Pages - Menu

Tuesday, July 31, 2018

Pendosa seperti Kita

Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. —Lukas 15:2
Pendosa seperti Kita
Saya punya seorang teman bernama Edith yang menceritakan kepada saya pengalamannya yang menarik ketika ia memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus.
Dahulu Edith tidak mempedulikan agama. Namun, pada suatu Minggu pagi, ia pergi ke sebuah gereja di dekat apartemennya untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan jiwanya yang hampa. Khotbah pada hari itu terambil dari Lukas 15, dan ayat 2 berbunyi: “[Yesus] menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
Sang pengkhotbah membaca dari Alkitab versi King James dalam bahasa Inggris, dan di sana kata “makan” tertulis “eateth”. Bagi Edith, ayat itu terdengar demikian: “Ia menerima orang-orang berdosa dan Edith bersama-sama dengan mereka.” Edith pun terhenyak! Meskipun akhirnya ia sadar telah salah dengar, tetapi pemikiran bahwa Yesus menerima orang berdosa—dan itu termasuk Edith—terus diingatnya. Sore itu, ia memutuskan untuk datang kepada Yesus dan mendengarkan Dia. Edith mulai membaca kitab-kitab Injil dan tidak lama setelah itu memutuskan untuk beriman kepada Yesus.
Para pemuka agama pada zaman Yesus tidak menerima kenyataan bahwa Dia makan-minum bersama orang-orang yang berdosa dan tidak benar. Aturan-aturan yang mereka buat melarang mereka untuk berhubungan dengan orang-orang seperti itu. Namun, Yesus tidak mempedulikan aturan-aturan itu. Dia menerima siapa saja yang telah jatuh dalam dosa dan membawa mereka mendekat kepada-Nya, tanpa memandang sedalam apa kejatuhan mereka.
Kebenaran tersebut masih berlaku hingga saat ini: Yesus menerima orang-orang berdosa dan juga (nama kamu). —David H. Roper
Bapa Surgawi, tiada kata yang cukup melukiskan rasa syukur kami atas kedahsyatan kasih Anak-Mu, yang menarik orang-orang terbuang dan berdosa kepada-Nya, dan membuka jalan bagi kami untuk berani datang kepada-Mu dengan penuh sukacita.
Allah mencari kita saat kita gelisah, menerima kita saat kita berdosa, dan menopang kita saat kita gagal. —Scotty Smith

Monday, July 30, 2018

Mengatasi Tantangan

Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari. —Nehemia 6:15
Mengatasi Tantangan
Saya dan beberapa teman berkumpul tiap bulan untuk saling mengingatkan tentang hal-hal yang ingin kami capai masing-masing. Teman saya, Mary, ingin melapis ulang kursi-kursi ruang makannya sebelum akhir tahun. Pada pertemuan bulan November, dengan bercanda ia melaporkan kemajuan yang dialaminya di bulan Oktober: “Butuh waktu sepuluh bulan dan dua jam untuk memperbaiki kursi-kursiku.” Setelah berbulan-bulan gagal mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, atau sulit menemukan waktu luang di sela-sela pekerjaan yang padat atau mengasuh anak balitanya, proyek tersebut ternyata hanya membutuhkan waktu dua jam jika dikerjakan dengan sepenuh hati.
Tuhan memanggil Nehemia mengerjakan proyek yang jauh lebih besar: memulihkan Yerusalem setelah temboknya runtuh selama 150 tahun (Neh. 2:3-5,12). Ketika ia memimpin bangsanya bekerja, mereka diolok-olok, diserang, diganggu, dan digoda untuk berbuat dosa (4:3,8; 6:10-12). Namun, Allah memampukan mereka berdiri teguh dan bertekad baja sehingga tugas yang sulit itu diselesaikan hanya dalam waktu 52 hari.
Mengatasi tantangan sesulit itu membutuhkan lebih dari hasrat atau tekad diri yang kuat. Nehemia digerakkan oleh pemahaman bahwa Allah telah menunjuknya untuk melakukan tugas itu. Kesadaran akan tujuan itu menguatkan orang lain untuk mengikuti kepemimpinannya, meski mereka mendapat perlawanan yang luar biasa. Ketika Allah menugaskan kita—baik untuk memulihkan hubungan yang retak atau memberi kesaksian tentang apa yang telah diperbuat-Nya dalam hidup kita—Dia akan memberi kita apa pun keterampilan dan kekuatan yang diperlukan untuk terus melakukan apa yang Dia minta, apa pun tantangan yang mungkin menghadang kita. —Kirsten Holmberg
Ya Tuhan, perlengkapi aku dengan kuasa-Mu agar aku bertekun hingga menyelesaikan tugas-tugas yang Engkau berikan kepadaku. Kiranya jerih lelahku memuliakan-Mu.
Tuhan memperlengkapi kita untuk mengatasi rintangan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan-Nya untuk kita lakukan.

Sunday, July 29, 2018

Pengharapan dalam Duka

Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. —Lukas 24:31
Pengharapan dalam Duka
Ketika saya berumur sembilan belas tahun, salah seorang teman dekat saya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kemudian, saya terus diliputi dukacita. Kepedihan yang saya rasakan karena kehilangan seorang teman yang masih muda dan luar biasa itu telah mengaburkan pandangan saya. Adakalanya saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekeliling saya. Saya begitu dibutakan oleh duka dan derita hingga saya tidak lagi bisa melihat Tuhan.
Dalam Lukas 24, dua murid yang sedang bingung dan patah semangat setelah kematian Yesus tidak menyadari bahwa mereka sedang berjalan bersama Guru mereka yang telah bangkit. Mereka bahkan tidak sadar juga di saat Yesus menjelaskan dari Kitab Suci tentang alasan Sang Juruselamat yang dijanjikan itu harus mati dan bangkit kembali. Ketika Dia mengambil dan memecahkan roti, barulah mereka tersadar bahwa itulah Yesus (ay.30-31). Walaupun para pengikut Yesus telah menyaksikan kematian yang paling mengerikan ketika Dia mati, Allah menunjukkan bagaimana mereka dapat kembali memiliki pengharapan melalui kebangkitan Yesus dari antara orang mati.
Seperti kedua murid tersebut, kita mungkin sedang diliputi rasa bingung dan dukacita yang besar. Meski demikian, kita dapat memperoleh pengharapan dan dihibur oleh kenyataan bahwa Yesus hidup dan masih berkarya di tengah dunia ini—dan juga di dalam diri kita. Meskipun kita masih mengalami derita dan duka, kita bisa menerima Kristus yang akan berjalan bersama kita di tengah dukacita tersebut. Sebagai Terang Dunia (Yoh. 8:12), Dia membawa sinar pengharapan yang sanggup mengenyahkan kabut yang melingkupi kita. —Amy Boucher Pye
Tuhan Allah, terima kasih karena Engkau telah menjadi terang di dalam kegelapan. Berikanlah aku pengharapan saat aku sedih dan bingung, dan mampukanlah aku untuk melihat kemuliaan-Mu.
Meski berduka, kita memiliki pengharapan di dalam Yesus.

Saturday, July 28, 2018

Lebah dan Ular

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. —Matius 7:11
Lebah dan Ular
Untuk beberapa masalah di rumah, rasanya cuma saya yang bisa menyelesaikannya. Sebagai contoh, baru-baru ini anak-anak saya menemukan sekumpulan lebah telah berpindah ke sebuah celah di tembok teras depan. Jadi, saya pun harus membereskan masalah itu dengan bersenjatakan semprotan serangga.
Saya tersengat lebah. Sampai lima kali.
Tentu saya tak suka disengat lebah. Namun, lebih baik saya yang tersengat daripada anak atau istri. Lagipula, mengurus kesejahteraan keluarga adalah tanggung jawab saya yang utama. Anak-anak saya memiliki kebutuhan dan meminta saya untuk memenuhinya. Mereka mempercayai saya untuk melindungi mereka dari hal yang membuat mereka takut.
Dalam Matius 7, Yesus mengajarkan bahwa kita juga harus membawa setiap kebutuhan kita kepada Allah (ay.7). Kita percaya bahwa Dia mendengar semua permintaan kita. Untuk memperjelas, Yesus memberikan contoh kasus: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?” (ay.9-10). Bagi orangtua yang penyayang, jawabannya sudah jelas. Namun, Yesus tetap menjawab, sambil menantang kita untuk tidak kehilangan kepercayaan akan kebaikan Bapa kita yang murah hati: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (ay.11).
Saya sangat menyayangi anak-anak saya. Namun, Yesus meyakinkan kita bahwa kasih ayah yang terbaik di dunia sekalipun tak sebanding dengan kasih Allah bagi kita. —Adam Holz
Bapa, terima kasih Engkau mengasihi kami lebih daripada ayah yang terbaik di dunia sekalipun. Tolong kami untuk melakukan firman Tuhan dengan apa yang ada di hati kami; untuk meminta, mencari, dan mengetuk dalam hubungan kami dengan-Mu.
Kita dapat mengandalkan Bapa kita untuk segala yang kita perlukan.

Friday, July 27, 2018

Ungkapan Kasih yang Melimpah

Kalian akan serba cukup dalam segala hal sehingga kalian selalu dapat memberi dengan murah hati. —2 Korintus 9:11 BIS
Ungkapan Kasih yang Melimpah
Setiap ulang tahun pernikahan kami, suami saya, Alan, memberi saya karangan bunga segar. Ketika ia kehilangan pekerjaannya, saya tidak mengharapkan ungkapan kasih yang berlimpah itu akan berlanjut. Namun, pada ulang tahun ke-19 pernikahan kami, saya menemukan bunga-bunga mekar berwarna-warni sedang menanti saya di atas meja makan. Karena Alan menganggap tradisi tahunan itu penting untuk dilanjutkan, ia pun menghemat sejumlah uang setiap bulan untuk memastikan bahwa ia memiliki cukup uang untuk mengungkapkan kasihnya dengan cara yang menyentuh itu.
Perencanaan suami saya yang cermat menunjukkan kemurahan hatinya yang luar biasa. Itu mirip dengan apa yang dipuji Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Sang rasul memuji jemaat tersebut atas persembahan yang mereka kumpulkan dengan terencana dan antusias (2 Kor. 9:2,5), sambil mengingatkan mereka bahwa Allah berkenan kepada orang yang memberi dengan murah hati dan sukacita (ay.6-7). Lagipula, tidak ada yang memberi lebih daripada Allah, Pemelihara kita yang baik, yang selalu siap menyediakan semua yang kita butuhkan (ay.8-10).
Kita bisa selalu bermurah hati dan saling memperhatikan karena Tuhan memenuhi semua kebutuhan kita dari segi materi, emosi, dan rohani (ay.11). Ketika memberi, kita dapat mengungkapkan rasa syukur atas semua yang telah diberikan Allah kepada kita. Kita bahkan bisa memotivasi orang lain untuk memuji Tuhan dan rela memberi dari berkat yang telah diberikan Allah kepada mereka (ay.12-13). Memberi dengan murah hati sebagai ungkapan kasih dan syukur yang melimpah dapat menunjukkan keyakinan kita akan pemeliharaan Allah atas seluruh umat-Nya. —Xochitl Dixon
Tuhan, tolong kami mempercayai kasih dan kemurahan-Mu yang melimpah sehingga kami bisa memberi kepada sesama apa yang telah Engkau berikan kepada kami.
Memberi dengan murah hati menunjukkan keyakinan teguh akan pemeliharaan Allah yang penuh kasih dan setia.

Thursday, July 26, 2018

Pelayanan yang Murah Hati

Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap. —Yesaya 58:10
Pelayanan yang Murah Hati
Sekelompok kecil orang berdiri di sekeliling pohon raksasa yang tumbang di halaman rumah. Seorang wanita berusia lanjut dengan tongkat di tangannya bercerita bagaimana ia menyaksikan angin badai pada malam sebelumnya menghempaskan “pohon tua raksasa kami. Lebih parahnya lagi,” lanjutnya dengan suara yang serak karena emosi, “badai itu merobohkan tembok batu kami yang indah. Suami saya membangun tembok itu setelah kami menikah. Kami menyukai tembok itu! Sekarang tembok itu tidak ada lagi; sama seperti dirinya.”
Esok paginya, saat wanita tua itu melihat para pekerja sedang membersihkan pohon yang tumbang, ia pun tersenyum lebar. Di antara ranting-ranting ia bisa melihat dua orang dewasa dan seorang anak laki-laki yang pernah menolongnya memotong rumput halaman itu kini sedang mengukur dan membangun kembali tembok batu kesayangannya!
Nabi Yesaya pernah menulis tentang jenis pelayanan yang disukai Allah, yakni perbuatan-perbuatan yang menguatkan hati orang-orang di sekitar kita, seperti yang dilakukan mereka yang memperbaiki tembok wanita tua itu. Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa Allah lebih menghargai pelayanan yang mementingkan kebutuhan orang lain daripada ritual agamawi yang tanpa makna. Allah bahkan memberikan berkat dua arah lewat pelayanan tanpa pamrih yang dilakukan anak-anak-Nya. Pertama, Allah memakai kerelaan kita dalam melayani untuk membantu kaum yang tertindas dan membutuhkan pertolongan (Yes. 58:7-10). Lalu Allah menghargai mereka yang terlibat dalam pelayanan itu dengan membangun atau meneguhkan kembali reputasi mereka sebagai kekuatan yang memberikan dampak positif dalam Kerajaan-Nya (ay.11-12). Pelayanan apa yang akan kamu berikan hari ini? —Randy Kilgore
Terima kasih, Bapa, untuk pelayanan orang lain yang Engkau pakai untuk menolong kami. Terima kasih karena Engkau memanggil kami untuk melakukan hal yang sama.
Kita memuliakan Allah dengan melayani sesama tanpa pamrih.

Wednesday, July 25, 2018

Menyadari Ketidaksempurnaan

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu. —Efesus 3:16
Menyadari Ketidaksempurnaan
Seorang dosen di kampus memberi saya nasihat yang bijak setelah melihat sifat perfeksionis membuat saya sering menunda-nunda. “Jangan biarkan kesempurnaan mematikan apa yang baik,” katanya. Ia menjelaskan bahwa usaha menampilkan sesuatu yang sempurna bisa menghalangi risiko-risiko yang sebenarnya diperlukan seseorang untuk bertumbuh. Dengan menerima kenyataan bahwa pekerjaan saya tidak akan pernah sempurna, saya justru memperoleh kebebasan untuk terus bertumbuh.
Rasul Paulus memberi kita alasan yang lebih penting untuk berhenti mengupayakan sendiri kesempurnaan diri: kita menjadi tidak sadar bahwa kita membutuhkan Kristus.
Paulus pernah mengalami sendiri kebenaran tersebut. Setelah bertahun-tahun berusaha menaati Hukum Taurat secara sempurna, segalanya berubah total ketika ia bertemu dengan Yesus Kristus (Gal. 1:11-16). Paulus menyadari bahwa jika usahanya sendiri cukup untuk menjadikannya utuh dan benar di hadapan Allah, “maka sia-sialah kematian Kristus” (2:21). Hanya dengan berhenti mengandalkan diri sendirilah, ia dapat mengalami Kristus hidup di dalam dirinya (ay.20). Hanya dalam ketidaksempurnaannya, ia bisa mengalami kuasa Allah yang sempurna.
Itu tidak berarti kita tidak perlu melawan dosa (ay.17); melainkan bahwa kita memang harus berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk dapat bertumbuh secara rohani (ay.20).
Dalam hidup ini, kita akan selalu berada dalam proses. Namun, saat dengan rendah hati kita menyadari kebutuhan kita akan Yesus, satu-satunya Pribadi yang sempurna, Dia akan berdiam di dalam hati kita (Ef. 3:17). Dengan berakar di dalam Dia, kita bebas bertumbuh dalam kasih yang “melampaui segala pengetahuan” (ay.19). —Monica Brands
Tuhan, kami sering kehilangan sukacita dan kemerdekaan hidup bersama-Mu karena kami terus mengandalkan diri sendiri. Tolonglah kami untuk mengandalkan-Mu saja.
Kita bebas bertumbuh dalam kasih Yesus.

Tuesday, July 24, 2018

Yesus Tahu Alasannya

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya. —Matius 7:28
Yesus Tahu Alasannya
Ada teman-teman saya yang telah sembuh sebagian, tetapi masih berjuang menghadapi aspek-aspek memilukan dari penyakit mereka. Ada teman-teman lain yang telah dipulihkan dari kecanduan, tetapi masih bergumul dengan perasaan tak layak dan kebencian terhadap diri sendiri. Saya pun bertanya-tanya, Mengapa Allah tidak memulihkan mereka sepenuhnya—agar mereka tidak lagi menderita selamanya?
Dalam Markus 8:22-26, kita membaca tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Pertama-tama Yesus membawa orang itu keluar dari kampung. Kemudian Dia meludahi mata orang itu dan “meletakkan tangan-Nya atasnya.” Orang itu mengatakan bahwa ia sekarang melihat orang “berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Lalu Yesus menyentuh mata orang itu lagi, dan ia pun dapat melihat “segala sesuatu dengan jelas.”
Dalam pelayanan-Nya, perkataan dan perbuatan Yesus sering mengejutkan serta membingungkan orang banyak dan juga murid-murid-Nya (Mat. 7:28; Luk. 8:10; 11:14). Banyak murid bahkan mengundurkan diri (Yoh. 6:60-66). Mukjizat dalam dua tahap itu pasti juga membuat bingung. Mengapa Yesus tidak langsung menyembuhkan orang itu?
Kita tidak tahu alasannya. Namun, Yesus tahu apa yang dibutuhkan orang buta tersebut—dan para murid yang melihat penyembuhannya—pada saat itu. Yesus pun tahu apa yang kita butuhkan hari ini untuk membawa kita lebih dekat dalam hubungan kita dengan-Nya. Meskipun kita tidak akan selalu mengerti, kita dapat meyakini bahwa Allah bekerja dalam hidup kita dan dalam hidup orang-orang yang kita kasihi. Dia pasti akan memberi kita kekuatan, keberanian, dan kejelasan yang dibutuhkan agar kita tetap setia mengikut Dia. —Alyson Kieda
Terima kasih Tuhan, Engkau begitu mengenal kami dan menyediakan apa yang paling kami butuhkan. Bukalah mata kami untuk melihat-Mu dan hati kami untuk memahami firman-Mu.
Bukalah mata kami, Tuhan. Kami ingin melihat Yesus. Robert Cull

Monday, July 23, 2018

Diperhatikan Penuh

Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman Tuhan. —Yeremia 23:24
Diperhatikan Penuh
Sebelum putra saya bergegas keluar rumah untuk pergi ke sekolah, saya bertanya kepadanya apakah ia sudah menggosok gigi. Sambil bertanya sekali lagi, saya mengingatkannya untuk berkata jujur. Tanpa merasa bersalah, dengan setengah bercanda ia berkata bahwa sebenarnya saya perlu memasang kamera pengawas di kamar mandi agar saya bisa mengecek sendiri apakah ia sudah menggosok gigi sehingga ia tidak perlu berbohong.
Memang keberadaan kamera pengawas dapat membantu untuk mengingatkan kita agar menaati peraturan, tetapi masih ada tempat-tempat yang bisa kita kunjungi dengan tidak diketahui oleh siapa pun atau menggunakan siasat yang membuat kita bisa lolos dari perhatian orang. Meskipun kita bisa menghindari atau mengelabui kamera pengawas, sungguh konyol apabila kita berpikir bahwa kita bisa lepas dari pengawasan Allah.
Allah bertanya, “Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia?” (Yer. 23:24). Pernyataan tersebut memperingatkan sekaligus menguatkan kita.
Kita diperingatkan bahwa kita tidak bisa menyembunyikan diri dari Allah. Kita tidak mungkin menghindari atau memperdayai Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan terlihat oleh-Nya.
Namun, kita dikuatkan ketika tahu bahwa tidak ada tempat bagi kita di langit atau di muka bumi ini yang lepas dari perhatian Bapa kita di surga. Allah menyertai kita bahkan ketika kita merasa sendirian. Ke mana pun kita melangkah hari ini, kiranya kesadaran akan kebenaran itu menghibur hati dan menguatkan kita untuk tetap taat pada firman-Nya. Allah memperhatikan kita sepenuhnya. —Lisa Samra
Tuhan Yesus, terima kasih karena tidak ada tempat yang berada di luar dari perhatian-Mu yang penuh kasih. Karena aku tahu Engkau selalu mengawasiku, mampukanlah aku untuk menghormati-Mu dengan perkataan dan tindakanku.
Kita tidak pernah lepas dari perhatian Bapa kita di surga.

Sunday, July 22, 2018

Teruslah Berharap

Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku. —Mazmur 119:50
Teruslah Berharap
Di antara ratusan artikel yang pernah saya tulis untuk Our Daily Bread sejak tahun 1988, ada beberapa yang melekat di benak saya. Salah satunya adalah artikel dari pertengahan 90-an yang menceritakan tentang tiga wanita dalam keluarga kami yang sedang mengikuti suatu retret atau perjalanan misi, sehingga Steve, anak saya yang berumur enam tahun, dan saya memiliki waktu khusus antar pria.
Saat kami dalam perjalanan mengunjungi bandara, Steve memandang saya dan berkata, “Kurang asyik ya tidak ada Melissa.” Melissa adalah teman bermain sekaligus saudarinya yang berusia delapan tahun. Tak seorang pun dari kami bisa memperkirakan betapa memilukannya kata-kata itu ketika kemudian Melissa meninggal dunia akibat kecelakaan mobil saat masih remaja. Hidup kami memang menjadi “kurang asyik” setelah peristiwa itu. Perjalanan waktu mungkin sedikit menumpulkan rasa pilu itu, tetapi tidak ada yang dapat menghilangkannya sama sekali. Waktu tidak bisa menyembuhkan luka itu. Namun, ada sesuatu yang sanggup menolong kami: mendengarkan, merenungkan, dan menikmati penghiburan yang dijanjikan oleh Allah, sumber segala penghiburan.
Mendengarkan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (Rat. 3:22).
Merenungkan: “Tuhan melindungi aku di waktu kesesakan; Ia menyembunyikan aku di dalam Rumah-Nya” (Mzm. 27:5 bis).
Menikmati: “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku” (Mzm. 119:50).
Hidup berubah sama sekali ketika seseorang yang kita kasihi telah pergi. Namun demikian, janji Allah sanggup memberikan pengharapan dan penghiburan kepada kita. —Dave Branon
Tuhan, terima kasih karena Engkau dekat dan selalu menyertaiku. Aku bersyukur atas penghiburan dan damai sejahtera-Mu dalam kepedihan yang sedang kurasakan.
Firman Tuhan adalah sumber penghiburan sejati.

Saturday, July 21, 2018

Perlindungan dari Badai

Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah. —Mazmur 73:28
Perlindungan dari Badai
Ketika masih tinggal di Oklahoma, saya memiliki seorang teman yang hobi “mengejar” tornado. John melacak badai dengan saksama melalui komunikasi radio dengan para “pengejar” badai lainnya dan radar setempat. Ia berusaha menjaga jarak aman sambil mengamati jalur tornado agar ia dapat melaporkan perubahan yang terjadi dan memperingatkan warga di daerah yang akan dilewati tornado tersebut.
Suatu hari jalur sebuah awan pusaran tornado berubah sangat cepat sehingga John menyadari dirinya berada dalam bahaya besar. Untunglah, ia menemukan tempat berlindung dan berhasil menyelamatkan diri.
Pengalaman John membuat saya terpikir akan jalur lain yang juga berbahaya, yakni dosa dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15).
Kita melihat adanya perkembangan di sini. Apa yang awalnya terlihat tidak berbahaya dapat dengan cepat berubah menjadi tak terkendali dan menyebabkan kerusakan besar. Namun, ketika godaan mengancam kita, Allah menyediakan bagi kita tempat berlindung dari badai pencobaan yang semakin besar.
Firman Allah berkata bahwa Allah tidak pernah mencobai kita, dan pilihan-pilihan yang kita buat adalah karena kesalahan kita sendiri. Akan tetapi, saat kita “dicobai Ia akan memberikan kepada [kita] jalan ke luar, sehingga [kita] dapat menanggungnya” (1Kor. 10:13). Ketika di tengah pencobaan, kita berpaling kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya, Dia akan memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasinya.
Yesus adalah perlindungan kita selamanya. —James Banks
Tuhan Yesus, Engkau menaklukkan dosa dan maut selamanya melalui salib-Mu dan kubur-Mu yang kosong! Tolonglah aku agar hidup dan bertumbuh dalam pengampunan yang hanya dapat kuterima dari-Mu.
Juruselamat kita sanggup meredakan badai pencobaan.

Friday, July 20, 2018

Rumah Abadi

Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2
Rumah Abadi
“Mengapa kita harus pindah rumah?” tanya putra saya. Sulit menjelaskan arti rumah, terutama kepada anak berusia lima tahun. Kami memang meninggalkan bangunan rumah itu, tetapi makna sesungguhnya dari rumah adalah tempat orang-orang yang kita kasihi berada. Tempat itulah yang kita dambakan setelah menempuh perjalanan jauh atau selepas bekerja seharian.
Di ruangan atas beberapa jam sebelum kematian-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu” (Yoh. 14:1). Para murid tidak yakin akan masa depan mereka karena Yesus telah menubuatkan kematian-Nya. Namun, Yesus meyakinkan mereka akan kehadiran-Nya dan mengingatkan bahwa mereka akan melihat-Nya kembali. Kata-Nya kepada mereka, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. . . . Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (ay.2). Yesus bisa saja menggunakan kata-kata lain untuk menggambarkan surga. Akan tetapi, Dia tidak memakai kata-kata yang menggambarkan suatu tempat yang tidak nyaman atau asing, melainkan sebuah tempat di mana Pribadi yang kita kasihi, yaitu Dia sendiri, berada.
C. S. Lewis menulis, “Allah Bapa menyegarkan kita di sepanjang perjalanan hidup ini dengan memberikan sejumlah penginapan yang nyaman bagi kita untuk beristirahat, tetapi Dia tidak membiarkan kita menyalahartikan tempat-tempat tersebut sebagai rumah kita yang sebenarnya.” Kita dapat bersyukur kepada Allah untuk “penginapan yang nyaman” dalam hidup ini, tetapi ingatlah bahwa rumah kita yang sebenarnya adalah surga, tempat kita “akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17). —Keila Ochoa
Ya Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu untuk surga, rumahku yang abadi.
Kita menanti-nantikan tibanya waktu untuk tinggal bersama Tuhan selamanya.

Thursday, July 19, 2018

Melalui Salib

[Tiada yang] akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 8:39
Melalui Salib
Rekan kerja saya, Tom, memiliki salib kaca berukuran 20 x 30,5 cm di atas mejanya. Phil, seorang teman yang juga penyintas kanker seperti Tom, memberikan salib itu untuk membantu Tom melihat segala sesuatu “melalui salib”. Salib kaca tersebut selalu mengingatkannya pada kasih dan tujuan Allah yang baik atas hidupnya.
Pemikiran itu sepatutnya menantang semua orang yang percaya kepada Yesus, terutama di dalam masa-masa sulit yang kita hadapi. Dalam keadaan yang sulit, perhatian kita memang lebih mudah terpusat pada masalah daripada kasih Allah.
Kehidupan Rasul Paulus jelas merupakan contoh kehidupan yang memiliki sudut pandang salib. Ia menggambarkan dirinya di saat-saat ia mengalami penderitaan ketika “dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, . . . dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:9). Ia percaya bahwa di saat-saat yang sulit, Allah sedang “mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (ay.17-18).
“Memperhatikan . . . yang tidak kelihatan” tidak berarti bahwa kita mengecilkan persoalan yang ada. Dalam tafsirannya terhadap perikop itu, Paul Barnett menjelaskan, “Di satu sisi, kita harus mempunyai keyakinan yang didasarkan pada kepastian akan tujuan Allah bagi [kita] . . . Di sisi lain, kita sungguh menyadari bahwa kita mengeluh dengan pengharapan yang bercampur dengan penderitaan.”
Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Kasih-Nya teramat dalam dan rela berkorban. Ketika kita melihat kehidupan ini “melalui salib”, kita menyaksikan kasih dan kesetiaan-Nya. Iman kita kepada-Nya pun makin bertumbuh. —Anne Cetas
Bapa, ajarlah kami tentang diri-Mu. Kuatkan kepercayaan kami kepada-Mu. Penuhilah pikiran kami dengan sudut pandang-Mu.
Lihatlah segala sesuatu melalui salib.

Wednesday, July 18, 2018

Apa Kegemaran Kamu?

Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita. —Mazmur 20:8
Apa Kegemaran Kamu?
Salah seorang pegawai di bank tempat saya menabung memasang foto mobil Shelby Cobra tipe roadster (2 kursi tanpa atap permanen) pada jendela kerjanya. (Cobra adalah mobil dengan performa tinggi yang diproduksi oleh Ford Motor Company.)
Suatu hari, ketika bertransaksi di bank tersebut, saya bertanya kepadanya apakah itu mobilnya. “Bukan,” jawabnya, “itu hanya kegemaran yang saya kejar. Itulah alasan saya bangun dan bekerja setiap hari. Suatu hari nanti, saya akan memiliki mobil itu.”
Saya memahami kegemaran anak muda itu. Salah satu teman saya memiliki mobil Cobra, dan saya pernah sekali mengendarai mobil itu! Mobil yang sangat tangguh! Namun, mobil Cobra, seperti apa pun hal lainnya di dunia ini, tidak sepatutnya menjadi tujuan hidup kita. Menurut pemazmur, orang yang percaya pada hal-hal selain Allah akan “rebah dan jatuh” (Mzm. 20:9).
Itu karena kita diciptakan untuk Allah, dan tak ada satu pun hal yang dapat menggantikannya. Itulah kebenaran yang kita alami sendiri dalam hidup sehari-hari: Kita membeli ini atau itu karena berpikir bahwa semua itu akan membuat kita bahagia. Namun, seperti anak yang menerima selusin lebih hadiah Natal, kita pun bertanya kepada diri sendiri, “Cuma segini?” Selalu saja ada yang kurang.
Tak ada satu pun hal yang ditawarkan dunia ini—hal-hal yang sangat baik sekalipun—yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Hal-hal itu mungkin memberi sedikit kepuasan, tetapi itu pun segera lenyap (1Yoh. 2:17). Memang benar, “Allah tidak bisa memberi kita kebahagiaan dan damai yang terlepas dari diri-Nya,” C. S. Lewis menyimpulkan. “Karena memang tidak ada hal semacam itu.” —David H. Roper
Aku telah temukan Dia yang lama didambakan jiwaku! Yesus puaskan kerinduanku—melalui darah-Nya, telah diselamatkan-Nya daku. Clara Williams
Ada kerinduan dalam setiap hati yang hanya dapat dipuaskan oleh Yesus.

Tuesday, July 17, 2018

Aku Tak Bisa Melakukannya

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. —Galatia 3:24
Aku Tak Bisa Melakukannya
“Aku tak bisa melakukannya!” keluh seorang murid yang sedang berkecil hati. Yang ia lihat pada lembar kerjanya hanyalah tulisan-tulisan kecil, konsep-konsep yang sulit, dan tenggat yang hampir tiba. Ia membutuhkan bantuan dari gurunya.
Mungkin kita merasakan keputusasaan yang sama ketika membaca Khotbah Yesus di Bukit. “Kasihilah musuhmu” (Mat. 5:44). Kemarahan sama buruknya dengan membunuh (ay.22). Hawa nafsu sama dengan berzina (ay.28). Belum lagi, jika kita pikir hidup kita bisa memenuhi standar-standar itu, kita dihadapkan pada ayat ini: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (ay.48).
“Khotbah di Bukit menghasilkan keputusasaan,” kata Oswald Chambers. Namun, ia melihat itu baik, karena pada “saat putus asa, kita bersedia datang kepada [Yesus] sebagai orang miskin untuk menerima sesuatu dari Dia.”
Dalam cara-cara tidak lazim yang digunakan Allah, orang-orang yang tahu bahwa mereka tak sanggup melakukannya dengan kekuatan sendirilah yang menerima anugerah Allah. Itu seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak. . . . Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” (1Kor. 1:26-27).
Dalam hikmat Allah, Sang Guru itu juga merupakan Juruselamat kita. Ketika kita datang kepada-Nya dalam iman, dengan pertolongan Roh-Nya, kita boleh menikmati pembenaran, kekudusan, penebusan dari-Nya (ay.30), kasih karunia, dan kuasa untuk menjalani hidup bagi-Nya. Karena itulah, Dia dapat berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3). —Tim Gustafson
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memberkati yang miskin di hadapan Allah, yang berduka, dan yang lapar dan haus akan kebenaran-Mu. Engkaulah kebenaran kami!
Melalui Anak Allah, kita boleh menikmati hidup dalam Kerajaan Allah.

Monday, July 16, 2018

Tidak Perlu Penjamin

Manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. —Ibrani 6:16
Tidak Perlu Penjamin
Seseorang yang mempunyai catatan jangka panjang yang buruk dalam hal membayar tagihan biasanya ditolak ketika ia mengajukan pinjaman untuk membeli rumah atau mobil. Pihak pemberi pinjaman enggan untuk mengambil risiko. Sekalipun seseorang berjanji untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya, tetapi dengan rekam jejak yang buruk, ia tidak cukup meyakinkan bagi bank untuk menerima permohonannya. Biasanya, orang yang hendak meminjam itu akan mencari seseorang dengan catatan yang baik dalam pelunasan utang dan meminta agar namanya dicantumkan sebagai penjamin pada perjanjian peminjaman. Janji penjamin yang ikut bertanda tangan itu meyakinkan pemberi pinjaman bahwa uang yang diberikan pasti akan dibayar kembali.
Ketika seseorang berjanji kepada kita—baik dalam hal finansial, pernikahan, atau hal-hal lain—kita mengharapkannya untuk menepati janji itu. Kita ingin tahu apakah Allah juga akan menepati janji-janji-Nya. Ketika Allah berjanji kepada Abraham untuk memberkatinya dan memberinya keturunan yang “sangat banyak” (Ibr. 6:14; lihat Kej. 22:17), Abraham percaya bahwa Allah memegang janji-Nya. Sebagai Pencipta dari segala sesuatu, tidak ada yang lebih besar daripada Allah; hanya Allah yang dapat menjamin penggenapan janji-Nya sendiri.
Abraham harus sabar menanti kelahiran anaknya (Ibr. 6:15) (dan ia tidak pernah melihat keturunannya berkembang hingga tak terhitung jumlahnya), tetapi Allah terbukti setia pada janji-Nya. Ketika Allah berjanji untuk selalu menyertai kita (Ibr. 13:5), menjaga kita dengan aman (Yoh. 10:29), dan menghibur kita (2 Kor. 1:3-4), kita juga bisa meyakini bahwa Dia pasti akan memenuhi janji-Nya. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau layak dipercaya. Aku hanya perlu meyakini firman-Mu. Tolonglah aku agar makin percaya kepada-Mu dari hari ke hari.
Janji Allah sungguh pasti.

Sunday, July 15, 2018

Pemberian Terbaik

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. —Lukas 11:9
Pemberian Terbaik
Ketika sedang mengepak barang untuk pulang ke London, ibu memberi saya sebuah hadiah, yakni salah satu cincin miliknya yang telah lama saya kagumi. Karena terkejut, saya bertanya, “Untuk apa ini, Bu?” Ibu menjawab, “Kupikir kamu dapat memakainya sekarang, tidak perlu menunggu sampai Ibu sudah tiada. Lagipula cincin itu sudah tidak muat lagi di jari Ibu.” Ibu memberikannya sebagai warisan yang diberikan lebih awal. Betapa senangnya saya menerima hadiah yang tak terduga itu!
Ibu memberi saya hadiah berupa materi, tetapi Yesus berjanji bahwa Bapa-Nya akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta-Nya (Luk. 11:13). Jika orangtua yang berdosa saja dapat menyediakan kebutuhan anak-anaknya (seperti ikan dan telur untuk makanan), betapa lebih lagi Bapa kita di surga memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya. Melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya (Yoh. 16:13), kita dapat mengalami pengharapan, kasih, dan damai bahkan di tengah masa-masa yang sulit—dan kita dapat membagikan berkat-berkat tersebut kepada orang lain.
Saat kita bertumbuh besar, mungkin saja kita memiliki orangtua yang tidak dapat sepenuhnya melimpahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita. Atau sebaliknya, mungkin kita mempunyai ayah dan ibu yang memberikan teladan kasih dan pengorbanan diri yang patut dipuji. Atau mungkin kita berada di antara kedua pengalaman tersebut. Bagaimanapun pengalaman kita dalam keluarga, kita dapat mengandalkan janji dari Bapa kita di surga. Dia berjanji selalu mengasihi anak-anak-Nya dan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita yang percaya kepada-Nya. —Amy Boucher Pye
Bapa Surgawi, aku kagum akan kasih-Mu kepadaku. Tolonglah aku untuk berdiam dalam hadirat-Mu hari ini dan membagikan kasih-Mu kepada siapa pun yang kutemui.
Allah Bapa memberikan segala yang baik bagi kita, anak-anak-Nya.

Saturday, July 14, 2018

Menyembunyikan Luka Hati

Firman Allah . . . sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. —Ibrani 4:12
Menyembunyikan Luka Hati
Ketika diundang menjadi pembicara di sebuah gereja lokal, saya membawakan topik tentang membawa kepedihan hati kita ke hadapan Allah untuk menerima pemulihan yang ingin diberikan-Nya. Sebelum menutup dengan doa, gembala gereja itu berdiri di tengah-tengah jemaat dan berkata, “Sebagai gembalamu, saya merasa diberkati dapat bertemu dengan kamu sekalian di sepanjang minggu dan mendengarkan kisah-kisah tentang kepedihan hati yang kamu rasakan. Namun, dalam kebaktian hari Minggu seperti ini, saya sedih melihat kamu justru menyembunyikan kepedihanmu.”
Hati saya ikut merasa pedih saat mengingat luka hati yang masih tersembunyi dan yang sesungguhnya ingin dipulihkan oleh Allah. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa firman Allah hidup dan kuat. Banyak orang memahami “firman” tersebut sebagai Alkitab, tetapi arti sebenarnya lebih luas dari itu. Yesus adalah Firman Allah yang hidup. Dia tahu seluruh pikiran dan perbuatan kita, tetapi meskipun demikian, Dia tetap mengasihi kita.
Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya agar kita dapat datang ke hadapan Allah kapan saja. Meskipun kita tahu bahwa kita tidak perlu memberitahukan segala sesuatu kepada setiap orang yang kita kenal, kita juga tahu bahwa Allah menghendaki gereja-Nya menjadi tempat bagi kita untuk hidup apa adanya sebagai pengikut Kristus - pribadi-pribadi yang memang mengalami kepedihan, tetapi yang telah menerima pengampunan Allah. Sudah sepatutnya gereja menjadi tempat bagi kita semua untuk “saling membantu menanggung beban” (Gal. 6:2 bis).
Adakah yang sedang kamu sembunyikan dari orang lain hari ini? Apakah kamu juga mencoba untuk menyembunyikan diri dari Allah? Allah memperhatikan kita melalui Yesus, dan Dia tetap mengasihi kita. Maukah kamu mengizinkan Allah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hatimu? —Elisa Morgan
Siapa yang kamu harapkan bisa menolong untuk menanggung bebanmu?
Allah memperhatikan kita dengan kasih Bapa.

Friday, July 13, 2018

Dia Mengenal Kita

Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. —Mazmur 139:1-2
Dia Mengenal Kita
Apakah Allah tahu keadaan saya saat berkendara di malam hari dan menempuh perjalanan sejauh 160 km untuk pulang ke desa saya? Saya sempat merasa ragu. Saat itu suhu tubuh saya sangat tinggi dan kepala saya sakit. Saya pun berdoa, “Tuhan, aku tahu Engkau menyertaiku, tetapi sekarang aku sedang kesakitan!”
Karena lelah dan lemas, saya menghentikan mobil di pinggir jalan dekat sebuah dusun. Sepuluh menit kemudian, saya mendengar suara, “Halo, apakah kamu perlu bantuan?” Itu suara seorang pria yang datang bersama teman-temannya dari dusun itu. Kehadiran mereka membuat saya merasa lega. Saat mereka menyebutkan nama desa mereka, Naa mi n’yala (artinya “Sang Raja tahu keadaanku!”), saya pun takjub. Saya sudah sering melewati dusun itu tanpa pernah mampir. Kali itu, Tuhan memakai nama dusun tersebut untuk mengingatkan saya bahwa Dialah Raja yang senantiasa menyertai saya ketika saya menyetir seorang diri dalam kondisi sakit. Setelah hati saya dikuatkan oleh pertolongan mereka, saya pun melanjutkan perjalanan ke klinik terdekat.
Dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, di segala tempat dan situasi, apa pun kondisi yang kita alami, Allah mengenal seluruh diri kita (Mzm. 139:1-4,7-12). Dia tidak pernah mengabaikan atau melupakan kita. Dia tidak pernah terlalu sibuk hingga melalaikan kita. Bahkan saat kita mengalami masalah atau menghadapi kesulitan—“kegelapan” dan “malam” (ay.1-12)—kita tidak tersembunyi dari hadirat-Nya. Kebenaran itu memberi kita pengharapan dan keyakinan yang pasti sehingga kita dapat memuji Tuhan yang telah menciptakan kita dengan dahsyat dan yang memimpin kita di sepanjang hidup ini (ay.14). —Lawrence Darmani
Tuhan, terima kasih karena Engkau selalu tahu di mana aku berada dan bagaimana keadaanku. Engkau mengenalku sepenuhnya. Aku bersyukur karena aku dapat mengandalkan pemeliharaan-Mu.
Di mana pun kita berada, Allah tahu keadaan kita.

Thursday, July 12, 2018

Sauh yang Teguh di saat Kita Takut

Akulah, Akulah yang menghibur kamu. —Yesaya 51:12
Sauh yang Teguh di saat Kita Takut
Apakah kamu sering khawatir? Saya juga. Saya bergumul dengan kecemasan hampir setiap hari. Saya khawatir tentang hal-hal besar dan hal-hal kecil. Terkadang, sepertinya saya khawatir tentang apa saja. Ketika saya masih remaja, saya pernah menelepon polisi saat orangtua saya pulang empat jam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.
Kitab Suci berulang kali memerintahkan kita untuk tidak takut. Karena Allah baik dan berkuasa, dan karena Dia telah memberikan Yesus untuk mati bagi kita dan Roh Kudus-Nya untuk menuntun kita, ketakutan tidak sepatutnya menguasai hidup kita. Kita mungkin menghadapi hal-hal yang sulit, tetapi Allah telah berjanji untuk menyertai kita dalam menghadapi semua itu.
Satu bagian Alkitab yang telah terbukti menolong saya dalam momen-momen yang menakutkan adalah Yesaya 51:12-16. Di bagian itu, kepada umat yang mengalami penderitaan yang luar biasa, Allah mengingatkan bahwa Dia tetap menyertai mereka, dan kehadiran-Nya yang memberikan penghiburan merupakan realitas yang terpenting. Seburuk apa pun keadaan mereka, Dia berkata melalui Nabi Yesaya: “Akulah, Akulah yang menghibur kamu” (ay.12).
Saya sangat menyukai janji tersebut. Lima kata itu telah menjadi sauh yang meneguhkan jiwa saya yang bimbang. Saya mengandalkan janji itu berulang kali ketika hidup terasa begitu berat, saat kegentaran terasa sangat menyiksa (ay.13). Melalui bagian Alkitab ini, Allah mengingatkan saya untuk mengalihkan pandangan saya dari ketakutan kepada satu Pribadi yang “membentangkan langit” (ay.13) dengan sikap beriman dan ketergantungan total. Dia sudah berjanji akan menghibur kita. —Adam Holz
Bapa, terkadang pergumulan kami terlihat begitu besar. Namun, Engkau lebih besar. Tolonglah kami untuk mengandalkan janji penghiburan-Mu di momen-momen yang menakutkan dan mengalami kasih pemeliharaan-Mu saat kami mempercayai-Mu.
Kehadiran Allah yang memberikan penghiburan lebih berkuasa daripada segala ketakutan kita.

Wednesday, July 11, 2018

Menyambut Sesama Orang Asing

Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. . . . Kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir. —Imamat 19:33-34
Menyambut Sesama Orang Asing
Ketika saya dan suami pindah ke Seattle agar tinggal dekat dengan saudara perempuannya, kami tidak tahu di mana kami akan tinggal ataupun bekerja. Sebuah gereja setempat membantu kami menemukan tempat tinggal: sebuah rumah kontrakan dengan kamar tidur yang cukup banyak. Kami dapat menggunakan salah satu kamar tidur, dan menyewakan kamar lainnya kepada para pelajar dari mancanegara. Jadi, sepanjang tiga tahun kemudian kami menjadi orang asing yang menyambut orang asing lainnya. Kami berbagi rumah dan makanan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Kami dan teman-teman serumah kami juga menyambut lusinan pelajar dari mancanegara yang datang untuk mengikuti kegiatan pemahaman Alkitab setiap Jumat malam.
Umat Tuhan tahu apa artinya jauh dari kampung halaman. Selama ratusan tahun, orang Israel benar-benar menjadi orang asing—dan juga budak—di tanah Mesir. Dalam Imamat 19, seiring dengan perintah yang sudah lazim seperti menghormati ayah-ibu dan larangan mencuri (ay.3,11), Allah mengingatkan umat-Nya untuk menaruh empati dan kepedulian kepada orang asing, karena mereka sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi orang asing dan hidup dalam ketakutan (ay.33-34).
Walaupun tidak semua umat Allah di masa sekarang mengalami keterasingan, kita semua tahu bagaimana rasanya menjadi “pendatang” di bumi ini (1Ptr. 2:11). Kita menjalani hidup yang berbeda dari yang lainnya karena kesetiaan kita yang tertinggi pada Kerajaan Surga. Kita dipanggil untuk menciptakan sebuah komunitas yang ramah—sebagai orang asing yang menyambut orang asing lainnya ke dalam keluarga Allah. Keramahtamahan yang kami terima di Seattle mendorong kami untuk menyambut juga orang lain dengan ramah—dan itulah artinya menjadi bagian dari keluarga Allah (Rm. 12:13). —Amy Peterson
Siapa yang dapat saya sambut dengan ramah hari ini?

Tuesday, July 10, 2018

Tuhan Penguasa Kedalaman Laut

Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, . . . dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. —Mazmur 104:25-26
Tuhan Penguasa Kedalaman Laut
“Ketika kita menyelam hingga ke lautan yang dalam dan mengambil sampel, kita pasti akan menemukan spesies yang baru,” ujar seorang ahli biologi laut, Ward Appeltans. Dalam satu tahun terakhir, para ilmuwan telah mengidentifikasi 1.451 jenis kehidupan baru di bawah laut. Sejauh ini kita bahkan belum mengenali setengah dari seluruh kehidupan yang ada di dalam sana.
Dalam Ayub 38-40, Allah memberikan tinjauan terhadap karya ciptaan-Nya demi kebaikan Ayub. Di tiga pasal yang sangat puitis, Allah menyoroti keajaiban cuaca, kebesaran alam semesta, dan beragamnya makhluk yang hidup dalam habitat mereka masing-masing. Itu semua adalah hal-hal yang dapat manusia lihat. Namun, Allah kemudian menyebut tentang makhluk misterius bernama Lewiatan dalam satu bagian yang panjang. Lewiatan adalah makhluk yang sama sekali berbeda dari makhluk-makhluk lain, dengan kulit yang sangat tebal (Ayb. 40:26; 41:4), kuat (41:3), dan gigi-gigi yang dahsyat (41:5). “Dari dalam mulutnya . . . berpancaran bunga api. Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap” (41:10-11). “Tidak ada taranya di atas bumi” (41:24).
Allah membahas tentang makhluk raksasa yang tak pernah kita lihat. Namun, apakah itu maksud dari Ayub 41?
Bukan! Ayub 41 memperluas pengertian kita akan sifat Allah yang mengejutkan. Pemazmur mengembangkan pemikiran tersebut dengan menulis, “Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, . . . dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya” (Mzm. 104:25-26). Setelah membaca deskripsi yang mengerikan dalam kitab Ayub, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan tempat bermain untuk makhluk paling mengerikan yang pernah ada. Lewiatan bermain-main di dalam laut!
Kita memiliki masa sekarang untuk menyelidiki isi lautan. Kelak, kita memiliki waktu selama-lamanya untuk menyelidiki keajaiban Allah kita yang agung, misterius, dan menyenangkan. —Tim GustafSon
Menyelidiki alam ciptaan membuat kita belajar tentang Sang Pencipta.

Monday, July 9, 2018

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku. —Mazmur 131:2
Tenanglah, Hai Jiwaku!
Bayangkanlah orangtua yang dengan penuh kasih berusaha menenangkan anaknya yang sedang sedih, kecewa, atau menderita. Dengan lembut ia bergumam ke telinga sang anak—“ssttt.” Sikap tubuh dan gumaman sederhana itu dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan si buah hati. Kita dapat membayangkannya karena itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak dari kita pernah memberi atau menerima ungkapan penuh kasih seperti itu. Gambaran itulah yang terlintas di benak saya ketika merenungkan Mazmur 131:2.
Gaya bahasa dan alur tulisan dari mazmur itu mengindikasikan bahwa Daud sebagai penulis telah mengalami sesuatu yang memicunya untuk sungguh-sungguh merenung. Pernahkah kamu mengalami kekecewaan, kekalahan, atau kegagalan yang mendorong kamu untuk berdoa dan merenung dengan khusyuk? Apa yang kamu lakukan ketika situasi kehidupan ini membuatmu terpuruk? Bagaimana responsmu ketika gagal dalam ujian, kehilangan pekerjaan, atau mengalami putus hubungan? Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sekaligus menelusuri dan memeriksa jiwanya secara jujur (Mzm. 131:1). Saat hendak berdamai dengan situasi yang dihadapinya, ia pun menemukan kepuasan seperti yang dialami seorang anak kecil yang merasa nyaman hanya dengan berbaring di dekat ibunya (ay.2).
Situasi-situasi dalam kehidupan ini terus berubah dan terkadang membuat kita terpuruk. Namun, kita bisa berharap dan merasa tenang ketika tahu bahwa ada satu Pribadi yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita. Kita dapat mempercayai-Nya sepenuhnya. —Arthur Jackson
Bapa, saat segala sesuatu berubah dalam hidupku, tolonglah aku untuk tidak cemas, melainkan tetap mempercayai-Mu dan menemukan kepuasan hanya di dalam-Mu.
Kepuasan hanya ditemukan di dalam Kristus.

Sunday, July 8, 2018

Banyak Karunia, Satu Tujuan

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. —1 Korintus 12:12
Banyak Karunia, Satu Tujuan
Jagung adalah makanan pokok di negara asal saya, Meksiko. Ada banyak jenis jagung. Kamu dapat menemukan tongkol jagung berwarna kuning, cokelat, merah, dan hitam, bahkan ada yang bercorak belang-belang. Namun, penduduk kota biasanya tidak mau memakan jagung yang belang-belang. Amado Ramírez, seorang pengusaha restoran sekaligus peneliti, menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka meyakini keseragaman menunjukkan kualitas yang tinggi. Meski demikian, jagung yang belang-belang ternyata enak rasanya dan cocok untuk bahan baku keripik tortilla.
Gereja Tuhan lebih mirip dengan jagung yang belang-belang daripada jagung dengan satu warna. Rasul Paulus menggunakan tubuh untuk menggambarkan tentang gereja. Walaupun kita semua adalah satu tubuh, dan kita memiliki Allah yang sama, setiap dari kita telah diberi karunia yang berbeda-beda. Inilah yang dikatakan Paulus, “Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1 Kor. 12:5-6). Keragaman dalam cara kita melayani satu sama lain menunjukkan kemurahan hati dan kreativitas Allah.
Ketika kita menerima keragaman yang ada, kiranya kita juga berusaha sungguh-sungguh untuk menjaga kesatuan iman dan tujuan kita bersama. Memang, kita memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda. Kita berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda dan berasal dari negara yang berbeda-beda. Namun, kita memiliki Allah yang sama, sang Pencipta yang sangat menikmati keragaman ciptaan-Nya. —Keila Ochoa
Bapa, kiranya kami berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi satu, dengan menghormati satu sama lain dan menghargai keragaman karunia serta talenta kami.
Kita membutuhkan satu sama lain untuk dapat menjadi pribadi-pribadi yang Allah kehendaki.

Saturday, July 7, 2018

Bergantung Penuh

Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. —Yohanes 15:5
Bergantung Penuh
Ibunda Laura sedang berjuang melawan penyakit kanker. Suatu pagi, Laura dan seorang teman mendoakan ibunya. Teman Laura yang telah bertahun-tahun menderita cerebral palsy (kelumpuhan pada tulang belakang) itu berdoa: “Tuhan, Engkau selalu menolongku. Sekarang tolonglah juga ibunya Laura.”
Laura sangat tersentuh oleh pernyataan temannya yang bergantung penuh kepada Allah. Saat becermin pada hal itu, ia berkata, “Seberapa sering aku mengakui kebutuhanku akan Allah dalam segala hal? Itu seharusnya kulakukan setiap hari!”
Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan ketergantungan yang terus-menerus kepada Bapa-Nya di surga. Mungkin ada yang berpikir bahwa karena Yesus adalah Allah dalam rupa manusia, tentu saja Dia bisa mengandalkan diri-Nya sendiri. Namun, ketika para pemimpin agama meminta Yesus memberikan alasan tentang hal “bekerja” di hari Sabat, satu hari peristirahatan yang ditetapkan Hukum Taurat, karena Dia telah menyembuhkan seseorang pada hari itu, Dia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). Yesus juga menyatakan ketergantungan-Nya kepada Bapa!
Ketergantungan Yesus kepada Bapa memberikan teladan terbesar bagi kita untuk memahami apa artinya menjalani hidup dalam persekutuan dengan Allah. Setiap napas yang kita hirup merupakan pemberian Allah, dan Dia ingin hidup kita dipenuhi dengan kekuatan-Nya. Ketika kita hidup mengasihi dan melayani Allah dengan senantiasa berdoa dan mengandalkan firman-Nya, kita sedang menyatakan ketergantungan kita kepada-Nya. —James Banks
Tuhan, aku membutuhkan-Mu dalam segala hal. Tolonglah aku untuk melayani-Mu dengan hidupku. Aku memuji-Mu karena Engkaulah Juruselamat dan kekuatanku.
Menjalani hidup tanpa doa menunjukkan keengganan kita untuk bergantung kepada Tuhan. —Daniel Henderson

Friday, July 6, 2018

Keindahan yang Tersembunyi

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. —1 Samuel 16:7
Keindahan yang Tersembunyi
Anak-anak kami perlu sedikit dibujuk agar mau diajak snorkeling untuk melihat-lihat pemandangan di bawah permukaan Laut Karibia dari lepas pantai Pulau Tobago. Namun, setelah menyelam, mereka muncul kembali ke permukaan dengan sangat gembira, “Ada ribuan ikan dan banyak sekali jenisnya! Keren banget! Aku belum pernah melihat ikan yang warna-warni seperti itu!”
Anak-anak awalnya tidak terkesan karena permukaan laut itu terlihat sama jernihnya dengan danau di dekat rumah kami. Hampir saja mereka melewatkan keindahan yang tersembunyi di bawah permukaan laut.
Ketika Nabi Samuel pergi ke Betlehem dengan tujuan mengurapi salah seorang anak Isai untuk menjadi raja berikutnya, ia melihat Eliab, anak sulung Isai. Samuel sangat terkesan dengan paras Eliab dan mengira ia sudah menemukan orang yang tepat, tetapi Tuhan menolak Eliab. Allah mengingatkan Samuel bahwa “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7).
Kemudian Samuel menanyakan anak-anak Isai lainnya. Anak yang bungsu tidak hadir karena sedang menggembalakan kambing domba. Kemudian anak yang bernama Daud itu dipanggil dan Tuhan pun mengarahkan Samuel untuk mengurapinya.
Kita sering melihat manusia dari penampilan luarnya saja dan tidak sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk mengenal keindahan diri mereka yang kadang tersembunyi. Kita tidak selalu menghargai apa yang Allah hargai. Namun, seandainya kita mengambil waktu untuk memperhatikan apa yang ada di balik penampilan luar seseorang, mungkin saja kita akan menemukan keindahan yang tak terduga. —Lisa Samra
Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau tak menilai manusia dari apa yang dilihat mata, tetapi melihat hati kami. Tolonglah aku meluangkan waktu untuk bisa melihat lebih jauh dari yang terlihat agar kutemukan keindahan yang sejati dan kekal.
Allah dapat menolong kita untuk melihat keindahan dalam diri orang lain.

Thursday, July 5, 2018

Ciptaan Allah yang Agung


Ciptaan Allah yang Agung
Baru-baru ini, saat cucu-cucu kami berkunjung ke rumah, kami menonton tayangan di Internet dari kamera web yang menyoroti kehidupan sebuah keluarga rajawali di Florida. Setiap hari kami membuka tayangan itu dan menyaksikan bagaimana induk betina, induk jantan, dan bayi rajawali melakukan rutinitas sehari-hari dalam sarang mereka di ketinggian. Hari demi hari, kedua induk burung tersebut terus-menerus menjaga bayi mereka dan menyuapkan ikan yang diperoleh dari sungai di dekat sana untuk mendukung perkembangan si bayi.
Kehidupan keluarga rajawali tersebut memberi kita satu gambaran yang diberikan oleh pemazmur dalam Mazmur 104 tentang karya ciptaan Allah yang mengagumkan. Ia melukiskan serangkaian gambaran alam dan pemandangan dari karya ciptaan tangan Allah yang kreatif.
Kita melihat keagungan alam semesta ciptaan Allah (ay.2-4).
Kita menikmati bumi yang dijadikan-Nya—samudera raya, gunung, dan lembahnya (ay.5-9).
Kita mengecap pemberian Allah yang indah berupa aneka binatang, burung-burung, dan tumbuh-tumbuhan (ay.10-18).
Kita mengagumi siklus yang Allah ciptakan bagi dunia ini—pagi berganti malam, gelap berganti terang, bekerja dan beristirahat (ay.19-23).
Alangkah indahnya dunia yang telah dirancang Allah dengan tangan-Nya untuk kita nikmati—dan untuk kemuliaan-Nya! “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (ay.1). Setiap dari kita dapat mengucapkan terima kasih kepada Allah atas segala sesuatu yang telah diberikan-Nya untuk kita hargai dan nikmati. —Dave Branon
Puji Allah! Terpujilah Engkau, Tuhan, untuk bumi ciptaan-Mu yang penuh keajaiban.
Keindahan alam ciptaan merefleksikan keindahan Penciptanya.

Wednesday, July 4, 2018

Dunia yang Sempurna

Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” —Wahyu 21:5
Dunia yang Sempurna
Katie mendapat tugas sekolah untuk menulis karangan berjudul “Duniaku yang Sempurna”. Ia menulis: “Dalam duniaku yang sempurna . . . es krim itu gratis, permen ada di mana-mana, dan langit selalu biru setiap saat, dengan awan-awan kecil yang bentuknya lucu-lucu.” Kemudian isi tulisannya berkembang menjadi lebih serius. “Dalam dunia itu,” lanjutnya, “Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Tak ada juga orang yang harus menyampaikan kabar buruk.”
Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Bukankah itu luar biasa indah? Kata-kata itu tegas merujuk pada pengharapan kita yang pasti di dalam Yesus. Dia “menjadikan segala sesuatu baru”, yakni memulihkan dan mengubah dunia kita (Why. 21:5).
Di surga, ada banyak hal yang “tidak akan ada lagi”— tidak akan ada lagi kejahatan, tidak akan ada lagi maut, tidak akan ada lagi perkabungan, tidak akan ada lagi penderitaan, tidak akan ada lagi air mata (ay.4)! Surga merupakan tempat persekutuan yang sempurna dengan Allah, yang dengan kasih-Nya telah menebus dan menjadikan umat percaya sebagai milik-Nya (ay.3) Alangkah menakjubkan sukacita yang menanti kita!
Kita dapat mencicipi realitas yang sempurna itu sekarang juga di dunia ini. Dalam persekutuan dengan Allah setiap hari, kita mengalami sukacita dari kehadiran-Nya (Kol. 1:12-13). Bahkan di saat kita bergumul melawan dosa, kita mengalami sebagian kemenangan yang memang menjadi milik kita di dalam Kristus (2:13-15), satu-satunya yang telah menaklukkan dosa dan kematian secara tuntas. —Poh Fang Chia
Tuhan, terima kasih karena Engkau menjadikan segalanya baru. Tolonglah kami untuk hidup dalam pengharapan bahwa suatu hari kelak kami akan hidup bersama-Mu, murni dan tak bercacat, di bumi baru dalam hadirat-Mu selama-lamanya.
Dunia yang sempurna milik Allah diperuntukkan bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Tuesday, July 3, 2018

Aku Bisa Melihatmu

Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya. —Mazmur 121:8
Aku Bisa Melihatmu
Ketika Xavier berusia dua tahun, ia pernah berlari dari satu lorong ke lorong lainnya di dalam sebuah toko sepatu kecil. Sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak sepatu, ia tertawa geli saat suami saya, Alan, berkata, “Aku bisa melihatmu.”
Tiba-tiba saja, saya melihat Alan berlari panik dari satu lorong ke lorong berikutnya sambil memanggil nama Xavier. Kami bergegas lari ke bagian depan toko. Anak kami yang masih tertawa-tawa telah berlari menuju pintu depan yang terbuka ke arah jalan yang dilalui banyak kendaraan.
Dengan sigap, Alan meraup Xavier. Kami berpelukan sambil mengucap syukur kepada Allah, terisak-isak, dan menciumi kedua pipi tembem anak balita kami tersebut.
Setahun sebelum mengandung Xavier, saya pernah mengalami keguguran. Setelah Allah memberkati kami dengan kehadiran Xavier, saya menjadi orangtua yang selalu khawatir. Pengalaman di toko sepatu tadi membuktikan bahwa saya tidak akan selalu bisa melihat atau melindungi anak kami. Namun, saya memperoleh kedamaian dengan belajar untuk datang kepada Allah, satu-satunya sumber pertolongan saya di saat saya bergumul dengan kekhawatiran dan kecemasan.
Bapa Surgawi kita tidak pernah mengalihkan pandangan-Nya dari anak-anak-Nya (Mzm. 121:1-4). Meskipun kita tidak dapat mencegah datangnya pencobaan, sakit hati, atau kehilangan, kita dapat menjalani hidup dengan iman yang teguh dan bersandar kepada Sang Penolong dan Penjaga yang selalu menaungi kehidupan kita (ay.5-8).
Adakalanya kita mengalami hari-hari yang membuat kita merasa tersesat dan tak berdaya. Kita mungkin juga merasa tidak berdaya ketika tidak bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi. Namun, kita bisa meyakini bahwa Allah kita yang Mahatahu tidak pernah mengabaikan kita—anak-anak-Nya yang terkasih dan berharga. —Xochitl Dixon
Tuhan, terima kasih Engkau telah menjaga kami dan orang-orang yang kami kasihi.
Allah senantiasa menjaga anak-anak-Nya.

Monday, July 2, 2018

Menerapkan Iman

Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! —1 Petrus 3:15
Menerapkan Iman
Saat menginap di sebuah hotel di Austin, Texas, saya melihat selembar kartu di meja dalam kamar saya. Pada kartu itu tertulis:
Selamat Datang
Semoga kamu beristirahat dengan nyaman dan perjalanan kamu membuahkan hasil.
Kiranya Tuhan memberkati dan melindungimu, dan menyinarimu dengan wajah-Nya.
Kartu dari pengelola hotel itu membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Saya pun mengakses situs mereka dan membaca tentang budaya, keunggulan, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Dengan cara yang menarik, mereka berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan menerapkan iman mereka di dunia kerja.
Falsafah kerja mereka mengingatkan saya pada perkataan Petrus kepada para pengikut Yesus yang tersebar di seluruh Asia Kecil. Petrus mendorong mereka untuk menunjukkan iman mereka kepada Kristus di tengah masyarakat tempat mereka tinggal. Sekalipun mereka berada di bawah ancaman dan penganiayaan, Petrus menasihati mereka untuk tidak takut, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1Ptr. 3:15).
Salah seorang teman menyebut hal itu sebagai “menjalani gaya hidup yang menuntut jawaban”. Di mana pun kita tinggal atau bekerja, kiranya kita senantiasa menerapkan iman kita dengan kekuatan dari Allah hari demi hari. Kiranya kita selalu siap sedia memberikan jawaban dengan lemah lembut dan penuh hormat kepada siapa saja yang bertanya tentang pengharapan yang kita miliki. —David C. McCasland
Jalanilah hidup sedemikian rupa sehingga orang lain tergerak untuk bertanya tentang pengharapan yang kita miliki.

Sunday, July 1, 2018

Seperti Apakah Allah Itu?

[Sang Anak] adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. —Ibrani 1:3
Seperti Apakah Allah Itu?
Untuk merayakan momen istimewa, saya diajak suami mengunjungi sebuah galeri seni di lingkungan kami. Ia mengatakan bahwa saya dapat memilih salah satu lukisan di sana sebagai hadiah. Saya pun memilih sebuah lukisan kecil yang menggambarkan anak sungai yang mengalir di tengah hutan. Dasar sungai hampir mengisi seluruh gambar sehingga lukisan itu tidak banyak menampilkan langit. Meskipun demikian, pantulan pada permukaan air sungai yang jernih memperlihatkan posisi matahari, puncak-puncak pohon, dan suasana yang berkabut. Satu-satunya cara untuk “melihat” langit adalah dengan memandangi permukaan air sungai itu.
Dalam konteks spiritual, Yesus bagaikan anak sungai tersebut. Jika ingin tahu seperti apakah Allah itu, kita memandang kepada Yesus. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (1:3). Meskipun kita dapat mempelajari fakta-fakta tentang Allah melalui pernyataan langsung dalam Alkitab seperti “Allah itu kasih”, kita dapat memperdalam pemahaman kita dengan melihat bagaimana Allah akan bertindak saat Dia menghadapi masalah yang sama dengan apa yang kita hadapi sebagai manusia. Itulah yang ditunjukkan Yesus kepada kita, ketika sebagai Allah, Dia datang ke dunia dan mengambil rupa manusia.
Saat dicobai, Yesus mengungkapkan kekudusan Allah. Ketika menghadapi kegelapan rohani, Dia menunjukkan otoritas Allah. Saat bergumul dengan masalah orang, Dia menunjukkan kepada kita hikmat Allah. Dalam kematian-Nya, Dia melukiskan kasih Allah.
Meskipun tak bisa memahami segala sesuatu tentang Allah—Dia tak terbatas dan pemikiran kita sangat terbatas—kita mengenal sifat-sifat-Nya dengan pasti saat kita memandang kepada Yesus Kristus. —Jennifer Benson Schuldt
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah memungkinkan kami untuk mengenal-Mu. Tolong kami bertumbuh makin dekat kepada-Mu dengan memandang kepada Yesus.
Sifat-sifat Allah dapat dikenali ketika kita memandang kepada Yesus.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate