Pages - Menu

Monday, June 30, 2014

Bangkit Kembali

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. —1 Yohanes 1:9
Bangkit Kembali
Chad Pennington adalah seorang mantan pemain American football yang telah mengalami beragam cedera yang mengancam kelangsungan kariernya. Dua kali mengalami cedera, Pennington harus menjalani operasi, terapi fisik selama berbulan-bulan, dan latihan berminggu-minggu agar ia dapat kembali ke arena pertandingan. Namun dalam dua kali kesempatan itu, ia tidak saja kembali bermain, tetapi juga mencapai prestasi yang luar biasa hingga ia dianugerahi gelar “Pemain Terbaik yang Bangkit Kembali” dalam Liga Football Nasional (NFL). Bagi Pennington, usahanya tersebut memperlihatkan kegigihannya untuk kembali bertarung di lapangan football.
Dalam hal kerohanian, saat dosa dan kegagalan memutuskan hubungan kita dengan Allah dan membuat kita berhenti melayani, kegigihan semata tidak akan dapat memulihkan hubungan kita yang benar dengan Allah dan kegunaan kita dalam kerajaan-Nya. Saat kita tersingkir karena dosa, maka pengakuan dosa menjadi jalan kita untuk kembali. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9).
Agar dapat pulih dari kegagalan rohani kita, kita sepenuhnya bergantung kepada Dia yang telah mengorbankan diri-Nya untuk kita. Di situlah terletak pengharapan kita. Kristus, yang telah mati bagi kita, mengasihi kita dengan kasih yang abadi, dan Dia akan menerima kita kembali apabila kita mengakui kesalahan kita kepada-Nya. Melalui pengakuan dosa, kita akan menerima pemulihan-Nya yang indah— pemulihan yang terhebat dari segalanya. —WEC
Meski tak layak diriku,
Tetapi kar’na darah-Mu
Dan kar’na Kau memanggilku,
‘Ku datang, Yesus, pada-Mu. —Elliott
(Kidung Jemaat, No. 27)
Pengakuan dosa adalah jalan menuju pemulihan.

Sunday, June 29, 2014

Fokus Pada Proses

Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. —2 Petrus 1:8
Fokus Pada Proses
Dalam bukunya On Writing Well (Menulis dengan Baik), William Zinsser berkata bahwa banyak penulis dibebani oleh “tirani dari hasil akhir”. Mereka begitu khawatir dengan hasil penjualan artikel atau buku mereka hingga lalai untuk mempelajari proses dalam berpikir, berencana, dan mengorganisir. Zinsser meyakini, apabila “sang penulis, dengan mata yang tertuju hanya pada garis akhir, tak pernah memikirkan sungguh-sungguh bagaimana caranya menempuh perlombaannya”, yang dihasilkan hanyalah sebuah naskah yang campur aduk.
Penulis dan pendeta A. W. Tozer menerapkan prinsip itu pada kehidupan rohani kita. Dalam bukunya The Root of the Righteous (Akar Hidup Orang Benar), Tozer menyebutkan bahwa kita cenderung “hanya peduli dengan buah . . . [dan] mengabaikan akar yang menjadi sumber buah itu.”
Rasul Petrus mengingatkan umat percaya di abad pertama bahwa hidup yang meneladankan Kristus dan pelayanan yang berhasil adalah buah dari suatu proses. Ia menghimbau mereka untuk bertumbuh dalam delapan area pertumbuhan rohani: iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara seiman, dan kasih akan semua orang (2Ptr. 1:5-7). Apabila semua itu ada pada dirimu dengan berlimpah-limpah, Petrus berkata, “[Kamu] akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita” (ay.8).
Allah memanggil kita untuk menjalani suatu proses belajar yang indah untuk mengenal Dia, dengan jaminan bahwa proses itu akan membuat pelayanan kita berhasil memberi buah demi kemuliaan dan kehormatan nama-Nya. —DCM
Tuhan, seringkali kami ingin solusi yang lengkap dan sempurna
saat ini juga. Namun Engkau bekerja dengan indah pada waktu-Mu
yang terbaik. Kiranya kebaikan, kesabaran, dan kebajikan-Mu
terpancar melalui diri kami agar kami dapat memberkati orang lain.
Hidup Kristen merupakan suatu proses yang membawa kita belajar bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Saturday, June 28, 2014

Membuatnya Menarik

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140628-Jus-Apel

Di dalam hubungan kalian dengan orang-orang yang tidak percaya, hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. —Kolose 4:5 (BIS)
Membuatnya Menarik
Alkisah pada zaman lampau, ada seorang bocah laki-laki yang berusaha mencari nafkah dengan cara menjual apel di atas kereta api berpenumpang. Ia menyusuri gerbong demi gerbong, sambil berseru, “Apel! Apel! Adakah yang mau membeli apel?” Sesampainya di gerbong terakhir, si bocah masih memiliki apel sekantong penuh, tetapi tidak ada uang.
Seorang pria yang memperhatikan kesulitan bocah itu pun memanggilnya dan meminta sebiji apel untuk dilihatnya. Pria itu beranjak ke bagian depan kereta, menggosok-gosok apelnya sampai mengkilap dengan selembar kain di depan umum, lalu berjalan menyusuri lorong kereta dengan menggigiti apel itu sembari berkomentar tentang kelezatan dan kesegaran apel yang sedang dimakannya. Kemudian ia menyuruh si bocah menjajakan apelnya lagi. Kali ini, bocah itu berhasil menjual setiap butir apelnya. Apa bedanya? Apel itu dibuat menarik sehingga memikat calon pembeli.
Cerita ini dapat mengingatkan kita akan satu cara yang dapat kita gunakan untuk membuat orang lain tertarik pada Injil Yesus Kristus: Buatlah menarik untuk mereka—yaitu dengan memperlihatkan pengaruh Injil itu dalam hidup kita sendiri. Cara yang terbaik adalah dengan mengikuti perkataan Paulus dalam Kolose 4:5 (bis), “Di dalam hubungan kalian dengan orang-orang yang tidak percaya,” katanya, “hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.” Apabila kita menunjukkan kebaikan, kasih, dan belas kasihan terhadap sesama, orang-orang yang memperhatikan kita akan bertanya-tanya, dan mungkin itulah kesempatan kita untuk menceritakan tentang keindahan kasih Allah kepada mereka. —JDB
Ya Allah, Engkau telah memberi kami begitu banyak dengan menganugerahkan
kami keselamatan kekal. Tolonglah kami untuk membuat
Injil-Mu menarik bagi orang lain lewat cara hidup kami yang
memancarkan terang Yesus kepada orang di sekitar kami setiap hari.
Indahnya perubahan hidup dapat membuat orang lain mau mengenal Pribadi yang menjadikan kita indah itu.

Friday, June 27, 2014

Tidak Berbuat Jahat

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. —Roma 13:10
Tidak Berbuat Jahat
Banyak orang memandang Hipokrates, sang tabib pada zaman Yunani kuno, sebagai bapak ilmu kedokteran Barat. Hipokrates memahami pentingnya mengikuti prinsip-prinsip moral dalam menerapkan pengobatan. Ia juga dikenang sebagai penulis Sumpah Hipokrates, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai panduan etika untuk para dokter di zaman modern ini. Salah satu konsep penting dari sumpah tersebut adalah “untuk tidak berbuat jahat”. Hal itu mengandung arti bahwa seorang dokter hanya akan melakukan apa yang menurutnya baik dan bermanfaat untuk pasien-pasiennya.
Prinsip untuk tidak berbuat jahat itu juga mencakup hubungan kita dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan bahkan menjadi pusat dari ajaran Perjanjian Baru tentang hal mengasihi sesama. Dalam pandangannya tentang hukum Allah, Rasul Paulus melihat bahwa kasihlah yang menjadi alasan di balik banyak perintah Alkitab: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm. 13:10).
Ketika kita mengikut Yesus Kristus Juruselamat kita dari hari ke hari, kita pun dihadapkan pada beragam pilihan yang akan mempengaruhi kehidupan orang lain. Saat mempertimbangkan tindakan yang akan kita ambil, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah tindakan ini mencerminkan kepedulian Kristus kepada sesama, ataukah aku hanya mementingkan diriku sendiri?” Kepekaan seperti itu akan menjadi wujud dari kasih Kristus yang rindu untuk memulihkan orang-orang yang sedang terpuruk dan membantu mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. —HDF
Tuhan, aku mengakui sangatlah mudah bagiku untuk tersita oleh
kemauan dan keinginan pribadiku. Terima kasih karena Engkau
menolong kami untuk dapat mempedulikan orang lain juga.
Tolong aku untuk mengikuti teladan-Mu dalam mengasihi sesama.
Mempedulikan beban hidup orang lain membantu kita untuk melupakan beban hidup kita sendiri.

Thursday, June 26, 2014

Bantuan Pinggir Jalan

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. —Mazmur 46:2
Bantuan Pinggir Jalan
Seorang kenalan saya sedang berburu bersama teman-temannya di dekat Balmoral, tanah di luar kota milik ratu Inggris. Saat berjalan, pergelangan kakinya terkilir amat parah sehingga ia tidak dapat meneruskan perjalanan. Ia pun meminta teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan mereka sementara ia akan menunggu di pinggir jalan.
Ketika ia duduk di sana, sebuah mobil lewat, lalu melambat dan berhenti. Wanita yang mengendarai mobil itu menurunkan kaca mobil dan menanyakan keadaan kawan saya itu. Ia pun menjelaskan keadaannya dan berkata bahwa ia sedang menunggu teman-temannya untuk kembali. Lalu wanita itu berkata, “Masuklah, saya akan mengantarmu kembali ke penginapan.” Dengan terpincang-pincang ia berjalan ke mobil itu. Saat membuka pintunya, ia baru menyadari bahwa wanita itu adalah Ratu Elizabeth!
Menerima pertolongan dari ratu Inggris mungkin memang mengejutkan, tetapi bagi kita tersedia pertolongan yang jauh lebih luar biasa. Allah Sang Pencipta alam semesta turun ke dalam dunia, melihat kesusahan kita, dan menawarkan untuk mengerahkan pertolongan-Nya bagi kita. Inilah yang dengan yakin ditegaskan oleh sang pemazmur, “Allah itu . . . sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm. 46:2). Sang Juruselamat menolong kita dengan memberi anugerah agar kita bisa bertahan, firman-Nya untuk menopang kita, para sahabat untuk menguatkan dan mendoakan kita, dan jaminan bahwa pada akhirnya Dia akan berkarya melalui semua itu untuk mendatangkan kebaikan bagi iman kita.
Suatu ketika, apabila kamu merasa terlantar di tengah jalan kehidupan ini, berharaplah pada Allah, Penolongmu. —JMS
Tuhan, aku berterima kasih karena ketika aku mengalami kesusahan,
Engkau menanti dan ingin menolongku. Ajarku untuk memandang
pada-Mu dan bersandar pada pemeliharaan-Mu yang baik dan penuh
kasih, sampai Engkau mengantarku pulang ke surga dengan selamat.
Bersukalah! Allahmu adalah Raja yang siap menolong!

Wednesday, June 25, 2014

Hikmat Dari Atas

Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai. —Yakobus 3:17
Hikmat Dari Atas
Andai saja Kiera Wilmot melakukan proyek percobaannya di dalam ruang kelas sains di SMA-nya, mungkin ia akan mendapatkan nilai A. Namun ia justru dituntut karena telah menyebabkan sebuah ledakan. Meskipun ia telah berharap agar gurunya menyetujui percobaan itu, teman-teman sekelasnya berhasil membujuknya untuk melakukan percobaan tersebut di luar ruang kelas. Saat ia mencampur zat-zat kimia ke dalam sebuah botol plastik, botol itu meledak dan secara tidak sengaja ia telah membuat panik siswa-siswi yang lain.
Tekanan dari sesama juga diceritakan dalam Perjanjian Lama. Ketika itu, Daud dan anak buahnya sedang bersembunyi dari Saul di dalam sebuah gua yang kemudian dimasuki oleh Saul (1Sam. 24). Para pengikut Daud menganggap bahwa Allah telah menyerahkan Saul ke dalam tangan mereka, dan mereka mendesak Daud untuk membunuhnya (ay.5, 11). Mereka berharap, jika Daud membunuh Saul, mereka tidak perlu lagi bersembunyi dan Daud dapat menjadi raja. Namun Daud menolak menyakiti Saul karena Saul adalah “orang yang diurapi Tuhan” (ay.7).
Ada kalanya orang-orang di sekitar kita mungkin mendorong kita untuk berbuat sesuatu yang kelihatannya memberi kepuasan atau kemudahan kepada kita saat itu juga. Namun ada perbedaan antara hikmat duniawi dengan hikmat surgawi (1Kor. 2:6-7). Hikmat yang dari atas “adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan” (Yak. 3:17). Ketika orang lain mendesak kita untuk mengambil tindakan tertentu, kita dapat mengundang Allah untuk menuntun kita dalam memberi tanggapan yang tepat. —JBS
Jadilah, Tuhan, kehendak-Mu!
S’luruh hidupku kuasailah.
Berilah Roh-Mu kepadaku,
Agar t’rang Kristus pun nyatalah. —Pollard
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 14)
Orang yang sungguh-sungguh berhikmat menerima hikmatnya dari Allah.

Tuesday, June 24, 2014

Alur Emas

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. —Roma 6:5
Alur Emas
Ketika mengunjungi daerah Cotswold yang indah di Inggris, saya membeli sejumlah cangkir keramik sebagai cenderamata. Saya memakainya dengan hati-hati, tetapi suatu hari sebuah cangkir terjatuh di wastafel dan pecah. Baru-baru ini saya teringat pada cangkir yang pecah tersebut saat mengetahui tentang seni Kintsugi asal Jepang.
Biasanya saat suatu benda pecah atau rusak, kita berusaha memperbaikinya agar dapat dipakai kembali. Namun beberapa ratus tahun yang lalu, seorang seniman Jepang memutuskan bahwa ia akan membuat benda keramik yang telah pecah menjadi sesuatu yang indah. Jadi ia mulai menggunakan resin emas untuk menyatukan kembali pecahan-pecahan keramik itu. Benda-benda keramik yang telah diperbaiki dengan menggunakan metode tersebut akhirnya menampilkan alur-alur emas yang berseluk-beluk.
Pada awal kisah umat manusia, dosa masuk ke dalam dunia (Kej. 3). Para ahli teologi menyebut peristiwa itu sebagai “kejatuhan”. Dampak yang tak terhindari dari kejatuhan tersebut ialah kehancuran. Hidup terasa menyakitkan karena kita terus tersakiti dan menyakiti orang lain dengan sikap dan perilaku kita yang tajam. Namun Allah tidak menginginkan kita terus hancur, dan karya perbaikan-Nya mengubah kehancuran kita menjadi sesuatu yang indah.
Bagai seorang seniman Kintsugi, Allah memperbaiki kita. Namun Allah menggunakan sesuatu yang lebih berharga daripada emas, yakni darah Anak-Nya. Kita tidak disatukan oleh alur-alur emas, melainkan oleh aliran darah Kristus itu sendiri. “Kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya” (Rm. 6:5). Tiada yang lebih indah daripada itu. —JAL
Dia curahkan darah-Nya, berikan hidup-Nya;
Dia berikan segala milik-Nya di Kalvari;
Oh apa yang dapat kita berikan kepada-Nya
Balas kasih yang amat kaya, penuh, cuma-cuma? —NN.
Harga kebebasan kita dari dosa telah dibayar lunas oleh darah Yesus.

Monday, June 23, 2014

Diperbaiki Oleh Ahlinya

[Kamu] telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. —Kolose 3:10
Diperbaiki Oleh Ahlinya
Selama berabad-abad, banyak usaha telah dilakukan untuk memperbaiki karya-karya seni agung yang telah rusak dan termakan oleh waktu. Walaupun lewat keterampilan yang mahir beberapa upaya itu telah berhasil menjaga kelestarian karya asli dari para seniman besar, di sisi lain, ada sejumlah usaha perbaikan yang justru merusak banyak karya agung, seperti yang terjadi pada patung-patung Yunani kuno dan setidaknya dua lukisan karya da Vinci.
Dalam suratnya kepada umat Kristen di Kolose, Paulus menjelaskan suatu proses perbaikan yang mustahil dilakukan di tengah dunia seni. Yang dimaksud adalah perbaikan atau pemulihan terhadap umat Allah. Paulus menulis, “Kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol. 3:9-10). Ini bukanlah suatu upaya merenovasi karya dari seorang seniman yang telah wafat, melainkan suatu pembaruan rohani oleh Allah yang hidup, yang menciptakan kita dan memberikan kita hidup baru di dalam anak- Nya, Yesus Kristus. Pengampunan-Nya mencerahkan warna pada kehidupan kita, sementara kasih karunia-Nya menegaskan kembali guratan-guratan dari maksud-Nya atas hidup kita.
Kanvas kehidupan kita terletak di dalam tangan Tuhan kita yang ahli—Dialah yang mengetahui rancangan dan tujuan-Nya atas hidup kita. Serusak apa pun kita oleh dosa, sekotor apa pun masa lalu kita, selalu ada harapan untuk mengalami pembaruan dan pemulihan. Sang Seniman Ahli itu hidup dan terus berkarya di dalam diri kita. —DCM
Mari puji Raja surga,
Persembahan bawalah!
Ditebus-Nya jiwa-raga,
Maka puji Nama-Nya! —Lyte
(Kidung Jemaat, No. 288)
Yesus adalah ahlinya pemulihan.

Sunday, June 22, 2014

Saat Ayahku Bertemu Yesus

Aku dikasihani . . . aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. —1 Timotius 1:16
Saat Ayahku Bertemu Yesus
Kakek saya, ayah saya, dan saudara-saudaranya berwatak keras. Mereka tak menyukai orang yang berbicara tentang iman Kristen kepada mereka. Saat ayah saya, Howard, didiagnosa menderita kanker ganas yang mematikan, saya begitu khawatir sehingga saya memanfaatkan tiap kesempatan untuk berbicara tentang kasih Yesus dengannya. Ia selalu mengakhiri perbincangan kami dengan sopan tetapi tegas: “Aku sudah tahu semua yang kuperlu tahu.”
Saya berjanji takkan membahasnya lagi dan memberinya seperangkat kartu berisikan ayat-ayat tentang pengampunan Allah yang dapat dibacanya kapan saja. Saya menyerahkan ayah kepada Allah dan berdoa untuknya. Seorang kawan juga meminta Allah untuk memberi kesempatan bagi ayah saya agar dapat mengenal Yesus selagi ia masih hidup.
Suatu siang saya menerima kabar bahwa ayah saya telah meninggal dunia. Saat bertemu saudara saya di bandara, ia berkata, “Ayah menyuruhku memberitahumu bahwa ia memohon kepada Yesus untuk mengampuni dosanya.” “Kapan?” “Pada pagi hari sebelum ia wafat,” jawab Mark. Allah telah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada ayah saya sebagaimana yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita (1Tim. 1:16).
Ada saatnya Injil kita beritakan, dan di lain waktu kita membagikan pengalaman iman kita. Mungkin ada kalanya kita hanya dapat menunjukkan teladan Kristus tanpa kata—namun kita harus selalu berdoa. Kita tahu, keselamatan itu sepenuhnya karya Allah dan bukan sesuatu yang dapat kita perbuat bagi orang lain. Allah itu Maha Pemurah, dan apa pun jawaban atas doa kita, Dia dapat dipercaya. —RKK
Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil,
Memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menunggu,
Menunggu aku dan kau. —Thompson
(Kidung Jemaat, No. 353)
Kita menanam dan menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan.

Saturday, June 21, 2014

Pejalan Kaki Tercepat Dunia

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. —Lukas 10:39
Pejalan Kaki Tercepat Dunia
Menurut sebuah penelitian yang mengukur laju kehidupan dari berbagai kota di 32 negara, orang yang hidupnya paling tergesa-gesa adalah yang tinggal di Singapura. Warga Singapura menempuh jarak 18 meter dalam waktu 10.55 detik. Itu lebih cepat daripada warga New York yang memerlukan waktu 12.00 detik dan 31.60 detik bagi mereka yang tinggal di kota Blantyre, di Malawi, Afrika.
Namun di mana pun kamui tinggal, penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecepatan berjalan manusia telah mengalami peningkatan rata-rata 10 persen dalam 20 tahun terakhir. Apabila kecepatan berjalan menjadi indikasi dari laju kehidupan, maka artinya kita pasti lebih sibuk daripada waktu-waktu sebelumnya.
Apakah kamu terjebak dalam hiruk-pikuk kehidupan yang sibuk? Berdiamlah sejenak dan renungkanlah perkataan Yesus kepada Marta: “Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk. 10:41-42).
Perhatikan kata-kata Yesus yang lembut. Dia tidak menegur Marta karena niatnya untuk menjadi tuan rumah yang baik, melainkan hanya mengingatkan Marta pada prioritasnya. Marta telah membiarkan apa yang baik melampaui kadar yang seharusnya. Akibatnya, ia begitu sibuk sampai-sampai tidak punya waktu untuk duduk dekat kaki Yesus.
Dalam keinginan kita untuk berbuat baik bagi Tuhan, marilah kita tetap mengingat hal terpenting yang selayaknya kita perhatikan, yakni menikmati waktu bersama Juruselamat kita. —PFC
‘Ku dibimbing-Nya dengan Firman-Nya,
Dia bisik, “Kau milik-Ku!”
Suka tak terp’ri kami alami,
Di dalam taman itu. —Miles
(Pujian Bagi Sang Raja No. 979)
Kerinduan Yesus untuk bersekutu dengan kita jauh melebihi kerinduan kita bersekutu dengan-Nya.

Friday, June 20, 2014

Kenangan Yang Telah Dilupakan








Komik-Strip-WarungSateKamu-20140620-Foto-Jadul

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2
Kenangan Yang Telah Dilupakan
Baru-baru ini, seorang teman lama dari masa remaja saya mengirimkan foto regu lari SMP kami melalui e-mail. Pada foto hitam-putih yang agak buram itu tampak sekelompok anak remaja, yang saya ingat samar-samar, bersama dengan dua orang pelatih kami. Pikiran saya segera dipenuhi akan kenangan masa lalu yang menyenangkan ketika kami berlari dalam perlombaan satu mil dan setengah mil pada berbagai kejuaraan yang kami ikuti. Namun sekalipun saya menikmati kenangan akan masa silam itu, saya juga teringat betapa mudahnya saya melupakan semua itu dan kemudian beralih kepada hal-hal lainnya.
Ketika kita menjalani hidup ini, alangkah mudahnya kita melupakan berbagai tempat, orang, dan kejadian yang pernah menjadi hal penting bagi kita. Waktu pun berlalu, hari kemarin sirna, dan kita menjadi terobsesi dengan hal-hal yang sedang terjadi di masa kini. Ketika hal ini terjadi, kita juga dapat melupakan betapa baiknya Allah kepada kita selama ini. Mungkin itulah alasan Daud mengingatnya ketika menulis, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (Mzm. 103:1-2).
Kenangan akan kebaikan Allah semakin diperlukan, terutama ketika sakit hati dan kesulitan hidup menekan kita. Ketika kita merasa begitu tertekan dan dilupakan, penting untuk mengingat kembali segala yang pernah dilakukan-Nya bagi kita. Dengan mengingat semua itu, kita dapat menerima penguatan untuk mempercayai-Nya pada masa kini dan juga pada masa mendatang. —WEC
Bila topan k’ras melanda hidupmu,
Bila putus asa dan letih lesu,
Berkat Tuhan satu-satu hitunglah,
Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya. —Oatman
(Kidung Jemaat, No. 439)
Mengingat kesetiaan Tuhan di masa lalu akan menguatkan kita di masa mendatang.


Thursday, June 19, 2014

Shrek Si Domba Pelarian

Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. —Yehezkiel 34:11
Shrek Si Domba Pelarian
Shrek adalah seekor domba pelarian. Ia pernah terpisah dari kawanannya dan menghilang selama 6 tahun. Akhirnya, seseorang menemukan Shrek tinggal dalam gua di sebuah tempat yang tinggi dan terjal di Selandia Baru. Orang itu bahkan tidak mengenali Shrek sebagai seekor domba. “Domba itu kelihatan seperti sesosok makhluk yang cuma ada dalam Alkitab,” kata orang itu. Komentar itu ada benarnya. Shrek merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada seekor domba yang telah terpisah dari gembalanya.
Untuk turun dari gunung, Shrek harus digendong karena bulunya sudah terlalu berat (27 kg) dan itu membuatnya tidak dapat berjalan sendiri. Untuk meringankan Shrek dari beban beratnya itu, badannya harus ditelentangkan agar ia tidak bergerak-gerak dan tidak terluka ketika bulunya yang berat itu dicukur habis.
Cerita Shrek ini menggambarkan metafora yang Yesus gunakan ketika Dia menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang Baik (Yoh. 10:11), dan ketika Allah menyebut umat-Nya sebagai domba-domba-Nya (Yeh. 34:31). Seperti Shrek, kita terjerumus pada keputusan-keputusan yang buruk ketika kita bergantung kepada diri sendiri, dan hidup kita ditimpa oleh berbagai beban berat dengan segala akibat yang harus kita tanggung (Yeh. 33:10). Untuk melepaskan kita dari beban tersebut, kita mungkin harus berada dalam posisi tidak berdaya untuk sementara waktu. Ketika kita berada dalam keadaan tersebut, alangkah baiknya apabila kita tetap bersikap tenang dan mempercayai Sang Gembala yang Baik itu untuk melakukan bagian-Nya tanpa melukai kita. —JAL
Sang Rajalah gembalaku
Yang baik dan penyayang.
Tak kurang aku apa pun
Selama ‘ku milik-Nya. —Baker
(Kidung Jemaat, No. 377)
Latihan Allah dirancang untuk menumbuhkan iman kita.

Wednesday, June 18, 2014

Senyum!

TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia. —Bilangan 6:25
Senyum!
Saya membaca sebuah hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini yang menyimpulkan bahwa tersenyum itu baik untuk kesehatan. Penelitian itu menunjukkan bahwa senyum dapat memperlambat detak jantung dan mengurangi stres.
Namun tersenyum tidak hanya baik untukmu; sebuah senyum yang tulus juga akan menjadi berkat bagi orang yang menerimanya. Tanpa sepatah kata pun, senyuman dapat menyatakan kepada orang lain bahwa kamu menyukai mereka dan kamu senang pada kehadiran mereka. Senyum bagaikan sebuah rangkulan penuh kasih yang diberikan tanpa sentuhan sedikit pun.
Pengalaman hidup memang tidak selalu membuat kita tersenyum. Akan tetapi, ketika kita melihat sebuah senyum yang tulus tersungging pada wajah seorang anak kecil atau pada wajah berkeriput dari seorang yang sudah tua, hati kita pun menjadi bersemangat kembali.
Senyum juga menjadi tanda akan kehadiran gambar Allah dalam diri kita. Dalam ucapan berkat yang dicatat di kitab Bilangan, kita dapat melihat indikasi bahwa Allah “tersenyum”: “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil. 6:25-26). Kata-kata tersebut merupakan suatu idiom Ibrani tentang kasih karunia Allah atas hidup seseorang, dan permohonan agar Allah memberikan senyuman kepada anak-anak-Nya.
Jadi, hari ini, ingatlah bahwa kamu dikasihi oleh Allah. Ingatlah juga bahwa Dia berkenan melimpahkan kasih karunia-Nya kepadamu dan menyinari kita dengan wajah-Nya. —JMS
Tuhan, kiranya hidupku dapat menyenangkan hati-Mu
sehingga Engkau berkenan menyinariku dengan wajah-Mu.
Dan saat Engkau tersenyum padaku, kiranya hari ini aku dapat
membagikan kasih-Mu kepada seseorang melalui senyumku.
Allah dapat memakai senyummu untuk memberikan semangat baru kepada orang yang membutuhkannya.

Tuesday, June 17, 2014

Cahaya Sang Anak Domba

Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. —Wahyu 21:23
Cahaya Sang Anak Domba
Dari generasi ke generasi yang tidak terhitung banyaknya, umat manusia telah menggunakan matahari dan bulan untuk menerangi siang dan malam. Matahari dan bulan berguna untuk menerangi jalan kita atau untuk menyediakan sinar yang memberikan kehidupan bagi tanaman agar dapat berbuah baik dan memberikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh kita. Kedua benda langit tersebut merupakan bagian dari alat penerang yang diberikan Allah dengan luar biasa. Kitab Kejadian menceritakan bahwa Allah menjadikan kedua benda penerang tersebut dengan maksud “yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam” (Kej. 1:16).
Namun suatu hari nanti Allah akan memberikan suatu terang yang berbeda. Tentang suatu kota surgawi yang abadi, Yohanes menuliskan: “Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya” (Why. 21:23). Yang menarik adalah penggunaan yang tepat dari kata “lampu” sebagai sumber terang dalam ayat tersebut. Kristus dalam wujud-Nya yang telah dimuliakan akan menjadi suatu lampu rohani yang menerangi dunia baru yang penuh sukacita itu.
Tuhan Yesus Kristus adalah “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Dia juga adalah sumber penerangan rohani yang membuat semua pengikut-Nya sebagai “terang dunia” (Mat. 5:14). Namun dalam kekekalan Dia akan menjadi Lampu yang menerangi jalan kita (Why. 21:23). Alangkah bahagianya, suatu hari nanti kita akan hidup diterangi cahaya Sang Anak Domba! —HDF
Tiada kegelapan bagi mereka yang diam dalam Yesus—
Dialah Yesus, Sang Terang Dunia;
Kita berjalan di dalam terang mengikuti Pemandu kita—
Dialah Yesus, Sang Terang Dunia. —Bliss
Sang Terang Dunia takkan pernah kehilangan daya.

Monday, June 16, 2014

Anak-Anak Di Dunia

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. —Yakobus 1:27
Anak-Anak Di Dunia
Setelah sekelompok siswa SMA berkunjung ke sebuah panti asuhan dalam suatu pelayanan, seorang siswa terlihat sangat sedih. Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa panti asuhan tersebut membuatnya teringat pada kehidupannya sendiri 10 tahun yang lalu.
Siswa itu pernah tinggal di suatu panti asuhan di negara lain. Ia teringat pada orang-orang yang datang mengunjunginya dan teman-temannya–dan kemudian mereka pulang. Adakalanya orang yang berkunjung itu akan datang kembali dan mengadopsi seorang anak. Namun setiap kali ia tidak terpilih untuk diadopsi, ia pun bertanya-tanya, Apa yang salah dengan diriku?
Perasaan lamanya itu terungkit kembali saat ia dan teman-teman SMA-nya mengunjungi panti asuhan—dan kemudian pulang. Maka teman-teman dalam kelompoknya berdoa baginya—dan bersyukur kepada Allah karena seorang wanita telah mengadopsinya sebagai anak. Perbuatan teman-teman siswa itu merupakan pernyataan penuh kasih yang membuat siswa itu kembali memiliki harapan.
Di berbagai penjuru dunia, ada banyak anak yang perlu mengenal kasih Allah bagi mereka (Mat. 18:4-5; Mrk. 10:13-16; Yak. 1:27). Tentunya, kita tidak mungkin mengadopsi atau mengunjungi semua anak itu—dan memang kita tidak diharapkan untuk demikian. Namun kita semua dapat melakukan sesuatu: Mendukung. Menyemangati. Mengajar. Mendoakan. Ketika kita mengasihi anak-anak di dunia ini, kita menghormati Bapa kita yang telah mengadopsi kita untuk masuk dalam keluarga-Nya (Gal. 4:4-7). —JDB
Bapa, Engkau telah membentuk setiap anak
dalam gambaran-Mu. Tolong kami untuk meneruskan
kasih-Mu kepada mereka melalui tangan,
tindakan, dan hati kami.
Semakin luas kasih Kristus tumbuh di dalam kita,
semakin limpah kasih-Nya mengalir dari diri kita.

Sunday, June 15, 2014

Mengajar Melalui Teladan

Didiklah [anak-anakmu] di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. —Efesus 6:4
Mengajar Melalui Teladan
Ketika sedang menunggu giliran untuk pemeriksaan mata, perhatian saya terpaku pada sebuah tulisan yang tergantung di dinding kantor dokter mata itu: “Delapan puluh persen dari semua yang dipelajari anak-anak dalam 12 tahun pertamanya diserap melalui mata mereka.” Saya mulai memikirkan semua hal yang diserap anak-anak oleh penglihatannya lewat berbagai bacaan, acara TV, film, peristiwa, lingkungan, dan pengamatan terhadap perilaku orang lain, terutama keluarga mereka. Pada Hari Ayah ini, kita sering memikirkan tentang besarnya pengaruh yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya.
Paulus mendorong para ayah untuk tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak mereka, melainkan mendidik “mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef. 6:4). Bayangkan betapa berpengaruhnya teladan dari seorang ayah yang lewat perilaku dan konsistensinya menumbuhkan rasa kagum dari anak-anaknya. Sang ayah memang tidak sempurna, tetapi ia sedang bergerak maju ke arah yang benar. Suatu pengaruh kebaikan yang besar sedang bekerja ketika tingkah laku kita tidak mencoreng karakter Allah, melainkan mencerminkannya.
Hal itu merupakan tantangan bagi orangtua mana pun. Jadi bukanlah suatu kebetulan apabila Paulus mendesak kita untuk hidup “kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (ay.10). Hanya lewat kekuatan kuasa-Nyalah, kita dapat mencerminkan kasih dan kesabaran Bapa kita di surga.
Kita mengajari anak-anak kita jauh lebih banyak melalui teladan cara hidup kita daripada melalui perkataan kita. —DCM
Bapa Surgawi, aku perlu mengenal kasih-Mu agar bisa mengasihi
orang lain. Aku ingin mengalami dan membagikan kesabaran
dan kebaikan-Mu dengan orang-orang yang kukasihi.
Penuhilah aku dengan kasih-Mu dan pakailah aku.
Kita menghormati para ayah yang tak hanya memberi kita hidup, tetapi juga meneladani cara hidup yang benar.

Saturday, June 14, 2014

Sekokoh Batu Karang

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. —Mazmur 34:16
Sekokoh Batu Karang
Pada bulan Mei 2003, terjadi sebuah peristiwa yang tragis ketika “Si Pria Tua di Gunung” terbelah, runtuh dan terguling ke lereng gunung. Pahatan alam berbentuk wajah pria tua setinggi 12 meter itu terukir di pegunungan White Mountains di New Hampshire, Amerika Serikat. Wajah itu telah lama menjadi daya tarik bagi para wisatawan, kebanggaan bagi penduduk lokal, dan lambang resmi negara bagian tersebut. Nathaniel Hawthrone menulis tentang ukiran alam ini dalam cerita pendeknya yang berjudul The Great Stone Face (Wajah Batu yang Agung).
Sejumlah penduduk yang tinggal di sekitar daerah tersebut merasa sangat terpukul ketika Si Pria Tua itu runtuh. Seorang wanita berkata, “Saya tumbuh besar dengan perasaan bahwa seseorang selalu menjaga saya. Saya merasa kurang mendapat perhatian lagi sekarang ini.”
Adakalanya yang selama ini kita andalkan tidak lagi berada bersama kita. Sesuatu atau seseorang yang kita andalkan telah pergi, dan hidup kita pun terguncang. Mungkin kehilangan itu berupa seseorang yang kita cintai, atau sebuah pekerjaan, atau kesehatan yang baik. Rasa kehilangan itu membuat kita merasa goyah dan tidak stabil. Kita mungkin sampai berpikir bahwa Allah tidak lagi menjaga dan memperhatikan kita.
Namun “mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (Mzm. 34:16). Dia “dekat kepada orang-orang yang patah hati” (ay.19). Dialah Gunung Batu yang selalu dekat dan dapat kita andalkan (Ul. 32:4).
Kehadiran Tuhan memang nyata. Dia terus-menerus menjaga kita. Dia sekokoh batu karang. —AMC
Batu Karangku berdiri teguh,
Dia akan selalu hadir;
Menjaga semua milik-Nya
Menenangkan hati yang cemas. —Keith
Pertanyaannya bukanlah di manakah Allah, melainkan, adakah tempat di mana Dia tidak hadir?

Friday, June 13, 2014

Kita Aman

[Allah] telah melahirkan kita kembali . . . untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. —1 Petrus 1:3-4
Kita Aman
The United States Bullion Depository (Pusat Penyimpanan Emas Amerika Serikat) di Fort Knox, Kentucky, adalah sebuah bangunan yang dijaga sangat ketat. Dalam bangunan itu tersimpan 5.000 ton emas batangan dan barang berharga lainnya yang berada di bawah tanggung jawab pemerintah federal. Fort Knox dilindungi pintu seberat 22 ton dan sistem keamanan berlapis yang terdiri atas alarm, kamera video, ladang ranjau, kawat berduri, pagar listrik, penjaga bersenjata, dan helikopter Apache siluman. Berdasarkan tingkat keamanannya, Fort Knox dianggap sebagai salah satu tempat paling aman di dunia.
Seaman-amannya Fort Knox, masih ada sebuah tempat lain yang lebih aman, dan tempat itu dipenuhi dengan sesuatu yang lebih berharga daripada emas. Tempat itu adalah surga, yang menyimpan harta kehidupan kekal kita. Rasul Petrus mendorong orang percaya di dalam Kristus untuk memuji Allah karena kita memiliki “suatu hidup yang penuh pengharapan”—suatu pengharapan teguh yang bertumbuh dan bertambah kuat seiring dengan bertambahnya pengenalan kita akan Yesus (1Ptr. 1:3). Dan pengharapan kita didasarkan pada Kristus yang bangkit. Anugerah kehidupan kekal dari-Nya tidak akan pernah dihancurkan oleh serangan musuh. Kehidupan kekal itu tidak akan pernah kehilangan kemuliaannya atau kesegarannya, karena Allah selalu dan akan tetap menjaganya aman di surga. Apapun ancaman yang mungkin menimpa hidup kita di dunia ini, Allah terus menjaga jiwa kita. Warisan kita aman dijaga oleh-Nya.
Seperti bangunan yang tak tertembus apapun, keselamatan kita dilindungi oleh Allah dan kita pun aman terjamin. —MLW
UNTUK DIRENUNGKAN
Aspek apa dari keselamatanmu yang memberi sukacita terbesar
bagimu? Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui
bahwa keselamatanmu terjamin aman oleh Allah?
Warisan surgawi tersimpan di tempat yang paling aman.

Thursday, June 12, 2014

Tetaplah Tenang Dan Lanjutkan

Kami adalah hamba-hamba Allah semesta langit dan bumi. —Ezra 5:11
Tetaplah Tenang Dan Lanjutkan
“Tetaplah tenang dan hubungi Ibu.” “Tetaplah tenang dan nikmati makanannya.” “Tetaplah tenang dan masaklah airnya.” Perkataan-perkataan itu terilhami dari frasa: “Tetaplah Tenang dan Lanjutkan.” Pesan itu pertama kali muncul di Inggris Raya saat Perang Dunia II mulai berkecamuk tahun 1939. Para pejabat Inggris mencetaknya pada poster-poster yang dirancang untuk mengurangi kepanikan dan keputusasaan selama perang berlangsung.
Ketika kembali ke tanah Israel sesudah sekian lama menjadi tawanan, bangsa Israel harus mengatasi ketakutan mereka sendiri dan juga ancaman musuh ketika mereka mulai membangun kembali Bait Allah (Ezr. 3:3). Ketika mereka telah selesai meletakkan dasar bangunannya, para musuh “menyogok para penasihat untuk melawan orang-orang Yehuda itu dan menggagalkan rancangan mereka” (4:5). Musuh-musuh bangsa Israel juga menulis surat tuduhan kepada pejabat pemerintah dan berhasil membuat pekerjaan pembangunan tersebut ditunda (ay.6,24). Meskipun demikian, Raja Darius akhirnya mengeluarkan perintah yang mengizinkan mereka untuk menyelesaikan pembangunan Bait Allah (6:12-14).
Ketika kita sedang melakukan pekerjaan Allah dan menemui kesulitan yang menghadang, kita dapat melanjutkannya dengan tenang karena, seperti bangsa Israel, “[Kita] adalah hamba-hamba Allah semesta langit dan bumi” (5:11). Rintangan dan penundaan mungkin dapat menggentarkan kita, tetapi kita dapat berpegang pada janji Yesus: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Kuasa Tuhan, dan bukan kekuatan kita, yang memampukan kita melakukan pekerjaan-Nya. —JBS
Engkaulah hidup kami, sumber satu-satunya hidup kami,
Dari Engkaulah semua hakikat dan kekuatan kami terima.
Topanglah kami dengan iman dari-Mu dan oleh kuasa-Mu,
Dan berilah kami kekuatan di setiap kesulitan kami. —Psalter
Roh Allah memberikan kuasa pada kesaksian kita.

Wednesday, June 11, 2014

Hati Yang Jujur

Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. —1 Tawarikh 29:17
Hati Yang Jujur
Suatu hari, saya membaca ukiran pada sebuah batu nisan tua yang terdapat di suatu pemakaman. Di batu nisan tersebut tertulis, “J. Holgate: Seorang yang jujur”.
Saya tidak tahu apa-apa tentang hidup Holgate, tetapi karena nisannya dihias dengan sangat indah, saya menduga pastilah ia seorang yang kaya-raya. Namun, apa pun pencapaiannya dalam hidup, ia dikenang hanya untuk satu hal, yakni ia adalah “seorang yang jujur”.
Diogenes, seorang filsuf asal Yunani, menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari kejujuran. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa orang jujur itu tidak ada. Orang jujur memang sulit ditemukan di zaman apa pun, tetapi kejujuran merupakan sifat yang sangat penting. Kejujuran bukanlah kebijakan terbaik; kejujuran merupakan kebijakan satu-satunya, dan salah satu tanda dari seorang pria atau wanita yang hidup dalam hadirat Allah. Daud menulis, “TUHAN, . . . Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela” (Mzm. 15:1-2).
Saya bertanya pada diri sendiri: Apakah saya dapat dipercaya dan punya sikap terhormat dalam semua perbuatan saya? Apakah perkataan saya menyatakan kebenaran? Apakah saya berbicara benar dalam kasih ataukah saya kadang memalsukan dan mengaburkan kenyataan yang ada, atau membesar-besarkan sesuatu di luar proporsinya? Jika saya telah menyimpang, saya perlu berpaling kepada Allah dengan keteguhan hati dan memohon pengampunan serta diberikan hati yang baik dan jujur—agar kejujuran menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jati diri saya. Dia yang telah memulai karya yang baik di dalam diri saya adalah Allah yang setia. Dia pasti akan menjawab doa kita. —DHR
Tuhan, tolonglah aku untuk menjadi jujur
Dalam seluruh perbuatan dan perkataanku,
Dan berikanlah saya karunia dan kuasa
Untuk hidup bagi-Mu setiap hari. —Fitzhugh
Jalanilah hidup agar saat orang memikirkan kejujuran dan integritas, mereka dapat melihatnya dalam hidupmu.

Tuesday, June 10, 2014

Mahkota Kemuliaan

Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. —Yohanes 19:2
Mahkota Kemuliaan
Seperangkat tanda dan jubah kebesaran milik Kerajaan Inggris Raya yang disebut Crown Jewels disimpan dengan aman di Menara London dan dijaga ketat 24 jam sehari. Setiap tahunnya, jutaan orang akan mengunjungi pameran itu untuk mengagumi harta benda yang penuh hiasan tersebut. Crown Jewels melambangkan kekuasaan dari kerajaan itu, sekaligus kewibawaan dan kedudukan dari orang-orang yang mengenakannya.
Salah satu bagian dari Crown Jewels adalah mahkota. Ada tiga jenis mahkota yang berbeda: mahkota penobatan, yang dikenakan ketika seseorang dinobatkan sebagai raja atau ratu; mahkota negara (atau coronet/mahkota kecil) yang dipakai pada beragam kegiatan; dan mahkota permaisuri yang dikenakan oleh istri dari raja yang sedang berkuasa. Setiap mahkota memiliki fungsinya masing-masing.
Sang Raja Surgawi, yang layak mengenakan mahkota teragung dan mendapat penghormatan tertinggi, mengenakan mahkota yang jauh berbeda. Pada saat Kristus dihina dan disiksa sebelum disalibkan, “prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu” (Yoh. 19:2). Hari itu, mahkota, yang biasanya merupakan lambang kerajaan dan kehormatan, berubah menjadi alat caci-maki dan penuh kebencian. Akan tetapi Juruselamat kita rela mengenakan mahkota itu bagi kita, dengan menanggung malu dan dosa kita.
Yesus, Pribadi yang layak mengenakan mahkota yang terbaik dari segalanya, rela mengenakan mahkota yang terburuk demi kita. —WEC
Dia nobatkanlah
Sang Raja hidupmu;
Sang maut dikalahkan-Nya
Demi selamatmu. —Bridges/Thring
(Kidung Jemaat, No. 226)
Tiada mahkota tanpa salib.

Monday, June 9, 2014

Allah Yang Murah Hati

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140609-Dinner-Bareng-Nenek

[Allah] dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. —Efesus 3:20
Allah Yang Murah Hati
Beberapa tahun yang lalu, ketika keluarga kami tinggal di Chicago, kami menikmati banyak keuntungan. Salah satu hal yang paling saya nikmati adalah restoran-restoran mengagumkan yang tampaknya saling bersaing, tidak hanya dalam kelezatan hidangannya, tetapi juga porsi sajiannya. Di satu restoran Italia yang kami kunjungi, saya dan istri biasanya akan memesan setengah porsi menu pasta kegemaran kami. Sisanya masih bisa kami bawa pulang, dan cukup untuk makan malam kami keesokan harinya! Porsi yang luar biasa besar itu membuat kami merasa seperti berada di rumah nenek saat beliau mencurahkan kasihnya kepada kami melalui masakannya.
Saya juga merasakan curahan kasih pada saat membaca bahwa Bapa kita yang di surga mencurahkan kekayaan kasih karunia-Nya kepada kita (Ef. 1:7-8) dan bahwa Dia mampu melakukan “jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan” (3:20). Saya sangat bersyukur bahwa Allah kita bukanlah Allah yang pelit, yang dengan perasaan berat memberikan berkat-Nya dalam porsi kecil-kecil. Sebaliknya, Dia adalah Allah yang mencurahkan pengampunan bagi para pemberontak (Luk. 15), dan setiap hari Dia memahkotai kita “dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm. 103:4).
Ada kalanya kita menyangka bahwa Allah belum cukup memberikan yang kita inginkan. Namun seandainya Allah hanya mengampuni dosa kita dan memberikan jaminan hidup kekal di surga bagi kita, dan tidak melakukan apa pun lagi, itu pun sudah menunjukkan betapa berlimpahnya karunia-Nya kepada kita! Jadi hari ini, bersukacitalah di dalam Allah kita yang begitu murah hati. —JMS
Tuhan, seringlah mengingatkanku bahwa Engkau telah begitu
bermurah hati kepadaku. Tolonglah aku untuk juga meneruskan
kemurahan hati itu kepada mereka yang ada di sekelilingku, sehingga
mereka dapat mengenal Engkau dan bersukacita di dalam-Mu.
Pujilah Khalik semesta, sumber segala kurnia! (Kidung Jemaat, No. 303)

Sunday, June 8, 2014

Pelajaran Dari Sakit Gigi

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. —Ibrani 12:7
Pelajaran Dari Sakit Gigi
Dalam buku klasiknya yang berjudul Mere Christianity (Kekristenan Asali), C. S. Lewis menuliskan, “Ketika masih kecil, aku sering sakit gigi. Dan aku tahu jika aku memberi tahu Ibu, ia pasti memberiku sesuatu yang akan menghilangkan rasa sakitnya agar aku bisa tidur malam itu. Namun aku tak menceritakannya pada Ibu—setidaknya sampai rasa sakit itu sudah tidak tertahankan. . . . Aku tahu Ibu akan membawaku ke dokter gigi pada keesokan harinya. . . . Aku mau segera terbebas dari rasa sakit, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi sebelum gigiku diobati dengan total.”
Demikian juga, kita mungkin tidak ingin segera datang kepada Allah pada saat kita menghadapi masalah atau sedang menggumuli hal tertentu. Kita tahu bahwa Allah bisa segera membebaskan kita dari rasa sakit, tetapi Dia lebih ingin untuk mengobati akar masalahnya. Mungkin kita khawatir bahwa Dia akan menyingkapkan hal-hal yang sebenarnya tidak mau kita hadapi atau yang tidak ingin kita tangani.
Pada saat-saat seperti itulah, alangkah baiknya kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Tuhan “memperlakukan [kita] seperti anak” (Ibr. 12:7). Ganjaran yang diberikan-Nya, sekalipun mungkin menyakitkan, adalah hal yang bijaksana, dan hajaran-Nya itu dilakukan dengan penuh kasih. Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia tidak akan membiarkan kita tetap dalam keadaan kita; Dia rindu untuk menjadikan kita serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus (Rm. 8:29). Maksud Allah yang penuh kasih sungguh layak kita percayai, lebih dari apa pun yang kita takutkan. —PFC
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah menunjukkan kesalahanku
yang tersembunyi, dan memperlakukanku seperti anak kesayangan-Mu.
Tolonglah aku untuk berserah pada karya pemurnian-Mu
hingga keindahan Kristus dapat terlihat jelas dalam diriku.
Allah menghajar kita dengan tangan yang penuh kasih.

Saturday, June 7, 2014

Apa Yang Kita Inginkan?

Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. —Mazmur 73:25
Apa Yang Kita Inginkan?
Teman saya, Mary, mengatakan kepada saya bahwa ia tidak selalu menyanyikan semua lirik himne dan puji-pujian yang dinaikkan dalam kebaktian di gereja. Ia berkata, “Rasanya seperti tidak jujur saat menyanyikan, ‘Yang kurindu hanya Yesus’, sementara hatiku sebenarnya merindukan banyak hal yang lain.” Saya menghargai kejujurannya.
Lewat tulisannya dalam Mazmur 73:25, Asaf terdengar seperti seseorang berpikiran saleh yang hanya menginginkan Allah: “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Namun ia tidak mengawali mazmur itu dengan sikap demikian. Awalnya, Asaf mengakui bahwa ia menginginkan kemakmuran yang dimiliki orang-orang di sekitarnya: “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual” (ay.3). Namun semakin dekat dirinya dengan Allah, ia pun menyadari kebodohan dari sikap iri hatinya (ay.21-22,28).
Sekalipun kita mengenal Allah, kita masih sering terusik oleh kemakmuran orang lain di sekitar kita. C. S. Lewis pernah menulis, “Tampaknya Tuhan kita menganggap keinginan kita tidaklah terlalu kuat, tetapi justru terlalu lemah. . . . Kita terlalu mudah merasa puas” pada hal-hal yang lebih kecil dan remeh daripada Allah.
Apakah yang kita pelajari tentang Allah dalam mazmur ini yang bisa menolong kita ketika hasrat diri mengalihkan perhatian kita dari kehendak Allah yang terbaik? Kita melihat bahwa meskipun kita mungkin tergoda untuk merasa iri terhadap milik orang lain, Allah terus membimbing dan membawa kita kembali untuk memusatkan perhatian kepada-Nya. Kita dapat berkata, “Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ay.26). —AMC
Tuhan, kami percaya bahwa Engkaulah sumber kepuasan yang sejati.
Namun kami lemah, berdosa, dan perhatian kami mudah teralihkan
dari kehendak-Mu yang terbaik. Ajarlah kami untuk mendekat
kepada-Mu, dan kiranya Engkau pun senantiasa mendampingi kami.
Menikmati hikmat Allah tiap-tiap hari akan menyembuhkan penyakit iri hati.

Friday, June 6, 2014

Hari-H

Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah . . . . Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! —Yosua 24:15
Hari-H
Baru-baru ini saya bertanya kepada kakak perempuan saya, Mary Ann, apakah ia mengingat peristiwa saat keluarga kami pindah ke rumah yang kemudian kami tempati selama bertahun-tahun. Ia menjawab, “Umurmu baru sekitar 9 bulan pada saat itu. Aku ingat Ibu dan Ayah tak tidur sepanjang malam untuk mengepak barang dalam kardus sembari mendengarkan siaran radio. Hari itu tanggal 6 Juni 1944, dan mereka sedang mendengarkan siaran langsung tentang Invasi Normandia.”
Hari ini menandai peringatan 70 tahun dari peristiwa invasi yang kemudian dikenal sebagai D-Day (Hari-H)—suatu istilah militer untuk hari dimulainya suatu operasi yang telah direncanakan. Di kemudian hari, istilah Hari-H juga diartikan sebagai momen pengambilan keputusan atau komitmen dalam kehidupan pribadi kita.
Pada satu masa dalam sejarah bangsa Israel kuno, Yosua, pemimpin mereka yang sudah tua, menantang bangsanya untuk menentukan Hari-H yang lain. Setelah bertahun-tahun berjuang untuk merebut tanah warisan yang dijanjikan Allah kepada bangsa itu, Yosua mendesak mereka untuk terus setia melayani Dia yang telah begitu setia kepada mereka (Yos. 24). “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah,” kata Yosua. “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (ay.15).
Hari di saat kita memutuskan untuk mengikut Sang Juruselamat merupakan titik balik terpenting dalam hidup kita. Dan setiap hari setelah keputusan tersebut, dengan sukacita kita bisa memperbarui komitmen kita untuk setia melayani-Nya. —DCM
Tuhan, sungguh suatu kehormatan bagiku untuk taat mengikuti
panggilan-Mu setiap hari. Terima kasih karena Engkau mengasihi
dan mengampuniku. Bimbing aku dalam segala keputusanku hari ini
dan tolonglah aku agar bisa melayani-Mu dengan setia.
Keputusan terbesar dalam hidup adalah apakah kita mau mengikut atau menolak Yesus.

Thursday, June 5, 2014

Memperluas Cara Pandang

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140605-Rajawali


Laksana rajawali menggoyang-bangkitkan isi sarangnya, . . . mengembangkan sayapnya, . . . demikianlah TUHAN sendiri menuntun [Yakub]. —Ulangan 32:11-12
Memperluas Cara Pandang
Selama 3 bulan saya mendapat posisi paling baik untuk melihat dengan sangat jelas karya ciptaan Allah yang mengagumkan. Pada ketinggian sekitar 27 meter dari atas tanah di Norfolk Botanical Garden, Virginia, para pekerja memasang kamera web yang diarahkan pada sarang dari sekawanan elang botak, dan para pemirsa diizinkan untuk menyaksikan kegiatan kawanan itu melalui Internet.
Saat telur-telur telah menetas, para induk elang begitu memperhatikan keadaan anak-anak mereka, dengan bergiliran dalam mencari makanan dan menunggui sarang. Namun suatu hari, ketika anak-anak burung itu masih tampak seperti bola bulu yang berparuh, kedua induknya menghilang. Saya khawatir kedua induk itu telah tertimpa bahaya.
Kekhawatiran saya ternyata tidak terbukti. Ketika operator kamera memperluas sudut pandang kameranya, terlihatlah sang induk elang betina sedang bertengger di sebilah ranting pohon yang tidak jauh dari sarangnya.
Ketika merenungkan gambaran “yang diperluas” ini, saya teringat pada masa-masa ketika saya pernah merasa khawatir bahwa Allah telah meninggalkan saya. Pemandangan pada ketinggian di hutan Virginia itu mengingatkan saya bahwa pandangan saya memang terbatas. Saya hanya melihat sebagian kecil dari seluruh gambaran yang ada.
Musa menggambarkan Allah seperti rajawali. Sama seperti rajawali mendukung anak-anaknya di atas kepaknya, demikianlah Allah mendukung umat-Nya (Ul. 32:11-12). Apa pun yang terjadi, Tuhan “tidak jauh dari kita masing-masing” (Kis. 17:27). Hal itu benar bahkan pada saat kita merasa terabaikan. —JAL
Di bawah naung sayap-Hu terpelihara
Meski g’lap malam angin ributlah.
Demi iman aku dilindungkan-Nya
‘Ku ditebuskan jadi anak-Nya. —Cushing
(Nyanyian Kemenangan Iman, No. 88)
Karena Tuhan menjaga kita, kita tidak perlu takut terhadap bahaya di sekeliling kita.

Wednesday, June 4, 2014

Papan Dan Pangan

Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2
Papan Dan Pangan
Dalam perjalanan ke Inggris baru-baru ini, saya dan istri mengunjungi Pondok Anne Hathaway di Stratford-upon-Avon. Bangunan pondok itu berusia lebih dari 400 tahun dan merupakan rumah keluarga dan tempat istri William Shakespeare itu bertumbuh besar.
Pemandu wisata mengarahkan perhatian kami kepada sebuah meja yang terbuat dari papan yang lebar. Satu sisi meja itu digunakan untuk makan, dan sisi lainnya digunakan untuk memotong makanan. Dalam budaya Inggris, muncul beragam ungkapan dari cara penggunaan meja itu. Kata board (papan) dikaitkan dengan hal makanan, tempat tinggal, kejujuran, dan kewenangan. Sebuah penginapan biasanya menawarkan room and board—artinya menyediakan tempat untuk tidur dan makan. Di kedai-kedai minum, para pelanggan yang bermain kartu diharuskan selalu menaruh tangan mereka di atas meja (above board) untuk memastikan bahwa mereka tidak bermain curang. Dan di dalam rumah, sang ayah diberi kursi khusus yang terletak di ujung meja sehingga ia disebut sebagai chairman of the board (kepala rumah tangga).
Ketika merenungkan hal itu, saya memikirkan Yesus sebagai room and board bagi kita. Dialah sumber santapan rohani kita (Yoh. 6:35,54); Dia memberi kita kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berintegritas (14:21); Dia adalah Tuhan yang penuh kasih (Flp. 2:11); dan saat ini Dia sedang menyiapkan kediaman kita yang kekal. Dia berjanji: “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2; lihat juga 14:1-4,23). Oleh kasih karunia-Nya, Dia telah menyediakan santapan dan kediaman yang abadi bagi kita. —HDF
Ampunan dosaku, damai abadi,
Kehadiran-Mu dan bimbingan-Mu,
Kini kekuatan dan besok harapan:
Hujan berkat Kau beri padaku. —Chisholm
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 138)
Kristus memenuhi kebutuhan kita di masa kini dan untuk selama-lamanya.

Tuesday, June 3, 2014

Memandang Tujuan Akhir

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. —Roma 8:28
Memandang Tujuan Akhir
Hanya dalam jangka waktu satu tahun, bisnis penerbitan yang selama ini sukses dijalankan oleh Richard LeMieux harus mengalami kebangkrutan. Hartanya lenyap, dan ia pun jatuh depresi. Akhirnya, LeMieux mulai kecanduan minuman keras dan keluarganya pun meninggalkannya. Di titik terendah dalam hidupnya, ia menjadi seorang tunawisma yang hidupnya hancur dan melarat. Namun, pada saat itulah ia berpaling kepada Allah. Ia kemudian menulis sebuah buku tentang pelajaran yang diperolehnya dari pengalaman sulit tersebut.
Bangsa Israel mendapat pelajaran rohani yang berharga ketika Allah memperkenankan mereka mengalami ketiadaan tempat tinggal, ketidakpastian, dan bahaya. Kesulitan hidup telah membuat mereka untuk belajar rendah hati (Ul. 8:1-18).
Bangsa Israel belajar bahwa Allah akan menyediakan segala kebutuhan mereka. Ketika mereka lapar, Dia memberi mereka manna. Ketika mereka haus, Dia memberi mereka air yang keluar dari batu karang. Allah mengajari mereka bahwa di tengah masa-masa sulit pun, Dia bisa memberkati mereka (ay.1). Akhirnya, orang Israel belajar bahwa kesulitan bukanlah tanda bahwa mereka telah ditinggalkan Allah. Musa mengingatkan mereka bahwa Allah telah memimpin mereka selama empat puluh tahun di tengah padang gurun (ay.2).
Ketika mengalami keputusasaan, kita bisa mencari pelajaran-pelajaran rohani yang terkandung dalam kesulitan-kesulitan kita. Setiap pelajaran itu dapat menolong kita untuk bersandar kepada Allah yang turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan demi kemuliaan-Nya (Rm. 8:28). —JBS
Allahku, berilah aku iman untuk percaya bahwa Engkau
bisa mendatangkan kebaikan dari segala situasi yang ada.
Tolonglah aku untuk mengetahui apa yang hendak Engkau
nyatakan kepadaku di tengah kesulitan yang kualami.
Allah melihat dengan jelas segala sesuatu yang terjadi di atas bumi.

Monday, June 2, 2014

Perhatikan Baik-Baik

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. —Efesus 5:15
Perhatikan Baik-Baik
Salah satu tempat yang saya suka kunjungi di Jamaika adalah Ocho Rios, sebuah kota yang memiliki Air Terjun Sungai Dunn—suatu objek pemandangan yang selalu memukau saya. Jeramnya mengalirkan air turun melalui serangkaian panjang bebatuan menuju ke Laut Karibia. Para petualang bisa mendaki air terjun itu, dengan merangkak susah payah di atas bebatuan yang bulat dan menikmati lintas alam yang menyegarkan hingga puncaknya. Air yang mengalir serta permukaan batu yang cukup licin dan curam membuat perjalanan lintas alam ini bergerak lambat dan agak berbahaya.
Agar dapat mencapai puncak dengan aman, para pendaki harus memperhatikan setiap langkah mereka. Bila tidak waspada, mereka bisa jatuh di tengah perjalanan tersebut. Kunci keberhasilan pendakian itu adalah konsentrasi dan kewaspadaan.
Demikianlah gambaran yang rasanya tepat untuk melukiskan perkataan Paulus tentang “perhatikanlah dengan saksama” dalam Efesus 5:15. Kita harus memperhatikan “baik-baik cara hidup [kita]” (bis). Jelaslah, dengan segala bahaya yang mungkin menghadang di tengah perjuangan kita menempuh perjalanan hidup ini, penting bagi kita untuk mengambil setiap langkah bersama Yesus dengan sikap bijaksana dan waspada. Orang bebal, menurut ayat tersebut, hidup dengan ceroboh; sedangkan orang bijak memperhatikan setiap langkahnya agar tidak tersandung atau jatuh.
Menurut Paulus, tujuan kita untuk menjadi “penurut-penurut Allah” (ay.1) akan tercapai, saat kita menjalani hidup dengan saksama dalam kasih (ay.2,15). Dengan pertolongan Roh Kudus, kita bisa menjalani hidup dengan cara yang memuliakan Allah. —JDB
Konsistensi! Betapa sangat kita perlukan
Untuk berjalan dengan hati-hati,
Hidup sesuai dengan ucapan kita,
Sampai kita bertemu dengan Kristus. —NN.
Saat kita mempercayai Allah untuk menguasai hati kita,
kita pun bisa melangkah sesuai dengan kehendak-Nya.

Sunday, June 1, 2014

Kanguru Dan Emu

Aku melupakan apa yang telah di belakangku . . . , dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. —Filipi 3:13-14
Kanguru Dan Emu
Dua binatang asli Australia, kanguru dan emu, memiliki kesamaan—keduanya jarang bergerak mundur. Kanguru, karena bentuk tubuh dan ekor panjang yang kuat, dapat melompat dengan bergerak maju. Namun kanguru tidak bisa bergerak mundur dengan mudah. Emu bisa berlari cepat dengan kaki-kakinya yang kuat, tetapi persendian lutut emu tampaknya sulit untuk membuatnya bergerak mundur. Kedua gambar binatang itu tertera pada lambang negara Australia sebagai simbol bahwa bangsa tersebut akan selalu bergerak maju dan terus akan membuat kemajuan.
Rasul Paulus mendorong orang Kristen untuk mempunyai sikap yang sama dalam kehidupan iman mereka lewat suratnya kepada jemaat di Filipi: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (3:13-14).
Memang bijaksana manakala kita belajar dari pengalaman masa lalu, tetapi kita seharusnya tidak terus hidup dalam masa lalu. Kita tidak bisa mengulang atau membatalkan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi oleh kasih karunia Allah kita dapat melangkah maju dan melayani Allah dengan setia pada hari ini dan di masa yang akan datang. Kehidupan iman kita merupakan suatu perjalanan maju demi mencapai tujuan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. —WEC
Kudaki jalan mulia;
Tetap doaku inilah:
“Ke tempat tinggi dan teguh,
Tuhan, mantapkan langkahku!” —Oatman
(Kidung Jemaat, No. 400)
Aku bersedia pergi ke mana pun—asalkan maju.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate