Pages - Menu

Monday, November 30, 2015

Manifes Surgawi

Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. —Lukas 10:20
Manifes Surgawi
Di gerai masuk pesawat Kenya Airways, saya menyerahkan paspor untuk verifikasi. Ketika petugas mencari nama saya dalam manifes—dokumen yang berisi daftar nama penumpang, nama saya tidak ada. Masalahnya? Pemesanan berlebih dan kurangnya konfirmasi. Hilanglah harapan saya untuk pulang hari itu.
Peristiwa itu mengingatkan saya pada sebuah manifes lain, yakni Buku Kehidupan. Di Lukas 10, Yesus mengutus para murid-Nya untuk melakukan misi penginjilan. Saat kembali, mereka dengan sukacita melaporkan keberhasilan mereka. Namun Yesus berkata kepada mereka, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (ay.20). Yang membuat kita bersukacita bukanlah hanya karena kita berhasil, tetapi karena nama kita tertulis di dalam Buku Allah.
Namun bagaimana kita bisa yakin akan hal itu? Firman Allah memberitahukannya kepada kita, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9).
Di Wahyu 21, Yohanes memberikan gambaran yang menakjubkan tentang sebuah Kota Kudus yang menanti mereka yang percaya kepada Kristus, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu” (ay.27).
Kitab Kehidupan itu adalah manifes surgawi milik Allah. Apakah namamu tertulis di dalamnya? —Lawrence Darmani
Bapa Surgawi, terima kasih atas karunia Anak-Mu, yang berjanji untuk menyediakan tempat bagi kami. Kami juga berterima kasih karena Engkau sedang mempersiapkan kami untuk tempat tersebut.
Allah membuka pintu surga bagi mereka yang membuka hati kepada-Nya.

Sunday, November 29, 2015

Titik Terendah

Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku. —Mazmur 40:18
Titik Terendah
C. S. Lewis dan kakaknya, Warren (Warnie), bertahan selama beberapa semester di Wynyard, sebuah sekolah asrama untuk anak laki-laki di Inggris. Kepala sekolah yang kejam membuat anak-anak tidak tahan tinggal di sana. Puluhan tahun kemudian, dengan hikmatnya, Warnie menulis, “Saya sekarang berumur 64 tahun lebih sedikit, belum pernah saya berada dalam keadaan di mana saya tidak terhibur dengan merenungkan bahwa apa pun yang saya alami kini jauh lebih baik daripada pengalaman saya di Wynyard.” Sebagian besar dari kita dapat mengingat masa-masa yang gelap dan sulit dalam hidup kita dan bersyukur bahwa saat ini keadaan kita jauh lebih baik daripada masa itu.
Mazmur 40:2-6 mencatat titik terendah dalam hidup Daud saat ia berseru kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Allah mengangkatnya dari “lobang kebinasaan” dan “lumpur rawa”, lalu menempatkan kakinya di atas bukit batu (ay.3). “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku,” kata Daud, “untuk memuji Allah kita” (ay.4).
Namun sering kali kelepasan dari depresi dan keputusasaan tidak cukup kita alami satu kali. Mazmur 40 berlanjut dengan permohonan Daud yang terus-menerus agar rahmat, kasih, dan kebenaran Allah menjaganya dari dosa dan dari ancaman musuh-musuhnya (ay.12-15).
Bersama Daud, manakala kita berada di titik terendah, kita dapat berkata, “Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku, janganlah berlambat!” (ay.18). —David McCasland
Bagaimana ingatanmu akan titik terendah dalam hidupmu mendorongmu mempercayai bahwa Allah akan menolongmu hari ini?
Pribadi pemelihara alam semesta ini takkan pernah mengecewakanmu.

Saturday, November 28, 2015

Melihat Diri Kita Sendiri

Hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri. —1 Korintus 11:28
Melihat Diri Kita Sendiri
Dahulu kala, sebelum cermin ditemukan, orang jarang memandangi dirinya sendiri. Genangan air, aliran air, dan air sungai menjadi sebagian cara bagi seseorang untuk melihat pantulan diri mereka sendiri. Namun cermin telah mengubah semuanya. Kemudian, penemuan kamera semakin mendorong kita terpesona pada penampilan kita sendiri. Kini kita dapat menyimpan gambaran diri kita dari waktu tertentu di sepanjang hidup kita. Perilaku tersebut baik bagi penyusunan album foto dan catatan sejarah keluarga, tetapi pengaruhnya juga dapat merusak kesejahteraan rohani kita. Kesenangan untuk melihat diri kita sendiri melalui sorotan kamera dapat membuat kita terlalu memusatkan perhatian pada penampilan luar dan melemahkan minat kita untuk memeriksa batin kita.
Pengujian diri adalah unsur penting bagi kehidupan rohani yang sehat. Allah ingin kita melihat diri kita sendiri agar kita dapat terhindar dari konsekuensi pilihan-pilihan berdosa yang pernah kita ambil. Sedemikian pentingnya hal itu sehingga Alkitab berkata bahwa kita tidak dapat ikut ambil bagian dalam Perjamuan Tuhan tanpa terlebih dulu menguji diri kita sendiri (1Kor. 11:28). Maksud dari pengujian diri itu tidak hanya untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah, tetapi juga untuk memastikan bahwa hubungan kita dengan sesama kembali pulih. Perjamuan Tuhan merupakan peringatan akan tubuh Kristus, dan kita tidak bisa merayakannya dengan benar apabila kita tidak hidup harmonis dengan saudara seiman yang lain.
Melihat dan mengakui dosa kita berarti membangun kesatuan dengan sesama dan hubungan yang sehat dengan Allah. — Julie Ackerman Link
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk lebih mempedulikan keadaan hatiku daripada penampilan fisikku. Ubahlah aku dengan kuasa Roh-Mu.
Ketika kita menggunakan firman Allah sebagai cermin, kita akan melihat diri kita dengan lebih jelas.

Friday, November 27, 2015

Bantuan dari Luar

Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. —1 Yohanes 3:20
Bantuan dari Luar
Dalam suatu perjalanan bisnis, suami saya baru saja tiba di kamar hotelnya ketika ia mendengar bunyi yang tidak biasa. Ia pergi ke lorong untuk mencari tahu dan mendengar seseorang berteriak dari kamar terdekat. Dengan bantuan petugas hotel, ia menemukan seseorang yang sedang terkunci di kamar mandi. Kunci pintu kamar mandi itu tidak berfungsi dan orang yang terperangkap itu mulai panik. Ia merasa tak bisa bernapas dan mulai berteriak minta tolong.
Adakalanya kita merasa terperangkap dalam hidup ini. Kita memukul-mukul pintu, menarik pegangan pintunya, tetapi kita tak bisa keluar. Kita membutuhkan bantuan dari luar, mirip orang yang terperangkap di kamar mandi hotel tadi.
Untuk mendapatkan bantuan dari luar, kita harus mengakui bahwa kita tidak berdaya. Terkadang kita melihat ke dalam diri sendiri untuk menemukan jawaban atas masalah kita, tetapi Alkitab mengatakan, “Betapa liciknya hati” (Yer. 17:9). Sebenarnya, kita sendiri sering menjadi sumber masalah dalam hidup kita.
Syukurlah, “Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1Yoh. 3:20). Oleh karena itulah, Dia tahu betul cara yang terbaik untuk menolong kita. Hanya Allah yang bisa memberikan perubahan hati yang sejati dan perkembangan yang nyata bagi penyelesaian masalah kita. Dengan mempercayai-Nya dan menjalani hidup untuk menyenangkan-Nya, kita bisa bertahan dan menjadi benar-benar merdeka. —Jennifer Benson Schuldt
Bapa Surgawi, aku merendahkan diriku di hadapan-Mu. Aku tak bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Tolonglah aku untuk mencari pertolongan dari-Mu dan melihat dengan sudut pandang-Mu.
Allah menolong orang yang menyadari ketidakberdayaannya.

Thursday, November 26, 2015

Tidak Mau Kacang Polong!

Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. —Filipi 4:6
Tidak Mau Kacang Polong!
Ketika anak-anak kami masih kecil, salah satu dari mereka terang-terangan mengatakan “tidak” ketika kami menyuguhkan kacang polong kepadanya untuk malam malam. Kami pun menyahut, “Tidak apa?” Kami berharap ia akan berkata, “Tidak, terima kasih.” Namun ia justru berkata, “Tidak mau kacang polong!” Sikapnya itu membuat kami harus berbicara tentang pentingnya sopan santun. Bahkan, kami menggunakan banyak kesempatan lainnya untuk mengajarkan tentang sopan santun.
Lebih dari sikap sopan santun—yang bersifat eksternal—Tuhan kita mengingatkan agar kita memiliki hati yang penuh ucapan syukur. Kitab Suci memuat lusinan ayat yang mengingatkan kita bahwa mengucap syukur merupakan hal yang terpenting dalam relasi kita dengan Allah. Mazmur 118 diawali dan diakhiri dengan nasihat, “Bersyukurlah kepada TUHAN” (ay.1,29). Kita patut bersyukur ketika kita masuk ke dalam hadirat-Nya (100:4). Dan segala permohonan yang kita nyatakan kepada-Nya haruslah diliputi dengan ucapan syukur (Flp. 4:6). Sikap bersyukur itu akan menolong kita untuk mengingat berkat-berkat melimpah yang telah kita terima. Di tengah kesulitan dan keputusasaan sekalipun, kehadiran dan kasih Allah selalu menyertai kita.
Maka tidak heran jika pemazmur mengingatkan kita, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1). —Joe Stowell
Tuhan, kebaikan-Mu cukup untuk membuatku bersyukur setiap hari. Ajarku untuk menjalani hidup dengan hati yang bersyukur dan ingatkanlah aku untuk rajin bersyukur kepada-Mu atas kebaikan dan kasih setia-Mu.
Hanya dengan bersyukur, hidup pun menjadi kaya. —Dietrich Bonhoeffer

Wednesday, November 25, 2015

Bersama Kita dan di dalam Kita

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. —Yohanes 14:16
Bersama Kita dan di dalam Kita
Putra saya baru saja masuk dalam Kelompok Bermain. Di hari pertamanya, ia menangis dan menyatakan, “Aku tak suka sekolah.” Saya dan suami berusaha membujuknya. “Kami mungkin tidak menemanimu ke sekolah, tetapi kami mendoakanmu. Lagipula, Yesus selalu bersamamu.”
“Tetapi aku tak bisa melihat-Nya!” ujarnya. Suami saya memeluknya dan berkata, “Yesus tinggal di dalammu. Dan Dia tak akan meninggalkanmu sendirian.” Putra saya menaruh tangan di dadanya dan berkata, “Ya, Yesus tinggal di dalamku.”
Tidak hanya anak-anak yang mengalami kegelisahan karena takut ditinggalkan. Dalam setiap tahapan hidup ini, kita menghadapi masa-masa perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi, adakalanya karena jarak geografis dan terkadang karena kematian. Namun demikian, kita perlu mengingat, bahwa meski kita merasa ditinggalkan oleh sesama, Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dia telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Allah telah mengutus Roh Kebenaran—Pembela dan Penolong kita—untuk tinggal bersama kita dan di dalam kita selamanya (Yoh. 14:15-18). Kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.
Putra saya belajar untuk percaya, demikian juga saya. Seperti putra saya, saya tidak dapat melihat Roh Kudus, tetapi saya merasakan kuasa-Nya setiap hari ketika Dia menguatkan dan membimbing saya melalui firman Tuhan yang saya baca. Marilah bersyukur kepada Allah untuk pemeliharaan-Nya yang indah, Roh Kristus yang bersama kita dan tinggal di dalam kita. Tentulah kita tak pernah sendirian! —Keila Ochoa
Tuhan, terima kasih untuk Roh Kudus-Mu yang hidup di dalam diriku.
Kita takkan pernah sendirian.

Tuesday, November 24, 2015

Di Balik Kekecewaan

Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya. —Mazmur 37:34
Di Balik Kekecewaan
Mungkin kamu pernah melihat video dari seorang anak laki-laki yang baru tahu jika ia mendapat satu lagi adik perempuan. Dengan kesal, ia mengeluh, “Perempuan lagi, perempuan lagi!”
Mungkin keluhan itu terdengar lucu, tetapi kekecewaan bukanlah hal yang lucu. Kekecewaan ada di mana-mana. Ada satu kisah di Alkitab yang marak dengan kekecewaan. Yakub setuju bekerja tujuh tahun agar dapat menikahi Rahel, putri majikannya. Namun setelah kontraknya usai, Yakub terkejut ketika ia sadar bahwa yang dinikahinya bukanlah Rahel melainkan Lea, kakak Rahel.
Kita mungkin lebih memperhatikan kekecewaan Yakub, tetapi bayangkan bagaimana perasaan Lea! Tentulah segala harapan dan impiannya buyar pada saat ia dipaksa untuk menikahi pria yang tak mencintai atau menginginkan dirinya.
Mazmur 37:4 menyatakan, “Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Apakah kita harus percaya bahwa orang yang takut akan Allah tidak akan pernah dikecewakan? Tentu tidak, dan pemazmur dengan jelas menyatakan bahwa ia melihat ketidakadilan di mana-mana. Namun ia melihat jauh ke depan: “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia” (ay.7). Ia pun menyimpulkan: “Orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri” (ay.11).
Pada akhirnya, justru Lea yang dihormati Yakub dan dimakamkan di makam keluarga bersama Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka (Kej. 49:31). Dan melalui garis keturunan yang diberikan Lea—yang selama hidupnya merasa tidak dicintai—Allah memberkati dunia dengan Juruselamat kita. Yesus membawa keadilan, memulihkan pengharapan, dan memberi kita warisan yang jauh melebihi dari semua impian kita. —Tim Gustafson
Ya Tuhan, alangkah sulitnya menanti dengan sabar untuk hal-hal baik. Ampuni kami karena sering membandingkan diri dengan orang lain dan mengeluhkan hal-hal yang tak kami miliki. Tolong kami untuk datang kepada-Mu dengan sikap yang baru hari ini.
Yesus adalah satu-satunya sahabat yang tidak pernah mengecewakan.

Monday, November 23, 2015

Suara Keheningan

Perkataan orang yang baik, merupakan berkat bagi banyak orang; —Amsal 10:21 BIS
Suara Keheningan
Baru-baru ini seorang teman menyebutkan pepatah lama yang berbunyi, “Air beriak tanda tak dalam”. Ia bermaksud mengatakan bahwa dari pengamatannya, seseorang yang banyak bicara biasanya justru isi perkataannya kurang berbobot. Masalahnya diperparah ketika kita juga tidak mendengarkan orang lain dengan baik. Saya teringat pada lirik lagu lama dari Simon dan Garfunkel berjudul Sounds of Silence (Suara Keheningan). Lagu itu berbicara tentang seseorang yang mendengar, tetapi tak menyimak. Mereka mendengar orang lain berbicara tetapi gagal menenangkan pikiran mereka sendiri agar dapat menyimak dengan baik. Alangkah baiknya apabila kita semua belajar untuk berdiam diri.
“Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara” (Pkh. 3:7). Sikap berdiam diri yang baik adalah diam untuk mendengarkan, berdiam diri dengan rendah hati. Sikap itu membuat kita dapat mendengarkan dengan benar, memahami dengan benar, dan berkata-kata dengan benar. “Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam,” kata Amsal, “tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” (Ams. 20:5). Dibutuhkan kerelaan yang besar untuk mendengar dengan tekun agar seseorang dapat menyelami isi hati orang lain.
Sementara kita mendengarkan orang lain, kita juga perlu mendengarkan Allah dan menyimak firman-Nya. Saya terpikir tentang Yesus, yang menulis dengan jari-Nya di tanah sementara orang Farisi membawa perempuan yang tertangkap berzina (lihat Yoh. 8:1-11). Apa yang sedang Yesus lakukan? Menurut saya, Yesus mungkin sedang mendengarkan suara Bapa-Nya dan bertanya, “Apa yang sebaiknya Kita katakan pada kerumunan orang dan perempuan ini?” Tanggapan luar biasa yang diberikan Yesus masih berpengaruh hingga hari ini. —David Roper
Ya Bapa, kiranya hari ini Roh-Mu mengingatkan kami untuk berdiam diri sehingga kami bisa mendengar suara-Mu lebih dulu, lalu mengerti isi hati orang lain. Ajar kami untuk tahu waktunya untuk berbicara atau berdiam diri.
Berdiam diri di saat yang tepat lebih berbicara banyak daripada kata-kata.

Sunday, November 22, 2015

Yang Paling Utama

Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik. —Lukas 10:42
Yang Paling Utama
Ketika menyaksikan pertunjukan kembang api pada suatu perayaan di kota tempat saya tinggal, perhatian saya terpecah. Di sebelah kanan dan kiri dari pertunjukan utama, kembang api yang lebih kecil sesekali meletup di udara. Kembang api kecil tersebut memang bagus, tetapi melihatnya membuat saya melewatkan pertunjukan kembang api utama yang jauh lebih indah, yang terjadi tepat di atas saya.
Terkadang hal-hal yang baik merenggut kita dari hal-hal yang lebih baik. Itulah yang terjadi dalam kehidupan Marta, yang kisahnya tertulis di Lukas 10:38-42. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di kampung Betania, Marta menerima mereka di rumahnya. Seorang tuan rumah yang baik biasanya akan menyiapkan hidangan bagi para tamu yang datang, jadi kita tidak bisa terlalu menyalahkan Marta.
Ketika Marta mengeluh karena Maria, kakaknya, tidak membantunya, Yesus membela pilihan Maria untuk duduk dekat kaki-Nya. Namun Tuhan tidak mengatakan bahwa Maria lebih rohani daripada adiknya. Dalam peristiwa lain, Marta sepertinya lebih memperlihatkan iman kepada Yesus daripada Maria (Yoh. 11:19-20). Yesus juga bukan sedang mengritik kerinduan Marta yang ingin memenuhi kebutuhan jasmani mereka. Namun, apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada Marta adalah bahwa dalam segala kesibukan pelayanan kita, mendengarkan Dia adalah hal yang paling utama. —Anne Cetas
Ya Tuhan, tolong aku mengingat bahwa melayani-Mu memang penting, tetapi itu takkan pernah bisa menggantikan persekutuan pribadiku dengan-Mu.
Yesus rindu bersekutu dengan kita.

Saturday, November 21, 2015

Memenangi Penghargaan Besar

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. —Filipi 3:14
Memenangi Penghargaan Besar
Dalam setiap bidang pekerjaan, sebuah penghargaan dianggap sebagai lambang dari pengakuan dan kesuksesan. Medali emas Olimpiade, anugerah Grammy, piala Oscar, atau Hadiah Nobel termasuk di antara “penghargaan yang besar”. Namun demikian, ada satu penghargaan yang jauh lebih besar dan yang dapat diperoleh siapa saja.
Rasul Paulus tahu banyak tentang perlombaan atletik di abad pertama di mana semua peserta berusaha sebaik mungkin demi memenangi hadiah. Dengan mengacu pada perlombaan tersebut, ia menulis kepada para pengikut Kristus di Filipi: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:7). Mengapa? Karena hatinya telah memiliki tujuan baru: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya” (ay.10). Maka Paulus berkata, “Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (ay.12). Piala yang diperolehnya dari menyelesaikan pertandingan itu adalah “mahkota kebenaran” (2Tim. 4:8).
Setiap dari kita dapat berusaha meraih hadiah tersebut, dengan menyadari bahwa kita menghormati Allah dengan mengejar hadiah itu. Dalam pekerjaan sederhana kita sehari-hari, kita sedang terus melaju demi meraih “penghargaan yang besar”—“hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp. 3:14). —David McCasland
Ya Tuhan, ketika aku patah semangat, tolong aku untuk tetap berjuang, dan terus menantikan harinya ketika aku akan bersama-Mu selamanya.
Apa yang telah dilakukan bagi Kristus dalam hidup ini akan dihargai kelak di kehidupan mendatang.

Friday, November 20, 2015

Tujuan Utama Kami

Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. —Galatia 1:10
Tujuan Utama Kami
Tekanan sosial merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Terkadang kita mendasarkan keputusan pada apa yang orang lain pikirkan atau katakan daripada keyakinan kita dan apa yang menyenangkan Allah. Kita khawatir akan dihakimi atau dihina.
Rasul Paulus pernah mengalami tekanan sosial. Sejumlah orang Kristen Yahudi meyakini bahwa orang-orang bukan Yahudi harus disunat agar mereka benar-benar diselamatkan (Gal. 1:7; lihat 6:12-15). Namun, Paulus tetap berpegang pada keyakinannya. Ia terus memberitakan bahwa keselamatan adalah semata-mata karena kasih karunia oleh iman; tidak perlu lagi ada usaha lebih lanjut. Karena keyakinan itulah, ia dituduh telah mengangkat dirinya sendiri menjadi rasul. Mereka kemudian menuduh Injil yang dikabarkan Paulus tidak pernah mendapat persetujuan para rasul (2:1-10).
Meski memperoleh tekanan, Paulus sangat jelas mengetahui siapa yang ia layani, yakni Kristus. Yang terpenting bagi Paulus adalah persetujuan Allah, bukan persetujuan manusia. Ia berketetapan tidak untuk mengejar pengakuan manusia, melainkan pengakuan Allah (1:10).
Kita semua juga adalah pelayan Kristus. Kita melayani Allah baik saat orang menghormati maupun membenci kita, baik mereka memfitnah atau memuji kita. Suatu hari nanti “setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Rm. 14:12). Itu bukan berarti kita tak perlu mempertimbangkan apa yang dipikirkan atau dikatakan orang lain, melainkan bahwa menyenangkan Allah menjadi tujuan utama kita. Kita ingin mendengar Juruselamat kita berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!” (Mat. 25:23). —Jaime Fernández Garrido, Penulis Tamu
Ya Tuhan, tanpa mempedulikan apa yang orang lain katakan atau lakukan, berikanlah kepadaku keberanian untuk tetap setia kepada-Mu hari ini.
(Dr. Jaime Fernández Garrido adalah direktur program penginjilan radio dan televisi Born Again, penulis buku, dan pencipta lebih dari 400 himne dan lagu rohani.)
Tetaplah mengikut Yesus.

Thursday, November 19, 2015

Sesuai dengan yang Ada Tertulis

[Mereka] membangun mezbah . . . untuk mempersembahkan korban bakaran di atasnya, sesuai dengan yang ada tertulis. —Ezra 3:2
Sesuai dengan yang Ada Tertulis
Dalam merakit suatu barang, entah itu barang elektronik, perabot rumah, dan yang sejenisnya, saya memiliki cara yang berbeda dengan Steve, anak saya. Steve cenderung berpikir secara mekanis, jadi biasanya ia tidak memerlukan buku petunjuk dan langsung merakit. Sementara ia sudah merakit setengah jalan, saya masih saja membaca dengan perlahan buku petunjuk tentang cara merakit barang tersebut.
Adakalanya kita berhasil tanpa perlu petunjuk. Namun demikian, untuk mengatur kehidupan yang mencerminkan kebaikan dan hikmat Allah, kita tidak boleh mengabaikan arahan yang Dia berikan kepada kita di dalam Alkitab.
Umat Israel yang telah kembali ke tanah kediaman mereka setelah pengasingan di Babel menjadi contoh yang baik untuk hal itu. Ketika mulai membangun kembali tata ibadah mereka, mereka melakukannya “sesuai dengan yang ada tertulis dalam kitab Taurat Musa” (Ezr. 3:2). Dengan membangun mezbah yang benar dan merayakan hari raya Pondok Daun seperti yang ditetapkan Allah dalam Imamat 23:33-43, mereka melakukannya tepat seperti yang Allah perintahkan.
Kristus juga memberikan arahan pada para pengikut-Nya. Dia berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Dan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37,39). Saat kita percaya dan datang kepada-Nya, Dia akan menunjukkan kepada kita jalan hidup yang benar. Sebagai pribadi yang menciptakan kita, Allah jauh lebih tahu daripada kita tentang jalan hidup yang benar itu. —Dave Branon
Ingatkan kami, ya Tuhan, saat kami memulai hari, Engkau telah menunjukkan kepada kami teladan-Mu dalam menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Tolong kami untuk membaca firman-Mu dan mengikuti arahan yang Engkau berikan bagi kami oleh kasih-Mu.
Jika kita ingin Allah memimpin kita, kita harus rela mengikut Dia.

Wednesday, November 18, 2015

Merefleksikan Sang Putra

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. —Yohanes 1:5
Merefleksikan Sang Putra
Karena lokasinya yang dikelilingi pegunungan terjal dan terletak di garis lintang yang tinggi, kota Rjukan di Norwegia tidak tersinari oleh sinar matahari dari Oktober sampai Maret. Untuk menerangi kota, penduduk memasang cermin-cermin besar di sisi gunung untuk memantulkan sinar matahari dan mengarahkan sinarnya ke pusat kota. Sinar matahari dapat terus terpancar karena cermin-cemin raksasa itu berotasi sesuai dengan waktu terbit dan terbenamnya matahari.
Saya sering berpikir bahwa kehidupan Kristen memiliki skenario yang serupa. Yesus berkata bahwa pengikut-pengikut-Nya adalah “terang dunia” (Mat. 5:14). Murid-Nya yang bernama Yohanes menulis bahwa Kristus adalah terang sejati yang “bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh. 1:5). Demikian juga, Yesus mengundang kita untuk merefleksikan terang kita dalam kegelapan di sekeliling kita: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). Itulah panggilan kita untuk menunjukkan kasih saat berhadapan dengan kebencian, kesabaran di tengah masa kesukaran, dan kedamaian saat terjadi perselisihan. Rasul Paulus mengingatkan kita, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef. 5:8).
Yesus juga berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Terang kita adalah refleksi dari Yesus, Sang Putra. Sama seperti jika tanpa matahari, cermin-cermin raksasa di Rjukan tidak memiliki sinar untuk dipantulkan, demikian juga kita tidak dapat melakukan apa pun tanpa Yesus. —Lawrence Darmani
Ajari kami, ya Tuhan, apa artinya merefleksikan terang-Mu, khususnya saat beragam tuntutan hidup menggoda kami untuk mementingkan diri sendiri. Tolong kami hari ini untuk menjalani hidup dalam kasih-Mu.
Refleksikanlah Sang Anak dan bersinarlah bagi-Nya.

Tuesday, November 17, 2015

Aman dalam Tangan-Nya

Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu. —Yesaya 66:13
Aman dalam Tangan-Nya
Saya duduk di samping tempat tidur putri saya di sebuah kamar pemulihan setelah ia menjalani operasi. Ketika ia mengedip-ngedipkan matanya, ia pun menyadari bahwa ia merasa tidak nyaman dan mulai menangis. Saya mencoba untuk menenangkannya dengan membelai lengannya, tetapi ia justru menjadi semakin kesal. Dengan bantuan perawat, saya memindahkan putri saya dari tempat tidur ke pangkuan saya. Saya mengusap air mata dari pipinya dan mengingatkannya bahwa nanti ia akan merasa lebih baik.
Melalui Yesaya, Allah berfirman kepada bangsa Israel, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Yes. 66:13). Allah berjanji untuk memberi anak-anak-Nya damai sejahtera dan Dia menggendong mereka sama seperti seorang ibu menggendong anaknya. Pesan yang penuh kasih sayang itu ditujukan bagi orang-orang yang takut kepada Allah—mereka yang “gentar kepada firman-Nya” (Yes. 66:5).
Kesanggupan dan kerinduan Allah untuk menghibur umat-Nya kembali dinyatakan dalam surat Paulus kepada orang-orang percaya di Korintus. Paulus mengatakan bahwa Tuhanlah “yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami” (2Kor. 1:3-4). Allah itu lemah lembut dan ikut menyelami kesusahan yang kita derita.
Kelak segala kesengsaraan akan usai. Air mata kita akan dihapuskan selamanya, dan dengan aman kita akan berada dalam tangan Allah selamanya (Why. 21:4). Hingga tiba saat itu, kita dapat mengandalkan kasih Allah yang menopang kita saat kita menderita. —Jennifer Benson Schuldt
Allah terkasih, tolong ingatkan aku bahwa tak ada apa pun yang dapat memisahkanku dari kasih-Mu. Yakinkanlah aku akan pemeliharaan-Mu melalui kuasa Roh Kudus.
Allah selalu menghibur umat-Nya.

Monday, November 16, 2015

Berbagi Pergumulan

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. —Galatia 6:2
Berbagi Pergumulan
Tanggal 25 April 2015 adalah Peringatan Hari ANZAC ke-100. Peringatan itu dirayakan setiap tahunnya oleh Australia dan Selandia Baru untuk menghormati para anggota Kesatuan Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru (ANZAC) yang berjuang bersama dalam Perang Dunia I. Kerja sama itu menandai suatu masa ketika masing-masing negara tersebut tidak perlu menghadapi kengerian perang itu sendirian, dan para tentara dari kedua negara itu turun tangan untuk berjuang bersama.
Berbagi pergumulan hidup merupakan sikap mendasar yang dituntut dari para pengikut Kristus dalam hidup mereka. Rasul Paulus menantang kita, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2). Dengan bergandengan tangan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan-kesulitan hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain—dan bukannya membuat kita terkucil sendirian di tengah penderitaan.
Sesungguhnya kita sedang meneladani kasih Kristus saat kita ikut merasakan pergumulan orang lain. Kita membaca dalam kitab Yesaya, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (Yes. 53:4). Sebesar apa pun pergumulan yang kita hadapi, kita takkan pernah menghadapinya sendirian. —Bill Crowder
Terima kasih, ya Bapa, karena aku tidak harus menjalani hidupku sendirian. Engkau sungguh dekat kepadaku.
Kita dapat berjalan lebih jauh bersama-sama daripada ketika berjalan sendiri.

Sunday, November 15, 2015

Siapa Diri Kita

Kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. —1 Petrus 2:9
Siapa Diri Kita
Dalam autobiografinya, Corrie ten Boom menceritakan pengalaman mengerikan yang dialami dirinya dan saudarinya, Betsie, dalam kamp konsentrasi Nazi pada awal dekade 1940-an. Mereka pernah dipaksa untuk menanggalkan seluruh pakaian mereka dalam sebuah pemeriksaan. Saat berdiri di barisan itu, Corrie merasa begitu dipermalukan dan ditinggalkan. Tiba-tiba, ia teringat bahwa Yesus pernah tergantung telanjang di kayu salib. Dengan sikap takjub sekaligus tunduk menyembah, Corrie berbisik kepada kakaknya, “Betsie, Yesus juga pernah ditelanjangi.” Betsie terperanjat dan berkata, “Oh, Corrie, . . . dan aku tak pernah bersyukur kepada-Nya.”
Mudah bagi kita untuk hidup tanpa rasa syukur di tengah dunia yang penuh masalah, pergumulan, dan duka ini. Dari hari ke hari, kita dapat menemukan banyak alasan untuk mengeluh. Namun demikian, Mazmur 100 menasihati umat Allah untuk bergembira, bersukacita, dan bersyukur karena “Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (ay.3). Ketika mengingat siapa diri kita sesungguhnya, kita dapat mengucap syukur, karena dalam keadaan yang terburuk sekalipun, kita bisa mengingat kasih dan pengorbanan Kristus untuk kita.
Jangan biarkan kekejaman dunia ini merenggut hatimu yang penuh rasa syukur. Ingatlah bahwa kamu adalah anak Allah, dan Dia telah menunjukkan kebaikan dan kemurahan-Nya kepadamu melalui karya-Nya di kayu salib. —Albert Lee
Aku bersyukur, Tuhan, meski hatiku kadang menjadi dingin, tetapi saat kuingat bahwa aku milik-Mu dan Engkau milikku, aku dikuatkan lagi. Terima kasih untuk kasih-Mu kepadaku, untuk kemurahan-Mu, dan pengorbanan-Mu.
Pujian mengalir secara alami saat kamu menghitung berkat-berkatmu.

Saturday, November 14, 2015

Keberanian Bangsa Finlandia

Ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah TUHAN. —Yesaya 37:20
Keberanian Bangsa Finlandia
Awalnya hanya terdengar dengung yang sayup-sayup, lalu makin lama, bunyi hiruk-pikuk yang menggetarkan itu makin terdengar. Ratusan tank dan ribuan pasukan musuh akhirnya muncul di hadapan para tentara Finlandia yang kalah jumlah. Melihat ancaman musuh yang mematikan itu, seorang Finlandia yang tak diketahui namanya menanggapi dengan luar biasa. Dengan berani, ia menyerukan pemikirannya tentang lawan mereka: “Di mana kita akan menguburkan mereka semua?”
Kira-kira 2.600 tahun sebelum Finlandia menunjukkan kenekatannya dalam Perang Dunia II, penduduk Yehuda yang cemas memberikan reaksi yang sangat berbeda terhadap ancaman di hadapan mereka. Pasukan Asyur telah mengepung Yerusalem, dan warga kota merasa putus asa karena wabah kelaparan yang diakibatkan oleh kepungan itu. Hizkia sempat panik, tetapi kemudian ia berdoa, “Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi” (Yes. 37:16).
Melalui Nabi Yesaya, Tuhan menegur keras Sanherib, raja Asyur. “Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? Terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel!” (ay.23). Lalu Allah menghibur Yerusalem. “Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku” (ay.35). Tuhan pun mengalahkan Sanherib dan menghancurkan tentara Asyur (ay.36-38).
Apa pun bahaya yang mungkin mengancammu hari ini, Allah yang disembah Hizkia dan Yesaya masih berkuasa. Dia rindu mendengar permohonan kita dan menunjukkan kekuatan-Nya. —Tim Gustafson
Bagaimanakah cara Allah melimpahkan dan menunjukkan kekuatan-Nya di masa lalu?
Allah jauh lebih besar dari masalah terbesar kita.

Friday, November 13, 2015

Bau Busuk

Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. —Kejadian 3:5
Bau Busuk
Pada Agustus 2013, banyak orang berkumpul di Konservatori Phipps di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk menyaksikan mekarnya tanaman tropis yang dikenal sebagai bunga bangkai. Karena bunga itu berasal dari Indonesia, dan kemungkinan mekarnya hanya sekali dalam beberapa tahun, peristiwa tersebut menjadi tontonan menarik. Setelah mekar, bunga dengan kelopak besar yang berwarna merah, indah, dan lancip itu mengeluarkan bau seperti daging busuk. Karena bau busuknya, bunga itu memikat lalat dan kumbang yang mencari daging busuk. Akan tetapi, bunga tersebut tidak memiliki nektar.
Seperti bunga bangkai, dosa menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin dapat dipenuhinya. Adam dan Hawa mengetahui kebenaran itu lewat pengalaman buruk mereka sendiri. Kehidupan mereka yang indah di Taman Eden akhirnya buyar ketika mereka melakukan satu hal yang telah dilarang oleh Allah. Dengan tergoda untuk meragukan kebaikan Allah, mereka mengabaikan peringatan Pencipta mereka yang lembut dan kehilangan kesucian mereka. Keindahan yang Allah berikan pada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu menjadi seperti bunga bangkai bagi mereka. Upah atas ketidaktaatan mereka adalah pengasingan, penderitaan, rasa hampa, kerja keras, dan kematian.
Dosa terlihat begitu menggoda dan mungkin terasa nikmat, tetapi itu tidak sebanding dengan keajaiban, keindahan, dan keharuman dari kepercayaan dan ketaatan kepada Allah yang telah menciptakan kita untuk menikmati hidup dan sukacita bersama-Nya. —Marvin Williams
Pencobaan apa saja yang sedang kamu hadapi hari ini? Ingatlah bahwa Allah berjanji untuk menolongmu melawan pencobaan. Mintalah Dia untuk mengingatkanmu untuk bergantung kepada-Nya.
Perintah Allah dapat mengalahkan bujukan Iblis.

Thursday, November 12, 2015

Angsa dan Orang yang Sulit

Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! —Roma 12:18
Angsa dan Orang yang Sulit
Saat pertama kali pindah ke rumah yang kami tempati sekarang, saya menikmati keindahan angsa-angsa yang bersarang di dekat rumah. Saya mengagumi kepedulian angsa kepada sesamanya dan gaya angsa yang berbaris rapi di air serta terbang dengan formasi huruf V di langit. Saya juga asyik memperhatikan bagaimana angsa membesarkan anak-anaknya.
Namun ketika musim panas tiba, saya menemukan sejumlah sifat angsa yang tidak seindah sebelumnya. Angsa sangat suka makan rumput dan tak peduli jika perbuatan itu merusak tampilan halaman kami. Parahnya, akibat ulah angsa itu, halaman kami menjadi becek dan sangat tidak nyaman untuk dilewati.
Saya teringat pada angsa-angsa itu saat berurusan dengan orang yang menyulitkan saya. Terkadang saya berharap dapat dengan mudah mengucilkan mereka dari kehidupan saya. Namun pada saat itulah Allah biasanya mengingatkan saya bahwa masih ada keindahan dalam diri orang yang paling menyulitkan sekalipun, apabila kita berupaya untuk mengenal mereka lebih jauh. Kepedihan yang mereka pancarkan mungkin saja mencerminkan kepedihan dalam hati mereka. Rasul Paulus menulis di kitab Roma, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (12:18). Maka saya meminta Allah untuk menolong saya bersabar dalam menghadapi sifat orang lain yang menyulitkan saya. Memang tidak selalu membuahkan hasil yang membahagiakan, tetapi sungguh ajaib betapa seringnya Allah kemudian memulihkan hubungan kami.
Saat bertemu orang yang sulit, oleh anugerah Allah, kita dapat melihat dan mengasihi mereka dengan kasih Tuhan. —Randy Kilgore
Dengan anugerah-Mu, Tuhan, tolong aku untuk hidup damai dengan sesama. Dan sadarkan aku apabila aku telah menyulitkan orang lain dan memerlukan campur tangan-Mu. Tuhan, beriku kehendak dan kerinduan untuk berubah.
Kedamaian dapat terwujud apabila kita menanggapi orang lain dengan sikap yang lemah lembut.

Wednesday, November 11, 2015

Sisa Waktu

Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. —Daniel 6:11
Sisa Waktu
Seorang teman sedang mengunjungi kota kami. Ia seorang yang sangat sibuk dan jadwalnya pun sangat padat. Namun, setelah melakukan rapat demi rapat sepanjang hari itu, ia menyempatkan diri untuk mampir ke rumah kami selama setengah jam untuk makan bersama yang singkat di larut malam. Kami menikmati kunjungannya, tetapi saya sempat terpikir, “Kami hanya mendapat sisa-sisa waktunya.”
Lalu saya teringat betapa seringnya Allah mendapatkan sisa-sisa waktu saya—adakalanya hanya beberapa menit sebelum saya terlelap.
Daniel adalah seorang yang sibuk. Ia memegang kedudukan yang tinggi di pemerintahan kerajaan Babel kuno, dan saya yakin ia memiliki jadwal yang padat. Namun, ia telah membangun kebiasaan untuk meluangkan waktunya bersama Allah—berdoa tiga kali sehari, memuji Allah, dan mengucap syukur kepada-Nya. Rutinitas itu menolongnya membangun keteguhan iman yang tidak goyah ketika menghadapi penganiayaan (Dan. 6).
Allah rindu bersekutu dengan kita. Di pagi hari, kita dapat mengundang Allah hadir dalam hari kita, kemudian kita dapat memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya di sepanjang hari itu. Di waktu lain, kita dapat meluangkan waktu untuk menyepi bersama-Nya dan merenungkan kasih setia-Nya. Ketika kita menyediakan waktu bersama Allah di dalam doa dan firman-Nya, kita akan bertumbuh dalam persekutuan dengan-Nya dan belajar untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya. Pada saat kita mendahulukan waktu bersama Allah, kita akan semakin menikmati kebersamaan dengan-Nya. —Keila Ochoa
Bapa Surgawi, aku ingin memiliki persekutuan yang intim dengan-Mu. Aku mengundang-Mu untuk masuk dalam keseluruhan hariku—mulai dari aku bangun tidur sampai aku tidur kembali.
Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru. —Yesaya 40:31

Tuesday, November 10, 2015

Terang yang Lemah Lembut

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16
Terang yang Lemah Lembut
Wang Xiaoying (dibaca Shao-ying) tinggal di wilayah pedesaan di propinsi Yunnan, Tiongkok. Karena masalah kesehatan, suaminya tak bisa bekerja di ladang dan memberatkan keadaan keluarga. Sang mertua menganggap masalah itu disebabkan oleh iman Xiaoying kepada Allah. Ia pun memperlakukan Xiaoying dengan kejam dan memaksanya untuk menganut kembali kepercayaan tradisi leluhur.
Namun suami Xiaoying melihat kehidupan istrinya yang telah diubahkan. Ia berkata, “Ibu, tak cukup hanya Xiaoying yang percaya kepada Allah; kita juga harus percaya kepada-Nya!” Karena perubahan nyata yang dialami oleh Xiaoying, suaminya kini mulai berpikir untuk mempercayai Injil Yesus Kristus.
Orang akan melihat perbuatan kita sebelum mendengarkan perkataan kita. Kesaksian yang terbaik memadukan perilaku yang baik dengan perkataan yang benar, dan demikianlah cerminan dari perubahan yang Kristus lakukan dalam hidup kita.
Itulah instruksi Rasul Petrus tentang cara kita dalam memperkenalkan Yesus pada dunia yang penuh tantangan ini. Ia menantang pembacanya untuk “rajin berbuat baik” (1Ptr. 3:13), hidup taat kepada Kristus, memiliki hati nurani yang murni, dan siap sedia untuk menjelaskan kepada orang lain tentang pengharapan kita (ay.15). Jika kita melakukan itu semua, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut atau malu ketika orang memperlakukan kita dengan tidak baik atau memfitnah kita karena kepercayaan kita.
Apa pun keadaan kita, pancarkanlah terang Yesus di mana pun kita berada. Dia sanggup menyediakan anugerah yang kita perlukan untuk menjangkau mereka yang tidak sependapat dengan kita. —Poh Fang Chia
Tuhan, kami cenderung bersikap membela diri saat orang menolak kami atau menyerang iman kami. Berilah kami keberanian agar kami dapat menanggapi mereka dengan bijak dan lemah lembut.
Semakin kita menjalani hidup serupa dengan Yesus, semakin banyak orang tertarik untuk mengenal Dia.

Monday, November 9, 2015

Charity Island

TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya. —Nahum 1:7
Charity Island
Charity Island adalah pulau terbesar di Teluk Saginaw yang menjadi bagian dari Danau Huron di Michigan. Selama bertahun-tahun pulau tersebut menyediakan sebuah mercusuar sebagai alat bantu navigasi dan pelabuhan yang aman bagi para pelayar di perairan tersebut. Nama Charity diberikan oleh para pelaut karena mereka percaya bahwa pulau itu ada di sana “karena kemurahan (charity) Allah.”
Terkadang dalam perjalanan hidup ini, kita harus mengarungi lautan masalah yang sulit dan mencekam. Seperti para pelaut itu, kita memerlukan panduan dan tempat yang aman; bahkan kita berharap mempunyai tempat seperti Charity Island bagi kita sendiri. Pemazmur memahami bahwa hanya Allah yang dapat membawa keteduhan pada laut yang bergelora dan memandu kita ke pelabuhan yang aman. Ia menulis, “Dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka” (Mzm. 107:29-30).
Meski tidak ada orang yang ingin dilanda oleh badai kehidupan, pengalaman sulit yang kita alami bisa melipatgandakan ucapan syukur kita atas tuntunan dan perteduhan yang Allah berikan. Dia menyediakan terang dari Roh dan firman-Nya untuk menuntun kita. Kita rindu tiba di pelabuhan kasih-Nya yang aman. Hanya Dialah yang dapat menjadi “Charity Island” bagi hidup kita. —Dennis Fisher
Bapa, tolong aku untuk mencari terang-Mu yang menuntunku dalam mengatasi beragam badai kehidupan.
Allah yang hidup akan selamanya menjadi tempat perlindungan kita.

Sunday, November 8, 2015

Membawa Teman Kepada Yesus

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” —Markus 2:5
Membawa Teman Kepada Yesus
Semasa saya kecil, salah satu penyakit yang paling ditakuti orang adalah polio. Sebagian besar yang terinfeksi polio adalah anak-anak. Sebelum vaksin pencegahan ditemukan di pertengahan dekade 1950-an, sekitar 20.000 orang telah lumpuh karena polio dan kira-kira 1.000 orang meninggal setiap tahunnya di Amerika Serikat.
Pada zaman kuno, kelumpuhan dianggap sebagai kondisi permanen yang tidak dapat disembuhkan. Namun demikian, ada satu kelompok orang yang percaya bahwa Yesus dapat menolong teman mereka yang lumpuh. Ketika Yesus sedang mengajar di Kapernaum, keempat orang di antara mereka menggotong teman mereka yang lumpuh kepada-Nya. Ketika mereka tidak dapat mendekati Yesus karena ramainya orang, “mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring” (Mrk. 2:1-4).
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ‘Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!’” (ay.5). Yesus kemudian berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (ay.11). Alangkah luar biasanya bahwa Yesus menanggapi iman sekelompok orang yang menggotong temannya itu dengan mengampuni dosa orang lumpuh itu dan menyembuhkannya dari penyakit yang tidak tersembuhkan!
Jika seseorang yang kita kenal sedang mengalami penderitaan fisik yang gawat atau tengah dilanda pergumulan iman, kita mempunyai kesempatan istimewa untuk bersama-sama mendoakan dan membawanya kepada Yesus—satu-satunya Pribadi yang sanggup menjawab kebutuhan mereka yang terdalam. —David McCasland
Tuhan Yesus, kami tahu firman-Mu dapat membawa hidup kekal dan kesembuhan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya. Kami membawa mereka dalam doa kepada-Mu hari ini.
Mendoakan sesama merupakan kesempatan istimewa sekaligus tanggung jawab besar.

Saturday, November 7, 2015

Sebutkan Nama-Nya

Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku. —Yohanes 14:10
Sebutkan Nama-Nya
Sebuah kelompok mengundang seorang pembicara Kristen untuk berkhotbah. “Bicaralah tentang Allah,” kata pemimpin kelompok itu kepada sang pembicara, “tetapi jangan sebut-sebut Yesus.”
“Mengapa?” tanya pembicara itu keheranan.
“Soalnya,” jelas pemimpin itu, “beberapa pemuka kelompok kami merasa kurang nyaman dengan nama Yesus. Sebut Allah saja sudah cukup.”
Instruksi itu tidak dapat diterima oleh sang pembicara. Ia kemudian berkata, “Tanpa Yesus, saya tak punya pesan apa pun.”
Hal yang serupa juga terjadi pada para murid Yesus di masa gereja mula-mula. Para pemuka agama setempat berusaha melarang murid-murid itu untuk berbicara tentang Yesus (Kis. 4:17). Namun, para murid itu tidak mau menuruti mereka. “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar,” kata mereka (ay.20).
Mengaku percaya kepada Allah tetapi tidak percaya kepada Anak-Nya, Yesus Kristus, adalah suatu hal yang berlawanan. Dalam Yohanes 10:30, Yesus dengan gamblang menyatakan hubungan-Nya yang unik dengan Allah: “Aku dan Bapa adalah satu”—sekaligus menegaskan sifat keilahian-Nya. Itulah sebabnya Yesus dapat berkata, “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh. 14:1). Paulus memahami bahwa Yesus serupa dan setara dengan Allah (Flp. 2:6).
Kita tak perlu menghindari nama Yesus, karena “keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). —Lawrence Darmani
Yesus, Engkaulah Allah. Terima kasih karena Engkau telah menyatakan diri-Mu pada kami melalui Alkitab dan di dalam hidup kami. Sungguh besar karya-Mu bagi kami. Tolong kami untuk menceritakan apa yang kami tahu dan alami bersama-Mu kepada sesama kami.
Nama Yesus adalah pusat dari iman kita dan pengharapan kita.

Friday, November 6, 2015

Dia Mengajar Tanganku

Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang. —Mazmur 144:1
Dia Mengajar Tanganku
Saya pernah bertemu David Wood, mantan pemain basket NBA, pada pertandingan final Kejuaraan Basket Spanyol ketika ia bermain untuk tim Taugrés de Baskonia. Menjelang sebuah pertandingan, ia membaca Mazmur 144:1, “Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang.” David berkata kepada saya, “Coba lihat! Seakan-akan Allah menulis ayat ini khusus untukku! Dia mengajar tanganku untuk menangkap bola pantul dan jari-jariku untuk menembak bola!” David merasakan panggilan untuk bermain basket dan memahami bahwa Allah menerima kita apa adanya dan memampukan kita untuk menunaikan panggilan-Nya itu.
Kita bisa dengan mudah menganggap diri kita tidak berguna bagi Allah karena kita merasa tak punya apa pun yang dapat dipersembahkan. Saat Allah menampakkan diri kepada Musa dan memberinya tugas untuk memberi tahu bangsa Israel bahwa Dia akan membawa mereka keluar dari Mesir (Kel. 3:16-17), Musa merasa tidak mampu. Ia berkata, “Aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak . . . Aku berat mulut dan berat lidah” (4:10). Mungkin Musa memang mengalami kesulitan berbicara, atau ia hanya merasa takut, tetapi Allah mengatasi ketidakmampuan Musa dengan kecukupan dari-Nya. Allah berkata, “Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan” (ay.12).
Allah hanya ingin kita mengikuti rencana-Nya. Lebih dari itu adalah urusan-Nya. Dalam tangan-Nya yang perkasa, kamu dapat dipakai-Nya menjadi berkat bagi orang lain. —Jaime Fernández Garrido, Penulis Tamu
Ini aku, Tuhan, siap melayani-Mu dengan cara apa pun yang Kau kehendaki. Tuntunlah aku.
(Dr. Jaime Fernández Garrido adalah direktur program penginjilan di radio dan televisi Born Again, penulis buku, dan pencipta lebih dari 400 himne dan lagu rohani.)
Ketika Allah memanggil kita untuk suatu tugas, Dia juga memberi kita kuasa-Nya untuk menyelesaikan tugas itu.

Thursday, November 5, 2015

Letupan Kemarahan

Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya. —Amsal 29:11
Letupan Kemarahan
Entah apa yang dipikirkan para tetangga saat mereka memandang ke luar jendela dan melihat saya sedang berdiri di depan rumah dengan memegang sekop pada suatu hari di musim dingin. Sambil marah-marah, saya memukulkan sekop itu sekeras-kerasnya pada gundukan es yang telah menggunung di bawah talang sudut rumah. Setiap kali memukul, saya mengucapkan kata-kata yang kurang lebih sama artinya: “Aku tak bisa melakukannya.” “Aku tak sanggup lagi.” Sebagai seorang pengasuh dengan tanggung jawab yang menumpuk, saya tak sanggup lagi menghadapi masalah dengan gundukan es itu!
Kemarahan saya dipicu oleh kebohongan-kebohongan yang mengatakan: “Aku layak mendapatkan yang lebih baik dari ini.” “Ternyata Allah saja tak cukup.” “Semuanya sia-sia.” Namun apabila kita memilih untuk mempertahankan kemarahan, kita akan terjerat oleh kepahitan yang membuat kita gagal melangkah maju. Satu-satunya obat bagi kemarahan adalah kebenaran.
Kebenarannya adalah Allah tak memberikan apa yang selayaknya kita terima; Dia justru memberikan belas kasihan. “Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu” (Mzm. 86:5). Terlepas dari apa yang kita rasakan, Allah itu lebih dari cukup. Kasih karunia-Nya cukup bagi kita (2Kor. 12:9). Namun sebelum meyakini semua kebenaran itu, mungkin kita perlu berdiam sejenak, berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan menerima belas kasihan dan anugerah yang Yesus tawarkan kepada kita.
Kebesaran Allah membuat-Nya sanggup menampung segala kemarahan kita. Dengan tangan kasih-Nya, Dia akan menunjukkan jalan bagi kita pada waktu yang dikehendaki-Nya. —Shelly Beach, Penulis Tamu
Allah terkasih, ampunilah letupan amarahku. Hari ini aku menyerahkan kemarahanku yang berdosa dan memohon belas kasihan dan anugerah-Mu.
(Shelly Beach adalah penulis buku Precious Lord, Take My Hand: Meditations for Caregivers.)
Anugerah: Mendapatkan apa yang tidak selayaknya kita terima. Belas Kasihan: Tidak mendapatkan yang selayaknya kita terima.

Wednesday, November 4, 2015

Allah Kita yang Pencemburu

TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. —Keluaran 34:14
Allah Kita yang Pencemburu
Pada tahun 2014, seorang peneliti dari Universitas California memakai boneka anjing untuk menunjukkan bahwa binatang bisa merasa cemburu. Sang dosen, Christine Harris, meminta pemilik anjing untuk menunjukkan perhatian pada sebuah boneka anjing di depan anjing peliharaan mereka. Ia mendapati bahwa 75 persen anjing peliharaan itu jelas terlihat cemburu. Beberapa anjing berusaha mencari perhatian dengan menyentuh atau menyenggol pemiliknya. Yang lain berusaha menyela di antara pemiliknya dengan boneka itu. Ada juga anjing yang bereaksi keras dengan menyambar boneka yang dianggap sebagai saingannya itu.
Rasa cemburu pada anjing tampak menggemaskan. Rasa cemburu pada manusia dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan yang kurang terpuji. Namun, seperti yang diingatkan oleh Musa dan Paulus, ada bentuk kecemburuan lain yang secara indah menggambarkan isi hati Allah.
Saat menulis kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata, “Aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi” (2Kor. 11:2). Ia tidak ingin mereka “disesatkan dari kesetiaan [mereka] yang sejati kepada Kristus” (ay.3). Kecemburuan semacam itu mencerminkan isi hati Allah, ketika Dia menyatakan kepada Musa lewat Sepuluh Perintah-Nya, “Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” (Kel. 20:5).
Kecemburuan Allah tidaklah seperti perasaan cinta kita yang berpusat kepada diri sendiri. Isi hati Allah mengungkapkan kerinduan-Nya yang besar untuk melindungi umat yang telah diciptakan dan diselamatkan-Nya. Dia menjadikan dan menyelamatkan kita agar kita mengenal dan menikmati Dia selamanya. Adakah yang kita perlukan lagi, selain daripada Allah yang begitu rindu—dan cemburu—untuk membahagiakan kita? —Mart DeHaan
Bapa, tolong aku menjauhkan apa saja yang mengalihkanku dari-Mu, agar aku dapat selalu menikmati Engkau dan juga rencana-Mu bagiku.
Allah mengasihi setiap pribadi seolah-olah hanya kita sendirilah yang dikasihi oleh-Nya. —St. Agustinus

Tuesday, November 3, 2015

Rutinitas Sehari-Hari

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. —Kolose 3:23
Rutinitas Sehari-Hari
Bahasa Latin merupakan pelajaran wajib selama 4 tahun di SMA. Saya bersyukur atas disiplin itu sekarang. Namun, saat SMA, saya bersusah payah mempelajarinya. Guru mengharuskan kami berlatih dengan pengulangan. Beberapa kali dalam sehari, ia berkata, “Repetitio est mater studiorum” yang berarti, “Pengulangan adalah kunci pembelajaran”. Kami bergumam, “Repetitio est absurdum” atau “Pengulangan itu sangat tak masuk akal”.
Sekarang saya menyadari bahwa sebagian besar hidup kita sesungguhnya adalah pengulangan—serangkaian kegiatan yang harus kita lakukan berulang kali dengan begitu-begitu saja, tidak membuat antusias, dan cenderung membosankan. Søren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, berkata, “Seperti makanan, pengulangan adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi diperlukan.” Meski demikian, ujarnya, “Makanan itulah yang memberikan kepuasan jika disertai ucapan syukur.”
Yang penting bagi kita adalah kesediaan untuk melakukan kegiatan apa saja, sekalipun itu sederhana, membosankan, dan remeh, dengan meminta kepada Allah untuk memberkatinya dan memakainya untuk menggenapi kehendak-Nya. Dengan demikian kita mengubah rutinitas sehari-hari yang biasa-biasa saja menjadi perbuatan bernilai rohani yang sarat dengan upah kekal yang tidak terlihat oleh kita.
Penyair Gerard Manley Hopkins berkata, “Allah dimuliakan saat kita mengangkat tangan untuk berdoa, tetapi juga ketika seseorang mengolah ladang atau membersihkan lantai. Allah begitu besar sehingga segala sesuatu membawa kemuliaan bagi-Nya apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.”
Apabila segala sesuatu yang kita lakukan diperbuat untuk Kristus, kita akan dibuat kagum oleh sukacita dan makna yang kita temukan di dalam pekerjaan yang paling sederhana sekalipun. —David Roper
Tuhan, ingatkan kami akan kehadiran-Mu yang luar biasa dalam pekerjaan kami yang sederhana. Kiranya kami mengerjakan segala sesuatunya demi Engkau.
Hati yang rela akan mengubah jerih payah menjadi perbuatan kasih.

Monday, November 2, 2015

Perkataan Orang Berhikmat

Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik. —Pengkhotbah 9:17
Perkataan Orang Berhikmat
Baru-baru ini, suami dari keponakan saya menulis kata-kata berikut di akun media sosialnya: “Kalau bukan karena bisikan lembut yang mengingatkanku, pasti aku akan menulis lebih banyak lagi di sini. Sebagai seorang pengikut Yesus, mungkin kamu berpikir bisikan itu datang dari Roh Kudus. Bukan. Bisikan itu datang dari Heidi, istriku.”
Sambil tersenyum membaca tulisan itu, saya pun merenung sejenak. Memang, teguran dari seorang sahabat yang bijak dapat mencerminkan hikmat Allah. Pengkhotbah 9 berkata, “Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh” (ay.17).
Kitab Suci memperingatkan kita untuk tidak menganggap diri sendiri pandai atau bijaksana (Ams. 3:7; Yes. 5:21; Rm. 12:16). Dengan kata lain, janganlah kita menganggap bahwa kita tahu segalanya. Amsal 19:20 berkata, “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Allah dapat memakai siapa saja, baik itu seorang teman, pasangan hidup, pendeta, atau rekan kerja, untuk mengajari kita agar lebih memahami hikmat-Nya.
“Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian,” demikian dikatakan Amsal 14:33. Salah satu cara untuk memahami hikmat dari Roh Kudus adalah dengan mendengarkan nasihat orang lain dan belajar dari satu sama lain. —Cindy Hess Kasper
Ya Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu yang mengajarku untuk mengasihi-Mu dan mengasihi sesamaku. Terima kasih juga untuk orang-orang yang telah Kau tempatkan dalam hidupku yang mengingatkanku pada kebenaran-Mu.
Hikmat sejati bersumber dari Allah saja.

Sunday, November 1, 2015

Air dan Kehidupan

Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” —Yohanes 4:13-14
Air dan Kehidupan
Ketika Dave Mueller mengulurkan tangannya dan memutar pegangan keran, air pun mengalir deras dari keran ke dalam sebuah ember. Orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan. Mereka merayakan hadirnya air bersih yang segar mengalir di lingkungan mereka untuk pertama kalinya. Memiliki sumber air bersih akan mengubah hidup masyarakat di Kenya itu.
Dave dan istrinya, Joy, bekerja keras memenuhi kebutuhan masyarakat di sana melalui penyediaan air bersih. Namun pelayanan mereka tidak berhenti sampai di situ. Sembari menolong penduduk untuk menikmati air bersih, keduanya juga bersaksi tentang Yesus Kristus kepada mereka.
Dua ribu tahun lalu, Yesus duduk di pinggir sebuah sumur di Samaria dan berbicara dengan seorang wanita yang sedang menimba air minum untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya. Namun Yesus mengatakan kepada wanita itu bahwa air yang jauh lebih dibutuhkannya adalah air hidup untuk keselamatan jiwanya.
Meski sejarah terus bergulir dan kehidupan manusia semakin maju, tetapi dua kebenaran berikut ini masih berlaku: Tanpa air bersih, kita akan mati. Terlebih penting lagi, tanpa Yesus Kristus, sumber air hidup, kita pasti mati dalam dosa-dosa kita.
Air memang penting bagi keberadaan kita—baik air bersih untuk kehidupan jasmani maupun air hidup dari Yesus untuk kehidupan rohani kita. Sudahkah kamu menikmati air hidup yang disediakan oleh Yesus, sang Juruselamat? —Dave Branon
Terima kasih, ya Yesus, karena Engkau menjadi air hidup bagi kami. Terima kasih atas kerelaan-Mu untuk mati di kayu salib dan atas kuasa-Mu untuk bangkit dari kematian demi menyediakan air hidup itu bagi kami.
Hanya Yesus yang memiliki air hidup untuk memuaskan jiwa kita yang dahaga.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate