Pages - Menu

Monday, September 30, 2019

Penawar yang Langsung Manjur

Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. —Yesaya 53:5
Penawar yang Langsung Manjur
Sambil berjalan mengikuti pemandu taman, saya mencatat semua penjelasannya tentang berbagai tumbuhan yang terdapat di hutan purba Bahama. Ia memberi tahu saya pohon mana saja yang harus dihindari. Pohon poisonwood, katanya, mengeluarkan getah berwarna hitam yang mengakibatkan ruam yang gatal dan menyakitkan. Namun, jangan khawatir! Penawarnya biasanya bisa ditemukan pada tumbuhan yang persis ada di sampingnya. “Sayat kulit merah dari pohon kenari,” katanya, “dan oleskan getah pohon itu pada ruam. Ruam itu akan langsung sembuh.”
Hampir saja pensil saya jatuh saking kagetnya. Saya tidak menyangka akan menemukan gambaran tentang keselamatan di tengah hutan. Namun, pada pohon kenari, saya melihat gambaran tentang Yesus. Dialah penawar yang langsung menghapus racun dosa. Seperti kulit merah dari pohon kenari, darah Yesus membawa kesembuhan.
Nabi Yesaya mengerti bahwa manusia membutuhkan kesembuhan. Ruam dosa telah menjangkiti kita. Yesaya menjanjikan bahwa kesembuhan kita akan datang melalui “seorang yang penuh kesengsaraan” (Yes. 53:3). Dialah Yesus. Kita dahulu sakit, tetapi Kristus rela dilukai untuk menggantikan kita. Ketika kita percaya kepada-Nya, kita disembuhkan dari penyakit dosa (ay.5). Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk belajar hidup layaknya seseorang yang sudah disembuhkan—dengan menyadari dan menolak dosa karena kita sudah diperbarui—tetapi karena Yesus, kita akan sanggup melakukannya. —Amy Peterson
WAWASAN
Dalam Perjanjian Lama, Yesaya 53 memberikan gambaran paling jelas mengenai pengorbanan Kristus. Di sana dinubuatkan tentang penolakan diri-Nya (ay.1-3), penderitaan-Nya menggantikan kita (ay.4-6), pengorbanan-Nya dalam kematian, penguburan-Nya (ay.7-9), karya penebusan-Nya yang mendamaikan, serta kebangkitan-Nya (ay.10-12). Pasal ini merupakan pasal terakhir dari empat nubuatan tentang Juruselamat dalam kitab Yesaya (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12). Keempatnya dikenal sebagai “Nyanyian Hamba” karena mengacu kepada Yesus sebagai Hamba (42:1; 49:3; 50:10; 52:13). Namun, para pakar Yahudi cenderung menafsirkan “Hamba” sebagai Israel sendiri. Dalam Perjanjian Baru, perkataan Yesaya dikutip atau disebut lebih dari enam puluh kali. Para penulis Perjanjian Baru dengan jelas mengartikan Yesaya 53 sebagai nubuatan tentang Yesus Kristus (Matius 8:17; Markus 15:28; Lukas 22:37; Yohanes 12:38-41; Kisah Para Rasul 8:32-35; Roma 10:16; 1 Petrus 2:24). —K.T. Sim
Apa saja dari alam ini yang mengingatkanmu kepada keselamatan yang Allah sediakan bagi kita? Apa makna dari kesembuhan yang ditawarkan-Nya itu bagimu?
Di mana ada dosa, di sana Yesus hadir dan siap menyelamatkan.

Sunday, September 29, 2019

Siapakah Aku Ini?

AKU ADALAH AKU. —Keluaran 3:14
Siapakah Aku Ini?
Dave memang menikmati pekerjaannya, tetapi ia sudah lama tertarik untuk melakukan pekerjaan misi. Sekarang, ia akan melakukan apa yang telah lama ia impikan itu dengan menjadi misionaris. Namun, anehnya, ia mulai merasa ragu.
“Aku tidak layak menjadi misionaris,” katanya kepada seorang teman. “Lembaga misi itu tidak benar-benar mengenalku. Aku memang tidak cukup baik.”
Bukan cuma Dave yang merasa demikian. Mungkin kita mengenal Musa sebagai seorang pemimpin yang tangguh dan penerima Sepuluh Perintah dari Allah. Namun, kita cenderung lupa kalau Musa pernah kabur ke padang gurun setelah membunuh seseorang. Kita lupa bahwa ia pernah menjadi buronan selama empat puluh tahun. Kita mengabaikan sifatnya yang mudah marah dan keengganannya untuk menuruti perintah Allah.
Ketika Allah memerintahkannya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir (Kel. 3:1-10), Musa menolak dengan alasan ia tidak cukup baik untuk melakukan tugas itu. Ia bahkan berdebat panjang dengan Allah dan bertanya kepada-Nya: “Siapakah aku ini?” (ay.11). Lalu, Allah menyatakan kepada Musa siapa Dia: “Aku adalah Aku” (ay.14). Mustahil menjelaskan nama misterius itu karena Allah yang tidak terjelaskan itu sedang menjelaskan keberadaan-Nya yang kekal kepada Musa.
Menyadari kelemahan diri memang baik, tetapi apabila kita memakainya sebagai alasan agar Allah tidak memakai kita, sebenarnya kita sedang menghina Dia. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah tidak cukup baik bagi kita. Pertanyaannya bukanlah Siapakah aku ini?, melainkan Siapakah Sang Aku itu? —Tim Gustafson
WAWASAN
Ketika Musa bertanya, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun?“ (Keluaran 3:11), Allah meyakinkannya akan hadirat-Nya. “Aku akan menyertai engkau” (ay.12) sesuai dengan pernyataan “AKU ADALAH AKU” (ay.14), yang menyatakan bahwa Allah sungguh ada. Allah menegaskannya lebih jauh ketika Dia menyebut Diri-Nya “TUHAN” (ay.15), dari kata Ibrani YÄ›hovah,yang berarti “keberadaan-Nya tidak bergantung pada keberadaan lain”. Apapun keterbatasan Musa, Sang Penopang alam semesta akan menyertainya. —Julie Schwab
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu tidak cukup baik dan perasaan itu menghalangimu untuk melayani Allah? Bagaimana hal itu mendorongmu untuk melihat tokoh-tokoh Alkitab yang dipakai Allah meskipun mereka memiliki kekurangan?
Allah yang kekal, kami sering ragu bahwa Engkau dapat memakai orang-orang seperti kami. Namun, Engkau mengutus Anak-Mu untuk mati bagi orang-orang seperti kami, karena itu ampunilah keraguan kami. Tolonglah kami untuk berani menerima tantangan yang Engkau izinkan kami alami.

Saturday, September 28, 2019

“Cuma Tempat Kerja”?

[Kiranya] Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya. —Efesus 1:18
“Cuma Tempat Kerja”?
Saya melayangkan pandangan ke perbukitan hijau di Lancashire, wilayah utara Inggris, dan memperhatikan pagar-pagar batu yang memagari padang tempat domba-domba merumput di sana. Awan putih berarak melintasi langit yang cerah, dan saya menghirup napas dalam-dalam sambil menikmati pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Saat saya menceritakan kekaguman saya terhadap pemandangan indah tersebut kepada seorang wanita yang bekerja di pusat retret yang saya kunjungi, ia berkata, “Tahukah kamu, dahulu saya tidak pernah memperhatikan hal itu sebelum para tamu menyebutkannya. Kami sudah bertahun-tahun tinggal di sini; dan ketika dahulu kami bertani, padang hijau itu cuma tempat kerja bagi kami!”
Kita bisa dengan mudah melewatkan anugerah di depan mata kita, terutama keindahan yang sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Kita juga bisa dengan mudah melewatkan karya Allah yang indah di dalam dan di sekitar kita setiap hari. Namun, sebagai orang percaya, kita dapat meminta Roh Kudus membuka mata rohani kita agar kita dapat mengerti cara Dia bekerja, seperti yang ditulis Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Paulus memohon agar Allah memberikan mereka hikmat dan wahyu untuk lebih mengenal Dia (Ef. 1:17). Ia berdoa agar hati mereka diterangi supaya mereka mengerti pengharapan dari Allah, masa depan yang Dia janjikan, serta kuasa-Nya (ay.18-19).
Roh Kristus yang dikaruniakan Allah dapat membawa kita menyadari karya-Nya di dalam dan melalui diri kita. Bersama Dia, apa yang dahulu kita anggap “cuma tempat kerja” kini kita pahami sebagai tempat yang memancarkan terang dan kemuliaan-Nya. —Amy Boucher Pye
WAWASAN
Doa Paulus dalam pasal pertama surat Efesus (ay.15-23) selaras dengan doanya pada pasal 3 (3:14-21). Bersama-sama, kedua doa tersebut menyatakan bagaimana merasakan kasih, kuasa, dan rencana Allah yang menakjubkan, tak terlukiskan, serta akbar. Doa-doa itu mengingatkan kita bahwa pertumbuhan dalam kasih dan rencana Allah yang tak terbatas membutuhkan lebih dari keinginan dan kemampuan kita sendiri (1:17-19; 3:14-21). “Pengetahuan” yang demikian adalah suatu anugerah dan bukti bahwa Roh Kudus ada bersama kita, di dalam kita. Kedua doa itu memberi kita alasan untuk mendekat kepada Allah secara aktif. Perkataan yang terkandung di dalamnya juga memberi pemahaman tentang apa yang harus dilakukan untuk melawan musuh rohani kita, yaitu dengan mendekat dan bergantung pada Roh Kudus (1:15-17; 6:18). —Mart DeHaan
Di mana kamu melihat karya Allah di sekitarmu? Bagaimana melihat dengan mata rohani dapat membantu kamu?
Ya Yesus, terangilah hidupku, dan bukalah mata serta hatiku agar aku lebih menghayati kebaikan dan anugerah-Mu. Aku ingin menerima kasih-Mu.

Friday, September 27, 2019

Hidup Menantikan Yesus Datang

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. —Matius 25:13
Hidup Menantikan Yesus Datang
Saya terinspirasi oleh lagu Live Like You Were Dying (Hiduplah Seperti kamu Sedang Sekarat) yang dibawakan oleh penyanyi country Tim McGraw. Dalam lagu itu ia menyebutkan hal-hal yang ingin dilakukan seseorang setelah mendapatkan kabar yang tidak baik tentang kesehatannya. Ia juga memilih untuk lebih cepat mengasihi dan mengampuni orang lain—berbicara kepada mereka dengan lebih lembut. Lagu tersebut mengajak kita untuk hidup dengan sungguh-sungguh, seolah-olah tahu hidup kita sebentar lagi akan berakhir.
Lagu itu mengingatkan bahwa waktu kita terbatas. Penting bagi kita untuk tidak menunda hingga esok apa yang dapat kita lakukan hari ini, karena suatu saat nanti, tidak ada lagi hari esok. Hal ini sangat penting diingat oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang percaya bahwa Dia dapat kembali kapan saja (mungkin detik ini juga, saat kamu membaca kalimat ini!). Yesus mendesak agar kita siap sedia dan tidak hidup seperti lima gadis “bodoh” yang tidak siap ketika mempelai pria datang (Mat. 25:6-10).
Namun, lagu McGraw tidak bercerita secara lengkap. Selalu ada hari esok bagi kita yang mengasihi Yesus. Dia berfirman, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26). Hidup kita di dalam Dia tidak akan pernah berakhir.
Karena itu, jangan hidup seolah-olah kamu sekarat, karena sesungguhnya kamu tidak akan mati selamanya. Hiduplah menantikan kedatangan Yesus, karena Dia benar-benar akan datang! —Mike Wittmer
WAWASAN
Apakah yang disebut “Kerajaan Sorga” dalam Matius 25:1? Frasa ini muncul tiga puluh empat kali dalam Injil Matius saja. Istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“ (3:2). Frasa itu adalah kata-kata pertama Yohanes ketika ia memulai pelayanannya, juga kata-kata pertama Kristus setelah Dia mulai melayani (4:17). Kebanyakan pakar Alkitab menganggap frasa itu sebagai istilah lain bagi kerajaan Allah. Baker Encyclopedia of the Bible mendefinisikan frasa itu sebagai “pemerintahan Allah yang berdaulat, dimulai oleh pelayanan Kristus di dunia dan disempurnakan ketika ‘pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya’ (Wahyu 11:15).” —Alyson Kieda
Bagaimana kamu akan menjalani hidup hari ini seolah-olah Yesus akan segera datang? Bagaimana pilihan-pilihan hidupmu dipengaruhi oleh kesadaran bahwa Dia bisa datang kembali sewaktu-waktu?
Tuhan Yesus, aku sangat menantikan hari kedatangan-Mu kembali. Kiranya aku dapat memakai waktu yang telah Engkau berikan untuk memuliakan-Mu dan melayani sesamaku dengan setia.

Thursday, September 26, 2019

Iman yang Teguh

Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah. —Yohanes 19:40
Iman yang Teguh
Desmond Doss dikenai wajib militer pada Perang Dunia II sebagai prajurit yang tidak terjun ke medan perang. Meskipun keyakinan agama melarangnya menyandang senjata, Doss dengan sangat cekatan bekerja sebagai tenaga medis. Dalam suatu pertempuran, ia menerobos tembakan musuh yang bertubi-tubi demi membawa tujuh puluh lima rekannya yang terluka ke tempat yang aman. Kisah heroiknya kemudian diceritakan dalam film dokumenter The Conscientious Objector dan difilmkan lagi dalam Hacksaw Ridge.
Daftar para pahlawan iman di dalam Alkitab mencatat tokoh-tokoh pemberani seperti Abraham, Musa, Daud, Elia, Petrus, dan Paulus. Namun, ada juga sejumlah pahlawan lain yang jarang disebut-sebut, seperti Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Mereka mempertaruhkan kedudukan mereka di antara kalangan pemimpin Yahudi dengan menurunkan mayat Kristus dari salib dan menguburkan-Nya secara layak (Yoh. 19:40-42). Sungguh tindakan yang berani dari Yusuf, seorang murid Yesus yang ketakutan dan tidak berani menunjukkan dukungannya secara terbuka, serta Nikodemus, seseorang yang sebelumnya hanya berani mengunjungi-Nya di malam hari (ay.38-39). Yang lebih mengesankan lagi, mereka mengukuhkan iman mereka sebelum Yesus bangkit dengan penuh kemenangan dari kematian. Mengapa?
Mungkin cara Yesus mati dan berbagai peristiwa yang terjadi sesudahnya (Mat. 27:50-54) telah meneguhkan iman yang ragu-ragu dari para pengikut yang ketakutan itu. Mungkin mereka belajar berfokus kepada Allah dan bukan kepada apa yang dapat diperbuat orang terhadap mereka. Apa pun yang menginspirasi mereka, kiranya kita mengikuti teladan mereka dan menunjukkan keberanian untuk melangkah dalam iman kepada Allah demi sesama kita hari ini. —Remi Oyedele
WAWASAN
Adat penguburan Yahudi mengharuskan jenazah dimakamkan dalam waktu dua puluh empat jam. Hukum Taurat memerintahkan bahwa mayat orang yang disalib harus diturunkan dan tidak boleh dibiarkan tergantung semalaman (Ulangan 21:22-23; Yohanes 19:31). Seandainya Yusuf tidak meminta mayat Yesus kepada Pilatus (Yohanes 19:38), maka Yesus akan dikuburkan bersama dua penjahat di kubur yang sama. Yusuf dari Arimatea adalah orang kaya sekaligus pemimpin berpengaruh dalam Sanhedrin, Mahkamah Agung agama Yahudi. Ia orang benar yang sedang menanti Kerajaan Allah. Meskipun ia diam-diam seorang murid Yesus, ia tidak takut melawan keputusan Sanhedrin yang menghukum mati sang Juruselamat (Matius 27:57; Markus 15:43; Lukas 23:50-52). Yusuf membaringkan tubuh Kristus “di dalam kuburnya yang baru” (Matius 27:60). Penguburan Yesus di dalam kubur orang kaya adalah penggenapan Yesaya 53:9 (BIS). —K.T. Sim
Dengan cara apa kamu telah hidup dengan berani bagi imanmu kepada Yesus? Hal berbeda apa yang dapat kamu lakukan untuk menunjukkan imanmu kepada dunia?
Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan darinya. Nelson Mandela

Wednesday, September 25, 2019

Tempat Aman yang Palsu

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! —Markus 1:15
Tempat Aman yang Palsu
Ketika anjing kami Rupert masih kecil, ia sangat takut pergi ke luar rumah. Saya sampai harus menyeretnya untuk bisa mengajaknya berjalan-jalan di taman. Suatu hari, setelah sampai di taman, dengan bodohnya saya melepaskan Rupert dari talinya. Ia langsung lari terbirit-birit, kembali ke rumah, ke tempat amannya.
Pengalaman itu mengingatkan saya kepada seorang laki-laki yang pernah saya jumpai di pesawat, yang meminta maaf kepada saya begitu pesawat bersiap untuk terbang di landas pacu. “Maaf, saya pasti akan mabuk di sepanjang penerbangan,” katanya. “Sebenarnya kamu tidak mau mabuk, bukan?” tanya saya. “Memang saya tidak mau,” jawab lelaki itu, “tetapi saya tidak bisa lepas dari minuman anggur.” Akhirnya ia memang mabuk, dan yang paling menyedihkan adalah ketika sang istri memeluknya ketika mereka turun dari pesawat, tetapi setelah mencium bau napasnya, ia mendorong suaminya jauh-jauh. Minuman telah menjadi pelariannya, suatu tempat aman yang palsu.
Yesus memulai misi-Nya dengan berkata, “Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk. 1:15). “Bertobat” berarti mengubah haluan. “Kerajaan Allah” adalah kekuasaan Allah yang penuh kasih atas hidup kita. Daripada berlari ke tempat-tempat yang menjerat kita, atau dikuasai oleh rasa takut dan candu yang merusak, Yesus menyatakan bahwa kita dapat dikuasai oleh Allah sendiri, yang dengan kasih-Nya membawa kita kepada kemerdekaan dan hidup baru.
Kini Rupert sangat senang pergi ke taman. Saya harap laki-laki yang saya jumpai tadi juga mengalami sukacita dan kemerdekaan sejati, serta meninggalkan tempat amannya yang palsu. —Sheridan Voysey
WAWASAN
Mengapa Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis? (Markus 1:9). Markus mencatat bahwa Yohanes memberitakan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu“ (ay.4), dan Matius mencatat bahwa Yohanes membaptis “dengan air sebagai tanda pertobatan” (3:11). Yesus adalah satu-satunya manusia tak berdosa yang pernah hidup di bumi, artinya Dia tidak membutuhkan pertobatan atau pengampunan. Jadi, untuk apa Dia dibaptis? Sebagian orang menafsirkan bahwa baptisan Kristus merupakan pernyataan bahwa Dia mengambil bagian dalam/menyamakan diri dengan umat manusia yang berdosa. Sebagian lain mengatakan bahwa baptisan tersebut mengukuhkan pelayanan-Nya. Mungkin, dengan itu, Yesus menyatakan diri-Nya sama dengan manusia dalam hal penundukan diri kepada Allah dan kehendak Bapa. Itulah arti pengakuan dosa—seperti yang diperbuat oleh orang-orang yang dibaptis, yakni berserah diri kepada Allah. Dengan memberi diri dibaptis, Yesus melakukan hal yang sama. —J.R. Hudberg
Adakah tempat aman yang palsu yang kamu datangi saat kamu merasa ketakutan atau tertekan? Bagaimana kamu akan meninggalkannya hari ini agar kamu menyerahkan diri kamu di bawah kedaulatan Allah yang membawa kemerdekaan?
Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku sering mencari kebahagiaan di luar Engkau. Kini aku meninggalkan hal-hal tersebut dan menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bawalah aku kepada kemerdekaan sejati.

Tuesday, September 24, 2019

Berkenan di Mata Allah

Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. —Kejadian 6:9
Berkenan di Mata Allah
Sebuah perusahaan konsultan teknologi mempekerjakan saya setelah lulus kuliah meskipun saya tidak bisa menulis kode komputer dan belum tahu banyak soal usaha teknologi informasi. Dalam proses wawancara untuk mengisi posisi pemula, saya baru tahu bahwa ternyata perusahaan ini tidak terlalu melihat pengalaman kerja. Sebaliknya, kualitas pribadi seseorang seperti kreativitas dalam menyelesaikan masalah, ketajaman dalam menilai sesuatu, dan kesanggupan bekerja sama dalam tim adalah hal-hal yang jauh lebih penting. Perusahaan menganggap bahwa para karyawan baru dapat diajari keterampilan yang dibutuhkan selama diri mereka memiliki kualitas sesuai dengan apa yang dicari oleh perusahaan.
Nuh tidak memiliki pengalaman atau kemampuan membangun bahtera—ia bukan pembuat kapal apalagi tukang kayu. Nuh adalah petani yang sehari-hari terbiasa mengolah tanah dengan bajaknya. Namun, ketika Allah memutuskan untuk bertindak mengatasi kejahatan manusia pada saat itu, Nuh didapati-Nya berbeda dari orang-orang lain karena “Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kej. 6:9). Allah menghargai kerendahan hati Nuh yang mau diajar—yaitu keteguhannya menolak kebobrokan di sekelilingnya dan kemauannya melakukan yang benar.
Saat terbuka kesempatan untuk melayani Allah, mungkin kita merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Syukurlah, Allah tidak terlalu memandang kemampuan kita. Dia menghargai karakter kita, kasih kita kepada-Nya, dan kerelaan kita untuk mempercayai-Nya. Ketika sifat-sifat tersebut ditumbuhkan oleh Roh Kudus di dalam diri kita, Dia dapat memakai kita dengan cara apa saja untuk menggenapi rencana-Nya di muka bumi. —Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
“Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kejadian 6:9). Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “hidup bergaul” (atau “berjalan bersama”) dipakai untuk menggambarkan gaya hidup atau perilaku seseorang. Dua kali dikatakan pula bahwa Henokh “hidup bergaul dengan Allah” (5:22,24). Dalam Kejadian 17:1, Abraham diperintahkan oleh Allah, “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” Menariknya, dalam Ibrani 11:5-8 dikatakan bahwa tiga orang tersebut, Henokh, Nuh, dan Abraham, dipuji karena iman mereka, iman sejati yang mendorong mereka untuk menjalani cara hidup yang menghormati Allah. —Arthur Jackson
Kualitas karakter apa yang perlu ditumbuhkan Allah dalam dirimu? Mintalah kepada-Nya untuk menolongmu.
Ya Allah, berikanku hati yang rela melayani-Mu dalam segala hal. Lengkapilah aku dalam bidang-bidang yang tidak kukuasai, dan penuhilah aku dengan Roh-Mu supaya aku dapat menghormati-Mu lewat hidupku.

Monday, September 23, 2019

Perisai yang Melindungi Saya

Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. —Mazmur 3:4
Perisai yang Melindungi Saya
Gereja kami mengalami kehilangan yang menyakitkan ketika Paul, pemimpin pujian yang sangat berbakat, meninggal dunia dalam usia tiga puluh satu tahun karena kecelakaan kapal. Paul dan istrinya, DuRhonda, sudah tidak asing lagi dengan penderitaan; beberapa kali janin dalam kandungan sang istri meninggal sebelum sempat dilahirkan. Sekarang, ada kubur baru di dekat makam anak-anak mereka. Peristiwa memilukan yang dialami keluarga itu sangat mengguncang orang-orang terdekat mereka.
Daud dan keluarganya juga tidak asing dengan krisis dan penderitaan. Dalam Mazmur 3, kita melihat Daud yang digayuti masalah pemberontakan anaknya, Absalom. Alih-alih bertahan dan melawan, ia memilih melarikan diri, meninggalkan rumah dan takhtanya (2 Sam. 15:13-23). Meskipun “banyak orang” menganggapnya telah ditinggalkan Allah (Mzm. 3:3), Daud tahu bahwa itu tidak benar; ia justru melihat Tuhan adalah perisai yang melindunginya (ay.4), dan berseru kepada-Nya untuk meminta perlindungan (ay.5). Demikian pula dengan DuRhonda. Di tengah kedukaannya, saat ratusan orang berkumpul untuk mengenang almarhum suaminya, ia mengangkat suaranya yang lembut dan merdu untuk menyanyikan lagu pujian yang mengungkapkan keyakinannya kepada Allah.
Saat menerima hasil yang tidak menggembirakan dari dokter, saat kondisi keuangan tidak juga membaik, saat segala upaya untuk mendamaikan hubungan terus gagal, saat kematian merenggut orang-orang yang kita cintai—kiranya kita juga dikuatkan untuk berkata, “Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku” (Mzm. 3:4). —Arthur Jackson
WAWASAN
Kitab Mazmur adalah puisi dan nyanyian orang Israel yang mencurahkan pengalaman manusiawi dan perasaan para pemazmur saat mereka berusaha percaya kepada Allah di tengah pergumulan hidup dan penderitaan. Mazmur 3 adalah mazmur pertama dari 14 mazmur yang ditulis Daud sebagai tanggapan atas suatu peristiwa khusus (7; 18; 30; 34; 51; 52; 54; 56; 57; 59; 60; 63; 142). Keterangan pada awal Mazmur 3 berbunyi, “ketika ia lari dari Absalom, anaknya.” Hal ini menceritakan krisis yang Daud alami ketika anaknya merebut takhtanya sehingga raja terpaksa melarikan diri karena jika ia tetap tinggal di Yerusalem, ia akan dibunuh (2 Samuel 15:13-14). Meskipun hidupnya dalam bahaya dan terancam, Daud percaya penuh akan perlindungan dan pembebasan Allah serta pemenuhan kebutuhannya, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; . . . Aku tidak takut” (Mazmur 3:6-7). Daud mengalami “damai sejahtera” yang dijanjikan dalam Yesaya 26:3, damai yang berasal dari kepercayaan kepada Allah. —K.T. Sim
Bagaimana responsmu dalam situasi yang menekanmu baru-baru ini? Bagaimana kesadaran bahwa Allah adalah perisaimu telah menghibur hatimu?
Bapa Surgawi, tolonglah aku melihat bahwa walaupun hidup ini penuh dengan kesulitan, aku tetap dapat mengalami penghiburan di dalam-Mu.

Sunday, September 22, 2019

Bertumbuh dalam Pengenalan

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. —Filipi 4:13
Bertumbuh dalam Pengenalan
“Kamu akan ikut dalam program pertukaran pelajar!” Waktu itu saya berumur tujuh belas tahun dan sangat senang mendengar kabar bahwa saya diterima menjadi peserta program pertukaran pelajar di Jerman. Namun, saya hanya mempunyai waktu tiga bulan sebelum keberangkatan dan belum pernah mengikuti les bahasa Jerman sama sekali.
Hari-hari selanjutnya menjadi sangat padat—saya belajar bahasa berjam-jam, bahkan sampai menuliskan kosa katanya di telapak tangan untuk menghafalnya.
Beberapa bulan kemudian, memang saya berada di dalam kelas di Jerman, tetapi saya sangat kecil hati karena belum juga lancar berbahasa. Hari itu, seorang guru memberi saya nasihat yang bijaksana. “Belajar bahasa ibarat memanjat bukit pasir. Adakalanya kamu merasa tidak maju-maju. Meskipun demikian, teruslah berusaha maka kamu akan berhasil,” katanya.
Terkadang saya mengingat kembali nasihat itu saat saya memikirkan apa artinya bertumbuh sebagai pengikut Yesus. Rasul Paulus mengenang, “Saya sudah mengenal rahasianya untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga” (Flp. 4:12 BIS). Bagi Paulus pun kedamaian pribadi tidak serta-merta ia dapatkan, melainkan dialaminya sebagai proses pertumbuhan. Ia membagikan rahasia pertumbuhannya, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ay.13).
Hidup ini penuh tantangan. Namun, saat kita berpaling kepada Dia yang telah “mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33), kita akan mendapati bahwa bukan hanya Dia setia membawa kita melewati segala pergumulan, tetapi juga bahwa tidak ada yang lebih berarti daripada kedekatan kita dengan-Nya. Dia memberikan kepada kita damai-Nya, memampukan kita percaya, dan menguatkan kita berjalan bersama-Nya. —James Banks
WAWASAN
Dalam Filipi 4:7-19, Paulus menggambarkan suatu paradoks. Di satu sisi, ia hidup dengan tenang dan “mencukupkan diri”, percaya bahwa Allah memenuhi segala kebutuhannya (ay.11). Di sisi lain, Paulus menyatakan bahwa orang percaya sepenuhnya bergantung pada Allah dan sesama; ia juga menasihati mereka untuk menyatakan kebutuhan mereka secara jujur dalam doa (ay.7,9,19). Rasul Paulus juga menyinggung paradoks lain: meskipun kita memiliki segala yang kita perlu dalam Allah, tetapi kelimpahan dan damai sejahtera Allah paling terasa dalam komunitas, yaitu dengan sesama orang percaya yang saling berbagi sukacita dan dukacita. Meskipun ia menyatakan bahwa dirinya tidak dalam “kekurangan” (ay.11), Paulus sangat berterima kasih atas kesediaan orang-orang percaya untuk mengambil bagian dalam pergumulannya (ay.10,14). Pada surat lain, ia menguraikan pemikiran tersebut dengan menggambarkan kumpulan orang percaya sebagai satu tubuh yang saling bergantung satu sama lain, di mana setiap orang dibutuhkan (1 Korintus 12:12-27). —Monica Brands
Bagaimana kamu akan berfokus kepada Yesus hari ini? Bagaimana caramu mendorong orang lain untuk juga mendekat kepada-Nya?
Tuhan Yesus, terima kasih atas damai sejahtera yang Kauberikan kepadaku saat aku berpaling kepada-Mu. Tolong aku tetap dekat kepada-Mu hari ini!

Saturday, September 21, 2019

Nama di Atas Segala Nama

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. —Filipi 2:9
Nama di Atas Segala Nama
Nama Antonio Stradivari (1644-1737) telah melegenda dalam dunia musik. Biola, selo, dan biola alto yang dibuatnya bernilai sangat tinggi karena kualitas karya dan kejernihan suaranya sehingga banyak di antaranya diberikan nama masing-masing. Contohnya, salah satu biola diberi nama Messiah-Salabue Stradivarius. Setelah pemain biola, Joseph Joachim (1831-1907) memainkannya, ia menulis, “Bunyi biola Strad, si unik “Messie”, yang begitu lembut nan agung itu terus terngiang dalam ingatan saya.”
Namun demikian, nama dan bunyi Stradivarius yang terkenal itu tidaklah sebanding dengan karya dari satu Sumber yang jauh lebih agung. Dari Musa hingga Yesus, Allah di atas segala allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama di atas segala nama. Bagi kita, Dia ingin hikmat dan karya tangan-Nya dikenal, dihargai, dan dirayakan dengan iringan musik dan puji-pujian (Kel. 5:24; 15:1-2).
Namun, penyelamatan dahsyat oleh Allah yang menjadi jawaban atas seruan orang-orang yang tertindas itu barulah permulaannya. Siapakah yang dapat memperkirakan, bahwa lewat tangan lemah yang disalibkan, Dia kemudian meninggalkan warisan yang bernilai kekal dan tak terhingga? Siapakah yang pernah membayangkan hasil karya-Nya yang ajaib dan megahnya musik yang dinyanyikan untuk mengagungkan Pribadi yang telah mati—menanggung hinaan karena dosa dan penolakan kita—demi menunjukkan kasih-Nya yang besar atas kita? —Mart DeHaan
WAWASAN
Sesuai perintah Allah, Musa meminta waktu kepada Firaun agar bangsa Israel diizinkan pergi mempersembahkan korban kepada Allah (Keluaran 5:1). Firaun menanggapinya dengan menambah beban kerja mereka (ay.2-9). Orang-orang Ibrani melampiaskan kemarahan mereka atas ketidakadilan itu kepada Musa dan Harun (ay.19-21). Sebaliknya, Musa bertanya kepada Allah, “Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus?” (ay.22). Allah menjawab, “Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun“ (5:24). Allah juga mengingatkan Musa bahwa Dia tidak menyatakan Nama-Nya kepada Abraham, Ishak, atau Yakub, tetapi telah menyatakan-Nya kepada Musa (3:13-15). —Tim Gustafson
Dalam hal apa saja kamu dapat melihat tangan Tuhan dengan sabar membentuk hidupmu agar nama-Nya terpatri pada dirimu? Apa perbuatan-Nya hari ini yang mengingatkanmu bahwa kamu adalah anak-Nya?
Bapa Surgawi, berkaryalah di dalam kami dan melalui kami hari ini agar orang lain melihat bahwa segalanya yang kami miliki berasal dari-Mu.

Friday, September 20, 2019

Tinggal pada Pokok Anggur

Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. —Yohanes 15:4
Tinggal pada Pokok Anggur
Emma baru saja melewati musim dingin yang sangat berat dengan membantu menjaga seorang anggota keluarganya yang sakit keras. Pada musim semi tahun itu, Emma merasa dikuatkan setiap kali melewati sebatang pohon ceri dekat rumahnya di Cambridge, Inggris. Di atas kuntum-kuntum bunga merah muda, tumbuh kuntum-kuntum bunga putih. Seorang tukang kebun yang pintar telah mencangkokkan bunga putih pada pohon ceri itu. Setiap kali Emma melewati pohon unik itu, ia ingat Yesus pernah berkata bahwa Dialah pokok anggur dan para pengikut-Nya adalah ranting-rantingnya (Yoh. 15:1-8).
Dengan menyebut diri sebagai pokok anggur, Yesus menggunakan gambaran yang tidak asing bagi orang Israel, karena di dalam Perjanjian Lama, pokok anggur melambangkan umat Allah (Mzm. 80:9-10, Hos. 10:1). Yesus memakai simbol itu bagi diri-Nya dengan mengatakan bahwa Dialah pokok anggur dan para pengikut-Nya telah dicangkokkan kepada-Nya sebagai ranting. Dengan tinggal di dalam Dia dan menerima nutrisi serta kekuatan dari-Nya, mereka akan berbuah (Yoh. 15:5).
Sembari Emma melayani anggota keluarganya, ia perlu diingatkan bahwa ia terhubung dengan Yesus. Melihat bunga-bunga putih di antara kuntum-kuntum merah muda telah memberi Emma gambaran tentang kebenaran yang menyatakan bahwa selama ia tetap tinggal di dalam Sang pokok anggur, ia akan menerima kekuatan dari-Nya.
Ketika kita yang percaya kepada Tuhan Yesus meyakini bahwa hubungan kita dengan-Nya itu sedekat pokok anggur dengan rantingnya, iman kita akan terus diperkuat dan diperkaya. —Amy Boucher Pye
WAWASAN
Perumpamaan kebun anggur dipakai untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat Israel (Mazmur 80:9-10; Yesaya 5:1-7; 27:2-6). Allah mengharapkan agar umat-Nya “menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam” (Yesaya 5:2). Yesus juga mengisahkan tentang pemilik kebun anggur yang ditolak dan tidak mendapat bagian hasil panennya (Matius 21:33-43). Dia memperingatkan orang Yahudi bahwa Allah menginginkan “suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (ay.43). Kita tidak dapat menghasilkan buah tanpa terhubung dengan Pokok Anggur. Yesus mengatakan bahwa jika kita berbuah, itu membuktikan bahwa kita adalah murid-murid-Nya (Yohanes 15:8). Karya Roh Kudus menghasilkan buah yang baik di dalam kita (Galatia 5:22-23) dan membuat kita semakin serupa Kristus (Roma 8:29). —K.T. Sim
Bagaimana cara kamu menerima kekuatan dan nutrisi rohani dari Tuhan Yesus?
Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memampukanku untuk tinggal di dalam-Mu. Di sanalah kiranya kutemukan damai, harapan, dan kekuatan yang kubutuhkan hari ini.

Thursday, September 19, 2019

Merasa Kecil

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? —Mazmur 8:5
Merasa Kecil
Banyak kritikus film menganggap film Lawrence of Arabia karya David Lean sebagai salah satu film terhebat sepanjang masa. Dengan menampilkan pemandangan gurun jazirah Arab yang membentang seolah tak berujung, film tersebut telah mempengaruhi satu generasi pembuat film—termasuk sutradara pemenang Oscar, Steven Spielberg. “Saya langsung terinspirasi waktu pertama kali menonton film Lawrence,” kata Spielberg. “Film itu membuat saya merasa kecil, bahkan sampai sekarang. Di situlah letak kehebatannya.”
Saya sendiri merasa kecil oleh luasnya alam ciptaan—saat saya memandangi lautan, terbang di atas tudung es kutub, atau menatap langit malam yang berhiaskan milyaran bintang gemerlapan. Bila alam semesta begitu luas, betapa jauh lebih besarnya Sang Pencipta yang menjadikan semuanya itu dengan firman-Nya!
Kebesaran Allah dan perasaan kecilnya manusia dinyatakan oleh Daud ketika ia berseru: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5). Namun, Yesus meyakinkan kita, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26).
Mungkin saya merasa kecil dan tak berarti, tetapi di mata Bapa, saya sangat berharga—keberhargaan yang terbukti setiap kali saya memandang salib. Mahalnya harga yang rela Dia bayarkan untuk memulihkan hubungan saya dengan Dia adalah bukti bahwa bagi-Nya saya sangatlah berharga. —Bill Crowder
WAWASAN
Bacaan hari ini meneruskan Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Perikop tersebut merupakan bagian dari tema utama dalam pasal 6 tentang “jalan dan kehidupan orang Kristen di dunia, dalam hubungannya dengan Bapa” [D. Martyn Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount]. Ada perbedaan kontras di sini. Bagian-bagian sebelumnya (ay.19-24) membicarakan tentang bahaya menimbun harta di dunia, sedangkan bagian ini membahas kekhawatiran mengenai materi. Sebagian orang meyakini bahwa bagian pertama ditujukan kepada orang-orang kaya, sedangkan perikop hari ini ditujukan kepada orang miskin atau orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, sebenarnya orang kaya pun bisa saja menderita kekhawatiran mengenai harta. Bagaimana pun cara pandang kita terhadap dua perikop tersebut, keduanya sama-sama mengajarkan bahayanya mencari rasa aman selain dalam Allah dan pemeliharaan-Nya yang besar (1 Petrus 5:7). —Alyson Kieda
Keajaiban alam apa yang membawamu mengingat Allah? Bagaimana hal itu membuatmu menyadari betapa berharganya kamu bagi Sang Pencipta?
Bapa, tolonglah kami mengingat bahwa kami selalu ada di dalam hati-Mu. Tuntunlah kami untuk menemukan makna sejati hidup kami di dalam-Mu.

Wednesday, September 18, 2019

Jauhi Saja!

Lawanlah [Iblis] dengan iman yang teguh. —1 Petrus 5:9
Jauhi Saja!
Ali adalah remaja yang cantik, pintar, dan berbakat. Ia juga memiliki orangtua yang sangat sayang kepadanya. Namun selepas SMA, entah mengapa ia tergoda menggunakan heroin. Orangtuanya menyadari perubahan diri Ali dan mengirimnya ke pusat rehabilitasi setelah akhirnya Ali mengakui dampak heroin itu pada dirinya. Setelah menjalani perawatan, Ali ditanya orangtuanya tentang apa yang akan ia sampaikan kepada teman-temannya soal mencoba narkoba. Nasihat Ali: “Jangan coba-coba dan jauhi saja.” Ia menegaskan bahwa “mengatakan ‘tidak’ saja” belumlah cukup.
Tragisnya, Ali kembali kecanduan dan meninggal pada usia 22 tahun karena overdosis. Dalam upaya mencegah orang lain mengalami nasib yang sama, orangtua Ali yang sangat terpukul tampil di program berita lokal dan mendorong para pemirsa agar menjauhi situasi-situasi yang membuat mereka rentan terjerat bahaya narkoba dan ancaman-ancaman lain.
Rasul Paulus mendorong anak rohaninya, Timotius (dan juga kita), untuk lari menjauhi iblis (2 Tim. 2:22), dan Rasul Petrus juga memperingatkan hal serupa, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh” (1 Ptr. 5:8-9).
Tidak satu pun dari kita kebal godaan. Sering kali hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah sungguh-sungguh menjauhi situasi-situasi yang bisa membuat kita tergoda—walaupun tidak selalu bisa kita hindari. Namun, kita dapat lebih siap menghadapinya dengan iman yang teguh kepada Allah—suatu iman yang berdasarkan keyakinan kepada Alkitab dan dikuatkan melalui doa. Dengan “iman yang teguh”, kita akan tahu kapan harus menjauhi godaan dan mendekat kepada-Nya. —Alyson Kieda
WAWASAN
Alkitab menyatakan banyak hal mengenai musuh rohani kita, Iblis. Petrus—berdasarkan pengalaman kekalahannya yang pahit—memperingatkan kita bahwa “lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8). Sekitar tiga puluh tahun sebelum menulis surat itu, Petrus membual bahwa ia tidak akan pernah menyangkal Yesus (Matius 26:33-35), tetapi dalam kesombongannya, ia tidak sadar dan berjaga-jaga (1 Petrus 5:8). Menurut Yohanes, seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1 Yohanes 5:19), tetapi Yesus datang untuk “membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu” (1 Yohanes 3:8). Yesus telah menaklukkan Iblis (Yohanes 12:31; 16:11; Ibrani 2:14), tetapi Iblis diizinkan untuk menyesatkan orang selama waktu yang singkat saja (2 Korintus 11:14). Kesudahan Iblis telah ditetapkan, ia akan “dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, . . . disiksa siang malam sampai selama-lamanya” (Wahyu 20:10). —K.T. Sim
Dalam hal apa saja kamu sangat mudah tergoda? Apa yang selama ini menolongmu untuk mampu bertahan?
Ya Allah, ada banyak sekali godaan di luar sana. Tolonglah kami untuk selalu berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh. Terima kasih juga karena Engkau selalu menerima kami kembali di saat kami jatuh.

Tuesday, September 17, 2019

Lebih Dari Sekadar Air

Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. —Galatia 3:27
Lebih Dari Sekadar Air
Salah satu kenangan masa kecil saya tentang gereja adalah seorang pendeta yang berjalan di lorong, sambil menantang jemaat untuk “mengingat air baptisan kita.” Mengingat air? tanya saya dalam hati. Bagaimana caranya? Kemudian pendeta itu berjalan dengan memercikkan air ke arah setiap orang, dan tindakannya membuat saya yang masih kecil itu senang sekaligus bingung.
Mengapa kita harus berpikir tentang baptisan? Ketika seseorang dibaptis, itu lebih dari sekadar soal air yang digunakan. Baptisan melambangkan bagaimana melalui iman kepada Yesus, kita “telah mengenakan” Dia (Gal. 3:27). Dengan kata lain, baptisan merayakan kenyataan bahwa kitalah milik kepunyaan-Nya dan bahwa Dia hidup di dalam dan melalui kita.
Tidak cukup sampai di situ, bagian Alkitab hari ini juga memberi tahu kita bahwa jika kita telah mengenakan Kristus, identitas kita yang sejati ada di dalam Dia. Kita adalah anak-anak Allah (ay.26). Dengan demikian, kita telah didamaikan dengan Allah karena iman dan bukan karena menaati hukum Taurat (ay.23-25). Kita tidak lagi dipisah-pisahkan oleh jenis kelamin, kebudayaan, dan status sosial. Kita semua sudah dimerdekakan, dipersatukan melalui Kristus, dan sekarang menjadi milik-Nya sendiri (ay.29).
Semua itu adalah alasan-alasan yang sangat tepat untuk mengingat baptisan dan segala sesuatu yang dilambangkan olehnya. Kita tidak hanya berfokus kepada tindakan baptisan itu sendiri, tetapi pada kenyataan bahwa kita adalah milik Yesus dan telah menjadi anak-anak Allah. Identitas, masa depan, dan kemerdekaan rohani kita ada di dalam Dia. —Peter Chin
WAWASAN
Ada berbagai penafsiran mengenai pandangan Paulus tentang peranan hukum Taurat dalam kehidupan Kristen. Dalam surat-suratnya kepada orang percaya abad pertama, Paulus beberapa kali menyinggung tentang hukum Taurat, salah satu yang paling kentara terdapat dalam surat Roma. Di sini, dalam surat Galatia, Paulus mula-mula menggambarkan hukum sebagai penjara yang mengurung kita sampai iman dinyatakan (3:23). Penjara membatasi kegiatan tawanan dan menahan mereka di dalam ukuran tertentu. Namun, pada ayat 24, Paulus menyebut hukum Taurat sebagai penuntun, suatu peran dengan konotasi (nilai makna) yang berbeda. Penuntun bertugas melindungi dan menjaga keamanan, menaungi orang yang dilindunginya dari bahaya dan menolong mereka untuk bertumbuh dan berkembang. Menurut Paulus, karena iman telah datang, maka penjara atau penjaga tidak diperlukan lagi. —J.R. Hudberg
Apakah artinya bagimu mengenakan Kristus dan menjadi milik-Nya? Dengan cara apa saja kamu dapat secara teratur merayakan dan mengingat makna baptisan?
Ya Allah, tolonglah aku agar tidak pernah melupakan bahwa melalui Yesus aku kini menjadi anak Allah!

Monday, September 16, 2019

Abaikan Komentar Negatif

Pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih. —Kolose 4:5-6
Abaikan Komentar Negatif
Pernahkah kamu dinasihati untuk tidak menanggapi komentar-komentar negatif? Ada masalah baru yang marak di dunia digital sekarang, yaitu para pengguna media online yang berulang kali secara sengaja menuliskan komentar-komentar yang menghasut dan menyakitkan di kolom komentar berita atau media sosial. Mengabaikan komentar-komentar negatif tersebut akan menjaga arah percakapan untuk tidak keluar dari jalurnya.
Tentu, komentar yang negatif dan tidak produktif bukanlah persoalan yang hadir pada zaman sekarang saja. Nasihat untuk mengabaikannya dapat kita baca di Amsal 26:4, suatu nasihat yang memperingatkan kita bahwa berdebat dengan orang sombong dan bebal akan membuat kita menjadi sama seperti mereka.
Walaupun demikian, orang yang terlihat paling keras kepala sekalipun tetaplah manusia yang berharga karena menyandang gambar dan rupa Allah. Bila kita terburu-buru menolak seseorang, bisa jadi kitalah yang sombong dan bebal terhadap anugerah Allah (lihat mat. 5:22).
Mungkin itulah mengapa Amsal 26:5 memberikan nasihat yang berlawanan sama sekali dengan ayat sebelumnya. Sikap hati yang merendahkan diri dan bergantung penuh kepada Allah sangat kita perlukan untuk mengetahui cara terbaik dalam mengasihi sesama kita di setiap saat (lihat Kol. 4:5-6). Kita pun tahu kapan seharusnya kita berbicara dan kapan perlu berdiam diri.
Kiranya hati kita dipenuhi damai sejahtera saat menyadari bahwa Allah yang dahulu menarik kita kepada-Nya di saat kita masih menjadi seteru-Nya (Rm. 5:6) juga sedang berkarya dengan penuh kuasa di dalam hati setiap orang. —Monica Brands
WAWASAN
Kitab-kitab Hikmat dalam Perjanjian Lama (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung) adalah puisi Ibrani yang menggunakan berbagai teknik sastra. Dalam Amsal 26, dipakai majas metafora dan analogi. Orang bodoh dibandingkan dengan cuaca yang tidak cocok untuk musimnya (ay.1), binatang yang harus dikekang (ay.3), kaki yang tidak berguna (ay.7), dan perangkap yang tidak bisa digunakan (ay.8). Perbandingan tersebut mengingatkan kita bahwa pilihan-pilihan yang bodoh akan merusak diri sendiri. —Bill Crowder
Pernahkah kamu menyaksikan bagaimana Allah menggunakan cara yang berbeda-beda untuk menjamah hati seseorang? Bagaimana kamu dapat lebih peka dalam menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih?
Allah yang Mahakasih, mampukan aku membagikan kasih-Mu kepada orang-orang di sekitarku.

Sunday, September 15, 2019

Kesatuan

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3
Kesatuan
Pada tahun 1722, sekelompok kecil orang Kristen Moravia, yang hidup di wilayah yang sekarang menjadi Republik Ceko, berlindung dari penganiayaan dengan tinggal di tanah milik seorang bangsawan Jerman yang murah hati. Dalam tempo empat tahun, lebih dari 300 orang datang ke sana. Namun, alih-alih menjadi komunitas yang ideal bagi para pengungsi yang teraniaya, di tempat pengungsian itu justru timbul banyak perselisihan. Perspektif yang berbeda-beda tentang iman Kristen telah menimbulkan perpecahan. Yang mereka lakukan selanjutnya mungkin terlihat sepele, tetapi ternyata melahirkan kebangunan yang luar biasa: mereka mulai memusatkan perhatian pada apa yang mereka sepakati bersama dan bukan pada perbedaan yang ada. Hasilnya adalah kesatuan.
Rasul Paulus sangat merindukan orang-orang percaya di Efesus hidup dalam kesatuan. Dosa akan selalu mendatangkan masalah, keinginan yang egois, dan konflik dalam hubungan. Namun, sebagai orang-orang yang dihidupkan “bersama-sama dengan Kristus” (Ef. 2:5), jemaat Efesus dipanggil untuk menghidupi identitas baru mereka lewat perbuatan sehari-hari (5:2). Yang terutama, mereka harus “[berusaha] memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (4:3).
Kesatuan ini bukan sekadar persahabatan sederhana yang terjalin lewat kekuatan manusiawi. Kita perlu “selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar” serta menunjukkan “kasih [kita] dalam hal saling membantu” (4:2). Dari perspektif manusiawi, mustahil kita bisa melakukan itu semua. Kita tidak akan sanggup mencapai kesatuan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi kita akan dimampukan oleh kekuatan Allah yang sempurna “yang bekerja di dalam kita” (3:20). —Estera Pirosca Escobar
WAWASAN
Paulus dan rekan pelayanannya merintis gereja di Efesus dalam perjalanan misi yang kedua (Kisah Para Rasul 18:19). Ia berkunjung ke sana dalam perjalanan misi ketiga, tinggal selama tiga tahun di sana dan menumbuhkan iman orang-orang yang baru percaya itu (19:1-40; 20:31). Pertemuan Paulus yang terakhir dengan jemaat Efesus tercatat dalam Kisah Para Rasul 20:17-38. Ketika ia sedang dalam perjalanan ke Yerusalem pada akhir perjalanan misinya yang ketiga, Paulus berhenti di kota pelabuhan Miletus di Asia Kecil Barat (sekarang Turki) dan memanggil para penatua jemaat Efesus agar ia dapat melayani jemaat di sana untuk terakhir kali. Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus beberapa tahun kemudian ketika ia dalam tahanan rumah di Roma, menunggu saatnya bersaksi di depan Kaisar (28:30). Seluruh pertemuan tersebut mengungkapkan hubungan dan ikatan Paulus yang lebih dalam dengan gereja Efesus dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain yang dilayaninya. —Bill Crowder
Apakah yang terjadi dalam komunitas imanmu, perpecahan atau kesatuan? Upaya apa yang dapat kamu lakukan dalam kekuatan Allah untuk memelihara kesatuan Roh?
Bapa, Engkau yang berkuasa, bekerja, dan berdiam di dalam segala sesuatu, hadirlah di tengah-tengah kami agar kesatuan kami tetap terpelihara.

Saturday, September 14, 2019

Berapa pun yang Harus Dibayar

Mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang, sebab mereka takut. —Yohanes 12:42 BIS
Berapa pun yang Harus Dibayar
Film “Paul, Apostle of Christ” menggambarkan dengan kuat penganiayaan yang dahulu dialami jemaat Kristen mula-mula. Bahkan para tokoh figuran dalam film itu memperlihatkan bahaya besar yang diterima pengikut Yesus. Lihat saja daftar peran yang tercantum di akhir film: Perempuan yang Dipukuli; Lelaki yang Dipukuli; Korban Kristen 1, 2, dan 3.
Keputusan mengikut Kristus acap kali harus dibayar mahal. Pada masa kini, di banyak tempat di dunia, mengikut Yesus masih mendatangkan bahaya. Masih banyak jemaat dianiaya karena iman mereka. Namun, beberapa dari kita mungkin terlalu cepat merasa “teraniaya”—marah ketika iman kita diejek atau curiga bahwa kegagalan kita mendapatkan promosi dalam karier adalah karena iman kita.
Jelas ada perbedaan besar antara mengorbankan status sosial dan mengorbankan nyawa. Namun, pada kenyataannya, kepentingan diri, stabilitas keuangan, dan penerimaan sosial masih terus menjadi motivasi yang kuat bagi manusia. Itu bisa kita lihat dalam tindakan sejumlah orang yang pernah percaya kepada Yesus. Rasul Yohanes menuliskan bahwa, hanya beberapa hari sebelum penyaliban Yesus, meskipun sebagian besar orang Israel masih menolak Dia (Yoh. 12:37), banyak “di antara penguasa Yahudi percaya kepada Yesus” (ay.42 BIS). Namun, “mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang . . . mereka lebih suka mendapat pujian manusia daripada penghargaan Allah” (ay. 42-43 BIS).
Saat ini, sebagian dari kita masih menghadapi tekanan sosial (bahkan mungkin lebih parah dari itu) untuk menyembunyikan iman kita kepada Kristus. Namun, berapa pun harga yang harus dibayar, marilah kita berdiri teguh sebagai umat yang lebih suka menerima penghargaan Allah daripada pujian manusia. —Tim Gustafson
WAWASAN
Ketika Yohanes (12:38-40) mengutip Yesaya 53:1 dan 6:10, mungkin tampaknya ia menyalahkan Allah karena Dia mengeraskan hati orang-orang tertentu sehingga mereka tidak percaya. Namun, bila kita membaca Yesaya dan Yohanes sesuai konteksnya, tampak bahwa sejak semula, Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia sehingga mereka bisa bertindak sesuai pilihannya sendiri. Sejauh mana mereka melangkah, sejauh itu pulalah Allah akan mengulurkan tangan untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi pilihan mereka sendiri. Yohanes berbicara tentang pemimpin agama yang takut untuk percaya kepada Yesus karena alasan politis dan religius (Yohanes 11:45-53; 12:42-43). Yesaya, nabi yang hidup enam abad sebelum Kristus, menulis tentang seorang Raja yang kelak muncul dalam kemuliaan (Yesaya 6:1-10; Yohanes 12:41) di tengah manusia dengan kehendak bebas yang menolak percaya. Tanpa wahyu ilahi, mereka tidak dapat dan tidak akan percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat. —Mart DeHaan
Kita mungkin tergoda menghakimi anggota jemaat mula-mula yang menyembunyikan iman mereka, tetapi apakah kita benar-benar berbeda dari mereka? Apakah kita pernah memilih diam supaya orang tidak mengenali kita sebagai pengikut Yesus?
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi sahabat terdekat-Mu.

Friday, September 13, 2019

Segala Sesuatu yang Kita Lakukan

Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu. —Amsal 16:3
Segala Sesuatu yang Kita Lakukan
Dalam buku Surprised by Joy, C. S. Lewis mengakui bahwa ia mengenal iman Kristen pada usia tiga puluh tiga tahun, tetapi dengan “meronta, melawan, dongkol, dan mencari-cari celah untuk melarikan diri.” Meskipun Lewis berusaha melawan, dan ia juga menghadapi banyak kendala serta kelemahan diri, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pembela iman yang berani dan kreatif. Lewis menyerukan kebenaran dan kasih Allah lewat banyak karya esai dan novel luar biasa yang masih dibaca, dipelajari, dan dibagikan orang sampai sekarang, lebih dari lima puluh lima tahun setelah ia meninggal dunia. Hidupnya mencerminkan keyakinannya bahwa tidak ada orang yang “terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau merajut impian baru.”
Ketika kita membuat rencana dan mengejar impian, Allah dapat memurnikan motivasi kita dan memampukan kita untuk menyerahkan segala sesuatu yang kita lakukan kepada-Nya (Ams. 16:1-3). Dari tugas yang paling sederhana hingga tantangan yang terbesar, kita dapat hidup demi kemuliaan Pencipta kita yang Mahakuasa, yang “membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing” (ay.4). Setiap tindakan, kata, dan pemikiran dapat menjadi ungkapan penyembahan kita yang tulus, suatu persembahan untuk menghormati Allah yang memperhatikan kita (ay.7).
Allah tidak dapat dibatasi oleh keterbatasan, kekhawatiran, atau kecenderungan kita untuk cepat merasa puas dan berhenti bermimpi. Ketika kita memilih untuk hidup bagi Dia—mengabdikan diri dan bergantung kepada-Nya—Dia akan mewujudkan rencana-rencana-Nya atas kita. Apa pun yang kita lakukan dapat dilakukan bersama Dia, untuk Dia, dan hanya karena Dia. —Xochitl Dixon
WAWASAN
Kitab Amsal menekankan agar kita menghormati Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Hal tersebut tampak lewat frasa “takut akan TUHAN” (16:6), yang berarti rasa segan dan hormat yang sangat besar kepada Allah. Kekaguman, hormat dan penundukan diri sepatutnya diberikan kepada-Nya sebagai Pencipta, Penopang, Penebus, dan Tuhan atas segalanya. Seluruh kitab Amsal menegaskan pentingnya memiliki sikap takut akan Allah, baik secara individu maupun komunal, yakni seluruh umat Allah. Takut akan TUHAN adalah dasar bagi hidup yang berhikmat (1:7; 9:10); takut akan TUHAN adalah pilihan kita (1:29), takut akan TUHAN memperpanjang umur (10:27); dan nilainya lebih besar daripada harta (15:16). Orang yang takut akan Tuhan terlindung dari kejahatan (16:6; 19:23) dan mempunyai segala sesuatu yang mereka butuhkan (10:3). —Arthur Jackson
Bagaimana Amsal 16:3 dapat membantu kamu lebih yakin dalam menggunakan karunia-karuniamu? Langkah-langkah apa yang dapat kamu ambil untuk memuliakan Allah dalam usaha mewujudkan mimpi yang Dia taruh dalam hatimu?
Ya Allah, terima kasih Kau ingatkan kami bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil dan mimpi yang terlalu besar dalam Kerajaan-Mu yang agung.

Thursday, September 12, 2019

Penjinak Lidah

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. —Efesus 4:29
Penjinak Lidah
Dalam buku West with the Night, penulis Beryl Markham menerangkan usahanya menjinakkan Camciscan, seekor kuda jantan yang beringas. Ternyata upaya itu tidak mudah. Apa pun strategi yang diterapkan, Markham tidak pernah benar-benar berhasil menjinakkan kuda jantan itu, bahkan hanya pernah menaklukkannya satu kali.
Berapa banyak dari kita pernah merasakan kesulitan yang sama dalam pergumulan menjinakkan lidah kita? Ketika Yakobus membandingkan lidah dengan kekang pada mulut kuda atau dengan kemudi kapal (Yak. 3:3-5), ia juga mengeluhkan, “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (ay.10).
Jadi, bagaimana kita dapat menjinakkan lidah? Rasul Paulus memberikan nasihat bagaimana kita dapat melakukannya. Pertama, hanya kebenaran yang boleh keluar dari mulut kita (Ef. 4:25). Namun, bukan berarti kita boleh berbicara blak-blakan atau apa adanya dengan cara yang dapat menyakiti orang lain. Paulus menyambungnya dengan nasihat, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (ay.29). Kita juga harus membuang sampah yang mengotori: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (ay.31). Apakah itu mudah? Tidak, jika kita berusaha melakukannya sendiri. Syukurlah, kita mempunyai Roh Kudus yang menolong kita jika kita bergantung kepada-Nya.
Markham menyadari bahwa dibutuhkan konsistensi untuk dapat menjinakkan Camciscan dan mengalahkan sifat keras kepalanya. Demikian juga jika kita hendak menjinakkan lidah. —Linda Washington
WAWASAN
Siapakah Yakobus, “hamba Allah” (1:1) dan penulis surat ini? Ada beberapa orang bernama Yakobus yang disebutkan dalam Perjanjian Baru. Yang paling menonjol adalah Yakobus anak Zebedeus sekaligus saudara Yohanes (Matius 4:21). Murid Kristus yang lain adalah Yakobus anak Alfeus (10:3). Yakobus Muda atau “yang muda” (BIS) disebutkan dalam Markus 15:40, tetapi beberapa pakar Alkitab mengatakan bahwa Yakobus Muda mungkin sama dengan Yakobus anak Alfeus. Ada pula Yakobus adalah ayah Yudas (bukan Iskariot, Lukas 6:16). Yang terakhir adalah Yakobus, saudara tiri Yesus (Matius 13:55; 1 Korintus 15:7; Galatia 1:19). Kemungkinan besar Yakobus saudara Yesus inilah yang menulis surat Yakobus. Yakobus anak Zebedeus adalah murid Kristus yang pertama dibunuh sebagai martir (Kisah Para Rasul 12:2), dan Yakobus yang lain tidak cukup penting untuk memberikan pengaruh sedemikian besar. —Bill Crowder
Menurutmu, hal apa yang paling sulit dalam usaha menjinakkan lidah? Langkah-langkah praktis apa yang dapat kamu ambil untuk berhasil di Minggu mendatang?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengawasi perkataan yang kuucapkan.

Wednesday, September 11, 2019

Selalu Diperbarui

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. —2 Korintus 4:16
Selalu Diperbarui
Katedral Notre Dame di Paris adalah bangunan yang sangat menakjubkan. Arsitekturnya memukau, jendela-jendelanya yang berkaca patri dan interiornya yang indah sangatlah mempesona. Namun, setelah berabad-abad menjulang di atas kota Paris, sudah saatnya gereja itu diperbaiki—dan prosesnya telah berjalan pada saat kebakaran besar mengakibatkan kerusakan hebat pada bangunan kuno yang megah itu.
Warga yang mencintai gedung bersejarah yang dibangun pada abad kedelapan itu pun berbondong-bondong menyelamatkannya. Belum lama ini, pemerintah Prancis menyisihkan dana hingga lebih dari enam juta dolar untuk membantu pemugaran gereja tersebut. Tiang-tiang penopangnya harus diperkuat. Sebagian besar dinding batu di bagian luar perlu diganti, dan atapnya harus diperbaiki. Dana yang besar itu tidak akan keluar dengan sia-sia, karena bagi banyak orang, katedral kuno ini melambangkan harapan.
Demikian juga dengan diri kita. Tubuh kita, seperti gereja tua itu, lama-lama juga akan menua seiring berjalannya waktu! Namun, seperti dijelaskan Rasul Paulus, kabar baiknya adalah: walaupun kita lambat laun kehilangan kekuatan masa muda kita, tetapi diri kita yang sejati—“manusia batiniah” kita—dapat terus diperbarui dan bertumbuh (2 Kor. 4:16).
Ketika kita berusaha supaya kita “berkenan kepada [Allah]” (5:9), dengan bergantung kepada Roh Kudus yang memenuhi dan mengubah kita (3:18; Ef. 5:18), pertumbuhan iman kita sama sekali tidak perlu berhenti—bagaimanapun keadaan “bangunan” kita. —Dave Branon
WAWASAN
Paulus kerap membandingkan keadaan saat ini dengan kehidupan bersama Allah dalam kekekalan nanti, contohnya dalam bacaan 2 Korintus hari ini. Untuk kedua kalinya, Paulus membicarakan hal tersebut kepada gereja Korintus. Dalam suratnya yang pertama, Paulus menghabiskan sebagian besar pasal 15 untuk membahas perbedaan kehidupan yang sekarang dan yang akan datang. Ia juga berbicara tentang pengharapan masa depan dalam surat Efesus (1:18-23), Filipi (1:20-23), 1 Tesalonika (4:13-18), dan 1 Timotius (6:17-19). —J.R. Hudberg
Kapan kamu melihat karya Roh Kudus memperbarui manusia batiniahmu? Bagaimana kesadaran bahwa pertumbuhan iman kita tidak pernah berhenti dapat mengilhamimu untuk terus berharap kepada Allah?
Ya Allah, terima kasih untuk Roh-Mu yang senantiasa memperbarui dan mengubah kami. Teruslah memberikan kami kekuatan dan keberanian untuk bersandar kepada-Mu.

Tuesday, September 10, 2019

Aku Tidak Takut Bahaya

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4
Aku Tidak Takut Bahaya
Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.
Namun, ia juga menulis tentang imannya yang teguh kepada Allah. Di saat-saat tergelapnya, ketika ketakutan nyaris melumpuhkannya, Beals berulang kali mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipelajarinya sejak kecil dari neneknya. Saat mengucapkannya, Beals diingatkan kembali akan penyertaan Allah, dan Alkitab memberinya keberanian untuk bertahan.
Beals sering mengucapkan Mazmur 23 dan sangat terhibur dengan menyatakan bagian ini: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (ay.4). Selain itu, ia juga dikuatkan oleh dorongan semangat dari sang nenek yang selalu meyakinkannya bahwa Allah “sangat dekat denganmu, dan kau hanya perlu berseru kepada-Nya bila membutuhkan pertolongan.”
Meskipun situasinya mungkin berbeda, kita pasti akan mengalami masa-masa sulit dan keadaan menakutkan yang mudah membuat kita menyerah. Di saat-saat itulah, kiranya hatimu dikuatkan oleh kebenaran tentang kuasa kehadiran Allah yang akan selalu menyertai kita. —Lisa Samra
WAWASAN
Mazmur 23 karya Daud merupakan suatu ungkapan kepercayaan kepada Allah. Gambaran yang dipakai adalah kiasan Allah sebagai Gembala memimpin umat-Nya (ay.1), suatu metafora yang umum dipakai untuk para raja (2 Samuel 5:2; Yesaya 44:28). Sang Gembala membimbing pemazmur “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2) dan “di jalan yang benar” (ay.3), lambang kedamaian yang menopang perjalanan kita, sekalipun “dalam lembah kekelaman” (ay.4). Gada dan tongkat (ay.4) biasa dipakai oleh para gembala untuk membimbing dan melindungi dombanya. Dari pengalamannya menjadi gembala, Daud tahu bahwa gada dan tongkat harus selalu dipakai untuk menjaga gembalaan tetap aman (1 Samuel 17:34-35). “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,” kata “mengikuti” ini berasal dari bahasa Ibrani radaph, yang juga berarti “mengejar.” Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa Allah akan menyertai Daud selama hidupnya, baik di bumi maupun di surga, di mana ia kelak “diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6). —Julie Schwab
Pernahkah kamu merasakan kehadiran Allah dalam situasi yang menakutkan? Bagaimana kebenaran tentang Allah yang selalu menyertai itu menghiburmu?
Ya Bapa, ketika aku takut, tolong aku mengingat bahwa Engkau dekat, dan memperoleh keberanian dalam kehadiran-Mu yang berkuasa.

Monday, September 9, 2019

Sudah Tahu Siapa Pemenangnya

Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4
Sudah Tahu Siapa Pemenangnya
Atasan saya adalah penggemar berat tim bola basket sebuah kampus. Tim tersebut berhasil menjadi juara nasional tahun ini, maka salah seorang rekan kerja mengirimkan pesan ucapan selamat kepadanya. Masalahnya, atasan saya belum sempat menonton tayangan pertandingan final itu! Ia pun kesal karena sudah mengetahui hasilnya. Namun, ia mengakui, ketika menonton rekaman pertandingan itu, ia tidak lagi gugup ketika skor kedua tim begitu ketat hingga akhir pertandingan. Itu karena ia sudah tahu siapa pemenangnya!
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok hari. Terkadang hidup terasa monoton dan membosankan, sementara hari lain penuh dengan kegembiraan. Di lain waktu, hidup dapat terasa melelahkan, bahkan menyakitkan, untuk jangka waktu yang lama.
Namun, meskipun kita mengalami pasang surut kehidupan yang tidak terduga, kita masih dapat merasa aman dalam damai sejahtera Allah. Itu karena, seperti penyelia saya, kita sudah mengetahui akhir ceritanya. Kita sudah tahu siapa “pemenangnya”.
Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, menyingkapkan kepada kita peristiwa spektakuler yang terjadi pada akhir zaman. Setelah kekalahan terakhir dari maut dan kejahatan (Why. 20:10,14), Yohanes menggambarkan sebuah kemenangan yang indah (21:1-3) ketika Allah diam bersama umat-Nya (ay.3), menghapus “segala air mata dari mata mereka” dan “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay.4).
Di tengah masa yang sulit, kita dapat berpegang pada janji ini. Kelak, tidak ada lagi kekalahan atau tangisan. Tidak ada lagi penyesalan atau sakit hati. Kita akan hidup bersama Juruselamat kita selamanya. Alangkah luar biasa perayaan itu nantinya! —Adam Holz
WAWASAN
Bila tidak berhati-hati, gambaran kita mengenai surga bisa dipengaruhi oleh pandangan yang tidak Alkitabiah, misalnya awan dan malaikat kecil bersayap memegang kecapi. Itu bukan gambaran dalam kitab Wahyu. Awan yang digambarkan Yohanes berhubungan dengan penghakiman dan kesusahan besar (10:1; 14:14-16). “Musik” bagai kecapi yang terdapat di dalam pasal 14 adalah seperti suara “desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat” (ay.2). Malaikat yang muncul pun benar-benar mengerikan (14:6-20). Namun, dalam pasal 21, terdapat salah satu perikop yang paling menguatkan. Penghiburan terbesar kita adalah bahwa “kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” (ay.3). Kita tidak tahu pasti bagaimana hal ini akan terjadi, tetapi ketika Yesus sendiri berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!“ (ay.5), kita tahu itu sesuatu yang dahsyat. Dunia yang sekarang pun “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tentunya langit dan bumi yang baru pun tidak kalah baiknya. —Tim Gustafson
Bagaimana harapan akan surga menguatkanmu di saat-saat sulit? Adakah kisah yang “berakhir bahagia” yang kamu sukai? Bagaimana kisah itu mencerminkan apa yang kita baca dalam Wahyu 21?
Suatu hari nanti, Allah akan menghibur setiap hati yang sedih, menyembuhkan setiap luka, dan menghapus setiap tetes air mata.

Sunday, September 8, 2019

Lintasan Biru

Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. —Amsal 4:11
Lintasan Biru
Jalur perlombaan ski yang menuruni bukit sering kali ditandai dengan cat biru yang disemprotkan ke permukaan salju yang putih di sepanjang lintasan. Lengkungan yang dibuat kasar itu mungkin mengganggu pemandangan penonton tetapi terbukti sangat penting bagi kesuksesan dan keselamatan para peserta lomba. Cat tersebut berfungsi sebagai panduan bagi para pembalap untuk mempunyai gambaran tentang jalur tercepat menuju dasar bukit. Selain itu, warna biru yang kontras dengan permukaan salju memberikan persepsi kedalaman kepada para pembalap, dan itu sangat penting bagi keselamatan mereka saat melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Salomo meminta putra-putranya untuk mencari hikmat dengan harapan agar mereka selamat di dalam arena kehidupan. Salomo berkata bahwa hikmat akan “memimpin [mereka] di jalan yang lurus” dan menjaga mereka agar tidak tersandung (Ams. 4:11-12), seperti garis biru di lintasan lomba tadi. Harapan terbesarnya sebagai seorang ayah adalah agar anak-anaknya menikmati hidup yang berkelimpahan, bebas dari kerusakan yang akan dialami ketika hidup jauh dari hikmat Allah.
Allah, sebagai Bapa kita yang penuh kasih, juga memberikan “garis biru” sebagai panduan dalam Alkitab. Meskipun Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk bergerak ke mana pun kita suka, hikmat yang Dia berikan dalam firman-Nya, seperti garis-garis penanda lintasan ski, akan “menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya” (ay.22). Saat kita berbalik dari kejahatan dan memilih berjalan bersama-Nya, jalan hidup kita akan diterangi oleh kebenaran-Nya. Kebenaran itu menjaga kita agar tidak tersandung dan memandu perjalanan kita setiap hari (ay.12,18). —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Struktur kitab Amsal sangat mudah dikenali. Pasal 1-9 berisi nasihat seorang bapa kepada anaknya, meliputi tema-tema seperti hikmat dan kekudusan hidup. Pasal 10-31 sebagian besar berisi kumpulan pepatah bijak yang kerap membandingkan kehidupan berhikmat dalam sembilan pasal pertama dengan kebebalan yang membinasakan diri sendiri. —Bill Crowder
Dengan merenungkan hikmat Allah, bagaimana kamu telah dijaga sehingga tidak tersandung? Dalam hal apa saja kamu menjadi semakin serupa dengan Yesus?
Allahku, terima kasih untuk firman-Mu. Tolonglah aku teguh berpegang kepada hikmat yang Engkau berikan.

Saturday, September 7, 2019

Berjalan Mundur

Melainkan [Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri. —Filipi 2:7
Berjalan Mundur
Tanpa sengaja, saya menemukan potongan film milik kru berita Inggris yang merekam Flannery O’Connor saat masih berumur enam tahun di lahan pertanian keluarganya pada tahun 1932. Flannery menarik perhatian kru tersebut karena mengajari seekor ayam berjalan mundur. Bagi saya, terlepas dari uniknya perbuatan Flannery, potongan masa lampau itu adalah gambaran yang sempurna dari pencapaian Flannery di kemudian hari sebagai penulis terkenal. Lewat ketajaman sastra dan keyakinan imannya, Flannery menghabiskan tiga puluh sembilan tahun masa hidupnya berpikir dan menulis dengan “berjalan mundur”—melawan arus budaya pada masanya. Baik penerbit maupun pembaca dibuat tercengang karena tema-tema iman yang diangkatnya telah melawan arus pandangan agama yang lazim saat itu.
Kehidupan yang melawan arus juga tidak terhindarkan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin meneladani Yesus. Dalam surat Filipi kita melihat bagaimana Yesus, yang “walaupun dalam rupa Allah”, melakukan sesuatu yang tak terduga dan tak lazim (Flp. 2:6). Dia tidak menganggap kuasa-Nya “sebagai milik yang harus dipertahankan”, tetapi justru “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (ay.6-7). Kristus, Tuhan atas seluruh ciptaan, telah menyerahkan nyawa-Nya karena kasih. Dia tidak mengejar gengsi tetapi justru menunjukkan kerendahan hati. Dia tidak merebut kekuasaan tetapi justru melepaskan kendali. Dengan kata lain, Yesus “berjalan mundur”—melawan arus dunia yang mengejar dan mengutamakan kuasa.
Kitab Suci memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama (ay.5). Seperti Yesus, kita dipanggil untuk melayani dan bukan mendominasi. Kita mengejar kerendahan hati dan tidak meninggikan diri. Kita harus lebih suka memberi daripada menerima. Dengan kuasa Tuhan Yesus, kita pun berani melawan arus. —Winn Collier
WAWASAN
Dalam Filipi 2:1-11, Paulus menasihati orang percaya untuk tidak terseret oleh kebudayaan mereka. Ia paham bahwa orang-orang percaya bisa saja digerakkan oleh “kepentingan sendiri” (ay.3), oleh ambisi atas kuasa atau kendali. Sangat wajar bila orang percaya di Filipi meneruskan kebiasaan yang mereka serap dari budayanya, suatu gaya hidup yang Paulus gambarkan sebagai “angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat” (ay.15). Namun, Paulus mendorong mereka untuk hidup “berpadanan dengan Injil Kristus” (1:27). Dalam pasal 2, ia memaparkan gaya hidup luar biasa yang seharusnya dinikmati oleh orang percaya, yaitu kasih yang berkorban (ay.1-4). Hidup dalam komunitas yang penuh kerukunan, sukacita, dan kebebasan hanya bisa terjadi bila kita mengikuti teladan Kristus (ay.5) dan tetap berakar dalam Roh, dipelihara, serta ditopang oleh-Nya (ay.1). —Monica Brands
Bagaimana Yesus memperlihatkan cara hidup yang melawan arus di dunia ini? Di manakah Allah memanggilmu untuk meneladani Kristus yang rendah hati?
Satu-satunya jalan menuju pemulihan, kebaikan, dan kemajuan, adalah dengan “berjalan mundur” dan melawan arus bersama Yesus.

Friday, September 6, 2019

Saya Mau

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. —Imamat 19:18
Saya Mau
Shirley baru saja duduk santai setelah melalui hari yang sangat padat. Lalu ia memandang ke luar jendela dan melihat sepasang orang lanjut usia sedang bersusah payah memindahkan sepotong pagar tua yang boleh diambil orang secara cuma-cuma. Shirley memanggil suaminya, lalu mereka keluar untuk membantu pasangan tua tersebut. Dengan susah payah, mereka berempat mengangkat potongan pagar tadi ke atas gerobak dan mendorongnya di jalan raya sampai tiba di rumah pasangan tersebut. Di sepanjang jalan mereka tertawa-tawa membayangkan bagaimana orang-orang pasti bingung melihat apa yang mereka lakukan. Ketika kembali untuk mengambil potongan lain dari pagar tersebut, si wanita bertanya kepada Shirley, “Mau jadi temanku?” “Ya, saya mau,” jawab Shirley. Ia kemudian mengetahui bahwa teman-teman barunya itu berasal dari Vietnam dan kurang lancar berbahasa Inggris. Pasangan itu merasa kesepian karena anak-anak mereka sudah dewasa dan pindah ke kota lain yang jauh dari situ.
Dalam kitab Imamat, Allah mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka pernah mengalami hidup sebagai orang asing (19:34). Mereka juga tahu bagaimana harus memperlakukan sesamanya (ay.9-18). Allah telah memisahkan mereka untuk menjadi umat-Nya, dan sebagai balasannya mereka harus memberkati dan mengasihi “orang asing” sama seperti mengasihi diri mereka sendiri. Yesus, karunia terbesar Allah bagi segala bangsa, kembali menegaskan firman Bapa-Nya sehingga pesan-Nya juga berlaku bagi kita semua: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, . . . Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39).
Melalui Roh Kristus yang hidup di dalam kita, kita dapat mengasihi Allah dan sesama karena Dia lebih dahulu mengasihi kita (Gal. 5:22-23; 1 Yoh. 4:19). Dapatkah kita berkata seperti Shirley, “Ya, saya mau”? —Anne Cetas
WAWASAN
Perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18) tertulis di dalam pasal yang berisi berbagai peraturan hidup saleh yang senada dengan Sepuluh Perintah Allah. Imamat 19:18—seperti halnya Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:17)—adalah mengenai tanggung jawab terhadap sesama. Namun, perintah itu lebih mendalam sifatnya dengan menyatakan bahwa tanggung jawab kita terhadap sesama ialah juga mengasihi, dan bukan hanya kepada anggota umat Allah, tetapi juga kepada “orang asing” (Imamat 19:34). Yesus mengutip hukum kasih itu sebagai tindak lanjut dari kasih kita kepada Allah: “Hukum yang terutama ialah . . . Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:29-31). —Alyson Kieda
Bagaimana kamu mengalami diperhatikan orang lain ketika kamu merasa kesepian? Dalam Minggu ini, kepada siapa kamu dapat menunjukkan kasih Yesus?
Allah Mahakasih, aku bersyukur untuk kasih yang Kau tunjukkan kepadaku. Ya, Roh Kudus, mampukan aku mengasihi sesama agar Engkau dimuliakan.

Thursday, September 5, 2019

Kata Terakhir

Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. —1 Korintus 15:19
Kata Terakhir
Nama perempuan itu Saralyn, dan saya sempat menaksirnya semasa sekolah dahulu. Tawanya menyenangkan. Saya tidak yakin ia mengetahui perasaan saya, tapi saya rasa ia tahu. Setelah lulus, saya putus kontak dengannya. Seperti yang sering terjadi dalam kehidupan ini, hidup kami berjalan ke arah yang berbeda.
Saya masih tetap berhubungan dengan teman-teman seangkatan saya di berbagai forum daring, dan merasa sangat sedih ketika mendengar kabar bahwa Saralyn sudah meninggal dunia. Saya sempat bertanya-tanya apa dan bagaimana kehidupannya selama ini. Seiring dengan bertambahnya usia, semakin sering saya kehilangan teman-teman dan anggota keluarga. Namun, banyak orang yang enggan membicarakan tentang kematian.
Meskipun masih bisa merasa dukacita, kita mempunyai pengharapan yang dikemukakan oleh Rasul Paulus: Maut bukanlah akhir segalanya (1 Kor. 15:54-55), karena setelah itu ada kebangkitan. Paulus mendasarkan pengharapan itu pada kenyataan bahwa Kristus sudah bangkit (ay.12), dan berkata, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (ay.14). Jika pengharapan kita sebagai orang percaya hanya terbatas pada dunia ini, alangkah malangnya hidup kita (ay.19).
Suatu hari kelak, kita akan bertemu kembali dengan “orang-orang yang mati dalam Kristus” (ay.18)—kakek-nenek dan orangtua, kawan dan tetangga kita, atau mungkin juga mereka yang pernah menarik hati kita di masa sekolah.
Kebangkitan, bukan maut, yang akhirnya menang. —John Blase
WAWASAN
Pemberitaan Paulus dan tokoh Perjanjian Baru lain mengenai kebangkitan (1 Korintus 15:12) berdasar pada Perjanjian Lama (ay.3-4). Perkataan mereka mengikuti contoh pengajaran Yesus yang juga mengacu kepada Perjanjian Lama, di mana Dia menjelaskan kepada para murid yang terheran-heran mengenai kebangkitan-Nya. Dia berfirman, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. . . . Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (Lukas 24:44-46). Dalam Kisah Para Rasul 2:23-28, Petrus berbicara tentang kebangkitan Kristus dan mengutip Mazmur 16:8-11 untuk menunjukkan bahwa Daud pun telah menubuatkannya. Kemudian Petrus mengutip Mazmur 110:1 untuk membuktikan bahwa Daud juga menubuatkan kenaikan dan kemuliaan Kristus (Kisah Para Rasul 2:34-36). —Arthur Jackson
Apa arti kebangkitan Kristus bagimu? Bagaimana kamu dapat menyatakan imanmu dan menuntun seseorang kepada pengharapan akan kebangkitan itu?
Tuhan Yesus, biarlah kuasa kebangkitan-Mu menjadi semakin nyata dalam hidupku. Kiranya itu nyata dalam perkataan dan perbuatanku, terutama ketika aku berinteraksi dengan orang-orang yang belum mengenal-Mu.

Wednesday, September 4, 2019

Terang bagi Jalan Kita

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. —Kejadian 1:3
Terang bagi Jalan Kita
Restoran itu indah, tetapi gelap gulita. Hanya ada sebatang lilin kecil berkedip-kedip di setiap meja. Agar dapat membaca menu, memandang teman semeja, bahkan melihat apa yang mereka makan, para tamu menggunakan telepon genggam mereka sebagai sumber cahaya.
Akhirnya, seorang tamu dengan tenang keluar dari kursinya, menghampiri pramusaji, dan mengajukan permintaan sederhana. “Bisa tolong nyalakan lampunya?” Tak lama kemudian, lampu di langit-langit pun menyala, cahaya terang yang hangat memenuhi ruangan, dan seisi ruangan bersorak gembira dengan bertepuk tangan. Seketika itu, terdengar canda tawa di mana-mana. Juga obrolan riang dan ucapan terima kasih. Suami teman saya mematikan telepon genggamnya, meraih alat makannya, lalu berbicara mewakili kami semua. “Lalu, jadilah terang! Sekarang, mari kita makan!”
Malam yang tadinya suram berubah menjadi ceria hanya dengan menyalakan lampu. Namun, alangkah jauh lebih penting mengenal sumber terang sejati yang sebenarnya. Allah sendiri memfirmankan kata-kata yang dahsyat tersebut, “Jadilah terang,” pada hari pertama ketika Dia menciptakan alam semesta, “lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3). Kemudian “Allah melihat bahwa terang itu baik” (ay.4).
Terang menyatakan besarnya kasih Allah kepada kita. Terang-Nya menuntun kita kepada Yesus, Sang “terang dunia” (Yoh. 8:12), yang memimpin kita keluar dari kekelaman dosa. Dengan melangkah dalam terang-Nya, kita menapaki jalan menuju hidup yang memuliakan Kristus. Dialah anugerah paling cemerlang yang pernah diberikan bagi dunia. Melangkahlah dalam jalan yang diterangi-Nya. —Patricia Raybon
WAWASAN
Salah satu karakteristik Alkitab yang mengagumkan adalah bahwa setiap bagian yang berbeda tetap saling mendukung, dan keseluruhannya menceritakan tentang Yesus. Sinergi itu juga tampak dalam bacaan hari ini, Kejadian 1:1-5 dan Yohanes 1:1-5. Keduanya dimulai dengan frasa “pada mulanya”, suatu masa pada permulaan zaman ketika Allah menciptakan dunia. Pada mulanya, ada Allah (Kejadian 1:1), dan Firman (Yesus; Yohanes 1:1,14) ada bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus (Kejadian 1:2). Kejadian 1 mengungkapkan pekerjaan Allah Tritunggal dalam penciptaan, sedangkan Yohanes menegaskan bahwa Kristus memegang peran utama dalam penciptaan tersebut (Yohanes 1:3). Kedua kisah itu berakhir dengan terang yang memasuki kegelapan di dalam kekosongan sebelum ada penciptaan. Mulanya, terang itu terjadi melalui firman yang diucapkan Bapa (Kejadian 1:3), yaitu suatu cahaya (terang dalam pengertian harfiah). Pada akhirnya, datanglah ‘terang’ dunia (terang dalam pengertian simbolis), yaitu Yesus (Yohanes 1:4-5; 8:12; 9:5). —Bill Crowder
Dalam keadaan apa kamu membutuhkan terang Yesus bersinar? Pernahkah terang-Nya menuntunmu di masa lalu?
Allah Mahakasih, kami bersyukur kepada-Mu untuk Yesus, Sang Terang Dunia, dan kebesaran kasih-Nya yang menuntun kami.

Tuesday, September 3, 2019

Awas, Licin!

Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat. —Mazmur 141:4
Awas, Licin!
Bertahun-tahun lalu, saat sedang belajar bermain ski, saya mengikuti anak saya, Josh, menuruni lereng yang kelihatannya landai. Karena mata saya hanya tertuju kepadanya, saya tidak memperhatikan bahwa ia sedang menuruni bukit yang paling curam di gunung itu. Karena kaget dan tidak siap, saya pun meluncur tak terkendali di lereng curam tersebut dan jatuh hingga jungkir balik.
Mazmur 141 menunjukkan bagaimana kita bisa dengan mudahnya tergelincir ke dalam dosa. Doa menjadi salah satu cara untuk tetap waspada terhadap ancaman dosa: “Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat” (ay.4) merupakan permohonan yang hampir mirip dengan sebaris kalimat dalam Doa Bapa Kami: “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (Mat. 6:13). Karena kebaikan-Nya, Allah mendengar dan menjawab doa tersebut.
Dalam Mazmur ini saya juga menemukan saluran anugerah yang lain: teman yang setia. “Jika seorang baik menegur aku, dan dengan tulus menghajar aku, itu seperti minyak yang paling baik bagiku. Semoga aku tidak menolaknya” (Mzm. 141:5 BIS). Godaan bisa datang dengan halus. Kita tidak selalu menyadari bahwa kita sudah menyimpang. Teman yang sejati dapat bersikap objektif. ”Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (Ams. 27:6). Menerima teguran memang tidak mudah, tetapi bila kita melihatnya sebagai suatu kebaikan, hal itu dapat menjadi dorongan yang membuat kita berbalik kepada jalan ketaatan.
Kiranya kita mau terbuka menerima teguran dari seorang teman yang terpercaya dan bergantung kepada Allah dalam doa. —David H. Roper
WAWASAN
Setiap kita tentu pernah mengalami perasaan seperti yang diungkapkan dalam doa Daud, “Lindungilah aku terhadap katupan jerat yang mereka pasang terhadap aku, dan dari perangkap orang-orang yang melakukan kejahatan” (Mazmur 141:9). Namun, kita juga perlu meminta perlindungan dari diri sendiri, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (ay.3). Daud mungkin sedang melarikan diri dari Raja Saul ketika ia menulis mazmur ini, sebab kata-katanya yang menyatakan pengendalian diri sesuai dengan situasi dan sikapnya terhadap Saul. Daud tidak mau mencelakakan “orang yang diurapi TUHAN” meskipun ia berkesempatan melakukannya (1 Samuel 24:2-8; 26:7-24). Ia tahu betul godaan untuk mengucapkan sesuatu yang menghasut atau mengikuti “nasihat” untuk membunuh Saul (26:8). Barangkali itulah yang Daud maksudkan dengan apa “yang jahat” (Mazmur 141:4) yang ingin dihindarinya. Daud menghendaki keadilan, tetapi ia berserah kepada Allah. —Tim Gustafson
Hal apa saja yang mengancam untuk membuatmu tergelincir ke dalam dosa? Bagaimana kamu dapat menjaga hatimu dari ancaman tersebut?
Ya Bapa, jagalah kakiku agar tidak tergelincir ke dalam dosa. Tolonglah aku untuk mendengarkan suara-Mu dan nasihat dari teman-teman baikku.

Monday, September 2, 2019

Warisan Abadi

Kata [Hawa]: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.” —Kejadian 4:1
Warisan Abadi
Thomas Edison menemukan bola lampu listrik yang pertama. Jonas Salk mengembangkan vaksin polio yang efektif. Amy Carmichael menciptakan banyak lagu pujian yang kita nyanyikan dalam kebaktian gereja. Bagaimana denganmu? Untuk apa kamu hadir di dunia? Bagaimana kamu akan memakai hidupmu?
Kejadian 4 bercerita tentang Hawa yang mengandung dan melahirkan Kain. Saat memegang Kain untuk pertama kalinya, Hawa berkata, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan” (ay.1). Dalam upaya untuk menjelaskan perasaan mengejutkan dari pengalaman melahirkan yang pertama kali terjadi dalam sejarah, Hawa menggunakan frasa yang mengungkapkan betapa ia sangat bergantung kepada pertolongan Allah yang berdaulat: “Dengan pertolongan Tuhan.” Akhirnya, melalui keturunan Hawa, Allah menyediakan keselamatan bagi umat-Nya melalui seorang Anak Laki-Laki yang lain (Yoh. 3:16). Sungguh suatu warisan yang agung!
Menjadi orangtua hanyalah satu dari sekian banyak cara seseorang dapat memberikan kontribusi yang abadi bagi dunia ini. Mungkin kontribusi akan timbul dari tulisan, rajutan, atau lukisan yang kamu hasilkan. Mungkin kamu bisa menjadi teladan bagi seseorang yang membutuhkan bimbingan rohani, atau bisa saja dampak hidupmu baru dirasakan dalam bentuk yang tidak pernah kamu perkirakan setelah kamu meninggal dunia. Dampak itu bisa berupa karya yang kamu tinggalkan atau reputasimu yang penuh integritas dalam berbisnis. Apa pun itu, akankah kamu, seperti Hawa, menyatakan ketergantunganmu kepada Allah? Dengan pertolongan Tuhan, apa yang akan kamu lakukan untuk memuliakan-Nya? —Elisa Morgan
WAWASAN
Kejadian 4:1-2 menyatakan penggenapan firman pada awal kitab. Dalam Kejadian 1:28, Allah memberkati Adam dan Hawa, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Hawa kemudian melahirkan Kain dan Habel, itu membuktikan bahwa berkat atas mereka masih tetap berlaku.
Penggenapan kedua berhubungan dengan janji Allah tentang Juruselamat dalam Kejadian 3:15. Allah berfirman kepada ular, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.“ Allah menyatakan janji itu bahkan sebelum ada keturunan manusia untuk menggenapinya. Anak-anak Adam dan Hawa pada akhirnya memungkinkan lahirnya keturunan yang dijanjikan, yaitu Yesus. —J.R. Hudberg
Bagaimana kamu ingin dikenang setelah meninggalkan dunia ini? Bagaimana kamu akan mencari pertolongan Allah untuk mewujudkannya?
Ya Allah, kiranya aku selalu bergantung kepada-Mu dalam segala hal, karena hanya oleh pertolongan-Mu aku dapat meneruskan warisan abadi.

Sunday, September 1, 2019

Tidak Berubah

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. —Ibrani 13:8
Tidak Berubah
Saya dan istri, Cari, baru-baru ini bepergian ke Santa Barbara, California—kota tempat kami pertama kali bertemu dan jatuh cinta tiga puluh lima tahun lalu—untuk menghadiri reuni kampus. Kami berencana mengunjungi tempat-tempat kenangan yang dahulu suka kami datangi semasa muda. Namun, sewaktu kami sampai di tempat restoran Meksiko favorit kami, ternyata di sana sudah berdiri sebuah toko bahan bangunan. Selembar plakat besi tergantung di dinding toko untuk memperingati kehadiran restoran itu dan pelayanannya selama empat dekade di lingkungan tersebut.
Saya memandangi trotoar jalanan yang sepi dan tidak asing itu, yang dahulu dipenuhi meja dan payung warna-warni. Begitu banyak yang berubah di sekitar kita! Namun, di tengah segala perubahan itu, kesetiaan Allah tidak pernah berubah. Daud mengamati hal tersebut dengan pilu: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu” (Mzm. 103:15-17). Daud pun menutup mazmurnya dengan kata-kata ini: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (ay.22)
Filsuf kuno Herakleitos berkata, “Kau takkan pernah bisa menginjakkan kaki ke sungai yang sama dua kali.” Kehidupan dan keadaan kita selalu berubah, tetapi Allah tetap sama dan selalu akan menggenapi janji-Nya! Kesetiaan dan kasih-Nya dapat diandalkan dari generasi ke generasi. —James Banks
WAWASAN
Dalam Mazmur 103, Daud memaparkan begitu banyak alasan untuk memuji Allah. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “memuji” memiliki arti “berlutut”—suatu tindakan penyembahan. Jadi, mazmur ini merupakan ajakan untuk beribadah yang lahir dari puji-pujian dalam hati Daud. Pada ayat 1-6, pemazmur mengingatkan dirinya agar jangan pernah melupakan segala hal indah yang sudah Allah perbuat baginya. Selanjutnya, ada panggilan beribadah yang ditujukan kepada bangsa Israel (ay.7-18). Daud mengagungkan pemeliharaan Bapa yang penuh kasih—bagaimana Dia menyatakan Diri-Nya kepada Musa dan membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Terakhir, malaikat-malaikat surgawi pun turut diajak memuliakan dan memuji satu-satunya Allah sejati. Daud kemudian menutup mazmur ini sama seperti kata-kata pembuka, yaitu dengan mengingatkan dirinya untuk memuliakan dan memuji Tuhan dari hatinya yang terdalam: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” (ay.22). —Bill Crowder
Apa yang menguatkan hatimu saat mengetahui bahwa Allah tidak pernah berubah? Kapan kepastian itu pernah menjadi penghiburan bagimu?
Terima kasih, ya Allah yang Mahakuasa dan kekal, karena Engkau tidak pernah berubah dan selalu dapat diandalkan. Tolonglah aku bergantung kepada kasih dan kesetiaan-Mu hari ini.
 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate