Pages - Menu

Friday, August 31, 2018

Seruan Minta Tolong

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. —Kisah Para Rasul 2:21
Seruan Minta Tolong
Setelah terjadinya kecelakaan pada sejumlah lift yang merenggut lima nyawa dan melukai 51 orang pada tahun 2016, pemerintah kota New York meluncurkan kampanye untuk mendidik warga agar tetap bersikap tenang dan mengutamakan keselamatan. Pengalaman buruk terjadi ketika orang berusaha menyelamatkan diri sendiri di saat terjadi masalah. Menurut pihak berwenang, tindakan terbaik yang bisa dilakukan hanyalah, “Kabari, tetap tenang, dan tunggu.” Otoritas pengawas bangunan di New York berkomitmen untuk bergerak cepat demi melindungi orang dari cedera dan membawa mereka keluar dari lokasi bencana.
Di kitab Kisah Para Rasul, Rasul Petrus menyampaikan khotbah yang menegur kesalahan manusia yang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Lukas, penulis kitab tersebut, mencatat sejumlah peristiwa luar biasa ketika orang-orang percaya berbicara dalam berbagai bahasa yang tidak mereka ketahui sebelumnya (Kis. 2:1-12). Petrus pun menjelaskan kepada orang-orang Yahudi di sana bahwa apa yang mereka saksikan merupakan penggenapan nubuat kuno (Yl. 2:28-32), yakni pencurahan Roh Allah dan tibanya hari keselamatan. Karunia Roh Kudus sekarang dapat dilihat dalam diri orang-orang yang berseru kepada Yesus untuk diselamatkan dari dosa mereka dan segala pengaruhnya. Petrus lalu mengatakan kepada mereka bahwa keselamatan itu tersedia bagi semua orang (Kis. 2:21). Kita dapat datang kepada Allah bukan karena kita menaati Hukum Taurat, melainkan karena kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Jika kita masih terbelenggu oleh dosa, tidak mungkin kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Satu-satunya pengharapan kita untuk diselamatkan adalah dengan mengakui dan mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. —Marvin Williams
Sudahkah kamu berseru kepada Yesus untuk menyelamatkanmu dari dosamu?
Keselamatan diberikan kepada mereka yang berseru kepada Yesus untuk menolong mereka.

Thursday, August 30, 2018

Fondasi yang Solid

Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. —Lukas 6:48
Fondasi yang Solid
Setelah tinggal di rumahnya selama beberapa tahun, teman saya mendapati bahwa ruang tamu rumahnya mulai turun—dinding rumahnya mulai retak dan ada jendela yang tidak lagi dapat dibuka. Ia menemukan bahwa ruang tamu tersebut dibangun belakangan tanpa fondasi. Memperbaiki hasil pekerjaan yang buruk itu harus memakan waktu berbulan-bulan karena para tukang perlu menaruh fondasi yang baru.
Setelah pekerjaan itu selesai, saya tidak melihat banyak perbedaan (walaupun retakan sudah hilang dan jendela sudah bisa dibuka). Namun, saya menjadi paham tentang pentingnya fondasi yang solid.
Demikian juga dengan hidup kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang yang bijaksana dan yang bodoh dalam membangun rumah untuk menggambarkan kebodohan dari sikap yang tidak mau mendengarkan Dia (Luk. 6:46-49). Mereka yang mendengarkan dan menaati perkataan-Nya sama seperti orang yang membangun rumah di atas fondasi yang teguh, tidak seperti mereka yang mendengarkan, tetapi mengabaikan kata-kata-Nya. Yesus meyakinkan para pendengar-Nya bahwa ketika air bah datang, rumah mereka akan tetap bertahan. Iman mereka tidak akan terguncang.
Kita bisa tenang karena tahu bahwa saat kita mendengarkan dan menaati Yesus, Dia membangun fondasi yang kuat bagi kehidupan kita. Kita dapat memperkuat kasih kita kepada-Nya dengan membaca Alkitab, berdoa, dan belajar dari saudara seiman. Kemudian, di saat kita diterpa derasnya air bah—baik itu kejahatan, penderitaan, atau kekecewaan—kita dapat meyakini bahwa fondasi kita memang solid. Sang Juruselamat akan menyediakan dukungan yang kita butuhkan. —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, aku ingin membangun hidupku di atas fondasi yang solid. Tolonglah aku menyadari bahwa aku hanya bisa bersandar kepada-Mu, dan firman-Mulah yang memberi kami hikmat dan kekuatan.
Mendengarkan dan menaati Yesus memberikan fondasi yang kuat bagi hidup kita.

Wednesday, August 29, 2018

Engkau Mengasihiku?

Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami? —Maleakhi 1:2
Engkau Mengasihiku?
Semasa remaja, saya sempat melalui suatu masa pemberontakan terhadap otoritas ibu saya. Ayah meninggal dunia sebelum saya memasuki masa remaja, sehingga ibu harus menghadapi sendiri masa-masa yang penuh gejolak dalam membesarkan anak-anaknya.
Saya ingat bagaimana saya pernah berpikir bahwa ibu tak ingin saya bersenang-senang - bahkan mungkin ia tidak mengasihi saya - karena ia sering berkata tidak. Sekarang saya menyadari bahwa ia melarang saya mengikuti aktivitas-aktivitas yang tidak baik bagi saya itu justru karena ia mengasihi saya.
Orang Israel pernah mempertanyakan seberapa besar Allah mengasihi mereka karena pengalaman mereka dibuang ke Babel. Namun, masa pembuangan itu merupakan teguran Allah atas pemberontakan mereka yang terus-menerus terhadap diri-Nya. Jadi sekarang, Allah mengirimkan Nabi Maleakhi untuk berbicara kepada mereka. Kata-kata pembukanya dari Tuhan adalah, “Aku mengasihi kamu” (Mal. 1:2). Akan tetapi, Israel menjawab dengan skeptis dan mempertanyakan bagaimana cara Allah mengasihi mereka, seolah-olah berkata, “Benarkah begitu?” Namun, Allah, melalui Maleakhi, mengingatkan mereka bagaimana Allah telah menyatakan kasih-Nya: Dia telah memilih mereka dan bukan bangsa Edom.
Kita semua pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup ini. Kita mungkin tergoda untuk mempertanyakan kasih Allah kepada kita selama masa-masa sulit itu. Marilah mengingat kembali banyaknya cara yang telah dipakai-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya yang tak berkesudahan kepada kita. Saat kita berdiam sejenak dan merenungkan kebaikan-Nya, kita akan menemukan bahwa Allah benar-benar Bapa yang penuh kasih. —Kirsten Holmberg
Tuhan, Engkau telah menunjukkan kasih dan perhatian-Mu yang lembut di sepanjang hidupku. Engkau selalu menyertaiku di masa-masa sulit. Tolonglah aku untuk selalu mengingat kasih-Mu.
Bapa Surgawi menegur sekaligus menghibur kita.

Tuesday, August 28, 2018

Belajar Mempercayai

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. —Yakobus 1:17
Belajar Mempercayai
Saat masih remaja, adakalanya saya menantang ucapan ibu saya yang mendorong saya untuk lebih mempunyai iman. “Percayalah kepada Tuhan. Dia akan menjagamu,” kata ibu saya. “Tapi tak semudah itu, Bu!” jawab saya dengan keras. “Tuhan hanya menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri!”
Namun, ungkapan “Tuhan hanya menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri” tidak berasal dari Kitab Suci. Sebaliknya, firman Allah mengajar kita untuk mengandalkan-Nya dalam kebutuhan kita sehari-hari. Yesus mengatakan, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:26-27).
Segala sesuatu yang kita nikmati—bahkan kemampuan untuk mencari nafkah dan “menolong diri sendiri”—merupakan pemberian dari Bapa Surgawi yang mengasihi dan menghargai kita, jauh melebihi kemampuan kita untuk memahaminya.
Menjelang akhir hayatnya, ibu saya menderita penyakit Alzheimer yang merenggut ingatan dan pikirannya. Namun, imannya kepada Allah tidak pernah pudar. Ia sempat tinggal bersama kami untuk sementara waktu, dan saya dapat melihat langsung bagaimana Allah memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang tak terduga. Semua itu membuktikan kepada saya bahwa ucapannya memang benar. Alih-alih khawatir, ibu saya mempercayakan dirinya kepada Pribadi yang berjanji akan menjaganya. Allah pun menunjukkan kesetiaan-Nya. —James Banks
Tuhan yang penuh kasih, tolonglah aku agar percaya bahwa Engkau senantiasa menjagaku hari ini, esok, dan sampai selamanya!
Jangan mengkhawatirkan hari esok—ada Allah di sana.

Monday, August 27, 2018

Teruslah Melayani

Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu? —Daniel 6:21
Teruslah Melayani
Ketika psikolog pendidikan, Benjamin Bloom, mengadakan penelitian tentang pengembangan bakat kaum muda dengan memperhatikan masa kanak-kanak dari 120 tokoh pilihan—atlet, seniman, ilmuwan—ia menemukan bahwa mereka semua memiliki satu kesamaan: mereka telah berlatih secara intensif selama jangka waktu yang lama.
Penelitian Bloom menunjukkan bahwa dibutuhkan disiplin untuk dapat berkembang dalam bidang kehidupan apa pun. Perjalanan kita bersama Allah pun sama. Membangun disiplin rohani dengan menyediakan waktu bersama-Nya merupakan salah satu cara bagi kita untuk bertumbuh dalam iman kepada-Nya.
Daniel adalah contoh yang baik tentang seseorang yang memprioritaskan disiplin rohani dalam perjalanan imannya. Di masa mudanya, Daniel mulai membuat keputusan-keputusan yang cermat dan bijaksana (1:8). Ia juga berkomitmen untuk berdoa secara teratur dan “memuji Allahnya” (6:11). Ketekunannya dalam mencari Allah telah menghasilkan kehidupan iman yang sangat jelas terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Raja Darius bahkan menyebut Daniel sebagai “hamba Allah yang hidup” (ay.21) dan dua kali menyebut Daniel sebagai orang yang menyembah Allah “dengan tekun” (ay.17,21).
Seperti Daniel, kita sangat membutuhkan Allah. Sungguh indah saat mengetahui bahwa Allah bekerja di dalam kita untuk membuat kita rindu dan rela menyediakan waktu bersama-Nya! (Flp. 2:13). Jadi, marilah kita datang kepada Allah setiap hari, dengan meyakini bahwa waktu yang kita habiskan bersama-Nya akan menghasilkan dalam diri kita suatu kasih yang senantiasa mengalir dan pengertian serta pengenalan yang terus bertumbuh akan Juruselamat kita (Flp. 1:9-11). —Keila Ochoa
Bapa, terima kasih atas hak istimewa yang kuterima untuk melayani-Mu. Tolonglah aku untuk menyediakan waktu untuk bertemu dengan-Mu secara teratur agar aku makin bertumbuh dan mengenal-Mu.
Waktu bersama Allah akan mengubah hidup kita.

Sunday, August 26, 2018

Tidak Terus-Terusan Menghukum

Ketika Petrus datang ke Antiokhia, saya menentang dia terang-terangan, sebab tindakannya salah. —Galatia 2:11 BIS
Tidak Terus-Terusan Menghukum
Dalam suatu diskusi tentang rekonsiliasi, seorang peserta dengan bijak mengatakan, “Janganlah kita terus-terusan menghukum orang lain.” Ia berkomentar tentang sikap kita yang cenderung mengingat-ingat kesalahan orang lain dan tak pernah memberi mereka kesempatan untuk berubah.
Ada begitu banyak momen dalam kehidupan Petrus yang bisa saja membuat Allah terus-terusan menghukum Petrus. Namun, Dia tidak melakukannya. Petrus yang impulsif pernah berusaha “menegur” Yesus, tetapi ia justru mendapat teguran tajam dari Tuhan (Mat. 16:21-23). Petrus pernah menyangkal Kristus (Yoh. 18:15-27), tetapi kemudian dipulihkan kembali (21:15-19). Ia juga pernah ambil bagian dalam perpecahan rasial dalam gereja.
Masalah tersebut muncul saat Petrus memisahkan diri dari orang-orang non-Yahudi (Gal. 2:11-12). Ia baru saja makan bersama-sama dengan mereka, tetapi ketika sejumlah orang Yahudi datang (dari pihak yang bersikeras mewajibkan sunat bagi orang percaya), Petrus pun menjauhi orang-orang non-Yahudi yang tidak disunat itu. Rasul Paulus lalu menyebut sikap Petrus itu “munafik” (ay.13). Karena teguran yang keras dari Paulus, masalah itu dapat diselesaikan. Petrus kemudian melanjutkan pelayanannya kepada Allah dalam kesatuan yang indah seperti yang dikehendaki-Nya untuk kita semua.
Tak seorang pun perlu dihukum terus-terusan dalam kesalahan mereka. Dalam anugerah Allah, kita dapat saling menerima, saling belajar, saling menegur jika memang dibutuhkan, dan bertumbuh bersama dalam kasih-Nya. —Tim Gustafson
Tuhan, bawa kami mendekat kepada-Mu hari ini, agar kami juga dapat mendekat dengan sesama kami. Lindungilah kesatuan gereja-Mu. Berilah kami kesepahaman di saat muncul ketidakpercayaan. Pulihkan kami di saat terjadi perpecahan.
Saat menegur seseorang, kita patut memiliki satu tujuan: untuk memulihkan dan bukan mempermalukan dirinya. —Chuck Swindoll

Saturday, August 25, 2018

Orang yang Murah Hati

Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. —1 Tawarikh 29:14
Orang yang Murah Hati
Setelah melihat semua yang pernah Allah lakukan di sepanjang sejarah gereja kami, para pemimpin mengusulkan kepada jemaat untuk membangun gedung olahraga baru yang bisa kami gunakan untuk melayani masyarakat luas. Mereka menyatakan akan menjadi pihak pertama yang berkomitmen mendanai pembangunan itu. Awalnya saya berdoa dengan hati yang egois, karena tak ingin memberikan persembahan lebih dari yang kami tekadkan sebelumnya. Meskipun demikian, saya dan suami setuju mendoakan proyek itu. Namun, saat mengingat kembali pemeliharaan Allah atas hidup kami, kami memutuskan untuk memberikan persembahan bulanan. Pada akhirnya, total persembahan jemaat kami pun cukup untuk membayar seluruh biaya yang dibutuhkan.
Saat bersyukur melihat bagaimana Allah memakai gedung itu untuk memberkati masyarakat sekitar, saya teringat kepada seseorang yang juga murah hati, yaitu Raja Daud. Meski Tuhan tidak memilihnya untuk membangun Bait Allah, Daud menginvestasikan semua sumber daya untuk proyek itu (1Taw. 29:1-5). Para pemimpin di bawah Daud dan orang-orang yang mereka layani juga memberi dengan murah hati (ay.6-9). Daud mengakui bahwa semua persembahan yang mereka berikan sesungguhnya telah mereka terima terlebih dahulu dari Allah—Pencipta, Pemelihara, dan Pemilik segala sesuatu (ay.10-16).
Ketika kita mengakui Allah sebagai pemilik segala sesuatu, kita dapat berkomitmen untuk memberi dengan penuh syukur, murah hati, dan setia demi memberkati orang lain. Kita pun dapat mempercayai bahwa Allah akan menyediakan yang kita butuhkan—bahkan mungkin menggerakkan orang lain untuk bermurah hati dan menolong kita di saat kita membutuhkan pertolongan. —Xochitl Dixon
Tuhan, tolonglah kami mengingat bahwa Engkaulah pemilik segalanya saat kami bertekad mempersembahkan seluruhnya kepada-Mu dengan rela dan tanpa pamrih.
Allah telah memberi kita terlebih dahulu, dan pemberian kita yang terbaik sekalipun takkan cukup untuk menyamai kemurahan hati-Nya.

Friday, August 24, 2018

Kita akan Melihat Yesus

Orang-orang itu pergi kepada Filipus, . . . lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” —Yohanes 12:21
Kita akan Melihat Yesus
Saat memandang dari atas mimbar, tempat saya membawakan doa di suatu acara pemakaman, saya melihat sekilas plakat berbahan kuningan yang mencantumkan kata-kata dari Yohanes 12:21: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Saya pun berpikir, alangkah tepat ayat itu ketika dengan air mata dan senyuman kami sedang mengenang seseorang yang hidupnya memancarkan Yesus. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan dalam hidupnya, almarhum tidak pernah melepaskan imannya kepada Kristus. Karena Roh Allah juga hidup dalam dirinya, kami dapat melihat Yesus melalui hidupnya.
Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus memasuki Yerusalem (lihat Yoh. 12:12-16), sejumlah orang Yunani mendekati Filipus, salah satu murid Yesus, dan meminta, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus” (ay.21). Bisa jadi mereka penasaran dengan penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat Yesus. Namun, karena bukan orang Yahudi, mereka tidak diizinkan memasuki pelataran Bait Allah. Ketika permintaan mereka diteruskan kepada Yesus, Dia menyatakan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk dimuliakan (ay.23). Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa Dia akan segera mati menanggung dosa banyak orang. Yesus akan memenuhi misi-Nya untuk menjangkau tidak saja orang Yahudi, tetapi juga orang non-Yahudi (“orang Yunani” di ayat 20), dan sekarang mereka hendak bertemu dengan Yesus.
Setelah Yesus Kristus mati, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri pengikut-pengikut-Nya (14:16-17). Jadi, saat kita mengasihi dan melayani Yesus, kita melihat bahwa Dia aktif berkarya dalam diri kita. Yang luar biasa, orang-orang di sekitar kita juga bisa melihat Yesus melalui kehidupan kita! —Amy Boucher Pye
Tuhan Yesus Kristus, aku begitu terhormat dan takjub karena Engkau mau datang dan hidup di dalamku. Tolonglah aku untuk membagikan anugerah yang ajaib ini dengan orang-orang yang kutemui hari ini.
Kita bisa melihat Yesus lewat kehidupan pengikut-pengikut-Nya.

Thursday, August 23, 2018

Kebahagiaan Abadi

Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? . . . Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. —Mazmur 34:13,15
Kebahagiaan Abadi
Sering kita mendengar bahwa kebahagiaan akan kita alami ketika kita melakukan segala sesuatu dengan cara kita sendiri. Namun, itu tidak benar. Pandangan seperti itu hanya membawa kita pada rasa hampa, kegelisahan, dan kekecewaan.
Penyair W. H. Auden mengamati orang-orang yang berusaha mencari pelarian dalam kesenangan. Ia menulis tentang mereka: “Tersesat di hutan lebat / Bagai anak-anak yang takut malam / Tak pernah merasa senang atau tenang.”
Daud pernah menulis mazmur tentang mengobati ketakutan dan ketidakbahagiaan kita. “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm. 34:5). Kebahagiaan dialami ketika kita melakukan segala sesuatu dengan cara Allah, dan kebenaran dari fakta tersebut dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Daud menulis bahwa muka orang yang memandang kepada Allah akan berseri-seri (ay.6). Cobalah dan kamu akan melihat hasilnya. Itulah yang dimaksudkan Daud saat berkata, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!” (ay.9).
Kita berkata, “Aku baru mau percaya setelah aku melihatnya.” Begitulah cara kita mengetahui segala sesuatu di dunia ini. Buktikan dahulu, maka saya akan percaya. Allah mengatakan yang sebaliknya. Percaya dahulu, baru melihat. “Kecaplah, lalu kamu akan melihat.”
Percayalah pada firman Tuhan. Lakukan apa yang dikehendaki Allah untuk kamu lakukan dan kamu akan melihat. Dia akan memberimu anugerah untuk melakukan hal yang benar, bahkan lebih lagi: Dia memberikan diri-Nya sendiri—satu-satunya sumber kebaikan—dan kebahagiaan abadi yang dibawa-Nya bagi kita. —David H. Roper
Tuhan, terkadang kami hanya perlu berdoa: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Tolonglah kami untuk mempercayai-Mu dengan melakukan apa yang telah Engkau percayakan untuk kami kerjakan hari ini.
Kita berbahagia ketika kita melakukan hal yang benar.

Wednesday, August 22, 2018

Kepedulian Allah bagi Kita

Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. —Kejadian 3:21
Kepedulian Allah bagi Kita
Cucu-cucu saya yang kecil sangat suka memakai sendiri pakaian mereka. Adakalanya mereka memakai kaos terbalik dan cucu yang paling kecil sering memakai sepatu di kaki yang salah. Saya biasanya tidak tega menegur mereka, bahkan menganggap keluguan mereka itu sangat menggemaskan.
Saya senang melihat dunia melalui mata mereka. Bagi mereka, segala sesuatu adalah petualangan yang seru, entah itu berjalan di atas batang pohon yang tumbang, mengintip kura-kura yang berjemur di atas sebilah kayu, atau dengan penuh semangat melihat mobil pemadam kebakaran yang menderu-deru saat lewat di depan rumah. Namun, saya juga tahu bahwa cucu-cucu kecil saya tidak benar-benar lugu. Mereka bisa mencari-cari alasan untuk tidak segera tidur di malam hari dan senang sekali berebut mainan. Meskipun demikian, saya sangat sayang kepada mereka.
Saya membayangkan ada kemiripan antara Adam dan Hawa—manusia pertama ciptaan Allah—dan cucu-cucu saya. Segala yang mereka lihat saat berjalan bersama Allah di Taman Eden tentu membuat mereka terpana. Namun, suatu hari mereka secara sadar memilih untuk tidak taat. Mereka makan buah dari satu pohon yang dilarang untuk dimakan buahnya (Kej. 2:15-17; 3:6). Ketidaktaatan itu langsung menyeret mereka ke dalam kebohongan dan sikap saling menyalahkan (3:8-13).
Namun, Allah tetap mengasihi dan mempedulikan mereka. Dia mengorbankan binatang dan mengenakan kulitnya sebagai pakaian untuk mereka (ay.21). Kelak, Dia pun menyediakan jalan keselamatan bagi semua orang berdosa melalui pengorbanan Anak-Nya (Yoh. 3:16). Alangkah besar kasih-Nya bagi kita! —Alyson Kieda
Tuhan, terima kasih karena meskipun kami berdosa, Engkau telah mengasihi kami dan membuka jalan bagi kami untuk tinggal bersama-Mu selamanya!
Karena begitu mengasihi kita, Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai ganti dosa-dosa kita.

Tuesday, August 21, 2018

Rindu Tinggal Bersama-Nya

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. —Yohanes 1:12
Rindu Tinggal Bersama-Nya
Salah satu doa pertama yang saya pelajari semasa kanak-kanak adalah “Tuhan, sekarang aku mau tidur. Jagalah aku, Tuhan . . .” Itulah doa yang saya pelajari dari orangtua saya, dan kemudian saya mengajarkannya kepada putra-putri saya ketika mereka masih kecil. Sebagai anak kecil, saya bisa tidur dengan tenang setelah menyerahkan diri saya ke dalam tangan Allah melalui doa yang saya ucapkan tadi.
Doa serupa terdapat dalam kitab Mazmur, yang sering dijuluki “kitab doa” di Alkitab. Sejumlah pakar menyatakan bahwa frasa “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku” (Mzm. 31:6) adalah doa “sebelum tidur” yang diajarkan kepada anak-anak pada zaman Yesus.
Kamu mungkin mengenali doa tersebut sebagai seruan terakhir Yesus dari atas kayu salib. Namun, Yesus menambahkan satu kata pada frasa itu: Bapa (Luk. 23:46). Dengan mengucapkan kata itu dalam momen-momen sebelum kematian-Nya, Yesus memperlihatkan kedekatan-Nya yang sangat kuat dengan Sang Bapa dan mengarahkan orang-orang percaya untuk menantikan tempat kediaman mereka yang kekal bersama-Nya (Yoh. 14:3).
Yesus mati di kayu salib supaya kita dapat hidup dalam hubungan yang indah dengan Allah sebagai Bapa Surgawi kita. Alangkah terhiburnya hati kita saat mengetahui bahwa karena kasih pengorbanan Yesus bagi kita, kita sebagai anak-anak-Nya dapat mempercayakan diri kepada Allah Bapa yang memelihara kita! Di akhir hidup ini, kita dapat menutup mata tanpa takut karena Bapa selalu memperhatikan kita dan Dia telah berjanji akan menghidupkan kita kembali supaya kita hidup bersama-Nya (1Tes. 4:14). —James Banks
Tuhan Yesus, aku menerima hadiah pengampunan yang Engkau tawarkan kepadaku lewat pengorbanan-Mu di atas kayu salib. Tolonglah aku untuk berpaling dari dosa-dosaku dan mengikuti-Mu dengan setia sampai kelak aku tiba di rumah-Mu.
Pagi baru yang cerah menanti setiap orang yang percaya kepada Yesus.

Monday, August 20, 2018

Masih Lanjut atau Sudah Selesai?

Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. —Ibrani 10:14
Masih Lanjut atau Sudah Selesai?
Rasanya sangat puas jika dapat menyelesaikan suatu pekerjaan. Setiap bulan, misalnya, salah satu pekerjaan saya mengalami pergeseran status, dari “Masih Dikerjakan” ke “Sudah Selesai”. Saya suka menekan tanda “Sudah Selesai”. Namun, bulan lalu saat menekan tombol itu, saya sempat berpikir, Andai saja aku juga bisa mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan imanku dengan sama mudahnya! Rasanya kehidupan orang Kristen selalu dalam status “masih dikerjakan”, tidak pernah “sudah selesai”.
Kemudian saya teringat pada Ibrani 10:14. Ayat tersebut menggambarkan bagaimana pengorbanan Kristus telah menebus kita secara total. Jadi kita bisa meyakini bahwa “tombol sudah selesai” itu telah ditekan bagi kita. Kematian Yesus Kristus memberikan kepada kita sesuatu yang tidak bisa kita capai sendiri, yakni Dia menjadikan kita layak di hadapan Allah ketika kita beriman kepada-Nya. Itu “sudah selesai”, seperti yang Yesus sendiri katakan (Yoh. 19:30). Namun demikian, meskipun pengorbanan-Nya sudah selesai dan bersifat total, kita masih menjalani sisa hidup kita dengan terus menyelaraskan diri dengan realitas rohani tersebut—kita “dikuduskan”, sebagaimana yang ditulis oleh penulis kitab Ibrani (ay.14).
Fakta bahwa Yesus telah menyelesaikan apa yang masih terus dikerjakan dalam hidup kita memang sulit untuk dimengerti. Pada saat saya bergumul dalam iman, betapa melegakannya saat mengingat bahwa pengorbanan Yesus bagimu dan saya sudah selesai, meskipun menjalani hidup yang telah ditebus itu masih berlanjut. Namun, tidak ada yang dapat menghentikan tercapainya tujuan yang dikehendaki Tuhan: kita menjadi serupa dengan-Nya (lihat 2kor. 3:18). —Adam Holz
Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memberikan hidup-Mu bagi kami. Tolong kami terus mempercayai-Mu saat kami bertumbuh dari hari ke hari menjadi murid yang makin serupa dengan-Mu, karena hanya Engkau yang menyempurnakan kami.
Allah senantiasa bekerja membentuk kita menjadi pribadi yang dikehendaki-Nya.

Sunday, August 19, 2018

Pencipta yang Menakjubkan

Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. —Mazmur 104:24
Pencipta yang Menakjubkan
Sebagai fotografer amatir, saya suka sekali memotret potongan-potongan dari alam ciptaan Allah dengan kamera saya. Saya bisa melihat karya tangan-Nya pada kelopak bunga yang indah, pada pancaran sinar matahari yang terbit dan terbenam, serta pada kanvas langit yang dilukis oleh awan dan bintang yang bertebaran.
Fitur zoom (memperbesar) pada kamera saya membuat saya dapat memotret makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya. Saya pernah memotret seekor tupai yang mencicit di pohon ceri yang sedang mekar, kupu-kupu berwarna-warni yang berpindah dari satu bunga mekar ke bunga mekar lainnya, dan kura-kura laut yang berjemur di pantai berbatu. Setiap potret yang unik itu mendorong saya untuk memuji Allah, Pencipta saya yang menakjubkan.
Saya bukanlah orang pertama dari umat Allah yang memuji-Nya sembari mengagumi karya ciptaan-Nya yang unik. Penulis Mazmur 104 bernyanyi tentang banyaknya karya seni Allah di alam (ay.24). Dia melihat “laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar” (ay.25) dan bersukacita dalam Allah yang memelihara secara teratur dan sempurna setiap karya agung-Nya (ay.27-31). Ketika melihat sekelilingnya dan memperhatikan keagungan dari makhluk-mahkluk yang dihidupkan oleh Allah, hati pemazmur meluap dengan pujian, “Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” (ay.33).
Ketika merenungkan ajaib dan luasnya karya Tuhan, kita dapat melihat jelas rancangan-Nya yang kreatif dan perhatian-Nya pada hal-hal terkecil. Seperti pemazmur, kita dapat memuji Pencipta kita dengan nyanyian syukur atas kedahsyatan-Nya, keagungan-Nya, dan kasih-Nya yang tak pernah berubah. Haleluya! —Xochitl Dixon
Karya Allah sangat menakjubkan, demikian pula diri-Nya.

Saturday, August 18, 2018

Sudut Pandang yang Sempurna

Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus. —Mazmur 102:20
Sudut Pandang yang Sempurna
Ketika berada di London, seorang teman mengatur agar saya dan Marlene, istri saya, mengunjungi Sky Garden. Letaknya di lantai teratas dari sebuah gedung setinggi 35 tingkat di kawasan bisnis London. Sky Garden adalah sebuah ruangan besar berdinding kaca yang dipenuhi beragam tanaman, pepohonan, dan bunga. Namun, bagian sky (langit) sempat menarik perhatian kami. Kami menatap ke bawah dari ketinggian lebih dari 150 m, mengagumi Katedral St. Paul, Menara London, dan masih banyak lagi. Pemandangan ibu kota yang kami lihat itu sungguh membuat kami tak bisa berkata-kata sekaligus memberi kami pelajaran bermanfaat tentang sudut pandang.
Allah kita memiliki sudut pandang yang sempurna terhadap segala hal yang kita alami. Pemazmur menulis, “Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm. 102:20-21).
Seperti orang-orang yang menderita dalam Mazmur 102, kita sering kali hanya bisa melihat masa sekarang dengan segala pergumulannya. Kita mengungkapkan “keluhan” kita dalam keputusasaan. Namun, Allah melihat hidup kita dari awal sampai akhir. Tuhan kita tidak pernah dibuat lengah oleh hal-hal yang tak kita ketahui. Sebagaimana dinanti-nantikan oleh sang pemazmur, sudut pandang Allah yang sempurna akan membawa pada pembebasan terbesar yang memerdekakan, bahkan bagi mereka yang telah “ditentukan mati dibunuh” (ay.21, 28-29).
Dalam momen-momen yang sulit, ingatlah: Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tetapi Tuhan kita tahu. Kita dapat mempercayakan setiap momen yang terbentang di hadapan kita kepada-Nya. —Bill Crowder
Memusatkan pandangan kita kepada Kristus akan membuat kita mempunyai sudut pandang yang benar terhadap segala sesuatu yang lain.

Friday, August 17, 2018

Yesus Mengulurkan Tangan-Nya

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia. —Matius 14:31
Yesus Mengulurkan Tangan-Nya
Terkadang hidup menjadi begitu sibuk—pelajaran yang sulit, pekerjaan yang melelahkan, kamar mandi yang perlu dibersihkan, dan janji pertemuan yang telah dijadwalkan hari ini. Saya pun tiba pada titik di mana saya harus memaksakan diri untuk membaca Alkitab selama beberapa menit dalam sehari sambil berjanji pada diri sendiri untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Tuhan minggu depan. Namun, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk teralihkan perhatiannya, kembali tenggelam dalam tugas-tugas pada hari itu, dan lupa meminta pertolongan Allah dalam bentuk apa pun.
Ketika Petrus berjalan di atas air hendak mendatangi Yesus, perhatiannya begitu cepat teralihkan oleh angin dan ombak. Seperti saya, ia mulai tenggelam (Mat. 14:29-30). Namun, begitu Petrus berseru, dengan “segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia” (ay.30-31).
Saya sering merasa seolah-olah harus menebus kegagalan saya kepada Allah setelah bekerja begitu sibuk dan perhatian saya teralihkan sampai-sampai saya melupakan kehadiran-Nya. Namun, Allah tidak menghendaki itu. Begitu kita berpaling kepada-Nya untuk meminta pertolongan, Yesus segera mengulurkan tangan-Nya tanpa ragu-ragu.
Ketika kita digoyahkan oleh berbagai kekalutan hidup, begitu mudahnya kita melupakan bahwa Allah hadir di tengah badai bersama kita. Yesus bertanya kepada Petrus, “Mengapa engkau bimbang?” (ay.31). Apa pun yang kita alami, Allah hadir. Dia hadir di sini. Dia mendampingi kita, dahulu maupun sekarang, dan siap mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan kita. —Julie Schwab
Tuhan, tolonglah aku untuk berpaling kepada-Mu di tengah kesibukan dan berbagai hal dalam hidup yang mengalihkan perhatianku. Terima kasih karena Engkau selalu hadir, menyertai, dan siap untuk menyelamatkanku.
Allah menunggu kita untuk berpaling kepada-Nya agar Dia dapat mengulurkan tangan-Nya dan menolong kita.

Thursday, August 16, 2018

Hati yang Lapar

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. —Yohanes 6:35
Hati yang Lapar
Saat berkendara bersama suami, saya melihat-lihat e-mail di ponsel saya dan dikejutkan oleh munculnya iklan sebuah toko donat di kota saya. Toko itu baru saja kami lewati! Tiba-tiba saja perut saya keroncongan karena lapar. Alangkah hebatnya cara teknologi memungkinkan para penjual merayu kita untuk mencoba produk atau jasa mereka.
Sembari menutup e-mail tersebut, saya teringat kepada Allah yang terus-menerus rindu menarik saya mendekat kepada-Nya. Dia selalu mengetahui di mana saya berada dan rindu untuk mempengaruhi pilihan-pilihan yang saya buat setiap hari. Saya bertanya-tanya, Apakah hati saya juga begitu mendambakan-Nya seperti perut saya yang lapar karena menginginkan donat?
Dalam Yohanes 6, setelah mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang, para murid sangat berharap Yesus akan selalu memberi mereka “roti yang . . . memberi hidup kepada dunia” (ay.33-34). Yesus menanggapi di ayat 35, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Sungguh luar biasa bagaimana hubungan pribadi dengan Yesus dapat selalu memberikan asupan rohani yang kita butuhkan sehari-hari!
Iklan toko donat tadi menyasar kelaparan jasmani saya, tetapi pengetahuan Allah yang sempurna akan kondisi hati saya telah mendorong saya untuk mengenali kebutuhan saya yang tiada habisnya akan Dia dan untuk menerima kepuasan sejati yang hanya dapat ditemukan di dalam Dia. —Elisa Morgan
Ya Allah, ingatkan aku bahwa aku membutuhkan kehadiran-Mu setiap hari.
Hanya Yesus yang menyediakan roti yang benar-benar memuaskan kita.

Wednesday, August 15, 2018

Tuhan Berbicara

Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? —Ayub 39:35
Tuhan Berbicara
Dalam kitab Ayub, kita dapat menemukan hampir setiap pendapat yang mencoba untuk menjelaskan alasan adanya penderitaan di dunia ini. Namun, perdebatan itu tidak akan pernah dapat menghibur Ayub. Permasalahan Ayub bukan cuma soal keraguan, tetapi terutama soal hubungan, yakni: Bisakah ia mempercayai Allah? Ayub menginginkan satu hal lebih daripada yang lain: kemunculan satu Pribadi yang bisa menjelaskan tentang pengalamannya yang mengenaskan. Ia ingin bertemu dan bertatap muka dengan Allah sendiri.
Akhirnya Ayub mendapatkan apa yang diinginkannya. Allah muncul secara pribadi kepadanya (lihat Ayb. 38:1). Sungguh suatu ironi yang sempurna ketika Allah hadir di saat Elihu, teman Ayub, baru saja menjelaskan mengapa Ayub tidak berhak mengharapkan pertemuan dengan Allah.
Tidak seorang pun—Ayub atau teman-temannya pun tidak—dapat menduga apa yang akan Allah katakan. Ayub telah memiliki daftar pertanyaan yang panjang, tetapi justru Allah yang mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. “Bersiaplah engkau sebagai laki-laki!” kata Allah, “Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku” (ay.3). Seakan mengesampingkan 35 pasal sebelumnya yang penuh dengan perdebatan soal penderitaan, Allah mengucapkan puisi yang megah tentang keajaiban alam ciptaan-Nya.
Perkataan Allah menegaskan perbedaan yang amat besar antara Allah Sang Pencipta dan satu orang fana seperti Ayub. Kehadiran-Nya secara spektakuler menjawab pertanyaan terbesar Ayub: Adakah yang peduli? Akhirnya, Ayub hanya bisa menanggapi, “Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui” (42:3). —Philip Yancey
Tuhan, kami memiliki begitu banyak pertanyaan tentang hidup dan ketidakadilan di dalamnya. Namun, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa Engkau baik. Tolong kami untuk mempercayai-Mu untuk segala sesuatu yang tak kami mengerti.
Tidak ada bencana yang terjadi di luar kedaulatan Allah.

Tuesday, August 14, 2018

Mengarungi Jeram

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan. —Yesaya 43:2
Mengarungi Jeram
Pemandu arung jeram membawa kelompok kami ke tepi sungai dan mengarahkan kami untuk memakai jaket pelampung dan meraih dayung. Saat kami naik ke perahu, pemandu mengatur posisi duduk kami untuk menjaga keseimbangan perahu agar tetap stabil saat melintasi jeram. Setelah menerangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami lalui, si pemandu menjelaskan serangkaian arahan yang akan kami dengar darinya dan harus diikuti agar kami berhasil mengendalikan perahu melewati jeram demi jeram. Ia meyakinkan kami bahwa meskipun ada momen-momen menegangkan di sepanjang perjalanan, perjalanan kami seluruhnya akan aman dan menyenangkan.
Adakalanya hidup ini terasa seperti mengarungi jeram, suatu perjalanan yang mengharuskan kita melalui arus deras lebih sering daripada yang kita harapkan. Janji Allah kepada Israel melalui Nabi Yesaya dapat menenangkan hati ketika kita mengkhawatirkan terjadinya kemungkinan yang terburuk: “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan” (Yes. 43:2). Bangsa Israel sangat takut ditolak oleh Allah ketika mereka harus dibuang sebagai akibat dari dosa mereka. Namun, Allah meyakinkan mereka dan berjanji untuk menyertai mereka karena kasih-Nya kepada mereka (ay.2,4).
Allah takkan meninggalkan kita di tengah arus kehidupan yang deras. Kita dapat mempercayai-Nya untuk memandu kita melewati jeram demi jeram—ketakutan dan pergumulan kita yang berat—karena Dia mengasihi dan berjanji selalu menyertai kita. —Kirsten Holmberg
Terima kasih, Tuhan, karena Engkaulah pemanduku dalam mengarungi derasnya jeram kehidupan. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu sekalipun arus hidup ini begitu ganas dan menyeramkan.
Tuhan memandu kita melewati masa-masa yang sulit.

Monday, August 13, 2018

Waktu yang Diberikan

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. —Amsal 11:25
Waktu yang Diberikan
Hari itu, saya sangat tergesa-gesa masuk ke kantor pos karena ada sejumlah hal yang hendak saya kerjakan. Namun, setelah masuk, saya merasa frustrasi karena melihat antrean yang mengular panjang sampai ke pintu. “Sudah cepat-cepat, tetapi masih harus menunggu,” gumam saya sambil melirik arloji dengan kesal.
Di saat tangan saya masih memegang pintu, seorang bapak tua yang tidak saya kenal mendekati saya. “Saya tak bisa menggunakan mesin fotokopi ini,” katanya sambil menunjuk mesin di belakang kami. “Uang saya terlanjur masuk ke mesin, dan saya tak tahu harus berbuat apa.” Saat itu, saya langsung tahu apa yang Tuhan mau untuk saya lakukan. Saya pun keluar dari antrean untuk membantunya dan berhasil menyelesaikan masalah itu dalam waktu sepuluh menit.
Orang tersebut mengucapkan terima kasih dan kemudian pergi. Lalu saat saya berbalik untuk antre lagi, antreannya sudah tidak ada! Saya bisa langsung berjalan ke depan loket pelayanan.
Pengalaman hari itu mengingatkan saya pada perkataan Yesus: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).
Penantian saya terasa singkat karena Allah menyela sikap saya yang tergesa-gesa. Dengan mengalihkan perhatian saya pada kebutuhan orang lain dan memampukan saya untuk memberikan waktu saya, Allah pun memberi saya sebuah berkat. Pelajaran itulah yang ingin saya ingat manakala saya melirik arloji saya. —James Banks
Bapa Surgawi, seluruh waktu yang kupunya adalah pemberian-Mu. Tunjukkanlah bagaimana aku dapat memakai waktuku agar memuliakan dan menghormati-Mu.
Adakalanya kita perlu mengesampingkan tugas-tugas yang ingin kita kerjakan demi melakukan hal lain yang lebih mendesak.

Sunday, August 12, 2018

Pertolongan dari Surga

Sebab yang berperang untuk orang Israel ialah Tuhan. —Yosua 10:14
Pertolongan dari Surga
SOS adalah sinyal kode Morse yang diciptakan pada tahun 1905 karena para pelaut membutuhkan cara untuk mengindikasikan adanya kesulitan yang ekstrem. Kode itu menjadi tenar pada tahun 1910 saat dipakai oleh sebuah kapal yang sedang tenggelam, Steamship Kentucky, sehingga seluruh penumpang kapal yang berjumlah 46 orang itu berhasil diselamatkan.
Meskipun pesan SOS merupakan penemuan di zaman modern, seruan untuk minta tolong sudah ada sejak permulaan zaman. Kita sering mendengarnya dalam kisah Perjanjian Lama tentang Yosua yang menghadapi pertentangan dari orang sebangsanya (Yos. 9:18) dan medan yang sulit (3:15-17) selama lebih dari 14 tahun. Pada saat itu, orang Israel perlahan-lahan menaklukkan dan menduduki tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka. Sepanjang perjuangan itu, “Tuhan menyertai Yosua” (6:27).
Dalam Yosua 10, orang Israel turun tangan membantu orang Gibeon, sekutu Israel yang sedang diserang oleh lima raja. Yosua tahu bahwa ia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk mengalahkan banyaknya musuh yang kuat (ay.12). Allah merespons dengan mengirimkan hujan batu, bahkan menghentikan matahari di tengah langit guna memberi Israel lebih banyak waktu untuk mengalahkan musuh. Yosua 10:14 mencatat, “Sebab yang berperang untuk orang Israel ialah Tuhan!”
Jika kamu sedang berada dalam situasi yang sulit, kamu dapat mengirimkan pesan SOS kepada Allah. Pertolongan yang kita terima akan berbeda dari bantuan yang diterima Yosua, tetapi bisa saja pertolongan itu berupa pekerjaan tak terduga, dokter yang penuh pengertian, atau damai sejahtera di tengah duka. Kiranya kamu dikuatkan saat melihat cara-cara Allah dalam merespons seruanmu yang meminta agar Dia menolong dan berperang bagimu. —Lisa Samra
Bapa, terima kasih karena Engkau telah menyertaiku dalam perjalanan yang sulit ini dan mendengarkanku saat aku berseru kepada-Mu.
Saat berseru kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya, yakinlah bahwa Dia akan menyertai kita.

Saturday, August 11, 2018

Senyum Seorang Pria

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. —Kolose 3:23
Senyum Seorang Pria
Pergi ke supermarket bukanlah suatu aktivitas yang saya sukai. Bagi saya, itu salah satu bagian paling menjemukan dalam hidup ini—sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan.
Namun, ada satu bagian dari aktivitas itu yang secara tak sengaja saya nanti-nantikan, yakni membayar di jalur seorang kasir bernama Fred. Fred dapat membuat proses pembayaran menjadi sebuah pertunjukan. Ia bekerja luar biasa cepat, selalu tersenyum lebar, bahkan menari (dan kadang-kadang menyanyi!) sembari berakrobat dengan melempar barang-barang belanjaan (yang tahan pecah) masuk ke dalam kantong plastik. Jelas terlihat bahwa Fred sangat menikmati pekerjaan yang bisa jadi dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang paling membosankan. Walau hanya sebentar, keceriaannya dapat mencerahkan hati orang-orang yang membayar di jalur kasirnya.
Saya sangat menghargai dan mengagumi cara Fred melakukan pekerjaannya. Sikapnya yang ceria, kerelaannya untuk melayani, dan perhatiannya terhadap hal-hal detail sungguh selaras dengan deskripsi Rasul Paulus dalam Kolose 3:23 tentang cara bekerja yang sepatutnya kita miliki, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Ketika kita bersekutu dengan Yesus, pekerjaan apa pun yang kita lakukan memberi kita kesempatan untuk memancarkan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita. Tidak ada tugas yang terlalu kecil . . . atau terlalu besar! Menunaikan tanggung jawab kita—apa pun itu—dengan penuh sukacita, kreativitas, dan kesungguhan menjadi kesempatan kita untuk mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. —Adam Holz
Tuhan, tolonglah aku untuk menunaikan tanggung jawabku hari ini dengan kasih, semangat, dan sukacita, karena sikapku dapat mempengaruhi orang lain dengan cara-cara yang tidak selalu kusadari.
Cara terbaik untuk melakukan pekerjaan yang memuaskan hati adalah dengan melakukannya bagi Tuhan.

Friday, August 10, 2018

Ratapan Penuh Pengharapan

Ya Tuhan, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. —Ratapan 3:55
Ratapan Penuh Pengharapan
Mengunjungi Taman Nasional Clifton Heritage di Nassau, Bahama, membawa seseorang teringat pada suatu masa yang tragis dalam sejarah. Di sana, di tepi pantai, terdapat tangga-tangga batu yang mengarah ke tebing. Dahulu, pada abad ke-18, para budak meninggalkan keluarga mereka dan dibawa ke Bahama dengan kapal. Mendaki tangga-tangga batu itu menjadi permulaan dari hidup yang berat dan perlakuan tidak manusiawi yang akan mereka terima di sepanjang hidup mereka. Kini di puncak tebing terdapat semacam tugu-tugu peringatan untuk mengenang para budak itu. Pohon-pohon aras telah diukir menjadi figur-figur perempuan yang menatap laut ke arah tanah airnya dan anggota keluarga yang telah mereka tinggalkan. Setiap patung itu diparut hingga meninggalkan bekas seperti luka cambuk dari kapten penjaga budak.
Patung-patung perempuan yang meratapi penderitaan mereka itu mengingatkan saya tentang pentingnya kita menyadari dan meratapi ketidakadilan serta kerusakan yang terjadi di dunia. Meratap bukan karena kita kehilangan pengharapan, melainkan karena kita jujur di hadapan Allah. Meratap haruslah menjadi sikap yang lazim bagi orang Kristen; sekitar empat puluh persen isi kitab Mazmur merupakan mazmur ratapan, dan dalam kitab Ratapan, umat Allah berseru kepada-Nya setelah kota mereka dihancurkan oleh pasukan musuh (3:55).
Ratapan merupakan respons yang wajar terhadap realitas penderitaan, di mana kita melibatkan Allah di tengah kesakitan dan pergumulan kita. Pada akhirnya, ratapan itu dipenuhi pengharapan: ketika kita meratapi sesuatu yang tidak benar, kita mengajak diri kita sendiri dan orang lain untuk aktif mengupayakan perubahan.
Itulah mengapa taman penuh patung di Nassau itu dinamai “Genesis” (Kejadian atau Permulaan)—tempat ratapan yang kini dikenal sebagai tempat permulaan yang baru. —Amy Peterson
Kita dapat mempercayai Allah untuk memunculkan sesuatu yang baru dari masa-masa ratapan kita.

Thursday, August 9, 2018

Bapa yang Baik

Waktu berbaring di tempat tidur, kuingat pada-Mu; sepanjang malam aku merenungkan Engkau. —Mazmur 63:7 BIS
Bapa yang Baik
Ketika putra kami, Xavier, masih kecil, suami saya kerap kali harus bepergian karena pekerjaannya. Ayahnya sering menelepon, tetapi adakalanya itu tidak cukup bagi Xavier. Untuk membantu menenangkan Xavier yang merindukan ayahnya, biasanya saya mengeluarkan album foto sebelum ia tidur. Saya memperlihatkan foto-foto yang menunjukkan pengalaman mereka bersama dan bertanya, “Kamu ingat ini?” Ingatan itu menghibur anak kami, dan ia pun sering berkata, “Ayahku baik sekali.”
Saya mengerti bagaimana Xavier perlu diingatkan kembali akan kasih ayahnya di saat mereka saling berjauhan. Di saat saya mengalami masa sulit atau merasa kesepian, saya pun rindu untuk diyakinkan bahwa saya sangat dikasihi, terutama oleh Bapa saya di surga.
Daud menyuarakan kerinduannya yang mendalam akan Allah dalam persembunyiannya di padang gurun (Mzm. 63:2). Saat mengingat kembali pengalaman pribadinya dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, Daud pun tergerak untuk memuji Allah (ay.3-6). Di sepanjang malam-malam yang berat, Daud masih tetap bersukacita dalam pemeliharaan Allah Bapanya yang penuh kasih dan yang selalu bisa diandalkannya (ay.7-9).
Di masa-masa yang kelam, ketika kita sulit merasakan kehadiran Allah, kita perlu diingatkan kembali tentang karakter Allah dan karya-karya yang menjadi bukti kasih-Nya. Ketika kita merenungkan pengalaman pribadi kita dengan-Nya dan memperhatikan segala perbuatan-Nya yang tercatat dalam Kitab Suci, kita dapat diyakinkan kembali akan betapa banyaknya cara yang telah digunakan Allah Bapa kita yang baik untuk mengasihi kita. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih karena Engkau menunjukkan kasih-Mu yang tak berkesudahan kepada umat-Mu, dalam hidup kami, dan melalui firman-Mu dalam Kitab Suci.
Dengan mengingat-ingat karya Allah, kita melihat karakter-Nya dan diyakinkan kembali akan kasih-Nya.

Wednesday, August 8, 2018

Pengabdian Kasih

Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya [Israel] diselamatkan. —Roma 10:1
Pengabdian Kasih
Setelah beriman kepada Yesus Kristus, Nabeel Qureshi menulis beberapa judul buku untuk menolong para pembacanya agar bisa memahami orang-orang yang masih menganut agama yang dahulu pernah dianutnya. Qureshi menulis dengan cara yang sopan dan sikap yang menunjukkan kasih kepada orang-orang tersebut.
Qureshi mengabdikan salah satu bukunya untuk saudara perempuannya yang belum beriman kepada Yesus. Kalimat dedikasinya cukup singkat, tetapi sarat makna. “Aku memohon kepada Allah agar suatu hari nanti kita bisa beribadah kepada-Nya bersama-sama,” demikian tulisnya.
Kita bisa merasakan kasih yang serupa ketika membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma. Ia menulis, “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rom. 9:2-3).
Paulus begitu mengasihi bangsa Yahudi sampai-sampai ia rela untuk terpisah dari Allah, jika itu bisa membuat mereka menerima Kristus. Ia memahami bahwa dengan menolak Yesus, kaum sebangsanya telah menolak satu-satunya Allah yang sejati. Itulah yang mendorongnya untuk mengimbau para pembacanya agar membagikan kabar baik tentang Yesus kepada setiap orang (10:14-15).
Hari ini, marilah kita sungguh-sungguh mengabdikan diri dalam kasih yang rela berkorban bagi orang-orang terdekat kita! —Tim Gustafson
Bapa, kami meminta kepada-Mu, penuhilah hati kami dengan kasih-Mu kepada sesamaku manusia. Kami membawa Saudara/Saudari _______________ kepada-Mu dan berdoa kiranya ia bisa melihat kebenaran tentang Anak-Mu, Yesus Kristus.
Kita harus mengasihi mereka yang baginya Kristus telah mati sekaligus mereka yang di dalam dirinya Kristus terus hidup.

Tuesday, August 7, 2018

Saat Hal Buruk Terjadi

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16
Saat Hal Buruk Terjadi
Ketika krisis keuangan melanda Asia pada tahun 1997, jumlah orang yang mencari pekerjaan jauh lebih banyak daripada lowongan kerja yang tersedia. Saya termasuk salah satu pencari kerja saat itu. Setelah menunggu dengan penuh kecemasan selama 9 bulan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai penulis naskah. Namun, perusahaan itu mengalami masa-masa sulit dan saya pun menganggur lagi.
Apakah kamu pernah mengalaminya? Baru saja satu hal buruk terlewati, tiba-tiba terjadi hal buruk yang lain. Itulah yang dialami seorang janda di Sarfat (1Raj. 17:12). Karena dalam masa paceklik, janda itu menyiapkan makanan terakhir untuk dirinya dan anaknya. Tiba-tiba Nabi Elia datang dan meminta sedikit makanan. Dengan sedikit enggan, janda itu mau berbagi dan Allah kemudian menyediakan terus tepung dan minyak baginya (ay.10-16).
Namun kemudian, anak janda itu sakit keras. Kesehatannya merosot sampai napasnya berhenti. Janda itu berseru, “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (ay.18).
Adakalanya, kita mungkin bereaksi seperti janda itu—kita bertanya-tanya apakah Allah sedang menghukum kita. Kita lupa bahwa hal-hal buruk masih terjadi di dunia yang berdosa ini.
Elia membawa masalah itu kepada Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tulus untuk anak itu, dan Allah pun menghidupkan anak itu kembali! (ay.20-22).
Saat hal-hal buruk kita alami, kiranya kita—seperti Elia—menyadari bahwa Pribadi yang setia itu tidak akan meninggalkan kita! Kita bisa mempercayai maksud-maksud Allah sembari tetap berdoa memohon pengertian dari-Nya. —Poh Fang Chia
Allah itu baik dalam masa suka maupun duka.

Monday, August 6, 2018

Sukacita Memberi

Tabahkan hati orang yang takut; tolonglah orang yang perlu ditolong dan sabarlah terhadap semua orang. —1 Tesalonika 5:14 BIS
Sukacita Memberi
Minggu itu terasa sangat menjemukan, entah mengapa saya merasa lesu dan tidak bersemangat.
Di penghujung minggu, saya mendapat kabar bahwa salah seorang bibi saya menderita sakit ginjal. Saya sadar saya harus mengunjunginya—tetapi terus terang, saya merasa enggan. Walaupun demikian, akhirnya saya pergi mengunjunginya. Di sana kami menikmati makan malam, mengobrol, dan berdoa bersama. Setelah satu jam, saya pun pulang dengan semangat baru, sesuatu yang tidak saya rasakan sepanjang minggu itu. Tindakan memperhatikan orang lain lebih daripada diri sendiri ternyata dapat memperbaiki suasana hati saya.
Para psikolog telah menemukan bahwa tindakan memberi dapat menghasilkan kepuasan dalam hati, yakni ketika sang pemberi melihat ucapan syukur dari sang penerima. Sejumlah pakar bahkan yakin bahwa manusia sebenarnya mempunyai kecenderungan untuk bermurah hati!
Mungkin untuk alasan itulah, dalam nasihat kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mendorong mereka agar “[menolong] orang yang perlu ditolong” (1Tes. 5:14 bis). Sebelumnya, ia telah mengutip perkataan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35). Walaupun nasihat itu diberikan dalam konteks pemberian finansial, tetapi berlaku juga dalam hal memberikan waktu dan tenaga.
Dengan memberi, kita memahami sedikit banyak apa yang Allah rasakan. Kita memahami mengapa Allah sangat senang memberikan kasih-Nya kepada kita, dan kita pun menikmati sukacita-Nya dan kepuasan dalam menjadi berkat bagi orang lain. Karena itulah, rasanya saya akan mengunjungi bibi saya lagi dalam waktu dekat. —Leslie Koh
Bapa, Engkau menghendaki aku untuk memberi kepada orang lain seperti Engkau telah memberi begitu banyak bagiku. Ajarlah aku untuk memberi agar aku dapat mencerminkan karakter-Mu dan menjadi makin serupa dengan-Mu hari ini.
Berkat terbesar diterima oleh mereka yang rela memberi.

Sunday, August 5, 2018

Rahasia Agung

Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa. —Nahum 1:3
Rahasia Agung
Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan bersama seorang kawan, kami berbincang-bincang tentang kecintaan kami pada Alkitab. Saya terkejut ketika ia mengatakan, “Aku tak terlalu suka dengan Perjanjian Lama. Isinya penuh dengan kekerasan dan balas dendam. Aku lebih suka membaca tentang Yesus!”
Kita mungkin akan sepaham dengannya bila kita membaca seperti kitab Nahum dan dikejutkan oleh pernyataan seperti ini, “Tuhan itu pembalas dan penuh kehangatan amarah” (Nah. 1:2). Namun, ayat berikutnya memberi kita pengharapan, “Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa” (ay.3).
Ketika menyelidiki lebih jauh tentang amarah Allah, kita pun memahami bahwa ketika Allah menunjukkan kemarahan-Nya, itu lebih sering karena Dia membela umat-Nya atau kekudusan nama-Nya. Karena kasih-Nya yang melimpah, Allah menuntut keadilan atas pelanggaran yang terjadi sekaligus menghendaki penebusan orang-orang yang telah berpaling dari-Nya. Kita melihat hal itu bukan hanya dalam Perjanjian Lama, ketika Dia memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya, tetapi juga dalam Perjanjian Baru, saat Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal menjadi penebus dosa-dosa kita.
Kita mungkin tidak dapat memahami sepenuhnya rahasia agung tentang karakter-karakter Allah. Namun, kita dapat percaya bahwa Allah tidak hanya berlaku adil, tetapi juga menjadi sumber dari segala kasih. Kita tidak perlu takut kepada-Nya, karena Tuhan itu “baik, Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (ay.7). —Amy Boucher Pye
Allah Bapa, Engkau sungguh baik. Engkau penuh kasih dan murah hati. Tolong aku untuk lebih memahami sebagian rahasia tentang kasih-Mu yang telah menebus kami.
Keadilan dan belas kasihan Allah berpadu di kayu salib.

Saturday, August 4, 2018

Kasih yang Dahsyat

Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. —Lukas 14:13
Kasih yang Dahsyat
Tepat seminggu sebelum hari pernikahannya, Sarah memutuskan pertunangannya. Meski sedih dan kecewa, ia memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang telah dipesan untuk resepsi pernikahannya itu. Jadi, ia pun mengubah rencananya. Ia menyingkirkan meja tempat hadiah dan mengundang para penghuni rumah-rumah penampungan tunawisma di kotanya untuk datang ke perjamuan tersebut.
Yesus mendukung sikap murah hati yang tulus seperti itu. Dia pernah mengatakan kepada orang-orang Farisi, “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia” (Luk. 14:13-14). Dia menyatakan bahwa berkat yang akan diterima sang tuan rumah berasal dari Allah karena para tamu yang datang tak mampu membalas kemurahan hatinya. Yesus berkenan dengan pertolongan yang kita berikan kepada orang-orang yang tak mampu memberi, yang terkucil, dan yang tak punya siapa-siapa.
Ketika kita mencermati bahwa Yesus mengucapkan perkataan itu dalam perjamuan makan yang diadakan seorang Farisi, pesan-Nya terdengar provokatif dan radikal. Namun, kasih yang sejati memang radikal. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa kasih berarti memenuhi kebutuhan orang lain tanpa mengharapkan balasan apa pun. Itulah cara Yesus mengasihi setiap dari kita. Karena kita miskin secara rohani, Dia memenuhi kebutuhan kita dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.
Mengenal Yesus Kristus secara pribadi merupakan perjalanan mengalami kasih-Nya yang tak terbatas. Kita semua diundang untuk memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef. 3:18). —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, tolong kami untuk memahami kedalaman kasih-Mu. Aku ingin membagikan kepada sesamaku apa yang telah Engkau berikan kepadaku.
Betapa dalamnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita!

Friday, August 3, 2018

Sahabatku yang Terkasih

Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran. —3 Yohanes 1:1
Sahabatku yang Terkasih
Yang dilakukan oleh Rasul Yohanes kepada sahabatnya, Gayus, di abad pertama merupakan seni yang nyaris punah di abad ke-21 sekarang ini. Yohanes menulis surat kepada Gayus.
Catherine Field, seorang penulis untuk surat kabar The New York Times, pernah berkata, “Menulis surat adalah salah satu seni paling kuno yang kita miliki. Mendengar kata surat, pikiran kita langsung tertuju kepada Paulus dari Tarsus.” Selain Paulus, kita juga dapat menambahkan nama Rasul Yohanes di sana.
Dalam suratnya kepada Gayus, Yohanes mengucapkan harapan bagi kesehatan jasmani dan rohani Gayus, menaikkan ucapan syukur atas kesetiaannya, dan memuji kasihnya kepada jemaat Tuhan. Yohanes juga berbicara tentang sebuah masalah dalam gereja dan berjanji akan mengurusnya nanti secara pribadi. Selain itu, Yohanes menulis tentang pentingnya seseorang berbuat baik bagi kemuliaan Allah. Secara umum, sang rasul menulis surat yang sangat menguatkan sekaligus penuh tantangan bagi sahabatnya.
Komunikasi digital mungkin membuat seni menulis surat di atas kertas makin pudar, tetapi itu tidak harus membuat kita berhenti berusaha menguatkan orang lain. Paulus menulis surat di atas perkamen untuk menguatkan jemaat-jemaat, dan kita pun dapat menguatkan orang lain dengan beragam cara yang tersedia bagi kita. Kuncinya bukanlah pada cara yang kita gunakan, tetapi lebih pada kemauan kita untuk mengambil waktu supaya orang lain tahu bahwa kita memperhatikan mereka dengan kasih Yesus!
Bayangkanlah betapa Gayus dikuatkan ketika membaca surat dari Rasul Yohanes. Dapatkah kita juga memancarkan kasih Allah kepada teman-teman kita melalui tulisan yang menunjukkan kepedulian kita atau panggilan telepon yang menguatkan mereka? —Dave Branon
Tuhan, tolonglah agar kami tahu bagaimana kami dapat menguatkan orang lain yang sedang membutuhkan penguatan iman.
Kata-kata yang menguatkan dapat memberikan pengharapan bagi jiwa.

Thursday, August 2, 2018

Pemulihan yang Besar

Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air. —Mazmur 107:35
Pemulihan yang Besar
Saya sangat menyukai hujan lebat. Waktu masih kanak-kanak, manakala hujan lebat datang—dengan guntur yang menggelegar dan air yang turun menghunjam ke bumi—saya dan saudara-saudara saya langsung lari keluar rumah untuk bermain air dan meluncur di bawah guyuran hujan. Setelah beberapa saat lamanya, kami pun masuk kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup.
Pengalaman beberapa menit itu sangat seru karena kami begitu terhanyut dalam sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai kami tak bisa membedakan apakah kami sebenarnya bersenang-senang atau justru ketakutan.
Gambaran tersebut muncul di benak saya ketika membaca dalam Mazmur 107 bagaimana pemulihan dari Allah disamakan dengan padang gurun yang diubah menjadi “kolam air” (ay.35). Hujan yang bisa mengubah padang gurun menjadi mata air tentu bukan hujan yang ringan, melainkan hujan deras yang airnya membanjiri setiap retakan tanah kering dan mengalirinya dengan kehidupan baru.
Bukankah pemulihan seperti itu yang selama ini kita nanti-nantikan? Ketika kehidupan kita terasa berjalan tanpa arah dan kita “lapar dan haus” akan pemulihan yang tampaknya tak kunjung tiba (ay.4-5), yang kita butuhkan bukanlah pengharapan yang secuil saja. Ketika pola-pola dosa telah berakar dalam diri kita dan menjerat kita “di dalam gelap dan kelam” (ay.10-11), yang dibutuhkan hati kita bukanlah perubahan yang sekadarnya.
Yang kita butuhkan adalah pemulihan yang besar, dan itulah yang sanggup dikerjakan Allah (ay.20). Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk membawa ketakutan dan cela kita kepada-Nya. Allah lebih dari sanggup untuk memutuskan belenggu dosa kita dan menghalau kekelaman dari hidup kita dengan terang-Nya (ay.13-14). —Monica Brands
Bapa, tolonglah kami untuk datang kepada-Mu dengan beban-beban kami, karena kami mempercayai kasih dan kuasa-Mu yang sanggup mengubah dan memulihkan.
Kuasa Allah sanggup membawa perubahan.

Wednesday, August 1, 2018

Kasih Tanpa Batas

Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. —Mazmur 145:9
Kasih Tanpa Batas
Seorang teman baik menasihati saya untuk menjauhi pemakaian ungkapan “kamu itu selalu . . .” atau “kamu itu tak pernah . . .” dalam pertengkaran, terutama dengan keluarga saya. Alangkah mudahnya kita mengkritik orang lain dan lalai mengasihi orang-orang yang sepatutnya kita kasihi. Namun, kasih Allah yang kekal bagi kita semua tidak pernah berubah.
Mazmur 145 sarat dengan kata semua dan segala. “Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (ay.9). “Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk” (ay.13-14). “Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya” (ay.20).
Dalam mazmur tersebut, belasan kali kita diingatkan bahwa kasih Allah tidak terbatas dan tidak pilih kasih. Lalu Perjanjian Baru menyingkapkan bahwa ungkapan teragung dari kasih itu ditemukan dalam diri Yesus Kristus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).
Mazmur 145 menyatakan bahwa “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka” (ay.18-19). Kasih Allah bagi kita kekal selamanya dan tak pernah berkesudahan! —David C. McCasland
Bapa di surga, kami mengagumi kasih-Mu yang tak pernah berubah bagi kami, tak pernah gagal, dan takkan pernah berakhir. Kami memuji-Mu karena pernyataan kasih-Mu yang tak terbatas bagi kami melalui Yesus, Juruselamat dan Tuhan kami.
Kasih Allah yang kekal bagi kita semua tidak pernah berubah.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate