pengikut Kristus dinasihati untuk bersabar dan saling bersikap lemah lembut (Kol. 3:12). Karena Yesus, Anak Allah, datang dalam kerendahan hati, bagaimana mungkin kita tidak bersikap sedemikian rupa kepada satu sama lain? —Randy Kilgore
Apakah yang kamu harapkan untuk orang-orang yang ada dalam hidupmu—di tempat kerja dan di rumah? Pikirkanlah pengaruh yang bisa kamu berikan kepada mereka. Bagaimana kamu bisa lebih mencerminkan karakter Yesus?
Yang Allah lakukan bagi kita sepatutnya kita lakukan juga bagi sesama.

Monday, August 29, 2016

Perjalanan yang Utama

Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! —Yesaya 40:3
Perjalanan yang Utama
National Road 5 di Madagaskar menyajikan pemandangan pantai pasir putih, hutan palem, dan Samudera Hindia yang indah. Namun, jalan dua arah sepanjang 200 km dari batu, pasir, dan lumpur itu telah dijuluki sebagai salah satu jalan raya terburuk di dunia. Para turis yang ingin melihat pemandangan indah di sana disarankan untuk menaiki kendaraan four-wheel drive yang dikendarai oleh sopir yang berpengalaman dan didampingi seorang montir.
Yohanes Pembaptis datang untuk memberitakan kabar baik tentang Mesias yang akan datang bagi siapa saja yang telah menempuh perjalanan hidup yang keras dan gersang. Dengan mengulangi pernyataan Nabi Yesaya yang tertulis berabad-abad sebelumnya, Yohanes mendesak orang banyak yang mendengarkannya untuk mempersiapkan “jalan untuk Tuhan” dan meluruskan “jalan bagi-Nya” (Luk. 3:4-5; Yes. 40:3)
Yohanes tahu jika penduduk Yerusalem ingin siap menyambut Mesias yang telah lama mereka nantikan, hati mereka harus berubah. Kebanggaan rohani yang menjulang tinggi dalam diri mereka harus diruntuhkan. Sebaliknya, mereka yang terpuruk dalam keputusasaan karena pergumulan hidup butuh dikuatkan.
Semua itu tidak dapat dilakukan dengan usaha manusia semata. Mereka yang menolak untuk menanggapi Roh Kudus dengan menerima baptisan pertobatan dari Yohanes Pembaptis akan gagal mengenali Mesias yang datang untuk mereka (Luk. 7:29-30). Sebaliknya, mereka yang menyadari kebutuhan mereka untuk berubah akan dapat menyaksikan kebaikan dan keajaiban Allah di dalam diri Yesus. —Mart DeHaan
Bapa di surga, kami memerlukan-Mu untuk melakukan dalam diri kami sesuatu yang tak bisa kami lakukan sendiri. Runtuhkanlah kebanggaan dan keputusasaan yang menghalangi kami menyambut-Mu dalam hidup kami.
Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk berjalan bersama Allah.

Sunday, August 28, 2016

Menamai Allah

Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku? —Kejadian 16:13
Menamai Allah
Dalam bukunya The God I Don’t Understand (Allah yang Tak Kumengerti), Christopher Wright menyebutkan bahwa salah satu orang pertama di Alkitab yang memberikan nama kepada Allah adalah seseorang yang tak pernah kita sangka, yaitu Hagar!
Cerita Hagar memberikan gambaran yang blak-blakan tentang sejarah umat manusia. Sudah bertahun-tahun lamanya Allah memberitahukan kepada Abram dan Sarai bahwa mereka akan memiliki anak, dan Sarai telah menjadi semakin tua dan tidak sabaran. Dengan maksud ingin “membantu” Allah, Sarai mengikuti kebiasaan pada zaman itu. Sarai memberikan budak perempuannya, Hagar, kepada suaminya, dan Hagar pun hamil.
Maka tidak heran konflik pun muncul. Sarai menindas Hagar, yang kemudian melarikan diri. Di tengah kesendiriannya di padang gurun, Hagar bertemu malaikat Tuhan yang memberikan janji yang sangat persis dengan janji yang diucapkan Allah sebelumnya kepada Abram (baca Kej. 15:5). “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (16:10). Sang malaikat memberi nama Ismael kepada anak Hagar, yang artinya “Tuhan telah mendengar” (ay.11). Sebagai respons, Hagar—seorang budak yang berasal dari kebudayaan yang menyembah banyak ilah yang tidak dapat mendengar atau melihat—memberikan nama “El-Roi” kepada Allah, yang berarti, “Dia yang telah melihat aku” (ay.13).
“Allah yang telah melihat kita” adalah Allah dari para pahlawan iman yang tidak sabaran dan pelarian yang tak berdaya. Dia adalah Allah bagi yang kaya maupun yang miskin, bagi mereka yang ternama maupun yang kesepian. Dia selalu mendengar, melihat, dan sangat peduli pada setiap dari kita. —Tim Gustafson
Tuhan, Engkau tak menutup-nutupi kisah umat-Mu, tetapi Engkau mengasihi mereka—seperti Engkau mengasihi kami—meski mereka ternoda dan berdosa. Engkau Allah yang melihat kami, dan kami bisa berlindung kepada-Mu.
Allah melihat kita dengan penuh belas kasihan.

Saturday, August 27, 2016

Juru Bicara Allah

Siapakah yang membuat lidah manusia, . . . bukankah Aku, yakni Tuhan? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan. —Keluaran 4:11-12
Juru Bicara Allah
Saya merasa tegang saat menunggu dering telepon dan wawancara radio yang akan segera dimulai. Saya memikirkan tentang pertanyaan yang akan diajukan si penyiar dan bagaimana saya harus menjawabnya. “Tuhan, aku lebih memilih untuk menulis,” doa saya. “Tetapi aku rasa sama seperti Musa—aku harus percaya Engkau akan menolongku dalam berkata-kata.”
Tentu saja saya tidak membandingkan diri dengan Musa, pemimpin umat Allah yang menolong mereka keluar dari perbudakan di Mesir untuk tinggal di Tanah Perjanjian. Sebagai seorang pemimpin yang segan, Musa memerlukan kepastian dari Tuhan bahwa bangsa Israel akan mendengarkannya. Tuhan sudah menunjukkan beberapa tanda kepadanya, seperti mengubah tongkat gembalanya menjadi ular (Kel. 4:3), tetapi Musa masih ragu menerima panggilan untuk menjadi pemimpin, dengan mengatakan bahwa ia tidak pandai bicara (ay.10). Maka Allah mengingatkan Musa bahwa Dialah Tuhan yang akan menolongnya berbicara. Dia akan “menyertai lidah” Musa (ay.12).
Kita tahu bahwa sejak kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Roh Allah tinggal di dalam diri anak-anak-Nya. Jadi meskipun kita merasa tidak mampu, Allah akan memampukan kita untuk melakukan tugas yang telah Dia berikan kepada kita. Tuhan akan “menyertai lidah kita.” —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus, Engkau selalu bersamaku. Kiranya perkataanku hari ini menguatkan seseorang untuk kemuliaan-Mu.
Sebagai umat Allah, kita adalah juru bicara-Nya untuk memberitakan kabar baik-Nya.

Friday, August 26, 2016

Hidup Terhormat

Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. —1 Petrus 2:9
Hidup Terhormat
Dalam pidato yang disiarkan secara luas, seorang pemimpin dan negarawan yang terpandang menarik perhatian warganya saat ia menyatakan bahwa banyak dari anggota parlemen (DPR) yang terhormat di negaranya ternyata bersikap kurang terhormat. Dengan menyebutkan keburukan-keburukan para anggota parlemen, seperti gaya hidup korupsi, sikap yang angkuh, ucapan yang tidak patut, ia mengecam dan mendesak mereka untuk memperbaiki diri. Tidak mengherankan, komentarnya itu tidak diterima baik oleh para anggota parlemen yang membalas dengan mengkritik balik kelakuan sang pemimpin itu.
Tidak setiap dari kita adalah pejabat atau pemimpin di jajaran pemerintahan, tetapi kita semua yang mengikut Kristus adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9). Karena itu, Tuhan kita memanggil kita untuk memiliki gaya hidup yang menghormati-Nya.
Petrus, sang murid, memberikan beberapa nasihat praktis tentang bagaimana menjalani hidup yang terhormat. Ia mendorong kita untuk “menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (ay.11). Meski tidak menggunakan kata terhormat, Petrus mengajak kita untuk memiliki tingkah laku yang berkenan pada Kristus.
Rasul Paulus menuliskan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, “Semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Sungguh, semua itu adalah ciri-ciri dari perilaku yang menghormati Tuhan kita. —Lawrence Darmani
Tuhan, bila kami jujur, kami sadar betapa sering kami berperilaku kurang terhormat. Kami tahu kami sangat memerlukan Engkau. Dengan Roh-Mu, tolonglah kami untuk mengganti pikiran, perkataan, dan tindakan yang egois dengan hal-hal yang menyenangkan-Mu dan membawa orang kepada-Mu.
Kita menghormati nama Allah bila kita memanggil-Nya sebagai Bapa dan menjalani hidup layaknya anak-anak-Nya.

Thursday, August 25, 2016

Mengingat . . .

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu. —Mazmur 119:11
Mengingat . . .
Salah satu ketakutan yang dialami seiring dengan usia yang semakin lanjut adalah penyakit demensia (kemerosotan fungsi otak) dan hilangnya memori jangka pendek. Namun Dr. Benjamin Mast, seorang ahli penyakit Alzheimer, memberikan informasi yang membesarkan hati. Ia berkata bahwa otak pasien yang menderita demensia sudah begitu sering “digunakan” dan “terbiasa” sehingga ketika mendengar sebuah pujian lama, mereka bisa ikut menyanyikan setiap lirik dari lagu itu. Ia menyatakan bahwa disiplin rohani seperti membaca Kitab Suci, berdoa, dan menyanyikan puji-pujian, dapat “menanamkan” kebenaran dalam otak kita. Kebenaran itu bisa diakses kapan saja ketika ingatan itu dipicu.
Di Mazmur 119:11, kita membaca bagaimana menyimpan firman Allah dalam hati dapat mencegah kita dari berbuat dosa. Hal itu dapat meneguhkan kita, mengajarkan kita ketaatan, dan mengarahkan langkah kita (ay.28,67,133). Pada akhirnya semua itu akan memberi kita pengharapan dan pengertian (ay.49,130). Bahkan ketika kita mulai menyadari bahwa daya ingat kita atau orang yang kita kasihi terus menurun, firman Allah yang telah diingat bertahun-tahun sebelumnya tetap akan tertanam atau tersimpan dalam hati (ay.11). Meskipun pikiran kita tidak lagi setajam saat masih muda, kita tahu bahwa firman Allah yang tersimpan dalam hati akan terus berbicara kepada kita.
Tidak ada sesuatu pun—bahkan ingatan yang melemah sekalipun—dapat memisahkan kita dari kasih dan pemeliharaan Allah. Itulah janjiNya kepada kita. —Cindy Hess Kasper
Tuhan, Engkaulah Penghibur yang luar biasa bagi kami. Terima kasih karena keselamatan dan kerohanian kami tidak tergantung pada ingatan dan tubuh kami yang lemah, melainkan kepada diri-Mu dan kesetiaan-Mu pada firman-Mu.
Janji Allah tidak pernah gagal.

Wednesday, August 24, 2016

Berjaga-jaga dan Berdoa

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. —Markus 14:38
Berjaga-jaga dan Berdoa
Dari jendela rumah, saya dapat melihat bukit setinggi 1.700 meter yang disebut Cerro del Borrego atau “Bukit Domba”. Pada tahun 1862, pasukan Prancis datang menyerbu Meksiko. Mereka berkemah di tengah taman Orizaba, sementara tentara Meksiko menempati posisi di puncak bukit. Namun, jenderal dari pasukan Meksiko lalai menjaga jalur masuk menuju puncak bukit itu. Akhirnya, tentara-tentara Prancis pun menyerang dan membunuh 2.000 tentara Meksiko yang tengah tertidur.
Saya pun teringat pada satu bukit yang lain, Bukit Zaitun, dan taman di kaki bukit tempat sekelompok murid Yesus jatuh tertidur. Yesus menegur mereka dan berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38).
Betapa mudahnya kita tertidur atau bersikap ceroboh dalam perjalanan iman kita. Pencobaan menyerang ketika kita sedang rentan. Ketika kita mengabaikan area-area tertentu dalam kehidupan rohani kita—misalnya berdoa dan mempelajari Alkitab—kewaspadaan kita pun melemah dan menjadi longgar, sehingga diri kita menjadi sasaran yang mudah diserang Iblis (1Ptr. 5:8).
Kita perlu sadar terhadap kemungkinan terjadinya serangan dan kita perlu berdoa untuk menjaga kewaspadaan. Jika kita tetap berjaga-jaga dan berdoa—demi diri sendiri dan orang lain—Roh Kudus akan memampukan kita untuk menang atas pencobaan. —Keila Ochoa
Tuhan Yesus, aku tahu rohku memang penurut, tetapi tubuhku lemah. Tolonglah aku berjaga-jaga dan berdoa hari ini demi diriku dan sesamaku.
Iblis tidak berdaya melawan kuasa Kristus.

Tuesday, August 23, 2016

Allah Berbicara

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. —1 Korintus 2:12
Allah Berbicara
Baru-baru ini, menantu saya, Ewing, sedang menjelaskan kepada anaknya, Maggie, bahwa kita dapat berbicara kepada Allah dan Dia berkomunikasi dengan kita. Ketika Ewing mengatakan bahwa Allah terkadang berbicara kepada kita melalui Alkitab, Maggie menjawab dengan yakin: “Dia tak pernah mengatakan apa pun kepadaku. Aku tak pernah dengar Dia berbicara kepadaku.”
Kebanyakan dari kita mungkin sependapat dengan Maggie, apabila kita menganggap bahwa cara komunikasi Allah dengan kita itu harus berupa suara yang terdengar, seperti mengatakan kepada kita, “Juallah rumahmu, dan urusilah anak-anak yatim piatu di daerah terpencil.” Namun biasanya, yang kita maksud dengan mendengar Allah “berbicara” tidaklah seperti itu.
Kita “mendengar” Allah berbicara melalui pembacaan Kitab Suci. Alkitab memberitahukan tentang Yesus kepada kita dan mengatakan bahwa Allah “telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” yang merupakan “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:2-3). Kitab Suci memberitahukan kepada kita cara menerima keselamatan dalam Yesus dan cara menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya (2Tim. 3:14-17). Selain Kitab Suci, kita mempunyai Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 2:12 tertulis bahwa kita diberi Roh “supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”
Apakah sudah lama kamu tidak mendengar Allah berbicara? Berbicaralah kepada-Nya dan dengarkanlah Roh Kudus, yang menyingkapkan Yesus kepada kita melalui firman-Nya. Dengarkanlah hal-hal indah yang hendak dikatakan Allah kepada kamu. —Dave Branon
Berbicaralah kepadaku, Tuhan. Tolonglah aku untuk memahami isi Kitab Suci, pelajaran yang diberikan Yesus, dan dorongan dari Roh Kudus.
Allah berbicara melalui firman-Nya ketika kita menyediakan waktu untuk mendengarkan-Nya.

Monday, August 22, 2016

Berisiko Jatuh

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! —1 Korintus 10:12
Berisiko Jatuh
Sewaktu teman saya, Elaine, telah sembuh dari kecelakaan yang dialaminya, seorang perawat menyematkan gelang kuning di pergelangan tangannya. Di situ tertulis: Berisiko Jatuh. Frasa itu berarti: Jagalah orang ini dengan cermat. Mungkin kakinya belum stabil. Berikan bantuan kepadanya untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
1 Korintus 10 memberikan peringatan kepada umat Tuhan yang menyatakan “Berisiko Jatuh”. Setelah melihat kembali pengalaman pendahulunya, Paulus menyadari potensi manusia untuk jatuh dalam dosa. Bangsa Israel kuno sering bersungut-sungut, menyembah berhala, dan menjalin hubungan yang amoral. Allah pun tidak berkenan kepada mereka dan mengizinkan mereka menerima konsekuensi atas dosa-dosa mereka. Namun, Paulus mengatakan, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita. . . . Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (ay.11-12).
Kita mudah menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa kita telah berhenti melakukan dosa tertentu. Bahkan setelah kita bergumul dengan mengakui masalah kita, bertobat, dan bertekad untuk kembali mengikuti jalan Allah, pencobaan masih mungkin terjadi. Allah memampukan kita untuk tidak kembali jatuh pada pola-pola yang sama. Dia melakukannya dengan menyediakan jalan keluar dari perbuatan dosa yang kita hendak lakukan. Kita hanya perlu mengikuti jalan keluar yang sudah disediakan-Nya itu. —Jennifer Benson Schuldt
Tuhan, celikkan mataku untuk melihat jalan keluar yang Engkau berikan ketika aku dicobai. Berilah aku kekuatan untuk menerima pertolongan-Mu supaya aku dapat tetap setia kepada-Mu. Aku tahu itulah kerinduan-Mu bagiku, karena itu aku bersyukur atas karya-Mu dalam hidupku.
Berkat besar sering diikuti oleh pencobaan besar.

Sunday, August 21, 2016

Marilah Kita

Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. —Ibrani 10:24
Marilah Kita
Ketika sedang mengantre di salah satu wahana yang populer di Disneyland, saya mengamati kebanyakan orang sedang mengobrol dan tersenyum. Mereka sama sekali tidak mengeluhkan antrean yang panjang. Saya jadi berpikir mengapa mereka bisa menikmati antrean panjang seperti itu. Saya rasa jawabannya adalah sangat sedikit dari mereka yang mengantre seorang diri. Sebaliknya, banyak dari mereka datang bersama teman, keluarga, kelompok, dan pasangan, sehingga mereka menikmati pengalaman itu bersama-sama. Tentu itu rasanya jauh berbeda jika dibandingkan dengan mengantre sendirian.
Kehidupan Kristen dimaksudkan untuk dijalani bersama, bukan seorang diri. Ibrani 10:19-25 mendorong kita untuk hidup dalam komunitas bersama dengan para pengikut Yesus lainnya. “Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh. . . . Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita” (ay. 22-25). Dalam komunitas itu, kita meneguhkan dan menguatkan satu sama lain, dan “saling menasihati” (ay.25).
Ketika orang lain mendampingi kita menjalani masa-masa yang sangat sulit dalam hidup ini, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian yang berharga dari perjalanan iman kita. Jangan menghadapi hidup ini sendirian. Marilah kita menjalaninya bersama. —David McCasland
Tuhan, kiranya kami memenuhi panggilan-Mu hari ini untuk bersama menapaki perjalanan iman dengan saling menguatkan.
Hidup dalam Kristus dimaksudkan untuk dijalani bersama.

Saturday, August 20, 2016

Raksasa di Kanaan

Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! —Bilangan 13:30
Raksasa di Kanaan
Setelah bermukim di dekat Gunung Sinai selama dua tahun, bangsa Israel bersiap-siap memasuki Kanaan—tanah yang Allah janjikan kepada mereka. Allah menginstruksikan mereka untuk mengirim 12 pengintai untuk menyelidiki tanah itu dan penduduknya. Ketika para pengintai melihat kekuatan orang Kanaan dan besarnya kota-kota di sana, 10 dari mereka berkata, “Kita takkan menang!” Hanya dua pengintai yang berkata, “Kita pasti menang!” Apa yang membedakan?
Ketika kesepuluh pengintai membandingkan orang Kanaan yang berperawakan raksasa dengan diri mereka, orang Kanaan terlihat sangatlah besar. Sementara itu, dua pengintai lainnya—Kaleb dan Yosua—membandingkan raksasa-raksasa itu dengan Allah, sehingga raksasa itu pun terlihat sangat kecil. “Tuhan menyertai kita,” kata keduanya. ”Janganlah takut kepada mereka” (Bil. 14:9).
Ketidakpercayaan membuat kita tidak pernah lepas dari kesulitan, bagaikan kota yang tak tertembus dan raksasa yang mustahil ditaklukkan. Akibatnya, kita selalu berkutat dalam masalah itu, mengkhawatirkannya, dan berusaha melawannya dengan kekuatan kita yang tidak seberapa.
Berbeda dengan iman. Meski tak pernah menganggap sepele bahaya dan kesulitan dari situasi apa pun, iman mengalihkan fokus kita dari kesulitan yang ada dan membuat kita memandang Allah dan mengandalkan kuasa serta kehadiran-Nya yang tidak terlihat.
“Raksasa-raksasa” apa yang sedang kamu hadapi? Apakah itu berupa kebiasaan buruk yang menjeratmu? Godaan yang tak kuasa kamu tolak? Pernikahan yang sulit? Anak yang kecanduan narkoba? Jika membandingkan diri dengan masalah yang ada, kita akan selalu ciut dan merasa kalah. Namun sebaliknya, iman mengalihkan pandangan kita dari besarnya masalah yang ada kepada kebesaran Allah yang Mahakuasa dan Mahahadir. —David Roper
Ya Tuhan, saat “raksasa-raksasa” dalam hidupku mulai membuatku takut dan mencoba untuk menelanku, tolonglah aku untuk mempercayai-Mu.
Saat ketakutan menyerang, lawanlah dengan iman.

Friday, August 19, 2016

Obsesi Membanding-bandingkan

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? —Matius 20:15
Obsesi Membanding-bandingkan
Thomas J. DeLong, profesor di Harvard Business School, melihat satu tren yang merisaukan di antara para mahasiswa dan rekan- rekan kerjanya, yaitu “obsesi membanding-bandingkan”. Ia menulis: “Lebih dari yang pernah terjadi sebelumnya . . . para eksekutif, analis di Wall Street, pengacara, dokter, dan kaum profesional lainnya terkena obsesi untuk membanding-bandingkan keberhasilan mereka sendiri dengan kesuksesan orang lain. . . . Hal itu berdampak buruk bagi individu dan juga perusahaan. Saat kita mengartikan kesuksesan berdasarkan kriteria eksternal, dan bukan internal, kita mengecilkan kepuasan dan komitmen kita sendiri.”
Obsesi membanding-bandingkan bukanlah hal baru. Kitab Suci telah memperingatkan tentang bahaya dari membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Saat melakukannya, kita menjadi sombong dan memandang rendah mereka (Luk. 18:9-14). Atau kita menjadi iri dan ingin menjadi seperti mereka atau mengingini milik mereka (Yak. 4:1). Kita gagal berfokus pada apa yang sudah Allah berikan untuk kita lakukan. Yesus menyatakan bahwa obsesi membanding-bandingkan itu berasal dari keyakinan bahwa Allah tidak adil dan Dia tidak berhak untuk bersikap lebih murah hati kepada orang lain daripada kepada kita (Mat. 20:1-16)
Dengan anugerah Allah, kita dapat belajar mengatasi obsesi membanding-bandingkan dan berfokus pada hidup yang telah diberikan Allah bagi kita. Ketika kita menyediakan waktu untuk bersyukur kepada Allah atas berkat-Nya setiap hari, pemikiran kita pun berubah dan hati kita mulai percaya sepenuhnya bahwa Allah itu baik. —Marvin Williams
Aku perlu punya fokus yang lebih baik, Tuhan. Tolonglah aku untuk tidak terus memandangi orang lain, melainkan hanya mengarahkan pandanganku kepada-Mu dan mensyukuri kebaikan hati-Mu bagi kami semua.
Allah menyatakan kebaikan-Nya kepada anak-anak-Nya sesuai dengan cara-Nya sendiri.

Thursday, August 18, 2016

Yang Biasa Kamu Lakukan

Orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka. —2 Tawarikh 13:18
Yang Biasa Kamu Lakukan
Ketika suatu konvoi pasukan menunggu giliran mereka untuk bergerak, seorang prajurit muda mengetuk kencang jendela dari kendaraan yang ditumpangi pemimpin regunya. Dengan kesal, sang sersan menurunkan jendela kendaraannya. “Ada apa?”
“Kamu harus melakukan hal itu,” kata si prajurit. “Hal apa?” tanya sang sersan. “Itu, yang biasa kamu lakukan,” jawab si prajurit.
Lalu sersan itu pun tersadar. Ia selalu berdoa untuk keselamatan pasukannya, tetapi kali ini ia belum melakukannya. Ia segera keluar dari jip yang ditumpanginya dan mendoakan semua prajuritnya. Prajurit tadi sangat memahami pentingnya seorang pemimpin yang mendoakan mereka.
Di zaman Yehuda kuno, Abiam tidak dikenal sebagai raja yang agung. Dalam 1 Raja-Raja 15:3 tertulis, “[Abiam] tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya.” Namun ketika Yehuda sedang siap-siap berperang melawan Israel, dengan jumlah tentara yang setengah dari tentara lawan, Abiam tahu dengan pasti: orang-orang beriman di kerajaan Yehuda yang dipimpinnya masih menyembah Allah (2Taw. 13:10-12), sedangkan kesepuluh suku Israel telah menyingkirkan imam-imam Tuhan dan menyembah dewa-dewa berhala (ay.8-9). Maka Abiam pun dengan yakin berpaling kepada satu-satunya Allah yang benar.
Riwayat hidup Abiam yang tidak selalu setia memang tragis. Namun di masa krisis, ia tahu siapa yang harus diandalkannya, sehingga pasukannya menang telak “karena mereka mengandalkan diri kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka” (2Taw. 13:18). Allah kita menerima siapa pun yang datang kepada-Nya dan mengandalkan-Nya. —Tim Gustafson
Aku tahu doa bukanlah jimat keberuntungan. Namun aku datang kepada-Mu sekarang, ya Tuhan, karena tiada seorang pun yang lebih baik untuk mendengar doaku. Aku mempercayakan segala keadaanku saat ini kepada-Mu.
Allah tidak akan pernah menolak siapa pun yang dengan penuh iman datang kepada-Nya.

Wednesday, August 17, 2016

Pemberi Semangat

Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu. —1 Tesalonika 5:11
Pemberi Semangat
Pada musim panas tahun 2015, Hunter (15 tahun) menggendong adik laki-lakinya, Braden (8 tahun), sepanjang 92 km dalam kegiatan jalan sehat yang diadakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebutuhan para penderita kelumpuhan otak (cerebral palsy). Dengan bobot Braden seberat 27 kg, Hunter perlu berhenti beberapa kali untuk beristirahat dan beberapa orang menolong Hunter untuk melemaskan ototnya. Hunter juga memakai gendongan khusus untuk meringankannya ketika menggendong Braden. Hunter berkata, meskipun gendongan khusus itu dapat meringankannya secara fisik, bantuan yang lebih besar diperoleh Hunter dari orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan. “Tanpa kehadiran orang-orang yang menyemangati dan ikut berjalan bersama kami, aku tak mungkin dapat melakukannya. . . . Kedua kakiku sudah begitu lelah, tetapi teman-teman terus menyemangatiku dan aku pun berhasil menyelesaikannya.”
Rasul Paulus, yang sering kita anggap sebagai pribadi yang kuat dan berani, ternyata juga perlu disemangati. Di Roma 16, ia menuliskan daftar orang yang telah menguatkannya. Mereka melayani bersama Paulus, menguatkannya, mencukupi kebutuhannya, dan mendoakannya. Ia menyebut nama-nama seperti Febe, Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjanya; ibu dari Rufus, yang menjadi seperti ibunya sendiri; Gayus, yang memberikan tumpangan kepadanya; dan masih banyak lagi.
Kita semua membutuhkan teman-teman yang mau menyemangati kita, dan kita juga tahu siapa saja orang yang perlu kita kuatkan. Seperti Yesus yang selalu menolong dan menguatkan kita, marilah kita juga saling menolong satu sama lain. —Anne Cetas
Tuhan, dalam hikmat-Mu, Engkau mendirikan gereja-Mu sebagai tempat bagi kami untuk saling mengasihi dan memperhatikan. Tolonglah aku untuk menjadi saluran anugerah yang telah kuterima bagi orang lain.
Para pemberi semangat meringankan beban berat sesamanya.

Tuesday, August 16, 2016

Memancarkan Terang

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Memancarkan Terang
Pada tahun 1989, setelah hidup sebagai tahanan politik, Vaclav Havel diangkat menjadi presiden terpilih pertama Cekoslowakia. Bertahun-tahun kemudian pada pemakaman Havel di Praha tahun 2011, mantan Menteri Luar Negeri AS, Madeleine Albright, yang lahir di Praha, menggambarkan Havel sebagai seorang tokoh yang telah “memancarkan terang di tempat-tempat yang tergelap.”
Sebagaimana Havel telah memancarkan terang dalam kancah politik Cekoslowakia (yang kemudian menjadi Republik Ceko), Tuhan kita Yesus Kristus memancarkan terang bagi seluruh dunia. Dia menghadirkan terang ketika Dia menjadikan terang dari kegelapan pada masa penciptaan (Yoh 1:2-3; lihat Kej. 1:2-3). Kemudian, dengan kelahiran-Nya di dunia, Dia membawa terang dalam kancah spiritual. Yesuslah kehidupan dan terang yang tak bisa dikuasai oleh kegelapan (Yoh 1:5).
Yohanes Pembaptis datang dari padang gurun untuk menjadi saksi bagi Yesus, sang Terang dunia. Kita bisa melakukan hal yang sama di masa kini. Itulah yang Yesus perintahkan kepada kita, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16).
Di dunia kita saat ini—ketika yang baik sering dianggap buruk dan yang buruk dipandang baik, ketika yang benar dianggap salah dan juga sebaliknya—orang-orang sedang mencari arah dalam hidup mereka. Kiranya kita memancarkan terang Kristus di tengah dunia ini. —C. P. Hia
Bapa di surga, terima kasih atas terang Yesus yang datang ke dunia dan untuk terang yang telah dipancarkan-Nya dalam hidupku. Tolonglah aku untuk selalu mengucap syukur dan menjadi terang-Mu bagi dunia yang gelap di sekitarku.
Pancarkan Sang Terang!

Monday, August 15, 2016

Warisan Kehidupan

Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar. —Amsal 22:1
Warisan Kehidupan
Ketika menginap di sebuah hotel di suatu kota kecil, saya melihat gereja di seberang jalan sedang mengadakan kebaktian. Gereja sudah begitu penuh tetapi masih ada sekerumunan orang dari muda sampai tua berdiri di luar gereja sampai ke trotoar. Setelah melihat sebuah mobil jenazah diparkir di pinggir jalan, barulah saya menyadari bahwa itu adalah kebaktian penghiburan. Melihat banyaknya orang di situ, saya mengira kebaktian tersebut diadakan untuk mengenang hidup dari seorang tokoh yang berjasa besar di daerah itu—mungkin seorang pengusaha kaya atau orang terkenal. Karena penasaran, saya bertanya kepada petugas hotel, “Banyak sekali orang yang datang ke kebaktian itu; pastilah yang meninggal itu orang terkenal di kota ini.”
“Bukan,” jawabnya. “Mendiang bukan orang kaya dan juga tidak terkenal, tetapi ia seorang pria yang sangat baik.”
Peristiwa itu mengingatkan saya tentang hikmat amsal yang mengatakan, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar” (Ams. 22:1). Ada baiknya kita memikirkan tentang warisan yang akan kita tinggalkan bagi keluarga, teman, dan sesama kita. Dari perspektif Allah, yang terpenting bukanlah riwayat hidup atau jumlah uang yang kita kumpulkan, melainkan hidup seperti apa yang telah kita lewati.
Ketika seorang teman meninggal dunia, putrinya menulis, “Dunia telah kehilangan seorang pria yang sangat baik, dan di dunia seperti ini, itu adalah kehilangan yang sangat besar!” Warisan semacam itulah yang sepatutnya kita usahakan untuk kemuliaan Allah. —Joe Stowell
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk menjalani hidup yang berkenan kepada-Mu dan yang meninggikan nama-Mu.
Jalanilah hidup yang meninggalkan warisan untuk kemuliaan Allah.

Sunday, August 14, 2016

Bapamu Mengetahui

Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya. —Matius 6:8
Bapamu Mengetahui
Umur saya baru empat tahun saat berbaring bersama ayah di atas tikar pada suatu malam yang gerah di musim panas. (Saat itu ibu dan adik saya yang masih bayi tidur di kamar). Kami tinggal di wilayah utara Ghana yang cuacanya sangat kering. Keringat membasahi tubuh saya, dan panasnya cuaca membuat kerongkongan kering. Saya merasa sangat haus dan membangunkan ayah. Di tengah malam yang panas itu, ayah pun bangun dan menuangkan air dari sebuah kendi untuk menghilangkan rasa haus saya. Sepanjang hidup saya, sama seperti yang dilakukannya pada malam itu, ayah telah mencontohkan gambaran seorang bapa yang penuh perhatian. Ia menyediakan apa yang saya perlukan.
Ada sebagian orang yang kehilangan figur bapa yang baik dalam hidup mereka. Akan tetapi, kita semua memiliki satu Bapa yang kuat dan selalu hadir serta tidak pernah mengecewakan kita. Yesus mengajar kita untuk berdoa kepada “Bapa [kita] yang di sorga” (Mat. 6:9). Dia mengatakan bahwa ketika kita diperhadapkan dengan kebutuhan sehari-hari— makanan, pakaian, tempat tinggal, perlindungan (ay.31)—“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (ay.8).
Kita memiliki Bapa yang senantiasa hadir bagi kita. Baik siang atau pun malam, di saat kita berbeban berat, kita dapat percaya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia telah berjanji untuk selalu memperhatikan kita, dan Dia lebih tahu daripada kita segala sesuatu yang kita butuhkan. —Lawrence Darmani
Terima kasih, Tuhan, atas hak istimewa yang kupunya untuk datang kepada-Mu sebagai Bapaku. Engkau tahu kebutuhanku bahkan sebelum aku memintanya. Terima kasih Tuhan karena Engkau tak pernah menolakku.
Bapa Surgawi yang penuh kasih tak pernah berpaling dari kamu.

Saturday, August 13, 2016

Saat Kita Tak Mengerti

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. —Yesaya 55:8
Saat Kita Tak Mengerti
Meskipun setiap hari saya bergantung pada teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan saya, masih banyak hal yang tidak saya mengerti tentang cara kerjanya. Saya hanya menyalakan komputer, membuka dokumen dari program Word, dan mulai menulis. Namun ketidakmampuan saya untuk memahami fungsi dari microchips, cakram keras, koneksi Wi-Fi, dan tampilan berwarna tidak menghalangi saya untuk memperoleh manfaat dari teknologi.
Gambaran itu sedikit banyak mencerminkan hubungan kita dengan Allah. Yesaya 55:8-9 mengingatkan kita bahwa Allah itu jauh melampaui pengertian kita: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Meskipun kita tidak dapat mengerti segala sesuatu tentang Allah, keterbatasan itu tidak menghalangi kita untuk mempercayai-Nya. Dia telah membuktikan kasih-Nya kepada kita. Rasul Paulus menulis, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Dengan mempercayai kasih-Nya, kita dapat berjalan bersama-Nya bahkan di saat jalan hidup kita tidak dapat dimengerti. —Bill Crowder
Bapa Surgawi, terima kasih karena meski aku tak bisa memahami-Mu sepenuhnya, tetapi aku bisa mengenal-Mu. Aku sungguh bersyukur. Ingatkanlah meski aku tak memahami-Mu dan jalan-jalan-Mu, tetapi aku bisa selalu mengandalkan kasih-Mu kepadaku dan kehadiran-Mu dalam hidupku.
Allah tidak layak disembah jika Dia dapat diselami oleh pikiran kita.

Friday, August 12, 2016

Membentuk Pikiranmu

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. —Roma 12:2
Membentuk Pikiranmu
Ketika Marshall McLuhan menciptakan istilah “the medium is the message” (media adalah pesan itu sendiri) pada tahun 1964, komputer pribadi belum ditemukan, ponsel hanya ada dalam kisah-kisah fiksi, dan Internet belum ada. Sekarang kita memahami betapa tepatnya McLuhan meramalkan bagaimana cara berpikir kita dipengaruhi di era digital ini. Dalam buku The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains (Dangkal: Dampak Internet terhadap Otak Kita), Nicholas Carr menulis, “[Media] menyediakan bahan pemikiran, tetapi juga membentuk proses berpikir. Dan yang dilakukan Internet adalah mengikis kemampuan saya untuk berkonsentrasi dan merenung. Baik ketika sedang online atau tidak, sekarang pikiran saya menuntut untuk menyerap informasi seperti cara Internet menyebarluaskannya, yaitu dalam arus potongan-potongan kecil yang terus bergerak dengan sangat cepat.”
Saya menyukai saduran J. B. Phillips terhadap pesan Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma: “Jangan biarkan dunia di sekitarmu membentukmu sesuai dengan cetakannya, tetapi izinkan Allah mencetak ulang pikiranmu dari dalam, sehingga kamu dapat membuktikan melalui perbuatanmu bahwa rencana Allah untukmu itu baik, sesuai dengan segala kehendak-Nya dan membawamu kepada tujuan kedewasaan sejati” (lihat Rm. 12:2). Alangkah relevannya firman itu untuk masa kini, karena kita telah melihat bagaimana jalan pikiran dan proses berpikir kita sangat dipengaruhi oleh dunia di sekitar kita.
Memang kita tidak dapat membendung arus informasi yang membombardir kita, tetapi setiap hari kita dapat meminta Tuhan untuk menolong kita memusatkan perhatian kepada-Nya dan membentuk pemikiran kita melalui kehadiran-Nya dalam hidup kita. —David McCasland
Bapa di surga, teduhkan dan fokuskan pikiranku, tenangkan hatiku, dan penuhilah aku dengan pikiran-pikiran-Mu sepanjang hari ini.
Izinkan Roh Allah dan bukan dunia ini yang membentuk pikiranmu.

Thursday, August 11, 2016

Tanpa Takut

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut.” —Lukas 2:10
Tanpa Takut
Di dalam Alkitab, hampir setiap kali seorang malaikat muncul, kata-kata pertama yang diucapkannya adalah, “Jangan takut” (Dan. 10:12,19; Mat. 28:5; Why. 1:17). Itu tidak mengherankan, karena ketika kekuatan supernatural bersinggungan dengan planet Bumi, hal tersebut biasanya membuat manusia yang menyaksikannya tersungkur dengan wajah ke tanah dan merasakan ketakutan yang amat hebat. Namun Lukas menceritakan tentang Allah yang hadir di Bumi dalam rupa yang tidak menakutkan. Di dalam Yesus, yang lahir di kandang dan dibaringkan dalam palungan, Allah akhirnya menempuh pendekatan yang tidak membuat kita takut. Adakah yang lebih tidak menakutkan daripada seorang bayi yang baru lahir?
Orang-orang yang skeptis dan kebingungan terus mengintai Yesus di sepanjang pelayanan-Nya. Bagaimana mungkin seorang bayi di Betlehem, anak tukang kayu, adalah Mesias dari Allah? Akan tetapi sekelompok gembala di padang tidak meragukan jati diri Yesus, karena mereka telah mendengar kabar baik itu langsung dari sejumlah besar malaikat (Luk. 2:8-14).
Mengapa Allah mengambil rupa manusia? Alkitab memberikan banyak alasan, ada alasan yang sangat teologis dan ada yang sangat praktis; tetapi kita dapat menemukan satu petunjuk dari peristiwa Yesus mengajar para rabi di masa remaja-Nya (Luk. 2:46). Untuk pertama kalinya, manusia biasa dapat melakukan perbincangan dan perdebatan dengan Allah dalam wujud yang kelihatan. Yesus dapat berbicara dengan siapa saja—dengan orangtua-Nya, seorang rabi, seorang janda miskin—tanpa harus terlebih dahulu mengucapkan, “Jangan takut.”
Di dalam Yesus, Allah datang mendekat kepada kita. —Philip Yancey
Aku merasa tak layak, ya Tuhan, karena Engkau bersedia datang kepadaku. Namun aku sangat bersyukur. Terima kasih, ya Tuhan.
Allah yang berinkarnasi mengenyahkan ketakutan. —F. B. Meyer

Wednesday, August 10, 2016

Bernaung dari Teriknya Matahari

Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. —Mazmur 121:5
Bernaung dari Teriknya Matahari
Tinggal di Inggris membuat saya tidak terlalu khawatir akan terkena sengatan sinar matahari. Lagi pula matahari biasanya tertutup gumpalan awan tebal. Namun, saya baru saja menghabiskan waktu di Spanyol dan segera menyadari bahwa dengan kulit pucat yang saya miliki, saya hanya dapat bertahan sepuluh menit di bawah sinar matahari dan setelah itu harus kembali bersembunyi di bawah payung.
Saat memikirkan tentang teriknya sinar matahari di wilayah Mediterania, saya mulai memahami lebih dalam arti dari gambaran Tuhan Allah sebagai naungan umat-Nya di sebelah tangan kanan mereka. Masyarakat Timur Tengah tahu betul tentang panas yang begitu menyengat, dan mereka perlu menemukan tempat bernaung dari teriknya sinar matahari.
Pemazmur menggunakan gambaran Allah sebagai naungan itu di Mazmur 121, yang dapat dipahami sebagai pembicaraan dalam hati— dialog dengan dirinya sendiri mengenai kebaikan dan kesetiaan Tuhan. Ketika kita menggunakan Mazmur tersebut dalam doa, kita sedang meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, karena Dia menyediakan perlindungan bagi kita. Dan sama seperti kita berlindung di bawah payung dari sinar matahari, kita juga dapat menemukan tempat berlindung yang aman di dalam Tuhan.
Kita melayangkan mata kepada “Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi” (ay. 1-2) karena baik di hari yang cerah atau di masa penghujan, kita menerima berkat-berkat dalam bentuk perlindungan, kelepasan, dan kelegaan dari-Nya. —Amy Boucher Pye
Bapa Surgawi, Engkau menjagaku. Lindungilah aku dari apa saja yang akan mengalihkan perhatianku dari-Mu.
Kita menemukan perlindungan di dalam Tuhan.

Tuesday, August 9, 2016

Kabar Kemenangan

Juruselamat kita . . . oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. —2 Timotius 1:10
Kabar Kemenangan
Perang Dunia ke-2 telah berakhir. Perdamaian telah dinyatakan. Namun Letnan Hiroo Onoda dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang masih muda dan berdinas di sebuah pulau di Filipina tidak mengetahui kabar bahwa perang sudah berakhir. Berbagai upaya pun dilakukan untuk melacak keberadaannya. Selebaran dijatuhkan dari pesawat di lokasinya untuk memberitahukan bahwa perang telah usai. Namun Onoda, yang pada tahun 1945 menerima perintah terakhir untuk bertahan di sana dan berjuang, menganggap semua upaya dan selebaran tersebut sebagai tipu daya atau propaganda musuh. Ia menolak untuk menyerahkan diri sampai bulan Maret 1974—hampir 30 tahun setelah perang berakhir—ketika bekas atasannya pergi dari Jepang ke Filipina untuk menarik kembali perintahnya, dan secara resmi membebaskan Onoda dari tugasnya. Onoda pun akhirnya percaya bahwa perang telah berakhir.
Demikian juga dengan kabar baik tentang Yesus Kristus. Banyak yang masih belum mendengar atau tidak percaya bahwa Dia “oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim. 1:10). Dan sebagian dari kita, yang telah mendengar dan sudah percaya, sering kali masih hidup dalam kekalahan dan berusaha untuk bertahan dalam belantara kehidupan kita sendiri.
Kita perlu memberitahukan kepada mereka kabar gembira tentang kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Mungkin awalnya mereka akan merespons dengan skeptis dan ragu, tetapi kuatkanlah hatimu. Alangkah dahsyatnya kebebasan yang akan mereka alami ketika Kristus menerangi pikiran mereka agar mengetahui bahwa peperangan rohani itu telah dimenangi oleh-Nya. —Poh Fang Chia
Tuhan, tolong aku membuka hati untuk mendengarkan orang lain dan untuk membagikan apa yang telah Engkau lakukan dalam hidupku.
Maukah kamu menceritakan kabar baik kepada seseorang hari ini?

Monday, August 8, 2016

Karena Aku Mengasihi-Nya

“Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus! —Wahyu 22:20
Karena Aku Mengasihi-Nya
Sehari sebelum suami saya pulang dari perjalanan bisnisnya, putra saya berkata, “Ma! Aku mau Papa cepat pulang.” Saya menanyakan alasannya dan mengira ia akan mengatakan sesuatu tentang hadiah yang biasanya dibawa pulang ayahnya atau karena ia kangen bermain bola dengannya. Namun dengan sikap serius, ia menjawab, “Aku mau Papa pulang karena aku sayang Papa!”
Jawabannya membuat saya berpikir tentang Tuhan kita dan janji-Nya untuk datang kembali. “Aku datang segera,” kata Yesus (Why. 22:20). Saya merindukan kedatangan-Nya, tetapi mengapa saya ingin Dia datang kembali? Apakah karena saya akan berada dalam hadiratNya, terbebas dari penyakit dan kematian? Apakah karena saya sudah lelah menjalani hidup di dunia yang sulit ini? Ataukah karena saya begitu mengasihi-Nya sepanjang hidup saya, di mana Dia telah menyertai saya dalam suka maupun duka, dan kehadiran-Nya begitu nyata melebihi siapa pun yang pernah ada, maka saya ingin bersama Dia selamanya?
Saya senang putra saya merindukan ayahnya yang sedang bepergian. Akan menjadi masalah jika ia sama sekali tidak peduli kapan ayahnya pulang atau jika ia berpikir bahwa kepulangan ayahnya akan mengganggu rencananya. Bagaimana perasaan kita tentang kedatangan kembali Tuhan kita? Marilah kita merindukan hari kedatangan-Nya itu dengan penuh semangat, dan sungguh-sungguh berkata, “Datanglah segera, ya Tuhan! Kami mengasihi-Mu.” —Keila Ochoa
Tuhan, segeralah datang kembali!
Nantikanlah kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Sunday, August 7, 2016

Siapa yang Kamu Bela?

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. —Roma 5:6
Siapa yang Kamu Bela?
Ketika Kathleen dipanggil maju oleh guru bahasanya untuk menguraikan sebuah kalimat, ia menjadi panik. Sebagai murid pindahan baru, Kathleen belum mempelajari tata bahasa sampai sejauh itu. Seisi kelas pun menertawainya.
Seketika itu juga sang guru berbicara dan membela Kathleen. “Suatu hari nanti, ia akan menulis lebih baik daripada kalian semua!” tegasnya. Bertahun-tahun kemudian, Kathleen mengingat momen tersebut dengan penuh syukur: “Sejak hari itu, aku berusaha menulis sebaik mungkin, seperti yang beliau harapkan.” Akhirnya, pada tahun 2010, Kathleen Parker menerima anugerah Hadiah Pulitzer untuk tulisannya.
Seperti halnya guru Kathleen, Yesus membela kaum yang lemah dan tidak berdaya. Ketika murid-murid-Nya mencegah anak-anak mendekati diri-Nya, Yesus pun marah. “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku,” kata-Nya, “jangan menghalang-halangi mereka” (Mrk. 10:14). Dia menjangkau kelompok etnis yang dibenci, saat menjadikan orang Samaria yang baik hati sebagai pahlawan dari perumpamaan-Nya (Luk. 10:25-37) dan menawarkan harapan yang sejati kepada wanita Samaria yang sedang gundah di sumur Yakub (Yoh 4:1-26). Ia melindungi dan mengampuni seorang wanita yang terjerat dalam perzinahan (Yoh 8:1-11). Dan walaupun kita sama sekali tidak berdaya, Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua (Rm. 5:6).
Dengan membela kaum yang lemah dan terpinggirkan, kita memberi kesempatan bagi mereka untuk menyadari potensi mereka. Kita menunjukkan kepada mereka kasih yang sejati, dan dengan cara yang sederhana tetapi berarti, kita mencerminkan isi hati Yesus yang terdalam. —Tim Gustafson
Bapa, tolong aku mengenali siapa saja yang butuh pembelaanku. Ampunilah aku karena sering berpikir bahwa masalah mereka bukanlah urusanku. Tolonglah aku untuk mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi mereka.
Mustahil mengasihi Kristus tanpa mengasihi orang lain.

Saturday, August 6, 2016

Membuka Mata

Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat. —2 Raja-Raja 6:17
Membuka Mata
Emil adalah seorang tunawisma yang sepanjang tahun selalu menunduk dan memandangi trotoar sambil menyusuri jalanan kota hari demi hari. Ia malu untuk bertatap muka dengan orang lain, karena ia takut akan bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya sebelum ia menjadi tunawisma. Namun lebih dari itu, ia menunduk terus dengan maksud mencari-cari uang receh yang jatuh di jalan atau sisa puntung rokok. Karena kebiasaan Emil yang selalu memandang ke bawah, tulang belakangnya mulai terbentuk permanen dengan posisi merunduk sehingga ia menemui kesulitan untuk meluruskan badannya kembali.
Bujang Nabi Elisa memandang ke arah yang salah dan menjadi sangat ketakutan saat melihat banyaknya pasukan yang dikirim Raja Aram untuk menangkap majikannya (2 Raj. 6:15). Namun Elisa tahu bahwa bujangnya hanya melihat adanya bahaya yang mengancam dan besarnya jumlah lawan. Matanya perlu dibukakan untuk melihat bahwa perlindungan Allah yang mengelilingi mereka jauh lebih besar dari apa pun yang bisa dilakukan pasukan Aram terhadap Elisa (ay.17).
Ketika hidup terasa sulit dan kita berada di bawah tekanan, perhatian kita sangatlah mudah tersita oleh masalah yang ada. Namun penulis kitab Ibrani menganjurkan jalan keluar yang lebih baik. Ia mengingatkan kita bahwa Yesus telah mengalami penderitaan yang tak terbayangkan demi menggantikan kita. Karena itulah, jika mata kita tertuju kepada-Nya (Ibr. 12:2), Dia pasti akan menguatkan kita. —Marion Stroud
Ya Tuhan, terkadang yang bisa kulihat hanyalah segala kekusutan pada permadani hidupku. Tolonglah aku untuk membuka mata dan melihat keindahan gambar yang sedang Engkau rajut dalam hidupku.
Jika Kristus menjadi pusat hidup kita, hidup kita akan lebih fokus.

Friday, August 5, 2016

Siapa yang Memperhatikanmu?

Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar. —Mazmur 34:16
Siapa yang Memperhatikanmu?
Ke mana pun para atlet yang berlomba di Olimpiade 2016 pergi di wilayah kota Rio de Janeiro, mereka dapat melihat Yesus. Sebuah patung dengan tinggi 30,5 meter yang disebut Cristo Redentor (Kristus Sang Penebus) berdiri menjulang di atas kota itu di gunung Corcovado yang tingginya 700 meter. Dengan tangan yang terbentang lebar, patung raksasa itu dapat terlihat siang-malam dari hampir seluruh penjuru kota yang besar itu.
Patung yang terbuat dari beton dan batu itu mungkin dapat memberikan penghiburan bagi siapa saja yang mendongak dan memandangnya. Namun demikian, kita menerima penghiburan yang jauh lebih besar dari realitas itu: Yesus yang sejati selalu memperhatikan kita. Di Mazmur 34, Daud menggambarkannya sebagai berikut: “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (ay.16). Dia menyebutkan bahwa ketika orang-orang benar berseru meminta pertolongan-Nya, “Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (ay.18-19).
Jadi siapakah orang-orang benar itu? Mereka adalah setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang membenarkan kita (1Kor. 1:30). Allah kita memperhatikan seluruh kehidupan kita, dan Dia mendengar seruan mereka yang percaya kepada-Nya. Allah selalu siap menolong kita pada saat kita sangat membutuhkan pertolongan.
Mata Yesus terus tertuju kepadamu. —Dave Branon
Tuhan, terkadang hidup terasa berjalan di luar kendali dan aku tak tahu arah mana yang harus kutempuh. Terima kasih karena Engkau mengawasi hidupku dan mengarahkanku ke jalan yang benar melalui firman-Mu dan Roh-Mu.
Tuhan takkan pernah membiarkan kita terlepas dari pandangan-Nya.

Thursday, August 4, 2016

Tidak Sempurna

Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya. —Roma 7:18 BIS
Tidak Sempurna
Dalam bukunya Jumping Through Fires (Melewati Kemelut), David Nasser bercerita tentang perjalanan rohaninya. Sebelum mengenal Yesus, ia berteman dengan sekelompok remaja Kristen. Walaupun biasanya teman-teman akrabnya itu bersikap murah hati, menyenangkan, dan tidak menghakimi, David pernah melihat salah seorang dari mereka berbohong kepada pacarnya. Merasa bersalah, pemuda itu kemudian mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada si pacar. Saat memikirkan hal tersebut, David mengatakan bahwa kejadian itu membuatnya semakin akrab dengan teman-teman Kristennya. Ia menyadari bahwa mereka juga membutuhkan anugerah, sama seperti dirinya.
Di hadapan orang-orang yang kita kenal, kita tidak perlu bersikap seolah-olah kita telah sempurna. Kita boleh berterus-terang tentang kesalahan dan pergumulan kita. Rasul Paulus secara terbuka menyebut dirinya sebagai orang yang paling berdosa (1Tim. 1:15). Ia juga menjabarkan pergumulannya melawan dosa di Roma 7, dengan mengatakan, “Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya” (ay.18 BIS). Sayangnya, justru sebaliknya yang terjadi, “Saya melakukan hal-hal yang jahat, yang saya tidak mau lakukan” (ay.19 BIS).
Berterus terang tentang pergumulan-pergumulan kita menempatkan kita dalam kedudukan yang sejajar dengan siapa saja di dunia ini. Memang demikianlah keadaan kita! Namun, karena Yesus Kristus, kita tidak perlu membawa dosa kita selamanya. Ini seperti pepatah yang menyatakan, “Seorang Kristen bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang telah diampuni.” —Jennifer Benson Schuldt
Ya Yesus, aku menyembah-Mu sebagai satu-satunya manusia sempurna yang pernah ada di dunia. Terima kasih karena Engkau telah memungkinkan kami untuk menang atas dosa.
Satu-satunya perbedaan antara orang Kristen dan orang lain adalah pengampunan.

Wednesday, August 3, 2016

Lebih dari yang Kita Bayangkan

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. —Efesus 3:20
Lebih dari yang Kita Bayangkan
Apa sajakah lima mainan terbaik sepanjang masa? Jonathan H. Liu menyebutkan benda-benda berikut ini: Tongkat, kotak, tali, gulungan karton, dan tanah (dari kolom GeekDad di wired.com). Semua benda itu tersedia di mana-mana, serbaguna, cocok untuk segala usia, harganya terjangkau, bisa dikembangkan sebebas imajinasi kita, dan tidak diperlukan baterai untuk memainkannya.
Imajinasi memainkan peran penting dalam hidup kita, sehingga tidaklah aneh apabila Paulus menyebut tentang pemikiran dalam doanya bagi para pengikut Yesus di Efesus (Ef. 3:14-21). Setelah memohon Allah untuk menguatkan mereka dengan kuasa-Nya oleh Roh-Nya (ay.16), Paulus berdoa supaya mereka dapat memahami dan mengalami kepenuhan kasih Kristus (ay.17-19). Sebagai penutup, Paulus memuliakan Allah “yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (ay.20).
Sering kita membiarkan pengalaman kita membatasi doa-doa kita. Mungkin kita terjebak dalam situasi yang kita anggap tidak bisa berubah, terikat oleh kebiasaan yang merusak diri sendiri, atau terjerat perilaku-perilaku lama yang tampaknya sulit untuk diubah. Seiring berjalannya waktu, kita mungkin merasa semua itu tidak lagi dapat diubah. Namun Paulus menyatakan bahwa pemikiran itu tidak benar.
Oleh kekuatan kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita, Allah sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang pernah kita harapkan atau bayangkan. —David McCasland
Bapa, tolonglah kami hari ini untuk menerima semua yang telah Engkau karuniakan kepada kami melalui Anak-Mu, yakni pengampunan, pengharapan, semangat, dan kekuatan untuk menjalani kehidupan kami yang baru.
Jangan pernah mengukur kuasa Allah yang tak terbatas dengan harapanmu yang terbatas.

Tuesday, August 2, 2016

Jangan Pernah Menyerah!

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. —2 Timotius 4:7
Jangan Pernah Menyerah!
Joop Zoetemelk menjadi pembalap sepeda paling sukses dari Belanda karena ia tidak pernah menyerah. Ia berhasil menyelesaikan lomba Tour de France sebanyak 16 kali; dengan menempati posisi kedua sebanyak lima kali sebelum menjuarainya pada tahun 1980. Itulah yang disebut ketekunan!
Banyak pemenang telah menggapai kesuksesan berkat usaha mereka yang tidak pernah menyerah. Namun demikian, ada banyak juga orang yang telah kehilangan kesempatan untuk meraih keberhasilan karena mereka terlalu cepat menyerah. Itu dapat terjadi di tiap bidang kehidupan: keluarga, pendidikan, pergaulan, pekerjaan, atau pelayanan. Ketekunan menjadi kunci meraih kemenangan.
Rasul Paulus tetap bertekun meski mengalami penganiayaan dan kesengsaraan (2Tim. 3:10-11). Ia memandang hidup dengan realistis dan mengakui bahwa sebagai pengikut Kristus, kita akan menderita penganiayaan (ay.12-13). Namun, ia menginstruksikan Timotius untuk beriman kepada Allah dan berpegang pada penguatan yang diberikan Kitab Suci (ay.14-15). Dengan melakukan semua itu, Timotius akan dimampukan untuk menghadapi kekecewaan dengan tetap bertekun dalam pengharapan. Di penghujung hidupnya, Paulus berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (4:7).
Kita juga dapat mengizinkan Kitab Suci untuk menguatkan kita di tengah perlombaan iman yang telah diwajibkan bagi kita. Karena Allah kita telah berjanji dan pasti akan menepati janji-Nya, Dia akan memberikan upah bagi mereka yang dengan setia menyelesaikan perlombaan itu (ay.8). —Jaime Fernandez Garrido
Bapa Surgawi, beriku kekuatan dalam karakter dan ketekunan untuk melayani-Mu dengan lebih baik. Tolong aku agar tidak kecewa ketika keadaan menjadi sulit, melainkan bergantung kepada-Mu dalam menghadapinya.
Iman menghubungkan kelemahan kita dengan kekuatan Allah.

Monday, August 1, 2016

Yang Terbaik Masih akan Dijelang

Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. —Ulangan 33:27
Yang Terbaik Masih akan Dijelang
Apakah masa-masa terbaik dalam hidupmu sudah terjadi di masa lalu atau baru akan kamu jelang di masa depan? Cara pandang kita terhadap kehidupan—dan jawaban atas pertanyaan tadi—dapat berubah seiring waktu. Semasa muda, kita melihat ke masa depan dan ingin segera tumbuh dewasa. Setelah kita dewasa dan bertambah tua, kita merindukan masa lalu dan ingin menjadi muda lagi. Namun saat kita berjalan bersama Allah, berapa pun usia kita, masa-masa terbaik itu masih akan kita jelang!
Dalam masa hidupnya yang panjang, Musa menyaksikan hal-hal menakjubkan yang Allah lakukan, dan banyak dari hal menakjubkan itu terjadi ketika ia tidak lagi berusia muda. Musa berumur 80 tahun ketika menghadap Firaun dan melihat bagaimana Allah secara ajaib membebaskan umat-Nya dari perbudakan (Kel. 3-13). Musa menyaksikan terbelahnya Laut Merah, melihat manna yang turun dari langit, dan bahkan berbicara kepada Allah dengan “berhadapan muka” (14:21; 16:4; 33:11).
Sepanjang hidupnya, Musa menjalani hidup dengan berharap penuh dan menantikan karya-karya Allah selanjutnya (Ibr. 11:24-27). Ia berusia 120 tahun pada tahun terakhir hidupnya, dan bahkan pada usia itu ia memahami bahwa hidupnya bersama Allah baru saja dimulai dan bahwa kebesaran dan kasih Allah tidak akan pernah berakhir di hidupnya.
Berapa pun usia kita, “Allah yang abadi adalah tempat perlindungan [kita], dan di bawah [kita] ada lengan-lengan yang kekal” (Ul. 33:27). Dengan lengan-lengan-Nya, Dia senantiasa membawa kita menikmati sukacita-Nya setiap hari. —James Banks
Ya Tuhan Allahku, aku memuji Engkau atas segala perbuatan-Mu di masa lalu. Aku menantikan dengan penuh ucapan syukur atas semua yang akan Engkau lakukan di masa depan. Aku bersyukur atas hari ini dan semua berkat-Mu.
Ketika kita berjalan bersama Allah, masa-masa terbaik masih akan kita jelang.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate